Digtaliat ole Benggiat BBuku
Mesra
TH:VI
ANTARA
AZANdan Lontjeng GEREDJA
Oleh:NASRULJUNUS S
JONE
terbatas hingga ltu Ibnu! kata Marjam sambil mengeluarkan dari
Marjam.....!!
Terimalah suratku jang ketiga kali- nja ini, mungkin djuga jang terachir -dengan harapan jang tak ber-beda² dengan isi suratku jang mula² dan jang
kedua....... dulu jakni: perkenalan
kita! Meski kau anggap remeh, akupun puas asal tanja hatiku kau djawab: Adakah engkau rasa sebagaimana aku merasa? Semendjak kita berdjumpa dipasar malam tatkala engkau kehila- ngan uang. Sehingga engkau sudi me- nerima pertolonganku dan memperke- nalkan diriku jang hina ini kepada ibu bapamu. Aku tidak akan mengharap apa² lagi sesudah engkau izinkan aku mentjium tanganmu jang halus itu. Tangan jang pernah kupegang tatkala keluar dari
pintu pasar malam tsb. dan.... mem-
biarkan lidahku jang bernadjis ini menjebut namamu: Marjam, kekasihku! Mungkin lantaran tak ada jang akan kau peroleh 'dariku Marjam -sebagaimana tiap perempuan melihat seorang lelaki- maka engkau tak sudi menjambut harapanku. Karena aku tak ber-uang? Tidak segagah .pemuda² seka-
rang? Tidak ,talent"...... Betulkah
demikian terlintas dalam pikiranmu,
Marjam......??
Terhenti Ibnu sedjenak menulis surat itu. Tjahaja bulan empat belas di angkasa masuk dari djendela kedalam kamar Ibnu Dilangit, kelihatan bintang bertaburan mengelilingi ratu malam jang djelita itu. Baju berembus dengan per-lahan² menggojangkan pohon palm didepan djendela kamar pemuda jang ditjeritakan ini. Sedang dirumah itu sunji sadja sebab ibu Ibnu sedang ber- sudjud kehadapan Tuhan memudji ke- besaran Ilahi jang telah menghampar- kan alam semesta, bumi dan lautan,
menaburkan nikmat......
Sedang Sjech Ibrahim, ajah Ibnu sedang zikir menghitung tasbih menjebut Tuhan mendjelang waktu Isa da- tang. Sedang adik Ibnu tengah asjik menghafalkan peladjarannja membatja
alif"menjebut Bismillah....
— Apakah aku anak orang kebanja- kan maka engkau tak sudi menjambutku Marjam, karena emas dan perak tak boleh tjampur, sutra dan benang tak mau didekatkan? Mungkin lantaran engkau orang berasal, sedang aku tak
Tapi. baik badjunja palang sab"... tentu asal usul, tak berbangsa berke- turunan. Betulkah itu jang menjebabkan se- gala surat jang kukirimkan padamu tak mendapat balas, warkah jg. kau terima tak kau djawab? Ataukah djuga lantaran kita tidak sebangsa, setanah air? Apakah aku tidak pandai menjebut: ,Indonesia" atau lidahku jang berna-
djis ini tak bisa mengutjapkan: I love
you! Mungkin tersebab aku tak pandai melekatkan dasi" menggesek biola, melarikan ,scuter"? Itukah sebabnja Marjam, itukah keberatanmu? Kalau tidak apakah lagi sebab²nja maka engkau menjambut pintaku dengan di- ngin" sadja?
Pajah aku mentjari dalam ,kamus" Betulkah uang jang mendjadi ukuran
diriku sendiri, kata² apa jang belum tjinta, benarkah rupa mendjadi takaran kuketahui artinja untuk masuk keper-kasih asal dan keturunan perintang gaulan ,pemuda & pemudi" jang me-rindu? Kalau tidak apakah sebabnja mungkinkan aku tersisih dan dipan-Marjam diam seribu basa, padahal du-
dang......hina, karena kebodohan aku,
lunja tatkala mula bertemu dengan Ibnu padahal semuanja kutahu bahkan mele-ia berkata :
bihi dari anak² muda jang mengatakan
Aku amat beruntung dapat berke- dirinja: m ad ju! nalan dengan tuan! Kalau dapat kekal-Tidak-kah engkau pertjaja Marjam
lah hendaknja perkenalan kita jang se-
bahwa aku sanggup membuka ,encyc-
tjara kebetulan ini... lopaedie", mengarang tjerita. Menjebut Semendjak Ibnu memasukkan surat
Internasional minded lidahku tak pa-
itu kepos, hatinja bertambah gundah. tah". Sepatu ke lantai litjin" ada pada
Ia mentjari obat dengan alam.......
diriku. Di,,plontjo"pun aku pernah,
Ia tinggalkan Padang. Ia pergi ke- menjetir mobilpun sanggup? atas puntjak gunung Merapi untuk Apakah lagi sjarat² jang harus kupe- mendapatkan angin penghidupkan: nuhi untuk mendapatkan hati rema-Tjinta! Ia turun ke Ngarai Sianok guna dja"mu? Haruskah aku membuatkan memperoleh air penjuburkan: kasih! Ia villa dan bungalow untuk tempat diam-pergi ke serasah Anai mendengarkan kau, membina mahligai, lantaran itu air mengalir merawan hati, dikundjungi engkau akan tjinta padaku akan ku- nja danau Manindjau memandikan tu-
sanggupi djuga.....
Kau madjukan sjarat bahwa aku ha-buh, membersihkan tindu, tapi dapat- kah tjinta diobat dengan alam? rus membawamu ke Miami jang indah Ia kembali ke Bukit Tinggi. Dinai- itu mengundjungi Hawaii mendengar- kinja rumah adat dikebun binatang tapi kan njanjian lautan Teduh jang merdu Marjam jang ditjarinja tak bertemu. itu, mandi² keair terdjun Niagara ter-Dikala fadjar kan menjingsing dide- kenal, temasja ke Green Canjon jang permai meski uangku tak sebanjak itu. ngarnja kokok ajam ber-sahut²an, ia tersintak dari tidurnja. Dari kedjauhan kugadaikan tanah ibu bapaku, kan ku- terdengar ,,azan" subuh memangigl djual negeri nenek mojangku, asal engkau sudi menerimaku. Kelak, kau teri-umat agar bersjukur kepada Tuhan ma aku mendjadi suamimu kau hendak dari mesdjid ,Tengah Sawah" Ibnupun datang kerumah sutji itu menunaikan berbulan madu mengelilingi dunia -se- shalat, tapi lukanja tak djuga sembuh perti Magelhaen- kupenuhi djuga lan-
taran mengharap kau......
sebelum Marjam sendiri membalutkan ,verban" kedada anak muda jang sakit Mengapa seberat itu benar Ibnu harus memenuhi sjarat hanja untuk men-itu. Pukul 7 pagi ia meninggalkan Bukit dapatkan tjinta Marjam, seorang gadis jang berbudi dan sopan itu. MarjamTinggi. Ia kembali kerumah orang tuanja di Padang; dengan badan lesu. Su- sendiripun tidak mengharap jang demi- dah itu diteruskannja perdjalanannja kian itu. Tidak menjuruh seorang pemuda harus mengemis lantaran tjinta-mentjari ,Obat Tjinta" ke Bandar Se- nja, sebab Marjam insaf bahwa iapun puluh menjaksikan ombak berdebur ke-
seorang manusia jang hidup dalampantai, terus ke...... Kerintji. Melihat
serba kekurangan. Djangankan rumahgunung jang tertinggi dipulau Sumatra diselimuti kabut. Agak terobat hatinja bagus, menumpang diudjung lantai" rumah orang pun ia mau asal tjukupsedikit lebih² setelah mengelilingi da-
nau Kerintji jang permai itu....
jang akan dimakan petang dan pagi, kalau ada orang jang mau mengambil Kemudian kembali balik ke Padang! tung"nja, kononlah pula dengan kaindilamun tjinta itu bersepeda menjusur berlipat, uang beribu! Sebab, kekajaan tepi laut melihat matahari akan terbe tidaklah sanggup mengekalkan tjinta, nam kemudian ketugu jang terletak di- harta tak mampu menjelamatkan ka-muka Hotel Muara". Disini Ibnu ber- henti sedjenak melepaskan lelah, me-Setelah surat itu hampir selesai dika-mandang ketonggak sedjarah jg. diam
| Setelah surat itu hampir selesai dika- | ||
|---|---|---|
| rangnja maka sebagai penutup ditulis- | ngan langkah jang dipertjepat ia terus |
kaku itu tapi....berkata; mendjadi
nja: ~ djika engkau keberatan mem-saksi bisu dari masa kemasa, dari ang- katan keangkatan! balas dengan surat -karena tjinta dengan surat adalah palsu menurut du-Kemudian diambilnja sepedanja, di- gaanmu- tentukanlah olehmu sendiri dajungkan lambat² melalui djalan Bun- dimana jang baik tempat pertemuan do Kandung dimuka geredja" Kris-
kita, dimana kita bebas mengeluarkan ten.....
perasaan.......Sekali hari ia lewat pula disana, se-
dang lontjeng" dirumah sutji umat
Ibnu.
Kristen itu tengah berbunji, dilihatnja seorang gadis masuk kedalam tapi mu-
kanja tak djelas. Pembawaannja.....
persis seperti Marjam jang dikenalnja dulu. Sajang, wadjahnja tak pasti! Dengan sikap jang bagaikan djatuh didajungnja djuga sepeda itu tapi hati-
nja bertanja, kalau2..... betul peng-
lihatannja. Sesampainja dirumah kede- ngaran pula azan" dimesdjid. Iapun berudhuk lalu sembahjang menjembah
Tuhan jang satu....
Semendjak Ibnu melihat gadis jang menjerupai Marjam itu, masuk kegere- dja menekukkan lutut, mengaku Isa anak Tuhan dengan palang salibnja jang terkenal itu, hati Ibnu tak tente- ram lagi. Kuliahnja kalang kabut, bela- djarpun telah kurang! Ibnu diamuk angan² digoda oleh kira² jang lahir pa-
da remadja diumur belasan tahun.....
Ibnu telah atjap mendaki Bukit Air Manis tempat temasja penduduk kota Padang dihari Minggu, untuk mentjari obat lukanja. Kadang² ia terus kekapal Simalin Kundang" jang hilang² timbul dilamun ombak... Ia menjeberang dari Muara" terus mendaki Bukit Gunung Padang, pu- langnja dari Teluk Bajur, kadang² de ngan kereta api tapi jang atjap dengan oplet" trajek pulang pergi: Teluk Ba-
jur-Padang....
Sekali hari -setelah lukanja bertambah parah-Ibnu terbangun dari tidurnja demi mendengar suara bang dimesdjid jang dibawa angin pagi antara ada dan tiada lalu berudhuk dan sembahjang dengan chusu'nja, se-akan² me- ngadukan halnja kepada Tuhan. Dan mohon petundjuk jang Maha Kuasa. Ia tak ber-andjak² dari-tikar sembahjang sampai ibunja kedapur memasak
air.....
Setelah sarapan itu turun dari rumah orang-tuanja dengan langkah gontai, sambil memegang sebuah tongkat. Ib. nupun memakai kopiah...! Ia kembali mendaki bukit Air Manis
agak reda djugalah topan tjinta jang mengamuk hatinja. Sesampai dipendakian, dari djauh ke lihatan olehnja seorang gadis terme- nung dipuntjak bukit itu memandang
kelaut.......! Darahnja tersirap. De-
ketempat gadis tsb. jang ditemuinja
benarlah.....Marjam!
— Mengapa kau disini, Marjam? — Aku menunggumu, Ibnu! — Mengapa engkau nantikan aku disini, bukankah engkau tak mentjin-
tai aku.......?
(Bersambung ke halaman 26).
dirinja mendjadi isteri ,,menerdjuni un-Sore² atjapkali pemuda jang sedang sebab dengan atjapnja Ibnu kesana
dapannja. Wanita itu mundur selang-kan porak poranda itu. Maksudku ini melawan Prabu Menakdjingga. kah memperhatikan aku. Tiada lama dengan penuh keinsjafan dik, bahwa kemudian seolah dia akan mendjerit akulah jang memang bersalah dalar dan akan memelukku. Tapi segera aku hal ini, begitu sadja mudah pertjaia terlebih dulu memeluknja dengan omongan² berbisa, sehingga -Ernv!. sampai terdjadi hala seperti ini jang
Kak Herman!.
sungguh² tidak kita inginkan, jang be-Ja aku Er. gitu sangat njeleweng dari anggaran²
- Ja Allah Kak.
rumah-tangga kita jang telah kita su- sun demikian baiknja. Aku telah ber-Aku ber-peluk²-an dengan Erny de- djanjdi ke hadirat Tuhan Jang Mala ngan penuh rasa mesra dan penuh de-Pengasih, bahwa aku tidak akan ber-ngan rasa terharu.
tindak kedji lagi terhadapmu.....
Mana Ajah dan Ibu, Er?- aku Aku diam sedjurna, kemudian lan- menanjakan orang tuakı lan djuga djutku: orang tua Erny. Dan kini, kita telah ditemukan kem — Ajah telah meninggal. Dan Ibu bali karena Allah, tiada dapat terkata- ada-djawabnja pendek dan bersedu kan bahagianja hatiku. Ah Mira, masih sedan. banjak lagi jang hendak kukatakan — Ajah telah meninggai??- aku padamu sebagai rasa penjesalan dan mengulangi sedih. kembalinja kebahagiaan kita ini. Teia Kutoleh Din dan Sjam jang sedlang
pi.......disini didjalan dan banjak
melongo keheranan. Aku akan mendje- orang Mira, tidak baik. Marilah kita laskan padanja mengapa aku berbuat
pulang dik, marilah....." aku diam
demikian dengan Erny, tapi Erny telah menunggu dan dia-pun masih sadja de mendahuluinja. ngan tangisnja. — Ini Kakak kandungku Kak~ Mari kita pulang dik, sudah larut adikku mendjelaskan kepada suaminja Din. malam, nanti kita landjutkan setelah di rumah".bisik adjakku,
— Ja, ini adalah adik kardungku saudare aku mejakinkan pada Din Eh, pulang kemana mas?"
dan Sjam. nja saju.
Dan mulai saat itu terdjadilah suetu Ke rumah, kerumah kita dik....."
Ah tidak mas, aku......"
peristiwa kekeluargaan antara kami
empat orang ini. Sudahlah, nanti sadja kita landjutkan setelah dirumah. Bukankah kita Dan mulai dari saat itu, habislah ra- punja rumah? Disini tidak baik dilihat sanja kewadjibanku unik menijari orang dik. Marilah" orang tuaku dan adilku jang selama revolusi aku tinggalkan dan baru aku Lalu kugandeng dia menghampiri bersua kembali disaat ini. sepedaku. Dia diam menurut sadja de
Dan Din serta Sjam jang darı tadi ngan isaknja jg. kembali mendjadi....
Dia sudah dibelakangku kini, Dan masih berdiri terpaku kini baru meng- pelahan ku-kajuh sepedaku menudju hampiri aku bersalaman dan saling me- ngenalkan. Dan baruiah mercka :ahu pulang, kali ini dengan membawa ha-
bahwa Erny itu adalah adik kandung-sil. O..... betapa bahagia rasa hati ini
ku dan akupun baru tahu bahwa Din tiada terkatakan. Orang jang selaraa itu kutjari dengan segenap djiwa dan ini adalah suami adikku dan Sjam adə lah kakak ipar adikku. Photo jang dari raga, kini sudah ada dibelakangku. O, keadilan Tuhan, aku bersjukur ke- tadi kupegang kulihat kembali. hadiratNja. O, malam ini tak akan ku Photoku?— Erny bertanja. lupakar selama hajatku, malam kem-Ja-sahutku pendek. balinja kebahagiaan hidup. — Ja, photomu jang baru salja Ka.
kak ambil dari toko tadi-Din men-Dik, Mira.... bisik panggilku
setelah sesaat kami diam dalam per- djelaskan. Dan ditjeritakannja hingga djalanan itu. Dia diam sadja. Kuulur- aku dapat bertemu dengannja. Erny kan tanganku kebelakang, kupegang kulihat terharu. Akupun terharu. Din tangannja jang telah basah oleh air
dan Sjam djuga turut terharu. Dan ahir
mata, lalu kulingkarkan kepinggangku.
nja gembira setelah aku berkumpul de-
Begitu sadja lalu kepalanja terkulai ngan Ibuku. dipunggungku dengan bisiknja penuh penjearhan: -00000~ ,,Mas, O mas. Dan oo betapa bahagia hati ini, Ga ris finish telah kulalui, aku pulang dengan membawa kemenangan, seperti kembali membangun mahligai runian Pahlawan Damarwulan menang perang tangga kita jang begitu sadja kita biar
Detik demi detik berlalu dengan mesranja seperti kemesraan malam itu dengan bintong² bertaburan di langit bir udan bulan jang dua pertiga itu. Dan, terbentanglah dihadapan kami hari² kami jang akan datang penuh de ngan kebahagiaan. Pantai Sepi. Pertengahan Mei '59. ANTARA AZAN Aku rindu padamu; Ibnu! Dan ke- rinduan itulah jang menjampaikan
langkahku kemari. Dan..... mem-
pertemukan kita! Kau obat lukaku, Marjam? Kau kem balikan semangatku jang hilang?
Kau.. kau.... sambut....
tjin... ta.. ku..... Mar....
jam......!
A..... ku..... pun... tjin... ta. pa.. mu.. b. Tjahaja matahari pun menjinari muka
kedua anak muda itu.
Tapi.... terbatas hingga itu
Ibnu! kata Marjam sambil mengeluar- kan dari balik badjunja palang salib", sebab aku beragama Kristen...! Sebab itulah aku tak membalas suratmu, menjambut tjintamu. Tjinta seorang pemuda Islam! Tak sepatah katapun keluar dari mulut Ibnu, Sadarlah ia sekarang bahwa antara ia dan Marjam terdapat tem pat perintang. Ibnu menjembah Tuhan dari mesdjidnja, Marjam menekukkan lutut dalam geredanja meski masih menjembah Tuhan jang satu. Njatalah, bahwa perbedaan agama adalah djuga perintang jang tak bisa
dianggap ringan dalam bertjinta....
TAMAT.
DIBUTUHKAN à. Karangan2 Spionage, jang
b. Karangan2 Tjerita pendek remantis (ringan).
c. Skets Masjarakat (rieel).
d. Lelutjon. Semua karangan jang diterima men. dapat honorarium jang memuaskan. Pengiriman xarangan hendaklah di lampiri perangko untuk pengembalian. Redaksi MADJALAH MESRA Kotakpos : 2321. Djakarta.