Baca PDF (OCR): GERUNUM #4

24 halaman · 9 halaman diproses dengan OCR· 3988 ms

Daftar isi
  1. 4
  2. GERUNUM
  3. LASA
  4. BOOK SPACE
  5. GERUNUM
  6. SEKILAS EDITORIAL
  7. GERUNUM
  8. Résister
  9. PUNK, PEREMPUAN, DAN PERLAWANAN
  10. Berikut dialog pesan WA kami:
  11. Bang Baron Punk MJ: InsyaAllah trun
  12. King: Apa sih punk menurutmu?
  13. King: Pandangan punk tentang politik?
  14. Fat: Sampah! Amburadul! Bobrok!
  15. duduk sama rata berdiri tanpa raja
  16. kami menyebutnya SETARA!
  17. Poster: AjiArchive
  18. JIKA KERUSAKAN
  19. HUKUMDIBIARKAN.
  20. MAKA AKAN RUSAK
  21. SAMPAIKE AKAR
  22. Posice AjiArchive
  23. SUARA NEGERI
  24. Banjarmasin, 11 Febuari 2025
  25. Poster: AjiArchive
  26. GINIAMAT
  27. NASIB KITA
  28. NDONESIA GELAP
  29. ININEGARA
  30. APAAN SIH? SENDIRI
  31. TOLAKRUUTNI
  32. Ikan Busuk
  33. DariKepala
  34. Tapini bukansoal ikan
  35. Tanah Air, Tanah Orang
  36. dan 3 Tiga Puisi Tasamsyah
  37. Ceracau Orang-orang Pelintas
  38. Bandung, 2025
  39. Mantra dari Mulut Emak-emak
  40. Bandung, 2025
  41. Tanah Air, Tanah Orang
  42. Bandung, 2025
  43. LASA

4

GERUNUM

LASA

BOOK SPACE

Babak keempat Maret, 2025

Diasuh oleh: Asa Book Space

Cover:

Foto Sahand Babali, Unsplash

Penata Letak: Mario Hikmat

Kontributor: Kingking Sasa Aretha Firnasuddin Rahim Tasamsyah

Infaq dan Sedekah: DM instagram Asa Book Space

GERUNUM

Instagram: @asabookspace

SEKILAS EDITORIAL

GERUNUM semacam terbitan berkala memuat apapun; esai, foto, ilustrasi, keluh-kesah, dan lain-lain. GERUNUM yang dalam bahasa Banjar artinya “ngomel” diluncurkan dengan semangat belajar sekaligus membuka diri terhadap segala omelan masyarakat yang tampak dan termaknai sebagai bentuk pengetahuan, praktik, maupun kebijaksanaan lokal yang menjadi laku sehari- hari masyarakat yang berumah di Indonesia bagian eksploitasi. Dibuat oleh Asa Book Space dengan spirit berbagi itu sedekah. GERUNUM ingin mengarsip dan mendokumentasikan segala

GERUNUM

macam hal-hal yang ditemui di daerah terpencil sebagai suara yang terpinggir dan nyaris tak terdengar. Kami berharap semua pembaca dapat mengambil pelajaran atas terbitan ini.

ASA BOOK SPACE merupakan ruang bertemu. Kelompok studi. Menyediakan buku, majalah, zine, permainan edukasi untuk anak, alat menggambar, dan obrolan-obrolan seputar kehidupan anak muda dan budaya populer.

Foto: Mathias Reding, Unsplash

Résister

to resist

PUNK, PEREMPUAN, DAN PERLAWANAN

Oleh Kingking

Pertengahan semester dua kuliahku di salah satu universitas di Kota Banjarbaru, aku berkenalan dengan muda mudi nyentrik; gaya rambut mohawk berwarna mencolok, sepatu boots, jaket kulit penuh bordiran logo band, piercing, tato, juga tidak lupa dengan playlist musik Sex Pistols dan Rancid. Mereka sering nongkrong di tepian remang Lapangan Murjani dan mengidentifikasi kelompoknya sebagai subkultur punk dengan nama Murjani Street Punx. Bagiku yang berasal dari Kabupaten Tapin, tentu asing dengan kelompok punk seperti mereka, jangankan berkenalan-bertemu di jalan saja jarang. Namun, keadaan sudah berubah. Skena punk Tapin yang bernama Rantau Street Noise kini mulai aktif terlihat di publik. Mereka berkolaborasi dengan komunitas Liberta (Lingkar Baca Merdeka Tapin) di berbagai kegiatannya.

Berdasarkan literatur yang kuakses di internet, gerakan punk sendiri bermula di Inggris pada pertengahan 1970-an sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dan krisis ekonomi. Di Indonesia, punk masuk pada akhir 1980-an yang dipelopori oleh kelompok musik Anti Septic dan Young Offender. Secara umum, istilah punk dapat merujuk pada dua makna: ideologi dan musik. Punk sebagai ideologi adalah pemikiran yang menjunjung tinggi kebebasan individu, anti-otoritas, dan kritik atas kapitalisme serta norma sosial dominan. Sedangkan punk sebagai musik adalah genre bertempo cepat, lirik sederhana yang cadas, komposisi musik yang apa adanya namun tetap beringas. Musik dan seni bagi ideologi punk adalah sebagai media untuk menyampaikan kritik sosial. Keduanya saling berkaitan memiliki semangat progresif dan DIY (Do It Yourself).

Dulu sekali, pandanganku terhadap kegiatan dan visual mereka yang berbeda selalu mengarah pada label negatif. Bermabuk-mabukan, kegiatan yang tidak bermanfaat, tidak kenal aturan, dan masa depan suram. Begitulah kira-kira pandanganku kepada mereka sebelum berkenalan. Bagaimana tidak demikian? Lingkungan sebelum aku berkuliah, sungguh membuatku kenyang dicekoki oleh konstruksi sosial yang didesain dan dinarasikan oleh kelompok mayoritas-berupa moral sampai cara berpakaian diberi aturan ketat agar dicap ideal sebagai masyarakat beradat ketimuran. Pandangan kunoku terhadap mereka mulai terkikis saat aku berkenalan dan berkesempatan mendengarkan cerita mereka yang kemudian aku tuliskan di sini. Saat ingin memulai tulisan ini, aku berkomunikasi dengan salah satu kawan di Murjani Street Punx yaitu Baron untuk ditanyai kesediaannya kuwawancara.

Berikut dialog pesan WA kami:

King : Bang, malam ini free kah?

Bang Baron Punk MJ: InsyaAllah trun

King : Ulun bisa wawancara pian lah bang? Gasan dipublikasi jadi tulisan digital tentang pengalaman pian selama di dunia punk nih

Bang Baron Punk MJ: Masalah wawancara mau za ku

Tapi, takdir punya rencananya sendiri. Rencanaku dan Baron untuk bertemu diintervensi alam raya sehingga kami tidak dapat berbincang, ha-ha-ha. Kemudian, aku menghubungi kawan lainnya, Fafat dengan maksud dan tujuan yang sama.

Aku dan Fafat bertemu di tepian trotoar Lapangan Murjani, tepat di seberang Minggu Raya yang biasanya di sana baik pujangga atau yang bukan pujangga melisankan puisi dan merayakan sastra. Fafat adalah seorang pemuda punk berusia 21 tahun, selebihnya akan kutuliskan dalam bentuk dialog kami saja.

King: Awal mulanya mengenal punk dari mana?

Fat: Awalnya dari teman dan aku pribadi memandang jelek juga di

awal, seperti visual punk yang nyentrik sama kemakan narasi-narasi jelek tentang mereka yang beredar di masyarakat. Namun setelah berkenalan dan berinteraksi intens, ya ternyata di sisi lain kegiatan dan nilai-nilai yang mereka pegang juga ada positifnya. Selain itu, aku kenal punk juga berangkat dari musik yang dibawakan oleh Camuh dan Democrust (2 band punk lokal Banjarbaru).

King: Sejak kapan dan apa tanggapan keluarga serta lingkungan?

Fat: Kenal sejak 2016 dan terlibat aktif di tahun 2020. Pasti ada penolakan dari keluarga juga lingkungan karena visual nyentrik dan stigma negatif lainnya. Tapi, selama berkegiatan positif, aku yakin orang terdekat dan masyarakat lambat laun akan menerima kami di tengah stigma negatif tentang punk. Kegiatan sosial seperti lapak baca gratis, food not bombs, terlibat menjadi relawan saat bencana dan acara keagamaan, serta aksi lainnya yang menunjukkan keberpihakan kepada rakyat dan kaum marginal dapat membangun citra positif tentang punk.

King: Apa sih punk menurutmu?

Fat: Punk bagiku adalah ideologi yang berisik menyuarakan penindasan penguasa, menolak kontrol otoritas, memperjuangkan kesetaraan, dan yang paling utama dari punk adalah memanusiakan manusia.

King: Apa harapannya untuk skena punk di Kalsel dan skena punk di daerah lain?

Fat: Ya, harapannya lebih aktif dan konsisten dalam berkegiatan positif. Sama jangan resek, ha-ha-ha!

King: Pandangan punk tentang politik?

Fat: Sampah! Amburadul! Bobrok!

Pembicaraan di lingkaran punk yang kutemui selalu asik dan sering berbobot. Kami membahas banyak hal; musik, lingkungan, politik. Pengamatanku, mereka memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial yang dihadapi masyarakat. Bisa dibilang, menjadi punk yang marjinal

bukanlah karena nasib atau takdir, melainkan pilihan politik untuk berkolektif menjadi pembangkang tiran. Mereka tidak apolitis. Tidak sama sekali! Mereka berani bersikap.

Selanjutnya, aku tertarik untuk mewawancarai kawan-kawan punk perempuan di Banjarbaru. Mereka menamakan kelompoknya sebagai Galuh Rebel. Bagiku menjadi menarik karena mereka adalah kelompok perempuan yang berani beda dan eksis di tengah-tengah kentalnya budaya patriarki di tatanan masyarakat. Aku berkesempatan mengobrol via DM Instagram dengan Efa, perempuan berusia 24 tahun yang sudah berkegiatan di subkultur punk selama sembilan tahun belakangan. Mulanya ia bertemu dengan kelompok punk di salah satu taman yang ada di Kota Barabai, Hulu Sungai Tengah pada tahun 2015. Interaksi pertama itu membuatnya merasa nyaman berada dalam lingkaran punk.

Perlu diketahui kembali, mulanya aku ingin mewawancari Efa secara langsung. Tapi, begitulah alam raya bekerja-selalu saja tidak diduga- duga. Aku tidak menemukan waktu yang tepat untuk bertemu dan mengobrol dengannya. Selanjutnya aku teruskan dalam bentuk dialog kami, ya?

King: Bagaimana rasanya menjadi perempuan di komunitas punk?

Efa: Saya merasa aman dan tidak merasa didiskriminasi. Mereka merangkul, menasihati, dan menjaga. Yang pasti, mereka tahu batasan yang tetap harus dijaga kepada lawan jenis.

King: Apa yang kamu dan kawan-kawan perempuan lakukan untuk melawan stigma negatif tentang punk dan melawan budaya patriarki yang ada di masyarakat?

Efa: Cara kami melawan stigma negatif tentang punk yaitu dengan terus melakukan hal-hal positif dan terus menarik perhatian masyarakat agar menyoroti aksi kami. Tentu saja berkat usaha demikian, kami berhasil membuat sebagian masyarakat tertarik dengan aksi positif kami. Mengenai budaya patriarki, kami sebagai perempuan terus menunjukan dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu dibandingkan, baik itu laki-laki, perempuan, tua, muda,

lama, baru, kaya, miskin. Punk tidak akan membeda-bedakan dan selalu welcome pada siapapun itu terkecuali mereka yang datang dengan niat mengganggu apa lagi sampai berniat melecehkan seorang ladies punk.

King: Sebagai sosok perempuan, apa yang ingin kamu sampaikan kepada dunia?

Efa: Dari saya kepada dunia dan seisinya. Hei dunia! punk bukanlah gerombolan bocah gak jelas, perjalanan yang dilalui mereka para punk tidak selalu buruk seperti pemikiran kalian, dan yang selalu saya garisbawahi di sini adalah punk tidak selalu soal mabuk... banyak yang mengatasnamakan dan berpenampilan memakai atribut seperti seorang punk, tapi punk yang kami banggakan dan yang selalu kami usahakan ini tidak ngelem, tidak membunuh, tidak merusuh, dan tidak merampas. Soal bagaimana pandangan dan cara kalian menilai kami, kami tidak akan menyalahkan. Kami harap kalian mau turun berbaur duduk di sini bersama kami, kami harap kalian mau mendengarkan cerita kami tanpa rasa canggung bersama kami, kami harap kalian tidak menutup mata serta telinga atas aksi positif kami hanya karena melihat seni tato dan cara berpakaian kami.

Banjarbaru, Murjani Street Punx X Galuh Rebel

duduk sama rata berdiri tanpa raja

kami menyebutnya SETARA!

Efa banyak bercerita tentang segala hal yang berkaitan dengan punk dan di setiap sepuluh menit ia mengetik panjang ceritanya, ada satu perempuan yang menjadi korban femisida. Femisida adalah pembunuhan manusia berbasis gender terhadap perempuan dan anak perempuan. Data dari UN Women dan UNODC yang dipublikasi pada 25 November 2024 mencatat per tahun 2023, sekitar 85.000 perempuan dan anak perempuan dibunuh secara sengaja, dengan 60% di antaranya sekitar 51.000 kasus dilakukan oleh pasangan intim atau anggota keluarga. Meskipun data kasus femisida menunjukkan penurunan sebesar 50% dalam lima tahun terakhir, femisida tetap menjadi ancaman signifikan bagi kita semua, terutama kawan-kawan

perempuan. Begitu pula dengan pelecehan dan kekerasan seksual yang sering menyasar kawan-kawan perempuan. Data WHO per tahun 2021 mencatat sekitar 1 dari 3 perempuan pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual, sedangkan laporan tentang penyintas laki-laki jauh lebih rendah bahkan data spesifik sering kurang terlaporkan. Aku tetap menyadari bahwa pelecehan dan kekerasan seksual adalah isu lintas gender; semua bisa menjadi pelaku dan semua bisa menjadi penyintas. Pelecehan, kekerasan seksual, dan segala bentuk eksploitasi tubuh dan psikis individu lain tanpa izin adalah fasisme terkeji!

Menjadi perempuan adalah satu kebanggaan, menjadi diri sendiri adalah satu jalan mencapai kemerdekaan. Semua gender berhak menentukan jalan yang ia pilih selagi ia bertanggung jawab atas pilihannya dan tidak merugikan orang lain. Kurasa wajar bila ada perbedaan dalam memandang dunia, perbedaan dalam pendapat(an), dan perbedaan dalam menjalani kehidupan. Begitu pula dengan Fafat, Efa, dan seluruh kawan punk yang lain. Mereka berhak menjalani hidup yang penuh kehidupunk. Juga kalian semua, merdekalah dalam menjalani hidup.

Pada akhirnya, kita semua harus belajar menghormati pilihan individu lain, melestarikan kasih sayang dan memupuk kebencian yang sama pada penindasan. Semoga dari tulisan ini, kita dapat belajar bahwa penting untuk menjunjung tinggi otoritas tubuh dan jiwa manusia, berkomitmen untuk mencapai kesetaraan dan keadilan sosial, menciptakan ruang aman, sehingga tercapailah satu tatanan yang kita dambakan, yang penuh kesalehan sosial: perdamaian abadi! ()

Kingking, seorang pemuda medioker penggerutu yang kebetulan suka menulis meski gak jago- jago amat. Berasal dari Kota Rantau dan berkuliah di Uniska Banjarbaru. Suka Barcelona, hari ini lagi suka puisi, kemarin lagi suka doi, gatau deh besok.

Poster: AjiArchive

JIKA KERUSAKAN

HUKUMDIBIARKAN.

MAKA AKAN RUSAK

SAMPAIKE AKAR

Posice AjiArchive

SUARA NEGERI

Oleh Sasa Aretha, penulis

Di panggung janji yang megah berkilau, Kata-kata mengalun bagai nyayian merdu, Rakyat mendengar, hati terpukau, Namun, esok, janji itu hilang tak tentu.

Tangis petani di ladang yang kering, Jerit buruh pabrik yang bising, Wakil rakyat duduk bersanding, Di meja pesta yang terus menggiring.

Hukum berbisik, keadilan lesu, Tinta kebijakan memihak yang mampu, Sedang suara kecil di sudut semu, Ditelan gaduh ambisi semu.

Namun, harapan tak mudah patah, Tertanam dalam jiwa yang resah, Suatu saat negeri ini berubah, Suara rakyat tak akan kalah.

Banjarmasin, 11 Febuari 2025

Sasa Aretha, penulis yang dikenal dengan nama pena Whitecloudied, adalah seorang mahasiswi yang berhasil menerbitkan novel solo pertamanya pada tahun 2020.

Foto: Pinterest

Poster: AjiArchive

BERITA BURUK KITA DIKIRIM SETIAP HARI BERHAK OLEHNEGARA MARAH

WALLAHI

GINIAMAT

WERE FINTSIHED

NASIB KITA

NDONESIA GELAP

DIJAJAH

ININEGARA

BANGSA

APAAN SIH? SENDIRI

NDASMU NDASMU NDASMU WHO DO YOU CALL WHEN THE POLICE MURDERS

TOLAKRUUTNI

Di Atas KM Sinabung Oleh Firnasruddin Rahim

Foto Robert Clark, Unsplash

Perjalanan menuju Kota Daeng, kuhabiskan kurang lebih 18 jam melalui jalur laut. Kapal yang kutumpangi telah terisi penumpang dari wilayah timur Indonesia yang hendak menuju ke Indonesia bagian barat.

Melihat KM Sinabung dari kejauhan, tampak seperti gedung lima lantai yang mengapung di atas air. Warna putihnya kontras dengan warna air laut. Sangat besar ukurannya serupa stasiun pelabuhan Murhum kota Bau-bau.

Di tiket tertulis dek 5 kelas ekonomi. Tak berlama aku segera menuju tempat duduk. Setibanya di tempat yang tertera di tiket, kuletakkan tas dan merebahkan badan. Di sekelilingku, ada yang tampak berlayar sendiri dan ada juga rombongan.

Sejak menempati tempat duduk, ragam bahasa yang kudengar. Ada bahasa Jawa, Makassar, Bugis, Buton dan Muna. Terdengar cukup jelas ketika mereka bercakap-cakap. Kurang lebih, pukul 19.15 Wita, KM Sinabung berlayar. ABK dek, menyiapkan pelayaran, pintu ditutup dan kami pun meninggalkan pelabuhan Kota Bau-bau berlayar menuju Kota Makassar.

Selama pelayaran, para penumpang banyak menghabiskan waktu dengan ragam kegiatan. Dan yang paling digemari oleh penumpang adalah duduk di dek 7 bagian luar kapal sembari menikmati kopi dengan menghisap rokok dan bercakap. Namun, ada juga di antara para penumpang itu yang hanya sekedar ingin menikmati aroma laut dan mengabadikan momen dengan selfie.

Dalam tas telah kusimpan persediaan kopi instan. Kopi kuseduh dan segera menuju ke dek 7. Aku, seperti beberapa penumpang lain, mencoba menikmati manisnya kopi instan dan menghisap beberapa batang rokok.

Dek 7 nyaris terisi penuh oleh penumpang. Dari kursi panjang, pagar pembatas kapal, koridor, dan kapsul sekoci hingga cafetaria tampak penuh. Masih ada sedikit ruang diantara banyaknya penumpang untuk

meletakkan gelas kopi hangat di atas kayu pagar pembatas kapal. Meski sudah ada pengumuman dari pesan siaran. Agar tidak bersandar di pagar pembatas, namun hanya itu ruang yang tersisa.

Saat itu, jam ditanganku menunjukkan pukul 23.30 Wita. Pengunjung dek itu masih padat. Angin terasa menembus hingga ke tulang. Kopi baru kunikmati 3 teguk dan 1 batang rokok telah habis. Aku dihampiri salah seorang penumpang. Awalnya kulihat dia hanya menempati ruang di sebelahku dan dia meletakkan kopinya saja, tak kuhiraukan. Kopi kuteguk dan lanjut batang ke 2 kuisap.

Penumpang itu tampak ingin memulai pembicaraan. Terlihat ketika ia menghampiri ku sambil senyum dan nampak ia akan melempar satu dua kata. Namun, aku hanya menganggukkan kepala sambil menghisap dalam-dalam rokok di sela-sela jariku. Tak berselang lama, ia menyapa, begini katanya “turun dimana?”, “turun di Makassar”, “dari mana?”, “dari sini Bau-bau”. Dan tak ada lagi percakapan terjadi diantara kami.

Bukan tidak ingin melanjutkan perbincangan kami, tapi bagiku untuk bertegur sapa dan melanjutkan obrolan dengan orang yang baru dikenal tidaklah mudah. Banyak pertimbangan di kepalaku untuk memulai dan melanjutkan pembicaraan. Yang kupikirkan, apakah bahan pembicaraan ini bisa nyambung dan cocok dengan teman bicaraku atau bahan ini tepat untuk dibincangkan, apakah topik ini bisa menyinggung hal privasi atau tidak, dan banyak lagi. Memikirkannya saja, membuat obrolan akan jeda beberapa menit. Dan tentu itu akan membuat aku dan teman bicara menjadi canggung.

Tidak anti sosial, tapi bagiku untuk sekedar menyapa dan mengajak orang yang baru ditemui untuk berbicara banyak kadang membuatku overthinking. Pernah kucoba untuk merespon keramahan orang yang baru kutemui. Menjawab setiap pertanyaan dan memberikan respon balik.

Dulu, suatu kali saat selesai mengisi bahan bakar di SPBU dan sejenak istirahat sebelum melanjutkan perjalanan, salah satu petugas pengisian bahan bakar menyapaku dan memulai pembicaraan. Kata

petugas SPBU itu “Mau kemana?”, “ke Muna (pulau Muna)”, “oh, dari mana?”, “dari Pasarwajo”, “orang mana?”, “orang Pasarwajo”, “oh, orang cia-cia berarti”, seketika petugas itu bertanya dengan dengan bahasa daerah suku cia-cia (salah satu suku di pulau Buton), yang artinya kira-kira “sudah ada istri? Istrinya orang mana?”, “maaf om, tidak bisa bahasa cia-cia”, dengan wajah heran dia mulai menghardik ketidakmampuanku berbahasa daerah. Namun, untuk menghargai teman berbicara kurespon “begini om, saya lama di daerah perantauan bersama orang tua dan kami di rumah jarang berbahasa daerah”, tak merasa puas petugas SPBU itu menimpali “saya juga merantau lama, di Maluku, tapi bahasa daerah tidak bisa kita lupakan dan saya juga bisa bahasa wolio (salah satu suku di pulau Buton)”.

Semakin jauh, pertanyaan bapak petugas SPBU Itu semakin menyentuh hal-hal privasi. Mulai dari pekerjaan dan lain-lain. Dan itu membuatku semakin tidak nyaman. Dalam pikirku, bagaimana bisa seseorang yang baru ditemui, anda yakin bahwa ia akan nyaman membicarakan hal-hal privasi dan sampai anda menghardik dirinya atas ketidakmampuannya?

Setiap orang ramah sesuai dengan karakternya. Apakah seseorang itu introvert atau ekstrovert. Bagi mereka yang introvert, mungkin bukan perihal mudah untuk mencairkan pembicaraan pada orang yang baru ia temui.

Di KM Sinabung, sesaat setelah berlayar, para penjaja dagangan berkeliling. Marketing, promosi dan tawar menawar terjadi selama proses menjajakan barang. Ada pop mie, rokok, kopi instan, biskuit, roti, ayam krispi dan ada juga yang menjual jam tangan. Namun dari semua dagangan ini ada yang menarik perhatianku, seorang pria yang menjajakan ole-ole minyak perkasa.

Keperkasaan memang selalu menarik perhatian. Perkasa menurut kamus Oxford language secara kata artinya kuat dan tangguh serta berani; gagah berani. Berarti juga kemampuan dan daya tahan dalam beraktivitas. Entah itu aktivitas mengandalkan kekuatan fisik maupun aktivitas memimpin.

Seperti Samsons, ia diasosiasikan dengan bangunan tubuh fisik kokoh yang disusun dengan otot kekar. Seseorang yang hadir menjadi antitesis dari totalitarian dan kesemena-menaan sebuah kekuasaan. Ia berdiri tegak di samping kebenaran dan menghadang setiap penindasan kepada kaum kelas bawah.

Lain Samsons, lain juga perkasanya Gajah Mada. Ia dikenal sebagai sosok yang setia dari tahta Majapahit, untuk mempertahankan integritasnya dan memperluas pengaruh kerajaan. Karir Gajah Mada dan keperkasaannya terlihat ketika ia terlibat dalam menaklukkan pemberontakan Keta dan Sadeng, yang saat itu sedang memberontak. Setelah bisa menaklukkan, Gajah Mada pada tahun 1334, secara resmi ditunjuk Mahapatih Mangkubumi (Perdana Menteri) untuk menggantikan Mpu Kawes, yang ingin pensiun sejak 1329. Dan kemudian ia dikenal dengan sumpah Palapanya.

Samsons dan Gajah Mada telah terbukti keperkasaannya yang dapat kita telusuri dalam beberapa literatur. Namun, minyak perkasa yang dijajakan benarkah bisa perkasa? Pedagang minyak itu pun berlalu begitu saja setiap kali menghampiri setiap meja dan kursi di dek 7 luar KM Sinabung dan belum ada yang tertarik untuk sekedar bertanya dan membelinya. Mungkin para pengguna jasa KM Sinabung juga ingin menjadi perkasa dengan membeli minyak perkasa. Namun, mungkin karena suasana dek 7 luar cukup ramai sehingga menciutkan nyali mereka untuk membeli minyak perkasa yang dijajakan.()

Firnasruddin Rahim, pemburu buku diskon Dialektika

Poster: AjiArchive

Ikan Busuk

DariKepala

Tapini bukansoal ikan

Tanah Air, Tanah Orang

dan 3 Tiga Puisi Tasamsyah

Foto: Kunj Parekh, Unsplash

Ceracau Orang-orang Pelintas

jalanan ini bukan trotoar kota besar bukan pula jalan tol tempat mobil melesat ini tanah yang dijanjikan merdeka tapi dipagari rambu larangan

orang-orang pelintas duduk di pinggirnya menyesap asap dari rokok yang makin mahal membaca koran yang cuma berita penguasa meludah ke tanah yang tak bisa menumbuhkan harapan

katanya kita negara maritim tapi nelayan dikejar kapal patroli katanya pangan harus murah tapi di dapur harga melompat-lompat

mereka berceloteh tanpa mikrofon ceracau yang tak masuk siaran utama tapi mengendap di tulang tengkuk yang rompal dan tangan-tangan yang sudah lupa cara mengepal marah

jalanan tetap panjang orang-orang pelintas terus melangkah dan negara? masih sibuk menyusun pidato baru

Bandung, 2025

Mantra dari Mulut Emak-emak

sumpah serapah pagi hari meledak dari mulut yang geram seperti beduk masjid tua yang terus dipukul tanpa dengar sahut

“harga naik lagi, Nak!” listrik nyala tapi lampu tetap redup anak pejabat belajar ke luar negeri anak kita belajar dari utang ibu warung

mulut emak tak butuh diksi manis tak perlu sajak berpagar bunga suaranya gerinda, nyaring, tajam menusuk telinga, membuka luka

pemerintah sibuk rapat tapi beras tetap beranak harga mereka ngomong di layar kaca kita ngomong di kas bon warung depan rumah

dan siapa yang mau mendengar? siapa yang peduli selain lapar? mulut emak bukan sekadar omelan ia lonceng yang kau biarkan basi dan berkarat di sudut negeri

Bandung, 2025

Foto: Frankie Cordoba, Unsplash

Tanah Air, Tanah Orang

setiap petak yang dirampas adalah nisan tanpa batu di tanah yang lupa tuannya

Bandung, 2025

Tasamsyah, lelaki kelahiran Bandung, April 1997. Seorang pegiat teater di Cimahi. Karya-karya tulisnya dimuat dalam 3 buku: Semestalogi PU Merangkai Isi (2019), Plano Miasma (2022), dan Tapak Tilas (2022). Selain itu karya-karya tulis lainnya dimuat di beberapa media digital: website dan audiobook. Ig: @samsyah_17 Email: [email protected]

LASA