#5
GERUNUM
Babak kelima Oktober, 2025
Diasuh oleh: Asa Book Space
Cover:
Foto Pinterest
Penata Letak: Mario Hikmat
Kontributor: Mario Hikmat Wawan Kurniawan
Infaq dan Sedekah: DM instagram Asa Book Space
Instagram: @asabookspace
GERUNUM
SEKILAS EDITORIAL
GERUNUM semacam terbitan berkala memuat apapun; esai, foto, ilustrasi, keluh-kesah, dan lain-lain. GERUNUM yang dalam bahasa Banjar artinya “ngomel” diluncurkan dengan semangat belajar sekaligus membuka diri terhadap segala omelan masyarakat yang tampak dan termaknai sebagai bentuk pengetahuan, praktik, maupun kebijaksanaan lokal yang menjadi laku sehari- hari masyarakat yang berumah di Indonesia bagian eksploitasi. Dibuat oleh Asa Book Space dengan spirit berbagi itu sedekah. GERUNUM ingin mengarsip dan mendokumentasikan segala
GERUNUM
macam hal-hal yang ditemui di daerah terpencil sebagai suara yang terpinggir dan nyaris tak terdengar. Kami berharap semua pembaca dapat mengambil pelajaran atas terbitan ini.
ASA BOOK SPACE merupakan ruang bertemu. Kelompok studi. Menyediakan buku, majalah, zine, permainan edukasi untuk anak, alat menggambar, dan obrolan-obrolan seputar kehidupan anak muda dan budaya populer.
Foto: Mathias Reding, Unsplash
Bajau Samah di Antara Laut, Stigma, dan Dekolonisasi
Oleh Mario Hikmat, Pustakawan Asa Book Space
Di Kotabaru, ketika sore datang dan matahari pelan-pelan tenggelam, akan tampak deretan rumah kayu yang berdiri di atas tiang rapuh. Dari jauh, barisan itu tampak indah seperti lukisan. Tetapi begitu didekati, keindahan berubah menjadi kesedihan: papan-papan lapuk, genangan air hitam, bau lumpur bercampur sampah, dan anak-anak berlari tanpa alas kaki di lorong sempit yang dibangun seadanya.
Inilah kampung Bajau Samah di Desa Rampa, sebuah komunitas yang sudah lebih dari seabad hidup dengan stigma yang tak pernah hilang. Kata-kata itu berulang dari generasi ke generasi: mereka malas, mereka boros, mereka tak bisa menabung, mereka tak mau maju. Stigma itu terdengar seolah begitu wajar dan logis, seakan-akan ia lahir dari kodrat. Padahal sesungguhnya ia lahir dari sejarah panjang peminggiran.
Orang lupa bahwa Bajau Samah bukanlah orang darat yang gagal menjadi modern, melainkan orang laut yang dipaksa menepi. Sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum republik ini lahir, Bajau Samah hidup berpindah-pindah, berlayar mengikuti musim, menjelajah membuntuti arah angin, menjalin perdagangan dari Sulu hingga Sulawesi, dari Mindanao hingga Maluku. Sejarawan James Warren pernah mencatat betapa kuatnya jaringan perdagangan yang dibentuk oleh Bajau. Laut bagi mereka bukan batas, melainkan halaman rumah yang luas. Mobilitas adalah kekuatan. Dengan perahu-perahu kecil yang mereka tinggali, Bajau menjaga lansekap maritim Nusantara dalam nadi.
Tetapi logika negara kolonial tidak pernah cocok dengan cara hidup semacam itu. Bagi Belanda, orang yang bergerak tanpa henti adalah masalah. Bagaimana mungkin mengontrol orang yang tak peduli dengan soal administrasi? Bagaimana mungkin memungut pajak dari orang yang tak punya alamat tetap? Bagaimana mengawasi mereka yang selalu berpindah dari satu teluk ke teluk lain? Maka Bajau dipaksa berhenti. Mereka didorong menepi, ditempatkan di pesisir, dipaksa masuk dalam kategori “penduduk tetap.” Dari situlah, rumah-rumah di atas tiang yang kini disebut kumuh pertama kali lahir. Sejak itu pula mereka perlahan diputus dari logika laut, tetapi tak pernah sungguh diterima dalam logika darat.
Andrian B. Lapian, sejarawan maritim Indonesia, pernah mengingatkan bahwa laut bukan pemisah, melainkan penyambung. Orang laut, katanya, adalah penggerak utama sejarah kawasan maritim Nusantara. Tanpa mereka, kerajaan- kerajaan pesisir hanya akan menjadi nama di peta. Namun, dalam pembangunan hari ini, orang laut justru diposisikan sebagai pinggiran. Mereka yang dulu menjadi penghubung kini dipotret sebagai orang miskin pesisir, penghuni kampung kumuh, atau
sekadar atraksi folklor yang eksotik. Ironinya, di sekolah anak-anak Indonesia diajarkan bahwa “nenek moyang kita pelaut,” tetapi orang laut yang sesungguhnya masih hidup hari ini justru dipinggirkan.
Di Kotabaru, stigma itu bekerja seperti mesin yang memproduksi kebenaran palsu. Ketika Bajau Samah kesulitan masuk pasar kerja formal, masyarakat berkata, “Memang mereka malas.” Ketika penghasilan dari laut habis dalam sehari, mereka dituding boros. Padahal siapa yang pernah memberi mereka akses pada pendidikan bermutu? Siapa yang membuka pintu pekerjaan yang layak? Siapa yang memastikan mereka punya sertifikat tanah agar bisa mengakses kredit perbankan? Tidak ada. Negara hanya sesekali hadir, itupun sebatas proyek seremonial yang cepat hilang.
Beginilah kolonialisme bekerja dalam wujud baru. Ia tidak lagi hadir lewat cambuk atau senapan, melainkan lewat pengabaian. Jika dulu Belanda menertibkan Bajau karena dianggap liar, kini negara modern mewarisi cara pandang yang sama: mereka dianggap berbeda, sulit diatur, maka biarkan saja di pinggiran. Gayatri Spivak menyebutnya subaltern silence—suara yang ada, tetapi tidak pernah benar-benar terdengar. Bajau Samah masih hidup di sini, tetapi suara mereka hanya muncul sebagai objek, bahan foto pariwisata, atau cerita eksotik di televisi. Mereka jarang diberi ruang untuk mendefinisikan diri mereka sendiri.
Kehidupan sehari-hari mereka di Kotabaru memperlihatkan betapa dalamnya luka itu. Anak-anak Bajau banyak yang berhenti sekolah sejak dini, bukan karena mereka tak mau belajar, melainkan karena sekolah yang ada tidak pernah benar-benar ramah pada perbedaan. Kurikulum yang kaku, diskriminasi kultural, dan beban ekonomi membuat mereka cepat merasa tak cocok. Di bidang kesehatan, rumah-rumah di atas laut jarang tersentuh sanitasi layak. Akses air bersih terbatas, puskesmas
sulit menjangkau, dan penyakit kulit maupun gizi buruk lebih tinggi dibandingkan desa darat. Sementara itu, mata pencaharian mereka, yaitu laut, kini semakin sempit. Perairan dipenuhi kapal besar, tambak, dan industri ekstraktif. Ikan makin sulit dicari. Tanpa modal dan akses pasar, mereka terjebak pada utang tengkulak yang seolah tak ada habisnya.
Di ranah politik, suara mereka hampir tak terdengar. Kampung Bajau jarang punya perwakilan. Mereka hadir hanya sebagai angka dalam laporan, bukan sebagai aktor yang menentukan arah kebijakan. Dengan kondisi semacam ini, wajar jika stigma lama semakin kokoh. Mereka dipersepsikan malas dan boros, padahal realitasnya, mereka miskin karena ditinggalkan.
Dekolonisasi, jika kita mau jujur, semestinya dimulai dari pengakuan sederhana: bahwa stigma bukanlah sifat, melainkan akibat. Bahwa rumah kayu di atas air bukanlah bukti kemalasan, melainkan tanda dari keterpaksaan. Bahwa logika hidup “hari ini makan, besok cari lagi” bukanlah kebodohan, melainkan strategi adaptasi. Namun kita, baik negara maupun masyarakat, terlalu malas untuk melihat lebih dalam. Kita lebih senang menyalahkan mereka, agar kita bisa tidur tenang di darat.
Andrian B. Lapian pernah menulis, sejarah maritim bukan hanya tentang kapal atau perdagangan, melainkan tentang manusia yang hidup di laut. Bajau Samah adalah manusia itu. Mereka adalah saksi sejarah bahwa Nusantara dibangun di atas laut, bukan semata di atas tanah. Namun hari ini, sejarah itu dibiarkan lapuk, seperti papan-papan rumah mereka yang pelan-pelan digerogoti air asin.
Seratus tahun sudah diskriminasi dan stigma buruk ini berlangsung. Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan: apakah kita akan terus melanjutkan logika kolonial itu? Apakah kita akan terus menatap rumah-rumah di atas laut sebagai kumuh, tanpa
pernah mengulurkan tangan? Apakah kita akan terus mengulang kalimat “memang mereka malas” sambil menutup mata pada kenyataan bahwa justru negara yang malas peduli?
Jika dekolonisasi adalah keberanian untuk menulis ulang sejarah, maka ia harus dimulai di sini, di kampung Bajau Samah Kotabaru. Dekolonisasi bukan hanya jargon akademik, tetapi kerja nyata: membangun sekolah yang ramah budaya, menghadirkan layanan kesehatan yang benar-benar menjangkau, membuka akses ekonomi yang adil, dan yang terpenting membiarkan Bajau Samah berbicara untuk diri mereka sendiri. Tanpa itu, proklamasi 1945 hanya berarti kemerdekaan di darat. Sementara di laut, kolonialisme masih bertahan, hanya berganti nama. ()
Melihat Ingatan
di pantai, kau mengira ingatanmu akan bergulung seperti ombak kecil
setelah kau melihat dirimu sebagai pecahan kaca yang berhamburan
setelah kau melihat dirimu sebagai retak dinding yang menjalar
setelah kau melihat dirimu sebagai apa saja yang bersiap musnah
setelah kau mengingat dirimu sebagai warna langit ketika hari kau ditebas harapanmu sendiri
kau hanyalah ingatan dari tubuh ingatanmu yang terluka, terlupa dan lekas menghilang selamanya.
Wawan Kurniawan, menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan beberapa karya. Beberapa karyanya, Kumpulan Puisi: Persinggahan Perangai Sepi (2013), Sajak Penghuni Surga (2017), Museum Kehilangan (2021). Kumpulan Cerita Pendek pertamanya terbit Maret 2021 dengan judul “Aku Mengeong” oleh Penerbit Indonesia Tera.
Malam-Malam Setelah Kau Membaca Dirimu
i/ lapang lantai menerima debu setetes air di botol minum seseorang jatuh dan merayakan segalanya
ii/ kamar terbuka setelah tertutup begitu rapat di sana, rahasia bermukim sendiri ingin selamanya
iii/ cara-cara membaca diri dalam kehendak dan kesiapan dipunggungi kesepian yang panjang dan pertanyaan-pertanyaan yang mekar di pagi buta yang kau nanti sepanjang malam sendiri.
Eksotisme yang Membungkam:
Sejumput Catatan untuk Festival Budaya Saijaan 2025
Oleh Mario Hikmat, Pustakawan Asa Book Space
Matahari tenggelam di sela-sela tongkang batubara. Angin
berembus pelan. Saya berjalan di atas jembatan kayu di desa Rampa. Udara asin menyusup ke paru-paru, bercampur dengan bau ikan kering dan sedikit anyir dari limbah yang menumpuk di bawah rumah panggung. Anak-anak bermain bola. Ada pula yang melompat ke air yang keruh, tertawa keras, tubuh mereka seperti menyatu dengan laut. Seorang ibu menyapu halaman kayu rumahnya, lalu meletakkan ember plastik untuk menampung air hujan, sumber air bersih yang tak selalu mencukupi.
Di kampung itu, saya bertanya kepada seorang lelaki paruh baya yang duduk di area Rampa Berkah tentang festival budaya yang baru saja selesai. Ia tersenyum kecut. “Bagus, orang senang menonton. Tapi habis itu kami tetap begini saja”. Jawaban sederhana itu lebih tajam daripada kritik panjang.
Di Kotabaru, setiap tahun panggung dibangun. Lampu sorot diarahkan ke wajah-wajah yang dipilih, musik digemakan, dan
Poster: AjiArchive
tubuh-tubuh bergerak mengikuti ritme yang sudah diatur. Festival Budaya Saijaan pun berlangsung, dengan segala gegap gempita yang dimaksudkan sebagai perayaan identitas. Di tengah riuh itu, Suku Bajau Samah hadir sebagai ikon. Mereka ditampilkan dengan pakaian laut, gerakan tangan meniru ombak, cerita tentang perahu yang melintasi cakrawala.
Festival Budaya Saijaan adalah kebanggaan pemerintah Kotabaru. Pemerintah daerah mengemasnya sebagai etalase keberagaman. Bajau Samah menjadi salah satu ikon: “orang laut” yang dianggap unik, berbeda, eksotik. Di panggung, mereka menari dalam kostum berwarna cerah. Penonton bertepuk tangan, pejabat tersenyum, kamera merekam.
Tetapi kehidupan sehari-hari orang Bajau Samah tidak pernah seindah itu. Rumah mereka sering dicap kumuh, perkampungan mereka dianggap kotor, anak-anak mereka menghadapi stigma di sekolah. Dalam narasi pembangunan, mereka diposisikan sebagai masalah: tidak modern, tidak tertib, tidak higienis. Mereka dirayakan di panggung, tetapi diabaikan dalam kebijakan.
Laut yang mereka bawa ke panggung bukanlah laut yang mereka hidupi. Laut panggung adalah laut yang jinak, penuh pesona, mudah dijual untuk brosur wisata. Sedangkan laut keseharian Bajo adalah laut yang getir: gelombang tak menentu, perahu yang lapuk, rumah kayu di atas air yang menunggu satu badai untuk runtuh. Panggung dan kenyataan terpisah oleh jurang yang lebar, seperti pantai dengan karang tajam yang tak terlihat dari jauh.
Edward Said (1978) pernah menulis bahwa Orientalisme menciptakan “yang lain” sebagai objek imajinasi: indah, berbeda, tetapi inferior. Bajau Samah di Kotabaru menjadi semacam Oriental kecil: simbol laut yang eksotis, yang ditampilkan bukan
untuk kepentingan mereka sendiri, melainkan untuk kepentingan negara dan publik.
Gambaran yang dibentuk bukan tentang realitas hidup orang-orang yang bermukim di Desa Rampa, melainkan tentang kebutuhan pemerintah untuk menunjukkan keberagaman. Mereka bukan lagi komunitas dengan kompleksitas, melainkan simbol yang dipentaskan: laut yang eksotis, kehidupan yang “unik”. Dengan itu, pemerintah dapat memamerkan keberagaman, turis bisa bertepuk tangan, dan warga lain bisa merasa bangga.
Tetapi “keunikan” itu, begitu dijadikan tontonan, berubah menjadi jebakan. Eksotisme adalah perangkap yang membungkus luka dengan cahaya. Rumah di atas laut dijadikan panorama, tetapi limbah dan sanitasi diabaikan. Tarian tentang ombak dipentaskan, tetapi cerita tentang anak-anak yang sulit bersekolah tak pernah terdengar. Seperti laut yang tampak indah di permukaan, padahal di bawahnya arus deras menyeret tubuh yang tak kuasa berenang.
Cynthia Chou (2003), ketika menulis tentang Orang Laut di Riau, menggambarkan fenomena serupa. Laut adalah rumah dan sumber kehidupan, tetapi justru itu membuat mereka ditempatkan di luar kategori warga “normal”. Mereka dipuja sebagai penjaga tradisi, tetapi sekaligus dipinggirkan dari akses politik dan pembangunan. Keterhubungan dengan laut, yang mestinya menjadi kekuatan, dijadikan alasan untuk menempatkan mereka di posisi ambivalen: dibutuhkan sebagai ikon, tapi dikesampingkan sebagai warga.
Ambivalensi ini, dalam kerangka Homi Bhabha (1994), menunjukkan wajah kuasa yang penuh kontradiksi: ada kekaguman sekaligus pengucilan. Bajau Samah dipandang indah ketika menari, tetapi dianggap masalah ketika menuntut hak. Mereka diperbolehkan tampil dalam festival, tapi tidak diberi ruang di meja perundingan pembangunan. Mereka adalah warga
hanya sejauh mereka mengisi kebutuhan simbolik orang lain.
Saya ingat percakapan singkat dengan seorang anak remaja di Desa Rampa. Ia bertanya, “Apakah orang-orang suka menonton tarian kami?” Saya menjawab iya. Ia tersenyum, lalu menambahkan pelan, “Kalau begitu, kenapa mereka bilang kami jorok?” Pertanyaan itu seperti merobek lapisan eksotisme yang dibangun di panggung. Ada jarak yang tidak pernah tertutup antara pengakuan simbolik dan realitas sosial.
Gayatri Spivak (1988) mengingatkan: Can the subaltern speak? Pertanyaan itu relevan di sini. Bajau Samah memang “hadir” di festival, tetapi tidak pernah benar-benar berbicara. Narasi tentang mereka ditulis oleh panitia, gerakan mereka dikoreografikan, makna mereka didefinisikan pejabat. Mereka menjadi tubuh yang bergerak tanpa suara, sebuah representasi yang sudah dijinakkan. Festival memberi mereka panggung, tetapi bukan suara.
Dengan cara ini, festival berfungsi sebagai topeng. Ia menutupi luka sosial dengan warna-warni tarian. Ia memberi citra inklusi, tetapi sebenarnya memperkuat eksklusi. Ia mengajarkan publik untuk melihat Bajau Samah sebagai keunikan, bukan sebagai tetangga dengan kebutuhan dan hak. Ia mengalihkan perhatian dari persoalan air bersih, pendidikan, dan kesehatan, menuju tontonan yang indah dan aman dikonsumsi.
Dalam kajian antropologi, kategori sosial selalu tidak pernah netral. “Bajau Samah” sebagai simbol budaya bukanlah identitas yang mereka pilih, melainkan label yang diproduksi negara dan diperkuat melalui festival. Dalam bahasa Tania Murray Li, inilah proses rendering technical—komunitas dipandang sebagai masalah budaya yang bisa ditampilkan, bukan sebagai warga dengan klaim politik yang sah. Dengan begitu, persoalan ketidakadilan struktural disulap menjadi pertunjukan folklor.
Maka pertanyaan yang lebih getir muncul: apa sebenarnya yang kita rayakan? Apakah kita sedang merayakan keberagaman, atau sedang meneguhkan jarak? Eksotisme bekerja seperti laut yang menipu: ia memantulkan cahaya bulan di permukaan, sehingga kita lupa bahwa di bawahnya ada arus yang bisa menenggelamkan. Kita merasa dekat, padahal sedang menjaga jarak. Kita bertepuk tangan untuk tarian laut, tapi tetap menutup hidung ketika melewati desa Rampa.
Saya kembali teringat lelaki paruh baya yang mengatakan, “Tapi habis itu kami tetap begini saja.” Kalimat itu menegaskan apa yang disembunyikan oleh gemerlap panggung. Festival tidak mengubah relasi kuasa, tidak memperbaiki distribusi sumber daya, tidak mengakui martabat warga. Ia hanya mengulang pola kolonial: menjadikan yang lain sebagai objek tontonan, sambil menyingkirkan mereka dari wacana pembangunan.
Di sini festival bukan lagi sekadar hiburan, melainkan perpanjangan kolonialisme. Ia meneguhkan relasi kuasa: siapa yang berhak mendefinisikan, siapa yang cukup jadi tontonan, siapa yang hanya boleh diam. Said benar: orientalisme bukan hanya imajinasi, ia adalah bentuk kuasa. Eksotisme Bajau Samah di Festival Budaya Saijaan adalah kuasa itu: kuasa yang membungkam dengan cara perayaan.
Tetapi apakah festival harus selalu begini? Apakah mungkin panggung diubah menjadi dermaga, tempat di mana orang-orang Bajau Samah bisa berlabuh dan berbicara tentang dirinya sendiri? Apakah mungkin festival tidak hanya menampilkan tari, tetapi juga mendengarkan keluhan, cita-cita, dan tuntutan mereka?
Bajau Samah adalah manusia laut. Mereka hidup di antara arus dan angin, terbiasa dengan ketidakpastian, tetapi juga punya kearifan yang panjang. Mereka bukan sekadar “keunikan”, bukan sekadar gambar di spanduk pariwisata. Mereka adalah warga yang
seharusnya punya hak setara.
Laut, pada akhirnya, selalu menyimpan cermin. Ia memantulkan wajah siapa pun yang melihatnya, tapi juga menyimpan kedalaman yang tak semua orang berani menyelaminya. Festival Budaya Saijaan yang dalam empat tahun belakangan mengulang tema yang sama “magic from the sea”, saya pikir selama ini hanya bermain di permukaan, menikmati pantulan, tanpa keberanian untuk menyelam ke kedalaman. Padahal kebenaran hidup Bajau Samah ada di dasar laut: keras, gelap, dan menuntut keberanian untuk benar-benar mendengar.
Pertanyaannya kini adalah: beranikah kita menyelam? Atau kita lebih memilih tetap di pantai, menonton tarian ombak dari jauh, lalu pulang dengan perasaan puas, seolah-olah sudah mengenal laut?
Karena laut tak pernah bisa dibungkam. Suatu saat, ia akan berbicara dengan caranya sendiri, melalui ombak yang pecah, arus yang menyeret, atau sunyi yang menyesakkan. Dan mungkin, ketika kita masih sibuk bertepuk tangan di festival, suara laut itu sudah lama berusaha memanggil kita.
Pertanyaannya selanjutnya bukan apakah orang-orang Bajau Samah bisa menari, tetapi apakah mereka bisa bicara dan lebih2025 penting lagi, apakah ada telinga yang mau mendengar. ()