S. Rukiah Kertapati
Lenting wning
PENERBIT SWADA
INDO-2977
si Lenting Kuning
oleh
S. Rukiah Kertapati
WA
PENERBIT SWADA
Copyright by Penerbit Swada Djl. Nusantara 1/1 Djakarta 1965
Pertjetakan Endang
kolamraja
Ditengah-tengah hutan jang amat luas terdapatlah se-
buah kolam bening jang sangat lebar dan dalam. Ditepi kolam itu tumbuh segala matjam reruputan dan bunga- bunga hutan jang aneka matjam warnanja. Batu-batu lebar, besar-ketjil tampak memenuhi kolam itu. Djuga daun-daun teratai jang bundar-lebar seperti tikar beludru dan segala matjam tanaman air, tampak disani-sini meng- hias seluruh permukaan kolam dihutan itu. Inilah negeri si Tjolot, negeri Kolamraja ! Si Tjolot adalah bangsa Katak, atau biasa kita sebut: Kodok. Sudah pernahkah kalian melihat Kodok? Djika behum, baiklah sedikit diterangkan disini. Katak atau Kodok termasūk golongan hinatang jang hidupnja dapat dalam dua alam, jaitu didarat dan diair. Itulah sebabnja dalam tjerita ini mereka tinggal dan berkedudukan dikolam serta dihutan. Bentuk kepalanja pipih lebar. Kedūa tulang rahang- nja besar-besar dan rongga mulutnja lebar. Tulang dada dan rusuk-rusuknja tidak ‘ada. Anggota belakangnja besar, pandjang, kuat, berguna untuk melompat dan be- renang. Diantara djari-djarinja ada selaput. Giginja ketjil-ketjil, terdapat pada rahang atas. Pangkal lidahnja terletak dibagian depan rahang bawah. Lidah ini pan-
djang, terlipat dalam mulut dan dapat dikeluarkan untuk menangkap mangsanja. Mangsa atau makanannja ialah binatang-binatang ketjil jang dapat terbang, sebangsa njamuk dan lalat. Nah, kini terdengarlah bunji dan suara mereka riuh sekali. Kwak, kwak, kwek, wor! Kwak, kwak, kwek, wor! Berlompatanlah mereka dari sela-sela batu dan pohon-pohon air jang bertumbuhan dikolam itu. Batu dan pohon-pohon air itu merupakan rumah-rumah mereka jang sangat bagus. Dibuatnja batu-batu jang litjin dingin itu sebagai tempat tidurnja. Untuk kasur-kasur dan tilamnja, dipetiknja daun-daun teratai jang empuk hidjau. Diseberang tempat tidur dibuatnja medja dan kursi-kursi dari batu-batu ketjil untuk duduk bersenang-senang. Diruang belakang terdapat medja dan kursi-kursi untuk makan. Disamping- nja terdapat ruangan untuk bekerdja. Didjendela dan pintu-pintu dipasang gorden-gorden jang terbuat dari daun dan bunga-bunga aneka matjam. Djika bulan menjinarkan tjahajanja dimalam hari, maka disingkaplah gorden-gorden itu agar didalam rumah terang, penuh tjahaja. Indah dan menjenangkan sekali, bukan? Demikian pula dirumah si Tjolot. Si Tjolot adalah anak dari salah satu keluarga Kodok dikolam itu. Ajahnja tukang djahit jang paling pandai dikota itu. Karena pandainja, maka pak Walikota dan pembesar-pembesar lainnja di Kolamraja berkenan setiap bulan membuat pakaian ditokonja. Memang ajah si Tjolot dan teman-temannja sudah ter- masuk bangsa Kodok jang sangat madju. Mereka telah
berhasil mendirikan kota bangsa Kodok dikolam itu jang bernama Kolamraja. Berturut-turut telah mereka dirikan pula sekolah, kantor Walikota, toko, rumahsakit, djuga toko djahitan, toko makanan dan toko sepatu. Alangkah pintarnja mereka, bukan ? Tapi meskipun mereka sudah pintar dan lebih madju dari binatang-binatang lainnja disekitar kolam itu, mereka tidak sombong. Ja, mereka tetap ramah-tamah dan bergaul baik dengan segala binatang jang hidup dikolam dan dihutan itu.
sekolah
Kwak, kwak, kwek, wor ! Kwak kwak, kwek, wor ! Berlompatanlah kodok-kodok ketjil dikota Kalamraja itu menudju kesebuah batu. datar besar jang ditutupi oleh tanaman air jang hidjau merambat. Dikiri-kanan sebelah atas ada djendela-djendela ketjil jang dihiasi dengan gorden-gorden berbunga aneka. matjam. Seder- hana tampaknja, tapi tjukup sedjuk hawanja. Itulah sekolah si Tjolot ! ,,Ajo, kesekolah! Lekas kita berangkat kesekolah. Lihat- lah, pak Blentuk sudah menanti didepan pintu," demi- kianlah anak-anak Kodok itu berteriak-teriak dan ber- lompatan menudju kesekolah. ,,Selamat pagi, pak Guru!" seru mereka serentak. Hm, selamat pagi, anak-anak!" balas pak Blentuk dengan suaranja jang rendah parau karena terlalu banjak menjanji dan menerangkan peladjaran. ,Apakah sudah waktunja masuk, pak?" tanja si Kekek jang tjerewet. Pak Blentuk mengangguk. Lontjeng diseberang hutan berbunji delapan kali: teng,
teng, teng, teng, teng, teng, teng, teng ......
Berlompatanlah kodok-kodok ketjil itu masuk dan duduk berderet-deret diatas batu _datar jang telah ter- sedia bagi mereka.
Dan apakah jang terlihat didalam sekolah itu ? Ah, sederhana sadja: sebuah papan kaju hitam tergantung ditengah-tengah dan sebuah gambar burung Bangau jang amat besar tergantung disamping. Kodok-kodok ketjil itu duduk berderet dengan patuhnja, sedang matanja lurus kedepan, melihat kepada pak Guru. Pak Guru berdiri disamping papan. Ia bertepuk satu kali. Sunjilah didalam kelas.
,,Anak-anak hadirkah semua?" tanja pak Guru. ,Ke-
mana si Tjolot? Apakah ia terlambat lagi? Ah," pak
Blentuk mengeluh·dengan muka ketjut.
,,Siapa tahu kemana si Tjolot hari ini?" Tak ada djawaban. ,,Barangkali ada diantara kalian jang melihat dia ?" Tak ada jang melihatnja.
,,Aneh sekali," keluh pak Blentuk sambil menggeleng-
gelengkan kepalanja. ,,Tapi aku tak mau menunggu dia sampai datang. Biar- lah, kita tinggalkan sadja si nakal itu. Mari kita mulai dengan peladjaran menjanji!"
Pak Blentuk berdiri tegak dimuka papan, diusapnja
lehernja dua tiga kali, sedang anak-anak jang duduk di-
bangku menirunja pula. Dan ..... bernjanjilah mereka.
Rapi, teratur, menurut irama Kodok :
Siapakah jang hidup didua alam, diair dan didaratan? Siapakah gemar menjanji, pandai melompat menari-nari? Inilah kami si Kodok hidjau,
bangsa binatang jang selalu riang. Boleh kaliap ketepi danau, menonton -kami berlomba renang. Kami djuga ingin madju, seperti manusia tak djemu-djemu. Mengedjar bulan mentjapai bintang, pandai membikin kapal terbang.
Wah, sungguh enak kedengaran njanjian mereka itu! Tepat iramanja dan penuh semangat. ,Bangsa manusia jang tingga diseberang hutan ini tentu tak mengerti akan njanjian kita sekarang. Mereka mengira, bahwa njanjian kita hanjalah bunji-bunjian jang tak ada artinja. Sedang jang sesungguhnja, njanjian kitapun tak kurang hebatnja dari njanjian mereka. Bu- kankah demikian, anak-anak?" tanja pak Blentuk. Anak-anak Kodok itu mengangguk. Mereka sependapat dengan pak Blentuk. Tentu sadja !
si tiolot
Lontjeng diseberang kolam terdengar berbunji sembilan kali. Si Tjolot baru sadja menggosok matanja jang kem- bung merah itu. Dikedipkannja dua tiga kali karena silau kena matahari, kemudian baru dibukanja dengan berat dan malas. Hm, tampak sekarang mukanja ketjut asam. Matanja mendelik melihat matahari jang masuk liwat djendela. Ia marah. Marah kepada matahari. Marah kepada ajah. Marah kepada ibu. Marah kepada adiknja, si kikik ketjil. Marah kepada teman-temannja dan marah kepada semua bangsa Kodok. Mengapa? O, ia marah karena ia diharus- kan bersekolah. Tjoba djika tak ada sekolah jang penuh dengan soal tetek-bengek jang rumit-rumit itu, alangkah senangnja," pikirnja. ,,Aku tak usah bangun pagi-pagi, tak usah beladjar membatja, berhitung, dan menulis. Huh, sekolah keparat!" gerutunja sambil bangkit dari tempat tidurnja. Dilihatnja ajah dan ibu sudah pergi ketoko. Adiknja si Kikik ketjil, sudah pergi bermain-main kerumah temannja dibatu sebelah. ,,Kebetulan," bisiknja. Maka melompatlah ia keluar. ,,Kemana?" pikirnja. ,,Ah, tak perlu sekolah. Lebih baik tamasja ketempat-tempat jang belum pernah ku- djeladjahi".
Memang si Tjolot anak jang suka menurutkan kata hati- nja sendiri. Nasihat ibu dan ajah tak pernah ia hirau- kan. Djuga nasihat pak Guru. Ia sangat malas. Tak pernah ia masuk sekolah tepat pada waktunja. Djika teman-temannja sedang asjik beladjar, diganggunja. Ka- rena itu, ia tak pernah bisa mendjawab pertanjaan pak Guru,dengan betul. ,,Aiii, nakalnja si Tjolot!" keluh pak Guru selalu sambil menggeleng-gelengkan kepalanja. Ajah dan ibupun sering mengeluh: ,,Kenapa si Tjolot anak kita tak sebaik si Kekek, anak tetangga disebelah?" Pelan-pelan si Tjolot berdjalan keluar menudju hala-
man rumahnja. Diindjaknja bunga-bunga ketjil jang
menghias kebunnja, hingga patah berserakan. Djuga tangkai-tangkai tanaman air dirusaknja. Segala binatang- binatang air jang ketjil-ketjil jang sedang riang bermain- main dibalik daun-daunan, ditendangnja dan dikedjuti- nja. Amboi, djudesnja! ,,Huh, sekolah keparat!" gerutunja lagi sambil melompat keatas batu jang lebih tinggi dari rumahnja. ,,Aku tak suka sekolah. Aku tak suka beladjar. Bentji! Berhitung aku sudah pandai. Tak perlu beladjar lagi disekolah. Menjanjipun aku sudah pandai. Tjoba sadia dengarkan: kek, kek, kek, kek, wor! kak, kak, kak, wor! kak, kek, wor! kak, kek, wor! kak, kek, wor!" Kini ia melihat kesekitar kolam itu dari atas batu jang tinggi. Ha, tampaklah sekolah dibalik tanaman rambat, djelas sekali. ,,Nah, siapa itu jang keluar membawa tongkat? Pak Blentuk!" bisiknja ketakutan, ,,Tentu ia sudah melihat
aku. Ah, ah, tjelaka! Aku mesti datang djuga kesekolah".
Pelahan-lahan ia merajap melalui daun teratai jang
lebar empuk, lalu melompat kebalik tanaman rambat, menjelam sebentar didalam air, lalu muntjul dibelakang sekolah. Ia bermaksud untuk masuk kedalam, dengan melontjat liwat djendela.
Tapi ......
,,Hai, siapa itu?" tegur pak Blentuk. Gementar kaki si Tjolot tak dapat bergerak. Hatinja gemuruh seperti suara tambur. Marah benar pak Guru! Marah bukan kepalang! ,Dari mana kau, bengal?"
,Sa-sa-sa .. ," djawab si Tjolot gagap. ,,Sa-sa-sa ..."
,Saja malas dan saja bodoh dan saja terlambat datang
.......!" hardik pak Blentuk bengis. ,,Itu jang hendak
kaukatakan, bukan? Ajo, duduk! Sekarang kau dapat hukuman, tak boleh ikut berolah-raga diluar!" Aduh, olahraga! Memang inilah kegembiraan anak-anak Kodok disekolah. Olahraga adalah satu-satunja peladjaran jang digemari oleh semua anak-anak bangsa Kodok. Djuga si Tjolot! Ketika ia mendengar hukuman pak Guru itu, mukanja mendjadi keruh dan asam. Teman-temannja bersama pak Guru sudah berbaris ke- luar. Melompat! Menjelam! Melontjat! Berenang! Naik merangkak kepohon rambat! Berputar-putar mengelilingi daun teratai jang paling besar! Sungguh gembira dan menjenangkan! Selesai berolahraga, berbarislah anak-anak itu dan pu- langlah mereka kerumah masing-masing. Dan pak Guru
masuk kembali kedalam kelas. Apa jang ia lihat ? Oh, diatas medjanja terletak pipa rokoknja jang telah patah mendjadi dua ! Hm, tentu perbuatan si Tjolot bengal," gerutunja. Ia melihat berkeliling. Tapi si Tjolot sudah hilang tak tampak lagi.
Ia mesti dapat adjaran," gerutunja. ,Nanti petang aku akan bitjara dengan ajahnja. Ia harus tahu, bahwa anak. nja terlalu bengal disekolah.!" Kemudian pulanglah ia kerumahnja. Dirumah sudah sedia makanan jang lezat-lezat. Sup lalat, goreng njamuk dan sajur-sajuran. Ia makan dengan lahapnja, sehingga lupa sebentar kepada pipa rokoknja jang bagus jang telah patah mendjadi dua itu.
pak tjolot
Hidangan malam sudah sedia diatas medja. Kikik, panggil ajah! Katakan, makanan sudah sedia,"
kata ibu kepada si Kikik ketjil. Si Kikik segera pergi
memanggil ajah. ,Mana si Tjolot?" tanja ibu lagi. ,,Itu dia dibalik gorden, bu!" djawab si Kikik. ,Ajo, makan!" teriak ibu. Kemudian masuklah ajah keruang makan. ,,Mana si Tjolot?" tanjanjā dengan suara gusar. Muka- nja berkerut tanda marah. Itu dia dibalik pintu," kata ibu. ,,Hai, mari sini, bengal!" hardik ajah. Dengan kaki gementaran dan djantung berdebar, da- tanglah si Tjolot mendapatkan ajah. ,Kau mematahkan pipa. rokok pak Blentuk, ja ?" tanja ajah. ,,Ja, ajah. tak sengadja," djawabnja pelan. ,,Kenapa?"
,Saja .... saja tak keburu mengambilnja sebelum
terindjak," djawab si Tjolot sambil menangis.
,,Kenapa terindjak? 'Kan terletak diatas medja?" tanja ajah dengan mata melotot. ,Ja, saja naik keatas medja, karena hendak mengintip teman-teman jang berolahraga dari djendela. Saja tak
tahu, bahwa diatas medja ada pipa rokok pak Blentuk
Hik hik hik !”
,Kenapa kau harus mengintip dari djendela? Kenapa tidak ikut?" ,,Sa-sa-saja dilarang ikut berolahraga karena terlambat datang disekolah. Hik hik hik ..!"
,,Hm ..... pantas! Djadi, dua matjam kesalahanmu
sehari ini. Terlambat datang kesekolah dan mengindjak
pipa rokok pak Blentuk, ja ?"
Ja, Dewata! Adakah anak lain senakal anakku ini?" keluh ibu sedih, Ajah menjeret si Tjolot. Dan ... Pang! Pang! Pang! Buk! Buk! Buk! Dipukulnja paha dan kaki si Tjolot berkali-kali dengan geramnja. ,,Aduuh! Aduuuh! Aduuuh! Ampun, ajah! Ampun!
Sakit ...... ! Saja tak akan nakal lagi," djerit si Tjolot.
,Kau berdjandji? Djandji?" tanja ajah berhenti me- mukul. Jah, ajah," djawabnja tersedu-sedu. Kemudian datanglah ibu. Dituntunnja si Tjolot ke- tempat tidur dan diberinja minum. Malam ini kau tak boleh makan," kata ajah. ,,Dan selama seminggu kau tak boleh bermain-main diluar rumah. Apalagi kehutan-hutan jang djauh. Tak boleh bermain-main ditepi kolam jang banjak ikannja!" Mendengar hukuman ini, hati si Tjolot mengkal dan sedih. Siapakah jang tak suka bermain-main diluar ? Siapakah jang tak senang, djika seħarian boleh berdjaIan- djalan dihutan atau dikebun? Siapakah jang tak tertarik hatinja oleh kolam bening jang banjak ikannja? Tentu
semua suka, bukan? Begitu pula si Tjolot! Itulah sebab- nja, hukuman itu dirasakannja berat sekali. Bulan dilangit memantjarkan tjahanjanja. Lihatlah, ia menertawakan si Tjolot dihukum ajahnja ! Gorden-gorden pintu dan djendela disingkapkan ibu, agar tjahaja bulan masuk kedalam kamar. Dan pelahan-lahan si Tjolot mengerutkan badannja ditempat tidur.
pak blorok, walikota
Kolamraja dikepalai oleh Walikota. Pak Blorok namanja.
Badannja bulat gemuk. Perutnja buntjit sekali. Matanja kembung menondjol kedepan. Untuk bangsa Kodok, memang ia terhitung gagah dan tampan. Ia tinggal di- sebuah pulau ketjil jang sangat indah. Setiap pagi ia
berkenan mandi-mandi dikolam renang balaikota jang
istimewa bagusnja. Bukan hanja mandi-mandi sadja, akan tetapi berenang, menjelam dan melompat-lompat. Maksudnja agar perutnja mendjadi ketjilan sedikit. Djika selesai mandi-mandi, dipanggilnjalah wakilnja, tuan Djangkung namanja. Kepada tuan Djangkung di- tanjakannja, apakah perutnja sudah mendjadi ketjilan. Lalu tuan Djangkung bersiap untuk menilai. Dipitjing- kannja matanja jang sipit itu sebelah. Kemudian, sambil mengangguk-angguk ia berkata : ,Ja, ja, ja, boleh djuga. Perut Bapak jang sebelah kiri sudah agak tipisan. Tinggal jang sebelah kanan dan jang ditengah-tengah, masih kelihatan tebal dan buntjit. Tapi sabarlah, Pak. Sepuluh atau dua puluh kali lagi mandi-mandi dan berenang melompat-lompat, tentu akan men-
djadi tipisan. Pertjajalah !"
Utjapan ini sangat menjenangkan hati pak Blorok jang kepingin langsing. Lalu diperintahkannja semua jang ha- dir dikolam balaikota itu menjanji bersama-sama dengan
penuh irama dan semangat :
Pemimpin kita pak Blorok, masjhur seantero Kodok, tjakap dan gagah berani, kuat didarat, tahan diair, setiap pagi mandi berenang, ingin badan mendjadi langsing.
kek, kek, war, kek, kek, wor .......
kek, kek, war, kek, kek, wor ......,
Tiap hari bapak berkeliling, tak lupa memakai pajung, katjamata dan sepatu, potlot, pulpen dan buku-buku, melihat rakjat sepandjang kota, apakah senang hidup mereka.
kek, kek, war, kek, kek, wor ......
kek, kek, war, kek, kek, wor .....
Bapak berkenan kesekolah, murid-murid dapat hadiah, bapak berkenan kesawah-sawah, para petani diberi tanah, bapak berkenan kepabrik-pabrik, para buruh upahnja naik. Amboi, senangnja mendjadi Kodok,
djika dipimpin oleh pak Blorok .......
kek, kek, war, kek, kek, wor .......
kek, kek, war, kek, kek, wor .......
Demikianlah njanjian mereka setiap pagi, djika pak
Blorok selesai mandi-mandi dan berenang dikolamnja. Matahari sudah panas, tanda semua rakjat Kodok harus mulai bekerdja. Begitu pula pak Blorok bersama para pembantunja di- kolam mandi, mereka sudah bersiap meninggalkan kolam itu hendak memulai pekerdjaan mereka masing-masing. Tetapi ketika pak Blorok sedang mengenakan badju djasnja, tiba-tiba datanglah pak Tjolot berlari-lari dengan muka putjat dan ketakutan. Ia menghadap pak Walikota. ,,Selamat pagi, pak Tjolot!" salam pak Blorok ramah. ,,Selamat pagi, bapak!" balas pak Tjolot gugup. ,,Ada apa pak Tjolot, pagi-pagi sudah datang disini? Apakah kekurangan bahan pakaian untuk didjahit, atau- kah anak-anakmu merusak dan merobeki bahan-bahan djahitanmu?" tanja pak Walikota bergurauo Tapi pak Tjolot tak tertawa. Ia tetap murung. ,,Oh, bapak ! Si Tjolot, anak saja jang paling lutju telah hilang. Kami sekarang tidak tahu, dimana ia ber- ada. Mungkin ia lari, karena semalani saja marahi. Oh, bagaimana djika ia lari kedalam hutan atau tersesat kedalam rawa lalu ditjaplok burung Bangau? Aduh, hik ………… hik …… hik!” ,,Apa sebabnja ia dimarahi?" tanja pak Blorok. ,,Ia terlambat datang disekolah, lalu mengindjak pipa rokok pak Blentuk hingga patah mendjadi dua!" ,Hah? Pipa rokok pak Blentuk jang bagus itu patah? Sekarang dimana dia?" ,,Waktu itu djuga dibuang oleh pak Blentuk, karena sudah tak dapat dipakai lagi," djawab pak Tjolot. ,Bukan, bukan pipa rokok jang kutanjakan,' sela·pak
Blorok. ,,Itu, si Tjolot, dimana dia sekarang?" ,Oh, saja tidak tahu, Pak! Itulah sebabnja saja datang menghadap Bapak kemari, karena saja tidak tahu dimana ia sekarang". ,,Hmmm, kita harus mentjarinja. Harus mentjarinja sampai dapat," kata pak Blorok sambil mengangguk- anggukkan kepalanja. ,Ja, bapak. Kita harus mentjarinja sampai dapat. Tapi bagaimana?" Sedjurus pak Walikota mengerutkan keningnja. Dilihat- nja kolam dan hutan jang ada disekitarnja. Lalu meman- dang kekedjauhan, dimana banjak bunga-bunga aneka matjam sedang berkembangan. Dipitjingkannja matanja
dan diangguk-anggukkannja kepalanja sambil tersenjum
lehar. ,,Aku tahu akal," katanja. Kau lihat binatang apa jang sedang terbang dari bunga kebunga itu?" Pak Tjolot melihat dengan tadjam. ,,Kupu-kupu, pak!" djawabnja heran. ,,Teman baik kita, bukan?" tanja pak Blorok. ,,Ja, pak!" ,,Nah, bagus! Bagus sekali. Sekarang kita panggil dia, dan kita suruh dia tjari si Tjolot. Bagaimana, setudju?" ,,Oooo, suatu pikiran jang baik sekali," djawab pak Tjolot. Djuga tuan Djangkung dan para pembantu pak Blorok lainnja sama-sama menjetudjuinja.
Hai, sang Kupu! Tjoba kemari!" panggil pak Blorok.
Kupu-kupu itu menengok, lalu terbang mendekat dan hinggap diatas teratai jang putih warnanja. Sajapnja jang
-21
kuning keemasan ditimpa tjahaja pagi indah mengilau tampaknja. Siapa namamu, hai Kupu?" tanja pak Blorok. Namaku si Lenting Kuning, tuan!" djawabnja dengan suara pelan halus. ,,Hm, bagus sekali namamu. Kenalkah engkau akan si Tjolot, anak pak Tjolot, pendjahit masjhur di kolam- raja ini ?"
,O, ja. Saja kenal betul padanja. Kulihat dia kemarin
mengenakan tjelana pendek merah": ,,Ja, ja! Ia mengenakan tjelana merah," sela pak Tjolot penuh harap. ,Hai, Lenting kuning!" kata pak Blorok pula. ,,Tjoba- lah sekarang engkau terbang berkeliling didaerah Kolam- raja dan sekitarnja ini, dan tjarilah ia". ,Baik, tuan!" djawab si Lenting Kuning hormat.
,Dan djika kau lihat, lekaslah beritahukan aku!"
,,Baik, tuan! Sekarang aku minta izin pergi untuk mentjarinja". Maka terbanglah si Lenting Kuning. Pelan, halus, ber- getar-getar dibawah tjahanja pagi. Bunga-bunga jang sedang mekar berkembang, disentuhnja hati-hati. Me- reka bergojang palahan kesana kemari, harumnja me- njebar dikipaskan angin lalu.
Akan dapatkah si Lenting Kuning menemukan si Tjolot?
と J
lari
Bagaimana keadaan si Tjolot?, Seperti biasa, ketika ia bangun pagi-pagi, ajah dan ibunja sudah -pergi ketoko. Ia masih ingat, bahwa se- malamajahnja telah memukulnja bertubi-tubi. Aduh, sakitnja ! Kemudian melompatlah ia liwat djendela rumahnja. Se- bentar ia mandi-mandi dikolam sambil minum sepuas puasnja. Habis mandi, melompat pula ia kedalam semak. Disini ia hendak mengintip njamuk dan lalat jang sedang berteduh.
Tapi ....... baru sadja ia nemplok diatas batu dibalik
semak, maka terkedjutlah ia mendengar suara dari atas dahan jang merendah: ,,gaaak, gaaaak, gaaaak! Siapa kamu, hah?' Demikian seekor burung Gagak hitam ber- tanja dengan mata melotot sambil mengangkat katjamata- nja. Takut bertjampur malu, si Tjolot mendjawab hormat :
,Saja ... Tjolot, njonja!"
,,Dari Kolamraja?" tanja burung Gagak itu lagi.
,,Ja, njonja!"
,,Mengapa ada disini? Mengapa tak masuk sekolah? Bukankah dikota Kolamraja anak-anak diharuskan ber- sekolah?" ,,Sekolah? O, hari ini kebetulan sedang libur, njonja!
Pak Blentuk mendadak sakit djantung". ,,Tjis, pembohong!" edjek burung Gagak itu. ,,Baru sadja aku liwat disekolah, anak-anak sedang ramai be- ladjar bersama pak Blentuk". ,,Sa-sa-saja belum bersekolah, njonja, Saja bagian se-
kolah sore !"
,,Belum bersekolah?" tanja Gagak itu tjuriga. ,,Kalau begitu, bersihkan dulu halaman rumahku. Tjabuti rum- putnja dan sapukan sampahnja. Aku tak biasa melihat siapa sadja bermalas-malas !" Aduh, mengkalnja hati si Tjolot !
Tapi karena takut dan sudah terlandjur membohong,
maka diturutnja perintah, burung Gagak itu. Ia menjiangi rumput dan menjapu sampah dibawah panas matahari jang makin membakar. Hatinja kini ingat kepada teman-temannja disekolah. Djika ia tadi masuk sekolah, tentu ia sekarang sedang berenang-renang di- kolam sambil menjanji bersama teman-temannja. Alangkah malangnja aku," gerutunja. Ketika ia sedang melamun mengingat teman-temannja disekolah, berteriaklah burung Gagak dari belakang : ,Ajo, bekerdjalah dengan giat! Sapukan sampah jang dekat saluran air itu. Aku tak bisa melihat siapa sadja bermalas-malas!" Karena si Tjolot tak tahan bekerdja dibawah panas matahari jang makin lama makin membakar itu, maka
larilah ia dan melompat kedalam kolam ..... plung !
Terdengar ia mendjatuhkan badannja diair, lalu tjepat menjelam dan berenang keseberang daun teratai. ,,Tjis, si Gagak tjerewet! Sama tjerewetnja dengan pak
Blentuk disekolah !" gerutunja. Lama ia berenang berputar-putar didalam kolam. Se. kali-sekali ditangkapnja binatang-binatang ketjil kesuka. annja jang beterbangan. Tapi ia merasa, bahwa seribu kali lebih enak masakan ibunja. Ia ingat, betapa senang- nja djika ia pulang sekolah, ibu sudah sedia dengan hidangan kesukaannja: dendeng lalat dan goreng njamuk ditjampur sajuran. Amboi, nikmatnja! Sekarang ia teringat kepada ibu dan ajah. Kepada adiknja si Kikik ia merasa rindu. Ketika matahari hampir terbenam, ia menjelinap dibalik daun tertai. jang lebar melingkup dan berbaringlah ia dengan diam-diam. Mulai sekarang aku berdjandji ...," bisiknja seorang diri.
,Tjit, tjit, tji .," terdengar suara dua ekor
Tikus ketjil mentjitjit ditempat jang kering. ,,Hai, siapa namamu, kawan?" tanja Tikus ketjil itu. ,,Aku? Namaku Tjolot!"djawabnja. ,Kau bisa menari?" tanja Tikus itu genit. ,Ajo, kita
menari bersama sambil menjanjikan lagu ...!"
Aiii, baru sadja mereka berpegangan tangan mau me-
nari, tiba-tiba: rrrrrttt .......! Berlarianlah Tikus-tikus
ketjil itu sembunji dibalik semak. Apā jang mereka lihat? Hiiiii! Seekor burung Hantu jang amat besar sedang mengintip larak-lirik. Matanja jang tadjam menondjol itu berputar kian kemari. Memang ia sedang mentjari Tikus-tikus ketjil. Tikus ketjil
adalah kesukaannja. Tapi ........ djika Tikus ketjil tidak
ada? Hmmm, Kodok ketjilpun djadilah! Memang daging
Tikus dan daging Kodok tak seberapa bedanja. Plung! Melompatlah pula si Tjolot dan berenang me- nudju keseberang kolam, kepinggir hutan. Dibawah po- hon jang rindang, ia mendjatuhkan badannja. Terasa kakinja lelah dan perutnja sangat lapar. Ia menangis dan mengantuk. Kemudian djatuhlah ia tertidur. Bulan sudah mulai menjembulkan mukanja sebagian. Seiring -semut merajap melalui tempat si Tjolot ber- baring. ,Hai, pergilah kau pemalas!" bentak seekor Semut jang berbaris paling depan. Ia bertolak pinggang sambil
mengusap-usap kumisnja. ,,Ini bukan tempatmu!" Tahu. kah kamu, bahwa kami bangsa Semut malam ini sedang menjelesaikan sebuah djembatan raksasa? Ajo, pindah- lah! Djangan rintangi kami jang sedang sibuk bekerdja!" Terpaksalah si Tjolot melompat lagi keseberang. Ia mentjari tempat jang sunji, jang djauh dari burung Ga- gak tjerewet, burung Hantu djahat, Tikus-tikus genit dan Semut-semut jang giat bekerdja. Bulan menjembulkan mukanja lebih besar. Si Tjolot mengedipkan matanja karena silau melihat tjahaja bulan. Pelahan-lahan digosoknja matanja. Dan bulan tertawa, menertawakan si Tjolot jang sedang ke- tjewa.
si lenting kuning
Seperti emas jang bertjahaja, disinari matahari pagi, maka terbanglah Kupu si Lenting Kuning keudara, hendak mentjari si Tjolot jang minggat. Setiap bunga jang berkembang, daun hidjau dan re- rumputan, semua ia singgahi hati-hati dengan senjum- tawanja jang manis. Dan djika ia bertemu dengan temannja sebangsa, maka bernjanjilah ia : Dengar, dengarlah kawan, aku bertanja pada kalian, tidakkah bertemu dengan si Tjolot, seekor Kodok anak pak Tjolot? Ia lari dari rumahnja, f pergi menurut kata hatinja, anak pemalas dan pembangkang, sering bolos terlambat datang.
Temannja mendjawab sambil menjanji pula :
Oh, anak Kodok bertjelana merah, bermata besar nondjol kedepan? Kulihat tadi melepas lelah, didaun tertai tidur-tiduran. Sungguh dia nakal sekali,
sehari tadi mengganggu kami, Djika kami hinggap dikembang, kembang digojang dan kami terbang. Djika kami hinggap didaun, daun ditarik kedalam kolam, hingga kami banjak jang terdjun, badan basah ba’ kena hudjan.
Si Lenting mendjawab iba :
Amboi, aku kasihan pada kalian, diganggu si Tjolot keterlaluan. Sekarang dimana, tjoba tundjukkan, dikolam, disemak atau dihutan?
Serentak teman-temannja mendjawab :
Kulihat tadi melepas lelah, didaun teratai tidur-tiduran. Tjoba tanjakan pada sang Lebah, atau Semut jang beriringan.
Lalu pergilah si Lenting kepada Lebah dan Semut-semut. Tapi Lebah dan Semut-semut mendjawab atjuh tak atjuh :
Aku sibuk membuat madu, tak ada waktu, terburu-buru. Kami sibuk bikin djembatan tak ’mikirkan:lain urusan.
Matahari sudah mulai naik. Hawa panas menggeletar
membakar sajap si Lenting Kuning. Pelahan ia hinggap
diatas setangkai bunga biru melepas lelah. Segala bina- tang jang kebetulan terdapat disitu ditanjanja satu-satu. Tapi semua menggeleng, mendjawab tidak tahu. Si Lenting belum putus asa, ia terbang lagi menerus- kan perdjalanannja. Kini matahari terbenam sudah. Bunga-bunga jang tadi siang mekar berkembang, Kini banjak jang melingkup kembali. Burung-burung mentjari sarangnja pulang. Di- mana-mana terasa sunji. Angin malam menjentuh daun- daunan, gemerisik suaranja. Dan pelahan tertjiumlah semerbak harum kembang-kembangan dimalam hari. Hampir djatuh si Lenting Kuning ditanah ketika seekor Belalang besar menegurnja dengan suara jang besar pula: Selamat malam, Kawanku, kulihat engkau begitu pajah, Apa dikedjar si burung Hantu, ataukah bertengkar dengan sang Lebah?
Si Lenting Kuning mendjawab halus :
Selamat malam, kawan Belalang, aku gembira bukan kepalang, apa kau lihat seekor Kodok, jang hilang ditjari pak Blorok?
Belalang menjahut girang :
Oh, si Tjolot jang kau maksudkan,.
anak pendjahit di Kolamraja? Tadi kulihat ia dihutan, sedang menangis menjeka mata.
Si Lenting Kuning gembira bertepuk :
Amboi, senangnja bukan kepalang, bisa berdjumpa dengan Belalang. Aku diutus oleh pak Blorok, mentjari si Tjolot anak Kodok.
la minggat dari rumahnja, sebab dihukum oleh ajahnja, Ia dilarang bergerak-badan, pipa pak Blentuk dipatahkan.
Belalang mendjawab lagi sambil tertawa :
Tentulah engkau istimewa, bisa diutus pak Walikota. Sekarang tinggallah melepas lelah, djangan bimbang, ajo, tidurlah! Besok kehutan kautjari dia, aku pergi ke Walikota, akan kutjeritakan nanti, segala jang kau alami.
Si Lenting Kuning tersenjum dan mengangguk. Ia
mengutjapkan terima kasihnja kepada Belalang. Lalu di-
tjarinja setangkai daun jang lebar empuk, dilingkupkan- nja sajapnja jang kuning keemasan itu, kemudian tidurlah ia. Bulan dilangit menjorotkan tjahajanja. Ia tersenjum kepada si Lenting Kuning.
bertemu
Segumpalan mega hitam merangkak dilangit jang sudah
gelap. Burung-burung dihutan berhenti tak lagi menjanji. Kupu-kupu dan segala binatang jang beterbangan, tidak lagi merubung bunga-bungaan. Maka bertiuplah angin dengan kentjangnja, lalu titik-titik air hudjan berdjatuh-
an. Setitik, dua titik, tiga ...... enam ...... ja, sampai
ratusan, ribuan titik air menimpa bumi, dan .... turun-
lah hudjan amat lebatnja. Disudut semak-semak jang gelap, terbaringlah si Tjolot seorang diri dengan sedihnja. Oh, alangkah sedihnja ! Dan alangkah laparnja ! Memang, sedih dan lapar adalah dua matjam bentjana jang sangat tjelaka. Ditambah lagi dengan perasaan menjesal. Sungguh, ia amat menjesal dengan perbuatannja jang telah dilakukannja itu. Mengapa ia lari dari ibunja? Mengapa ia selalu terlambat datang disekolah? Oh, dapat- kah ia bertemu kembali dengan ajah, ibu dan si Kikik ketjil? Apakah pak Blentuk masih marah? Hik, hik, hik
......! Ia mau minta ampun pada semuanja dan ber-
djandji tidak akan lari dari mereka. Ia ingin kembali. Hik, hik ! Didalam gelap dan hudjan itu, si Tjolot tertidur. Bulan tak tampak lagi, tertutup awan jang hitam. Ketika subuh mendatang, pelahan titik-titik hudjan mengetjil djatuh
didaun-daunan, kemudian terhenti tak turun lagi. Langit tjerah bertjahaja dan awan hitam terkuak petjah, kemudian njembullah matahari disudut Timur. Angin halus berhembus lagi mengantarkan harumnja kembang-kem- bangan. Indahlah kembali seluruh alam dengan kekuat- an sang matahari. ,,Nah, kini pulanglah aku," pikir si Tjolot. Dan melompatlah ia menjeberangi batu-batu dan daun- daun teratai jang melebar dan melingkup. Beberapa sa-Juran dan semak-semak dilompatinja. Ia terus dan terus melompat, melalui beberapa rumah Kodok jang ketjil- ketjil. ,,Aku harus segera tiba dirumah, Aku harus berkum- pul kembali bersama ajah, ibu dan si Kikik," pikirnja.
Tapi ........ kemana terusnja djalan dipersimpangan
kebun ini? Kekanan atau kekiri? Tiba-tiba ia tertegun. Ia lupa lagi, kemana harus ditudjunja. Ia tersesat. Un- tunglah, ketika ia tertegun dipersimpangan djalan itu, tampak serombongan Kupu-kupu sedang terbang menu- dju serumpun bunga-bungaan. Si Tjolot melihat kepada mereka. ,,Haha ! Rombongan Kupu-kupu jang kuganggu ke- marin pagi. Dan jang satu itu? Jang bersajap kuning emas? Seperti sudah kukenal. Ooo, si Lenting Kuning rupanja". Lalu ia melompat keatas batu jang paling tinggi. Tangan- nja dilambaikan sambil berseru: ,,Lenting! Hai, engkau- kah itu Lenting?" ,,Siapakah memanggil aku?" pikir si Lenting sambil menoleh kebawah.
,,Ja, akulah si Lenting Kuning. Ada apa?" katanja halus. ,Aku si Tjolot!" teriak si Tjolot keras. ,,O, si Tjolot?" tanja Lenting gembira. Dan meluntjurlah ia terbang menghampiri si Tjolot diatas batu. Tapi betapa kagetnja ia ! Si Tjolot amat buruk kelihatannja. Badannja kurus dan kumal, matanja bengkak bekas menangis. Dan alangkah murung air mukanja. ,,Hai, Lenting, kawanku!" kata si Tjolot sedih. ,,Kemarin aku menganggu teman-temanmu. Engkau tak marah, bukan? Aku hanja ingin bersenda-gurau sadja," sambungnja kemalu-maluan. ,,Oh, aku tak pernah marah," djawab si Lenting Kuning manis tersenjum.
,,Dan ....... dan sekarang aku hendak minta tolong.
Aku tersesat. Maukah engkau menundjukkan, mana dja- lan kerumah ibuku ?" O, tentu sadja," djawab si Lenting senang. Ajo, ikut- lah aku!" Maka terbanglah si Lenting melajang rendah, sedang si Tjolot melompat-lompat mengikuti dibawahnja. ,,Masih djauhkah, Lenting?" tanja si Tjolot lemah. Ia sudah lelah. ,,Ah, sudah dekat. Sebentar lagi tentu sampai". ,,Apakah ibu dan ajah kehilangaņ? Susahkah hati mereka?" tanja si Tjolot. ,,Ja, mereka bersusah hati, karena engkau lari dari rumah. Kemarin pagi ajahmu datang menghadap pak Walikota, melaporkan bahwa engkau telah hilang dari
rumah. Lalu pak Walikota mengutus aku untuk men- tjarimu". Aii, alangkah malunja si Tjolot! Mukanja jang hidjau itu mendjadi putjat kebiru-biruan. Ia tak berani lagi ber- tjakap. Dilompatinja batu-batu jang lebar litjin itu. Dan ketika lontjeng diseberang hutan berbunji lima kali, maka sampailah ia diudjung djalan jang menudju rumahnja. ,,Wah, beberapa lompatan lagi," bisiknja. Dikumpul- kannja tenaganja kuat-kuat. Hup ! sebuah batu jang datar dilompatinja. Hup ! batu jang kedua dilompatinja pula. Hup ! batu jang ketiga. Keempat, kelima, keenam …. Kesembilan Hup ! batu jang kesepuluh. Sampailah ia didepan rumahnja.
D.P
i
kembali
Hureee ....!" Terdengar si Kikik ketjil bersorak
dan melompat-lompat ketika tampak olehnja si Tjolot berdiri didepan pintu. Tapi si Tjolot tertegun dibalik bunga teratai. Ia tak berani masuk kedalam rumah. Tentu ia malu karena per- buatannja.
Dan ........ siapakah jang datang mendjemputnja ke-
balik bunga teratai? O, datanglah ibu dengan air mata berlinang dipipi. Di- peluknja dan-diadjaknja ia masuk kedalam. Ajahnja datang menghampiri. ,,Kau kembali, Tjolot?" ia bertanja sambil membetulkan kantjing badjunja. Tak lama kemudian datanglah pak Blentuk diikuti oleh beberapa tetangganja. Pak Blentuk melihat dengan sungguh-sungguh. Masih marahkah ia? Ja, tentu ia masih marah. Maka menangislah si Tjolot. ,,Ajah, aku berdjandji tak akąn nakal lagi. Aku telah
marah ketika dapat hukuman dari ajah. Lalu, lalu .....
aku lari. Dan ...... dan aku sekarang akan radjin ber-
sekolah". Hi, hik, hik ....... !
,,Ja, ja, bagus!" kata pak Blentuk sambil mengangguk- angguk. ,,Djika engkau berdjandji dengan sungguh-sungguh, tentu kami akan pertjaja. Engkau sudah tjukup membuat orang tuamu djengkel dan ketjewa. Dan aku
djuga !" Ja, ja, sudahlah!" sela ajah. ,,Sudahlah, kita tak akan mengulang-ulang lagi membitjarakan apa kesalahan dan perbuatanmu. Dan engkau djuga, tak akan mengulang
lagi perbuatanmu, bukan ?"
,,Ah, engkau sudah tjukup mendapat hukuman, anak- ku!" kata ibu sambil menjeka air matanja. ,,Sekarang, makanlah dulu. Perutmu tentu lapar. Berapa hari engkau tak makan sajur dan ikan jang berpitamin? Kasih- an ……!"
Dengan sikap kemalu-maluan si Tjolot berdjalan meng-
ikuti ibunja dari belakang. Dan wah, enaknja! Dendeng lalat, goreng njamuk dan sajur bening … Kemudian ajah mengirim utusan kebalai-kota agar di- sampaikan berita kepada pak Blorok, bahwa si Tjolot sudah kembali. Kepada si Lenting Kuning, ajah dan ibu tak lupa meng- utjapkan terima kasih sebanjak-banjaknja. Tapi si Lenting Kuning merasa, bahwa kembalinja si Tjolot bukan- lah djasanja. Ia berkata sambil menjanji :
Bukan aku jang berdjasa, melainkan si Belalang. 'Ku tak berbuat apa-apa, hanja kutundjukkan djalan pulang ! Harus bersjukur kita semua, Tjolot terhindar dari bahaja, Antjaman Bangau dan burung Hantu, atau tersesat didjalan buntu.
Sekarang aku 'kan pulang, perutku lapar bukan kepalang. Tugasku habis, bereslah sudah, ajo kawan, selamat berpisah.
Demikianlah, setelah bersalanan dengan ajah, ibu
serta pak Blentuk, terbanglah si Lenting Kuning, men- tjari bunga-bunga jang sedang berkembang, menghisap madu harum semerbak lalu pulanglah ketempat teman- temannja jang sudah lama menunggu kedatangannja.
dongeng ajah
Makan malam sudah selesai. Si Tjolot sudah berkumpul kembali dengan ajah, ibu serta si Kikik ketjil. Ia sudah berubah mendjadi anak jang radjin sekolah dan giat beladjar. Tak pernah terlambat bangun. Tiap hari ia ikut beladjar menjanji dan olahraga. Ia ingin mendjadi bin- tang peladjar dan djuara berenang. ,,Ajah, tjobalah dongeng!" kata si Kikik kepada ajah jang sedang duduk sambil mengusap-usap perutnja jang baru diisi. ,Ja, dongeng Kodok djaman dulu!" sambung si Tjolot sambil mendekati ajah dan si Kikik ketjil. Tampak ibu disudut mendjahit tjelana si Tjolot jang merah. Tjahaja bulan masuk kedalam rumah melalui djendela dan gorden-gorden jang aneka matjam warnanja. ,,Baiklah!" djawab ajah sambil mengendurkan tali perutnja jang terlalù kentjang. Ia meletakkan pipa rokok- nja. Lalu bertjeritalah ia. Djaman dahulu, adalah seekor Kodok jang amat som- bong. Kodok itu sudah tua, sudah landjut usianja. Ia tinggal dalam sebuah rawa, berkumpul dengan anak- tjutjunja jang berpuluh-puluh djumlahnja. Tiap hari mereka bersukaria didalam rawa itu. Menjanji- njanji, menari, berenang-renang atau ramai bertjakap- tjakap. Lebih-lebih djika turun musim hudjan. Ramailah
rawa itu oleh berbagai bunji kodok. Matjamı-matjam suaranja, ada jang besar, ada jang. ketjil, ada jang parau, ada jang tjempreng dan ada jang merdu. Sungguh me- njenangkan hati jang sedang susah ! Pada suatu hari datanglah ketepi rawa itu seekor Lembu jang amat besar. Lembu itu mentjari rumput.
sambil memamah rerumputan, tiba-tiba berbunjilah ia dengan suaranja jang besar menggelegar memenuhi rawa:
Mooooooh .... mooooooh .... mooooooh ....... ! Terkedjut dan berlompatanlah Kodok-kodok jang ada
ditepi rawa itu mentjari si Kodok tua. Badan mereka gemetar ketakutan. Pikir mereka seorang raksasa telah datang akan menghantjurkan dunia dan melumatkan seluruh bangsa Kodok. Hanja si Kodok tua jang tampak- nja tidak takut. Maka berkumpullah Kodok-kodok diseluruh rawa itu mengerumuni si Kodok tua. ,,Bunji apakah itu, Kek? Barangkali dialah satu-satu- nja binatang jang tergagah didunia," kata mereka dengan ketakutan.
Si Kakek tertawa sambil mengedjek: ,,Takutkah kalian? Hm, akupun bisa menjamai suara binatang itu," katanja
sombong. ,Wah, tak mungkin, kek!" kata anak-tjutju si kakek. ,,Kalian tak pertjaja?" tanja si kakek itu pula sambil melotot. ,,Kalau kakek bisa, tjobalah!"sela seekor Kodok besar. Lalu sikakek mentjoba mengembungkan perutnja dan
berbunjilah: Kwaaaaaak, Kwaaaaaak .........!
Maka tertawalah Kodok-kodok itu semua.
",Wah, kurang kek! Kurang besaaaaaaaaar !"
Lalù ditjobanja lagi mengembungkan perutnja :
Kaaaaaaaaak, kwaaaaaaaaak.....!
Ha, ha, ha.! Hi, hi, hi ..!" Kodok-kodok itu ramai tertawa.
,Djauh, kek! Djauh sekali ....... !" demikianlah
Kodok-kodok jang berkumpul itu ramai berteriak meng- edjek si kakek sombong. Tentu sadja si kakek mendjadi marah. Digembungkan- nja sekali lagi perutnja sekuat-kuatnja. Mukanja berubah mendjadi hidjau kebiru-biruan. Matanja merah, sedang lehernja berkembang lebar : Kwaaaaaaak, kwaaaaaaak
Amboi! Apakah jang terdjadi? Baru tiga kali berteriak, tiba-tiba terdengarlah bunji ledakan seperti suara balon karet jang petjah. Ja, ja, ja! Petjahlah kini perut si kakek jang sombong itu dan matilah ia. Kematian si kakek Kodok itu tjepat tersebar keseluruh rawa. Dan djadilah adjaran untuk anak-tjutjunji, bahwa betapapun pandainja dan besarnja seekor Kodok, nistjaja tak akan baik djadinja, djika ia menjombongkan dirinja untuk menjamai seekor Lembu jang besar. Maka tamatlah dongeng ajah. Dengan hati jang puas, melompatlah si Kikik bersama si Tjolot ketengah ruangan rumah. Mereka menjanji sambil menari-nari. Ajah dan ibu melihat sambil ber- tepuk tangan. Achirnja mereka bernjanji bersama-sama, menjanjikan
lagu jang biasa dinjanjikan bangsa Kodok diseluruh
Kolamraja :
Siapakah jang hidup didua alam, diair dan didaratan? Siapakah gemar menjanji, pandai melompat menari-nari? Inilah kami si kodok hidjau, bangsa binatang jang s’lalu riang, Boleh kalian ketepi danau, melihat kami berlomba renang. Kami djuga ingin madju, seperti kalian tak djemu-djemu, Mengedjar bulan, mentjari bintang, pandai membikin kapal terbang. Ajo, kita djangan sombong, ajo, djangan banjak: omong, Rendah hati, tetap berdjuang, tahu diri, tapi menang !
S. RUKIAH KERTAPATI
kwa/k
kweak
ek
wor