Baca PDF (OCR): GERUNUM #1

20 halaman · 3 halaman diproses dengan OCR· 1649 ms

Daftar isi
  1. 1
  2. GERRUM
  3. Babak Kesatu
  4. Diasuh oleh:
  5. Penata Letak:
  6. Kontributor:
  7. Infaq dan Sedekah:
  8. Instagram: @asabookspace
  9. GERUNUM
  10. SEKILAS EDITORIAL
  11. GERUNUM semacam terbitan berkala memuat apapun; esai, foto,
  12. GERUNUMbagian eksploitasi. Dibuat oleh Asa Book Space dengan spirit berbagi
  13. ASA BOOK SPACE merupakan ruang bertemu. Ke;ompok studi.
  14. Mencari Episteme, Praktik Alternatif, dan
  15. Model Tata Kelola: Catatan Kecil Lawatan
  16. ke Aruh Sastra XX
  17. Oleh Mario Hikmat
  18. Cakemind by Rofifah Uzdah
  19. TOPENG SANG MEDIA
  20. Oleh Rofifah Uzdah
  21. Dendang Kekalahan Kelas Pekerja
  22. Oleh Mario Hikmat
  23. TAPERA
  24. 2024

1

GERRUM

Babak Kesatu

Juli, 2024

Diasuh oleh:

Asa Book Space

Penata Letak:

Mario Hikmat

Kontributor:

Mario Hikmat Rofifah Uzdah

Infaq dan Sedekah:

Hubungi Nama Pertama Kontributor

Instagram: @asabookspace

GERUNUM

Dianjurkan mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan atau tanpa izin penulis

SEKILAS EDITORIAL

GERUNUM semacam terbitan berkala memuat apapun; esai, foto,

ilustrasi, keluh-kesah, dan lain-lain. GERUNUM yang dalam bahasa Banjar artinya “ngomel” diluncurkan dengan semangat belajar sekaligus membuka diri terhadap segala omelan masyarakat yang tampak dan termaknai sebagai bentuk pengetahuan, praktik, maupun kebijaksanaan lokal yang menjadi laku sehari-hari masyarakat yang berumah di Indonesia

GERUNUMbagian eksploitasi. Dibuat oleh Asa Book Space dengan spirit berbagi

itu sedekah. GERUNUM ingin mengarsip dan mendokumentasikan segala macam hal-hal yang ditemui di daerah terpencil sebagai suara yang terpinggir dan nyaris tak terdengar. Kami berharap semua pembaca dapat mengambil pelajaran atas terbitan ini.

ASA BOOK SPACE merupakan ruang bertemu. Ke;ompok studi.

Menyediakan buku, majalah, zine, permainan edukasi untuk anak, alat menggambar, dan obrolan-obrolan seputar kehidupan anak muda dan

Mencari Episteme, Praktik Alternatif, dan

Model Tata Kelola: Catatan Kecil Lawatan

ke Aruh Sastra XX

Oleh Mario Hikmat

Jumat pagi saya harus bangun cepat kalau ingin ikut rombongan Dewan Kesenian Daerah Kotabaru berangkat menuju Aruh Sastra XX Kalimantan Selatan di Banjarmasin. Telpon genggam berdering. Sebuah pesan masuk. Saya diminta segera bersiap. “Bus sudah menunggu di depan sekretariat”. “OTW”, balas saya.

Saya tiba di DKD dengan kepala pening karena kurang tidur, setelah begadang mengerjakan laporan kantor. Seorang kawan telah meyiapkan tempat duduk, merapikan perlengkapan manggung, menyusun tas di bagasi, menghubungi satu per satu mereka yang belum datang, sambil menghisap rokok. Awal pagi membuat asap menjebul begitu dramatis.

Tepat pukul 06.30 bus berangkat. Saya duduk di barisan keempat bersebelahan dengan guru bahasa Indonesia saat SMA. Selain beliau, ada satu lagi teman yang saya kenal. Dari 15 orang yang menjadi kontingen asal Saijaan, yang muda dan sudah lansia, hanya dua yang saya tahu. Sisanya masih asing.

Saya orang baru dalam rombongan ini. Satu minggu sebelum keberangkatan saya dihubungi. Diminta untuk ikut ke Banjarmasin. Cukup mengagetkan memang. Saya bukan pengurus DKD, bukan seniman, bukan juga sastrawan. Tak pernah terlibat di kegiatan DKD. Juga tak punya hubungan spesial dengan orang-orang di dalamnya. Kecuali ada yang tahu kalau saya pernah di suatu masa, suatu waktu, pernah rajin menulis esai dan puisi. Jika alasan itu yang membuat saya diajak hadir di Aruh Sastra XX, oke-oke saja. Saya tak keberatan. Ini akan jadi Aruh Sastra pertama yang saya lawati. Mungkin, saya bisa menimba banyak ilmu dan dapat kawan baru di sana. Begitu pikir saya.

Perjalanan darat dan laut hampir 11 jam dari Kotabaru, bikin pantat saya pegal dan kantuk terasa makin parah. Di bus saya tidak bisa tidur. Cuaca yang amat panas akibat krisis iklim, ditambah AC bus yang rusak, bikin keringat mengucur deras dari dahi dan leher saya. Gerah jadi tak tertahankan. Untung saja emosi masih bisa terkontrol.

Durasi perjalanan diluar estimasi bikin saya tak sempat ikut pembukaan Aruh Sastra XX di Ballroom Hotel Aria Barito. Kami tiba setelah orang-orang mulai menuju kamar masing-masing. Akhirnya kami pun begitu. Di antar panitia menuju kamar hotel untuk beristirahat sejenak. Sebab, pukul 8 malam, acara dilanjutkan di Siring Menara Pandang. Agendanya lomba Madihin, suatu jenis sastra lisan asal Kalimantan Selatan.

Madihin biasanya berisi petuah moral. Disampaikan dengan bahasa Banjar. Memuat set-up dan punchline agar bikin tertawa. Kadang ada juga yang menyisipkan kritik supaya pendengar merasakan ada fakta yang ironis dari kehidupan sehari-hari. Menyaksikan lomba pertunjukan Madihin yang diikuti peserta dari segala kelompok usia, terasa menyenangkan. Saya sempat melihat

Afrizal Malna dan Agus R Sarjono tertawa di bangku barisan depan. Apakah mereka paham bahasa Banjar? entahlah. Setidaknya, bagi saya, Madihin menjelma pelipur lara dari rasa capek dan letihnya perjalanan.

Pagi hari keesokan harinya, di Sabtu yang cerah, syukurlah saya bangun dengan kondisi yang cukup fit. Mandi, sarapan, dan bersua dengan beberapa orang dari kabupaten lain. Di restoran, saya mulai berkenalan, ngobrol, dan saling berdiskusi tentang gosip skena sastra di daerah masing-masing. Membicarakan buku sastrawan ini dan itu, menyampaikan kekaguman dan kritik dengan sangat bersemangat. Sambil minum kopi hotel, kami merasa seolah-olah si paling tahu dengan sastra. Si paling sastrawan. Si paling skena sastra lah hehe. Padahal baca buku jarang, apalagi menulis. Yah begitulah wkwk.

Agenda hari kedua cukup padat. Pertama saya mengikuti seminar sastra bertajuk “Era Antroposen dan Ekologi Sastra”. Dari atas podium, Hajriansyah sebagai ketua Dewan Kesenian Banjarmasin, tanpa perlu berlama-lama, mengucapkan selamat datang pada peserta. Sebelum seminar dimulai, ternyata ada pidato dari Zulfaisal, kabid disbudparpora Kota Banjarmasin. Entah kenapa saya agak geli dengan isi sambutan rasa pidato Zulfaisal. Ketika dia mengatakan sejak dulu sastrawan dianggap sama seperti orang suci lalu membawanya ke konteks hari ini, saat itu pula saya terkekeh di pojok paling belakang sebelah kanan ruangan. Zulfaisal terlalu meromantisir sastrawan. Padahal sastrawan sama saja dengan masyarakat biasa. Yang jelas sama-sama jadi korban krisis iklim akibat kebakaran hutan, industri ekstraktif yang bablas, dan kebijakan yang abai pada keberlanjutan kebudayaan dan lingkungan. Saya kira sambutan Zulfaisal hanya lima menit. Dugaan saya luput. Durasi bocor. Saya sudah bosan dengan romantisasi sastrawan yang termuat dalam nyaris seluruh isi naskah yang dibacanya.

Seminar sastra pun dimulai. Pesertanya seluruh kontingen dari kabupaten. Nenden Lilis, Agus R Sarjono, dan Sainul Hermawan jadi pembicara. Mereka bertiga memberikan telaah teoritik tentang sastra dan kaitannya dengan lingkungan. Secara akademis, para pembicara mencoba mengantar peserta seminar untuk sampai pada pemahaman mengapa pada Aruh Sastra XX di Banjarmasin mengangkat tema “Sastra Sungai ke Sungai Sastra”.

Era antroposen, dengan gairah moderinitas cartesian, beserta problem sistemik pembangunanisme bawaannya, telah mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan dan kebudayaan. Hal itu jadi titik berangkat untuk menerangkan apa yang bisa dilakukan karya sastra dan sastrawan, khususnya di Kalimantan Selatan dan Banjarmasin, terhadap kehidupan bersungai. Sejarah ekosastra bertaut sungai pun dibeberkan. Karya-karya bermuatan kritik lingkungan akibat rusaknya ekosistem kebudayaan sekitar sungai dijadikan contoh.

Sungai sebagai lokus penciptaan karya sastra, menurut pembicara, seringkali hanya dijadikan sebagai pelengkap belaka, bukan sebagai sebuah nilai dan gagasan terpadu dengan segala hal yang melingkarinya. Hal itulah yang mestinya dihindari agar tak jatuh pada kemunafikan. Kemudian, dampak apa yang dihasilkan sastrawan dan karyanya tersebut, sayangnya tak terlalu banyak dielaborasi. Namun, kemungkinan sastra sebagai cara ungkap yang baik dan sarana edukasi dalam menyuarakan gagasan terkait pelestarian dan kritik lingkungan tetap dikampanyekan.

Ruangan ballroom Hotel Aria Barito yang dingin, bikin saya adem tapi sekaligus mengantuk. Faktor inilah yang bikin fokus saya goyang mengikuti seminar. Tapi, secara tiba-tiba tebersit suatu hal yang saya pikir menarik untuk disampaikan. Saya langsung mengangkat tangan untuk curah pendapat. Dan Dewi Alfianty, selaku moderator kemudian mempersilakan saya bicara. Alih-alih menyuntuki materi pembahasan seminar, perhatian saya justru mengarah pada isu utama yang dipilih penyelenggara di Aruh Sastra ini.

Saya bersemangat menyambut wacana sentral Aruh Sastra XX. Isu ekologi yang jadi problem utama seluruh masyarakat Kalimantan Selatan, yang diturunkan ke terma sungai sesuai konteks Banjarmasin, menimbulkan pertanyaan lebih lanjut. Apakah Aruh Sastra XXI selanjutnya di kabupaten Barabai akan melanjutkan perbincangan terma ekologis dengan konteks dan komplikasi lokal di sana? Jika iya, saya kira itu satu tonggak penting yang butuh dikawal dengan baik. Karena, ada wacana atau gagasan atau ide berkelanjutan yang dibawa Aruh Sastra sebagai ruang rutin kebudayaan tahunan untuk merespon kondisi aktual masyarakat. Kabupaten penyelenggara bisa menyesuaikan konteksnya. Jika konteks persoalan kebudayaan dan ekologi di Banjarmasin adalah sungai, maka bisa saja kabupaten di Banua Anam misalnya, mengankat konteks kehidupan Pegunungan Meratus yang hari ini makin rawan dieksploitasi atau apapun problem nyata di sana. Dan oleh sebab itu, proses riset menjadi penting.

Namun, jika tidak berkelanjutan dengan tema yang disdorkan Aruh Sastra XX, apalagi tema yang dipilih sama sekali terlepas dari persoalan riil masyarakat, maka saya pikir Aruh Sastra hanyalah agenda kumpul-kumpul belaka. Di mana para sastrawan saling temu kangen semata. Berfoto bareng, lalu dipamerkan di sosial media. Aruh Sastra, beserta sastrawan yang sangat diromantisasi Zulfaisal di sambutannya itu, harus mempertanggungjawabkan intelektualitas dan moralnya kepada khalayak. Karena, dana penyelenggaraan Aruh Sastra, merupakan hasil pajak yang dipungut dari masyarakat. Bayangkan dana kurang lebih 1 miliar untuk penyelenggaraan Aruh Sastra XX Banjarmasin. Begitu besar untuk sebuah cara merayakan sastra. Kendati demikian, pertanyaanya apa rekomendasi untuk pembangunan kebudayaan setempat terhadap pemangku kebijakan? Siapa yang

sebenarnya paling diuntungkan dari kegiatan Aruh Sastra ini? Di Aruh Sastra XX, sayang sekali saya belum menemukan rekomendasi itu. Padahal dalam beberapa kesempatan, suara-suara itu nyaring terdengar. Terlebih di forum diskusi tematik “Sastra dan Persoalan Lingkungan”.

Sebagai ruang kebudayaan dengan dukungan besar fasilitas, dana, dan kebijakan pemerintah, tata kelola Aruh Sastra tak boleh terjebak pada slogan “sastra untuk sastra” yang diselenggarakan dengan skema dari sastrawan, oleh sastrawan, untuk sastrawan semata. Aruh Sastra, selain membuat lomba dan buku, juga kudu melahirkan rekomendasi kebudayaan untuk penguatan komunitas masyarakat dan alarm bagi pemerintah daerah dalam menelurkan kebijakan.

Keberlanjutan gagasan yang dibawa Aruh Sastra mesti direkonstruksi bersama, selain soal keberlanjutan pelaksanaannya. Karena kita tahu pendanaan dan dukungan struktural pemerintah bisa saja tak bersifat lestari. Logika proyek yang melatarbelakangi pemerintah dalam menurunkan anggaran, secara perlahan mesti digeser menjadi logika proses. Persoalan lain seperti relasi asimetris pemerintah dengan Aruh Sastra sangat rawan bagi para sastrawan untuk didominasi dan dieksploitasi. Saya tidak ingin melihat pemerintah mengontrol penuh apa dan bagaimana praktik pelaksanaan Aruh Sastra lewat ktergantungannya pada skema pendanaan. Sehingga kemungkinan alternatif, idealisme, dan suara kritis menjadi terbungkam. Sedih rasanya kalau Aruh Sastra jatuh pada kondisi menyedihkan itu. Maka, sebuah sajak potongan anggitan WS Rendra, tiba-tiba muncul dalam kepala saya:

“ah tykese bila terpisah darderlingkung ah tyberpik bila terpisah darsalah kedup”

Sajak Sebatang Lisong dari WS Rendra barangkali, bisa menjadi titik awal Dewan Sastra Aruh Sastra Kalimantan Selatan untuk mencari dan menemukan corak episteme-nya sendiri, yang tak hanya mampu mengajak dan meningkatkan partisipasi masyarakat luas, tetapi juga mencari kemungkinan-kemungkinan praktik pelestarian kebudayaan dan gagasan alternatif dari dunia yang makin antrposen ini.

Rahayu.

Cakemind by Rofifah Uzdah

TOPENG SANG MEDIA

Oleh Rofifah Uzdah

Hegemoni adalah sebuah istilah yang sebelumnya digunakan oleh kaum Marxis untuk menunjukkan politik “kelas pekerja” dalam revolusi demokratis, yang kemudian konsep ini diperluas oleh Antonio Gramsci (1891–1937), sebuah paham tentang bagaimana golongan kapitalis yang berkuasa -borjuis-untuk mengatur dan memegang kendali suatu tatanan masyarakat.

Kaum borjuis dalam konsep hegemoni, mengembangkan budaya hegemonik yang mereka sebar melalui beberapa jalur seperti media, budaya, ekonomi dan lain-lain sehingga dapat diterima oleh masyarakat Sehingga, orang-orang yang berada pada kelas pekerja (proletariat) mengindikasikan bahwa apa yang dilakukan oleh kaum borjuis ini, adalah sebuah kebaikan, dan mereka tidak masalah dengan itu, atau mereka hanya menganggap hal itu wajar-wajar saja, sehingga tidak ada perasaan bahwa kaum proletariat ini terkuasai.

Di era kontemporer ini, berbagai elemen masyarakat telah menjadi begitu konsumtif terhadap media. Masyarakat pada umumnya, hanya dapat melihat apa yang ditampakkan oleh media akan tetapi mereka tidak mengetahui apa yang ada dibalik media. Melalui media, penjajahan pemikiran terus dilancarkan, baik media televisi, radio, surat kabar, internet dan lain sebagainya. Sebuah permasalahan muncul ketika pada realitasnya, media dikendalikan oleh beberapa pihak yang memainkan hasrat kebinatangannya untuk memperoleh profit yang sebanyak-banyaknya yang kemudian digunakan kembali untuk memenuhi

kebutuhan dasarnya sebagai makhluk biologis. Sehingga media yang dianggap sebagai penyalur informasi yang netral hanya sebatas simbol saja.

Dengan menggunakan pemikiran Foucault, bahwa penyakit kaum proletariat adalah produk dari keadaaan-keadaan mengerikan sebagai tempat mereka hidup dan penyakit para borjuis adalah akibat dari hidup mereka yang boros, jika kita sandingkan dengan kondisi masyarakat kekinian, sebut saja bagaimana peran media (iklan TV) yang mendewakan makanan cepat saji (fast food) yang belakangan tumbuh bak jamur subur pada puncak kejayaannya dengan menyebarkan benih-benih penyakit serius. Proses interpretasi itu memang tidak berlangsung secara tersembunyi, tetapi terjadi secara terus menerus. Fast food di restoran-restoran yang bekerja layaknya mesin industri, dengan sukses mendesain pola makan masyarakat yang notabenenya adalah para kaum borjuis yang menimbulkan norma-norma baru dalam pola hidup konsumtif di masyarakat. Norma yang membuat orang tampak ketinggalan zaman, udik, dan terbelakang jika tidak pernah mencicipi burger ataupun pizza, misalnya.

Di Amerika, negeri yang merupakan tanah air dari fast food itu sendiri, hampir setiap hari terdapat 200 ribu orang yang terjangkit penyakit akibat makanan cepat saji (Schlooser, E., 2004 dalam Eko Prasetyo, 20xx). Obesitas, merupakan salah satu penyakit di Amerika yang banyak ditemui, terutama pada anak. Beberapa faktor penyebab obesitas pada anak antara lain asupan makanan berlebih yang berasal dari jenis makanan olahan serba instan, minuman soft drink, makanan jajanan seperti makanan cepat saji (burger, pizza, hot dog) dan makanan siap saji lainnya. L-csteine atau L-sistein adalah nama untuk rambut manusia dan bulu bebek yang merupakan komponen utama dari pendingin adonan yang digunakan untuk roti, sedangkan wood atau pulp kayu menyamar jadi selulosa yang merupakan bahan utama untuk membuat kertas, digunakan sebagai sirup pancake atau puding. Memanipulasi bahan makanan, atau membuat keren nama zat berbahaya yang terkandung dalam fast food, adalah contoh pemasaran yang cerdik untuk menarik minat.

Media betul-betul telah mempermainkan hasrat manusia. Lihat saja apa yang media lakukan dengan iklan sebuah merek obat yang mengklaim dapat mengatasi sesak napas. Iklan itu tidak menyebutkan pada kondisi seperti apa yang bisa diatasi dengan obat itu. Padahal, sesak napas bisa terjadi pada penderita asma maupun penyakit jantung. Kalau terkena jantung, minum obat itu berapa pun banyaknya tidak akan mempan. Namun masyarakat awam mana tahu akan hal itu. Dipikiran mereka hanyalah bagaimana caranya sembuh dengan tidak harus mengeluarkan uang banyak. Dengan adanya media, dunia fana ini terasa seperti surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai bagi kaum proletariat yang sangat membutuhkan obat-obatan yang murah.

Dramaturgi kesehatan di media begitu sempurna bagi kaum yang membutuhkan. Iklan dengan pelembab wajah yang mengkonstruk pemikiran kita bahwa dengan memakai pelembab-pelembab wajah atau sabun wajah akan membuat kaum hawa tampak lebih putih dan bersinar yang mengindikasikan bahwa dengan seperti itulah yang dikatakan cantik. Padahal sebenarnya, cantik itu idealnya tak hanya berbicara mengenai fisik seseorang. Cantik akan terlalu rendah jika dipandang hanya dari segi fisik saja. Selain itu, dengan menggunakan pelembab-pelembab wajah atau apapun yang para kaum hawa berpikir bahwa tanpa hal tersebut dunia seakan tak mau lagi menerima eksistensinya, pada kenyataannya hanya membuat kesehatan kulit mereka terganggu karena mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kulit.

Sebut saja Dibutylphthalate (DBP) atau butil ester, bahan yang paling sering dipakai dalam produk perawatan kulit karena bisa membantu kulit menyerap produk dengan baik. Hasilnya pun terasa lebih cepat. Namun ternyata, DBP telah diklasifikasikan oleh US Environmental Protection Agency sebagai bahan yang bisa menyebabkan kanker. Walaupun demikian, masih banyak produsen kosmetik yang menjual make-up dengan kandungan tersebut.

Sebagai makhluk yang senantiasa ingin terlihat sempurna, banyak hal yang akan dilakukan orang untuk mencapai kesempurnaan itu. Masyarakat yang ditata hingga sedemikian rupa tunduk pada logika yang berlaku dalam mesin hegemoni, hingga kesehatannya pun dikendalikan oleh media. Banyak yang kita temui pada hari ini, produk-produk diberikan pencitraan yang berlebihan oleh media. Meskipun pada dasarnya tujuan media memang menghegemoni, baik ataupun buruk, selama media tetap mempengaruhi, berarti tujuan media telah tercapai.

Media memiliki kuasa untuk menenggelamkan realitas, menyederhanakan berbagai isu, dan mempengaruhi berbagai peristiwa. Orang-orang yang mengkritik media berarti telah jeli melihat bagaimana peran media saat ini, dan tujuan media sangat tercapai, bisa menghegemoni, bisa membuat orang berpengetahuan. Media yang sewaktu-waktu dapat berganti rupa menjadi malaikat, kemudian secepat kilat pula berubah wujud menjadi iblis.()

Dendang Kekalahan Kelas Pekerja

Oleh Mario Hikmat

Hidup di era di mana tuntutan kerja makin menyebalkan dan penindasan pekerja makin marak terjadi, membuat banyak orang mencari cara melupakan emosi. Tak terkecuali para musisi. Munculnya lagu-lagu bertema kerja merupakan respon terhadap situasi keseharian yang kurang ajar sekaligus menyedihkan.

Tuntutan pekerjaan yang bejibun, potongan gaji untuk tapera, ancaman PHK, uang lembur tak dibayar, dikejar-kejar cicilan, konflik dengan telunjuk atasan, permintaan revisi dari klien dan bos yang tak masuk akal, seakan mendesak pekerja makin terperosok ke dalam sumur tak berdasar. Bekerja pada akhirnya penuh nelangsa, seperti mencelupkan satu kaki ke dalam kubangan siksaan yang mau tak mau harus diterima.

Di satu sisi, tentu saja memutuskan untuk berhenti bekerja di tempat yang cenderung toksik juga bukan perkara mudah. Persaingan mencari kerja makin susah. Mau bikin usaha bingung. Merintis bisnis tak pasti berakhir manis. Mau bertani juga rentan dengan situasi iklim yang menyeramkan. Sementara itu kebutuhan harus terpenuhi. Dapur perlu mengepul tiap hari. Namun, apakah jalan satu-satunya hanyalah memasasrahkan diri?

Baru-baru ini Pesawat Tempur melepas lagu baru berjudul “Semoga Hari Ini Tak Banyak Revisi”. Band asal Banjarmasin itu merilis single pada 28 April 2024, tepat dua hari sebelum 1 Mei, hari buruh sedunia. Dengan nuansa pop yang cukup enak didengar, Pesawat Tempur tampak ingin melipur lara pekerja di tengah rentetan tugas yang tak ada habisnya. Begini liriknya.

Memang begini dunia dewasa Semua sama berjuang Tak selamanya hari kan cerah Kadang mendung pun datang

Ada saat ku apa adanya Dan tak bisa sempurna Semaksimal dan seefektifnya Asal mau mencoba

Mau tak mau selesaikan semua Sambil sedikit berdoa

Semoga hari ini tak banyak revisi Dan kucepat pulang Semoga hari ini tak banyak revisi Dan lepaskan beban

Lagu Pesawat Tempur ini menambah daftar band Indonesia yang merilis nyanyian bertema kerja. Hanya saja dibandingkan dengan lagu Pekerja karangan Bangkutaman, lagu FSTVLST berjudul Mesin, lagu Kapal Udara bertajuk Kerja Rodi atau yang sedikit lebih lawas seperti PHK dari Iwan Fals, lagu Pesawat Tempur terasa lebih lembut –untuk tidak mengatakannya terlalu cengeng. Saya membayangkan lagu “Semoga Hari ini Tak Banyak Revisi” ditulis oleh seorang kelas menengah. Pekerja kerah putih, yang sehari-hari bergelut di depan laptop pada sebuah ruangan berpendingin udara. Ada sebuah botol minum berisi es kopi di mejanya. Mungkin ia bekerja di sebuah perusahaan atau agensi periklanan atau di instansi pemerintah. Sebab, “revisi” biasanya melekat pada pekerjaan yang melibatkan penyusunan dokumen atau desain. Saya tak pernah mendengar kata revisi diucapkan kepada buruh pengemas rokok, atau petani gurem yang salah menanam biji kopi di perbukitan Meratus, ibu-ibu desa Rampa yang ngawur menyiangi udang, atau nelayan yang meleset melempar jala, atau juga buruh bangunan yang keliru ketika mengonstruksi batu bata.

Di era kiwari, di zaman ketika kapitalisme digital makin menjadi-jadi, kata “revisi” mungkin lebih sering terdengar dibanding kalimat zikir dalam realitas kehidupan kelas pekerja, namun sayangnya hal itu tidak digugat dan tidak diprotes sama sekali oleh Pesawat Tempur. Revisi yang angker itu justru dilarikan pada sebuah sikap yang cenderung lapang dada untuk diterima. Perintah atasan mau tak mau harus diselesaikan. Tetap berusaha mencoba “semaksimal dan seefektifnya”, lalu dipungkasi dengan petuah “sambil sedikit berdoa”. Meskipun di bagian reffrain, revisi dianggap sebagai beban yang harus dilepaskan, lagu ini tak memantik apapun dalam diri pendengar untuk menumbuhkan suatu kesadaran kelas. Apalagi untuk menyadari pemerasan tenaga yang membuat pekerja menderita. Sampai di sini, pertanyaannya, di mana keberpihakan lagu ini sebenarnya?

“Semoga Hari Ini Tak Banyak Revisi” tak menggambarkan sama sekali situasi aku-lirik yang terbebani oleh rutinitas di tempat kerja yang amat menguras tenaga. Tak ada potret “di sela-sela terjajah kerja” atau seperti “mesin-mesin yang dipompa”. “Revisi” yang menjadi pusat semesta pada lagu Pesawat Tempur tak sedikitpun menyuratkan kejemuan dan kemuakkan pada gambaran sistem kerja yang menindas. Tak juga membeberkan bagaimana antagonisme dan lelahnya kelas proletar menghadapi betapa congkaknya para kapitalis.

Hal ini cukup berbeda kalau mendengarkan lagu “Mesin” asuhan FSTVLST. Pendengar akan mendapati frasa-frasa simpatik seperti Untuk kau yang bekerja sepenuhmu/ Untuk kau yang masih terinjak-injak hakmu/ Kau bersama keringat di

ujung harimu/ Hati kami selalu bersamamu. Lagu “Mesin” tampak cukup gamblang memotret kesengsaraan yang dialami para pekerja. Lebih dekat dengan realitas keterjajahan proletar yang kucuran deras keringatnya sepenuh hari dihisap tak henti-henti.

Alih-alih menyadarkan dan menggerakkan, “Semoga Hari Ini Tak Banyak Revisi” lebih mirip untaian motivator yang dikontrak perusahaan untuk menebalkan kesabaran para pekerja. Dengan lirik pembuka Memang begini dunia dewasa/ semua sama berjuang, para pekerja seolah diminta menerima begitu saja ketertindasan mereka sebagai bagian dari perjuangan hidup di dunia yang geraknya tak bisa diintervensi.

Pada lirik “Memang begini dunia dewasa” kita bisa mengandaikan sebuah ide tentang dunia yang tak bisa digugat. Seakan Tuhan telah menulis takdir menyedihkan yang tak bisa disangkal, tak bisa diubah. Tak bisa dilawan. Situasi yang digambarkan Pesawat Tempur bernada mirip dengan sabda Adam Smith ketika menyatakan bahwa pasar bebas sebagai landasan teoritik lahirnya kapitalisme, merupakan sesuatu yang alamiah, yang terjadi sebagai sebuah keniscayaan sejarah.

Frasa lain seperti “Semaksimal dan seefektifnya”, tampak familiar dan lebih terasa seperti anjuran yang digaungkan oleh pembela kapitalisme. Mantra- mantra seperti efisiensi dan efektivitas ini, barangkali merupakan bukti bahwa lagu “Semoga Hari Ini Tak Banyak Revisi”, alih-alih berpihak pada kelas pekerja, justru menjadi repertoar untuk mengukuhkan tiang-tiang penyangga kapitalisme.

Jika lirik lagu “Semoga Hari Ini Tak Banyak Revisi” ditulis oleh personil Pesawat Tempur, yang pada dasarnya merupakan bagian dari kelas pekerja, maka di titik ini kita bisa menerka ada semacam kemunduran gagasan dari narasi sejarah pembebasan musisi kelas proletar. Atau bisa jadi seperti itulah sekarang potret kebanyakan pekerja. Tak merasa dirinya diinjak-injak karena hegemoni borjuis.

Lagu ini patut diletakkan di nomor buncit dalam membicarakan lagu-lagu bertema pekerja. Lagu ini tak menawarkan pembacaan baru atas fenomena penghisapan, apalagi alternatif untuk pembebasan si tulang punggung keluarga. Dan secara estetik, kalau Pesawat Tempur hanya mengejar merilis lagu yang temanya terkesan kekinian dan easy listening, maka semestinya perlu ada semacam penguatan paradigmatik perihal pekerja dan semesta yang melingkupinya.

Coen Husein Pontoh mengatakan dalam esai berjudul Esensi May Day, posisi “kelas pekerja kian hari kian melemah”. Hal ini salah satunya disebabkan oleh eufemisme orde baru yang membedakan pegawai dan buruh. Seolah mereka berbeda. Satu lebih tinggi dibanding yang lain. Padahal sesama kelas

pekerja mereka memiliki problem yang sama. Sehingga kesadaran kelas antara pegawai dan buruh pun dianggap berlainan satu sama lain. Kalau dulu, semua proletar sangat amat bergairah mengorganisir diri, melakukan demonstrasi, protes menuntut hak-hak mereka dipenuhi, sekarang sedikitpun tak terbesit memimpikan revolusi. Hanya “sambil sedikit berdoa” yang menjadi obat penenang hati.

Sebuah karya merupakan representasi dari gagasan penciptanya. “Semoga Hari Ini Tak Banyak Revisi” membantu kita melihat kecenderungan ihwal bagaimana kelas pekerja hari ini membaca dirinya. Lagu ini menggambarkan sebuah situasi kelas menengah yang tidak menyadari posisi mereka dalam relasi antara proletar dan kapitalis. Dari lagu ini pula, kita juga tahu bahwa kapitalisme telah berhasil merekonstruksi kesadaran sebagian kelas pekerja untuk menerima ketertindasan sekaligus menjadi pembela utama sistem yang sebenarnya mengeksploitasi mereka.

Langgam “Semoga Hari Ini Tak Banyak Revisi” terbaca sebagai terang kemenangan kapitalisme dan kekalahan kelas pekerja. Bahkan, susunan liriknya memperkuat dugaan keberpihakan lagu ini justru lebih condong mendukung kelas kapitalis daripada kelas pekerja yang diperbudak hidupnya.

Pada akhirnya, kalaupun Pesawat Tempur sadar dan yakin doa bisa mengubah nasib perbudakan moderen kelas pekerja, mestinya “sambil sedikit berdoa” direvisi saja menjadi “sambil memperbanyak doa”. Orang tua saya pernah bilang, doa yang banyak akan lebih cepat diijabah Tuhan daripada yang sedikit hehe.

TAPERA

TAMAN PERPUSTAKAAN RAKYAT

2024