Baca PDF (OCR): #4 SORAKSORAI ZINE

38 halaman · 38 halaman diproses dengan OCR· 76769 ms

Daftar isi
  1. Social-Culture
  2. dAN SORAK 83 SORAISB
  3. IARRISO
  4. Ode Sepakhola
  5. VOL.4
  6. SORAK
  7. SORAI
  8. DAFTAR MUATAN
  9. BABAK1
  10. BABAK 2
  11. BABAK1
  12. SLARH
  13. Hegemoni Mohammad Salah: Fenomena Perkembangan Islam
  14. di Liverpool dan Mengurangnya Islamfobia.
  15. merubah tren islamofobia yang ada di Inggris. Sebelumnya memang islamfobia yang
  16. Daftar Pustaka:
  17. IAAN
  18. THANKS GOD FOR FOOTBALL. FRIENDSHIP AND THE BOOZE.
  19. "Persaudaraan lintas kota dan gelas yang terus berputar..."
  20. Namun pertanyaan yang muncul ialah, bukankah semua yang dikonsumsi secara berlebihan
  21. apa gang sekiranga bisa mengatukan kelompok
  22. pendukung lim sepak bola pada lingkup suatu
  23. kota dan daerah? klub lokall
  24. apa gang sekiranga bisa mengatukan kelompok
  25. pendukung tim sepak bola dari dua kota gang berbeda? minuman lokall hahahaa!
  26. Menanti Pelurt Akhir
  27. Ode Buat Bola
  28. JEMIS BARU
  29. BERNKNK
  30. SIHIR
  31. SEPAKBOLA
  32. hewan. Yang sangat disayangkan adalah bagaimana manusia sudah mendahului takdir yang
  33. dikehendaki oleh Tuhan. Mereka dengan sangat beringasnya mencabut nyawa tanpa pikir
  34. panjang. Terus di mana sisi kemanusiaannya? Jawabannya mereka bukan manusia, melain-
  35. bahwasannya memahami fanatisme sepakbola tidak hanya fanatisme yang negatif, melain-
  36. sangat diharapkan, fanatik dalam ranah sepak bola tidak dinilai sebagai fanatisme yang
  37. LOYALITAS DAN
  38. CINTA SEJATI;
  39. 2X45 MENIT
  40. Batigol. Hampir dipastikan jika penikmat sepak bola pada medio sembilan puluhan tak akan asíng
  41. yaknya nama agung seorang penyerang yang pernah Argentina lahirkan. Omar Sivori, Mara-
  42. presisi sundulan kepala yang jitu membuatnya sempat dijuluki The Animal. Beberapa orang
  43. pada saat itu sempat berpendapat jika Batistuta dan gol yang tercipta merupakan saudara
  44. Perlunya penyesuaian terhadap kultur baru yang berbeda dengan Argentina tak langsung
  45. Bukan hanya para fans, seorang pemain pasti akan sangat mengidamkan trofi liga. Semua
  46. Apa yang mungkin menjadi mimpi buruk Batistuta benar-benar ia alami pada kemudian
  47. Laga berjalan sengit dan skor kacamata hingga turun minum ialah hasilnya, babak kedua
  48. but sebagai penghormatan atas jasa mantan klub yang ia bela yang mungkin telah membesar-
  49. Doa Ini
  50. Kuserahkan
  51. Padamu, Sepak Bola.
  52. Football is my religion.
  53. Menurut kamus terjemahan Inggris-Indonesia, religion memiliki arti sebagai agama, keper-
  54. Lalu menjadi lucu ketika anda melihat dan menyaksikan sebuah “agama" baru yang mengguna-
  55. Menilik lebih jauh kebelakang di mana perkembangan budaya sepak bola Indonesia yang
  56. jangkiti budaya sepak bola tanah air. Tidak salah juga melihat fenomena ini, toh semua punya
  57. bola Argentina, hingga muncul suatu aliran kepercayaan baru bernama Iglesia Maradoniana
  58. Sebagai negara dengan hampir 80% penganut Katolik Roma, tak ayal jika adat-tradisi gereja
  59. Huehehehehehehehehe bercanda.
  60. NALAR
  61. MeMBUNUH
  62. SEPAKBOLA
  63. para penggemar? Apakah mereka pergi?
  64. Hingga pada akhirnya sepak bola tidak sebatas pada menang atau kalah, juara atau tidak juara,
  65. Sepak bola melahirkan cinta, loyalitas bahkan pengorbanan yang dibawa seumur hidup
  66. BABAK 2
  67. Cerita di Balik Gemerlapnya
  68. Gelora Bung Karno dan Kompleks Senayan
  69. tahu bahwa tanah ini sudah bukan lagi tanah milik keluarganya lagi.
  70. Awal mula penggusuran dan penentuan lokasi
  71. stan dalam penentuan tuan rumah Asian Games IV yang dilaksanakan di Jepang pada 1 Juni
  72. Demi memastikan kawasan tersebut, bung karno beserta arsitek Friedrich Silaban terbang
  73. menggunakan helikopter untuk memantau dari atas udara. Sesaat berada di atas udara ber-
  74. Daerah yang Akhirnya Tergusur
  75. ayan. Dulunya kampung Bendungan Udik ini ditempati oleh orang yang berprofesi sebagai
  76. PERGESERAN IDENTITAS KLUB
  77. DAN SUPORTER DI
  78. ERA INDUSTRI
  79. muti kompleksitas. Malah, berbagai kompleksitas yang
  80. didukung oleh tradisi dan legitimasi yang dimilikinya; pemain dan fans sebagai entitas terakhir
  81. DUKA CITA FALKLAND, SUKA
  82. CITA GOL TANGAN TUHAN
  83. jurit dan tiga penduduk asli Falkland dikabarkan ikut gugur dalam medan perang.
  84. Pembalasan Perang Falkland
  85. Kecerobohan Jendral Leopoldo Galteri dalam mengambil keputusan ini lah yang me-
  86. likan kondisi politik yang terjadi di negaranya. Tujuan yang sangat jelas bahwa memalui sepak-
  87. is a Englishman" pada saat Argentina melakukan uji coba dengan Uni Soviet di kandang River
  88. 1974 “ pada Piala Dunia 1986, menang melawan Inggris sudah sangat cukup. Memenangi Piala
  89. hanya baru terlihat saat Argentina menghadapi Inggris di babak perempatfinal. Dengan gaya
  90. bermain yang lihai dalam mengolah si kulit bundar Maradano mampu melewati gelandang-
  91. Keberuntungan tidak berpihak kepada Hodge, bola tendangannya
  92. 23 ULTRAS
  93. KONFLIK
  94. SOSIAL
  95. KEMELUTUTY
  96. SEPAKBOLA
  97. Munculnya sebuah konflik dikarenakan adanya perbedaan dan keberagaman, dari pernyat-
  98. gan dan adanya perbedaan pandangan yang pada akhirnya akan memicu timbulnya konflik
  99. Konflik yang terjadi antara pendukung Liverpool dan juga Manchester United. Dua klub yang
  100. merepresentasikan kota masing-masing ini melahirkan konflik yang besar.
  101. Konflik tersebut tidak luput dari kelas sosial yang dimiliki oleh kedua kota. Pada awalnya
  102. Dalam masyarakat ini kelas proletar akan menang.
  103. "Terjadi kerusuhan di dalam stadion.."", "korban jiwa mencapai sekian","salah
  104. tidak mempunyai jiwa kemanusiaan sama sekali. Saya pribadi juga tidak akan pernah
  105. tak beradab. Akan tetapi, memahami sepakbola tidak hanya dilihat dari sisi negatifnya
  106. LOO N AEND EN
  107. sebagai kelompok suporter yang tidak bisa berkompromi ketika keduanya bertemu di lapangan
  108. suatu forum diskusi yang bernama FDSI (Forum Diskusi Suporter Sepak bola Indonesia). Dalam
  109. ditafsirkan hanya dengan satu tafsir saja, melainkan sepak bola mempunyai banyak tafsir yang
  110. perlu kita pahami dan kita telaah lebih dalam.
  111. yang hendak memutar pundi-pundinya melalui olahraga ajaib ini. Dari kuno hingga modern, dari tradisi
  112. Sebagai negara dengan penggagas mula sepak
  113. setiap pertandingan adalah harga mati bagi prestasi setiap tim. Tentunya setiap tim dan para
  114. yang jatuh hati pada sepak bola.
  115. Para fans, rela mengeluarkan uang hanya untuk mendapatkan secarik kertas tipis agar
  116. bola sebagai arena permainan uang para pemilik
  117. atasaray di dalamnya pun tercatat pernah meng-
  118. yang mahal adalah salah satu masalahnya. Siapa-
  119. yang mau membeli tiket dengan harga hampir 3 kali lipat kebutuhan makan? Tak usah jauh
  120. menuju Inggris, di negara ini pun mulai memasuki era yang sama. Kemudian gairah di dalam
  121. gawa andalannya Mario Gotze dan Robert Lewandowski di-bajak oleh Bayern Munchen yang
  122. nitas, kemewahan dan peradaban tinggi yang membuat setiap orang terkagum-kagum dengan
  123. TIME
  124. FULL
  125. PRR)))lTTTT
  126. WES ENTEK
  127. Apa saja, yang penting sepak bola.

Social-Culture

dAN SORAK 83 SORAISB

SERANGAN BALIK ZINEFOOTBALL

BABAK 1: "ATAS NAMA CINTA BOLA" BABAK 2: "KEMELUT SOSIAL DALAM NAUNGAN SEPAKBOLA"

IARRISO

Ode Sepakhola

VOL.4

SORAK

SORAI

ZINE

VOLUME #4 SOCIAL-CULTURE DAN ODE SEPAKBOLA Cetakan pertama, Desember 2020 ©SORAKSORAIZINE, 2020

Sebuah zine dengan rubrik sepakbola, yang mempersembahkan segala hal berkaitan dengan sepakbola baik lokal, nasional, maupun internasional. Sebagai tujuan agar semua orang dapat membaca hingga mengkritisi, guna mencintai dan merawat sepakbola yang lebih baik.

DAFTAR MUATAN

BABAK1

  • Hegemoni Mohammad Salah: Fenomena Perkembangan Islam di Liverpool dan Mengurangnya Islamfobia. *1
  • Thanks God For Football, Friendship and The Booze. *3
  • Menanti Peluit Akhir dan Kembali Mulainya Ode Buat Bola. *5
  • Sihir Jenis Baru Bernama Sepak Bola. *7
  • Loyalitas dan Cinta Sejati; 2×45 Menit. *9
  • Doa Ini Kuserahkan Padamu, Sepak Bola. *11
  • Membunuh Nalar, Sepak Bola. *13

    BABAK 2

  • Cerita di Balik Gemerlapnya Gelora Bung Karno dan Kompleks Senayan. *15

  • Pergeseran Identitas Klub dan Suporter di Era Industri. *17
  • Duka Cita Falkland, Suka Cita Gol Tangan Tuhan. *19
  • Konflik Sosial dan Kemelut Sepak Bola. *23
  • Football and Social Movement. *25
  • Tradisi, Prestasi, Industri, dan Masalah Yang Lahir. *27

BABAK1

"ATAS NAMA CINTA BOLA"

SLARH

Hegemoni Mohammad Salah: Fenomena Perkembangan Islam

di Liverpool dan Mengurangnya Islamfobia.

Berbicara mengenai perkembangan Islam di Inggris, tentu tidak luput dari pembahasan mengenai William Henry Quilliam. la lah yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Islam di Inggris. Quilliam dilahrkan di Liverpooí pada 10 April 1856, ia terlahir sebagai umat Nasrani yang kemudian menjadi Islam selepas kepulangannya dari Maroko. Sejak saat itu juga namanya berganti menjadi Abdullah Quilliam, dan di kemudian hari dikenal sebagai Syekh Abdullah Quilliam. Akan tetapi ia sudah belajar mengenai ajaran Islam pada saat ia berada di Perancis. Quilliam mengepakkan sayapnya dalam dakwah di Liverpool dan menjadi pemimpin komunitas muslim di kota tersebut. Dengan menyewa rumah yang dijadikannya sebagai tempat beribadah serta membangun tempat belajar yang diberi nama Institut Muslim Liverpool.

Quilliam sendiri melakukan penyebaran agama Islam dengan cara aktif menulis dan memproduksi koran mingguan. The Crescent, yang menjadi nama surat kabarnya memproduksi hampir tiga kali dalam seminggu tulisan-tulisan yang bertemakan Islam. Aktivitas tersebut terus dilakukan oleh Quilliam agar penyebaran Islam di Inggris khususnya di Liverpool berpengaruh kepada orang banyak. Akan tetapi dakwah yang dilakukan terhenti ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Inggris pada tahun 1908 untuk memperdalam ilmu hukum. Properti yang sebel- umnya berupa masjid dan institut muslim, dilanjutkan oleh putranya dan mengalami perkembangan yang sangat tinggi dalam penyebaran Islam di Liverpool. Quilliam akhirnya kembali ke Inggris pada tahun 1914. la wafat pada tahun 1932 dan dimakamkan di Brookwood.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan Islam di Inggris mengalami tren yang buruk. Hal tersebut ditandai dengan adanya diskriminasi yang dilakukan oleh warga Inggris kepada umat Islam, fenomena tersebut dikenal sebagai islamofobia. Tren ini menjadi hal yang sangat berpengaruh dan selalu disorot oleh banyak orang di negara-negara lain. Pengalaman buruk yang menimpa komunitas muslim di Inggris tak bisa dilepaskan dari salah satu aksi terror yang cukup masif. Terror tersebut melibatkan ekstrimis yang membawa narasi agama sebagai justifikasi atas tindakan barbar yang dilakukan.

Riwayat itu lumayan panjang, pada 2005 bom bunuh diri meledak di stasiun kereta bawah tanah dan bus tingkat di London. Menewaskan kurang lebih 50 orang dan ratusan orang lainnya luka-luka. Mohammad Sidique Khan, Shehzad Tanweer, Hasib Husssain, dan Germaine Lindsay-

erupakan nama dari pelaku pengeboman. Mereka terinspirasi oleh fanatisme ter- dap Islam dan Al-Qaeda.

Delapan tahun berlalu, Lee Rigby tentara Inggris dan veteran Perang Afghani- stan dibunuh secara brutal oleh ekstrimis. Motivasi dari aksi tersebut adalah bentuk balas dendam kepada tentara Inggris karena dianggap membuat muslim menjadi sengsara. Rigby ditabrak dengan mobil dan ditikam dengan pisau berkali-kali. Àksi tereror tersebut tidak berhenti, berlanjut pada tahun 2017 tercatat ada dua aksi teror yang hanya berjarak dua bulan. Pertama, teror di jembatan Westminster pada bulan 1aret yang menyebabkan tiga orang tewas dan 29 orang dirawat di rumah sakit. laku bernama Khalid Massod. Kedua, bom bunuh diri di Manchester Arena, usai konser Ariana Grande. Tercatat 22 orang meninggal dan 59 lainnya mengalami luka. ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan ini.

Setelah kejadian tersebut, dalam laporan tahunan berjudul State of Hate, dis- ebutkan 35% orang Inggris percaya Islam bisa menjadi ancaman dalam cara hidup orang Inggris. Serta 32% menyatakan hukum Syariah tidak bisa diberlakukan di daerah-daerah Inggris. Akan tetapi tren islamofobia mulai menyusut karena ada pahla- wan yang dibanggakan dari Liverpool. Mohammed Salah merupakan pemain dari Liverpool yang sebelumnya berseragam AS Roma. Pemain kelahiran Mesir ini telah

merubah tren islamofobia yang ada di Inggris. Sebelumnya memang islamfobia yang

terjadi di Inggris hampir 35% masyarakat Inggris mengaku bahwa Islam menjadi ancaman kehidupan sehari-hari mereka. Islamfobia tersebut akhirnya semakin memu- dar, menurut hasil studi yang dilakukan oleh Laboratorium Kebijakan Keimigrasian di Universitas Stanford, diketahui bahwa tingkat islamofobia daerah Merseyside, Liverpool, mengalami penurunan sebanyak 18,9%. Meskipun tidak seluruh masyarakat Inggris mengalami penurunan setidaknya ada tren positif yang terjadi setelah Mohammad Salah masuk di Liga Inggris.

Fenomena yang menjadi menarik adalah ketika para fans Liverpool mencipta- kan beberapa chants kepāda Mohammad Salah ketika ia mampu mencetak gol. Dari chant tersebut kurang lebih berbunyi bahwa mereka akan menjadi muslim jika Mohammad Salah mampu mencetak gol dalam setiap laga yang ia jalani. Nyanyian ini yang sempat menjadi fenomena yang luar biasa dalam skala sepak bola di Inggris. Seperti yang sebelumnya ditulis bahwa dengan adanya fenomena ini, islamofobia bisa semakin menurun di Kota Liverpool dan juga di Inggris. If he's good enough for you, He's good enough for me, If he scores another few then I'll be (Muslim too, If he's good enough for you, He's good enough for me, Then sitting in a mosque is where) I wanna be. Mo Saah, la, la, Īa, la, La, Ía, la, la, la, la, Mo Šalah, Ía, la, la, la, La, la, la, la, la, la. Salah merupakan pesepakbola yang taat dalam beragama (Islam). Dalam setiap kali aksinya di lapangan hijau ia selalu mempraktikkan gaya dalam ajaran agamanya. Seperti mengucap rasa syukur ketika mencetak gol dengan cara bersujud. Šalah bisa dikatakan sebagai fenomena baru sekembalinya ia mērumput di Inggris, tetapi ia mampu menghegemoni masyarakat Inggris terkhusus Liverpool. Dengan adanya Mohammad Salah, mungkin bisa dikatakan bahwa islamofobia semakin hari semakin mengurang dan kekerasan kepada komunitas muslim semakin menghilang. Semoga saja, dan yang terpenting dalam tulisan ini adalah sepak bola mampu menghegemoni para penggemarnya dan mampu menjadi alam dalam berdakwah.

Daftar Pustaka:

quilliam-ke-mohamed-salah-menghidupkan-islam-di-liverpool-dan-inggris

THANKS GOD FOR FOOTBALL. FRIENDSHIP AND THE BOOZE.

"Persaudaraan lintas kota dan gelas yang terus berputar..."

Tak ada habisnya membicarakan tentang kehidupan, tak ada habisnya pula membicarakan sepak bola; dan benar! Sepak bola adalah kehidupan. Mari kita mulai.

ALKOHOL.

Apa yang terpikir dalam benak anda ketika mendengar kata tersebut? Ya baiklah, kami harap anda adalah orang yang berpikiran terbuka dan tidak mudah menjustifi- kasi sesuatu, tapi jika tidak. Ya sudah. Tidak ada masalah.

Mari kita lanjutkan pembahasan ini, Kami rasa anda sepakat jika negeri ini memiliki berbagai kebudayaan dan tradisi, bentuknya pun bermacam-macam mulai dari tarian, lagu, adat istiadat, bahasa, dan lain sebagainya. Setiap daerah pun memiliki identitasnya tersendiri, bahkan dalam satu daerah pun memiliki kebudayaan yang berbeda. Terlampau banyak tradisi dan kebudayaan pada negeri ini, salah satu- nya soal minuman beralkohol.

Tercatat sejak zaman Kemaharajaan Majapahit, budaya menenggak minuman beralkohol sudah ada di negeri ini. Pelengkap ritual adat, menjamu tamu kenegaraan hingga alat diplo- masi. Tak hanya Majapahit, beberapa kerajaan di Nusantara pun menggunakan cara yang sama dan tentunya dengan minuman yang berbeda-beda. Negatif.

Benar sekali, banyak masyarakat kita yang memandang bahwa tradisi yang satu ini adalah kebi- asaan yang negatif. Banyak berita-berita buruk bahkan kriminal yang tersebar di masyarakat disebabkan oleh minuman beralkohol yang dikonsumsi melewati batas. Bahkan kita sendiri pun juga mengerti efek yang ditimbulkan dari jenis minuman ini.

Namun pertanyaan yang muncul ialah, bukankah semua yang dikonsumsi secara berlebihan

memang tidak baik? Lalu apakah efek yang ditimbulkan akan selalu buruk?

Biarkan kami berkisah,

6 Mei 2018, lanjutan pertandingan kasta kedua Liga Indonesia digelar. Mempertemukan tim dari Daerah Istimewa Yogyakarta dengan warna hijau sebagai identitasnya melawan tim yang bermarkas di sebelah barat laut kota Surabaya dengan kuning sebagai warna kebesarannya.

Pertandingan berjalan seperti biasa, kedua tim bermain penuh dengan ambisi kemenangan. 90 menit selesai dan skor imbang pun menjadi puncaknya. Namun bukan tensi pertandingan yang akan dibahas pada tulisan ini, jauh lebih besar dari apa itu menang atau apa itu kalah. Semua tentang persaudaraan.

Paska peluit panjang beberapa pendukung tim kuning selaku tuan rumah menghampiri beberapa pendukung tim hijau yang berperan sebagai tamu, Bukan, bukan untuk menyerang pendukung tim tamu. Sebaliknya, mereka menawarkan apa yang kami sebut sejak awal, persaudaraan.

Sekelompok pendukung tim tamu yang tergabung dalam sebuah komunitas kecil diajaknya oleh mereka menuju sebuah tempat yang menjadi basecamp mereka. Sebagian besar dari kedua pihak tak saling mengenal pada awalnya, agak canggung dan bingung hendak memulai percakapan adalah intro yang menghiasi awal pertemuan.

Hingga ada sesuatu yang datang, “minuman". Dibukalah beberapa botol, pecahlah suasana dan kami memulai sebuah konektivitas antar daerah yang terjalin hingga sekarang.

4 September 2018, leg kedua dan kejadian berulang. Kini tim hijau yang menjadi tuan rumah. Kedua kelompok yang telah bertemu sebelumnya bersua kembalí, jamuan terlaksana lagi dan tetap dengan beberapa botol minuman alkohol sebagai perekatnya. Saudara satu tribun berujung saudara selamanya!

Lalu menjadi sebuah ironi, banyak orang berkata bahwa hal tersebut memberikan efek buruk. Kami rasa tidak, persaudaraan yang kami dapat saat itu.

Jika dengan cara meminum-minuman keras bisa mempersatukan kita kenapa tidak? Jangan selalu dianggap negatif ketika hal tersebut berujung positif. Atau mungkin beberapa orang menganggap bahwa persaudaraan adalah hal yang buruk?

apa gang sekiranga bisa mengatukan kelompok

pendukung lim sepak bola pada lingkup suatu

kota dan daerah? klub lokall

apa gang sekiranga bisa mengatukan kelompok

pendukung tim sepak bola dari dua kota gang berbeda? minuman lokall hahahaa!

Menanti Pelurt Akhir

Ode Buat Bola

Sebuah bualan singkat dan upaya meromantisir kerinduan yang menyebalkan. Sabtu sore itu masih sama seperti hari-hari yang lalu di tengah pandemi.

Duduk setengah terpaku dan termenung di depan teras rumah seperti sedang main peran, memperagakan candaan tentang ritual klasik seorang bekas pegawai pemerintahan yang tengah menikmati masa pensiunnya. Lalu terbesit seperti kilat, mēnyebalkan sekali keadaan seperti ini.

Semua tahu. Beberapa orang sudah kenyang dengan rasa bosan, kewaspadaan, dan banyaknya informasi yang menghujam layaknya anak panah dari sana dan sini yang menjejali pikiran dan membuat banyak orang lelah. Seperti beberapa pemain bertahan La Liga yang menggerutu capek, “ah susah sekali menghentikan Lionel Messi...". Haha. Klise.

Tak lama berselang dan tanpa banyak dongeng, satu rombongan anak-anak bersepeda mele- wati depan rumah dan memecah lamunanku. Tiga anak dengan sepeda seukuran lazim usianya dan satu sisanya dengan sepeda ukuran orang dewasa. Mungkin ia pinjam milik kakaknya, atau ayahnya, mungkin juga pamannya.

Lantas terdengar satu anak bernyanyi setengah teriak dari kejauhan, katanya; "Ayo dukung sebagian teks hilang, Ayo nyanyi bersama, Ayo jangan diam saja..." Namun sayang, temannya yang lain hanya bersikap anteng tak seperti nyanyiannya, mungkin mereka sudah lelah mengayuh.Aku terperanjat dan kemudian berdiri di balik gerbang keluar, melihat mereka melaju hilang berbelok ke arah Timur.

Satu jam dan waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Ya, aku terpaksa mengalah di hadapan hari yang mulai gelap. Aku memilih masuk ke dalam rumah.

Di hadapan layar komputer aku kembali duduk, namun kali ini tidak termenung, pun juga tak setengah terpaku.

Berputarlah satu lagu andalan sebuah band punk pop- uler. Kalau didengar dengan khusyuk, tembang tersebut menggambarkan kisah pilu seseorang yang tengah teri- sak di malam minggu. Sebuah kebetulan sekali pikirku.

"I was thinking about you There was something i forgot to say I was crying on a Saturday Night...

Di tengah sayup-sayup suara lagu tiga menit 28 detik, terpampang deretan thumbnail gambar bergerak ten- tang cuplikan laga, atmosfer pertandingan, nyanyian para fans, dan konten-konten berbau sepak bola lainnya.

Aku diam dan mencoba menahan diri agartak terjeru- mus ke visual fana tersebut. Dan ternyata tidak mudah setelah kupikir-pikir, banyak sekali aspek yang hilang setelah sekian lama. Seperti hiburan laga di ákhir pekan, berisiknya teriakan orang-orang ketika gol datang, dan sakralnya puja-puji kepada klub kesayangan. Yeah. I was thinking about you, football. Dan selama ini banyak orang tengah menahan rindu pula. Pada kekasihnya, pada kawannya, pada keluarganya, dan pada apa saja. Mungkin anak kecil yang lewat beberapa jam yang lalu pun merasakan rindu pula, rindu terhadapsepak bola dan mungkin tengah berusaha mengurainya dengan nyanyian dukungan yang semoga sedikit menghibur san- ubarinya. Dan kemudian diam. Lagi-lagi masih diam.

Beberapa detik dan aku menatap ke arah kanan bawah layar monitor, waktu menunjukkan pukulenam sore. Orang-orang tengah menyantap sajian berbuka puasa setelah bunyi merdunya Ádzan Maghrib. Diiruang seb- elah terdengar suara íbu lirih merambat pada dinding menurut menuju telingaku. "Terjadilah padaku perkataan-Mu."

Dan sebelum turut mengucap amin, aku sempat merengek... Duh Gusti, aku kangen ndelok bal-balan.

JEMIS BARU

BERNKNK

SIHIR

SEPAKBOLA

Sepak bola adalah salah satu cabang olahraga yang banyak diminati dibandingkan dengan cabang olahraga yang lain. Sepak bola menjadi primadona di kalangan dunia, teru- tama di Indonesia. Bukan hanya memainkan saja, tetapi menonton sebuah pertandingan sepak bola juga memberikan kesenangan tersendiri bagi masyarakat.

Banyak yang beranggapan bahwa menonton pertandingan sepak bola adalah salah satu hiburan rakyat dikala suntuk dengan pekerjaan mereka yang dituntut sedemikian rupa oleh para atasan perusahaan. Sehingga tidak sedikit juga yang gemar menonton pertandingan sepak bola. Di masing-masing klub sepak bola pasti mempunyai basis penonton yang bisa dikatakan sebagai suporter, yang mendukung dan memberi semangat pada klub agar dalam setiap pertandingan mendapatkan kemenangan.

Berbicara mengenai penonton dapat diklarifikasi bahwa ada dua tipe kelompok. Yang pertama, penonton yang hanya melihat suatu pertandingan sepakbola tanpa mendukung salah satu tim kesebelasan. Kedua, penonton yang menyaksikan pertandingan dengan diser- tai dukungan terhadap salah satu tim kesebelasan yang mereka bela, penonton tersebut bisa diartikan sebagai suporter. Suporter sendiri dapat diartikan suatu kelompok sosial yang secara relatif tidak teratur yang terjadi dikarenakan ingin melihat sesuatu (spectator crowds).

Sayangnya perasaan bahagia atau euforia suporter sepak bola salah satu klub yang menang tidak selamanya dibalas dengan positif. Kelompok suporter yang merasakan kekala- han pun akan merasa geram dengan suporter lawan yang mendapat kemenangan. Dari fenomena tersebut timbulah bentrok antar suporter yang itu akan dikatakan sebagai rival antar suporter atau musuh abadi dengan suporter klub yang lainnya. Pengertian rivalitas yang selama ini berkembang sudah salah kaprah. Rivalitas tidak hanya sekedar bentrok kepada suporter lain, melainkan ada sejarah yang jelas dari kedua belak pihak yang mem- buat semua itu menjadi sebuah rivalitas.

Dari kejadian tersebut, suporter sepak bola Indonesia bisa dikatakan merupakan suporter yang fanatik. Seperti yang di beritakan Astomo (2012) bahwa suporter Indonesia men- -duduki peringkat ketiga setelah Inggris dan Argentina. Secara Psikologis seseorang yang fanatik biasanya tidak mampu memahami apa yang ada di luar dirinya dan tidak paham akan masalah orang atau kelompok lain. Tanda-tanda yang jelas dari sifat fanatik adalah ketidak- mampuan dalam memahami karakteristik individu atau kelompok lain yang berada di luar kelompoknya, baik benar ataupun salah (Rizkita, 2012).

Seperti halnya yang banyak terjadi di akhir-akhir ini, mengenai banyaknya korban atas kerusuhan suporter sepakbola. Bagaimana kelompok suporter menyerang kelompok suporter lain seperti tanpa memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan juga bertingkah seperti

hewan. Yang sangat disayangkan adalah bagaimana manusia sudah mendahului takdir yang

dikehendaki oleh Tuhan. Mereka dengan sangat beringasnya mencabut nyawa tanpa pikir

panjang. Terus di mana sisi kemanusiaannya? Jawabannya mereka bukan manusia, melain-

kan hewan tanpa akal sehat.

Pengalaman yang paling berkesan adalah saat berkesempatan menjelajahi pulau paling ujung utara Indonesia. Gila kepada sepak bola mungkin julukan yang pas untuk masyarakat pulau tersebut. setiap harinya tidak lepas dari perbincangan mengenai sepak bola, mulai dari sepak bola lokal hingga sepak bola internasional. Banyak belajar dari masyarakat Talaud

bahwasannya memahami fanatisme sepakbola tidak hanya fanatisme yang negatif, melain-

kan fanatisme yang positif. Rivalitas tanpa ada korban dan sepak bola bisa mēmanusiakan manusia hanya dapat dilihat di kepulauan Talaud.

Tidak perlu belajar memahami fanatisme dan rivalitas dari luar. Kita sejatinya mempu- nya pemahaman sendiri mengenai rivalitas dan juga fanatisme dalam sepak bola. Jangan malu belajar pada apa yang ada dalam negeri kita sendiri.

Pada dasarnya sepak bola telah menjadi sihir dari dalam diri kita meskipun tanpa kita sadari. Mulai dari fanatik terhadap klub yang dicintai dan membenci klub yang dirasa meru- sak kebahagiaan diri kita dengan melihat kēmenangan klub yang dibenci sampai berujung bentrok dengan suporter klub lawan. Semua itu mengalir dari dalam diri kita secara tidak sengaja. Ketidak sengajaan itu seperti halnya sihir yang melekat pada setiap diri kita masing-masing. Semua itu terjadi begitu saja layaknya orang yang terkena sihir. Dengan

sangat diharapkan, fanatik dalam ranah sepak bola tidak dinilai sebagai fanatisme yang

negatif tetapi juga didasari oleh fanatisme yang positif. Semua kembali kepada pendirian masing-masing menganggap fanatisme disisi mana, negatif kah? Positifkah?.

LOYALITAS DAN

CINTA SEJATI;

2X45 MENIT

Batigol. Hampir dipastikan jika penikmat sepak bola pada medio sembilan puluhan tak akan asíng

dengan istilah tersebut. Gabriel Omar Batistuta namanya, bomber tajam dan mematikan pada masanya. Sang nomor 9 sejati. Super attacante!. Batistuta adalah salah satu kepingan dari ban-

yaknya nama agung seorang penyerang yang pernah Argentina lahirkan. Omar Sivori, Mara-

dona, Mario Kempes, Hernan Crespo, dan masih banyak lagi. Dan tentunya tidak lupa, Gabriel Omar Batistuta itu sendiri.

Mengawali karir di tanah kelahirannya Argentina dengan Newell's Old Boys sebagai tim profesional pertamanya pada musim 1988-1989, ia tak terlalu bersinar pada awalnya dengan hanya mencetak tujuh gol dari 24 laga. Berselang setahun kemudian ia berlabuh menuju River Plate, menghabiskan satu musim dan hengkang kembali menuju rival abadi mantan klubnya, Boca Juniors. Empat gol saat berseragam Los Millonarrios dan 13 gol saat membela Azul y Oro.

Hingga pada musim 1991, ia terbang menuju Firenze setelah bersinarnya Batigol di gelaran Copa America dan bersama La Viola ia berubah menjadi seorang legenda hidup. Terkenal dengan sontekan kaki kanan yang mematikan, kaki kiri yang tak kalah sigap menerjang bola dan

presisi sundulan kepala yang jitu membuatnya sempat dijuluki The Animal. Beberapa orang

pada saat itu sempat berpendapat jika Batistuta dan gol yang tercipta merupakan saudara

kembar.

Perlunya penyesuaian terhadap kultur baru yang berbeda dengan Argentina tak langsung

memuluskan perjalanannya di negeri Menara Pisa tersebut.Walau sempat terdegradasi ke Serie B, ia tetap kukuh dan setia pada Fiorentina walau banyak klub ingin meminang dirinya.

Hanya setahun hingga La Viola berhasil kembali ke-Serie A, berkat jasanya pula grafik per- mainan Fiorentina mampu berkembang hingga tak ayal jika pada masa itu Fiorentina masuk dalam jajaran Il Sette Magnifico bersama klub-klub terbaik Italia lainnya.

Hampir satu dekade mengabdi pada publik Artemio Franchi, ia berhasil menorehkan beberapa gelar bagi La Viola. Trofi Serie B pada musim 1993-1994, Coppa Italia pada 1995-1996 dan Super Coppa Italia pada tahun 1996. Namun di samping beberapa gelar yang ia torehkan dan kegemilangan namanya pada saat itu, ia masih memiliki mimpi dan ambisinya tersendiri untuk merengkuh gelar scudetto yang akan sangat membahagiakan jika ia raih bersama Fiorentina.

Memasuki musim 1998/1999, Batistuta hampir saja mewujudkan impiannya tersebut. Tampil konsisten dan menjadi capolista Serie A membuat Fiorentina memiliki kans juara yang amat besar. Namun sayang beribu sayang, cedera ia alami dan harus menyingkir berminggu- minggu. La Viola goyang di puncak klasemen, Milan pun datang menggeser sang capolista dan merebut scudetto di akhir musim. Mimpi sang bomber pupus seketika hingga frustrasi melanda dirinya, pada musim 1999/2000 pun Fiorentina tidak menunjukan adanya tanda-tanda prestasi.

Bukan hanya para fans, seorang pemain pasti akan sangat mengidamkan trofi liga. Semua

pemain, tak terkecuali Batistuta sendiri. Musim 2000/2001, ia hengkang menuju AS Roma. Tak salah, bersama I Lupi ia mampu mempersembahkan gelar juara ligā Italia musim itu juga. Tera- khir direngkuh pada musim 1982-1983, Serigala Ibu Kota sukses merebut scudetto kembali bersama Batistuta, Fransesco Totti, Hidetosi Nakata, dan nama-nama besar lainnya. Namun dibalik kegemilangan dan kejayaannya bersama Roma, ada sebuah kisah menarik yang menyatut dirinya pada musim juara I Giallorossi tersebut.

Ketika muncul kabar kepindahan seorang pemain besar yang sudah tersohor namanya pas- tilah akan membuat gempar para penikmat sepak bola. Fenomena kepindahan seorang Neymar, Ronaldo, dan nama-nama lainnya mungkin tak jauh beda dengan apa yang terjadi pada masa Batistuta hengkang dari Firenze menuju Roma. Dan, yang pastinya dinantikan adalah laga sang punggawa melawan mantan timnya.

Apa yang mungkin menjadi mimpi buruk Batistuta benar-benar ia alami pada kemudian

hari tatkala ia yang sudah berseragam Roma harus meladeni Fiorentina yang menjadi mantan timnya. Hari yang sungguh berat baginya, beberapa orang mengisahkan ketidaksanggupan pada dirinya saat itu hingga ia meminta untuk tidak dimainkan. Namun apa daya, sang allena- tore Roma saat itu Fabio Čapello tetap memasangnya.

Laga berjalan sengit dan skor kacamata hingga turun minum ialah hasilnya, babak kedua

berjalan dan beberapa peluang yang tercipta hampir mencatatkan nama-nama pemain pada papan skor Stadion Olimpico. Hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu datang, Gol! Menit 83 saat tinggal sedikit waktu tersisa dan Roma unggul atas Fiorentina yang sekaligus mengantarkan tim Serigala Ibu Kota memenangkan laga tersebut. Seorang striker yang berhasil membawa AS Roma memenangkan laga tersebut bernama Gabriel Batistuta, ya, seorang mantan pemain Fiorentina.

Gemuruh pun tercipta saat gol tersebut tercetak, Olimpico bergetar dengan gairahnya, handbanner bergambar wajah Batistuta dengan tertulis “e lo chiamiamo il re leone..." terpam- pang di sudut selatan Stadion Olimpico tempat Tifosi Roma bernaung. Momen yang cukup me- negangkan. Terlebih bagi Batistuta. Mungkin beberapa pemain tak ambil pusing ketika diha- dapkan oleh realita tersebut, mencetak gol ke gawang mantan klubnya dan merayakan sele- brasi dengan girangnya. Namun beberapa pemain memilih diam dan tidak merayakan gol terse-

but sebagai penghormatan atas jasa mantan klub yang ia bela yang mungkin telah membesar-

kan namanya, termasuk Batistuta saat itu.

Namun lagi-lagi yang menjadi sebuah fenomena mengharukan adalah air mata Batistuta yang tumpah beberapa saat setelah gol yang ia cetak tersebut, saat rekan-rekan tim-nya meng- hampiri untuk memberikan selamat ia memilih untuk diam dan beberapa saat kemudian, ia menangis. Jika boleh sedikit mendramatisir, peristiwa ini layaknya seorang individu yang terpaksa dan sungguh sekali lagi terpaksa menganiaya pacarnya sendiri. Apa boleh buat, lagi-lagi impiannya untuk merasakan atmosfer juara membuatnya harus melakukan hal yang bagi pen- dukung Fiorentina adalah hal yang keji. Mencetak gol ke gawang mantan timnya, tim yang sudah membesarkan namanya, dan para fans yang masih memujanya.

Sungguh sebuah momen yang campur aduk. Namun apapun itu, terlepas dari beberapa anggapan miring tentang dirinya, ia tetap merupakan legenda yang memiliki segudang penca- paian. la sudah menunjukan rasa cintanya yang begitu besar terhadap Fiorentina tempat hat- inya berlabuh dan terpatri selamanya, walaupun ia tetap memiliki sebuah impian individu yang ingin diwujudkan, Scudetto.

Begitulah akhirnya, sepak bola memang melahirkan seribu fenomena dan kisah-kisah ber- balut romansa lainnya. Seperti kisah yang Batigol alami. Gabriel Omar Batistuta, la memang memuncak bersama Roma, namun Fiorentina tetap kekasih abadinya.

Doa Ini

Kuserahkan

Padamu, Sepak Bola.

Football is my religion.

Begitu tulisan tersebut tertera pada sebuah kaos hitam dengan modifikasi lukisan The Praying Hands karya Albrecht Durer tergambar pada seorang laki-laki yang sedang menikmati pertand- ingan di salah satu sudut stadion di Indonesia.

cayaan, anutan, dan religi. Dan jika kata diatas digabungkan dan diterjemahkan maka akan ber- bunyi “sepak bola adalah agamaku".

Ya, menarik bukan? Cukup ekstrim terdengar di mana di negara ini agama merupakan sesuatu yang dinilai menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan manusianya, entah memang sebagai pedoman hidup, identitas, bahkan untuk sekedar mengamankan posisi tawarnya di masyarakat.

Lalu menjadi lucu ketika anda melihat dan menyaksikan sebuah “agama" baru yang mengguna-

kan olahraga sebagai instrumennya, sepak bola.

Menilik lebih jauh kebelakang di mana perkembangan budaya sepak bola Indonesia yang

banyak mendapat paparan dari pihak luar secara tak sadar telah memberikan dampak besar bagi kita. Fenomena ultras, hooligans bahkan konsumsi budaya casuals dari Inggris telah men-

jangkiti budaya sepak bola tanah air. Tidak salah juga melihat fenomena ini, toh semua punya

nilai plus dan minus masing-masing.

Seperti biasa, apa yang baik diserap, apa yang kurang baik ya ditimbang-timbanglah terlebih dahulu. Hehe.

Dan. Lagi-lagi pembahasan kali ini tak jauh beda dengan pembahasan atas tulisan saya sebel- umnya yang masih menggunakan contoh budaya sepak bola luar negeri. Kita ambil contoh dengan apa yang terjadi di Àrgentina sana, besarnya atmosfir dan kegilaan masyarakat Argentina terhadap sepak bola bisa anda saksikan ketika anda berselancar melalui layanan streaming pada youtube. Sama halnya ketika timnas Indonesia bertanding, para supor- ter timnas Argentina pun sama ramainya dengan yang ada di sini. Sama-sama ramai, sama-sama gila.

Tak usah jauh-jauh ke timnas, ketika anda menyaksikan superclasico digelar antara kesebelasan Boca Juniors melawan River Plate sekalipun hanya melalui gawai pribadi anda, atmosfer itu akan terasa. Betapa gilanya mereka merayakan sepak bola di sana.

Dan ketika timnas Argentina menjuarai piala dunia pada tahun 1978 dan 1986, tokoh sentral sekaligus legenda hidup mereka Diego Armando Maradona sungguh mendapat pujian dan sorakan bahkan hingga sekarang. Saking tersohor dan dipujanya hampir seluruh pecinta sepak

bola Argentina, hingga muncul suatu aliran kepercayaan baru bernama Iglesia Maradoniana

atau Gereja Maradona. Sungguh suatu hal yang unik dan sekali lagi, gila.

Sebagai negara dengan hampir 80% penganut Katolik Roma, tak ayal jika adat-tradisi gereja

menjadi contoh mereka dalam menjalankan ritus-ritusnya. Bahkan perayaan Natal yang menjadi simbol kelahiran Yesus Kristus pada tanggal 25 Desember berubah menjadi 30 Oktober di mana sang legenda dilahirkan. Tercatat hampir 275.000 orang sudah mendaftarkan diri dalam “agama" ini.

Tentunya hal ini menjadi sebuah fenomena unik dalam perkembangan budaya sepak bola Seorang legenda yang bertransformasi menjadi... Tuhan. Jika disangkutkan dengan paragraf pertama, mungkin fenomena ini menjadi contoh konkrit bagaimana sepak bola adalah agamaku. Bagaimana sepak bola benar-benar mengakar dan menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan.

Memang seperti itu dan akan terus seperti itu, sepak bola adalah sebuah hegemoni yang mer- asuk pada setiap lini. Karena memang sepak bola pada nyatanya bukanlah sekedar permainan. Argentina jangan ditanya, sepak bola adalah nyawanya. Bagaimana dengan kita? Mau ikutan?

Huehehehehehehehehe bercanda.

NALAR

MeMBUNUH

SEPAKBOLA

Mengapa sepak bola? Ada apa dengan semua ini? Saya memulai tulisan pertama dengan suatu ungkapan yang sudah mainstream di dunia sepak bola, football; it's more than just a game. Saya tak tahu pasti siapa yang membuat slogan ini, tapi agaknya saya berani mengatakan bahwa 100% saya sepakat dengan kalimat tersebut. Kenapa?

Ketika anda melihat sebuah pertandingan di layar kaca khususnya jika sepak bola hanya anda anggap sebagai permainan dan olahraga sebelas orang, mungkin anda akan merasa biasa-biasa saja terlebih di awal anda sudah beranggapan bahwa itu hanyalah sebuah permainan, menang atau kalah saya akan tetap menjalani kehidupan dengan normal. Ya seperti kebanyakan orang. Namun apa yang terjadi jika anda adalah seorang fans fanatik sebuah tim?

Sebuah kekalahan dan kegagalan, meskipun kecil bisa saja membuat seorang pendukung seperti bayi yang kehilangan mainan kesayangannya. Menangis, merengek bahkan berteriak hist- eris dengan cengengnya. Sama hal-nya seperti sang bayi yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika kehilangan mainannya, para fans pun juga tidak memiliki daya apa pun ketika hasil akhir pertandingan mengharuskan tim kesayangannya takluk di depan lawan. Mereka hanya bisa berdiri di belakang pagar tribun atau duduk di depan televisi, entah untuk merayakan keme- nangan atau tenggelam dengan sedihnya. Pilihan mereka ada dua, tetap setia dengan apa yang menjadi keperçayaannya selama ini atau mundur teratur, mencari tim yang lebih baik permain- annya atau melupakan sepak bola untuk selama-lamanya.

Namun pada akhirnya juga sepak bola menyihir mereka semua. Menyihir? Bagaimana? Saya bicara soal loyalitas, tentang apa yang menjadi kepercayaan "mereka" sejak awal.

Terlampau banyak cerita-cerita romantis para fans ketika perjumpaan pertama mereka dengan sepak bola mampu mengubah hidupnya, salah satu yang membuat saya tertarik adalah mereka yang mengenal sepak bola melalui semangat yang diturunkan sang ayah pada sang anak, from father to son begitu mereka menyebut. Bukankah itu merupakan momen yang indah? Ketika satu insan menggilai suatu hal dan merayakan keberhasilan bersama seseorang yang bagi banyak orang merupakan anugerah terbesar dari Tuhan, dan Gol! Anda bersorak bersama buah hati anda, tak melulu soal sepak bola, soal apapun ketika anda merayakan keberhasilan bersama-sama dan kelak ia akan merayakan keberhasilan yang sama juga di kemudian hari.

Dan saya meyakini bahwa hal ini merupakan satu dari sekian faktor yang membuat para fans menggilai dan bertambah gila dengan sepak bola sejak awal. Benar-benar gila.

Kenapa bisa gila? Karena mereka hanya mencintai satu klub dan banyak dari mereka yang terus membawanya hingga akhir hayat. Sungguh suatu kesetiaan tingkat tinggi ketika anda telah memberikan segala yang anda miliki terhadap kecintaan anda dan hanya dibalas dengan, yaaa... Prestasi yang biasa-biasa saja.

Sebagai contoh kecil, lihat saja bagaimana klub sekaliber Bayern Munchen mendominasi papan atas Liga Jerman dan menjadi langganan juara dengan koleksi 28 trofi-nya. Bagaimana dengan nasib klub lain? Bagaimana dengan VFL Wolfsburg, Eintracht Frankfurt, Fortuna Dusseldorf, dan klub-klub lainnya yang masing-masing baru menjuarai trofi sebanyak satu kali? Bagaimana dengan Sankt Pauli yang menyentuh prestasi saja tidak? Klub seperti Borussia Dortmund yang menjadi pesaing terbesar mereka saja hanya bisa menjadi raja satu musim sebanyak delapan kali. Bahkan ketika anda melihat track-record keduanya kala Der Klassiker digelar skuad Die Roten pun masih mendominasi kemenangan.

Lazimnya ketika anda memiliki sesuatu yang kurang baik atau anda dihadapkan dengan pilihan yang lebih baik, pasti anda akan memilih hal yang lebih baik bukan? Tetapi apa yang dilakukan

para penggemar? Apakah mereka pergi?

Silakan cek dan buktikan sendiri bagaimana sama gilanya atmosfer yang dihasilkan para suporter Eintracht Frankfurt dengan para suporter Munchen di Allianz-Arena, silakan saksikan sendiri bagaimana gairah yang diciptakan Millerntor-Stadion kala Sankt Pauli bertanding mampu me- nyihir para penonton yang hadir menyaksikan laga tersebut hingga ikut-ikutan bersorak. Semua sama gilanya!

Tentunya fenomena ini tak hanya ada di Jerman, di negara lain pun yang menyelenggarakan kompetisi secara profesional pasti memiliki klub yang mendominasi ajang tersebut secara berturut-turut. Entah satu atau dua tim. Dan lagi-lagi pula, para tim kecil juga tak kehilangan penggemarnya yang setia. Terlepas dari banyak intrik, drama dan bahkan agenda setting politik pada sepak bola.

Hingga pada akhirnya sepak bola tidak sebatas pada menang atau kalah, juara atau tidak juara,

promosi atau terdegradasi.

Sepak bola melahirkan cinta, loyalitas bahkan pengorbanan yang dibawa seumur hidup

Ada semangat dan identitas yang patut dipertahankan hingga kejayaan itu mampu direbut sembari bersorak di akhir musim; We Are The Champions! Mengutip salah satu kalimat dari seorang legenda sepak bola di tanah Inggris, "you can change your wife, your politics, your religion, but never, never can you change your favourite football team."-Eric Cantona.

Mungkin ini semua terlalu berlebihan dan aneh bagi sebagian orang, namun percayalah; you'l/ never understand if you're not one of us. Dan seperti yang saya sebutkan di awal, materi saya ini mainstream. Ha biarin! Hehe.

BABAK 2

φ "KEMELUT SOSIAL DALAM NAUNGAN SEPAKBOLA"

Cerita di Balik Gemerlapnya

Gelora Bung Karno dan Kompleks Senayan

Sebelum pembahasan mengenai cerita dibalik gemerlapnya kompleks Senayan dan Stadion Gelora Bung Karno. Saya ucapkan terimakasih kepada salah satu serial televisi Si Doel Anak Se- kolahan yang tayang dari 1994 sampai 2006. Melalui salah satu episode Latihan Mulu Menang Kagak, akhirnya saya ingin menulis selut beluk cerita dibalik meganya Stadion GBK. Mungkin untuk memulainya saya akan sedikit menjelaskan alur cerita dari episode tersebut. Si Doel baru lulus sebagai seorang Insinyur. Sebelum itu babenya pernah punya kaul, jika anaknya jadi insinyur, ia akan datang mengunjungi bekas kampung leluhurnya. Maka dari itu, pada siang hari di bawah terik sinak matarhari Jakarta, Doel dan keluarganya sampai di GBK. Sesampainya mereka di sana, SI Doel tampak tidak yakin untuk masuk ke dalam lapangan GBK. Sebab, SI Doel

tahu bahwa tanah ini sudah bukan lagi tanah milik keluarganya lagi.

"Gua cuman mau ngajak elu biar tahun bahwa disini bekas tanah leluhur elu," ujar sang babe Semua anggota keluarga Doel masuk dan berada persis didepan gawang "Di sini rumah gua dulu," lanjut babe. "Kok abang masih inget?," tanya sang istri, ibu si Doel "ya inget dong. Orang dibrojolin di sini. Nah, di situ ada pohon gatet. Di sana pohon duren," ungkap babe dengan penuh semangat.

Akan tetapi, kunjungan itu tidak bertahan lama, pasalnya keluarga Doel harus diusir dari lapangan karena mengganggu klub sepak bola yang sedang latihan. Kisah ini menggambarkan kenangan pada tanah kelahiran di Gelora Bung Karno adalah potret orang Betawi yang terpaksa menyingkir dari kampung halamannya. Sebab tanah ini akan dijadikan proyek Asian Games IV tahun 1962. Bersama ribuan orang Betawi yang tinggal di kampung Senayan, Pertunduan, Bendungan Udik, dan Kebon Kelapa.

Awal mula penggusuran dan penentuan lokasi

Penggusuran kepada warga Betawi ini bermula saat Indonesia mampu mengalahkan Paki-

stan dalam penentuan tuan rumah Asian Games IV yang dilaksanakan di Jepang pada 1 Juni

  1. Dengan adanya kemenangan tersebut, jelas seluruh jajaran pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno harus menyiapkan segalanya, salah satunya pusat kegiatan olahraga untuk menggelar hajat empat tahunan itu. Sebelum memutuskan akhirnya kampung Senayan menjadi lokasi pembangunan, kala itu Jakarta hanya memiliki satu Stadion, yaitu Stadion Ikada di Lapangan Merdeka yang mampu menampung hanya 15.000 penonton. Sangat tidak cukup jika itu dijadikan tempat untuk Asian Games IV 1962 dan harus membangun kompleks olahraga baru yang memiliki kapasitas lebih besar. Sebagai kepala negara pada saat itu yang memiliki semangat bergelora demi pertaruhan politik bangsa ini, Bung Karno mula-mula memili y kawasan Bendungan Hilir dengan luas kurang lebih 300 hektar. Akan tetapi apesnya, gagasan yang diajukan oleh Bung Karno saat itu tidak mendapatkan respon baik dari sang Gubernur Jakarta, Soemarno Sosroatmodjo. Penolakan yang diutarakan oleh Soemarno tentu perlu pertimbangan yang jelas, pasalnya daerah tersebut merupakan kawasan padat penduduk dan jika proyek itu dijalankan akan membuat pembengkakan anggaran untuk pembebasan lahan tanah. Akhirnya Gubernur Jakarta itu memberikan saran kepada Bung Karno untuk memilih daerah Rawamangun yang relatif masih lahan kosong. Tidak ingin menolak saran dari sang Gubernur, Bung Karno tetap memilih kawasan yang dekat dengan pusat kota. Maka dari itu, Bung Karno memutuskan

daerah Kampung Karet dan Pejompongan untuk dijadikan lokasi pembangunan kompleks olahraga.

Demi memastikan kawasan tersebut, bung karno beserta arsitek Friedrich Silaban terbang

menggunakan helikopter untuk memantau dari atas udara. Sesaat berada di atas udara ber-

sama sang arsitektur, Bung karno menunjukan lokasi kawasan tersebut. akan tetapi sang arsitek menolak kawasan tersebut dijadikan area kompleks olahraga karena berbagai pertimbangan, salah satunya banjir dan macet. Akhirnya saat melewati perkampungan Senayan, Bung Karno menunjuk kawasan itu yang akan di jadikan kompleks olahraga Asian Games IV 1962. Se- belumnya kawasan tersebut masih terlihat banyak lahan kosong dan rawa-rawa yang akhirnya dijadikan pertimbangan oleh Bung Karno untuk dijadikan lokasi kompleks olahraga.

Daerah yang Akhirnya Tergusur

Setelah ditetapkannya kawasan Senayan sebagai lokasi kompleks olahraga untuk menyam- but Asian Games IV 1962. Akhirya banyak beberapa perkampungan yang harus rela digusur untuk pembangunan tersebut seperti, Senayan, Petunduan, Kebon Kelapa, dan Bendungan Hilir. Namun ada versi dari artikel lain yang mengatakan bahwa hanya Senayan, Petunduan, Bendungan Udik, dan Pejompongan.Namun dibalik perbedaan tersebut, pada akhirnya semua kawasan yang tergusur hanya disebut sebagai kawasan Senayan karena memiliki kawasan yang paling luas diantara semuanya. Berdasarkan peta yang diterbitkan Topographisch Bureau Bata- via pada tahun 1902, kawasan Senayan masih ditulis Wangsanajan. Kata ini dapat berarti "tanah tempat tinggal" atau milik pribadi yang bernama Wangsanaya, lalu berubah menjadi Senayan.

Sementara itu, kampung Petundan, yang kini menjadi lokasi Gelora Bung Karno dan sejumlah lapangan olahraga, dulunya menjadi tempat tinggal para petani buah-buahan, pengusaha kecil dan pedagang pikulan. Salah satu yang terkenal adalah pedagang kupat sayur. Sedangkan kawasan kampung Bendungan Udik saat ini sudah berubah menjadi kawasan Parkir Timur Sen-

ayan. Dulunya kampung Bendungan Udik ini ditempati oleh orang yang berprofesi sebagai

petani dan pengusaha batik tulis kain mori halus. Semua warga yang tinggal di sana harus dipin- dakan ke daerah Tebet dengan sejumlah uang ganti rugi yang diberikan kepada mereka. Kampung halaman adalah tempat pertautan emosi, kenangan, dan sejarah yang membelit orang-orang dalam setapak identitas. Maka, kehilangan kampung halaman sejatinya mencabut orang-orang itu dari akarnya, dari asal-usulnya. Enggan untuk dipindahkan dan digusur, banyak sejumlah aksi protes, unjuk rasa dan bentrok kerap terjadi. Mereka mati-matian mempertahan- kan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah hidupnya. namun, demi kepentingan bangsa dan negara pada saat itu digelorakan oleh Bung Karno, mereka menerima dan mengalah untuk dipindahkan.

Setelah dipindahkan ke Tebet, masih banyak huru hara yang terjadi. Banyak yang bilang jika sejumlah uang ganti rugi tidak sesuai dengan apa yang mereka miliki selama di Senayan dan juga lokasi yang berada di Tebet saat itu masih rentan. Lokasi di daerah Tebet saat itu masih dalam kondisi parah, jalan belum dibangun dan masih dipenuhi lumpur jika hujan datang. Warga juga masih harus beradaptasi dengan tempat tinggal baru mereka, karena belum ter- biasa dengan kehidupan yang ada di daerah pindahan tersebut. Selain itu, situasi keamanan di Tebet kurang mendukung. Sebagai warga Gusuran, mereka selalu dianggap sebagai orang kaya dan banyak uang, sehingga selalu menjadi bulan-bulanan para perampok. Dengan situasi seperti ini, akhirnya memaksa warga untuk berpindah ke kampung-kampung lain yang dianggap lebih aman.

PERGESERAN IDENTITAS KLUB

DAN SUPORTER DI

ERA INDUSTRI

Sepakbola tidak hanya bisa dilihat melalui pertandin- gannya; lebih dari sebuah tontonan, sepakbola juga diseli-

muti kompleksitas. Malah, berbagai kompleksitas yang

sering terlewatkan itulah yang sesungguhnya membentuk sepakbola. Pertandingan, bisā dibilang, hanyalah sebuah produk akhir dari proses kompleks yang terjadi sebelumn- ya—kesuksesan sebuah tontonan bergantung pada berbagai determinan faktor. Sepakbola tidak bisa dipahami secara parsial. Sekarang bayangkan sebuah struktur kalimat. Ada subjek, predikat, objek, dan keterangan. Empat entitas itu—jika dituruti dengān benar—akan membentuk sebuah kalimat. Jika seseorang ingin membuat kalimat maka ia harus menempelkan keempatnya atau mengambil beberapa dari empat entitas itu, apabila tidak ia tidak akan bisa membangun sebuah kalimat. Analogi sederhana itu bisa kita aplikasikan ke sepakbola.

Sebagai sebuah bangunan, sepakbola bisa berdiri kuat karena ada asosiasi sepakbola, klub (semua struktur dalam klub), pemain, dan pendukung—sepakbola harus mempunyai beberapa entitas itu atau ia bukan sepakbola. Daftar itu bisa ditambahi lagi dengan investor mengingat mulai menggeliatnya sepakbola sebagai industri. Dari berbagai faktor pendukung itu tulisan latar belakāng ini akan memfokuskan diri pada klub dan pendukung, terutama pada identitas klub (tradisi) dan pendukung (ideologi) dalam perkembangan industri sepakbola modern. Ba- hasan pertama akan dimulai dari negeri ratu Elizabeth. Sepakbola Inggris mengalami peruba- han signifikan setelah datangnya kapital di era 80-an. Hadirnya kapital di persepakbolaan Inggris disebabkan oleh komodifikasi besar-besaran di awal tahun 80-an. E. Dunning menjelaskan bahwa kesuksesan perputaran kapital di sepakbola Inggris tersebut diakibatkān oleh mode konfigurasi sepakbola Inggris saat itu.

Dalam konfigurasi itu direktur klub mempunyai peran besar; Media dan TV memiliki ke- mampuan finansial yang berpengaruh; sementara itu kekuasaan Asosiasi Sepakbola (FA)

didukung oleh tradisi dan legitimasi yang dimilikinya; pemain dan fans sebagai entitas terakhir

menjadi kelompok minoritas dari sirkulasi besar kapital ini. Perkembangan pesat industri sepakbola Inggris menuju komersialisasi membawa konsekuensi. Salah satu dampaknya adalah meningkātnya kesenjangan finansial antar klub.Ditambah lagi ketimpangan, massifikasi komersialisasi membuat kíub sebagai entitas terpenting harus menyesuaikan diri. Tuntutan untuk terus berkompetisi di iklim sepakbola yang penuh dengan logika kapital membuat banyak klub harus merombak struktur dan tradisinya.

Demi membuka diri kepada investor asing banyak klub Inggris (dan Spanyol serta Italia) yang mulai meninggalkan struktur dan tradisinya. Contoh konkretnya tentu bisa dilihat dari klub Inggris seperti Manchester City atau klub Italia seperti AC Milan dan Inter Milan yang mulai

menempatkan investor sebagai entitas penting dalam berjalan- nya sebuah klub sepakbola. Sepakbola Eropa sudah mulai mengarah pada peningkatan peran pemilik klub (dalam hal ini investor) dalam kompetisi sepakbola.

Jerman yang dikenal sebagai salah satu negara dengan at- mosfer sepakbola luar biasa tidak lepas dari pengaruh logika kapitalisme. Kita bisa mengambil contoh misalnnya dari FC St. Pauli. Seperti telah diketāhui bersama St. Pauli adalah sebuah klub dengan pendukung yang sangat progresif. Pendukung klub ini sangat berdekatan dengan aktivitas politik; bagi mereka sepakbola dan politik mempunyai relasi dan oleh sebāb itu klub bisa digunakan sebagai representasi resistensi politik. Kebanya- kan dari pendukung St. Pauli berhaluan “kiri" dan tentunya me- miliki kontradiksi nyata dengan logika kapitalisme_ sepakbola. Akan tetapi, perkembangan sepakbola modern telah membuat dilema. St. Pauli, menurut Petrà Daniel dan Christos Kassimeris, sebenarnya juga menghadapi dilema itu; bertahan dengan pan- dangan non-konformis serta anti-kapitalis dan selanjutnya membatasi potensi kapital atau memeluk erat kapitalisme dan meninggalkan fansnya, di lain sisi jika fans membuat gerakan So- zialromantiker untuk meyakinkan klub meninggalkan komersial- isasi maka kebangkrutan bisa menjadi konsekuensinya.

Hegemoni industri sepakbola modern telah memaksa klub membuka dirinya pada kapital lalu merengkuh juara atau menjadi non-konformis lalu membentuk sebuah identitas ideal tanpa juara. Petra Daniel dan Christos Kassimeris menegaskan bahwa fans harus menyadari bahwa di bawah realitas ekonomi hari ini romantisme masā lalu tidak akan cukup membuat sebuah bisnis berkembang dan St. Pauli adalah sebuah bisnis. Beberapa uraian di atas masih secara ekslusif menunjuk Eropa sebagai contoh, lalu bagaimana dengan Indonesia?. Di Indonesia sepakbola memang menjadi olahraga terkenal mungkin yang paling tenar, tapi ketenaran itu tidak berjalan serasi dengan prestasi dan bisnis. Yang disebutkan terakhir menjadi perhatian utama belakangan ini di Indonesia, khu- susnya karena manuver Bali United yang begitu visioner. Salah satu langkah Bali United yang sangat fenomenal adalah ketika mereka memutuskan untuk melantai di bursa saham. Hal itū menjadi tonggak awal sepakbola nasional karena praktis Bali United menjadi klub pertama di Indonesia dan Asia Tenggara (kedua di Asia setelah Guangzo Evergrande) yang melakukan langkah berani tersebut. Belum lama ini bahkan Bali United berencana membangun kompleks latihan dengan berbagai fasilitas komplit seperti mess pemain dan tiga lapangan latihan. Kita bisa bertanyā darimanā itu semua jika tidak dari perputaran kapital?.

Fenomena Bali United tentu tidak bisa menjadi landasan untuk mengeluarkan hipotesa bahwa Indonesia sudah mengalami industri sepakbola modern karena fenomena itu masih ber- sifat bipolar. Namun euforia sudah terlanjur bergema di media massa. Diskusi mengenai sepakbola dan hubungannya dengan industri sayang untuk dilewatkan. Termasuk juga, karena Indonesia sedang mērintis jalan menuju sepakbolā modern, bagaimana dengan identitas klub dan supporter yang mulai terpapar dengan perkembangan industri sepakbola. Maka, dari penjela- san panjang di atas kita bisa menanyakan apakah dengan semakin berkembangnya logika pasar dalam sepakbola Indonesia juga akan ikut berimbas pada bagaimana klub dan supporter me- maknai identitasnya sebagaí entitas sepakbola?

DUKA CITA FALKLAND, SUKA

CITA GOL TANGAN TUHAN

"Chant saat final Piala Dunia yang terkenal seperti “He who does not jump is a Dutchman" diubah menjadi “He who does not jump is a Englishman” yang berkumandang di markas River Plate saat Argentina bertanding uji coba melawan Uni Soviet menjelang Piala Dunia 1982. Dari sana, dukungan rakyat Argentina atas keputusan memerangi Inggris di Pulau Falkland makin meluas dan melupakan maslah krisis ekonomi dan politik". – Dikutip dari artikel tirto. Telah lama menjadi ajang perebutan antara Inggris dan juga Argentina, Kepulauan Falkland. Dalam sejarahnya, dua penjajah Eropa John Davis dari Inggris (1592) lalu Selald de Weerdt dari Belanda (1600) íah yang pertama kali menemukan kepulauan ini. Falkland memiliki dua pulau utama yaitu Falkland Timur dan Falkland Barat. Setelah itu, pada 1600 seorang kapten inggris bernama Kohn Strong menamai pulau tersebut Viscount Falkland. Akan tetapi, orang pertama yang mendirikan pemukiman di sana adalah Louis-Antonie de Bougainville asal Peran- cis pada 1764 dan menamainya sebagai Malovine.sejak saat itulah kepulauan Falkland di duduki oleh orang-orang dari Eropa. Permulaan sengketa wilayah tersebut berawal dari Argentina yang merdeka dari Spanyol sejak 1816 dan mengakui kedaulatannya atas Falkland pada

  1. Tidak hanya itu, rentetan permasalahan yang terjadi juga pada saat kapal perang AS menghancurkan pemukiman Argentina di Falkland Timur dikarenakan tiga kapal AS di tangkap karena sedang berburu anjing laut di daerah tersebut. hingga pengusiran beberapa pejabat Argentina oleh pasukan Inggris pada 1833. Puncaknya, saat Inggris menduduki pulau tersebut dengan memasang seorang letnan sipil untuk menjadi Gubernur pada 1841 serta diiringi dengan berimigrasi 1800 orang Inggris ke pulau tersebut pada 1885. Sejak direbut Inggris, Argentina selalu melakukan protes. Setelah Perang Dunia II, akhirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menangani sengketa atas kepulauan Falkland. Alhasil hal tersebut berjalan alot karena masing-masing negara menunjukan klaim dan bukti sejarah serta perjanjian dari pengusah sebelumnya. Ditengah mediasi yang buntu tersebut, dengan terke- jutnya Leopoldo Galtieri memutuskan untuk menyerang Port Stanley yang menjadi Ibu Kota kepulauan Falkland tersebut dengan pasukan 3.000 personel. Langkah yang diambil tersebut akhirnya berbuah sangat cepat dalam merebut dan menyingkirkan marinir Inggris tanpa ada korban jiwa. Hari setelahnya, marinir Argentina merebut Georgia Selatan. Pada April lebih dari
    10.000 pasukan Argentina menduduki Falkland. Inggris sebagai negara yang mempertahankan kepulauan Falkland hampir selama 150 tahun jelas tidak akan tinggal diam dengan serangan yang di lontarkan oleh Argentina. Akhirnya Perdana Menteri Margaret Thatcher menyanggupi ajakan perang dari Argentina meskipun berjarak 8.000 mil. Thatcher mengatakan bahwasannya
    1.800 penduduk Falkland merupakan bagian dari keluarga mereka.

Sedangkan menurut catatan dari BBC, AS sempat membujuk Argentina agar mau menanda- tangani surat perjanjian damai, namun ditolak pada 19 April. Tidak berselang lama, akhirnya pasukan Inggris akhirnya mampu merebut kembali Pulau Ġeorgia Selatan dari Argentina. Pada saat itu pasukan Inggris langsung menancapkan gas untuk memborbadir pasukan Inggris. Al- hasil, pasukan Inggris mampu merebut Port Stanley hampir tanpa perlawanan. Pasukan Argentina Íebih memilih untuk melucuti senjata dan menyerah kepada tentara Inggris. Dari perang tersebut menyebabkan 655 prajurit Argentina tewas. Sementara di pihak Inggris ada 255 pra-

jurit dan tiga penduduk asli Falkland dikabarkan ikut gugur dalam medan perang.

Pembalasan Perang Falkland

Kecerobohan Jendral Leopoldo Galteri dalam mengambil keputusan ini lah yang me-

nyebabkan perang Falkland terjadi. Mengirim pasukan militer untuk merebut pulau Falklan dari tangan Inggris. Keputusan yang di ambil dikarenakan untuk mengalihkan pandangan masyarakat Argentina terhadap kebobrokan pemerintahannya. Sayang seribu sayang, keputusan itu tidak mendapat keberhasilan mala menjadi blunder pada dirinya sendiri. Argentina kalah dalam perang yang berlangsung tiga bulan tersebut. Dari kekalahan perang tersebut, Argentina harus membayar hutang luar negeri yang berada dalam angka 39 miliar dolar Amerika. Menariknya, pemberitaan perang di Argentina ternyata dikaitkan dengan kesuksesan mereka di Piala Dunia 1978. Pencapaian yang bisa membuat masyarakat Argentina tidak memperdu-

likan kondisi politik yang terjadi di negaranya. Tujuan yang sangat jelas bahwa memalui sepak-

bola, junta militer Argentina ingin mendapatkan dukungan dari rakyat.

Empat tahun setelah perang Falkland, Inggris dan Argentina kembali dipertemukan. Bukan dipertemukan di medan perang melainkan di aspek yang lain; sepakbola. Argentina bertanding melawan Inggris di perempat final Piala Dunia 1986. Dalam pertandingan itu jelas dibalut rasa dendam. Kekalahan Argentina dalam perang Falkaland yang harus dibayarkan dengan tuntas di sepakbola. Seperti awal tulisan ini, Chant fans dari Argentina yang pada saat final Piala Dunia berkumandang “He who does not jump is a Dutchman" diubah menjadi "He who does not jump

is a Englishman" pada saat Argentina melakukan uji coba dengan Uni Soviet di kandang River

Plate. Kebencian ini juga di sampaikan oleh kapten Argentina Roberto Perfuma di Piala Dunia

1974 “ pada Piala Dunia 1986, menang melawan Inggris sudah sangat cukup. Memenangi Piala

Dunia merupakan tujuan kedua. Yang utama adalah mengalahkan Inggris". Hal serupa juga di tegaskan oleh novelis Ernesto Sabato bahwa perang tersebut melibatkan persoalan martabat, bukan yang lain.

Sebelum menjelang pertandingan, persoalan perang selalu di ungkit dan membuat para pemain dari kesebelasan merasa resah. Karena itu Maradona kemudiān mengatakan, “ Lihat, tim ini (Argentina) tidak membawa senapan, senjata, juga amunisi. Kami datang ke sini hanya untuk bermain sepakbola". Mungkin omongan Maradona tersebut tidak benar sepenuhnya. Memang benar pemain Argentina tidak ada yang membawa senjata, senapan dan juga amunisi kedalam lapangan. Tetapi, Maradona membawā sesuatu yang lebih mematikan.

Saat itu Timnas Argentina yang di komandoi oleh Carlos Bilardo, dianggap akan menyulit- kan Maradona. Bilardo adalah musuh dari La Nuestra, filosasi unik dari sepakbola Argentina. Namun di balik semua itu, ia tenyata tahu betul bagaiana cara memaksimalkan potensi yang di- miliki oleh Maradona. Saat Bilardo di tunjuk menjadi pelatih Argentina pada 1983, ia rela ter- bang ke Spanyol untuk menemui Maradona. Bilardo juga menjādim posisi Maradona di Piala Dunia 1986, dan juga memberikan ban kapten Argentina kepadanya.

Tanggung jawab yang diberikan kepada Maradona telah di bayar lunas. Dengan satu gol dan tiga assist dalam empat pertandingan awal, tiga pertandingan putaran grup dan satu babak 16 besar. Pertandingan tersebut di rasa oleh Maradona hanya pemanasan. Kehebatannya

hanya baru terlihat saat Argentina menghadapi Inggris di babak perempatfinal. Dengan gaya

bermain yang lihai dalam mengolah si kulit bundar Maradano mampu melewati gelandang-

gelandang yang dimiliki Inggris. Pas di depan kota pinalti, ia bermaksud melakukan wall-pass dengan Jorge Valdano. Namun Valdano kurang sempurna dalam mengontrol bola. Steve Hodge yang berada di dekatnya ke- mudian mencoba membuang bola.

Keberuntungan tidak berpihak kepada Hodge, bola tendangannya

mala mengarah ke dalam kotak pinaltinya sendiri. Tidak tinggal diam, Maradona danPeter Shiltonlaluberusahan mendapat bola tersebut.Mengetahui bahwa Maradona tidak akan mampu memenangkan duel tersebut ia lalu menggunakan tangannya untuk meninju bola dan gol tercipta dengan dibarengi rasa gembira. Pada saat itu, Ali bin Nasser sebagai wasit yang memimpin pertandingan menganggap itu sebuah gol. Seperti yang dikatakan Maradona bahwa tuhan telah ikut serta dalam proses gol yang ia cetak. Seakan perkataan itu konyol, namun jika di lihat memang terbukti. Pertama, Maradona harus memberikan kode kepada rekan tim yang kebingungan setelah gol itu terjadi; kedua, Ali bin Nasser dan Bogdan Dotchev (hakim garis) saling menyalahkan setelah gol fenomenal itu terjadi; dan ketiga, para pemain Inggris melakukan protes keras kepada wasit, tetapi bukan karena Maradona mencetak gol dengan tangan. Melainkan mereka menganggap hal tersebut adalah offside. Padahal sudah jelas bola itu datang dari kaki Steve Hodge.

Tidak berhenti di sana, tiga menit setelah gol yang fenomenal itu, Maradona semakin membuat Inggris tak karuan. la membawa sikulit bundar dari tengah lapangan dan melewati para pemain Inggris yang seolah menekel angin itu. Lagi-lagi Maradona mempermalukan Shilton untuk kedua kalinya. Berbeda dengan gol yang pertama, Maradona seakan membuktikan bahwa ia mampu dinobatkan sebagai pemain sepakbola yang hebat di kalangan dunia. Pada akhirnya Inggris harus mengakui keme- nangan dan balas dendam Argentina di ranah sepakbola.

Maradona tak bisa menyembunyikan kegembiraannya, secara emo- sional ia mengatakan: "Seolah-olah kami mengalahkan sebuah negara, bukan hanya tim sepakbola [...] meski sebelum pertandingan kami mengatakan bahwa pertandingan ini tidak ada hubungannya dengan Perang Malvinas (sebutan orang Argentina), kita tahu mereka membunuh banyak pemuda Argentina, seperti membunuh burung. Dan ini rasanya seperti sebuah balas dendam." Setelah itu Argentina keluar sebagai juara Piala Dunia 1986 dan mampu mengalahkan Belgia di seifinal dan Jerman Barat pada Partai final. Ini lah Piala Dunianya Maradona.

Refrensi: https://tirto.id/gol-tangan-tuhan-maradona-pembalasan-perang- paling-sempurna-cLXh https://tirto.id/sejarah-perang-falkland-ambisi-mubazir- junta-militer-argentina-d64a

23 ULTRAS

KONFLIK

SOSIAL

DAN

KEMELUTUTY

ENGLISH GAME NETFLIX 20 MARCH

SEPAKBOLA

Sudah banyak terhitung konflik yang terjadi di aspek sepak bola, dan hingga saat ini belum ada tindak lanjut yang jelas agar meminimalisir konflik yang terjadi di sepak bola. Pada pe- nulisan ini, akan membahas mengenai sebab akibat yang terjadi di sepak bola dalam bingkai teori konflik sosial dalam perspektif Karl Marx. Teori konflik sosial yang muncul pada abad ke 18 dan 19 dapat dimengerti sebagai respon dari lahirnya sebuah revolusi, demokratisasi dan in- dustrialisasi. Teori konflik merupakan alternatif dari sebuah ketidakpuasan terhadap fungsionalisme struktural.

Talcot Parsons dan Robert K. Merton, yang menilai masyarakat dengan paham konsensus dan integralistiknya. Teori konflik sendiri muncul sebagai bentuk reaksi atas tumbuh suburnya teori fungsionalisme struktural yang dianggap kurang memperhatikan fenomena konflik sebagai salah satu gejala di masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian. Dalam teori ini bertu- juan untuk menganalisis asal usulnya suatu kejadian terjadinya sebuah pelanggaran peraturan atau latar belakang seseorang yang berperilaku menyimpang dalam aspek sepak bola. Konflik di sini menekankan sifat pluralistik dari masyarakat dan ketidakseimbangan distribusi kekuasaan yang terjadi di antara berbagai kelompok, karena kekuasaan yang dimiliki kelompok-kelompok elit maka kelompok tersebut juga memiliki kekuasaan untuk menciptakan peraturan, khususnya hukum yang bisa melayani kepentingan mereka.

Perspektif sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian atau komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda di mana komponen yang satu berusaha menaklukkan kepentingan yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya."Dalam pandangan ahli sosiologi, masyarakat yang baik ialah masyarakat yang hidup dalam situasi konfliktual. Konflik sosial dianggap sebagai kekuatan sosial utama dari perkembangan masyarakat yang ingin maju ketahap – tahap yang lebih sempurna". Teori konflik sosial memandang antar elemen sosial memiliki kepentingan dan pandangan yang berbeda. Perbedaan kepentingan dan pandangan tersebut yang memicu terjadinya konflik sosial yang berujung saling mengalahkan, melenyapkan, me- musnahkan di antara elemen lainnya. Konflik adalah sebuah fenomena sosial dan itu merupakan kenyataan bagi setiap masyarakat dan merupakan gejala sosial yang akan hadir dalam ke- hidupan sosial, sehingga konflik bersifat inheren yang artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap ruang dan waktu, di mana saja dan kapān saja. Kunci untuk memahami Marx adalah idenya tentang konflik sosial. Konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk merebut aset-aset bernilai. Bentuk dari konflik sosial itu bisa bermacam- macam, yakni konflik antara individu, kelompok, atau bangsa. Marx mengatakan bahwa potensi-potensi konflik terutama terjadi dalam bidang pekonomian, dan ia pun memperlihatkan bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang distribusi prestise/status dan kekuasaan politik.

Munculnya sebuah konflik dikarenakan adanya perbedaan dan keberagaman, dari pernyat-

aan tersebut dapat diambil contoh yang mana terdapat dalam aspek sepak bola di Mesir. Kita tahu bahwasannya terdapat dua klub sepak bola yang memiliki sentimen yang sangat tinggi ketika bertemu di lapangan antara Al-Ahly dan Al-Mahly. Dua klub sepak bola ini lah yang menjadi pewarna dalam sepak bola Mesir. Bagaimana tidak, Al-Ahly merupakan representasi dari pihak pemerintah sedangkan dari Pihak Al-Mahly merupakan representasi dari pihak oposisi pemerintah. Konflik tersebut dapat dikatakan bahwasannya adanya kepentingan antar golon-

gan dan adanya perbedaan pandangan yang pada akhirnya akan memicu timbulnya konflik

sosial yang berujung saling mengalahkan, melenyapkan dan saling memusnahkan satu sama lain. Tidak hanya terjadi di Mesir mengenai konflik sosial yang terjadi, berlari ke negara Inggris.

Konflik yang terjadi antara pendukung Liverpool dan juga Manchester United. Dua klub yang

merepresentasikan kota masing-masing ini melahirkan konflik yang besar.

Konflik tersebut tidak luput dari kelas sosial yang dimiliki oleh kedua kota. Pada awalnya

pusat industri terletak di Kota Liverpool dan ada pandangan mengenai masyarakat Liverpool yang dinilai sebagai masyarakat pemalas. Maka dari ini pada saat revolusi Industri semua pere- konomian dialihkan ke Kota Manchester. Dari pergeseran itu lah konflik yang terjadi antara Pendukung Liverpool dan juga Manchester United semakin memanas dan diluāpkan ke dalam sepak bola. Dari fenomena konflik sosial yang terjadi antara penduduk Liverpool dan pendukung Manchester United ini berjalan lurus sepertí yang ditekankan oleh Karl Marx yang tidak dapat diabaikan oleh teori apapun yaitu pengakuan terhadap adanya struktur kelas dalam masyarakat, kepentingan ekonomi yang saling bertentangan di antara orang-orang dalam kelas yang berbeda, pengaruh besar yang berdampak pada kelas ekonomi terhadap gaya hidup sese- orang serta bentuk kesadaran dan berbagai konflik kelas yang muncul menimbulkan perubahan struktur sosial yang mana hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting. Kari Marx me- nambahkan bahwasannya penyebab terjadinya Konflik dipicu adanya sejarah kehidupan masyarakat ditentukan oleh sebuah materi atau benda yang berbentuk alat produksi dan alat produksi ini untuk menguasai kehidupan masyarakat.

Alat produksi adalah setiap alat yang akan menghasilkan komoditas dan komoditas tersebut diperlukan masyarakat secara sukarela. Bagi Marx fakta terpenting adalah materi ekonomi karena konflik ini bisa terjadi ketika faktor ekonomi dijadikan sebagai penguasaan terhadap alat produksi. Karl Marx membagi perkembangan masyarakat menjadi lima tahap berdasarkan alat produksi. Pertama, Tahap I: Masyarakat Agraris/Primitif. Dalam masyarakat agraris alat produksi berupa tanah. Dalam masyarakat seperti ini penindasan akan terjadi antara pemilik alat produksi yaitu pemilik tanah dengan penggarap tanah. Kedua, Tahap II: Masyarakat Budak. Dalam masyarakat seperti ini, budak sebagai alat produksi yang mana dia tidak memiliki alat produksi. Penindasan terjadi antara majikan dan budak. Ketiga, Tahap III: Dalam masyarakat feodal ditentukan oleh kepemilikan tanah. Keempat, Tahap IV: Masyarakat borjuis. Alat Produksi sebagai industri. Konfik terjadi antara kelas borjuis dan buruh. Perjuangan kelas adalah perjuangan kelas borjuis dan kelas proletar. Kelima, Tahap V: Masyarakat komunis.

Dalam masyarakat ini kelas proletar akan menang.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwasannya, konflik sosial yang terjadi dalam aspek sepakbola dapat dilihat dari sisi sejarah, adanya perbedaan kelas sosial dan kelas ekonomi serta adanya kepentingan yang dimiliki oleh masing-masing golongan agar mencapai apa yang diinginkan. Ada pula faktor lain yang menjadi pemicu adanya konflik sosial, mengenai adanya faktor ekonomi yang dijadikan sebagai penguasaan terhadap alat produksi. Akan tetapi dalam perspektif Karl Marx dalam melihat konflik sosial hanya terpaku pada asumsi-asumsi mengenai faktor ekonomi sedangkan Marx sendiri mengabaikan kemungkinan dalam aspek-aspek lain seperti gender, ras, etnik, agama, serta usia yang dapat digunakan sebagai dasar me- mahami bagaimana konflik sosial bisa terjadi di dalam diri masyarakat pecinta sepak bola.

Dany Haryanto, S.S andG. Edwi Nugroho, S.S., M.A.,Pengantar Sosiologi Dasar,(Jakarta : PT. Prestasi Pustakarya, 2011) r,(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2010) Turner, J.H., The Structure of Sociological Theory, (Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company, 1998) George Ritzer and Douglass J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta : Kencana, 2003)

CHE

"Terjadi kerusuhan di dalam stadion.."", "korban jiwa mencapai sekian","salah

satu kelompok suporter menyerang kelompok lawan", "suporter menyerang warga sekitar

Acap kali terdengar di media sosial, media televisi dan media cetak bahwa banyak suporter sepakbola membuat ulah, kerusuhan di mana-mana, korban berjatuhan. Ku- tukan kepada suporter sepak bola semakin besar dan terlihat sebagai makhluk yang

tidak mempunyai jiwa kemanusiaan sama sekali. Saya pribadi juga tidak akan pernah

setuju jika sepakbola harus menjadi seperti itu, dicap tak bermorāl, tak punya hati dan

tak beradab. Akan tetapi, memahami sepakbola tidak hanya dilihat dari sisi negatifnya

saja, banyak segi positif yang bisa anda lihat dari sepakbola itu sendiri. Sepakbola mempunyai banyak tafsir dan tidak bisa ditafsirkan hanya dengan satu tafsir saja, seperti yang dituliskan oleh Edward S. Kennedy dalam bukunya yang berjudul Sepakbola Seribu Tafsir. Isi dari buku tersebut banyak membahas mengenai fenomena sepakbola yang ada di luar batas nalar kita. Menarik untuk dibahas dalam salah satu isi buku tersebut adalah mengenai

pergerakan sosial suporter sepak bola, kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan mereka membuat para suporter tersebut berfikir dan ingin merubah pola pikir masyarakat bahwasanya sepak bola tidak hanya melulu berbicara anarkisme yang brutal dan tindakkan yang merugikan masyarakat sekitar mereka. Sependek sepeng- etahuan yang saya dapatkan, tidak sedikit juga suporter sepakbola yang melakukan suatu gerakan sosial untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap suatu lembaga atau pemerintahan di Negara masing-masing. Contoh yang akan menarik untuk dibahas adalah mengenai suporter sepak bola yang berada di negeri Piramid, ya, Al-Ahly salah satu klub sepakbola pertama yang ada di Mesir. Tim yang berdiri sejak tahun 1907 dan sampai sekarang mempunyai basis massa suporter yang tidak sedikit atau mungkin sangat banyak. Rival dari suporter Al-Ahly adalah Al-Masry yang juga mempunyai basis massa suporter yang banyak juga. Al-Ahly terkenal sebagai kubu dari oposisi pemerintah yang selalu menyuarakan aksi dan keresahan mereka terhadap kepem- impinan dari Mubarak. Dari sini, sentimen antara Al-Ahly dengan Al-Masry terjadi, di- karenakan para pendukung dari Al-Masry adalah tameng dari pihak pemerintahan dari Husni Mubarak.

Beralih ke Italia, Alberto Testa, salah satu penulis buku Footbal, Fascism and Fandom pernah berhasil menelusuri seluk beluk Roma Boys dan Irriducibili (pendukung garis keras AS Roma dan Lazio) ditemukan bahwasannya kedua kelompok suporter tersebut selalu membawa isu politik yang notabene menyangkut kepentingan kaum marjinal atau istilah yang lebih leftist: "Kelas Pekerja". Testa perna berdiskusi dengan salah satu petinggi Roma Boys, ia mengatakan bahwa mereka pernah melakukan aksi untuk memprotes pemerintahan Italia yang mengurangi pasokan listrik di be-

LOO N AEND EN

beberapa distrik kelas pekerja. Roma Boys dan irriducibili melakukan suatu aksi sosial-kolektif yang bertujuan untuk membantu keluarga yang kekurangan di Roma. Aksi yang mereka lakukan tidak sepele, mereka memberikan rumah kepada keluarga-keluarga yang tidak mampu. Mereka menjuai rumah dengan harga murah dan diskon besar-besaran, bahkan mereka juga memberikan rumah gratis dan beserta perabotan yang dibutuhkan. Roma Boys dan irriducibili terkenal

sebagai kelompok suporter yang tidak bisa berkompromi ketika keduanya bertemu di lapangan

maupun di luar lapangan. Akan tetapi berbicara ideologi mereka sama-sama mempunyai Ideologi Neo-Fasisme yang taat. Kedua kelompok suporter tersebut juga pernah menyuarakan aksi penolakan invasi Amerika Serikat dan Inggris ke İrak, isu yang lebih klasik lagi mengenai Pales- tina dan Israel. Mereka menyuarakan aksi tersebut melalui zine dan selalu dibawa kedalam Sta- dion.

Berpindah ke Indonesia, hal serupa juga sering dilakukan oleh para suporter sepakbola di tanah air ini. Pada tahun 2015 para petinggi suporter sepakbola di seluruh Índonesia membuat

suatu forum diskusi yang bernama FDSI (Forum Diskusi Suporter Sepak bola Indonesia). Dalam

forum tersebut membahas isu-isu mengenai sepak bola Indonesia, dan yang saat itu yang diba- has mengenai bobroknya PSSI. Aksi nyata hingga petisi online sudah dilakukan oleh para suporter. Alhasil apa yang dilakukan oleh FDSI akhirnyà berbuah hasil, PSSI akhirnya dibekukan oleh FIFA (Asosiasi Sepakbola Dunia). Tidak berhenti di situ, aksi juga pernah dilakukan oleh pen- dukung setia Persebaya Surabaya, yaitu Bonek. Hampir kurang lebih 4 tahun mereka tidak dapat menyaksikan Persebaya Surabaya berlaga dikarenakan terkena sanksi oleh PSSI. Tapi Bonek tidak tinggal diam saja. Mereka menyuarakan kembalinya Persebaya Surabaya melalui aksi turun jalan dan propaganda yang di sebar melalui media cetak dan media online. Alhasil Persebaya Surabaya kembali di sepakbola nasional meskipun berlaga di Kasta kedua Liga Indonesia.

Gerakan sosial yang dilakukan para suporter sepak bola itu tidak lebih dari pengakuan bahwa suporter sepak bola tidak hanya mencetak keributan dalam masyarakat, akan tetapi mereka juga bisa berguna untuk masyarakat sekitar mereka yang sejatinya ketika kita menjadi manusia jangan lupa bahwa kita juga harus memanusiakan manusia itu sendiri. Football for Unity yang selalu saya kampanyekan. Bukan untuk mencari eksistensi diri sendiri melainkan ingin mengedukasi bahwasanya sepak bola tidak hanya diartikan dengan kekerasan dan hal negatif lainnya. Sekali lagi saya mengutip Buku Sepak bola Seribu Tafsir, sepak bola tidak bisa

ditafsirkan hanya dengan satu tafsir saja, melainkan sepak bola mempunyai banyak tafsir yang

perlu kita pahami dan kita telaah lebih dalam.

Refrensi dari Buku Sepak bola Seribu Tafsir dan beberapa sumber lainnya

Dalam perkembangannya sepak bola mengalami beberapa fase dan perjalanan yang cukup panjang. Sejak era kuno hingga masuk tahapan era modern, sepak bola berubah wujud dari sebuah tradisi hingga menjadi mesin pencetak uang para pemilik modal

yang hendak memutar pundi-pundinya melalui olahraga ajaib ini. Dari kuno hingga modern, dari tradisi

hingga industri, dari kebanggaan menjadi keuntungan. Menurut catatan sejarah, pada awalnya sepak bola tertua diselenggarakan di negeri Tirai Bambu pada masa pemerintahan dinasti Han, pada masa itulah sepak bola dimainkan pertama-tama sebagai salah satu metode pelatihan militer dan ketangkasan bagi angkatan perang (menurut catatan resmi FIFA). Hingga kemudian budaya ini menyebar ke berbagai pelosok dunia dan mulai digemari, termasuk daratan Britania.

Sebagai negara dengan penggagas mula sepak

bola modern, Inggris memiliki banyak catatan sejarah bagaimana sepak bola mengalami transisi dan revolusi besar dalam permainannyā. Di tanah Ratu Elizabeth inilah sepak bola mulai memiliki aturan baku permain- an, larangan-larangan di dalam lapangan dan juga batasan-batasan bagi para pemain agar tidak melaku- kan tindakan berlebihan yang membāhayakan sesama pemain.

Diadakannya kompetisi dan kejuaraan sepak bola secara resmi, terlebih ketika sepak bola masuk dalam olahraga yang ditandingkan saat Olimpiade tahun 1908 serta adanya piala dunia tahun 1930 semakin membuka keran-keran persaingan antar tim sejak liga tertua di dunia dilangsungkan di Inggris tahun 1871. Titel juara dan pencapaian atas prestasi di lapangan hijau menjadi daya tarik bagi para penonton untuk semakin giat menyaksikan sepak bola dan hadir di sta- dion.

Memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak-banyaknya dan merebut kemenangan pada

setiap pertandingan adalah harga mati bagi prestasi setiap tim. Tentunya setiap tim dan para

penggemar selalu mengharapkan momen tersebut. Kejayaan sebuah tim dan kokohnya sistem liga pada suatu negara tentunya mendatangkan banyak keuntungan, antara lain ialah para fans

yang jatuh hati pada sepak bola.

Para fans, rela mengeluarkan uang hanya untuk mendapatkan secarik kertas tipis agar

mampu memasuki lorong stadion dengan tribun sebagai tujuan akhirnya. Mereka tak ambil pusing, veni vidi vici (saya datang, saya melihat, saya menang) jika boleh mengutip kalimat salah satu Kaisar Roma paling tersohor, Julius Caesar. Setidaknya itu pada awalnya.

Melihat geliat sepak bola dan antusiasme yang besar tentunya menggoda para pelaku ekonomi untuk masuk ke dalam sepak bola. Inggris dengan sistem liga yang sangat membuka pintu seluas- luasnya bagi investor mulai merubah tatanan sepak

bola sebagai arena permainan uang para pemilik

modal. Gelontoran dana segar semakin membuat perputaran uang dan keuntungan yang dihasilkan, membuat para pelaku ekonomi yang lain tergoda memasuki dunia sepak bola lebih dalam. Industri sepak bola kemudian melahirkan berbagai masalah dan keluhan, terutama di daratan Inggris sendiri. Larangan masuk stadion yang super ketat di Inggris, “rombongan piknik" sepak bola, harga tiket yang di- anggap tak masuk akal dan jual beli pemain dengan harga fantastis adalah masalah yang kerap hadir di era industri sepak bola.

Jikadibandingkandengan Italia, Jerman maupun negara-negara lain, Inggris sepertinya adalah negara dengan pertunjukan sepak bola paling anteng di dunia. Datang membawa tiket, duduk dengan tenang, lalu bersorak ketika gol datang. Berbeda dengan Italia dan Jerman maupun negarā-negara lain yang kerap menampilkan kebis- ingan di dalam stadion. Liga Turki dengan Gal-

atasaray di dalamnya pun tercatat pernah meng-

hasilkan suara lebih dari 130 decibel pada saat pertandingan berlangsung.

Rombongan piknik sepak bola mungkin bisa dis- ebut sebagai salah satu biang kerok masalah ini, para rombongan piknik ini terkesan lebih mudah diatur oleh para otoritas keamanan ketimbang ambil pusing dalam permasalahan mengendalikan para hooligans di dalam stadion. Bahkan penduduk sekitar lebih memilih menonton pertandingan di dalam bar aaupun pub sembari menghabiskān be- berapa krat minumnya. Sederhana saja, harga tiket

yang mahal adalah salah satu masalahnya. Siapa-

yang mau membeli tiket dengan harga hampir 3 kali lipat kebutuhan makan? Tak usah jauh

menuju Inggris, di negara ini pun mulai memasuki era yang sama. Kemudian gairah di dalam

stadion pun perlahan hilang karena diisi oleh mereka yang tak ambil pusing masalah sepak bola dan hasil akhir pertandingan.

Dan juga, jual beli pemain dengan harga fantastis pun kerap menjadi masalah bagi sebagian orang, klub-kíub raksasa yang mēmiliki uang dan gemilang kekayaan kerap membuat para pemain tergoda meninggaikan klub yang ia bela sebelumnya demi mendapatkan gaji yang lebih besar dengan dalih agar permainannya dapat berkembang di klub tersebut. Tak jarang kepindahan pemain menuju klub rival karena masalah uang pun terjadi pula dalam sepak bola. Apa yang akan dirasakan para penggemar ketika melihat pemain pujaannya hengkang menuju klub rival?

Lihatlah ketika Luis Figo mendapat “hadiah" kepala babi oleh pendukung Barcelona ketika ia pindah menuju Real Madrid, lihat bagaimana bencinya para fans Dortmund ketika dua pung-

gawa andalannya Mario Gotze dan Robert Lewandowski di-bajak oleh Bayern Munchen yang

menjadi pesaing terberatnya dalam satu dekade ini. Label "Judas" akan senantiasa menggen- tayangi para pemain yang pindah ke klub rival, terlebih jika kepindahan tersebut karena masalah uang sebagaimana Yudas Iskariot mengkhianati Sang Guru Yesus Kristus dengan men- jualnya kepada para imam kepala dan tua-tua demi 30 keping perak.

Namun tentunya tidak semua pemain tergoda akan sepak bola modern, sebagai contoh tengoklah kiprah sang pangeran Roma Il Capitano Fransesco Totti. Bagai oase di padang gurun yang terik, Totti kokoh dengan pendiriannya membela panji Serigala Ibu Kota 25 tahun laman- ya. Ia tak tergoda oleh klub lain yang sempat menawarinya bermāin untuk klub mereka dengan gaji dan masa depan yang lebih baik. Totti adalah Roma dan Roma adalah Totti, hal ini merupa- kan suatu hal yang jarang sekali dijumpai di tengah arus industri yang semakin besar dalam dunia sepak bola. "No Totti No Party", begitulah tulisan tersebut tertera pada salah satu banner milik ultras Roma di sudut selatan stadion Olimpico sebagai apresiasi atas kesetiaannya selama ini sejak menjadi The Prince of Rome sampai menjadi The King of Rome.

Pada akhirnya segala sesuatu selalu menghasilkan pro dan kontra, plus dan minus. Tak terkec- uali dengan fenomena industri sepak bola. Industri sepak bola menawarkan kemajuan, moder-

nitas, kemewahan dan peradaban tinggi yang membuat setiap orang terkagum-kagum dengan

isinya. Namun perlahan industri sepak bola mulai menghasilkan “penyakit" yang menggerogoti nilai dan mentalitas yang ada dalam sepak bola, gairah dan semangat yang berkurang serta sepak bola yang kehilangan spiritnya sebagai hiburan rakyat. Semua itu mulai tergantikan oleh untung atau rugi.

Pemain ialah selayaknya manusia yang ingin terus menapaki kemajuan, namun bagi sebagian fans, kemajuan ialah omong kosong tanpa menghadirkan nilai-nilai dan keyakinan sejak awal.

Tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar, karena benar yang benar-benar benar hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Tabik!

TIME

FULL

SEL

PRR)))lTTTT

WES ENTEK

Serangan Balik; Bukan media, sebatas tempat aktualisasi mahasiswa semester akhir yang sempat bingung caranya lulus dan kebetulan suka menulis. Dan sesuai tagline kami;

Apa saja, yang penting sepak bola.

Get back! *dah lah, gk usah serius-serius amat. Peace! @seranganbalikfootball

@soraksorai.zine