Baca PDF (OCR): Antologi Cerita Pendek Hukuman Mati

146 halaman · 146 halaman diproses dengan OCR· 205650 ms

Daftar isi
  1. KontraS
  2. Mencari Penerang
  3. Menuju Jalan Pulang
  4. Antologi Cenita Pendek Hukuman Mati
  5. Mençari Penerang
  6. Menuju Jalan Pulang
  7. Antologi Cerita Pendek Hukuman Mati
  8. KontraS
  9. Aditya Gumay Fitriyani
  10. Dipublikasikan pada Oktober, 2025
  11. melalui Cerita dan Sastra
  12. Tujuh Menit Sabda Udara dan
  13. Gelembung-gelembung Ingatan
  14. Gelembung-Gelembung Ingatan
  15. Oleh Amry Al Mursalaat
  16. Tidak ada jejak perkelahian, tidak ada jeritan yang terdengar, hanya rekaman CCTV buram yang
  17. Satu bulan berlalu.
  18. Sampai pada Kamis sore.
  19. Lalu dunia pun berhenti,
  20. Linus mungkin telah pergi, jasadnya mungkin tak pernah ditemukan. Namun, warisannya
  21. hidup. Bukan hanya sebagai sebuah gelembung ingatan, tetapi sebagai sebuah pertanyaan yang
  22. Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang
  23. Kematian. Keoombrang dan
  24. Kémbang Wijaya Kusuma
  25. Kematian, Kecombrang, dan
  26. Kembang Wijaya Kusuma
  27. Oleh Titah AW
  28. "Pus, kamu pucat banget lho! Tuh bibirmu sampai putih gitu, makin mirip hantu ih,"
  29. "Enggak usah Ris makasih," ucapnya lirih.
  30. lalu menyeruak ke kamarku. Dengan agak serampangan dan bercampur-campur, Puspa
  31. "Hmm. kayaknya bisa sih," jawabku ragu, sungguh di titik itu aku menyesal tidak
  32. Aku yang menyaksikannya dari kursi sebelah cuma bisa bertanya-tanya. Apa yang perlu
  33. "Memangnya kapan Pus?," tanyaku berhati-hati.
  34. "Pus?," aku berjalan mendekatinya.
  35. 11€
  36. Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang
  37. Tak Ada Peluru yang
  38. Benar-Benar Kosong 58
  39. Oleh Virdika Rizky Utama
  40. Arka menatap jam itu dari kursi kayu yang timpang. Kursi berderit setiap kali ia menggeser
  41. meja, tetap kosong.
  42. Kamar kos terasa semakin sempit.
  43. "Kenapa semua kosong?" katanya pelan. "Kenapa aku masih menunggu?"
  44. Pulau itu menunggu tanpa nama. Begitu perahu menempel, pasir menempel di sepatu
  45. wajar. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang ingin mengajukan keberatan. Perintah berikutnya
  46. ketika ia menutup mata, kegelapan tetap membawa lapangan, tiang, regu, dan suara yang sama.
  47. Tidak ada yang pergi.
  48. Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang
  49. 40 Hari Mak Imas
  50. Utari telah berpesan kepada si sopir-ia tidak punya nomor rumah. "Daerah sini memang jarang
  51. "Bukan. Saya jurnalis. Mau meliput."
  52. orang-orang yang penasaran. Wajah mereka semringah. Seperti sedang menyaksikan sebuah
  53. Cahyati.
  54. mengamankan tiket kereta dan penginapan, Utari berangkat ke kampung halaman Jennifer
  55. "Keputusan itu adalah hak prerogatif Presiden."
  56. Cahyati. Wajah di TV adalah wajah Mak. Nama aslinya Imas Cahyati. Warga di kampung
  57. Belakangan Utari baru tahu bahwa agen yang mengurus Imas bekerja di luar negeri
  58. "Allahuma... 'an. zil fi qab... rih–”
  59. Ia diam sebentar.
  60. "Kita duduk di sini untuk bersama-sama mengenang Nak Imas yang kita cintai." Nak Imas.
  61. Setelah bapak berjubah putih, orang-orang bergantian bercerita tentang Imas. Seorang
  62. Perempuan itu telah berpisah dari kerumunan. Ia keluar rumah, duduk di bangku teras yang
  63. "Iya, Ibu. Saya jurnalis. Beberapa kali saya wawancara Hayu tentang Ibu Imas," jawab Utari
  64. "Ibu Imas juga begitu?"
  65. "Imas nggak ada yang suruh. Dia yatim piatu, toh? Tapi, ya, dulu anak-anak perempuan
  66. menyimpan memori pertengkaran yang terjadi antara Mak dan bapaknya. Hayu tidak pernah tahu
  67. bapaknya semakin pudar dari ingatannya-dan Hayu tidak terlalu memusingkannya.
  68. “Ya, Ibu?”" "Menurut Mbak..." Si perempuan membiarkan kata-katanya menggantung. Ia menghela napas
  69. Mencan Penerang Menuju Jalān Pulang
  70. MamaAsh
  71. "Hapsari."
  72. "Hapsari thok?"6
  73. “Agustina Hapsari, Mbak."
  74. kepadaku. "Gantien sek yo pakaianmu. Gak elok cah cilik dandan menor ngono."
  75. berwarna putih. Pria itu lantas memperkenalkan dirinya dengan nama Paulus.
  76. "Oh, dia juga menitipkan sebuah surat!"
  77. yang sama yang menyelamatkanku dari lembah hitam. Masihkah mereka berpikir nyawa harus
  78. pinggangku dan mengerlingkan kedua matanya. "Santai saja, namanya juga ABG," kata Kak Ti
  79. Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang
  80. Tuackd
  81. Tuack!
  82. keping emas, mendapati bahwa kekayaannya telah habis. Ia diserahkan kepada para petugas yang
  83. Semua sudah siap, kiranya.
  84. Tuack! | 75
  85. Tanda tangan itu tidak kunjung datang.
  86. 76 | Tuack!
  87. Nasional yang tak jua rampung menyusun tupoksinya.
  88. Tuack! | 77
  89. yang menganggapnya beban negara. Ada pula kaum agamawan yang berdebat: apakah ia sudah
  90. Politisi: "Aduh, Prof... jangan terlalu hiperbolis. Lagipula, terpidana itu kan memang pantas
  91. 78 | Tuack!
  92. Politisi: "Sudablah, saya pikir negara terus berbenah soal ini. Toh jangankan orang yang
  93. Tuack! | 79
  94. 80 | Tuack!
  95. sebelahan dengan berita peresmian jalan layang..."
  96. Tuack! | 81
  97. “Siap!"— diucapkan dengan suara lantang.
  98. "Tembak!"—dan peluru pun melesat, bunyi mesiunya meyakinkan.
  99. 82 | Tuack!
  100. Tuack! | 83
  101. Tok! Tok!
  102. 84 | Tuack!
  103. Mencari Penerang Menuju Jalan Pulang
  104. Selimut Lurk Lestari
  105. Oleh Antonia Timmerman
  106. "Minta tolong apa?"
  107. Apa yang dia ingin makan terakhir kali?
  108. Mereka bergosip tentang laki-laki. Meri bercerita tentang seseorang yang baru saja mengirimnya
  109. Seseorang akhirnya bertanya:
  110. “Pergi kemana?”
  111. "Malaysia."
  112. "Kapan berangkat?"
  113. Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang
  114. Pesta112A
  115. Penyidik:
  116. Mayang:
  117. Penyidik:
  118. Misbah:
  119. Mayang:
  120. Penyidik:
  121. Penyidik
  122. Mayang:
  123. [Menutup map BAP]
  124. Misbah berjalan dengan gontai. Pintu besi berwarna hijau kusam terbuka dengan derit panjang,
  125. dapat perhatian. Seperti sinetron, ada sutradara yang bikin penonton ketagihan mengikuti cerita."
  126. Wartawan menulis skrip dramaturgi ruang pengadilan. Judul harus bombastis, plotnya wajib
  127. Sidang perkara pidana atas nama terdakwa Misbah bin Hasan dinyatakan dibuka dan
  128. Jaksa:
  129. mengguncang ketertiban umum dalam skala nasional.
  130. Mayang:
  131. Hakim:
  132. hukuman mati, 21 persen ragu-ragu. Potensi kepercayaan publik terhadap elite yang meningkatkan
  133. Mayang:
  134. Jaksa:
  135. Mayang:
  136. Jaksa:
  137. [Hakim mengetuk palu. Suara kayu berdentum]
  138. Hakim:
  139. Jaksa:
  140. Saksi, ceritakan secara kronologis bagaimana terdakwa Misbah melakukan perbuatan yang
  141. Kroja:
  142. [terdiam, menatap Misbab]
  143. menyelinap lewat pintu belakang, membuka laci..
  144. Mayang:
  145. Polisi Penyidik:
  146. Hakim:
  147. Mayang:
  148. [Mayang menatap hakim]
  149. panggung sandiwara, untuk politik, hiburan, dan bahkan kemanusiaan. Biarkan hukum
  150. Hakim:
  151. Jaksa:
  152. yang sudah susah payah mencari kerja, berpenghasilan, dan membutuhkan obat, tidak akan
  153. [Menoleh ke arah hakim, nada mengeras]
  154. Hukum bukan tentang perasaan. Hukum adalah pagar. Jika pagar ini kita buka hanya
  155. Cukup!
  156. Mayang:
  157. dikorbankan demi keberlangsungan undang-undang, apalagi uji coba praktik hukum yang
  158. Hakim:
  159. [Mengetuk palu]
  160. Hanya Mayang yang tidak terlelap. Pembelaan yang dia bacakan tadi terus bergema, lebih keras
  161. Hakim:
  162. Palu diketuk tiga kali.
  163. menggaungkan vonis hukuman mati anaknya, satu-satunya. Dia keluarkan handphone tua dari
  164. Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang
  165. Satu Kiasan Sepekan
  166. Nusakambangan, 2018
  167. Tana Toraja, 2005
  168. Jakarta, 2006
  169. "Puisi tentang apa?"
  170. Sepasang mata saya membelalak. Kecurangan prosedur?
  171. Combi: vagina (bahasa Toraja)
  172. Beberapa bulan terakhir, dibantu pendamping hukum organisasi nirlaba yang
  173. saja sanggup memutus hubungan darah. Atau bahkan urat nadi. Pertanyaannya, siapa otak di balik
  174. Sebatang kara. Itu kiasan kita selanjutnya.
  175. Nusakambangan, 2013
  176. Tahukah kamu kebohongan seperti apa yang mereka siarkan melalui teve-teve swasta, Baine?
  177. Jakarta, 2025
  178. Sialan kamu, Baine.
  179. Andai ibu saya masih ada, ingin sekali saya beritahu beliau bahwa saya bangga dapat mengenal
  180. Sekarang, giliran kamu untuk membagikan pandanganmu tentang hukuman mati melalui cerita dan
  181. Mencari Penerang
  182. Menuju Jalan Pulang

KontraS

TOGETHER AGAINST EC

Mencari Penerang

Menuju Jalan Pulang

Antologi Cenita Pendek Hukuman Mati

Mençari Penerang

Menuju Jalan Pulang

Antologi Cerita Pendek Hukuman Mati

TOGETHER AGAINST

KontraS

Kontributor Penulis: Amry Al Mursalaat Titah A W Virdika Rizky Utama Permata Adinda Ruhaeni Intan Soni Triantoro Antonia Timmerman Yudhistira Abi Ardianda

Editor: Dian Purnomo

llustrasi dan Tata Letak: Luthfy Ramadhan

Pelaksana:

Aditya Gumay Fitriyani

Dania Joedo Rizky Fariza Hans G Yosua Azlia Amira

Penerbit: Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Jalan Kramat II/7, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Tlp: 021-3919097 | Fax: 021-3919099 | [email protected]

Dipublikasikan pada Oktober, 2025

BY NCSA Creative Commons Attribution-Non Commercial-ShareAlike 4.0 International License

Daftar Isi | 3

Daftar Isi 3 4 Kata Pengantar Tujuh Menit Sabda Udara dan 8 Gelembung-gelembung Ingatan Kematian, Kecombrang, dan 24 Kembang Wijaya Kusuma 38 Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong 40 Hari Mak Imas52

Mama Asih 64
75
Selimut Lurik Lestari 86
Pesta 112A 98
Satu Kiasan Sepekan 125
Catatan Editor 140

Tuack!

4 | Kata Pengantar

Menghapus Mitos tentang Hukuman Mati di Indonesia

melalui Cerita dan Sastra

Sebagai bagian dari jenis penghukuman, hukuman mati (death penalty) di Indonesia sebenarnya tidak diperkenalkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebelum masuknya kekuatan kolonial Eropa, para Raja dan Sultan yang ada di Nusantara telah mempraktikkan hukuman mati kepada para kawulanya. Dalam konteks Indonesia, konsolidasi hukuman mati secara menyeluruh terjadi pada 1808 atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang mengatur mengenai pemberian hukuman pidana mati sebagai kewenangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pada masa ini, hukuman mati dipertahankan sebagai strategi untuk membungkam perlawanan penduduk jajahan dan juga upaya untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Tanpa upaya pasifikasi penduduk jajahan melalui instrumen hukuman mati, misi pemerintah Perancis yang berkuasa di Belanda untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris akan sulit diwujudkan. Maka, tidak heran apabila praktik hukuman mati merupakan pengejawantahan praktik hukum kekuasaan sebagai sebuah upaya dalam mendorong kepatuhan publik yang umumnya terjadi dalam konteks kolonialisme. Pasca kemerdekaan Indonesia, hukuman mati juga masih dipertahankan dalam sejumlah peraturan untuk melakukan pengendalian kuasa dalam instrumen hukum terutama sekali adalah berkenaan dengan efek jera (deterrent effect) yang pada akhirnya hanya bersifat semu dan ilusif.

Anomali tersebut tentu saja menjadi perhatian serius oleh sejumlah para pegiat hak asasi manusia (HAM) dan negara-negara lainnya yang sudah meninggalkan praktik yang tidak sesuai dengan rasa peri kemanusiaan itu. Apalagi jika merujuk Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) No. 29 pada 18 Desember 2007 meminta kepada seluruh negara untuk melakukan moratorium penggunaan hukuman mati dalam sistem hukumnya sebagai salah satu langkah untuk menuju penghapusan hukuman mati. Sebagai negara yang tergabung dalam komunitas internasional tersebut, Resolusi PBB tersebut menjadi salah satu instrumen hukum internasional yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Indonesia. Per Desember 2024, terdapat 113 negara yang sepenuhnya menghapus pidana mati, 9 negara yang menghapus pidana mati untuk "tindak pidana biasa", dan 23 negara yang masih mengatur pidana mati dalam hukum pidananya namun tidak pernah mengimplementasikannya lagi (abolitionist in practice). Secara total terdapat 145 negara di dunia yang "bergerak" ke arah penghapusan pidana mati. Pemerintah Indonesia lagi-lagi dalam beberapa forum internasional menyatakan abstain terkait kebijakan penghapusan hukuman mati.

Kata Pengantar | 5

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) melihat bahwa praktik hukuman mati sudah tidak relevan lagi dilakukan karena, pertama, praktik tersebut melanggar hak hidup seseorang yang seharusnya dijamin dalam situasi dan kondisi apapun dan tidak boleh dibatasi secara absolut; kedua, praktik hukuman mati kerap dilakukan dalam model pengadilan yang timpang dan nirkeadilan (unfair trial) serta didahului dengan sejumlah tindakan penyiksaan yang pada akhirnya menunjukkan bangunan penegakan hukum yang diskriminatif terutama pada kelompok masyarakat dalam kelas menengah dan bawah yang berhadapan dengan hukum; ketiga, praktik hukuman mati dipertahankan dengan keyakinan semu soal efek penjeraan umum. Secara empirik, sejumlah studi menyatakan bahwa hukuman mati tidak mampu mencegah sejumlah kejahatan besar muncul kembali ataupun mengurangi tindak pidana berat; keempat, hukuman mati berbiaya besar. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia melihat bahwa prosesi eksekusi mati untuk satu orang mencakup tahapan persiapan, pengorganisiran, pelaksanaan dan pengakhiran di mana setiap tahap membutuhkan anggaran. Berdasarkan hitungan, dana yang dibutuhkan untuk mengeksekusi satu orang terpidana sebesar Rp. 247.112.000,- (dua ratus empat puluh tujuh juta seratus dua belas ribu rupiah). Dana itu didistribusikan mulai tahap persiapan yakni rapat koordinasi antara Kapolda dan Kejaksaan setempat, penyiapan kendaraan roda empat, amunisi dan persenjataan, biaya bagi regu tembak, regu pendukung, pengawalan terpidana, regu pengawalan pejabat ke lokasi eksekusi. Kemudian regu penyesatan, pengamanan, pengantaran jenazah dan biaya pemakaman.

Pada akhirnya, mitos tentang hukuman mati yang terus dilestarikan oleh penyelenggara negara dan kadung melekat dalam masyarakat sebagai sebuah mekanisme hukum efektif dalam menghalau kejahatan, harus dilawan dan dimentahkan. Upaya kami dalam melakukan pembasmian mitos (debunking the myth) adalah menggunakan pendekatan sastrawi yang penuh dengan kelembutan, metafora dan imajinasi yang menghentak. Proses pembuatan kumpulan cerita pendek ini merupakan refleksi panjang KontraS sebagai sebuah organisasi bahwa mitos harus dilawan dengan imajinasi alternatif dan juga kebenaran empirik yang kerap kali diabaikan atau disangkal oleh penguasa. Kami berterima kasih kepada Ensemble Contre La Peine de Mort (ECPM) yang merupakan mitra kerja KontraS dalam mendorong kampanye untuk melakukan penghapusan hukuman mati di dunia dan senantiasa menjadi mitra dialog dan diskusi untuk merumuskan sejumlah upaya advokasi, pendampingan hukum bagi terpidana mati serta kerja-kerja pendidikan publik dalam menghapuskan hukuman mati. Kami juga berterima kasih kepada Linda Christanty, sastrawati dan juga anggota perkumpulan KontraS yang memberikan banyak sekali masukan dan saran dalam mendorong terwujudnya buku kumpulan cerpen ini. Kepada Dian Purnomo, yang telah bersedia mengabdikan waktunya untuk membantu, semenjak proses lokakarya dan sampai dengan penyuntingan dari tulisan-tulisan yang dikirimkan oleh para kontributor. Kepada 9 orang penulis (Amry Al Mursalat, Titah AW, Virdika Rizky Utama, Permata Adinda, Soni Triantoro, Ruhaeni Intan, Antonia Timmerman, Yudhistira dan Abi Ardianda) yang membantu kami untuk menarasikan dengan apik situasi empirik dari penerapan hukuman mati, cerita personal keluarga

6 | Kata Pengantar

terpidana mati, politik hukum dalam penerapan hukuman mati serta hukuman mati sebagai penal populism dalam kacamata masyarakat Indonesia.

Buku ini merupakan sumbangsih kami untuk mewujudkan peradaban manusia yang lebih welas asih, modern dan menghormati hak asasi setiap manusia. Kami berharap pembaca buku ini dapat semakin fasih melafalkan semangat memanusiakan manusia dan terus mengupayakan keberpihakan kepada semua kelompok-kelompok rentan yang masih kerap menjadi sasaran empuk dari alat kekuasaan negara dan praktik buruk dalam implementasi hukum yang diskriminatif.

Jakarta, 10 Oktober 2025

Dimas Bagus Arya Saputra

Koordinator KontraS

Mencan Penerang Menuu Jalan Pulang

Tujuh Menit Sabda Udara dan

Gelembung-gelembung Ingatan

8 | Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan

Gelembung-Gelembung Ingatan

Oleh Amry Al Mursalaat

Kamis kembali lagi, merayap perlahan melewati hari-hari lainya. Hari ini Linus kembali menyalahkan mobil tuanya. Bak sebuah ritual setiap Kamis sore, ringkikan mobil tua itu menyalak di parkiran kampus. Suara mobil itu seperti gemuruh yang mencoba menyelaraskan diri dengan gemuruh dalam isi kepalanya. Mobil tua ini selalu dipaksanya melaju menuju ruang perjumpaan. Di kursi sebelah yang selalu kosong penumpang, setia tergeletak beberapa buku catatan berisi diagram aritmatika dan persamaan kimia yang tentu hanya dipahami olehnya sendiri. Tak lupa juga menemani sekotak kue lapis yang disukai Hayyan.

Hayyan. Teman semasa kecilnya kini sedang terkurung dalam jeruji besi berukuran dua meter persegi, sedang menunggu hari-hari takdir pengeksekusian. Tuduhan atas pembunuhan berencana terhadap seorang pengusaha. Linus terlampau yakin, Hayyan hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Menyaksikan suatu hal yang seharusnya tidak ia lihat. Sesuatu yang melibatkan rantai orang-orang yang memiliki kuasa lebih dan mungkin tidak tersentuh hukum.

"Datang lagi, Prof?" sapa seorang petugas penjara yang amat hafal dengan wajahnya. Rambut putih serta tahi lalat yang menempel di atas bibirnya memang memaksa membuat orang lebih cepat mengingatnya. Kini senyum kecutnya melayang ke hadapan sipir seolah menjadi visual tambahan yang absurd untuk ingatan sang sipir. Ritual ini teramat aneh baginya, seorang profesor fisika kuantum selalu menghabiskan waktu Kamis sorenya di penjara kelas I.

Di dalam sebuah ruang kunjungan, bau desinfektan yang bercampur keringat dan bau-bau keputusasaan menyambutnya dengan ramah. Di sudut ruangan, Hayyan memeluk lutut. Penampakan yang selalu dia saksikan setiap sore jam besuk narapidana terpidana mati. Pandanganya kosong. Matanya yang dulu berbinar kini hanya dua butiran kelereng buram tanpa pantulan cahaya apapun. Gangguan mentalnya tampak vulgar yang mengakibatkan dia tak lagi bisa bercakap dengan lancar. Kadang dia pun mengigau tentang masa-masa kecil antara dirinya dan Linus. Namun lebih sering lagi berteriak ketakutan tanpa alasan yang jelas.

Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan | 9

"Yan, Aku kembali membawakan kue lapis kesukaanmu. Kini aku membawa warna lapisan yang berbeda. Merah muda dan hijau. Kata pembuatnya, warnanya sedang viral. Pasti kamu menyukainya"ucap Linus lembut, sambil membuka kotak kue diatas meja.

Hayyan tidak menoleh sedikitpun. Kini tangannya hanya sibuk menggambar-gambar pola acak di atas meja kayu yang penuh coretan derita. Keluarganya sudah lama mengambil jarak, malu mengakui Hayyan dalang dari sebuah pembunuhan dan kini sebagai terpidana mati. Hanya Linus yang setia datang, mungkin ada rasa bersalah yang tak pernah bisa terucap. Mungkin lagi karena janji-janji masa kecil yang harus dipenuhi

Di antara rentetan panjang kunjungan-kunjungan itu, kadang mata Linus tertuju pada seorang anak muda di sudut lain ruangan. Wajahnya mungkin terlalu muda untuk berada di tempat ini. Mungkin saja Linus salah, tapi bentuk fisiknya tak bisa membohongi logika berpikirnya. Anak ini teramat muda untuk berada ditempat yang dirancang untuk para pesakitan yang akan mati dengan timah panas yang dipaksa menembus jantungnya di tengah gelap.

"Maaf, saya sering melihatmu menjenguk Mas Hayyan. Apakah dia keluargamu?"Tanya anak muda yang biasa hanya duduk sendiri ketika jam besuk dibuka.

Linus menggelengkan kepalanya. "Teman kecil. Namamu siapa, Nak?" Tanya Linus kepalang spontan dan kaget. Anak muda itu di Kamis lainya ternyata menegurnya terlebih dahulu. Memecah keheningan antara dirinya dan Hayyan yang memang seakan berbicara dengan telepati.

"Alet, namaku Alet. Mas bisa panggil aku Ale saja cukup tanpa buruf t di belakang"

Mereka berbincang singkat. Ditengah hening kosakata yang Hayyan keluarkan. Matanya seakan tetap mengawasi perbincangan Linus dan juga Ale. Dalam obrolan, Ale berbagi jika dia terpidana mati kasus narkoba. Ditangkap di bandara karena membawa beberapa kilogram narkoba jenis sabu. Setelahnya Linus seakan tidak tertarik mendalami rangkaian cerita lainya, baginya dunia narkotika

10 | Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan

adalah dunia teramat gelap yang tak ingin disentuhnya. Tapi sesuatu tentang Ale seakan mengusik keingintahuannya. Cara bicara, logat bahasanya, dan terutama usianya.

"Jika kamu ingat, berapa usiamu ketika ditangkap, Ale?

"Sepertinya usiaku masih lima belas tabun, Mas"

Jawaban polos Ale seperti pukulan telak yang menghujam muka. Linus melihat lebih dekat ke arah wajah Ale. Memang masih amat muda, Linus terus meyakini kejanggalan ini. Sejak saat itu, setiap Kamis sore di tengah keheningan kata antara Hayyan dan Linus, kini Ale bergabung dan menambah topik obrolan. Tentu dengan mata kosong Hayyan namun seolah tetap hadir dan mengawasi apa yang sedang dibicarakan Linus dan Ale.

Dari cerita Ale, Linus mengetahui jika dulu ia hanya diminta membawa tas dan diberikan upah. Ditengah himpitan ekonomi karena ibu dan ayahnya membuangnya hidup dijalan. Cara ini tentu terlihat amat mudah. Tugas membawa tas hitam yang konon katanya berisikan alat-alat elektronik untuk dibawa ke Jakarta. Dengan imbalan sepuluh juta rupiah membuat Ale tak berpikir panjang, mengiyakan seseorang yang baru saja dikenal dan tak pernah terlintas di pikiran jika tas itu berisikan narkoba.

Kini semakin Linus mendengar, semakin sangat yakin bahwa Ale adalah korban dari sistem bisnis hitam yang menghalalkan segala cara mengambil untung dengan menumbalkan manusia lainnya. Kini seorang anak bernama Ale, besok bisa jadi bahkan sangat mungkin ada lagi Ale dan Ale lain yang terperangkap. Dan pemain utamanya tidak tersentuh hukum sama sekali. Dalam tempat yang aman para pemain utama itu sedang duduk manis dan terus menghitung laba demi laba.

Di laboratorium kampus, Linus sedang berkejaran dengan waktu. Jam pasir sudah dibaliknya dengan sadar. Bersama beberapa mahasiswa pilihannya, mereka sedang mencoba sebuah teknologi

Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan | 11

yang bahkan komunitas ilmiah pun menganggapnya sebuah fiksi: alat pengekstrak memori manusia.

Teramat jelas ide ini lahir dari keputusasaan terhadap sistem peradilan yang tak mampu membedakan mana kebenaran dan kebohongan. Menurutnya jika hukum tidak bisa diandalkan untuk memastikan keadilan memihak pada mereka yang memang tidak bersalah, maka mungkin sains bisa memberikan sebuah alternatif bahkan bisa saja jawaban atas hal itu.

Alat yang sedang Linus buat adalah sebuah alat yang dapat mengubah sampel rambut yang dapat mengekstraksinya menjadi gelembung-gelembung yang memuat memori ingatan manusia. Sebuah penemuan yang menurut Linus bisa memberikan keadilan bagi mereka yang tertuduh dari tuduhan yang tidak pernah dilakukannya. Tentu dorongan kasus Hayyan yang membuatnya memaksakan diri berjumpa malam dan menyambut pagi untuk menyelesaikan temuan yang amat mustahil ini. Namun, itikad untuk menyelamatkan jerat teman masa kecilnya menghilangkan paksa rasa lelahnya.

Percobaan pertamanya jelas dilakukan untuk sahabat kecilnya, Hayyan. Dengan sedikit trik murahan, Linus dapat membawa beberapa alat untuk mengambil sampel rambut Hayyan. Dengan trik itu Linus berhasil membawa sampel rambut Hayyan ke laboratorium dan meletakkannya ke dalam tabung khusus. Setelah beberapa jam dalam ketakutan akan kegagalan, takdir Tuhan mutlak memihaknya telak. Gelembung itu perlahan muncul, sebuah gelembung seukuran bola basket berkilau lembut ada di hadapannya.

"Gelembung keadilan pertamaku,"bisik Linus pada dirinya sendiri.

Dia menyentuhnya dengan ujung jari secara amat perlahan dan lembut. Seketika, ruangan di sekelilingnya menghilang dalam kilatan putih yang amat cepat. Linus kini seolah melihat melalui sudut pandang mata Hayyan. Terlihat dengan jelas rapat mewah, seorang pengusaha tewas terbunuh, bekas tusukan jelas terlihat, dan wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Tidak ada Hayyan disana. Setelahnya adegan ancaman, tekanan dan siksaan sampai akhirnya Hayyan memberikan pengakuan palsu yang membuatnya kini mendiami sel pesakitan dan dengan gelisah menunggu ajalnya.

12 | Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan

Air mata mengalir di pipi Linus. Tebakannya amat tepat, Hayyan tidaklah bersalah, dan kini dia menyaksikan sendiri kebenaran tersebut.

"Keadilan untuk Hayyan. Keadilan untuk sahabatku Hayyan," Linus terus merapal kalimat, seperti sebuah ritus doa yang menenangkan hatinya.

Di negara yang teramat korup ini, informasi tentang jadwal eksekusi mati adalah komoditas yang paling rahasia. Tanggalnya tidak pernah diumumkan secara terbuka untuk mencegah protes, intervensi hukum dadakan, atau sorotan media nasional. Keluarga sering kali hanya diberitahu setelah eksekusi terjadi, dengan alasan keamanan dan ketertiban.

Namun, di dalam penjara, informasi kerap bocor. Para petugas, terutama yang memiliki sedikit belas kasih dan rasa kemanusiaan, mungkin membisikkan tanggal itu kepada para terpidana mati sebagai bentuk peringatan.

Tiga minggu lalu, seorang petugas lapas yang sering menyapa Linus setiap Kamis sore, diam-diam mendatangi Hayyan. Dia mungkin sedikit dari penjaga lain yang masih memiliki nilai kemanusiaan di hatinya. Ia melakukannya bukan karena uang, tapi karena ia melihat ketulusan Linus yang selalu menengok dan melihat ketidakbersalahan Hayyan.

Penjaga itu membisikan "Nak, 3 minggu lagi adalah tanggal eksekusi. Bersiaplah. Semoga Tuhan menyertaimu". Ia melakukan ini sebagai bentuk belas kasih, agar Hayyan punya waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri dan Tuhannya. Hayyan dengan keadaan mental yang terbatas, memahami informasi ini. Ia paham ini bukan hanya soal tanggal eksekusinya tapi juga tentang sahabatnya Linus.

Insting paling murni Hayyan bekerja untuk melindungi Linus. Dia telah melihat sahabatnya berjuang mati-matian, menghabiskan waktu, tenaga, dan uang untuknya. Hayyan tahu Linus akan semakin hancur jika mengetahui tanggalnya dan tetap tidak bisa berbuat apa-apa.

Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan | 13

Hayyan dengan sadar memilih untuk menyimpan rahasia ini. Setiap kali Linus datang menjenguk, Hayyan mencoba berperilaku lebih normal dan tenang. Mungkin ia bahkan lebih banyak mendengar dan tersenyum di tengah percakapan antara Linus dan Ale. Perilaku ini bisa saja disalahartikan Linus sebagai perbaikan kondisi Hayyan, padahal ini adalah cara Hayyan untuk memberikan kenangan terakhir yang lebih damai bagi sahabatnya.

Dia tidak ingin pertemuan-pertemuan terakhir mereka diwarnai oleh hitungan mundur yang amat menyiksa. Hayyan ingin Linus mengingatnya dengan tenang, bukan dalam kepanikan dan keputusasaan.

Linus datang sehari sebelum eksekusi, tanpa menyadari itu adalah kunjungan terakhirnya. Dia dengan semangat mengatakan "Aku sudah mendapatkan hasil penelitianku, Yan. Keadilan untukmu akan datang. Aku akan cari pengacara dan kita bisa lakukan Peninjauan Kembali untuk kasus ini!"

Hayyan, yang tahu besok malam adalah akhir, hanya memandang Linus dengan mata yang sangat jernih dan dalam. Dia memegang tangan Linus lebih erat dan menganggukkan kepalanya pelan. Itu adalah caranya mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih, tanpa kata-kata.

Pagi hari, sebuah telepon berdering. Pihak lapas dengan suara tenang mengabarkan jika Hayyan telah dieksekusi. Tubuh Linus berdiri kaku, telepon genggamnya jatuh ke lantai. Hatinya teramat hancur. Namun, di balik kesedihan, ada sebuah keanehan yang muncul dalam benaknya "Mengapa Hayyan begitu tenang, seolah dirinya sudah tahu segalanya dan menerimanya?"

Beberapa hari kemudian, Linus kembali ke lapas untuk mengambil barang-barang peninggalan Hayyan. Linus tentu datang dengan perasaan yang teramat berkecamuk dalam hatinya. Seorang sipir yang biasa menyapanya berbisik "Maafkan saya, Prof. Saya kasihan dengannya. Saya beritahu dia tiga minggu yang lalu. Saya kira dia akan memberitahu Prof soal ini ..."

Linus terdiam kaku. Ternyata Hayyan tahu semua ini. Dan memilih untuk tidak memberitahukan. Rasanya hancur berganda. Bukan hanya kehilangan, namun kabar ini menyadarkannya akan satu hal. Sahabatnya memilih jalur pengorbanan rasa yang teramat terjal.

14 | Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan

Hayyan dalam keterbatasan, justru melindungi Linus dari siksaan mental jika tahu tanggal eksekusi tersebut.

Linus hancur sehancur-hancurnya. Dia hanya bisa memeluk lututnya dan meratapi takdir sahabat kecilnya. Namun, dibalik puing-puing reruntuhan hatinya, muncul kesadaran yang teramat pahit, ketenangan Hayyan di kunjungan terakhirnya bukanlah sebuah tanda pasrah dengan keadaan, tetapi sebuah perlindungan. Dalam kesunyian, Hayyan telah menjalankan sebuah peran terberatnya. Melindungi sahabatnya dari kesedihan mengetahui bahwa jam pasir waktu telah habis. Kini Linus menyimpan gelembung ingatan Hayyan dalam sebuah kotak kaca. Sesuai dugaan dalam riset dan formula yang ia rancang amat teliti, gelembung itu tidak pecah ketika mendiang mati. Gelembung itu akan pecah jika sang mendiang merasa keadilan versinya telah memihak padanya.

Beberapa waktu mengalienasi diri dalam ruang gelap. rantai refleksinya kini membentuk sebuah keyakinan baru. Keputusasaan awal yang menjadi makanannya setiap saat kini bertukar tubuh menjadi sebuah tekad membara. Dinamika otaknya berpikir cepat, ada sebuah alternatif jalan keadilan yang mesti coba ditempuhnya.

"Jika aku gagal menyelamatkan Hayyan, mungkin aku ditakdirkan menyelamatkan Ale!" Ucapnya dalam ruang gelap.

Linus kembali ke rutinitasnya. Menyalakan mobil tuanya, membeli kudapan lagi, dan memacu mobil tua kembali ke lapas. Sipir itu tampak kaget, kenapa Linus kembali lagi. Linus kini menyambut sipir dengan senyum ramah, namun bukan Hayyan yang dia ingin temui, tapi Ale. Berbagai olah strategi sudah berpola di pikirnya. Membentuk sistematika detail soal keadilan. Tentu dengan bacaan resiko yang ia pun telan dalam-dalam. Semua telah ia siapkan matang.

Linus kembali menggunakan trik murahanya untuk membawa beberapa alat seperti dulu dia lakukan ke Hayyan. Proses ekstraksi memori ingatan Ale terlihat akan lebih sulit. Trauma dan ketakutan membuat memori ingatan Ale terpecah-pecah. Linus butuh beberapa kali percobaan untuk akhirnya dapat menyusun menjadi satu gelembung ingatan Ale.

Gelembung kini ada di hadapannya, kini seakan ia menjadi Ale dalam dimensi lain. Merasakan ketakutan anak desa yang pertama kali naik pesawat, kegembiraan mendapat pekerjaan, kebingungan ketika tasnya diperiksa, dan kepanikan ketika kedua tangannya diborgol dengan kencang. Linus juga melihat wajah-wajah yang memberikan tas itu. Wajah bermuka jahat dan culas.

Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan | 15

Tentu bagian dari jaringan narkoba yang hanya memikirkan laba tanpa mau tahu dengan takdir kurir martir seperti Ale.

Linus tidak ingin berjalan sendirian. Dia mencari bala bantuan organisasi yang selama ini vokal menentang isu hukuman mati. Dia memanfaatkan semua jejaring yang dimilikinya. Cara yang dulu terlambat dilakukan untuk membawa takdir lain untuk Hayyan. Pilihannya kini jatuh pada SWARGA, sebuah jaringan advokasi yang berfokus memberikan layanan bantuan hukum bagi para pencari keadilan. Lembaga ini didirikan oleh seorang aktivis yang mati diracun karena terlalu lantang membela kebenaran. Hal itu yang membuat Linus percaya pada SWARGA dan menaruh harapan besar untuk kasus Ale.

Linus mendatangi kantor SWARGA. Kantor yang sederhana berbentuk rumah petak kecil. Beberapa sudut ruangan dipenuhi tumpukan berkas dan poster kampanye. Linus bertemu dengan pengacara publik bernama Rosalina. Seorang perempuan muda yang dengan mata tajam menyambut kehadiran Linus. Laki-laki bermuka tanpa harap, berambut putih dengan tahi lalat di atas mulutnya. Kini bukan muka ketus yang dia kirim, tapi senyum ramah yang tipis.

Perbincangan hari itu cukup panjang. Linus membawa semua bukti dan rekaman percakapannya dengan Ale. Termasuk hal yang teramat penting, penemuan gelembung ingatan yang telah dirancang sedemikian rupa. Awalnya Rosalina sangat skeptis. Cerita tentang gelembung ingatan terdengar seperti omong kosong belaka. Tapi Linus terus menyakinkannya. Linus membawa gelembung ingatan Ale dan menyuruh Rosalina menyentuhnya perlahan, Rosalina membisu dan terpaku selama sepuluh menit. Ketika sadar, air mata mengalir di pipinya.

"Ini ... ini sangat revolusioner!" bisiknya. "Kita harus segera mengajukan Peninjauan Kembali atas kasus adik kita Ale!"

16 | Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan

Waktu berjalan dengan cepat. Jam pasir kembali dibalik oleh Linus dengan sadar. Dia relakan segala waktu untuk fokus pada Ale. Kini rantai ekosistem pendukung untuk kasus berjalan. Koneksi lembaga SWARGA dikeluarkan. Sebagai lembaga yang memang terlahir dalam garis perjuangan, membuat segalanya menjadi cepat. Kini kampanye dan advokasi kasus Ale telah dimulai. Media kanan dan kiri telah memberitakan gelembung kebenaran dan tentu kasus seorang anak di bawah umur yang terancam hukuman mati. SWARGA benar-benar membuat penggalangan dukungan publik, sementara Linus mulai berkeliling memberikan presentasi ilmiah tentang teknologi barunya yang dapat menyentuh lebih dekat keadilan.

Tentu saja, reaksi yang muncul bukan hanya dukungan namun juga hal lain yang tidak dikehendaki. Ancaman mulai berdatangan, melalui dering telepon, email, bahkan surat yang dilemparkan ke pintu rumah Linus. Tapi yang tidak kalah menakutkan adalah tekanan sistematis yang diberikan oleh kampusnya. Berbagai penelitian ditolak, dana penelitian dipotong, dan rektor memintanya "menjaga nama baik kampus."Sesuatu yang membuatnya malah makin percaya jika apa yang telah dia mulai, adalah sebuah langkah kebenaran. Sebuah jalan menuju keadilan bagi siapa pun, bukan hanya Ale, tapi manusia-manusia yang kehilangan harapan akan datangnya keadilan. Linus percaya, badainya kali ini hanya sementara, setelahnya cahaya kebenaran akan lebih benderang. Menyilaukan dan mengkerdilkan para penjahat.

Dengan napas yang berat ia menyusuri lorong-lorong hukum, Linus akhirnya menemukan jawabannya. Rosalina, sejak pertemuan pertama, telah membisikkan sebuah pintu terakhir yang mungkin masih terbuka: Peninjauan Kembali

Sebuah upaya hukum yang tertera dalam kitab undang-undang, Pasal 263 hingga 269, yang menjadi oase terakhir di padang pasir keputusasaan. Sebuah jalan keluar terakhir, hanya bisa ditempuh setelah semua jalan lain tertutup, setelah putusan berkekuatan hukum tetap (inkracht). Jalan itu kini terbentang karena grasi untuk Ale telah ditolak oleh Istana.

Inilah jurus terakhir. Ujung tebing terakhir yang bisa direguk Linus untuk Ale. Kegagalan di sini berarti sebuah titik final: eksekusi mati Ale.

Namun, di tengah gemuruh kekhawatiran, hati Linus berdegup tenang. Keyakinannya tak goyah. Di dalam tasnya, tersimpan sebuah mahakarya yang akan mengubah segalanya yaitu teknologi gelembung ingatan. Sebuah bukti baru yang revolusioner, yang ia yakini akan membuat Majelis Hakim Agung berpikir kembali. Ia membayangkan detik-detik itu, gelembung itu akan

Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan | 17

meletuskan kebenaran, membasuh segala noda kejahatan, dan membebaskan Ale dari jerat maut yang selama ini mengintainya.

..

Sidang Peninjauan Kembali Kasus Ale dimulai. Kasus ini telah mendapatkan atensi nasional. Ruang pengadilan penuh dengan jurnalis dan juga aktivis serta masyarakat sipil yang membela Ale. Namun saat berjalannya sidang Jaksa menentang keras penggunaan gelembung ingatan sebagai alat bukti, mereka dengan lantang menyebutnya tidak ilmiah dan tidak dapat terverifikasi kebenaranya. Tentu, karena penemuan ini baru pertama kali digunakan dalam sebuah persidangan. Keraguan tentu akan muncul ke permukaan.

Tapi hakim ketua, seorang perempuan paruh baya bernama Nirmala, tampak tertarik. Setelah perdebatan panjang dengan segala bentuk argumentasi, dia mengizinkan penemuan Linus "gelembung ingatan" yang berisikan memori ingatan Ale untuk diperlihatkan sebagai alat bukti baru untuk kasus ini.

Linus membawa gelembung itu ke muka Hakim. seluruh ruangan terdiam. Seluruh mata merekam apa yang sedang dibawa Linus. Hakim Nirmala turun dari kursinya, perlahan mendekati gelembung yang ukuranya sebesar bola basket itu. Dengan ragu, dia menyentuhnya.

Selama sepuluh menit, hakim ketua itu terdiam, matanya terpejam, kadang berkedut-kedut. Beberapa saat kemudian dia membuka matanya kembali, kini air mata mengalir deras di pipinya yang mulai berkerut. Hakim Nirmala menyeka air matanya dengan jubah kebesarannya. Perlahan berjalan kembali ke tempat duduknya.

"Saya sudah melihat semuanya,"ucapnya dengan suara bergetar. "Saya telah mengalaminya."

Setelahnya, sidang ditutup dengan tanda Hakim Nirmala mengetuk palu beberapa kali keatas meja. Dan ketika itu pula semua orang tentu bertanya, apa yang sang hakim lihat dan alami? Apa yang nantinya dia akan putuskan untuk kasus ini?

18 | Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan

Dua minggu sejak sidang PK berakhir, minggu yang terasa lebih panjang dari lima tahun yang dihabiskan Ale di sel isolasi. Setiap dering telepon di kantor SWARGA membuat jantung Rosalina berhenti berdetak. Linus tidak bisa berkonsentrasi di laboratoriumnya, matanya terus menerus menatap ponsel yang senyap dan juga gelembung ingatan Hayyan yang ditaruhnya di lemari kaca. Mereka semua terperangkap dalam ruang hampa antara harapan dan keputusasaan, menunggu kata-kata akhir yang akan menentukan nasib seorang anak muda.

Selang beberapa hari kemudian sebuah kabar datang. Pembacaan putusan untuk kasus Ale akan dibacakan di hari Kamis pekan ini. Linus yakin Majelis Hakim Agung di Mahkamah Agung telah bermusyawarah secara tertutup. Mereka telah mempertimbangkan dengan sangat hati-hati bukti baru atau novum yang diajukan Linus dan lembaga SWARGA.

Dalam ruang sidang yang kini bertambah sesak. Linus duduk dengan mencoba tenang ditemani para pengacara SWARGA. Ale duduk di bangku lainya dengan muka yang tidak kalah menegangkan. Rasanya penuh harap cemas, beberapa hari lalu saat dijenguk, dirinya telah membayangkan banyak hal. Rasa sakit ditembak dan kematian menjadi topik berulang yang dibahas di depan Linus. Mentalnya tentu tidak beraturan, Linus sangat paham kondisinya. Namun, hari ini adalah hari jawaban tersebut.

Hakim memasuki ruangan. Semua peserta sidang berdiri. Mata seluruhnya tentu tak jauh dan berfokus pada Hakim Nirmala. Selang beberapa saat putusan dibacakan, dan sampailah pada satu putusan ...

“ ... berdasarkan bukti baru dan pertimbangan kemanusiaan, vonis Alet dibatalkan. Dia dinyatakan tidak bersalah dan akan dibebaskan," ucap Hakim Nirmala dengan lantang dalam ruang sidang.

Suara gemuruh memenuhi ruang sidang, bukan lagi sebagai sorak-sorai, melainkan sebagai gelombang kelegaan yang pecah. Linus memeluk Ale dalam dekapan yang begitu kencang. Tubuhnya bergetar hebat, menahan ribuan gemuruh tangis yang tertahan selama ini. Mereka bagai

Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan | 19

seorang ayah yang akhirnya menyambut anaknya pulang setelah pengembaraan yang teramat panjang. Tak ada satu katapun yang mampu terucap, hanya air mata yang berbicara dalam bahasa yang paling purba. Andai tangis itu bersuara, pastilah derunya mengalahkan amuk hujan badai, gemanya memenuhi setiap sudut ruang pengadilan yang saat itu penuh rapal doa-doa harapan.

Namun, keajaiban sesungguhnya justru terjadi kemudian, di dalam kesunyian laboratorium Linus. Gelembung ingatan Ale yang selama ini menyimpan segala ketakutan dan kesedihan telah pecah berantakan. Yang tersisa hanyalah genangan cairan bening, seperti gelembung embun pagi yang telah menyelesaikan tugasnya. Dan yang lebih mengguncang ialah gelembung milik Hayyan, sahabat kecil Linus yang kebenarannya tertunda hingga ajalnya, juga telah luruh. Pecah tanpa sentuhan, seolah-olah keadilan yang didapatkan Ale telah sampai juga pada Hayyan, membawa serta pesan bahwa kebenaran yang satu akhirnya mampu membebaskan yang lain, meski telah tertutup oleh waktu dan maut.

.…

Namun kemenangan atas kasus Ale tentu akan berdampak sesuatu.

Kemenangan bagi kasus Ale adalah sebuah kekalahan telak yang memalukan bagi kartel itu. Dan Linus sangat tahu perihal tersebut. Sebagai arsitek di balik rangkaian penemuan gelembung ingatan yang mengoyak rantai operasi mereka, dia tentu paham dia adalah target berikutnya dalam daftar buruan. Kewaspadaan kini ditingkatkan, beberapa langkah sudah dihitung matang, namun musuh mungkin bergerak dalam bayang. Seolah sebuah entitas tak kasatmata yang bernapas dalam gelap dan diam kini sedang memantaunya.

Dua minggu setelah pembebasan Ale, Linus menghilang.

Lenyap seperti embun yang menguap diterpa matahari pagi. Beberapa saksi melihat Linus meninggalkan laboratorium saat larut malam, tubuhnya lesu oleh lelah yang menumpuk bertahun.

Tidak ada jejak perkelahian, tidak ada jeritan yang terdengar, hanya rekaman CCTV buram yang

menangkap sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor melintas pelan, seperti predator yang sedang memantau mangsa dalam gelap yang sunyi. Keesokan harinya, ponselnya mati untuk

20 | Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan

selamanya, rumahnya sepi dalam keadaan terkunci rapat, dan kehidupanya berhenti pada sebuah titik yang tak terdefinisikan siapapun.

Pencarian digelar. Ale dan SWARGA melakukan rangkaian kampanye dan pencarian dengan segala jejaring yang mereka miliki. Tidak ada jejak. Tidak ada satu pun laporan permintaan tebusan, tidak ada tuntutan, tidak ada negosiasi. Hanya keheningan kosong yang menyiksa, menusuk-nusuk relung hati Ale dan mereka yang bertanya kemana Linus menghilang. Polisi berusaha, tetapi tanpa bukti yang kuat, saksi mata, kasusnya perlahan-lahan mengendap dalam laci penuh debu. penghilangan paksa oleh pihak yang tidak dikenal begitu bunyi laporan resmi kepolisian. Sebuah frasa hambar, amis, dan birokratis untuk seorang pahlawan yang baru saja memberikan harapan akan keadilan.

Satu bulan berlalu.

Harapan yang awalnya membara perlahan-lahan redup, menjadikannya abu kegetiran. Dunia yang sempat gempar oleh pembebasan Ale, mulai melupakan Linus. Namanya tersapu berbagai berita tak kalah heboh. Perselingkuhan, skandal korupsi, demonstrasi, dan rangkaian isu politik lainnya, menjadikan dia hanya sekedar catatan kaki dalam sebuah bab kelam yang perlahan dilupakan.

Sampai pada Kamis sore.

Di dalam laboratorium Linus yang sunyi dan mulai berdebu, sebuah monitor tiba-tiba menyala dengan sendirinya. Sebuah sirine menyala. Sebuah gelembung ingatan muncul dalam layar, berpendar-pendar dengan cahaya biru keputihan yang lemah dan meredup. Ini adalah protokol terakhir yang diam-diam dipasang Linus. Gelembung ingatannya akan terkirim otomatis jika sensor detak jantung di pergelangan tak lagi mengirim sinyal hidup selama beberapa jam.

Sirine itu menjadi gaduh. Beberapa orang menuju laboratorium. Ale yang setelah bebas menjadi pekerja di kampus pun ikut berlari. Dia menatap monitor, napasnya tersangkut di kerongkongan, jantungnya berdebar kencang lalu seolah tercekat dalam ruang hampa. Tak ada keraguan lagi tentang arti ini semua. Linus kini sudah tiada dan entah di mana. Kini tubuhnya bergetar, tapi kesedihan harus ditunda. Ada yang lebih penting dari duka yang teramat pelik ini.

Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan | 21

Sebelum Ale bisa menarik napas panjangnya, gelembung itu pecah. Sebuah cahaya menyala menerangi ruangan. Sebuah sinyal darurat baru saja memancar deras, menerobos masuk dalam setiap jaringan, meretas setiap layar yang terhubung dengan internet. Televisi, ponsel, billboard raksasa di tengah kota, sejenak gelap, lalu menampilkan gelembung yang berkilau sendu.

Lalu dunia pun berhenti,

Setiap orang yang menatap layar pada saat itu terseret masuk dalam pusaran ingatan Linus. Mereka menjelma Linus, Mereka merasakan sesaknya dada ketika jarum suntik menancap di lehernya, kegelapan pekat dalam bagasi mobil, dinginnya lantai beton di gudang tua tempat ia ditahan. Mereka mendengar bisik-bisik para penculiknya, menyebut nama, jabatan, dan transaksi gelap. Mereka melihat wajah-wajah yang selama ini bersembunyi di balik gemerlap kekuasaan.

Tapi yang lebih dalam dari itu, mereka tidak hanya merasakan ketakutan Linus. Mereka juga merasakan pikirannya, keyakinannya, dan pesan terakhirnya yang paling mendalam yang sampaikan Linus.

"Mereka bukan hanya membunubku," suara Linus, atau lebih tepatnya pikirannya, bergema dalam kesadaran kolektif itu. "Mereka adalah sistem yang sama yang membunuh Hayyan. Sistem yang sama yang hampir membunuh Ale."

Pikiran itu mengalir deras, jelas, dan penuh keyakinan. "Hukuman mati bukanlah keadilan. Ia adalah kegagalan tertinggi dari sebuah sistem bukum. Sebuah pengakuan babwa kita menyerah pada kompleksitas kebenaran. Kasus Ale membuktikan betapa rapubnya kepastian bukum kita. Berapa banyak lagi Hayyan-Hayyan lain yang telah dieksekusi atas nama keadilan yang sebegitu cacat? Kejahatan sejati bukanlah pada individu yang terjepit, tetapi pada sistem yang membiarkan rantai narkoba tumbuh subur, dilindungi oleh mereka yang berseragam dan berkuasa. Hukuman mati tidak memutus rantai ini. Ia hanya memutus nyawa orang-orang yang seringkali hanya menjadi pion serta martir dalam permainan besar yang tidak mereka pahami. Ia mengambil hak hidup, hak untuk diperbaiki, hak untuk menebus kesalaban, hak yang tidak boleh diambil oleh siapapun, babkan oleh negara!."

Pesan itu bukan lagi sekadar kata-kata. Ia adalah sebuah keyakinan yang hidup, sebuah kebenaran yang dirasakan langsung oleh jutaan orang. Mereka merasakan kepedihan Linus bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk setiap nyawa yang telah diambil secara tidak adil oleh sistem yang seharusnya melindungi.

Tujuh menit yang mengubah segalanya. Seluruh negeri terguncang. Bukan hanya oleh kebencian pada kartel, tetapi oleh sebuah pencerahan

22 | Tujuh Menit Sabda Udara dan Gelembung-gelembung Ingatan

yang menyakitkan tentang betapa cacatnya sistem hukum mereka. Mereka menyadari bahwa kemenangan Ale hanyalah sebuah pengecualian kecil dalam lautan ketidakadilan.

Linus mungkin telah pergi, jasadnya mungkin tak pernah ditemukan. Namun, warisannya

hidup. Bukan hanya sebagai sebuah gelembung ingatan, tetapi sebagai sebuah pertanyaan yang

menggugat nurani. Beranikah kita mengakui bahwa kita telah membunuh orang-orang yang tidak bersalah? Dan akankah kita terus membiarkan mesin pembunuhan bernama hukuman mati ini terus berjalan, mengorbankan lebih banyak nyawa di altar ketidakadilan?

Kebenaran telah disampaikan. Bukan melalui pidato atau manifesto, tetapi melalui gelembung ingatan seorang Linus. Sekarang, saatnya bagi yang hidup untuk memutuskan, akan terus diam, atau bangkit memperjuangkan keadilan yang sesungguhnya?

Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang

Kematian. Keoombrang dan

Kémbang Wijaya Kusuma

24 | Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma

Kematian, Kecombrang, dan

Kembang Wijaya Kusuma

Oleh Titah AW

Sejak koran-koran menampilkan wajah ibunya sebagai terpidana mati atas kasus pembunuhan berencana, kupikir Puspa sudah menjadi agak sinting.

Aku dan Puspa sudah menjadi teman sebangku sejak tiga tahun lalu, ketika kami diterima di SMP 5 Jatiarum. Rumah kami berdekatan, hanya berjarak empat rumah. Rumah Puspa yang halamannya luas dan banyak bunga, sementara rumahku ada pohon mangga dan rambutan. Namun semasa SD kami tidak terlalu akrab karena beda kelas. Baru ketika SMP, kami menjadi teman dekat karena ternyata ditempatkan di kelas yang sama dan kami sering berangkat sekolah bersama. Nyaris setiap pagi, aku berangkat naik sepeda, berhenti di depan rumahnya, membunyikan bel di stang untuk memanggilnya, lalu kami bersepeda bersisian sampai ke sekolah sambil mengobrolkan apapun. Lagu yang baru kami sukai, ramalan zodiak minggu ini, menu kantin yang belum kami cicipi, atau yang paling sering, cerita penampakan hantu yang bikin kami parno saat belajar biologi.

Di sekolah, kami nyaris melakukan apapun bersama. Meski begitu, dalam urusan tertentu nasib kami jauh berbeda. Sejak masuk SMP, Puspa sudah jadi target lirikan para siswa laki-laki di sekolah. Rambut Puspa hitam lurus dan kulitnya putih mulus. Untuk ukuran anak SMP pun, tubuhnya telah berlekuk-lekuk bak perempuan dewasa. Banyak yang bilang, dan Puspa tidak menyangkal, kalau ia mewarisi genetik kecantikan ibunya, Kusuma. Budhe Kus, aku biasa memanggilnya, memang masih kelihatan awet muda padahal usianya sudah kepala lima. Hampir selalu ada yang naksir atau bahkan mengajak Puspa pacaran, tapi Puspa selalu menolak. Ia bilang, dilarang oleh ibu, karena ia harus terus rankíng satu. Bagi Puspa, ibunya adalah pegangan satu-satunya dalam hidup.

"Lagian Ris, kalau mereka tahu aku suka makan melati, pasti cowok-cowok itu pada ilfeel," kelakarnya suatu kali.

Selain cantik, Puspa memang cukup nyentrik. Ia punya ketertarikan khusus terhadap hal-hal klenik. Kalau aku hanya di taraf suka dengar cerita hantu, Puspa sering bilang ia ingin melihat

Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma | 25

hantu-hantu itu sendiri. Suatu kali, ia pernah minta diantar mandi ke telaga Sendang Sena di kampung sebelah. Katanya ia bermimpi, ada yang mendatanginya dan bilang kalau mandi di sana tengah malam saat Jumat Kliwon akan terbuka mata batinnya. Tentu aku menolak.

"Jangan salah Ris, aku memang sering dapat petunjuk lewat mimpi, orang-orang jaman dulu juga gitu kok! Valid tahu," ujarnya membela diri.

"Emang agak gila kamu Pus, untung otakmu juga encer di pelajaran."

Puspa memang harus mempertahankan prestasinya karena ia bergantung pada beasiswa di sekolah. Ayah kandungnya yang bekerja sebagai kuli, meninggal karena kecelakaan di tempat kerjanya lima tahun lalu. Sejak itu, ibunya bekerja serabutan untuk menyambung hidup. Dan kita semua tahu, dunia kerap menampilkan wajahnya yang kejam pada seorang janda. Maka begitulah, di tahun-tahun menjelang lulus SD, Puspa musti mengejar nilai sambil menahan malu lantaran mendengar banyak gosip miring soal pekerjaan ibunya. Padaku Puspa bercerita kalau ibunya bekerja sebagai tukang rias pengantin, tapi emak di rumah bilang, ibu Puspa sebenarnya kerja sebagai perempuan yang menemani om-om karaoke.

"Alah, si Kus itu kan sebenarnya kerja jadi perempuan panggilan," ujar Emak suatu kali. Sampai sekarang aku belum tahu apa maksudnya.

Nasib Puspa berubah dua tahun lalu, saat ibunya tiba-tiba dinikahi oleh Gus Herkules. Berita ini sempat bikin geger warga kampung. Bagaimana tidak, Gus Herkules sedang terkenal karena ia pendakwah ulung. Pengajian akbarnya di mana-mana selalu penuh sesak. Warga membanggakannya sebagai contoh anak kampung Jatiarum yang sukses. Nama aslinya Heru Kalesi. Ia lahir dari keluarga miskin, dijauhi karena suka mabuk dan jotos-jotosan, sempat berkarier jadi preman dan tukang pukul, lalu menghilang sebelum muncul kembali dengan tampilan islami sebagai Gus Herkules. Buatku, kisah hidupnya seperti cerita sinetron di televisi.

Ibu-ibu, termasuk emakku, mengelu-elukannya karena ia masih muda, gagah, dan soleh. Calon mantu idaman, eh atau calon suami baru, debat mereka sambil cekikikan. Sementara bapak-bapak mengagumi wibawanya di panggung, juga dakwahnya yang sering disisipi guyonan dewasa yang membuat mereka lupa pada omelan istri di rumah. Bagi warga, tato naga di lengan kanan Gus

26 | Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma

Herkules, yang kerap nampak saat ia sedang memimpin sholawat, adalah pengingat soal kisah pertaubatan akbar, bukti nyata bahwa Allah menerima siapapun hambanya yang mau kembali ke jalan yang benar. Ketika kabar pernikahannya dengan Kusuma beredar, Gus Herkules sekali lagi dielu-elukan karena dianggap menyelamatkan seorang janda dari kubangan hidup melarat dan pekerjaan yang penuh zina. Setelahnya hidup Puspa sempat membaik, rumahnya direnovasi, seragamnya baru, dan ia punya uang jajan. Sayangnya, situasi itu tak berlangsung lama.

Nasib Puspa kembali berubah setahun lalu, saat ibunya ditangkap polisi, setelah Gus Herkules ditemukan tak bernyawa di musala yang baru dibangun di depan rumah Puspa. Awalnya aku mengira Budhe Kus akan dihukum berapa tahun saja, tapi ternyata koran-koran mengabarkan kalau Budhe Kus dikenai hukuman mati. Sejak itulah, kurasa Puspa semakin sinting.

"Pus, Pus, Pus," aku memanggil Puspa seperti tengah memanggil kucing, "Sampai kapan kamu puasa gitu?"

Mata Puspa yang sedari tadi memandangi udara, pelan-pelan menoleh padaku. Ia tak mengatakan apa-apa, hanya pundaknya ia angkat sekejap. Kami masih berangkat bersama, tapi ia kini jauh lebih pendiam, ia juga semakin jarang keluar kelas meski jam istirahat.

"Emang kamu nggak kangen jajan cilok? Enak lho, saosnya Mang Ipul sekarang pakai cacahan kacang tanah, lihat deh," aku menyodorkan plastik cilok ke depan wajahnya.

"Atau kamu pingin makan apa Pus? Bakso Mbak Ida yuk? Aku yang bayar deh," tawarku, masih berusaha menghiburnya.

Sudah beberapa minggu ini aku tak pernah lihat Puspa makan atau sekedar ngemil di sekolah, padahal ini bukan Bulan Ramadhan atau Senin-Kamis. Ia pernah bilang kalau sedang puasa mutih. Setahuku, orang yang puasa mutih tak boleh makan apapun kecuali nasi, umbi-umbian, dan air putih, tanpa bumbu, tanpa lauk, dan hanya sehari sekali. Setahuku juga, puasa ini dilakukan sebagai laku tirakat untuk mewujudkan keinginan tertentu.

Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma | 27

"Pus, kamu pucat banget lho! Tuh bibirmu sampai putih gitu, makin mirip hantu ih,"

kelakarku lagi, masih berusaha.

"Enggak usah Ris makasih," ucapnya lirih.

“Sampai kapan sih puasa mutih gitu? Tujuh hari? 40 hari? 100 hari?"

"Sampai aku dapat petunjuk tentang ilmu menghidupkan orang mati, Ris," jawabnya yakin.

*水车

Mayat Gus Herkules ditemukan terbaring di tumpukan karpet musala, di belakang mimbar imam. Saat itu siang bolong. Pak Darsim, orang yang pertama kali menemukan mayat itu, masuk musala hendak mengumandangkan azan zuhur. Sebongkah pilar cahaya matahari yang jatuh tepat di atas mayatnya, membuat Gus Herkules tampak seperti sedang tidur tenang. Orang-orang yang sekilas melihat pasti membayangkan adegan ini sebagai kematian yang ilahiah dari seorang preman yang telah bertaubat. Pilar cahaya itu, pasti malaikat Izrail membawa serta 72 bidadari saat menjemput Gus Herkules dari dunia yang fana ini.

Warga baru menyadari ada yang aneh saat hendak memandikan jenazah Gus Herkules. Pak Mukadi, rohis masjid yang sukarela membantu memandikan jenazah nyaris pingsan saat membuka sarung yang dikenakan Gus Herkules. Di sana, di antara pangkal paha mayat laki-laki itu, Pak Mukadi hanya melihat sepasang testis menggantung lunglai. Warga di lokasi dijalari kengerian yang tak pernah dibayangkan sekalipun dalam benak mereka. Sesuatu, yang menjadi pusat semesta para jantan di dunia, telah hilang dari tempatnya.

Potongan penis Gus Herkules ditemukan dua hari kemudian, tergeletak di dasar kolam lele tetangga Puspa. Tersebab air kolam lele yang keruh berlumpur, pihak forensik kepolisian sampai harus menguras habis kolam itu. Budhe Yah, pemilik kolam sempat protes sebab lele-lelenya belum siap dipanen. Pergantian air yang mendadak akan menimbulkan stress dan mengganggu pertumbuhan lele-lele itu. Benar saja, ketika proses pengurasan dilakukan, kolam lele Budhe Yah berubah jadi seperti tontonan. Warga ramai berkerumun, dan di antaranya, segerombol anak-anak

28 | Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma

datang dengan karung di pundak mereka, meraup lele sepuasnya di tengah keramaian, lalu melenggang kangkung tanpa beban. Budhe Yah tak bisa melakukan apa-apa, sebab temuan sepotong penis di dasar kolam lebih mengisap perhatian daripada sekarung lelenya yang hilang.

Budhe Kus, ibu Puspa, ditangkap esok paginya. Dengan barang bukti sebotol racun potas dan pisau daging. Saat tangannya diborgol untuk dibawa ke kantor polisi, tak ada perlawanan atau sangkalan. Ia mengakui telah menaruh racun di kopi pagi yang selalu diminum Gus Herlukes setelah salat Dhuha di musala, menunggunya meregang nyawa, lalu memutilasi, menata mayat korban sedemikian rupa, lalu membuang penis korban. Tak ada raut penyesalan atau kepanikan di wajah Budhe Kus saat ditangkap. Entah kemarahan macam apa yang merasuki Budhe Kus sampai bisa melakukan hal sekeji itu. Sebelum dibawa ke kantor polisi, Budhe Kus hanya minta waktu sejenak untuk memeluk Puspa.

Setelahnya, ada hari-hari di mana teman-teman laki-laki kami di sekolah menjambaki rambut atau mendorong-dorong Puspa kapanpun mereka bisa. Puspa tak melawan, ia hanya memakai topi atau mengikat rambutnya sebagai usaha melindungi diri. Dari salah satu teman aku dengar, mereka melakukan itu untuk meluapkan rasa marah sekaligus ngeri mendengar kabar angin bahwa saat ditemukan, penis Gus Herkules tak hanya telah dipotong dari tubuhnya, tapi juga telah dikuliti dan diiris-iris bagian ujungnya.

"Edan ya, kata ibuku yang nonton, itu bagian ujungnya dicacah-cacah, mekrok kayak bunga kecombrang," ujar Dani suatu kali saat kami berpapasan di kantin.

"Harus dibikin kapok anak itu, biar nggak berani motong penis juga kayak ibunya, hiiiiy!," tambah Lukman, ketua kelas kami yang memang emosian.

Kasus ibu Puspa kemudian viral di media sosial dengan tajuk “Kasus Penis Kecombrang". Aku curi-curi menontonnya di telepon genggam milik Emak di rumah. Potongan video penangkapan, atau foto-foto penemuan jenazah beredar luas melintasi aplikasi. Bahkan beberapanya tak repot-repot menyensor wajah Budhe Kus. Di beberapa video yang kemudian ramai dibicarakan di sekolah, ada foto-foto wajah Puspa di sana.

Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma | 29

Selama dua bulan setelahnya, Kasus Penis Kecombrang membawa nama kabupatenku yang jarang disebut ke kancah nasional. Pembelaan Budhe Kus soal motif dan rentetan peristiwa yang melatari pembunuhan itu seperti menguap begitu saja, kalah dengan gelombang kemarahan yang merasuki warga Indonesia. Siapa yang berani membunuh mantan preman taubat yang sekarang jadi pendakwah hebat, tuntunan umat muslim, penunjuk jalan pulang ke akhirat. Seperti siraman bensin, fakta bahwa penis korban dimutilasi, dan pembunuhan itu dilakukan di musala, membuat kobaran api amarah itu makin menggila. Perempuan jalang pembunuh itu, yang telah diselamatkan Gus Herkules dari tempat zina, harus dihukum seberat-beratnya.

Maka begitulah, entah bagaimana aku juga tidak mengerti proses hukum, tapi nampaknya kemarahan warga membuat hakim terbawa emosi lalu menjatuhi Budhe Kus hukuman mati. Dari koran-koran itu juga aku pernah baca, pengacara Budhe Kus, yang juga seorang laki-laki -karena sepertinya di negara ini pengacara perempuan jumlahnya sedikit- malah justru memberatkan kliennya. Pembunuhan berencana. Mutilasi. Musala. Menginjak-injak harkat umat muslim. Menodai agama Islam. Tak ada rasa menyesal. Hukuman mati. Sesegera mungkin. Hakim telah memutuskan. Tok! Tok! Tok!


"Riris, Riris," aku mendengar suara Puspa dan ketukan di kaca jendela kamarku. Kalau tidak salah ini hari Minggu, aku yang masih tidur langsung terbangun dan buru-buru membuka jendela. Puspa berdiri di sana, dengan rambut masih berantakan dan piyama pink lusuh. Di belakang kepalanya, aku bisa melihat kabut masih mengapung di tegalan seberang rumah. Aih, benar masih pagi. Nampaknya ia juga benar-benar baru bangun dan entah untuk urusan apa, segera berlari menuju rumahku. Sejak ayah tirinya meninggal dan ibunya dipenjara, Puspa tinggal sendiri. Hanya paman dan tetangganya yang secara bergiliran mengiriminya makanan dan memastikan kondisinya baik-baik saja.

“Apa sih Puuuuus?," ucapku dengan nada menyeret-nyeret malas. Aku masih ingin menguap.

"Aku barusan mimpi Ris! Akhirnya puasa mutih-nya ada hasilnya, bunga wijaya kusuma, jawabannya bunga wijaya kusuma!"

30 | Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma

"Hah?," separuh nyawaku masih di awang-awang, aku tak mengerti apa maksudnya. Namun, demi melihat Puspa yang tiba-tiba bersemangat lagi, aku rela membuang rasa kantuk ini.

Puspa lalu berlari memutar, masuk lewat pintu depan yang sudah dibuka ibuku sejak subuh,

lalu menyeruak ke kamarku. Dengan agak serampangan dan bercampur-campur, Puspa

menceritakan padaku bahwa selama ini ia puasa mutih karena secara serius ingin belajar ilmu menghidupkan orang mati. Sebagai penggemar cerita hantu dan klenik, ia banyak mendengar kalau orang-orang jaman dulu ada yang punya ilmu semacam itu. Meski begitu, ia tak kenal satu pun dukun atau orang pintar yang bisa mengajarinya. Laku puasa mutih ia tiru dari neneknya yang rutin melakukan itu setiap bulan untuk memperingati weton atau hari lahirnya. Katanya, puasa mutih manjur untuk mengabulkan niat. Maka dengan kesungguhan hati, ia berniat puasa mutih untuk mendapat petunjuk bagaimana mendapatkan ilmu sakti tersebut.

"Kamu itu pingin menghidupkan Gus Herkules, Pus?"

"Enggak ya! Orang itu biar mati aja!," Puspa nampak bersungguh-sungguh, "Ilmu ini nanti kupakai buat menghidupkan ibuku setelah ia ditembak di penjara. Kan kalau dihukum mati, tapi setelah itu bisa hidup lagi, hitungannya dia sudah menjalani hukumannya kan? Jadi setelah itu ibu bisa hidup sama aku lagi,” ujarnya puas, seperti baru saja mempresentasikan sebuah ide cemerlang.

Aku kasihan padanya. Pasti Puspa sebenarnya sangat putus asa, sampai terpikir ide gila seperti itu.

"Nah, sekarang aku cari bunga wijaya kusuma yang mekar, Ris. Aku belum tahu bagaimana detailnya, tapi pokoknya hari ini kau temani aku cari bunga itu ya?" pinta Puspa dengan muka memelas. Tentu aku tak kuasa. Walau tidak masuk akal, kali ini aku ingin menuruti keinginannya. Paling tidak supaya hatinya lebih ringan.

"Memangnya belum ada bunga wijaya kusuma di rumahmu? Kan halamanmu banyak bunga?," tanyaku.

"Belum, ada sih yang daunnya mirip, tapi ternyata itu daun buah naga, berbeda. Ini harus wijaya kusuma putih yang besar, aku nggak tahu nama pastinya tapi aku lihat di mimpiku. Kalau mekar, harus besarnya segini," Puspa menelungkupkan dua tangannya membentuk mangkok.

Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma | 31

Dengan berbohong soal tugas sekolah yang harus dibawa esok hari, aku menanyakan pada Emak di mana bisa dapat bunga wijaya kusuma. Emak bilang, bunga wijaya kusuma mudah distek, minta saja setangkai daunnya ke orang yang punya. "Kayaknya rumah dalang dekat sungai itu punya, coba minta saja," saran Emak.

Siangnya kami janjian naik sepeda ke sana. Rumah yang dimaksud Emak adalah rumah milik dalang wayang, Ki Jayeng Kawi. Dulu saat aku kecil, Bapak dan Emak pernah sekali membawaku nonton pertunjukan semalam suntuknya. Tentu aku ketiduran dininabobok lantunan gamelan. Tapi sepertinya kini Ki Jayeng Kawi makin jarang ditanggap, orang-orang lebih suka datang dan menyanyi-nyanyi di pengajian daripada menonton lakon wayang.

Meski sedikit bingung, Ki Jayeng Kawi mempersilahkan kami masuk ke ruang tamunya yang berupa pendopo kayu. Silir sekali duduk di sini, mungkin karena pendopo tak punya dinding dan kami dikepung aneka tumbuhan yang tumbuh di sana-sini.

"Oalah kalau buat tugas sekolah, tak bawakan satu pot saja, saya punya banyak. Sumangga itu dipilih," ujar Ki Jayeng sambil menunjuk ke gerumbul daun tebal memanjang, mirip daun kaktus tapi bergerigi tepinya dan tanpa duri. Beruntung sekali kami hari ini.

Ia bangkit berjalan ke arah sana sambil mendongengi kami, "Kalau di pewayangan, kembang wijaya kusuma itu salah satu pusakanya Prabu Kresna yang merupakan titisan Dewa Wisnu, fungsinya buat menghidupkan orang mati,"

Mendengar itu, Puspa sontak menoleh dan mencubit lenganku. Ia tak bicara apapun, tapi sorot matanya yang berapi-api seperti bilang, kan! Petunjuk di mimpiku bukan omong kosong! Ini pasti wabyu karena aku sudah menjalankan laku puasa mutih!

"Misalnya dipakai saat menghidupkan Arjuna, Werkudara, Setyaki, dan Arimbi yang gugur saat kerusuhan di negara Pringgandani. Syaratnya, kematiannya di luar takdir dan bukan karena usia tua. Kalau di wayang, tinggal ditaruh saja bunganya di atas dada," lanjut Ki Jayeng. Ia menoleh, memastikan kami mendengar dongengnya, "Siapa tahu jadi tambahan info buat tugas sekolah," ia

32 | Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma

nyengir, lalu terbatuk-batuk. Di tangannya, selinting tembakau terbakar separuh. Aku baru sadar, ternyata dari rokok itu asal bau kemenyan yang dari tadi menguar menusuk hidungku.

Setelah memilih satu pot yang tidak begitu besar, mengucapkan terima kasih, dan pamit, kami bergegas ke rumah Puspa. Di samping rumah, Puspa memindahkan daun-daun wijaya kusuma itu ke tanah. Kata Ki Jayeng Kawi, tiga sampai empat bulan lagi daun ini akan berbunga. Sementara aku mengaso, Puspa mondar mandir mengambil air dan menyiramnya. Ia nampak senyum-senyum. Setelah berbulan-bulan mendung, baru siang ini aku melihat Puspa seperti bunga yang mekar kembali.

"Tapi Pus, emang nggak bisa diusahakan dengan cara lain?"

"Hmm...," tangannya terus merapikan tanah, "Cuma ini kayaknya Ris. Kata pamanku yang mengurusi kasus ini, kasasi ibuku ditolak. Bahkan ibuku sudah minta ampun langsung ke presiden, entah bagaimana akhirnya. Padahal kemarin aku sudah dapat kabar kalau ibuku akan dieksekusi empat bulan lagi,"

Meski gerakan tangannya masih semangat, aku melihat mata Puspa berkaca-kaca.

"Ibuku memang membunuh Gus Herkules, Ris. Tapi ibuku nggak salah, ibu cuma mau melindungi aku," ujarnya. Belum sempat air di ember ia tuang, air mata Puspa yang menetes malah menjadi siraman pertama untuk bunga wijaya kusuma barunya.


Aku jadi ingat hari yang spesifik itu, kalau tidak salah seminggu sebelum Budhe Kus ditangkap polisi. Pagi itu aku sudah sampai depan rumah Puspa, membunyikan bel sepeda, tapi tak ada jawaban. Pintu rumahnya masih tertutup rapat. Sejak dua hari lalu, Puspa tidak masuk sekolah. Ibu guru bilang, Gus Herkules menelpon ke sekolah mengabarkan Puspa demam. Kasihan sekali pikirku, apa rasanya sakit ketika ibunya pergi. Karena aku juga ingat kalau sudah seminggu ini, Budhe Kus pergi ke ibukota untuk kursus rias pengantin pada make up artist yang lebih profesional.

Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma | 33

Besoknya ternyata Puspa masuk, ia datang terlambat dan diam sepanjang pelajaran. Kupikir ia masih sakit. Di jam istirahat, dia mengajakku masuk ke salah satu bilik di toilet perempuan. Seperti sudah menahan berjam-jam, begitu pintu terkunci, Puspa menangis tersedu-sedu. Ia meremas-remas perutnya dengan tangan kanan, sementara tangan satunya mencengkeram erat lenganku.

"Kamu kenapa Pus?," melihat itu, aku panik tak karuan.

Sekitar 15 menit kami di dalam bilik toilet itu. Puspa tetap tidak mau bicara, dan aku hanya memeluk dan sesekali mengusap-usap pipinya hingga tangisnya sedikit demi sedikit mereda.

“Ris, perempuan kalau sudah menstruasi, bisa hamil ya?," ia tiba-tiba bertanya terbata-bata. Saat itu, kami baru sama-sama menstruasi. Mungkin karena terlalu sering bersama, siklus menstruasi kami pun berbarengan. Aku kaget kenapa dia bertanya begitu. Yang aku tahu sih, anak SMP yang sudah menstruasi sudah harus menanggung dosa sendiri, tidak boleh salat dan mengaji selama mens, serta memang bisa hamil sih, tapi bukannya itu kalau sudah orang sudah menikah ya?

"Hmm. kayaknya bisa sih," jawabku ragu, sungguh di titik itu aku menyesal tidak

mendengarkan pelajaran biologi dengan sungguh-sungguh.

"Tapi, memangnya kena..." —- TENG! TENG! TENG!, belum sempat aku balik bertanya, bel tanda istirahat usai telah berbunyi. Aku segera mengajak Puspa kembali ke kelas. Hari itu ulangan matematika, dan aku sedikit gugup karena aku lupa terus mana rumus volume tabung, mana yang volume bola.

Tak berapa lama setelah pelajaran matematika mulai, saat kami mulai mengerjakan soal-soal ulangan, pintu kelas kami diketok. Di sana berdiri Budhe Kus dan satpam sekolah. Tanpa menunggu aba-aba, Budhe Kus berlari menghambur ke arah Puspa, membuat kami sekelas kaget.

Siang itu kami sekelas menyaksikan Budhe Kus menangis tersedu-sedu sambil memeluk Puspa yang menangis lagi. Sambil menangis dan membelai-belai kepala anak gadis satu-satunya itu, Budhe

34 | Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma

Kus mengulang-ulang kalimat, "Maaf ya ndbuk, maafin Ibu! Nggak seharusnya kamu tak tinggal, nggak seharusnya ini terulang lagi, maaf ya ndhuk!"

Aku yang menyaksikannya dari kursi sebelah cuma bisa bertanya-tanya. Apa yang perlu

dimaafkan, apakah Budhe Kus lupa membawa oleh-oleh? Apa yang terulang lagi? Kenapa Budhe Kus menangis sebegitunya? Kenapa Puspa tidak masuk sekolah kemarin-kemarin? Kenapa Puspa bertanya soal hamil dan menstruasi?

Ibu guru kemudian menuntun Puspa dan Budhe Kus untuk keluar kelas. Mata kami masih terus mengikuti hingga punggung mereka bertiga menghilang di ujung lorong yang berbelok ke arah ruang kepala sekolah. Lalu kami lanjut mengerjakan soal ulangan.

Kini, setelah mengingat lagi semua ini, aku merasakan ada yang ganjil—

Selama ini, kabar yang santer terdengar, Budhe Kus diduga membunuh Gus Herkules karena cemburu sebab Gus Herkules banyak didekati santri-santri perempuan yang lebih muda saat ia memimpin pengajian di mana-mana. Rumornya, Budhe Kus yang seorang janda marah karena takut hartanya terbawa pergi kalau Gus Herkules menyeleweng.

Tapi tunggu, bukankah selama ini Budhe Kus selalu baik padaku dan semua orang? Dan selama ini pun, Budhe Kus sepertinya bukan tipe perempuan yang gila harta seperti itu?

Saat itu aku sempat mengira Budhe Kus menangis dan meminta maaf karena pergi terlalu lama, tapi kini aku punya dugaan lain terkait alasan Budhe Kus sampai tega melakukan pembunuhan itu.


Sejak mendapatkan bunga pusaka itu, Puspa hidup dengan sedikit harapan. Sekarang kupikir, terlihat agak sinting jauh lebih baik daripada tidak punya semangat hidup. Tiga bulan terakhir ini ia masih sering puasa mutih, tapi air mukanya sudah lebih bersemangat. Hampir saban hari aku melihatnya menyiram bunga wijaya kusumanya itu, lalu duduk berlama-lama di sana, komat-kamit seperti tengah mengobrol bersama ibunya.

Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma | 35

Usahanya tak sia-sia, satu kuncup bunga wijaya kusuma tumbuh menggembung di ujung salah satu daun. Mahkotanya yang tertutup tegak menjulang, dipeluk erat kelopak-kelopaknya yang hijau menjulur. Untuk ukuran sekecil itu, kuncup wijaya kusuma Puspa terlihat gigih melawan gravitasi. Ki Jayeng bilang, bunga wijaya kusuma hanya mekar tepat tengah malam, sekejap saja selama setahun sekali.

Jumat kemarin, Puspa mengunjungi ibunya di penjara. Ia bilang padaku, grasi atau surat permohonan ampun dari presiden untuk ibunya ditolak. Entah apa pertimbangannya. Jadi hari-hari ini, Puspa memfokuskan perhatiannya merawat bunga itu. Meski nampak tabah, aku tahu Puspa sebenarnya kalut. Rasa tidak sabar melihat bunga itu mekar dan membuktikan kesaktiannya, tumpang tindih dengan perasaan takut soal eksekusi mati ibunya. Barangkali ia pun sudah tahu bahwa yang ia lakukan lebih seperti menghibur diri ketimbang betul-betul mengusahakan ilmu menghidupkan orang mati. Barangkali Puspa hanya berusaha merajut jaring pengaman untuk menghalau keping-keping dirinya yang hancur di dalam sana. Tapi seberapa pun ia berusaha percaya pada khasiat bunga itu, aku tahu Puspa rela menukar apapun asal ibunya tidak jadi berhadapan dengan regu tembak di dalam penjara sana.

"Memangnya kapan Pus?," tanyaku berhati-hati.

"Nggak tahu. Paklik belum kasih tahu, tapi semoga diundur ya, soalnya bungaku belum siap mekar," ujarnya, lebih seperti menghibur dirinya sendiri.

Dari Emak aku tahu kalau eksekusi Budhe Kus akan dilaksanakan satu minggu lagi. Kabar itu sampai lewat televisi dan koran-koran, meski sepertinya tak sampai ke Puspa. Emak bilang, Puspa nggak usah dikasih tabu saja, dan aku setuju karena tidak mau membuatnya tambah sedih. Sepanjang hari-hari itu, tidurku ikut tidak nyenyak. Aku terbayang bagaimana rasanya jadi Puspa, yang harap-harap cemas menunggu kabar soal ibunya. Oh Puspa.

Pagi itu Emak membangunkanku dengan sedikit tergesa. Ris, sudah dieksekusi, itu ada siarannya di televisi.

36 | Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma

Aku melompat ke depan televisi. Di sana, seorang reporter perempuan yang mengenakan blazer biru tua membacakan berita. Eksekusi terhadap seorang terpidana mati perempuan, atas kasus pembunuhan berencana yang merenggut nyawa Gus Herkules, telah dilaksanakan dini hari tadi.

Sontak aku menutup mulut dengan kedua tangan, lalu sejurus kemudian, aku hanya tahu ingin segera memeluk Puspa.

Entah seberapa cepat aku berlari pagi ini, aku menggedor-gedor pintu rumah Puspa, tak ada jawaban. Dengan mata sembab aku berjalan ke kanan kiri, dan menemukan punggung Puspa di halaman samping. Ia tengah berjongkok dengan kepala yang tenggelam di antara dua kakinya. Dari tempatku berdiri, Puspa seperti sedang bersandar ke gerumbul daun wijaya kusumanya.

"Pus?," aku berjalan mendekatinya.

Tak ada suara, tapi aku melihat pundaknya berguncang-guncang lemah. Aku ikut jongkok di sebelah Puspa, merangkul pundak dan menarik tubuhnya supaya bersandar padaku. Ya Tuhan, ia kurus dan lemas sekali.

"Tadi subuh, ibu datang di mimpiku, ibu melambaikan tangan dan tersenyum cantik sekali, kayak bunga ini," ujarnya lirih dan nyaris patah-patah, ia terisak-isak.

Di sana, sambil memeluk Puspa, aku melihat, di antara kakinya, kuntum wijaya kusuma yang sudah layu. Tergeletak di tanah, putih bersih seperti bercahaya.

11€

Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang

Tak Ada Peluru yang

Benar-Benar Kosong 58

38 | Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong

Oleh Virdika Rizky Utama

Jam dinding di kamar kos Arka berdetak pelan. Tik tik tik. Suaranya jelas, tetapi jarumnya tidak bergerak. Seolah waktu tidak lagi punya niat berjalan. Seolah yang tersisa hanyalah bunyi tipis yang pura-pura sibuk.

Arka menatap jam itu dari kursi kayu yang timpang. Kursi berderit setiap kali ia menggeser

tubuhnya. Bunyi itu panjang dan kering, mirip seseorang yang batuk di ruangan sepi. Tubuh Arka kurus, bahunya menonjol. Tetapi beban yang ia rasakan tidak ada di tubuhnya. Ada sesuatu yang lebih berat daripada tulang dan daging. Sesuatu yang tak bisa ia tunjuk. Kadang terasa di kepala, kadang di dada, kadang di mata. Kadang seperti bergantung di udara kamar itu, menempel pada langit-langit, meresap di dinding, ikut bernapas di sela debu.

"Kenapa kau berhenti?" bisiknya kepada jam. "Apakah karena aku berhenti jadi manusia?"

Ia menunggu. Jarum jam tetap tidak bergeser. Tembok di belakang jam putih kusam, retaknya membentuk pola. Jika dipandangi lama, garis-garis itu seperti peta dunia yang tidak dikenal. Sungai, gunung, jalan kecil, semua samar-samar seperti lukisan yang lupa dituntaskan.

Kamar kos lembap. Bau nasi basi dari dapur umum merayap di dinding. Dari jalan terdengar motor yang lewat, lenyap, lalu kembali. Bunyi itu terdengar seperti batuk yang tidak sembuh. Arka duduk diam, membiarkan suara jam menetes ke telinganya. Tik tik tik. Bunyi itu tidak lagi terdengar seperti jam. Lebih mirip jarum yang perlahan menyentuh kulitnya. Ia bergidik

Arka berusia 22 tahun. Setahun lalu ia dilantik menjadi polisi. Cita-cita yang ia bawa sejak kecil. Ia masih ingat masa sekolah dasar, ketika ia sering menggambar dirinya sendiri dengan seragam cokelat, topi besar, sepatu hitam mengilap. Di atas kertas, ia selalu menambahkan matahari yang tersenyum. Beberapa burung kecil ia gambar agar langit tidak kosong. Rumah dengan pagar sederhana berdiri di pojok. Ibunya akan melihat gambar itu dan tersenyum tipis. "Polisi cahaya, Nak. Polisi itu cahaya. Cahaya tak bisa berdosa."

Kalimat itu ia simpan bertahun-tahun. Ia percaya seperti doa. Tetapi doa pun bisa berhenti bekerja.

Lampu neon di langit-langit berkelip. Kadang terang, kadang redup, kadang bergetar. Dengung tipis keluar dari kawat yang lelah. Arka menatap lampu itu. Dalam sekejap yang aneh, ia merasa lampu itu mengedipkan satu mata kepadanya. Mata yang letih, yang tahu terlalu banyak, yang memilih diam.

Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong | 39

"Polisi cahaya, cahaya tak bisa berdosa," gumamnya. Suara itu seperti olok-olok. Ia mengulang lagi, lebih pelan, sambil menunduk ke meja. "Polisi cahaya, cahaya tak bisa berdosa." Mantra itu retak. Tidak lagi memberi arti.

Di meja kecil ada gelas retak setengah penuh air. Garis retakan membelah dari bibir ke badan. Ibunya pernah berpesan, "Jangan minum dari gelas retak, bibirmu bisa terluka." Tetapi Arka tetap memakainya. Ia mengangkat gelas itu. Retakan tampak seperti huruf samar. Ia mendekatkan gelas ke telinga, seperti anak desa yang menempelkan telinga pada kerang. Yang terdengar bukan ombak, melainkan bisikan tipis. "Cahaya pun bisa pecah."

Ia menaruh gelas perlahan. Napasnya berat. Kenangan masa kecil datang perlahan. Ia ingat pistol plastik berwarna oranye, betapa sering ia berlari di lapangan menembaki pohon, batu, bayangan, bahkan kucing yang berlari. "Dor dor," teriaknya. Ibunya muncul di teras dan berkata, "Polisi melindungi, Nak. Jangan menembak orang baik." Arka menurunkan pistol. "Kalau menembak orang jahat boleh, Bu?" Ibunya menepuk kepalanya. "Kau akan tahu sendiri nanti."

Jawaban itu tidak pernah datang. Kini ia benar-benar polisi. Pistolnya besi, bukan plastik. Tetapi ia tetap tidak tahu siapa jahat dan siapa baik.

Jam tetap berdetak. Tik tik tik. Jarum mati.

"Kalau kau berhenti kenapa masih berbunyi?" katanya. “Kalau aku berhenti jadi manusia kenapa aku masih bernapas?"

Tidak ada jawaban. Tetapi suara samar muncul di kepalanya. "Karena kau sudah bagian dari sesuatu yang tidak butuh manusia."

Arka berdiri. Sandalnya terlempar, jatuh miring, seakan menatapnya. Lengkungnya seperti mulut yang hendak berbicara. Ia berpaling buru-buru. Kursi berderit lagi. Dadanya terasa berat. Ia mencoba mengingat hari pertama di akademi. Lagu kebangsaan, hormat pada bendera, rasa bangga yang penuh cahaya. Kini, di kamar kos dengan jam membeku, ia tidak tahu di mana cahaya itu.

Malam semakin larut. Suara kursi, suara neon, suara jam bergema.

Ketika ia kembali dari membeli nasi bungkus, ia menemukan amplop di depan pintu kos. Amplop putih pucat dengan kop resmi negara di pojok kiri. Ada stempel biru dengan lambang yang dulu membuatnya bangga. Kini lambang itu tampak seperti luka lama. Ia mengambil amplop dengan tangan gemetar. Beratnya seperti batu.

Ia duduk di kursi. Nasi bungkus ia letakkan di meja. Amplop di pangkuan. Jam tetap berdetak. Tik tik tik. Seolah jam ikut menatap amplop itu.

40 | Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong

Arka membuka amplop dengan hati-hati. Kertas berkop resmi keluar. Tanda tangan yang tidak ia kenal. Stempel basah melebar. Di tengah kertas hanya ada satu kalimat. "Hadir di pelabuhan jam

07.00." Itu saja. Tidak ada alasan. Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan. Ia membacanya keras. "Hadir di pelabuhan jam 07.00." Ia ulang lagi. Kata-kata itu semakin absurd. Tidak lebih meyakinkan dari catatan utang warung. Tidak lebih jelas daripada pengumuman pengajian di kampung. Matanya berhenti pada huruf M. Huruf itu tampak menyipit. Menatapnya. Arka diam. Lampu neon berkedip. Gelas retak bergetar samar. Surat itu terasa hidup. Ia membaca lagi, kali ini lebih keras. Tetangga mengetuk dinding. Ia berhenti. Ia ulang dalam hati. Hadir di pelabuhan jam 07.00. Huruf-huruf menari. Huruf M melekat di kelopak matanya. Ia menatap nasi bungkus. Bau nasi berubah jadi bau kertas lembap. Ia takut membukanya, takut menemukan huruf M di dalam nasi. Ia biarkan begitu saja. Jam tetap berdetak. Surat tergeletak di meja. Kursi berderit. Kasur seperti ikut bernapas. Arka menggenggam surat erat-erat. Tinta stempel mulai luntur di tangannya. Ia rebah di ranjang, memeluk surat itu. Lingkaran noda air di langit-langit melebar seperti mata. "Kenapa pelabuhan. Kenapa jam tujuh. Kenapa aku." Ia tertidur dengan surat itu di genggaman. Dalam mimpi ia berada di pelabuhan. Jam besar menunjuk pukul tujuh. Pelabuhan kosong. Tidak ada kapal. Tidak ada orang. Burung camar berputar-putar. Surat di tangannya putih polos. Ia menjerit. Burung-burung tertawa. Suara mereka berulang-ulang membentuk huruf M. Ia terbangun dengan keringat dingin. Matahari belum tinggi. Surat masih ia genggam. Ia buka perlahan. Kertas itu kosong. Hanya sisa tinta samar di pojok. Tidak ada kalimat perintah. Tidak ada pelabuhan. Tidak ada jam tujuh. Arka duduk lama. Ia mencoba mengingat isi surat semalam. "Hadir di pelabuhan jam 07.00." Tetapi kalimat itu semakin memudar. Otaknya ikut menghapus. Ia mencari amplop. Kop resmi masih ada. Bagian tengah kosong. Jam berdetak lebih keras. Kursi berderit tanpa disentuh. Gelas retak berbunyi cling kecil. Lampu neon berkedip cepat. Cahaya bergetar. Arka berteriak. "Apa maksudmu. Aku harus ke pelabuhan atau tidak?" Tidak ada jawaban. Surat tetap kosong.
40 | Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong

Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong | 41


Pagi datang perlahan. Cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar kos Arka yang catnya terkelupas. Udara masih lembap, dan bunyi jam dinding tetap terdengar sama, tik tik tik, meskipun jarumnya tidak bergeser sejak malam. Arka duduk di tepi ranjang, menatap surat kosong di tangannya. Kertas itu putih, hanya ada noda tinta samar di pojok kiri. Ia membolak-balik lembaran itu, berharap huruf-huruf yang hilang akan kembali muncul. Tetapi tidak ada apa-apa.

Ia meletakkan surat di meja. Gelas retak di sampingnya menunggu, air di dalamnya masih setengah. Garis retakan itu terlihat lebih panjang daripada semalam. Ia memiringkan kepala, mencoba membaca garis itu seperti membaca kalimat. Tidak ada yang jelas. Namun semakin lama ia menatap, retakan itu seolah bergetar, seperti hendak menyusun huruf. Kursi di bawahnya tiba-tiba berderit, membuatnya terkejut. Gelas tetap diam. Air tetap setengah.

Arka keluar kamar. Lorong kos sepi. Sandal-sandal murahan berserakan di depan pintu kamar lain. Bau minyak goreng basi masih melekat dari dapur bersama. Ia turun ke lantai bawah. Penjaga kos duduk membaca koran usang. Arka berdiri sebentar, lalu bertanya, "Tadi malam ada yang menitipkan surat untuk saya?"

Penjaga menurunkan koran, menatapnya sebentar, lalu menggeleng. "Tidak ada."

Arka hampir menjelaskan tentang amplop yang ia temukan, tetapi ia menutup mulut. Ia kembali ke kamarnya.

Di meja, surat itu masih ada. Amplopnya juga ada. Kop resmi jelas, stempel samar masih terlihat. Tetapi bagian tengah kosong. Ia mengambilnya, menatapnya, lalu merasakan perutnya mual. Ia membuka nasi bungkus yang semalam ia biarkan. Nasi itu kering, baunya asam. Ia menutupnya lagi, mendorongnya ke pojok meja.

Hari itu ia tidak pergi ke kantor. Ia duduk di kamar, mendengar jam berdetak tanpa bergerak Sesekali ia mencoba memejamkan mata, tetapi bunyi tik tik tik itu tetap menetes ke telinganya. Ia merasa bunyi itu sedang menghitungnya. Bukan jam yang mengukur waktu, melainkan waktu yang sedang menimbang dirinya.

Menjelang siang, ia membuka buku catatan lama. Di halaman pertama ada foto kecil dirinya bersama ibunya. Ia mengenakan seragam polisi mainan yang kebesaran, tersenyum lebar. Ibunya tersenyum tipis, matanya teduh. Arka menyentuh foto itu dengan jari. Untuk sesaat ia yakin bibir ibunya bergerak samar. Ia menunduk, menunggu suara. Tetapi tidak ada apa-apa.

Ia menutup buku catatan itu. Kursi berderit pelan ketika ia duduk lagi.

Sore, hujan turun. Bunyi atap seng kamar kos dipukul rintik-rintik air. Dari sudut langit-langit, air merembes, jatuh perlahan. Noda bulat di atas ranjang semakin melebar. Arka memandanginya

42 | Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong

lama, hingga bentuknya menyerupai mata besar yang setengah terbuka. Ia berbaring di ranjang, menatap noda itu sampai tertidur.

Dalam tidurnya, ia kembali ke pelabuhan. Kali ini ada kapal besar bersandar. Pintu-pintu terbuka, geladaknya kosong. Rantai berderak tertiup angin. Arka melangkah ke atas kapal, mencari seseorang, tetapi tidak ada siapa pun. Surat di tangannya tetap putih. Burung camar berputar di atas tiang. Mereka menatapnya dengan mata kecil dingin. Satu burung menukik, hinggap di tiang, mengeluarkan suara nyaring. Suara itu panjang, menggema, lalu terdengar seperti huruf-huruf yang tidak pernah selesai diucapkan.

Ia terbangun menjelang malam. Hujan masih turun. Lampu neon berkedip-kedip. Surat tetap di

meja, tetap kosong.

Arka berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding. Bayangannya pucat. Matanya merah. Rambut kusut. Ia mencoba tersenyum, tetapi senyum itu kaku, tidak bertahan lama. Ia menatap dirinya lama, sampai merasa orang di dalam cermin bukan dirinya. Ia mundur beberapa langkah, lalu menutup wajah dengan tangan. Jam berdetak. Tik tik tik.

Malam itu ia tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi, menunggu sesuatu yang tidak ia kenal. Sesekali ia merasa surat itu bergetar di meja. Kadang gelas retak tampak bergerak sedikit. Kadang ia mendengar langkah kaki di lorong, meski tidak ada siapa pun. Sekitar pukul dua dini hari, terdengar ketukan di pintu. Pelan, tiga kali. Ia menahan napas. Ia berdiri, membuka pintu. Lorong kosong. Tetapi di lantai ada kertas lipat kecil tanpa amplop. Ia mengambilnya. Kertas itu kosong.

Ia kembali ke kamar, menutup pintu. Kursi berderit lagi saat ia duduk. Ia menaruh kertas kosong itu di samping surat kosong. Dua lembar putih berdampingan. Ia menatapnya lama, hingga matanya perih.

"Polisi cahaya," gumamnya. "Cahaya tak bisa berdosa." Tetapi kata-kata itu terdengar asing. Seperti doa dari bahasa lain.

Arka memejamkan mata. Jam berdetak lebih keras. Lampu neon mendengung. Gelas retak berbunyi cling kecil.

Kamar kos terasa semakin sempit.

Esok harinya, ia bangun lebih pagi dari biasanya. Surat-surat kosong masih di meja. Amplop tetap di sampingnya. Ia menyentuhnya dengan ujung jari, seperti memastikan bahwa benda itu nyata. Ia memasukkan surat ke saku jaket, lalu keluar kamar.

Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong | 43

Lorong masih sepi. Ia menuruni tangga, keluar ke jalan. Udara pagi basah oleh sisa hujan. Jalanan sempit, becek di beberapa titik. Arka berjalan tanpa tujuan. Ia melewati warung kecil, melewati bengkel, melewati rumah kontrakan. Orang-orang sedang membuka toko, menyapu halaman, menyalakan kompor. Semuanya berjalan biasa. Ia berhenti di tepi jalan, melihat bus kota yang lewat. Ia berpikir sejenak untuk naik, tetapi kakinya tetap diam. Ia berjalan lagi, masuk ke gang yang lebih sempit. Di ujung gang, ada anak-anak sedang bermain pistol plastik. Warna oranye menyala. Mereka berteriak "dor dor" sambil berlari-lari. Arka berhenti, menatap lama. Salah satu anak melihatnya, lalu mengacungkan pistol mainan. "Saya polisi, angkat tangan!" teriak anak itu. Arka mengangkat tangannya sebentar, lalu tersenyum tipis. Ia melanjutkan langkahnya. Hari itu ia tidak sampai ke pelabuhan. Ia hanya berputar-putar, lalu kembali ke kos menjelang sore. Keringatnya dingin. Jaketnya basah. Ia duduk lagi di kursi, menatap surat kosong di meja. Malam datang cepat. Jam berdetak. Tik tik tik. Kursi berderit meski ia tidak bergerak. Gelas retak bergeming. Menjelang tengah malam, ia mendengar suara ketukan lagi. Kali ini dua kali. Ia membuka pintu perlahan. Lorong kembali kosong. Tetapi di lantai ada kertas lain, lebih kecil. Ia membukanya. Kosong lagi. Ia membawa kertas itu ke dalam kamar, menaruhnya di samping dua kertas lain. Tiga lembar putih sejajar di meja. Ia menatapnya, merasakan matanya pedih.

"Kenapa semua kosong?" katanya pelan. "Kenapa aku masih menunggu?"

Lampu neon berkedip cepat. Jam berdetak lebih keras. Tik tik tik. Noda air di langit-langit semakin lebar, seperti mata yang semakin terbuka. Arka berbaring di ranjang, memeluk dirinya sendiri. Surat-surat kosong itu tetap di meja, tetapi seolah menatap balik. Ia mencoba tidur, tetapi setiap kali memejamkan mata, ia kembali berada di pelabuhan kosong. Kapal besar, burung camar, rantai berderak. Surat di tangannya putih. Ia bangun lagi dengan keringat dingin. Napasnya berat. Ia menatap meja. Surat-surat kosong itu tidak bergeser, tetapi jumlahnya kini empat. Ia tidak ingat kapan kertas keempat muncul. Ia menutup wajah dengan tangan. Jam berdetak. Tik tik tik. *** Pagi yang datar membiarkan Arka berjalan sampai ke tepi air. Ia berdiri menghadap laut yang tenang seperti wajah yang sedang menahan sesuatu. Udara asin menempel di kulit dan masuk ke

44 | Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong

paru-paru tanpa meminta izin. Ketika perahu datang, ia naik bersama beberapa polisi lain yang tidak saling menatap terlalu lama. Wajah mereka bersih dan kosong, seolah baru saja dicuci oleh tangan yang tidak terlihat. Tidak ada percakapan yang penting untuk diingat. Hanya suara mesin perahu yang teratur, dan bau solar yang mengikuti seperti kebiasaan lama yang tidak hendak ditinggalkan.

Pulau itu menunggu tanpa nama. Begitu perahu menempel, pasir menempel di sepatu

hitamnya, lembap dan berat. Ada satu pos kayu yang berdiri miring di tanah lapang. Beberapa pohon kelapa condong seperti orang yang sudah terlalu lama menunggu kabar yang sama. Matahari pagi pucat tetapi panasnya ada, datang pelan dan tinggal lama. Arka berjalan ke pos bersama yang lain, duduk karena duduk adalah yang bisa dilakukan. Kertas putih yang ia simpan di saku terasa dingin ketika ibu jarinya menyentuhnya. Huruf-hurufnya sudah lama pergi, hanya stempel samar yang bertahan seperti ingatan yang tidak ingin menjelaskan apa pun. Ia melipat lagi kertas itu dan menempatkannya di tempat yang sama, dekat jantung yang suaranya ingin ia kecilkan.

Tanah lapang di hadapannya menyimpan tiang kayu yang belum dipakai. Angin datang dan pergi, membawa suara yang tidak punya kata. Arka melihat jam pergelangan tangan lalu berhenti mempercayainya. Waktu tidak memerlukan persetujuan darinya. Ia mencoba menulis sesuatu di buku catatan kecil, kalimat yang sederhana, tetapi huruf-hurufnya hilang begitu saja, seperti ditarik ke tanah. Ia menekan lebih keras, kertas robek. Bola kertas bergulir pelan, berhenti di dekat kaki kursi reyot yang mengeluarkan derit kecil seperti tawa yang menahan diri. Ia tidak tertawa. Ia tidak marah. Ia duduk saja dan membiarkan senja mengubah warna laut menjadi merah. Bayangan tiang memanjang di tanah, kelihatan seperti tubuh orang yang menunggu dipanggil.

Malam datang tanpa penjelasan. Lampu sorot portable dinyalakan dan cahaya putih itu memotong gelap seperti pisau yang tidak mengeluarkan darah. Suara hutan di belakang pos terdengar pendek, tidak bermaksud menakut-nakuti siapa pun. Dua belas polisi dikumpulkan. Senjata dibagikan. Arka mengambil satu, merasakan berat besi yang tidak punya pendapat. Di dadanya ada gerak halus yang tidak ingin ia beri nama. Ia berdiri di barisan karena barisan adalah bentuk paling mudah dari ketaatan.

Lelaki itu datang didorong. Baju putih kusam, wajah pucat, mata kosong yang mungkin sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa ditulis. Tangannya diikat ke belakang lalu tubuhnya ditempelkan kepada tiang. Lampu sorot memberi bayangan lebih gelap pada matanya. Jaksa membuka map dan mengambil selembar kertas. Suaranya serak dan singkat, menyebut atas nama Negara, menyebut eksekusi, menyebut nama yang salah. Lelaki itu mengangkat wajah sedikit, bibir hendak membuka lalu menutup kembali. Tidak ada yang membetulkan. Tidak ada yang merasa perlu.

Komandan berdiri di samping. Tubuhnya tegap, tetapi di mata Arka tubuh itu seperti bergeser sedikit. Wajahnya sejenak menjadi wajah asing, lalu wajah ibunya, lalu kembali menjadi wajah

Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong | 45

komandan. Ketika ia berteriak siap, suaranya berlapis seperti gaung di dinding kosong. Ada suara komandan, ada suara ibunya memanggil makan siang di masa kecil, ada suara pintu dapur, ada suara sendok jatuh. Semuanya berdiri di dalam satu kata yang diperintahkan untuk ditaati. Dingin merayap di punggung Arka, seperti air yang menunggu lama untuk dijatuhkan dari ketinggian yang

wajar. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang ingin mengajukan keberatan. Perintah berikutnya

keluar seperti kalimat yang sudah hafal. Arka mengangkat senjata. Napas diatur oleh sesuatu yang bukan dirinya. Dalam sepicik jarak antara aba dan aba berikutnya, ia mendengar jam dinding kamarnya berdetak tanpa bergerak, sebuah tik yang tidak berniat bertemu tok. Ia tidak menoleh. Matanya ditambatkan pada titik yang telah ditentukan.

"Tembak!"

Udara patah lalu bersambung kembali. Wajah di hadapan mereka berubah dalam cara yang tidak perlu dicatat. Tanah menahan sesuatu tanpa menanyakan asalnya. Seseorang menghela napas panjang. Seseorang yang lain tidak. Senjata diturunkan. Arka tidak memeriksa jemarinya. Ia tidak ingin mengetahui apakah mereka gemetar. Ia tahu malam akan selesai dan pagi akan datang dengan caranya sendiri, dan tidak ada yang akan hilang dari daftar yang harus dilakukan.

Ketika perahu kembali, laut tetap laut. Kota di kejauhan terlihat seperti selembar kertas yang dijepit agar tidak terbang. Arka melangkah seperti orang yang diajari cara melangkah. Ia kembali ke kamar kos yang sudah lama tidak lagi menjadi kamar kos. Udara asin menempel. Pasir mengisi sudut. Ada bulu-bulu ayam kering menempel di bantal. Gigi kecil berserakan di lantai dan bergemerincing bila kakinya bergerak. Dinding dan laut sudah saling belajar. Ranjang dan tiang eksekusi saling meminjam nama. Meja dan tanah berebut hak atas benda yang sama. Ia tidak lagi mencoba memisahkan.

Di atas meja ada pistol yang tidak bergerak tetapi jelas sedang menjaga. Lampu neon berkedip dan pada setiap kilatan besi itu tampak bernapas secukupnya. Arka menatap terlalu lama sampai matanya perih. Ada bunyi tipis yang mendekat seperti seseorang yang tidak ingin membuat gaduh. Ia berbisik tanpa niat mengerti jawaban. "Apa kau kosong. Apa kau berdarah." Udara bergetar pelan dan suara yang tidak memilih emosi berjalan masuk ke telinga. "Aku selalu menunggu jari-jarimu, Arka." Ia tidak terkejut. Ia tidak memintanya mengulang. Dingin dari meja merambat ke tangan. Ia ingin percaya pada konsep peluru kosong. Ia ingin percaya pada upaya yang membuat orang-orang merasa tidak secara langsung bertanggung jawab. Tetapi ia tahu rasa bersalah tidak pernah kosong.

Kursi berderit ketika ia duduk dan suara itu tidak hanya menjadi suara kursi. "Aku korban yang kau bunuh." Jam dinding memamerkan jarum di angka dua belas dan berkata lirih dalam gumam yang memenuhi dinding, "Aku komandan yang memerintah." Gelas retak bergetar sedikit, berkata, "Retakanku sama dengan dadanya." Lampu neon berdengung, berkata, "Putusan mati

46 | Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong

ditandatangani di atas meja." Telepon yang selama ini diam mendadak berdering, dan dari sana suara ibunya datang tanpa upaya menyamarkan cinta. "Nak, kau masih cahaya kan." Semua suara itu tidak terburu-buru, tetapi mereka berjalan ke arahnya seperti orang-orang yang tahu alamat yang benar. Ia menutup telinga, tetapi suara datang dari dalam kepala.

Ia meraih kertas yang selalu kembali menjadi putih. Ia menulis pelan lalu membaca lebih pelan. "Jika peluru itu dariku maaf. Jika bukan tetap maaf." Tinta muncul, berjajar, mengatur diri sendiri, lalu memudar dan menghilang seperti air yang diminta untuk mengingat bentuk gelas tetapi menolak. Ia menulis lagi. Ia menambahkan namanya. Ia mencoba menuliskan nama ibunya. Huruf-huruf bertahan sejenak lalu ditarik ke dalam kertas. Kertas menolak menjadi saksi.

Suara-suara di kamar mengulang kalimat mereka. Mereka tidak marah dan tidak lelah. Mereka hanya konsisten seperti fungsi yang berjalan sebagaimana mestinya. Arka memeluk kepalanya. Dunia retak rapi. Kos dan pulau saling masuk dan keluar sampai tidak bersisa batas. Jam menjadi komandan. Kursi menjadi korban. Meja menjadi pengadilan. Lampu menjadi sorot yang mengunci. Bantal berubah tanah yang menelan. Gelas menjadi dada yang tidak sempat menutup luka. Telepon menjadi ibunya yang bertanya pelan. "Nak, kau masih cahaya kan." Ia menjawab tanpa suara yang jelas. "Cahaya ini membakar mataku, Bu." Hening jatuh sebentar. Lalu ibunya berkata lagi dari ujung kabel yang tidak mungkin. "Biarkan matamu terbakar, Nak. Karena Negara butuh kau tetap buta." Ia menangis tanpa gerak. Tubuhnya menggigil bukan karena dingin. Ia tidak tahu ia berada di mana. Ia tahu semua benda bicara dan semua benda adalah Negara. Ia ingin hilang. Ia ingin memutih sepenuhnya seperti kertas yang tidak menerima kalimatnya. Kos dan pulau melebur. Yang tersisa hanya ruangan yang samar, penuh suara, penuh cahaya yang tidak berkedip. Ia menutup mata untuk menyingkirkan dunia, tetapi dunia tetap tinggal di dalamnya. Ketika ia membuka mata, pistol masih menatap. Jam masih berdetak tanpa bergerak. Lampu masih berkedip. Kursi menahan beban. Kertas di meja tetap putih. Ia meletakkan pena dan tidak memaksa lagi. Pada saat itu, yang paling tidak bisa ia tolak adalah kenyataan bahwa tidak ada peluru yang benar-benar kosong. Yang ada hanya upaya untuk memindahkan beban ke tempat lain, sementara beban itu sendiri tidak pindah.

Ia berdiri, berjalan ke jendela. Udara asin yang sama masuk. Jalanan jauh seperti garis di peta yang tidak perlu dibaca. Ia tidak bertanya kepada siapa pun apakah ia harus kembali ke pulau malam berikutnya. Ia tahu perintah akan selalu menemukan cara untuk tiba, bahkan jika huruf-huruf memilih untuk tidak hadir. Ia menutup jendela, mematikan lampu, lalu duduk lagi di kursi. Deritnya tenang. Ia melipat kedua tangan di atas paha, menatap ruang kosong di antara benda-benda. Bunyi jam dinding mengalir seperti air di parit kecil. Ia mengulang tanpa suara kalimat yang tidak mau tinggal di kertas. "Jika peluru itu dariku maaf. Jika bukan tetap maaf." Ia tidak menunggu tinta. Ia tidak menunggu jawaban.

Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong | 47

Di ruang itu, malam merapat seperti seseorang yang duduk di kursi sebelah dan tidak memperkenalkan diri. Tidak ada yang perlu diperkenalkan. Tidak ada yang perlu dibuktikan. Ada yang selesai dan ada yang tidak pernah selesai, dan semuanya tinggal bersama dengan cara yang tidak dramatis. Arka menghela napas seperti orang yang baru ingat bahwa napas adalah bagian dari hidup. Ia menutup mata sebentar, membiarkan bunyi tik yang tidak bertemu tok berjalan sendiri sampai menjadi satu-satunya cara waktu lewat di dalam kamar itu. ***

Sejak malam itu, tidur tidak lagi berarti beristirahat. Begitu matanya terpejam, Arka kembali berada di tanah lapang dengan tiang kayu berdiri di tengah. Lampu sorot menyala, memotong kegelapan, dan wajah-wajah tanpa nama berbaris di sekeliling. Ketika ia menoleh, kursi kamarnya ikut berdiri di antara regu, jam dinding ikut menatap dari balik tiang, dan gelas retak menggantung di udara seperti jantung yang dipaksa berhenti. Ia terbangun dengan keringat dingin, dadanya sesak, dan suara tik yang tidak pernah bertemu tok tetap menetes di telinganya.

Ia mencoba menulis di kertas lain, mencoba kalimat yang sama, mencoba kalimat yang berbeda. Semua hilang. Kertas menolak menjadi saksi. Tinta lenyap seperti tidak pernah ada. Ujung jarinya menjadi hitam oleh tinta kering, tetapi lembaran tetap putih. Ia ingin berteriak, tetapi suaranya tercekat, seperti ditahan oleh tali yang tidak terlihat.

Hari-hari berjalan tanpa ritme. Ia masih datang ke kantor, masih mengenakan seragam, masih menyalami rekan, tetapi setiap suara terdengar bergema. Sapaan terdengar seperti perintah tembak. Tawa terdengar seperti jerit yang ditahan. Meja kerja di kantor tiba-tiba berubah menjadi meja eksekusi. Kertas laporan berbau tanah basah. Pulpen yang ia genggam seberat senjata.

Malam lebih buruk. Di kamar kosnya, semua benda bicara. Kursi berderit lalu berkata, "Aku korban yang kau bunuh." Jam dinding menggerakkan jarum yang mati lalu berbisik, "Aku komandan yang memerintah." Gelas retak bergetar, mengeluarkan bunyi tipis, lalu berkata, "Retakanku sama dengan dadanya." Lampu neon berkedip sambil bergumam, "Putusan mati ditandatangani di atas meja." Telepon berdering panjang, lalu suara ibunya datang dari ujung yang mustahil, lembut tetapi melukai, "Nak, kau masih cahaya kan."

Arka menutup telinga, tetapi suara tidak berhenti. Suara datang dari dalam kepalanya, dari tulang, dari darah. Ia merosot ke lantai, menggigil. Kepalanya seperti retak. Ruangan melebur dengan pulau. Kos menjadi tanah eksekusi. Tiang eksekusi menjadi tiang ranjang. Lampu sorot menjadi lampu neon. Segalanya bercampur, tidak ada yang bisa dipisahkan lagi.

Ia meraih kertas, menulis kalimat yang selalu ia tulis. "Jika peluru itu dariku maaf. Jika bukan tetap maaf." Huruf-huruf muncul sebentar, lalu hilang. Ia menulis namanya, nama ibunya, nama korban yang samar. Semua hilang. Kertas-kertas itu tetap putih, menolak menyimpan. Ia menangis tanpa suara.

48 | Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong

Suara ibunya kembali dari telepon yang sudah lama mati. "Nak, kau masih cahaya, kan?" Ia menutup wajah dengan kedua tangan. "Cahaya ini membakar mataku, Bu." Hening panjang. Lalu suara itu menjawab, tenang dan tak bisa dibantah, "Biarkan matamu terbakar, Nak. Karena Negara butuh kau tetap buta."

Kepalanya sakit, seperti ada besi panas yang dipalu di dalam. Tubuhnya menggigil. Ia merasa semua darahnya berputar ke arah yang salah. Ia ingin tidur, tetapi tidur berarti kembali ke lapangan, kembali ke tiang, kembali ke aba-aba. Ia ingin bangun, tetapi bangun berarti kembali ke kursi yang berbicara, ke jam yang mengejek, ke gelas yang retak, ke telepon yang memaksa. Tidak ada pintu keluar.

Hari berikutnya ia mencoba menatap matahari lama-lama. Silau membakar matanya, membuat air mata jatuh. Ia tidak berkedip, membiarkan panas menyusup sampai ke kepala. Matanya berdenyut, pandangannya kabur, tetapi ia tetap menatap. Ia ingin buta, karena mungkin buta berarti bebas. Tetapi setelah ia menutup mata, dunia tetap datang, lengkap dengan suara-suara yang sama.

Malamnya, ia kembali duduk di kursi. Pistol di meja menatap dengan dingin. "Aku selalu menunggu jari-jarimu, Arka." Ia menunduk, menutup wajah dengan tangan, tubuhnya bergetar. Jam berdetak tanpa jarum bergerak. Lampu neon berkedip, seakan hendak padam, tetapi tidak jadi. Kertas di meja putih, putih, putih.

Dan di dalam kepalanya, suara itu mengulang tanpa henti. "Tidak ada peluru yang benar-benar kosong." ***

Pagi datang tanpa keputusan. Gelap hanya bergeser menjadi pucat, lalu terang. Tidak lebih dari itu. Jam dinding tetap berdetak, tik yang tidak pernah bertemu tok. Kursi berderit walau ia tidak bergerak. Gelas retak tetap menampung setengah air, garisnya semakin panjang. Di meja, pistol tergeletak. Pistol itu tidak bergerak, tetapi diamnya seolah lebih berat dari bunyi apa pun. Di sampingnya ada kertas putih yang terus menolak huruf. Pena berbaring miring, ujungnya kering, seakan sudah tahu ia tidak akan berguna.

Arka meraih pena. Jemarinya gemetar. Ia menulis kalimat yang paling hafal di tubuhnya. "Jika peluru itu dariku maaf. Jika bukan tetap maaf." Huruf-huruf muncul, hitam, jelas, tetapi hanya sebentar. Mereka memudar pelan, seperti noda air yang diserap tanah. Kertas kembali putih.

Ia menulis lagi, dan lagi, dan lagi. Hasilnya selalu sama. Huruf-huruf menolak tinggal. Kertas menolak menjadi saksi. Pena hanya menggores permukaan, lalu menyerah.

Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong | 49

Telepon yang mati bergetar samar. Arka menoleh. Tidak ada dering, tidak ada lampu, hanya getaran tipis. Namun suara ibunya tiba, tidak dari kabel, tidak dari udara, tetapi dari sesuatu yang lebih dekat. "Nak, kau masih cahaya kan."

Arka menelan ludah. Bibirnya kaku. Ia akhirnya menjawab lirih, "Cahaya ini membakar mataku, Bu."

Hening sebentar. Lalu suara itu menjawab, "Biarkan matamu terbakar. Karena Negara butuh kau tetap buta."

Kalimat itu tidak keras, tidak mendesak, tetapi menggema di kepalanya lebih lama daripada bunyi jam.

Kos dan pulau sudah tidak bisa dipisahkan. Ranjang jadi tanah lapang. Lampu neon jadi sorot eksekusi. Jam dinding jadi aba-aba. Kursi jadi tubuh yang runtuh. Gelas retak jadi dada yang ditembus. Semua benda bicara dengan suara yang tidak terburu-buru. Semua benda adalah Negara.

Arka menutup telinga, tapi suara tetap datang. Kursi berkata, "Aku korban yang kau bunuh." Jam berdetik, "Aku komandan yang memerintah." Gelas bergetar, "Retakanku sama dengan dadanya." Lampu mendesis, "Putusan mati ditandatangani di atas meja." Telepon bergetar lagi, dan suara ibunya mengulang dengan nada yang sama, "Nak, kau masih cahaya kan?"

Kepalanya sakit. Denyutnya seperti dipalu dari dalam. Ia memukul-mukul pelipis dengan tangan, tetapi rasa sakit tidak keluar. Matanya panas, pandangan kabur. Dunia bergeser dan melipat. Kos dan pulau saling masuk, saling menelan. Ia tidak tahu lagi di mana tanah berhenti dan di mana ranjang dimulai.

Ia menulis sekali lagi. “Jika peluru itu dariku maaf. Jika bukan tetap maaf." Huruf-huruf muncul, bertahan sebentar, lalu hilang. Ia menambahkan namanya, nama ibunya, nama yang samar, nama yang tidak pernah disebut lagi. Semua hilang. Kertas tetap putih.

Ia menangis tanpa suara. Tubuhnya menggigil. Ia ingin tidur, tetapi tidur berarti kembali ke tanah lapang, kembali ke tiang, kembali ke aba-aba. Ia ingin bangun, tetapi bangun berarti kembali ke kursi yang bicara, jam yang mengejek, gelas yang retak, telepon yang memaksa. Tidak ada pintu keluar.

Matahari siang membakar jendela. Ia menatap cahaya lama-lama. Silau itu menusuk matanya sampai berair. Ia membiarkan sakit itu tinggal. Ia ingin buta. Mungkin buta berarti bebas. Tetapi

ketika ia menutup mata, kegelapan tetap membawa lapangan, tiang, regu, dan suara yang sama.

Tidak ada yang pergi.

Malam turun. Lampu neon berkedip, lalu menyala setengah. Pistol di meja tampak bernapas pelan. Arka meraih kertas lagi. Pena menyentuh permukaan putih. Ia menulis, "Aku minta maaf."

50 | Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong

Huruf muncul sekejap, lalu hilang. Ia mencoba lagi, menuliskan kalimat lain. Sama saja. Putih kembali menang.

Ia duduk di kursi, tubuhnya tertunduk. Ruangan diam, tetapi diamnya tidak tenang. Diamnya penuh gema. Jam berdetak tanpa bergerak. Gelas bergetar pelan. Telepon bernapas. Semua benda menunggu. Ia menutup mata. Dalam gelap, semua suara datang bersamaan. "Aku korban yang kau bunuh." "Aku komandan yang memerintah." "Aku putusan yang disahkan." "Aku peluru yang keluar dari laras." Dan suara ibunya, paling pelan tetapi paling jelas. "Nak, kau masih cahaya kan."

Arka menahan napas. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Matanya terbakar, tetapi ia tidak menutupnya lagi. Ia hanya membiarkan cahaya lampu sorot yang tak terlihat itu tinggal di dalam kepalanya. Kos dan pulau benar-benar melebur. Tidak ada batas. Tidak ada perbedaan. Semua benda adalah Negara. Semua benda adalah saksi. Semua benda adalah eksekusi yang tidak selesai.

Arka bersandar, menatap langit-langit yang retak. Retakan itu melebar, membentuk garis seperti peta. Peta yang tidak menunjuk ke mana pun. Ia menarik napas, lalu menghembuskannya pelan.

Dalam sekejap ia merasa tubuhnya bukan miliknya sendiri. Tangannya seperti senjata yang terus menunggu aba-aba. Dadanya seperti tanah yang sudah dilubangi sebelum upacara. Matanya seperti lampu sorot yang dipaksa menyala. Ia duduk, tetapi duduk itu tidak berbeda dengan berdiri dalam barisan.

Dan di dalam gelap, ia tahu tak ada peluru yang benar-benar kosong jika tubuh tetap jatuh. Tapi yang lebih mengerikan, tak ada tubuh yang benar-benar jatuh jika Negara belum selesai menulis.

Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang

40 Hari Mak Imas

52 | 40 Hari Mak Imas

Oleh Permata Adinda

Secarik kertas di tangan Utari bertuliskan “Desa Sayung, Kecamatan Tugu." Tidak ada nomor rumah, hanya ancar-ancar "pertigaan pom mini." Mengandalkan kemampuan navigasi dan insting sopir mobil yang Utari temukan dari Facebook-“Spesialisasi: perjalanan Pantura"-Utari melaju menuju rumah subjek liputannya.

Utari telah berpesan kepada si sopir-ia tidak punya nomor rumah. "Daerah sini memang jarang

yang ada nomor rumah, Mbak," jawab si sopir. "Ada nama pemilik rumahnya? Saya bantu tanyakan ke warung di sana." "Cari aja yang lagi ramai-ramai tahlilan, Pak." Utari enggan menjawab. "Oh... Siapa yang meninggal, Mbak?" Utari sebenarnya malas meladeni pertanyaan basa-basi orang asing. Sayangnya, orang-orang di sini senang basa-basi. Biasanya ia dengan sopan akan mengada-ada. Berusaha untuk tidak terlalu banyak mengungkap informasi pribadi. Lagi liburan atau kerja? Liburan (bekerja). Sama siapa? Suami (Utari belum menikah). Kok perginya nggak bareng suami?... Utari tahu sebagian besar dari mereka tidak bermaksud jahat. Hanya sebuah gestur ramah tamah yang telah diwariskan secara turun-temurun. Termasuk sopir ini. Tatapan dan nada bicaranya lembut ke Utari. Mungkin sedikit kasihan dan khawatir ketika Utari menyebut tahlilan. Hari itu, Utari tak punya cukup energi untuk mengada-ada. Pikirannya sudah terlalu penuh. Ia memutuskan untuk menjawab si sopir apa adanya. Nggak apa-apa, lah, batin Utari. Lagi pula ia sedikit kasihan dengan nada khawatir si sopir. "Jennifer Cahyati, Pak." "Jennifer Cahyati? Lho-si ratu narkoba?" Utari melihat ekspresi terkejut si sopir dari kaca spion. "Oh, mau ke tahlilannya Jennifer Cahyati, Mbak?" Utari mengangguk. Ia tahu si sopir juga memerhatikannya dari kaca spion. "Mbak kenal? Teman, Mbak?"

40 Hari Mak Imas | 53

"Bukan. Saya jurnalis. Mau meliput."

"Oalah, Mbaaak." Raut wajah si sopir berubah dari kasihan menjadi lega. Lalu jadi antusias. Utari bisa melihatnya dengan semangat membuka mulut. "Saya lihat waktu itu di TV. Pas penembakan (...)"

Utari diam-diam menghela napas. Mulai menyesali kejujurannya.

"Orang-orang tepuk tangan. Saya juga. Pemerintahan yang benar itu kayak gitu. Kerja yang benar basmi narkoba. Harusnya sekalian tembak di tempat. Kayak di Filipina, ya, kan, Mbak? Ketahuan pakai narkoba, tembak di tempat. War on drugs! Siapa nama presidennya? Duterte?"

Utari juga menyaksikan eksekusi dari TV. Si news anchor memposisikan dirinya di tengah kerumunan. Saat itu tengah malam-tapi suasana di luar lokasi eksekusi mati masih ramai oleh

orang-orang yang penasaran. Wajah mereka semringah. Seperti sedang menyaksikan sebuah

hiburan. Seperti sedang di pasar malam. Seperti ekspresi si sopir saat ini.

Ia mengiyakan saja ucapan si sopir. Tidak berusaha membantah. Dari mana mau mulai membantah? Fakta bahwa Jennifer Cahyati bukan pengedar narkoba? ("Narkotika! Istilah narkoba itu melekatkan stigma." Utari teringat teguran narasumbernya ketika ia memakai istilah narkoba.) Bahwa Jennifer Cahyati dijebak dan tidak punya kesempatan membela diri? Bahwa hukuman mati melanggar hak asasi manusia?

Terlalu rumit. Tak ada ruang untuk pembicaraan bukan basa-basi. Lagipula, jangan-jangan Utari pun akan punya pemikiran yang sama dengan si sopir jika ia bukan seorang jurnalis. Jika ia tidak menghabiskan banyak waktu berjibaku mengikuti kasus Jennifer.

Si sopir masih lanjut bercerita, tetapi pikiran Utari sudah tak lagi di sana. Ketika si sopir mengucapkan "presiden", Utari terngiang ucapan presidennya (bukan presiden Filipina). Ketika ia mengumumkan keputusan untuk mengeksekusi lima terpidana mati, salah satunya Jennifer

Cahyati.

"Negara harus hadir dan langsung bertempur melawan narkoba," seru si presiden sambil berapi-api. "Indonesia sehat, Indonesia tanpa narkoba!"

Energi Utari tiba-tiba menguap bersama terik sinar matahari.


Butuh waktu berkendara sekitar 35 menit dari kota tempatnya menginap untuk sampai di Desa Sayung.

54 | 40 Hari Mak Imas

Kata editornya di Jakarta, "Mungkin kamu perlu datang ke kampung halamannya-jika kamu ingin menggambarkan sosok Jennifer secara utuh." Utari setuju. Ia tahu Jennifer lahir di sebuah kabupaten yang didapuk salah satu termiskin se-pulau Jawa, meski ia belum tahu pasti apa yang akan ia temukan. Apa korelasi hukuman mati dengan kemiskinan?Di perjalanan ini Utari mencoba menemukan jawabannya.

Sepekan setelah percakapan dengan editornya, setelah membereskan tetek bengek administrasi,

mengamankan tiket kereta dan penginapan, Utari berangkat ke kampung halaman Jennifer

Cahyati.

Sepanjang perjalanan, Utari melihat genangan air ada di mana-mana. Terletak di pesisir, ia tahu dari berita bahwa daerah itu langganan banjir rob.

Kini ia menyaksikan langsung: genangan air memisahkan rumah dan jalan raya. Seperti selokan raksasa, batin Utari. Setiap rumah dilengkapi dengan jembatan kayu sederhana sebagai penghubung ke jalan umum. Utari bisa melihat jejak-jejak pengurukan tanah untuk meninggikan rumah dan jalan. Ia memerhatikan seorang warga perlu menunduk untuk melewati kusen pintu rumah yang jadi pendek karena lantai telah dinaikkan.

Dari si sopir, Utari tahu orang-orang menyebut desa ini sebagai "kota mati".

"Ya, coba Mbak perhatikan aja," kata si sopir ketika Utari bertanya apa maksudnya. "Apa yang masih hidup di sini? Sawah, habis. Nah-Mbak lihat, kan? Sudah seperti danau. Itu dulunya hamparan sawah."

Utari mulai menyadari kejanggalan demi kejanggalan. Desa Sayung tampak sepi penduduk. Ia belum melihat anak-anak atau remaja di sepanjang jalan. Mungkin masih sekolah? Tapi sudah pukul 3 sore. Ia juga tidak melihat orang dewasa beraktivitas di luar rumah. Jika ada satu atau dua orang yang Utari lihat, mereka adalah orang-orang lanjut usia dengan wajah keriput dan rambut beruban.

"Orang-orang yang masih usia produktif, mereka nggak akan di sini, Mbak. Mau kerja apa di sini?" ujar si sopir.

Utari telah mengikuti kasus Jennifer Cahyati setidaknya selama setahun terakhir-tepat pada tahun ke-20 Jennifer mendekam di penjara. Ia menuliskan berita-berita singkat tentang kejanggalan vonis hukuman mati Jennifer. Ia mempublikasikan upaya Jennifer mengajukan grasi kepada presiden.

Ia menghadiri konferensi pers, mewawancarai kuasa hukum Jennifer, melakukan doorstop ke setiap instansi yang Utari rasa punya keterkaitan dengan kasus Jennifer-dari Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, hingga staf Kepresidenan.

Seringnya, jawaban instansi-instansi pemerintah membuat Utari semakin gemas.

40 Hari Mak Imas | 55

"Bagaimana upaya perlindungan HAM untuk Jennifer Cabyati yang diduga mengalami unfair trial?"

"Kita hormati proses hukum yang sedang berjalan."

"Mengapa Presiden tak kunjung mengabulkan permohonan grasi Jennifer Cabyati?"

"Keputusan itu adalah hak prerogatif Presiden."

"Mengapa Indonesia masih menerapkan bukuman mati ketika sebagian besar negara di dunia telah menghapusnya?"

"Indonesia hanya menerapkan hukuman mati untuk kejahatan serius atau most serious crimes, sebagaimana diatur dalam hukum internasional."

Most serious crimes. Ada 1-2 wajah yang akan muncul di benak Utari ketika mendengar istilah itu. Diktator. Pelaku genosida. Yang jelas Jennifer bukan salah satunya.

Utari sebenarnya ingin mewawancarai langsung Jennifer di lapas. Tetapi upayanya tidak pernah membuahkan hasil. Birokrasi masuk ke lapas hampir mustahil untuk ditembus. Ia pernah pergi ke lapas berbekal surat tugas dari redaksinya. Petugas lapas menolaknya mentah-mentah. "Harus ada izin dari pusat," katanya.

Ia mengurus izin ke pusat-mengantar surat berkop resmi ke kantor wilayah dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Ia telah mencantumkan kontak yang bisa dihubungi, dari email pribadi, email kantor, nomor telepon pribadi, nomor telepon kantor. Utari menunggu. Utari mendatangi lagi resepsionis yang menerima suratnya. Tidak ada respons.

Belakangan, Pemerintah mengeluarkan surat edaran baru: larangan peliputan narapidana. "Tidak diperkenankan wawancara baik langsung maupun tidak langsung, melalui media cetak maupun elektronik-baik itu wawancara, talkshow, teleconference, atau rekaman."

Utari sempat putus asa. Bagaimana ia bisa menuliskan cerita Jennifer dengan adil-ketika ia bahkan tidak bisa bertatap muka dengannya?

Tetapi, pertemuan Utari dengan Hayu-anak satu-satunya Jennifer Cahyati-mengubah hidupnya. Beberapa kali Hayu pergi ke Jakarta. Bersama-sama dengan lembaga bantuan hukum dan organisasi sipil, ia mengadvokasi ibunya. Pada suatu waktu, Utari meminta kesediaan Hayu untuk ia wawancarai.

Kata-kata Hayu terus terngiang-ngiang di kepalanya, "Mak cuma mau didengar."

56 | 40 Hari Mak Imas

Sejak itu, Utari bertekad untuk melakukan segala cara agar Jennifer dapat didengar. Tekad itu semakin kuat ketika muncul kabar penolakan permohonan grasi-yang kemudian disusul oleh keputusan eksekusi mati Jennifer.

Setelah Jennifer pergi untuk selamanya, ucapan itu semakin menghantui Utari. Hantu itu mengantarkan Utari ke rumah Jennifer hari ini. ***

Sopir memarkirkan mobil di pinggir jalan menuju lokasi rumah Jennifer-jalan besar terdekat yang dapat dilalui oleh mobil. Si sopir akhirnya menemukan titik yang tepat setelah ia dengan cekatan bertanya dari satu warga ke warga lain. "Jennifer? Oh, Imas?" kata seorang warga mengoreksi. "Lewat sana. Di pertigaan, belok kanan."

Imas. Si warga penunjuk jalan tidak kaget ketika mendengar nama Jennifer. Ia dengan santai mengoreksinya menjadi Imas-seperti memanggil seorang kawan lama.

Utari meminta si sopir untuk menunggu di mobil. Ia berjalan kaki menyusuri deretan rumah hingga sampai di depan rumah yang ramai orang. Di halaman rumah yang dihubungkan oleh jembatan kayu dengan jalan, mereka duduk beralaskan tikar sederhana, mengenakan peci, baju koko, dan menggenggam buku Yasin.

Rumah itu tak tampak begitu berbeda dengan rumah-rumah lainnya. Satu lantai dengan dinding batu bata yang dibiarkan terekspos tanpa cat. Ada pintu utama dengan cat hijau-diapit dengan dua jendela dengan warna sama. Ada halaman kecil di depan rumah-mungkin luasnya sekitar 1,5x2 meter. Halaman itu juga tak dilapisi semen ataupun keramik. Hanya hamparan pasir dan bebatuan.

Imas Cabyati. Utari kembali teringat percakapannya dengan Hayu. Kata Hayu, label "ratu narkoba" yang publik lekatkan kepada Mak terasa asing baginya. Hayu tidak mengenal Jennifer

Cahyati. Wajah di TV adalah wajah Mak. Nama aslinya Imas Cahyati. Warga di kampung

mengenalnya sebagai Imas. Anak-anak tetangga memanggilnya Mak Imas. Bagi Hayu, ia adalah Mak.

Belakangan Utari baru tahu bahwa agen yang mengurus Imas bekerja di luar negeri

merekomendasikan Imas untuk mengganti namanya. "Supaya memudahkan administrasi-kata si agen," cerita Hayu.

Berita di TV bilang, Mak sampai di bandara membawa 10 kg sabu. Apa iya Mak yang sebegitu mungil bisa mengangkut bawaan seberat itu? Mereka bilang, Mak adalah bagian dari komplotan luar negeri yang menyelundupkan obat-obatan terlarang ke tanah air. Mak pergi ke luar negeri

40 Hari Mak Imas | 57

untuk menafkahi Hayu. Mereka bilang, Mak mengantongi keuntungan milyaran rupiah. Mak pergi meninggalkan Hayu dengan sekarung beras dan uang saku Rp500 ribu.

Utari mengikuti seorang warga yang juga baru sampai. Si warga berjalan ke arah tumpukan buku Yasin di samping pintu rumah. Utari ikut mengambil satu.

Ia membalikkan sampul buku Yasin, dan melihat wajah Jennifer Cahyati terpampang di halaman pertama. Hanya saja di halaman tersebut tidak ada nama Jennifer Cahyati. "Imas Cahyati binti Fulan // 1 Januari 1974 - 28 April 2025."

Utari telah sampai di tujuan.


Utari tidak ikut duduk bersama warga di teras. Ia masuk ke dalam, mencari wajah familiar. Hayu tidak kelihatan batang hidungnya.

"Cari siapa, Neng?" seorang ibu dengan kerudung putih menyapanya. Di antara kerumunan tamu yang rata-rata adalah orang tua, kehadiran Utari si-jurnalis-muda-dari-Jakarta tampak mencolok.

"Cari Hayu, Ibu," jawab Utari. Ia menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan si ibu-sedikit membungkukkan badannya.

"Di belakang, Neng. Di dapur." Rumah Imas yang kini jadi rumah Hayu tidak besar. Dari ruang tamu, terdapat dua kusen yang memisahkan ruangan itu dengan dua ruangan lain. Keduanya tanpa daun pintu, hanya tirai yang dipaku ke dinding. Si ibu mengarahkan tangannya ke salah satu tirai.

Utari mengucapkan terima kasih lalu beranjak ke dapur. Ia berjalan melewati sebuah TV tabung yang berdiri di atas rak besi. Di sekelilingnya tampak foto-foto yang digantung di dinding dengan paku. Sebagian besar mulai memudar. Salah satunya foto seorang remaja perempuan dengan kebaya merah muda dan medali yang dikalungkan di leher. Papan backdrop di belakangnya bertuliskan, "Pelepasan Siswa Kelas XII // SMAN 01 // 10 Mei 2009." Hayu lulus SMA, Utari menduga dalam hati.

Foto lainnya menunjukkan sepasang pengantin di depan altar. Foto itu punya warna yang paling

pudar di antara foto-foto lain. Si perempuan mengenakan gaun dan kerudung serba putih. Warna foundation dan bedak yang lebih terang dari warna kulit si pengantin membuat wajahnya tampak abu-abu. Bulu mata palsu dan eyeliner tebal nyaris membuat wajahnya tampak 10 lebih tahun lebih tua.

58 | 40 Hari Mak Imas

Utari memerhatikan lebih dekat. Di balik riasan yang tebal, Utari masih bisa melihat raut wajah seorang remaja perempuan. "Januari 1991." Imas, batin Utari. Imas saat seumuran Hayu.

Di usia Hayu lulus SMA, Imas sudah menikab.

Utari menyibak tirai menuju dapur. Ia melihat Hayu sedang duduk di lantai, tangannya cekatan memasukkan lauk pauk ke dalam besek yang berjejer di depannya. Seorang ibu di belakang Hayu meraup nasi dari penanak dengan mangkuk kecil, lalu membungkusnya dengan daun pisang. Seorang ibu lainnya sibuk mengaduk-aduk wajan di depannya, berisi telur rebus yang dibalut dengan sambal balado.

Seorang anak perempuan yang parasnya mirip Hayu duduk di samping Hayu. Ia mengambil besek yang sudah Hayu isi dengan nasi, telur balado, sayur buncis, satu potong pisang, dan air gelas kemasan; kemudian ia ikat rapi dengan tali dari sabut kelapa.

Dari balik tirai, Utari mendengar suara pekikan, "Hayu... ada tamu." Hayu mendongakkan kepalanya, melihat Utari ada di hadapannya. Ia menyapa Utari, berdiri dan memeluknya erat. "Lho... sudah sampai. Mari, mari, duduk di depan." Hayu mengantarkan Utari kembali ke ruang tamu.

"Mbak Hayu... ada yang bisa saya bantu?" Hayu mengibaskan tangannya dan menggeleng. Ia berjalan di depan Utari sambil sedikit membungkuk di antara kerumunan tamu yang telah duduk melingkar dengan rapi. "Duduk, duduk." Dua orang di depan Hayu menggeser duduknya, membuat ruang untuk Utari masuk ke dalam lingkaran.

Hayu menggeser tampah berisi kue cucur, nagasari, dan lemper ke dekat Utari. "Sudah makan, Utari? Ambil ini dulu, ya... Nanti kita ngobrol," kata Hayu.

Ia lalu berjalan kembali ke dapur. Utari pasrah. Ia mencoba melebur dengan keramaian.

Hari itu adalah peringatan ke-40 hari kematian Imas. Hari bagi orang-orang terdekat berkumpul, mendoakan, dan mengenang Imas. Hari yang juga jadi penanda berakhirnya masa berkabung. "Nanti datang ya, Mbak, ke 40 harian Mak," pesan Hayu kepadanya suatu hari-setelah Utari mengekspresikan keinginannya untuk menuliskan kisah Imas.

Para tamu bersama-sama melantunkan doa, membacanya dari buku Yasin berwajah Imas. Utari sadar ia juga masih menggenggam buku itu di tangannya. Ia membuka halaman demi halaman hingga tiba pada ayat yang sedang dibacakan.

Dengan terbata-bata Utari mencoba ikut membaca, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menyentuh ayat Al-Qur’an.

"Allahuma... 'an. zil fi qab... rih–”

40 Hari Mak Imas | 59

Dalam waktu singkat ia menyerah dan langsung membaca terjemahan bahasa Indonesia di halaman sebelahnya.

Ya Allah, turunkanlah di kuburnya rahmat, sinar, cahaya, kegembiraan, kesenangan keharuman, dan kebahagiaan sejak hari ini hingga hari kebangunan dan kebangkitan. Sunggub, Kau penguasa, Tuhan yang maha pengampun.

Ya Allah, ampunilah mereka, kasihanilah mereka, bebaskanlah mereka.

Ya Allah, berikanlah rahmat dan ampunan kepada para penghuni kubur, dari antara mereka yang mengaku, "Tidak ada Tuhan selain Allab, dan Muhammad adalah utusan Allab." ***

Utari memerhatikan orang-orang di sekelilingnya. Di antara mereka yang duduk di lantai, seorang laki-laki yang tampak lanjut usia duduk di kursi. Ia mengenakan peci dan jubah putih. Wajahnya penuh keriput dengan uban memenuhi kumis, jambang, dan helaian rambut yang menyelinap dari peci. Ia duduk dengan postur membungkuk. Tongkat kayu ada di sebelahnya. Utari memperkirakan usianya 70 tahun. Mungkin selang 20 tahun dengan Imas.

Warga mengikutinya membaca shalawat, lalu ia menutup tahlilan dengan surat Al-fatihah. "Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh," kata bapak berpeci.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakaatub.

Ia diam sebentar.

"Kita duduk di sini untuk bersama-sama mengenang Nak Imas yang kita cintai." Nak Imas.

Nadanya lembut mengucap nama Imas. Ia bisa merasakan rasa sayangnya kepada Imas.

"Nak Imas waktu itu pergi merantau tahun berapa? Saya sudah lupa. Sudah lama sekali. Anak pertama saya, Tantri... dia seumuran Imas. Mereka teman dekat saat kecil. Nak Imas sudah jadi yatim piatu sejak kecil. Kami tetangga semua urus Nak Imas bersama-sama. Kami semua keluarga. Tapi Nak Imas paling sering main ke rumah saya. Main dengan anak saya," ceritanya.

“Saya masih tidak menyangka anak saya-Imas sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya wali nikahnya Nak Imas. Saya masih tidak percaya Imas meninggalkan dunia lebih cepat dari saya."

Ia terdiam lagi.

"Ini semua kehendak Tuhan yang maha esa. Saya ikhlas... Insya Allah."

60 | 40 Hari Mak Imas

Utari melihat Hayu bersandar di kusen menuju dapur. Ia menyimak dengan khidmat. Si bapak berjubah putih menoleh ke arah Hayu.

"Nah... ini Hayu. Nak Yu, dulu ibumu pergi dari rumah saat usia berapa? Seusia kamu sekarang, ya, Nak? Mungkin lebih muda?" Hayu mengangguk. "Nak Hayu waktu itu masih SMP. Saya ingat betul."

Di kepalanya, Utari mulai berhitung. Ia tahu Imas kelahiran 1974, sementara Hayu kelahiran

  1. Imas ditangkap dan dipenjara pada 2006-saat ia berusia 32 tahun. Saat ini, pada 2025, Hayu berusia 34 tahun.

Utari kembali mengingat percakapannya dengan Hayu. "Mak bilang mau cari uang. Mau cari kerja di luar."

"Gimana perasaan Mbak Hayu ketika Mak bilang mau pergi?"

"Ya... sedih, tapi mau gimana," kata Hayu waktu itu. Hayu bilang ia tidak kaget. Banyak orangtua temannya yang telah meninggalkan kampung lebih dulu. Semuanya sama-sama mencari uang. Ada orangtua temannya yang merantau ke Jakarta. Menjadi pekerja rumah tangga. Tapi kebanyakan mereka pergi ke luar negeri. Ke Hong Kong, Taiwan, atau paling dekat Malaysia dan Singapura. Sebelum Imas pergi, ia kebagian tugas menampung 1-2 anak yang bapak ibunya sedang merantau. Imas akan menyiapkan makan untuk mereka, bahkan menyuci seragam sekolah, dan menyiapkannya untuk hari esok. Karena Imas juga adalah seorang penjahit, anak-anak itu juga akan pergi ke Mak ketika ada kancing yang lepas, atau kain yang robek, atau jika seragam yang diwariskan dari kakak-kakak mereka kebesaran.

Ketika giliran Imas pergi, Hayu gantian menjadi tanggung jawab tetangga-tetangganya.

Mak adalah ibu kandung Hayu. Tapi, bagi Hayu, ia juga menemukan sosok ibu dan bapak dari tetangga-tetangganya di kampung-sebagaimana teman-teman sepantarannya juga kerap menganggap Mak sebagai ibu mereka.

Setelah bapak berjubah putih, orang-orang bergantian bercerita tentang Imas. Seorang

perempuan paruh baya buka suara, "Imas itu, ya... sudah seperti keluarga. Waktu saya menikah, Imas yang jahit baju saya. Waktu Imas menikah, saya yang urus kateringnya. Baik. Imas orangnya baik. Waktu itu seharusnya kami pergi merantau bersama-sama. Sudah dapat agen untuk ke Hong Kong. Tapi, Imas nggak jadi pergi. Saya titip anak ke Imas. Almarbumah nggak perhitungan. Nggak beda-bedain anaknya dengan anak orang lain."

Ia menutup ceritanya dengan mengangkat kedua tangannya dan mengucap doa. "Al-fatihah buat Imas."

40 Hari Mak Imas | 61

Di dalam rumah itu, Utari kembali diingatkan bahwa Imas adalah seorang perempuan biasa. Imas bisa jadi adalah tetangga rumahnya, bibinya, bahkan ibu kandungnya. Hayu bisa saja adalah dirinya.

Hari menjelang malam. Tanpa ada arahan dari MC, acara dengan sendirinya berubah dari seremonial menjadi cair. Beberapa tamu pamit pulang setelah besek dibagikan. Beberapa tetap tinggal dan berbincang santai. Beberapa membantu Hayu untuk beres-beres.

Ada sesuatu dari cerita singkat si perempuan paruh baya yang membuat Utari tergelitik.

Perempuan itu telah berpisah dari kerumunan. Ia keluar rumah, duduk di bangku teras yang

beralaskan tanah. Utari memerhatikannya mengeluarkan satu bungkus rokok dan korek api dari kantong bajunya. Mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya. Ia memandang kosong genangan air di depan rumah.

Melihat Hayu masih sibuk meladeni tamu dan beres-beres, Utari memutuskan untuk menghampiri perempuan paruh baya itu.

"Permisi, Ibu," kata Utari sambil tersenyum kepada si perempuan. "Boleh minta rokoknya?"

Si perempuan membalas senyuman Utari. Ia menyodorkan rokok dan korek apinya. "Mbak temannya Nak Hayu, ya? Dari Jakarta?"

"Iya, Ibu. Saya jurnalis. Beberapa kali saya wawancara Hayu tentang Ibu Imas," jawab Utari

terus terang.

"Ya, ya. Duduk sini, Mbak. Monggo. Menginap di mana?"

Percakapan bergulir dengan sendirinya. Utari bercerita kebingungannya selama perjalanan menuju ke rumah Imas. Rumah-rumah yang kosong, warga yang kebanyakan adalah lansia, warung-warung yang sepi. Ia bilang sore itu ia kehabisan rokok, lalu mampir ke sebuah warung Madura. Rokoknya yang biasa tidak dijual di sana. Utari akhirnya asal memilih rokok yang ada di etalase. Ia menyulutnya dan mendapati rokoknya apek.

Si perempuan tertawa. "Ya, begitulah, Mbak. Saya saja sudah beli stok rokok dari rumah. Di sini apa-apa susah. Semakin ke sini, kok, kayaknya semakin susah. Dulu masih ada sawah sedikit-sedikit. Sekarang, sejauh mata memandang, cuma ada kolam di mana-mana."

Utari jadi tahu ia tidak tinggal di sini. "Mampir saja sebentar. Datang tahlilan sekalian jenguk orangtua."

Dari percakapan itu pula, Utari mengetahui bahwa menikah muda-bahkan di bawah umur-adalah hal lazim di Desa Sayung. Sama seperti Imas, perempuan paruh baya itu juga menikah muda. Orangtuanya gagal panen, sementara utang semakin lama semakin menumpuk.

62 | 40 Hari Mak Imas

Demi meringankan tanggungan, orangtuanya menikahkan si perempuan dengan anak laki-laki dari kampung sebelah.

"Ibu Imas juga begitu?"

"Imas nggak ada yang suruh. Dia yatim piatu, toh? Tapi, ya, dulu anak-anak perempuan

seumuran saya tahunya lebih cepat menikah lebih baik. Mau ngapain lagi?"

Utari kembali teringat percakapannya dengan Hayu. Di usianya yang masih belia, Hayu telah

menyimpan memori pertengkaran yang terjadi antara Mak dan bapaknya. Hayu tidak pernah tahu

persis apa pemicu pertengkarannya, tetapi ia tahu masalahnya berkisar pada ekonomi.

Hayu, meskipun tak pernah mencoba menengahi, diam-diam selalu membela Mak. Ia tidak pernah merasa punya kedekatan emosional dengan bapaknya. Bahkan, semakin ke sini, rupa

bapaknya semakin pudar dari ingatannya-dan Hayu tidak terlalu memusingkannya.

"Memang mereka sering bertengkar," cerita si perempuan paruh baya. "Imas tidak dibolehkan bekerja oleh suaminya. Tapi suaminya sendiri sebenarnya tidak bisa menafkahi. Pada akhirnya tetap Imas yang cari uang dari hasil jahitannya. Tapi Imas tahu itu nggak cukup. Ia ingin menabung untuk Hayu sekolah yang tinggi-supaya Hayu punya nasib lebih baik dari dirinya."

Utari termenung lama. Ia mengisap rokok dan mengembuskannya panjang. Pertanyaan demi pertanyaan semakin menumpuk di kepalanya, tetapi ia tidak tahu mesti mulai dari mana. Dengan siapa akhirnya Imas berangkat? Apakah seorang diri? Di mana suami-

"Mbak..." Si perempuan memecah keheningan. Ia menoleh ke Utari.

“Ya, Ibu?”" "Menurut Mbak..." Si perempuan membiarkan kata-katanya menggantung. Ia menghela napas

sebelum melanjutkan pertanyaannya. "Menurut Mbak, apa Imas akan terhindar dari hukuman mati jika ia tidak lahir di sini?"

Utari menatap si perempuan. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Utari tahu persis perempuan itu tahu jawabannya.

Malam itu, gumpalan awan hitam menutupi cahaya rembulan. Genangan air di samping mereka berwarna kelam, menenggelamkan bayangan keduanya.

Mencan Penerang Menuju Jalān Pulang

MamaAsh

64 | Mama Asih

Oleh Ruhaeni Intan

Usiaku dua belas tahun saat pertama kali bertemu Mama. Dia tampak kaget melihatku sedangkan aku tampak tidak percaya diri meski telah memakai gaun yang gemerlapan. Kecantikan gaun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kecantikan para perempuan di sana. Ujung gaun berwarna charcoal itu berkali-kali aku tarik agar dapat menutupi bagian pahaku yang terbuka. Meski telah lewat tiga puluh tahun yang lalu tetapi sampai detik ini, setiap kali melihat gaun itu, aku masih bisa merasakan dinginnya udara yang berembus dari satu-satunya pendingin ruangan di rumah bordil itu. Pipiku juga mendadak terasa gatal seakan-akan bedak tebal masih tertinggal di balik pori-pori wajahku.

Sekarang usiaku 42 tahun. Aku adalah seorang ibu. Minggu depan putri semata wayangku genap berusia tujuh belas tahun. Tanggal lahirnya hanya beda satu hari dengan Mama. Golongan darahnya juga sama seperti Mama. Rambutnya pun ikal, tak ubahnya seperti Mama. Aku sendiri tidak mengerti mengapa anak biologisku memiliki banyak kemiripan dengan seorang perempuan yang memungutku. Walaupun keduanya memang berbagi nama tengah yang sama.

Usia kandunganku saat itu baru masuk trimester pertama. Hampir setiap pekan aku selalu mengunjungi Mama untuk bertanya macam-macam. Sebagai calon ibu, aku merasa membutuhkan sosok orang tua yang bisa menjawab kegelisahan-kegelisahanku dan Mama tampaknya senang dengan kehadiranku. Mungkin karena sadar perutku semakin besar, suatu kali Mama bertanya apakah aku sudah punya nama untuk si jabang bayi. Saat itu Mama sudah sembilan tahun mendekam di balik jeruji. Lima tahun pertama di penjara Kalisosok di Surabaya kemudian selanjutnya dipindahkan ke penjara Lowokwaru di Malang. Selama mendekam di dalam penjara, aku justru semakin dekat dengan Mama. Aku sadar Mama bukan orang suci. Tetapi kedekatanku dengannya yang tidak pernah aku dapatkan dari siapapun termasuk dari orang tuaku sendiri, telah mengubah ikatan kami, melebihi hubungan darah. Aku bilang, anak ini kelak akan punya nama yang sama dengan Mama. Asih. Agustina Asih Wulandari, Ma. Kami punya waktu 30 menit setiap minggunya. Tiga puluh menit adalah waktu yang sangat singkat untuk berbagi cerita tentang kegiatan kami dalam sepekan apalagi belajar tentang pengasuhan. Namun, siang itu, tidak sampai sepuluh menit Mama segera bangkit dari kursinya begitu mengetahui nama calon anak sulungku. Aku belum sampai mengerti apa yang terjadi dengan Mama. Tetapi setelah insiden itu, Mama tidak bersedia menemui siapapun yang menjenguknya. Kami putus kontak dengannya selama nyaris

Mama Asih | 65

enam bulan hingga datang sebuah surat yang dititipkan kepada seorang pendeta bernama Paulus, hanya beberapa hari menjelang persalinan.

"Sampeyan ngerti jenengku artine opo mbak?"1 katanya setelah kami duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Belum sampai aku membuka mulut, pria beruban itu telah melanjutkan kata-katanya. "Paulus... Pembawa kabar gembira."

Genggaman tanganku mengendur. Urat-urat saraf di leherku juga. Alangkah leganya mengetahui tidak ada kabar duka siang itu. Belum. Kabar duka masih bersembunyi di dalam tanah dan aku berharap ia tidak akan pernah menemukan jalan untuk naik ke permukaan.

Sejak saat itu, pintu rumahku selalu terbuka lebar untuk Om Paulus. Lelaki yang sosoknya lebih mirip Sinterklas ketimbang seorang pendeta yang telah mengabdikan seluruh waktunya untuk mendampingi para terpidana mati selama lebih dari 30 tahun.

Gaun itu masih aku simpan. Ada di laci almari paling bawah bersama surat dari Mama dan selembar foto saat kami sekeluarga pergi bertamasya ke Telaga Sarangan. Aku, Mama, Papa, Kak Ti dan Mas Sapto, dan Om Baim pegawai kesayangan Mama ikut dalam rombongan. Usiaku 17 tahun dan Kak Ti baru saja menikah. Usai mengadakan pesta pernikahan, mungkin sebagai tanda terima kasih, Kak Ti dan Mas Sapto mengajak kami sekeluarga berlibur. Tidak aku sangka, foto itu menjadi foto terakhir kami sekeluarga. Sebab hanya dua tahun berselang, peristiwa tragis itu terjadi. Peristiwa yang tidak hanya merenggut keluarga Om Pramono, tetapi juga keluargaku sehingga kini hanya tinggal aku dan Kak Ti yang tersisa.

Foto itu kini warnanya bahkan sudah pudar, tetapi memorinya tak pernah lekang oleh waktu.

Sedangkan gaun yang hanya pernah aku pakai sekali itu tidak berkurang keindahannya barang secuil pun. Aku sangat yakin gaun itu tidaklah murah, meski aku tidak pernah tahu berapa harganya. Sampai usiaku dua belas tahun, aku hanya tahu baju lungsuran. Bapakku terlalu miskin bahkan hanya untuk membelikanku selembar kutang. Gaun itu, barang mewah pertama yang aku miliki. Meski aku harus menebusnya dengan menggadaikan harga diriku. Aku selamat karena ada Mama.

1 Kamu tahu namaku artinya apa mbak?

66 | Mama Asih

"Kelas piro kon iku, Ning?"2 Mama bertanya kepadaku begitu Bapak pergi. Sepatu hak tingginya memaksa Mama membungkukkan badannya ketika bicara denganku.

Kalau sekarang aku masih sekolah mungkin sudah kelas satu SMP. Tapi aku hanya menjawab singkat. "Lulus SD, Bu."

Sorot matanya terlihat iba, tapi aku bisa menangkap kegelisahan Mama dari gerak-geriknya. Setelah mengedarkan pandangan ke arah pintu, Mama memerintahkan seorang pria yang kelak aku kenal sebagai Om Baim untuk mengantarnya pergi kemudian menggamit tanganku dan mengajakku masuk ke dalam mobil Suzuki Carry warna biru. Setelah itu yang aku ingat hanya ledakan amarah. Aku yang duduk di kursi tengah hanya dapat meringkuk seperti seekor anak kucing yang kehujanan sambil terus menarik ujung gaunku berharap agar sepotong baju yang kekecilan itu dapat melindungiku. Sedangkan Mama terus saja memuntahkan amarah, entah kepada Om Baim atau kepada siapa, aku tidak tahu. Tapi beberapa kali aku mendengar nama Bapak disebut. Berulang kali Mama memandangiku dari kursi depan. Kali ini aku tidak dapat menebak sorotan matanya. Aku terlampau takut dan gelisah dengan apa yang menantiku begitu sampai di tujuan. Meski kenyataannya tidak ada satu pun yang aku takutkan terjadi. Jika memikirkannya sekarang, aku merasa sangat kecil di hadapan kuasa Tuhan. Masa depan yang aku pikir telah sirna ternyata malam itu justru baru dimulai.

"Kon iku wayahe sekolah, Ning.3 Bukan malah biyayakan4 di tempatku," kata Mama begitu kami turun dari mobil. Kami sampai di muka halaman sebuah rumah yang sangat besar. Seorang gadis remaja, mungkin hanya beberapa tahun di atasku menyambutku di depan pintu dan bahkan setelah itu menarik lenganku lalu mengajakku ke kamarnya.

"Sopo jenengmu?" katanya sembari sibuk mencari-cari sesuatu di dalam lemari.

² Kelas berapa kamu itu, gadis muda? 3Kamu itu seharusnya sekolah, gadis muda *Main tidak kenal waktu. Dalam konteks cerita ini dapat diartikan keluyuran malam-malam. Siapa namamu?

Mama Asih | 67

"Hapsari."

"Hapsari thok?"6

“Agustina Hapsari, Mbak."

"Apik jenengmu,"7 ujarnya lalu sejurus kemudian menyodorkan satu pasang pakaian tidur

kepadaku. "Gantien sek yo pakaianmu. Gak elok cah cilik dandan menor ngono."

Kejadiannya begitu cepat. Aku tidak sanggup mencernanya dalam semalam bahkan hingga berminggu-minggu kemudian. Namun, yang aku tahu, sejak malam itu nasibku berubah arah. Tidak seperti bayanganku sebelumnya, tetapi... aku bahkan tidak tahu mesti bagaimana menyebutnya. Meski lolos dari lubang hitam yang aku yakini bakal membunuhku secara perlahan tetapi aku bahkan tidak berani menyebut hidupku berubah menjadi lebih baik. Tidak sampai Mama dan Kak Ti memperoleh keadilan.

Namanya Rosmalia Santi. Kelak aku akan memanggilnya Kak Ti. Satu-satunya anak perempuan Mama. Putri yang mewarisi bukan hanya kecantikan tetapi juga ketegaran Mama. Usia kami terpaut lima tahun. Kepribadiannya tenang dan pandai membawa diri. Sangat berbeda denganku yang mudah berkecil hati. Di awal-awal hubungan kami, tidak ada hari tanpa aku membandingkan diriku dengan Kak Ti. Sesuatu yang sangat aku sesali karena kami menjadi sulit membangun kedekatan. Sampai hari ini, terkadang timbul perasaan bersalah dalam diriku. Setelah peristiwa itu, Kak Ti benar-benar sendiri. Papa, Mama, dan Mas Sapto divonis hukuman mati karena telah membunuh Om Pramono dan keluarganya. Sedangkan Om Baim, yang membantu Mama membuang jasad Om Pramono dan keluarganya ke tengah hutan, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Kak Ti kehilangan semua orang, hanya beberapa bulan setelah menikah. Sampai sekarang, meski telah sepuluh tahun berlalu setelah kematian Mama, aku masih tidak sanggup memahami cara dunia bekerja. Benarkah telinga harus diganti dengan telinga? Nyawa diganti dengan nyawa? Hapsari saja? 7 Bagus namamu. 8 Ganti dul ya bajumu. Nggak pantas anak kecil dandan menor sert itu

68 | Mama Asih

Seminggu lagi putriku berulang tahun yang ketujuh belas. Usia yang sama dengan Kak Ti ketika kami pertama kali berkenalan dan dia meminjamiku satu set piyama yang aku kenakan dengan perasaan takjub. Kami berencana makan malam di rumah Kak Ti meskipun, ya Tuhan, susah sekali mengajak ABG merayakan ulang tahun ketujuh belas hanya dengan makan malam sederhana di rumah budenya. Gadis itu merengek ingin merayakan ulang tahunnya dengan menyambangi bioskop XXI yang baru buka di Plaza Araya. Kak Ti hanya tertawa mendengar permintaan keponakannya. Kebetulan rumah Kak Ti searah menuju Plaza Araya sehingga rencana sedikit berubah. Aku dan suamiku akan pergi mengantarkan putri kami dan ketiga sahabatnya ke Plaza Araya lalu sembari menunggu mereka selesai menonton, kami akan membantu Kak Ti menyiapkan makan malam.

"Koyok gak tahu enom ae seh kon iku, Sar," kata Kak Ti di telepon. Tawanya yang renyah dan rasa percaya dirinya telah kembali.

Hubunganku dengan Kak Ti menjadi dekat sejak putriku lulus SD. Mungkin Kak Ti merasa putriku, Agustina, mirip sekali dengan Mama yang mana itu artinya juga mirip dengan dirinya. Kak Ti sendiri baru menikah lagi dua belas tahun setelah kepergian Mas Sapto. Dia menikah dengan seorang pendeta, sahabat Om Paulus. Namun, keduanya memutuskan untuk tidak memiliki anak. Tidak sulit bagiku untuk memahami keputusan Kak Ti. Aku menyaksikan sendiri bagaimana Kak Ti berjuang melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya.

Setahun setelah Om Pramono dan keluarganya mati di tangan Mama, Kak Ti kehilangan separuh dari berat tubuhnya. Kak Ti yang aku lihat pada masa itu tidak seperti Kak Ti yang aku kenal. Berat badannya hanya seberat anak usia 12 tahun. Ia memaksa dirinya menjalani puasa mutih selama enam bulan berturut-turut. Hanya mengonsumsi nasi dan singkong rebus. Selain kehilangan berat badan, rambut Kak Ti juga mengalami kerontokan ekstrim. Dokter telah meminta Kak Ti menghentikan puasa yang dijalaninya karena mengancam kesehatan. Tetapi, Kak Ti bersikeras melanjutkan. Situasinya begitu kacau. Satu-satunya kerabat Kak Ti yang cukup dekat dengannya adalah istri Om Baim tetapi kondisinya juga sama terpukul. Tetangga dan teman-teman Kak Ti nyaris semua mengambil jarak begitu mendengar kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Mama dan hampir seluruh anggota keluarganya.

Kayak nggak pernah muda aja kamu itu, Sar.

Mama Asih | 69

Aku menyaksikan sendiri, begitu banyak orang yang meninggalkan Kak Ti dan ada lebih banyak orang yang menghakiminya. Tidak sulit membenci Mama dan setiap orang yang memiliki hubungan darah dengannya terlebih dengan latar belakang pekerjaannya sebagai pemilik rumah bordil. Tidak ada pilihan lain selain: jika kamu tidak membenci pembunuh dan keluarganya maka kamu adalah bagian dari mereka. Setiap orang yang aku tahu, menjadikan keluarga kami sebagai contoh bagaimana uang yang diperoleh secara tidak halal akan selalu membawa akibat buruk. Setiap orang tanpa terkecuali, termasuk mereka yang datang kepada Mama saat membutuhkan pinjaman atau pekerjaan.

Suatu kali di tengah kondisi kesehatannya yang semakin menurun, aku pernah datang mengetuk pintu rumah Kak Ti sambil membawakannya seikat bengkuang. Buah ini berwarna putih, aku bilang jika Kak Ti memakannya, dia tidak akan menyalahi aturan apapun.

"Aku cumak iso ngelakoni iki, Sar,10” kata Kak Ti dengan suara lirih. Tenaganya benar-benar habis, kulitnya pucat seperti mayat, dan rambutnya tidak lebih banyak dari rambut jagung. Aku seperti menyaksikan ombyokan tulang yang bersuara.

"Apa lagi yang harus aku lakukan supaya dosa-dosa keluarga kita diampuni Gusti Yesus, Sar?" tanya Kak Ti yang kini terisak. Usiaku saat itu baru genap dua puluh tahun, pengalamanku mungkin masih belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan orang dewasa lainnya di sekitarku. Tapi sampai aku mencapai usiaku saat ini, tidak pernah ada peristiwa lain yang menandingi getirnya perasaan yang aku rasakan pada usia itu. Pertanyaan itu merasuk jauh ke dalam darah dan dagingku dan membuntutiku sampai hari ini. Bagaimana mungkin menjawab pertanyaan itu. Jauh lebih mudah menenggelamkan diri ke dasar laut dan menyerahkan diri kepada teka-teki kedalaman samudra yang tidak pernah terpecahkan.

Tepat setahun setelah peristiwa tragis itu, Pengadilan Negeri Surabaya menjatuhi vonis hukuman mati kepada Mama, Papa, Mas Sapto, dan Om Baim. Namun, dua tahun setelah putusan itu, Om Baim mendapatkan remisi hukuman menjadi penjara seumur hidup. Kak Ti berhenti menjalani puasa mutih setelah Mama dan keluarga memperoleh vonis hukuman mati. Semula aku berpikir mungkin Kak Ti telah mendapat jawaban atas pertanyaannya. Namun, dugaanku jauh meleset. Setelah mendengar vonis hukuman mati, gejolak amarah yang begitu besar menguasai Kak Ti. Meski situasinya tidak sekacau sebelumnya, namun Kak Ti begitu meledak-ledak. Sorot matanya

10 Aku hanya bisa melakukan ini, Sar.

70 | Mama Asih

menyiratkan deru amarah yang berkobar-kobar. Aku teringat Kak Ti sesumbar mengajakku menemui seluruh pengacara terbaik di Surabaya yang dapat mengubah putusan Mama.

"Semua orang harus tahu bahwa yang dilakukan ibuku hanya melindungi anaknya dari kejaran seorang pria yang tidak pernah puas dengan nafsu duniawi. Sekarang katakan padaku, tidakkah kamu akan melakukan hal yang sama jika seorang pria tua bau tanah menginginkan anakmu yang bahkan telah kamu nikahkan dengan laki-laki pilihanmu? Tidak pernah ada asap kalau tidak ada api. Sekarang siapa yang akan menghukum bajingan yang telah melecehkanku dengan tatapannya yang menjijikkan itu?"

Kenyataannya, vonis mati atas Mama, Papa, dan Mas Sapto tidak pernah berubah meski uang kami telah habis untuk membayar pengacara. Dan bukan hanya itu, eksekusi mati terhadap Mama baru dilakukan setelah dua puluh tahun Mama mendekam di penjara. "Kalau eksekusi itu satu-satunya jalan untuk memperoleh maaf, aku pasrah. Aku capek. Biarkan aku tidur dalam keabadian," kata Mama dengan suara lirih bahkan nyaris tak terdengar. Dua bulan sebelum dieksekusi oleh regu tembak, kami masih bertemu setiap pekan, namun di balik sikapnya yang tenang, aku menyadari Mama tidak lagi menyimpan harapan.

Papa lebih dulu meninggal di penjara karena serangan jantung. Sedangkan Mas Sapto dieksekusi mati sepuluh tahun setelah vonis dijatuhkan. Para hakim yang mulia tidak pernah sekalipun mempertimbangkan bagaimana Om Pramono memperlakukan Mama semasa hidupnya. Caci maki, hinaan, pemerasan, pelecehan, dan bahkan penganiayaan yang dilakukan oleh Om Pramono setiap Mama terlambat memberikan uang setoran atau uang setoran yang diberikan kurang, sama sekali tidak dipertimbangkan. Dengan seluruh gejolak dan kesulitan yang berhasil dilalui oleh Kak Ti, sangat mudah bagiku memahami keputusan Kak Ti ketika suatu hari ia menyatakan keinginannya untuk tidak pernah memiliki anak.

"Biar kutukan ini berhenti di aku," katanya dengan penuh keyakinan.

Surat itu datang persis lima hari sebelum persalinan. Perutku sudah sangat besar. Untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan kaki pun, aku harus dibantu oleh suami. Duduk tidak boleh terlalu lama atau nanti kakiku akan bengkak tetapi berdiri juga tidak boleh lama-lama

Mama Asih | 71

atau aku akan kelelahan. Punggungku terasa sangat nyeri karena harus menanggung beban di dalam perut sedangkan payudaraku berdenyut-denyut seperti mau meledak. Betisku terasa pegal seperti seseorang yang baru saja mengayuh sepeda sejauh 15 kilometer. Penampilanku secara keseluruhan mirip dengan seekor beruang lapar. Namun, seluruh penderitaan ini seakan-akan dengan mudah tertanggungkan tatkala membayangkan tangis seorang anak. Aku tidak lagi heran jika seorang ibu sanggup berkorban nyawa sekalipun untuk anaknya. Saat sedang mengurut betisku secara perlahan, saat itulah aku mendengar pintu rumahku diketuk. Susah payah aku berdiri dan berjalan mencapai pintu hanya untuk mendapati seorang pria beruban tengah mencetuti kumisnya yang juga

berwarna putih. Pria itu lantas memperkenalkan dirinya dengan nama Paulus.

"Pembawa kabar gembira," katanya dengan membusungkan dada.

Sepuluh menit kami bicara dan aku sudah dua kali tertawa dengan leluconnya. Om Paulus, begitu aku memanggilnya. Seorang pendeta tua yang humoris. Kehadirannya pasti sangat menghibur bagi para terpidana mati.

"Dari mana Om belajar komedi?"

"Setiap orang yang dekat-dekat dengan kematian pasti akan menemukan sesuatu untuk ditertawakan. Kesedihan tidak ada nilainya bagi orang yang tahu kapan akan mati."

"Kalau begitu, sering-sering buat Mama tertawa ya Om."

"Ah, ibu kamu juga pandai membuat lelucon."

Aku tersenyum mendengar perkataan Om Paulus bahkan jika dia berbohong sekalipun. Aku sangat berharap Mama sering tertawa di dalam sel.

"Oh, dia juga menitipkan sebuah surat!"

72 | Mama Asih

“Untukku?”

"Untukmu," kata Om Paulus sambil menyodorkan sebuah amplop kecil yang diambil dari kantong bajunya. Kumisnya bergoyang-goyang mengikuti gerak bibirnya.

Untuk Hapsari,

Asih adalah nama pemberian dari ibuku yang sangat miskin. Saking miskinnya, dia tidak dapat membayangkan kesuksesan selain kesuksesan yang diperoleh majikannya yang bernama Sri Asih. Namun, majikan mana yang tidak tersinggung bilamana mengetabui namanya dipakai oleh seseorang yang kastanya ada di bawahnya. Jadilah namaku Suwarsih alias Asih. Agustina Asih Wulandari nama yang bagus. Pinter kamu cari nama. Aku cuma bisa ngirim doa semoga cucuku sehat dan membawa kebahagiaan bagi orang tuanya. Itu saja doaku. Nasib buruk tidak akan menimpa keluarga kita dua kali. Mugi Tuhan Yesus tansah maringi berkat."

Biyungmu, Suwarsih alias Asih

Susah payah aku menyembunyikan air mataku yang derewesan1² di hadapan Om Paulus. Butuh waktu enam bulan bagi Mama untuk meyakinkan diri bahwa nasib buruk yang menimpanya sejak kecil tidak akan menimpa orang lain meski orang itu bukan darah dagingnya. Tidak ada satupun orang yang minta dilahirkan di keluarga miskin. Salahkah jika orang itu susah payah mengentaskan dirinya dari kemiskinan yang mencekik leher meski dengan cara yang dibenci banyak orang? Seberapa besar harga yang harus dibayar untuk keluar dari jerat penderitaan? Apakah Si Kaya juga mengalami kesulitan yang sama hebatnya dengan yang dialami oleh Si Miskin? Om Paulus menyodorkan tisu namun air mataku tak juga mau berhenti.

Setelah kepergian Mama, kami sekeluarga, aku dan Kak Ti bersama suami kami memutuskan untuk pindah ke Malang. Kak Ti merasa ingin lebih dekat dengan Mama yang dimakamkan di kampung halamannya di Klojen, Malang. Jarak antara rumahku dengan rumah Kak Ti sekitar 20

11 Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati. 12 Mengalir deras,

Mama Asih | 73

kilometer. Sampai sekarang, kebiasaan buruk membandingkan diri dengan orang lain itu tidak dapat dihentikan. Terkadang, hal itu terjadi secara alamiah tanpa ada niat untuk membandingkan siapa yang lebih baik dari siapa. Kak Ti kini hidup bersama suami dan seekor anjing di sebuah rumah sederhana di RSS Samaan Kidul. Hari-harinya begitu santai tanpa keinginan berlebihan untuk mengejar materi. Orang masih sering syok ketika mengetahui bahwa Kak Ti adalah putri semata wayang dari perempuan bernama Suwarsih yang telah membunuh seorang tentara. Sesekali masih ada penolakan dalam bentuk yang paling halus yang dialamatkan kepada kami begitu mereka mengetahui tentang fakta itu. Namun, dari Kak Ti aku belajar untuk tidak lagi ambil pusing. Meskipun perasaan bersalah itu tidak pernah benar-benar sirna. Terkadang aku berandai-andai bagaimana jika orang tahu perempuan yang dicap sebagai pembunuh keji itu adalah perempuan

yang sama yang menyelamatkanku dari lembah hitam. Masihkah mereka berpikir nyawa harus

ditukar dengan nyawa?

Pukul tujuh malam lewat sepuluh menit, Agustina yang berbagi nama tengah yang sama dengan Mama sampai di rumah Kak Ti bersama teman-temannya. Seorang laki-laki ikut dalam rombongan yang membuatku mengerutkan dahi. Kak Ti yang menyadari kecemasanku segera mencolek

pinggangku dan mengerlingkan kedua matanya. "Santai saja, namanya juga ABG," kata Kak Ti

setengah berbisik.

Dua tahun lalu, putriku pernah dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Dalam keadaan lemas, ia tidak berhenti menangis karena rasa sakit yang dideritanya. Saat itu, yang terus-menerus ada di dalam pikiranku adalah bagaimana caranya agar rasa sakit itu dapat berpindah ke tubuhku. Dari kejauhan, laki-laki muda itu tak sedikit pun lolos dari pandanganku. Sebagai seorang ibu, kini aku mengerti sepenuhnya apa yang dilakukan oleh Mama untuk Kak Ti. Tugas seorang ibu adalah menjaga anaknya.


Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang

Tuackd

Tuack!

Oleh Soni Triantoro

Telah ditetapkan waktu paling beradab untuk membuat jantungnya bisu. Menggelontor keluar cahaya dari kedua matanya, menyisakan gelap yang pekat baka.

Mengapa bukan di pagi buta? Itu jamnya para petani dan pedagang susu, aktivitas yang terlalu vulgar untuk sebuah upacara hukum yang mulia. Mengapa bukan tengah hari? Itu waktunya para filsuf untuk makan siang dan berdebat, dan barang tentu kita tidak ingin mengusik selera makan mereka dengan urusan cuilan. Tidak, tidak. Waktu yang mereka pilih akhirnya adalah puncak senja, sebuah kompromi paling teatrikal. Kala matahari, penerang akal budi, perlahan-lahan merunduk tumbang. Ini adalah jamnya para birokrat. Mereka telah menghabiskan hari itu dengan menandatangani kertas-kertas yang menyatakan bahwa langit itu biru, dan sekarang, dengan tarian jari yang sama, mereka mengizinkan apa yang bakal terjadi bergulir saja bak kelereng di luncurannya.

Jadwalnya memang menunjuk hari Kamis, pukul lima tepat, sangat cermat. Kalender resmi negara bahkan memberi catatan khusus: "Harap tepat waktu."

Undangan resmi sudah edar. Jaksa eksekutor telah menyiapkan pidato tiga menit tentang tegaknya hukum. Para algojo berlatih menembaki papan kayu hingga lubang-lubangnya menyerupai bintang di sawang langit. Rohaniawan juga dipanggil, lengkap dengan naskah doa yang sudah dicetak rapi dalam lima rangkap. Ini pertunjukan yang kudu pentas tanpa cela. Dan sementara itu, di kedai-kedai kopi, para warga yang baik, yang ikut menyepakati putusan ini, dengan bersulang, merayakan sebuah kepastian yang indah, bahwa segalanya telah berjalan sebagaimana mestinya, pada waktunya.

Sang Terpidana, yang telah menghitung setiap detiknya seperti seorang akuntan menghitung

keping emas, mendapati bahwa kekayaannya telah habis. Ia diserahkan kepada para petugas yang

rapi seragamnya, yang melaksanakan tugas mereka dengan taraf presisi sebuah arloji yang tidak didesain untuk ragukan mengapa jarumnya harus bergerak.

Semua sudah siap, kiranya.

Tatkala matahari di ambang tiarap, sebuah kabar datang dari kantor pusat: eksekusi ditunda, sebab ketidaksesuaian tanda tangan antara surat keputusan dengan lampiran berita acara. Tidak sah, berkat perbedaan kecil pada tanda tangan saksi dari kepolisian: yang satu mencong ke kiri, yang lain merot ke kanan. Jaksa ciut untuk ambil risiko. "Bagaimana kalau nanti ada gugatan?" Maka

Tuack! | 75

eksekusi ditunda. Para algojo melipat kembali senapan mereka, seperti musisi orkestra yang membungkus trombon dan klarinetnya sebelum konser dimulai.

"Tenang saja," ujar jaksa dengan raut yakin. "Hanya perkara administrasi kecil. Begitu tanda tangan diganti, eksekusi bisa dilanjutkan."

Tanda tangan itu tidak kunjung datang.

**车

Kali pertama surat permohonan grasi itu dikirim, berangkat dari sel yang lembap, ditulis dengan tangan gemetar, dan disegel air mata keluarga yang tetesannya bikin beberapa baitnya tak terbaca. Surat itu menjauh perlahan, melewati pos lapas, meja panitera, lalu ditumpuk bersama ratusan berkas lain di kolong rak berdebu.

Setiap kali surat itu hendak naik ke meja pejabat, ia harus mengantre. Pertama, dengan berkas proyek pembangunan jalan. Kedua, dengan laporan perjalanan dinas. Ketiga, dengan undangan rapat koordinasi. Surat itu harus sabar menunggu giliran, hanya untuk diserobot proposal anggaran. Suatu kali terjebak di lemari arsip selama dua bulan, karena petugas cuti menikah. Sempat terlupa di bawah tumpukan majalah olahraga, sementara staf biro sibuk membicarakan skor pertandingan. Ujung-ujungnya, ketika akhirnya sampai di kementerian, surat itu kembali tertahan di mesin pemindai yang macet.

Singkat cerita, sesingkat-singkatnya, lembaran yang telah lusuh itu berhasil mendarat di meja presiden. Inilah momen sakral yang ditunggu banyak orang: satu tanda tangan bisa mengubah riwayat hidup seseorang. Para pengawal menunduk, sekretaris menahan napas berat. Sang presiden membuka map biru itu, mengeluarkan selembar kertas, menatapnya sekilas—hanya sekilas, mungkin sepanjang dua kedipan mata, sehingga kiranya tidak dibaca utuh kecuali presiden ini punya kecepatan membaca laiknya mesin fotokopi. Dengan gerakan ringan, ia menorehkan tinta hitam di pojok kanan atas: "DITOLAK." Tidak ada alasan. Tidak ada catatan pinggir. Tidak ada waktu untuk memperhatikan paragraf demi paragraf yang disusun amat awas diksi per diksi. Hanya satu kata jatuh menutup kembara panjang surat itu.

Maka surat itu kembali dilipat, dibawa turun, dan dikirim balik ke penjara. Sang Terpidana menunggu lima tahun demi membaca kata itu: "DITOLAK." Rautnya seperti biji besi barusan menerobos ke dadanya, seakan-akan eksekusi terjadi saat itu juga. Advokatnya menyampaikan maaf, ya apalagi? "Kita sudah mengusahakan apapun, tapi memang presiden yang bisa menentukan. Mungkin akan lain cerita jika presidennya masih si anu dan anu..." tukasnya sembari mulai mengguyurkan analisis historiografi politik dan hukum pidana, sementara Sang Terpidana hanya menimpali dengan tatapan gersang. "Sisa usia Anda sekarang ada di tangan Jaksa Agung, barangkali

76 | Tuack!

tak akan lebih dari enam bulan lagi." Berjeda kecil, advokat itu menyambung lirih, "Betul, sisa waktunya tak banyak."

Nyatanya, hitungan advokat itu menggelingsir, hingga akhirnya menceng jauh-jauh dari kenyataan.

Penolakan grasi dari presiden rupanya makan waktu tahunan untuk membuat Sang Terpidana ditetapkan eksekusinya. Alasannya, anggaran pelaksanaan belum tersedia, malahan dipakai membiayai proyek perumahan fiktif pejabat setempat. "Tidak apa-apa," kata Jaksa kembali dengan senyum datar, "kita jadwalkan ulang.”

Tahun berikutnya, laporan audit menemukan dana eksekusi sudah dipakai untuk pengadaan kursi listrik ramah lingkungan. Kursinya konon bertenaga surya, bisa ditekuk jadi kasur, bahkan ada sertifikat bercap emas. Sayang, barang itu tak pernah sampai, yang ada hanya beberapa kwitansi palsu dan selembar brosur pameran teknologi. Maka eksekusi kembali ditunda

Tahun ketujuh, keluarga korban makin gelisah. "Mengapa hukuman tak dijalankan?" tanya mereka. Negara, diwakili berlapis-lapis pejabat, kompak tenang satu suara: "Kami sedang memastikan semua prosedur sesuai aturan."

Tahun kedelapan, Sang Terpidana anjak menua. Seorang sipir sempat lempar canda dengan kepala lapasnya, "Jika kelamaan, takutnya ia mampus duluan, tersalip sakit jantung atau stres." Kepala lapas ketawa tawar, sebab dua jam sebelumnya ia sudah dengar kabar bila anggaran eksekusi terbaru pun sudah tersedot ke perjalanan dinas studi banding regu tembak ke Eropa. Menyusul pula kabar lain menteri yang ingin membuat sistem digitalisasi eksekusi tapi justru anggarannya raib lagi. Mereka mulai lempar-lemparan kesalahan, dari pengadilan, ke kejaksaan, kementerian, sampai polisi. Gelombang aktivis mulai menggugat presiden karena menganggap asal-asalan menolak grasi. Sampai-sampai, presiden yang gerah dipepet kanan-kiri memutuskan membangun Komisi Eksekusi

Nasional yang tak jua rampung menyusun tupoksinya.

Tahun kesembilan, dan setiap tahun berikutnya, ada harinya Sang Terpidana dibangunkan, dipakaikan baju putih bersih, lalu digiring ke lapangan eksekusi. Algojo sudah bersiap, rohaniawan sudah membuka kitab sucinya. Tetapi, akan ada kurir berlari terburu-buru membawa kabar baru: stempel hilang, honor penembak belum turun, keliru nomor registrasi, salah ketik nama, atau pejabat sakit gigi.

Demikianlah bagaimana segalanya berjalan. Vonis itu tak pernah hangus, hanya selalu tanggal sementara. Sang Terpidana kian tenar, wartawan menjulukinya “terpidana paling beruntung di dunia." Beberapa majalah internasional bahkan memasang tajuk ala "The Man Saved by a Typo." Dari bahan omongan melebar ke bahan tontonan, rombongan mahasiswa hukum datang melakukan studi banding ke penjara. Para dosen menjelaskan dengan jumawa: "Lihatlah, inilah

Tuack! | 77

bukti nyata betapa ketatnya prosedur hukum kita. Tanpa tanda tangan yang sah, peluru pun tak boleh dilepas." Seorang komedian lontarkan lelucon: "Di negeri kita, lebih mudah mati saat antre layanan kesehatan murah daripada dibedil regu eksekusi," derai tawa penonton memanjang.

Di televisi, para pengamat bertengkar sengit. Ada yang bilang ini tanda kelalaian fatal, ada pula

yang menganggapnya beban negara. Ada pula kaum agamawan yang berdebat: apakah ia sudah

dihitung mati secara spiritual mengingat hukuman telah dijatuhkan, atau ya masih hidup sebab secara jasmani ia masih bisa mendosa? Yang lain lebih haus menguliti bagaimana Sang Terpidana telah berubah dari manusia menjadi teka-teki teologis. Komentar dan debat muncul dari mana saja, termasuk oleh profesor, politikus, dan pemengaruh:

Profesor: "Dalam teori hukum, penundaan eksekusi bertahun-tahun ini bentuk penyiksaan psikologis. Negara bukan saja menghukum mati, tapi juga menghukum dengan menunggu mati. Itu melanggar prinsip hak asasi manusia paling elementer: kepastian hukum."

Politikus: "Saya kira jangan terburu-buru menyalabkan negara. Kita harus memahami ada prosedur administrasi yang harus ditaati. Kalau anggaran eksekusi dipakai hal lain, itu kan bukti bahwa pengawasan perlu diperkuat, bukan bahwa sistemnya salah."

Pemengaruh: "Saya jujur kaget banget ya. Bayangkan, sudah sepuluh tahun loh orang ini menunggu mati. Ini negara bagaimana? Adub... masa tiap hari di-prank? Loading tidak kelar-kelar."

Profesor: "Ini bukan soal prank, Mas. Ini tentang kesewenangan yang dibungkus prosedur. Apa artinya hukum jika ujungnya hanya tergantung printer yang macet atau dana yang dikorupsi?"

Politikus: "Tolong hati-hati, Profesor. Jangan menyebut korupsi seolah itu kesengajaan. Kadang ada salah input, ada perbedaan kode akun, ya jadinya tertunda. Itu biasa dalam birokrasi."

Pemengaruh: "Wab, kalau salah input bikin orang nggak jadi mati, berarti excel lebih berkuasa daripada hakim dong, Pak?"

Profesor: "Tepat sekali. Kita sedang hidup di republik sel serbaguna: sel tahanan dan sel Excel. Dan keduanya bisa sama-sama mematikan."

Politisi: "Aduh, Prof... jangan terlalu hiperbolis. Lagipula, terpidana itu kan memang pantas

mati. Tinggal tunggu waktu saja. Lebih cepat, lebih lambat, apa bedanya?"

Pemengaruh: "Bedanya banyak, Pak! Kalau cepat, dia mati. Kalau lambat, dia jadi konten Dan publik cinta drama. Tapi serius ya, ini bukan lagi soal pantas atau tidak pantas. Ini soal negara yang nggak bisa kerja rapi. Kalau eksekusi saja tertunda, gimana proyek jalan tol?"

78 | Tuack!

Profesor: "Bayangkan, orang ini tergantung di antara dua tebing: di satu sisi negara telah merampas hak bidupnya, di sisi lain negara belum mampu menunaikan janji kematiannya. Ia bukan lagi rakyat, bukan pula arwab."

Politisi: "Sudablah, saya pikir negara terus berbenah soal ini. Toh jangankan orang yang

bersalah, yang tidak bersalah saja banyak menderitanya. Jangan-jangan kita salah pilih topik ini..."


Waktu telah lepas kendali. Hakim yang menjatuhkan vonis sudah wafat, presiden berganti dua kali—dari anak, lalu menantunya—sementara Sang Terpidana tetap berada di bui, menantikan kandas yang tak ada tibanya. Rambutnya memutih, punggungnya bongkok, giginya luruh satu demi satu, tetapi status hukumnya tak berubah: Ia tetap "terpidana mati menunggu mati."

Gerbang penjara berderit dibuka. Seorang wartawan paruh baya melangkah masuk, tas selempang menggantung, kertas catatan dan perekam suara siap di tangan. Wajahnya tegang, tapi matanya berbinar, mungkin ini tangkapan terbaiknya selama ini sebagai pemburu cerita. Ia ditugaskan bawa pulang "kisah humanis" untuk medianya, sementara editornya dari kantor sudah menyiapkan opsi judul-judul yang tak tertahankan seksinya, dengan kata eksklusif tebal-tebal di depan.

Lorong penjara pengap, bau kerak besi dan jenuh uap menusuk hidung. Sipir mengantarnya ke sebuah sel berjeruji. Di dalam, Sang Terpidana duduk di bangku besi, menunduk, jarinya sibuk menggurat-gurat lantai dengan potongan kapur kecil. "Selamat siang," sapa wartawan, suaranya meragu. Sang Terpidana mengangkat kepala. Matanya agak merah, ia tersenyum samar.

Sebatas lima menit kesempatan yang diberikan. Maka wartawan itu segera mengawali, dilempar satu pertanyaan kunci: "Saya ingin mendengar dari Anda langsung. Bagaimana rasanya menunggu eksekusi yang tertunda-tunda?"

"Rasanya seperti menunggu kereta api yang tak datang-datang. Bedanya, penumpang kereta masih bisa pulang kalau bosan menunggu. Saya?Saya harus tetap duduk di peron sampai kereta itu tiba, sambil mengamati rel-rel yang makin berkarat."

Wartawan itu kelihatan tak terlalu siap menerima jawaban sedingin itu, kiranya malah lebih siap jika dijawab dengan tangisan. Seraya canggung dan menahan napas dalam, ia menenangkan diri, memastikan alat rekamnya masih menyala, lalu melempar pertanyaan kedua, "Bila waktunya betul-betul tiba, Anda berharap eksekusinya seperti apa?"

Tuack! | 79

Sepatutnya wartawan itu lebih siap dari pertanyaan pertama. Tapi jawaban yang ia dengar ini kemudian tak pernah masuk dalam prediksinya, atau perkiraan bersama editornya. Setidaknya ia tak harus lagi melempar pertanyaan baru karena jawabannya sudah teramat panjang:

"Mati itu biasanya sederhana: cukup berhenti bernapas. Tapi di negeri lain, lebih tertib, mati baru sah jika otak padam semua. Ada pula yang menunggu batang otak tumbang. Kita boleh memilih menu: mau mati dari paru-paru, dari jantung, atau dari otak. Bukankah murah hati?

Lihatlah hukuman tembak. Konon diarabkan ke jantung, biar lekas dan bersih. Kalau jantung yang kena, jantung langsung hancur dan pecab, maka tidak ada sirkulasi darah, sebingga dalam erangan 7 sampai 11 detik orang itu akan pingsan. Tapi betapa lucabnya peluru. Ia kadang hanya menyobek pembulub, membiarkan orang meronta dalam genangan darab. Jika yang kena cuma sekitar jantung, orang itu baru pingsan setelah mengalir banyak darab. Jadi, negara menembak, tapi tubublah yang bekerja keras menyelesaikan sisanya.

Eh, katanya para ahli, kalau ditembak tepat di kepala kemudian terkena otak, maka saat itu juga mati. Sedangkan kalau dipenggal lehernya berarti ada tenggang waktu 7 sampai 11 detik kemudian total pingsan, sama dengan cara tembak.

Suntik mati lebih halus katanya. Orang dipasangi dua infus melalui vena, satu sebagai cadangan, kemungkinan satu sebelah kiri dan satu sebelah kanan. Dimulai dengan obat bius yang namanya Topental sebanyak 5 gram, agar tampak manusiawi. Lalu otot dilumpubkan, supaya tak ada yang mengganggu estetika kematian. Namanya Pavulon, diberikan sebanyak 8 miligram. Dan akhirnya kalium klorida, dengan dosis 50 c, hadiah terakhir yang membuat jantung terhenti perlaban. Jika disuntik potasium klorida belum bikin tidur, malah terasa sakit sekali seperti serangan jantung karena golnya sama, tidak adanya oksigen dalam jantung. Dibandingkan dengan tata cara hukuman mati yang lainnya, disuntik mati kelihatannya lebih elegan, asal benar caranya. Akan tetapi dokter-dokter menolak melakukannya, karena sumpah profesi. Maka negara pun menyerabkannya kepada orang-orang yang kurang terampil, babkan tak pernah lulus kursus medis.

Gantung? Ah, itu favorit klasik. Bila tali, tinggi, dan simpul dihitung dengan cermat, sebingga mengakibatkan patah leher, maka waktu yang dibutubkan sama dengan dipenggal leher tapi kenyataannya jarang terjadi, oleh karena mungkin ototnya kuat sehingga tidak langsung patah dan akhirnya hanya seperti orang dicekik. Kalau orang dicekik, maka akan tetap sadar kira-kira sampai 5 menit. Tetapi bila sedikit salah kalkulasi, tubuh akan menari di udara, lidah menjulur, mata mendelik, bingga kadang tak tertahan menumpabkan isi perut. Sungguh teatrikal.

Ah, balik ke pertanyaanmu, mati seperti apa yang saya mau? Itu bukan pertanyaannya tadi? Apakah itu penting? Tidak. Ini cuma seni. Dan sebagaimana semua seni, tidak pernah penting, kan? Seni memutuskan bagaimana penderitaan harus dikoreografikan: seketika atau perlahan, sunyi

80 | Tuack!

atau penuh jerit, bersih atau berantakan... Kelak kamu bisa tulis dan masukkan itu di rubrik budaya, karena sejauh ini kesalahan-kesalahan pejabat hanya membuat saya masuk rubrik politik,

sebelahan dengan berita peresmian jalan layang..."

Wartawan itu pulang. Lusa, satu artikel terbit dengan judul yang tak tertahankan seksinya, dengan kata eksklusif tebal-tebal di depan.


Angin berayun lebih malas dari biasanya. Bagai mempersilahkan segala yang kejadian biarlah kejadian, beri jalan untuk rencana apapun berlangsung serapi-rapinya karena bahkan angin tak berniat menggeser sebutir debu di lantai pun. Maka telah terkemas rapi pula arena eksekusi tergelar. Para algojo sudah kasak-kusuk, merasa ragu apakah kali ini mereka benar-benar bisa menunaikan tugasnya. Beberapa di antara mereka sudah berkali-kali ketiban mandat untuk menembak Sang Terpidana, tapi selalu pulang dengan tangan bersih, tanpa aroma mesiu sama sekali. Ah, tapi hari ini rasanya akan lain.

"Tak ada lagi tanda tangan yang salah kolom? Dokumen yang terselip? Pejabat yang mangkir?" kepala lapas bertanya pada sipir, didengar Sang Terpidana seraya menenggak kopi dan mengenakan atasan putih. "Aku sudah mengatakan ini berulang kali padamu, dan nyatanya semuanya berguguran, tapi kali ini kukira kita benar-benar tak akan berjumpa lagi." Sang Terpidana hanya diam, melanjutkan langkah-langkahnya. Barangkali ia tak tahu juga harus menyahuti apa. Mungkin tak mengenali kehendaknya lagi, apakah berharap kali ini akan ada lagi insiden dungu yang akan merintangi kematiannya, atau justru sebaliknya, justru berharap semua berjalan selaras rencana, sehingga derita habis satu suap. Yang pasti, kakinya terus bergerak mengikuti arahan petugas dari kejaksaan. Ia sudah sangat hafal ke mana kakinya harus menapak, telah fasih menyambut ajalnya. Malahan beberapa petugas yang baru dan muda justru yang terbelit kikuk mengarahkan Sang Terpidana.

Senja merah itu, dengan keanggunan yang biasanya tersedia untuk upacara kenegaraan, hanya muncul demi memayungi seorang manusia yang digiring keluar dari selnya diapit dua sipir berjalan di kanan kiri, dengan ekspresi wajah yang tak kalah muram dari lampu neon penjara yang berkelip-kelip, setengah hidup, setengah padam.

“Waktunya," kata Jaksa Eksekutor. Kata yang selalu sama.

Sang Terpidana menerima kain penutup mata. Oh, tapi ia menolak pakai. Ia ingin menyaksikan negaranya bekerja sampai detik terakhir, katanya. Anggap saja ini permintaan terakhir. Jaksa tak keberatan, yang penting ia mati dulu, urusan prosedural kecil diurus belakangan. Langkah-langkahnya bergema, melewati pintu besi, melewati koridor panjang, melewati para tahanan lain yang menahan napas. Keluar ke lapangan, ia disambut pemandangan familiar: regu

Tuack! | 81

tembak berjajar rapi, dokter yang membawa tas kecil seolah hendak memeriksa pasien flu, jaksa dengan map tebal, dan rohaniawan yang berdoa dengan suara lirih—mungkin untuk dirinya sendiri.

Sang Terpidana diikat pada tiang kayu. Seorang manusia yang hidupnya dikurung bertahun-tahun kemudian dipaku seperti papan pengumuman, agar dunia bisa membaca pesan negara, "Lihatlah, inilah cara kami menyelesaikan masalah." Komandan regu tembak memberi aba-aba.

“Siap!"— diucapkan dengan suara lantang.

"Bidik!"— pada momentum ini, Sang Terpidana mungkin mulai berpikir, ah tidak pernah sejauh ini, betul ini akan jadi yang terakhir. Dan ia masih belum memutuskan apakah ia bersyukur atau nelangsa karenanya. Hanya saja air mata mulai mengalir.

"Tembak!"—dan peluru pun melesat, bunyi mesiunya meyakinkan.

Semua terdiam. Hening barang tiga detik. Sang Terpidana malah batuk kecil, seperti orang tersedak ludahnya, sambil mengeluh asap mesiu bikin matanya perih. "Apakah sudah mati?" tanya Jaksa sambil melirik jam tangannya, takut jadwal sarapannya terganggu. "Belum," jawab Algojo, heran sendiri karena senapan yang ia rawat dengan penuh disiplin kini tampak seperti mainan bocah. Alih-alih nyawa dicabut seperti mencabut colokan TV, nyatanya Sang Terpidana masih hidup, dadanya tetap bernafas dengan ritme biasa. Kelabakan melanda. Kali ini bukan karena administrasi, tapi ada nyawa yang tak bisa dicerabut oleh api.

Para jaksa segera mendiskusikan kemungkinan peluru palsu. Hakim Agung menuduh algojo memakai senjata murahan impor. Berita segera meluncur ke telinga Menteri. Panik, ia lapor ke Presiden. "Kalau keadilan tak terlaksana, wibawa negara runtuh!" kata Presiden. Maka perintah percobaan kedua segera turun: gantung di tiang kota. Warga berdatangan, pedagang asongan menjajakan kacang rebus, bahkan televisi nasional menyiarkan langsung dengan iklan deterjen di sela-sela. Tali pun dijeratkan ke leher sang terpidana. Kursi ditendang. Tubuhnya terayun. Penonton menahan napas. Namun sepuluh menit berlalu, wajahnya tidak biru, matanya tetap terbuka, dan ia malah berteriak kesal, tak terlalu jelas, tapi kira-kira bibirnya berkata, "Tolong turunkan, tali ini bikin gatal!"

Kegaduhan pecah. Ada yang menuduh panitia membeli tali abal-abal. Ada yang curiga sang terpidana diam-diam berlatih yoga pernapasan. Televisi menutup siaran lebih cepat dari jadwal, takut rating anjlok karena eksekusi berubah jadi komedi. Koran esok hari memuat berita besar: "NEGARA GAGAL MEMBUNUH." Kolom opini penuh komentar akademisi. Seorang profesor hukum menulis bahwa kasus ini menegaskan urgensi revisi Undang-undang Eksekusi. Sastrawan dan penyair menduga mungkin nyawanya kadung mengeras akibat terlalu lama bermain-main

82 | Tuack!

dengan maut. Bahkan seorang dukun terkenal ditampung suaranya, ia tuduh Sang Terpidana telah menelan jampi penolak bala. Pamflet dan mimbar pasar dipenuhi gosip tentang "orang yang tidak bisa mati-mati," atau semacam nabi dan pertanda kiamat. Sebagian rakyat mulai menjadikannya bahan candaan: "Lebih aman dihukum mati di negeri ini daripada sakit di rumah sakitnya."

Sejak hari itu, Sang Terpidana menjadi warga paling aneh. Hak asasinya menggantung di udara: tidak punya hak hidup, juga tak punya hak mati. Pemerintah bingung harus menempatkannya di mana. Di penjara? Ia sudah lewat masa hukumannya. Dibebaskan? Nanti dianggap negara kalah. Disimpan di rumah sakit? Dokter menolak, katanya pasien itu terlalu sehat. Dialog antara filsuf, akademisi, dan politisi hanya berputar-putar menyoal apakah aparat boleh terus mencoba membunuhnya, atau justru harus membebaskannya? Ada yang berpendapat, demi konsistensi hukum, eksekusi harus diulang hingga berhasil, meski butuh seribu cara. Ada pula yang menilai, justru karena kegagalan itu, negara harus mengakui bahwa hak hidup tak bisa dirampas begitu saja.

Akhirnya dibentuklah (lagi) lembaga baru bernama Kementerian Kematian. Anggaran miliaran digelontorkan untuk mengurus satu orang yang tak bisa mati. Kantor kementerian berdiri megah, lengkap dengan staf khusus, juru bicara, dan komite etik. Pemerintah membentuk panitia-panitia baru; Panitia Nasional Standardisasi Kematian, Komisi Independensi Eksekusi, Badan Koordinasi Penjaminan Mati, lengkap dengan anggaran rapat dan seminar. Masing-masing panitia berdebat tentang standar teknis berapa peluru yang dianggap sah, warna kain penutup mata, bahkan posisi matahari. Tentu makin banyak lembaga, makin tak ada keputusan.

Eksekusi kedua, ketiga, keempat, kembali gagal. Terkadang karena teknis (senjata macet), kadang absurd (kursi listrik korslet). Setiap kegagalan malah dijadikan bahan seminar internasional tentang teknologi hukuman mati. Media menulisnya sebagai manusia super, rakyat mulai berziarah ke selnya.

Sementara Sang Terpidana? Masih bertempat di ruang khusus, dipantau 24 jam, seolah ia mukjizat yang patut diwaspadai. Sementara ia hanya duduk di selnya, sambil mengusir nyamuk, menunggu kejelasan. Hidupnya kini bukan hidup, matinya pun bukan mati. Suatu malam ia berkata pada seorang sipir muda:

"Lucu, bukan? Mereka menjatubkan bukuman mati, tapi yang kuterima justru bukuman bidup yang tak pernah selesai."

Sipir itu bungkam, tak tahu harus jawab apa. Ia hanya menuliskan laporan, lalu laporan itu disimpan di arsip negara, menumpuk bersama ribuan kertas lain yang tak pernah dibaca.


Tok!

Tuack! | 83

Bunyinya bisa jadi tik! tuk! atau tuack! Tak terlalu penting karena itu tak menggambarkan seberapa berat atau berartinya keputusan yang lahir dari dibenturkannya mahoni ke meja hakim. Apakah bunyi keras karena sidangnya sangat cepat sehingga masih ada banyak tenaga bagi hakim membanting palunya, lalu jikalau bunyinya mendem artinya sidang berjalan sangat ketat dan panjang karena perdebatan serius terjadi. Tidak juga. Nihil sangkut pautnya. Pada sidang istimewa di parlemen itu, para politikus akhirnya manggut-manggut menghapus hukuman mati dari undang-undang. Bukan karena mereka tersentuh oleh kasus Sang Terpidana atau uji akademis yang panjang, melainkan karena kehabisan tenaga. "Terlalu banyak repotnya," kata seorang anggota dewan sambil menguap. "Lebih praktis menjatuhkan hukuman seumur hidup." Maka pagi itu koridor penjara ramai luar biasa. Surat kabar, radio, hingga televisi lokal menyiarkan warta itu: "Hukuman mati resmi dihapus." Para pejabat di ibu kota saling menyalami, beberapa berfoto bersama sambil mengangkat map keputusan, senyumnya lebar-lebar, seolah baru saja mengusir penjajah.

Di ruang tahanan, Sang Terpidana yang seharusnya mati di usia tiga puluh masih hidup hingga tujuh puluh lebih. ketika presiden yang dahulu menolak grasinya kini hanya nama di buku sejarah. Ia duduk terpaku. Sepasang sipir masuk, membawa kabar dengan wajah agak gugup. "Selamat. Anda batal dieksekusi."

Sang Terpidana menatap mereka lama, lalu tersenyum kecil, yang segera berubah jadi batuk. Borgolnya sudah dilepas, tapi tangannya masih gemetar, seolah masih mendengar suara aba-aba, "Siap! Bidik! 'Tembak!"

Malamnya, saat listrik padam dan hanya ada cahaya remang dari lilin, ia terbangun dengan dada berdegup tak karuan. Nafasnya tersengal. Ia bangkit dari ranjang besi, mencoba berjalan ke pintu, mengetuk perlahan.

Tok! Tok!

Tuack!

Tak ada jawaban. Sipir tertidur di posnya.

Sang Terpidana kembali terduduk, lalu rebah. Jantungnya berontak seperti palu yang menghantam keras-keras dari dalam. Ia tahu waktunya telah tiba. Ia tidak lagi menunggu peluru, melainkan menunggu tubuhnya menyerah. Jantungnya bisu, tapi bisa kau tebak bunyi berita utama

esok.

84 | Tuack!

Mencari Penerang Menuju Jalan Pulang

Selimut Lurk Lestari

86 | Selimut Lurik Lestari

Oleh Antonia Timmerman

Dua kali dalam hidupnya, paling sedikit, Lestari menangis karena teringat selimut kesayangannya: saat bermalam di kantor polisi bandara setelah dituduh menyelundupkan heroin, dan saat dia berada di lapangan eksekusi mati. Selimut itu selimut tua. Panjangnya hampir dua meter dan lebarnya satu meter lebih dua puluh senti.

Selimut itu muncul di suatu sore saat Lestari berusia enam tahun. Dia baru pulang bermain dan membuka pintu depan. Di sanalah ia, terlipat rapi di satu-satunya kasur busa yang keluarga Lestari miliki. Duduk sambil memancarkan wangi deterjen bercampur matahari.

Ibu telah membelikan selimut baru untuk Lestari. Selimut lama mereka tidak cukup lagi untuk bertiga. Lestari mulai punya kebiasaan menarik dan menguasai selimut ketika mimpi mengejarnya dalam tidur. Bapak tidak tahan dingin. Kalau Bapak kedinginan dan kurang tidur, dia uring-uringan seharian. Ibu tak tahan panas dan karenanya kipas angin harus menyala semalaman. Demi kelangsungan rumah tangganya, Ibu memutuskan Lestari harus punya selimut sendiri.

Setiap malam sejak itu selimut itu membungkus tubuh mungil Lestari di malam-malam orang tuanya bekerja sampai larut. Menjadi alas lantai di hari-hari mereka dapat berkumpul dan menonton TV bersama, atau saat Lestari mengerjakan PR. Dengan tongkat sapu yang menyangganya, selimut itu kerap menjadi tenda-tendaan untuk Lestari yang berpura-pura camping di hutan dan sedang diintai hewan buas. Tak lama Lestari mulai membawa selimut itu kemana-mana. Dia membawanya ketika menginap di rumah teman untuk main hantu-hantuan, ketika pergi menemani Ibu mencuci baju di rumah orang, dan ketika mudik ke kampung nenek. Kadang dia iseng membawanya ke sekolah.

Aslinya selimut itu bermotif lurik, yakni garis-garis merah berselang garis-garis putih. Setelah puluhan tahun, motif itu hampir hilang seluruhnya. Pemudaran terjadi pertama-tama di bagian tengah kemudian meluas. Garis merah sekarang menjadi pink, dan hanya terlihat di pinggir-pinggir.

Sebagai ganti motif lurik, selimut itu kini penuh gambar-gambar sulaman mungil dan warna-warni. Ada gambar bebek, telor asin, bintang, ikan lele, anak kucing, hati tertusuk panah, sandal jepit, dan banyak lagi. Segala objek, hewan, dan tumbuhan memenuhi selimut itu.

Setiap kali bolong kecil mulai menganga di selimut, Lestari menambalnya dengan sulaman. Benang bermacam warna membentuk gambar yang dia pilih sesuka hati. Apakah itu sesuatu yang dilihatnya di internet, atau yang dia rindukan dari kampungnya. Pokoknya apapun yang terlintas di kepalanya. Meskipun motif luriknya sudah lama hilang, Lestari selalu menyebutnya selimut lurik'. Semua orang yang mengenal Lestari tahu benda apa yang dimaksud.

Selimut Lurik Lestari | 87

Selimut lurik Lestari membungkus tubuhnya di malam pertama dia ada di Taiwan. Malam itu Lestari harus tidur di matras lipat yang digelar di lantai. Kamar untuk dirinya belum siap karena masih jadi gudang. Majikannya, seorang perempuan paruh baya bernama Yu-mei yang menggaji Lestari untuk merawat ibu mertuanya, belum mengeluarkan koper-koper, rak-rak, sepeda berkarat, dan banyak tetek bengek lainnya dari kamar. Kasur untuk Lestari bahkan belum dibeli.

Maka selama dua bulan, Lestari tidur di samping ranjang tinggi si nenek. Ranjang kayu reyot itu menjulang di samping kepala Lestari setiap kali dia merebahkan tubuh. Bedak, deodoran, sisir, ikat rambut, pensil alis, dan lipstick miliknya terpaksa harus berceceran di lantai di ujung kaki matras. Setiap kali mandi, dia harus mengambil baju dari kardus yang terbuka, yang ditaruh di pojok ruangan. Lestari sebenarnya agak malu. Namun dia harus bertahan sampai kamarnya siap. Setelah itu, dia dapat menyimpan barang-barang dalam sebuah rak.

Soal bertahan ini ternyata lebih sulit dari perkiraan Lestari. Di bulan pertama, dia menelpon Ibu dan mengumumkan bahwa dia akan pulang saja. Maaf. Ini semua salah Lestari. Dia akan bekerja dua shift pabrik sehari untuk membayar semua utang yang telah diambil keluarganya untuk mengirim dia ke luar negeri.

Lestari tidak betah. Yu-mei marah setiap hari. Yu-mei menjerit jika Lestari tak mengerti sebuah perintah. Dia mengacungkan jari di depan hidung Lestari dan membentak sampai wajahnya merah. Pernah sekali, dia menyiramkan air ke muka Lestari. Sekali yang lain, Yu-mei menjambak rambutnya.

Sewaktu masih di Brebes, agen yang merekrut Lestari memberikannya les Bahasa Mandarin. Namun, kelas itu berlangsung hanya enam bulan, dan Lestari harus membagi waktunya dengan kerja di pabrik. Saat orang Taiwan berbicara cepat, Lestari kepayahan.

Sambil memelintir selimutnya dengan tangan, Lestari berbicara di telepon dengan suara rendah dan tangis yang berkumpul di tenggorokan: "Aku mau pulang."

"Yang sabar, nduk. Kau kan baru sampai."

Lestari tidak bisa pulang. Semua sudah diusahakan agar dia bisa sampai Taiwan. Ibu sudah membersihkan lebih banyak rumah dan mengambil lebih banyak cucian. Meminjam lebih banyak uang ke tetangga. Mendaftar jadi sopir ojol. Mereka sekeluarga sudah mengurangi porsi makan setiap hari. Di umur lima belas, Lestari berhenti sekolah untuk kerja di pabrik. Ini karena Bapak jatuh dari menara perancah saat memasang papan reklame di jalan Pantura. Sejak itu Bapak tidak bisa jalan. Itulah mengapa setiap pagi setelahnya, Lestari dibonceng motor tua Ibu lalu turun di depan pagar biru pabrik garmen di mana dia akan menjahit selama sepuluh jam dari jam tujuh pagi.

88 | Selimut Lurik Lestari

Dua tahun kemudian, setiap hujan datang langit-langit rumah Lestari mulai menitikkan air. Ibu menaruh satu ember plastik di pojok ruangan. Lalu dua. Lalu empat. Tiga tahun berlalu dan bocor itu terus merembet ke segala arah. Kasur busa mereka basah terkena cipratan air. Tidak tahu mau dipindah ke sudut mana lagi karena rumah satu ruangan itu sudah penuh dengan ember plastik.

Tito, anak Bu Mirah, tetangga sebelah, makin sering datang untuk menambal atap. Lama-kelamaan, Tito mulai datang dengan muka masam dan tangan di pinggang. Dia berkata, "Ibu harus ganti seluruh atap, sudah ndak bisa lagi ditambal-tambal karena yang lapuk itu kayu di bawahnya. Saat bongkar dan pasang atap baru, coba beli atap keramik, lebih tahan hujan."

Itu pekerjaan renovasi besar. Bapak mengatakan Lestari mungkin bisa bekerja di luar negeri, seperti anak tukang warung di perempatan depan itu, yang pulang-pulang bisa membeli motor baru dan beberapa kambing. Ya, coba Lestari ke warung depan dan cari tahu caranya. Kalau Lestari berangkat, mereka bisa mengganti atap. Bahkan mungkin membeli atap keramik. Jika Lestari bekerja sambil berhemat, mungkin juga bisa melunasi beberapa utang sekaligus. Delapan bulan setelah keputusan itu dibuat, Lestari mengepak selimut kesayangannya bersama dengan sedikit baju, celana, dan selembar mukena. Dengan barang seadanya itu dia terbang ke kota Taipei.

Selimut Lestari mendapat sulaman pertamanya pada tahun ketiga ia berada di Taiwan. Ketika itu Lestari sudah tidak lagi bekerja di rumah Yu-mei. Setelah ibu mertua Yu-mei meninggal dan Lestari tidak dibutuhkan lagi, agen menempatkan Lestari di rumah Jih-chu di pinggir kota.

Jih-chu adalah mantan penyanyi yang hampir terkenal, namun memilih menikah dan punya anak. Di rumah Jih-chu, Mandarin Lestari meningkat cepat. Majikannya itu sangat cerewet. Dia tak terlalu peduli apakah Lestari mengerti Mandarin. Dia hanya senang ada orang di rumah untuk mendengarkan cerita. Suaminya meninggal sepuluh tahun lalu dan tiga anaknya, semua sudah dewasa, tinggal di Amerika. Perempuan itu sering merasa kesepian. Jih-chu pun bercerita tentang banyak hal, mulai dari karir menyanyi di masa lalu, bagaimana dia bertemu suaminya, hingga resep-resep makanan warisan neneknya.

Jih-chu adalah orang yang ingin tahu. Dia banyak bertanya pada pembantunya itu: Apa nama desamu di Indonesia? Seperti apa Indonesia? Di Indonesia, apakah kau sekolah? Mengapa pergi kerja di Taiwan? Kau ada pacar di Indonesia? Kau ada rencana kawin?Ini memaksa Lestari bicara Mandarin meski koyak dan bolong di sana sini.

Lestari memberi tahu Jih-chu bahwa Indonesia sangat cantik. Banyak gunung yang bisa meletus, banyak sawah, dan banyak pantai. Di desanya, langit berwarna biru.

Lestari juga memberi tahu Jih-chu dirinya tidak punya pacar di Indonesia. Sejak mendengar itu Jih-chu selalu berkata: "Mungkin kau akan kawin dengan orang sini." Lestari nyengir lebar dan menggeleng, membayangkan wajah Ibu kalau dia kawin dengan laki-laki yang makan babi. Kecuali, kalau calon suaminya mau masuk Islam.

Selimut Lurik Lestari | 89

Diam-diam candaan Jih-chu menyelinap ke dalam suatu sudut benak Lestari lalu menetap di sana. Ya, kenapa tidak mungkin jodohnya orang Taiwan? Dia melihat dua-tiga temannya yang juga pekerja migran dari Indonesia, dari Filipina, punya pacar orang Taiwan. Di hari libur kalau sedang berkumpul, teman-teman Lestari memamerkan foto pacar-pacar mereka di ponsel. Kadang, fotonya tidak senonoh. Peluk-peluk yang kelewat mesra bagi pasangan yang belum sah. Cium-ciuman. Lestari suka meledek, "Kerja yang benar kau... Jangan pacaran terus!". Teman-temannya itu hanya tertawa sambil menunjukkan tas-tas baru yang dibelikan pacar mereka. Lihat ini, hadiah dari pacarku. Dari tas, mereka mengeluarkan jaket baru. Masker wajah baru. Atau lip balm buatan Korea. Lestari cuma bisa memeriksa barang-barang itu di tangan sebelum mengembalikannya.

Lestari berpikir bahwa laki-laki Taiwan pasti punya gaji lebih tinggi. Kalau dia kawin dengan orang Taiwan, dia bisa mengirim uang lebih banyak ke kampung. Anak-anaknya bisa bersekolah di negeri itu. Mungkin mereka bisa selesai SMA. Setelah itu, mendapat kerja bergaji tinggi pula. Ibu dan Bapak bisa datang ke Taiwan dan jalan-jalan keliling pulau. Semua biaya ditanggung Lestari.

Pelan-pelan, Lestari mulai membiarkan mimpinya mengayuh lebih jauh.

Desember tahun kedua di rumah Jih-chu, Lestari tersandung di taman kota. Hujan baru saja menyambangi taman yang dia lintasi. Sebelumnya, Lestari ada di minimarket, membeli obat sakit kepala dan minyak angin. Jih-chu meminta Lestari membeli obat sakit kepala untuk Chin-tsai, ibunya yang tua renta, yang kini menghabiskan hari-harinya di kasur. Pikiran Lestari penuh ujian bahasa yang sebentar lagi datang. Ujian bahasa ini wajib dilewati sebelum Lestari dapat mengambil program kelas setara SMA yang ditawarkan pada pekerja migran di Taipei. Ketika ada anak tangga kecil menyembul di hadapan jalanan Lestari yang tampak kosong, dia tak melihatnya. Kakinya tersandung dan... brak! Nyusruk-lah ia. Untung kedua tangannya tidak diborgol seperti ketika dia digiring petugas menuju tiang eksekusi bertahun-tahun kemudian, sehingga dapat menahan berat tubuhnya sebelum wajahnya menghantam batu.

Jih-chu memandang celana jeans biru muda Lestari yang basah, robek, dan bercoreng tanah hitam saat dia masuk rumah lewat pintu depan, melewati ruang makan, dan masuk ke kamar Chin-tsai. "Ada apa tadi?" tanya Jih-chu dalam bahasa Mandarin. "Aku jatuh!" jawab Lestari dari dalam kamar, juga dalam bahasa Mandarin. Dia mendorong tubuh Chin-tsai agar menyamping, membuka kancing daster yang dipakai perempuan tua itu dari belakang, dan mengusapkan minyak angin ke punggungnya.

Seusai memberikan obat kepada Chin-tsai, Lestari menghampiri Jih-chu di meja makan dan melihatnya sedang menyulam. Lestari menarik kursi untuk duduk, namun, Jih-chu menghentikannya.

“Ganti dulu celanamu. Lalu bawa ke sini."

90 | Selimut Lurik Lestari

Lestari pergi ke kamar, memakai sepasang celana katun bersih, membersihkan kotoran dari celana jeans-nya yang robek, lalu memberikannya pada Jih-chu. Dengan pensil, Jih-chu menggambar sebuah daun yang mengelilingi robekan di jeans Lestari. Di atas dan bawah daun itu, dia menggambar beberapa lembar daun lagi yang lebih kecil. Kemudian, menggunakan benang hijau muda, dia mulai menyulam mengikuti pola. Jarum di tangannya timbul dan tenggelam di kain, membawa benang itu untuk berbaris-baris rapat. Tak lama, robekan di jeans Lestari sudah hilang. Berganti sebuah daun hijau segar. Lestari berdecak kagum.

"Kau mau coba?" Kata Jih-chu sambil mendorong kotak perlengkapan sulamnya agar mendekat. Lestari mengangguk. Tangannya bergerak meraih kotak plastik putih itu, lalu mengeluarkan jarum dan benang dari dalamnya. Malam itu, dedaunan yang seakan terbang tertiup angin melekat pada celana jeans Lestari.

Sejak itu pula Lestari mulai memberikan selimutnya sulaman. Selimut Lestari memang sudah mulai berlubang. Kecil-kecil di beberapa tempat. Warna luriknya mulai pudar. Lestari menimpa lubang-lubang kecil itu dengan gambar sulaman berukuran sekitar dua sampai tiga sentimeter. Pertama-tama, Lestari menggambar dedaunan seperti diajarkan Jih-chu. Setelah tangannya mulai terbiasa menyulam, dia menambahkan gambar-gambar lain. Ada wortel, pesawat terbang, dim-sum, awan, bunga sakura... Kadang, Lestari tetap menyulam walau tak ada lubang. Selimut tua itu mulai terlihat seakan ia bangun dari tidur siang panjang.

Setiap pagi, Lestari melipat selimutnya dengan rapi di ujung kasur. Setiap malam, Lestari menelpon Ibu sambil mencari ide gambar sulaman baru di buku yang dipinjamkan Jih-chu. Meski di rumah Jih-chu ada mesin cuci, Lestari selalu mencuci selimut itu dengan tangan. Kemudian, menggantungnya di bawah matahari.

Tahun ke-enam, Lestari memasukkan selimut luriknya ke sebuah koper besar berwarna ungu, bermaksud mengajaknya pergi mudik untuk pertama kalinya sejak pergi dari kampung. Koper itu dipinjamkan Jim, pacar baru Lestari.

Lestari bertemu Jim di pasar malam sekitar tiga bulan lalu. Dia sedang menemani Dewi, seorang pembantu rumah tangga yang baru sampai Taiwan dan ingin jalan-jalan. Lestari mengajak Dewi ke pasar malam yang selalu ramai dengan pemuda dan pemudi yang bergerombol. Berdua mereka mondar-mandir, membeli jajanan dari gerobak ini dan kios itu. Hampir tengah malam, mereka berhenti di sebuah gang yang agak sepi, menonton orang yang masih lalu-lalang dengan kantung-kantung makanan di tangan. Udara malam dingin dan segar, dan mereka menghirupnya dengan rakus ke dalam paru-paru. Kedua perempuan itu sibuk mengobrol soal agen dan kampung masing-masing, hingga tak menyadari seorang pemuda telah berdiri di samping Lestari, muncul entah dari mana. Pemuda itu, Jim, meminta nomor telepon Lestari. Dua minggu setelah Jim dan Lestari mengobrol tanpa henti di telepon dan bertukar pesan singkat, Jim membelikannya parfum, mengiriminya kartu ucapan dan mengajaknya menonton bioskop.

Selimut Lurik Lestari | 91

Jim mengatakan bahwa ia lahir dan besar di Taiwan. Dia mengaku punya beberapa jenis usaha. Jual beli ponsel. Tas. Sepatu.

"Lestari, saat kau pulang ke Indonesia nanti, apakah aku boleh minta tolong?" Kata Jim suatu hari lewat pesan singkat. Lestari baru selesai memandikan Chin-tsai dan baru akan menyiapkan makanan.

"Minta tolong apa?"

"Temanku mau kasih koper ke temannya orang Indonesia di Jawa Timur. Boleh tidak kau bawakan? Kau bisa pakai dulu, setelah itu kirim kopernya dari Brebes."

Lestari menyanggupi. Dia memang belum sempat membeli koper. Datang ke Taiwan, dia pakai kardus yang dibelit lakban dan diikat tali rafia.


Petugas bandara Soekarno-Hatta menyobek jahitan kain hitam yang melapisi bagian dalam koper ungu yang dibawa Lestari, mengambil kantong-kantong berisi bubuk putih lalu mengangkatnya ke udara. Lestari menutup mulut dengan dua tangan. Matanya terbelalak. Itu bukan punya saya, Pak! Bukan punya saya! Baju, celana, bra, celana dalam, make-up, makanan kering untuk oleh-oleh, sandal, dan selimut Lestari dilempar ke segala arah dan berserakan di lantai ruang pemeriksaan.

Sebelum Lestari dapat mengeluarkan suara, dua petugas lain menyeruak masuk, memindahkan semua barang-barangnya ke dalam kantong-kantong plastik, lalu menyeretnya pergi. Lestari hanya bisa menonton saat selimut luriknya menghilang dari pandangan. Dia tidak ingat kapan persisnya tangannya diborgol. Di kepalanya, dia hanya mengulang-ulang kalimat: Itu bukan punya saya, Pak! Bukan punya saya!

Petugas menyuruhnya menunggu. Semalaman, Lestari terduduk di kursi plastik merah yang kakinya agak peyot dengan borgol melingkari kedua pergelangan tangannya. Ruangan bercat kuning muram itu terasa sangat dingin. Lestari menyesal tidak menahan petugas yang mengambil selimutnya. Kini, dia hanya punya pakaian yang melekat di kulit. Bisakah dia meminta petugas untuk mengambilkan selimutnya? Lestari ingin bertanya. Mereka boleh menyimpan yang lain.

Tangisnya pecah, tubuhnya gemetar dan kepalanya berat, pusing. Dia hanya ingin pulang. Dia ingin mandi, memakai baju tidur, dan meringkuk di balik selimutnya, di samping Ibu dan Bapak yang mungkin sedang menonton TV. Malam semakin larut dan tangis Lestari semakin keras.

92 | Selimut Lurik Lestari

Petugas yang menunggui Lestari dari balik meja hanya melirik, lalu kembali menatap layar ponselnya. Selimut itu akhirnya sampai lagi di tangan Lestari sembilan bulan setelah dirinya masuk lapas. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Hera, pengacara Lestari, untuk mendapatkan selimut itu lagi dan membuat Lestari diizinkan untuk menyimpannya. Di lapas, tahanan tidak boleh membawa selimut sendiri. Mungkin ada sedikit uang rokok yang melicinkan perkara selimut ini. Mungkin juga uang rokok itu kebetulan bertemu sejumput rasa kasihan. Pengadilan telah memutuskan Lestari dihukum mati. Usianya baru 26 tahun.

Saat baru masuk lapas, Lestari tak mau beranjak dari tempat tidurnya. Dia tak bicara pada siapapun. Dia tak keluar dari selnya yang sumpek. Karena tidak mau bertemu matahari, dia sering jatuh sakit. Dia makan seadanya. Rambutnya kusut dan kukunya hitam kotor. Ketika petugas berpikir Lestari sedang mencari waktu untuk mematahkan sikat gigi dan memakai ujung tajamnya untuk memutus nadinya sendiri, selimut itu tiba di lapas dalam kantong plastik. Wangi habis dicuci detergen yang biasa dipakai Ibu. Sejak selimut itu boleh tinggal di lapas, Lestari mulai mandi tiap hari. Dia mulai menghabiskan jatah makanannya. Lama-lama, dia mau menata rambut. Seperti waktu di rumah Jih-chu, Lestari melipat selimut itu dengan rapi dan meletakkannya di ujung matras. Setiap minggu, dia mencuci selimutnya dengan tangan dan menggantungnya di bawah matahari.

Meski demikian, Lestari masih tidak mau bicara. Beberapa bulan berlalu, dan petugas mengumumkan bahwa kelas menjahit bagi tahanan akan segera dibuka. Barang siapa yang ingin ikut harap mendaftar. Saat itulah, Lestari baru membuka mulutnya lagi. Suara serak lepas dari bibirnya yang kering dan hitam, mengagetkan si petugas yang belum pernah mendengar Lestari bicara sejak dia masuk lapas. Suara itu membentuk kalimat: "Aku mau ikut."

Di hari pertama kelas menjahit, Lestari datang paling awal sambil membawa selimutnya. Lestari duduk, lalu dengan sebatang pensil yang dia pinjam dari petugas lapas, menggambar sebuah pola. Dengan jarum dan benang yang disediakan guru jahit, Lestari mulai menyulam. Tangannya sedikit gemetar dan jemarinya agak licin dan berminyak karena keringat. Mula-mula, gerak-geriknya canggung dan lambat. Tapi sebentar saja tangannya mulai ingat bagaimana cara memutar dan menarik benang dan menusuk pori-pori kain dengan jarum. Tak lama, sulaman berbentuk sebutir salak muncul di selimut Lestari. Guru jahit melongok dari balik pundaknya dan memujinya, membuat tahanan-tahanan lain ikut merubungi Lestari untuk melihat sulaman itu. Mereka mengamati sulaman-sulaman lain di selimut Lestari, menyentuhnya dengan jari untuk merasakan teksturnya, dan mendesah “ Waahh...".

Setiap minggu, sebuah gambar baru muncul pada selimut Lestari: apel, pisang, atau jambu. Dedaunan di kebun, ayam jago yang dipelihara petugas lapas, kucing liar yang suka mereka beri makan, atau burung yang mereka tangkap dari pohon. Semua orang senang menebak-nebak apa

Selimut Lurik Lestari | 93

yang akan disulam Lestari di sebuah pekan. Mereka makin senang ketika mengenali sulaman yang muncul.

Dalam tiga bulan setelah kelas dimulai, Lestari menjadi asisten guru jahit. Dia boleh memilih kain dan benang duluan. Selain menyulam selimutnya, dia juga menyulam taplak meja dan sarung-sarung bantal. Dia juga membuat rok, blus, celana, dan baju-baju dalam, sementara teman-temannya berlatih menjahit pola dasar. Ada yang Lestari simpan, ada yang dia jual.

Lestari jadi sibuk. Sarung-sarung bantal dan baju buatannya menjadi terkenal seantero lapas. Bahkan, beberapa keluarga tahanan mulai membeli baju-baju Lestari. Dia minta dibelikan buku catatan untuk mencatat pesanan yang masuk dan membuat jadwal menjahit. Dia juga mulai mengumpulkan majalah mode dan bereksperimen dengan pola-pola jahit baru.

Begitulah hari demi hari di dalam penjara berlalu — setiap harinya timbul dan tenggelam. Seiring waktu, ketika Lestari meringkuk dan menarik selimutnya sampai ke dagu pada malam hari, dia terkadang menemukan dirinya memandang kembali hari-harinya dengan sedikit senyum.

享车车

Ketika Lestari berjalan ke hadapan regu tembak, selimut itu teronggok di dasar sebuah kardus berdebu. Ia ditindih berbagai benda yang Lestari simpan selama sepuluh tahun belakangan: sikat gigi, enam pasang atasan dan celana panjang, mukena, gulungan-gulungan benang, tumpukan majalah, dan beberapa buku tebal dan berat yang berisi gambar pola-pola sulaman. Ia duduk diam di sana, di dalam bagasi mobil pengacara Lestari. Entah bagaimana, tak ada yang ingat untuk menanyakan pada Lestari, mau diapakan selimut itu.

Dalam hiruk-pikuk menjelang eksekusi, jaksa, pengacara, dan Ibu Lestari menghujaninya dengan pertanyaan: kamu ingin makan apa? Mau menitipkan pesan apa pada Bapak? Kamu ingin dimakamkan di mana? Nanti, pakai baju apa? Lestari berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu walau tak ingin.

Apa yang dia ingin makan terakhir kali?

Awalnya, Lestari berjalan ke hadapan regu tembak dengan pikiran kosong. Dia menapak di lantai batu berpori yang basah akibat hujan yang pergi sama mendadaknya dengan waktu ia turun. Kakinya telanjang, dingin. Ujung-ujung celana panjangnya basah. Mengikuti barisan, dia tak bisa menghindari air yang masih menggenang di permukaan lapangan yang tak rata. Enam orang tahanan yang diborgol berjalan di sisi kiri, sementara petugas yang membawa mereka di sisi kanan.

94 | Selimut Lurik Lestari

Ada isak tangis yang melayang rendah di udara sementara tiang-tiang di mana tubuh mereka akan diikat bergerak mendekat. Lestari mendongak. Pekat malam menyambut matanya, dan pikirannya mulai berkelana.

Langit mengingatkannya ketika dia, Meri, Ila, dan Hesty pergi camping di bukit dekat Waduk Malahayu. Hari itu libur. Tak ada dari keempat remaja itu yang harus bekerja di pabrik. Mereka berangkat dari desa pukul tiga sore: Ila membonceng Lestari di satu motor bebek Yamaha yang knalpotnya selalu mengeluarkan asap abu-abu, sementara Hesty membonceng Meri di motor rakitan miliknya.

Pukul lima mereka tiba di bukit dan mendirikan tenda. Pukul tujuh mereka merebus enam bungkus Indomie lengkap dengan empat butir telur. Pukul delapan mereka menggelar tikar di depan tenda dan berbaring dalam gelap, mengobrol dan bercanda. Seperti ketika Lestari digiring ke tiang eksekusi, bulan yang bertengger di lembar malam itu adalah purnama. Bintang-bintang di sekitarnya berpendar seperti payet-payet berkilau di kebaya yang dikenakan putri bupati, sebagaimana yang Lestari lihat di televisi.

Mereka bergosip tentang laki-laki. Meri bercerita tentang seseorang yang baru saja mengirimnya

pesan singkat dan menyatakan cinta. Berita itu kurang seru bagi yang lain karena Meri sering bergonta-ganti pacar, dan laki-laki malang inipun akan dibuatnya menangis minggu depan. Hesty mengatakan dia naksir seorang mandor berkumis di shift-nya. Ini membuat yang lain menjerit dan terbahak-bahak. Ila mengumumkan bahwa dia mungkin akan putus dengan pacarnya, lalu berangkat ke luar negeri sebagai TKI. Berita ini membuat suasana sunyi sejenak. Ila sudah berpacaran dengan laki-laki itu sejak SD. Mereka mengira Ila sebentar lagi kawin.

Seseorang akhirnya bertanya:

“Pergi kemana?”

"Malaysia."

"Kapan berangkat?"

"Belum tahu. Harus les Bahasa Inggris dulu."

Pukul sebelas malam, mereka semua tidur di dalam tenda. Pukul lima subuh, mereka kembali naik motor sambil menguap dan memeluk perlengkapan erat-erat di dada, lalu mengantar Lestari ke pabrik supaya dia dapat bekerja. Yang lain pulang, tidur sebentar sebelum shift mereka mulai di siang hari. Di lapangan eksekusi malam itu, tubuh kurus Lestari dibungkus kaos gombrong putih yang dibawakan ibunya kemarin. Dia tak mengenakan dalaman sehingga angin dingin membelai hampir seluruh permukaan kulitnya. Mendadak Lestari heran sendiri. Sudah lama dia tidak mengenakan bra di hadapan orang asing. Lebih tepatnya — sudah lama dia sadar dia sedang tidak mengenakan

Selimut Lurik Lestari | 95

bra di hadapan orang asing. Di lapas, orang ramai lalu lalang, datang dan pergi. Kalau sedang ingin, Lestari memakai bra. Kalau tidak, dia tidak lagi terlalu peduli.

Ketika barisan tahanan hampir sampai di tiang eksekusi Lestari menoleh ke belakang. Dia ingin melihat pintu tempat mereka masuk tadi. Dia ingin melihat apakah pengacara mereka juga berbaris di sana, mengikuti mereka. Jika ya, apakah dia punya kesempatan bicara pada pengacaranya lagi? Sepertinya dia lupa menyampaikan suatu pesan yang ketinggalan.

Dia sendiri tak bisa mengingat pesan apa. Dia hanya tahu, pesan itu sangat penting. Sewaktu Lestari berusia tujuh atau delapan tahun dia pernah mengunjungi pamannya yang seorang nelayan. Dari pinggir pantai dia melihat sebuah perahu datang mendekat. Di atasnya, seseorang meneriakkan sesuatu dan melambai-lambaikan tangan. 'Teriakan itu datang bersama deru angin dan ombak sehingga Lestari tak dapat mendengarnya jelas. Lestari merasa sedang ada di pinggir pantai itu lagi. Dia dapat melihat pesan mengabur terlupakan itu melambai-lambai dari jauh, berusaha meneriakkan sesuatu, namun Lestari tak dapat memahaminya. Belakangan Lestari baru tahu bahwa pamannya jatuh di laut. Tiga hari kemudian mereka baru menemukan mayatnya yang menggembung. Tiga hari dari sekarang, apakah tubuhnya akan terlihat seperti tubuh pamannya ketika ditarik dari air?

Lestari terus menoleh ke belakang, memandang pintu lapangan tempat mereka masuk. Tak ada barisan pengacara yang muncul. Pintu itu tertutup. Lestari membayangkan pintu itu terbuka. Dalam fantasinya, seseorang lari menyusul, tergopoh-gopoh, dengan lembar-lembar kertas hampir jatuh dari tangan. Orang itu lalu membisikkan sesuatu pada kuping komandan. Kemudian, komandan memanggil petugas untuk membawa Lestari menjauhi tiang. Kembali ke lapas. Bisa saja ada perkembangan baru di kasusnya. Mungkin, dia tiba-tiba mendapatkan pengampunan dari presiden. Lestari pernah mendengar kasus-kasus demikian dari petugas lapas. Sepuluh tahun yang lalu, pemerintah menunda eksekusi yang dijadwalkan untuk dua orang tahanan. Penundaan dilakukan di menit-menit terakhir. Tahanan sudah diikat di tiang.

Sejak kemarin Lestari berdoa keajaiban semacam itu terjadi padanya.

Ketika Lestari membalikkan badan dan menunggu petugas memborgol kedua tangannya pada tiang, lampu sorot menyilaukan matanya. Ini mengingatkan Lestari pada lomba fashion show pekerja migran di Taiwan yang diadakan sebuah yayasan. Dia dan lima kontestan lain berjajar di panggung, disorot lampu dari atas kepala. Mereka memamerkan baju rancangan masing-masing yang telah mereka susun, tumpuk, jahit, peniti, dan sanggah dari kain-kain, kardus-kardus, kertas-kertas, dan pipa-pipa bekas. Penonton bergemuruh bertepuk tangan di hadapan para kontestan. Juri-juri mengamati karya mereka dengan teliti. Lalu, pemenang diumumkan dan Lestari juara lima. Di lorong gedung Lestari melipat gaun hasil karyanya dengan hati pahit. Matanya mungkin merah karena Agus, salah satu relawan yayasan, menghampirinya dan berkata, "Hei

96 | Selimut Lurik Lestari

Lestari, tahun depan ikut lagi ya. Pasti bajumu lebih bagus lagi," sambil membantunya memasukkan gaun itu ke dalam plastik. Lestari mengangguk. Tahun berikutnya, Lestari tidak ikut kontes. Dia tidak lagi ingat mengapa. Regu tembak mengambil posisi dan komandan memberikan aba-aba. Seseorang yang terikat di tiang di samping kanan Lestari melantunkan nyanyian.

Ketika mulut-mulut laras panjang itu memercik terang dan peluru-peluru tajam keluar dari ujung-ujung hitamnya, melayang, Lestari seketika teringat selimutnya. Seketika, dia teringat pesan yang lupa dia sampaikan: masuk liang kubur, Lestari ingin dibungkus selimut luriknya. Saat tubuhnya hancur dan membusuk, dan kulitnya terberai dan ototnya meleleh menjadi cairan yang lengket di tanah, meninggalkan tulang belulangnya, dia ingin selimut itu ada di sana.

Hingar bingar prosedur eksekusi membuat pesan itu tergelincir dari benak Lestari.

Maka, di momen peluru-peluru itu melesat menuju jantungnya, Lestari menitikkan air mata, teringat waktu dia membenamkan wajah dan sedu sedannya ke selimut itu saat gagal lolos tes jahit di pabrik garmen untuk kedua kalinya, dan ibunya memeluknya, membelai rambutnya dan berkata, "Ndak apa-apa, nduk. Nanti kita coba kembali." Selimut lurik Lestari membungkus tubuhnya, menghangatkan dirinya agar dia dapat menyerahkan napas pada tidur yang datang menyergap, dan tiga bulan kemudian, setelah berlatih menjahit menggunakan mesin jahit Bu Mirah hampir setiap hari, dia menerima pesan singkat bahwa dia berhasil lolos tes dan mendapat pekerjaan di pabrik.

Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang

Pesta112A

98 | Pesta 112A

Oleh Yudhistira

Kabar beredar begitu cepat di kampung bahwa semalam Kroja memergoki Misbah mencuri obat Tramadol di apotek.

Misbah, remaja putus sekolah, kini hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan setelah sang bapak memutuskan untuk kawin lagi. Tidak begitu jelas ibunya sakit apa. Pokoknya, kalau tubuhnya nyeri, dia sering minta Misbah untuk mencari Tramadol.

Maka saat malam turun dan kantong sedang hampa-hampanya, Misbah menyelinap lewat pintu belakang, mencongkel laci di meja. Dia hafal tempat penyimpanannya, sudah Misbah pelajari jauh-jauh hari tentang gerak-gerik apoteker.

Apes, ternyata malam itu tukang jaga apotek, Kroja, terbangun karena sakit perut. Nasi pecel yang dimakannya kemungkinan basi. Seisi perutnya terasa melilit kencang.

Kroja kenal dengan Misbah. Tapi tetap, dia harus melaporkannya. Kroja bisa naik gaji dari bos atas aksi heroik ini, meskipun artinya adalah membekuk tetangga sendiri. Maklum, orang-orang lagi gandrung melihat keadilan ditegakkan. Tentang proses hukum setelah menangkap pelaku, Kroja tak paham. Terserah orang-orang di kepolisian. Dia hanya tahu bahwa tugas mulia ini harus dijalankan.

Saat ini, Misbah ada di rutan. Hukum memang suka berjalan sekenanya, berubah seiring algoritma zaman. Maling obat pun harus menunggu di balik jeruji besi yang kumuh. Mendengar desas-desus putra tunggalnya ditahan, ibu Misbah terduduk di lantai rumah, menyalakan rokok, kemudian bersandar di tembok dingin. Nyeri-nyeri di tubuhnya mendadak hilang.

"Saudara Misbah, saya perlu memberitahukan hak saudara. Salah satunya, saudara berhak didampingi penasihat hukum dalam setiap pemeriksaan. Jika saudara belum punya, negara akan menunjuk penasihat hukum untuk mendampingi," kata seorang petugas.

Pesta 112A | 99

Setelah digiring ke sebuah ruangan, Misbah duduk berhadapan dengan penyidik yang sebetulnya dia kenal–waktu kecil mereka suka main layangan bersama-sama.

"Heh? Kau serius sekali? Kita kan saling kenal?” tanya Misbah.

Petugas tidak menjawab, hanya melayangkan pandang dari berkas menuju mata Misbah. Melihatnya, remaja tanggung itu langsung bereaksi cepat.

“Aku... anu, saya..,” jawab Misbah sambil terbata-bata dan mengubah panggilan dirinya menjadi saya. Dia baru sadar bahwa suasana di ruangan ternyata lebih dingin dari yang dia perkirakan. "Saya... cuman nyolong obat. Itu juga karena ketahuan Kroja. Tak butuhlah penasihat hukum. Repot amat," lanjutnya.

"Saudara Misbah, hasil penyidikan sementara menunjukkan saudara terjerat Pasal 112A Undang-Undang Darurat tentang Pengendalian Obat Tertentu dengan ancaman paling berat hukuman mati. Karena itu, sesuai prosedur, saudara wajib didampingi penasihat hukum. Kalau tidak punya, negara yang menunjuk. Ini bukan untuk menyulitkan saudara, tapi justru untuk melindungi hak saudara."

Misbah baru dengar pasal itu. Hukuman mati? Masa sih? Batinnya. Dia melamun sejenak, memandangi panorama sekitar. Banyak arsip perkara yang ditempel di dinding, papan tulis dengan garis-garis yang menghubungkan nama ke nama, juga bau kopi yang menyerbak.

"Saudara Misbah, pemeriksaan tidak bisa kami lanjutkan tanpa penasihat hukum. Kami akan menghubungi pengacara yang ditunjuk negara untuk mendampingi saudara," kata petugas itu lagi.

Misbah diantar kembali ke balik jeruji besi, menghabiskan hari-hari yang asing di sana.

Tak ada yang datang menjenguk. Ibunya melanjutkan sakit, para warga sekitar menjalankan aktivitas seperti biasa. Sebagian malah setuju Misbah dihukum mati dengan pasal baru itu yang

100 | Pesta 112A

sedang tenar diperbincangkan. Warga sekitar, semuanya kenal dengan Misbah. Mereka meletakkan simpati khusus kepada remaja putus sekolah yang ditinggal oleh bapak kandungnya. Tidak jarang, tetangga mampir ke rumah Misbah untuk memberikan beras dan telur. Kadang kala, Misbah menerima panggilan untuk membetulkan keran bocor atau mencari bangkai tikus di loteng. Sepeser dua peser yang diperolehnya lumayan untuk menyambung napas. Karena rutinitasnya di situ-situ saja dengan orang yang itu-itu saja pula, tidak pernah tebersit dalam pikiran Misbah untuk punya teman baru. Makanya, dia kaget ketika seseorang bernama Mayang mengajaknya berkenalan.

"Misbah ya? Salam kenal. Aku Mayang." Perempuan itu mengulurkan tangannya. Misbah membalas jabatan Mayang, perkenalan yang mencari celah dari sela-sela sel besi.

"Salam kenal. Aku Misbah, aku anaknya-"

"Aku tahu siapa kamu, Misbah," jawab Mayang cepat.

"Lho, kan kita baru kenalan?"

"Iya, tapi aku sudah membaca perkaramu. Tugasku membantumu untuk terbebas dari jeratan hukuman mati."

Misbah bingung. Terlalu banyak informasi dalam hitungan detik

"Apa kau betul-betul bisa membebaskanku? Kenapa aku terancam mati hanya karena sedikit obat?"

"Itu pasal baru," Mayang lalu bergerak lebih dekat ke Misbah, seperti ingin berbisik sesuatu.

"Masyarakat sekarang percaya, hukuman mati bisa mengurangi angka kriminal. Politikus mendengar keresahan itu. Hukuman mati hendak diuji coba untuk pelaku pencuri ringan, bahkan remaja sepertimu, supaya khalayak makin percaya sama dewan. Para cukong yakin ini adalah ladang

Pesta 112A | 101

bisnis. Nanti, hukuman mati bisa ditonton orang-orang dengan banderol tiket, seperti pesta," tambahnya. Perempuan itu mundur sejenak, memberi ruang untuk kliennya mencerna. Misbah diam saja, lalu menggeleng-gelengkan kepala, heran. "Kau uji coba pertama atas pasal ini," Mayang menegaskan. Bagi Misbah, Mayang terlalu serius, sama seperti temannya yang kini menjadi penyidik. Repot. "Tapi aku kenal sama Mahmud, penyidik tadi. Dia temanku. Bahkan tetangga sebelah daftar jadi regu tembak juga. Mereka pasti bisa membantu aku kan? Biar aku bicara sama mereka deh," kata Misbah. "Sudah, sudah. Kau harus ikuti prosedurnya sekarang. Tugasku membantu kau, tugasmu bersikap baik," Mayang menahan. *** Di ruang pemeriksaan kantor polisi, dunia seperti malam terus-terusan. Misbah duduk lesu di kursi. Mayang duduk di sampingnya, menatap penyidik yang sedang menyalakan tape recorder untuk mencatat berita acara pemeriksaan.

Penyidik:

Baik, Saudara Misbah. Sebelum kita mulai, saya ingatkan, kamu berhak didampingi pengacara. [Menoleh ke Mayang]

102 | Pesta 112A

Saudari Mayang hadir di sini sebagai kuasa hukum, betul?

Mayang:

Betul. Saya mendampingi Misbah agar hak-haknya terpenuhi. Silakan dilanjutkan, Pak.

Penyidik:

Misbah, ceritakan. Apa yang terjadi malam itu di apotek?

Misbah:

[Dengan suara pelan] Saya masuk lewat pintu belakang. Saya... congkel laci meja. Saya tahu tempatnya karena
memang sudah sering beli obat buat ibu saya. Kau... eh, maksudnya, Pak Mahmud... Pak
Mahmud tahu kan ibu saya sakit-sakitan?

[Tidak menanggapi pertanyaan personal] Obat apa yang kamu ambil? Misbah: Tramadol. Buat ibu saya. Dia sering sakit, Pak. Sakitnya pindah-pindah. Kadang di dada, kadang di badan semua. Katanya cuma Tramadol yang bisa bikin dia tidur. Penyidik: Kamu sadar obat itu bukan untuk dijual bebas? Misbah: 102 | Pesta 112A

Pesta 112A | 103

[Terdiam sebentar] Dijual bebas maksudnya gimana, Pak? Yang saya tahu, ya saya nggak punya cara lain. Ibu saya nggak kuat lagi kalau nggak minum obat itu.

Mayang:

[Menyela dengan tegas] Mohon dicatat dengan jelas, motif klien saya adalah untuk kebutuhan pengobatan ibunya yang sakit keras, bukan untuk keuntungan pribadi atau memperjualbelikan, tidak merugikan negara. Ini pencurian ringan, paling berat hukuman kurungan.

Penyidik:

[Menyandarkan punggung ke kursi] Pencurian ringan... namun objeknya adalah obat yang jika disalahgunakan dapat menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan menimbulkan kerusuhan. Kerusuhan mengancam ketertiban umum. Ancaman ketertiban umum berpotensi membahayakan negara. Kalau negara dalam bahaya, investor asing pada lari. Tapi, baik, saya catat dulu. [Mengetik dengan agak kaku] Jadi, malam itu kamu kepergok Kroja di apotek. Apa yang kamu lakukan waktu tahu dia bangun? Misbah: Saya kaget. Saya mau kabur, tapi keburu ketangkap. Udah, Pak.

104 | Pesta 112A

Mohon dicatat pula, klien saya tidak melakukan kekerasan atau perlawanan saat ditangkap.

Penyidik

[Berhenti sejenak, menatap Misbab, lalu menghela napas] Baik. Misbah, kamu paham kalau ini bisa masuk tindak pidana? Misbah: [Tertunduk dan terbata] Tidak, Pak. Saya cuma pengen ibu saya bisa tidur tanpa kesakitan.

Mayang:

[Berbicara dengan suara mantap] Saya tekankan sekali lagi, perbuatan klien saya dilakukan karena terdesak oleh kondisi sosial ekonomi dan kesehatan keluarganya. Itu harus jadi bahan pertimbangan dalam proses hukum.

Saudari Mayang, hukum itu bukan sekadar pasal. Hukum adalah pagar ketertiban. Kalau setiap orang mencontoh Misbah, apa jadinya negara ini? Bisa-bisa runtuh karena satu butir obat. Misbah: Jadi .. saya bisa dihukum mati, Pak?

Pesta 112A | 105

Tugas saya hanya memastikan bahwa berkas ini sampai ke meja jaksa dengan tepat.

[Sembari menulis dalam BAP: Tersangka melanggar pasal pencurian dengan pemberatan Pasal 112A Undang-Undang Darurat tentang Pengendalian Obat Tertentu dengan ancaman paling berat hukuman mati karena berpotensi mengguncang ketertiban umum dalam skala nasional]

Misbah berjalan dengan gontai. Pintu besi berwarna hijau kusam terbuka dengan derit panjang,

memperlihatkan ruangan sempit berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter. Dindingnya yang bercat putih sudah mengelupas. Lantainya semen kasar, dingin, dan berbau campuran keringat serta sisa makanan yang tak tuntas dibersihkan.

Ada tiga orang lain di dalam sel, mereka meringkuk di pojok, sebagian merokok dengan santai, sebagian hanya melamun. Tatapan mereka menyapu Misbah sebentar, lalu kembali ke pikiran masing-masing.

Klak! Sel besi dikunci, suaranya menutup kemungkinan apa pun-kecuali menunggu, entah apa pun itu.


"Mulai sekarang kau bukan lagi pencuri obat. Kau adalah tersangka," kata Petugas 2 yang duduk di sebelah Misbah. Mereka di dalam mobil. Ke mana menuju? Misbah tak paham betul.

Dia menatapnya balik dengan lesu, lalu menjawab, "Tersangka apa? Kan cuma ngambil Tramadol. Itu pun buat ibu saya."

“Obat itu pintu ke dunia lain, dunia yang butuh tumbal. Ya kamu ini," Petugas 1 menimpali.

106 | Pesta 112A

Petugas 2 ikut-ikutan lagi, "Nanti di kejaksaan, kau akan berubah, dari tersangka jadi terdakwa. Tinggal selangkah lagi menuju panggung akhir."

Panggung? Saya ini pencuri yang mengaku bersalah, bukan pemain sirkus, jawab Misbah dalam hati. Tapi, suara batinnya kentara dalam gestur dan keringat. Mata Misbah bergerak ke mana-mana.

"Penonton butuh hiburan. Dan setiap hiburan butuh aktor utama," kata petugas 1, seolah mendengar yang tidak diucapkan Misbah.

Setelah sampai di rutan kejaksaan, Misbah hanya bisa menunggu, menunggu lagi. Sama-sama di sel, hanya saja tampak sedikit berbeda, lebih besar dan lebih ramai.

Di sini, tahanannya bermacam-macam. Ada koruptor dengan kemeja masih licin, pengedar narkoba, maling ayam; semua bercampur. Tembok dicorat-coret dengan nama, tanggal, dan doa: Tuhan, keluarkan aku.

Misbah membaca baris yang lain: Hidup hanya menunda kekalahan-Chairil Anwar. Siapa pula Chairil Anwar, Misbah tidak tahu dan kenal, apalagi peduli. Di sel itu, waktu tidak bergerak lurus. Hari-hari hanya diukur dari berapa kali nasi masuk lewat jeruji besi.

"Kemarin aku tersangka, sekarang terdakwa. Besok apa lagi? Terganteng?" ucap maling ayam, disambut tawa hambar.

"Kalau sudah terdakwa, artinya setengah kaki kau sudah masuk tanah," timpal pengedar narkoba sambil merokok imajiner dengan jari telunjuk dan tengah.

Pada hari ketiga belas, pintu besi sel terbuka. Nama Misbah dipanggil. Dia kira hari sidang sudah tiba, ternyata hanya kunjungan. Siapa ya? Kroja mungkin mau minta maaf? Atau ibunya datang bawa nasi bungkus? Misbah penasaran. Namun hanya ada Mayang yang duduk tegak, rambutnya diikat sederhana, matanya tenang memperhatikan Misbah. Dia orang yang sudah terbiasa melihat wajah-wajah lelah.

Pesta 112A | 107

"Bagaimana di sini?" tanyanya.

Misbah mengangkat bahu. "Rasanya sama. Dari tersangka jadi terdakwa, katanya. Bedanya apa sih? Aku tetap di balik jeruji besi."

Mayang membuka map, menunjukkan selembar kertas. "Bedanya besar, Misbah. Sekarang kau resmi disidangkan. Itu artinya nasibmu akan diputuskan hakim."

Tulisan di atas kertas sulit dipahami Misbah. Semua huruf berjejer kaku, begitu membingungkan untuk orang seperti dirinya.

"Aku cuma ambil obat," gumamnya. "Kenapa bisa sampai dihukum mati? Memang aku sejahat itu apa?"

Mayang menarik napas dalam-dalam, lalu menatapnya lurus. "Ini bukan soal seberapa jahat perbuatanmu. Kau pikir, siapa yang diuntungkan kalau kau dihukum? Kau akan dipakai sebagai contoh dan dongkrak, supaya penonton percaya keadilan bekerja dengan tegas; supaya pemerintah

dapat perhatian. Seperti sinetron, ada sutradara yang bikin penonton ketagihan mengikuti cerita."

"Kalau begitu, aku ini apa? Aktor? Untuk ditonton?"

Mayang menutup map, suaranya lebih pelan, seakan untuk dirinya sendiri, "Dan aku akan membantumu untuk tidak mengikuti naskah yang absurd."


Pikirannya kalut di ruang berjeruji, meskipun sebetulnya hanya ada dua pilihan yang jelas, hidup atau mati. Dengan pening, Misbah berandai jika saja bapaknya tidak kawin lagi, mungkin keuangan

108 | Pesta 112A

rumah akan lebih baik. Dia tidak perlu mencuri Tramadol dan terdampar di sini setelah diangkut kembali seperti kambing menunggu hari pengurbanan, di ruang tahanan pengadilan.

"MISBAH! Sidang dimulai. Ikut saya," teriak petugas setelah membuka pintu besi. Beberapa tahanan selain Misbah ikut menoleh berdecak, ada yang berbisik, ada yang menepuk bahu Misbah pelan. Dia berdiri, lututnya terlalu kaku untuk menopang tubuh yang rapuh menyusuri panjangnya koridor ke panggung persidangan.

Beberapa orang sudah memenuhi ruangan. Pemilik modal menghitung potensi jualan hukuman mati. Isi catatannya tentang berapa tiket yang bisa terjual, siapa sponsor yang mau masuk, berapa biaya keamanan, dan siapa bintang tamu yang akan mengisi jeda?

Sementara itu, pengamat politik akan mencatat ekspresi wajah dan desibel tepuk tangan penonton sebagai lambang kepuasan. Semua akan masuk ke data. Apakah publik menikmati pertunjukan? Lebih dari itu, apakah ini bisa menaikkan pamor para pemimpin yang punya visi dan misi untuk meningkatkan intensitas hukuman mati?

Wartawan menulis skrip dramaturgi ruang pengadilan. Judul harus bombastis, plotnya wajib

sempurna. Berita ini nantinya akan dipajang di halaman pertama surat kabar seluruh penjuru. Bahkan yang buta huruf akan dipaksa membaca. Selain itu, ada pula perwakilan warga sipil yang hadir. Mereka mencatat detail sidang untuk kemudian hari diajarkan kepada penduduk tentang prosedur hukum terkini.

Di kursi penasihat hukum, Mayang duduk tegak, matanya tajam menatap Misbah. Jaksa sudah siap dengan berkas-berkas menumpuk di depannya. Hakim hening di kursi tinggi, wajahnya tanpa ekspresi. Palu lalu diketukkan sekali.

Hakim:

Sidang perkara atas nama terdakwa Misbah bin—[mengecek berkas, berhenti]—bin siapa?

Misbah:

Pesta 112A | 109

Bin Hasan, Pak. Tapi bapak saya udah kawin lagi, jadi saya kira bin-nya ikut pindah rumah.

[Beberapa pengunjung cekikikan melihat Misbah yang tak mengerti tentang garis keturunan, Hakim mengetuk palu sekali]

Hakim:

Bin tetap bin, Terdakwa. Itu bukan kontrakan.

[Diam sejenak]

Sidang perkara pidana atas nama terdakwa Misbah bin Hasan dinyatakan dibuka dan

terbuka untuk umum.

Jaksa, silakan bacakan dakwaan.

Jaksa:

Terhadap terdakwa Misbah, pada suatu malam hari, di Apotek Sehat Sentosa, telah melakukan pencurian obat keras jenis Tramadol. Perbuatan tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 112A Undang-Undang Darurat tentang Pengendalian Obat Tertentu, dengan ancaman paling berat hukuman mati, karena dinilai berpotensi

mengguncang ketertiban umum dalam skala nasional.

[Ruang sidang riub, ada yang bersorak kecil: Bagus! Biar maling pada tobat!]

Mayang:

Mohon izin, Majelis.

[Dengan suara lantang, ruangan kembali kondusif]

110 | Pesta 112A

Saya ingin menekankan, klien saya mencuri bukan untuk memperkaya diri, melainkan untuk ibunya yang sakit. Barang bukti menunjukkan hanya ada dua strip obat yang bahkan belum sempat keluar dari laci. Apa logis negara menjatuhkan hukuman mati hanya karena dua strip?

Jaksa: Logis, Yang Mulia. Pencurian obat keras bisa membuka pintu bagi tindakan kriminal lainnya, bisa mendorong kerusuhan, bisa menurunkan moral bangsa. Jika satu Misbah dibiarkan, besok akan ada seribu Misbah. Hukuman mati akan menutup rapat kemungkinan-kemungkinan tercela tersebut.

Misbah: Tapi, Pak, pintu belakang apotek itu tidak pernah rapat. Saya cuma dorong, sudah kebuka sendiri.

[Suasana kembali gaduh dengan bisik-bisik, Hakim mengetuk palu berkali-kali]

Hakim:

Diam! Ini bukan pasar!

Pengamat politik berbisik sendiri tentang respons audiens: 37 persen tertawa, 42 persen setuju

hukuman mati, 21 persen ragu-ragu. Potensi kepercayaan publik terhadap elite yang meningkatkan

intensitas hukuman mati: tinggi.

Hakim: Silakan penasihat hukum memberikan tanggapan atas dakwaan.

Mayang:

Terima kasih, Yang Mulia. Saya ingin menggarisbawahi beberapa hal. Pertama, nilai kerugian materil dari perbuatan klien saya sangat kecil, hanya dua strip obat. Kedua,

Pesta 112A | 111

motifnya jelas untuk kebutuhan ibunya yang sakit, bukan demi keuntungan pribadi. Ketiga, terdakwa masih remaja, bahkan riwayat kesehatan mentalnya tercatat buruk sejak ayahnya pergi meninggalkan keluarga

[Misbah bingung dan membatin: apa itu kesehatan mental?]

Saya memohon agar dakwaan dengan ancaman hukuman mati ini dipertimbangkan ulang. Hukum tidak seharusnya melupakan keadilan substantif.

Jaksa:

[Berdiri]

Yang Mulia, saya harus menegaskan. Persoalan ini bukan soal dua strip obat semata. Pencurian obat keras, apalagi jenis Tramadol, adalah masalah serius. Obat itu kerap disalahgunakan, menimbulkan kriminalitas lanjutan, dan bahkan mengancam moralitas generasi muda. Ini racun yang menggerogoti bangsa kita.

Menjatuhkan hukuman berat, khususnya pidana mati, akan menjadi pelajaran bermakna bagi masyarakat luas. Negara harus menunjukkan ketegasan demi ketertiban.

Misbah:

[Mengangkat tangan, bingung]

Tapi, Pak Jaksa... kalau semua maling kecil dihukum mati, nanti siapa yang tersisa buat nonton?

[Penonton tertawa, beberapa malah bertepuk tangan setuju, tapi seorang ibu berseru: Biar mati aja, maling tetap maling!]

112 | Pesta 112A

Bagi para wartawan, persidangan ini akan menjadi berita yang menarik. Publik telah terbukti berpartisipasi secara aktif.

Mayang:

Yang Mulia, izinkan saya menanggapi. Hukum bukan panggung tontonan. Masyarakat memang berhak atas rasa aman, tapi apakah rasa aman itu bisa lahir dari pembunuhan oleh negara? Terlebih, korban yang kita bicarakan di sini hanyalah seorang anak miskin, mencari obat untuk ibunya.

Jaksa:

[Tertawa meremehkan]

Saudari penasihat hukum berlebihan kalau bilang ini adalah pembunuhan oleh negara. Juga terlalu melankolis. Hukum kok pakai rasa iba. Ini soal wibawa negara. Jika negara tidak keras, rakyat akan menganggap hukum bisa ditawar.

Hakim:

[Menghela napas panjang, menutup berkas]

Cukup. Majelis sudah mendengar dakwaan, pembelaan, dan tanggapan. Para saksi akan dihadirkan pada sidang berikutnya.

[Hakim mengetuk palu. Suara kayu berdentum]

Ketika ruang sidang tambah bising, seorang pemilik modal di baris belakang mencatat tentang potensi keuntungan yang bisa diraup apabila momentum penembakan dihelat sebagai kenduri massal. Pasti tiketnya ludes!


Pesta 112A | 113

Ruang sidang lebih riuh dari sebelumnya. Penonton melayangkan pandang ke kursi saksi, menunggu pertunjukan berikutnya.

Hakim:

Sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi dan ahli. Pertama, dipersilakan saksi Kroja, penjaga Apotek Sehat Sentosa.

[Kroja berdiri, raut wajahnya antara canggung dan tegang]

Jaksa:

Saksi, ceritakan secara kronologis bagaimana terdakwa Misbah melakukan perbuatan yang

dituduhkan.

Kroja: Emmm ... maksudnya gimana, Pak?

Ceritakan secara kronologis, secara jelas, bagaimana Misbah mencuri obat Tramadol di apotek.

Kroja:

Oalah.

Jadi, gini, malam itu... emmm... saya lagi jaga. Perut saya sakit, kemungkinan nasi pecel
kemarin basi. Tiba-tiba terdakwa... emmm...

[terdiam, menatap Misbab]

114 | Pesta 112A

menyelinap lewat pintu belakang, membuka laci..

Mayang:

Saksi, tolong ceritakan dengan objektif. Apakah terdakwa melakukan kekerasan?

Kroja: Kekerasan? Tidak, tidak ada kekerasan. Saya cuma kaget. Emm... tapi, hukum katanya harus ditegakkan, jadi saya laporkan dia.

Ahli Politik: Bapak dan Ibu majelis, fakta ini menunjukkan bahwa penegakan hukum, termasuk ancaman pidana mati, memiliki efek signifikan pada persepsi publik. Rakyat merasa aman jika hukum tampak keras. Ini lebih dari soal keadilan individu, tapi stabilitas nasional.

Seseorang di baris belakang berbisik, "Stabilitas nasional ya? Anak kecil nyolong obat buat ibunya bisa bikin seisi negara repot?"

Polisi Penyidik: Saya setuju dengan bapak yang ahli politik tadi. Dalam BAP, kami mencatat bahwa perbuatan terdakwa berpotensi mengguncang stabilitas. BAP sudah dibuat sesuai prosedur.

Mayang: [Menginterupsi dengan pelan tapi tegas]

Berpotensi? Tapi kan hanya mencuri obat untuk ibu yang sakit, Pak. Bagaimana caranya bisa mengancam ketertiban nasional?

Polisi Penyidik:

Pesta 112A | 115

Aturan harus ditegakkan. Ketertiban nasional dibuat berdasarkan ketentuan hukum, bukan belas kasihan.

Hakim mengetuk palu kecil, memberi jeda. Audiens bergumam, sebagian tersenyum, sebagian menatap Misbah seperti menonton tokoh yang nahas.

Hakim:

Sidang pemeriksaan saksi telah selesai. Selanjutnya, dipersilakan Jaksa membacakan tuntutan.

Jaksa: [Jaksa berdiri, menatap Misbah tanpa berkedip]

Terdakwa Misbah, semua fakta yang telah terungkap di persidangan ini menunjukkan keseriusan perbuatan Anda. Mencuri obat keras jenis Tramadol di Apotek Sehat Sentosa, walau mungkin tampak sepele, menimbulkan potensi ancaman besar bagi ketertiban umum, dan hukum di negeri ini tidak bisa memberi toleransi.

Beberapa pengunjung bersorak kecil. Seorang tetua di baris belakang berbisik, "Kalau begitu, semua yang nyolong ayam juga mengancam ketertiban nasional, ya?"

Jaksa tak menghiraukan dan mulai melanjutkan tuntutan, suaranya seperti mengumumkan jadwal konser.

Jaksa: Atas perbuatan itu, dengan memperhatikan UU Darurat tentang Pengendalian Obat Tertentu Pasal 112A, terdakwa terancam pidana mati. Majelis hakim, mohon pertimbangkan tuntutan ini dengan seadil-adilnya.

116 | Pesta 112A

Saudari penasihat hukum, majelis memberi kesempatan untuk menyampaikan pleidoi.

Mayang:

[Bangkit berdiri]

Yang Mulia, Jaksa Penuntut Umum, serta hadirin sekalian,

terdakwa yang duduk di kursi, Misbah, bukan seorang teroris, bukan bandar, bukan koruptor, bukan pula pengedar. Misbah adalah seorang anak muda yang terjebak dalam kemiskinan dan keterbatasan. Sekali lagi, dia terpaksa mencuri obat, bukan untuk memperkaya diri, melainkan, untuk ibunya yang sakit, ibu yang mungkin tidak dikenal oleh siapa pun di ruangan ini. Meskipun begitu, sakitnya nyata, dan rasa perihnya tidak bisa dipalsukan.

[Misbah terdiam, dalam hatinya, dia sudah tidak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang tidak bisa dipalsukan]

Apakah pantas seorang anak manusia yang hanya ingin menyelamatkan ibunya, kita letakkan sejajar dengan mereka yang menjarah uang negara miliaran rupiah? Yang mengebom dan membunuh? Apakah pantas hukuman mati dijadikan jalan keluar atas kegagalan kita dalam menyediakan akses kesehatan yang layak, yang terjangkau?

[Mayang menatap hakim]

Negara ini lebih suka menembak mati seorang bocah miskin daripada memperbaiki sistem yang ada, sesuatu yang lebih besar dari perkara hari ini. Negara lebih takut dianggap lemah oleh publik ketimbang mengakui kerapuhannya.

Saya memohon, Yang Mulia-tidak, saya menuntut-agar pengadilan ini tidak menjadi

panggung sandiwara, untuk politik, hiburan, dan bahkan kemanusiaan. Biarkan hukum

mengembalikan martabatnya, yaitu untuk menyelamatkan nyawa.

Pesta 112A | 117

[Sejenak, ruangan hening, ada penonton bertepuk tangan pelan, tapi cepat ditegur petugas pengadilan]

Mayang: Hukum hanyalah mesin. Dan kita semua tahu, mesin tanpa empati manusia tidak akan bisa menciptakan keadilan.

Mayang kembali ke tempatnya. Udara di ruangan terasa berat karena sebagian orang terkesima dengan kata-katanya. Sebagiannya lagi? Mereka tidak mengerti.

Hakim:

Apakah Jaksa Penuntut Umum akan memberikan tanggapan terhadap pembelaan penasihat hukum?

Jaksa:

[Mengangguk dan berdiri]

Saudari penasihat hukum pandai memainkan kata-kata. Tapi mari kita kembali ke inti, terdakwa tetap mencuri. Dan bukan sembarang barang yang dicuri, melainkan obat keras yang dalam Undang-Undang Darurat dianggap berbahaya bagi ketertiban umum.

Kalau setiap orang miskin boleh mencuri dengan alasan ibunya sakit, esok pagi, stok obat di apotek-apotek kita bisa ludes. Industri farmasi akan mengalami kerugian masif. Mereka

yang sudah susah payah mencari kerja, berpenghasilan, dan membutuhkan obat, tidak akan

kebagian. Apakah itu yang dimaksud dengan keadilan?

[Menoleh ke arah hakim, nada mengeras]

Hukum bukan tentang perasaan. Hukum adalah pagar. Jika pagar ini kita buka hanya

118 | Pesta 112A

karena iba, rakyat akan menafsirkan bahwa hukum bisa dinegosiasikan. Lalu apa bedanya negara dengan pasar?

[Menatap ke arah penonton, suaranya seperti pidato]

Dan jangan lupa, masyarakat menanti kejelasan. Mereka muak dengan pencuri, pengedar, perusuh. Jika negara tidak tegas, rakyat akan mencari keadilan dengan tangannya sendiri. Apakah kita ingin kekacauan? Apakah kita ingin dendam menggantikan hukum? Lalu kalau begitu apa fungsi hakim di negara kita?

[Suasana ruangan mulai gadub, ada yang bertepuk tangan, ada yang bersorak]

Hakim: [Mengetuk palu keras]

Cukup!

[Suara palu bergema, Misbah hanya tertunduk, sementara Mayang menatap kosong ke berkas-berkas di mejanya]

Penasihat hukum, silakan sampaikan tanggapan atas replik jaksa penuntut.

Mayang:

[Bangkit berdiri, menghela napas sebelum berbicara]

Yang Mulia, kami akan menanggapi.

Pertama, jaksa menyimpulkan bahwa pembelaan kami penuh sentimentil. Tetapi apakah hukum hanya berhenti pada teks undang-undang? Ingat, Undang-Undang Darurat ini dirancang dan disahkan dengan kilat tanpa partisipasi terbuka dari publik. Pembuatannya

Pesta 112A | 119

tergesa, pengesahannya patut dipertanyakan dengan lantang. Hukum dibuat untuk memudahkan hidup manusia. Jangan terbolak-balik. Manusia tidak seharusnya

dikorbankan demi keberlangsungan undang-undang, apalagi uji coba praktik hukum yang

jauh dari kata ideal.

Kedua, jaksa menuding terdakwa berpotensi merusak generasi muda dengan Tramadol curian itu. Faktanya, jumlah yang dicuri tidak sebanding dengan asumsi "merusak generasi." Terdakwa bukan bagian dari sindikat. Dia pemuda yang mencoba menyelamatkan ibunya.

Ketiga, kami ingin menegaskan kembali, apabila hukum menutup mata, atau lebih parahnya lagi berubah menjadi buta pada konteks sosial dan kesehatan, kita semua sedang tidak memperjuangkan keadilan. Itu tandanya, kita sedang melanggengkan kekuasaan sebagai alat untuk menindas mereka yang sebenar-benarnya telah direnggut hak hidupnya, mereka yang sebenar-benarnya membutuhkan pertolongan negara untuk bertanggung jawab selaku wakil rakyat.

[Mayang menunduk dan diam sejenak, hampir saja Hakim menyela]

Kami mohon majelis mempertimbangkan semuanya. Sekarang, mungkin saya mewakili Misbah. Namun, yang saya sampaikan dari tadi akan terus relevan jika tidak ada perubahan yang segera dilakukan, dimulai dari putusan persidangan ini. Yang duduk di hadapan Anda, di hadapan kita semua, adalah manusia yang bisa menebus kesalahannya, asal tidak direnggut kesempatannya.

Hakim:

[Mengetuk palu]

Cukup. Majelis akan bermusyawarah. Sidang putusan akan dijadwalkan pada hari Senin, pukul 10 pagi.

120 | Pesta 112A

Palu berdentam. Seisi ruangan ambyar. Mayang, setelah berjanji kepada Misbah untuk segera menemuinya, langsung bergegas ke luar bangunan itu. Wartawan berhamburan menghujani penasihat hukum yang sangat vokal ini dengan banyak pertanyaan. Hanya salah satu di antaranya yang bisa dia dengar.

"Bu Mayang, apakah benar Anda berniat menjadikan kasus ini sebagai bentuk perlawanan terhadap uji coba hukuman mati yang problematik?"

Mayang berhenti melangkah, menatap kamera dengan mata yang tajam.

"Prioritas saya adalah Misbah. Karena besok, lusa, dan seterusnya, siapa pun bisa duduk di posisinya saat ini, jika tidak ada yang mendesak perubahan."


Sidang hari ini membuat Misbah lelah. Dia duduk bersandar di dinding, mengenakan pakaian tahanan yang bau keringat dari tegangnya ruang sidang. Palu hakim tadi masih terngiang di kepalanya, berdentum-dentum.

Misbah menggenggam lututnya sendiri. Senin, gumamnya lirih. Itu hari yang akan menentukan apakah matanya masih bisa melihat langit atau tidak. Dia sadar betapa menjengkelkannya pekerjaan menunggu. Harus bersabar, menanti panggilan demi panggilan. Di saat-saat seperti ini, Misbah mulai menyalahkan ibunya. Waktunya habis untuk memikirkan kenapa dia harus putus sekolah, bapaknya kawin lagi, dan ibunya sakit-sakitan tak menentu. Kadang segar, lima menit kemudian mengaku nyeri, tengah malam membangunkan Misbah dari tidur yang lelap karena minta dipijit.

"Besok masih ada hidup?" Dia resapi coretan di dinding yang entah ditulis oleh siapa. Rasanya menancap di hati.

Tanpa sadar, kesadarannya menipis, memasuki alam tidur. Tubuhnya mengucurkan keringat yang intens sebab dia bermimpi tentang dirinya yang menjadi semua orang; menjadi hakim, algojo,

Pesta 112A | 121

dan ibunya yang sakit. Suara palu terdengar sebagai peluru yang melesat, mematikan yang hidup; menghidupkan ketakutan untuk mati.

Para majelis hakim juga bermimpi. Dalam tidur mereka, Misbah memegang palu di kursi terdakwa. Misbah sendiri yang memvonis mereka karena terbukti disuap untuk mempraktikkan hukuman mati secara kilat, tanpa kalkulasi dan riset yang lengkap, bekerja sama dengan pemilik modal pula untuk menghelat hiburan demi perputaran ekonomi lokal. Sementara para regu tembak, yang dari jauh hari sudah menyiapkan senjata, bermimpi tentang peluru-peluru yang macet. Dalam hanyut lelap mereka, Misbah kebal dan berlipat ganda menjadi gelombang protes yang tidak terbendung.

Hanya Mayang yang tidak terlelap. Pembelaan yang dia bacakan tadi terus bergema, lebih keras

dari dentum palu sang hakim.


HUKUM TEGAS, RAKYAT PUAS!

Spanduk itu terpampang besar di depan gedung pengadilan. Ruangan sidang lebih ramai dari sebelumnya. Bahkan, beberapa pedagang diizinkan membawa gerobaknya masuk. Ada yang jualan kacang rebus, es teh manis, cilok, hingga tahu bulat. Dalam keadaan yang menyangkut nyawa seorang manusia, ekonomi harus tetap berjalan.

Hakim:

Atas nama keadilan dan demi hukum, sidang hari ini kami buka kembali.

[Diam sejenak, membaca putusan]

Majelis telah mempertimbangkan fakta-fakta persidangan, keterangan saksi, dan pleidoi penasihat hukum. Majelis juga mempertimbangkan kondisi terdakwa yang masih muda, berasal dari keluarga miskin, serta motif perbuatannya untuk menolong ibunya yang sakit.

122 | Pesta 112A

[Sejenak wajah Misbah tampak lega, Mayang menunduk, berdoa dalam hati]

Namun, majelis juga menimbang keresahan masyarakat atas maraknya penyalahgunaan obat keras. Majelis menimbang kepentingan negara untuk memberikan efek jera. Majelis menimbang bahwa negara harus hadir, tegas, dan berwibawa.

[Seisi ruangan tak sabar menunggu kata-kata hakim selanjutnya]

Maka dengan ini, majelis hakim menjatuhkan putusan ..

Waktu seolah berhenti untuk hakim. Ada jeda yang terasa panjang baginya. Kroja hadir, Mahmud si penyidik juga duduk di bangku penonton. Beberapa tetangga Misbah turut mendengarkan lewat radio. Kendati terlambat, mereka kini merasakan iba.

Hakim:

[Berdeham dan mengulangi kalimat]

Maka dengan ini, majelis hakim menjatuhkan putusan: terdakwa, Misbah, dijatuhi pidana mati.

Palu diketuk tiga kali.

Terdengar sorak-sorai dari penonton, ada yang bertepuk tangan, ada yang bersiul seperti habis menonton konser. Beberapa orang melempar kulit kacang ke udara. Ini pesta buat mereka gelanggang hebat yang pertama kalinya akan digelar untuk melihat langsung orang ditembak mati. Warga akan berkumpul di alun-alun, membayar tiket masuk untuk menonton pertunjukan itu. Pedagang-pedagang sekitar berebut tempat. Mereka bersaing dengan produk-produk kota yang juga membeli sepetak dua petak untuk menjaja barang-barang modern. Wartawan dapat akses khusus,

Pesta 112A | 123

jumlahnya jauh lebih ramai dibanding hari-hari persidangan. Seluruh penjuru harus tahu satu hal, beginilah cara keadilan bekerja.

Sementara bagi para elite, ini adalah kampanye menuju kemenangan.

Suasana ruangan makin riuh. Hakim menutup berkas. Tersiar kabar di televisi bahwa hukum berhasil ditegakkan, tak peduli pada tanah yang seperti apa. Mau setandus apa pun, tiang harus dipancangkan. Di antara ingar-bingar itu, Misbah tidak bisa memegang kendali dirinya. Dia jatuh pingsan.

Jauh di rumah, ibu Misbah terduduk di lantai yang dingin. Berita dari radio tidak henti-henti

menggaungkan vonis hukuman mati anaknya, satu-satunya. Dia keluarkan handphone tua dari

kantongnya dan menelepon sebuah nomor. "Misbah kena, tak aman sekarang. Kita jangan gegabah," katanya. Telepon ditutup.

Mencan Penerang Menuju Jalan Pulang

Satu Kiasan Sepekan

Satu Kiasan Sepekan | 125

Oleh Abi Ardianda

Nusakambangan, 2018

Permainan itu saya beri nama satu kiasan sepekan. Sengaja saya rancang untukmu, yang mencintai kata-kata segenap hati, mungkin lebih dalam dari yang kamu sadari. Tiap kali saya memberimu sebuah kiasan, kamu wajib bersabar menanti kiasan lain pada pekan selanjutnya. Sepekan terlampau panjang bagi perempuan yang tidak sabaran, kamu menggerutu. Sebagai negosiasi, selain menyisipkan peribahasa, saya menambahkan permainan satu kata sehari. Kamu takjub menyadari begitu banyak kata yang artinya tidak kamu ketahui. "Arunika itu... bahasa Indonesia?" Keningmu berkerut. "Mirip nama perempuan," cecarmu.

Aksara telah menjembatani kita, dan tak satupun orang mewaspadai daya yang bisa dilahirkan manusia hanya dengan mengeja. Kita lupa, mantra juga dibangun dari kata-kata. Di mata para sipir, kita cuma dua perempuan yang duduk berseberangan di atas porselen. Mereka lengah menyadari harapan yang dirawat melalui abjad; bagaimana deretan vokal dan konsonan itu berhasil membantu kita melanjutkan hidup. Dasar, kurang kerjaan, katanya. Sekadar menulis dan membaca, dihalangi jeruji yang pernah kamu pertanyakan ukuran diameternya. Paling kurang lebih setengah senti, kamu menerka. Tetapi, kita berdua tahu, setengah senti diameter itu berarti segalanya. Dari Lapas Kelas I Batu, mereka memindahkanmu ke Lapas Kelas II A Pasir Putih. Di antara embusan napas panjangmu, kamu mengeluhkan keberadaan tujuh perempuan lain, berharap diberi privasi. Tetapi, mendekam di sel isolasi berukuran dua kali satu meter juga saya rasa tidak lebih baik, sebab yang menyertaimu hanya dinding hening dan bising di kepala. Ingat saat mereka mengirimu ke Lapas Bagansiapiapi? Delapan ratus enam narapidana berdesakan dalam ruang dengan daya tampung sembilan puluh delapan orang. Bahu ketemu bahu. Udara yang kamu hirup merupakan buangan napas kawan satu selmu, begitu pun sebaliknya.

Atau, ketika sipir mesum dan beberapa tahanan bergiliran memerkosamu di lapas Gunungsitoli, sebab keterbatasan kapasitas memaksa mereka membaurkan sel laki-laki dan perempuan. Mereka menolak memindahkanmu karena dianggap menghamburkan pengeluaran. Penggalangan dana untuk membiayai kepindahan kamu dan beberapa warga binaan lain waktu itu menjadi salah satu keputusan yang tidak pernah saya sesali. Iring-iringan kendaraan lapis baja, ditambah puluhan Brimob yang mengawal perjalanan kalian diumbar di layar kaca. Kalian diberangus. Betapa dramatis. Sementara jeritanmu yang melengking kala kamu miskram, diiringi doa kawan-kawan satu selmu katanya tidak seronok disiarkan seantero negeri. Tidak ada yang tertarik menyaksikan ceceran darah dari selangkangan perempuan. Siapa mau lihat gumpalan daging hasil kasus

126 | Satu Kiasan Sepekan

perkosaan yang tidak pernah diadili? Lihat bagaimana setengah senti diameter jeruji tadi berkuasa memelintir takdir?

"Kemari, Baine," dengan panggilan istimewa, julukan bagi para perempuan di Toraja, saya memintamu mendekat. Selain di ruang sidang, kita berdua tidak menganggap nama aslimu penting. Sepotong nama itu sempat geger diberitakan media nasional. Membuatmu jijik. Selain itu, sebutan Baine juga membuatmu merasa anggun, bikin saya yakin menyematkannya padamu. "Tutup matamu." Kamu menurut. Deru napasmu menyerbu wajah saya, hangat. "Bayangkan saat ini, kamu berada di rumah. Kamu bangun kepagian." Mustahil saya mengetahui berapa malam kamu lewatkan tanpa berbaring di atas kasurmu. Sejak vonis dijatuhkan Pengadilan Negeri Makale, Tana Toraja, tiga belas tahun silam, tempat tinggalmu berpindah dari sel ke sel. Kenangan mengenai sepetak ruang tempatmu tumbuh tentu menyerbumu dengan militan. Kerinduan itu pasti ada. Saya lalu memintamu membuka jendela kamar. "Apa yang kamu lihat?"

Masih memejam, senyummu merekah. Saya terharu tahu kamu menyaksikannya. Pandanglah rona kemerahan yang menyingsing halus bersama mentari itu, Baine. Menyusup di sela pegunungan. Tidak usah buru-buru membuka mata. Dunia boleh merenggut jiwa dan ragamu, tetapi panorama itu milikmu. Rengkuhlah. "Itu, arunika, cahaya kemerahan yang menyusul matahari terbit."

Sesi satu kata sehari kita diinterupsi petugas yang memanggilmu ke ruang wawancara. Sembari membuka gembok, ia bersiul, lanjut memasang borgol pada pergelangan tanganmu. Dengan mimik jenaka, ia memastikan kalau hari ini jadwal keramasmu. Katanya, rambutmu wangi sampo. Kamu mengangguk sambil terkekeh, lalu kita membuntutinya.

Sementara kamu menyambangi ruang investigasi, saya menyelinap ke sayap pengawasan. Tempat sebidang cermin searah berukuran raksasa membentang. Kamu mungkin tak tahu kalau saya dan beberapa petugas lain mengawasi percakapan kalian. Pembicaraan itu direkam.

Dua petugas duduk di hadapanmu. Salah satunya menunjuk titik koordinat denah yang digelar di meja. Kamu pasti melihat noda minyak ditinggalkan telunjuknya pada kertas. Sebelum memasuki ruang wawancara, saya lihat ia melahap pisang goreng. "Di bagian utara, ya, Mbak. Delapan puluh meter sebelum wc umum," suaranya dikirim mesin pengeras, bergemirisik. Adonan tepung mungkin kini menubruk-nubruk gusi petugas berkumis itu, sebab ia mengoceh sambil mengunyah. Informasi tadi disampaikannya dengan enteng, sebab baginya, ini adalah hari yang biasa-biasa saja. Jam kerja yang mewajibkannya menjalankan tugas. Kita juga tidak akan menganggap ada yang tragis, andai titik koordinat yang dipaparkannya bukan lahan yang kelak digunakan mengebumikanmu.

"Ada yang sampean kepingin tanyakan, tah?" Jempolnya yang gemuk menyeka bibir, lalu ia lap ke sisi meja. "Kalau endak ada, monggo kembali ke sel, saya mau makan siang."

Satu Kiasan Sepekan | 127

Bukan hanya titik koordinat pemakaman, Baine, dua ratus juta rupiah juga digelontorkan untuk eksekusi yang tanggalnya telah disepakati. Dua belas penembak bersiaga, masing-masing mengantongi amplop berisi tiga koma lima juta. Dua belas senapan, tiga di antaranya kelak diisi peluru, dan... saya. Dokter yang kelak mendampingi hingga vonis matimu tiba. Mereka mengajukan pertanyaan wajib pada tiap terdakwa, "Apa permintaan terakhir sampean?"

Saya ingat, Baine, dengan mantap, kamu menjawab, "Sebilah belati."

Tana Toraja, 2005

Kisahmu berawal dari laporan pengemudi truk yang ban serepnya terjatuh, lalu menggelinding ke jurang di sepanjang Makale-Palopo. Ban serep tersebut menubruk jasad bocah laki-laki berusia delapan tahun, bernama Israel. Ibunya, Martina La'Biran, telentang di kebun cengkih daerah Rante Kalua, Mengendek. Sesuatu di antara kedua pahanya dirobek dan diiris parang sampai pusar. Sang ayah, Andrias Pandin, terbujur di sampingnya, menunjukkan luka tusuk di punggung. Beserta cabikan di pipi hingga menganga. Saat ditemukan, keduanya diselimuti daun nanas.

Tujuh pemuda sebagai eksekutor ditahan, dan namamu disebut-sebut sebagai aktor intelektual, alias dalang dari insiden tersebut. Suamimu meraung. Meneriakimu laknat. Kamu digusur ke polres dengan bibir biru. Tatapan kosongmu sontak menghiasi koran dan jajaran stasiun televisi. Seluruh lapisan masyarakat kompak meneriakimu jahanam. Dikirim langsung dari neraka, begitu jeritan mereka. Kami menuntut keadilan. Hukum seberat-beratnya.

Di sela amukan suamimu, beberapa portal berita menampilkan serapahnya, katanya ia tabu. Berulang kali suamimu menekankan, bahwa ia selalu tahu, kamu cemburu. Keluarga itu, yang sudah dia anggap saudara sedarah, dipercaya mengelola rumah adat, ia menyebutnya tongkonan. Padahal mereka cuma babu. Modal dikasihani. Karena itu, kamu iri. Perempuan serakah. Seisi bumi pun tak ada artinya bagi perempuan yang tak tahu cara bersyukur, ia menambahkan. Suamimu mengaku tahu banyak hal, tetapi tidak tahu kalau perempuan yang selama ini dinikahinya mungkin diam-diam mengerami iblis, begitu Kepala Lapas tempat saya kerja berkelakar. Tawanya seketika raib saat tahu namamu kelak ditempatkan sebagai warga binaan Kelas I di lapas tempat kami bekerja.

Jakarta, 2006

Diam seribu bahasa, itu peribahasa pertama kita.

Pasca vonis dikumandangkan, kamu diberangkatkan dari Toraja menuju Jakarta. Lanjut berkendara menuju Rutan Kelas I Cipinang. Kardigan warna kuning telur asinmu diganti seragam biru. Saat ditelanjangi, air matamu mengalir tak tertahankan. Seolah bersama kardigan kuning telur asinmu, jiwamu ikutan terempas. Seragam biru itu menjejalimu sebuah identitas baru: Warga

128 | Satu Kiasan Sepekan

Binaan, meski orang kepayahan mengingatnya dan hanya menyebutmu napi. Usai mencocokkan dokumen, memintamu batuk, mengejan, menyisir dinding vagina, dan merojok lubang anusmu dengan telunjuk, para petugas memintamu mengikuti saya ke ruang pemeriksaan medis.

Lorong tahanan yang biasa saya lewati tiap hari mendadak terasa memanjang. Langkah kita berderap dengan gesa, tetapi, kok, tidak sampai-sampai, ya? Kemudian, saya menyeletuk, menyerukan kalimat retoris; diam seribu bahasa. Sosokmu mengingatkan saya pada gawai yang terkonfigurasi. Saat terjepit dipaksa bicara, suaramu mirip operator telepon; ..untuk kembali ke menu selanjutnya, tekan tombol bintang. Peribahasa itu meluncur begitu saja, memaparkan kehadiranmu.

Enam bulan kemudian, kamu menanyakan makna peribahasa tersebut. Sebelumnya kamu bersikeras bisu. Saya terkejut menyadari peribahasa itu bernaung pada suatu sudut di dalam dirimu. Itu artinya, diam-diam kamu menantikan waktu yang tepat untuk memulai percakapan ini. "Aga elo mu?" Kamu menguji pengetahuan bahasa Bugis saya, lalu segera meralat, sadar saya menanggapimu dengan hening, "Mau apa, kau? Kau omong 'diam seribu bahasa', apa maksudnya?"

Perlu beberapa menit bagi saya memahami maksudmu. Kamu sedang menagih penjelasan teka-teki yang saya lempar enam bulan silam. Saya semringah. Sebab, pertama, setelah dipaksa sabar menerima anggukan atau gelengan kepala, kini kamu sudi buka suara. Kedua, karena darimu muncul rasa percaya. Setengah tahun bukan waktu singkat untuk membuka diri. Terutama pada seseorang yang kamu temui tiap hari. Tetapi, saya berusaha mafhum. Di hadapanmu, saya hanya gigih menyediakan telinga.

Di tengah huru-hara kedatanganmu ke Lapas, ditambah pemberitaan media yang menggambarkanmu sebagai monster keji yang perlu diwaspadai, saya menemukan kejanggalan yang luput semua orang perhatikan. Selain sepasang mata katarak, dan luka bakar seukuran batang rokok di pipi, segaris luka jahit juga tergurat di lengan kananmu. Dekat sikut. Suamimu meyakini luka gores itu bukti tak terbantahkan yang mengarahkanmu sebagai dalang. "Mungkin hasil tengkar. Mereka pasti sempat berkelahi." Pungkasnya ketika diwawancarai petugas.

Tuduhan itu kamu bantah. Meski parang yang dijadikan senjata pembunuhan ditemukan dalam penjuru lemarimu, alibimu pada malam kejadian nihil. Pengakuan beberapa saksi juga memberatkanmu sebagai terdakwa. Di BAP, kamu melaporkan luka tersebut akibat tergelincir di pasir. "Berapa dalamnya?" Salah satu petugas berlagak sok teliti, seolah-olah kedalaman luka dapat ia ukur presisi demi mendukung investigasi.

Tak seorang pun, termasuk petugas yang menganggap dirinya paling kritis, sadar, bahwa benang yang menjahit lukamu merupakan benang kain. Jenis benang yang biasa kamu gunakan menenun. Selain mahir melukis, penduduk setempat mengenalmu sebagai penenun andal. Apa yang

Satu Kiasan Sepekan | 129

sebetulnya terjadi sampai jahitan benang yang seharusnya menyulam selendang berpindah ke lengan kananmu juga, Baine? Rahasia apa yang sedang kamu rajut di sini?

Tidak, saya tidak mendesakmu membeberkan fakta. Kalau tidak buru-buru saya tangani, benang pakaian di atas lukamu dapat menyebabkan infeksi. Bakteri sigap menyebar ke pembuluh darah. Kisahmu bisa disidak belakangan, tetapi lukamu mustahil diajak kompromi. Saya ingat betul, usai memasangkan kain kasa, kamu berbisik, "Tarima kasi," dengan suara gemetar. Bukan karena saya mengurus jahitanmu. Melainkan karena sadar, saya tahu kamu menyembunyikan sesuatu, tetapi tidak menuntutmu berterus terang. Perempuan dan rahasia memang bagai asap yang bergulung-gulung, Baine. Orang menganggap kita piawai mengaburkan pandangan, tetapi tidak pernah mengusut bara yang memantiknya.

Usai menjahit lengan kananmu, dan meluncurnya peribahasa pertama kita, kamu semakin piawai memainkan kata-kata. Buah Bibír, serumu, saat salah satu petugas menunjukkan parasmu di teve. Petugas itu mengacungkan jempol, memujimu jelita, dengan bahasa Bugis, "Mabello."

Senyummu merekah. Indah. Kamu menginterogasi, kalau-kalau saya menginginkan tanda tanganmu. Negara memburumu, maka goresan tanganmu mestinya bisa jadi komoditas, begitu guraumu. Saya terkekeh. Dengan mengutamakan jarak aman kewaspadaan saya tak melonggar sejak detik pertama kita berjumpa _ saya meminjamimu buku catatan dan pensil. "Pensilnya cuma boleh digunakan selama sesi satu kiasan sepekan, ya, Baine." Para petugas akan menegur, kalau tahu saya memberimu benda tajam.

Selain gurat aksara, kertas dan pensil pemberian saya juga kamu gunakan melukis. Suatu siang, kamu menunjukkan paras seorang perempuan rupawan, yang secara mengejutkan tampak familier. "Martina," bisikmu, merujuk salah satu korban di kasus pembunuhanmu. "Kami biasa menegak ballo sama-sama, mengisap tembakau sembunyi-sembunyi," kamu mengimbuhi. Ballo, baru saya ketahui belakangan, merupakan arak Toraja. Fermentasi cairan pohon nipah atau aren. Pamor ballo'ase, alias ragi beras, tak kalah unggul, meski kamu akui rasanya kurang cocok di lidahmu.

"Buku ini, yang kamu berikan pekan lalu, mengingatkanku padanya," telunjukmu mendorong buku Toeti Heraty, 'Nostalgi = Transendensi' melalui kolong jeruji. "Mengingatkanku pada Martina. Kami tahu, di belakang, orang-orang desa omong kami gila. Kamu ada buku lain yang bisa kubaca?"

Sembari memungut buku darimu, saya tertegun. "Kalian... dekat?" Ada sesuatu dalam diri saya bergeliat, memberontak. Seakan terdapat untaian tali lepas; begitu, kadang, kenyataan menuntut dirinya muncul ke permukaan. Meledak-ledak dalam sunyi. Gemuruhnya hanya kita rasakan sendiri. "Kamu, sama Martina, enggak musuhan?"

130 | Satu Kiasan Sepekan

"Kami seperti adik-kakak," kamu berseloroh. "Saudara kandung mana tega mengoyak combi³ sesama?" Kemudian pelupuk matamu berembun. "Aku merindukannya," serumu, lebih kepada dirimu sendiri. "Perempuan seram yang kuhadapi, dengan garis alis, dan cemooh tajam, tertawa lantang. Aku terjebak. Gelas anggur di tangan. Tersenyum sabar, pengecut menyamar," kamu mengutip salah satu puisi Ibu Toeti kegemaranku dengan suara merdu.

Pekan selanjutnya, bersama buku Di Atas 40 Tahun, tulisan Saparinah Sadli, ditambah sebuah 'Kuli Tinta' sebagai kiasan pekan tersebut, saya menyelipkan selembar kertas putih. "Berita, itu, kerjaannya kuli tinta, wartawan. Kamu nulis puisi aja." Saya menantang.

"Puisi tentang apa?"

"Apa aja, terserah." Puluhan menit setelahnya, kamu mengembalikan kertas yang semula kosong. Kini ia berisi untaian kata tidak beraturan. Tindih menindih. Dihiasi coretan sebagai koreksi, tetapi mujur membuat lutut saya sontak gemetar. Sejenak, napas saya tertahan. Genggaman saya mengerat. Saya bahkan luput berpamitan. Setelah merebut paksa pensil dari jemarimu, saya berlari meninggalkan sel.

Puisimu menggusur saya pada sebuah titik terang.

Sebagai dokter umum lapas, kami menyaksikan hampir segalanya. Termasuk hal-hal terburuk yang hanya mungkin kamu khayalkan. Tetapi, baru kali ini saya menyaksikan keganjilan kentara. Kehadiranmu di sini tidak proporsional. "Dia nulis puisi cinta. Dan, ini," saya menunjuk-nunjuk puisimu pada salah satu kolega. "Ini bukan puisi yang ditulis seorang pembunuh. Dia... jelas-jelasan lagi kasmaran. Kasmaran sama siapa, cuma Tuhan yang tahu."

Kolega saya mengangguk; darinya tersirat keraguan, tetapi sadar argumen saya beralasan. "Kamu mesti ngobrol sama orang NGO yang biasa wara-wiri. Katanya, mereka nemuin banyak kecurangan prosedur."

Sepasang mata saya membelalak. Kecurangan prosedur?

"Denger-denger, 13 Januari itu, dia ditangkap tanpa surat penangkapan resmi. Pembuatan BAP juga enggak didampingin pengacara. Bayangin, berkas setebal itu, disodorin ke pengidap katarak. Karena sempet nolak tanda tangan, pipinya disundut rokok."

Ingatan saya memutar pemandangan luka bakar mungil di wajahmu.

Combi: vagina (bahasa Toraja)

Satu Kiasan Sepekan | 131

"Masih banyak lagi. Pas rekonstruksi, dia juga enggak dilibatkan. Coba, deh, kamu cari pendamping hukumnya, dia pasti tahu lebih banyak."

Dengan dada sesak, saya meninggalkan ruang pemeriksaan medis sambil menahan diri untuk tidak berteriak.

Percayalah, Baine, bukan hanya bagimu. Semua orang di lapas menyetujuinya, hari-hari seakan bergulir tanpa berganti wajah. Tahu-tahu, kita merasa renta.

Jadi, saya bisa mafhum, andai kejemuan kadang membuatmu berpikir bahwa kematian jauh lebih remeh untuk dilalui. Selain beberapa kawan sesama sel, temanmu cuma saya. Sejauh ini, saya perhatikan, kamu hanya menerima dua kunjungan; kunjungan pertama dihadiri dua perempuan, datang jauh-jauh dari Toraja, satu lagi pria misterius yang mengisi daftar hadir dengan dugaan kartu identitas palsu. Tak satu pun petugas lapas paham tujuannya memalsukan KTP, tidak ada yang punya waktu menindaklanjutinya juga. Yang jelas, kedua kunjungan tersebut kamu tolak. Alasannya mustahil saya ketahui. Yang saya cermati, kunjungan-kunjungan itu membuatmu lebih murung. Mereka secara ganjil merenggut semangat hidupmu.

Beberapa bulan terakhir, dibantu pendamping hukum organisasi nirlaba yang

memperjuangkanmu, kami mengumpulkan inkonsistensi keterangan yang dilaporkan. Para pelaku, proses eksekusi pembunuhan, tempat kejadian, sampai keterlibatan semua pihak, seluruhnya berubah-ubah. Ketidaksesuaian bukti juga mendukung adanya teori rekayasa kriminal. Salah satu pelaku mengaku memeloroti celana panjang Martina. Sementara bukti yang dimunculkan di Pengadilan Negeri Makale menyebutkan Martina, ketika insiden tersebut berlangsung, menggunakan rok mini.

Satu hal yang mengganggu ketenangan saya, setidaknya secara pribadi, adalah kenyataan bahwa ahli patologi forensik yang menangani otopsi kasusmu hengkang tidak lama setelah putusan dibacakan. Ia dipindahtugaskan begitu saja, tanpa alasan transparan. Saat ini, saya memanfaatkan jejaring perkenalan demi melacak keberadaannya.

"Kau tahu, kan, kalau tongkonan, rumah adat itu, tidak bisa dimiliki perorangan?" Pertanyaanmu menampar saya pada kesadaran lain. "Betul, para keturunan bisa mengelola tongkonan sama-sama, tetapi tidak bisa dimiliki pribadi. Kalau memang saya mengincar kepemilikan Martina, rumahnya itu cuma empat kali delapan meter. Setengah batu, pula. Apa untungnya?" Kamu tergelak. "Kencang sekali tawa Martina bisa kudengar, saat orang di gunung itu melangsungkan rambu solo."

Darimu, saya baru tahu, tiada yang lebih diagung-agungkan orang Toraja selain tongkonan, dan 'rambu solo', atau upacara kematian. Mengiringi pengantaran jenazah ke ceruk di sela-sela gua atau tebing batu; ratusan kerbau dan babi disembelih demi melancarkan rute ke puya kami, orang

132 | Satu Kiasan Sepekan

Jawa, mengenalnya sebagai alam baka. Tempat yang ironinya tak satu pun makhluk di bumi pernah bersaksi atas keberadaannya.

Sebelum biaya terkumpul _ sebab jumlahnya sama sekali tidak sedikit_jasad-jasad itu dilumuri balsam dari tumbukan daun sirih ditambah getah pisang. Supaya tidak cepat membusuk. Saya hapal aromanya, bikin mual. Prosesi tersebut diselenggarakan di tongkonan, dan mencermati khidmat ritualnya, saya bisa membayangkan bagaimana warisan yang demikian sakral dapat membuat siapa

saja sanggup memutus hubungan darah. Atau bahkan urat nadi. Pertanyaannya, siapa otak di balik

seluruh kekejian ini?

"Di mana kamu, saat malam kejadian, Baine?"

Kamu tampak terkejut. Jelas tidak mengantisipasi pertanyaan saya. Seraya meraba luka jahit di tangan kanan, kamu menjawab, setengah berbisik, "Bukan urusanmu."

Sebatang kara. Itu kiasan kita selanjutnya.

Sebelum berpulang dan meninggalkan saya sendirian, ibu mengajari saya menjadi keras kepala. Katanya, sikap persisten dibutuhkan saat berusaha mewujudkan harapan. Orang tua lain mengutamakan sopan santun dan kepatuhan. Sementara ibu saya beranggapan tata krama dan etika tidak ada artinya apabila digunakan untuk mencelakai.

Nasihatnya pernah saya terapkan saat menulis novel, saya pernah bercita-cita menjadi pengarang. Namun yang berulang kali saya terima hanya surat penolakan publikasi. Sementara angka dan sains, yang tidak begitu saya gemari, malah membukakan saya banyak pintu. Terpaksa bara mimpi itu saya padamkan, lalu pelan-pelan saya telan. Kobaran yang mirip dengannya secara ajaib kembali menyala dalam diri saya, ketika pertama kali namamu mampir di telinga.

Dua tahun setelah pertemuan perdana kita, Baine, saya terus berjuang mengungkap kepingan kosong dari figura yang membingkai kasus pidanamu. Didukung beberapa advokat yang sukarela memberikan pendampingan hukum, kami berhasil mengajukan bukti yang memberatkan keterlibatan suamimu ke pengacara, untuk diajukan ke Mahkamah Agung. Kami menemukan hasil otopsi orisinal, yang menunjukkan cairan sperma suamimu menempel pada vagina Martina. Ahli patologi forensik yang memfabrikasi hasil otopsi bukan hanya diancam akan dibunuh, kariernya juga pupus. Ia kini menetap di luar negeri, bersama keluarganya. Wejangan ibu saya mutakhir mendekatkan kita pada kemenangan, tetapi, rupanya, medan pertempuran ini tidaklah sesederhana itu.

Suamimu diadili. Bajingan itu kini mendekam di rutan yang jauh darimu. Meski suamimu, ditambah para saksi telah mengubah pernyataan, menekankan bahwa kamu tidak terlibat dalam

Satu Kiasan Sepekan | 133

pembunuhan keji tersebut, kemajuan itu tak lantas membebaskanmu dari tuduhan. Alibimu tetap alpa dan motifmu masih relevan.

Usai sidang pengajuan temuan baru, debur ombak susulan hadir menggempur.

Sesampainya saya di ruang tahananmu, mengantarkan kiasan yang mestinya kamu tunggu-tunggu, kamu membelakangi saya. "Indah ya, sebatang kara? Manusia memang kadang cuma dianggap barang_batang," katamu, sembari bergelung meringkuk, menghadap dinding. Tanpa gumaman yang mengalun saat kamu tidur, napi lain dalam sel akan mengira kamu sudah tiada.

Pekan berikutnya, ketika saya kembali mengunjungimu, barulah saya dapati tulang hidungmu remuk. Mata kananmu membengkak. Rona biru kehitaman menyebar di pipi, leher, dan bagian tubuhmu yang lain. "Tidak apa-apa," ujaran lirihmu meluncur parau dari bibir yang juga dirobek. "Ini harga yang harus dibayar akibat mengingkari tuduhan. Selain seorang sipir, beberapa napi ikut-ikutan berlagak jadi pahlawan. Menyerang dengan dalih menegakkan keadilan. Apa mau dikata, bukan aku pelakunya," bubuhmu. "Sampai mereka bunuh aku, ya, tidak akan kuubah pernyataanku. Kenapa aku harus mengakui sesuatu yang tidak kuperbuat?"

Naik Pitam, menjadi kiasan terakhir kita sebelum kamu dipindahkan dari lapas ke lapas. Mulai dari Bagansiapiapi, Riau, hingga Gunungsitoli, Nias. Selama menjelajahi pulau demi pulau itu, saya curi-curi waktu untuk rutin menjengukmu. Kedekatan kita boleh tercium, tetapi, saya bertekad, sesi satu kiasan sepekan kita tak lantas tiba pada babak penyelesaian.

Hingga mereka mengurungmu di pulau terakhir, tempat di mana kita berdua sepenuhnya takluk pada takdir.

Nusakambangan, 2013

Diserap dari bahasa Jawa, Nusakambangan berarti pulau bunga-bungaan, Baine. Sempat dilestarikan sebagai habitat bagi tumbuhan langka, yang tersisa di sini hanya perdu, nipah, dan jajaran belukar. Pertama kali melangkahkan kaki dari feri, melalui pelabuhan Sodong, saya melihat mercusuar menjulang anggun di bagian timur pulau. Diam-diam menyaksikan setiap cerita yang dilarang bergema. Saya takjub menyadari bagaimana pulau ini, sesuai namanya, bersikukuh menumbuhkan harapan. Selagi terus dipaksa melenyapkan beragam kisah melalui letupan-letupan senapan.

Tahukah kamu kebohongan seperti apa yang mereka siarkan melalui teve-teve swasta, Baine?

Katanya, setiap warga binaan diberi upah kerja dari berbagai balai latihan. Melalui pengelolaan kambing, sampai konveksi. Sebagian gaji diberikan langsung untuk memenuhi keperluan di penjara, seperti membeli sabun, atau pasta gigi. Sisanya dialokasikan untuk mencicil mesin jahit dan

134 | Satu Kiasan Sepekan

ditransfer ke rekening pribadi untuk bekal modal selepas masa hukuman. Kenyataannya, kita tahu, uang itu tidak pernah sampai ke tanganmu. Ke mana pun dana tersebut digulirkan, tidak pernah benar-benar merata diterima tiap warga binaan.

Ketika mengajukan kunjungan menemuimu, demi keamanan, mereka meminta saya menyamar sebagai petugas. Lengkap dengan helm dan rompi. Dalam keadaan nyaris telanjang, saya digeledah dulu. Karena kebetulan sedang datang bulan, saya menolak saat diminta memelorotkan celana dalam. Salah satu dokter kenalan saya di lapas tempat mereka menempatkanmu, Pasir Putih, membebaskan saya dari pertikaian sengit tersebut. Dokter sekaligus ibu rumah tangga itu, juga mengizinkan saya menginap di rumahnya selama saya berada di Nuskambangan. Kisahmu saya ceritakan padanya. Ditambah rencana-rencana kita. Ia menanggapinya dengan mata berkaca, beserta pautan jemari yang erat membebat telapak tangan saya. "Doaku menyertai. Doaku menyertai," ia merapal berulang kali.

Beberapa hari belakangan, saya bermimpi jalan-jalan ke pasar denganmu pada pagi buta, Baine. Membeli beberapa ekor ikan. Kemudian kita membumbuinya dengan bawang-bawangan, kunyit, dan cabai merah. Terakhir, kita mengukusnya dengan lapis daun pisang. Membayangkannya saja saya berliur. Kamu suka ikan, kan? Apakah pepes juga umum dimasak olehmu dan kawan-kawanmu di 'Toraja?

Sayangnya, bayangan pepes ikan buyar ketika saya menjumpaimu yang kini berpipi tirus. Rongga matamu membesar, dengan lengkungan hitam. Mirip tengkorak. Kulit bibirmu mengelupas. "Jauh, perjalananmu, ya," kalimat itu kamu pilih sebagai sapaan, lirih.

Didorong insting, saya memeriksa lengan bekas luka jahitmu. Di sana terdapat lubang mungil yang memuntahkan nanah; kami menyebutnya fistula. Terowongan yang menghubungkan dua organ yang mestinya terpisah. Akibat infeksi. Saya segera mengajukan rontgen, tetapi tidak ditanggapi. Berat badanmu jelas menyusut drastis.

Selain itu, mereka juga mengisolasimu dalam sel berukuran dua kali satu meter. Hanya mengizinkanmu menghirup udara segar selama satu jam sehari. Biasanya, pada pagi buta atau lewat petang. Sengaja, demi meminimalisir interaksimu dengan manusia lain, atau, bahkan supaya kulitmu tidak terpapar sinar mentari. Sesi kita istimewa, sebab saya meminta kunjungan ini diadakan tengah hari, meski durasinya tetap sama. Enam puluh menit bergulir dan kita hanya mengisinya dengan hening; khusyuk menikmati pantulan matahari di atas rumput, menampilkan tarian daun yang bergerak-gerak diembuskan angin.

Dari dalam saku, saya mengeluarkan selembar kertas dan menuliskan 'Senandika', kemudian menyerahkannya padamu. Kamu membacanya dengan tatapan kosong. Nihil reaksi. Dalam pertunjukan teater, 'Senandika' dikenal sebagai wacana batin berisi ungkapan perasaan. Keadaanmu, ditambah keheningan ini, cukup membantu saya memahami segalanya, Baine. Saya tahu, kamu tahu, kunjungan ini saya tempuh bukan tanpa tujuan.

Satu Kiasan Sepekan | 135

Kami gigih berupaya mengumpulkan tindak kecurangan yang daftarnya terus memanjang, demi mendapat grasi. Penyelewengan prosedur serta persekongkolan yang dilakukan polisi, jaksa, serta hakim, sejak kasus ini bermula di Tana Toraja, 24 Desember 2005 silam mestinya dapat mendukung perubahan putusan Bapak Kepala Negara.

"Andai rencana ini gagal, mungkin aku akan melarikan diri. Berenang sampai pulau seberang. Jangan kau omong-omong sama orang, ya," meski tahu kamu tidak serius, tekadmu boleh juga, Baine. Saya tidak ingin mematahkan semangatmu. Tetapi, sebelum berhasil menceburkan diri ke lautan, ada kemungkinan kamu diterkam macan, atau ular berbisa sebanyak dua kontainer yang sengaja disebar petugas ke sekeliling pulau. Katakanlah, kamu berhasil berenang. Kamu harus tahu, pulau ini dikelilingi kutu mematikan yang dikembangbiakkan. Napasmu kemungkinan duluan terputus tengah jalan. Jadi, tolong Baine, lupakan rencana melarikan diri. Saya akui gagasannya menakjubkan, tetapi hal semacam itu hanya berhasil dilakukan di buku cerita atau film-film.

Jakarta, 2025

Andai kita punya lebih banyak waktu. Sedikit lebih banyak, meski saya sadar, seluruh waktu di bumi, tidak akan pernah cukup menandingi ketulusan dan upaya kita. Manusia dan ketidakmampuannya merasa cukup, sungguh, merupakan tragedi. Betul begitu, Baine?

Penolakan sidang terakhirmu berujung pada serangan nepotisme yang saya kerahkan agresif. Memanfaatkan orang dalam, ditambah kurasan dana suap sana-sini, mereka memenuhi pengajuan pemindahtugasan saya ke Nusakambangan. Demi dapat mendampingimu sampai tanggal eksekusi matimu dihelat.

Setelah permintaan terakhirmu akan sebilah belati dikabulkan bersyarat _pihak kepolisian tidak ingin kamu bunuh diri, meski saya tidak melihat perbedaannya; selain di tangan siapa nyawamu akhirnya direnggut pihak lapas menggunakan sebagian dana eksekusi untuk operasi katarak. Diajukan menahun, baru pada hari-hari terakhirmu mereka memenuhi permohonan operasi. Kita sekaligus memindai lengan kananmu dengan X-Ray, sebab meski bagimu tidak ada artinya, saya tetap merasa perlu memeriksa sumber infeksimu.

Kepingan misteri yang lama hilang itu menyimpang dari segala hal yang saya mampu ramalkan.

Di sana, saya menemukan sebutir cincin emas. Bergeser beberapa senti dari luka jahitmu yang saya atasi dulu. Temuan tersebut menjelaskan segalanya, termasuk penyebab lengan kananmu yang membusuk dan perlu segera diamputasi. Sebilah belati yang kamu minta pada hari eksekusi kamu gunakan untuk mengoyak lenganmu. Lalu kamu betot cincin itu, dan kamu kenakan kembali. Darah menetes di sepanjang lorong penjara; mengular dari dalam sel tahananmu ke aula eksekusi.

136 | Satu Kiasan Sepekan

Cincin emas itu dalam sekejap berpindah melingkari jari manis, membersamaimu menghela napas terakhir.

Selain dua belas eksekutor, hadir juga pengacara dan psikolog. Beberapa orang dari organisasi nirlaba yang selama ini tidak pernah meninggalkanmu siaga berderet di aula, tak dapat kubayangkan amukan dan sumpah serapah mereka pada para perancang kebijakan. Segelintir sipir. Salah satunya berjanji akan selalu mengingat jadwal keramasmu. Meski kelak pelan-pelan aroma sampomu memudar dari ingatannya.

Sebagai tahapan prosedural, kamu dibebaskan memilih; untuk duduk, atau berdiri. "Mau melihat, atau ditutup saja matanya?" Seolah-olah pilihan tersebut berarti sesuatu. Seakan mengubah pandangan mereka, bahwa nyawamu berharga. Meski kenyataannya tidak demikian.

Sebagian orang menyoraki singsingan peluru yang melayang hari itu. Sementara saya, bersama orang-orang yang menyayangimu, menangisi kepergianmu diam-diam. Berduka dalam senyap. Begitulah cara kerja hukum, Baine; pemenangnya selalu mereka yang paling strategis. Tentu, jabatan tinggi dan aliran dana abadi menjadi pelumas paling mujarab. Entah di mana kejujuran mengambil peran dalam persekongkolan raksasa semacam itu. Tuntas sudah saya patuhi nasihat Ibu; untuk bersikap persisten. Menemanimu sampai degup jantung terakhirmu. Ibu saya tahu, ada hal-hal yang tak kuasa saya terobos. Ada nasib yang tak rela ditentang.

Saya tidak akan mampu melupakan tatapan mata terakhirmu, Baine. Secara mengejutkan, dari sana, tidak memancar pilu. Nyalang matamu saat itu menyiratkan kepasrahan, itu tak bisa dibantah. Tetapi saya dapat merasakan kelegaan. Menyaru dengan kepuasan, dan... penghinaan? Benarkah itu tatapan penghinaan terhadap kemanusiaan? Saya mustahil tahu. Saya bisa saja membual panjang mengenai perasaan dan pengalamanmu. Tetapi, tidak satu pun tentangnya mutlak sebagai kebenaran. Saya bukan kamu. Saya hanya mampu meraba; membayang-bayangkan pengembaraanmu, meski, sekali lagi, belum tentu penggambaran saya, sedikit saja, mendekati kenyataan.

Kamu hadir bagai kado; dibungkus, dikirim dari jauh, tetapi dilarang meninggalkan kemasan. Di dalam kotak itu, sebanyak apa pun tempat yang telah kamu sambangi, kamu selalu terantuk; pada dinding semen, pada bahasa, dengan macam-macam dialek, pada penghakiman orang-orang. Berada di luar kotak membuat manusia merasa unggul dan berwenang, termasuk saat mereka merenggut nyawa sesamanya. Bedanya, mereka imun dari penghukuman. Berkat motif dendam, vonis mati hingga hari ini masih kita sepakati bersama dan diberi label legal. Padahal, apa bedanya, Baine, nyawa yang dibalas nyawa?

Butuh tujuh tahun bagi saya melancarkan rencana terakhir kita; yang kita susun sembari bisik-bisik, sembunyi-sembunyi, pada hari-hari terakhir kita di Nusakambangan. Sebagai puncak siasat, saya perlu menghadiri sidang terakhir untuk menuntaskannya. Ini adalah tombak perjalanan kita, Baine.

Satu Kiasan Sepekan | 137

Hakim meminta semua orang berdiri. Lutut saya gemetar. Sebentar lagi, saya akan mewakilimu menjadi saksi penyelewengan yang dengan rapi dikaburkan kerja kolektif para pejabat hukum. Di tengah sistem yang entah bagaimana selalu menguntungkan para pria, keberpihakan saya terhadap sesama perempuan menjadi naluriah. Saya tidak tahu siapa yang saya bisa andalkan. Karena itu, saya merasa perlu ambil bagian dalam perjuangan ini.

Sementara menunggu giliran bicara tiba, dalam hati saya mengulang susunan narasi yang nantinya perlu saya paparkan. Di dalam map, sudah saya siapkan beberapa dokumen pendukung; ditambah struk pembayaran sebuah kamar losmen untuk tiga malam, dari 24 sampai dengan 27 Desember 2005. Tempat kamu menggelar pernikahan rahasia yang hanya disaksikan dua orang sahabat dan uskup.

Suamimu sebelumnya mengabaikan permohonan ceraimu, baru pada gugatan kedua proses peradilan mengabulkannya. Dengan alasan kekerasan dalam rumah tangga. Entah bagaimana kalian memainkan sandiwara pasca perceraian itu, apakah setelahnya kalian masih berbagi atap? Kita tidak sempat membicarakannya. Karena tidak digembar-gemborkan secara sosial, cincin kawin pernikahan rahasiamu kamu sembunyikan selama tiga belas tahun di lengan kananmu, dekat sikut.

Struk losmen tersebut, ditambah seorang uskup dan kedua sahabat perempuanmu, mestinya bisa kita libatkan sebagai gerbang kebebasanmu. Mereka tentu bisa memberimu alibi. Suamimu yang lain, cinta sejatimu, yang saya jamin merupakan pria yang kamu tulis dalam puisi pertamamu dulu, beberapa kali kembali ke lapas. KTP palsu yang ia tunjukkan saat mengunjungimu saya duga merupakan upaya untuk menghapus jejaknya dalam rekayasa kriminal ini. Saya sadar belakangan, ia juga sempat berupaya memberimu bantuan. Kamu yang menolak menjumpainya. Segala upaya mereka kamu empas. Mungkin bagimu, ada misi lain yang jauh lebih penting dari pembebasan diri. Sesuatu mengenai kedaulatan diri, yang tak bisa saya campuri.

"Bukannya lelah jadi pejuang," celotehmu pada salah satu sesi kiasan kita kembali terngiang. "Negara ini mahir betul menyelenggarakan pertarungan yang mustahil dimenangkan. Apalah dayaku melawan serdadu berseragam dengan senapan-senapan melingkari bahu," begitu kamu melanjutkan. "Kalau kematianku nanti bisa jadi ruang bagi orang-orang merenungkan keadilan, kepergianku ini mestinya kita rayakan." Lalu kamu menatap saya dengan mata nyalang, seperti sedang menantang. "Bukan kamu yang mendekam di sini dan segera dieksekusi mati. Usaplah itu air matamu."

Sialan kamu, Baine.

Meski lidah kelu, setengah mati saya menguatkan diri untuk mengungkapkan semua yang terjadi malam itu. Saya pandangi sekali lagi struk losmen yang kelak dijadikan alat bukti alibi. Satu-satunya caramu menyelendupkannya selama ini adalah melapisinya dengan plastik, lalu menelannya. Kemudian kamu tampung lagi saat buang air di kakus lapas. Siasat itu kamu ulangi tiap berpindah lapas. Lagi, dan lagi.

138 | Satu Kiasan Sepekan

Andai ibu saya masih ada, ingin sekali saya beritahu beliau bahwa saya bangga dapat mengenal

perempuan lain yang sama-sama keras kepala. Kenekatanmu mungkin akan membuatnya mengernyit, jijik. Tapi dijamin, dia juga bangga. Mestinya sepulang dari sini kita duduk bertiga, lalu menegak ballo sampai pagi, ya, Baine?

Sekali lagi, saya remas erat-erat buku catatan yang kamu tinggalkan, yang di halaman pertamanya kamu lukiskan seekor kambing bitam.

Sekian

Kisah ini merupakan karya fiksi yang diadaptasi dari kasus Ruben Pata Sambo, dari Tana Toraja. Beliau divonis hukuman mati akibat pembantaian satu keluarga pada 24 Desember 2005. Atas pertimbangan pribadi, tokoh utama diganti menjadi perempuan. Sejumlah adegan, dan beberapa detail lain, murni imajinasi penulis.

140 | Catatan Editor

Ketika diminta oleh Dania dan Aditya untuk menjadi editor Antologi Cerita Pendek tentang Hukuman Mati ini, pikiran saya melayang ke awal tahun 2015. Saat itu salah satu dampingan kami (Kriminologi UI dan Saraswati) di Lapas Perempuan Semarang, Tran Thi Bich Hanh, seorang warga negara Vietnam, dihabisi negara. Petisi kami buat untuk menghentikan upaya eksekusi tidak terdengar sama sekali sampai ke istana.

Duka mendalam itu masih terus berbekas hingga saat ini. Bukan hanya pada kami yang mendampinginya, yang karena jarak, bertemu sesekali pada saat ke Semarang. Peluru yang ditembakkan negara juga melukai kawan-kawan sesama narapidana, juga petugas, yang bertemu setiap hari dengan Ashin, begitu dia biasa dipanggil. Bahkan permintaan terakhirnya diabaikan negara, yaitu tidak diborgol dalam perjalanan ke lokasi eksekusi, dan membagi dua abunya, di mana sebagian dia minta untuk dikirim ke keluarganya di Vietnam.

Sepuluh tahun yang panjang berlalu, tapi bagi saya masih terang benderang rasanya mengingat kepergian Ashin. Saya rasa seluruh keluarga korban hukuman mati juga merasakan hal yang sama. Hari ini, sembilan cerita pendek yang dituliskan oleh para penulis di dalam buku ini semakin menguatkan, bahwa hukuman mati tidak pernah punya justifikasi yang tepat untuk dilakukan.

Menjadi penyunting cerita pendek dari sembilan penulis yang di dalam kesehariannya memang bergerak di isu-isu sosial yang berbeda, termasuk para jurnalis adalah tantangan yang berbeda buat saya. Setelah mendapatkan pembekalan terkait hukuman mati di awal proyek ini dilaksanakan, para penulis mendapatkan waktu selama dua minggu untuk menulis cerita mereka. Waktu yang sangat sempit. Tetapi rasanya energi para penulis sangat luar biasa. Hasil karya mereka tidak menunjukkan sempitnya waktu yang diberikan.

Ada yang bercerita dari perspektif korban hukuman mati, seperti cerpen karya Antonia dan Dinda. Antonia dengan “Selimut Lurik Lestari" dan Dinda dengan “40 Hari Mak Imas," memberikan konteks bagaimana orang yang kemudian divonis dengan hukuman mati adalah korban-korban sistem, yang hidup dalam kemiskinan. Negara tidak hadir ketika mereka lapar dan tidak mendapat akses atas pengetahuan, tetapi hadir memberi hukuman seolah sudah melaksanakan tugasnya melindungi mereka yang paling membutuhkan.

Intan dengan “Mama Asih," Titah dengan “Kematian, Kecombrang, dan Kembang Wijaya Kusuma," dan Abi dengan “Satu Kiasan Sepekan," bercerita dari sudut pandang orang-orang yang dekat dengan korban hukuman mati. Keluarga, pendamping, bahkan mungkin juga petugas

Catatan Editor | 141

penjara, orang-orang yang dekat, bersama-sama baik secara fisik maupun spirit, adalah orang yang juga turut menjadi korban. Mereka bahkan masih terus merasakan penderitaan ketika eksekusi telah dilakukan. Mereka akan terus hidup dengan kenangan akan pembantaian yang telah dilakukan pada orang-orang terdekatnya. Sementara negara dan media akan dengan segera melupakan satu nyawa yang melayang karena pengabaian negara terhadap nilai kemanusiaan.

Virdika dengan "Tak Ada Peluru yang Benar-Benar Kosong," dan Soni Triantoro dengan "Tuack!" membuat hati saya nyeri berkali-kali. Di saat kita, yang hidup di luar jeruji, berkejaran dengan tuntutan tenggat waktu dan tagihan, mereka yang nyawanya sudah diputuskan akan diakhiri oleh negara, terikat oleh waktu yang seolah tidak bergerak. Di sisi lain, para penarik pelatuk senapan yang tidak punya pilihan selain melakukannya, meski sudah dihibur dengan potensi memegang senapan berpeluru kosong, juga tidak lepas dari rasa bersalah. Waktu mereka juga mungkin berhenti di titik di mana mereka menjadi pembunuh yang dilegalkan negara.

Dua tulisan lain cukup menantang saya, sebagai penulis yang realis. Amry dengan "Tujuh Menit Sabda Udara dan Pecahnya Gelembung-Gelembung Ingatan" dan Yudhistira dengan “Pesta 112A," membuat beberapa pertanyaan konyol saya lontarkan ke mereka. Ini nyata atau tidak? Eh, di negara kita nggak begini kan? Ini fantasi kan? Dan berbagai pertanyaan lain. Menghadapi negara yang bebal dan tidak mau mendengarkan suara kemanusiaan, rasanya hidup di dunia surreal memang menjadi pilihan yang memberi harapan.

Proses penyuntingan ini sangat tidak mudah buat saya. Selain karena waktu yang cukup sempit, juga karena ada emosi yang meluap mengingat ketidakberdayaan kita sebagai rakyat ketika menghadapi penyelenggara negara yang ingin pamer kekuatan dan kekuasaan dengan melaksanakan hukuman mati. Alih-alih melaksanakan tugasnya menegakkan keadilan, negara justru melakukan kekerasan baru yang melukai kemanusiaan.

Semoga ke-9 cerita pendek ini membuka satu pintu empati bagi anda yang berkenalan dan hidup sesaat di semesta para tokohnya. Selamat berkenalan dengan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya dan mari berdiri bersama mereka untuk menolak hukuman mati. Bukan tugas manusia, apalagi dalam sistem yang korup, untuk mengambil nyawa manusia lain. Kejahatan tidak akan menjadi kebaikan, ketika ditutup dengan kekejian yang lain.

Tangerang, 8 Oktober 2025 Dian Purnomo

Sekarang, giliran kamu untuk membagikan pandanganmu tentang hukuman mati melalui cerita dan

sastra...

142|

Mencari Penerang

Menuju Jalan Pulang

Antologi Cerita Pendek Hukuman Mati

Amry Al Mursalaat Titah AW Virdika Rizky Utama Permata Adinda Ruhaeni Intan Soni Triantoro Antonia Timmerman Yudhistira Abi Ardianda Dian Purnomo

TOGETHER AGAINST HE DEATH KontraS