Baca PDF (OCR): Submisi Zine S05E01

58 halaman · 18 halaman diproses dengan OCR· 10874 ms

Daftar isi
  1. you can't trust
  2. 5U6m:5:
  3. ZINE
  4. dear Fadli Zon, may your existence
  5. rot in endless torment.
  6. you’ve earned every ounce of agony
  7. that life can vomit onto you for the cruelty
  8. you’ve so shamelessly imposed on thousands.
  9. SUBMISI ZINE | MUSIM KELIMA
  10. kami hanya mampir sebentar.
  11. #SubmisiZine #SangatBerharap #HariJumatKiamat
  12. S05E01 | JULI 2025
  13. BAHAYANGKARA
  14. Langit Langit Jingga Kuitansi Jingga Kuitansi
  15. Langit Langit Jingga Kuitansi Jingga Kuitansi
  16. “Untuk dividen terakhir,” ujarnya.
  17. Tagihan terakhir telah lunas.
  18. Perayaan Festival Luka
  19. Kiamat yang Tak Pernah Sampai
  20. Pojok
  21. Bom Waktu
  22. Apa yang Terjadi?
  23. Kamu Semuanya Perlu Tahu!
  24. NOW BURN, BABY BURN!
  25. 3 Fragmen Penjemputan Kiamat
  26. Ayat-ayat Nubuat Kiamat
  27. “Eli, Eli, lama sabakhtani!”
  28. “Telanjanglah engkau seperti engkau menelanjangi rakyatmu!”
  29. terdengarlah seruan dari langit keempat:
  30. Maka Yaldabaoth berkata:
  31. Sisifus Memanggul Jantung
  32. Sisifus Memanggul Jantung, di Jakarta, 2025.
  33. dunia boleh saja menahanku
  34. tapi ku punya doa ibu
  35. dunia boleh saja menahanku
  36. tapi ku punya doa ibu
  37. Apinya dari Kami,Instagram: @didaarydn
  38. Abunya untuk kalian memang pantas dinyalakan."
  39. Pusara Api Pusara Api
  40. KEPADA TUHAN
  41. PULANG
  42. There's No Tomorrow There's No Tomorrow
  43. PUISI TEMBAK-TEMBAKAN
  44. ACT I
  45. ACT II
  46. Kami Tidak Berpihak pada Bendera
  47. Aku, Malaikat, dan Kematian
  48. "Malaikat, ada perlu apa?"
  49. "Mengapa tak dari dulu?"
  50. "Memang kau siap?"
  51. KIAMAT SEJARAH: SEBAIKNYA SEJARAH
  52. DIBAKAR DAN DILUPAKAN
  53. Fadli Zon yang meragukan pemerkosaan massal terhadap Etnis Tionghoa 98
  54. Kiamat untuk sejarah harus segera dilakukan!
  55. R.I.P Orang Berbeda.
  56. Karena Dunia Ini Layak Dibakar
  57. –Kediri, 2025.
  58. asuhan kak @__deadflagblues
  59. Comrade
  60. KALAU HIDUP CUMA JADI RUTINITAS MENUNGGU MATI, KENAPA HARUS RAPI?
  61. tidak semua yang
  62. hancur perlu diperbaiki.
  63. aku menulis ini
  64. untuk kamu yang
  65. tidak akan pernah
  66. jika aku mati
  67. malam ini, pastikan
  68. kamu tahu: aku
  69. tidak sedang baik-baik
  70. jika kata ini
  71. terlalu tajam, itu
  72. karena luka ini
  73. EVERYTHING
  74. IS LEGAL
  75. POLICE
  76. WHEN THERES
  77. NO COPS AROUND
  78. PROGRESS—AT WHAT COST?
  79. TOTAL LIBERATION
  80. FOR PALESTINE
  81. FUCH
  82. POICE
  83. OLICET
  84. 1312
  85. DESTROY
  86. WHAT
  87. DESTROYS
  88. ERASE
  89. SEXISM
  90. FREE
  91. PAYSTAE
  92. a zine you can't trust

you can't trust

5U6m:5:

ZINE

S05E01 - SUBMISI ZINE – JULI 2025

dear Fadli Zon, may your existence

rot in endless torment.

you’ve earned every ounce of agony

that life can vomit onto you for the cruelty

you’ve so shamelessly imposed on thousands.

SUBMISI ZINE | MUSIM KELIMA

halo, SUBMISI ZINE a zine you can’t trust datang lagi.

kami hanya mampir sebentar.

silakan. kalian dapat dengan sesuka hati menyalin, menyebarluaskan kembali, dan membuat turunan dari materi zine ini untuk kepentingan apapun selama kalian mencantumkan identitas kontributor yang sesuai, dan menyatakan bahwa ada perubahan yang dilakukan (jika ada).

tak bosannya kami tekankan berulang kali, jangan terlalu banyak berharap. hidup tidak begitu istimewa, apalagi zine ini.

tegur sapa dan caci maki alamatkan pada instagram: @submisi atau ke twitter: @submisi_zine

#SubmisiZine #SangatBerharap #HariJumatKiamat

terima kasih, kalian biasa saja.

S05E01 | JULI 2025

BAHAYANGKARA

MOSI TIDAK PERCAYA PADA POLRI

Langit Langit Jingga Kuitansi Jingga Kuitansi

Langit tidak lagi biru. Warnanya jingga; bukan jingga senja yang puitis, melainkan jingga kusam seperti kertas kuitansi yang memudar di bawah matahari. Dari penthouse di lantai 90 menara korporat yang kini bisu, Baskara bisa melihat seluruh kota terdiam di bawah selimut debu halus. Debu itu bukan tanah. Itu adalah partikel-partikel dari miliaran produk yang pernah dipuja, dibeli, lalu dibuang. Debu plastik, debu silikon, debu ambisi.

Kami menyebutnya “Koreksi Hebat”. Bukan kiamat dari kitab suci atau serangan alien dari planet Mars. Kiamat kami jauh lebih banal, lebih akuntabel. Ternyata, alam semesta punya neraca keuangannya sendiri. Dan selama berabad-abad, spesies kami hanya terus membuat tagihan baru tanpa pernah berniat membayarnya.

Baskara menuang sisa terakhir dari sebotol wiski berusia 50 tahun ke dalam gelas kristal. Ironis. Minuman yang harganya setara dengan upah seumur hidup seorang buruh pabrik yang merakit gawai yang kini menjadi debu di luar sana. Ia memutar gelasnya, menatap cairan ambar itu. “Untuk pertumbuhan,” desisnya sinis.

Langit Langit Jingga Kuitansi Jingga Kuitansi

Dulu ia seorang analis tren. Pekerjaannya adalah meramal masa depan, bukan dengan bola kristal, tapi dengan data. Angka-angka yang ia sodorkan ke dewan direksi selalu sama: konsumsi tak terkendali, sumber daya menipis, ekosistem di ambang kolaps. Peringatannya jelas: pertumbuhan tanpa akhir di planet yang terbatas adalah dongeng pengantar tidur bagi orang-orang serakah.

Tapi tak ada yang mau mendengar. Peringatannya tenggelam dalam riuh rendahnya tepuk tangan untuk laporan kuartalan yang melampaui target. Mereka lebih memilih grafik yang menanjak naik daripada grafik kehidupan yang menukik tajam. Mereka membangun menara-menara kaca ini sebagai monumen kehebatan mereka, tidak sadar bahwa mereka sedang membangun nisan mereka sendiri. Kalau boleh jujur, Baskara sebenarnya juga tidak peduli banyak tentang isu itu. Dia seorang analis tren yang meraup keuntungan dari sistem yang melahirkannya.

Setiap produk yang kami ciptakan, setiap iklan yang kami tayangkan, setiap tetes minyak yang kami sedot dari perut bumi adalah baris-baris dalam tagihan raksasa itu. Dan beberapa tahun lalu, kurir kosmik akhirnya datang mengetuk pintu.

Tidak ada ledakan dahsyat. Tidak ada api dan belerang. Yang ada hanyalah “Suara”. Frekuensi rendah yang pada awalnya nyaris tak terdengar, namun perlahan meresonansi dengan segala sesuatu yang terbuat dari keserakahan. Gedung-gedung yang dibangun dari utang mulai bergetar. Gawai di tangan orang-orang tiba-tiba meleleh menjadi genangan logam cair. Rekening bank di seluruh dunia serentak menunjukkan angka nol besar yang dingin.

Sistem yang kami sembah sebagai tuhan—pasar bebas, konsumerisme, modal tak terbatas—mengkanibal dirinya sendiri dari dalam. Tak ada yang bisa dibeli atau dijual ketika nilai itu sendiri telah menguap. Orang-orang kaya di bunker mereka mati kelaparan, dikelilingi tumpukan emas yang tak bisa dimakan. Orang-orang miskin mati di jalanan, seperti yang selama ini sudah mereka alami sebenarnya.

Baskara berdiri di balkon. Angin meniupkan debu produk ke wajahnya. Di bawah, papan reklame digital raksasa terakhir masih berkedip-kedip lemah, menampilkan slogan yang menghantui: “Miliki Segalanya.”

Ia tertawa. Tawa kering yang serak. Kami memang memilikinya. Kami memiliki semuanya, sampai tak ada lagi yang tersisa untuk dimiliki.

Kemudian “Suara” itu kembali, kali ini lebih kuat. Gelas di tangan Baskara bergetar hebat. Lantai di bawah kakinya mulai terasa seperti pasir. Ia tidak takut. Baginya, ini bukan kehancuran. Ini adalah pelunasan. Keadilan puitis dalam skala universal. Ia mengangkat gelasnya ke langit jingga yang pasi itu, sebuah toa untuk dunia yang tuli.

“Untuk dividen terakhir,” ujarnya.

Di tengah keheningan abadi, satu pikiran terakhir melintas di benak Baskara sebelum ia dan menara itu luruh menjadi debu kuitansi yang sama.

Tagihan terakhir telah lunas.

Dhony F. Wibawa X: @donfww "Screenwriter, fotografer, videografer. Kalau lagi nggak ada kerjaan di ketiganya, berarti status resmi: pengangguran berpengalaman. Sering terlihat berpura-pura sibuk di depan laptop sambil ngopi."

Perayaan Festival Luka

Aku lelah. Aku lelah menjadi tiang. Lelah jadi pondasi bagi orang lain, sementara tanah di bawahku sudah lama longsor. Aku lelah jadi anak yang baik, yang diatur kapan harus diam, kapan harus mengangguk, kapan harus pura-pura kuat saat ingin ambruk.

Aku tumbuh dikelilingi perintah. Jangan menangis. Jangan membantah. Jangan egois. Tanggung jawab terlalu banyak, hingga tak sempat untuk sekedar merasakan sakit. Aku hidup begitu lama di dalam tubuh yang tidak pernah diberi izin untuk terluka. Sakit hatiku dibungkam. Marahku dipenjara. Kesedihanku disembunyikan di balik kata “tidak apa-apa” yang kuucapkan lebih sering dari doa.

Sampai akhirnya hari itu tiba. Hari ketika semua emosi yang kutahan seperti kawanan ombak pecah, berdesakan keluar dari dadaku, menghantam segala yang coba kusembunyikan. Ombak itu membawa reruntuhan luka lama, puing-puing kata yang tak pernah sempat kuucapkan, dendam-dendam kecil yang kukubur dalam senyuman. Menghantam tanpa ampun, mengikis bagian-bagian diriku yang selama ini dipaksa kuat.

Aku membiarkannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membiarkan diriku tenggelam.

Aku menangis. Tangisku adalah badai, adalah hujan seribu malam, adalah letusan dari gunung yang terlalu lama tidur dan dipaksa diam.

Tangisku mengisi kamar sempit seperti air bah. Tangisku membasahi lantai, dinding, bahkan langit-langit yang selama ini jadi saksi bisu, saat aku bertahan tanpa alasan yang masuk akal. Aku marah pada semuanya. Pada dunia yang tak pernah menanyakan keadaanku. Pada diriku sendiri, yang terlalu lama membungkam rasa demi terlihat bisa diandalkan.

Tapi hari itu, aku menang. Menang dari ketakutan yang selama ini kupelihara. Menang dari beban yang kupanggul sambil tersenyum, padahal punggungku hampir patah. Menang dari diriku yang lama.

Hari itu aku pecah. Tapi, justru di sanalah aku utuh. Aku tak lagi menyembunyikan tangis. Karena aku tau, menangis bukan kekalahan, melainkan pembebasan. Bukan bentuk menyerah, tapi bentuk keberanian paling jujur. Keberanian untuk mengakui bahwa aku punya batas, bahwa aku punya rasa, bahwa aku manusia. Tangisku adalah perayaan festival luka yang akhirnya boleh bersuara. Napas panjang dan tubuh yang akhirnya bisa rebah tanpa harus menjelaskan kenapa.

Sebelum tidur, aku tersenyum pada luka-lukaku. Aku menang. Bukan karena dunia memberi ruang, tapi karena aku berhasil menciptakan ruangku sendiri, dari sisa-sisa napas yang tidak habis meski berkali-kali ingin mati. Malam itu, aku berbaring dengan mata sembab dan tubuh gemetar, tapi untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, aku tak lagi pura-pura baik-baik saja.

Mutiara Pasaribu X: @ayamgota

Kiamat yang Tak Pernah Sampai

Banyak dari kita terenggut jiwanya Selaras hidup tapi tak hidup Maksimalnya hanya menggepalkan tangan kiri Oh sungguh ini neraka

Tapi, ada seorang bertanya Kapan neraka berakhir? Hingga kiamat menghampiri Kapan kiamat menghampiri? Itulah, kiamat yang tak pernah sampai

Pojok

Sudah disalahkan Kami dipojokkan Apa yang kalian inginkan?

Pikiran kami yang sexy? Rambut kami yang berantakan? Atau pakaian kami yang lusuh?

Tampaknya itu terlalu jauh Kalian hanya menginginkan nafsu bengis kalian terpenuhi, bukan?

Bom Waktu

Aku tak mengerti apa yang sedang kalian lakukan Menggali tanah untuk diri sendiri Membuat bom waktu yang terus kalian pegang Dan berlari menuju jurang yang sudah kau persiapkan

Sebenarnya kau ini apa? Makhluk halus juga mengerti kapan sebuah bom dilempar Tapi, kalian terlalu erat memegang bom itu Apa bom tersebut terlalu membuat nyaman Hingga suatu saat bom meledak kau akan berkata “maafkanlah kami”

Apa yang Terjadi?

Kita yang berpura-pura tak tahu Atau kita yang tak cukup sadar? Sama-sama Ada yang menutup mata, ada yang belum diberi mata

Tapi, amarah itu niscaya Amarah dilahirkan tak mengenal waktu Amarah itu timbul kapan saja

Kemudian, ada yang bertanya Tapi sudah lama amarah tak lahir? Ya, Amarah nanti akan dilahirkan oleh rasa yang pedih dari jiwa yang tercerabut

Kamu Semuanya Perlu Tahu!

Aku ingin katakan Ya, dengan tegas! aku ulangi!

Aku ingin katakan Di titik terendah untuk tetap percaya bahwa bertahan adalah pilihan yang terbaik

Badai depresi terus memutari otak ini Di titik terendah untuk terus tegak seperti di awal layaknya banyak orang katakan

Hantu kegilaan kian menghampiri Di titik kerendahan untuk bisa berjalan di sekeliling mayat dan para pembunuh

Kehancur leburan atas tubuh ini semakin dirasakan Hari, Bulan, bahkan Tahun – semuanya terjadi semacam itu Tapi, tak disangka keberuntungan datang seraya tak diundang

Harapan hidup untuk tetap lebih layak Harapan untuk menunjang kualitas Harapan kebaikan yang sebelumnya tak terlalu terasa

Kini, datang layaknya hujan deras Siapa yang tahu ini semua akan berubah? Senyuman dan canda tawa itu kembali datang

Untuk semuanya! Percayalah! Tak ada yang sia-sia ketika napas harapan terhembus di ruang yang tak diinginkan

Khanan Saputra Instagram: @bungputra_ “Pemuda Desa yang Menjaga Kewarasan dengan Menulis”

NOW BURN, BABY BURN!

hidup begitu membosankan dan kita seperti dipaksa untuk mengikuti standar hidup yang normal di mata masyarakat

sekolah, lulus, bekerja, lalu menikah lalu mempunyai anak dan bekerja terus kerja begitu seterusnya sampai apokalips tiba

apakah tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak banyak dilakukan oleh orang-orang pada umumnya seperti membakar sesuatu yang dianggap sakral misalnya

Nataf Instagram: @bakar_bendera "Individu penyendiri yang tidak terlalu suka keramaian apalagi acara hajatan, suka pelihara ternak dan bercocok tanam di belakang rumah."

3 Fragmen Penjemputan Kiamat

  1. Langit tidak retak. Ia hanya diam. Matahari tidak meledak. Ia memalingkan muka. Pada hari itu, tidak ada sangkakala. Hanya dering notifikasi terakhir dari Tuhan yang lupa keluar dari grup. Aku melihat manusia bersujud, bukan pada Tuhan, tapi pada tagihan listrik yang belum lunas. Itulah kiamat: bukan kehancuran semesta, tapi momen saat kita sadar bahwa kita tidak pernah benar-benar hidup.

  2. Mereka bilang kiamat akan datang. Aku bilang: ia sudah lewat. Ia datang saat kita berhenti menangis melihat pembantaian. Ia datang saat kita selfie di depan reruntuhan. Kiamat bukan meteor. Kiamat adalah ketika senyummu tak lagi bisa membedakan dosa dari diskon. Dan aku, aku tidak menunggu hari akhir. Aku sudah tinggal di tengahnya.

  3. Inilah kiamat: ketika manusia menjadi eksibit di dalam museum ciptaan sendiri. Tulisan-tulisan di dinding: “Di sini pernah ada cinta.” “Di sini dulu orang menyembah sinyal.” “Di sini manusia gagal.” Tidak ada ledakan, tidak ada darah. Hanya senyap yang terlalu rapi, dan kursi kosong di teater akhir zaman.
    Hanlelono Iinstagram: @ijauparang

Ayat-ayat Nubuat Kiamat

- Awanama
1. Pada awal kesudahan, sebelum segala waktu terlipat seperti kulit ular tua yang mengelupas, dunia menyusu pada puting api, dan langit digulung seperti naskah perkamen yang dibakar dari ujung ke ujung. Maka berbicaralah Yaldabaoth, Putra Sang Kekacauan, Rahim Sang Tipuan, Lidah Pertama dalam Kegelapan, katanya: “Beginilah firman Iblis yang lebih jujur dari para nabi, bahwa dunia akan berakhir tidak dengan penghakiman, tetapi dengan orgasme, racun, dan sendawa busuk peradaban.”

  1. Maka datanglah hari ketujuh puluh dan tujuh ribu ketujuh dari zaman yang dibunuh oleh kemuliaan, dan bumi pun membuka pahanya seperti seorang perempuan yang ditikam oleh Surga, dan berkata: “Akulah rahim kehancuran.”
  2. Dan kulihat orang-orang kota, mereka menggigit logam, menyembah algoritma, mencium kaki ideologi, dan pada detik ke-999 sebelum ledakan matahari buatan, mereka menyanyikan lagu pujian kepada saham dan seks virtual.
  3. Maka Yahweh memanggil anak-anaknya: Islam berseru, Kristen berseru, Yahudi berseru, mereka berdebat dengan kata-kata yang ditulis dalam batu, tapi batu telah mencair dan menjadi tanah liat di bawah jari-jari anak Sentinel yang tak bersunat.
  4. Maka datanglah tiga rasul dari arah barat: yang satu membawa Kitab Musa, yang satu membawa Injil Lukas, yang satu membawa Qur’an yang terbakar separuh. Mereka bertanya kepada anak itu, “Siapa Tuhan yang benar?”
  5. Dan anak itu menjawab dalam bahasa yang tak pernah dicatat dalam aksara

“Tuhan adalah seekor lalat yang bersetubuh dengan mata bangkai. Ia tidak peduli kitabmu, sebab Ia tak bisa membaca.” “Kami tidak punya dosa, sebab kami tidak tahu apa itu kata.”

  1. Karena sungguh, yang terpilih bukan yang berdoa, tetapi yang tak pernah tahu kata “doa,” yang membakar pohon demi ruh, bukan kitab demi fatwa, yang menggambar langit di atas perut perempuan yang melahirkan langit itu sendiri.
  2. Maka bumi bergetar seperti tubuh seorang perempuan dalam puncak yang tak disetujui agama, dan kota-kota runtuh seperti dada-dada silikon yang dibenci malaikat. Dan para imam berkumpul di katedral terakhir, menyanyikan mazmur dengan suara tercekik. Namun suara Tuhan telah digantikan oleh erangan dari dubur yang disembah.
  3. Di langit ketujuh, Tuhan memuntahkan bintang-bintang-Nya, sebab mereka telah digunakan untuk menghitung hutang. Lalu Ia menyalibkan Diri-Nya sendiri di antara dua payudara Venus, dan berseru:

    “Eli, Eli, lama sabakhtani!”

  4. Dan muncullah suara dari hulu tahta, seperti kentut dewa, dan dunia pun diguncangkan bukan oleh sangkakala, tapi oleh getar dubur agung yang terbuka seperti matahari busuk, dan dari dalamnya keluar kabut, dan dari kabut keluar bau, dan dari bau keluar penglihatan. Dan Tuhan mengambil daftar panjang dari laci-Nya yang berjamur. Dan di atas daftar itu tertulis nama-nama: “Achmad bin Suap, Komjen Munafik bin Kekerasan, Lurah Selingkuh bin Dana Desa, Letjen Penggelapan bin Lupa Allah, dan sejawat-sejawatnya.” Maka diseretlah mereka dalam telanjang bulat, hanya beralas lambang negara di kemaluannya, dan malaikat-malaikat berseru:

    “Telanjanglah engkau seperti engkau menelanjangi rakyatmu!”

terdengarlah seruan dari langit keempat:

“Cukup sudah perzinaan umat manusia dengan sistemnya sendiri!”

Maka Yaldabaoth berkata:

“Setiap proyek tol yang menabrak rumah warga, akan kujadikan lintasan belatung di usus kalian.

Setiap seminar anti-korupsi yang kalian pimpin akan diputar berulang di liang telinga kalian selagi penis kalian dipilin oleh para pengangguran yang kalian ciptakan.”

Sisifus Memanggul Jantung

Di puncak bukit, aku melihatnya Sisifus dengan langkah yang nyaris sirna Bukan batu yang ia pikul di sana Tapi sebuah jantung, merah dan penuh luka

“Kenapa jantung?” tanyaku lirih Ia menatapku, wajah penuh getir “Karena aku pernah mencoba lari Melompat ke dalam jurang sunyi Namun jantung ini, dia ga berhenti Ia berdetak, menolak mati.”

Aku terdiam, kata-katanya tajam Seperti memanggil luka-luka dalam Berapa kali aku ingin menyerah Berharap semua berakhir, lenyap sudah? Tapi jantungku, keras kepala Ia bertahan, meski aku meminta jeda

“Tidakkah itu menyiksa?” tanyaku pada Sisifus “Beban yang ga mau lepas Jantung yang terus melawan arus.”

Ia tersenyum, letih tapi tegas “Penyiksaan ini adalah napas Hidup, meski perih, tetap punya nyala Dan aku memilih mendengarnya.”

Jantung itu berdetak, keras dan pilu Mengiringi langkahnya yang ga pernah jemu “Jadi apa yang kau lakukan?” aku bertanya Ia menjawab, tanpa jeda “Aku tak lagi melawan jantungku Aku berjalan bersamanya, meski tanpa tujuan tentu.”

Aku berdiri di sana, mendengar detak sendiri Teringat semua malam ketika aku ingin pergi Namun jantungku, seperti Sisifus Berdetak, menolak tunduk pada gelap yang halus

“Mungkin aku ngga tahu cara berhenti,” Aku membisikkan pada sunyi Tapi mungkin itu jawabannya Bahwa meski ingin menyerah Jantung kita, selalu menolak kalah

Sisifus Memanggul Jantung, di Jakarta, 2025.

Maria Magdalena (@toketriot) "setitik kecil di tengah dunia yang begitu besar. Ada di mana-mana dan bukan siapa-siapa. Dapat diketuk melalui email di: [email protected]"

dunia boleh saja menahanku

tapi ku punya doa ibu

oleh: Ivanda Ilham

Lirik dari lagu Perunggu yang berjudul “Tapi”. Sebuah lirik yang sederhana, tetapi punya daya magis yang relevan untuk menghadapi dunia yang brengsek ini. ----------------------------------------------------

Di fase dewasa ini kita dipaksa merasakan lalu-lalang padatnya kota dan mesin produksi yang tak pernah berhenti berputar, meninggalkan zona nyaman dan terperangkap keraguan untuk langkah yang diambil selanjutnya. Tuntutan untuk karung beras yang harus terisi penuh serta listrik pascabayar yang tidak boleh terlambat jatuh temponya.

dunia boleh saja menahanku

tapi ku punya doa ibu

Meninggalkan jauh dari rumah untuk sesuap nasi agar bisa bertahan hidup sampai besok, namun aku melawan dunia yang fana ini hanya berbekal doa ibu. Ia adalah simbol yang selalu menguatkan kita untuk terus berjalan meski tidak memiliki garansi untuk sebuah keberhasilan.

Kecemasan dan kegagalan akan selalu hadir di tengah-tengah perjuangan hidup, tapi aku memiliki keyakinan bahwa doa ibu adalah senjata yang paling mujarab untuk menggapai sebuah mimpi, meski dunia tak pernah beri ruang untuk tumbuh dan berkembang.

Kukira, saat aku duduk di bangku sekolah dasar magisnya adalah sayur kunci dan sambal bawang yang menjadi favoritku sampai saat ini dan selalu aku bawa setiap minggu sore untuk kembali ke tanah rantau. Ternyata ia punya magis yang lebih besar lagi, yakni doanya. Yang selalu hadir di setiap kebingungan, apakah ini benar-benar akan mengubah hidup, atau hanya sebuah langkah sementara yang akhirnya hanya kembali ke titik yang sama.

Aku berharap amunisi “doa ibu” ini bisa bertahan lebih lama yang selalu menemaniku untuk pergi ke selatan, meskipun dunia menawarkan janji-janji baru, ada rasa takut akan kehilangan yang tidak bisa dihindari. Meski rintangan sulit dilewati, aku selalu meyakini bahwa takdir akan selalu menemui jalannya.

Dida Ryandana

Apinya dari Kami,Instagram: @didaarydn

"saya hanya sedang mencoba mengingatkan bahwa beberapa api

Abunya untuk kalian memang pantas dinyalakan."

Kami tidak datang untuk berdamai. Kami datang membawa nyala yang kalian nyalakan dulu. Api ini bukan lahir dari ambisi, tapi dari luka. Dari puing rumah di Beirut. Dari tangis yang tak pernah kalian dengarkan. Kami membakar bukan untuk menunjukan kekuatan, tapi untuk menunjukan bahwa kami masih hidup. Dan kalian akan tahu, bahwa Ketika kami terbakar, kami akan menyeret kalian ke bara yang sama.

Ketika dunia bungkam, kami bersuara lewat ledakan. Tidak ada ruang untuk doa yang digubris. Ketika dunia hanya berani berduka lewat paragraph diplomatik, kami memilih roket. Kami membalas bukan karena benci, tapi karena terlalu lama menahan.

Jangan sebut ini pembalasan emosional. Ini pengingat bahwa setiap Tindakan punya akibat. Kalian menghancurkan keluarga kami, dan kami menghantui malam kalian. Ini bukan soal agama. Ini soal kehormatan yang diinjak terlalu lama.

Setiap serangan kami meyuarakan dua kota yang terluka. Gaza dan Beirut. Kami tak hanya menyalakan api untuk kami sendiri, tapi untuk setiap rakyat yang kalian kubur dalam sunyi. Ketika satu bangsa melawan, itu untuk banyak bangsa yang bisu karena ditindas.

Kami tidak haus darah. Kami hanya muak menjadi korban. Dunia boleh mengecam, tapi dunia juga yang menciptakan monster ini, dengan diamnya, dengan komprominya, dengan standarnya yang bias.

Pusara Api Pusara Api

api merajalela sama memerah. kotor, basah, dan berserak darah. siapa yang mau membersihkan? kalau bukan tuhan yang kasih hujan. kalian bisa apa?

Aditya Instagram: @aditya.rchmn

Puisi ini menggambarkan perpisahan terakhir di tengah kehancuran perang. Saya menyoroti kesombongan manusia yang berujung pada kehancuran, darah, dan debu mesiu. Di balik api yang membara, hanya tersisa pusara— simbol takluknya manusia di hadapan kematian dan Tuhan

“jabat tanganku untuk terakhir kali. kita berpisah di dalam liang kubur yang sama.

esok hari tiada lagi dunia. tiada lagi, meski hanya sebuah pusara.

adakah terpikir dalam benakmu. tetap tersenyum di dalam debunya mesiu.”

(WOW! - ARMAGEDDON)

KEPADA TUHAN

ingin aku merebah di atas kasur dan bantalmu yang bikin tertidur sangat pulas tanpa mimpi

‎lelah berada di atas panggung yang begitu megah namun aku cuma bisa diam terpojok merengkuh diri sendiri

bukankah banyak sudah waktu terjaga bagiku, jadi kapan waktu yang tepat untukku?

segala perbekalan ku biarlah menjadi penilaianmu-- sekalipun harus menjadi bahan bakar apimu

kuterima apapun itu dengan segala kepasrahan, terpenting aku terbebas dari dunia yang sudah busuk ini

PULANG

aku ingin pulang lari ke dapur memeluk pisau atau berayun di langit-langit rumah dengan leher tergantung

‎sampai nanti terbangun di kehidupan yang lain

melambaikan tangan penuh kekalahan sambil memandang orang-orang di taman penuh bunga

sedang aku di seberang menjadi bahan bakar api

Muhammad Sukron

There's No Tomorrow There's No Tomorrow

Dunia yang ada sekarang telah tak layak untuk dijalani Tiada yang dijanjikan di masa depan Siapkan senjatamu, hei kawan

Ledakan perlawanan terakhir dilemparkan Menyisakan puing-puing keterasingan Bakar semua ranting kedurjanaan Rayakan abu pemaknaan ekstensial

Geretan api ini di tanganmu Pilihlah. Kau pantik untuk terangi atau bahkan membakarmu Nyala, nyala, nyala

Tatanan bisa saja kau bangun Serta kau runtuhkan dengan laku Pencarian mana mungkin usang Lalui apa saja. Terjang

Kau harus siap terjebak di rongga waktu Kokohkan kuda-kuda pikiranmu Siapkan tuas pelatukmu Sambil lantangkan there's no tomorrow

El Baron ( bocah rada oon) Instagram: @sonny_dzulfaqeer X: @muh_shonhaji “Mahasiswa sering pindah kampus yang ingin segera lulus”

PUISI TEMBAK-TEMBAKAN

Ralka Skjerseth Instagram: @haxbrygden “I am one with a sincere, common dialectic.”

ACT I

Inilah saatku menuntaskan apa yang tercerabut; terlucuti— Diperbarui secara berkala. Aku memutuskan untuk tumbuh dalam waspada; Aku memutuskan untuk tumbuh dalam waspada; anti-keyakinan.

Cabut aku sampai ke akar-akarnya. Bumihanguskan apa yang korosif meskipun itu berarti sebagian dari diriku harus musnah.

Kalau lagi nggak pusing, Tuhanku jamak. Hari ini Allah, besok Brahma, besoknya lagi Freyr dan Tyr. Hari ini Allah, besok Brahma, besoknya lagi Freyr dan Tyr. Baik adanya untuk ambil yang baik-baiknya dari masing-masing.

Tapi boleh lah ya rajapati tipis ke 1–2 orang Syarat dan ketentuan berlaku: cuma dlakukan di kepala sendiri. Itu kata Tuhan gua. Mau apa loe!

Mendingan kita semua Musnah berjamaah aja Karena kita kankernya. Kita kacung lemah substandarnya.

Semua orang gua rajapati pake Kalashnikov. Ya, termasuk gua sendiri.

ACT II

Inginku masukkan aku ke lapas beserta pikiran-pikiran jahatku dan segala yang menghantui, dan menghampiri, membombardir tanpa kenal situasi.

Hidupku ialah milikku dan sebagian besar jiwaku ialah jiwaku namun syarat dan ketentuan berlaku menurut pemerintah dan status quo.

Tidurlah bersama rezim yang menyala yang memaksamu untuk terus bertahan— Istirahatlah, diberkatilah, dikultuskanlah, periode kejayaanmu yang tak pernah ada itu.

Bersama, kita runtuhkan apa yang kau harap harus runtuh.

Kami Tidak Berpihak pada Bendera

(sebuah pernyataan dari yang tak ingin mati demi perang mereka)

Kami tidak berpihak pada bendera. Kami berpihak pada kehidupan. Kami tidak mengutuk satu bangsa sambil memaafkan yang lain. Karena kami tahu, yang saling melempar bom itu bukan kami, tapi mereka—para pemilik peta, para penyusun strategi, dan para penjaga takhta.

Kami menolak mati demi negara yang tidak kami pilih, melawan negara lain yang juga bukan pilihan kami. Batas negara yang digambar dengan darah, tapi darah kami bukan tinta untuk tanah yang sama sekali tak kami kenali sebagai rumah.

Kami menolak menonton dari kejauhan, sambil bertepuk tangan pada salah satu pihak, seolah kehancuran yang ‘resmi’ itu bukan genosida yang dibungkus dokumen. Seolah misil yang ‘dibenarkan’ itu tidak membawa anak-anak ke dalam puing dan bisu. Kami menolak memilih siapa yang berhak hidup dan siapa yang layak musnah.

Perang ini bukan perang kami. Kami tidak membangun tembok, tidak membuat rudal, tidak menyusun embargo. Tapi kehancurannya—ledakan yang menjalar dari padang pasir menuju meja makan kami, krisis yang menjalar dari sanksi sampai ke dapur kami, ketakutan yang menjalar dari langit terbakar hingga ke napas kami—adalah menjadi luka-luka kami.

Kami tidak netral. Kami hanya tidak percaya pada pemerintah yang menyebut perang sebagai perlindungan. Kami tidak diam. Kami hanya tidak ingin berteriak dengan bahasa yang ditulis oleh korporasi senjata.

Kami memilih kehidupan—yang tidak dipayungi bendera, tidak ditentukan agama, tidak dikurung ideologi. Kehidupan yang tumbuh dari tanah bersama, yang menyembuhkan, bukan membenarkan pembantaian dengan narasi heroik.

Kami adalah mereka yang tidak berseragam. Kami adalah mereka yang tidak punya tentara. Kami adalah mereka yang tidak menginginkan musuh, karena kami sudah cukup menderita oleh teman-teman palsu yang berbentuk negara.

Cimeng D. Shalom “Musisi emerging dan juga sebagai pedagang donat.”

Aku, Malaikat, dan Kematian

Jam sebelas malam menuju warkop langganan, tumben sekali sudah sepi, hanya ada aku dan bapak pemilik, mungkin karena di luar habis hujan seharian atau mungkin efisiensi ekonomi, pikirku. Aku memesan mie instan dan teh manis hangat. Sambil menunggu pesanan, sebatang rokok ku bakar

Tak berselang lama, ada pesan yang masuk menanyakan di mana aku berada, warkop balasku. Sekitar lima belas menit berlalu malaikat sampai, kami hanya saling bersalaman, ia memesan kopi tanpa gula lalu duduk di bangku paling pojok. Karena sudah kenal lama, aku paham maksudnya ketika malaikat memilih duduk di pojok seorang diri, berarti ia sedang ada urusan.

Setelah selesai makan, aku menghampiri malaikat di pojokan, duduk saling berhadap-hadapan, menyalakan sebatang rokok pun malaikat, ada jarak hening yang panjang di antara kita selain asap yang mulai memenuhi ruangan.

"Malaikat, ada perlu apa?"

"Mohon maaf aku harus mencabut nyawamu sekarang"

"Mengapa tak dari dulu?"

"Memang kau siap?"

"Untuk orang yang kehilangan tujuan aku siap, lagi pula tiap Jumat aku menunggu kiamat datang, namun tak datang-datang juga"

Hening yang mencekam, serta angin malam yang mulai menusuk tubuh, membuatku ingin membakar sebatang rokok lagi. "Tunggu sebatang terakhir habis ya," ujarku sembari memberi sebatang juga kepada malaikat

Suara detik jam, suara kodok yang bernyanyi, menemani batang terakhirku. Rokok kupuntungkan, aku berjalan keluar, tak pula bersalaman dengan malaikat, "terima kasih sudah menemaniku ketika aku sedang kesepian," ucap malaikat sembari mengelap air matanya

Dengan tenang aku berjalan keluar, melihat langit malam untuk terakhir kali, sayangnya tak ada bintang pun bulan, hanya lampu jalan yang mulai redup. Aku menyeberang jalan, tak lama entah dari mana truk sampah menghantam tubuhku. Sepersekian detik aku sempat menoleh ke belakang, di pojokan malaikat menangis tersedu-sedu

"Sialan seharusnya ia tak usah menangis, lagi pula hal-hal seperti ini bukan yang pertama kali buatnya"

"Segala macam omong kosong lainnya dapat ditemukan di IG/X: @menyembahkucing"

KIAMAT SEJARAH: SEBAIKNYA SEJARAH

DIBAKAR DAN DILUPAKAN

Oleh: Dede Samsudin

Akhir-akhir ini tentu banyak sekali isu beredar mengenai ketimpangan sejarah dengan dalih penulisan ulang untuk pelurusan. Entah apa tujuan sebenarnya, tentu yang terlihat kalau tidak menjadi proyek mencari duit atau menghapus dosa-dosa yang hari ini sudah menjadi penguasa. Tentunya sangat rentan akan terjadinya ahistoris yang akan menimbulkan polemik di berbagai kalangan. Tetapi kita semua sebenarnya sudah lelah melihat ada yang berupaya penghapusan kebenaran atau kebenaran yang tidak diungkap, seakan sejarah tidak berpihak pada kebenaran.

Namun kita sudah benar-benar lelah soal sejarah ini, begitu muak! Bahkan, apa pentingnya sejarah? Apakah kita semua benar-benar belajar dari sejarah? Sejarah menarik hanya untuk menjadi dongeng dan menambah wawasan saja, tidak lebih dari itu. Sejarah juga sudah dilecehkan oleh para penguasa dan akademisi sejarah yang mencari peruntungan dalam penelitian akal-akalannya itu. Hari ini yang sedang ramai diperbincangkan, yaitu Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan mengatakan bahwa peristiwa perkosaan masal 98 itu tidak terjadi.

Fadli Zon yang meragukan pemerkosaan massal terhadap Etnis Tionghoa 98

Selaku Menbud, Fadli Zon menulis ulang sejarah Indonesia karena ada beberapa hal yang tidak sesuai dan akan membuat corak yang lebih lembut, menurutnya. Tetapi itu menuai kontroversial karena beberapa peristiwa tidak diangkat, salah satunya ia meragukan pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa yang terjadi di tahun 1998. Padahal terdapat fakta peristiwa ini benar terjadi dan siapa yang harus bertanggung jawab? Tentu yang saat ini menduduki bangku pejabat di pemerintahan.

Pemerkosaan massal ini tejadi pada Mei 1998 yang terjadi di beberapa titik wilayah yang korbannya beretnis Tionghoa. Terdapat 150 perempuan beretnis Tionghoa yang mengalami pemerkosaan yang tercatat oleh Tim Relawan Kasus Mei 1998. Faktor terjadinya peristiwa ini tentu karena krisis ekonomi-politik yang berlangsung pada masa itu disertai dengan kerusuhan di berbagai tempat.

Perkosaan massal ini pernah dilaporkan oleh Presiden B.J Habibie untuk mengupayakan keadilan terhadap para korban. Saat itu, aktivis Masyarakat Anti Kekereasan terhadap Perempuan, Sarapinah Sadli dan Ita Nadia menghadap kepada Habibie, tetapi mengalami indimitasi oleh Penasihat Militer Presiden, Sintong Panjaitan dan Panglima TNI Wiranto pada saat itu dengan amarah dan peristiwa ini tidak nyata. Meski begitu, Habibie percaya adanya peristiwa itu dan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dan memenuhi permintaan dari Komnas Perempuan.

Hasil dari investigasi tersebut telah ditemukan bahwa perkosaan terjadi merupakan bentuk terror yang dilakukan secara massif dan sistematis. Hasil investigasi yang dilakukan TGPF ini dilanjut ke Jaksa Agung oleh Komnas HAM untuk penyelidikan lebih lanjut. Meski begitu, sampai 24 jam lalui tidak dituntaskan karena berkasnya diduga tidak lengkap. Tak hanya sampai di situ, keadilan masih dapat berlanjut dengan muncul salah satu penyintas bernama Ita Martadinata yang akan bersaksi di sidang PBB untuk menjelaskan perkosaan massal ini ke tingkat nasional. Naasnya dia dibunuh seminggu sebelum kesaksian dimulai.

Peristiwa akan begitu dzolim bila dikatakan tidak terjadi, padahal data dan faktanya dapat diakses, tetapi mungkin pemerintah enggan untuk memasukkan tangannya ke sejarah kelam yang kotor. Dilakukannya penulisan ulang sejarah Indonesia dan tidak melibatkan peristiwa kekelaman pemerintahan, terutama era Orde Baru, berarti sejarah versi pemerintah ini tidak dapat dikatakan kebenaran! Tujuan ini ditulis hanya untuk membersihkan darah-darah masa lalu.

Kiamat untuk sejarah harus segera dilakukan!

Setelah peristiwa yang begitu mencekam ternyata diabaikan oleh pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab dalam permasalahan ini, ternyata malah dicampakan begitu saja bahkan sudah diragukan. Bagi mereka, sejarah merupakan upaya untuk narasi pencitraan mereka dan melanggengkan kekuasaan, sehingga bila terdapat darah, maka akan dibersihkan dari kebenaran. Tentu tidak ada empati terhadap korban yang dihapus sejarahnya dari kebenaran, yang paling penting adalah sejarah bagus nan elok bagi mereka.

Upaya pencegahan masih bisa dilakukan, masih banyak sejarawan yang melakukan negasi terhadap sejarawan pro terhadap negara. Meski begitu, sebetulnya mereka hanya membuat polemik lalu menjadi debat pro-kontra sepanjang masa. Tentunya harus terdapat dobrakan karena begitu muak melihat iklim sejarah seperti ini.

Maka dari itu, sejarah tidak akan lagi berguna, sejarah akan mati lalu dikubur oleh muntahan orang yang lelah dengan hantu masa lalu berkepanjangan. Kita sudah tidak perlu dengan sejarah lagi, karena tidak ada gunanya. Biarkan sejarah menjadi batu artefak yang kita lihat sekilas lalu abaikan. Berbagai peristiwa tentu oleh manusia tidak pernah dijadikan contoh dengan baik dan sekarang hal tersebut sudah tidak perlu dilakukan lagi.

Menjadi Berbeda di negara antah-berantah itu seperti ditombak. Ibadah Rutin tiap pekan demi formalitas dan performatif. Apabila kamu terlahir menyukai Sesama Jenis, memasuki Tempat Ibadahnya, dan tertarik banyak manusia di sana, anal-oginya seperti di neraka. Kamu gak bebas bergerak. Menahan. Menyangkal. Pencitraan. Terakhir, kudengar ada Pemuka Agama Pelangi yang ditembak di Afrika sana. Tombak aku saja sekarang.

Hidup hanya menanti bidikkan tombak di kepala. Kamu melihat juga banyak Nazi di negara antah-berantah. Wujudnya beragam. Dimulai dari supporter olahraga, fans musik, dan lain sebagainya. Lelah? Sudah pasti.

Postingan "fuck orang berbeda" selalu hanya sekadar lewat. Tidak ada kewajiban membela. Tidak ada kewajiban bersuara. Itu sudah tradisi. Apakah mereka Centrist, atau memang tak peduli saja? Mereka sibuk mencari pekerjaan mungkin. Tak peduli aku ditombak besok pagi.

R.I.P Orang Berbeda.

BULE ABAL ABAL TWITTER: @ MENGUDAP “Buruh Nomaden yang dikutuk jadi Anak Pertama dan Tidak Berkeluarga. Passionnya bergelut di area Kebudayaan Progresif.”

Karena Dunia Ini Layak Dibakar

Aku lahir dalam dunia yang sudah berkarat. Jantungnya berdetak karena mesin, tapi jiwanya telah lama membusuk.

Mereka menyebut ini tatanan, aku menyebutnya taman makam pahlawan.

Setiap hukum ditulis dengan darah. Setiap bendera adalah kain kafan yang berkibar di atas wajah anak-anak yang kelaparan.

“Jangan marah, ini demi kedamaian dan peradaban,” ucap mereka.

Aku menolak. Karena aku hidup. Karena aku sadar. Karena aku tak mau menjadi batu yang patuh, yang diam, yang tunduk sampai lumut menutup matanya.

Aku tak membawa solusi. Aku hanya membawa api.

Aku tak ingin memperbaiki dunia ini. Aku ingin membakarnya.

Biar gedung-gedung runtuh! Biar istana menjadi puing! Biar Tuhan mereka turun dari langit dan melihat— bahwa kami, yang mereka hinakan, akhirnya tertawa di atas abu mereka.

Karena dari kehancuran, mungkin akhirnya sesuatu yang jujur bisa lahir.

–Kediri, 2025.

Xenoglossia Instagram: @Xenoglosia

asuhan kak @__deadflagblues

“jangan menendang imam ketika solat, setelahnya sih terserah”

“orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu ngomong kontol, maka carilah teman yang tepat agar kamu mahir”

“jangan percaya opini masyarakat tentang standar kecantikan, hal-hal yang bernilai tinggi berasal dari dalam diri, seperti ginjal”

“jika kamu guru BP/BK dan mendapati murid yatim piatu yang bandel, lebih baik abaikan saja, daripada harus repot menjalani ritual jelangkung untuk memanggil orang tuanya”

“jika jadi diri sendiri malah membuat orang-orang homofobik marah, mulailah berpoligami, memukul anak dan istri, lalu berpikiran cabul 24/7 selayaknya cishet hetero”

“mencopet adalah tindakan bodoh, penuh resiko, yang dilakukan di tempat yang isinya orang-orang berpenghasilan rendah, orang berakal tahu kalau seharusnya dengan effort yang sama kita bisa mulai merampok bank”

“berhentilah mempercayai zodiak dan mulailah untuk menganggap serius apa yang dikatakan paman orang lain di facebook tentang alien”

“hidup yang sehat dan umur panjang ditentukan oleh dirimu dan pistol yang kau genggam”

“jika hidupmu kurang tantangan cobalah mengatakan sesuatu tentang tentara nasional indonesia”

“jika tak ada yang tertarik mendengarkan curhatanmu, cobalah untuk meremixnya dalam format koplo”

“kalau kamu mau terus melihat konten dari pandawara group, mulailah lebih rajin membuang sampah sembarangan”

“jika orang-orang tak suka kamu childfree, culik anak mereka dan adopsi segera”

“satu-satunya hal yang harus kita perhatikan dari finansial expert adalah saat ketika mereka lengah dan kita bisa mulai merampok hartanya”

“datang ke acara reuni sekolah, dengarkan temanmu “datang ke acara reuni sekolah, dengarkan temanmu membanggakan pencapaian karirnya kemudian mulailah membandingkan mereka satu per satu mulailah membandingkan mereka satu per satu mulailah membandingkan mereka satu per satu dengan anak tetanggamu”

“tidak apa-apa jika kita tidak bisa menjawab 3 lagu dari band yang kaosnya kau pakai dan ambil dari jemuran tetangga”

“pukul anggota dpr sehari sekali agar emosimu tetap stabil”

OHMYGOD

D...D...D..
HISFIRSTWORD!

Death to the IDF

Comrade

Ita Martadinata Haryono

Ita Martadinata Haryono (21 Maret 1980 – 9 Oktober 1998) adalah seorang aktivis HAM Indonesia yang tewas dibunuh secara misterius.

la dibunuh tak lama ketika berencana bersaksi di Sidang PBB terkait pemerkosaan massal di Indonesia pada Kerusuhan Mei 1998.

hari ini aku bangun bukan karena ingin, tapi karena tubuhku belum menyerah.

aku gosok gigi sambil menatap mata sendiri di cermin dan berpikir, “apa pentingnya semua ini kalau tidak ada yang peduli apakah aku sudah gosok gigi atau belum?”

aku hidup seperti kasur lantai di kamar kos: dipakai, dilupakan, lalu ditinggal.

aku menaruh sepatu rapi di rak, padahal aku tahu, tidak akan ada langkah penting yang akan terjadi hari ini.

aku menulis puisi lagi, bukan karena ingin bicara, tapi karena diam pun rasanya terlalu bising.

dan ketika malam datang, aku tarik selimut ke atas kepala seolah-olah itu bisa menutup seluruh dunia yang sudah terlalu lama tak aku pahami.

aku tidur, tanpa berharap mimpi. tanpa takut tidak bangun. dan tanpa rencana untuk besok, selain tetap bernapas, meski tak lagi hidup.

KALAU HIDUP CUMA JADI RUTINITAS MENUNGGU MATI, KENAPA HARUS RAPI?

@joeyaholic

tidak semua yang

hancur perlu diperbaiki.

@joeyaholic

aku menulis ini

untuk kamu yang

tidak akan pernah

membaca.

@joeyaholic

jika aku mati

malam ini, pastikan

kamu tahu: aku

tidak sedang baik-baik

saja.

@joeyaholic

jika kata ini

terlalu tajam, itu

karena luka ini

terlalu dalam.

@joeyaholic

fuckyeahanarchistposters.tumblr.com

fuckyeahanarchistposters.tumblr.com

EVERYTHING

+Z

POLICE

WHEN THERES

NO COPS AROUND

fuckyeahanarchistposters.tumblr.com

PROGRESS—AT WHAT COST?

水

fuckyeahanarchistposters.tumblr.com

TOTAL LIBERATION

FOR PALESTINE

fuckyeahanarchistposters.tumblr.com

FUCH

POICE

OLICET

1312

fuckyeahanarchistposters.tumblr.com

DESTROY

WHAT

DESTROYS

YOU

fuckyeahanarchistposters.tumblr.com

ERASE

SEXISM

fuckyeahanarchistposters.tumblr.com

FREE

PAYSTAE

a zine you can't trust

copyleft