Baca PDF (OCR): Prakata untuk sebuah Akademi Theater

6 halaman · 6 halaman diproses dengan OCR· 36566 ms

Daftar isi
  1. BEGINILAH TJARANJA SAUDARA MEMILIH
  2. Penggiat Buku
  3. PRAKATA UNTUK SEBUAH
  4. Asrul Sani
  5. AKADEMI THEATER
  6. lam suatu sistim pemikiran atau golongan djika kita bersetumpu pada itu sadja, kita
  7. SIASAT — 433
  8. orang peran dengan lakon jang harus iaan diatas ini. Apakah ini dilakukan dengan
  9. merasakan" sedangkan jang kedua dapat di-
  10. Mann, jang mengemukakan pendapatnja ten
  11. semi merasakan". ini menganggap bahwa
  12. RABU, 28 SEPTEMBER 1955
  13. landjutan halaman 23:
  14. Tjatatan tentang tulisan :
  15. Pengarang2 ltalia & sebuah antogi
  16. SIASAT — 433
  17. Sadjak sadjak
  18. Dodong djiwapradja
  19. RABU, 28 SEPTEMBER 1955
  20. Garut
  21. Pagi tiba sampai dikota
  22. hidup sungguh agung menjerahkan kau pada kelintjahan
  23. A. Rossidhiy

BEGINILAH TJARANJA SAUDARA MEMILIH

(batja halaman 18-19)

Penggiat Buku

Ini adalah nj. Achmad, tinggal di Gg. Am- pasiet no. 6, Djakarta. Dia adalah wanita In- donesia biasa. Dan seperti saudaradjuga dia mempunjaihakmemilih sepertididjamin oleh UUD-sementara kita.Ditangannja dia memegang sebueh tjontoh suratsuara dign Nj. Achmad adalah seorang wanita biasa, jang sibuk dengan rumah tangga dan 2 anak- nja. Seperti sdra/i djuga dia menghadapi ber matjam² kesukaran. Tetapi dia jakin bahwaSIASAT dengan mempergunakan hak memilihnja, dia dapat turut menjusun suatu masjarakat jang lebih sempurna. warta Sepekan segalaKarena itulah dia giat sekali mengikutipengumuman²mengenai umum,dan sewaktu didaerahnja memlika dia tidakTAHUN KE IX — No. 433 — 28 SEPTEMBER 1955 keberatan untuk mendjadi sasaran dari tu-TERBIT DI DJAKARTA TIAP HARI RABU DENGAN 32 HALAMAN kang potret kami. (Dihalaman 16 dan 17 sdina/i DITERBITKAN OLEH N.V. BADAN PENERBIT,PEDOMAN" dapat mellhat apa jang dilakukannja. (foto: Oen)

PRAKATA UNTUK SEBUAH

Asrul Sani

AKADEMI THEATER

dalam kalimat pertama jang ia tuliskan da-TJATATAN REDAKSI: Jang kami menguasai djagad jang ada diluar dirinja. lam bukunja Weltgeschichte des Theaters": Frazer melihat suatu hubungan penerusan siarkan dibawah ini ialah pidato jang Das Theater zählt zu jenen grozen Bestiztü-antara sihir dan religi. Baginja religi telah diutjapkan pada malam peresmian mern der Menschhit, die, allen offenbar timbul karena kekandasan sihir. Untuk mem-Akademi theater-Nasional Indonesia di bedakan religi dan sihir Karl Beth mengang-Djakarta pada tanggal 10 Septemberdem einzelnen ein Geheimnis bleiben". jang lalu. Kami berpendapat, bahwa gap manusia religi sebagai manusia jang kata Ada djalan lain untuk memahami apa jang diutjapkan pada malam itu mengabdi sedangkan manusia sihir sebagai baik untuk diketahui oleh kalangan theater". Jaitu dengan mengetahui ,inti" manusia jang menguasai. Pembagiannja ke- jang lebih luas, terutama oleh merekajang tidak berobah dari theater itu sendiri. lihatan mudah. Toh bukan demikian halnja. jang punja minat terhadap seni thea.Inti itu ialah: mimus. Niessen menganggap Dalam praktek kita lihat kedua hal ini ber- ter. Pidato ini sudah diperpendek tapimimus ini sebagai Urtrieb pada manusia dan djalinan dengan rapat, sehingga amat sulit bentuknja tidak kami robah sedikit- sebagai alasan perwudjudannja ia katakanuntuk menjatakan dimana jang pertama ber- pun djuga. Djadi djika ada terdapat dorongan dalam diri manusia untuk menge-achir dan jang kedua mulai. Demikian kita didalamnja jang agak mendjanggalkan tahui kebatasan diri sendiri". Alasan ini pen-djumpai dalam adjaran-bathin beberapa silat sebagai sebuah prosa jang dituliskan, ting sekali. Disini sadja sudah terbajang sedi-Minangkabau, antara lain mazhab Kumango saudara ingat sadjalah bahwa karangan kit funksi apa jang akan dapat diperolehjang djuga diadjarkan di Minangkabau utara, ini ditulis untuk dibatjakan didepan suatu seni jang lahir dan berkembang daribagaimana faktor religi dipakai untuk ke- orang banjak. mimus tersebut. Karena bukankah kebuda-pentingan sihir. Guru² silat itu sendiri mem. jaan itu tidak lain dari segala usaha manusiabedakan silat hitam" (sihir) dan silat pu untuk mengatasi diri dan zamannja sendiri?tih" (agama). Tapi apa jang harus kita ka-Djadi jang disebut dengan theater itu ialahtakan, djika dalam adjaran-kebathinan maz-Para hadirin jang mulia, suatu seni jang lahir dan berkembang darihab silat ini mereka mulai dengan nama Tu- mimus. Dalam bentuknja jang telah kitahan jang pengasih dan penjajang, tapi kemu- ada malam ini saja kira pada tempatnja temui dalam sedjarahnja terdapat dua buah sekali djika kita bertanja pada diri kita dian menjamakan pukulan jang hendak me- sendiri: tempat apakah jang mungkin didu-unsur jang boleh dikatakan mendjadi sifatreka berikan dengan kata Tuhan, dengan chas baginja. Kedua unsur itu ialah drama duki oleh theater dalam kehidupan kebuda- arti penguasa mutlak". Tapi bagi pembitja- kan. Kepandaian meme- dan unsur memeran jaan bangsa Indonesia jang sedang mengha- raan kita malam ini hal tersebut tidakllah be- rankan menemui persoalannja jang tertinggi dapi masa perobahan jang se-besarnja. Dan gitu penting. Hanja ingin saja mengemuka- djika tempat itu telah agak tampak apakah dalam sebuah drama, sedangkan drama me-kan disini pendapat van Baren seorang sar- nemui pengutjapannja jang tersempurna da- jang dapat dilakukan oleh Akademi Theater djana dari Groningen jang menghubungkan lam sebuah pemeranan, sedangkan apa jang kata sihir dengan apa jang ia sebut gerust-Nasional Indonesia untuk memungkinkan tem-kita sebutkan tenaga mentjipta dari theater stellingsriten". Barangkali pendapat terachir pat ini diisi dan sjarat'nja dipenuhi. kita temui dalam persatuan kedua hal terse- ini djuga bisa kita pergunakan disamping Per-tama² ingin saja mengemukakan disinibut. Dalam masjarakat kita setjara konkrit pengertan sihir jang pertama untuk mem- dahulu apa jang saja maksud dengan perka-theater ini kita temui dalam sandiwara pang- peroleh kedjernihan dalam mentjari asai- taan theater. gung, sandiwara radio, dan film. Sehingga usul theater. djika saja pada malam ini berbitjara tentang Sihir ini bermula pada manusia primitif Sepandjang sedjarah manusia jang telah kegiatan dalam kehidupan theater Indonesia, para pemula theater kita. Sifat manusia ber-abad lamanja theater sebagai suatu seni maka jang saja maksud ialah kegiatan dalam primitif ini peniru. Suatu sifat jang djuga jang sangat terikat pada zamannja telah ber-lapangan sandiwara panggung, sandiwara kita temui pada hewan² penjusukan, Kelebi- ganti diri sampai berlusin kali, Djika kitaradio dan film. han manusia terletak dalam kepatuhan tubuh bandingkan pelbagai bentuk jang sampai se-Sekarang boleh kita kembali lagi kepada dan suaranja, kesadaran kemauan jang ter- karang kita djumpai belum lagi bentuk jang pertanjaan kita tentang tempat apa jangtjerdas dan kesanggupan fikirannja untuk nanti akan timbul, maka kita akan beroleh mungkin diduduki oleh theater dalam kehi-menjusun. Seperti hewan ia djuga suka ber- tanggapan se-olah² kita berhadapan dengan dupan kebudajaan kita. Untuk memahami ke-main untuk melepaskan vitalitet tabiinja. Un- sesuatu jang sangat serba-beragam dan jang munkinan ini pada hemat saja tidak tjukupsur bermain ini dalam ilmu pengetahuan tergolong kepada pelbagai dunia dan daerah. djika kita hanja melihat pada pertandaan² theater modern dianggap sebagai unsur da-Hal ini membuat usaha untuk merumuskan jang pada saat ini terdapat dalam masjara-sar. Demikian apabila sadja dan dimana sa- apa theater" itu sebetulnja suatu pekerdja- kat kita. Lebih djika kita arif bahwa apadja seni theater berkembang kita lihat ma- an jang mustahil. Memang ada beberapa go- nusia berlaku sebagai hewan² superiour, jang terdapat sekeliling kita sekarang, be- longan manusia jang hanja mau menerima lum lagi mengembangkan kesanggupannja se-atau sebagai budak ketjil me-niru² keadaan sebuah kata djika pengertiannja telah diru- luas²nja sehingga banjak sekali kemungkinan kelilingnja sambil menikmati kenikmatan muskan, sehingga ia dapat dimasukkan keda- permainan jang ia lakukan dengan segala

lam suatu sistim pemikiran atau golongan djika kita bersetumpu pada itu sadja, kita

alat jang ada padanja, mulai dari gerakan pembagian, tapi dalam hal theater menurut akan keluar dengan suatu penghargaan jang keliwat rendah dari semestinja. Orang ha-tubuh jang" paling bersahadja sampai ke- hemat saja, pekerdjaan itu bukan sadja tidak rus kembali kepada asal-usulnja untuk me-alat jang paling ruwet. mungkin dilakukan tapi djuga tidak ada ngetahui tenaga® apa jang ada padanja jg. se- faedahnja sama sekali. Ia adalah sesuatu jang lalu hidup terus bersama perkembangan ma-Kehidupan manusia primitif amat berat. tumbuh dan apa djalan jang akan ditempuh- nusia dan jang pada suatu masa bisa mem-Ia tidak boleh membiarkan dirinja berlarat² mja pada masa datang susah untuk dikata- perlihatkan diri kembali dengan perkasa. dihanjutkan oleh keinginan² tak keruan jang kan. Kita boleh dikatakan semuanja dapat timbul dalam dirinja. Instink jang ada pada- merasa apa jang dimaksud dengan kata Salah satu theori jang agak umum di-nja sebagai modal, terutama ia perlukan un- theater". Kita semua pernah mengundjungi tuk keperluan² hidup jang penting. Instink satu pertundjukan theater. Toh djika ia terima orang tentang asal-usul theater, jalah peniru ia pergunakan untuk meniru suara, uraikan dengan sungguh² ia dapat diiba- teori jang mengatakan, bahwa theater seba- gerakan jang ada dalam alam sekelilingnja. ratkan dengan seorang gadis jang djinak² gai senia lain bersumber pada magic jang Demikian dengan me-niru² ini ia beroleh erpati. Tidak mudah ditangkap. Karena barangkali dapat diterdjemahkan dgn, sihir. hubungan langsung dengan dunianja sendiri. untuk sementara waktu tidak ada jang Pelbagai penjelidik telah seia untuk mengang- apat saja lakukan ketjuali menjertai Gregor gap sihir itu sebagai usaha manusia untuk Lagi pula permainan meniru ini bukan sa-RABU, 28 SEPTEMBER 1955

pentingan kebutuhan kebudajaan rakjat, ke- dja dilakukan sekadar untuk menjalurkan kin pada anak tjutjunja masih ditemui pera- dua, karena mereka merasa bahwa theater tenaga jang berlebih, tapi dapat dianggap se-saan berdosa. la tetap dihormati. Djuga se tidak mendapat'tempat jg sewadjarnja dlm. ke bagai sematjam persiapan untuk tindakankarang masih kita temui ritus menghormati jang lebih bermanfaat. nenek mojang ini. Jang mati itu tetau hiduphidupan kebangsaan. Usaha mereka sedemi dalam masjarakat manusia. Ia memainkankian djauhnja sehingga dalam Education Manusia primitif ini mulai membuat alat. Act" jang dikeluarkan dalam tahun 1944, pe-Mula bersahadja. Sudah itu alat itu mulaiperanan. Dalam asal-usul theater ia membe- merintah Inggeris telah memastikan, bahwa rikan thema tragedi kepada kita. Dengan ia ukir. Djuga dalam melepaskan nafsu fascilitet harus disedhakan untuk kepen. bertambah gandanja unsur jang memasuki dramatischnja ia ini sangat praktis. Seperti ritus² manusia primitif ini, ikut pula berkem-tingan pendidikan drama sebagai bagian kanaka mereka mengira bahwa ia dapat me- dari pendidikan landjutan. Konperensi the- bang dan meluas isi theater. Ja mulai ber nguasai keadaan sehingga menguntungkannja oleh bentuk. Gerak atau laku dan peniruan, ter internasional jang diselenggarakan oleh apabila ia tjukup jakin kepada apa jg. ia ke- bahan kasar pertama dari theater, mulai me Unesco dalam th. '52 memadjukan resolusi hendaki. Apa sadja jang ia ingin asal sadja ngikuti suatu latar jang makin njata. Dansupaja di-negeri² jang mendjadi anggota tjukup kuat ja menginginkan pokok ke- tatkala penulis drama pertama mulai mela-Uneseo mulai dari sekolah landjutan telah inginannja itu akan ia peroleh. Hal ini tidak konkan pertempuran antara musim nahas dandiadjarkan seni theater. sadja pada manusia primitif dari masa pra- musim panen, antara mati dan hidup, makaBahwa pemuka² theater seperti Meyerhold, sedjarah. Djuga sekarang, pada dirikita sen- masuklah prinsip dinamik drama kedalam Tairoff jang mengehendaki perobahan hu- diri tidak djarang kita mengambil sikap se- theater. Prinsip ini ialah: konflik. hubungan antara tjerita sebagai unsur theater perti itu. Karena ia belum lagi matang untuk Demikianlah setjara ringkas asal-usul dari dan laku sebagai unsur jang lain, Stanislaw- mengutarakan fikiran dan perasaannja de- theater jang kita hadapi sekarang. Memang sky jang telah membangunkan methodos ngan kata, maka sebagai ganti pernjataan ini hanja asal-usul. Theater akan berkemoang jang teratur tentang pemeranan, dapat lahir itu ia berikan dengan pertolongan gerak dan dan mengalami pelbagai nasib dan peroba-di Sowjet.Uni menundjukkan tempat jang laku. Lambat laun manusia primitif itu mu- han. Tapi bukan suatu kemustahilan oahwa diberikan kepada theater disana. lai berfikir menurut garis® jang memungkin. permulaán dari theater ini adalah djuga sua-Perantjis-biarpun theater mereka telah kan bertambah tadjam kesadarannja tentang madju-masih memberikan sokongan² res- ta achir dari theater. Apa jang diperlihatkan alam. Ia mulai mengerti, bahwa antara ma- mi pada theater² mereka. asal-usul mungkin suatu kebenaran dari thea- kanan dan perubahan musim ada hubungan. ter kita sekarang. Tidak mengherankan dji-Banjak tjontoh bisa disebutkan. Tapi lebih Unsura baru bertambah dalam gerakannja, ge- penting dari menjebutkan tjontoh² ini ialah ka Laver membuat perturutan perkembangan rakan mana kemudian djadi ritus. Ritus ini menjadari, bahwa kita djuga harus melaku- theater sebagai berikut. Ia mulai dengan dra- kemudian tambah berganda, irama masuk ke- kan itu. Dengan besarnja kemungkinan ser- ma sebagai sihir, kemungkinan drama sebagai dalamnja, perlambangan mulai terdapat dan ta pengaruh theater serta-merta ia harus me- religi, drama sebagai dekorasi kesusasteraan, pengemukaan jang lebih dynamispun terlihat- mikul suatu kewadjiban jang sangat berat. drama sebagai ilmu, drama sebagai psycho- lah. Perkembangan berlangsung terus, Manu-Banjak sjarat² jang harus ia penuhi terlebih logi untuk mengachiri rentetannja dengan sia menarikan keinginan² dan kerinduannja dahulu sebelum ia sampai keparda titik se- drama sebagai sihir kembali. sampai tenbentuk tari pantomime sebagai su- perti jang kita kehendaki. Dari apa jang kita lihat diatas njata, bah- atu bentuk pertama dari drama. Sedangkan Malam ini saja ingin membitjarakan salah wa pertjakapan mengenai theater tidak bisa choreograaf dari pantomine ini, dapat kita satu unsur jang mendjadi pendukung dari diselesaikan begitu sadja dengan mengata- anggap sebagai pengarang drama jang perta- nilai sebuah theater, jaitu kaum peran. De- kan, bahwa theater tidak lebih dari suatu ma. Biasanja dalam diri pengarang drama pri- lembaga pemberi hiburan. Pendapat ini lahirngan tiadanja peran² jang baik dan terlatih mitif ini kita temui sedjumlah kwaliteta jang dari suatu theater jang tidak memenuhi pe-tidak ada suatupun jang dapat dilakukan oleh dalam masa sekarang harus kita pisah² dan sanannja dan publik jang tidak mengetahui theater. Djuga dalam membitjarakan soal pe- kita bagi. Dalam dirinja diam seorang pa- unsur2 jang terkandung dalam dirinja. Tidakran ini seperti soal kepentingan theater tadi wang, seorang ahli ilmu pengetahuan, se- ada suatu theater jang mempunjai kedudu-saja tidak akan mulai dengan menempatkan orang ahli filsafat dan djuga seorang orga- kan dalam perkembangan kebudajaan suatufaktor² atau aktris² kita seperti dalam keada- nisator masjarakat. Djelas, bahwa ia adalah bangsa jang boleh menjediakan dirinja bagiannja sekarang. Lebih baik kita selidiki ter-seorang jang terkemuka dalam masjarakat- ketjondongan² jang murah dan kebenaran² lebih dulu permasaalah²an jang harus dipe- nja. Orang terkemuka inilah ajah pertama kulit.tjahkan oleh seorang peran sebelum dapat dari pengarang drama jang kemudian kita Dari wudjud jang dibawa dari asal usulnja,disebutkan seorang peran jang berhasil dan dapati pada zaman sekarang. theater harusbisa memperlihatkan kepadakita periksa dulu fitri dari pemeranan. Pengarang drama primitif ini merumuskan kita kedalaman djiwa manusia. Ia bisa men-Panggung mempunjai hukum sendiri. Ke- dan memimpin pantomime jang dilakukan.beri kita peladjaran, membimbing kita dan wadjaran dalam kehidupan se-haris tidak Ia kemudian menemui alat' pembantu jang barangkali apa jang diutjapkan diatas pang-usah mendjadi kewadjaran diatas panggung. pertama dari theater kita, Barangkali alat gung ada persamaan tudjuannja denganBagaimanapun inginnja orang membenarkan ini berbentuk sebuah kepala sapi. Alat pem- utjapan² jang diberikan oleh seorang pem-adjaran naturalisme dalam seni theater, ia bantu mana iberkembang. Prinsipnja kita te- ibatja chotbah dimesdjid kala sembahjangakan tetap bersifat nukilan dari keadaan mui dalam topeng jang ada pada kita. Achir-Djum'at atau oleh seorang pendeta dihari sebenarnja. Kepada seorang peran itu ma- nja dia adalah djuga orang jang mengorgani-Minggu pagi atau oleh seorang pemimpin jg.kanja diminta, bukan supaja ia berlaku se- sir ritusa sebagai kegiatan sosial dan ialahdjudjur dari mimbar parlemen. Tjuma tjara- bagai se-hari², tapi bahwa Ma harus meme- djuga jang memasjhurkan diantara masja- nja menjatakan berbeda. Theater tidakrankan. Ia harus menempatkan suatu perasaan rakatnja kenjataan² psychologisch jang adamendjelaskan dengan djalan menggambar- atau suatu fikiran dalam ruang. Karena itu dalam masjarakat itu. kan antjaman² hukuman. Ia mendjelaskan de-bermain sandiwara mendjadi berarti, mem-Suatu kedjadian jang penting dalam asal-ngan mengalirkan air mata kita atau me-perlihatkan wudjud dan laku jang ditentu- usul theater ialah masuknja pengertian mautnimbulkan tertawa gembira pada bibir kita.kan oleh wudjud tokoh² atau watak² jang di- kedalamnja. Lama sebelum manusia primitifDalam masjarakat kita sekarang ia tidak akanlukiskan seorang pengarang dengan perto- menakuti idee niskala dari djasa jang hidup menggantikan mesdjid atau geredja tapi ialongan dialog dan petundjuk², diatas sema- diluar kekuasaan manusia, ia terlebih dahu-dapat mentjapai funksi jang ada pada ge- tjam panggung, didepan sekumpulan penon- lu harus berhadapan dengan seorang individuredja dan mesdjid. Karena itu soal theaterton atau pendengar, dengan pertolongan jang sangat berkuasa. Barangkali individu iniini bukan sadja soal beberapa gelintir ma-alat² jang ada pada tubuh. Atau setjara seorang hulubalang atau seorang radja. Pen-nusia, beberapa orang artis, producer, penga-singkat, menempatkan dlm. ruang tokoh² dan deknja kedudukannja demikian rupa sehing-rang atau suteradara, tapi soal theater ada-watak jang ditjiptakan oleh seorang penga- ga tatkala ia sudah tak ada lagi kekuasaannja lah soal seluruh masjarakat. rang jang sebelum diperankan masih terikat tetap hidup. Djisimnja mungkin kembali ke-Kita dapat ambil tjontoh dari beberapapada kertas. Memang benar, bahwa kewa- atas dunia dan melampiaskan kemarahannjanegeri bagaimana orang disana menjadaridjiban jang harus dilakukan oleh seorang atas mereka jang masih hidup. Mungkin se-kepentingan ini. Dalam tahun 1919, misal-peran ialah menjediakan diri atau tubuh- kali ia punja alasan untuk marah, karena ke.nja, The British Drama League telah menga-nja untuk didjadikan alat buat menggam- matiannja barangkali telah terdjadi disebab-dakan komperensi theater Inggeris. Aiasanbarkan watak² jg. dikehendaki oleh seorang kan pembunuhan oleh seseorang jang dengki mereka mengadakan konperensi itu jalah, perpengarang, toh ia djuga harus disebut se- pada kekuasaannja. Tapi biarpun kematiantama, karena mereka lihat bahwa pemerintahorang seniman dan bukan hanja alat, ka- itu terdjadi setjara biasa, bukan tidak mung-Inggeris tidak mendjalankan politik bagi ke- rena daja penggerakkan dari pemeranan itu

SIASAT — 433

bukanlah karangan pengarang tersebut. Ka-ga, dengan lakon jang hendak diperankan itu, Dari peran itu dikehendaki, setiap kali ia rangan atau kata² pengarang hanjalah pato- pahatan kan. Hal ini menimbulkan pelbagai masaalahhendak tampil, meniadakan dirinja sama se- karena watak jang ditjiptakan oleh seorang kali dulu, segala sifat dan wataknja, untuk pengarang bisa beribeda sekali dengan wa-dapat mendjadi watak jang ia ingin perli-ENGARANG AOH K. HADIMADJA jang tadi- tak asli seorang peran. Djadi ia harus beru-hatkan menurut gambaran jang diberikan ternjata nja sudah mau pulang, sekarang oleh seorang pengarang. Sedangkan jang pa-masih mau menetap lagi di Eropa untuk entar rusan dengan dua hal, wataknja sendiri jang berapa lama". Dia sudah hidjrah" dari Sticusa ling lunak diantara mereka, Salvini misalnja ia tidak bisa lepaskan seratus persen dan pe- ke Komisariat Agung R.I. "di Den Haag. Dia bi- menjatakan: Selama saja main saja mendja- meranan watak buatan pengarang jang harus langkan, dia sudah "muak" di Nederland, ta- lani kehidupan jang kembar, saja ketawa dan pi... ach, kasihan, dalam dia muak", masih ia perankan seratus persen. Djadi apakah menangis. Tapi sementara itu saja tjoba mengedjuga dia mau peluk". jang disebut kebenaran dalam seni pemera- * nali air mata dan ketawa saja, supaja lebih nan ini? Kebenaran disini ialah: suatu per- keras lagi pengaruhnja terhadap mereka UA orang ahli musik Indonesia jang telah gulatan setjara djudjur antara pribadi peran jang hatinja ingin saja harukan." Dmengadakan studinja di Eropa: B. Sitompul itu sendiri dan peranan jang harus ia laku- dan L. Manik sekarang tlh. meninggalkan Neder-Di Indonesia, biarpun saja tidak berani me- kan. Disini terletaknja kemungkinan dimain- land. B. Sitompul kembali ke kampungnja dan ngatakan, bahwa peran² kita menganut fa-belum tahu apa jang akan dilakukannja. Istira- kannja sebuah rol dengan berbagai tjara; ham ini malahkan sering kita lihat ketiada hat sadja dahulu, ah! Lihat-lihat keadaan sesu tergantung pada pribadi peran itu sendiri; dah pemilihan umum. an perasaan jang dalam, disamping teknik tergantung pada kekajaan djiwanja dan hu-L. Manik jang telah lulus dengan gemilang jang hampir tidak ada —, di Indonesia, berat memperoleh idjazah sebagai dirigen pada Kon- bungannja dengan zamannja. ketjondongan pada beberapa pengarang re-servatorium Amsterdam, kini pergi ke Djerman Hubungan antara pribadi dan perasaan se- untuk mempeladjari musik-geredja selama dua- sensi untuk mengarah atau membela pendiri tigatahun. Siapa jang akan mempeladjari ,,musik-

orang peran dengan lakon jang harus iaan diatas ini. Apakah ini dilakukan dengan

mesdjid", entahlah. perankan telah mendihdi permasaalahan sengadja, ataukah karena kita kekurangan * orang. Dalam hal ini terdapat dua pendirian istilah perihal ini sebab ketiadaan pengetahu-IVAI APIN jang baru kembali dari Warsawa jang saling bertentangan. Jang didjadikan an, tidaklah saja pasti tahu. pokok soal ialah: apakah fitri seni memeran- ngan abangnja, disana), masih tetap kelihatan Lawan² dari penganut seni merasakan" kan menghendaki supaja seorang peran djuga segar. Kabar angin mengatakan, tadinja dia akan menetap beberapa tahun didaerah Djerman ini, jaitu penganut ,seni mengutarakan" ber- merasakan perasaan dari lakon jang ia main- (Timur? Barat?). Tapi barangkali untuk meng- pendapat lain. Salah seorang pemibelanja jang kan diatas panggung? Atau tidakkah mung- hadapi musim-dingin", Rivai agak ogah. tertua saja kira adalah Francesco Riccobani kin, bahwa fitri seni memerankan itu tergan-* jang menulis buku Seni theater" jang diter- tung pada ketjekatan peran itu sendiri un-TIGA pelukis Indonesia jang sudah mengada- bitkan di Venezia dalam tahun 1762. Bagi tuk mengutarakan bentuk² lahir dari penga- kan studinja di Eropa: Mochtar Apin, Barli Riccobani jang terpenting disamping sifat la-dan Sukondo Bustaman kabarnja akan kemba'i laman dengan bantuan tehnik pemeranan tahun ini djuga dan akan terus ke..Bali. hir ialah intelligensi, ketjerdasan fikiran, Ka dengan tiada mem-bawa² perasaannja sen-Mereka bermaksud mengadakan sebuah akademi tanja: Inilah jang terpenting dalam theater. diri? Jang pertama disebutkan orang seni pula disana sebagai tjabang perguruan saweri-Hanja ketadjaman fikiran jang dapat melahir gading. Bali, Bali, tempat pelantjong dan akan

merasakan" sedangkan jang kedua dapat di-

djadi tempat "kerdja". Kita do'akan! kan seorang artis. Djika tidak ada ketadjam sebutkan ,,seni mengutarakan". Seni mera- * an fikiran ini, maka pemain itu tidak akan sakan" berusaha supaja setiap kali dan pada lebih dari seorang pemain kelas menengah. tiap pertudjukkan perasaan jang terkandung DARA pemuda jang membentuk AIDA jang ba-Seluruh seni theater tergantung pada ini. Ka ru² ini muntjul dengan drama Utuy Tatang dalam sebuah lakon dirasakan, sedangkanSontani terbaru: Dilangit ada bintang" tertum rena kesanggupan memerankan, ialah kesang seni mengutarakan" hanja merasakan itu buk pada satu persoalan. Persoalan itu adalah gupan untuk menimlbulkan suatu perasaanbagaimana tjaranja mereka menghargai penga- sekali sadja, jaitu tatkala peran mempeladja- rang, dalam hal ini Utuy karena mereka memper pada publik dengan melakukan pelbagai laku ri lakonnja sedangkan dalam tiap² pertun- tundjukkan buahpenanja. Mereka ingin sekali dengan tidak merasai perasaan itu sendiri." djukan hanja bentuka luar jang dibutuhkan memberi uang banjak, tapi kemampuan mereka dalam hal ini sangat sedikit. Dan kalau mereka Pembela lain dari mazhab ini, djika ia dapat perasaan² jang terdapat dalam sebuah la- memberi uang sedikit ngeri" kalauz oleh Utuy disebut mazhab, ialah Denis Diderot jang me- kon jang diutarakan. dianggap suatu penghinaan. Saking pusingnja, nulis buku ,Paradox pemeranan". Ia berpen-pergilah sang regisur kepada Utuy sendiri dan Dubos berpendapat, bahwa seorang dekla- mengadukan halnja. dapat, bahwa bakat seorang peran tidak ter- mator djuga harus terharu waktu memba-Oleh Utuy diputuskan agar mereka membeli letak dalam kesanggupannja untuk merasai tjakan sebuah sadjak. Ia sendiri harus mera-sesuatu barang dan barang ini diberikan kepa- atau menjertai, tapi terletak dalam kesang-danja. Barang ini tak usah mahals, tapi jang sakannja setiap waktu ia membatjakan sa- gupannja memerankan pertandaan" lahir darisetidaknja ada gunanja bagi Utuy. Pu!pen misal- djak itu didepan orang banjak. Djika pem-nja. pelbagai perasaan jang telah ia peladjari. Ta batjaan ini tidak disertai perasaan jang da-Ini sungguh suatu hal jang tak ,enak" bagi ngisan jang ia perlihatkan bukan lahir dari lam maka pembatjaannja itu akan kedenga- pemuda, jang seakan-akan kekurangan inisiatip, hatinja tapi dari telinganja. Dan gerak jangjang untuk memetjahkan hal begitu sadja mesti ran dingin atau kelu. Demikian djuga halnja ia perlihatkan untuk menggambarkan suatu minta tolong pada .. Utuy sendiri! Harap sadja dengan seorang peran. Djika ia ingin mem- tak semua pemuda berhal demikian, karena dji- kesangsian adalah hasil pemikirannia dan la- buat kita terharu, maka ia sendiri harus ter- ka demikian tentunja akan bertentangan dengan tihan jang ia lakukan didepan katja. namanja: pemuda, jang dengan sendirinja mem- haru terlebih dulu. Sainte-Albine pergi lebih bawakan suatu kesegaran dan djuga inisiatip. Seorang pemain harus punja daja penilat, djauh lagi. Menurut dia sebuah adegan per * pemikir jang dalam dan sedikit sekali menjim tjintaan hanja akan dapat dimainkan dengan pan kepekaan dalam dirinja. Perasaan jang ALAM malam perkenalan Akademi Theater berhasil djika peran wanita dan peran lelaki Nasional jl. Anas Ma'ruf sebagai wakil dari terlalu halus hanja akan melahirkan peran djuga saling berkasihan dalam hidup dibe-Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional tjuma jang rendah mutunja. Tjuma tanpa perasaan lakang lajar. Buat Iffland hal ini adalah se- menjambut sedikit sekali karena katanja saja seorang peran besar dapat dibangunkan." bukan ahli bitjara dan tak tahu mengatakan be suatu jang wadjar. Karena itu ia berkata, tapa gembiranja menjambut kelahiran ini". Dan sebagai penutup ada pula baiknja diku jika kita hendak menggambarkan suatu Bagi pendengar jang agak dekat hal ini agak- tip seorang pengarang modern disini, Thomas nja mentjurigakan djuga. Karena seperti dike- perasaan atau watak jang mulia, maka kita tahui, Anas jang berketjimpung dalam hidupnja

Mann, jang mengemukakan pendapatnja ten

endiri harus punja perasaan dan watak mu-BMKN sebagai badan kebudajaan jang walau me tang perasaan. Ia berkata: ,,Das Gefühl, dasmang disokong oleh pemerintah dengan subsidi, ini terlebih dulu. Pendeknja, pengikut warme herzliche Gefühl, ist immer banal undagaknja mengerti dan merasakan betapa sukar

semi merasakan". ini menganggap bahwa

nja hidup sebuah badan kebudajaan. BMKN jg unbrauchbar." Pendapat Diderot menemui pe ahan terpenting bagi seorang peran bukan sekarang lagi terumbang-ambing oleh kesukaran² ngeritik² jang tadjam. Lenski berpendapat se amja tubuh, tapi ter-lebih2 lagi djiwanja, keuangan jang betapapun merupakan ha! penting dalam hidupsuburnja sesuatu usaha. baliknja. Tidak, ,katanja, peran besar tidak ychenja. jika dilihat dari sudut pan-Dan kekuatiran akan persamaan nasib ini, (su- mungkin dilahirkan sonder perasaan. Perasa- amgan mereka, sorang peran harus mengi- dah) menahan Anas utk bitjara pandjang lebar. an sangat penting, tapi disamping itu ada lagi Ja, wait dan see! kan djika tidak akan se-luruhnja, seku- faktor lain: pengendalian diri sendiri. Perasa amgnja sebagian dari djiwanja-dengan 米 an jang halus disertai pengendalian diri sen- kon jang ia harus mainkan. Dan ini ia JUGA dalam malam perkenalan Atni ini kita kukan,bukan waktu diri. Inilah jang melahirkan peran² besar." sekali sadja tahu bahwa Asrul Sani the Commingman dari mpeladjari lelakon itu, tapi setiap kali Kedua aliran ini bertentangan dengan setja-tahun 46 sekarang ini mendjadi act. decan dalam tampil didepan penonton. Jang paling ex-ra extrem. Keduanja hanja memperlihatkan akademi tersebut. Sungguh suatu kemadjuan jg menakdjubkan! Dan harapan kita kemadjuan jg reem diantara mereka malah menghendaki separoh kebenaran karena kedua berat sebe demikian ini mudah²an menimpa banjak teman atu penubuhan se-habis2nja, djiwa dan ra-(landjut kehalaman 28) pulalah!

RABU, 28 SEPTEMBER 1955

landjutan halaman 23:

Tjatatan tentang tulisan :

lah dan karena itu hanja menjinggung sebagi an sadja dari faseta jang harus didjalankan seorang peran. Kebenaran terletak diantara keduanja. Memang kemudian dari kedua fihak timbul ketjondongan untuk berkompro-

Pengarang2 ltalia & sebuah antogi

mis. Tjuma Diderot jang mentjoba untuk ber laku konsekwen. Tapi Diderot adalah seorang esudah sampai pada kita antologi tjerita theoretikus murni dan bukan seseorang jang pendek dari Rusia, Perantjis, Nederland selalu berhadapan dengan pratek theater. dan Spanjol, maka sekarang diberi hidangan Jang lain seperti Coquelin mengoreksi diri lagi kita oleh penerbit "Meulemhoff" dengan kembali. Mula²nja ia mengacakan, báhwa se- sebuah kumpulan tjerita2-pendek hasil pe- orang peran biar sekalipua tidak boleh di- ngarang2 Italia. hinggapi perasaan jang terdapat dalam lakon Seperti tertera dalam kata-pendahuluan Co jang ia perankan. Memang, katanja, kedua rinna van Schendel, sebagai penterdjemah dan pribadi atau kelakuan jang terdapat dalam pengumpul antologi itu, "Meesters der Ita-diri seorang peran, tidak dapat dipisahkan. liaanse Vertelkunst" itu diusanakan denganTapi salah satu diantara keduanja harus ber tidak mengutamakan hasil-hasil pengarang2 kuasa. Jang berkuasa ini ialah aku jang me Italia dewasa ini, tapi ditjobanja supaja bu- misahkan diri, jang memandang, jang mene- ku jang berisikan tjerita-tjerita-pendek itu me laah. Tapi kemudian ia berkata, djika sese rupakan sebuah buku jang sedap dibatja. Dan orang hendak memerankan watak X, ia harus ketjuali itu, supaja merupakan sebuah biku bergerak seperti X, pagi seperti X, dan djuga jang mentjerminkan keadaan ditanah tem- berfikir seperti X, artinja berusaha meresap pat kelahiran tjerita-tjerita itu, baik dengan kan djiwa dari X. Kompromis seperti inipun tanda-tanda jang terang pada tokoh-tokoh- ditemui pada penganut ,,seni merasakan". nja dan keadaannja, maupun daiam tjara men-Kebenaran ini dikemukakan oleh Stanislaws tjeritakannja. ky dalam bukunj.a Persiapan seorang pe Selandjutnja dikatakan, bahwa karena sifat ran." Naswanow jang ia djadikan djurubitja- jang sudah lazim untuk negara matjam Italia, ra fikirannja sendiri dalam buku itu ia suruh dimana kaum pengarang djarang sekali me mengatakan hal jang berikut: ,Siang ini ngadakan pimpinan dalam kehidupan kesu-Iganazio Silone waktu mentjutji muka, teringat olehku, wak sasteraan, dan tidak berhubungan satu sama lainnja, tak bisalah mereka itu dipisah-pisah tu memerankan watak Kritikaster, bahwa Dari pengarang-pengarang jaug paling mo-aku tidak kehilangan diriku sendiri. Sewaktu dalam golongan-golongan jang memberikan kemungkinan untuik diadakan pemandangan dern kita diketemukan dalam antologi itu de-aku bermain kuikuti dengan gembira perobah jang singkat. ngan: tentunja partama-tama mesti disebut an diriku mendjadi watak-ini. Pada satu fi-Latar belakang kisah² Italia bisa menonAlberto Moravia, Cesare Paveze, kemudian hak aku penonton, sedangkan pada fihak lain disusul oleh Vitaliano Brancatti dan palingaku mendjalankan hidup Kritikaster. Kriti djolkan pemandangan sosial jang serba kalut dan menjedihkan. Dan djuga demikian dalammuda Domenico Rea (lahir 1921). Tapi saja bi-kaster itu keluar dari diriku sendiri, Gandjil film-filmnja jang terachir: Kisah-kisah neo-sa bertanja: mengapa tidak ada Iganazio Silone Keadaan pertjabangan ini, perpetjahan diri sebagai pengarang buku2 "Roti dan anggur", rialisme, jang sebenarnja sudah melingkupi ku mendjadi dua, bukan sadja tak menggang Fontamara"? Sedang membitjarakan kesusaste pula pelbagai pengertian. jang diangkat dari gu, tapi bahkan membantu aku dalam men- tanda2 politik dan sosial, pertjintaan, humor,raan Italia dewasa ini, neorialisme, tidak bisa tjiptakan suatu watak." tokoh itu kita lupakan, seperti ketiga tolkoh paduan daripada kenjataan Italia dewasa ini.Apakah kebenaran jang dapat kita ambil setelah mengalami peperangan jang diachiri itu merupakan rangkaian jang tidak bisa dise. but terpisah-pisah: Moravia, Siione, Pavese. dari gambaran jang diberikan Stanislawsky dengan penderitaan jang tiada kepalang, djuga Apa ini hubungan dengan selera jang memi-ini? Jaitu, bahwa fitri seni memerankan suatu dengan perubahan jang memberikan arti ba- lih tjerita? watak, sifatnja penuh pertentangan, Itu ma gi kehidupan untuk selandjutnja. kanja tidak dapat suatu theori jang berat se Untuk antologi itu Moravia telah memilihkan Antologi itu dimulai dengan sebuah tjerita belah dipakai sebagai dasar untuk memahami karangan Iginio Ugo Tarchetti, jang amat tjeritanja sendiri, sebuah tjerita jang dia buat sewaktu dia berusia 20 th: "Delitto al circolo fitri seni pemeranan. Setiap peran harus me pendek usianja, hidup antara tahun 1841 dan

  1. Sesudah itu kita dikenalkan dangan
    nerima fitri seni memerankan ini dengan se di tennis" (Kedjahatan ditempat tenis) Tjeri-Giovanni Verga dengan sebuah tjerita jang ta ini dibuatnja sebelum dia selesai dengan gala pertentangannja. Sering seorang pe-Gli Indifferenti" (Orang2 tak peduli) (1929) se-ran tatkala naik keatas panggung melempar sudah lebih dahulu kita kenal, karena sudah dibuatkan film daripadanja: La Lupas. bagai romannja jg pertama jang menundjuk kan teoria jang ada padanja dan mentjipta- kan kepribadiannja dengan amat kuat. Tapikan suatu teori jang baru jang mungkin ber Pasti pula. Verga (1840 — 1922) adalah to- untuk kita dia lebih terkenal lagi dengan koh jang paling utama daiam zamannja, dan lawanan dengan jang semula tapi jang ber- "La Romana" (1947). Apa ini disebabkan ka- kisah-kisahnja memberikan kenjataan pula, sesuaian dengan hukum² jang terdapat setja bahwa kisah2 daerah jang diisi oleh petani-rena tokohnja itu amat menarik buat kita? ra objektif dalam seni memerankan. sedang penjusun antologi itu mengatakan, petani dan tukang-tukang pengail ikan, tidak Wudjud dari pemeranan diatas panggung bahwa meleset kita telah memilih "La Roma- kurang artinja dalampengertian universil. ialah pengutaraan perhubungan® atau laku ma na" sebagai hasil Moravia jang paling baik. Kemudian menjusul tjarita seorang penga- nusia oleh seorang peran dgn djalan mentjip Sebagai tjerita jang paling achir dalam rang jang masih kurang banjak dikenal masja- takan suatu kesatuan-bentuk panggung. Dan rakat Indonesta: Grazia Deledda biar dia da buku itu ditempatkan karangan Pavese, tapi perhubungan manusia ini menundjuk kearah tentunja ini samasekali tidak berarti bahwa lam sebenarnja adalah pemenang hadiah No- dua segi; segi lahir dan segi bathin, Keduanja itu satu karangan jang disisipkan. "Notte di bel th. 1928, dan lebih kita kenat lagi tokoh tidak dapat dipisahkan, dan tidak satupun di festa" (Malam pesta) sebagai tjerita katholik Luigi Pirandello, pemenang hadih Nobel th. antara keduanja jang dapat meniadakan jg tanah Italia. 1934, untuk antologi itu dimuatkan dua buah lain. Setiap tindakan manusia memperlihat- tjerita: "Ciáulamenemukan bu'an" dan Kebanjakan tjerita ini mengaugkat kesedi- kan suatu kesatuan tindakan lahir dan ba- "Njonja Frola dan Tuan Pronza menantunja".han dan mentjerminkannja pada sipembatja. thin, Karena itu tidak mungkin memahami Deledda adalah seorang pengarang wanita, se-Tapi tentunja djuga ada bagian-bagian jang perhubungan lahir manusia dengan tidak me bagai tukang tjerita dari Sardnia, sebegitu mengandung humor, walaupun itu lebih me mahi perasaan dan fikirannja. Sebaliknja kita pentingnja seperti Verga dari Sicilia. rupakan satu edjekan. Kita mengenal pula masih banjak lagi pe- tidak akan dapat memahami fikiran dan pera jang bisa melupakan Siapa pula sekarang ngarang-pengarang Italia dan dalam antologi saan seseorang djika kita tidak berusaha me Italia tanpa"Kaput"karangan Malaparte, itu diwakili oleh beberapa, antaranja: Aldoatau Don Camilo" karangan Giovanni mahami hubungannja dan pertaliannja de-Palazzeschi, Nicola Lisi, Bontempelli, Italo ngan dunia sekeliling dan dengan zaman. Ka Guareschi!*** Svevo. rena fikiran atau perasaan atau harga penga *) Meesters der Italiaanse Vertelkunst" laman seseorang ditentukan antara lain oleh
  • Corinna v. Schendel, "Meulenhoff".Ramadhan K.H. tjara ia mendekati zamannja, perhubungan-

    SIASAT — 433

Sadjak sadjak

Dodong djiwapradja

mja dengan masjarakat dan pandangannja ter hadap alam keliling. Kenjataan² terachir ini menjadarkan kita bagaimana besarnja persiapan jang harus di akukan seorang peran djika ia ingin meme- uhi sjarat seorang pendukung dari theater seperti jang tadi kita kehendaki. Tepat sekali apa jang dikatakan Hagemann dalam buku- mja Schauspielkunst": ,.. Timbul suatu sjarat jang harus dipenuhi, Seorang peran harus berada diatas latar bentuk² tertinggi dari intelek, masjarakat dan peri kemanusia an. Ia harus mengetahui dan mengarifi kehi dupan fikiran, aliran² fikiran dan perasaan² jang terdapat dalam zamannja." Seorang peran tidak berhentinja berubah. Bentuknja tergantung pada djiwa zamannja dan hubungan² jang terdapat dalam zaman itu. Seorang peran ialah seorang jang berdji wa kaja. Karena bagaimana mungkin sebuah djiwa jang melarat akan dapat memperlihat kan kepada kita dalam gedung theater, keda laman², derita dan liku² djiwa manusia. Dengan ini saja berharap djika tidak akan menghilangkan se-tidak²nja menimbulkan su atu kesangsian terhadap kebenaran mythe jg melingkungi golongan jang sekarang orang sebutkan artis. Dalam mata chalajak banjak seorang artis hanja seorang jang halus pera saan, sehingga sering² seorang jang agak gan djil tingkah lakunja dan agak mudah tersing gung hatinja disebut artis. Ini tidak benar. Perasaan, baru satu dari unsur² jang banjak jang harus ada dalam diri seorang artis. Unsur jang lain ialah djiwanja jang kaja, fiki rannja jang kaja, fikirannja jang tadjam, ke sanggupannja untuk memusatkan fikiran dan tubuh jang terlatih, untuk memberikan kepa da kita bentuka jang dikehendaki oleh perasa an jang mungkin tertera dalam sebuah dra- ma. Untuk disebut artis tidak mudah. Buat artis jang sebenarnja, waktu kerdjanja, ialah mulai saat ia merasa, .bahwa ia punja bakat lalu mengembangkan bákat itu serta bekerdja dan beladjar untuk memenuhi sjarata jang ha rus dipenuhi seorang artis, sampai hari tua- nja. Ia baru berhenti djika umurnja tiada la gi mengizinkan. Seorang artis tidak bisa ber henti djadi artis. Apakah jang dapat dilakukan oleh Akademi Theater Nasional Indonesia untuk memenuhi sjarata diatas sehingga pada suatu saat tim bul suatu angkatan baru peran', seniman², jang dapat mendukung theater jang kita ke hendaki dan jang akan memperoleh keduduk an sewadjarnja dalam kehidupan kebudajaan kita? Djika akademi ini ingin menunaikan kewa djibannja, maka hanja satu jang dapat ia la kukan: mendjadi sebuah lembaga dimana ke pada peladjarnja diadjarkan menafsirkan za mannja dengan istilah, pemikiran dan laku theater. Peladjars jang mendapat didikan di sini harus sanggup menempatkan kepahitan', kegembiraan*, kesedihan dengan tjara zaman nja' dalam ruang. Artinja, Akademi Theater Nasional Indonesia jang malam ini diresmi- kan pendiriannja, harus mengarahkan perdja lanannja demikian rupa sehingga ia mendjadi pusat kehidupan kebudajaan bangsa kita. Akademi ini tidak boleh tersangkut pada ben tuka jang masih ada tapi telah beku, pada kli se jang biar bagaimanapun akrabnja dengan kelima pantjaindera kita. Ia tidak boleh ai- ikat oleh apa jang orang katakan geijkte ter men" jang tiada lagi punja harga jang njata. Hanja ini satu²nja djalan jang dapat ditem puh oleh akademi ini djika ia ingin beroleh hak hdup.***

RABU, 28 SEPTEMBER 1955

Garut

kepada Madro'l (pembadjak)

Desa dikenang desa terbajang Ah, kali jang memanggil mati Kiranja hidjau mendjadi merah Api mendjilat membakar rumah

Desa dikenang desa terbajang Ah, kali jang memanggil mati Dibukit-bukit adjal bersarang Maut mengintip maut mananti

Desa dikenang desa terbajang Ah, kali ang memanggil mati Didjalan kekota petani berpesan Padi menguning djeruk məndjadi

Desa dikenāng kenanglah sajang ! Langit mendung didukung gunung Setiba angin mendaki tebing Hudjan tumpah tak terkira

Pagi tiba sampai dikota

Desa dikenang desa terbajang Ah, kali jəng memanggil mati Paren terahir njawa penghabisan Sawah (dan ladang sepi menanti

kepada affanoı

kuulurkan tangan paling akrab kita taklah berbeda karena tanggapan melahirkan tantangan padaku kulekatkan hati paling hangat kita adalah sama bergulat dengan manusia petjah dalam warna seribu 2

hidup sungguh agung menjerahkan kau pada kelintjahan

tapí kesenadaan muak dalam kelintjahanmu

hidup tinggallah detak djantung sebuah permintaan dibalik keriaan warna kehitaman mengantjam daku

mari djabat tangan paling akrab karena kita taklah beda demi kehangatan manusia diatasnja jang (mengutuki kita mari habiskan hari paling tjerah demi kesamaan kita tapi palingkan aku dari balik keriaan sorot kelintjahanmu karena ketunggalnadaan memuakkan daku djatiwangi 26 agustus 1955

lisasi of

A. Rossidhiy