PANDUAN AUDIT KEAMANAN DIGITAL
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Panduan Audit Keamanan Digital untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Oktober 2024
Tim Penyusun [sesuai urutan abjad] Andreas Takimai Anton Muhajir Ardy Wibisana
Pengulas Andika Triwidada
Ilustrasi & Tata Letak Crueniaone
Penerbit Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Jalan Gita Sura III Nomor 55 Peguyangan Kaja Denpasar, Bali 80115
+62 811 9223375 [email protected] @safenetvoice safenet.or.id
Lisensi Hak Cipta CC BY-SA 4.0 Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional
Daftar Isi
DAFTAR ISI ........................ III
PENGANTAR.......................VII
TENTANG PANDUAN ................ XI
MATERI DAN STRUKTUR ............ XIV
BAGAIMANA SAFETAG DISUSUN......XV
MATERI 1: PERSIAPAN
DAN PERENCANAAN..................... 1
RINGKASAN .................................. 1
TAHAPAN..................................... 2
Pembuatan Perjanjian ......................... 2
Pengumpulan Informasi Jarak Jauh .............. 4
Prosedur Penanganan Insiden .................. 4
Interview Sebelum Audit ....................... 5
Penyusunan Tahapan dan Jadwal ............... 6
Persiapan Auditor............................. 7
Tindak Lanjut ................................ 7
Keluaran (output) yang diharapkan.............. 7
ACUAN.......................................7
MATERI 2: PENILAIAN
RISIKO DAN ANCAMAN ..............9
RINGKASAN .................................. 9
TAHAPAN..................................... 9
Analisis Program ............................ 10
Aktivitas ................................... 10
Aktor....................................... 11
Kapasitas ................................... 11
Analisis Kerentanan...........................12
Analisis Ancaman**...........................13**
TINDAK LANJUT..............................15
Keluaran yang diharapkan .....................17
ACUAN......................................17
MATERI 3: PENILAIAN DATA...........19
RINGKASAN .................................19
Kemanan Data...............................19
Kerahasiaan.................................19
Keutuhan ..................................20
Ketersediaan ................................21
Klasifikasi Data...............................21
TAHAPAN.................................... 22
Data sensitif dan privat ....................... 22
Risiko dan konsekuensi
kehilangan/penyalahgunaan data.............. 22
Penggunaan layanan pihak ketiga.............. 23
PERTANYAAN ................................ 23
TINDAK LANJUT.............................. 24
Keluaran yang diharapkan .................... 25
ACUAN...................................... 25
MATERI 4: PEMETAAN ASET
DAN JARINGAN .................... 27
RINGKASAN ................................. 27
TAHAPAN.................................... 28
Observasi Media Sosial ..................... 28
Pemetaan Jaringan Internal dan Eksternal..... 29
War-Driving & War-Walking................. 30
Observasi dan pemeriksaan pengelolaan jaringan kantor ............................31
Daftar Periksa ............................31
DAFTAR PERIKSA ............................. 34
DAFTAR PERTANYAAN......................... 34
TINDAK LANJUT.............................. 35
Keluaran yang diharapkan .................... 36
ACUAN...................................... 36
MATERI 5: PEMINDAIAN DAN
ANALISIS KERENTANAN ............. 37
RINGKASAN ................................. 37
TAHAPAN.................................... 38
Mengenali dan Memindai Situs Web ............38
Website footprinting....................... 38
Pemindaian Kerentanan ................... 39
Analisis PAKEM DIRI.......................... 42
TINDAK LANJUT.............................. 43
Keluaran yang diharapkan .................... 43
ACUAN...................................... 44
MATERI 6: PENILAIAN
KAPASITAS ORGANISASI ............ 45
RINGKASAN ................................. 45
TAHAPAN.................................... 46
Kebijakan ..................................46
Manusia ................................... 47
Teknologi................................... 47
TINDAK LANJUT.............................. 48
ACUAN...................................... 49
MATERI 7: PENYUSUNAN DAN
PENYAMPAIAN LAPORAN............ 51
RINGKASAN .................................51
TAHAPAN.................................... 53
Kerangka Laporan........................... 53
DEBRIEF..................................... 54
TINDAK LANJUT.............................. 54
ACUAN...................................... 54
PENUTUP.......................... 55
LAMPIRAN......................... 57
PAKEM DIRI.................................. 57
TABEL PEMETAAN............................ 62
Pengantar
eknologi digital sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari
Tkerja-kerja organisasi masyarakat sipil. Itu adalah keniscayaan.
Teknologi digital telah terbukti membantu dan mempermudah kerja-kerja organisasi masyarakat sipil. Namun demikian, di dalam ke- mudahan tersebut, terdapat risiko dan ancaman yang berbahaya terhadap organisasi masyarakat sipil itu sendiri maupun terhadap demokrasi dan hak asasi manusia secara lebih luas.
Ketika kita bergantung terhadap perangkat atau alat digital, terdapat tiga komponen keamanan digital yang terkadang luput dari perhatian, yaitu process (termasuk kebijakan), people (sumber daya manusia), dan platform (teknologi yang digunakan). Ketiga hal tersebut saling terkait dan terikat dengan keberlangsungan dan keamanan suatu organisasi. Dari alat yang digunakan pada praktik kerja, perilaku manusia dalam penggunaan teknologi, hingga alat komunikasi sehari-hari, masing-masing memiliki risiko dan ancaman tersendiri.
Salah satu cara memitigasi risiko tersebut adalah dengan melakukan proses evaluasi teknologi yang digunakan, kapasitas sumber daya manusia yang menggunakan, hingga ada tidaknya proses atau kebijakan keamanan digital dan bagaimana penerapannya jika sudah memiliki kebijakan tersebut. Evaluasi ini perlu dilakukan secara rutin, guna menilai kapasitas organisasi dalam menghadapi potensi risiko, ancaman, dan serangan digital yang terus berkembang dan bervariasi.
Selama lima tahun terakhir, SAFEnet telah melakukan pemantauan pelanggaran hak-hak digital, termasuk serangan digital, secara intensif. Hasil pemantauan menunjukan bahwa frekuensi insiden dan
vii
serangan digital terus meningkat selain bentuk dan metode serangan yang juga kian beragam. Berdasarkan pemantauan SAFEnet, pada tahun 2023 terdapat 323 serangan digital dengan latar belakang korban paling banyak berasal dari kelompok kritis, yaitu aktivis, jurnalis, media, dan organisasi masyarakat sipil.
Hal tersebut semakin menekankan urgensi tentang pentingnya
keamanan digital bagi organisasi masyarakat sipil sebagai bagian dari kelompok kritis tersebut. Namun, keterbatasan sumber daya menjadi hambatan dalam menerapkan praktik keamanan digital yang optimal. Di sisi lain, kenyamanan pada perilaku lama yang berisiko, sering kali menjadi tantangan dalam menerapkan keamanan digital organisasi secara menyeluruh. Tidak jarang, prinsip “lebih baik mencegah daripada mengobati” jadi terpatahkan karena suatu lembaga, personel, atau organisasi baru sadar bahaya yang mengintai setelah mengalami serangan secara langsung.
Oleh karena itu, kesadaran dan kewaspadaan harus ditingkatkan sebagai upaya preventif menangkal serangan dan insiden digital. Salah satu caranya dengan melakukan pemeriksaan secara keseluruhan aspek yang berkaitan langsung dengan keamanan digital maupun secara tidak langsung.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas keamanan digital organisasi masyarakat sipil tersebut, SAFEnet juga melakukan audit keamanan digital bagi organisasi masyarakat sipil sejak tahun 2021. Hingga saat ini, audit telah dilakukan kepada lebih dari 50 organisasi masyarakat sipil yang bekerja di berbagai isu, seperti hukum dan hak asasi manusia, lingkungan, media alternatif, organisasi buruh, serta kelompok minoritas gender dan agama.
Kerangka kerja yang SAFEnet gunakan dalam semua audit keamanan digital tersebut adalah Security Auditing Framework and Evaluation
viii
Template for Advocacy Groups (SAFETAG) yang dikembangkan
Internews. Namun, alih-alih menggunakan begitu saja, kami juga melakukan penyesuaian agar lebih sesuai dengan konteks Indonesia. Kami menambahkan juga setidaknya dua hal, yaitu observasi media sosial dan penilaian kapastitas keamanan digital secara mandiri yang kami sebut PAKEM DIRI.
Melihat semakin tingginya kebutuhan audit bagi organisasi
masyarakat sipil ini, maka SAFEnet juga terus menambah audi- tornya. Namun, penambahan auditor saja tidak cukup. Perlu ada juga auditor-auditor keamanan digital lain dengan tetap mengacu pada panduan yang sudah diterapkan SAFEnet.
Dengan tujuan agar semakin banyak staf organisasi masyarakat sipil bisa mengaudit keamanan digital lembaganya sendiri, maka SAFEnet juga melaksanakan pelatihan audit keamanan digital pada Mei 2024 di Bandung. Panduan ini dibuat sebagai bagian tak terpisahkan dari pelatihan yang diadakan dalam program Greater Internet Freedom (GIF) Internews dengan mitra regional EngageMedia dan SAFEnet sebagai mitra lokal. Dalam pelatihan dua hari tersebut, para peserta juga membahas sekilas bagian-bagian dalam panduan ini.
Panduan ini tetap menggunakan SAFETAG sebagai referensi utama, terutama dari sisi konten dan struktur pelaksanaannya. Namun, sekali lagi, kami juga mengadaptasi pengalaman sendiri selama melakukan audit empat tahun terakhir di Indonesia. Kami juga melengkapinya dengan reviu oleh ahli keamanan digital dan diskusi kelompok terfokus yang diikuti staf teknologi informasi organisasi yang sudah berkolaborasi dengan SAFEnet selama ini dalam upaya meningkatkan kapasitas keamanan digital bagi organisasi masyarakat sipil di Indonesia.
Dengan demikian, kami berharap pengalaman tersebut akan mem-
ix
perkaya materi panduan sekaligus menjadikannya agar lebih relevan.
Terima kasih untuk semua pihak yang sudah berjibaku menyusun ulang materi ini, terutama tim penyusun, pengulas, dan peserta pelatihan maupun diskusi terfokus. Kami yakin semua proses tersebut akan menjadi modal penting dalam meningkatkan kapasitas keamanan digital masyarakat sipil Indonesia di tengah semakin kuatnya represi digital saat ini.
Denpasar, September 2024
SAFEnet
x
Tentang Panduan
anduan ini merupakan referensi untuk melaksanakan audit
Pkeamanan digital bagi organisasi masyarakat sipil mengguna-
kan kerangka kerja (framework) SAFETAG. Materi dalam panduan ini sebagian besar diterjemahkan dari materi panduan SAFETAG dengan penyesuaian untuk konteks Indonesia, terutama untuk organisasi masyarakat sipil.
Kami menambahkan pengalaman SAFEnet yang selama empat tahun terakhir juga melakukan audit keamanan digital menggunakan metode SAFETAG untuk organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Audit tersebut dilakukan untuk berbagai organisasi, dalam bentuk perkumpulan, yayasan, kolektif, atau sekadar kelompok dukungan sebaya. Fokus kegiatan mereka juga beragam, seperti lingkungan, demokrasi dan hak asasi manusia, masyarakat adat, perempuan, serta lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ).
Pengalaman melakukan audit kepada lebih dari 50 organisasi
masyarakat sipil selama empat tahun terakhir tersebut menjadi modal penting dalam penyusunan panduan ini.
Sasaran pengguna panduan ini adalah staf yang sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar keamanan digital, khususnya terkait organisasi masyarakat sipil. Hal ini penting karena beberapa pengetahuan dan keterampilan dasar diperlukan untuk dapat menggunakan panduan ini dalam melakukan audit.
Meskipun demikian, pengetahuan dan keterampilan dasar tersebut juga bukan hal paling penting dalam pelaksanaan audit, karena masalah teknis hanya menjadi salah satu bagian dari keseluruhan proses audit. Proses audit menggabungkan setidaknya tiga aspek,
xi
yaitu analisis risiko dan ancaman, kapasitas organisasi, dan perilaku staf.
Panduan ini juga sekadar acuan umum dalam pelaksanaan audit keamanan digital. Penerapannya sangat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kapasitas organisasi yang diaudit serta kebutuhan mereka. Tahapannya bisa dibuat lebih ringkas, begitu pula dengan komponen-komponen yang harus diaudit selama tujuan akhirnya untuk menemukan risiko dan ancaman pun memberikan rekomendasi untuk meningkatkan keamanan digital bisa tercapai.
xii
Tentang SAFETAG
AFETAG adalah kerangka kerja dan templat untuk melakukan
Saudit keamanan bagi organisasi masyarakat sipil. Kerangka kerja
ini mengadopsi teknis uji penetrasi (penetration testing) dan metodologi pemodelan ancaman (threat modelling) yang disesuaikan agar relevan dengan organisasi nirlaba yang lebih kecil.
SAFETAG bukan pelatihan maupun penerapan kontrol keamanan. SAFETAG tidak mendefinisikan hanya satu set kegiatan untuk segala macam organisasi dengan isu yang beragam, tetapi perlu dipilih kegiatan mana yang cocok. SAFETAG juga bukan kerangka untuk memberikan respon insiden secara cepat (rapid response).
SAFETAG sebagai suatu kerangka kerja dapat dipakai sebagai suatu acuan yang fleksibel dan dapat diadaptasi ke satu masalah yang spesifik. Apa yang bisa kita ambil dari kerangka kerja SAFETAG bergantung kepada konteks, keahlian auditor, sumber daya (waktu, finansial, kapasitas), dan cakupan serta kebutuhan spesifik. Sehingga, proses audit keamanan digital tidak perlu berjalan secara kaku yang berdasarkan standar-standar kompleks yang digunakan oleh industri teknologi besar. Lebih dari itu juga bahwa audit keamanan memerlukan uang, waktu, dan kapasitas yang tidak bisa dibilang kecil.
SAFETAG tidak dirancang untuk memberi skor terhadap tingkat risiko keamanan digital suatu organisasi. SAFETAG berfokus pada mendeteksi kesenjangan dalam strategi keamanan organisasi untuk merekomen- dasikan tindak lanjut yang spesifik dan relevan.
Berdasarkan temuan laporan evaluasi dampak audit SAFETAG oleh Purpose+Motion dan Internews, pemakaian kerangka kerja SAFETAG telah meningkatkan keamanan digital bagi berbagai organisasi, ter-
xiii
masuk peningkatan kesadaran akan risiko-risiko, perilaku keamanan, dan penerapan rekomendasi yang diberikan. Bukti tersebut menunjukkan tingginya relevansi dan potensi pemanfaatan kerangka kerja ini untuk menilai dan meningkatkan kapasitas organisasi. Maka dari itu, SAFEnet sebagai organisasi yang telah juga merasakan manfaat atas kerangka ini dalam berbagai kegiatannya, menerbitkan panduan ini sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas organisasi masyarakat sipil di Indonesia.
MATERI DAN STRUKTUR
SAFETAG terdiri dari kumpulan metodologi yang mencakup hal
umum, setiap metode juga terkait dengan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan audit, yaitu setidaknya analisis risiko dan ancaman, kapasitas organisasi, dan perilaku staf. Dalam melaksanakan Kegiatan yang diperlukan, terdapat tiga pendekatan yang dapat dilalui: Teknis, Riset, dan Interpersonal.
Pemilihan pendekatan sangat condong dengan gaya atau keahlian dari setiap auditor itu sendiri. Misalnya, seseorang yang memiliki latar belakang dari pelatihan keamanan digital biasanya condong melakukan pendekatan interpersonal, lalu, seseorang dengan latar belakang keamanan siber dengan pendekatan teknis. Kendati demikian, dengan menggunakan kombinasi dari setiap pendekatan yang ada, auditor akan lebih mendapatkan gambaran dan pemahaman lebih mendalam tentang bagaimana organisasi bekerja. Selain hanya informasi tentang infrastuktur digital organisasi, tetapi dapat menggali juga informasi bagaimana pengambilan keputusan dilakukan, bagaimana kebijakan diterapkan atau tidak, dan bagaimana potensi perubahan yang dapat organisasi tempuh.
Setiap auditor, khususnya yang berpengalaman, akan sangat mungkin memilih proses pendekatannya sendiri. Struktur dari SAFETAG pun tersusun atas 18 metode dan 73 kegiatan. Isi metode cukup umum,
xiv
| bagian yang terdapat dalam panduan ini. Bagaimana SAFETAG Disusun Metode | mencakup aspek-aspek luas terkait keamanan organisasi. Tidak selalu berhubungan dengan aspek-aspek digital. Setiap metode diuraikan lagi ke kegiatan. Ada beberapa kegiatan yang sama terkait ke beberapa metode berbeda. Oleh karena itu, penyesesuaian dengan konteks lokal di Indonesia kami sesuaikan dan rancang menjadi tahapan atau Kegiatan | |
|---|---|---|
| Tinjauan Kebijakan Organisasi Metodologi ini mengek- splorasi praktik-praktik organisasi yang ada, perjanjian informal, dan kebijakan seputar pengelolaan keamanan informasi dan menang- gapi ancaman. Metod- ologi ini juga berusaha untuk mengungkapkan asumsi yang dibuat ... | Mengidentifikasi Perjanjian Informal Kegiatan ini bertujuan untuk menilai jenis perjanjian informal mengenai praktik terbaik dan arahan keamanan yang dirumus- kan, diakses, ... Tinjauan Kebijakan Kemanan Kegiatan ini bertujuan untuk memahami konteks kebijakan keaman internal organisasi, mencari kebijakna yang ada, memahami bagaimana kebijakan tersebut ... Wawancara Auditor melakukan wawancara dengan berbagai anggota staf untuk mengumpulkan informasi tentang risiko dan kapasitas organisasi. Sesi tanya jawab adalah ... xv |
xvi
Materi 1:
Persiapan dan Perencanaan
RINGKASAN
ebelum melaksanakan audit, auditor terlebih dahulu harus
Smembuat persiapan dan perencanaan. Tujuan tahapan ini untuk
membuat perjanjian kerja sama dan perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA) dengan organisasi yang diaudit, khususnya jika auditor adalah pihak eksternal. Persiapan ini juga termasuk menentukan ruang lingkup, tahapan, dan jadwal audit. Materi persiapan juga termasuk daftar pertanyaan audit dan dokumen PAKEM DIRI.
Rangkaian audit tersusun atas tahap persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan. Beberapa audit mungkin memiliki tahapan ekstra, yaitu tahap perbaikan dan tahap uji ulang. Pendekatan yang mencakup dua tahap tambahan ini lebih komprehensif dan memuaskan karena diharapkan setelah rangkaian kegiatan audit selesai, sudah tidak ada lagi (atau sangat minim) sisa masalah yang ditemui saat audit.
Perlu menjadi catatan juga bahwa keterlibat tim manajemen dalam proses audit sangat krusial dan penting untuk keberhasilan audit. Menurut hasil laporan evaluasi SAFETAG oleh Purpose+motion, 95% auditor dan organisasi yang diaudit merasakan bahwa partisipasi manajemen merupakan suatu hal yang penting dalam keberhasilan proses audit. Hal ini senada dengan pengalaman-pengalaman SAFEnet.
SAFEnet
| TAHAPAN | |
|---|---|
| Kegiatan yang harus dilakukan dalam tahap persiapan termasuk: Pembuatan perjanjian kerahasiaan dan perjanjian kerja sama Pengumpulan informasi organisasi dari jarak jauh Prosedur penanganan insiden Interview pra audit Penyusunan tahapan dan jadwal dan pemilihan kegiatan Pembahasan PAKEM DIRI | |
| 2 | Persiapan auditor Pembuatan Perjanjian Perjanjian Kerja Sama dan Perjanjian Kerahasiaan (Non-Disclosure Agreement) ini diperlukan sebagai jaminan tertulis atau bahkan dasar hukum bahwa kedua belah pihak, yaitu auditor dan organisasi yang diaudit, sepakat melakukan kerja sama audit dan akan menjaga kerahasiaan satu sama lain. Hal ini karena selama proses audit akan banyak informasi internal organisasi yang diaudit akan dibagikan ke auditor untuk diperiksa atau diungkap sebagai bahan diskusi dan kegiatan audit lain, termasuk data dan informasi yang bersifat rahasia dan konfidensial. Kedua dokumen tersebut bisa jadi terpisah, misalnya bila diperlu- kan untuk membuat NDA bagi masing-masing personel audit yang terlibat, bukan hanya satu atas nama organisasi pelaksana audit. Perjanjian kerja sama cukup satu untuk masing-masing pihak. Perjanjian Kerja Sama ini setidaknya harus mencantumkan informasi berikut: Identitas kedua belah pihak yaitu nama auditor dan organ- isasi, alamat, dan kontak masing-masing. Tujuan audit yaitu untuk apa audit tersebut dilakukan. PANDUAN AUDIT KEAMANAN DIGITAL untuk Organisasi Masyarakat Sipil |
Ruang lingkup yaitu apa saja yang akan diaudit, seperti profil organisasi, risiko dan ancaman, kapasitas organisasi, kebijakan keamanan digital (jika ada), dan aset-aset digital organisasi. Periode yaitu berapa lama audit akan dilaksanakan dan dari tanggal berapa hingga tanggal berapa. Hak dan kewajiban masing-masing pihak baik auditor dan organisasi yang diaudit, misalnya, kewajiban bagi organisasi untuk memberikan informasi yang diperlukan dan kewajiban auditor untuk bekerja secara profesional. Kerahasiaan data yaitu jaminan bahwa auditor tidak akan membocorkan data dan informasi organisasi kepada pihak lain. Informasi tambahan termasuk kemungkinan perubahan periode kerja jika audit tidak selesai selama periode yang sudah disepakati.
Perjanjian Kerahasiaan ini setidaknya harus mencantumkan informasi berikut: Identitas kedua belah pihak yaitu nama auditor dan organisasi, alamat, dan kontak masing-masing. Hak dan kewajiban masing-masing pihak baik auditor dan organisasi yang diaudit, misalnya, kewajiban bagi organisasi untuk memberikan informasi yang diperlukan dan kewajiban auditor untuk bekerja secara profesional. Kerahasiaan data yaitu jaminan bahwa auditor tidak akan membocorkan data dan informasi organisasi kepada pihak lain. Penyelesaian Sengketa merupakan bagian dalam Perjanjian Kerahasiaan untuk membantu memastikan kerahasiaan data tetap terjaga apabila terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat antara kedua belah pihak.
SAFEnet
Pengumpulan Informasi Jarak Jauh
Dalam tahap ini, auditor mengumpulkan berbagai informasi umum terkait organisasi, sebagai bahan awal untuk menggali lebih dalam organisasi yang akan diaudit. Berbagai hal yang ditemukan saat pencarian informasi ini dapat mengarah ke usulan kegiatan yang relevan.
Informasi yang dikumpulkan dapat berupa situs-situs web, extranet, server email, serta juga informasi media sosial. Umumnya, informasi tersebut tersedia secara publik, sehingga proses pengumpulan bisa dilakukan secara mandiri.
Prosedur Penanganan Insiden
Tindakan penangan insiden seharusnya dilakukan sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi yang diaudit. Namun, tidak semua organisasi telah memiliki kebijakan terkait. Oleh sebab itu, auditor perlu memerhatikan langkah yang perlu dilakukan jika ia menemukan atau menyebabkan suatu insiden ketika melakukan asesmen dalam tahap manapun dalam rangkaian audit.
Tidak ada prosedur pasti dalam menangani insiden, tetapi beberapa hal yang dapat dilakukan supaya meminimalisir dampak buruk adalah: Pengendalian (Containment) Pengendalian atau Containment adalah langkah pertama yang harus dilakukan jika ditemukan suatu insiden keamanan dalam audit. Tujuannya untuk menghentikan atau mengenda- likan dampak negatif dari insiden tersebut secepat mungkin. Dalam containment, auditor harus: Mencari sumber insiden dan mematikan atau menonaktif- kannya. Mengecek semua sistem dan aplikasi terkait untuk memastikan tidak ada efek samping lainnya.
PANDUAN AUDIT KEAMANAN DIGITAL untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Pemulihan (Recovery)
Memulihkan sistem agar kembali berfungsi normal. Dokumentasi (Documentation) Setelah insiden dikendalikan, langkah berikutnya adalah merekam dan mendokumentasikan semua detail mengenai kejadian tersebut. Hal ini penting untuk: Mengenali penyebab insiden dan menghindari dampak yang serupa di masa depan. Mengetahui tingkat kerusakan dan apa yang harus dilakukan untuk memulihkan sistem atau aplikasi yang ter-dampak. Pelaporan (Reporting) Penanganan insiden tidak berhenti pada tahap dokumentasi. Namun, Auditor harus melaporkan kejadian tersebut terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Interview Sebelum Audit
Materi lain yang perlu disiapkan dalam tahap persiapan dan perencanaan adalah penyiapan dokumen PAKEM DIRI. PAKEM DIRI merupakan penilaian keamanan digital secara mandiri (self assessment) yang dikembangkan SAFEnet berdasarkan perilaku individu terkait keamanan digital.
Ada 50 pertanyaan dalam PAKEM DIRI yang terbagi dalam empat kategori keamanan digital, yaitu kebersihan perangkat, manajemen identitas, keamanan komunikasi, dan keamanan ponsel. Informasi lebih detail mengenai PAKEM DIRI bisa diakses di tautan https:// pakemdiri.safenet.or.id.
Sebagai bagian dari persiapan audit, auditor perlu menjelaskan kepada organisasi yang diaudit tentang metode PAKEM DIRI, apa tujuannya, bagaimana cara mengisi, dan kapan harus menyerah- kan semua hasilnya. Perlu ditekankan bahwa meskipun PAKEM DIRI
SAFEnet
bersifat individual, tetapi hasil rata-rata akan memerlihatkan sejauh mana organisasi telah menerapkan keamanan digital dan apa saja praktik keamanan yang belum diterapkan sehingga memengaruhi risiko keamanan digital organisasi.
Penyusunan Tahapan dan Jadwal
Setelah ada perjanjian kerja sama dan perjanjian kerahasiaan dan langkah persiapan lain di atas, auditor harus menyiapkan tahapan dan jadwal pelaksanaan audit. Kesepakatan tahapan dan jadwal ini berguna sebagai acuan bagi kedua belah pihak terutama dalam persiapan waktu dan apa saja dokumen yang perlu disiapkan organisasi yang akan diaudit.
Perlu didefinisikan juga usulan aktivitas SAFETAG apa saja yang relevan dalam proses audit.
Contoh tahapan dan dokumen tersebut bisa dilihat dalam tabel berikut:
| Tahapan | Kebutuhan |
|---|---|
| Perencanaan dan Persiapan | Perjanjian kerahasiaan, alur kerja dan formulir penilaian yang di- sepakati kedua belah pihak |
| Penilaian Keamanan Perangkat | Formulir penilaian, jadwal wawan- cara staf |
| Penilaian Keamanan Website | Daftar website mitra dampingan |
| Penilaian Keamanan Jaringan | Admin jaringan |
| Pemetaan Risiko dan Mitigasi | Form penilaian |
| Penilaian Kebijakan Keamanan | Penemuan kerentanan dan ren- cana aksi |
| Penyusunan SOP Keamanan Digital | Kebijakan dan SOP Keamanan Digital untuk organisasi |
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
| Penyusunan Laporan Akhir Digital Persiapan Auditor Auditor perlu juga secara mandiri melakukan persiapan audit, men- cakup beberapa hal: Memastikan peralatan bantu audit sudah tersedia dan siap dipakai (hardware, software, checklist Rencana perjalanan, akomodasi, transportasi, dan logistik lain yang diperlukan pada saat audit. Pada kondisi tertentu ketika melakukan audit terhadap organisasi dengan risiko tingkat tinggi, perlu juga persiapan manajemen risiko yang baik. TINDAK LANJUT Keluaran (output) yang diharapkan Perjanjian dengan organisasi yang akan diaudit, mencakup lingkup, linimasa, kebijakan konfidensialitias/NDA, dan nomor kontak. ACUAN Activities SAFETAG terkait: | Laporan audit, pemindaian, dan hasil wawancara & SOP Keamanan, alat bantu lain) | |||
|---|---|---|---|---|
| Assessment Plan https://safetag.org/activities/assessment_plan Confidentiality Agreement https://safetag.org/activities/confidentiality_agreement Incident Response and Emergency Contact https://safetag.org/activities/incident_response Regional Context Research [https://safetag.org/activities/regionalcontextresearch | SAFEnet](https://safetag.org/activities/regionalcontextresearch | SAFEnet) 7 2024 |
| Technical Context Research | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| https://safetag.org/activities/technicalcontextresearch Audit Timeline and Planning https://safetag.org/activities/safetagaudittimeline Incident Response [https://safetag.org/activities/incident_response/ | ](https://safetag.org/activities/incident_response/ | ) | |||
| 8 | PANDUAN AUDIT KEAMANAN DIGITAL untuk Organisasi Masyarakat Sipil |
| P | Materi 2: Penilaian Risiko dan Ancaman RINGKASAN informasi berikut untuk menilai risiko yang dihadapi organisasi. untuk merespons atau memitigasi ancaman yang muncul. tindakan secara strategis. | ada dasarnya, SAFETAG adalah kerangka penilaian risiko keamanan informasi pada sebuah organisasi. Penilaian risiko diartikan sebagai pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi dan menilai risiko terkait potensi bahaya terhadap aktivitas manusia yang terorganisir. SAFETAG memfokuskan pendekatan pada risiko keamanan informasi. Audit SAFETAG berupaya mengumpulkan jenis Risiko adalah penilaian terhadap kemungkinan terjadinya peristiwa berbahaya. Risiko dinilai dengan membandingkan ancaman yang dihadapi suatu organisasi dengan kerentanannya dan kapasitasnya SAFETAG berkisar pada pengumpulan informasi yang cukup untuk mengidentifikasi dan menilai berbagai risiko yang dihadapi suatu organisasi dan aktor terkait sehingga mereka dapat mengambil |
|---|---|---|
| TAHAPAN identifikasi risiko, analisis tingkat risiko, penentuan prioritas penan- dapat ditangani karena berbagai keterbatasan: sumber daya ma- nusia, waktu, finansial, tingkat kesulitan teknis, dsb. Dengan diiden- | Secara umum pendekatan audit berbasis risiko dimulai dengan ganan risiko, dan alternatif penanganan/mitigasi risiko. Pendekatan ini mengakomodasi kenyataan bahwa tidak semua risiko yang ada SAFEnet 9 2024 |
tifikasinya berbagai risiko dan tingkat keparahan atau severity-nya, digabung dengan tingkat kemungkinan terjadinya, yang menghasilkan tingkat dampak, maka organisasi dapat menentukan prioritas agar peningkatan keamanan organisasi dapat dilaksanakan dengan cara yang paling efektif dan efisien.
SAFETAG membagi analisis risiko menjadi tiga bagian, yaitu Analisis Program, Analisis Kerentanan, dan Analisis Ancaman.
Analisis Program
Tahap ini merupakan waktu tepat untuk menggali lebih dalam bagaimana alur dari kegiatan atau program yang organisasi jalani. Mengenali cara kerja, proses, atau alur dapat membantu alur menganalisis bagaimana organisasi bekerja.
Analisis program dilakukan untuk mengidentifikasi tujuan utama organisasi dan menentukan kapasitasnya. Proses ini memaparkan aktivitas, aktor, dan kapasitas suatu organisasi. Contohnya apa saja kegiatan yang dilakukan organisasi untuk mencapai tujuannya.
Aktivitas
Kegiatan yang dilakukan organisasi untuk mencapai tujuannya. Misalnya, kampanye, penggalangan dana, advokasi
Kegiatan adalah tindakan dan proses organisasi. Meskipun sebagian besar pekerjaan NGO berkisar pada konsep berbasis program, kegiatan-kegiatannya juga mencakup hal-hal yang berhubungan dengan keamanan digital. Misalnya dengan menilai Kegiatan organisasi mencakup kebijakan dan prosedur yang diterapkan untuk melindungi informasi. Ini termasuk pengembangan kebijakan keamanan, pelatihan staf, manajemen risiko, serta monitoring dan tanggapan terhadap insiden.
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Dalam analisis program, penting untuk mengevaluasi seberapa efektif aktivitas-aktivitas ini dalam menciptakan lingkungan yang aman. Misalnya, apakah kebijakan keamanan diperbarui secara berkala dan diterapkan dengan konsisten? Apakah staf mendapatkan pelatihan yang memadai untuk mengenali dan merespons ancaman? Dengan menganalisis aktivitas ini, organisasi dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil relevan dengan risiko yang dihadapi.
Aktor
Aktor adalah orang-orang yang terhubung dengan suatu organisasi, termasuk staf, dewan pengurus/pengawas, dan mitra organisasi. Aktor juga dapat mencakup sukarelawan, jaringan, penerima manfaat, dan donor.
Selain itu, aktor dalam organisasi, termasuk staf IT, manajemen, anggota dewan, dan pengguna akhir, memainkan peran penting dalam implementasi dan keberhasilan program keamanan. Analisis program harus mencakup penilaian terhadap peran dan tanggung jawab masing-masing aktor. Ini melibatkan pemahaman tentang sejauh mana setiap aktor dilibatkan dalam kebijakan keamanan dan seberapa efektif mereka berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.
Ketidakjelasan dalam peran atau kurangnya pelatihan bagi pengguna dapat menciptakan celah keamanan yang signifikan. Dengan menilai interaksi antaraktor, organisasi dapat memperkuat kolaborasi dan memastikan bahwa semua pihak memahami peran mereka dalam menjaga keamanan.
Kapasitas
Indikator kapasitas yang mencakup keterampilan staf dan berbagai
SAFEnet
macam sumber daya yang dapat dimanfaatkan organisasi untuk memengaruhi perubahan termasuk pendanaan, jaringan, serta proses dan kebijakan kelembagaan.
Kapasitas organisasi mencakup sumber daya dan kemampuan yang tersedia untuk mendukung program keamanan digital. Ini meliputi keterampilan staf, infrastruktur keamanan, kebijakan yang ada, serta pendanaan yang dialokasikan untuk inisiatif keamanan.
Dalam analisis program, penting juga untuk mengevaluasi apakah kapasitas ini mencukupi untuk menghadapi ancaman yang dapat muncul. Apakah staf memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjalankan penerapan keamanan yang efektif? Apakah teknologi yang digunakan memadai dan terus diperbarui? Dengan melakukan penilaian ini, organisasi dapat mengidentifikasi kelemahan dalam kapasitas yang mungkin membatasi efektivitas program keamanan dan menentukan area yang memerlukan in- vestasi lebih lanjut.
Analisis Kerentanan
Analisis kerentanan dilakukan untuk mengetahui paparan ancaman, titik lemah, dan cara-cara lain untuk memengaruhi organisasi. Contohnya isu yang dikerjakan, praktik mitigasi yang belum dilakukan, dan sejauh mana ketergantungannya pada teknologi digital. Langkah ini serupa dengan seseorang yang melakukan medical check up untuk memeriksa apakah seseorang menderita penyakit tertentu dan seberapa parah. Langkah ini sangat penting karena berbeda dengan analisis program dimana organisasi yang diaudit sangat familiar dengan berbagai aspeknya, maka analisis kerentanan ini berusaha mengidentifikasi masalah dan potensi masalah yang belum tentu disadari keberadaannya oleh organisasi, sehingga sangat boleh jadi perlu auditor dari luar untuk memeriksanya.
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Selama pengalaman SAFEnet melakukan audit keamanan digital dan melakukan pemantauan pelanggaran hak-hak digital, khususnya terkait insiden atau serangan digital. Beberapa temuan yang sering ditemui adalah hal-hal seperti pengambilalihan akun, penggunaan credentials bawaan (default), dan kehilangan data.
Analisis Ancaman
Adapun analisis ancaman adalah proses mengidentifikasi penyerang potensial dan mengumpulkan informasi latar belakang tentang kemampuan penyerang tersebut untuk mengancam organisasi. Dasar dari informasi ini adalah riwayat ancaman yang pernah terjadi terhadap organisasi.
Utamanya, organisasi tidak akan luput dari ancaman digital secara umum. Kendati demikian, organisasi masyarakat sipil, khususnya yang bergerak dengan isu sensitif, rentan mengalami dan menjadi target lebih intens.
Dalam konteks OMS, tiap organisasi yang bergerak di isu tertentu memiliki kecondongan ancaman yang dialami.
| Latar Belakang | Serangan halus (non-teknis) | Serangan Kasar (teknis) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Papua | Trolling Sextortion Impersonasi Intimidasi | DDoS Attack Pemutusan kabel Internet Robocall Zoom Bombing Pencurian laptop | |
| Lingku- ngan | Doxing Intimidasi | Peretasan situs web Pengambilalihan akun |
SAFEnet
| LGBTQ | NCII Impersonasi Online exhibitionism Trolling | Peretasan akun media sosial Peretasan akun pesan ringkas | Terkait erat dengan KBGO |
|---|---|---|---|
| Jurnalis | Doxing Trolling | DDoS Attack Peretasan Akun | |
| Demokrasi dan HAM | Pengambilalihan Instagram dan WhatsApp | ||
| Perem- puan | Impersonasi | Relatif lebih rendah risikonya |
Sumber: Sudah Rentan, Kurang Waspada Pula. 2022.
Berikut adalah contoh pertanyaan yang perlu dijawab untuk mengetahui sejauh mana risiko dan ancaman organisasi: Profil dan Struktur Organisasi Bagaimana profil organisasi? Bagaimana struktur organisasi? A pa tugas dan fungsi masing-masing dalam struktur tersebut? Program dan Kegiatan A pa saja program dan kegiatannya? Siapa sasaran utama program organisasi? A pa saja kegiatan dan isu penerima manfaat program- nya? Penggunaan Teknologi Bagaimana penggunaan teknologi digital oleh organisasi? Sejauh mana mereka tergantung pada teknologi tersebut? Risiko dan Ancaman Digital
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Apa saja risiko dan ancaman serangan digital yang mungkin terjadi? Seberapa besar kemungkinan dan intensitasnya? A pa saja riwayat serangan yang pernah terjadi? Jika pernah terjadi, bagaimana dampaknya? Bagaimana penanganannya? Pelaku Ancaman dan Teknik Serangan Apakah bisa diketahui siapa pelaku ancaman dan serangan tersebut? Teknik apa yang mereka gunakan? A pakah mereka menargetkan kerentanan organisasi saat ini? Apakah mereka menargetkan organisasi serupa atau hanya menyasar organisasi yang diaudit? A pa saja metode yang digunakan oleh pelaku ancaman untuk menyerang organisasi serupa? A pakah pelaku ancaman saat ini mempunyai keinginan untuk melakukan serangan terhadap organisasi jenis ini? A pakah organisasi merupakan target ancaman prioritas bagi pelaku ancaman?
Semua proses tanya jawab tersebut bisa dilakukan melalui wawancara secara tatap muka maupun secara daring. Namun, metode yang paling baik adalah melalui diskusi terfokus secara langsung bersama semua staf organisasi.
TINDAK LANJUT
Hasil dari penilaian dan analisis risiko dapat menghasilkan peta risiko dan ancaman organisasi. Setiap risiko dan ancaman perlu disesuaikan dengan tingkat atau dampak kerentanan. Untuk mem- presentasikan informasi ini, salah satu metode yang dapat digunakan adalah menggunakan tabel dan juga matriks risiko, sebagaimana contoh berikut.
SAFEnet
| Kegiatan | Risiko dan Ancaman |
|---|---|
| Pengelolaan dan kampanye media sosial | Peretasan Pengambilalihan akun Phishing Persekusi daring |
| Aktivitas daring pada kantor | Penyadapan Pengawasan ilegal |
| Komunikasi Internal | Peretasan Penyadapan Pengambilalihan akun |
| Kemungkinan Rendah, Dampak Tinggi Penyadapan Pengawasan ilegal Kebocoran data Serangan Malware Ransomware | Kemungkinan Tinggi, Dampak Tinggi Peretasan Pengambilalihan akun Serangan DDOS Persekusi daring Pengancaman Phising |
| Kemungkinan Rendah, Dampak Rendah Injeksi Iklan Komentar Spam | Kemungkinan Tinggi, Dampak Tinggi Malvertising |
Masalah yang teridentifikasi dalam tahap ini dapat ditangani dengan berbagai cara. Aspek pertama, adalah bahwa penanganan perlu dilakukan dengan perbaikan pada satu atau lebih dari SDM, proses (kebijakan dan atau prosedur), dan platform (perangkat keras, perangkat lunak).
Aspek kedua adalah bahwa risiko dapat ditangani dengan cara: Avoid: menghindari risiko (sepenuhnya mengeliminasi risiko)
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
| Mitigate: atau dampak terjadinya risiko) Transfer: ke tiga misanya dengan mengasuransikan) Accept: transfer) Idealnya kita ingin agar semua risiko dapat dieliminasi sepenuhnya (avoid), tetapi kenyataannya, hal itu tidak mungkin. Maka perlu dipilih risiko mana penanganan terbaiknya dengan cara apa. Misi dan tujuan organisasi bisa dijadikan aspek pertimbangan untuk pemilihan salah satu opsi mitigasi risiko mana yang sebaiknya dipilih. Hal tersebut juga perlu menekankan pertimbangan terhadap skala prioritas, penilaian, ancaman, atau kerentanan yang berpotensi berdampak atau membahayakan secara signifikan. Keluaran yang diharapkan Berdasarkan penilaian ini hasil yang akan didapatkan adalah se- bagai berikut: yang diaudit. isasi. dan matriks. ACUAN Methods SAFETAG terkait: | memitigasi risiko (mengurangi kemungkinan terjadi memindahkan risiko (memindahkan risiko ke pihak menerima risiko (mengonfirmasi keberadaan risiko tetapi tidak melakukan tindakan avoid, mitigate, maupun Data pemetaan risiko pada jaringan dan perangkat organisasi Daftar pemetaan risiko dari program dan kegiatan inti organ- Daftar pengidentifikasian pemetaan risiko dalam bentuk tabel | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Process Mapping and Risk Modeling [https://safetag.org/methods/risk_modeling | ](https://safetag.org/methods/risk_modeling | ) | |||
| Threat Assessment [https://safetag.org/methods/threat_assessment | SAFEnet](https://safetag.org/methods/threat_assessment | SAFEnet) 17 2024 |
Activities SAFETAG terkait: Process Mapping https://safetag.org/activities/processmappingactivity/ Risk Modeling Using the Pre-Mortem Strategy https://safetag.org/activities/premortumriskassessment activity/ Creating a Risk Matrix https://safetag.org/activities/risk_matrix/ Sensitive Data https://safetag.org/activities/sensitive_data/ Self Doxing https://safetag.org/activities/self_doxing/ Guiding Questions for High-Risk Organisations https://safetag.org/activities/interviews_highrisk/ Threat Identification https://safetag.org/activities/threat_identification/ Threat Interaction https://safetag.org/activities/threat_interaction/ Regional Context Research https://safetag.org/activities/regionalcontextresearch/ Assessing Legal Threats https://safetag.org/activities/assessing-legal-threats/
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Materi 3:
Penilaian Data
RINGKASAN
uatu organisasi mempunyai berbagai macam data. Di sektor
Satau isu apapun bekerja, setiap organisasi sangat mungkin untuk
mengelola data sensitif atau data pribadi. Namun, berkas atau fail sensitif tersebut terkadang tersimpan dalam berbagai perangkat dengan tingkat keamanan berbeda-beda. Tidak menutup kemungkinan, data tersebut kemudian tercecer tanpa disadari. Untuk itu, penting untuk melakukan pengelompokan data, di mana data terkait tersimpan, bagaimana disimpannya, pengamanannya seperti apa, dibagikan kepada siapa dan untuk apa, serta siapa saja yang bisa mengakses. Hal-hal tersebut harus terorganisir dengan baik.
Selain perihal penyimpananan, auditor juga perlu mencari informasi tanggung jawab dan konsekuensi atas bagaimana organisasi menangani data tersebut. Kemungkinan akan kebocoran atau penyalahgunaan data harus dipertimbangkan terhadap organisasi yang mengumpulkan, memproses, dan menggunakan data.
Secara umum, keamanan sistem informasi yang salah satu komponen pentingnya adalah keamanan data, mencakup tiga syarat yang biasa disingkat CIA, meliputi confidentiality (kerahasiaan), integrity (keutuhan), dan availability (ketersediaan). Masing-masing syarat akan dijelaskan lebih lanjut di bawah.
Kemanan Data
Kerahasiaan
Beberapa macam data harus dijaga kerahasiaannya, misalnya, kredensial yang dipakai untuk mengakses akun e-mail atau untuk
SAFEnet
mengedit konten web (CMS). Ada juga data yang sama sekali tidak perlu dirahasiakan, misalnya, seluruh konten web organisasi yang memang disajikan untuk pengunjung web. Apabila ada konten web yang ingin dibatasi aksesnya (dirahasiakan dari publik, tapi diizinkan diakses oleh pengguna tertentu), maka biasanya disediakan mekanisme akses tertentu, misalnya dengan memakai kredensial (username & password).
Kerahasiaan data seringkali memiliki batasan waktu. Suatu dokumen laporan mungkin harus dirahasiakan selama sekian waktu, setelah rentang waktu tersebut, tidak perlu dirahasiakan lagi.
Kata kunci utama terkait kerahasiaan data ini adalah enkripsi. Dengan memakai enkripsi, maka ketika data jatuh ke tangan pihak lain yang mestinya tidak berhak mengaksesnya, mereka tidak akan dapat melihat/membaca data tersebut. Langkah pertama melindungi data adalah upaya agar orang yang tidak berhak tidak bisa mengaksesnya, terutama akses fisik. Setelahnya, pembatasan akses logik.
Kebiasaan sharing akun sangat berpengaruh ke perlindungan kerahasiaan. Masalah yang bisa timbul adalah, ketika terjadi insiden kebocoran data, siapa dari para pemegang akun bersama itu yang benar-benar mengakses dan atau menyebabkan kerahasiaan data terbongkar.
Keutuhan
Keutuhan data adalah karakteristik yang sangat penting. Data
pada berbagai proses organisasi memang bisa berubah, tetapi perubahannya perlu dijamin memang merupakan perubahan yang diinginkan, dilakukan oleh pihak yang memang memiliki hak, dan dilindungi sehingga mudah terdeteksi apabila ada perubahan tak dikehendaki.
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Mekanisme yang paling banyak dipakai untuk melindungi keutuhan data adalah dengan hash dan backup. Dengan hash kita dapat meyakinkan bahwa suatu data tidak diubah oleh pihak yang tidak berwenang. Backup adalah data cadangan, yang dipakai untuk memulihkan data ketika terjadi kerusakan karena masalah apa pun.
Ketersediaan
Serangan atas ketersediaan data yang sering muncul akhir-akhir ini adalah ransomware. Penyerang mengakses data Anda, mengen- kripsinya, meletakkan data terenkripsi di lokasi yang sama dengan data asli, dan menghapus data asli. Kemudian penyerang meminta tebusan agar pemilik data asli bisa membuka data terenkripsi tersebut. Tindakan pencegahan atas serangan ransomware ini adalah backup, yang diletakkan di tempat yang memiliki kendali akses berbeda dengan data asli.
Dinamika perjalanan data memerlukan perhatian karena situasi yang berbeda juga memerlukan cara penanganan yang tepat. Data dalam keadaan tersimpan (data at rest) berada di berbagai media penyimpanan: berkas yang disimpan di hard disk desktop, laptop, atau server; berkas yang disimpan di diska eksternal atau diska batang. Fokus perlindungan adalah proteksi media penyimpanan, misalnya dengan enkripsi. Data dalam perjalanan (data in transit) melewati berbagai media komunikasi: konten atau lampiran email, konten atau berkas pesan instan, berkas yang sedang diunggah ke atau diunduh dari cloud storage, dsb. Fokus perlindungan adalah proteksi media komunikasi, misalnya memastikan bahwa akses ke server memakai protokol secure HTTP (HTTPS).
Klasifikasi Data
Selain konsep CIA untuk keamanan data, perlu juga acuan mengenai pengklaisifkasian data. Acuan bersama yang dapat dijadikan patokan adalah regulasi terkait UU PDP atau GDPR.
SAFEnet
TAHAPAN
Terdapat tiga tujuan dalam proses penilaian data, yaitu, mengidentifikasi data sensitif dan privat, mengenali risiko dan konsekuensi kehilangan/penyalahgunaan data, serta menilai penggunaan layanan pihak ketiga.
Data sensitif dan privat
Seiring berjalannya waktu, data dan metadata yang berkaitan
dengan organisasi beserta anggotanya akan sulit dikelola. Terlebih, jika suatu staf atau program menggunakan aplikasi atau layanan pihak ketiga, seperti Google Drive, OneDrive, Dropbox. Hal tersebut bisa dibilang lumrah, akan tetapi, sangat penting untuk mengelola dan mencatat di mana dan siapa saja yang bisa mengakses data tentang organisasi.
Pengaturan hak akses, tentang siapa saja yang dapat mengakses data sangat penting dilakukan dan dicek secara berkala. Proses ini juga tidak terpaku pada aplikasi atau layanan pihak ketiga di atas, tetapi pada platform yang organisasi kontrol sendiri. Misalnya situs web, NAS, dan sebagainya. Perlunya manajemen hak akses, sehingga upaya pembatasan bisa dilakukan untuk memitigasi data yang diakses oleh orang yang bukan haknya.
Risiko dan konsekuensi kehilangan/penyalahgunaan data
Identifikasi risiko dan dampak yang mungkin terjadi jika data organisasi hilang atau bocor. Tahap ini memastikan bahwa organisasi mempunyai kesadaran tentang bagaimana mereka mengelola data.
Tahapan untuk mengenali risiko dan konsekuensi adalah dengan memetakan dahulu data apa saja yang organisasi miliki. Selain pemetaan, perlu juga klasifikasi atau mengurutkan data berdasarkan tingkat kepentingan atau sensitivitasnya. Pada proses ini, organisasi
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
perlu juga merefleksikan bagaimana jika suatu data hilang atau terjadi penyalahgunaan data. Perlu ditimbang, seberapa besar upaya yang telah dicurahkan untuk mengumpulkan data, apabila data tersebut rusak atau hilang, apakah masih mungkin untuk dipulihkan, dan seberapa besar sumber daya (waktu, orang, biaya) untuk memulihkannya.
Penggunaan layanan pihak ketiga
Pada saat proses penilaian organisasi, auditor biasa menemui
penggunaan layanan pihak ketiga. Organisasi sangat mungkin
menyimpan data atau bergantung terhadap layanan terkait. Perlu pertimbangan tentang Syarat dan Ketentuan serta Kebijakan Privasi layanan terkait, sebagai bahan penilaian risiko terhadap organisasi.
Di berbagai organisasi penggunaan atau kebergantungan terhadap platform atau layanan pihak ketiga hampir sering terjadi. Selain kebijakan terkait, perlu juga melihat rekam jejak bagaimana layanan tertentu merespons, jika ada, insiden keamanan atau kebijakan mereka sendiri, khususnya terkait privasi.
PERTANYAAN
Untuk mencari tahu penggunaan data pada organisasi, auditor bisa menanyai hal-hal berikut. Data apa yang dianggap penting dan harus tersedia secara publik? Apakah ada pencadangannya (back up) pada data tersebut? Apa saja data yang dianggap privat atau rahasia organisasi? Bagaimana lembaga menentukan siapa yang bisa mengakses data tersebut? Adakah orang yang tidak punya wewenang untuk mengakses data tersebut, tetapi bisa mengaksesnya? Apakah staf sudah punya kriteria apa yang termasuk dalam
SAFEnet
data sensitif? Data apa saja yang bisa diakses staf untuk melakukan peker- jaannya? Dari mana data tersebut berasal? Apa yang Anda lakukan terhadap data yang tidak diperlukan atau digunakan?
TINDAK LANJUT
Pertanyaan tersebut dapat menjawab bagaimana kondisi pengelolaan data dalam organisasi, sebagai metode lanjutan, Auditor bisa melakukan 4 tahap praktis untuk memetakan pengelolaan data dalam organisasi: Identifikasi Pada kerja-kerja yang dijalani organisasi, apa saja data yang dikumpulkan? Kelompokkan Kelompokkanlah data-data yang terkumpul berdasar tempat penyimpanannya. Tempat ini bisa berupa ruang fisik maupun digital. Misalnya, catatan pada buku yang tersimpan di suatu tempat, maupun informasi data pribadi dalam fail/dokumen di Google Docs atau flash disk. Klasifikasi Klasifikasilah informasi yang terkandung dalam data tersebut. Apakah isinya memuat hal sensitif, pribadi, atau privat? Sensitivitas kepentingan data ini bisa dibagi menjadi tiga kelompok: tinggi, sedang, dan rendah. Refleksi Coba pikirkan konsekuensi dan kemungkinan penyalahgunaan yang mungkin muncul.
Sebagai bahan referensi, tabel penilaian aset digital, terdapat pada Lampiran, bisa dijadikan acuan untuk melakukan pemetaan data.
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Perlu diingat pula bahwa di dunia digital, pencurian data dapat dilakukan dengan menyalin, sehingga data asli seolah tidak berubah, berpindah, rusak, atau hilang. Berbeda dengan pencurian di dunia nyata, di mana benda yang dicuri berpindah tempat dan mudah terlihat dicuri atau tidaknya dari keberadaannya.
Keluaran yang diharapkan
Daftar penggunaan layanan/platform pihak ketiga yang digunakan Pemetaan data dan metadata, dan hak ases pada layanan pihak ketiga.
ACUAN
Activities SAFETAG terkait: Sensitive Data https://safetag.org/activities/sensitive_data/ Risk of Data Lost and Found https://safetag.org/activities/datalostand_found/ Assessing Usage of Cloud Services https://safetag.org/activities/cloud_services/ The Impacts of a Lost Device https://safetag.org/activities/impactlostdevice/ The Impacts of a “Found” Device https://safetag.org/activities/impactfounddevice/ Private Data https://safetag.org/activities/private_data/
SAFEnet
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Materi 4:
Pemetaan Aset dan Jaringan
RINGKASAN
set-aset digital adalah semua perangkat yang dimiliki lembaga
Abaik dalam bentuk perangkat keras, perangkat lunak, maupun
akun-akun media sosial. Perangkat keras bisa berupa komputer, laptop, dan ponsel. Perangkat lunak mencakup sistem operasi, program, dan aplikasi yang digunakan. Sedangkan media sosial termasuk X (Twitter), Instagram, Facebook, dan Youtube.
Layaknya ketika ingin mengetahui tata letak/arsitektur bangunan, kita perlu memetakan informasi di mana saja gerbang, pagar, pintu, dan jendela yang terdapat pada bangunan tersebut. Proses identifikasi tersebut harus dilalui, sehingga kita dapat mengetahui jalan mana yang akan kita telusuri.
Selain itu kita juga akan melakukan observasi media sosial. Pengamatan media sosial diperlukan sebagai bahan tinjauan untuk mengetahui informasi apa saja yang tersedia secara publik. Setiap akun media sosial dapat dilihat dari segi keaktifannya dan ragam informasi atau konten yang termuat. Pengamatan dari sisi username pun diperlukan sebagai bahan identifikasi mengenai apakah ada akun tiruan atau impersonasi yang menggunakan nama lembaga. Entah menggunakanan typosquatting (Penyalahgunaan nama dengan kesalahan eja), akun tidak resmi yang mengatasnamakan lembaga, atau akun lama yang sudah tidak aktif.
SAFEnet
TAHAPAN
Terdapat dua tahapan yang bisa dilalui untuk memetakan aset dan jaringan, sebagai berikut.
Observasi Media Sosial
Pada media sosial populer, coba telusuri akun-akun identik dengan nama lembaga, maupun akun resmi organisasi. Kemudian, cari tahu organisasi aktif pada media sosial apa. Selain itu, bagaimana organisasi memuat konten untuk publik bisa jadi bahan pengamatan.
| No | Platform Media Sosial | Username | URL Akun | Keterangan (Contoh) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | [nama_pengguna] | https://www. instagram.com/ [nama_pengguna] | Akun lembaga untuk berbagi foto dan video sehari-hari | |
| 2 | [nama_pengguna] | https://www. facebook.com/ [nama_pengguna] | Halaman lembaga untuk mempromosikan produk/jasa | |
| 3 | [nama_pengguna] | https://twitter.com/ [nama_pengguna] | Akun untuk berbagi berita dan update terbaru | |
| 4 | [nama_profil] | https://linkedin. com/[nama_profil] | Profil profesional untuk networking dan mencari pekerjaan | |
| 5 | [nama_channel] | https://www. youtube.com/ [nama_channel] | Channel untuk berbagi video tutorial dan konten kreatif |
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
6 @[namapeng-https://www.tiktok. Akun untuk guna] com/@[nama membuat dan pengguna] berbagi video pendek
Pemetaan Jaringan Internal dan Eksternal
Memastikan keamanan jaringan bisa diawali dengan mengenali kondisi penggunaan jaringan organisasi. Misalnya, mengenali perangkat apa saja yang terhubung dalam jaringan internal. Kemudian, mengidentifikasi layanan organisasi apa saja yang bisa diakses secara publik. Selanjutnya, bagaimana kondisi pengaturan keamanan perangkat atau layanan terkait.
Umumnya, beberapa perangkat jaringan yang terdapat dalam suatu organisasi seperti: router switch network printer access point Wi-Fi NAS (LAN file storage/file sharing) network projector (yang tersambung melalui Wi-Fi) modem broadband smart TV Mikrotik Jaringan internet yang terbuhung dalam domain
Perangkat non jaringan yang mungkin menyimpan data sensitif mesin fotokopi (mungkin memilik hard disk)
Perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan untuk pemantauan / pengendalian jarak jauh TeamViewer Remote Desktop VNC
SAFEnet
AnyDesk dsb.
War-Driving & War-Walking
War-Driving dan War-Walking merupakan suatu kegiatan untuk mendeteksi dan memetakan jaringan Wi-Fi dari lokasi fisik tertentu. Pemetaan dan pendeteksian dapat dilakukan menggunakan perangkat seperti smartphone atau laptop dengan cara menentukan lokasi dan ketersediaan jaringan Wi-Fi dari area sekitarnya. Perbedaan- nya, War-Driving dapat dilakukan sambil berkendaraan, sedangkan War-Walking dapat dilakukan sambil berjalan kaki.
Dengan melakukan war-driving atau war walking, kita dapat memperoleh informasi yang sangat berharga terkait dengan Wi-Fi yang dapat diakses dari lokasi fisik manapun. Berikut beberapa tabel panduan untuk melakukan penilaian dan pemindaan pada Wifi kantor.
| No Pertanyaan | Keterangan | Kegiatan | |
|---|---|---|---|
| 1 | Perangkat | Apakah perangkat yang digunakan mendukung frekuensi 2.4 GHz, 5 GHz, dan 6 GHz? | Melakukan pemindaan dengan Fing atau Wifi Analyzer. |
| 2 Apakah ada potensi risiko akses tidak sah atau serangan terhadap Wi-Fi organisasi? | Wi-Fi Organisasi Melakukan pengamatan perangkat terhubung melalui Fing. | Apakah ada Wi-Fi organisasi yang dapat diakses dari luar area yang seharusnya? | Melakukan pemindaan dengan Fing atau Wifi Analyzer. |
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
| Apakah ada perangkat yang terhubung melalui kabel LAN maupun tanpa kabel? | Melakukan pemantauan kabel maupun perangkat yang terhubung dengan Wifi menggunakan Nmap atau Fing. | ||
|---|---|---|---|
| 3 | Wi-Fi Non-Organisasi | Apakah ada Wi-Fi non- organisasi yang dapat dimanfaatkan di dalam area organisasi? | Melakukan pemindaian dengan Fing atau Wifi Analyzer. |
| Apakah ada risiko penyerang meninggalkan perangkat yang terhubung ke Wi-Fi luar? | Melakukan observasi di sekitar lokasi penempatan akses poin dan memeriksa kabel yang terhubung dengan router. | ||
| 4 | Pengumpulan Data | Apakah data hasil war driving/war walking sudah dikumpulkan secara lengkap? | Melakukan sambil melakukan pemindaan dan pengamatan melalui aplikasi Fing atau Wifi Analyzer. |
Observasi dan pemeriksaan pengelolaan jaringan kantor
Kunjungan kantor merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan tim audit keamanan digital ketika melakukan audit keamanan digital lembaga dampingan atau penerima layanan (klien). Tujuan utama kunjungan ini untuk melakukan pengamatan langsung (observasi) praktik pengelolaan jaringan kantor mitra tersebut.
Daftar Periksa
| Komponen | Temuan | Kegiatan |
|---|---|---|
| Perangkat komputer atau laptop | Amati penggunaan perangkat staf, original atau tidak? Bagaimana kondisi perangkat? Tempatnya di mana? Pada | Pengamatan |
saat kantor ditutup apakah perangkat dibawa pulang atau ditinggal?
SAFEnet
| Amati bagaimana para staf menjaga perangkatnya. Apakah ditinggal begitu saja saat ditinggalkan atau dikunci? Apa saja pengamanannya? | Pengamatan | |
|---|---|---|
| Sistem Operasi | Amati atau tanya sistem Operasi apa saja Pengamatan/ yang digunakan oleh staf. Apakah Sistem Pengecekan Operasinya berlisensi sah atau tidak? | Perangkat |
| WiFi Kantor | Apakah nama SSID dan kata sandinya diberitahukan secara terbuka atau tidak. Misalnya, di dinding atau ditulis di papan? | Pengujian dengan aplikasi penangkap WiFi. Misalnya dengan menggunakan Wifi Analyzer. |
| Jika nama SSID dan kata sandi tidak terbuka, mintalah kepada staf di kantor tersebut. | Meminta akses | |
| Cari informasi apa layanan jasa Internet yang digunakan lewat platform speedtest.net, fast.com, atau whoer.net. | Pengujian dengan platform | |
| Setelah menemukan layanan jasa Internet yang digunakan, cobalah masuk sebagai admin WiFi tersebut. Gunakan user dan kata sandi default. Jika menemukan masih menggunakan default, catat sebagai temuan. | Pengujian dengan mengakses | |
| Jika bisa masuk sebagai admin WiFi kantor mitra, catat sebagai temuan penting karena risikonya sangat tinggi. | Pengujian dengan mengakses dasbor router | |
| Ambil gambar untuk semua temuan, seperti nama SSID dan kata sandi yang ditempel, posisi jeroan admin WiFi lembaga, dan informasi lain-lain yang relevan. | Dokumentasi | |
| Tanyakan informasi pendukung lain, termasuk kapan kata sandi diganti terakhir kali, bagaimana pengaturan SSID-nya, apakah ada admin yang memantau penggunaannya, dst. | Wawancara & Pengamatan |
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
| Local Area Network (LAN) | Tanyakan apakah kantor memakai LAN atau tidak. Jika memakai, siapa saja yang bisa mengakses? Apakah tamu bisa langsung mengakesnya juga? | Wawancara & Pengamatan |
|---|---|---|
| Router | Tanyakan di mana letak router. Perhatikan apakah bisa diakses orang lain dengan mudah atau tidak. | Wawancara & Pengamatan |
| Media Penyimpanan penyimpanan terpusat, seperti | Apakah lembaga memiliki media server atau NAS? Jika punya, di mana posisinya? Siapa saja yang bisa mengakses ruangan ataupun jaringannya, lokal atau bisa dari jarak jauh? | Wawancara & Pengamatan |
| Jaringan | Jika menggunakan pihak ketiga untuk mengatur WIFI, LAN, NAS, dsb, siapa pihak ketiga tersebut? Bagaimana statusnya (konsultan atau seperti apa?) Apa latar belakang pihak ketiga tersebut? Adakah narahubung dari staf kantor untuk transfer info atau pengetahuan dari konsultan? | Wawancara |
| Perangkat terhubung | Melakukan pemindaan dengan aplikasi atau melalui dashboard router untuk memastikan perangkat terhubung dikenali. | Pengujian dengan aplikasi Fing atau Nmap |
| Kamera Pengawas Keamanan Fisik Lain | Perhatikan apakah kantor memiliki kamera pengawas (CCTV)? Berapa? Bagaimana penempatannya? Ada beberapa hal lain yang juga perlu diperhatikan. Meskipun bukan termasuk keamanan digital, tetapi aspek-aspek berikut berpengaruh juga pada keamanan digital, yaitu lingkungan sekitar, pagar kantor, pengaturan ruangan, penanggung jawab keamanan, posisi duduk, dan lain-lain. | Pengamatan |
SAFEnet
DAFTAR PERIKSA
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara observasi dan mengisi daftar pertanyaan berikut ini:
| No Pertanyaan | Jawaban (Ya/Tidak) | Catatan/ Temuan | |
|---|---|---|---|
| 1 | Apakah halaman admin dari router memakai kredensial bawaan atau default? | ||
| 2 | Apakah terdapat perangkat tidak dikenali yang terhubung dalam jaringan? | ||
| 3 | Situs atau layanan apa saja yang dapat diakses secara publik? | ||
| 4 | Apakah semua perangkat jaringan dan non- jaringan telah diperbarui ke versi terbaru? | ||
| 5 | Apakah ada kebijakan penggunaan password yang kuat dan diterapkan secara konsisten? | ||
| 6 | Apakah ada sistem deteksi intrusi (IDS) atau sistem pencegahan intrusi (IPS) yang aktif? | ||
| 7 | Apakah ada firewall yang melindungi jaringan dari akses yang tidak sah? |
DAFTAR PERTANYAAN
Pertanyaan yang bisa dilontarkan untuk tahap ini adalah:
No Pertanyaan Jawaban Catatan/
(Ya/Tidak) Temuan
1 Apakah tahu cara mengakses halaman admin dari router? 2 Apakah masih memakai kredensial bawaan atau default? 3 Siapa yang bisa mengakses halaman admin dari router? 4 Apakah menggunakan Mikrotik atau perangkat pengatur layanan jaringan?
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
| 5 | Apakah ada layanan yang tersedia dalam jaringan yang tidak diberi tahu oleh staf organisasi? |
|---|---|
| 6 | Apa sistem operasi, atau layanan/aplikasi yang digunakan organisasi? Apakah ada hal tidak umum, berbeda, atau belum diperbarui mengenai layanan atau sistem operasi yang dijalankan? |
| 7 | Apakah semua perangkat jaringan dan non- jaringan telah diperbarui ke versi terbaru? |
| 8 | Apakah ada kebijakan penggunaan password yang kuat dan diterapkan secara konsisten? |
| 9 | Apakah ada firewall yang melindungi jaringan dari akses yang tidak sah? |
| 10 | Apakah ada backup data yang dilakukan secara teratur? |
| 11 | Apakah karyawan diberi pelatihan keamanan secara cukup? |
| 12 | Apakah ada kebijakan penggunaan yang jelas untuk perangkat pribadi yang terhubung ke jaringan organisasi? |
Untuk membantu memetakan aset dan jaringan, layanan pihak ketiga berikut bisa digunakan. Pemetaan Jaringan eksternal atau publik: https://dnsdumpster.com/ Identifikasi perangkat yang terhubung dalam jaringan internal: Fing atau Nmap
TINDAK LANJUT
Jangan lupa bahwa perangkat jaringan (router, switch, modem, dll.), terutama yang manageable, boleh jadi juga dapat dimutakhirkan *firmware-*nya.
SAFEnet
Keluaran yang diharapkan
Berdasarkan penilaian ini hasil yang akan didapatkan adalah sebagai berikut: Daftar hasil dokumentasi observasi media sosial. Data pemetaan jaringan internal dan eksternal. Data dokumentasi observasi dan pemeriksaan pengelolaan jaringan kantor. Data dokumentasi observasi dan pemeriksaan pengelolaan Wifi. Informasi dokumentasi hasil wawancara.
ACUAN
Activities SAFETAG terkait: Network Scanning https://safetag.org/activities/network_scanning Network Access https://safetag.org/activities/network_access Network Traffic Analysis https://safetag.org/activities/traffic_analysis Remote Network and User Device Assessment https://safetag.org/activities/remotenetworkdevice_ assessment Router Based Attacks https://safetag.org/activities/router_attacks VoIP Security Assessment https://safetag.org/activities/voip_assessment Wireless Range Mapping https://safetag.org/activities/wirelessrangemapping Monitor Open Wireless Traffic https://safetag.org/activities/monitoropenwireless_traffic
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Materi 5:
Pemindaian dan Analisis Kerentanan
RINGKASAN
ada tahap ini auditor mencari kemungkinan celah keamanan
Pdalam perangkat, layanan, aplikasi, dan jaringan organisasi
dengan menguji dan membandingkannya dengan berbagai sumber (databases kerentanan, informasi vendor/layanan, dan investigasi/ temuan audit).
Dalam melakukan pemindaian kerentanan, perlu kita bedakan mengenai Asesmen Kerentanan dan Uji Penetrasi. Asesmen kerentanan lebih bersifat menyeluruh, sedangkan Uji Penetrasi lebih mendalam. Kedua hal tersebut juga memiliki tujuan yang berberda. Asesmen kerentanan bertujuan untuk melihat sejauh mana kerentanan dapat muncul atau potensial bersarang pada suatu sistem organisasi. Di sisi lain, Uji Penetrasi lebih berfungsi untuk memverifikasi suatu kerentanan dan memiliki tujuan yang spesifik.
Dalam proses pemindaian kerentanan, penggunaan aplikasi non-teknis dapat dimanfaatkan, tetapi penggunaan aplikasi harus didasarkan pada pemahaman tentang batasan, lingkup, dan konsekuensi dari pemindaian oleh aplikasi atau layanan pihak ketiga terkait, terutama jika berbasis web. Sebagai contoh, penggunaan aplikasi layanan pihak ketiga tidak dapat memindai sedalam dan sejauh aplikasi teknis khusus. Penggunaannya hanya sebatas memindai di dasarnya saja.
Untuk mendapatkan pemindaian yang lebih komprehensif, perlu
SAFEnet
menggunakan aplikasi khusus, seperti Burp Suite, Nessus atau beberapa aplikasi alternatif lainnya. Namun, sebagaian besar penggunaan aplikasi tersebut memerlukan pemahaman dan keahlian teknis yang lebih mendalam.
Terakhir, analisis PAKEM DIRI untuk melihat penerapan perilaku atau kebijakan keamanan digital dan praktik keamanan apa saja yang belum diterapkan sehingga mempengaruhi keamanan digital organisasi.
TAHAPAN Mengenali dan Memindai Situs Web
Website footprinting
Website footprinting merupakan sebuah proses mencari tahu dan menemukan segala sesuatu mengenai suatu situs web atau domain, termasuk informasi berupa servernya, teknologi yang digunakan, dan data lainnya yang mungkin berguna bagi penyerang. Kata footprinting sendiri mengacu pada istilah teknis dalam dunia komputer terkait proses untuk memperoleh informasi mengenai suatu sistem atau jaringan.
Menggunakan alat pindai berbasis layanan pihak ketiga sebagai langkah awal adalah hal yang dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi mengenai suatu situs web dan memulai Asesmen Kerentanan pada situs tersebut.
Contohnya, ketika terdapat temuan direktori situs web yang yang bisa diakses secara publik, segala informasi dapat dikumpulkan untuk mengenali karakteristik situs web. Misalnya apakah terdapat suatu temuan (informasi, file, aplikasi) yang mengandung informasi sensitif (kata sandi, konfigurasi aplikasi) atau aplikasi yang rentan atau belum diperbaharui.
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Beberapa layanan berbasis web yang dapat digunakan untuk
menunjang praktik ini adalah: Builtwith https://builtwith.com/ DNSDumpster https://dnsdumpster.com/ MX Lookup Tool https://mxtoolbox.com/ SecurityTrails https://securitytrails.com Censys https://search.censys.io/
Data yang dikumpulkan menjadi modal utama sebagai informasi untuk menyesuaikan langkah selanjutnya. Misalnya, penggunaan situs web berbasis WordPress perlu menyesesuaikan alat pemindai yang digunakan menjadi WPScan. Atau situs web yang dibangun dengan teknologi terbaru, perlu melakukan pemindaian dari sisi aplikasi web dan API-nya (Application Programming Interface).
Pemindaian Kerentanan
Pemindaian situs web dilakukan untuk melihat kondisi dan gambaran umum postur keamanan situs web. Selain itu, pengecekan terhadap temuan kerentanan perlu untuk memastikan situs web tidak terinfeksi.
Trend terkini serangan ke web adalah dengan menitipkan beberapa halaman tambahan, khususnya ini biasa dilakukan oleh situs judi online. Mereka melakukan ini dengan harapan bahwa seluruh domain tidak diblokir karena memang berasal dari situs legitimate, sehingga beberapa halaman sisipan tersebut akan bisa bertahan keberadaannya.
Penyerang yang melakukan hal ini biasanya telah meninggalkan backdoor sehingga walau sekadar menghapus halaman-halaman sisipan tersebut, mereka dengan cepat dapat menambahkan lagi halaman-halaman sisipan baru. Maka, penanganan kasus ini perlu direncanakan dengan masuk ke dalam sistem dan perlu memastikan
SAFEnet
bahwa penyerang tidak bisa masuk lagi.
Beberapa aplikasi atau layanan yang dapat digunakan untuk memindai kerentanan, sebagai berikut.
WPScan https://wpscan.com/ Securi https://sitecheck.sucuri.net/ UpGuard https://webscan.upguard.com/ SSLabs Test https://www.ssllabs.com/ssltest/ Nikto https://github.com/sullo/nikto Nessus atau Burp Suite Daftar aplikasi pemindai kerentanan OWASP
Beberapa aspek pertanyaan yang bisa dipertimbangkan adalah:
| No Pertanyaan | Jawaban (Ya/Tidak) | Catatan/ Temuan | |
|---|---|---|---|
| 1 | Apakah situs-situs web organisasi telah mengimplementasikan protokol HTTPS (TLS/ SSL) dengan baik? | ||
| 2 | Apakah situs web terdaftar pada daftar hitam? | ||
| 3 | Apakah hasil pemindaian menunjukan kerentanan? | ||
| 4 | Bagaimana kondisi pengamanan infrastruktur surel organisasi? |
Pemindaian melalui layanan pihak ketiga berikut bisa membantu beberapa tahapan proses ini.
- Mengidentifikasi Target dengan mentukan website yang akan diuji.
2. Menggunakan BuiltWith untuk mengenali teknologi yang
digunakan.
- Menggunakan DNSDumpster dan SecurityTrails untuk meme-
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
takan infrastrukturnya.
- Menggunakan WPScan (jika relevan) untuk memindai kerentanan website yang berbasis pada WordPress.
5. Menggunakan Sucuri untuk melakukan pemindaian situs
web.
- Menggunakan SSLabs untuk memeriksa konfigurasi SSL/ TLS.
- Menggunakan UpGuard mencari kerentanan.
- Jika memiliki kemampuan lebih teknis lakukan Penetration Testing: Verifikasi kerentanan.
- Membuat Laporan dari dokumentasikan temuan dari pengujian sebelumnya.
Berikut ini daftar fungsi layanan pengujian pihak ketiga yang dapat digunakan.
| Alat | Kategori | Fungsi Utama | Kegunaan Utama |
|---|---|---|---|
| BuiltWith | Pembaca Teknologi Website | Mengidentifikasi teknologi yang digunakan dalam membangun situs web | Mengidentifikasi informasi bagaimana suatu situs web dibangun |
| DNSDumpster | Pencari Subdomain dan Informasi DNS | Mencari subdomain, IP alamat, dan informasi DNS lainnya | Menemukan informasi jaringan terkait pada suatu domain |
| SecurityTrails | Pencari Subdomain dan Informasi DNS | Menyediakan data tentang infrastruktur digital | Serupa dengan DNSDumpster, tetapi menawarkan fitur yang lebih lengkap |
| WPScan | Pembaca Kerentanan Umum | Khusus untuk memindai kerentanan pada situs WordPress | Mengidentifikasi kerentanan yang spesifik pada platform WordPress |
SAFEnet
| Sucuri | Pembaca Kerentanan Umum | Menyediakan platform untuk penilaian keamanan web secara umum | Mengidentifikasi kerentanan umum pada suatu situs web |
|---|---|---|---|
| UpGuard | Pemantau Keamanan dan Kepatuhan | Menyediakan platform untuk penilaian keamanan web secara umum | Mengidentifikasi kerentanan umum pada suatu situs web |
| SSL Labs | Penguji Sertifikat SSL | Menganalisis konfigurasi SSL/TLS pada sebuah server web | Memastikan konfigurasi SSL/TLS aman dan sesuai dengan praktik terbaik |
Analisis PAKEM DIRI
PAKEM DIRI merupakan metode penilaian risiko keamanan secara mandiri yang dikembangkan SAFEnet. Ada 50 pertanyaan yang terdiri dari empat komponen keamanan digital, yaitu keamanan perangkat, identitas, komunikasi, dan ponsel. Pengisi PAKEM DIRI hanya perlu menjawab dengan dua pilihan jawaban, Ya atau Tidak, merujuk pada perilaku keamanan yang sudah diterapkan.
Hingga saat ini, ada dua metode pengisian PAKEM DIRI, yaitu secara daring dan luring. Masing-masing metode memiliki keuntungan sendiri. Untuk metode daring, pengisian bisa langsung dilakukan melalui platform pakemdiri.safenet.or.id. Keuntungan pengisian secara daring ini karena bisa dilakukan lebih spesifik per komponen keamanan. Hasilnya otomatis terlihat dalam bentuk persentase setelah mengisi. Pengisian juga bisa dipilih apakah hanya komponen tertentu atau semua komponen.
Adapun metode luring dilakukan melalui pengisian formulir dalam format tabel (sheet), baik .ods untuk LibreOffice maupun .xls untuk Excel. Formulir PAKEM DIRI ada di bagian lampiran panduan ini.
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Keuntungan pengisian secara luring adalah karena tidak harus menggunakan internet dan bisa dikompilasi jika PAKEM DIRI tersebut sebagai bagian dari audit keamanan digital.
Untuk keperluan audit ini, kami menyarankan untuk menggunakan mengisi PAKEM DIRI secara luring. Hasil tiap orang kemudian akan dijumlahkan secara total untuk kemudian dibagi jumlah pengisi sehingga diperoleh nilai rata-rata PAKEM DIRI untuk organisasi yang diaudit. Tingkat risikonya bisa dilihat dari nilai rata-rata tersebut merujuk kepada kategori risiko yang ada di bagian bawah formulir PAKEM DIRI. Dari sini, hasil PAKEM DIRI bisa menggambarkan postur keamanan digital organisasi.
Analisis lanjutan yang perlu dilakukan adalah melihat di bagian mana dari tiap komponen dan perilaku yang perlu mendapat perhatian lebih tinggi karena berisiko sangat tinggi atau tinggi. Hal ini bisa dilihat dari nilai rata-rata atau persentase paling rendah karena menunjukkan sedikitnya staf yang menerapkan perilaku keamanan digital tersebut. Contohnya, persentase yang menerapkan di bawah 30%, maka hal itu menunjukkan bahwa sangat sedikit staf yang menerapkannya sehingga risiko keamanan digital pada perilaku tersebut relatif tinggi sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Berdasarkan temuan tersebut, auditor bisa memberikan rekomendasi sesuai perilaku keamanan yang belum banyak diterapkan tersebut.
TINDAK LANJUT Keluaran yang diharapkan
Berdasarkan penilaian ini hasil yang akan didapatkan adalah sebagai berikut:
SAFEnet
Nilai rata-rata PAKEM DIRI Data hasil pemindaan Subdomain dan Informasi DNS Data hasil pemindaan kerentanan. Data hasil pengecekan Penguji Sertifikat SSL
ACUAN
Activities SAFETAG terkait: Vulnerability Scanning https://safetag.org/activities/vulnerability_scanning/ Vulnerability Research https://safetag.org/activities/vulnerability_research/ Website Footprinting https://safetag.org/activities/web_footprint/ Web Vulnerability Assessment https://safetag.org/activities/webvulnerabilityassessment/ VoIP Security Assessment https://safetag.org/activities/voip_assessment/ Check Config Files https://safetag.org/activities/checkconfigfiles/ Router Based Attacks https://safetag.org/activities/router_attacks/
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Materi 6:
Penilaian Kapasitas Organisasi
RINGKASAN
apasitas sebuah organisasi akan menentukan sejauh mana
Kmereka bisa melakukan mitigasi terhadap ancaman dan seran-
gan digital. Sebab itu penting untuk mengetahui sejauh mana modal dan sumber daya organisasi dalam keamanan digital, termasuk kebijakan, keahlian, keuangan, kemauan untuk belajar, waktu staf, dan lain-lain.
Ada tiga aspek yang digunakan dalam menilai kapasitas keamanan digital sebuah organisasi yang biasa disebut 3P, yaitu process (kebijakan), people (manusia), dan platform (teknologi yang digunakan). Ketiga aspek tersebut dilihat dari perspektif keamanan digital.
Aspek kebijakan, misalnya, menjadi acuan dalam menilai kapasitas dengan melihat apakah organisasi sudah memiliki kebijakan keamanan digital atau tidak. Jika sudah memiliki, apakah sudah diterapkan dengan baik atau tidak. Aspek ini juga mencakup pe- nyediaan staf dan keuangan oleh organisasi.
Aspek manusia berfokus pada sumber daya manusia sebagai aset utama organisasi. Sumber daya manusia berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki staf organisasi baik kemampuan teknis maupun non-teknis untuk menilai kapasitas keamanan digital organisasi.
Adapun aspek teknologi menyangkut teknologi apa yang digunakan
SAFEnet
| oleh organisasi dan stafnya. Misalnya, apakah teknologi tersebut menggunakan sistem operasi di laptop staf orisinil atau bajakan. Jika orisinil, apakah sudah menggunakan versi terbaru atau sudah ketinggalan. Dengan menilai kapasitas keamanan digital suatu organisasi, maka memungkinkan auditor untuk memberikan rekomendasi lebih tepat sehingga peluang untuk diterapkan oleh organisasi yang diaudit juga lebih besar. | |
|---|---|
| TAHAPAN Mengacu kepada tiga aspek untuk menilai kapasitas keamanan | |
| 46 | digital organisasi yang diaudit sebagaimana disebutkan di atas, maka tahapan penilaian pun dibagi dalam tiga aspek tersebut, yaitu kebijakan, manusia, dan teknologi. Tiap aspek perlu dikaji lebih lanjut pada saat wawancara dan observasi langsung. Kebijakan Pertanyaan terkait kebijakan organisasi mencakup hal-hak berikut: Apakah organisasi sudah memiliki kebijakan keamanan digi- tal? Jika sudah ada, apa saja isinya dan sejauh mana penerapan- nya? Siapa yang bertanggung jawab terhadap keamanan digital organisasi? Jika tidak ada staf khusus, bagian atau divisi apa yang paling relevan dengan keamanan digital? Bagaimana kemauan organisasi, terutama pimpinannya, untuk mengadopsi teknologi atau praktik baru? Sumber daya apa saja yang dimiliki dan disediakan organisasi untuk keamanan digital, misalnya pendanaan atau staf yang berpengalaman? PANDUAN AUDIT KEAMANAN DIGITAL untuk Organisasi Masyarakat Sipil |
Bagaimana hubungan organisasi dengan pihak lain yang berpengalaman dalam keamanan digital selama ini? Apakah organisasi bisa dengan mudah mengakses bantuan, baik penanganan ataupun pendanaan, jika mengalami serangan digital?
Manusia
Pertanyaan terkait sumber daya manusia bisa diajukan pada saat wawancara maupun observasi kantor termasuk: Apakah staf organisasi sudah pernah mendapatkan pelatihan keamanan digital? Jika ada, berapa persen dari total staf? Jika ada staf organisasi yang sudah mendapatkan pelatihan keamanan digital, sejauh mana mereka menerapkan pengetahuan dan keterampilannya untuk keamanan diri sendiri dan organisasi? Berapa rata-rata usia staf organisasi? Bagaimana kapasitas mereka secara umum? Meskipun tidak selalu benar, tetapi pada umumnya staf organisasi yang lebih muda akan lebih melek keamanan digital. Apakah ada staf yang bertanggung jawab atas sistem IT organisasi? Sejauh mana ia menguasai teknologi/keamanan digital? Bagaimana perilaku staf terkait keamanan digital secara umum, termasuk dalam media sosial?
Teknologi
Pertanyaan terkait teknologi yang digunakan bisa ditanyakan pada saat wawancara, tetapi sangat penting untuk dikonfirmasi pada saat observasi di kantor, termasuk hal-hal berikut: Apa saja perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan organisasi maupun stafnya? Sudah berapa tahun laptop yang digunakan masing-masing staf? Makin tua, biasanya makin berisiko.
SAFEnet
Apa jenis sistem operasi yang digunakan? Misalnya, Windows, Mac, atau Linux? Jika menggunakan Windows, penting sekali untuk memeriksa di perangkat apakah Windows tersebut orisinil ataukah bajakan? Apakah ada aplikasi atau program bajakan di perangkatnya? Apakah ada teknologi khusus untuk melindungi keamanan fisik dan digital organisasi maupun stafnya?
Tiap aspek memengaruhi kapasitas keamanan digital sebuah organisasi. Pada aspek kebijakan, misalnya, jika sebuah organisasi sudah memiliki kebijakan yang diterapkan dengan baik dan konsisten, termasuk penanggung jawab, maka kapasitasnya akan meningkat. Namun, jika tidak memiliki kebijakan dan staf khusus, maka kapasitasnya rendah. Pada aspek sumber daya manusia, semakin banyak staf pernah mengikuti pelatihan keamanan digital serta menerapkan dengan baik, semakin baik kapasitas organisasi tersebut. Terakhir, pada aspek teknologi, perangkat dan program yang sudah tua dan tidak diperbarui atau menggunakan bajakan tentu akan membuat kapasitasnya jadi lebih rendah dan sebaliknya.
TINDAK LANJUT
Masalah yang teridentifikasi dalam tahap ini dapat ditangani dengan berbagai cara. Aspek pertama, adalah bahwa penanganan perlu dilakukan dengan perbaikan pada satu atau lebih dari PPP (process, people, platform): proses (kebijakan dan atau prosedur), people/ SDM, dan platform (perangkat keras, perangkat lunak).
Kebijakan mesti menjadi acuan semua aspek lain. Kebijakan perlu diuraikan secara lebih rinci dalam prosedur. Dari kebijakan tersebut, diturunkan kebutuhan tentang people/SDM: apakah perlu SDM baru, apakah perlu rotasi SDM, apakah perlu pelatihan dengan
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
topik tertentu bagi SDM yang sudah ada. Kebijakan juga mendor- ong langkah pemilihan platform: apakah perlu mengganti atau menambah perangkat keras yang ada, apakah perlu mengganti atau menambah perangkat lunak yang ada.
Untuk memperoleh hasil jangka panjang yang lebih baik, maka berbagai aspek keamanan ini perlu dikelola/di-manage. Ada beberapa standar yang dapat diacu untuk melaksanaan pengelolaan/ manajemen keamanan IT, misalnya ISO 27001 dan/atau NIST Cyber Security Framework. Organisasi yang cukup besar dan memiliki sumber daya yang memadai dapat memilih untuk mengambil sertifikasi ISO 27001, misalnya. Organisasi yang belum memiliki sumber daya yang cukup dapat mengambil langkah upaya pemenuhan standar tersebut, tanpa mengambil sertifikasinya. Tingkat yang lebih tinggi pengelolaanya adalah dengan memperhatikan tingkat kematangan (maturity level). Hal ini mempersyaratkan adanya pengukuran ke berbagai aspek penilaian tingkat kematangan, dan dilakukan secara berkala.
Satu alternatif yang dapat dilakukan oleh organisasi untuk meningkatkan kapasitas adalah dengan menjalin kerja sama dengan pihak lain di bidang-bidang yang diidentifikasi kurang di dalam organisasi. Secara global, ketersediaan SDM keamanan IT kurang, sehingga untuk menambah SDM IT Security secara permanen ke suatu organisasi akan menemui banyak kendala.
ACUAN
Activities SAFETAG terkait: Interview https://safetag.org/activities/interviews/ Guiding Questions for High-Risk Organisations https://safetag.org/activities/interviews_highrisk/ Capacity Assessment Checklist https://safetag.org/activities/capacityassessmentcheatsheet/
SAFEnet
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
Materi 7:
Penyusunan dan Penyampaian Laporan
RINGKASAN
ahap terakhir dalam proses audit SAFETAG adalah menyusun
Tlaporan. Setelah mengumpulkan seluruh informasi yang berkaitan
dengan tujuan dan lingkup audit, lalu mempertimbangkan kapasitas organisasi. Auditor perlu menyusun dan merumuskan rekomendasi berdasarkan temuan-temuan yang tersedia. Dari hasil profil risiko dan ancaman yang dihadapi, proses pengelolaan data, informasi serta hasil pindai yang berkaitan dengan aset dan jaringan, hingga penilaian kebijakan atau kapasitas. Hal tersebut harus disusun secara akurat, jelas, dan konstruktif.
Bentuk laporan yang umum dipakai adalah yang memuat daftar temuan/masalah, beserta rekomendasi perbaikannya. Pada berbagai kegiatan audit, waktu yang diperlukan untuk melakukan perbaikan ini cukup bervariasi. Ketika rencana audit awal juga memasukkan tahap pemeriksaan ulang setelah perbaikan, maka waktu pelaksanaan pemeriksaan ulang ini mesti direncanakan dengan mempertimbangkan rentang waktu perbaikan di atas.
Penyusunan laporan perlu memerhatikan target audiens pembaca, sehingga penyesuaian bahasa bisa dilakukan. Hal tersebut dilakukan guna mempermudah pembaca memahami maksud dan hasil dari seluruh rangkaian kegiatan audit. Umumnya, penerima laporan bisa saja datang dari berbagai latar belakang, maka dari itu, sebaiknya penulisan laporan tidak menggunakan kata komputasi atau teknis. Jika terdapat kebutuhan tersebut, setidaknya penjelasan singkat
SAFEnet
tentang kata terkait harus dicantumkan.
Esensinya, laporan harus dapat dicerna dengan baik dan rekomendasi bisa diterapkan oleh organisasi yang diaudit. Laporan harus didasarkan dengan tujuan mengkomunikasikan pesan auditor dengan jelas dan mengajak organisasi ke arah yang lebih baik.
Selain itu, pertimbangan terhadap preferensi organisasi dalam
menerima laporan patut dipertanyakan. Ada yang menginginkan laporan komprehensif secara mendalam, ada juga yang hanya membutuhkan laporan singkat.
Satu hal lain yang harus disadari oleh organisasi adalah bahwa menjaga keamanan organisasi itu adalah suatu proses yang mesti dilakukan secara terus menerus. Dengan berjalannya waktu selalu akan ada perubahan misalnya adanya perangkat keras dan perangkat lunak baru, atau penyerang menemukan cara-cara baru untuk melakukan aktivitas mereka, yang menimbulkan ancaman baru, kerentanan baru. Praktik yang disarankan adalah untuk melakukan manajemen keamanan IT, dengan salah satu program berupa audit berkala, minimal setahun sekali.
Secara garis besar, penyusunan laporan berisi informasi umum keseluruhan rangkain audit, tetapi dalam tahap tertentu ketika terdapat informasi teknis yang berkaitan dengan proses audit, perlu juga melampirkan informasi terkait di dalam bagian laporan.
Informasi teknis sendiri dapat berupa data terkait hasil pemindaian dari berbagai aplikasi asesmen kerentanan yang sudah digunakan. Misalnya data terkait informasi jenis dan tata letak kerentanan situs web atau jaringan.
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
| TAHAPAN | ||
|---|---|---|
| Kerangka Laporan Jumlah catatan dan temuan selama proses rangkaian audit san- gat beragam. Sebagai referensi, kerangka hasil laporan audit bisa mengacu pada informasi berikut. Pengantar Latar Belakang Tujuan Ruang Lingkup Metodologi Temuan Profil lembaga Risiko dan ancaman Kapasitas Jaringan dan Infrastruktur A set-aset digital Rekomendasi Kebijakan Jaringan dan Infrastuktur A set-aset digital Penutup Lampiran teknis terperinci atau lainnya Selain itu, terdapat beberapa pertanyaan yang bisa dijadikan ba- han pertimbangan untuk disertakan dalam proses penyusunan laporan. terdapat proses adopsi/perubahan teknologi? terdapat proses adopsi/perubahan teknologi? | Apa kekuatan organisasi (keahlian, dana, kemauan untuk belajar, waktu staf, dsb.) yang dapat dimanfaatkan ketika Apa kelemahan organisasi (keahlian, dana, kemauan untuk belajar, waktu staf, dsb.) yang perlu dipertimbangkan ketika Apa hambatan organisasi dalam mengadopsi hal baru seperti, SAFEnet 53 2024 |
| kebijakan atau teknologi? DEBRIEF Debrief dapat dilakukan sebagai langkah terakhir setelah penyampa- ian laporan audit secara tertulis. Pertemuan terakhir dapat dilakukan untuk memaparkan atau memberikan informasi relevan mengenai serangkaian langkah apa saja yang telah dilalui, temuan utama, serta temuan lainnya yang memerlukan perhatian lebih. | |||
|---|---|---|---|
| ACUAN | Tahap ini merupakan waktu yang pas juga bagi organisasi yang di- audit untuk menanyakan lebih lanjut segalah hal terkait keseluruhan rangkaian proses audit ataupun hal lainnya. TINDAK LANJUT Keluaran yang diharapkan Hasil dokumen laporan beserta informasi pendukung Activities SAFETAG terkait: Creating a Risk Matrix https://safetag.org/activities/risk_matrix/ Roadmap Development https://safetag.org/activities/roadmap_development/ Resource Identification https://safetag.org/activities/identifyusefulresources/ Report Creation https://safetag.org/activities/report_creation/ Debrief [https://safetag.org/methods/debrief/ | ](https://safetag.org/methods/debrief/ | ) |
| 54 | PANDUAN AUDIT KEAMANAN DIGITAL untuk Organisasi Masyarakat Sipil |
Penutup
eamanan digital telah menjadi aspek krusial dalam kerja-kerja
Korganisasi masyarakat sipil di era digital ini. Melalui panduan
ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas organisasi masyarakat sipil Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan digital yang semakin kompleks.
Panduan ini merupakan hasil dari perjalanan panjang SAFEnet
dalam melakukan audit keamanan digital sejak tahun 2021, yang telah mencakup lebih dari 50 organisasi masyarakat sipil di berbagai bidang. Dengan mengadaptasi kerangka kerja SAFETAG dan menyesuaikannya dengan konteks Indonesia, kami berupaya menyajikan materi yang relevan dan aplikatif.
Kami menyadari bahwa ancaman digital terus berkembang, dan karenanya, upaya peningkatan keamanan digital harus menjadi proses yang berkelanjutan. Panduan ini bukan hanya sebuah dokumen statis, melainkan sebuah langkah awal dalam membangun budaya keamanan digital yang kuat di kalangan organisasi masyarakat sipil.
Serta, perlu diingat bahwa panduan ini bukan solusi lengkap untuk keamanan di dunia digital, melainkan hanya salah satu cara untuk memitigasi risiko. Panduan ini mengajak pengguna melakukan proses untuk, setidaknya, mengevaluasi tentang analisis risiko dan ancaman, kapasitas organisasi, dan perilaku staf. Hal tersebut termasuk dengan teknologi yang digunakan, kapasitas sumber daya manusia, dan ada tidaknya proses atau kebijakan keamanan digital. Selain itu, panduan ini juga membahas bagaimana penerapan kebijakan tersebut jika sudah ada. Evaluasi ini perlu dilakukan secara rutin
SAFEnet
| untuk menilai kapasitas organisasi dalam menghadapi potensi | |
|---|---|
| risiko, ancaman, dan serangan digital yang terus berkembang dan bervariasi. Akhir kata, semoga panduan ini dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam menciptakan praktik keamanan digital yang lebih baik bagi OMS, untuk membangun lingkungan digital yang lebih aman dan mendukung perjuangan untuk demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia. PANDUAN AUDIT KEAMANAN DIGITAL | |
| 56 | untuk Organisasi Masyarakat Sipil |
Lampiran
PAKEM DIRI
| KEAMANAN PERANGKAT | |||
|---|---|---|---|
| Kriteria Keamanan | Ya | Tidak | Tingkat Risiko |
| Memisahkan laptop untuk bekerja dan pribadi | |||
| Memisahkan ponsel untuk bekerja dan pribadi | |||
| Menggunakan sistem operasi (OS) orisinal, bukan bajakan | |||
| Menggunakan kata sandi untuk membuka perangkat | |||
| Mengaktifkan firewall | |||
| Melakukan enkripsi media penyimpan | |||
| Mematikan fungsi lokasi pada laptop | |||
| Mematikan fungsi lokasi pada ponsel kecuali diperlukan | |||
| Melakukan pencadangan (back up) secara berkala, setidaknya sebulan sekali | |||
| Membersihkan berkas dan aplikasi yang sudah tidak digunakan secara berkala | |||
| Menggunakan antivirus dan pembersih (cleaner) | |||
| Memperbarui (update) sistem operasi dan aplikasi jika ada pembaruan |
SAFEnet
| KEAMANAN KOMUNIKASI | |||
|---|---|---|---|
| Kriteria Keamanan | Ya | Tidak | Tingkat Risiko |
| Komunikasi sehari-hari menggunakan platform aman | |||
| Komunikasi sensitif menggunakan platform aman | |||
| Surel aman untuk berkomunikasi tentang hal- hal sensitif | |||
| Pada saat beraktivitas daring (online) menggunakan koneksi privat yang aman | |||
| Menghindari penggunaan informasi sensitif dan personal ketika menggunakan Wifi publik | |||
| Menggunakan VPN ketika mengakses Wifi publik | |||
| Menggunakan peramban aman dalam metode Private atau Incognito untuk mengurangi jejak digital saat berselancar | |||
| Menambah add-ons atau plugin seperti Privacy Badger dan HTTPS Everywhere pada peramban | |||
| Menggunakan Jitsi, BigBlueBotton atau layanan lain yang terenkripsi untuk video call | |||
| Menggunakan mesin pencari yang lebih menghargai privasi | |||
| Mewaspadai dan berhati-hati terhadap surel atau pranala dari pengirim yang tidak dikenal | |||
| Memeriksa dulu keamanan pranala atau berkas yang diterima di email dengan database malware seperti virustotal dan urlscan.io |
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
| KEAMANAN AKUN | |||
|---|---|---|---|
| Kriteria Keamanan | Ya | Tidak | Tingkat Risiko |
| Membedakan antara akun pribadi, seperti untuk belanja dengan akun pekerjaan | |||
| Membatasi mengunggah identitas personal seperti keluarga, tanggal lahir, alamat, dan semacamnya | |||
| Membuat password yang kompleks dan kuat | |||
| Membuat password berbeda-beda untuk setiap aset digital yang dimiliki | |||
| Mencatat password di aplikasi pengelola password seperti KeePass | |||
| Mengganti password secara berkala setidaknya enam bulan sekali | |||
| Menggunakan metode 2FA untuk memperkuat keamanan perangkat maupun aset-aset digital lainnya | |||
| KEAMANAN PONSEL | |||
| Kriteria Keamanan Ponsel | Ya | Tidak | Tingkat Risiko |
| Melindungi ponsel secara fisik yaitu dengan menggunakan pelindung luar (casing) dan atau pelindung layar (screen guard) | |||
| Melindungi ponsel dengan password atau pola agar tidak mudah diakses orang lain |
SAFEnet
Memperbarui sistem operasi (OS) jika tersedia
Memperbarui aplikasi jika tersedia di OS
Mengganti nama ponsel dengan nama lain agar tidak mudah dikenali
Menonaktifkan Bluetooth dan Wifi jika tidak sedang digunakan
Memasang (install) aplikasi hanya dari sumber resmi Mengaktifkan lokasi pada ponsel hanya jika digunakan Keluar (logout) dari aplikasi email jika tidak digunakan dalam waktu lama, misalnya satu minggu
Memeriksa sejauh mana akses oleh setiap aplikasi terhadap data yang ada dalam ponsel
Memeriksa apa saja perangkat lain (misalnya laptop) yang digunakan untuk aplikasi pesan ringkas di ponsel, seperti Wire, Telegram dan WhatsApp
Menggunakan peramban yang tidak merekam aktivitas penggunanya, seperti Firefox Focus
Menggunakan VPN jika mengakses Wifi publik
Melakukan pencadangan data (back up) secara berkala, misalnya sebulan sekali Mengaktifkan enkripsi pada ponsel agar tidak bisa dibuka dari perangkat lain tanpa izin pemilik
Memasang aplikasi mesin pencari yang aman, seperti DuckDuckGo
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
| Menggunakan antivirus untuk mendeteksi jika | |
|---|---|
| ada perangkat berbahaya (malware) di ponsel | |
| Memeriksa secara berkala aplikasi dan berkas | |
| apa saja yang sudah tidak digunakan dan | |
| menghapusnya jika tidak diperlukan | |
| Menghapus riwayat Wi-Fi pada ponsel agar | |
| tidak meninggalkan jejak digital | SAFEnet 61 2024 |
TABEL PEMETAAN
| Sensitivitas Data | Sebutkan data sensitif Anda dan sebutkan di mana saja dia berada | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Seberapa penting data berikut bagi anda Tinggi Sedang Rendah Pesan (chat, media sosial) Pesan Surel Alamat Surel (donor, mitra, dll) Nomor telepon kontak Rekaman Video Foto Rekaman Audio Pesan Media Sosial Laporan Keuangan Nomor Rekening Credentials (username/ password) Informasi dan data program Laporan program | Laptop Kerja | Laptop Pribadi | Ponsel Kerja | Ponsel Pribadi |
untuk Organisasi Masyarakat Sipil
| Cloud Cloud SMS Surel Surel Storage Storage Kerja Pribadi Lembaga Personal | HD Luar USB | |
|---|---|---|
| SAFEnet 2024 | 63 |
untuk Organisasi Masyarakat Sipil