Mo
budaya BULAN DESEMBER 1956 — TAHUN KE V
KI HADJAR DEWANTORO — TAMAN SISWA — MASJARAKAT INDONESIA SOENDORO. Motto: Es ist keineswegs der Zweck der Erziehung, mehr Stu- denten, Techniker und Stel- lungsuchende hervorzubri- ngen, sondern Männer und Frauen, die einheitlich und frei von Furcht sind, denn nur zwischen solchen mensch- lichen Wesen kann bleiben- der Friede herrschen (J. Krisnamurti : Vertrauen zum Leben. Ein Beitrag zur Erzienung"). Sama sekali bukanlah maksud pendidikan untuk menghasilkan lebih banjak studen, kaum tehnik dan pentjari pangkat, tapi manu- sia laki-laki dan perempuan, jang rukun dan bebas dari Ketakutan, sebab hanja anta- ra machluk-machluk demi. kianlah akan tertjipta perda- maian jang tetap.
si oleh Pengs
Dari Panitia malam ini saja menerima tugas menjambut peristiwa Promosi Ki Hadjar Dewantoro. Siapa ta'kan merasa bahagia, sebagai bekas murid Taman Siswa dapat ikut menjongsong dan mengalami peristiwa penting jang mengenai Sang Guru! Sebaliknja saja pun sadar akan kesulitan batin jang saja hadapi. Sesungguhnja suatu kesulitan batin! Sebab dalam kata-kata sambutan nanti harus sekaligus terpadukan tiga pokok besar: Ki Hadjar Dewantoro — Taman Siswa dan Masjarakat Indonesia. Ketiga-tiganja itu masing-masing sudah meru- pakan suatu kebulatan. Tak mungkinlah dalam tempo singkat akan membuat psychologisch portret Ki Hadjar. Untuk beliau sendiri sadja sudah memerlukan satu biografi chusus. Perguruan Taman Siswa bisa mendjadi atjara sebuah thesis dalam promosi sendiri, walaupun dalam buku Dr. Brugmans Geshiedenis van het onderwijs in Nederlandsch Indië" (1938) hanja disebut dengan 3 kalimat. Dan dalam buku Dr. Coolhaas Insulinde, Mensch en Maatschappij" disebut dengan 9 kalimat. Antaranja demikian: Haar leider Ki Hadjar Dewantoro verwerpt alle onderwjis, dat niet in de
eigen, autochtone cultuur wortelt. Hij vraagt voor de door hem gestichte scholen geen subsidie aan, omdat ze van geheel andere richtlijnen uitgaan dan die van de overheid". (pg. 204). (Pemimpinnja Ki Hadjar Dewantoro menolak segala matjam penga- djaran, jang tidak berakar pada kebudajaan pribumi sendiri. Ia tidak minta subsidi untuk sekolah-sekolah jang ia dirikan, oleh karena djurusannja lain sekali dengan sekolah pemerintah). Dan, — hadirin Jth, — masjarakat Indonesia sendiri banjak mengandung unsur guna bahan dalam uraian apa sadja — Pendek kata : tiga pokok besar ini adalah "many splendored things". Kesulitan batin kedua: tiap murid KHD tentu tahu nasehat KHD jang lebih kurang begini: Kalau seseorang masih hidup, lebih baik djanganlah menulis biografinja. Sebab pendiriannja masih sok bisa berobah. Membitjarakan dia bisa membahajakan dirinja". Sebab itu, — lebih dulu njuwun duko, Ki Hadjar", kalau malam ini saja mendjadi anak nakal dan kurang begitu taat kepada nasehat tersebut. Maka pedoman saja malam ini sedikit paradoxal: Hanja dengan melanggar" nasehat itulah saja bisa mendjalankan tugas saja sekarang". Tapi pelanggaran" ini tidaklah berat, karena hanja merupakan "glimpses of biography". Sebaliknja, kalau seorang biograf mau menulis betul-betul, haruslah ia memperhatikan tatawarna pelangi kehidupan KHD, jang paling sedikitnja harus meliputi kegiatan-kegiatan politik, pendidikan, kebudajaan, kesenian dan djurnalistik. Bagi saja bagian djurnalistik inilah sedikit sedikit bisa ikut bitjara.tBunul
Ada lagi satu pertanjaan : Masih perlukah sepatah dua patah kata menge-
nai KHD, seolah-olah belum dikenal?Masih perlukah KHD di-,apa-siapakan", menurut istilah sdre Wenohito, pemimpin Minggu Pagi". Sebab diantara hadirinmalam ini banjak penjokong TS, bekas pamong — (djustru PJM Kepala Negara sendiri, JM Perdana Menteri Ali) —, bekas murid: JM. Menteri Pendidikan Sarino, pentjinta dan keluarga TS sendiri. Lagi pula, waktu banjak diantara kita ini belum melihat sinar matahari, bukankah KHD sudah dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda, karena perdjoangan kebangsaan jang tiada putus-putusnja sampai setengah abad ? Maka berhubung dengan ini, — hadirin Jth, — saja minta dengan hormat, kesabaran jang sebesar-besarnja kalau nanti mungkin hanja mendengar barang- barang kunjahan atau herkauwde onderwerpen. Suratkabar dua-sedjoli Kedaulatan Rakjat" dan ,Nasional" Jogjakarta, dalam minggu terachir ini hampir saban hari berturut-turut memuat karangan- karangan dan pendapat-pendapat tentang Ki Hadjar. Tokoh Islam besar Kjai Hadji Sutan Mansur, Ketua Umum Muhammadijah seluruh Indonesia, menjata- kan a.l., Ki Hadjar bukannja orang Djawa, bukan pula orang Sumatra, djuga bukan orang Kalimantan. Dia adalah orang Indonesia jang mempunjai pribadi teguh dan tetap. Dalam lapang pendidikan ia orang jang bermutu, seperti Hadji Mohammad Hatta". (Kedaulatan Rakjat, 15 Des. 56). Tokoh pendidikan ulung, tak lebih dan tak kurang Angku Moh. Sjafei dari podjok barat tanahair di Sumatra Barat, mengetok kawat pula, jang mengandung kata-kata begitu tinggi diperuntukkan pada KHD: KHD adalah seorang besar asli, berdarah bangsawan, berpikiran bangsawan dan bertindak bangsawan. Dalam memerdekakan Indonesia dan memba- ngunnja beliau mendjadi salah seorang pelopor penting serta sangat berdjasa. Dilapangan pendidikan beliau mendjadi sardjana dengan system among dan tripusatnja sambil mempergunakan kebudajaan nasional". (Kedaulatan Rakjat, 19 Des. 56).
Tapi satu hal adalah benar: djustru karena kebesaran seseorang itulah, maka ia selalu dibitjarakan berulang, — djustru karena djasa-djasanja itulah seseorang senantiasa merupakan sumber tulisan dan sedjarah jang ta'kan kering. Sungguh tepat lukisan filsof Emerson tentang orang besar: Hidup kita ini hanja bisa indah dan kita sanggup mendjalaninja, kalau kita pertjaja kepada pergaulan dengan orang-orang luhur dan mentjoba untuk hidup bersama-sama dengan mereka jang lebih besar daripada kita, baik dalam arti sebenarnja, maupun dalam pikiran dan perasaan, — karena hidup dengan orang-orang besar itu selalu menggembirakan dan mendapat kekuatan". (Bab: Over den dienst, die ons door groote mannen bewezen wordt, dari buku Vertegenwoordigers der menschheid", salinan dari ,,Repre- sentative men", pg. 1). Tapi sebaliknja djuga benar: orang besarpun mempunjai banjak lawan. Begitu djuga halnja dengan Ki Hadjar. Beliau banjak mempunjai pengikut- pengikut dan pendukung tjita-tjitanja. Tapi djuga banjak jang menentang, jang mengedjek dan jang memusuhinja. Golongan-golongan ini beralasan, sebab mereka kuatir akan meratanja pengaruh dan tjita Ki Hadjar sebagai tokoh besar. Buat apa pada tahun 1932 pemerintah Hindia Belanda mengadakan Ordonansi Sekolah Liar, jang oleh kaum nasionalis dinamakan Ordonansi Liar? Kenapa Ordonansi pada dasarnja terutama ditudjukan kepada TS? Buat apa, kalau memang tidak untuk mematikan Taman Siswa? Tapi dikalangan Indonesia sendiri, terutama kaum nasionalis 17-agustusan, djuga tidak sedikit jang menge- luarkan edjekan-edjekannja, misalnja Ki Hadjar bukanlah opvoeder, bukanlah paedagog, bukanlah pendidik". Saja tanja: Kalau begitu, apakah Ki Hadjar itu ?" Inilah djawabnja : Ki — seorang pemberontak " Ja, sesungguhnjalah Hadjar adalah seorang rebel, beliau seorang rebel! Rebellienja ditudjukan kepada system pendidikan kolonial, jang memperkosa djiwa anak Indonesia Beliau seorang hervormer dalam pendidikan. Beliau rebel dalam pendidika Djang sadar akan apa jang akan dirobah. dan bagaimana tjara merobah, jang diilhami oleh tjita-tjita prikemanusiaan dan tjita-tjita nasional. Memang Ki Hadjar bukan opvoeder in de koloniale zin des woords", (pendidik dalam artian kolonial)—kalau istilah ini benar. Tapi KHD adalah bij uitstek een opvoeder in de meest nationale zin des woords" (pendidik dalam artian nasional ig sesungguh-sungguhnja). Beliau menanamkan rasa mam- pu dan pertjaja pada diri sendiri dalam djiwa anak Indonesia. Maka dipilihnja lebih baik rumah sekolahnja seperti gubug pentjeng dan pamong-pamongnja hidup melarat, daripada menerima subsidi pemerintah Hindia Belanda. Maka subsidi pun ditolaknja dengan prinsipiil. Dalam pada itu dialam merdeka diterimalah subsidi dari pemerintah nasional sendiri. Sesuai dengan dasar-dasar kemanusiaan, maka dalam Azas TS didjelaskan, bahwa mendidik anak harus diusahakan mendjadi manusia jang merdeka batin- nja, merdeka pikirannja, merdeka tenaganja. Guru djangan hanja memberi pengetahuan jang perlu dan baik sadja, tapi harus djuga mendidik simurid akan dapat mentjari sendiri pengetahuan itu dan memakainja guna amal keperluan umum. Harus ditanamkan auto-activiteit, ondernemingsgeest jang mandireng pribadi. Dengan memahami system kolonial dengan sebenar-benarnja itulah, maka ditjiptakan system nasional. Kedua system itu prinsipnja bertentangan, intinja berlawanan. Taman Siswa mempunjai prinsip sendiri. Sebab ,Instelling jang tak berdasarkan prinsip, akan kehilangan tanah berpidjak; achirnja surut kembali kepada anti-thesenja. Sebaliknja prinsip tanpa instelling akan tiada arah tudjuannja dan berachir dengan lamunan main-main sadja". (Hermann Rausch- ming: Tijd van delirium", pg. 258).
Instelling TS sudah berdiri, azasnja sudah djelas, ditetapkan pada tahun
- Maksudnja hendak membentuk dunia baru bagi anak-anak Indonesia, dunia baru jang sesuai dengan alam dan kodrat Indonesia, sesuai dengan tuntutan masa kebangunan nasional. "Education is the key to the new world", begitulah filsof Bertrand Russel. (Selected papers: The aim of education, pg. 193). - Atau dengan memindjam Prof. A.R. Wadia dari Bombay Uniyersity, dalam Diskussi Medja Bundar jang diadakan oleh Unesco di New Delhi 5 tahun jl (1951): "Education has to remake the men and women of our generation". (Humanism and education in East and West, pg. 189, Unesco). Dunia baru bagi Indonesia jang harus dibangun ditengah-tengah alam kolonial adalah dunia nasional. Pola hidup kolonial kita ganti dengan pola hidup nasional. Alam dan dasar Indonesia dipakai sebagai pokok pangkal hidup, jang harus tumbuh wadjar. Dengan pedoman inilah sudah sekaligus ditarik garis jang memisahkan kolonial dan nasional. Dasar-dasar kebudajaan Indonesia dipentingkan. Sebab bangsa Indonesia mempunjai pribadinja sendiri, walau sudah bertjampur dengan berbagai bangsa dalam akkulturasi proses dari zaman kezaman. Dengan ini sekaligus pula dihidupkan rasa pertjaja pada diri sendiri, dengan menekankan pada garis hidup sendiri. Orang dapat bertanja: Masih mungkinkah bangsa jang sudah bertjampur dengan berbagai bangsa berabad-abad lamanja turun temurun, mempertahan- kan garis hidupnja sendiri?". Barangsiapa pernah melihat berbagai negeri dan suka membanding bagai- mana hasil-hasil tjiptaan rohaniah berbagai bangsa, bisa lekas membedakan atau paling tidak merasa, bahwa ada perbedaan dalam hidupnja sehari-hari dan hidup kebudajaannja. Orang bisa membandingkan bangsa Djerman dengan bangsa Belanda, Belgia, Perantjis, Itali dsb. Adalah hasil penjelidikannja, ketika André Siegfried dalam "l'Ame des peuples" (disalin dalam bahasa Belanda Volkskarak- ters", 1951) mempersoalkan watak masing-masing bangsa, berkata: ,Keadaan djiwa tiap bangsa mengandung unsur-unsur hakiki jang umurnja telah berabad-abad dan jang tiap kali kita djumpai kembali. Kita bangsa Perantjis sekarang dalam banjak hal masih menjerupai nenek mojang kita kaum Gallia; sampai kinipun kita masih mendapatkan pada bangsa Djerman dan Israel garis-garis watak, jang oleh Tacitus dikatakan Barbar" dan Jahudi pada masanja". (pg. 1.). aiau Masih adanja unsur-unsur hakiki ini tidaberarti menghilangkan kenja- taan adanja pertjampuran kebudajaan berbagai bangsa, dan pengaruhnja tehnik modern. Hal ini tetap berlaku. Dikalangan TS sendiri diakui, bahkan ditjantum- kan dalam Azas, bahwag djustru untuk kemadjuan kebudajaan bangsa haruslah diambilkan lain-lain unsur dari luar, bukan ditelan mentah-mentah, tapi diolah, bukan adoptasi, tapi adaptasi. Menutup diri berarti akan kerdil dan keringnja kebudajaan sendiri. Dalam berhubungan dengan dunia luar ini tidak berartı bahwa kita hanja menerima sadja, melainkan djuga memberi, seperti sekarang dialam merdeka ini telah dibuktikan berangsur-angsur. Hal ini djustru mungkin, dimana bangsa makin tambah kepertjajaan pada diri sendiri dan pada kebudajaannja. Kesadaran ini berdjalan parallel dengan pendapat dikalangan ilmu anthropo- logi sekarang, jang dulu masih beranggapan, bahwa kebudajaan itu hanja satu, sedang djenis manusia adalah berbeda-beda, bermatjam-matjam. Tapi teori sekarang dibalikkan mendjadi: djenis manusia adalah satu dan bentuk kebudajaan adalah bermatjam-matjam, jang merupakan "mozaiek der cultuurvormen". Sudah umum diketahui anggapan dunia barat, bahwa pola kebudajaan adalah pola barat jang diambil sebagai ukuran, dan bangsa-bangsa lainnja jang tak mempunjai taraf demikian, adalah biadab. Mereka berkesimpulan, bahwa umat didunia ini banjak djenisnja, bukan satu jang ditjiptakan oleh Tuhan. Maka
sebagai kelandjutannja ialah, bahwa ada bermatjam-matjam golongan bangsa didunia ini: ada bangsa klas satu, klas dua, klas tiga dan klas kambing. Dan perwudjudannja dalam politik kita lihat dimasanja Hitler dengan usaha pemur- niannja" Aria Nordikanja, di Afrika Selatan dengan aparteid politiek dari Dr. Malan, dan dibeberapa tempat di Amerika dengan siksaan pada Negro. Seba- liknja pandangan baru mengatakan, bahwa kebudajaan ditentukan oleh keadaan kelilingnja: alam, letak geografi, sedjarah. Maka njaringlah suara anthropolog wanita Ruth Benedict: Kaum anthropolog dulu mentjoba untuk menggolongkan segala tjiri-tjiri dari berbagai bentuk-bentuk kebudajaan dalam perkembangannja jang evo- lusioner dari bentuk-bentuknja jang purbakala kedalam perkembangannja jang terachir kedalam peradaban barat". (Patterns of culture, pg. 16).
Sebuah badan internasional seperti Unesco sudah beberapa kali berusaha
untuk mendekatkan segala bangsa dimukabumi ini dengan bantuan sardjana-
sardjana. Mereka ini diperintahkan untuk menulis setjara ilmiah guna menun-
djukkan tidak adanja perbedaan diantara bangsa-bangsa sebagai jang dianggap dimasa-masa jang lampau. Maksudnja untuk lambat laun ikut mengurangi pertentangan-pertentangan dunia. Diantaranja dikeluarkan pamflet-pamflet seperti
"Race and culture, — Race and psychology, — Race and biology, — Racial
mythes, — The roots of prejudice, — dll.". Dengan ini gugurlah "white man's
cult" (pemudjaan bangsa kulit putih) jang dalam abad 19 dan permulaan abad 20 ini melontarkan teorinja, bahwa perbedaan intelektuil dan emosionil diantara mahadjenis Nordika dan ras klas rendah kulit putih, kulit kuning dan
kulit hitam adalah semata-mata pembawaan dari kelahiran." (LC. Dunn &
Th. Dobzhansky: "Heredity, race and society", pg. 7). Salah satupendekar perbedaan djenis ini adalah seorang bangsa Perantjis Gobineau, jang kemudian diikuti oleh berbagai teoretisi.. Siapakan tidak mendengar genderang tanda
bahaja bagi bangsa baat jang tersimpul dalam sebutan "Rising tide of color"
(Gempitanja egelombandnt berwarna) dari Lothrop Stoddard ? Dengarkanlah
kalimatnja jangmempertahankan kultus kulit putih: Adjaran persamaan dalam alam diantara manusia adalah salah satu illusi Alam tidak jang beratjun, jang pernah dialami oleh generasi kita mengenal persamaan" (pg. 31, dalam salinannja: In opstand tegen de beschaving — (The revolt against civilization) —. 1924). Tapi sjukur alhamdulilah, pandangan kolot itu melalui sardjana-sardjana dalam lingkungan dan diluar lingkungan Unesco, didjungkirbalikkan sama sekali. Maksudnja ialah dengan berdasarkan kenjataan untuk mempersatukan prikemanusiaan. Kalau TS memakai istilah Adat-Kodrat, tidaklah didasarkan pada faktor- faktor biologi sebagai halnja dengan Gobineau, Stoddard ataupun Chamberlin, melainkan didasarkan pada bentuk dan hasil-hasil kebudajaan dari sesuatu bangsa jang hakiki, jang ditentukan oleh geografi, iklim sosial, dll. Maka berhu- bung dengan itu, TS berpendapat, bahwa dalam pendidikan kebudajaan tidaklah tepat, bila kebudajaan dipaksa-paksakan dengan memperkosa djiwa sesuatu bangsa. Tumbuhnja harus wadjar. Sebagai tjonto jang mudah ialah pemberian peladjaran dalam bahasa Belanda. Saja mau mengutip seorang Belanda sadja, Dr G.J. Nieuwenhuis dalam bukunja Het Nederlandsch in Indië, pg. 47: In dit heele overzicht is vooral aan één nadeel van het vroege gebruik der vreemde-taal gedacht: het verkreupelen van het denkvermogen. Taal en denken zijn identiek en wie de ontwikkeling van de eene stoort, verlamt de andere. Juist wanneer een zesjarig Inlandsch kind in zijn moedertaal begint te denken, gaan we hem dwingen het in het Nederlandsch en daarna in het
Maleisch te doen, met het gevolg dat hij het in geen van drieën goed doet"27 Selandjutnja: Een volk dat zijn taal verliest, verliest zijn karakter Mag de kroon de wereld willen omvatten, de wortel moet stevig in eigen bodem steken: het onderwijs voor het volk in zijn geheel en voor de leiders in de eerste schooljaren moeten zuiver nationaal zijn". (,Dalam ichtisar semuanja ini terutama dipikirkan kepada satu kerugian daripada pemakaian bahasa asing terlalu pagi (kalau masih terlalu muda), ialah memperpintjangkan kekuatan berpikir. Bahasa dan pikiran adalah sama dan barangsiapa mengganggu pertumbuhannja jang satu, me- lumpuhkan lainnja. Djustru pada saat anak pribumi 6 tahun mulai berpikir dalam bahasa ibunja, maka kita paksalan dia untuk berpikir dalam bahasa Belanda dan kemudian dalam bahasa Melaju, akibatnja ialah, bahwa ia tak bisa sempurna dalam ketiga-tiganja". Selandjutnja: Bangsa jang kehilangan bahasanja, kehilangan djuga watak-
nja.....
Kalau putjuk hendak melingkupi dunia, maka akarnja haruslah kuat terta- nam dalam dasarnja sendiri: pengadjaran buat rakjat seluruhnja dan buat pemimpin-pemimpinnja dalam tahun-tahun pertama haruslah bersifat nasional jang sebenar-benarnja".) Perhatikanlah tahun terbitnja buku ahli pengadjaran dan pendidikan bangsa Belanda ini, ialah th. 1930. Taman Siswa berdiri 8 tahun lebih dulu dengan dasar-dasar nasional jang djelas. Tapi kalau dalam tahun 1932 pemerin- tah Hindia Belanda mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar, jang dengan berbagai djalan membendung perasaan nasional, dan kesehatan djiwa anak maka sulitlah dipahami apa jang dikehendakinja. fBuku Kalau pamong-pamong TS oleh Departement van Onderwijs & Eeredienst
dianggap tidak memenuhi sjarat-sjarat uumendjadi guru, hal itu memang
benar bagi pengadjaran kolonial. Tavi djustru karena dasar-dasar inilah sjarat kolonial itu-berlainan dengan sjarat nasional. Lain soal lagi: Kalau anak masuk sekolah di Gouvernementsschool, mau tak mau diiming-imingi diploma, maka Ts menitikberatkan untuk membentuk pribadi. Diantara kita tentunja masih ingat, berapa banjak anak muda dizaman Hindia Belanda jang pinter dan mengantongi diploma, masuk keluar kantor gubernemen untuk mentjari ambtenaarsschap, — untuk mendjadi pennelikkers, —desnoods tidak digadji sebagai voluntèr. Tapi djarang berhasil. Sebaliknja dari peristiwa itu kita masih ingat djuga, bahwa pada masanja Ordonnansi Sekolah Liar ditahun 1932 TS mengadakan aksi membakar diploma Klein-ambtenaars- examen, Kweekschool atau Normaalschool. Tindakan ini bukanlah tindakan mem- babi buta, melainkan mempunjai nilai pendidikan jang bewust, jang sadar. Jaitu djustru untuk mengimbangi gedjala jang tidak sehat tadi, dimana diploma seolah- olah dianggap sebagai djimat Kalimosodo. Tegasnja: untuk menundjukkan, bahwa orang tanpa diploma pun tetap bisa hidup. Dan ada sedikit intermezzo, — hadirin Jth, — bandingkanlah hal itu dengan gedjala sekarang, notabene dinegara nasional sendiri, dimana ada pabrik idjazah ataupun djual-beli idjazah, ataupun membotjorkan pertanjaan- pertanjaan udjian", jang bisa mendatangkan keuntungan berpuluh ribu rupiah! Saja kuatir, kalau tendens ini tidak ditjegah pada prinsipnja pendidikan, bukan mentjegah pada gedjalanja melulu,. saja kuatir kita melangkah surut kepada suasana berpikir kolonial. Garis nasional jang djelas dalam pendidikan, kita dapati pula dalam Azas TS jang berbunji: ,Hanja dengan dasar peradaban sendirilah pembangunan perdamaian dapat dilaksanakan. Dalam bentuk nasional, tanpa imitasi atau
Foto Djapendi.
Penjerahan Doctor's bull oleh Presiden Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Sardjito
kepada Ki Hadjar Dewantoro.
meniru-niru, dapatlah kiranja bangsa kita tampil kemuka diatas forum internasional". Paham ini akan saja bandingkan dengan pikiran sekarang sehabis perang dunia-2 ini, jang mengadjarkan, bahwa tiap anak sebagai anggota baru dalam kelompoknja, harus pertama-tama diadjar kenal dengan kultur keseluruhannja. Djadi anak itu haruslah di- sosialisasikan (gesocialiseerd), jang hanja mungkin didjalankan dalam lingkungannja sendiri. Maka sekolah pun bisa mendjalankan socialiserende taak" itu, hanja kalau sekolah itu mempunjai rentjana peladjaran jang gesocialiseerd, artinja, dimana ditjantumkan bagian dari kultur, jang harus dimiliki oleh anak untuk hidup bersatu dengan kultur seluruhnja, supaja bisa geintegreerd didalamnja". Adapun rentjana pengadjaran jang gesocialiseerd dalam masjarakat modern itu, pertama harus mengandung segala nilai-nilai kebudajaan lama, jang bagaimanapun djuga dalam keadaan baru ini tetap terpelihara. Kedua harus pula pengetahuan dan ketangkasan jang kelak merupakan dasar bagi anak untuk tjepat menjesuaikan diri pada perobahan-perobahan jang terus- menerus, manakala hal itu penting baginja. (Dr J.C. Notebaart De bete- kenis van het onderwijs voor culturele integratie", — dalam madjalah kebudajaan Indonesië", No 3, Juni 1956, pg. 245). Maka berhubung dengan hal-hal diatas ini, dalam merangkai dua perkataan pendidikan dan pengadjaran", Taman Siswa dengan sadar dan beralasan mendahulukan perkataan pendidikan", bukan mendahulukan perkataan pengadjaran". Hal ini sekarang kita dapati djuga dalam nama Kementerian Pendidik. an, Pengadjaran dan Kebudajaan". Dalam mengemukakan hal-hal tadi sudah saja tjakupkan sama sekali, bahwa
titikberat TS bukanlah mengedjar kemadjuan teleksemata-mata, tapi pendi-
dikan pribadi. Maka dalam lingkungandan suasana kolonial dapatlah kita pahami, kenapa TS mendapat édjékan, — sekali lagi, sajangnia djuga diantara kaum intelek Indonesia sendiri, — bahwa TS adalah sekolah buangan. Edjekan ini telah terdjawab pada saat mendirikan TS dalam ,reddings — dan zendings- arbeid" jang disini tidak perlu saja djelaskan. Dan dimasjarakat merdeka sekarang, tidakkah soal pentingnja pendidikan pribadi tadi kita temui lagi dalam sebutan ,mendidik manusia susila dan manusia utama ?". Sebetulnja akibat-akibat ketjerdasan intelek sadja sudah dialami oleh benua barat sendiri tentang bentjana-bentjananja. Filsafat barat pernah mengalami rasionalisme dengan datuknja seorang filsof Perantjis René Descartes dalam abad-17. Memang dengan rasio umat manusia pernah mendapat kemadjuan dalam mentjapai keku- saan. Tapi saja kira paradox ini benar: Rasionalisme djatuh karena kekuasaan- nja sendiri jang mahahebat, hingga manusia mengalami bentjana. Pernah saja membatja terdjemahannja sebuah buku Perantjis jang bernama De toekomst van de wetenschap" (l'Avenir de la science), karangan Prof. Dr Raymond Charmet (1946). Nama sebuah bab mengagetkan, jaitu Het gevaar van het denken" (Bahajanja berpikir). Kenapa bernama begitu?" Kemudian djelas maksudnja. Prof Charmet tadi memperingatkan kepada pendewa intelek akan bahaja-bahajanja. Iapun mengetjam lain rasionalis lagi, Ernest Renan, itu bapaknja teori bangsa" dalam abad-19. Pendewaan intelek jang dinamakan Cultus van de critische rede" dikatakan tidak zamannja lagi, walaupun diakui, bahwa rasionalisme itu pernah membebaskan manusia dari kungkungan- kungkungan. Maka sampaipun Henri Bergson, walau bertitikberat irrasionil, namun pada peringatan 300-tahun lahirnja pikiran Descartes (Discours de la Méthode), pada tahun 1937, ia menjampaikan djuga pengakuan keagungan Descartes dari kamar sakitnja, sbb:
Descartes telah membarui pikiran manusia. Pembaruan itu barangkali berupa kebangkitan kembali pikiran marusia dengan tjongkak terhadap adat kebiasaan, suatu kemauan bebas jang tak dapat dibelokkan, suatu kepertjajaan kepada kekuasaan pikiran jang tak terbatas". (pg. 37). Prof. Charmet dalam bukunja tadipun kemudian mengritik isi Ensiklopédi Nasional Perantjis jang terbit tahun 1939, bagian jang membitjarakan Pengadjaran Moril, sbb : Pengadjaran moril disekolah hanja, mengadjar orang untuk mentjapai djiwa jang kritis, sehingga peladjaran dalam pendidikan tidak kita dapati, dan peladjaran dalam soal moral dalam artian sempit, hampir-hampir dipan- dang tidak perlu". (pg. 41) Charmet setelah melihat gedjala penjakit dinegerinja itu, ia memberikan konsepsinja tentang pembaruan filsafat, demikian: Harmoni jang baru ialah bahwa pikiran tidaklah lagi bersifat berat sebelah jang mematikan, jang mau tak mau akan menentang pikiran jang sedemi- kian tadi; — laras baru tidak lagi akan memungkiri perasaan jang indah agung, kemauan luhur dan kesadaran jang mendalam ataupun menjamping- kannja dengan malu, melainkan mengembalikan kehormatan daripada pantjarannja jang asli". (pg. 127). Umat manusia jang dalam perang dunia-2 jl. mengalami kerusakan rohaniah dan djasmaniah, menjelidiki soal-soal pendidikan itu lagi. Symposium Unesco di New Delhi, Desember 1951, mengumpulkan filsof dan ahli pendidikan dengan atjara ,Humanism and education in East & West". Menteri Pendidikan India, J.M. Maulana Abdul Kalam Azad, dalam presidential-speech mengatakan demikian: Since the Western concept has not emphasized the spiritual origin of man, his triumphs in the scientific field have themselvesbecome a source of danger to his survival. If, therefore, the achievemhents of Western science can be utilized in the Western spirit of man's affinity with God, science would become an instru- ment not of destruction but for the establishment of human prosperity, peace and progress". (pg. 38.) (,,Sedjak konsep Barat tidak menitikberatkan keaslian rohaniah manusia, kemenangannja dilapangan ilmu membikin dia sendiri mendjadi sumbernja bahaja bagi kehidupannja Oleh karena itu, manakala pelaksanaan ilmu Barat dapat dipergunakan dēngan baik dalam alam berpikir Barat dalam hubungannja dengan Tuhan, maka ilmu akan mendjadi alat, bukan untuk merusak, melainkan buat mewu- djudkan kesedjahteraan, perdamaian dan kemadjuan prikemanusiaan") Dr Sarvepalli Radhakrishnan, Wakil Presiden India sekarang, menambahkan tentang pembentukan pribadi manusia sbb: The aim of a human being is union with reality. This union is to be effected not by reason alone but by the whole personality. We must grasp the real not only by thought but by our whole being". (pg. 42.) (,Tudjuan kemanusiaan ialah persatuan dengan kenjataan. Persatuan ini dilaksanakan tidak hanja dengan pikiran sadja, tapi dengan seluruh pribadi. Kita harus menangkap kenjataan tidak hanja dengan pikiran tapi dengan seluruh diri kita".)
J. Krishnamurti, filsof India, jang lama tidak kedengaran, baru ini me-
njumbangkan pikirannja tentang pendidikan, dengan kata-kata sederhana: Es ist keineswegs der Zweck der Erziehung, mehr Studenten, Techniker und Stellungsuchende hervorzubringen, sondern Männer und Frauen, die
einheitlich und frei von Furcht sind, denn nur zwischen solchen menschli- chen Wesen kann bleibender Friede herrschen". (,,Vertrauen zum Leben. Ein Beitrag zur Erziehung", dikutip oleh madjalah ,Erlesenes", Okt. 1956 pg. 41.) Masih ada satu segi lagi dari Azas TS jang diwaktu ini amat aktuil, jaitu jang mengenai hubungan manusia merdeka dengan masjarakat sekelilingnja. Azas pertama berbunji: Hak seseorang untuk mengatur diri sendiri (zelfbeschikkingsrecht) ialah supaja memenuhi sjarat pagujuban dalam pergaulan hidup jang laras" Hal ini waktu sekarang sangat aktuil, baik dalam lingkungan masjarakat Indonesia sendiri, maupun dalam hubungan antar-bangsa. Bangsa Indonesia sedjak berdjoang dimasa kolonial menuntut adanja hak mengatur diri sendiri, supaja bisa hidup lajak sebagai manusia merdeka. Sekarang kita sudah merdeka. Tapi disana sini ada gedjala-gedjala hilangnja sifat mengatur diri sendiri itu. Melainkan menondjollah usaha terlalu memi- kirkan diri sendiri, hingga hak lain orang kena srobot. Padahal hak mengatur diri sendiri sama sekali tidak berarti menghilangkan hak lain orang, jang per- wudjudannja hampir mengarah kepada anarchi. Taman Siswa mengambil patokan, bahwa kemerdekaan diri itu tidak mengandung inti melanggar kemerdekaan orang lain. Selain itu Azas TS tadipun mengandung pandangan suatu maatschappijleer, jaitu maatschappij-leer jang berdiri antara liberaledan totalitaire maatschappij-leer, jaitu jang dinamakan solidüsche maatschappij-leer. Adjaran kemasjarakatan individualistis itu mulan danberachir dengan kepentingan perse- orangan. Paham kemasjarakatan totaliter mementingkan kepentingan gemeen- schap semata-mata, tanpa mengingat kepentingan orang seorang. Maka paham sclidaristis menghindari kedua adjaran jang berat sebelah, dan memandang manusia ialah sebagai manusia-dalammasjarakat (individu — in — de gemeen- schap). Ia berhak mengatur diri sendiri, tapi menghormat diri orang lain, tetap! Dengan ini ditanamkan kesadaran bahwa disamping ia merdeka berbuat sesuatu, tidaklah berarti boleh melanggar kemerdekaan orang lain, sebab orang lain inipun membutuhkan kemerdekaan. Bagaimanakah adjaran ini dalam hubungannja antara bangsa-bangsa sekarang? Kini adalah istilah toleransi dan ko-existensi. Toleransi berarti bersikap lapang dada, dan ko-existensi berarti sama-sama hidup dan mengakui hak hidup lain pihak. Jang ditudju ialah tertib dan damai. Mendjalankan ketertiban dengan menentukan sendiri batas kemerdekaannja, dapat dihindari ketegangan, - dapat membantu penjelenggaraan perdamaian. Sekarang saja sampai pada waktunja untuk melihat TS dalam masa merdeka ini. Jang terang: tugasnja tidak makin èntèng, djustru tambah berat. Gedjala-gedjala jang seolah-olah bukan urusan TS, dalam hakekatnja benar-benar minta perhatian djuga, mengingat TS sebagai opvoedings — dan kultureel instituut, ditengah-tengah masjarakat jang membangun, dalam pergaulan internasional. Umat manusia dinegeri-negeri industri mengalami proses mechanisasi dan otomatisasi, mengalami adanja pertjobaan bom atom dan hydrogen, seolah-olah menghadapi hidup jang tidak pasti buat hari ésok. Perhatikanlah buku-buku sardjana sosiologi, psychologi dan filsof, jang pasti membitjarakan soal-soal krisis. Kita bisa mengambil Mannheim, Sorokin, Reiwald, Rauschning, Russel. Seolah-olah kita selalu diliputi oleh awan pessimisme seperti Huizinga menutur- kannja sebelum perang dalam In de schaduwen van morgen"-nja. Mereka itu mentjoba meniup kabut petang untuk menudju kealam optimisme, tapi tetaplah terkesan, bahwa djalannja seolah-olah masih belum terbuka betul.
Malah belum lama ini, pada minggu pertama bulan September 1956, ada 300 sardjana dari 37 negara sama berkumpul dalam konferensi internasional di Nijmegen (Nederland). Jang ditindjau ialah krisisnja ,Human relations". Laporan singkat jang saja batja, baik sardjana dari Aldjazair, India, Pakistan, maupun dari Brazilia, Belgi, dll. baru menjebut peristiwa-peristiwa industrialisasi, ekonomi, tehnik, perbedaan ras, turunnja kawibawan pemimpin jang menjebab- kan perobahan-perobahan besar dalam human relations (hubungan antar-manusia), tapi bagaimana mestinja pemetjahan mas'alahnja, sungguh-sungguh dira- sakan amat sulit. (Nieuw Soerabaiasch Handelsblad), Bagaimanakah Indonesia jang ikut mengatur lalu lintas internasional? Dengan sendirinja TS merasakan tepukan gelombang lautan dunia itu. Lagi pula Indonesia sendiri mempunjai mas'alahnja jang hubungannja dengan mas'alah internasional itu sifatnja pengaruh mempengaruhi. Revolusi telah merombak sendi-sendi lama. Kita dipaksa untuk meletakkan dasar-dasar baru, mentjiptakan nilai-nilai baru, tradisi baru, sikap hidup baru. Pusat pendidikan tidak luput dari mas'alah ini. TS sebagai lembaga pendidikan ditugaskan untuk memberikan levensinhoud (isi hidup) baru kepada generasi baru. Akibat? urbanisasi, kurangnja perumahan untuk keluarga, kurangnja gedung sekolah, kurangnja kesempatan mendapat pekerdjaan, pertjikan gedjala-gedjala seperti akibat film Rock 'n roll", disamping adanja geestelijke dan wereldlijke parvenu, — überhaupt segala ini weersiagnja akan memukul-mukul dinding-dinding pendidikan TS djuga. Dan djuga, setelah manusia Indonesia berabad-abad lamanja mengalami devaluasi pribadinja, usaha revaluasi dalam 11 tahun merdeka ini belum ter- kedjar sempurna. Ini semua saja opwerpen sebagai problém, jang tjukup me- minta seluruh tenaga dan pikiran ahli-ahli pendidik dan sardjana kitaW Hadirin Jth. Sudah tjukup lama saja minta kesabaran para hadirin. Tinggal sedikit lagi Saja tadi sudah mentjoba mentjotjokkan Azas Taman Siswa dengan paham-paham lain dan perkembangannja paham-paham tsb. Ada jang sama, ada jang berlainan. Ada lagi satu hal, jang kita semua mengalaminia, tapi tidak begitu memper- hatikan. Ketikarevolusi Indonesia meletus dari koloni Belanda, melalui intermezzo pahit ke-djepangan, maka dasar, djiwa, semangat TS tidak perlu berputar 180 deradjat, sebagai halnja dengan lain-lain sekolah jang misalnja mutlak harus menghilangkan njanjian Wien Neerlands bloed door d' ad'ren vloeit" ataupun Wilhelmus" — tidak perlu, Hadirin Jth. Sebaliknja malah TS telah lama mentjantumkan soal kesenian Indonesia dalam pendidikan nasional. Pun waktu zaman pendudukan Djepang jang memerintahkan dihapuskan alles wat naar Nederlandse geest ademde", — apa jang serba Belanda, — TS tidak perlu matur sendiko lan ngèstokaken dawuh" Bala-tentara Dai Nippon. Semua perintah itu bahkan sudah terlambat djauh. Dan dalam suasana revolusi nasional, TS pada dasarnja tak perlu lagi membongkar apa jang serba kolonial. Itu sudah lama didjalankan. Malahan selagi lain pihak masih baru- berchajal-akan-mulai-merantjangkan membongkar jang serba kolonial, TS sudah seperempat abad membangun dasar nasional. Kalau Angku Moh. Sjafei dalam membangun djiwa nasional dengan
I.N.S. di Kajutanam, berlindung dibawah roh sutji pahlawan Tuanku Imam Bondjol dengan semangat apinja gunung Merapi dan ketenangan siliran angin lembut dari telaga Singkarak dan Manindjau dialam Minangkabau, Maka di Jogjakarta KHD mewarisi semangat Sultan Agung Hanjckrokoe- soemo dan Pangeran Diponegoro, dibawah bajangan keagungan tjandi Borobudur dan Prambanan dan ditingkah getaran gumuruhnja badai dari Laut Hindia: Demikianlah tugas luhur Dwi Tunggal dalam pendidikan nasional Indonesia".
Tapi memang lumrah, bahwa usaha Ki Hadjar dan TS pada 34 tahun jang lalu dipandang sebagai utopi. Sekarang sudah mendjadi kenjataan. Memang tiap kenjataan dipelopori oleh dynamiknja pikiran. Tapi kalau pikiran tersebut tidak dipahami oleh zamannja, kadang-kadang bisa dinamakan utopi. Itu memang nasibnja! Kalau idee Ki Hadjar dan TS dalam negara nasional sekarang banjak dipakai, itu adalah kemenangan dari kebenaran jang mentjetus 34 tahun jl. Maka adalah terpudji sekali tindakan Pemerintah nasional, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan, melalui Universitas Gadjah Mada, untuk mem- berikan gelar Doctor Honoris Causa kepada Ki Hadjar Dewantoro. Hadirin Jth. Kata-kata saja ini belum lengkaplah rasanja, kalau dalam membitjarakan Ki Hadjar Dewantoro dan TS, saja belum menjebutkan seorang tokoh jang ulet dan sabar menghantar Ki Hadjar dalam suka dan duka, pahit dan manis, kesegala langkah perdjoangan sampai sekarang. NJI HADJAR DEWANTORO, — itulah tokoh jang saja maksudkan. Utjapan KHD jang dikutip Minggu Pagi" begini: Saja tidak tahu, apakah jang akan terdjadi dengan saja pada achirnja, kalau tidak ada Nji Hadjar!" (Minggu Pagi, No 38, tahun 1952). Utjapan ini singkat- padat, tapi tjukup menjimpulkan penghormatan setinggi-tingginja kepada Nji
Hadjar, dari suami pada isteri. Dan...... sebagai tambahan: tjonto Ki
dan Nji Hadjar dalam hidup bersama ini tidak hanja penting bagi murid- murid sadja, tapi djustru dimasa sekarang ini mendjadi tjonto kepaduan keke- luargaan kita, jang disana-sini ada jang retak-retak, malah ada jang brantakan. Selandjutnja, — nuwun sèwu Nji Hadjar Jang Mulia, saja menjebut Nji Hadjar baru pada achir uraian saja ini. Memang saja sengadja, dan ada maksud. Disebut dibagian achir bukanlah berarti pilih kasih dan dikalahkan seperti dalam barisan antré, — tidak! Tapi penempatan terachir saja sengadja dengan sadar, djustru sebagai "de kroon op het werk", sebagai suatu penutupan jang memantjarkan tjahaja tjemerlang kepada keseluruhannja. Achirnja: semoga Tuhan melimpahkan rachmatNJA atas Ajah-Bunda kita jang tertjinta : KI DAN NJI HADJAR DEWANTORO! Terima kasih!
Jogjakarta, 19 Desember 1956.
BAHAN JANG DIPAKAI-
Digitalisasi oleh Penggi
- BENEDICT, Dr. RUTH: Patterns of culture, Mentor books, Columbia University, New York 1951.
- BRUGMANS, Dr. I.J.: Geschiedenis van het onderwijs in Nederlandsch-Indië,
J. B. Wolters, Groningen, Batavia, 1938. - CHARMET EN DE BROGLIE, PROF Dr. RAYMOND en PROF. Dr. LOUIS : De toekomst van de wetenschap (terdjemahan dari "L'Avenir de la science"), A. A. M. Stols, 's-Gravenhage, 1946.
- COOLHAAS, Dr. W. Ph.: Insulinde, Mensch en Maatschappij, W. van Hoeve, Deventer, tanpa tahun 1940 (?)
- DUNN & DOBZHANSKY, L.O. and Th.: Heredity, race and society, Mentor books, New York American Library, 1946.
- EMERSON, RALPH WALDO: Vertegenwoordigers der menschheid (salinan dari "Representative men" oleh J. Moes P. Rzn.), De maatschappij voor goede en goedkoope lectuur, Amsterdam, 1910.
- ERLESENES, Die Zeitung mit weltweitem Horizont, Verlagsort Hildesheim, Oktober 1956.
- HUIZINGA, J.: In de schaduwen van morgen, Een diagnose van het geesteliik liiden van onze tijd, zesde druk, H.D. Tieenk Willink & Zoon, N. V. Haarlem, 1956.
INDONESIE, Tijdschrift gewijd aan het Indonesisch cultuurgebied. W. van Hoeve. 's-Gravenhage, Bandung, Negende jaarg, No. 3, Juni 1956.
KEDAULATAN RAKJAT sk. di Jogjakarta, 15 dan 19 Desember 1956.
- MANNHEIM, K.: Man and society, Lund Humphries, London, 1949.
- MINGGU PAGI, madjalah mingguan di Jogjakarta, No. 38, 21 Desember 1952.
- NASIONAL, sk. di Jogiakarta, 11 dan 12 Desember 1956.
- NIEUWENHUIS, Dr. G.J.: Het Nederlandsch in Indië, J.B. Wolters Groningen, Den Haag, Weltevreden, 1930.
15.NIEUW SOERABAIASCH HANDELSBLAD, sk. harian Belanda di Surabaia, 15, 20, 21 dan 24 September 1956, Laporan tentang Konferensi internasional "Human relations" (Menselijke verhoudingen).
16.RAUSCHNING, HERMANN: Tijd van delirium (salinan dari "Times of delirium" oleh
J.R. Evenhuis), H.P. Leopold, 's-Gravenhage, 1949.
17.REIWALD, Paul: Het bedreigde Ik, Een psychologische gids in de verwarring van onze tijd (disalin dari bahasa Djerman "Das bedrohte Ich" oleh Drs.Frank de Vries), J.M. Meulenhof, Amsterdam, 1954. - RUSSEL, BERTRAND: Selected papers of B. Russel, The modern library, New York, 1927.
19.SIEGFRIED, ANDRE: Volkskarakters (salinan dari "L'Ame des peuples" oleh Mr. G. de Negris), H.D. Tieenk Willink & Zoon, Haarlem, 1951.
20.SOROKIN, PITIRIM : De crisis onzer eeuw (salinan dari "The crisis of our age" oleh Ir. J.A. Blok), N. Kluwer, Deventer, 1950.
21.STODDARD, LOTHROP : In opstand tegen de beschaving, De bedreiging van den onder-mensch (salinan dari ,The revolt against civilization" oleh Dr.C. Easton, H.P. Leopold, Den Haag, 1924 - TAMAN SISWA 30 TAHUN, Buku peringatan,1922-1952.
- UNESCO: Humanism and education in East and West, An international roundtable discussion, organized by Unesco, 1951.