Baca PDF (OCR): GERUNUM #3

28 halaman · 5 halaman diproses dengan OCR· 2142 ms

Daftar isi
  1. 2
  2. GERUNUM
  3. 3
  4. GERUNUM
  5. SEKILAS EDITORIAL
  6. GERUNUM
  7. Kdalam lirik lagu Paris Barantai, musisi lagu-lagu Banjar itu
  8. MUNGKIN, SIAPA TAHU, JANGAN-JANGAN
  9. P dan Hawa yang asyik bercinta, kok kita lebih
  10. Hidayah bisa datang dari arah yang gak disangka-sangka. Dari potongan
  11. lirik lagunya Jason Ranti, misalnya.
  12. Siapa tau om-tante fasis, zionis, police, atau apa kek itu yang suka
  13. marah dan murka bisa lebih kalem dan anteng abis denger Jeje nyanyi.
  14. Ini cuman “siapa tau” ya! Tapi yang pasti rencana Tuhan lebih luas lagi
  15. sebaik-baiknya dari rencana dan prasangka kita.
  16. Wiji Thukul dan Seni Protes
  17. Oleh Mario Hikmat, Pustakawan Asa Book Space
  18. Hanya ada satu kata: Lawan! – Wiji Thukul
  19. (Wiji Thukul, 1986)
  20. 大志享
  21. Di Minggu Pagi Saat Kau Melihat Jalanan Sebagai Titik Ketakutan
  22. Rekayasa-Rekayasa Ketiadaan
  23. Pada Malam Itu Setelah Kujatuhkan Kecemasanku

2

GERUNUM

3

ASA BOOKSPACE #3

Babak Ketiga Desember, 2024

Diasuh oleh: Asa Book Space

Penata Letak: Mario Hikmat

Kontributor: Widhi Pranowo Kingking Mario Hikmat Wawan Kurniawan

Infaq dan Sedekah: DM instagram Asa Book Space

Instagram: @asabookspace

GERUNUM

SEKILAS EDITORIAL

GERUNUM semacam terbitan berkala memuat apapun; esai, foto, ilustrasi, keluh-kesah, dan lain-lain. GERUNUM yang dalam bahasa Banjar artinya “ngomel” diluncurkan dengan semangat belajar sekaligus membuka diri terhadap segala omelan masyarakat yang tampak dan termaknai sebagai bentuk pengetahuan, praktik, maupun kebijaksanaan lokal yang menjadi laku sehari- hari masyarakat yang berumah di Indonesia bagian eksploitasi. Dibuat oleh Asa Book Space dengan spirit berbagi itu sedekah. GERUNUM ingin mengarsip dan mendokumentasikan segala

GERUNUM

macam hal-hal yang ditemui di daerah terpencil sebagai suara yang terpinggir dan nyaris tak terdengar. Kami berharap semua pembaca dapat mengambil pelajaran atas terbitan ini.

ASA BOOK SPACE merupakan ruang bertemu. Kelompok studi. Menyediakan buku, majalah, zine, permainan edukasi untuk anak, alat menggambar, dan obrolan-obrolan seputar kehidupan anak muda dan budaya populer.

Kotabaru “Rata-rata Lama Sekolah”-nya Bamega? Oleh Widhi Pranowo, Kepala BPS Kotabaru

Anak-anak menatap gembira di balik jendela,

Foto Muallim Nur

(pexels.com)

etika seniman Anang Ardiansyah memakai kata “Bamega”

Kdalam lirik lagu Paris Barantai, musisi lagu-lagu Banjar itu

sedang menceritakan pesona perpaduan antara deburan ombak di pinggir pantai dengan Gunung Sebatung yang menjulang tinggi di Kabupaten Kotabaru. Dimana hampir sepanjang hari Gunung Sebatung yang menghijau lebat selalu diselimuti awan. Kondisi bamega atau berawan sering diasosiasikan oleh orang sebagai

kondisi yang tidak cerah atau mendung. Kondisi bamega seperti ini yang juga dinisbatkan kepada angka Rata Rata Lama Sekolah (RLS) Kabupaten Kotabaru oleh kalangan konsumen data. Hal itu disebabkan karena melihat angka RLS Kabupaten Kotabaru dalam indikator angka Indeks Pembangunan Manusia yang nilainya rendah. Dan jika dibandingkan dengan nilai RLS kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan, nilai RLS Kabupaten Kotabaru berada dalam posisi paling rendah. Tetapi apakah memang Kabupaten Kotabaru “Rata Rata Lama Sekolah”-nya bamega? Rata rata lama sekolah merupakan salah satu indikator dalam dimensi pengetahuan pada penyusunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Angka IPM dipakai untuk mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Angka IPM dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat pencapaian pembangunan manusia sebagai dampak dari kegiatan pembangunan yang dilakuan oleh suatu negara/daerah. Semakin tinggi nilai IPM suatu negara/daerah, menunjukkan pencapaian pembangunan manusianya semakin baik. Rata-rata Lama Sekolah (RLS)/Mean Years School (MYS) didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Angka RLS Kabupaten Kotabaru sebesar 7,46 tahun, artinya secara rata-rata penduduk Kabupaten Kotabaru yang berusia 25 tahun ke atas telah menempuh pendidikan selama 7,47 tahun atau menamatkan kelas VII. Angka RLS Kabupaten Kotabaru pada tahun 2021 sebesar 7,46 merupakan terendah dari 13 kabupaten/kota se-Provinsi Kalimantan Selatan. Terdapat selisih yang signifikan jika dibandingkan dengan angka RLS

Kota Banjarbaru yang merupakan angka RLS tertinggi yaitu sebesar 10,96. Secara sekilas kalau kita melihat dan membandingkan angka RLS Kabupaten Kotabaru dengan kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kalimantan Selatan, maka sangat mudah kita untuk mengambil kesimpulan bahwa angka RLS di Kabupaten Kotabaru dalam taraf yang mengkhawatirkan. Padahal dalam membaca suatu indikator data kita harus mampu memaknai dengan memperhatikan latar belakang, kondisi wilayah, ekosistem usaha, karakter dan kearifan budaya lokal dari penduduk. Yang pertama harus diketahui adalah RLS dihitung dari penduduk usia 25 tahun ke atas dengan sumber data dihasilkan dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Jadi data jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal ditanyakan pada penduduk yang sudah berusia 25 tahun atau lebih. Karakter perekonomian Kabupaten Kotabaru adalah agraris, yang dibuktikan share perekonomian dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan serta sektor pertambangan dan penggalian sebesar 37,6%, dengan daya serap pekerja relatif rendah untuk penduduk yang berpendidikan tinggi yaitu SMA ke atas. Belum lagi sektor industri yang merupakan sektor dengan andil terbesar di Kabupaten Kotabaru, yaitu memberikan andil sebesar 33,95% juga daya serap pekerjanya sebagian besar membutuhkan tenaga kerja dengan pendidikan rendah. Hal tersebut menjadikan sebagian besar penduduk berpendidikan tinggi mencari kerja ke luar Kabupaten Kotabaru, yang daya serapnya lebih besar terhadap pekerja berpendidikan tinggi karena variasi jenis pekerjaan lebih banyak yang tersedia. Dengan kondisi tersebut, penduduk usia 25 tahun ke atas yang

berpendidikan tinggi dari Kabupaten Kotabaru banyak yang mencari kerja di daerah perkotaan. Maka bisa dilihat angka RLS di kota merupakan angka paling tinggi yaitu 10,2 di Kota Banjarmasin dan 10,96 di Kota Banjarbaru. Angka RLS yang lebih baik ini bukan semata karena Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru mampu mendidik manusia manusianya jadi lebih baik, tapi lebih karena daerah perkotaan “mengambil dan menghisap” tenaga-tenaga terdidik dari daerah lain. Kesempatan ekonomi yang lebih luas mengharuskan banyak tenaga terdidik lokal bermigrasi ke kota dan sekitarnya. Proses brain drain ini yang terus memperlemah daerah daerah di luar perkotaan seperti Kabupaten Kotabaru. Sehingga angka RLS bagi daerah dengan karakteristik perekonomian agraris cenderung rendah. Sebaliknya daerah dengan karakteristik perekonomian dengan daya serap tinggi untuk pekerja berpendidikan tinggi, maka angka RLS akan cenderung tinggi. Dari sudut pandang lain, ketika penduduk berpendidikan tinggi akan menyebabkan mereka merasa malas dan malu apabila bekerja di sektor agraris. Karena menganggap tidak sesuai dengan pendidikan yang mereka peroleh hasil dari mereka bersekolah bertahun tahun. Sehingga secara tidak langsung akan menjadi ancaman bagi pembangunan sektor pertanian, padahal sektor ini sebagai sektor utama penyumbang suplai pangan bagi penduduk. Jadi peningkatan angka RLS juga bisa menjadi penyebab berkurangnya tenaga kerja di sektor agraris, terutama pekerja dari kalangan generasi milenial. Di beberapa wilayah seperti daerah pemukiman yang berada di pinggiran dan di tengah hutan, orang tua merasa cukup anaknya asal bisa membaca dan menulis. Sehingga hanya perlu menyekolahkan anak sampai menamatkan pendidikan sampai Sekolah Dasar. Karena harus ada yang meneruskan mengelola lahan pertanian, kalau anak berpendidikan tinggi dan tidak mau lagi bekerja di sektor pertanian

maka usaha pertanian akan terbengkalai. Saat ini kondisi kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian dari kalangan muda sudah sangat terasa. Jadi pemerintah daerah harus secara berimbang melihat prioritas antara pentingnya kenaikan dimensi pendidikan terutama angka RLS yang tersaji dalam angka IPM. Karena IPM menjadi indikator makro penilaian kemampuan suatu daerah dalam membangun kualitas hidup penduduknya. Tapi di sisi lain sektor agraris juga harus tetap menjadi perhatian karena merupakan penjamin pasokan pangan penduduk. Langkah yang bisa diambil diantaranya pemberian beasiswa diarahkan pada jurusan pertanian sehingga walaupun penduduk sudah berpendidikan tinggi tapi tetap kembali ke daerah untuk membangun pertanian. Serta penciptaan ekosistem lapangan kerja yang mampu menarik penduduk berpendidikan tinggi untuk mendapat kerja di lapangan usaha yang masih ada di Kabupaten Kotabaru. Sehingga penduduk dengan pendidikan tinggi masih tinggal dan terdata di Kotabaru, dan yang terpenting masih menjadi bagian terpenting dari proses pembangunan di Kabupaten Kotabaru.

MUNGKIN, SIAPA TAHU, JANGAN-JANGAN

Oleh Kingking, pemuda medioker asal Tapin yang kadang suka nulis, kadang suka baca, kadang suka berkhayal dunia tanpa senjata. Oiya, juga suka Barcelona!

adahal manusia lahir lewat perantara Adam

P dan Hawa yang asyik bercinta, kok kita lebih

seneng petantang-petenteng senjata ketimbang ngasih bunga. Oh, mungkin kita emang didesain begitu, kan sejak masih berupa sel sperma kita dicetak buat saling berebut mendahului biar bisa membuahi sel telur, lalu jadi janin, dan lahir sebagai manusia. Setelah itu membangun koloni yang damai hanya dengan yang sama (ras, suku, agama, ideologi, dll) untuk menindas koloni yang berbeda. Ini cuman “mungkin” ya!

Hidayah bisa datang dari arah yang gak disangka-sangka. Dari potongan

lirik lagunya Jason Ranti, misalnya.

Siapa tau om-tante fasis, zionis, police, atau apa kek itu yang suka

marah dan murka bisa lebih kalem dan anteng abis denger Jeje nyanyi.

Ini cuman “siapa tau” ya! Tapi yang pasti rencana Tuhan lebih luas lagi

sebaik-baiknya dari rencana dan prasangka kita.

Bayangin kalo semua manusia punya prinsip gak mau ganggu orang dan gak mau memulai perang. Ya, bayangin aja dulu sambil berdoa yang tulus. Kita udah sering berdoa buat kedamaian tapi konflik masih jalan terus. Jangan-jangan pas berdoa hati kita penuh kebencian dan kecurigaan, atau bisa juga habis berdoa kita langsung main judi online. Tapi ini parah, ada juga yang gak bisa berdoa gara-gara rumah ibadahnya ditutup dan perkumpulannya dibubarin warga yang merasa bangga dan bener perilakunya kalo bubarin acaranya agama lain. Ah gatau ah. Berdoa itu hak semua pemeluk agama, mengabulkan doa itu hak prerogratifnya Tuhan, pusing kalo ikut-ikutan. Lagi-lagi ini cuman “bayangin dan jangan-jangan” ya! Tapi, apa bener ya kita alergi damai?***

NO JUSTICE PEACE

Wiji Thukul dan Seni Protes

Oleh Mario Hikmat, Pustakawan Asa Book Space

Hanya ada satu kata: Lawan! – Wiji Thukul

Potongan sajak di atas, mungkin tak asing bagi kita. Kita mungkin pernah membacanya di baju-baju mahasiswa, di poster-poster aksi, atau di tembok pinggiran kota yang ditulis oleh para seniman sebagai ekspresi protes. Seringkali, kita juga pernah mendengarnya ketika para aktivis melakukan demonstrasi di jalan raya untuk menuntut ketidakadilan.

Potongan sajak itu begitu magis. Ia menyatukan orang-orang untuk terus melawan. Ia menampar siapa saja yang gemar membuat rakyat hidup dalam tekanan. Sajak itu ditulis oleh seorang seniman rakyat yang ditelan ganasnya perselingkuhan antara kekuasaan dan kekerasan; Wiji Thukul.

Rezim otoriter-militeristik yang hidup menyelimuti pemegang kuasa Orde Baru (Orba); Soeharto, telah menjadikan

masyarakat Indonesia kembali terjajah. Kali ini, penjajah itu berasal bukan dari luar, tetapi dari dalam negeri sendiri. Kebebasan setiap orang untuk melakukan hal berbau protes terhadap pemerintah, dianggap aktivitas subversif, laku makar yang mengancam stabilitas nasional. Untuk menekan orang-orang yang dicap sebagai pembangkang, pemerintah Orba kerap menggunakan cara-cara yang tidak manusiawi; represi, penculikan, bahkan pembunuhan.

Ketakutan demi ketakutan untuk melakukan protes diproduksi terus-menerus oleh pemerintah Orba. Cara itu dianggap cocok untuk mengamankan kekuasaan. Jean Baudrillard, seorang pemikir asal Perancis, di dalam bukunya The Perfect Crime menjelaskan tentang “simulakrum kejahatan”, yaitu, kekerasan, horor, dan teror yang diolah sedemikian rupa, direkayasa, untuk menciptakan ketakutan massal. Apa yang dilakukan Orba terhadap masyarakat yang memberontak adalah memberinya citra sebagai hama, penjahat negara yang harus dibasmi dan disingkirkan. Dengan cara yang sama, pemerintah Orba melakukan pembantaian terhadap orang-orang komunis dan simpatisannya yang dianggap berkhianat terhadap negara.

Pemerintah Orba menjadi aktor utama dalam skenario kekerasan tersebut. Protes masyarakat yang bertujuan untuk membongkar kekejian rezim yang menindas orang-orang pinggiran, dibalas dengan tindakan-tindakan kekerasan yang sangat kejam. Mereka dihilangkan, dibuang, dan diakhiri hidupnya. Tak terkecuali Wiji Thukul –yang hingga hari ini masih tidak diketahui keberadaanya.

Wiji Thukul lahir pada saat Indonesia berada pada kondisi krisis. Transisi antara Orde Lama dan Orde Baru membuat Thukul harus menerima kenyataan bahwa ia terlahir sebagai orang yang

dimiskinkan secara struktural oleh negara. Terlebih pada saat itu, tiga tahun sejak ia dilahirkan, tampuk kekuasaan berpindah dari tangan Soekarno ke tangan Soeharto melalui kudeta; sebuah perpindahan kekuasaan menuju ambang kehancuran.

Menginjak usia dewasa, keadaan bangsa tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda berakhirnya ketidakadilan. Pemerintah Orba dan konco-konconya semakin kuat hasrat kapitalisitiknya. Pembangunan ekonomi hanya dipusatkan di ibukota negara, sedang di berbagai pelosok tertinggal dan tak kunjung menerima kemajuan.

Miskin bukanlah dosa, tetapi sungguh tidak enak. Sebagai orang yang dimiskinkan oleh negara, Wiji Thukul tetap tegar menghadapi hidup. Ia berusaha bertahan dan menghidupi dirinya dengan bekerja sebagai seorang loper koran, memburuh dan pekerjaan kasar lainnya. Kemudian atas dasar kondisi sosial politik pada saat itu, Wiji Thukul mencoba menanggapi persoalan kehidupan yang pelik disekitarnya dengan menulis puisi perlawanan yang ditujukan kepada negara sebagai bentuk protes.

Puisi dipilihnya sebagai jalan untuk menuangkan keresahan. Sebab puisi, kata-kata, adalah corong yang mampu menyampaikan permasalahan, khususnya bagi orang kecil. Dan, orang kecil itu bukanlah siapa-siapa melainkan dirinya sendiri, atau dalam bahasa Wiji Thukul sendiri, “Orang tertindas semacam saya.” Dengan demikian, lewat puisi-puisi yang ditulisnya, Wiji Thukul bicara tentang dirinya sendiri; seorang buruh pelitur, yang beristri tukang jahit, bapaknya tukang becak, mertuanya pedagang barang rongsokan, dan lingkungannya orang-orang melarat. Mereka semua masuk dalam “dunia” puisi Wiji Thukul, sehingga dengan membela diri sendiri ternyata puisi-puisinya juga menyuarakan hak-hak orang lain.

Dalam kajian estetika Marxis, karya seni harusnya merupakan hasil reproduksi tentang kehidupan nyata. Seorang seniman akan mencoba menghidupkan kembali pengalaman langsungnya tentang keberpihakan terhadap kenyataan sosial-politik melalui karya yang dibuatnya. Martin Suryajaya mengatakan, karya seni yang dihasilkan oleh para seniman ini (penganut estetika marxis) kebanyakan beraliran realisme sosialis atau pandangan bahwa karya seni adalah cerminan dari lingkungan sosial yang melatarbelakangi kelahiran sebuah karya.

Dalam perkembangannya, kita bisa menemui nama-nama seperti Gustave Courbet dan Emile Zola yang pernah mendapatkan kecaman karena beberapa karyanya sangat jauh beririsan dengan

persoalan keindahan. Karya mereka malah penuh dengan deskripsi tentang situasi sosial-politik yang pada saat itu banyak menuai kritik. Gustave Courbet dan Emile Zola mengambil keberpihakan pada kelas-kelas sosial yang tertindas dan kemudian membuat karya yang menggambarkan kekejaman sebuah rezim, sekaligus sebagai alat untuk mengkritik kondisi disekitarnya.

Di Indonesia sendiri, kita bisa melihat bagaimana perkembangan seni digunakan sebagai propaganda untuk mengkritik sebuah tatanan sosial. Kita akan mendapati Wiji Thukul yang menolak untuk bergabung dengan kelompok seniman yang mengamini bahwa seni hanya terkait dengan keindahan atau “seni untuk seni”. Thukul memilih untuk menyalurkan bakat keseniannya

melalui Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER) yang ia bentuk bersama teman-teman seperjuangannya.

JAKER sebagai alat perjuangan digunakan oleh Thukul untuk merangkul para seniman rakyat dari berbagai kota. Melalui JAKER, ia mencoba menjadikan karya seni sebagai alat untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah Orba. Puisi-puisi protes ia tulis dengan bahasa yang sederhana, bahasa rakyat miskin, bahasa buruh, bahasa keberpihakan kepada rakyat yang ditindas oleh rezim. Pada titik itulah seni berevolusi menjadi senjata perjuangan; seni protes.

Selain penyair yang giat menuliskan karya protes, Thukul juga merupakan pembaca yang rajin. Strategi kebudayaan yang ia tempuh dalam menyalurkan protes terinspirasi dari salah seorang seniman Brazil, Augusto Boal. Seniman Brazil ini menggunakan teater sebagai alat menghancurkan budaya bisu –budaya yang membuat rakyat tak berani berbicara apa adanya.

Kesenian, puisi, dan kata-kata, adalah media bagi Thukul untuk mengajukan protes terhadap kekuasaan. Hidup ditengah kondisi negara yang memperlihatkan kesenjangan sangat parah membuat Thukul resah. Ia mengorganisir teman-temannya untuk mogok kerja, puisinya dianggap sebagai provokasi yang melatarbelakangi agenda penentangan terhadap kekuasaan. Bagi Thukul, puisi atau karya seni harus mampu menjadi jalan penyadaran yang mampu mengajak semua elemen masyarakat memiliki kesadaran kritis terhadap realitas kehidupan yang sedang dijalani.

Kata-kata adalah senjata. Thukul memang cadel, ia “cacat” wicara, tapi pribadi dan karya-karyanya dianggap sangat berbahaya. Dengan sangat indah Thukul menuliskan puisinya yang yang legendaris berikut ini.

PERINGATAN

Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik-bisik Ketika membicarakan masalahnya sendiri Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gawat Dan bila omongan penguasa Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: LAWAN!

(Wiji Thukul, 1986)

Kekalutan tergambar dalam puisi Wiji Thukul di atas. Saat Soeharto mempin rezim Orba, masyarakat berada dalam kondisi yang gelisah. Ketika ada aktivitas masyarakat yang dicurigai dapat mengganggu kemanan negara, rezim ini akan langsung membungkam semua aktivitas tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang dibunuh diam-diam, dan diculik hingga tak pernah ada kabarnya hingga sekarang. Bagi Oscar Wilde, “pembangkangan, bagi mereka yang pernah membaca sejarah, adalah kualitas terbaik manusia. Melalui pembangkanganlah kemajuan dicapai, melalui ketidakpatuhan dan pemberontakan”. Maka Thukul dengan sangat bersemangat menuliskan sajak yang pada ahirnya mampu memicu masyarakat untuk menyusun strategi pemberontakan terhadap kekuasaan. Maka hanya ada satu kata: LAWAN!

Meski pada akhirnya Thukul diketahui masuk dalam jajaran orang-orang yang dihilangkan oleh Orba, karya-karyanya yang berbau protes tetap hidup dan berlipat ganda. Puisi yang ditulis Thukul tak hanya sebatas karya sastra, puisi-puisinya adalah sketsa biografis, gagasan, dan seni protes. Yang lebih penting lagi, karya Thukul adalah potret sejarah perlawanan masyarakat Indonesia yang ditindas oleh kekuasaan negaranya sendiri.

Tim buku TEMPO menulis, “Thukul mungkin bukan penyair paling cemerlang yang pernah kita miliki. Sejarah Republik menunjukkan ia juga bukan satu-satunya orang yang menjadi korban penghilangan paksa. Tapi Thukul adalah cerita penting dalam sejarah Indonesia yang tak patut diabaikan.” ***

Foto: Ben Bouvier (unsplash.com)

大志享

TIGAPUISI WAWAN KURNIAWAN REKAYASA REKAYASA KETIADAAN

Di Minggu Pagi Saat Kau Melihat Jalanan Sebagai Titik Ketakutan

di belakang nasib orang-orang malang di hadapan cuaca musim kemarau panjang

kau berjalan mencari liburmu sendiri memasuki rimbun keterasingan yang lapang tersesat di hutan, menanti satu dua pohon berbagi isyarat lewat suara daun kering atau retak ranting yang berserakan.

kau bahkan tak mengingat lagi, sejak kapan depresi mengingat kontrak menjabarkan pasal demi pasal yang mesti kau jalani di awal dan akhir bulan, tanggal-tanggal tak pernah mer- ah meski kau telah sepenuhnya marah kepada segala arah

di hidupmu yang aku bahkan tak mampu menjadi apa-apa dan kau menjadi kutukan untuk dirimu sendiri

aku adalah beban kerja lain dan jam-jam membosankan yang membantumu menghela napas panjang lebih rutin dari semestinya

di samping kebahagiaan-kebahagiaan masa kecil di atas puncak kesedihan orang-orang kalah,

kau berjalan mencari liburmu sendiri saat kuhitung hari-harimu yang resah dan penuh tak sengaja kutemukan diriku yang telah menjadi sebuah persetujuan bagi segala ketakutan hidupmu di kontrak kerja yang tak akan pensiun.

Rekayasa-Rekayasa Ketiadaan

senang saat kau datang

sebelum kita pulang bersama atau terpisah setelah setiap ketiadaanmu berarti satu dan lain hal

seseorang mesti bertanya tanpa henti dan berhati-hati bagaimana rasa dan bentuk kehidupan?

seseorang terdiam mengamati jendela semalaman dan mengira-ngira apa yang hendak diberikan hari esok selain ketakutan — iyakan?

seseorang tidak ingin belajar lagi bagaimana memahami setelah meyakini jika kehadiranmu cukup memastikan sebuah kotak muat di kepalanya yang persegi

hingga dia melihat sebuah bola yang dimainkan anak-anak di lapangan hijau rumput, biru langit, sepoi angin sore dia berniat, mengganti sebuah kotak dengan bola — yang mungkin penuh keterpaksaan, namun itulah ingin: satu dan lain hal!

Pada Malam Itu Setelah Kujatuhkan Kecemasanku

keping-keping waktu menempel di telapak tangan yang basah.

kau atau aku akan mencari saat kita mulai mendengar kesunyian masing-masing.

beri aku pelukan sekali lagi, tubuhku telah hilang sendiri bahkan setelah kujatuhkan kecemasanku yang bertumpu pada matamu.

apakah jalan kepulanganmu adalah ketiadaanku pada malam itu, yang nanti kau lupakan dengan mudah saat kau sembuh dan tumbuh seperti keinginanmu.

apakah aku adalah penyeselan yang belajar menolak dirinya dan bertahan sebagai kebahagiaan, diam, sementara, sendiri dan sirna.

pada malam itu setelah kujatuhkan kecemasanku akulah cermin yang kau punggungi kian semu menyimpan bayang-bayang meski tuntas merekam parasmu.

beri aku pelukan sekali lagi, sebelum kau menjauh pada suatu waktu atau menghilang dan merayakan ingatan baru tanpa perlu aku lagi

ada.

Wawan Kurniawan, menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan beberapa karya. Beberapa karyanya, Kumpulan Puisi: Persinggahan Perangai Sepi (2013), Sajak Penghuni Surga (2017), Museum Kehilangan (2021). Kumpulan Cerita Pendek pertamanya terbit Maret 2021 dengan judul “Aku Mengeong” oleh Penerbit Indonesia Tera.