#2
GERUNUM
Babak Kedua September, 2024
Diasuh oleh: Asa Book Space
Penata Letak: Mario Hikmat
Kontributor: Hajriansyah Firnasrudin Rahim Rahmat Akbar Rofifah Uzdah
Infaq dan Sedekah: DM instagram Asa Book Space
Instagram: @asabookspace
GERUNUM
Dianjurkan mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan atau tanpa izin penulis
SEKILAS EDITORIAL
GERUNUM semacam terbitan berkala memuat apapun; esai, foto,
ilustrasi, keluh-kesah, dan lain-lain. GERUNUM yang dalam bahasa Banjar artinya “ngomel” diluncurkan dengan semangat belajar sekaligus membuka diri terhadap segala omelan masyarakat yang tampak dan termaknai sebagai bentuk pengetahuan, praktik, maupun kebijaksanaan lokal yang menjadi laku sehari-hari masyarakat yang berumah di Indonesia bagian eksploitasi. Dibuat oleh Asa Book Space dengan spirit berbagi
GERUNUMitu sedekah. GERUNUM ingin mengarsip dan mendokumentasikan
segala macam hal-hal yang ditemui di daerah terpencil sebagai suara yang terpinggir dan nyaris tak terdengar. Kami berharap semua pembaca dapat mengambil pelajaran atas terbitan ini.
ASA BOOK SPACE merupakan ruang bertemu. Ke;ompok studi.
Menyediakan buku, majalah, zine, permainan edukasi untuk anak, alat menggambar, dan obrolan-obrolan seputar kehidupan anak muda dan budaya populer.
Pandiran di Warung Mama Inun: Akademis
Oleh Hajriansyah, Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin
“Situ tahulah apa maksud dari kata ‘akademis’ tu?”
Tiba-tiba suara Anglung memecahkan suasana pagi di warung Mama Inun. Kontan, Labai dan Anggasina terhenyak mendengar pertanyaan yang tak umum semacam itu. Ya, biasanya Anglung lebih banyak diam saat duduk di warung. Paling banter, ia hanya tertawa merespon pembicaraan yang hilir-mudik tak jelas arahnya biasanya.
“Hanyar ini nah, sorang mendengar kata ‘akademis’,” Anggasina yang pertama merespon pertanyaan aneh itu.
“Ya, maksud situ apa? Akademis tu apa?” timpal Labai.
“Sorang kada tapi paham jua. Tapi malam tadi, pas sorang handak guring, pas kalap-kalapan, sorang mendangar suara Lamut samar-samar di telinga, ‘di langit wahini ada sindrom akademis’ ujar.” Sambil bicara Anglung mengambil rokok yang tinggal sebatang di kotaknya. Ketika api menyala di ujung kreteknya, serpihan tembakau meloncat ke pahanya. Kontan, seperti orang kamandahan, ia berdiri dan menepuk-nepuk kain celananya.
“Jangan tapi ditapak, kalo pina pancat burung pian kena,” Mama Inun menimpali dari belakang etalase jualannya sambil tersenyum menggoda. Labai dan Anggasina tertawa bersamaan melihat tingkah Anglung yang tidak seperti biasanya.
Anglung lalu duduk sambil tersipu-sipu. Diletakkannya batang rokoknya di pinggir meja, diangkatnya secangkir kopi yang mulai dingin ke mulutnya. Suasana mulai hening ketika Anglung menikmati kopi pahitnya.
Labai menjumput roti pisang dari balik etalase.
“Dihitung tu, lah, berapa buting sudah meambil wadai.” Ujar Anggasina di ujung bangku berhadapan dengan Labai, di sisi kiri etalase. Labai cuek menggigit roti pisang dingin yang menebal rasanya di bibirnya.
“Wahini, ada sindrom akademis, semacam kekhawatiran, bahwa di langit orang harus bersikap akademis jika ingin mengkritik sesama petinggi langit, terkait kebijakannya.” Anglung menyambung pembicaraannya. “Sorang kada tapi paham jua maksud Lamut tu, tapi kayanya ini penting untuk kita dengar dan renungkan sama-sama.”
“Ya, sorang mendengarakan,” seru Anggasina.
“Tapi, apa maksud ‘akademis’ tadi? Lawan, apa pulang tambahan ‘sindrom’ itu jua?”
“Nah, maka tadi sorang padahkan panderan Lamut, ‘semacam kekhawatiran’. Uraiannya, bahwa para pengkritik itu sebenarnya bisa jadi pemain jalanan, dan pemandirannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.” Kata Anglung sambil menggaruk kepalanya. “Yang sorang kada tapi paham jua, maksud akademis itu tadi, yang pasti ada tujuannya. Artinya, pasti ada nang dituju oleh-karena panderan akademis itu tadi.”
“Makin tepuntal am kasetnya ni.” Anggasina menuangkan air putih ke gelas tehnya yang sudah kosong. Labai yang sudah menghabiskan roti pisangnya, menarik sebatang rokok dari bungkus di hadapan Anggasina. Ia sengaja menyampiri Anggasina, karena mulutnya sudah kosong sejak suluman terakhir tadi.
“Malam tadi jua, karena kada karuan rasa lawan panderan Lamut tu, sorang mambulangkiri lemari peninggalan ayah nang isinya buku-buku tu. Sorang ingat di situ ada kamus bahasa Indonesia. Kurang lebih setengah jam-an hanyar sorang tedapat arti kata ‘akademis’ tu.”
“Jadi, apa artinya, Lung!” ujar Labai dan Anggasina hampir bersamaan.
“Sabar dahulu, sorang handak minjam mancis dulu. Pajah rokok sorang, nah.”
“Nah, nah...” Anggasina menyorongkan api ke mulut Anglung. Ujung kretek menyala, menggeretak bunyi irisan daun kering di ujung mulut Anglung.
“Tapi kada cukup kamus bahasa Indonesia sampai sorang lalu paham maksud kata ‘tu, sorang membuka jua beberapa buah perukunan nang lain, hanyar tebuka pikiran sorang.”
“Uma lah, sampai seitunya.” Timpal Anggasina.
“Parak subuh ari, hanyar sorang kawa guring, imbah menyimpunakan lemari ayah tu.”
“Dasar, kada gegampangan Lung, lah...” sambung Labai.
“Apa tadi artinya ‘akademis’ tu?” Mama Inun bersuara sambil lewat mengantarkan segelas teh manis ke Abah Inun yang baru datang dan duduk di bangku di bawah pohon, menghadapi papan catur dan Julak Larau.
“Naa...” ujar Labai memerotkan bibirnya. “Apa jua, Lung?”
“Menurut kamus, akademis artinya ‘mengenai atau berhubungan dengan akademi; bersifat ilmiah—ilmu pengetahuan’. Sedangkan ilmu, artinya ‘pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat menerangkan gejala-gejala tertentu...’ sampai di situ gin!” Anglung memutus keterangannya sendiri,
karena dilihatnya wajah kawan-kawannya berubah menjadi aneh. “Nah... Akademisi adalah orangnya, yaitu orang-orang yang berpendidikan tinggi.” Anglung merasa harus mengucapkan kalimat terakhir ini.
“Bah, kada ngerti sorang Lung, ai. Tapi tadi sorang dangar situ bepadah ini tekait panderan Lamut masalah mengkritik, kalo? Mun itu sorang paham maksudnya.” Anggasina menyambung, “Mun sorang, mun kelakuan petinggi tu dasar kurang beres, maka di situ jua tagantung panghidupannya kita, sorang hantup tu, pang! Kada begaduh tinggi wan randahnya. Mama Inun, berapa nih semuaan, pun Anglung wan Labai jua? Sorang handak bulik dulu, sakit kepala sorang mendangar panderan Anglung ni.”
Malamnya, pas handak guring, pas kalap-kalapan, suara Lamut mengiang pulang di telinga Anglung. “Pintar nyawa beagak Lung, lah. Kesah mambulangkiri lemari kuitan, lah. Ngaran unda pulang nyawa bawa- bawa.” Anglung tertidur, wajah polosnya semacam tersipu-sipu kekanak- kanakan.
Keiko “Convenience Store Woman”
dalam tinjauan psikoanalisis
Oleh Firnasrudin Rahim, Pembeli Buku Diskon
Convenience Store Woman (GPU, 2020) karya Sayaka Murata adalah sebuah novel yang bercerita tentang perjalanan seorang perempuan yang bernama Keiko untuk menjadi normal menurut standar masyarakat. Di minimarket, Keiko menemukan dirinya yang baru, yang ia gunakan untuk mendapat tempat dalam struktur sosial masyarakat.
Keiko cukup kesulitan untuk menemukan tempat di masyarakat. Hal ini ia alami dimulai sejak Keiko masih duduk di bangku sekolah. Pernah ketika Keiko masih di taman, saat itu ada seekor burung mati di taman. Burung tersebut tergelatak dengan leher patah dan mata terpejam. Ketika anak-anak lain di taman berkumpul dan berkata “bagaimana ini..?” belum selesai obrolan mereka burung itu telah ada ditangan Keiko. Dan Keiko segera membawa kepada ibunya. Sesampai di ibunya, lantas si ibu bertanya “ada apa Keiko? Duh, burung kecil yang malang! Kata ibu Keiko dengan lembut sambal mengusap kepala Keiko. “Kasihan sekali, ayo kita kuburkan! Lanjut sang ibu.
“Ayo kita makan dia! Kata Keiko”
“Ayah suka yakitori, jadi nanti malam kita makan ini saja” lanjut Keiko
Yakitori adalah makanan khas jepang yang umumnya menggunakan daging ayam. Umunya penyajiannya daging dipotong kecil-kecil kemudian
ditusuk dengan tusukan bambu lalu dibakar/dipanggang.
Pernah juga, Keiko harus berurusan dengan guru di sekolahnya. Pertama, karena telah memukul kepala salah satu anak yang sedang bertengkar dengan niat untuk menghentikan pertengkaran mereka. Dan kedua, ketika Keiko menarik rok gurunya yang sedang teriak marah-marah depan kelasnya. Saat melakukan tindakan itu, Keiko merasa apa yang ia lakukan telah tepat untuk menenangkan temannya yang sedang bertengkar dan juga ketika menenangkan gurunya yang sedang marah. Ia menjelaskan bahwa Keiko pernah melihat di TV, seorang perempuan dewasa terdiam ketika ditelanjangi.
Setelah peritiwa itu, Keiko berhenti untuk mengambil tindakan sendiri dan lebih meniru orang lain atau mengikuti instruksi orang lain. “Dengan begitu orang dewasa sepertinya lega melihatku tidak berbicara banyak lebih dari pada yang dibutuhkan dan berhenti mengambil tindakan sendiri” kata Keiko. Namun, justru muncul masalah baru ketika Keiko duduk di bangku SMA. Baginya diam adalah cara terbaik dan rasional untuk menjalani hidup di masa SMA. Di buku laporannya tertulis “bertemanlah dan perbanyak bermain di luar”. Dan hal ini berlangsung hingga Keiko melanjutkan Pendidikan Tingginya dan menyelesaikan pendidikannya.
Proses Keiko belajar dari luar dirinya membawa saya pada salah satu tokoh Psikoanalisis yaitu Jaques Lacan dengan pernyataannya tentang pembentukan identitas subjek. Lacan memulainya dengan tahap cermin. Yang mana tahap ini ia istilahkan dengan problem identifikasi diri. Fase cermin, bagi Lacan, terjadi sejak bayi mencapai usia enam bulan. Pada tahap ini, sang anak belum mampu mendiferensiasikan dirinya dan dunia di sekitarnya—dengan kata lain, ia belum mengerti dirinya. Pengertian tentang diri ini didapat melalui citra (imago) tentang dirinya di hadapan “cermin” tentu saja, cermin ini dapat dimengerti tak hanya secara harfiah melainkan juga secara metaforis, misalnya dalam bayangan di permukaan air atau refleksi-diri sang bayi di mata ibu. Dengan kata lain, diri diperoleh melalui persepsi tentang citra visual (l’image speculaire) tentang dirinya.
Pada tahap ini anak mengidentifikasi diri pada citraannya yang ada di cermin. Dorongan anak mempersepsikan citraan di cermin sebagai dirinya merupakan hasratnya untuk memiliki identitas. Momen ini akan
senantiasa bekerja dalam rentang hidup manusia. Manusia memiliki dimensi imajiner dalam hidup psikisnya, yaitu kecenderungan untuk mengidentifikasikan diri dengan diri ideal.
Upaya Keiko mengidentifikasi diri dan mempermantap identitas dirinya ketika ia menghubungi sebuah nomer telepon yang tertera pada poster lowongan pekerjaan yang terpajang di salah satu minimarket. Dan berlangsunglah proses wawancara. Wawancara berjalan dengan mudah dan ia langsung diterima. Keiko diminta untuk ikut dalam pelatihan karyawan minggu depan.
Dihari pelatihan untuk pegawai baru tiba, para karyawan berkumpul, ada perempuan dan laki-laki dari latarbelakang yang berbeda-beda. Keiko segera diberikan seragam beserta aksesoris lengkap seorang pegawai toko. Hal pertama yang dilatih adalah cara berekspresi dan cara mengucapkan salam yang digunakan di toko. Sambil memandangi poster contoh tersenyum, Keiko mengangkat sudut mulut mengikuti wajah yang ada di poster itu. Punggung ditegakkan dan sapaan “Irasshaimse!”. Itu mereka praktekkan secara begiliran.
Dua minggu menjelang pembukaan toko, Keiko dan karyawan lainya dibagi secara berpasangan untuk berlatih sebagai seorang karyawan toko. Berlatih mengucapkan sapaan, menatap mata pelanggan, menata produk dan lain-lainya. Keiko merasa tertarik, dengan lingkungannya selama pelatihan. Yang mana para karyawan itu terdiri dari, mahasiswa, laki-laki pemain band, pegawai paruh waktu permanen, ibu rumah tangga, hingga pelajar SMA.
Tiba waktunya hari perdana pembukaan toko. Begitu toko dibuka terasa bahwa semua ini “nyata”, itu yang di rasa oleh Keiko. Ia mendapati pelanggan pertama perempuan lanjut usia dan diikuti barisan pelanggan lainya. Pandangan Keiko terpaku pada barisan orang yang membawa kupon diskon onigiri atau bento. Tak sadar Keiko diingatkan oleh manejernya “Furukura-san, jangan lupa menyapa palenggan”. Seketika Keiko mengucapkan “Irasshaimase!” saat ini ada promo pembukaan, silahkan melihat-melihat. Setelah itu, Keiko dengan cermat mengikuti setiap panduan sebagai seorang pegawai toko.
Menjadi seorang karayawan paruh waktu di sebuah minimarket, Keiko mulai mendapat tempat dalam struktur sosial masyarakat yaitu karyawan
minimarket. Keiko mengatakan dirinya saat ini adalah bentukan orang-orang disekitarnya. Ia menambahkan tiga puluh persen berkat Izumi, 30 % berkat Sugawara, 20 % berkat manajer dan sisanya berkat orang-orang dari masa lalu seperti Sasaki yang berhenti setengah tahun lalu dan Okasaki. Bahkan Keiko merasa cara bicara telah dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya yaitu di minimarket.
Hal ini kembali membawa saya pada pandangan Lacan bahwa subjek manusia itu diwakili oleh bahasa, objek-objek khusus yang disebut “kata-kata”. Istilah teknis Lacan untuk “kata” adalah “penanda”. Bilamana seseorang berbicara atau menulis, ia selalu mewujudkan diri dengan bahasa, dengan penanda-penanda. Ia juga menambahkan kesadaran Konsep tatanan simbolik ini, Lacan hendak memetakan wilayah ketidaksadaran manusia. Yang dimaksud Lacan dengan ranah simbolik adalah struktur penandaan dan bahasa. Menurut Lacan melalui Penanda-penanda subjek itu dapat mewujudkan dirinya. Penanda-penanda ini tersaji dalam bentuk tulisan, nasihat, sindirian, tuturan, larangan, aturan dan larangan yang lebih jauh Lacan sebut sebagai Hukum hasrat. Menurut Lacan subjek terlahir dari serangkaian proses internalisasi hukum hasrat.
Menurutnya kelahiran subjek juga ditandai dengan keterbagian secara internal, yakni subjek yang-menyatakan dan subjek yang-mengutarakan. Istilah ini diambilnya dari teori linguistik tentang pernyataan dan pengutaraan. Lacan memakainya untuk menjelaskan perbedaan tingkat kesadaran dan ketidaksadaran dalam laku berbahasa. Subjek yang-menyatakan adalah subjek yang secara sadar menyatakan apa yang dipikirkannya kepada orang lain, lain halnya dengan subjek yang-mengutarakan, ada landasan tak sadar dari pernyataan tersebut. Maka pernyataan yang dinyatakan oleh subjek dapat berarti lain jika ditilik dari intensi tidak-sadarnya. Inilah yang disebut Lacan sebagai subjek-terbagi. Yang artinya dalam tindakan berbahasa sehari-hari pun seorang subjek bertindak dibimbing oleh yang-Lain persis karena ketidaksadaran (yang merupakan sumber asali dari setiap laku berbahasa) merupakan wilayah operasi yang-Lain melalui struktur penandaan.
Beginilah bagaimana sehingga Keiko memperoleh sebuah identitas sehingga ia mengganp bahwa dirinya telah mendapat tempat di masyarakat. Mungkin Keiko menyadari bahwa apa yang menggerakkan
dia sejak ia masih duduk di bangku SD hingga perguruan tinggi dan dunia kerja adalah hasrat. Hasrat untuk menjadi bagian dari masyarakat, mengkonsumsi pananda-penanda dan berusaha taat pada hukum hasarat dan apa pun yang disajikan oleh yang-lain.
Manusia sejak dilahirkan hingga melepaskan diri dari kesatuan-kesatuan eksistensial dalam dunia Real selalu mengalami kekurangan-kekurangan (lack), manusia dianggap selamanya berlubang. Kekurangan-kekurangan yang ada pada Keiko ia lengkapi ketika ia di Minimarket. Ia mendapatkan semuanya, perasaan keterpenuhaan, perasaan menjadi utuh. Hal ini lah yang membuat Keiko akhirnya tetap kembali ke dunia Minimarket. Padahal Keiko sempat mengambil keputusan untuk meninggalakan Minimarket dan mencari pekerjaan tetap dan bukan paruh waktu penuh. Namun, semenjak meninggalkan Minimarket Keiko merasa ada lubang besar yang tiba-tiba muncul. Ada ruang kosong yang belum ia rasakan sebelumnya. Ia memutuskan untuk kembali dan menemukuan dirinya di Minimarket.
Informasi Buku:
Judul: Convenience Store
Penulis: Sayaka Murata
Penerbit: GPU
Tahun Terbit 2020
164 Halaman
DARURAT
Oleh Rahmat Akbar, penyair dan pendidik
Rabu 27 November 2024 hasil itu mulai di dapat Ketika rakyat memilih dengan semangat Atas dasar visi dan misi yang dianggap tepat Suara tergadai dalam kesatuan yang kuat
Tiga kandidat akan mengatur siasat Ada “Hebat”, HI ikut terlibat Slogan “Bisa” mulai merakyat Atau “Lanjutkan”, kata perempuan yang hanya melihat-lihat
Lima tahun mereka akan di daulat Pemimpin wajib bermanfaat Jangan sesekali merasa nubuat Karena Nabi dan Rasul sudah habis didapat
Di kota ini kita akan melihat Apakah mereka tersesat Atau taat berpihak pada rakyat Tanpa membuat cerita sesaat
Keparat, semakin Darurat Apabila kebijakan di tutup rapat, aparat ikut terlibat Dan kita semua dibungkam untuk berpendapat Maka hanya ada satu kata “bejat”
Kotabaru, 5 September 2024
7 SEPTEMBER 2004 MUNIR DIBUNUH
KARENA MEMBELA HAKMU
-FRDSTVY-
Rahasia Dari Langit
Oleh Rofifah Uzdah, Pustakawan Asa Book Space
Kurebahkan diriku dengan berbantalkan buku yang baru selesai kubaca. Dalam hati, aku meniatkan diri untuk memulai membaca buku yang lebih tebal. Buku-buku tebal habisnya lebih lama, dan lebih enak dijadikan bantal. Hari masih gelap ketika kuputuskan untuk membuka mataku. Aku menengadah, melihat bintang-bintang melalui atap yang sudah setengah hancur. Aku ingin tidur lagi sebentar.
Malam ini langit terlihat begitu cerah. Cerah dengan bintang-bintang yang seakan tak akan pernah mau meninggalkan sang langit dan ingin terus bersamanya. Dengan langit malam yang begitu mempesona, kuputuskan untuk betul-betul memperbesar intensitas cahaya masuk ke penglihatanku. Aku tersadar, ada sesuatu dalam tempurung kepalaku yang harus kutuangkan ke dalam bentuk tulisan. Malam ini juga harus selesai, pikirku. Aku tak mau sesuatu ini nantinya hanya akan jadi seonggok sampah.
Kuingat-ingat kembali apa yang harus kutuliskan. Ada tiga hal yang harus aku pilih salah satunya untuk aku tuang kedalam bentuk cerita mini. Pohon ilmu sosial, falsafah kesehatan, ataukah metamorfosis pengetahuan dalam konstruksi peradaban dunia. Wacana yang menurutku tak begitu susah ketika aku harus berpendapat saja secara lisan. Namun sialnya, kali ini aku harus menuliskannya. Lebih sialnya lagi karena sebelumnya aku belum pernah menulis hal-hal yang berbau seperti ketiga wacana itu.
Malam semakin larut, namun belum juga kuputuskan “siapa” dari ketiga wacana tersebut yang benar-benar akan aku tuliskan. Belum ada yang memenangkan hati dan menarik perhatianku. Kutatap bintang yang dari tadi terlihat cemburu karena kuabaikan lantaran ketiga wacana itu. “Lucu, mengapa bintang begitu cemburu?” pikirku. Bintang malam ini benar-benar begitu aneh.
“Pohon ilmu sosial? Apa itu?”
Aku sangat kaget ketika mendapati bintang berbicara padaku.
“Ada apa denganmu, bintang?” sahutku.
Aku menunggu jawaban dari bintang. Satu menit… lima menit… Agak lama aku menunggu, satu jam, dua jam... aku ingin tidur, sebentar. Bintang tiba-tiba mengacuhkanku. Aku memutuskan untuk menjawab pertanyaan bintang melalui cerita mini yang harus kutuliskan itu. Mungkin ini adalah pencerahan untukku, karena sejak tadi aku tak tahu harus memilih siapa, dan bintang datang dengan begitu tiba-tiba dan pergi dengan begitu tiba-tiba juga.
Pohon ilmu sosial. Apa yang sedang aku pikirkan? Awalnya aku hanya berasumsi bahwa pohon ilmu sosial adalah bagan-bagan atau mind map yang akan menjelaskan secara garis besar tentang spektrum pemikiran ilmu sosial, ilmu yang mempelajari tentang bagaimana kita, manusia sebagai makhluk sosial, makhluk yang senantiasa tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
Sudah pukul 03.28 dini hari waktu setempat. Aku masih terjaga, ditemani sang langit. Kulanjutkan tulisanku tentang pohon ilmu sosial itu. Pohon ilmu sosial, berbicara tentang paradigma atau pandangan yang hanya dimiliki oleh ilmu sosial itu sendiri. Paradigma ini melahirkan tiga paradigma dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Paradigma fakta sosial yang memberikan pandangan tentang bagaimana kelompok masyarakat mempengaruhi individu, paradigma definisi sosial memberikan pandangan bagaimana seorang individu mempengaruhi masyarakat, dan perilaku sosial dimana keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian merupakan bahan pertimbangan untuk melakukan sesuatu. Ketiga paradigma ini saling terkait, tak terpisah satu sama lain.
Paradigma tersebut kemudian dikenal dengan paradigma sosiologi,
“Tiga Satu”, Mario Hikmat
yang dikemukakan oleh Emile Durkheim (1858-1917). Sebagai suatu konsep, istilah paradigma (paradigm) pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution (1962). Kuhn berpendapat bahwa ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi oleh suatu paradigma tertentu, yang dimana kemudian paradigma itu bisa diterima oleh masyarakat secara universal (normal science).
Tak dapat juga dipungkiri bahwa akan ada pertentangan-pertentangan ataupun penyimpangan yang terjadi (anomalies) karena tidak mampunya paradigma yang sebelumnya (paradigma I) memberikan penjelasan terhadap persoalan yang timbul secara memadai. Selama penyimpangan memuncak, suatu krisis akan timbul dan paradigma itu sendiri mulai diasingkan validitasnya. Bila krisis sudah demikian seriusnya, maka suatu revolusi akan terjadi dan paradigma yang baru akan muncul sebagai yang mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh paradigma sebelumnya. Jadi dalam periode revolusi itu terjadi suatu perubahan
besar dalam ilmu pengetahuan.
Paradigma yang lama mulai menurun pengaruhnya, digantikan oleh paradigma baru yang lebih dominan. Dalam ilmu sosial, banyak kemudian teori-teori yang muncul, Auguste Comte dengan Hukum Positivistiknya (Teologis, Metafisis, Positivistis), Sigmund Freud dengan Teori Psikoanalisis-nya, Jaqques Derrida dengan Teori Dekonstruksi Teks-nya, hingga Jean Baudilard dengan teori simulakranya.
Fajar mulai merekah, bintang-bintang yang tadinya menemani langit malam nan mempesona, kini telah hilang. Bintang yang tadi bertanya, tak pernah muncul lagi hingga fajar digantikan oleh mentari yang bersinar terang. Aku berpikir sejenak, memikirkan beberapa hal. Paradigma yang jadi normal science saat ini adalah bahwa bintang tak bisa berbicara. Sama halnya dengan teori yang dikemukakan oleh H. L. Blomm mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan. Tak ada yang bisa membantahkan kedua hal tersebut hingga saat ini. Bagaimana aku memberitahukan ke orang-orang bahwa aku terinspirasi dari bintang di kolong langit sana untuk menjelaskan pohon ilmu sosial? Atau ini akan menjadi rahasiaku berdua selamanya? Entahlah. Sudah pukul 06.01 pagi waktu setempat. Aku ingin tidur, sebentar.