6
GERUNUM
ASA
Babak kelima Desember, 2025
Diasuh oleh: Asa Book Space
Penata Letak: Mario Hikmat
Kontributor: Firnasruddin Rahim Hikmal Yazid Karali @tresmondeux
Infaq dan Sedekah: DM instagram Asa Book Space
Instagram: @asabookspace
GERUNUM
SEKILAS EDITORIAL
GERUNUM semacam terbitan berkala memuat apapun; esai, foto, ilustrasi, keluh-kesah, dan lain-lain. GERUNUM yang dalam bahasa Banjar artinya “ngomel” diluncurkan dengan semangat belajar sekaligus membuka diri terhadap segala omelan masyarakat yang tampak dan termaknai sebagai bentuk pengetahuan, praktik, maupun kebijaksanaan lokal yang menjadi laku sehari- hari masyarakat yang berumah di Indonesia bagian eksploitasi. Dibuat oleh Asa Book Space dengan spirit berbagi itu sedekah. GERUNUM ingin mengarsip dan mendokumentasikan segala
GERUNUM
macam hal-hal yang ditemui di daerah terpencil sebagai suara yang terpinggir dan nyaris tak terdengar. Kami berharap semua pembaca dapat mengambil pelajaran atas terbitan ini.
ASA BOOK SPACE merupakan ruang bertemu. Kelompok studi. Menyediakan buku, majalah, zine, permainan edukasi untuk anak, alat menggambar, dan obrolan-obrolan seputar kehidupan anak muda dan budaya populer.
Foto: Mathias Reding, Unsplash
Getar-Getir Dunia Pelayanan Kesehatan
Oleh Firnasruddin Rahim, Pembaca Buku
Ada getir bersama rasa iba mendengar duka itu. Di hari itu wajah dunia kesehatan indonesia kembali tercoreng. Bukan dari oknum petugas kesehatan tapi dari sistem pelayanan kesehatan.
Di tanah Papua, seorang bapak meniti langkah bersama istri untuk datang ke rumah sakit dengan memikul harapan sederhana: melihat istri dan anaknya selamat. Namun, harapan hanya menjadi angan-angan. Dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, dari 4 pintu yang ia ketuk tak ada yang benar-benar terbuka, meski kritis mengiringi istrinya. Dan akhirnya, dua nyawa yang mestinya dapat diselamatkan justru harus hilang dalam perjalanan mencari pertolongan.
Tragedi menjadi ironi. Bukan sekadar duka peristiwa yang menjadi alarm keras bahwa ada dua prinsip dasar layanan kesehatan yang sudah lama rapuh: akses dan keadilan.
Prinsip Pelayanan Kesehatan, Manusiawi dan Berkeadilan
Banyak harapan dititipkan di layanan kesehatan. Berharap dilayani agar mendapat kesembuhan, berharap sehat, berharap agar dapat ditolong saat melahirkan. Harapan yang datang dari wajah-wajah tak asing.
WHO telah menetapkan prinsip pelayanan kesehatan dan diantranya adalah Accessibility dan Equity. Dua dari 7 prinsip pelayanan kesehatan yang diharapkan menjadi peletak dasar sistem pelayanan kesehatan yang terjangkau semua kelas masyarakat dan berkeadilan.
Setiap kali pelayanan kesehatan dielu-elukan, semua warga negara berhak mendapat pelayanan kesehatan yang cepat, tanggap, mudah, dan tepat, tanpa terkecuali. Namun diskrepansi terkadang tidak dapat dihindari.
Pembangunan fasilitas kesehatan secara Nasional memang didorong agar dapat mencakup seluruh lapisan dan menjangkau hingga ke pelosok. Namun, ada deretan pertanyaan yang mengusik, apakah layanan kesehatan kita benar-benar dapat diakses oleh semua orang? Tidak sekedar ada, namun benar-benar terjangkau, dekat, dan tepat waktu. Hal ini merupakan dasar dari akesibilitas, sebuah konsep yang sering terdengar teknis, namun dampaknya sangat manusiawi.
Accessibility tidak hanya tentang membuka pintu rumah sakit. Tetapi juga tentang bagaimana setiap warga, tanpa memandang lokasi, ekonomi, kemampuan fisik, maupun latar budaya, bisa mendapatkan layanan kesehatan di momen-momen paling mereka butuhkan. Namun, sayangnya, masih ada di banyak tempat, akses kesehatan justru menjadi tantangan pertama sebelum penyakit itu sendiri ditangani.
Lain accessibility lain pula equity. Di ruang kebijakan, dua kata ini sering terdengar dan mungkin indah di telinga. Tentang keadilan kesehatan, pelayanan yang proporsional dan perlakuan sesuai dengan kebutuhan. Lebih jauh lagi equity itu tentang memberi porsi lebih besar bagi mereka yang lebih membutuhkan.
Baik accessibility maupun equity, dua hal yang semestinya sangat penting ketika diletakkan sebagai dasar dari layanan kesehatan. Tidak hanya diatas kertas saja prinsip layanan kesehatan itu bermakna. Tetapi, wajib meresap hingga ke bagian paling kecil dari sistem pelayanan kesehatan.
Seharusnya juga dua hal ini dipahami bahwa baik pemerintah dan pemberi layanan kesehatan wajib menempatkan dan memberi perhatian tambahan, bahkan pelayanan khusus, dan investasi pada seluruh lapisan hingga ke pelosok negeri hingga kebermanfaatannya dapat dirasa tanpa oleh segenap warga negara.
Kesehatan Adalah Hak Dasar Manusia
Tak ada yang lebih melegakan dari kata diatas, kalimat yang terasa seperti titah raja yang tidak perlu diperdebatkan apalagi dipertanyakan. Bahkan, di Undang-Undang, konvensi internasional mengamini hal ini; bahwa setiap manusia berhak hidup sehat, berhak mendapatkan layanan kesehatan yang layak, dan berhak dilindungi negara ketika tubuhnya rapuh. Ada kelegaan yang tidak bisa diukur dengan deretan kata-kata.
Ada getir dibalik hak dasar manusia ini. Hak dasar yang semestinya tidak memandang geografis. Dan tidak terpaut pada garis pemisah daerah administrasi. Namun, yang terlihat mata, ada selembar plastik berwarna biru langit segi empat menjadi penentu sejauh mana layanan yang dapat dijangkau.
Hak dasar manusia, bukan lagi tentang kaitannya dengan status ekonomi. Negara telah hadir dalam bentuk JKN (jaminan kesehatan nasional) dan dikelola oleh BPJS (badan penyelenggara jaminan kesehatan). Itu sudah cukup menjawab jika akses layanan kesehatan mahal. Namun, yah lagi-lagi itu di atas kertas, hipotesis itu bekerja dengan membenturkannya pada apa yang ada dan apa yang terjadi di penerima manfaat BPJS.
Dan hipotesis tadi menemukan peristiwa untuk pengujiannya. Sebuah tragedi di Tanah Papua, yang menimpa seorang ibu dan bayinya. Peristiwa yang dapat membungkam seluruh klaim prinsip dan hak dasar tersebut dalam sekejap.
Seorang ibu, kondisinya darurat menjelang persalinan. Ia ditolak dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya dengan berbagai alasan, kamar penuh, kekurangan fasilitas, dan masalah administratif. Ada harapan disetiap pintu yang ia ketuk. Namun, sebelum pertolongan datang, nyawa ia dan bayinya lebih dahulu pergi.
Ini bukan sekadar insiden medis. Lebih jauh lagi, Ini tentang kegagalan hak dasar manusia yang dijamin oleh Negara. Hak untuk diselamatkan. Hak untuk diprioritaskan. Hak untuk hidup. Padahal WHO dan regulasi nasional telah menetapkan prinsip dasar pelayanan kesehatan bahwa dalam keadaan darurat, nyawa adalah prioritas tertinggi. ()
Catatan Dari Titik Yang Bergeser Oleh Penulisesaidanpuisiyangbekerjadipersilangan Hikmal Yazid, temaurban, sosial, danpengalaman manusiasehari-hari.
Foto oleh: Theodora Partsou, Pinterest
Ritme Baru yang Mengubah Cara Hidup
Realitas hari ini bergerak cepat. Segala hal berganti sebelum sem- pat dipahami. Kota tumbuh seperti cahaya yang terus berpindah. Manusia mengikuti arus itu dengan langkah yang sering lebih cepat dari pikirannya sendiri. Kecepatan menjadi ukuran keber- hasilan. Namun kecepatan itu mengikis kedalaman.
Lorong kecil dekat stasiun memperlihatkan gejala itu dengan jelas. Wajah-wajah yang lewat seakan membawa beban yang tidak disebutkan. Ada langkah tergesa. Ada langkah yang tersendat. Ada tatapan kosong yang menembus keramaian. Semua bergerak. Namun tidak semua tahu ke mana harus menuju. Banyak orang sekadar berusaha tidak tertinggal.
Dua dunia berjalan bersamaan. Dunia nyata. Dunia piksel. Layar kecil menciptakan kesadaran ganda. Tubuh berada di satu tempat. Pikiran berada di tempat lain. Ruang perhatian terpecah menjadi serpihan. Informasi datang tanpa henti. Reaksi muncul sebelum pemahaman terbentuk. Situasi ini melahirkan kecemasan baru. Kecemasan yang tidak berbentuk. Kecemasan yang terasa di tubuh.
Di angkot sore hari, gejala itu tampak halus. Penumpang meman- dang jendela tanpa benar-benar melihat jalan. Jari menyentuh ponsel tanpa tujuan. Nafas teratur tetapi tidak tenang. Bukan aktivitas yang melelahkan. Pikiranlah yang kehabisan tempat untuk beristirahat. Lelah itu menumpuk. Lalu diam. Lalu menjadi kebiasaan.
Kehidupan modern mendorong manusia untuk terus produktif. Target ditambah. Jam kerja dipanjangkan. Jadwal diperketat. Banyak orang berlari tanpa jeda. Mereka ingin menang. Namun tidak ada garis finish. Tidak ada tepuk tangan. Hanya kelelahan yang berganti wajah setiap hari.
Ketika percakapan kehilangan kedalaman, hubungan ikut melemah. Kata-kata berubah menjadi alat pertahanan diri. Banyak orang berbicara untuk menang, bukan untuk mengerti. Kemampuan mendengarkan memudar. Kepekaan ikut hilang. Manusia akhirnya berjalan berdampingan, tetapi tidak saling melihat.
Lorong kota. Angkot sore. Ponsel yang terus menyala. Semuanya menunjukkan satu hal. Hidup yang terpecah menjadi potongan kecil. Potongan itu bergerak sendiri. Tidak selalu saling menyam- bung. Tidak selalu saling menolong.
Detail Kecil yang Menahan Hidup dari Keruntuhan
Di tengah kebisingan itu, detail kecil menyimpan logika yang lebih stabil. Detail yang muncul dari tindakan sederhana. Banyak tindakan kecil justru memiliki kemampuan menahan hidup dari keruntuhan.
Pedagang sayur di pasar memperlihatkan hal ini setiap pagi. Ia menyusun barang dagangan dengan pola yang diamati dari pengalaman panjang. Cabai diletakkan di depan. Bawang ditem- patkan sedikit ke belakang. Daun bawang disusun berlapis. Pola itu mengikuti cuaca. Perkiraan pembeli. Situasi harian. Tidak ada drama. Namun ada ketelitian. Ada kecermatan. Ada nalar yang bekerja tanpa tergesa.
Anak-anak yang bermain di halaman mengajarkan hal lain. Mereka menciptakan dunia dari benda sederhana. Batu. Kaleng. Kotak karton. Imajinasi mereka berkembang tanpa rasa takut salah. Mereka tidak diburu oleh tuntutan prestasi. Tidak dibayangi kebutu- han tampil sempurna. Ritme mereka lambat. Namun ritme lambat itu jernih. Mereka memberi waktu untuk gagasan tumbuh. Ruang seperti ini jarang ada dalam dunia orang dewasa.
Di warung kecil dekat pasar, dua orang laki-laki berbicara ten- tang harga beras. Percakapan itu pendek. Namun percakapan
“Kerentanan itu bukan kelemahan. Kerentanan itu
justru titik temu manusia”
itu menyimpan solidaritas halus. Satu menepuk bahu yang lain. Mereka tertawa kecil untuk menahan beban. Tidak ada teori be- sar. Hanya tanda bahwa manusia saling menjaga agar hidup tetap dapat dijalani.
Ruang tunggu puskesmas memberikan gambaran yang paling lengkap. Semua lapisan hadir. Bayi menangis. Orang tua menahan batuk. Pekerja shift malam tertidur sambil memegang nomor antrian. Ibu-ibu memandangi jam sambil menggenggam tangan anaknya. Di tempat ini, kerentanan tidak disembunyikan. Semua ingin sembuh. Semua ingin aman. Semua ingin merasa dipedu- likan.
Kerentanan itu bukan kelemahan. Kerentanan itu justru titik temu manusia. Namun kehidupan modern mendorong banyak orang menutup bagian ini. Mereka ingin tampil kuat. Tampil siap. Tampil tegar. Penolakan terhadap kerentanan menciptakan tekanan baru. Tubuh menahan rasa sakit. Pikiran ikut menahan. Tekanan itu menumpuk. Lalu pecah di tempat-tempat paling sepi.
Detail kecil seperti penataan sayur, permainan anak, percakapan pasar, dan ruang tunggu puskesmas memberi petunjuk. Hidup yang tampak rumit sebenarnya bertahan dari jaringan kecil tindakan manusia. Jaringan itu bekerja dalam senyap. Jaringan itu menjaga agar masyarakat tidak runtuh oleh kelelahan kolektif.
Jalan Akal Pelan di Tengah Laju Zaman
Realitas modern membutuhkan akal yang mampu bergerak pelan. Bukan akal pasif. Bukan akal lambat. Akal pelan adalah akal yang melihat hal yang tidak terlihat oleh pikiran yang berlari. Akal pelan membentuk ruang bening untuk membaca arah zaman.
Akal pelan bekerja dengan tiga cara.
- Mengurangi kebutuhan untuk selalu membuktikan diri.
- Merawat rasa ingin tahu.
- Membaca hubungan antarperistiwa dengan teliti. Tiga hal ini membuat manusia tidak mudah terseret arus luar. Arus luar selalu menuntut kecepatan. Arus luar mengukur nilai manusia dari pencapaian yang tampak. Akal pelan mengembalikan manusia pada pusat gravitasi yang lebih stabil. Ketika seseorang berhenti membuktikan diri terus menerus, ia mulai melihat kebutuhan yang lebih mendasar. Kebutuhan untuk memahami. Kebutuhan untuk bernapas. Kebutuhan untuk hadir penuh dalam hidup sendiri. Rasa ingin tahu membuat pikiran kembali hidup. Bukan rasa ingin tahu yang dibentuk oleh trending. Namun rasa ingin tahu yang muncul dari perhatian terhadap detail. Perhatian terhadap perilaku kecil manusia lain. Perhatian terhadap pergeseran suasana kota. Kemampuan membaca hubungan antarperistiwa membuat kehidupan tidak tampak acak. Kejadian kecil sehari-hari mulai terlihat sebagai rangkaian. Bukan serpihan. Ketika rangkaian terben- tuk, arah hidup menjadi lebih jelas. Tekanan berkurang. Ketakutan menyusut. Akal pelan bukan ajakan mundur dari zaman. Akal pelan justru membantu manusia berdiri tegak di tengah laju zaman. Akal pelan adalah disiplin membaca dunia tanpa panik. Dengan disiplin itu,
manusia tidak mudah terseret. Tidak mudah goyah. Tidak mudah hilang di antara dua dunia.
Zaman hari ini tidak gelap seluruhnya. Zaman hari ini juga tidak terang seluruhnya. Zaman ini penuh retakan. Namun retakan itu membuka cahaya. Cahaya itu muncul ketika manusia hadir penuh dalam hidupnya sendiri.
Kesadaran sederhana sudah cukup. Kesadaran itu membuat manusia dapat berjalan tanpa kehilangan diri. Kesadaran itu menata ulang hubungan antara tubuh, pikiran, waktu, dan arah hidup. Dengan kesadaran seperti itu, manusia dapat hidup tenang di ten- gah dunia yang terus bergerak. Tidak terburu. Tidak tenggelam. Tidak hilang. ()
Foto oleh: Cloris Chou, Pinterest
Katanya Hutan Oleh Karali
Aku bodoh. Aku pernah mengagumi pemandangan di seberang Pulau Laut. Memandangnya berlarut-larut sampai tampak seperti badut. Beberapa potret yang kuambil membuatku terpesona. Sampai-sampai aku menghentikan perjalanan. Terpaku mengagumi yang fana, padahal menyimpan bencana.
Pemandangan yang katanya hutan. Katanya rumah bagi satwa. Katanya deretan pohon yang mampu menyerap banjir. Semua hanya “katanya”, tak lebih dari rangkaian kalimat manis untuk menutupi sesuatu yang perlahan dirampas. Pohon-pohon ditebas. Diganti benih kelapa sawit yang meluas. Hasil dari bisnisnya mereka gunakan secara bebas. Tak kenal kata puas, sungguh ganas.
Kini aku duduk meringkuk di atas lemari. Mataku merah dan sembap karena lelah menangis. Namun air mata tetap mencari jalan keluar, betapa ironis. Meratapi nasib sambil mengutuk orang-orang bengis. Aku teringat hari ketika air cokelat masuk tanpa permisi ke rumahku dulu, mengacaukan logikaku dan membuatku panik, tak tahu- menahu.
Kini air itu datang lagi. Hanya saja ia tidak sendiri. Ia membawa kawan-kawannya mencari yang hidup untuk mati. Lebih banyak dari yang pernah kubayangkan, hingga tak mampu lari. Saat itu, barang berharga tak lagi berarti. Keselamatan adalah satu- satunya kesadaran diri. Hanya Sang Pemberi Rezeki yang bisa memusnahkan para berdasi yang tidak berbudi.
Di seberang, air mengepung lebih ganas. Aku tak sanggup membayangkan tubuh-tubuh tak berdosa yang tak bisa melihat apa-apa. Tangan yang menggapai langit kosong. Hanyut tanpa arah. Air memaksa masuk ke dada, mengambil napas, mengambil harapan, mengambil siapa saja.
Bencana ini sudah menjadi bukti. Tak ada lagi mata yang mampu menutup tragedi. Tak ada lagi hati yang tak berempati. Dan tak ada lagi otak yang tidak berfungsi. Kami hanya ingin hidup damai. Melihat matahari yang berseri.
Foto oleh: Sebastian Unrau, Unsplash
Mengenal Kekerasan Obstetrik
Oleh @tresmondeux di Instagram
saya izin meminjam istilah “decolonizing the womb” yang diperkenalkan oleh Espinoza-Reyes dan Solis (2020) untuk menggambarkan segala upaya mencapai kemerdekaan rahim perempuan dari apapun dan siapapun yang mencoba mem- belenggunya. dengan demikian, seterusnya, kekerasan yang melibatkan rahim perempuan sebagai objeknya dapat disebut sebagai “colonizing the womb” — seperti yang kita lihat sejak dulu hingga hari ini, rahim yang telah terjajah oleh konstruksi patriarkal dan kapitalisme.
tubuh perempuan, sampai rahim-rahimnya, dijadikan objek kekerasan yang tanpa kita sadari telah bergerak secara siste- matis dalam ruang dan bangunan kesehatan: puskesmas, rumah sakit, dan klinik bersalin. ketika sudah masuk ruang persalinan, tubuh dan rahim itu seolah-olah harus siap men- jadi seutuhnya dalam kendali tenaga kesehatan. dan di saat itu pula, perempuan mulai terjajah oleh alat dan bahan medis yang ditempelkan dan dimasukkan ke dalam tubuhnya (Chad- wick, 2018).
sederhananya, kekerasan obstetrik adalah kekerasan yang ter- jadi dan dilakukan pada saat kehamilan, persalinan, hingga pasca persalinan.
kekerasan ini sering kali muncul dalam bentuk yang tak kasat mata (subtle), berlindung dibalik dalih klasik tenaga kesehatan: “yang penting bayi dan ibunya selamat” — membatasi urusan nyawa hanya soal fisik, padahal, kehilangan agensi juga bagian dari kehilangan makna manusia sebagai subjek. yaitu, ia yang punya kendali untuk berpikir dan menentukan kepent- ingan dirinya berdasarkan pertimbangan intelektualitasnya.
di luar dari perdebatan politik penamaan kekerasan obstetrik, Pickles (2023) menegaskan penggunaan istilah “kekerasan obstetrik” merupakan konsep yang kuat untuk mengungkap sebuah kekerasan yang sudah lama tersembunyi secara struk- tural. sebagaimana bentuk kekerasan lainnya, kekerasan obstetrik muncul karena adanya relasi kuasa yang timpang antara tenaga kesehatan dengan perempuan hamil/melahirkan.
pusat pengetahuan medis berada di tenaga kesehatan, semen- tara pengetahuan ketubuhan perempuan teralienasi begitu saja dan dianggap bukan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang sama validnya. dengan demikian kekerasan obstetrik juga dapat dilihat sebagai ketidakadilan epistemik.
kekerasan obstetrik muncul dalam berbagai bentuk, dan yang paling banyak adalah kekerasan fisik dan kekerasan verbal. bentuk lain yang sering kita jumpai adalah tindakan kesehatan tanpa privasi dan persetujuan, pengabaian, serta penahanan di fasilitas kesehatan. kekerasan seksual oleh tenaga kesehatan selama masa kehamilan dan persalinan juga dapat termasuk bagian dari kekerasan obstetrik.
mengacu pada beberapa literatur, kekerasan fisik dalam kekerasan obstetrik dapat berupa mencubit, menampar, men- dorong, memukul, menahan, atau mengikat perempuan saat sedang hamil atau melahirkan, perempuan tidak diberikan obat bius saat sedang dijahit atau saat dilakukan episiotomi, perempuan tidak difasilitasi alternatif posisi melahirkan atau dipaksa melahirkan dalam satu posisi yang tidak nyaman, pe- meriksaan vagina yang menyakitkan, dan menekan perut perempuan saat sedang mengejan/meneran.
serupa dengan kekerasan verbal lainnya, kekerasan verbal da- lam kekerasan obstetrik sangat eksplisit terlihat saat perempuan menerima diskriminasi dan stigma buruk atas kehamilan atau persalinannya.
kekerasan verbal yang dimaksud mencakup beberapa hal beri- kut: memarahi, meneriaki, berkomentar kasar atau merendah- kan, mengancam, dan menyalahkan perempuan jika kondisi fisiknya memburuk.
tindakan kesehatan tanpa persetujuan (non-consented care) dapat dipahami dengan sangat jelas, di mana perempuan tidak mengizinkan tindakan medis apapun dilakukan terhadap tu- buhnya. sementara itu, pelanggaran privasi (non-confidential care) dapat dilihat sebagai pembiaran tubuh perempuan dijadikan tontonan selama proses persalinan. hal ini dapat kita lihat saat proses persalinan seorang perempuan dijadikan “bahan praktek” oleh mahasiswa kesehatan.
kekerasan obstetrik adalah manifestasi dari struktur dan sistem kesehatan yang tidak pernah berpihak pada tubuh perempuan sebagai pusat pengetahuan dan situs kritis (critical site). akhirnya, ilmu kesehatan — yang melibatkan politik tubuh dan segala kompleksitasnya — disederhanakan hanya sebatas “anatomi dan fisiologis”. sehingga, yang muncul ha- nyalah disrupsi makna ketubuhan: kekerasan.