Baca PDF (OCR): Kajian Sosial, Budaya, dan Ekonomi Masyarakat di Kawasan Situs Sangiran.tif

183 halaman · 171 halaman diproses dengan OCR· 225442 ms

Daftar isi
  1. KAJIAN SOSIAL, BUDAYA, DAN EKONOMI
  2. MASYARAKAT DI KAWASAN
  3. SITUS SANGIRAN
  4. PENYUNTING: TARYATI
  5. SOSIAL, BUDAYA,
  6. DANEKONOMI
  7. MASYARAKAT DI KAWASAN SITUS SANGIRAN
  8. Sosial, Budaya, dan Ekonomi Masyarakat di Kawasan Situs Sangiran
  9. © Penulis
  10. ISBN : 978-979-8971-45-7
  11. Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)
  12. BUDAYA YOGYAKARTA
  13. Dra.Christriyati Ariani, M.Hum
  14. Yang Menggunakan Umbul-Umbul ..
  15. PENDAHULUAN
  16. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
  17. A. Letak dan Kondisi Geografis
  18. ha, dan ladang I ha.
  19. B. Penduduk, Sarana, dan Prasarana
  20. Tabel 2. Kepemilikan Kendaraan Motor Penduduk Kecamatan
  21. Kalijambe
  22. Tabel 4. Sarana Sekolah Di Kalijambe
  23. No Tingkat Sekolah Negeri Swasta Jumlah
  24. POTENSI KAWASAN SITUS SANGIRAN SEBAGAI OBJEK TUJUAN WISATA
  25. KAJIAN SOSIAL BUDAYA EKO OMI MASYARAKAT SANGIRAN
  26. A. Kajian Sosial Budaya
  27. 1. Agama dan Kepercayaan
  28. 2. Adat lstiadat (Tradisi)
  29. 4). Perkawinan
  30. a. Tradisi U nggah-Unggahan
  31. b. Rebana atau Terbangan
  32. Pelapisan Sosial
  33. 5. Organisasi Sosial dan Kegiatan Masyarakat
  34. a. Badan Perwakilan Desa (BPD)
  35. b. Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani)
  36. Posyandu
  37. 6. Kearifan Lokal
  38. --K A.II i\N SOSIAL. BUDAYA, DAN EKONOMI MASYJ\RAKAT Dl KAWASAN SITUS SANG IRAN
  39. 8. Gotong Royong
  40. 9. Mobilitas Penduduk
  41. 2. Matapencaharian a. Pertanian
  42. Penduduk Desa Krikilan Dan Bukuran
  43. 1). Batik
  44. b). Pengrajin Kapak dan Alat Pijat
  45. menuturkan sebagai berikut:
  46. 1). Pemilik Konveksi
  47. 20 potong baju. Hasil yang tidak
  48. dituturkan infonnan sebagai berikut:
  49. 1). Sembako
  50. b). Kios Souvenir
  51. tetap menekuni usahanya.
  52. pengalamannya sebagai beri kut:
  53. 2. Perkampungan dan Keadaan Ternpat Tinggal Penduduk
  54. -· K A.ri;\N SosiAL, 81JDAYA, DAN EKONOM I MASYARAKAI Dl K AWASAN SITUS SANGIRAN
  55. SUMBER DAYA SITUS SANGIRAN
  56. ______, __, ·---- ---------- ---· -·-·-----
  57. -----
  58. ---·--
  59. -----·--._ __ .-.--·-----
  60. -·-- ---..--- ----
  61. Solo Pos (28 Agustus
  62. PENUTUP
  63. B. Saran
  64. PUSTAKA
  65. INFORMAN
  66. 17. Sukamto SD Pembuat Roti Tarcis Ndangrejo, Bukuran
  67. ----- -
  68. BUDAYA, DAN EKONOMI MASYARAKAT Dl KAWASAN SITUS SANGIRAN
  69. S zaman Pleistosen bawah hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk

KAJIAN SOSIAL, BUDAYA, DAN EKONOMI

MASYARAKAT DI KAWASAN

SITUS SANGIRAN

YUSTINA HASTRINI NURWANTI ENDAH SUSILANTINI ISNI HERAWATI SUWARNO

PENYUNTING: TARYATI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

KAJIAN SOSIAL, BUDAYA, DANEKONOMI MASYARAKAT DI KAWASAN SITUS SANGIRAN

SOSIAL, BUDAYA,

DANEKONOMI

MASYARAKAT DI KAWASAN SITUS SANGIRAN

Oleh: Yustina Hastrini Nurwanti Endah Susilantini lsni Herawati Suwarno

Penyunting : Taryati

KEMENTERIAN PENDIDJKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN BALAI PELESTARIAN NlLAI BUDAYA YOGYAKARTA

Sosial, Budaya, dan Ekonomi Masyarakat di Kawasan Situs Sangiran

© Penulis

Disusun oleh : Yustina Hastrini Nurwanti Endah Susilantini Isni Herawati Suwarno

Penyunting Taryati
Disain sampul Tim Kreatif Kepel Press
Penata Teks Tim Kreatif Kepel Press

Diterbitkan pertama kali oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Daerah lstimewa Yogyakarta Jl. Brigjend Katamso 139 Yogyakarta Telp : (0274) 373241, 379308 Fax: (0274) 381355 email : senitra@ bpsnt-jogja.info website: http :// www.bpsnt-jogja.info

ISBN : 978-979-8971-45-7

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)

Yustina Hastrini Nurwanti, dkk. Kajian Sosial, Budaya, dan Ekonomi Masyarakat di Kawasan Situs Sangiran, Yustina Hastrini Nurwanti, dkk. Cetakan I, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta

XII + 176 him,; 17 em x 24 em

I. Judul I. Penulis
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan eara apa pun, tanpa izin tertulis dari penulis dan penerbit.

BUDAYA YOGYAKARTA

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan YME, karena atas perkenan-Nya, buku ini telah selesai dicetak dengan baik. Tulisan dalam sebuah buku tentunya merupakan hasil proses panjang yang dilakukan oleh penulis (peneliti) sejak dari pemilihan gagasan, ide, buah pikiran, yang kemudian tertuang dalam pcnyusunan proposal, proses penclitian, penganalisaan data hingga penulisan laporan. Tentu banyak kendala, hambatan, dan tantangan yang harus dilalui oleh penulis guna mewujudkan sebuah tulisan menjadi buku yang berbobot dan menarik. Buku tentang "Kajian Sosial, Budaya dan Ekonomi: Masyarakat Di Sekitar Situs Sangiran" tulisan Yustina Hastrini Nurwanti, dkk merupakan tulisan yang menguraikan tentang kondisi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat yang hidup di sekitar Situs Sangiran. Ada sesuatu yang bisa diungkapkan dalam buku ini, apalagi bcrkaitan dcngan kehidupan masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar situs. Namun hal penting yang

SAMBUTAN KEPALA-V

Oleh karena itu, kami sangat menyambut gembira atas terbitnya buku m1. Ucapan terima kasih tentu kami sampaikan kepada para peneliti dan semua pihak yang telah berusaha membantu, bekerja keras untuk mewujudkan buku ini bisa dicetak dan disebarluaskan kepada instansi, lembaga penelitian, lembaga pendidikan, peserta didik, hingga masyarakat secara luas. Akhimya, 'tiada gading yang tak retak', buku inipun tentu masih jauh dari sempuna. Oleh karenanya, masukan, saran, tanggapan dan kritikan tentunya sangat kami harapkan guna peyempumaan buku ini. Namun demikian harapan kami semoga buku ini bisa memberikan manfaat bagi siapapun yang membacanya.

Yogyakarta, Nopember 2013 Kepala

-

Dra.Christriyati Ariani, M.Hum

VI -K A.J IAN SosiAL. B uDAYA, DA N EKONOMI M ASYA RAKAr 01 K AW.ASAN SITUS SA NGIR AN

lSI

DAFTAR lSI VII
DAFTAR TABEL .. IX
DAFTAR FOTO XI
BAB I. PENDAHULUAN
BAB BAB Ill. POTENS I KAWASAN SITU S SANGIRAN SEBAGA I OBJEK BAB IV KAJI A N SOSIAL BUDAYA EKONOMI M AS YA RAKAT II. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN A. Lctak dan Kondisi Geografi s B. Pcnduduk, Sarana, da n Prasarana TUJUAN W I SATA SANGIRAN A. Kajian Sosial Budaya B. Kajian Sosial Ekonomi 15 15 18 29 41 4 1 84

[)aftar l' i VII

V. RELASI MASYARAKAT DAN SUMBER DAYA SITUS SANGIRAN ... 127
A. Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku ... 127
B. Pemanfaatan dan Konflik ... 142
BAB VI. PENUTUP .... 157

A. Kesimpulan .. 157
B. Saran ...... 160
DAFTAR PUSTAKA .. 163

DAFTAR INFORMAN ... 167

LAMPIRAN .... 169

VIII -KAJI AN S OS I AL, B U DAYA, DA N E KON OM I M AS YA RAKAT Dl K A WASAN SITUS S ANG IRAN

I. Luas Tanah Sawah Dan Kcring eli Kecamatan Kalijambe. 17
Tabel 2. Kepemilikan Kendaraan Motor Pcnduduk Kecamatan
Kalijambe 21
Tabel 3. Sarana Komunikasi Penduduk Kccamata n Kalijambc 21
Tabel 4. Sarana Sekolah Di Kalij ambc 22
Tabel 5. Penducluk Menurut Tingkat Pcndidikan Dcsa Krikilan Dan
Bukuran 84
Tabel 6. Matapcncaharian Penduduk Desa Krikilan Dan Bukuran .. 86
Tabcl 7. Keadaan Rumah Penduduk 124
Tabel 8. Kcadaan Keluarga Sejahtcra clan Prasejahtera 125

OanarTabc l-IX

Foto I. PNPM Mandiri di Desa Krikilan dan Papan Pemberitahuan
Adanya Proyek Perbaikan Jalan dari PNPM Mandiri Pedesaan _ 19
Foto 2. .lalan beton bantuan PNPM Mandiri Pedesaan 19
Foto 3. Masjid di Gandok, Kriki lan 23
Foto 4. Penampungan Air 25
Foto 5. Bendungan Bapang 26
Foto 6. Penggunaan Bendungan Bapang Untuk lrigasi Pertanian. 27
Foto 7. Meneuei Baju Di Saluran Bendungan Bapang 27
Foto 8. Museum Sangiran Dengan ldentitas Kepala Patung Pitheeantropus. 33
Foto 9. Diorama Keh idupan Manusia Purba Di Museum Sangiran 35
Foto I 0. Ruang Pameran Tempat Fosil Yang Dipamerkan Di Museum Sangiran 35
Foto II. Fosil Badak dan Desakripsinya Di Museum Sangiran 35
Foto 12. Fosil Manusia Di Ruang Penyimpanan Museum Sangiran 36
Foto 13. Ruang Laboratorium Museum Sangiran 36
Foto 14. Wisma Sangiran 3R
Foto 15. Papan Penunjuk Lokasi Su mber Ai r Asin Di Pablengan 39
Foto 16. Kedua Sumber Air Asin di Pablengan, Desa Krikilan 39
Foto 17. Singkapan Tanah Tambang Diatome Di Desa Krikilan 40
Foto 18. Krendowahono Tempat Tetirah di Kawasan Sangiran 42

Dalhir Foto-XI

55
Foto 20. Pengambilan Air Dari Sungai Dengan Sistem Gravitasi. .. 87
Foto 21. Diesel Untuk Memompa Air Dari Mata Air ... 87
Foto 22. Alat Perontok Padi ... 90
Foto 23. Koleksi Batik Tulis Yang Siap Dijual ... 92
Foto 24. Plakat Nama Produsen Batik Tulis .. 93
Foto 25. Para Buruh Batik Sedang Bekerja ..... 94
Foto 26. Persia pan Pemanasn Oven ... 98
Foto 27. Sarana Pengangkutan Roti Tarcis ...... 99
Foto 28. Bathok yang sudah di-ngeplong bentuk kancing baju
berbagai ukuran ... 101
Foto 29. Alat untuk ngebur kancing baju bathok ... 101
Foto 30. Pekerja Sedang Nitik Kancing Baju Bathok ... 101
Foto 31. Kancing baju bathok yang siap diamplas .. 102
Foto 32. Kancing Baju Berbagai Ukuran Siap Dikemas ... 102
Foto 33. Legondho Masakan Khas Sangiran ......
Foto 34. Buruh jahit sedang mengasuh anaknya ... 115
Foto 35. Buruh jahit konveksi ....... 116
Foto 36. Tumpukan kaos seragam yang siap dikirim ke pemesan ... 116
Foto 37. Pasar Desa Saat Tidak Hari Pasaran ....... 118
Foto 38. Kondisi Rumah Yang Permanen ..... 124
Foto 39. Kondisi Rumah dari Bambu ..... 124
Foto 40. Papan Informasi tentang UU No.11 Tahun 2010 ... 134
Foto 41. Serpihan Fosil Yang Sudah Dimodifikasi .. 141
Foto 42. Pengambilan Fosil Gajah
(Repro. Soloraya Online, 22 Juni 20 II). 146
Foto 43. Pembakaran Piagam dan Sertifikat
(Repro. Soloraya Online, 22 Juni 20 11) .. 147
Foto 44. Menara Pandang ... 152

Yang Menggunakan Umbul-Umbul ..

Ill

XII -K A JI AN S os JAL, B u o AYA, DAN EKONOMI M ASYA RA K AT Dl K AWASAN SITUS S ANG IR AN

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki berbagai jcnis tl ora dan fauna dcngan keindahan pemandangan alam serta memiliki beraneka ragam suku dan budaya. Selain dikenal memiliki keindahan pemandangan alam juga terdapat scjumlah objek wisata budaya dan bangunan bersejarah scrta memiliki ~ itus manusia purba. Situs manusia purba dikenal sebagai situs Sangiran. Situs Sangiran ditetapkan sebagai warisan budaya dunia mewakili -, cjarah budaya dan manusia purba selama 1,8 juta tahun tanpa putus. Sangiran JUga mcnjadi satu dari tiga pusat evolusi manusia purba selain siLu s di Al'rika dan Cina. Situs ini merupakan situs manusia purba bcrdiri tcgak tcrlcngkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat sccara bcrurutan dan tanp

Pcndahuluan-

No.070/0/1977 (Sulistyanto, 2003:29). Pada tanggal 7 Desember 1996, Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage) oleh UNESCO sebagai kawasan "The Early Man Site" dengan nomor penetapan World Heritage list C.593 (Kumoro, 2000) (Lihat Lampi ran I). Situs Sangiran ke depannya dijadikan Kawasan Strategis Nasional (KSN). Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai hubungan pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, baik secara ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Keberadaan Situs Sangiran yang bemilai tinggi bagi ilmu pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan juga berpotensi sebagai objek wisata budaya yang banyak dikunjungi wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Pentingnya Situs Sangiran dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya dalam masalah evolusi manusia purba sudah tidak terbantah lagi. Temuan demi temuan mulai dari tahun 1934 sejak hasil penggalian yang dilakukan von Koenigsvald sampai sekarang ini menjadi bukti bahwa kubah Sangiran merupakan situs hominid terkemuka di dunia. Namun, sebagian besar temuan fosil bukan berasal dari hasil penelitian para peneliti formal melainkan temuan dari penduduk setempat. Keterlibatan masyarakat setempat dalam pencarian fosil di Sangiran sudah cukup lama berlangsung. Sejak von Koenigsvald pada tahun 1934-

2 -MJIAN SOSIAL, B U D AYA, DAN EKONOMI M ASYA RAKAT Dl K AWASAN SITUS S ANG IRAN

situs di ~c~ngir''"ke//()lda. Mas1ng-masing pihak mempunyai persepsi yang berbcda terhadap k;m a:-.an caga1 bu daya tc rscbut yang akhirnya mewujud clalam bcrbagai pcrlakuan tcrhadap kawasan baik positif (memelihara) maupun ncgati r ( mcrusak ). Pcr:-.cp:-.1 da n wuj udn ya dalam bcntuk perlakuan tersebut mc llllnbulk an h. unfl 1k d1 anl ara para pelaku. Pcndckatan lega l yan g dil ah.uk an olch pcmcnntah dcngan mcnctapk an status eagar budaya atau memasukan kc d;diar H urld 1/e,·iwgc' t1 dak mc mbuat pcrmasalahan di kawasan eagar bu J aya te rsclcsa ikan. Dala m pcrspckt if' masyarakat, penctapan status terscbut ba hkan di;mggap mcmasung kcbcbasan dalam bcrinteraksi dengan lin gkungan dan bcnda -bcJ1da ) ang tcrda pat el i dalamnya. Oleh karena itu dipcrluka1 1 kc:-.l:pahaman di an1<1ra stokdwldcr dalam mclihat dan mcmaham i v.ar J:-

l'c:nda h uluc~n

Pembinaan dan pengembangan industri kecil diharapkan mampu mengatasi masalah yang dapat berkembang kearah yang lebih maju dan mandiri, yang akhirnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Pemberdayaan ekonomi, secara langsung paling cepat dirasakan hasilnya oleh masyarakat lokal di sekitar situs. Program pemberdayaan masyarakat di sekitar situs akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan kemampuan dan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat. Masyarakat di Situs Sangiran memiliki potensi kuat di sektor budaya, meliputi situs, kesenian lokal, kegiatan ekonomi, keramahan penduduk, kearifan lokal, dan sebagainya. Kondisi alam terkait dengan iklim, keindahan pedesaan, karakter khas lingkungan, dan sebagainya. Daya tarik khusus berkaitan dengan keberadaan Sangiran sebagai kawasan arkeologi yaitu kegiatan-kegiatan ilmiah yang sering dilakukan. Kondisi Situs Sangiran sangat kompleks karena menjadi satu-satunya situs purba di dunia yang dihuni penduduk. Tanah situs sebagian besar dimiliki masyarakat setempat. Hal ini menjadikan pelestarian dan pemanfaatan situs sangat terkait erat dengan masyarakatnya. Nilai ekonomis yang melekat pada

4 -K A JJ AN S oS IAL, B u n AYA, DAN EKON O M I M ASYARA K AT Dl K AWA SAN SITUS S ANGIR AN

Situs Sangiran menjadi kendala dalam pelestariannya. Faktor yang menjadi penyangga pelestarian S itus Sangiran terkait crat dengan kondi si masyarakat. Dalam upaya pemanfaatan tersebut. masa lah utama yang akan di- bahas adalah yang berkaitan erat dengan perilaku masyarakat. Salah satu sisinya adalah tidak banyak pil ihan bagi penduduk dalam hal mencari nafkah. Kegiatan penduduk yang dapat mengancam keutuhan situs dapat dihentikan apabila terdapat pili ha n lain ya ng juga nyata manfaatnya. Apalagi penduduk tidak pernah memperoleh manfaat apa-apa dengan tetap menjaga kelestariannya. Pariwisata sebagai pilihan pemanfaatan dengan tetap menjaga konversi daya tarik wisata yakni situs. Dalam upaya mcwuj udkan suatu daerah tujuan wisata perlu dik embangkan upaya pemberdayaan seluruh potensi yang dimiliki untuk ditampilkan sebagai daya tarik wisata. Berdasarkan uraian di atas, ti mbul pcrtanyaan bagaimana potensi Situs Sangiran sebagai peninggalan arkeologi dan bagaimana aktivitas dan kondi si sosial, budaya, ekonomi masyarakat di Situs Sangiran, scrta bagaimana relasi masyarakat di Situs te rsebut kaitannya dengan pelestarian. Dengan pertanyaan tersebut, tujuan penelitian ini adala h untuk:

I. Mendapatkan gambaran secara terperinci kondisi sosial ckonomi budaya masyarakat sekitar Situs Sangiran.
2. Mendapatkan gambaran sektor potensia l da n strategi s apa sap yang dapat dikembangkan untuk mendukung kcberadaan dan pelestarian Situs Sangiran.
3. Mendapatkan gambaran kegiatan dan perilaku masyarakat yang dapat mendukung pemeliharaa n dan pclcstarian Situs Sangiran dan sekaligus mendukung kcgiatan industri, pcrdagangan, dan
Pcndah uluan-5

SOSIAL, BUDJ\YA, DAN EKONOMI MASYARJ\Ki\T 1)1 K i\WASAN SITUS SANGIRAN

mengandung potensi bahan galian di Formasi Pucangan berupa diatomite scbagai bahan cat dan pembersih lim bah serta lempung bola bahan baku porsclin. Pengolahan sumberdaya yang tersedia tanpa mempertimbangkan tin g- galan arkeologi yang ada, cendcrung eksploitasi dan mcrusak. Aktivitas Pertumbuhan pemukiman penduduk di kawasan Situs Sangiran mcmbawa dampak bagi kelestarian situsnya. Demikian juga pa riwisata apabi la tidak dikelola dengan baik akan turut andil dalam merusak kebcradaan situs. Harry Truman Simanjuntak (2005:25) dalam kaitannya dcngan upaya pelestarian situs mengingatkan pcntingnya mempcrhatikan si fat alatni situs. Penemuan fosil manusia purba yang umumnya sccara ke bctulan karcna crosi dan longsoran hendaknya menjad i dasar pertim bangan pc rl unya mcnyusun konsep pcrlindungan dengan mclibatkan pcmcrintah dan masyarakat sc- tempat secara lebih terkoordinasi. Penduduk Sangiran yang sudah tcrlatih secara alami dalam penemuan fosil merupakan a~ct yang pcrlu dimanraatkan. Ketrampilan yang dipunyai sangat pcrlu dimanfaatkan dan dibina untuk pengembangan Sangiran sekaligus menghilangkan praktik pengrusakan situs. Sejak lama orang melakukan perjalanan karcna tcrtarik pada kcunikan budaya wilayah yang dikunjunginya. Warisan budaya men ycdiakan objck dan daya tarik wisata. Pariwisata mcmbawa bcrbagai dampak baik bagi masyarakat, lingkungan, serta budaya. Dampak tcrscbut dapat bcrsifat positil', artinya membawa kebaikan, dapat pula bersifat nega tif yai tu mcmbawa keburukan bagi budaya yang ada. Pariwisata bagaikan pi~ a u bermata dua bagi warisan budaya dunia, ada sisi positif dan negati ~-. Pariwisata ya ng secar·a cermat direncanakan, dikclola, dan dikontrol yang melayani dan

1\: nda hulu c~ n

Skema: Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyaraat Situs Sangiran Kawasan Situs Sangiran Kondisi Sosial, Budaya, Ekonomi Masyarakat

Relasi Masyarakat dan

Peningkatan Kesejahteraan

Ruang lingkup spasial akan dibahas mengena1 lingkup spasial dan ruang lingkup materi sebagai berikut: 8 -KA.IIAN SOSIAL, B UDAYA, DAN EKONOMI MASYARJ\KAT Dl K AWASAN SITUS SANGIRAN

1996 telah mendasari distribusi lokasi visitor center dan pondok-pondok infonnasi. Dalam kaitan ini, visitor center diletakkan di Zona Pengembangan yang berada di bagian tengah daerah situs dan menjadi lokasi berdirinya Museum Sangiran. Pondok-pondok informasi didirikan di daerah temuan dan informasi yang berada di Zona Inti tanpa mengabaikan aspek-aspek pelestarian situs. Empat lokasi sebagai klaster (cluster) informasi dalam pengembangan kawasan situs yaitu Krikilan sebagai visitor center dan Bukuran, Ngebung dan Dayu sebagai satelitnya. Kedudukan Bukuran, Ngebung dan Dayu sejajar. Daerah penelitian dipilih di Desa Krikilan dan Desa Bukuran, Kccamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Keduanya berdasarkan :::oning sudah mcwakili sebagai visitor center ya itu Desa Krikilan dan Desa Bukuran mewakili k/aster atau satelitnya. Di samping itu Desa Krikilan bersentuhan langsung clengan pariwisata dengan keberadaan Museum Sangiran. Desa ini terkait dengan keberadaan Museum Sangiran mengalami perkembangan ekonomi yang cukup pesat. Desa Bukuran sebagai klaster, tidak langsung bersentuhan dengan pariwisata. Kedua desa tersebut terdapat konflik kepentingan antara berbagai pihak yang terkait dengan keberadaan Situs Sangiran. Desa Krikilan dan Bukuran mempunyai potensi sosial, budaya, dan ekonomi yang bisa dikembangkan untuk menunjang pariwisata untuk meningkatkan pcningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Aktivitas masyarakat di kedua desa tersebut sangat terkait dcngan pelestarian situs. Ruang lingkup materi penelitian dibatasi pada aspek: I) keadaan sosial ekonomi meliputi pendidikan, matapencaharian, penghasilan/

Pcnclahuluan-9

Preliminwy Report on Recent discoveries of Fossil Hominids from the Sangiran Area, Jawa. Demikian juga tulisan Harry Widianto yang sudah cukup banyak mengkaji mengenai Sangiran semenjak tahun 1982 sampai sekarang ini. Tulisan tersebut merupakan hasil kajian penemuan fosil dari sudut pandang arkeologis. Sebagai contoh tulisan tahun 1986 yang berjudul Posisi Stratigrafi dan Teknologi Alat Serpih Sangiran, yang dimuat dalam Berkala Arkeologi VII, Balai Arkeologi, Yogyakarta. Tulisan Moelyadi dan Widiasmoro tahun 1978 berupa Laporan Penyelidikan Geologi Daerah Sangiran Jawa Tengah. Teknik Geologi, Fakultas Teknik, UGM, Yogyakarta. Tulisan ini menekankan pada kondisi geologis kawasan. Demikian juga Tony Djubiantono,dkk tahun

10 -KAJIAN SOSIAL, B UDAY A, DAN EKONOM I MASYi\RAKAT D l KAWASAN SITUS SANG IRAN

Pengandung Fosi/ Manusia Pleo-P/estosen di Sangiran dan Perning (Jml'(l), ya ng disampaika n dalam Rapat Eva /u asi Hasi/ Pene/itian Arkeo/ogi I, Pusat Penelit ia n Arkeologi Nasional, .Jaka rta, juga menek ankan pada kondisi geologis kawasan. Kajian yang mengkaitk an antara wansan budaya dengan keberadaan masyarakat sudah ada ya ng melakukan, eli antaranya Bambang Suli stya nto dan Sa lm ah Nurhayati. Ada tema yang berbeda yang dik aj i oleh Sa lm ah urhayati (2002), da lam sk ripsinya yang betjudul Cangguan Ke/ompok Mwyarakat Terhadap Situs dan Benda Cagar Budava Songiran. Ia menyoroti masalah kond is i sosial masyarakat Sangiran yang berpotensi mengeksploatas i fosil. Berdasarkan hasil peneli tia nn ya, disimpu lk an bahwa kelompok masyarakat yang bermatapcncaharian sebagai petani, bu ruh tani dan industri kerajinan batu meru pakan kelompok masyarakat yang berpotensi melak uk an eksploatasi lahan situs. Bambang Sulistyanto (2003) memfokuskan kajiann ya pacla baga imana pandangan masyarakat terh aclap benda eagar budaya, terkait dengan mitos, pemaknaan, peneurian, perdagangan ge lap, dan sebaga in ya ya ng menegaskan ada nya kont-lik eli kawasan te rsebut. Reso lusi alas ko nflikjuga ditcl it inya pada tahun 2008, nam un pcnelitian ini lebih bersifat evaluasi akadcmik tanpa discrtai clengan kegiatan eli masyarakat. Wa laupun peneliti telah mengcmukakan pendekatan partisipatoris akan tetapi belum tampak memberikan so lu si yang nyata dalam menyelesa ikan berbaga i konAik. Dalam disertasi tersebut baru clipetakan da n diidentifikasikan mengcnai konflik, dengan rckomendasi yang mcnga mbang.

Pcncl

2009 melakukan penelitian yang didanai dari Hihah I3ersaing XV II Perguruan Tinggi dengan judul Sangiran dan Tana Tomja Sehagoi World Heritage: Studi Tentang Pengelolaan Warisan Budava Be1perspektif' Kesejahteraan Masyarakat. Penelitian ini menunjukan kepedulian kalangan akademis terhadap warisan budaya yang ada di fndonesia. Penelitian ini mengemukakan tentang pengelolaan kawasan eagar buday8, konflik yang terjadi di antara para stakeholder, dan bentuk ideal pengelolaan situs atau kawasan eagar budaya. Ada dua lokasi yang dipilih yaitu Sangiran dan Tana Toraja. Berdasarkan sifat situs, Sangiran merupakan dead monument, sedangkan Tana Toraja sebagai living monument. Tulisan ini membuat paparan bagaimana situasi masyarakat dan kawasan Sangiran dan Tana Toraja dan pengelolaannya sebagai warisan budaya. Terkait dengan pembahasan mengenai Sangiran. tulisan ini mengungkapkan gambaran yang sangat umum sekali tentang kondisi dan situasi masyarakatnya. Pengambilan lokasi tidak jelas, karen a mengemukakan data demografi di tingkat Kabupaten Sragen. Namun, dalam pembahasan mengenai kondisi dan putensi linQ;kungan diungkapkan secara umum di Desa Krikilan. Kajian secara menyeluruh terkait dengan dimensi sosial, budaya, dan ekonomi y:mg mengkaji keterkaitan antara warisan budaya situs Sangiran dengan masyarakat dan sebaliknya interaksi antara masyarakat dengan warisan budaya Sangiran perlu dilakukan. Guna menambah khasanah kajian tersebut dilakukan penelitian yang berjudul Kajian Sosial, Budaya, Ekonomi J'vlasya Jakat Kawasan Situs Sangiran.

12 --- -KAJL1N so ~ J i\ 1 _, 11 u D,\ ' · D.\N FKQ N(' "-11 M .\'> ·t. RA I< I\T 1)1 K AWASAr--SITUS SANGIR ' N

Purba Sangiran (BPSMPS), pemangku adat, pemilik to ko souvenir. pengrajin batu, pengrajin makanan, pengrajin batik, pemilik konvcksi, pedagang, petani, dan tukang. Jumlah informan tidak ditentukan berdasarkan perbandingan populasi, melainkan pertimbangan kelcngkapan data. Adapun pcng- ambilan sampel secara acak (purposive sampling) dcngan pertimbangan waktu, tcnaga dan biaya. Se lain itu dilakukan juga observasi atau pengamatan untuk mendapatkan dcskripsi mengcnai perilaku masya- rakat yang diteliti. Data yang telah tcrkumpul akan dianalisis sccara deskriptif kual itatif dan dituangkan dalam uraian yang bcrsifat deskriptif narati f.

Pcndahuluan-

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

A. Letak dan Kondisi Geografis

Secara ad im istratif Situs Sangiran berada di dua wilayah kabupaten yaitu Sragen dan Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Daerah Cagar Budaya Sangiran sisi utara masuk ke dalam wilayah Kabupaten Sragen yang meliputi tiga kecamatan yaitu: Kalijambe, Plupuh, dan Gemolong. Situs sisi selatan yang masuk Kabupaten Karanganyar, terletak di Kecamatan Gondangrejo. Secara astronomis, situs terletak an tara koordinat II 0"48"56 " -I 10°53 '00" Bujur Timur dan 7°24 ' 40 " -7"35 ' 25 " Lintang Selatan. Wilayah Cagar Budaya Sangiran berada pada ketinggian 25 sampai dengan I 00 meter dari per- mukaan air !aut. Curah hujan berkisar antara 128 -739 milimeter. Suhu udara berkisar antara I7°C -36,8°C (Monografi Kecamatan Kalijambe, 2008). Secara umum, kawasan Situs Sangiran merupakan lahan tandus, ter- dapat lereng-lereng perbukitan dengan sudut kemiringan antara 70"-80°. Lahan tanah ini potensial terjadi erosi atau longsor karena tanahnya berjenis regosol. Tanah regosol adalah jenis tanah yang masih muda dengan tekstur tanah kasar dan gembur dengan PH 6-7. Tanah jenis ini kandungan fosfor dan kalium cukup namun unsur nitrogen kurang. Hal ini menyebabkan tanaman kekurangan unsu1 utama untuk hidup (Samidi,dkk, 1994:9).

Desk ripsi Daerah Pcnclitian -

Pucangan dan Kalibeng (Latifah, 1995:59). Jalur menuJu Situs Sangiran dengan mengambil rute perjalanan dari Surakarta ke jurusan Purwodadi. Setelah Kaliyoso ada Gapura Situs Sangiran yang berada di jalur jalan raya Solo -Purwodadi dapat dijadikan penanda untuk menuju Desa Krikilan. Perjalanan dari gapura Situs Sangiran menuju Desa Krikilan berjarak ± 5 km, dengan melewati kota Kecamatan Kalijambe. Sepanjang kanan dan kiri jalan sudah tidak terlihat lagi lahan pertanian, hampir semua tanah di pinggir jalan kecamatan didirikan rumah, warung atau toko kecil. Mendekati Desa Sangiran terdapat 2 sekolah tingkat menengah yaitu SMP dan SMK. Batas wilayah Desa Krikilan adalah jembatan kecil yang berada tidak jauh dari Dusun Kalongbali, sedangkan ke arah utara ada jalan yang ke arah Desa Bukuran. Ketika memasuki Desa Krikilan, suasana daerah wisata sudah terasa. Di sepanjang jalan berjajar toko souvenir dan beberapa penginapan. Sepanjang perjalanan kita akan menemui beberapa toko souvenir batu-batuan khas Sangiran, seperti Toko Souvenir Wasimin, Toko Souvenir Yanto, Toko Souvenir Widodo, dll. Sampai di perempatan Desa Krikilan, bagi yang akan melihat Museum Situs Sangiran kemudian belok kanan, sekitar I km. Bagi yang akan ke Balai Desa maka dari perempatan desa tinggal lurus ke arah Dusun Sangiran yang berjarak I 00 m. Sedangkan kalau ke arah kiri, menuju Menara Pandang.

16 -K A./1 /\N S OS IA L, B U DAY/\, D AN EKONOM I M ASY/\ RA K AT Dl KAWASAN SITUS SANG IRAN

ha, dan ladang I ha.

Tabel 1. Luas Tanah Sawah Dan Kering di Kecamatan Kalijambe

No Tanah Sawah dan Kering Krikilan Bukuran Jumlah (ha)
I. Tanah Sawah 64.42 123.44 187.86
2. Tanah Kering 384.84 320.68 705 .52

Sumher: S tati stik Kecamatan Kalijambc. 2008

lrigasi tanah sawah baik di Desa Krikilan maupun Bukuran mcrupakan tadah hujan. Tanah kcring yang ada dikcdua desa digunakan sebagai tanah pekarangan dan tega l/ kebun. Struktur pemerintahan Dcsa Krikil an terdiri dari : kcpala desa, enam pamong desa, dan tiga kepala dusun (havan). Dcsa Krikilan dipimpin oleh seorang kcpala desa bernama Widodo. Desa Krikil an terdiri dari scbclas dusun yaitu: Dusun Sangiran, Dusun Pahlcngan Wetan, Dusun Pab lenga n Kulon. Dusun Ngampon, Dusun Krik ilan, Dusun Kalongbali, Du sun Benda, Dusun Pagerejo, Dusun Kalij am be Ki du l, Dusun Ngrukun, dan Du su n Pondok. Setiap dusun tidak dipimpin oleh satu orang kcpala dusun, me lainkan merupakan penggabungan 2-4 d11su n. Kabayanan I ya ng tcrdiri dari Dusun Pagcrcjo, Kalongbali, Ngrukun, da n Bcndo dipimpin olch Bayan Sajari. Kabayanan 2 meliputi Dus11n Sangiran, Ng~mpo n, Krikilan. dan Pondok

Dcskrip'i i Dacrah Pcncliti an -I 7

Pablengan Kulon dan Pablengan Wetan dipimpin oleh Bayan Mintodiharjo. Desa Bukuran sebelah utara berbatasan dengan Desa Ngebung, sebelah barat berbatasan dengan Desa Krikilan, sebelah selatan dengan Kabupaten Karanganyar, dan sebelah timur dengan Kecamatan Plupuh. Desa Bukuran terdiri dari Dusun Kedungringin, Grogolan, Sendang, Bukuran/Toho, Kertosobo, Cengklik, Dangrejo, Jagan, Bapang, Ngargorejo, dan Taprukan. Struktur pemerintahan halnya Desa Bukuran sama dengan Desa Krikilan. Desa Bukuran dipimpin seorang kepala desa yang bemama Sugondo dengan Sekretaris Desa bemama Sartono dengan dibantu enam orang pamong desa dan tiga orang bayan yaitu bayan satu adalah Suwamo, bayan dua Madyo, dan bayan tiga adalah Suyono.

B. Penduduk, Sarana, dan Prasarana

Penduduk Kecamatan Kalijambe sejumlah 46.236 jiwa terdiri dari laki-laki 23.271 dan perempuan 22.965. Dari sekian banyak penduduk di Kecamatan Kalijambe, yang menempati wilayah Desa Krikilan dan Bukuran sejumlah 6077 jiwa. Jumlah penduduk Desa Krikilan adalah 3.601 yang terbagi dalam laki-laki ada 1.756 dan perempuan 1.845. Luas wilayah Desa Krikilan 4.49 km 2, dengan jumlah penduduk 3.601 maka kepadatan penduduknya adalah 802 orang/km 2 • Sedangkan jumlah penduduk De sa Bukuran ada 2.476 yang terbagi dalam laki-laki ada 1.259 dan perempuan ada 1.217. Luas wilayah Desa Bukuran 4.44km 2, dengan jumlah penduduk

2.476 maka kepadatan penduduknya adalah 558 orang/km
2 • Sejak didirikannya Museum Sangiran, infrastruktur Desa Krikilan secara perlahan mengalami perbaikan, terutama jalan. Jalan utama

18 -KAJIAN SOSIAL, BUDAYA, DAN EKONOMI MASYARAKAT Dl KAWASAN SITUS SANGIRAN

Museum Sangiran dan Menara Pandang merupakan jalan aspal yang dibangun oleh pemerintah Kabupaten Sragen untuk mendukung pengembangan Sangiran sebagai objek dan daya tarik wisata. Kondisi jalan yang menghubungkan antar dusun sebagian besar sudah diperkeras dengan semen atau beton namun masih ada juga jalan tanah yang diperkeras dengan batu. Perbaikan jalan antar dusun merupakan swadaya dari masyarakat atau merupakan program dari desa setempat, serta program pemerintah. Adanya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan memberi andil yang besar dalam meningkatkan kondisi jalan dusun.

Foto 1. PNPM Mandiri di Desa Krikilan dan Papan Pemberitahuan Adanya Proyek Per-

baikan Jalan dari PNPM Mandiri Pedesaan

Foto 2. Jalan beton bantuan PNPM Mandiri Pedesaan

Deskripsi Daerah Penelitian -19

Pada musim penghujan tahun 2011, akses jalan penghubung Desa Bukuran dan Krikilan Kecamatan Kalijambe terancam terputus. Ini karena kondisi jalan tersebut mengalami longsor akibat hujan yang mengguyur selama sepekan. Warga dan pemerintah desa (Pemdes) setempat mendesak agar pihak terkait segera membenahi lokasi jalan yang longsor. Tanpa perbaikan, dikhawatirkan longsoran jalan akan meluas dan mengancam akses transportasi warga dua desa tersebut. Kondisi jalan tersebut sudah memprihatinkan. Beberapa titik menyem- pit akibat adanya longsor. Bahkan, jalan di Dukuh Cengklik, yang berdekatan dengan Balai Desa Bukuran, longsor hanya menyisakan separuh badan jalan. Hal ini seperti dituturkan oleh informan berikut ini: " Kalau dibiarkan seperti ini terus, terus terang kami khawatir nanti lama-lama tidak bi sa dilewati karena tergerus longsor. " 1

Warga di dekat lokasi longsor mengaku waswas jika terjadi hujan deras, seperti yang dituturkannya berikut ini: " Kalau sewaktu-waktu hujan deras dan jalannya longsor, saya takut rumah saya juga ikut longsor". 2

Pihak desa sudah berusaha mengupayakan perbaikan dengan mengajak warga untuk gotong royong. Namun, minimnya dana menjadi kendala dalam penge1jaannya. 3 Adanya sarana jalan tidak didukung oleh sarana transportasi umum yang memadai. Sarana transportasi roda empat cukup tersedia (lihat

I Wawancara dengan Samidi di Cengklik pada tanggal 19 September 20 I I. 2 Wawancara dengan S uwarti di Cengklik pada tanggal 19 September 20 II. 3 Wawancara dengan Sartono di Bu ku ran pada tanggal 20 september 20 I I.

20 -MJIAN SOSIAL, B U DAYA, DAN EKONOMI M ASYARAKAT D l K AWASAN SITUS S ANG IRAN

  1. 2.), namun operasinnalnya sangat terbatas. A ng kutan umum lebih
    mcmprio ritaskan para pelajar. Angkutan urnum jam operasional trayeknya discsuaikan dengan keberangkatan dan kepulangan pelajar dari sekolah. ltupun angkutan yang beroperasi masih minim, tidak semua angkutan umum beroperasional di Sangiran. Kondisi lahan yang berbukit-bukit sarana kendaraan tidak bermotor yang ada hanyalah sepeda. Sarana kendaraan tidak bermotor yang menggunakan tenaga manusia dan hewan, yaitu: andong, grrobag, dan becak, tidak ada.

Tabel 2. Kepemilikan Kendaraan Motor Penduduk Kecamatan

Kalijambe

No Jenis Kendaraan Bermotor Krikilan Bukuran Jumlah
I. Mobil Pribadi 6 2 8
2. Colt Umum 5 10 15
3. Truk 2 3 5
4. Sepeda Motor 98 71 169
Sum her : Stalistik Kccamatan Kalijambc. 2008 muda menggunakan handphone. radio dan televisi hampir setiap rumah mempunyainya. Namun, untuk telepon rumah hanya beberapa saja, kebanyakan penduduk terutama yang Tabel 3. Sarana Komunikasi Penduduk Kecamatan Kalijambe Sarana komunikasi di Sangiran sudah memadai, terutama yang berupa
No Sarana Komunikasi Krikilan Bukuran Jumlah
I. Telepon 30 15 45
2. Radio 494 371 865
-- 3. - Televisi -- 238 193 431

S1111 1her: Stati stik Kccamatan Kal 1jambe. 2008

Ucskrips1 D8crah Pcnelitian --2 I

dan prasarana pendidikan hanya sampai tingkatan SD. Jumlah sekolah yang ada yaitu: 1 TK dan 2 SD/Ml. Sarana pendidikan di Desa Krikilan hampir sama dengan Desa Bukuran, terdiri dari: 2 play group, 2 TK, dan 3 SD/sederajat. Penduduk kedua desa apabila menginginkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi yaitu SLTP atau SLTA harus bersekolah di luar desa. Desa di Kecamatan Kalijambe yang sudah mempunyai fasilitas sekolah tingkat SLTP adalah Jetis Karangpung, Kalimacan, Sambirembe, Saren, Wonorejo, maupun Donoyudan. Apabila ingin meneruskan ke tingkat SLTA bisa bersekolah di Desa Jetis Karangpung, Sambirembe, Donoyudan, dan Saren.

Tabel 4. Sarana Sekolah Di Kalijambe

No Tingkat Sekolah Negeri Swasta Jumlah

  1. SD/MI 7 29 36
  2. SMP/MTS 4 3 7
  3. SMA/K/MA 4 3 7
  4. AK/PT--- Jumlah 15 35 50
    Sumber: Statistik Kecamatan K alijambe, 2008

Sarana dan prasarana kesehatan Desa Bukuran terdiri dari l Puskesmas pembantu, 1 Polindes/PKD, ada 6 Posyandu, serta seorang tenaga medis/ kesehatan/bidan. Di samping tenaga bidan, di Bukuran terdapat seorang dukun bayi. Adapun untuk Desa Krikilan, prasarana kesehatan terdiri dari sebuah Puskesmas pembantu, 7 buah Posyandu, sebuah Rumah Bersalin, dan sebuah Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Jumlah tenaga kesehatan terdiri dari: dukun bayi ada 3 orang, seorang bidan, dan seorang perawat. Dukun bayi yang ada di kedua desa sudah terlatih secara medis.

22 -KAJIAN SOSI A L, 8 U DAYA, DAN EKONOMI M AS YA RA K AT Dl K AWASAN SITUS S A NG IR AN

Pasar Krikilan. Hanya ada 3 pertokoan atau kios kelontong serta 36 warung yang ada di Desa Bukuran. Pasar Krikilan yang hanya beraktivitas pada hari pasaran Kliwon, maka di luar pasaran tersebut penduduk ke Pasar Kaliyoso. Sedangkan Desa Bukuran yang jaraknya berdekatan dengan Plupuh, aktivitas ekonomi masyarakatnya kadang-kadang juga dil akukan ke daerah tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan penduduk, di Desa Bukuran dan Kriki lan tersedia sarana peribadatan dan olahraga. Penduduk kedua desa tersebut semuanya memeluk agama Islam. Sarana peribadatan yang ada di Desa Bukuran terdiri dari 12 buah masjid dan 7 buah mushola. Sedangkan sarana peri badatan di Desa Krikilan terdiri dari 12 buah masjid dan 4 buah mushola. Sedangkan sarana olahraga yang ada di Desa Krikilan antara lain: sebuah lapangan sepakbola, sebuah meja ping pong, dan 3 buah lapangan voli.

Foto 3. M asjid di Gandok, Krik!lan

Deskripsi Daerah Penelit1an-23

Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen membangun Menara Pandang dan Wisma Sangiran. Para wisatawan bisa menikmati keindahan dan keasrian panorama di sekitar Kawasan Sangiran dari ketinggian lewat Menara Pandang Sangiran. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan akan tempat penginapan yang nyaman di Kawasan Sangiran dibangun Wisma Sangiran ( Guest House Sangiran) yang terletak bersebelahan dengan Menara Pandang Sangiran. Wisma Sangiran ini berbentuk joglo (rumah adat Jawa Tengah) dengan omamen-omamen khas Jawa yang dilengkapi dengan pendopo sebagai lobby. Keberadaan Wisma Sangiran ini sangat menunjang kegiatan yang dilakukan oleh para tamu atau wisatawan khususnya bagi mereka yang melakukan penelitian ( research ) Wisma Sangiran memiliki fas ilitas-fasilitas yang memadai, antara lain : Deluxe Room, sebanyak dua kamar dilengkapi dengan double bed, bath tub dan shower, washtafel, meja rias dan rak; Standard Room, sebanyak tiga kamar dilengkapi dengan double bed, bak mandi, washtafel, dan meja rias; Ruang Keluarga yang dilengkapi dengan meja dan kursi makan serta kitchen set; Pendopo ( Lobby ) yang dilengkapi dengan meja dan kursi; serta tempat parkir. Selain fasilitas-fasilitas tersebut, disediakan mobil (mini train ) untuk memudahkan mobilitas para wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Sangiran. Sumber air yang dapat dijumpai di kawasan Situs Sangiran berupa sungai (L ihat foto 6) dan mata air. Sungai Cemoro mengalir sepanjang musim di kawasan tersebut. Mata air hanya dapat ditemukan di daerah tertentu. Apabila akan membuat smnur, penduduk hams menggali cukup dalam untuk mencapai air tanah, setidaknya sepuluh meter. Akibatnya dari kondisi tersebut, penduduk mengalami kesulitan dalam mendapatkan air yang layak

24 -KAJ IAN Sosi AL, B u o AYA, DAN EKONOMI M ASYARAKAT 0 1 KAwASAN SITUS S ANG IRA N

Pemkab Sragen dalam mengatasi persoalan air, khususnya untuk ko nsumsi sehari-hari dalam bentuk dana untuk pembangunan SAB (sarana air bersih) model PAM. Air tanah disedot dengan pompa air merk Grundfos 2 HP untuk Desa Bukuran dan pompa merk Franklin 2 HP untuk Desa Krikilan. Kemudian air tersebut ditampung dan dialirkan ke rumah-rumah penduduk, namun dalam pelaksanaan menghadapi kendala. Model PAM ternyata belum dapat memecahkan masalah karena sistem penyaringan air dari sumber mata air belum memenuhi syarat, bahkan kadang-kadang mesin pompa rusak.

Foto 4. Penampungan Air

Untuk memenuhi kebutuhan air, maka mata air dan sungai menjadi sumber ai r pokok di musim kering untuk mengairi lahan sawah. Sungai atau sumber air diambil airnya dengan menggunakan mesin diesel ataupun dengan gaya gravitasi bumi. Di Sangiran yang kondisi alamnya berbukit- bukit dan sangat sulit untuk memperoleh air telah melakukan inovasi dengan membangun bendungan di Kali Cemoro yang dilengkapi dengan pampa

Deskripsi Daerah Pcnelitian -25

Pemeliharaan pampa hydran ini sangat mudah, hanya dengan penggantian karet tutup dan rem secara terus menerus (kontinyu). Manfaat yang didapatkan dari inovasi ini sangat banyak, yang utama adalah menyediakan air irigasi dan meningkatkan produksi pertanian warga yang semula berupa padi-polowijo-polowijo, menjadi padi-padi-polowijo. Selain itu dengan adanya pampa ini maka dapat berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam, karena bebas polusi.

Foto 5. Bendungan Bapang

Bendungan Bapang yang terletak di Dusun Gandok, Krikilan, aimya dialirkan melewati dusun-dusun di wilayah Krikilan dan Bukuran dengan tujuan akh ir ke Plupuh (Lihat foto 5,6,7). Di sepanjang saluran air digunakan

26 -KAJI AN SOSIAL, B UDAYA, DAN EKONOM I MASYARAKAT D l KAWASAN SITUS SANG IRAN

Untuk Irigasi Pertanian

Foto 7. Mencuci Baju Di Saluran Bendungan Bapang

Deskripsi Daerah Penelitian-27

POTENSI KAWASAN SITUS SANGIRAN SEBAGAI OBJEK TUJUAN WISATA

Situs Sangiran terletak di depresi So lo di kaki Gunung Lawu, yang dahulu merupakan suatu kubah ya ng tcrcrosi bagian puncaknya, sehingga menyebabkan tetjadinya reverse (kenampakan te rbalik) dan membentuk suatu depresi. Akibatnya lapisan-lapisan tanah berumur tua tersingkap secara alamiah, menampakkan lapisan-lapisan berfosi l, baik fosil manusia purba maupun binatang vertebrata. Kondisi deformasi geologis seperti ini kemudian diperhebat lagi oleh eksistensi Kal i Brangkal, Cemoro, dan Pohjajar, sebagai cabang-cabang Bengawasan Solo ya ng mcmbelah Situs Sangiran di bagian utara, tengah, dan selatan (Widianto Hary, 2008:214). Situs Sangiran termasuk dalam kategori si tus yang bersifat multi komponen karena memiliki data berupa fosil hominid, fosil flora dan fauna, serta pembentukan lapisan tanah atau stratifigrafi yang me lingk upinya berasal dari berbagai pcriode. Keadaan Si tus Sangiran yang demikian menjadikan situs ini merupakan laboratorium bagi berbagai dis iplin ilmu, yaitu arkeologi, paleoekologi, paleontology, dan geologi. S itus Sangiran sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dari berbagai di siplin ilmu. Terbentuknya Kubah Sangiran merupakan peristiwa geologis ya ng sangat penting untuk cabang

Potcnsi Kawasa n S itus Sangiran scbagai Objck Tujuan Wisata-29

Proses terjadinya Kubah Sangiran diawali pada 2,4 juta tahun yang lalu di mana terjadi pengangkatan, gerakan lempeng bumi, letusan gunung berapi dan adanya masa glasial sehingga terjadi penyusutan air !aut sehingga membuat wilayah Sangiran yang semula merupakan lautan dalam, terangkat ke atas (Elfrida Anjarwati, 2009:9). Secarastratigrafis maupunpuleoanthmpologis, situs ini yang terlengkap di Indonesia. Satu seri stratigrafis yang tidak terputus sejak Pleistosen akhir hingga akhir Pleistosen Tengah (antara 2 jma hingga 200.000 tahun lalu), dan ditemukan sekitar 50 individu manusia purba (Homo Ercctus), yang mencakup masa evolusi lebih dari I juta tahun. Jumlah ini mewak iii kurang lebih 75% dari seluruh fosil hominid yang ditemukan di Indonesia dan mencakup 50% populasi Homo Erectus di dunia. Ditemukan pula alat-alat batu manusia purba yang berupa alat-alat serpih dari bahan kaldeson dan jaspis, kapak perimbas (chopper), pahat genggam, dan bola-bola batu andesit yang diyakini sebagai produk budaya Homo Erectus di Sangiran. Binatang vertebrata, yang menjadi bagian hidup manusia purba Sangiran, juga sudah mendiami daerah ini sejak I ,5 juta tahun yang lalu, yang fosil-fosilnya ditemukan kembali pada lapisan-lapisan tanahnya. Potensi yang demikian tersebut menyebabkan situs ini dianggap sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia, dan telah dipakai sebagai tolok ukur untuk mengkaji proses-proses evolusi secara umum (Harry Widianto, 1997:1 ). Pada tahun 1977, adanya potensi yang terkandung di dalamnya wilayah Sangiran ditetapkan sebagai daerah eagar budaya, kemudian diperkuat lagi dengan ketetapan yang dikeluarkan oleh Komite World Heritage UNESCO sebagai Kawasan Warisan Dunia (Elfrida Anjarwati, 2009:3). Kawasan Situs Sangiran perlu dilestarikan dan dilindungi. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No.PM.17/ HK.OOI /MKP-2007 ter-

30 -K A JJ A N SOSIAL, B U D AYA, DAN EKONOMI M A SY A RA K AT Dl KAWASA N SITUS S AN GIR AN

12 Februari 2007, menetapkan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran sebagai lembaga yang khusus dan terpadu mengelola Kawasan Situs Sangiran. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengamanan, penyelamatan, penertiban, perawatan, pengawetan, penataan lahan, survey, analisis, penyajian, bim- bingan edukasi, kerjasama, pemberdayaan masyarakat, dokumentasi, pu- blikasi, dan ketatausahaan (Sulistyanto, 2008: 186). Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) dalam melaksanakan tugas dan fungsi terkait erat dengan keberadaan museum. Museum Manusia Purba Sangiran dibangun pada tahun 2005, yang telah diresmikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Bidang Kebudayaan pada tanggal 15 Desember 20 II. Visi pengembangan Situs Sangiran yaitu men- jadi pusat informasi peradaban manusia purba bertaraf internasional. Misi pertama BPSMPS adalah mewujudkan pelestarian tinggalan alam dan budaya Situs Sangiran dalam fungsinya sebagai laboratorium dan pusat informasi tentang kehidupan manusia untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan. Mi si kedua, mewujudkan usaha- usaha pengembangan Kawasan S itus Sangiran sebagai destinasi pariwisata dunia yang bertumpu pada daya tarik dan informasi peradaban manusia yang dikelola secara berkelanjutan dan memberikan nilai manfaat signifikan bagi masyarakat lokal. M isi ketiga, mengembangkan Kawasan Situs Sangiran sebagai tujuan pariwisata dunia yang mampu mendorong pengembangan wilayah dan pertumbuhan kegiatan pariwisata di tujuan wisata sekitarnya. 4 Dalam upaya pelestarian situs Sangiran dengan mempertimbangkan penataan laban dengan berbagai pemanfaatannya dibuat sistem pemintakatan

4 Wawancara dengan Budi Sancoyo pada tanggal I 0 April 20 II di Sang iran.

Potcnsi Kawasan Situs Sangiran sebagai Objck Tujuan Wisata -3 I

Prasejarah Sangiran dibangun pada tahun 1980 dengan luas areal 16.675 m 2 Bangunan museum bergaya joglo yang terdiri atas : ruang pameran yaitu ruang utama tempat koleksi yang dipamerkan. Museum memberi informasi berupa tulisan maupun peta terkait berbagai informasi tentang Sangiran,

5 Wawancara dengan Budi Sancoyo pada tanggal I 0 April 20 II di Sang iran.

32 -KAJIAN SOSIAL, 8UDAYA, DAN EKONOMI MASYARAKAT Dl KAWASA N SITUS SANGIRAN

tuang laboratorium yaitu tempat dilakukannya proses konservasi terhadap fosil-fosi l yang ditemukan; ruang pertemuan yaitu ruang yang digunakan segala kegiatan yang diadakan di museum; ruang display bawah tanah; ruang audio visual; ruang penyimpanan koleksi fosil-fosil, mushola dan toilet. Museum Sangiran yang mempunyai 14.000-an koleksi fo il ini menawarkan ti ga titik wisata purba yang menakjubkan. Di area I, pengunjung dapat menyaksikan pameran fosi1- fosil asli dan pera1atan manusia purba. Di area II dihadirkan 12 langkah kemanusiaan, mulai dari terciptanya a1am, terbentuknya kepulauan Indonesia dan Jawa, kedatangan manusia pertama, proses evo1usi sekitar 1,5 juta talmn 1alu, dan perkembangannya hingga menjadi manusia modem. Di area III dipertunjukkan zaman keemasan Homo Erectus Sangiran.

Foto 8.Muscum Sangiran Dcngan Idcntitas Kepala Patung Pithccantropus.

Potensi Kawasan Situs Sangiran sebagai Objek Tujuan Wisata -33

2009 mencapai 13.806 buah yang tersimpan dalam dua tempat yaitu ruang display dan gudang penyimpanan. Koleksi Museum Sangiran: fosi l manusia, antara lain A ustralopithecus africanus, P ith ecanthropus mojokertensis (Pithecantropus robustus), M eganthropus palaeojavanicus, Pithecanthropus erectus, Homo soloensis, Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens. Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gaj ah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis p alaeoj avanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan do rnba). Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, H ippopotamus sp (kuda nil), M ollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ), Chelonia sp (kura-kura), dan f oraminifera. Batu -batu an, antara lain M eteorit/Taktit, Kalesdon, D iatome, Agate, dan Ametis .Alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak. Jumlah koleksi selalu mengalami penambahan semng dengan dite mukannya fos il baru, seperti pada tahun 2011 ini ditemukan 3 fosil hewan. Koleksi museum terdiri dari: cetakan fosil manusia, fosil hewan vertebrata, fo si l binatang air, batuan, fo sil tumbuhan laut, dan alat-alat batu. 6 Ruang audio visual dimaksudkan untuk melengkapi informasi dari ruang di splay dengan menyaj ikan pemutaran film kisah kehidupan manusia prasejarah.

6 Wawancara dengan G unawan pad a tanggal I 0 A pril 20 II di Sangira n.

34 -K.AJJ AN S OS I AL, 8 UDAYA, DAN E KO OM I M ASYARAKAT Dl K A WASAN S ITUS S ANG IRAN

Purba Di Museum Sangiran

Foto 10. Ruang Pameran Tempat Fosil Yang Oipamerkan Di Museum Sangiran

Foto 11. Fosil Badak dan Desakripsinya Di Museum Sangiran

Potensi Kawasan Situs Sangiran sebagai Objek Tujuan Wisata -35

Selasa sampai Minggu dari jam 07.30 sampai 17.00 WIB, sedangkan pada hari Senin libur. Sebagai daerah tujuan wisata, kunjungan wisatawan ke Museum Sangiran mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990, jumlah wisatawan mencapai sekitar 28.000. Pada tahun 1997, Sangiran dicanangkan sebagai

36 -KAJJ AN S OS IAL, B UDAYA, DAN EKONOM I M ASYARAKAT D l KAWASAN SITUS S ANG IRAN

    1. Krisis moneter yang te1jadi di Indonesia berpengaruh

      dengan penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke objek-objek wisata, termasuk Sangiran. Hal tersebut disebabkan daya bel i masyarakat turun. Penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sangiran terjadi dari tahun ke tahw1. Pada tahun 2002, jumlah wisatawan yang berkunjung sejumlah
27.000. Pada tahun 2003, mulat terjadi peningkatan jumlah wisatawan mencapai 32.000. Seiring dengan pembenahan infrastruktur di kawasan Sihts Sangiran, misalnya pendirian menara pandang dan mendesain ulang tata ruang museum, terjadi peningkatan jumlah wisatawan. Pada tahun 2004, wisatawan meningkat taj am mencapat 53.000 (Sektiadi,dkk.,2009:75). Disamping obj ek wisata Museum Sangiran, wisatawan bisa mengunjungi menara pandang. Menara pandang merupakan salah satu fasilitas bagi para wisatawan un tuk meli hat pemandangan yang dinamakan *Kubah Sangiran.* Para wisatawan bisa menikmati keindahan dan keasrian panorama di sekitar Kawasan Sangiran dari ketinggian lewat Menara Pandang Sangiran. Menara pandang Sangiran berbentuk bangunan rumah modem yang dilengkapi tangga dan semacam aula kecil di bagian puncaknya. Untuk mencapai bagian tertinggi dari bangunan ini terlebih du lu harus melewati beberapa anak tangga yang berliku. Sedangkan di bagian bawah menara terdapat mini studio yang biasa memutarkan berbagai dokumentasi berkenaan dengan manusia purba yang ditemukan di Sangiran. Studio mini tersebut juga dilengkapi dengan pendingin ruangan, Sound sistem yang bagus, bangku- bangku panjang yang terbuat dari kayu serta layar yang Iebar. Bahkan di dalamnya j uga disediakan fas ili tas toilet. Kebutuhan para wisatawan akan tempat penginapan yang nyaman di Kawasan Sangiran disediakan Wisma Sangtran ( Guest I louse Sangiran) Potensi Kawasan Situs Sangiran sebagai Objek Tujuan Wisata -37 Objek wisata lainnya yang belum tergarap maksimal menyatu dengan kunjungan museum adalah kunjungan lokasi penemuan fosi l. Letak lokasi 38 -K.AJJA N S OS I A L, B UDAYA, DAN EKONOM I M ASYARAKAT OJ KAWASAN SITUS S ANG I RAN Objek wisata lainnya yang sebenarnya bisa digarap adalah adanya dua sumber air asin yang masuk wilayah Desa Krikilan. Kedua sumber air asin tersebut letaknya berdekatan. Sumber air asin yang lokasinya berada di tempat yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, kondisinya sangat memprihatinkan. Sumber air asin hanya berupa mata air yang terus rnenerus mengeluarkan air asin yang menyembul dari tanah yang berlumpur. Sumber air asin ini menurut penduduk dahulu sering dimanfaatkan untuk membuat adonan *kerupuk gendar.* Lokasi yang tidak jauh dari sumber air asin, wisatawan bisa melihat singkapan tanah yang berisi tambang diatome. Foto 15. Papan Penunjuk Lokasi Sumber Air Asin Di Pablengan Foto 16. Kcdua Sumber Air Asin di Pablengan, Desa Krikilan Potcnsi Kawasan Situs Sangiran scbagai Objek Tujuan Wisata -39 40 -KAJI AN S ostAL, B u D AYA, DAN EKONOMt M t\'>Y,\ RA K AT Dt KA wA~ AN StTus SANG t R~ N

KAJIAN SOSIAL BUDAYA EKO OMI MASYARAKAT SANGIRAN

A. Kajian Sosial Budaya

1. Agama dan Kepercayaan

Sebagaimana umumnya masyarakat di Indonesia, penduduk Sangiran menganut lima agama besar yang diakui oleh pemerintah. Permeluk agama Lslam mendominasi w ilayah eagar budaya Sangiran. Fasilitas peribadatan berupa masjid cukup banyak dan ditemukan di setiap dusun. D i setiap RW terdapat mushola atau langgar yang dipergunakan untuk sembahyang atau mengajar mengaji anak-anak pada sore hari. Minoritas penduduk yang menganut agama Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha pergi ke daerah terdekat untuk sembahyang. Namun, khusus masyarakat Sangiran di Kecamatan Kalijambe semuanya beragama Islam. Ada pondok pesantren yang cukup besar di Kalijambe bcrnama Tahfidzul Q ur ' an "Kyai Abdul Djalal". Pondok pesantren tersebut cukup memberi and il dalam membina iman Islam masyarakat setempat. Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an "Kyai Abdul Djalal" adalah sebuah lembaga pendidikan non formal yang dalam operasi onalnya berada di bawah naungan 7 Wawancara dengan Sardjoko pada tanggal 20 J un 1 20 II d 1 Kalijambc Kaj ian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sang iran-41 Umat Islam Kaliyoso (YAUMIKA). Lembaga ini berkedudukan di Dukuh Kaliyoso, Desa Jetis Karangpung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten 8 Sragen. Keseluruhan penduduk Desa Krikilan dan Bukuran beragama Islam. Masyarakat yang beragama Islam terbagi dalam dua varian yaitu Islam taat dan *ela-elu.* Warga masyarakat meskipun menyatakan beragama Islam tetapi kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari tidak sepenuhnya secara ketat melakukan ajaran Islam. Warga yang demikian dinamakan Islam *ela-elu* (beragama Islam tetapi tidak atau kadang-kadang melakukan sembahyang 9 lima waktu atau ke masjid). Foto 18. Krendowahono Tempat Tetirah di Kawasan Sangiran Warga Islam *ela-elu* dalam kehidupan keseharian tidak terlepas dari tradisi dan kepercayaan adanya makhluk halu s. Hal ini terkait dengan kondisi lingkungan setempat yang banyak ditemukan benda-benda ber- ukuran besar yang dianggap peninggalan raksasa (Jawa: *buta)* oleh penduduk Sangiran. Benda tersebut dianggap bertuah untuk keselamatan dan kesembuhan. Ada sebagian dari mereka yang masih melakukan *tetirah,* bertapa atau *nenepi* ke daerah yang dianggap keramat yaitu ke 8 Wawancara dengan Supardi 20 Juni 20 II di Kaltj ambe. 9 Wa wancara dengan C husnul pad a tanggal 19 Juni 20 II di Gandok, Sangiran. 42 -K.AJI AN S OSLA L, B UDAYA, DAN EKONOMI M ASYARAKAT D l KAWASAN SITUS S ANG IRAN toto 18). 10 Islam taat adalah menjalankan sholat lima waktu dan di antara mereka ada beberapa yang sudah menunaikan ibadah haji. Islam taat sclalu memenuhi masjid di dusunnya. Masjid sebagai tempat beribadah selalu penuh oleh jamaah laki-laki ketika sholat subuh dan maghrib. Masyarakat tcrlihat sccara sadar dengan sendirinya untuk mcnjalankan sholat lima waktu tepat waktu. Masa sekarang ini bertambahnya pengetahuan masyarakat, masuknya nilai ekonomis, dan gencarnya dakwah dari LDII dan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an "Kyai Abdul Djalal" yang ada di daerah tcrsebut kepercayaan tcr- hadap makhluk halus sedikit demi sedikit mulai terkikis. Kesadaran warga untuk menjadi Islam taat semakin bertambah banyak. Namun, hal itu bukan berarti sepenuhnya masyarakat mcninggalkan kepercayaan yang diwarisinya secara turun-temurun. 11 Meskipun ada dua varian, yaitu Islam *ela-elu* dan *faa!,* namun tidak mempengaruhi kerukunan antara keuuanya karena mercka menghindari perselisihan, yang penting tingkah lakunya baik. Kcrukunan terlihat ketika diadakan peringatan hari besar agama Islam. Peringatan hari besar keagamaan dilakukan antara lain Maulid abi, lsro Mi'raj, dan ldul Adha. Dalam rangka memperingati hari besar keagamaan ini dilakukan pengajian, sholat betjamaah, dan untuk ldul Adha, setclah Sholat ld, kemudian dilaksanakan penyembelihan hewan kurban. 1 ~ Masyarakat masih percaya pada hal gaib di sckelilingnya yang dapat mempengaruhi dalam kehidupannya, misalnya adanya peristiwa yang me- 10 Wawancara dcngan Supardi pada tanggal *20* .luni 20 11 di Kal ij ambc. II */hid.* 12 Wawancara dcngan Sukiyo pada tanggal 20 J uni 2011 di Krikila n. Kajia n Sosial Bud aya Ekonomi Ma ~yara"-a t Sangiran-43 Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an "Kyai Abdul Djalal' dalam halnya m1 para ulamanya bisa digerakkan untuk membantu program pelestarian fosil. Para ulama menjadi figur yang sangat dihormati dan dipercaya oleh umatnya. Nasehat ataupun ucapan yang keluar dari seorang ulama biasanya dipegang teguh oleh jamaahnya. Dinas yang bertanggungjawab pada pelestarian fosil Sangiran bisa bekerjasama dengan para ulama untuk ikut berperan serta menjaga kelestarian fosil. Khotbah atau ceramah para ulama bisa disisipkan pesan untuk menyinggung permasalahan pelestarian fosil. Islam yang taat akan merasa takut dan berdosa apabila mengambil fosil milik orang lain (bangsa Indonesia) yang sangat penting untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Tokoh masyarakat yang dituakan dan memiliki kekuatan supranatural Juga menjadi figur penting bagi orang Islam yang dikategorikan *ela-efu.* Melalui figur tokoh tersebut bisa disampaikan muatan pesan untuk ikut menjaga kelestarian fosil. Kata *kuwalat* menjadi senjata yang ampuh untuk menakuti orang berbuat yang tidak baik. Dari sini mungkin bisa 44 -K A JI AN SOSIAL, B UDAYA, DAN EKONOMI M ASYARAKAT Dl K AWASAN SITUS S ANG IR AN Islam *t:!a-du* un tu k tidak mencan dan memperdagangkan fosi I.

2. Adat lstiadat (Tradisi)

Dalam kehidupan masyarak at ten tu tcrdapat aturan untuk mcngatur hubungan individu-individu yang bcrupa norma -norma )< 111g scring di-sebut adat istiadat atau tradisi. Kala tradisi (DcpartcJJh.:n Pc,Jd idikan Dan Kcbudayaan, 198 g:959) mcmpunyai pcngcrtian adat kcbJ,Jsaan turun-tc- murun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyarakat. Nilai budaya yang berupa adat istiadat (t radisi) dalam masyarakat ya ng tinggal di pedesaan, umumnya tertanam kuat dalam kehidupan w~1rga masyarakat sehingga mcnjadi kepercayaan atau kcbiasaan. Masyarakat Sangiran masih mc lcstarikan trad1 si ya ng bcrka itan dcngan daur hidup *(file circle)* yaitu kehamilan, kclahi1 an inisiasi, pcrkawin an, dan kematian.Selain itu juga mclakukan sclamatan yang bcrkaitan dcngan bcrsih desa, nyadran, dan *angon* putu. **a. Nyadran** *Sadranan* atau istilah *nmdrun* ataupun *nnmhun* adalah mcrupakan adat Jawa yang bcrtcpatan pada bu lan mcnjclang bulan puasa. Kcnwngkinan kata *nyadran* berasal dari kata *sroddlw* Jalam bahasa Sansckcrta yang bcrarti kcyakinan. Upacara *sraddha* telah dikcnalolch masyara kat .Ia\\ a kun o sct1a p setahun sckali untuk mengcnang ata u mcnghormati roh para lcluhur ya ng telah meninggal. Kcbiasaan orang Ja\\a masa itu ya ng sangat menghargai dan mcnghormati lcluhurnya oleh para pcnycbar Islam di Jawa tctap dihargai. Tradisi ini oleh para wali penycl>ar l ~lam di .lawa dikcma :--. dcngan nuansa lslami dengan format ziarah unt uk mcngingatkan pada kcmatian. *Nmdron* Sya 'ban a tau bulan Zuwah do lam penanggalan Jawa. Kata ruwah itu sendiri berasal dari serapan bah:1 sa A ra b arwah, dengan maksud agar tidak melupakan agenda penting 'menyapa · arwah leluhur di bulan tersebut. *Nyadran* yang hanya bisa ditemui dalam tradisi J aw,.t nwnjelang puasa meliputi tiga aktivitas. Aktivitas dalam sadranan yaitu: I. Ceramah agama Islam. 2. Doa kepada leluhur yang telah meninggal dU111 a. 3. Makan bersama. 4. Kumpul bersama dengan kerabat. *Nyadran* bagi masyarakat pedesaan juga berfungsi sebagai sarana komunikasi antar keluarga dan mengingatkan kembali silsil :1h keluarganya, seperti yang dituturkan informan berikut ini: " *Nvadran* juga akan menjadi sarana komunikas i dan si btun1hmi. Selain itu akan menyambungkan tali kekcrabatan. Biasanya kc, ab:1t y <~ ng sudah setahun tidak bertemu akan bcrtcmu di acara itu. Bisa juga untuk nh: nyegarkan ingatan kita tentang tali silsilah atau garis keturunan. Setidaknya sctal1u n sckali masyarakat pcdesaan Jawa ini akan mendatangi makam orangtua atau lcluliurnya menjelang datangnya bulan suci Ramadan. "ll Di Sangiran, *nyadran* biasanya dilakukan sebelum bulan Puasa, setiap tanggal 23 Ruwah oleh seluruh warga masyarakat. Maksud dan tujuan penyelenggaraan *nyadran* untuk mengirim doa kepada leluhur masing- masing warga masyarakat. Kesepakatan warga bahwa *nyadran* dilakukan di pemakaman. *Nyadran* di Desa Krikilan dipusatkan dt Makam Dusun 13 Wawancara dengan Supardi pada tanggal 19 Juni 2011 di Kal1pm bc. 46 -K A JJAN SostAL, B u DAYA, DAN EKONOMJ MASYARAK X r DJ I<,\ WA S, r-, S1 11, ~AN("RA N tcmpat *.\' UIJ1fL re* (dimakamkannya) cikal baka l dcsa. Penduduk Desa Bukuran j uga mclakukan *nyadran* di makam dusun masing-masing. Di antara pcndudttk 1-..rikilan maupun Bukuran ada juga yang *nyadran* ke dcsa tctangga, mi salnya kc Dusun Kaliyoso, Desa Jetis Karangpung. **Hal** ini karcna ad"l beberapa penduduk yang mempunya i kerabat di dusun tersebut. *Nyadron* dipusatkan pada makam Kyai Abdul Jalal. Kyai Abdul .Jalal merupakan abdi dalem cikal baked Dcsa Kaliyoso yang ditunjuk olch Kraton Kasunanan Su rakat1a. Sebelum diadakan *nyadran,* tepatnya satu hari scbelum !JE'I aksanaan nyadran para warga akan mengadakan ketja bakti untuk membersihkan makam dan memperbaiki sarana ya ng rusak. Pencntuan wa ktu pelaksanaan bcrdasarkan musyawarah warga. PRda sa at yang d isepa kati bcrsama, setiap kepa Ia kel uarga d i haruskan mcm buat nasi kenduri Jiscrtai lauk-pauk ya ng ditcmpatkan di *jodhang* atau tempat nasi. Lauk scbaga i kelcngkapan scsaji yang harus ada dalam *sctiapjodhang* adalah ingkung ayam jago (jantan). Kcnduri dibawa oleh masing-masing kepala kcluarga bcramai- ramai kc makam. Setclah scm ua kcpala kcluarga bcrkumpul Rtau lc ngkap acara bisa dimulai. Jalannya acara. pcrtama tctua desa atau lurah membuka acara, sc- lanjutnya kaum (mudin) membacakan doa atau ujub. Ujub ditujukan kcpada cikal bakal dcsa *yangswnare* (dimakamkan eli situ) atau kadangkala ditujukan kcpada *dhwn·a11g* penunggu dcsa. *Ujuh* kepada *dhanyang* pcnunggu desa bertujuan agar ti dak mcngganggu aktivitas warga, namun dapat mcnjaga keselamatan warga. elcsai doa yang dipimpin olch *kaum,* dil anjutkan ccramah tcntang agama Islam yang disampaikan oleh scorang tokoh agama (ustad). Berakhirnyb. Angon Putu *Angon putu* berarti menggembalakan cucu. Tradisi ini berisi nilai ajaran tentang kearifan orang tua dalam membimbing keturunannya. Tradisi *angon putu* relatif kurang populer bahkan cenderung menuju kepunahan. Tradisi *angon putu* merupakan bagian dari tradisi siklus hidup masa tua orang Jawa, yang disebut *tumbuk ageng. Tumbuk ageng* merupakan salah 14 Wawancara dengan Widodo pada tanggal 19 Juni 2011 di Kalijambe. 48 -K A. IIA N SosiAL, B uoAYA, DA N E KoNOM I M ASYARAKAT 111 K AWASAN SITUS SANGIRAN tua, yaitu ketika seseorang berumur 8 windu (64 tahun). Kata *tumhuk ageng* berasal dari dua kata yakni *tumhuk* dan *ageng.* *Tumbuk* berarti bertepatan atau berbarengan. *Ageng* bcrarti bcsar dan agung. *Tumhuk ageng* merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan tepat pada saat seseorang berusia 8 x 8 tahun (64 tahun). Hal ini di sebabkan pada usia 64 tahun, hari *weton-nya* tepat sama dengan hari *(weton)* pada saat ia sebagai bayi lahir ke dunia. Apabila pada usia 64 tahun tidak memungkinkan dilaksanakan, dapat dilakukan pada saat bcrumur I 0 windu (80 tahun). Acara yang dilakukan untuk mempcringati *tumbuk ageng* adalah *angon* *putu* dan *congkogan.* Tradisi ini jarang dilakukan masyarakat Sangiran dibandingkan tradisi yang terkait dengan *file circle* (siklus hidup manusia). *Angon putu* adalah suatu tradisi yang dilakukan oleh pasangan kakek-nenek yang tclah memiliki cucu be1jumlah 25 orang atau lebih. Batasan *angon putu* yang bisa dilaksanakan ketika seseorang telah dikaruniai cucu 25 orang atau lebih mcnjadi kendala penyelenggaraannya. Pada dasamya tradisi *angon* *putu* dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Pemberian cucu yang berjumlah 25 orang berm1i diberi umur panjang. Adapun acara atau kegiatan ritual *angon putu* terdiri dari: berziarah ke makam leluhur, selamatan, sungkeman, bagi-bagi uang saku, melepas burung merpati, digembalakan ke pasar, minum dawet, dan kembali kc rumah. Setclah sehari sebelumnya ziarah kc makam leluhur, kemudian diadakan selamatan. Pada saat selamatan, sctelah warga bcrkumpul, pemimpin upacara atau kyai mengikrarkan apa yang menjadi maksud dan tujuannya. Berakhimya doa untuk mbah-nya, dilanjutkan anak-cucu *didongani/* didoakan. Acara dilanjutkan dengan melepaskan burung merpati. Sclanjut- nya, anak-cucu beserta tamu undangan bcrsama-sama menikmati hidangan Kaji an Sosial Buclaya Ekono111i Masy:uakat '-> angiran--49 mern Keham ilan *l'vlitoni* al:l ll :-,t:la mata tl tujuh bula11an dilaJ.ukJ.n ·-, l'telah kcham il an seorang ibu gcnar 1bia 7 bu la n at11u lebih. Dd.tksanakan tidak bolch kut :mg dari 7 bulatl, seka ltpun ku ra ng ~l· l1. 1 ri 8elum ada *nep/11* atau *wetvn* ( ll ari ;lla ~e lli r hari Jawa) yang dtj adikan patokan pelaksanaan, )ang pcntmg mcngat;lbil ha ri sclasa atau :-,abtu. Tujuan *mitoni* atau *ting/,.:hon* ag<::11 ~ upa y,t ibu da n janin ~~ l a l u dijaga dalam kcscjahtcraan ian kc~ el.tn lala;t (v., iiujcng. santosa. jatmi Lt, rallayu).1' Mcnurut inlunnan upacara pllOilan (kd13m tl an peilama umur 7 bul an) 1na sil1 ada yang melakukan nam un kcbanyakan tidak lagi scc1ra b1gkap atau lebih ~cderhan a Terkadang ada juga yang hanya d i~~rahka1 1 penyelrnggaraan nya kcpa da takn111 masjid, tanpa proscsi sira man ataupu n kcnduri. tJpacara pi tonan yang d i~ crah kan ke takmir masjid biasanya ha1tya tllcm baca Surar 1aryam, S11rat Yusuf, atau Sura t Lukman. l'cmbacaan sura l tcrsebut bukan tanpa maksud atau kchcJ tdak. Pemb:u..:aa 1I Surat Maryam d 1maksud kan supaya kcl ak bny i yan g dil ahirkan ~ ifat-s ifa tn ya sepctii S iti Maryam. Membaca Surat Yusuf de ngc~n lurapan kdak lJay inya lahit scperti Nabi Yusuf. Sedangkan membat..:CI Surdt Lukt na11 dilllak ~ udkan supaya kelak bay inya lahir seperti Lukma11. 2). **Kelahiran** Trad isi kcldhira1 1 dulam buda) a Jawa dJ:llilaranya dalah tradisi -;cpasdran dan elapanan. Namun scbelumn_, a ada proses perawatan '"Jan penguburan an· a1 i bayi. Bapak si hayt scgcr a mcmbersi hkan ari- *kendillperiuk. Kendi!* yang berisi ari-ari ditanam di samping pintu masuk rumah, kemudian dipagari dan diberi lampu *teplok.* Pagar dimaksudkan untuk melindungi ari-ari dari masuknya binatang dan lampu *teplok* untuk memberi penerangan atau cahaya. 16 **a. Sepasaran** Upacara Sepasaran ini ditujukan untuk memohon keselamatan bagi bayi. Perlengkapan upacara yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: sego tumpeng janganan, jenang abang putih, jenang baro- baro dan jajan pasar. Upacara Sepasaran dilakukan pada waktu bayi memasuki hari ke lima setelah kelahiran. Sepasaran dilaksanakan setelah maghrib dan dihadiri oleh bayi, ibu bapaknya dan anggota keluarga terdekat. Terdapat makanan pantangan yaitu samba!, sayur bersantan, telur, ikan tawar dan telur asin. Namun, masa sekarang ini, masyarakat Sangiran mengambil segi praktisnya saja. Pada dasamya pada hari pertama sampai bayi puput tali pusamya ada tradisi *jagongan* atau *lek-lekan.* Pada hari kelima disebut sepasaran. Biasanya hanya kenduri berupa nasi gudangan dengan !auk telur, dengan mengundang warga. Kenduri didoakan oleh kaum kemudian diumumkan nama si jabang bayi. Sebelumnya, pada sore hari dilakukan *bancakan* untuk anak-anak, lalu ada kenduri yang 16 Wawancara dcngan Sridati pada tanggal 2 1 Juni 2 0 II J1 K rikilan. 52 -K A H AN S o sJAL, B u oAYA, DAN EKONO MI M AS'.A K A KAT 01 K A WASAN S1rus SANGIR A N "muncul" kembali. Dengan begitu, mereka yang dilahirkan pada Senin Pahing tanggal I April 2002, selapanannya akan jatuh pada Senin Pahing kembali tanggal 6 Mei 2002. Begitu seterusnya berulang setiap 35 hari sekali. *Selapanan* perlu diperingati sebagai rasa syukur bahwa si jabang bayi sehat walafiat, hidangan bisa berupa *hancakan* yang dibagikan kepada anak-anak kecil di seputar tempat tinggal si bayi. Kelahiran anak sungguh merupakan kebahagiaan yang tak terkira bagi pasangan orang tua yang memang mengharapkan kehadiran seorang anak. Bagi etnis Jawa yang masih nguri-uri tinggalane leluhur ada tradisi selapanan yaitu peringatan 35 hari seorang bayi (dari hari kelahirannya sampai ke wetonnya yang pertama) sebagai tanda syukur kehadirat Allah. Bagi seorang muslim kehadiran seorang anak juga disambut dengan ritual agama yang bernama Aqiqoh, yaitu penyembelihan hewan aqiqoh pada hari ketujuh kelahirannya sebagai tebusannya. Meskipun juga tidak mutlak harus hari ketujuh, sesuai kemampuan orang tuanya. Aqiqoh adalah hewan yang di sembelih Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran - Upacara inisiasi dilakukan terhadap anak laki-laki dinamakan supitan atau khitanan, sedangkan untuk anak perempuan dinamakan tetesan.

4). Perkawinan

Upacara perkawinan biasanya dilakukan pada bulan-bulan Jawa yang dianggap baik oleh masyarakat, misalnya: Rejeb, Syawal, Besar, dan Mulud. Bulan Suro merupakan pantangan untuk penyelenggaraan perhelatan perkawinan. Dalam pelaksanaan perkawinan menggunakan saat atau waktu yang tepat dengan perhitungan hari, pasaran, dan bulan. Urutan upacara perkawinan dari awal sampai akhir adalah sebagai berikut: pasang tarub dengan tuwuhan dan bleketepe, siraman, midodareni, ijab, dan panggih. Pelaksanaan upacara perkawinan secara lengkap kebanyakan dilakukan oleh penduduk yang mampu secara ekonomi. Masyarakat umumnya sudah menghilangkan prosesi midodareni dan siraman. Di luar kedua prosesi tersebut masih dilaksanakan secara penuh. Kesenian campursari dipertunjukan untuk menghibur para tamu ketika dihidangkan makanan dan minuman. 54 -KAJIAN SOSIAL, 8UDAYA, DAN EKONOMI MASYARAKAT' Dl KAWASAN SITUS SANGIRAN Sangiran. 17 Foto 19. Perhelatan Perkawinan Yang Menggunakan Umbui-Umbul 5). **Kematian** Upacara kematian terdiri dari beberapa rangkaian yang saling berkaitan, antara lain: *surtanah* berupa perawatan sampai penguburan, selamatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, satu ta hun *(nyetaun* ), dua tahun *(m endhak foro),* dan *nyewu* atau seribu hari. Pada upacara kematian ini seperti halnya pada tempat lain di Sragen hampir sama. Perbedaannya hanya terlihat keti ka yang meninggal dunia masih muda. Apabila yang meninggal dunia masih muda maka di rn akamnya ditanam pohon pisang dan dibuatkan gagar rnayang. Setelah *surtanah* biasaya keluarga yang meninggal dun ia meminta doa yasin ta hli l sampai seminggu. Pada peringatan kematian setelah surtanah, diadakan doa yasin tahli l oleh kaum laki- laki warga seternpat yang dipimpin 17 Wawancara dengan Widodo pada tanggal 19 Jun1 20 II d i Kahjambc. K aj ian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran-55 U pacara tersebut diadakan setelah maghri b dan diikuti oleh keluarga, ulama, tetangga dan relasi. Perbedaan antara kesemua fase peringatan kematian tersebut yang paling meriah saat *nyewu* atau seribu hari. Dalam peringatan seribu hari, jika si mati merupakan orang terpandang atau secara ekonomi mampu, biasanya mengundang seluruh warga desa. Orang yang terpandang biasanya menyembelih lembu sendiri untuk sajian lauk hidangan. Dalam mengundang warga untuk hadir dalam acara yasin tahlil, tidak lagi didatangi per rumah namun cukup disiarkan lewat pengeras suara masjid.Tidak ada tanda baku bendera yang dikibarkan sebagi pertanda adanya orang yang meninggal. Warga bisa menggunakan bendera warna merah atau putih. Orang yang sudah meninggal membutuhkan doa dari anak keturunannya yang masih hidup. Doa yang ditujukan kepada Tuhan untuk memohon pengampunan dosa bagi arwah dan segera masuk ke surga. Ada dua tradisi yang dilakukan masyarakat Desa Krikilan untuk mendoakan arwah leluhumya terkait dengan bulan puasa dan idul fitri. Kedua tradisi tersebut adalah *unggah-unggahan* dan *udhun-udhunan.*

a. Tradisi U nggah-Unggahan

Tradisi U nggah-Unggahan yang di maksudkan bertujuan me- naikkan arwah leluhur, tujuannya memohonkan ampunan kepada 56 -K A JIA S osiA L, B uoAYA, DAN E KONOM I M ASYARAKAT 01 KAwASAN SITUS S ANG IRAN Puasa. Dengan cara setiap *somah* membuat kenduri untuk dimakan bersama dcngan para tetangga kiri kanannya. Misalnya hari ini eli rumah A, dilanjutkan ke rumah B, bcgitu seterusnya secara bcrgiliran dengan cara diumumkan satu persatu. Oleh karena itu satu orang dalam schari bisa datang untuk kenduri hingga 30 kali. Kalaupun ada yang tidak bisa menyediakan kenduri tidak mcndapatkan sangsi, tetap bolch ikut menghactiri kenduri ke rumah tetangga lainnya. Dalam sctiap kenduri selaku dilakukan ya si n tahlil bagi arwah keluarga yang sudah mcninggal dunia. Kenduri ya ng dihuat oleh dan eli masing-masing rumah setelah didoakan kemudian dimakan bersama-sama. Selesai melakukan tradisi unggah-unggahan esok harinya warga desa nyckar eli 111akam leluhur masing-masi ng. **b. Tradisi Udhun-udhunan** Tradisi ini merup<~kan kc balikan dari Unggah-un ggahan. Tradisi 1111 clilaksanakan malam hari dan waktunya sebelum tcrdengar suara takbir menjelang ldul Fitri. ·1 ujuannya untuk mendoakan arwah leluhur agnr cliampuni scgala closa-closanya di saat hari yang suci (lclul Fitri). Mcn gcnai urut-urutan upacara ada lah pcrtama, seluruh warga berkumpul bcrsama eli rumah Bapak RT Masing-masing kcpala kcluarga yang laki-laki mcmbawa ancak bcrisi nasi lcngkap dengan lauk-pauknya scpcrti telur, sayur krccek, krupuk, pi sa ng, bakmi, dan lain sebagainya. Sctclah semua ancak terkumpul la lu didoakan oleh Bapak Kaum. Ujub Kajian S(ls ial Hurl ~ ya Ekonomi Masyarakat Sangiran-57 Selesai pemimpin agama membaca doa, acara dianggap sudah selesai dan nasi kenduri lalu dimakan bersama-sama. Terkadang ditukarkan dengan sesame tetangga yang hadir di tempat tersebut. Kalau ada dana kadangkala, dalam tradisi ini mendatangkan penceramah agama. Tradisi *life circle* dari segi ekonomis bisa dimaknai dua hal yang berbeda, pemborosan atau menambah pendapatan. Pemborosan terjadi apabila pelaku tradisi secara berlebihan melakukan kegiatan tersebut. Pemborosan tersebut nantinya menimbulkan keinginan seseorang untuk mencari sumber pendapatan yang bemilai tinggi. Fosil yang mempunyai nilai jual tinggi bisa menjadi incaran penduduk untuk memperoleh uang yang banyak. Pendapatan bertambah bagi masyarakat Sangiran apabila tradisi yang ada dikemas dijadikan agenda wisata. Kerjasama dinas terkait dengan masyarakat untuk mempertunjukan tradisi bagi wisatawan sangat diperlukan. Agenda wisata mengenai tradisi tersebut akan menambah pemasukan keuangan bagi masyarakat sekitar.

  1. Kesenian Kesenian tradisional yang masih hidup di Sangiran adalah slawatan, rebana, terbangan, dan campursari.

    a. Slawatan Slawatan ini merupakan kesenian rakyat yang bemafaskan agama Islam, dan menggunakan alat musik rebana (terbang, Jawa) dan sejenisnya. Kesenian ini dinamakan Slawatan karena dalam pertunjukan para pemainnya 58 -KAJI AN SoSI AL, BuoAYA, DAN EKONOMI MASYA RAKAT 01 KAWASAN SITUS S ANG IR AN

  2. Kesenian Slawatan ini berfungsi sebagai alat penyiaran agama Islam,

    di samping sebagai tontonan/ hiburan yang menarik.Dahulu fungsinya adalah sebagai alat dakwah agama Islam. Kesenian ini sebenarnya bukan seni pettunjukan, artinya dia tidak ditonton oleh umum. Kalau toh ada penonton di situ, kedudukan mereka lebih sebagai pendengar. Pementasan Slawatan ini bisa dijalankan minimal oleh enam orang dan maksimal olch 40 orang, walaupun demikian biasanya dijalankan oleh sekitar 15 -20 orang. Para pemain Slawatan menggunakan kostum realis yaitu pakaian yang dipakai sehari-hari dan tidak memakai rias muka. Biasanya permainan ini diadakan di masjid atau langgar tetapi sering juga di rumah penduduk. Vokal disampaikan dalam bentuk nyanyian berbahasa Arab. Pertunjukan ini tidak memakai naskah tetapi menggunakan pedoman Kitab Barzanji. Ada JUga teks yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa sehingga nyanyiannya berbahasa Jawa. Jcnis ini disebut Slawatan Jawa. Maksud pcnggunaan bahasa Jawa agar syair yang ada dalam Kitab Barzanji dapat mudah dimengerti maksudnya, baik oleh anggota kescnian scndiri maupun oleh masyarakat pendengar yang menyaksikan kesenian tersebut. Orang akan cepat hafal jika vokalnya menggunakan Bahasa Jawa dan akan lebih mengena di hati masyarakat umum.

Kajian Sosial 1:3udaya Ekonomi Masya rak at Sa ngiran-59

20.00 hingga jam 04.00. Alat penerangan yang
digunakan disini adalah petromak atau listrik ttntuk waktu sekarang, dan lampu keceran atau lampu gantung di masa yang lalu. Instrumen musik yang dipakai antara lain adalah rebana yang terdiri atas beberapa buah menurut ukuran dan nada, kendang (dodog dan beb), kempul, kenting, ketuk dan gong. Pemain kesenian Slawatan ini semuanya laki-laki. Kesenian slawatan pada umumnya disampaikan dengan Bahasa A!'ab. Kesenian ini tetap statis dan tidak banyak mengalami perkembangan sejak jaman dahulu hingga sekarang. Kesenian ini umumnya banyak didukung oleh golongan orang tua karena generasi muda umumnya kurang tertarik akan kesenian ini.

b. Rebana atau Terbangan

Kesenian rebana atau terbangan merupakan kesenian yang bersifat lokal untuk kalangan warga desa sendiri. Kesenian ini tidak dipentaskan ke luar dari desanya. Kesenian ini biasanya digunakan untuk keperluan hajadan, seperti khitanan, sepasaran, dan kelahiran anak. Anggota kesenian be1jumlah 7-8 orang, dengan 3-4 penyanyi. Alat musik yang digunakan adalah ketipung, kendhang, drum, organ, dan gitar. Pemusiknya laki-laki semua, namun untuk penyanyi bisa laki-laki atau perempuan. Kostum yang dikenakan memakai busana muslim, bercelana panjang mengenakan baju koko dan berpeci. Di Desa Krikilan ada satu grup kesenian rebana p1mpman Haji Sajari, yang juga seorang Bayan J. Ongkos tanggapan sekali pentas sebesar Rp.l.500.000,-. Pemain music biasanya orang tua karena generasi muda kurang tertarik akan kesenian tersebut. Kesenian rebana tidak pemah

60 -KAHA N SosJAL, BuDAYA, DAN EKONOMI MASYAR,\KM DI K AWASAN SITUS SANC>IRAN

Posisi duduk para pemain dengan bersila saling berhadap- hadapan. Setelah pada adegan srokal, dinyanyikan syair yang mengkisahkan saat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam menyanyikan syair ini para pemain biasanya mengambil sikap berdiri, yang dimaksudkan untuk memberikan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Sikap ini biasa dilakukan oleh setiap kesenian yang bertemakan atau bernafaskan Islam. Baian srokal biasanya d imainkan tepat pada saat pelaksanaan khitan. Adapun peralatan yang digunakan berupa terbang (semacam kendhang tetapi hanya satu sisi yang bisa dibunyikan) dalam berbagai ukuran. Kesenian ini biasa dimainkan pada malam hari, namun tidak menutup kemungkinan untuk dimainkan pada pagi dan siang hari, tcrgantung permintaan penanggap yang punya hajad. Kesenian lslami ini tidak mengenal ubo rampe sesaji karena dalam agama Islam tidak dikenal adanya sesaji.

c. Campursari Kesenian campursari adalah suatu kesenian di bidang musik yang me- rupakan perpaduan antara dua tangga nada diatonis dan pentatonis. Musik campursari pada masa awalnya (sekitar tahun 1993) memang banyak menjadi perdebatan para seniman dan pekerja seni. Hal itu tekait dengan pakemnya yang berseberangan antara karawitan tradisional dan modern. Di sini tennasuk jenis-jenis musik yang didalamnya ada langgam, stambul, scrta keroncong. Namun banyak juga kalangan yang berpendapat bahwa campursari adalah suatu kreasi dan inovasi,jadi sah-sah saja. Musik campursari bersifat universal
Kajian Sosial Budaya Ekonomi Ma;, yarakat Sangiran-

Pop, dangdur, keroncong, jazz, rock dll), sehingga mampu mengikuti perjalanan jaman & waktu. Pada perkembangannya musik Campursari sudah tumbuh dan terus berkembang dengan berbagai inovasinya. Perpaduan yang hannonis akan mendatangkan estetika keindahan, keselarasan yang bermanfaat bagi manusia banyak. Seperti halnya manusia dalam bergaul, bekerja dan dalam kehidupannya tentu perlu nuansa kehannonisan antar sesama, perpaduan dan toleransi yang mana semua itu juga akan mendatangkan suatu keindahan hidup yang bermanfaat bagi sesama. Terbukti di semua kalangan/ lapisan masyarakat mengganggap para pelaku seni Campursari mampu mengikuti atau memenuhi pennintaan hampir semua jenis musik langgam, ndangdut, keroncong, pop dll. Memang Secara harfiah campur~an artlllya campur : aduk, Sari : bcragam, banyak jenis, campur baur atau gabungan dari beraneb macam dan ragam. Dalam dunia musik lndonc.·si a campursari dapat diat1ikan sebagai perpaduan antara alat musik tradisi o n ~ l (gamelan jawa) dengan alat musik modern. Konon diperkiraka11 aliran C

--K A HAN Sosi A L, B u DAYA, D A N EKuNurvtl MA ~YA R A K A I 01 KAWASAN Strus S.-\Nr;JR AN

dan gitar komplit. Tarif yang dipathok sekali pentas berkisa r antara Rp. 1.5 00.000,-sampai Rp.2. 000.000,-untuk di wilayah Sangiran. Tarif diberlakukan berbeda untuk di luar wilayah Sangiran, tergantung jarak dan permintaan penyanyinya. Pementasan campursari biasanya untuk memeriahkan pesta pernikahan, khitanan, ataupun selapanan bayi. Potensi kesenian yang ada di Desa Krikilan belum tergarap dengan baik. Kesenian baru terbatas untuk hiburan bagi yang punya hajatan. Potensi ini terkait dengan keberadaan Mu seum Sangiran bi sa saling mendukung. Kelompok kesenian yang ada bi sa diberi kesempatan untuk pen tas menghibur wi satawan yang berkunjung ke museum. Ada simbiosis mutualisme yang te~jadi antar keduanya. Kelompok kesenia n diuntungkan dapat pentas sehingga mendapat pendapatan. Pihak dinas pengelol a museum Sangiran memperolch dua keuntungan yaitu menambah daya tarik wisatawan untuk berkunjung dan tcrjadi hubungan yang erat dengan penduduk setempat.

Kajian Sm, ial 13udaya Ekonomi Masyarak at Sangiran -63

Pelapisan Sosial

Dalam pergaulan antar individu di masyarakat, ada pembedaan kedudukan dan status. Pembedaan kedudukan dan status terhadap individu dalam masyarakat menjadi dasar terdapatnya pelapisan sosial atau sosial strat~fication (Koentjaraningrat, 1981 : 174). Ada beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya pelapisan sosial yaitu: kualitas dan kepandaian; kesenioran tingkat umur; sifat keaslian; pengaruh dan kekuasaan; kekayaan harta benda. Sistem pelapisan sosial timbul karena di dalam masyarakat terdapat perbedaan status atau tingkatan sosial yang dimiliki oleh setiap individu sebagai warga masyarakat. Alasan terjadinya pelapisan sosial karena adanya perbedaan derajat yang disebabkan oleh perbedaan ekonomi, jabatan/ pangkat, pendidikan, umur, pekerjaan, dan sebagainya. Menurut sifatnya pelapisan bersifat tertutup dan terbuka. Pertama pelapisan sosial tertutup, tidak memungkinkan pindahnya orang seorang dari suatu lapisan ke lapisan yang lain. Pelapisan sosial kedua bersifat terbuka, yang memungkinkan untuk merubah statusnya, umumnya me- ngenai pendidikan, keadaan ekonomi, kekuasaan dan tingkat senioritas (Soelaeman, 1986:53-54). Di Sangiran, pada umumnya pelapisan sosial terbuka. Pelapisan sosial yang terjadi antara lain karena keadaan ekonomi antara pembuat souvenir dan pemilik toko souvenir. Pemilik toko souvenir yang secara ekonomis lebih mapan dibandingkan para pengrajin souvenir. Pamong desa terutama lurah merupakan golongan yang sangat dihormati di antara penduduk Sangiran.

64 -K A JJ AN Sosi AL, B uoAYA, DAN E KONOM I M ASYARAKAT 0 1 K AWASAN SITUS S ANGI RAN

Semua penduduk di kedua desa tersebut, yang mempunyai latar belakang matapencaharian bcraneka macam patuh dan tunduk pada kebijakan lurahnya. Pemilik dan pengrajin souvenir kerajinan dari batu kedudukannya berada dibawah lurah, meskipun seca~·a ekonomis bisa jadi, justru lebih kaya dibandingkan lurah. Lurah bisa diajak berkoordinasi oleh BPSMP Sangiran untuk membuat kebijakan yang terkait dengan usaha dan perdagangan souvenir berbahan batu jangan sampai merusak situs. Lurah juga dijadikan kontrol sosial ataupun mengawasi pelaksanaan kebijakaan yang sudah di sepakati untuk menjaga kelestarian situs.

5. Organisasi Sosial dan Kegiatan Masyarakat

Masyarakat adalah kelompok manusia sosial yang selalu mengadakan hubungan sosial antara yang satu dengan yang lain. Untuk mengatur perilaku dan tindakan dalam masyaraka t baik kegiatan sehari -hari maupun dalam usahanya untuk mencapai tuj uan tcrtentu, d i per I ukan suatu wadah yang disebut organisasi sosial atau lembaga sosial atau kelompok-kelompok tertentu. Selanjutnya, da lam masyarakat seorang warga mepunyai hak dan kewajiban serta mcmpunyai kebebasan bertindak selama tidak mendengar batas-batas norma dan hukum yang berlaku. Hak dan kewajiban tersebut berfungsi sosial yang tidak boleh dipergunakan untuk kepcntingan pribadi atau perorangan. Selain itu, masyarakat dalam mengadakan relasi sosial mempunyai kebiasaan, sikap dan pcrasaa n yang sama. Organisasi atau lembaga sosial yang ada di Sangiran mcnurut bentuk dan sifatnya dapat dbedakan menj adi dua yaitu bersifat formal dan non formal. Organisasi yang bersifat formal sebagai induknya adalah Lembaga

Kajia11 SLbJ al Budaya Ekonomi Masyarak at Sangiran ~

fmmal misalnya Gapoktan.

a. Badan Perwakilan Desa (BPD)

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) adalah lembaga perwujudan demokrasi desa sebagai hasil dari otonomi daerah sesuai UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sebelum berubah menjadi Badan Permusyawaratan Desa dahulu kepanjangan BPD adalah Badan Perwakilan Desa. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, hanya ada dua fungsi Badan Permusyawaratan Desa. Yakni fungsi legislasi dalam rangka menetapkan peraturan desa bersama Kepala Desa, serta fungsi BPD dalam menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat di desanya. Memang secara khusus, fungsi pengawasan tidak lagi menjadi salah satu fungsi BPD, seperti sebelumnya BPD dikenal sebagai Badan Perwakilan Desa. Namun dalam melaksanakan kedua fungsinya, BPD memiliki beberapa wewenang yang salah satunya adalah wewenang untuk melaksanakan pengawasan. Pengawasan disini lebih diarahkan pada pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan peraturan kepala desa. Oleh karena itu dalam penerapannya, kiranya BPD dapat optimal dan efcktif melakukan pengawasan terhadap kinerja kepala desa terutama yang terkait dengan pelaksanaan peraturan desa maupun peraturan kepala desa. Selain itu tidak kalah pentingnya adalah peran yang seharusnya JUga melekat pada setiap anggota BPD, bahwa BPD memiliki kewajiban moral untuk bersama-sama menyukseskan program-program pemerintah baik program pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, terlebih Pemerintah Kabupaten seperti halnya Program Gerbang Dayaku, Alokasi

66 -K A JIA N SoSIA L, B u DAY A, DAN EKONOMI M ASYARAKAT u 1 K AWASA N S n u<; S ANG IR AN

Zona Bebas Peke1ja Anak (ZBPA), Biaya Operasional Sekolah (80S). Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri). Seyogyanya selaku anggota BPD, dapat turut serta mensosialisasikan segala program kebijakan pemerintah dimaksud bcrsama-sama dengan kepala desa serta unsur terkait, sehingga dapat d iserap oleh seluruh lapisan masyarakat serta memperoleh pemahaman yang utuh terhadap seluruh produk kebijakan pemerintah maupun pcmerintah daerah. Dengan demikian pada gilirannya, pelaksanaan program akan mendapat dukungan sekaligus pengawasan yang intensif dari seluruh lapisan masyarakat.

b. Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani)

Gapoktan adalah kumpulan beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekc1jasama untuk meningkatkan skala ekonomi dan cfisiensi usaha. Kelompok tani pada dasarnya adalah organisasi non formal di pedesaan yang ditumbuhkembangkan "dari, oleh, dan untuk petani ". Gapoktan bercirikan :

I). Saling mengenal, akrab, dan saling percaya di antara sesama anggota.
2). Mempunyai pandangan dan kepentingan yang sama dalam berusaha tani.
3). Memiliki kcsamaan dalam tradisi dan atau pemukiman, hamparan usaha, jenis usaha, status ekonomi maupun sosial, bahasa, pendid ikan dan ekologi.
4). Ada pembagian tugas dan tangg ung jawab sesama anggota ber- dasarkan kesepakatan bcrsama.
Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran -67

Posyandu

Desa Krikilan memiliki poliklinik desa yang terletak di belakang kantor kelurahan. Kegiatan posyandu pun sampai sekarang masih aktifberjalan. Tiap sebulan sekali kegiatan posyandu ctiadakan di tiap dusun. Kegiatan posyandu: timbangan badan bayi dan balita, pengukuran tinggi badan, pemberian makanan tambahan/PMT (telur, bubur,dll), penyuluhan, arisan ibu balita Posyandu I: Ngrukun, Kalijambe, Posyandu 2: Benda, Kalongbali, Pagerejo, Posyandu 3: Pondok, Ngampon, Krikilan, Posyandu 4: Sangiran. Posyandu di tingkat desa diketuai oleh lbu lurah Posyandu adalah tempat pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar dan peningkatan status gizi masyarakat. Posyandu dapat melaksanakan fungsi dasarnya sebagai unit pemantau tumbuh kembang anak, serta menyampaikan pesan kepada ibu sebagai agen pembaharuan dan anggota keluarga yang

68 -K A.IIA N SOSIAL, BUDAY/\, J)AN EK ONOM I MASYARAKAT Dl KAWASAN SITUS SANGIRAN

200 gram/bulan) dan anak yang pertumbuhannya berada di bawah garis merah KMS.

2). Pemberian Makanan Pendamping ASI dan Vit.A dua bli setahun.
3). Pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pcrtumbuhannya (kurang dari 200 gram/ bulan) dan anak yang bcrat badanya berada dibawah garis merah KMS.
Kaji an Sosial Buda\a Ekonomi Masyarak al Sa ngiran -

ISPA dan diare, serta melakukan rujukan bila diperlukan.

Organisasi sosial yang ada di kawasan Sangiran belum dimanfaatkan oleh pemerintah terkait dengan pelestarian situs Sangiran. Organisasi yang menjadi wadah aktivitas masyarakat Sangiran bisa menjadi sarana untuk mensosialisasikan program keberadaan situs Sangiran sebagai benda eagar budaya. Padahal organisasi ini yang langsung bersentuhan dengan rakyat. Melalui organisasi yang ada dalam masyarakat, program terkait pelestarian situs Sangiran bisa disosialisasikan dengan tersamar, tanpa ada kecurigaan dari masyarakat. Upaya pelestarian dan pengelolaan situs Sangiran tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata namun masyarakat seca~·a umum juga harus ikut berperan serta dalam upaya tersebut. Salah satunya dengan pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang anggotanya adalah masyarakat yang berasal dari berbagai Jatar belakang di kawasan Sangiran.

6. Kearifan Lokal

Kearifan lokal yang terdapat di Sangiran terkait dengan pertanian. penentuan letak rumah, dan pencarian fosil. Kondisi tanah di Sangiran yang tandus dan kurang subur, hanya memungkinkan untuk dijadikan sawah tadah hujan. Petani dalam pengolahan sawah tadah hujannya sangat tergantung dengan musim. Musim penghujan sangat dinantikan oleh petani dalam mengolah lahannya. Petani Sangiran dalam mengolah sawahnya menggu- nakan pedoman pada pembagian mangsa menurut masyarakat Jawa.

70 -KAJJ AN Sos i A L, B u DAYA, D AN EKONOMI M ASYA RA K AT DI K AWASAN SITUS S ANG IP <\ N

Sungai Cemoro merupakan sumbcr air sepanjang tahun yang tidak pernah kering. Letak sungai yang berada di bawah, scdangkan lahan sawah berada di atas tidak memungkinkan untuk dijadikan sarana irigasi langsung. Apabila akan digunakan scbagai sarana iri gasi, harus dilakukan penyedotan air dengan menggunakan diesel. Kes ulitan ya ng dia lam i dalam sistem irigasi maka jenis padi yang ditanam adalah padi gogo. Pertimbangannya, padi gogo tidak banyak memcrlukan air dan bcrumur pcndek. Padi gogo baru diperkcnalkan pada tahun 1970-an, scbelumnya jcni s padi yang dipilih adalah ketan hitam. Pcncntuan lctak rumah sangat mempcrtimbangkan kondisi wilayah Sangiran yang bcrbukit-bukit dan tidak rata. Cckungan alam atau tanah datar mcnjadi pcrtimbangan lokasi pcndirian bangunan rumah tinggal. Di samping itu, pertimbanga n area yang jauh dari tanah rawan longsor sangat diperhatikan oleh pcnduduk. Dalam pencanan fosil pcnduduk sudah mengena l area yang mengandung fosil dan saat ya ng tcpat untuk mencarinya. Pcrburuan fosil biasanya dilakukan setelah hujan turun. Air hujan akan mcnyebabkan crosi atau longsornya bukit ya ng akan memunculkan adanya fosil. Scdangkan tanah atau area yang mengandung fosil para pemburu sudah hafal. Tanah yang dicurigai mcngandung fosil didctcksi terlebih dahulu dcngan cara menusukkan pipa bcsi yang runcing ujungnya. Denga n alat ini sudah dapat mendcteksi benda yang ada di dalam tanah, fosil atau hanya batu biasa. Pengctahuan masyarakat mengcnai ciri tanah ya ng mcngandung fosil perlu diberdayakan oleh pemerintah. Penduduk yang mcmpunyai kcahlian bisa direkrut dijadikan pekerja untuk mcncari fosil denga n pantauan

Kajian Susial 8udaya Ekono1111 Masyarabt Sangiran 7 I

BPSMP Sangiran. Penduduk yang ahli mencari fosil secara khusus dipekerjakan sebagai pegawai honorer BPSMP Sangiran. Pengetahuan penduduk mengenai ciri-ciri tanah yang mengandung fosil bisa dimasukan dalam agenda wisata. Wisatawan diperkenalkan tentang pengetahuan tersebut dengan merekrut penduduk setempat yang ahli mengenai pengetahuan tersebut. Penduduk bisa dijadikan guide tentang pengctahuan tersebut.

  1. Cerita Rakyat Cerita rakyat yang berkembang di m:1syarakat terkait dengan penamaan suatu tempat atau pun dusun, antara lain:
    a. Sangiran Sangiran adalah nama salah satu dusun yang terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Nama dusun Sangiran sudah sangat terkenal, karena daerah ini sudah ditetapkan oleh UNlCEF sebagai warisan kebudayaan dunia. Menyebut Sangiran, maka yang terlintas adalah manusia Purba. Hal ini Dusun Sangiran banyak ditemukan fosil-fosil purbakala, mulai dari tengkorak manusia sampai fosil hewan !aut. Keberadaan fosil -fosil inilah yang dipercaya banyak orang, khususnya masyarakat dusun Sangiran dan wilayah-wilayah sekitamya, sebagai sisa-sisa tulang raksasa, dalam bahasa jawa dikenal dengan Buto. Pada jaman dahulu kala, ketika Sangiran masih berupa hutan lebat dan perbukitan, hiduplah sekelompok masyarakat yang damai. Meskipun kondisi di daerah tersebut kurang subur namun mereka tidak pemah kekurangan pangan karena mereka rajin bercocok tanam dan betemak. Suatu ketika ketentraman mereka tiba-tiba berubah menjadi kekacauan karena kedatangan

    --K A.II i\N SOSIAL. BUDAYA, DAN EKONOMI MASYJ\RAKAT Dl KAWASAN SITUS SANG IRAN

Pada akhir naschatnya Dcwa Ruci mengatakan " Sangir kukumu ing se la gilang kuwi minangka sanjata ngasorake para Denawa" (asahlah kukumu di batu itu scbagai senjata mengalahkan para raksasa). Setelah kuku ditajamkan, Raden Bandung beserta pasukannya bergegas mencari Tegopati. Kctika scsampai dcsa,

Kajian So, wl Budaya [konomi Ma,} ara"al Sangiran

Ombo. Tanpa pikir panjang Raden Bandung dan pasukannya segera menyerbu Kerajaan Glagah Ombo. Mendapat serangan mendadak, bala prajurit raksasa kalangkabut dan banyak yang terbunuh hingga darahnya berceceran dimana-mana (saren). Tegopati akhirnya sendiri tewas di ujung kuku Raden Bandung dengan usus terburai. Bangkai mayatnya dilemparkan jauh sampai jatuh terjengkang (jepapang). Nama Dusun yang terkait dengan peristiwa tcrsebut yaitu: Kata "Sangiran" berasal dari kata "Sangir" yang berarti "asah", sangiran sendiri berarti tempat atau batu untuk mengasah. Hutan tempat Raden Bandung bertapa sampai sekarang dipercaya menjadi sebuah desa yang bernama Desa Tapan (tempat bertapa). Telaga (Kedung) tempat Raden Bandung menceburkan diri sampai sekarang dipercaya menjadi sebuah desa yang ber_nama Kedung Wringin. Kerajaan Glagah Ombo sampai sekarang dipercaya menjadi desa kecil yang bemama Dusun Glagah Ombo yang masuk wilayah Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Pos penjagaan para raksasa sampai sekarang dipercaya berubah menjadi Dusun Jagan (tempat berjaga) masuk wilayah Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Kerajaan Raden Bandung sampai sekarang dipercaya menjadi sebuah desa yang bernama Desa Krajan. Tempat Tegopati mati terjengkang (jepapang) sampai sekarang dipercaya menjadi nama desa yang bernama Desa Bapang. Menurut cerita, ada seorang atau sekumpulan buto (jawa: raksasa) berniat membendung kali (baca= sungai) Cemoro dan sungai Kedung Teleng. Raksasa ini tidak pernah berfikir tentang dampak yang ditimbulkan, jika ke dua sungai tersebut dibendung. Padahal apabila kedua sungai

74 -KA.IIAN SosJAL, BuDAYA, DAN EKONOMI MASYARAKAT DJ KAWASAN SITus SANGIRAN

bcrada di dekat Kali Cemoro. Mendengar hal tersebut, maka mcngamuklah si Bandung Bondowoso. Menurut penuturan Mbah l-ladt (:,esepuh di dusun Sangiran), Bandung Bondowoso adalah seorang kesatria yang sakti mandraguna. Dengan kesaktiannya Bandung Bondowoso berusaha mcngalahkan huto terscbut. Banyak kaum buto yang berhasi l dikalahkan dan dibunuh. Kemudian, bendungan yang sudah dibangun oleh kaum buto terscbut bcrhasil dibcdah dan dihancurkan. Menurut cerita dari Mbah Hadi (70 th), warga Dukuh Sangiran yang mencoba menceritakan asal-u:,ul Dukuh Sangiran, mcnyatakan bahwa kesaktian Bandung Bondowoso terlctak pada kuku-nya yang discbut dengan kuku Ponconoko. Untuk 1ncnambah ketajaman kuku-nya Bandung Bondowoso melakukan kegiatan n_mngir dc ngan scbuah batu yang bcrada di desa dekat Kali Cemoro. Nyang ir adalah sebuah istilah setcmpat yang berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti mengasa h atau mcmpertajam. Peristiwa nyangir yang dilakukan oleh Bandung Bondowoso inilah ya ng kemudian hari orang-orang mulai mcnyebut dacrah yang lctaknya dekat Kali Cemoro tersebut dcngan sebutan Dukuh Sangir. Dan perkcmbangan tutur selanjutnya orang menyebut dengan Sangimn. Sampai saar ini, di dusun tersebut masih ban yak diproduksi batu-batu yang bi sa dipakai untuk 11_1 angi1: Batu itu biasa disebut masyarakat setempat dengon nama ung/w/. Banyak masyarakat di sekitar Sragen, Solo, Karanganyar, Boyolal i, Grobogan, dan wilayah-wilayah terdekat meyakini bahwa ungka/ tcrbaik yang pernah ada berasal dari sangiran. Masyarakat percaya, pada suatu kurun wa ktu tcrtcntu, Sangiran pcrnah menjadi wilayah kekuasaan para raksasa. Mitos ini antara lain dipcrkuat oleh keberadaan Dusun Bapang dan Desa Sarcn. Masyarakat Sangiran

Kajian Sos1al 13udaya l· kon01111 Masyarakal Sangiran

Ousun Bapang diambil dari peristiwa dilemparnya para raksasa oleh seorang tokoh bernama Raden Bandung hingga para raksasa itu njepapang atau terjengkang. Sementara, nama Oesan Saren diambil dari peristiwa terbunuhnya para raksasa sampai saren atau darahnya tercecer. Toponimi ini menopang mitos balung buto sehingga bahkan masyarakat mempercayai tulang-tulang berukuran besar ini bisa digunakan sebagai jimat untuk menyembuhkan banyak sekali penyakit-mulai kadas, kurap, demam, bisul, encok, gatal-gatal, keseleo, sampai gigitan binatang berbisa. Balung buto bahkan dipercaya dapat memperlancar proses kelahiran, sebagai jimat kebal senjata tajam, dan pengusir setan.

b. Kaliyosojogopaten Dusun Kaliyoso yang konon pada masa lalu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam. Tersebutlah sebuah tempat yang bernama Kaliyosojogopaten, atau dikenal hanya dengan sebutan Kaliyoso. Secara geografis, Ousun Kaliyoso berada disebelah utara Sungai Cemoro. Kawasan ini masuk desa Jetis Karangpung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Wilayah ini sebelum dibuka menjadi sebuah pemukiman dan menjadi pusat penyebaran agama Islam, awalnya merupakan sebuah hutan lebat. Ousun Kaliyoso semula dikenal dengan nama "Alas Jogopaten" ( hutan Jogopaten). Oari beberapa sumber, sejarah Kaliyoso dimulai dari seorang bernama Bagus Turmudi yang sejak kecil ikut kakeknya yang bernama Kyai Abdul Ojala! (wafat dan dimakamkan di Pedan, Klaten). Bagus Turmudi ini kemudian hari terkenal dengan nama Kyai Abdul Ojala! I. Setelah umurnya beranjak dewasa, Bagus Turmudi (Kyai Abdul Ojala! 1) terus menambah dan memperdalam ilmu agamanya ke beberapa pesantren, diantaranya ke pesantren di daerah Surabaya, Semarang, dan akhirnya ke Pesantren Kyai 76 -K A JI A N SoSIAL, B uDAYA, DAN EKON OMI M ASYA RA K AT 01 K AwASAN S1rus S ANG IR AN

Pangera n Diponegoro. Di Pcsantren itu pula bc liau diam bilmenantu ol ch sa lah seorang gurunya yang bernama Kya i Jumal Korib. Pada petj alanan selanjutnya, untuk mcnycbarluaskan il mu ya ng tclah dipelajarinya, Ia diperintahkan olch guru yang sckali gus mcrtuanya untuk pergi ke suatu tempat di scbelah utara Surakarta dcngan discrtai rombongan beberapa teman. Petj alanan rombongan dimulai dari Mojo, Badcran mclalui Surakarta, menyusuri Bengawan Solo tents ke arah timur, scsampai dipertemuan Ka li Cemoro dengan bcngawan so lo kcm udi an petjalan an diteruskan ke arah barat menyusuri Kali Cemoro. Scsampainya di suatu tempat yang bemama "Watu Soye'', Kya i Abdul Djalal I bescrta rombongan berdiam bcberapa lamanya di sana. Dan konon, di alas Watu Soye atau Watu Suci yang sangat besar yang tcrletak di tcngah-tengah Sun gai Ccmoro itu (sampai sekarang masih dapat di saksikan kcbcradaan nya dengan bekas ta pak kaki Kyai Abdul Djalal I) Beliau sering melakukan Sholat dan Munajat kepada Allah Ta 'ala. Pada suatu saat, kctika bermunajat kcpada Allah swt, Bcliau mcndapat ilham agar melanj utkan pe t~jalanan kcsuatu tc mpat yang bernama "Grasak". Setelah meninggalkan Watu Soye mcnuju barat, akhirnya Kyai Abdul Djal al I dalam kcprihatinannya mendapatkan ilham dari Al lah, bahwa di situlah tempat sebenarnya ya ng dituju (sebclah sc latan dari Masjid Kali yosojogopatcn sekarang). Ditcmpat inilah Beliau mul ai mclakukan tirakat, sholat, puasa dan amalan-amalan lainya dengan harapan agar dalam membuka hutan grasak (Alas Jogopaten) dapat dilakukan dcngan mudah dan sclamat atas pertolongan Allah. Karena, kon on katanya. di dalam hutan Jogopaten inilah pusatnya para jin dan makhluk ha lus lain ya, sehingga "Jogopaten" itupun mcnurul cerita

Kajian So,ial Hudaya Ekonom1 Ma,yarakat Sangiran-77

"Jogo Pati" atau berjaga-jaga untuk bersedia mati bila berani memasuki hutan tersebut. Setelah berhasil menerobos kedalam hutan dan membersihkannya, Beliau pertama kali mendirikan sebuah rumah,disusul dengan mendirikan sebuah surau (Janggar) dan tempat mengajar agama Islam (pondok pesantren). Lambat laun tempat itu menjadi ramai dengan kehadiran orang-orang yang ingin mencari ilmu (baca: nyantri). Disamping itu, beberapa orang keluarga Kyai Abdul Djalal l dan juga dari keluarga pengikutnya menyusul pula pindah ke tempat itu. Adapun asal mula nama "Kaliyoso" terkait dengan Surakarta Hadinintrat. Pada sekitar tahun 1788 M, pada saat Surakarta Hadiningrat diperintah oleh Paku Buwana IV yang dikenal dengan sebutan Sinuhun Bagus, Sang Pennaisuri Raja yang bertahtakan di Kraton Surakarta Hadiningrat itu sedang mengandung dan menginginkan (baca: ngidam) merasakan daging kijang. lJntuk menuruti keinginan sang Perrnaisuri, PB IV beserta beberapa pejabat kraton pergi berburu ke Hutan K.rendowahono yang terletak di sebelah selatan Hutan Jogopaten. Namun sayang, belum sempat mereka menctapatkan buruan kijang, secara gaib tiba-tiba saja PB IV hilang tanpa bekas, sehingga para pengikutnya menjadi gusar semua. Berhari-hari mereka mencari PB IV ke segenap penjuru hutan itu, namun sia-sia belaka. Sehingga pada suatu hari ada seorang penduduk disitu memberi petunjuk, bahwa diutara sungai ada seorang kyai yang mungkin dapat dimintai pertolongannya untuk menemukan PB IV yang telah hilang. Syahdan, setelah kyai yang tidak Jain adalah Kyai Abdul Djalal I tadi dapat ditemui para pejabat kraton, beliau menyanggupi untuk membantu, akan tetapi bukan beliau sendiri yang akan mencari PB IV, tugas yang sangat berat itu dipercayakan pada seorang keponakannya yang bemama Bagus Murtojo (baca: Murtolo I Murtadlo). Bagus Murtojo atau lebih

78 -KAJIAN SoSIAI., BuDAYA, DAN EKONOMI MASYARAKAT 01 KAWASAN SITUS SANGIRAN

PB IV dalam waktu yang sangat singkat yang selanjutnya dapat mcninggalkan tempat yang angker itu dan pulang kembali ke Kra ton Surakarta. Pada suatu ketika. PB IV mcnc mu i Kyai Abdul Djalal I di kediamannya guna menyampa ikan rasa tcrima kasih atas bantuan ya ng pcrnah dilakukan dalam usaha menemukan kcmbali dirinya ( PB IV). Pada saat itulah PB IV dihadapan Kyai Abdul Djalal I terlontar kata-katanya : "Tempat ini sckarang saya namai Kali yoso". Dcmikianlah asal mula nama Kaliyoso, scdang apa maksud dan arti sebenarnya, hingga sekarang bclum dapat diketahui secara pasti. Disamping memberikan nama Kaliyoso, PB IV juga memberikan tanah pcrdikan secukupnya untuk tem pat mengembangkan ajaran agama Islam. Bcliau juga berkcnan mem bcrikan ke nang-kenangan berupa sebuah mimbar dan pintu masj id scrta bcnda-benda pu saka kraton bcrupa tombak dan keris, salah satu diantaranya adalah tombak "Kyai Ronda". Kescmuanya itu dapat disaksikan keberadaannya sampai sckarang di Masjid Jami ' Kal iyosojogopatcn. Adapun Bagus Murtojo I Kyai Muhammad Qorib sc ncli ri diambil atau cliakui sebagai sauclara angkat PB IV. Setclah Kyai Abdul Djalal I wafat, keduclukan sebagai pcmimpin agama eli Kaliyoso digantikan berturut-turut oleh Kyai Abdul Djalal 2. 3, dan 4 serta sctcrusnya scrta pada anak turun Kyai Badul Djalal meskipun namanya ti dak nun ggak semi dcngan Kyai Abdul Djalal. Akhirnya, guna mcmpertahankan kclangsungan kcgiatan dakwah dan penclidikan agama di Kali yoso, clibcntuklah Yayasan Umat Islam Kaliyoso atau YAUMIKA. Ccrita rakyat berpotcnsi mcndukung pariwisata, ya ng bcrarti mcnclu-kung keberaclaan dan pelestarian situs Sangiran. Ccrita rakyat tcrsebut belum

Kajian ~o, ial Hudaya l:konom1 Ma-.yarakal Sangiran-

bukn yang akan ikut mendukung museum sebagai tujuan wisata. Penduduk setempat bisa diberdayakan menjadi pendongeng tentang cerita tersebut di area museum ketika banyak kunjungan wisatawan terutama di hari libur sekolah.

8. Gotong Royong

Menurut Sa11ono Kartodirdjo dalam Nat J.Colleta dan Umar Kayam ( 1987:254), gotong royong merupakan suatu bentuk tolong menolong yang berlaku di desa-desa di Indonesia. Gotong royong merupakan salah satu bentuk sol idaritas masyarakat agraris tradisional. Masyarakt terikat dalam ikatan primordial yaitu melalui ikatan keluarga, kedekatan letak geografis, dan iman kepercayaan. Gotong royong menu rut Koentjaraningrat ( 1981: 165) dapat digolongan menjadi dua yaitu gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Gotong royong tolong menolong meliputi: kegiatan pertanian, aktivitas rumah tangga, aktivitas persiapan pesta dan upacara, serta dalam peristiwa kecelakaan,bencana dan kematian. Sedangkan gotong royong ketja bakti dibedakan menjadi dua yaitu kerjasama untuk proyck dari swadaya warga setempat dan kerjasama untuk proyek yang berasal dari pemerintab. Kegiatan gotong royong, haik tolong-menolong maupun kerja bakti di masyarakat Sangiran masih berjalan, meskipun tidak seperti dulu lagi. Aktivitas gotong royong ket:ja bakti yang dinamakan gugur gunung masib sering dilakukan, terkait dengan perbaikan jalan dan perbaikan saluran air. Sedangkan gotong royong tolong menolong terkait dengan kematian, perbaikan rumah, dan hajadan. K egiatan gugur gunung ada semacam pcraturan atau ketentuan yang tidak tertulis yang mewajibkan semua warga

80--KAIIA N Sos iAL, BuDAY A. DAN EKONOM I MASYA RAKAT Dt KAWASAN StTUS SANG IRAN

"Gotong royong itu baik untuk pcnduduk. Kalau tidak pcrnah gotong royong ya susah. Bagi yang tidak mampu. ya tidak bi sa nyumbang apa-apa. Kalau tidak punya dana ya bi sa nyumbang tcnaga ~ cperti saya ini. Kalau ada kcmatian dan hajadan tcrus ndak ada yang mcnolong gimana. apa kcluarga bi sa sendirian melakukannya. Ya lucu th o."

Salah satu kegiatan kerja bakti yang dilakukan warga Sangiran antara

lain perbaikan jalan, seperti pcnuturan sekrctaris Bukuran berikut ini:

" Dcsa Bukuran dan Krikilan Kccamatan Kalijambc tcrancam tcrputus. lni karcna ko ndi si jalan tc rscbut mcnga lami lon gsor akibat huj an ya ng mcngguyur scla- ma bcberapa hari. dalam scpekan terakhir. Sckarang sudah lumaya n bu. meskipun bcrgclombang atau ban ya k lubangnya. Warga dan pcmcrintah desa mendesak agar pihak tcrka it scgcra mcmbcnahi loka si jalan yang longsor. Tanpa pcrbaikan, dikha- watirkan longsoran jalan akan mc luas dan mengancam akscs transportasi warga dua dcsa tersebut. Kondisi jalan tcrsebut sudah mcmprihat inkan. Beberapa titik me- nyc mpit akibat adanya longsor. Ba hkan, jalan di Dukuh Ccngklik, yang berdekatan dcnga n Bal ai Desa Bukuran. lon gsor hanya men yisa kan scparuh badan jalan. Kalau dibiarkan sc pcrti ini tcrus, tents tc ran g kami khawatir nanti lama-lama tidak bi sa dilcwati karcna tergerus Iongsor. wa rga di dckat lokas i longsor waswas jika terjadi hujan deras. kalau scwaktu-waktu hujan. dcras dan jalannya longsor, takut rumahn ya juga ikut longsor. Tanggapan yang kurang ccpat dari pcmrintah. pihak dcsa bertindak ccpat dcngan bcrusaha mcngupaya kan pcrba ikan dcngan mcngajak warga untuk gotong royong. Namun. minimnya da na dan prasarana pcrbaikan ya ng dimiliki Pemdcs mcmbuat pcrbaikan hanya sckcdarnya. Jad i wa rga itu scnang juga kalau jalannya itu baik. maka kcrja bakti kita la ku kan dcngan biaya ya ng minim wa ktu itu."

Tradisi lain yang sifatnya gotong royong ya itu sambatan dan nyum-

bang. Untuk gotong royong sam batan umumnya apabila ada tetangga

yang mcmbuat atau mempcrbaik i rumah. Dalam sambatan memang tidak

semua dari tetangga, tetapi untu k peketjaan yang membutuhkan keahlian

Kdji 8n Sosial Buday" Ekonomi Masyarakat Sangiran -81

Pada waktu sambatan, orang laki-laki membantu tenaga, para wanita (istri) umumnya membantu (memberi sumbangan) berupa beras, gula, teh, dan sebagainya. Tradisi nyumbang dilakukan ketika warga mempunyai hajad atau kerja kelahiran, perkawinan, khitanan, dan perkawinan. Bentuk sumbangan dapat berupa uang atau barang. Bisa juga dalam bentuk tenaga yang disebut rewang. Kebiasaan menyumbang merupakan suatu hal yang pokok di Sangiran. Menyumbang bisa berupa barang atau pun uang. Barang ada dua macam, yaitu membawa I 0 liter beras atau 5 liter beras dengan dengan pasangannya (istilah setempat: tumpangannya) berupa gula, teh, dan kebutuhan lainnya. Apabila berujud uang berkisar antara Rp.25.000 sampai Rp.50.000,-. Sifat gotong-royong masyarakat di Sangiran bisa diberdayakan untuk ikut mendukung sektor pariwisata. Prasarana jalan dan infrastruktur lainnya bisa dibenahi dengan melibatkan masyarakat. Masyarakat di situs Sangiran dikerahkan untuk gotong royong dengan diberi sekedar pengganti uang Ielah. Sifat saling membantu dalam masyarakat jangan sampai disalahgunakan untuk menutupi kejadian yang terkait dengan pencurian dan perdagangan fosil. Sifat gotong royong bisa menguntungkan dan merugikan jika dikaitkan dengan keberadaan situs Sangiran, tergantung bagaimana menyikapinya.

9. Mobilitas Penduduk

Secara umum mobilitas penduduk dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu mobilitas permanen atau migrasi dan mobilitas non permanen atau sirkuler. Mobiltas permanen atau migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan maksud untuk menetap di daerah tujuan. Adapun mobilitas non permanen atau sirkuler adalah gerakan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan tidak menetap di daerah tujuan. Salah

82--KA.IIAN SosiAL, BuDAYA, DAN EKONOMI M A SYA RAK AT 01 K AWAS AN SITUS SANGIR AN

1985: 151-

152). Mobilitas penduduk di Sangiran dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu migrasi permanen dan non permanen. Kebanyakan migrasi yang dilakukan adalah non permanen. Migrasi permanen lebih sedikitdibandingkan yang permanen meskipun belum ada data penduduk ya ng mendukung me- ngenai jumlahnya. Berdasarkan wawancara dengan aparat pemerintah desa dan kecamatan, masyarakat Sangiran enggan bertransmigrasi karena tidak adanya kcpastian jaminan hidup di tempat tujuan yang lebih baik. Selain itu adanya pandangan mangan ora mangan asal kumpul (makan tidak makan asal bersama). Migrasi si rkuler dalam hal ini nglaju memperlihatkan aktivitas yang cukup tinggi. Hal in i dilakukan terkait dengan masa lah pendidikan dan pekerjaan. Tujuan penduduk melakukan nglaju untuk bekerja dan bersekolah. Pada pagi hari, penglaju meninggalkan wilayah Sangiran dan pada siang atau sore hari kembali pulang ke rumah. Para penglaju terdiri atas para pelajar, pedagang, buruh pabrik, buruh bangunan, dan pegawai negeri. Para peng/aju menggunakan sepeda, sepcda motor, ataupun angkutan umum untuk mendukung aktivitasnya. Suasana tcrlihat ramai dcngan penglaju pada pagi hari. Pada umumnya para penglaju menggunakan scpcda atau sepeda motor. Jauhnya jarak tempuh dengan daerah perkotaan tidak menjadi halangan karena adanya daya dukung jalan bcraspal dan sarana transportasi. Hal ini menjadikan masyarakat Sangiran berinteraksi secara intensif dcngan masyarakat kota. Mobilitas masyarakat terkait erat denga n ancaman terhadap pelestarian Situs Sangiran. Masyarakat Sangiran banyak berinteraks i dengan orang luar. Hal ini bisa menjadi sarana ttl ttllk terjadinya perdagangan fosil. Pengawasan
Kaji an Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran -83

Sangiran.

B. Kajian Sosial Ekonomi
l. Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat Sangiran masih rendah, dalam arti banyak penduduk yang mengenyam pendidikan hanya sampai Sekolah Dasar, bahkan banyak yang tidak sekolah dan tidak tamat Sekolah Dasar. Jumlah penduduk yang berhasil menamatkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi semakin menurun. Secara rinci tingkat pendidikan penduduk dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 5. Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Desa Krikilan Dan
Bukuran

Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Krikilan Bukuran Jumlah Prosentase
Tidak Sekolah Belum Tamat SO Tidak Tamat S O so SMP SMA Akademi / Perguruan Tinggi 44 7 282 448 292 364 768 1194 939 442 349 290 242 12 8 72 9 12, 00% 740 12, 18 % 1132 18,63 % 2 133 35, 10% 79 1 13,01 % 532 8, 75 % 20 0,33 %
JUMLAH 3.601 2.476 100,00 % 6077

Sumber: Statistik Kecamatan Kalij ambe, 2008

Rendahnya tingkat pendidikan di Sangiran tidak terlepas dari faktor kemiskinan. Tingkat pendapatan yang rendah menyebabkan penduduk tidak

84 -K A JJ AN SosJA L, B uDAYA, DAN E KONOM I M AS YARAKAT DI K AWASAN SITUS S ANGI RAN

||447|282|729|12,00%| |SD|1194|939||35,10%| |SMP|442|349|791|13,01%|

jenJang sekolah yang lebih tinggi. Bahkan tidak sedikit yang harus berhenti sekolah karena harus bekerja membantu mencari nafkah bagi keluarganya. Dana BOS hanya membantu sedikit bagi murid yang miskin karena ada pengeluaran lain yang harus di tanggungnya. Pengeluaran lain berupa pembelian alat tulis, buku, seragam, transport, dan uang saku dirasakan berat bagi penduduk mi skin.

2. Matapencaharian a. Pertanian

Lingkungan, iklim, dan kondisi tanah di suatu wilayah ber- pengaruh kepada mata pencaharian penduduknya. Kondisi lahan kawasan Sangiran yang berbukit-buki t, gersang dan tandus serta mudah longsor, tcrutama di musi m penghujan menyebabkan kurang cocok bila dijadikan lahan pertanian. Namun demikian, sektor pertanian menjadi mata pencaharian yang pali ng dominan oleh sebagian besar masyarakat, sebagaimana di tunjukan tabel di bawah ini.

Kaji an Sosial Budaya Eko1Jomi Masyarakat Sangiran -85

Penduduk Desa Krikilan Dan Bukuran

Jumlah (Jiwa)
Matapencaharian Krikilan Bukuran Jumlah Prosentase
Petani Buruh tani dan bangunan PNS Pcngrajin Wirausaha Swasta (karyawan) Pctcrnak ABRI /TNIIPOLRI Pensiunan PNS/TNJIPOLRI Tenaga Kesehatan Pengusaha Lain-lain/ tidak tetap 1346 900 22 45 19 625 6 4 3 5 16 610 1249 644 20 46 35 15 20 3 I 2 10 431 2595 1544 42 91 54 640 26 7 4 7 26 1041 42,70% 25,41% 0,69% 1,50% 0,89% 10,53% 0,43% 0,11% 0,07% 0,11% 0,43% 17,13%

Sumber: Statistik Kecamatan Kalijambe, 2008

Pengelompokan peke1jaan tersebut didasarkan pada matapencaharian yang ditekuni lebih dari separuh hari kerja. Hal ini disebabkan matapencaharian ganda sering terjadi sehingga orang dapat melakukan lebih dari dua pekerjaan. Hal ini disebabkan kebiasaan mencari penghasilan dari berbagai sumber pada waktu yang hampir bersamaan atau berganti-ganti pekerjaan seirama dengan munculnya kesempatan kerja musiman. Kelompok matapencaharian lain-lain antara lain pencari pasir, pencari katak, pencari burung, penebang kayu dan pekerjaan yang bersifat musiman yang sifatnya temporal, dan juga orang yang sedang mencari pekerjaan. Jenis pertanian yang dilakukan para petani di wilayah ini adalah pertanian tadah hujan. Para petani dalam mengerjakan sawahnya sangat tergantung dari air hujan. Meskipun terdapat Sungai Cemoro,

86 -KAJIAN SOSIAL, BUDAYA, DAN EKONOMI MASYARAKAT Dl KAWASAN SITUS SANGIRAN

|Peternak||20|26|0,43%| |ABRI/TNI/POLRI||3|7|0,11%| ||3|1|4|0,07%|

20.Pengambilan Air Dari Sungai Dengan istem Gravitasi.
Foto 21. Diesel Untuk Memompa Air Dari Mata Air.

Kajian Sosial Budaya Ekonom1 Masyarakat Sangiran -87

" Saya menj adi bur uh tani semenjak masth remaja hingga sekarang ini. Suami saya juga buruh tani. Saya menjadi buruh karena tidak mempunyai laban pertani an yang memadai. H asil yang didapat hanya cukup un tuk kebutuhan makan sehari-hari. Pada mangsa labuh, yaitu musim banyak pekerjaan di waktu penghuj an yang memerlukan banyak tenaga kerja, upah yang saya da- pat sebesar Rp.25. 000,-. Lamanya bekerja dari pagi seki tar jam 7 sampai jam 12 siang. P emilik ta nah memberi rangsum makan sekali."

Hal senada diutarakan Murti nah ( 40 th) bahwa upah yang didapat sebesar Rp.25.000,-dengan jatah satu kali makan. Namun upah tersebut sewaktu mangsa labuh. Upah sebagai buruh tani di musim kemarau hanya separuhnya saj a. Hal itu disebabkan pekerjaan di sawah tidak banyak sehingga kebutuhan akan tenaga kerj a juga berkurang. Berdasarkan keterangatmya upah yang didapat antara buruh laki -laki dan perempuan berbeda, seperti yang dituturkan berikut ini :

" Upah untu peketja laki-laki berbeda dengan perempuan. Para buruh laki-laki menerima dua kali li pat upah buruh perempuan. Berlaku untuk mangsa labuh maupun musim kemarau."

88 -K.AJ IAN SOSIA L, B U DAYA, DAN EKONOM I M ASYARA K AT D l K AWASA N S IT US S ANG I RAN

upah didasarkan pada beban pekerjaan yang hams dilakukan antara buruh laki-laki dan perempuan. Pada dasamya, pekerjaan di sawah diawali dari pembenihan, pengolahan tanah yaitu pembajakan dan pencangkulan, penanaman, pemeliharaan, dan peme- tikan basil tanaman. Pembenihan dilakukan apabila yang ditanam adalah padi. Sedangkan pemeliharaan tanaman meliputi kegiatan penyiangan (matun), pemupukan, dan pengobatan. Ada pembedaan aktivitas pekerjaan pertanian antara laki-laki dan perempuan dalam pengerjaan di sawah. Pekerjaan yang secara khusus hanya dilakukan buruh laki-laki adalah memhajak, mencangkul, dan memberi pestisida. Pekerjaan yang dilakukan buruh perempuan adalah nandur (menanam). Sedangkan pekerjaan pertanian yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan adalah matun (menyiangi rumput), pemberian pupuk, dan panen (memetik basil). Pengolahan tanah dengan membajak, belum digunakan traktor. Hal ini disebabkan kondisi tanah yang miring. Pemanenan padi mengalami perkembangan yang cukup signifikan, yang dahulu banya dilakukan kaum perempuan kemudian dilakukan bersama-sama, baik laki-laki maupun perempuan. Ketika memetik padi, kaum perempuan menggunakan peralatan ani-ani, kemudian mengalami perkembangan dengan penggunaan sabit. Sekarang ini setelah mendapat bantuan alat pengerek padi, kegiatan pemanenan padi dengan menggunakan sabit saja. Penggunaan sabit dan alat pengerek padi menjadikan pemanfaatan waktu lebih efisien. Kegiatan ini sekaligus menghemat biaya untuk kekrek (membabat tanaman padi). Alat ini juga menghemat waktu dan tenaga, orang tidak harus ngiles (merontokan padi dengan kaki).

Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran -89

Perontok Padi

Disamping pertanian ada pemeliharaan hewan temak untuk menambah penghasilan. Usaha petemakan yang dilakukan masyarakat yaitu: sapi, ayam kampung, ayam broiler, dan ka mbing. Dari keempat jenis ternak, yang diusahakan secara khusus, hanya ayam broiler. Petem akan ayam broiler dimiliki oleh satu warga dengan jumlah ayam ada 500 ekor. Sedangkan untuk temak sapi, ayam kampung, dan kambing diusahakan hanya untuk sampingan. Pemilik sapi ada 485 orang dengan jumlah populasi sebesar 675 ekor. Ayam kampung dimiliki oleh 585 orang dengan jumlah populasi 1025. Sedangkan kambing dimiliki oleh 375 orang, dengan 48 0 populasi. Jadi dari ketiga hewan temak, masing-masing pemilik hanya mempunyai 1-2 ekor saja. Pemasaran hasil ternak, dijual langsung ke konsumen, pasar hewan, dan melalui tengkulak. Upaya pelatihan, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat di lakukan untuk meningkatkan kemampuan, ketrampilan, kemandirian

90 -KAJ IA N SOSI A L, 8 UDAYA, DAN EKONO M I M AS YARAKAT D l KAWASAN S ITUS S ANG IRAN

di situs Sangiran. Pengernbangan usaha pertanian terpadu perlu dilakukan. Untuk meningkatkan ekonomi keluarga masyarakat di Sangiran dilakukan upaya untuk mengembangkan masyarakat sesuai potensi yang ada. Usaha pertanian terus dikembangkan dan dipadukan dengan usaha-usaha petemakan, sehingga pemberdayaan laban dapat optimal. Usaha petemakan dapat dikembangkan dengan temak ayam, karnbing, dan sapi. Hal ini dapat meningkatkan ekonomi rumah tangga. Peningkatan ekonomi rumah tangga akan men gal ihkan hasrat penrluduk untuk mengeksploatasi fosil.

b. Pengra_jin

1). Batik

Batik Widya Kusuma didirikan oleh Wakiman, seorang pembatik asal Pungsari, Plupuh pada tahun 1997. Wakiman semula adalah seorang buruh batik yang bekerja untuk seorang pengusaha batik di Solo. Kcinginan untuk lebih mengembangkan diri, menjadi dorongan untuk rnemulai usaha sendiri. Wakiman merintis usaha produksi batik dengan modal awal dari tabungan sendiri. Keterbatasan modal menjadi kendala untuk produksi batiknya. Wakiman belum secara penuh bisa memproduksi batik. Ia baru bisa melayani order pewamaan, yang merupakan salah satu tahap dalam proses pembuatan batik. Kemajuan usahanya menjadikan ia mampu secara penuh memproduksi batik pada tahun 2002. Keuletan dan kegigihannya, usaha batik Widya Kusuma ber- kembang pesat. Wakiman mampu membangun tiga bengkel kerja. U-;aha Wakiman menyerap tenaga kerja 200 pembatik. Dengan

Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran -91

200 pembatik, mampu memproduksi 50 potong kain batik tulis per minggu dan 75 potong kain batik printing per hari. Tiap potong kain berukuran 2,5 meter x 1,15 meter. Harganya berkisar antara Rp.45.000,- sampai Rp.l65.000,- untuk yang berbahan katun dan Rp.l 80.000,- sampai 2.500.000,- untuk batik sutra. Inovasi desain dan motif batik terus dilakukannya. Ia sedang mengembangkan motif batik khas Sragen yang bennotif Jaka Tingkir dan Sangiran. MotifSangiran berupa anasir tulang-belulang, tengkorak, tulang punggung, dan gunungan. Motif Jaka Tingkir antara lain pola mahkota, keris, dan berbagai benda yang menggambarkan perlengkapan para ban gsa wan. Produk batik Widya Kusuma merambah berbagai kota di dalam negeri yaitu Solo, Yogyakarta, dan Jakarta. Pangsa pasar luar negeri juga telah dirambalmya yaitu Malaysia, Afrika, dan Jepang.

Foto 23. Koleksi Batik Tulis Ya ng Siap Oijual

92 -KAHAN S OS IA L, B UD AYA, DA N E KONOM I M A SYARAKAT D l KAWA SA N SITUS S ANGI RA N

Pembati k dari wilayah Sangiran memegang peranan penting dalam industri batik di Surakarta sebagai pemasok tenaga pembatik di sentra-sentra batik. Kebanyakan sentra-sentra batik menyediakan tempat tinggal bagi mereka secara berkelompok, antara 6-10 orang. Tenaga pembatik akan pulang seminggu sekali secara bergantian. Tidak semua pembatik meninggalkan kampung halamannya, ada yang menerima pekerjaan membatik dari pengepul dengan sistem timbal-balik. Pengepul memberi bahan kain mori dan lilin malam pada pembatik kemudian dikerjakan di rumah. Setelah selesai, basil garapannya dikembalikan ke pengepul dan upah diberikan. Pembatik di Desa Bukuran bekerja secara berkelompok dibawah komando seorang pengobeng. Pengobeng adalah pekerja yang dipercayajuragan untuk mengambil bahan dibawa pulang ke rumah lalu dikerjakan oleh tetangganya untuk dibatik. Salah seorang pengobeng yang cukup terkenal bemama Rakiyem. Rakiyem membawahi 50

Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran -93

Para pembatik kebanyakan mengambi! barang ke rumah Ratiyem kemudian dike1jakan di rumah masing-masing. Namun, ada juga yang membatik di rumah Rakiyem sejumlah 4 orang. Bahan batik ada yang sutera, primis, dan tenun. Pembatik dibawah pimpinan Rakiyem, tidak mengerjakan semua proses membatik. Mereka hanya melakukan kegiatan ngeblok, ngiseni, dan nitiki. Potensi kerajinan batik bisa diberdayakan sebagai pendukung sektor pariwisata. Pengrajin batik dibina untuk menciptakan motif batik khas Sangiran yang terkait dengan keberadaan fosil. Batik dengan motif khas tersebut bi sa dijadikan cinderamata para wisatawan yang berkunjung ke Sangiran. Pemberdayaan potensi ini akan meningkatkan ekonomi masyarakat sehingga secara tidak Jangsung akan mengurangi pencurian dan perdagangan fosil.

Foto 25. Para Buruh Batik Sedang Bekerja.

94 --KAJ IAN S OS IA L, B UD AYA, DAN EKONOM I M ASYARJ\Iv\T D l KAWASAN S ITUS S A NG IRAN

Perintis usaha ini bemama Sukamto. Sukamto mendapat pengalaman membuat roti tarcis ketika bekerja sebagai pegawai di pabrik roti tarcis di Solo. Setelah bekerja sebagai buruh pabrik roti tarcis di Solo selama 9 tahun, ia berkeinginan mandiri. Ia mengembangkan usaha roti di dusun kelahirannya di Ndangrejo, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe disamping mengerjakan sawah pertaniannya yang tidak luas. Semula usaha rotinya ada dua macam yaitu tarcis dan bolu. Namun, setelah krisis rnoneter, usahnya hanya mengkhususkan pada roti tm·cis. Pekerjaan membuat roti merupakan home industri. Pekerjanya masih ada hubungan darah atau keluarga, terdiri dari: istri, adik, dan anak-anaknya. Upah yang diberikan untuk adik dan anaknya sebesar Rp.30.000,-setiap berproduksi. Ia rnemproduksi atau membuat roti setiap hari Rabu dan Jumat, namun apabila persediaan habis maka akan memproduksi lagi. Produksi rnakanan ini telah terdaftar di Depattemen Kesehatan dengan nomor Depkes.RI.No.00.168/11.31/99. Merk produksinya dinamakan Roti Tarcis Ngudi Rahayu. Bahan yang diperlukan untuk membuat roti tarcis adalah terigu, gula pasir, margarine, telur ayam, korsvet, selai nanas, dan selai kacang. Setiap berproduksi diperlukan 30 kg terigu, 15 kg gula pasir, 60 butir telur, 13,5 kg margarine, 2 kg selai nanas, 8 kg kacang ditumbuk sendiri untuk dibuat selai, dan 200 gram korsvet. Alat yang digunakan terdiri dari mixer, oven untuk memanggang, meja beralaskan kaca atau plastik, sekop kayu, dan kayu untuk bahan bakamya. Oven terbuat dari tembok yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran

Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran -95

Pada bangunan tersebut dibuatkan lubang pintu untuk memasukan bahan bakar dan loyangnya. Penutup pintu terbuat dari papan yang diberi penyangga untuk pegangan ketika membuka dan menutup pintu. Keseluruhan waktu yang diperlukan untuk membuat roti dari jam 3 pagi sampai jam 7 malam. Cara membuat roti tarcis, pertama kali telur dan gula dikocok sampai mengembang kurang lebih 10 menit. Mentega dilelehkan/ dipanaskan terlebih dahulu. Bahan lainnya seperti terigu, korsvet dan mentega leleh dimasukan dalam adukan telur dan gula. Setelah tercampur dengan cara diaduk, sampai berbentuk lembek dan siap dipulung. Setelah itu adukan siap dipulung, diletakkan di atas meja untuk diratakan supaya tip is. Adonan yang telah rata dan tipis kemudian dipotong-potong sesuai ukuran yang dikehendaki. Adonan yang telah dipotong diisi selai, selanjutnya dilipat sehingga selainya tertutup adonan kemudian di atasnya ditaburi gula pasir. Roti diletakkan ke dalam Loyang/ cetakan aluminium dan telah siap untuk dioven. Pada saat proses membuat adonan, oven juga telah dipanaskan. Caranya kayu dibakar di dalam oven sampai membara. Bara kayu menjadikanruangandi dalamovenmenjadi panas. Sukamtodankeluarga sudah hafal kapan, oven siap untuk memanggang. Hanya dengan mengandalkan insting dan kebiasaan, caranya dengan memegang atau sedikit meraba dengan tangan bagian luar oven. Hal ini dimasukdkan untuk mengukur suhunya sehingga nantinya menghasilkan roti yang bagus. Suhu yang diharapkan telah memenuhi, kemudian bara api disisihkan di pojokan oven, Loyang roti siap untuk dimasukan. Loyang yang berisi roti dimasukan ke dalam oven kemudian pintunya ditutup. Daya muat oven sekitar 17 loyang. Roti dioven selama 16 menit,

96 -MJIAN SOSIAL, B U DAYA, DAN E K ONOM I M ASYARA KAT 0 1 K AWASAN SITUS SANG IRAN

10 harganya Rp.3.500,-, sedangkan yang ukuran kecil isi 10 harganya Rp.3.000,-, isi enam harganya Rp.2.000,-. Pemasaran basil produksinya dijual ke grosir-grosir di daerah Sukoharjo, Solo, Delanggu, Klaten, tegalgondo, Jatinom, Kaliyoso, Gemolong, dan Sragen. Sarana angkutan yang digunakan untuk memasarkan roti tarcis adalah mobil, sebelum krisis moneter. Namun, sekarang banya menggunakan sepeda motor yang dipasang dua tombong. Sebelum krisis moneter, roti yang dipasarkan dan terjual banyak sehingga barus diangkut dengan mobil, tetapi sekarang tidak. Dalam rangka menghemat biaya bensin maka digunakan sepeda motor. Cara pembayaran basil produksi rotinya ada yang secara kontan, namun ada yang dititipkan dengan pembayaran setelab barang terjual. Setiap dua minggu sekali, barang yang tidak laku diambil sambil menyetor roti yang baru, dan mengambil uang basil penjualan barang titipan. Barang yang tidak laku meskipun belum kedaluwarsa, diambil untuk diganti yang baru. Roti yang tidak laku diproses kembali atau diolah lagi, dengan mengambil kulitnya dan membuang selainya. Kulit tersebut dipanaskan terlebib dabulu lalu ditumbuk supaya lembut dan seterusnya diproses kembali. Keuntungan yang didapat setiap kali berproduksi sebesar Rp.350.000,-. Keuntungan kotor tersebut dikurangi upah untuk lima

Kajian Sosial Budaya Ekonomi M asyarakat Sangiran -97

Rp.3 0.000,-. Bahan bakar kayu hanya mengambil dari pepohonan yang banyak tumbuh di kebunnya. Listrik yang di gunakan untuk menjalankan mixer hanya kecil sekali. Keuntungan bersih yang didapat kurang lebih Rp.

190.000,- per sekali produksi. Makanan khas suatu daerah bisa menjadi daya dukung pariwisata. Roti tarcis bisa dijadikan oleh-oleh khas Sangiran. Roti ini bisa menj adi daya dukung pariwisata Museum Sangiran. Kios yang disedi akan museum tidak hanya menjual kerajinan batu, tetapi ada ruang untuk roti tarcis. Pemasaran melalui kios yang ada di museum menjadi cara untuk mengenalkanjenis makanan khas Sangiran bagi masyarakat luar. Hal ini akan meningkatkan ekonomi penduduk sehingga diharapkan kelestarian fosil ikut terdukung.
Foto 26. Persiapan Pemanasn Oven

98 -KAJI AN S OS I AL, B UDAYA, DAN EKONOM I MASY. RAKAT 01 K AWA SAN SITUS SANGIRAN

Pengangkutan Roti Tarcis.

3). Bathok (tempurung kelapa) Pengrajin bathok terdapat di Dusun Sendang, Desa Bukuran. Ada 3 RT di Dusun Sendang, yaitu RT 15, 16, dan 17 yang menekuni usaha kerajinan bathok. Ada 20 kelompok yang tersebar di tiga RT, masing-masing kelompok memiliki anggota 5 orang. Usaha kerajinan bathok ini menciptakan pekerjaan bam bagi penduduk di Dusun Sendang dan Grogolan. Salah satu pengrajin bathok yang cukup terkenal bernama Bambang (35 tahun) yang tinggal di Dusun Sendang. Ia menekuni usaha membuat kerajinan bathok semenjak 10 tahun yang lalu. Pembuatan kerajinan bathok berskala home industri. Proses pembuatan kerajinan tidak dilakukan sendiri, ada tujuh pekerja yang membantunya. Peketja yang membantu usahanya masih berusia muda yang berasal dari Dusun Grogolan dan Sendang. Para peketja mulai bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, dengan diberi makan sekali. Upah yang diterima masing-masing pekerja sebesar Rp.30.000,-. Bahan baku yang diperlukan hanyalah tempurung (bathok). Bahan baku diperoleh dari luar Sangiran yaitu dari Gemolong dan
Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran -

Rp.700,-. Pengrajin sudah mempunyai langganan yang bertugas menyetor bahan baku. Peralatan yang digunakan untuk proses pembuatan kerajinan tempurung berupa mesin ngeplong, ngebur, nitik, dan amplas. Pemerintah daerah setcmpat, dalam hal ini Departemen Perindustrian Sragen menunjukan kepeduliannya pada para pengrajin dengan di beri bantuan berupa I mesin ngeplong. Ketiga mesin yang lain merupakan usaha sendiri dari pengrajin. Dalam menjalankan mesin tersebut dibutuhkan empat tenaga kerja yang bertugas untuk ngeplong, ngebur, nitik, dan ngamplas. Proses pembuatannya pun urut dari ngeplong (menghaluskan tempurung), ngebur (mencetak benik), nitik (mencopot benik dari tempurung), ngamplas (membersihkan dan merapikan bentuk benik). Benik (kancing baju) yang telah jadi kemudian dikemas ke dalam plastik sesuai dengan ukurannya. Kancing baju dUual pada grosir di daerah sentra batik, yaitu: Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan. Harga kancing baju tergantung ukurannya dari terkecil sampai yang besar yaitu: Rp.lO,-/bj; Rp.l3,-/bj; Rp.20,-/ bj; Rp.25,-/bj; Rp.30,-/bj; Rp.35,-/bj, dan Rp.40,-/bj. Produk lain yang dihasilkan berupa gesper ikat pinggang yang harganya Rp.500,-/bj. Limbah tempurung yang terpotong-potong bisa dimanfaatkan untuk arang. Limbah tempurung dijual kepada tetangganya untuk di buat arang. Harga limbah bathok kelapa Rp.700,-/kg, apabila sudah jadi arang berharga Rp.2.500,-/kg.

I 00 -K AJ IAN S OS IAL, B U DAY A, DAN E KO OMI M ASYAR/I K AT Dl KAWASAN SITUS SANGIRAN

di-ngep/ong bentuk kancing baju berbagat ukuran.

Foto 29. Alat untuk ngebur kancing baju bathok

Foto 30. Pekerja Sedang Nitik Kancing Baju Bathok

Kaj ian Susial Budaya Ekonomi Masyarakat Sang1ran -I 0 1

102 -K A JI AN S OS IAL, B UDAYA, DAN EKONOM I M ASYARAKAT Dl KAWASAN SITUS SANGIRAN

Pengrajin batu jumlahnya cukup ban yak ada sekitar 25 orang.

a). Pengrajin batu fosil Pengrajin batu fosil semakin berkembang karena dituntut per- mintaan pasar. Selain membuat fosil dari batu, pengrajin menciptakan fosil aspal yang terbuat da ri fo si l as li digabungkan dengan bahan yang terbuat dari semen, gips, dan zat pewarna. Fosi l aspal terbuat dari potongan atau serpihan fos il yang tidak diterima oleh museum. Menurut Paijo, potongan atau serpih an fosil dianggap tidak memiliki nilai ilmiah atau tidak dapat memb<.::ri informasi mengenai deskripsi fosil tersebut. Pengrajin juga menggunakan batu khas Sangiran yang dikenal sebagai batu indah bertuah. Batu ini diyakini masyarakat setempat hanya ditemukan di Sangiran. Dikenal juga batu curi. Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai penamaan batu curi. Batu indah bertuah bercirikan warna leb ih terang, tidak tcrlalu keras dan bermotif seperti batik pola tumbuh-tumbuhan. Batu ini ditemukan di sekitar
Kajian Sosial 8udaya Ekono1111 Masyarakat Sangiran-I 03

Pengrajin tidak hanya mengandalkan potensi batuan Sangiran. Mereka mendatangkan bahan dari luar, yaitu Tulungagung dan Palembang. Batuan tersebut dibuat souvenir berupa asesoris seperti kalung, gelang, gantungan kunci, buah, dan tasbih. Pengrajin dalam membuat tiruan fosil sudah trampil. Fragmen fosil yang telah ada dibuat suatu bentuk berdasarkan perkiraan pengrajin mengenai fosil yang biasa ditemukan. Fragmen fosil disambung dengan bahan campuran gips yang dihaluskan dicampur dengan air, kemudian dibentuk sesuai keinginannya. Agar diperoleh wama seperti fosil asli, pada tahap akhir fosil buatan tersebut diberi tinta hitam. Fosil tiruan yang biasa dibuat antara lain gigi dan gading gajah. Meskipun tiruan, namun harganya cukup tinggi. Bentuk gading gajah tiruan dapat terjual hingga jutaan rupiah. Pengrajin dalam membuat fosil tiruan berdasarkan pesanan. Bahan yang dibutuhkan menurut bentuk pesanannya. Kekurangan bahan dengan cara memesan pada pencari batu. Pembuatan pesanan fosil tiruan menurut penuturan Paijo ( ) sebagai berikut: "Kekurangan bahan saya pesan dari pencari batu. Ketika mendapatkan pesanan berbentuk tengkorak binatang. Gambaran binatang sudah terdapat dalam benak saya. Pertama kali dibentuk garis bcsar (cengkorongan), kemudian dilanjutkan dengan bagian-bagiannya. Bagian-bagian yang dibentuk berupa mata, gigi, dan moncong. Dalam mendapatkan model tengkorak binatang yang sebenarnya. Digunakan tengkorak sapi yang didapatkan dari lain daerah. Kepala binatang tersebut hanya sebagai model saja. [majinasi dan

l 04 -KAJIAN SOSII\L, BUDAY A, DI\N EKONOMI MASYARA K I\T Dl K AWASAN SITUS SANGIRAN

Iela h dibentuk. Proses pe mbuatan tidak memerlukan alat ya ng rumit, hanya latah, pal u, dan amplas. Setelah terbentuk tengkorak binatang kemudian diusapkan MAA, itu lho pembersih porselen. Produk yang dihasilkan mi rip dengan tengkorak binatang asli."

b). Pengrajin Kapak dan Alat Pijat

Ada beberapa orang yang membuat kerajinan kapak dan alat

pijat dari batu. Usaha kerajinan ini diperoleh bukan dari turunan orang

tuanya, melainkan inovasi sendiri atau pun dari pembelajaran dari

tctangganya. Salah seorang pengraJIIl kapak bernama Bapak Tukiyo

"Usaha membuat kapak di pe rol eh dari Mbah Minto. Mbah Minto terinpirasi dari alat yang dipergunakan pada zaman batu, masa Pithecantropus. sebelum ada tulisan. Mbah Minto menekun i usaha tcrsebut. Sebagai tetangga saya sering melihat usa ha Mbah Minto, ya ng kala itu se bagai pengrajin kapak gengga m. Saya mgm mencoba menggeluti usa ha membuat kapak seperti yang dilakukan oleh Mbah Minto. Sebel umnya saya beketja di Jakarta menj ad i tukang ka yu. Tetapi karena menjadi tukang hasi ln ya tid ak cukup untuk menghidupi keluarga, saya pul ang ke desa. Se lama berada eli desa saya kembali menggeluti profesi sebagai tu kang kayu. Beberapa tahun kemudian, seperti tadi saya katakana saya tertarik clengan usa ha Mbah Minto, saya beralih profes i menjadi pengrajin kapak batu dan alat pijat marmer, sampai sekarang ini.'"

Pekerjaan membuat kapak merupakan mata pencaharian pokok

keluarga. Proses pembuatan yang mudah dan permintaan banyak

menjadikan keraj inan ini tetap eksis. Pengrajin bahkan tidak mampu memenuhi permintaan pemcsa n.

Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyarak at Sangiran-

kerajinan kapak ini dilakukan sudah bertahun-tahun. Bapak Tukiyo sudah menggeluti profesi ini 20 tahun yang lalu. Pertama kali jenis barang yang dibuatnya berupa kapak genggam, namun lama kelamaan berkembang menjadi kapak tangkai. Perubahan jenis barang dipengaruhi oleh perkembangan peralatannya, yang dulunya hanya menggunakan tatah kemudian beralih ke grendo. Perkembangan peralatan ini berpengaruh juga dengan hasil produksinya. Ketika menggunakan tntah, kapak yang dihasilkan ukuran besar-kecilnya tidak sama satu sama lain. Penggunaan grendo menjadikan kapak nampak rapi, pipih dengan ukuran yang sama. Bahan baku yang digunakan untuk membuat kapak adalah batu ukuran kecil dan pipih, biasanya didatangkan dari Semarang. Bahan batu yang baik dengan tekstur halus dan tidak berpori-pori. Batu yang berpori-pori tidak baik digunakan untuk membuat kapak karena hasilnya tidak bagus dan kapak cepat rusak. Bahan baku berupa batu kali I mobil pick up dihargai Rp.5.000.000,-. Bahan batu kali tersebut baru habis sekitar 2 tahun.

5). Tempe Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Demikian juga di Sangiran, tempe sudah memasyarakat sebagai !auk yang murah dan sehat. Terdapat berbagai metode pembuatan tempe. Pembuatan tempe merupakan usaha rumahan di Kecamatan Kalijambc. Salah seorang pengrajin tempe bernama Ibu Juminah dari Dusun Sangiran. Ketrampilan membuat tempe merupakan usaha turun-tcmurun yang diwariskan oleh orang tuanya. la menekuni usaha
I 06--K AJIA N SosrAL, B u rM Y.A, f) /\N E KON OMI MASYARAKAT 111 KAWA S1\ N SITU S SANGIR.A'J

2500 meter persegi ata u scperempat hektar. Lahan yang sempit dan kondi si tanah menjadi kan profcsi petani tidak mcneuku pi untuk memenuh i kebutuhan hicl up keluarga sepcrti ~ ang di tuturkann ya sebagai berikut: 'm

" Suami saya ha nya pctani kccil, ahnya C uma ~ cpcrc111pa1 hcktar "t_ia. l la,tl
pa11cn sctahu n dua kal i. satu kalt pa ncn hanya mcnghasill-- an padi scbanyal-- 2
kwintal. l-l as il tcrscbut tidal--lah ntcnn tkupi untul-- saya J ua da n saya scndiri bL'rarti "'l•t1len, mcngh tdupi kcl uarga. 1\nal-- \ an orang. Saya mcmbantu
j ualan tempe untuk kcluarga." bchan suctllll. bt~a mcncukupi h:butuhan

dm m L' ri n g~.nkan

Setiap hari, ia memprnduksi tempe :-.cbany<.tk 3 ki logram. Sc- bclum bersaing dengan tempe kemasan plasttk, hasil produks inya menghabi skan 30 kilogram keclclai. Persamgan J en gan tempe ya ng clibungkus plasti k mcnjacli kan procluknya mcnyusut sampai 10 kali lipat. Mesk ipun procluk sinya ticlak scbanyak dahu lu. na mun ia tctap bersemangat untuk mcnjalanka n usahanya. Ada kcu nt ungan lain yang didapatnya clari mcmbuat tempe yaitu ampas kulit kcdclai. Ampas kuli t kecle la i bi sa menjadi makanan hewan ternaknya. Hal terscbut tent u saja mengurangi pengeluaran keschariannya. Penyusutan procluksi mc njacli ka nnya tidak scti ap ha ri membeli kedclai. Setiap lima hari sckali, lbu .l umina bclanja kede lai eli pasa r desa. Bahan dasar kccle lai jcnis super dibcli nya dengan harga per kilogramnya Rp.6. 000.. Tempe yan g diha:-.ilkan dijual per biji Rp.200,-. Modal kedel ai Rp.l ~.000, -, dijual Jalam bcntuk tem pe lak u

Kaji an so,ial l::luda ya l: konollll Ma,yarakat Sangiran I 07

Rp.30.000,-. Keuntungan kotor dari pembuatan 3 kilogram tempe sebesar Rp.l2.000,-. Keuntungan sebesar itu masih dipotong untuk membeli kayu sebagai bahan bakar, daun pisang sebagai pembungkusnya, dan ragi. Dahulu sebelum dikenal ragi bubuk digunakan usar. Ragi bubuk yang biasa digunakan produksi PT. Aneka Fermentasi Industri (AFI), Bandung. Kemasan plastik seperempat kilogram harganya Rp.8.000,-, dijual bebas di pasar setempat. Adapun cara membuat tempe, pertama kedelai dicuci bersih kemudian direndam selama satu malam. Keesokan harinya kedelai ditiriskan, kemudian dikosek dan dibersihkan lagi, kemudian batu direbus. Setelah kedelai matang kemudian diangin-anginkan. Kedelai yang sudah dingin diberi ragi dengan ukuran 3 kg kedelai dibubuhi ragi sebanyak I sendok teh. Selesai diberi usar didiamkan, baru sore harinya dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Setiap hari lbu Juminah membuat tempe. Tempe buatannya dijual dengan cara dititipkan ke warung-warung tetangga sekitarnya. Namun, ketika hari pasaran Kliwon dan Pahing, tempe dijual ke Pasar Kalongbali. lbu Juminah berangkat ke Pasar Kalongbali sekitar pukul 6 pagi dan pulang pukul 8 pagi. Pasar Kalongbali merupakan pasar yang buka hanya dalam waktu yang singkat. Terkadang dinamakan pasar krempyeng, karena hanya sak-krempyengan saja waktu berlangsungnya transaksi jual-beli. Pembuatan tempe tidak mengancam kelestarian fosil. Pengrajin tempe bisa dikembangkan menjadi altcrnatif matapencaharian pen- duduk. Tempe bisa dijual dalam bentuk mentah atau diolah menjadi makanan ringan yang lebih awet, yang nantinya akan menjadi buah

I 08 -K A JI A N SOSI AL, B U DJ\Yi\, DA N EKONO MI M ASYA RA K AT Dl KAWASA N SITUS S ANGIR A N

Pembuatan tempe bisa menjadi alternatif lapangan pekerjaan sehingga ak a11 mcngurangi usaha mengeksploatasi fosi I.

6). Legondho Legondho diakui warga setempat mcrupakan makanan kh as Sangiran, meskipun sebena mya pt: ngetahuan mcm buat makanan tersebut berasal dari Kendal. Sekarang ini han ya ada sa tu pembuat dan penjual kue legondho. Sahra, ncnek renta ya ng sud ah berusia lanjut bertempat tinggal di Krikilan mcrupakan satu -satunya pembuat kuc legondho. Gambaran kehidupan di ga ris kcmiskinan t~rgambar dalam kehidupan kesehariannya. Sahra mcmiliki sawah ya ng cukup luas sekitar I hektar, namun letak nya berada di lcreng- lercng pegunungan yang hanya bisa ditanami saat musi m pcngh uj an. amun, sckarang ini dia sudah tidak memilik i sawah karena sud ah di wariskan kepada anak-anaknya. Usia bukan alasan atau penghalang untu k tetap beraktivi tas. Kemandirian hidup ditunjukan ol eh di rin ya, mcskipun anaknya secara ekonomi berkecukupan. Ia tidak mau tcrgantung pada anak-anakn ya. Hal ini seperti diutarakan salah satu anak percmpuan scbagai bcrikut: " Mbok Sahra itu tidak mau mcrcpotkan an ak-c ucun ya. Ia ti nggal scndirian di rumahnya. Saya ajak kc ru ma h saya tidak lllau. Kcschanannya mc mbuat lcgondho. Sebenarnya kal au dih itu ng- lii tung kcuntu ngan ) Kaj ian S o-, ia l ~ u Jaya l::ku nomt M a,y.~rakat ~ ~ng tran-I 09

Oleh- oleh dari Kendal yang dibawa saudaranya menjadi inspirasi untuk mencoba membuat kue yang sama. Ternyata ia mampu dan berhasil ketika memcoba untuk membuat kue legondho. Keberhasilan tersebut menjadikan Sahra menjadi pembuat dan penjual kue legondho. Bahan yang diperlukan untuk membuat kue legondho sangat sederhana dan mudah didapat, yaitu beras ketan, kelapa, dan garam. Perbandingan komposisi bahan adalah setiap I kilogram beras ketan berbanding sama yaitu 1 butir kelapa yang tidak terlalu tua (sedang). Cara membuat kue legondho versi Sahra sebagai berikut: pertama kali beras ketan dicuci bersih dan ditiriskan, setelah atus baru dicampur dengan parutan kelapa dan diberi garam secukupnya. Ukuran resepnya setiap I kg beras ketan diberi kelapa I butir agar tercipta rasa yang gurih. Setelah beras ketan dan kelapa parut tercampur rata kemudian dibungkus memakai janur. Setelah bungkusan rapi lalu diikat tali bambu/iratan pring yang disirat tipis baru kemudian ditata di atas soblok. Selanjutnya direbus menggunakan air mendidih selama tiga jam lamanya. Jika air rebusan berkurang, ditambah lagi, demikian terus-menerus sampai matang. Proses demikian hampir sama dengan pembuatan kupat. Setelah legondho matang, kemudian ditiriskan dan digantung seperti menggantung kupat. 1 kilogram beras ketan menjadi 40 biji legondho ukuran kecil atau 30 biji ukuran besar. Legondho dijual dalam bentuk ikatan yang terdiri dari 5 biji legondho. Setiap bijinya dihargai Rp.500,-. Bahan yang biasanya dihabiskan untuk membuat Iegondho hanya 3 kilogram beras ketan. Apabila ada pesanan bisa sampai 5 kilogram beras ketan.

II 0 -KAHA N SoSIAL, B u DAY A, DAN EKONOMI M ASYA RAK AT Dl K AWASAN SITUS S ANG IR AN

0.000,-. Hasil produksinya di jual
langsung ke pasar pada hari pasaran yaitu Kliwon dan Pahing. Mbok Sabra hanya hanya membuat dan menjual legondho pada hari pasaran saja. Disamping dijuallangsung ke Pasar Kalongbali, Mbok Sabra juga menerima pesanan. Pesanan legondho datang dari perseorangan atau instansi pemerintah setempat, antara lain: dusun, desa, dan kecamatan untuk keperluan rapat. Legondho merupakan makanan khas Sangiran, namun dalam produksinya tidak menentu. Legondho bisa menjadi pendukung pariwisata apabila diberdayagunakan. Legondho yang hanya bisa dibeli dari produsennya akan menyulitkan segi pemasarannya. Wisatawan yang mengunjungi suatu lokasi pariwisata, sangat menyenangi makanan khas di tempat tersebut. Legondho bisa menjadi jajanan wisatawan yang berkunjung ke museum. Diversifikasi usaha akan mengurangi perhatian penduduk Sangiran untuk mendapatkan uang dari mencari dan memperdagangkan fosil. Hal ini secm·a tidak langsung ikut melestarikan situs Sangiran

Foto 33. Legondho Masakan Khas Sang1ran

Kajian Sosial Budaya Ekonomi M asyarakat Sangiran -11 l

Usaha konveksi kaos sangat membantu perekonomian penduduk Sangiran. Namun, usaha konveksi kaos hanya berdasarkan pesanan seragam, belum ada usaha untuk membuat kaos non seragam. Perlu ada daya dukung dari pemerintah untuk melakukan pelatihan dan pendampingan terkait dengan jenis produksinya. Pengusaha konveksi perlu diberi motivasi membuat produk kaos jadi dengan merk ter- tentu untuk dijual langsung ke pembeli. Pengusaha konveksi bisa membuat kaos khas Sangiran. Wisatawan akan menyukai souvenir kaos sebagai oleh-oleh, seperti dagadu Yogyakarta dan joger Bali. Kaos yang dihasilkan bisa menggunakan motif atau gambar khas Sangiran. Seperti halnya dagadu Yogyakarta dan joger Bali, kaos yang dihasilkan memuat kata-kata yang intinya menjaga kelestarian situs Sangiran. Secara tidak langsung, hal ini akan mendukung keberadaan situs Sangiran

1). Pemilik Konveksi

Dusun Kalongbali, Desa Krikilan banyak sentra pengusaha konveksi. Usaha konveksi pada umumnya pakaian seragam sekolah, jaket, kaos, dan pakaian olah raga. Seorang pengusaha yang cukup eksis di K alongbali milik Juminah dengan nama usaha Indah Irviani Collection. Modal awalnya hanya berupa mesin jahit, mesin itik-itik, dan mesin obras. Usahanya mengalami kemajuan, paua tahun 2007. Juminah mempunyai anak empat, dua sudah berkeluarga, satu kerja di Korea, dan satu masih kuliah. Setiap bulan sekitar 2000 potong pakaian seragama dikirim ke pemesan. Omzet perbulannya mencapai

112 -KAHAN S OS IAL, B UDAYA, DAN E KONOM I MASYARAKAT D l M WASAN S ITUS S ANG IR AN

Pemesan berasal dari luar Jawa yaitu: Palembang, Palu, Medan, dan Pekanbaru. [a mempunyai tenaga 30-an orang yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok yang mcngerjakan di rumah terdiri dari 14 orang. Sedangkan sisanya kelompok yang dikerjakan di rumah buruhnya masing-masing (dibawa pulang). Kelompok yang di rumah di bagi dalam lima kelompok yaitu ngobras, ngitik-itik. mbeniki, menjahit, dan melipat kemudian dikemas dalam plastik.

2). Buruh Konveksi Keterbatasan ekonomi keluarga menjadtkan wamta di Sangiran membantu untuk mencukupinya. Peluang menjadi buruhjahit konveksi ditangkap sebagai salah satu pemecahannya. Wanita membantu suami mencari uang untuk membantu perekonomian keluarga. Yani (23 th) merupakan potret kehidupan buruh jahit d1 Sangiran. Suaminya bekerja sebagai buruh pabrik di Surabaya, dengan tanggungan anak satu berumur 3 tahun. Gaji suami Rp.l.OOO.OOO,-/bulan dipotong biaya pondokan Rp.150.000,-, makan sudah ditanggung pabrik. Keluarganya tidak memiliki lahan pertanian. Rumahnya berbentuk IImasan dengan atap genteng, berdinding kayu bercampur bambu, berlantaikan ubin semen yang sudah retak-retak. Pekerjaan sebagai buruh jahit baru ditekuni selama 5 bulan. Dia tidak memiliki keahlian khusus sebagai penjahit. Juragan konveksi yang menjadi majikannya berasal dari luar Sangiran bernama Masikin. Dalam menunjang aktivitasnya sebagai buruh jahit, Yani ditraining selama 2 minggu di tempat majikannya. Selama 14 hari dari jam 07.00 sampai 16.00, ia dikursus menjahit. Setelah selesai kursus di tempat majikan dapat menjadi buruh jahit. la tidak memerlukan modal besar
Kajian Sosial Budaya Ekononu Masyarakat Sangiran

20 potong baju. Hasil yang tidak

menentu disebabkan sambil mengasuh anak di rumah. Situasi tersebut

dituturkan infonnan sebagai berikut:

" Pengerjaannya ya disambi dengan momong anak. Tetapi kalau malam hari setelah anaknya tidur baru bi sa kerja. Tergantung dari kondi si anak, kalau pada pagi sampai soren hari anaknya tidak rewel, maka menjahitnya bisa lancar dan memperoleh jumlah jahitan yang banya. Tetapi kalau pada seharian ti dak dapat disambi maka otomatis pengetjaannya hanya malam hari setelah anknya tidur. Dengan demikain basi l yang diperoleh tidak maksimal. Dan yang paling mernbosankan kalau dikejar waktu dan disuruh jahit da lam jumah banyak. Kendala secara umum tidak ada, hanya saj a kalau anak sedang rewel, misalnya sakit maka pengetjaannya menjadi terhambat. "

-KA.I IAN S OS IA L, 8 U DAYA, DAN EKONOM I M ASYARAKAT D l KAWASAN SITUS S ANG IRAN

Ongkos jahit hem panjang sebesar Rp.1.800/pt, hem pendek Rp.l. 700/pt, sedangkan ongkos obrasnya Rp.200,-/pt. Buruh jahit tidak bisa memilih hem panJang atau hem pendek, semua tergantung dari order juragannya .. Cara pembayarannya seminggu sekali, namun tidak menutup kemungkinan untuk bon terlebih dahulu, nantinya ketika gajian dipotongkan. Besar kecilnya pendapatan tergantung dari banyaknya jahitan yang dihasilkan. Apabila rata-rata sehari 20 potong maka hasil kotor yang didapat adalah kurang lebih Rp.40.000,- dipotong listrik dan benang obras. Benang obras jumlahnya ada 3 gulung, satu harganya Rp.l 0.000,- bisa habis dalam 3 minggu. Listrik digunakan untuk menggerakan dynamo, yang setiap bulannya habis Rp.40.000,-.

Kajian Sosial Budaya Ekonom1 Masyarakat Sangiran -

S osi A L, B u DAYA, DAN E KONOM I M ASYARAKAT 0 1 KAwASAN SITUS S ANG IRAN

Pedagang menjadi matapencabarian yang berpotensi mengancam keberadaan dan pelestarian situs Sangiran. Melalui pedagang, khususnya souvenir, inilab terkadang terjadi transaksi terselubung perdagangan fosil. Lain balnya dengan pedagang sembako yang tidak mengancam keberadaan situs Sangiran, melainkan justru mendukung pelestariannya. Menjadi pedagang sembako mempakan altematif matapencaharian di luar mengeksplotasi fosil, yangmampu menopang ekonomi rumah tangga.

1). Sembako

Pasar adalah tempat bertemunya calon penjual dan calon pembeli barang da n jasa. Di pasar antara penjual dan pembeli akan melakukan transaksi. Transaksi adalah kesepakatan dalam kegiatan jual- beli. Syarat terjadinya transaksi adalah ada barang yang diperjual belikan, ada pedagang, ada pembeli, ada kesepakatan harga barang, dan tidak ada paksaan dari pihak manapun. Pasar tradisional adalah pasar yang bersifat tradisional dimana para penjual dan pembeli dapat mengadakan tawar menawar secara langsung. Barang-barang yang dipe1jual belikan adalah barang yang bempa barang kebutuhan pokok. Pedagang yang berjualan di pasar kebanyakan dari luar Desa Krikilan dan Bukuran. Penduduk setempat biasanya hanya membeli kebutuhan sehari-hari. Kalaupun ada yang be1jualan di pasar, hanya bersifat musiman, misalnya pengrajin tempe yang menjual basil buatannya.

Kajian Sosial Budaya E konomi Masyarakat Sangiran -

Pasar Desa Saat Tidak Hari Pasaran

Kios yang terd apat di pinggir jalan utama Sangiran juga menj adi sarana untuk terjadinya transaksi jual-beli. Meskipun jumlah kios tidak begitu banyak namun sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Jumlahnya yang tidak begitu banyak, berpengaruh pada pendapatannya. Pendapatan pemilik kios mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu juga ada pedagang kebutuhan sehari-hari yang dijajakan secara berkeliling mengunjungi pembeli. Jumlahnya yang sedikit juga berpengaruh terhadap penghasil yang didapat. Keuntungan yang didapat pedagang ini lumayan bagus.

2). Souvenir Souvenir atau biasa disebut cinderamata merupakan salah satu benda yang banyak mengandung kenanga n bagi para pemiliknya. Masing-mas ing souvenir pasti memiliki ciri khas sendiri, baik bentuk maupun asal daerah souvenir berasal. Souvenir di Sangiran identik dengan batu -batuan maupun fosil. Tempat penjualan souvenir di Sangiran ada dua yaitu toko souvenir dan kios di pelataran parki r
118 -K A JI AN S OS IA L, B UDAYA, DAN EKONOM I M ASYARAKAT Dl KAWASAN S ITUS S ANG IRAN

Pemil ik toko souvenir merupakan pedagang yang besar sedangkan yang betjualan di kios hanyalah pedagang kecil. Namun ada juga satu orang pc> njual yang disamping berdagang di kios juga pemilik toko souvenir.

a). Pemilik Toko Souvenir Ada cukup banyak tok o souvenir di Sangiran. Letaknya berada di sepanjangjalan menuju ke museum Sangiran. Penamaan toko souv enir biasanya disesuaikan dengan nama pcmiliknya, yaitu: Bambang, Tanto I, Tanto 2, Wi dodo, Benj ol, Ari Asi h, dan Wasmin. Ada satu toko so uvenir yang namanya bu ka n discsuaikan dengan pemiliknya, yaitu Sentra. Dua di antara tujuh toko souvenir merupakan milik satu orang yaitu Tan to I dan Tanto 2. Tanto souvenir adal ah toko souvenir yang bcrada di daerah wisat" Sangira n, tcpatnya berlokasi di Jalan Sangiran km.4, Krik ilan, Kalijambc. Tanto souvenir memproduksi souvenir dengan bahan baku batu ··batuan alami, seperti: oxydiant/batu kaca alam, batu Krista!, batu kijang, batu kecubung, batu kalsit/batu akik, batu yaman, batu safir, batu jamrud. batu pin·us, batu coral, batu mata kucing, dan sebagainya. Dua toko souvenir Tanto, satunya menempati rumahnya sendiri sedang satunya dikelola mcnantunya. Toko souvenir Tanto menjadikan usahanya sebagai koperasi keluarga. Kedua toko souvc nirnya berada di tcmpat yang strategis, di sepanjang jalan menuju museum. Ked ua toko cukup besar dan isinya bervariasi. Barang pajangan terbuat dari ka yu fo sil dan batu pual am yang dipilihnya sendiri. Pengalaman mengajarkan pengetahuan mengenai kualitas bahan ya ng digunakan untuk akscsoris. Bentuk barang dagangannya banyak ya ng dirancang
Kajian Sos ial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran-

Pacitan. Sebagian besar dagangannya dipesan dari pengrajin lokal di Desa Krikilan. Tanto souvenir dalam usaha untuk menarik dan meyakinkan pembeli bahwa barangnya berkualitas bagus, di depan galeri dipajang juga kayu fosil yang sudah berumur jutaan tahun lalu. Barang tersebut merupakan bukti kualitas bahan yang digunakan untuk membuat aksesoris. Aksesoris yang terbuat dari bahan kayu fosil berupa tempat perhiasan yang beraneka macam serta patung kecil. Harga souvenir juga bervariasi dari yang berharga murah sampai jutaan rupiah. Harga barang disesuaikan dengan jenis, ukuran, dan kualitas barang. Meja manner kualitas bagus ukuran sedang harganya mencapai Rp.l.500.000,-.

b). Kios Souvenir

Pedagang souvenir skala kecil menjajakan dagangannya me- nempati kios di pelataran parkiran Museum Sangiran. Pedagang souvenir umumnya berjenis kelamin wanita. Pedagang souvenir berasal dari masyarakat sekitar museum. Dagangan yang dijual adalah souvenir berupa aksesoris: gelang, kalung, pernik-pernik, area yang terbuat dari batu fosil, tesbeh, bros, gantungan kunci, hiasan yang berujud patung binatang katak, badak, gajah, kuda, kura-kura, dan lain-lainnya. Sebagai penjual souvenir pendapatannya tidak tetap, tergantung keramaian pengunjung museum. Apabila hari sedang ramai, keuntungan yang didapat lumayan besar, kurang lebih Rp.50.000,-. Jumlah pengunjung museum biasanya banyak pada hari libur sekolah maupun

120 -KAJIA N SOSIAL, 8 UDAYA, DA N EKONOMI M A SYARA K AT Dl K AWAS AN SITUS S A NGIRAN

Pedagang

souvenir terkadang dagangannya tidak laku sama sekali. Penghasilan

yang tidak tetap tersebut bukan halangan bagi penjual souvenir untuk

tetap menekuni usahanya.

Pengalaman sebagai pcnjual souvenir, scperti yang dituturkan

oleh lbu Prapti (51 th), sebagai berikut:

"Saya bcrdagang scperti ini sudah scjak ta hu n 1976 sampai sckarang. Kalau hari sedang rama i dan pengunjung mu seu m banya k atau hari libur dagangan saya lumayan lak u. Akan tc tapi j ik a hari-hari biasa kaclang dapat uang kadang tidak. Bahkan sc lama scminggu daga ngan saya tidak laku sama sckali schingga tidak mendapat kan uang. Betjualan souvenir banyak suka dukanya. Sukanya jika pcngunjung ba n ya k maka dagangan nya pasti laku dan mcndapat keuntungan yang lumaya n. Dukanya jika ticl ak ada pengunj ung atau sepi, sama sekali tidak memperoleh uang. amun. pekerjaan ini tctap saya tekuni karena dcngan berdagang seperti ini saya bi sa membantu orang rumah menyekolahkan kedua anak saya. Yang sulung sudah tamat SMA sedangkan anak kedua baru duduk di bangku SMA kelas II. "

Penjual souvenir biasanya mcmpunyai pekerjaan lain sebagai

petani. Kedua lapangan kerj a tersebut sa ling mcngisi dan mendukung.

Apabila hanya menekuni satu pcketjaan tidak bisa diandalkan untuk

mencukupui kebutuhn hidup. Lebih lanjut lbu Prapti (51 th) membagi

pengalamannya sebagai beri kut:

"Saya clan suami sa ling bergantian da lam pembagian tu gas antara di sawah dan jualan souvenir. Kalau pagi saya ke sawah dan wa rung ditungguin suami saya. Sebaliknya siang hari saya ke wa ru ng semcntara suami saya melanjutkan peketjaa n di sawah. Apa bi la han ya mengandalkanjualan souvenir tidak meneukupi, begitu juga jika ha nya dari sawah saja. Keduanya sa ling menclukung. Apalagi untuk kegiatan di desa seperti sumbang-menyumbang, saya harus menyisihkan ua ng un tuk biaya lain-lain te rmasuk nyumbang".

Kaji an Sosia l Budaya Ekonomi Masyarakat Sa ngiran -

Pacitan.

3). Kaos Kaos sebagai souvenir bel urn digarap secara maksimal di Sangiran. Menantu Tanto souvenir cukup kreatif melihat peluang dengan cara menjual kaos untuk souvenir. Kaos bercirikan khas Sangiran bergambar tulang dan tengkorak manusia purba dijual di tokonya. Corak atau motif kaos bergambar tengkorak dan tulang manusia purba diambil dengan cara memotret barang yang dipajang di Museum Sangiran. Gambar hasil jepretan foto, dibawa ke pembuat kaos sekaligus tukang sablon untuk digarap. Hasil kreasinya merupakan souvenir khas Sangiran. Souvenir kaos hanya bisa diperoleh di galerinya, tidak dijual di lain toko dan kios. Harganya cukup terjangkau dan murah yaitu Rp.40.000,-. Namun, produksi kaos tersebut hanya kecil sehingga ukuran dan wamanya pun kurang beragam.

2. Perkampungan dan Keadaan Ternpat Tinggal Penduduk

Kawasan Sangiran memiliki topografi bergelombang, menyebab- kan penduduk memilih tanah-tanah datar sebagai lokasi pemukiman. Seiring dengan kebutuhan lokasi pemukiman yang makin besar, maka ada kecenderungan meratakan tanah sebagai perluasan area pemukiman. Kebanyakan setiap rumah mempunyai halaman yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman hias ataupun tanaman buah. Rumah sebagian besar tidak dibatasi pagar sebagai pembatas rumah. Keadaan rumah

122 -KAJI AN Sos JAL, B uDAYA, D AN EKONOMI MASYARAKAT Dl KAwASAN SITUS S ANG IRA N

yang tidak dibatasi pagar menunjukan sikap masyarakat yang suka bekerjasama atau gotong royong. Rumah penduduk pada umumnya menghadap ke jalan, baik jalan desa maupun perkampungan. Apabila lahan yang tersedia tidak memungkinkan menghadap ke jalan maka yang dilakukan adalah membuat jalan pertolongan atau gang antar rumah. Masyarakat membangun rumah khusus untuk ternak yang letaknya berdekatan dengan rumah tempat tinggalnya. Secara umum jenis tanaman yang terdapat di kawasan Situs Sangiran dapat dibedakan menjadi tanaman budidaya tahunan dan musiman. Jenis tanaman budidaya tahunan merupakan tanaman berkayu seperti lamtoro, angsana, akasia, johar, jati, kaliandra, bambu, dan mahoni. Secara ekologis tanaman keras ini mampu mengurangi erosi yang diakibatkan oleh turunnya hujan. Sedangkan tanaman tahunan yang dapat dijual buahnya antara lain sawo, jeruk, jambu mete, nangka, dan mangga yang biasanya ditanam di pekarangan rumah. Tanaman padi dilakukan dengan sistem tadah hujan sehingga hanya dilakukan setahun sekali. Selain menanam padi, dilakukan penanaman palawija ataupun ubi. Kondisi perkampungan yang terdiri dari kumpulan rumah tinggal warga merefleksikan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Semakin banyak penduduk yang memiliki rumah sendiri berarti sebagian kemapanan penduduk dalam kehidupan sehari-hari sudah terpenuhi. Hal ini dikarenakan rumah merupakan kebutuhan pokok manusia dalam menjalani kehidupannya. Disamping status kepemilikan, kondisi fisik rumah juga mencerminkan tingkat kesejahteraan penghuninya.

Kajian Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Sangiran — 123

Penduduk

No Keadaan Rumah Penduduk Krikilan Bukura n Jumlah Prosentase
I. Permanen 2 18 108 326 17,77%
2. Semi Pcrmanen 13 11 24 1,3 1%
3. Papan 585 381 966 52,64%
4. Bambu Sumber: Stati stik Kecamatan Kalij ambe, 2008 247 272 5 19 28,28%

Foto 39. Kondisi R umah dari Bambu

124 -KA.II AN S OS I AL, B UDAYA, DAN EKONOMI MASYARA KAT D l KAWASAN S ITUS S ANG IRAN

218 108 326 17,77%
2. 13 11 24 1,31%
3. Papan 585 381 966 52,64%
Bambu 247 272 519 28,28%
  1. Keadaan Keluarga Sejahtera dan Prase.iahtera
No Keadaan Keluarga Krikilan Bukuran Jumlah Prosentase
I. Kcluarga Prascjahtera 667 553 1220 66,49'%
2. Kcluarga Scjahtcra I 136 11 0 246 1 ~,4 1 " 1,,
3. Kcluarga Scjahtcra II -- 23g 72 3 10 -- 16,g9'%
4. Kcluarga Scjahtcra Ill 49 10 59 3.2 1%,
5. Kcluarga Scjahtcra Il l ' - - - -

-- Sumhcr: Stati stik Kcca matan Kalijambc. 200 X

Kemiskinan merupakan sa lah sa tu problem ya ng scnus di Sangiran. Konscp ke mi skinan absolut dipakai sebaga i tolok ukur- nya Kemiskina n absolut cli dasa rkan pacta kcbutuhan hid up clasar minimum (sand ang. pangan. dan pa pan) (Usman,2004: 12 9) dalam (Sulistyanto.B.,2 00R : 136). Di wi layah Kecamatan Kalijambe, tcrutama di Dcsa Buk11ran jumlah KK miskin scmcnjak ta hun 2007 sampai 2009 mcngalami peningkstan yang cuk up signifika n. Pacla tahun 2007, clari 724 KK, yang bcrstatus KK mi ski n ada 279 (38,53%). Pada tahun 2009, dari 770 KK, ya ng bcrstatus KK mi skin ada 569 {73,90%). Status pekcrjaan kepala keluarga mi skin adalah ta ni, buruh tani, buruh bangunan, dan buruh musiman. Kemi skinan yang dialami kepa la keluarga karen a pendidikan yang rcndah, menyempitn ya lapangan kc~ja yang ditawa rkan serta kond is i li ngkungan ya ng tidak mcnclukung. Di Dcsa Kri ki lan juml ah kc lu arga petani ada R75. Petani yang memiliki lah<1 n pertanian ada 57 5. scdangkan ya ng tidak memiliki ada 300. Kcpcmilikan lah an pertanian dari 575 keluarga pu n sempit, kurang dari I 0 il a. .Jumlah kcpala ke luarga misk in di Bukuran, tingkat pcndidikan cukup varia tif dari tid ::tk tamat S D. ta mat SD scclc rajat. S MP scdcrajat.

Kai ian <;," ial H11d m a lckonomt Ma,yarak

Keadaan Keluarga Jumlah Prosentase
1. Keluarga Prasejahtera 66,49%
2. Keluarga Sejahtera I 13,41%
3. Keluarga Sejahtera II 16,89%
4. Keluarga Sejahtera III 59 3,21%
5. Keluarga Sejahtera III +

SMU sederajat. Ada 71 kepala keluarga yang tidak tamat SO. Jumlah KK yang tamat SO dan sederajat ada 345. Sedangkan yang tamat SMP sederajat ada 128. Tamat SLTA sederajat ada 28 KK. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah untuk penanggulangan KK miskin di Oesa Bukuran, yaitu : alokasi raskin, JPS kesehatan, bantuan modal usaha, pendidikan dan pelatihan, dan kewirausahaan/pemhcrdayaan. Pada tahun 2008 ada bantuan pinjaman modal perikanan sebesar Rp. 10.000.000,- untuk dua desa yaitu Krikilan dan Kalimac

-· K A.ri;\N SosiAL, 81JDAYA, DAN EKONOM I MASYARAKAI Dl K AWASAN SITUS SANGIRAN

SUMBER DAYA SITUS SANGIRAN

A. Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Pcngctahuan masyarakat tentang fosil dan bcnda eagar budaya akan berpengaruhi pada sikap ya ng nant in ya akan ditcrapkan dalam peril aku. Pengetahu an, sik ap dan perilnku masyarakat Sangiran menga lami perk em- bangan. ya itu : scbclum keelatangan Koenigsvald, masa Kocni gsvalel, dan scsuelah masa Kocni gsvalel. Sebelum kcdatangan Koeni gsvald, masyarakat me nganggap fosil itu denga n istilah balung buto (tul ang raksasa). Fosil be rupa tulang-tulang ya ng bcsar yang banyak bermunc ul an eli lingkunga n alam sekitarn ya terkai t elengan mi tos yang berkembang di masyarakat mengenai keberadaan raksasa. Mitos raksasa yang terkait elcngan penamaan bcbcrapa elu sun eli kawasan Sa ngiran. Fosil atau balung buto bagi masyarakat mcrupakan hanya sckeelar mcmpunya i elaya magis yang mcnycmbuhkan, bcl um diketahui nil ai ckonomi s eli dalamnya. Pcneluduk San giran memil iki kc percayaan bahwa tulang raksasa yang tielak lain aelalah fos il hcwan atau manusia purba elapat menyembuhkan bc rbaga i penynki t. Selai n itu balu ng buto mcrup akan jimat kckcbalar 1 tubuh. Pengctahuan in i el ielasari atas kisah kc ku atan fi sik raja
R.~i

dewa. 1 s Kemagisan balung buto bagi masyarakat menjadikan tidak diganggu keberadaannya. Balung buto yang banyak bennunculan dan berserakan di berbagai tempat, antara lain di tepi sungai, lereng-lereng perbukitan dibiarkan begitu saja oleh masyarakat setempat. Balung Buto tersebut ketika ada proses alam, akan terpendam tanah kembali oleh erosi bukit yang berada di atasnya. Balung buto terselamatkan oleh kondisi alam Sangiran itu sendiri. Warga hanya berani mengambil benda keramat tersebut hanya terbatas untuk kepentingan penyembuhan. Balung buto dipercaya dapat menyembuhkan sakit panas, encok, bisul, disentri, pusing, sakit perut, sakit gigi, gatal-gatal, patah tulang, dan gigitan hewan berbisa. Disamping dapat menyembuhkan berbagai penyakit, diyakini dapat membantu proses kelahiran bayi. Dimanfaatkan pula sebagai jimat pengusir makhluk halus dan setan. Pada prinsipnya balung buto atau fosil dianggap sebagai jasad dari tulang raksasa yang dapat membantu kehidupan manusia. Dahulu di depan pintu masuk rumah seringkali digantungkan bungkusan kain putih yang berisi potongan balung buto, bunga melati, dan dupa (Sulistyanto, Bambang, 2003:.73) Kedatangan seorang paleotolog bemama von Koenigsvald membawa perubahan yang signifikan mengenai pengetahuan mereka tentang balung buto menjadi fosil yang temyata bernilai ekonomis. Pengetahuan mengenai kawasan situs Sangiran yang banyak mengandung fosil sudah mulai diketahui masyarakat setempat semenjak kedatangan Koenigsvald. Dalam rangka

18 Wawancara dengan Gunawan pada tanggal 10 April 2011 di Sangiran.

\28 -K A.IIA N S OS I A L, 8 U DAYA, DAN EKONOMI M ASYA RA K AT Dl K AWASAN SITUS S ANG IR A N

fosil yang scbanya k-ban yaknya, von Koenigsvald selama sepuluh tahun semenjak tahun 19 30 bertcmpat tingga l di Krikilan. Von Koenigsvald merekrut penduduk setempat khususnya Krikilan untuk mengumpulkan fosil. Dalam eksplo ras i ilmiah tcrsebut, sccara tidak langsung terjadi pembudayaan perilaku penduduk dalam bentuk pcncarian dan pengumpulan fo sil yang sebelumnya tidak tcrlintas di bcnak penduduk (Sulistyanto, Bambang, 2003:76). Kehadiran para peneliti di Sangiran membawa pcrubahan pengetahuan dalam memaknai fosil yang selanj utn ya memunculkan sik ap dan perilaku baru. Perilaku baru tersebut adalah bcrburu fo sil untuk mcndapatkan upah. Selama bekerja dengan von Koenigsvald, sccara tidak langsung mempcrolch pengetahuan baru tentang fosil ya ng asl i dan tidak, serta bcntuk-bentuk fosil apa saja yang laku keras da n dicari para pcminat fo sil. Pengalaman di lapangan mcngajarkan tehnik berburu fo sil dan ca ra melindungi sekaligus mengidentifikasikannya. Pengetahuan penduduk tcntang fosil selain karcna diajak untuk mencarinya juga dikarcnakanVon Koenigsvald memsosialisasikan tentang sejarah fosil el i Sangiran. Von Koeningswald memberi pemahaman baru bahwa fos il itu bukan tul ang raksasa, melainkan sisa tulang hewan atau manusia pu rba yang penting untuk scjarah manusia masa sekarang ini. Selain itu vo n Kocn igs vald j uga menga takan bahwa kawasan Sangiran menyimpan banyak scka li tul ang hcwan dan manusia purba yang jarang sekali dijumpai di tcmpat lain eli bclahan dunia. 1') Penduduk mencari fosil setclah huj an turun ka rc na tanah Kawasan Situs Sangiran yang mudah longsor dan tc rcrosi hujan mcmudahkan mc- nemukannya. Pcnduduk melakukan pcncarian fosi I untuk mempcrolch

19 Wawancara dcngan Budi Sa nco yo di Yogya~a rt a tangga l 15 Me t 20 II

Rclasi Ma,yarakat dan ~ um be r Daya S till' Sa ngiran--129

Upah yang diberikan berupa uang bagi penemuan fosil manusia, hewan, dan artefak lainnya. Besamya uang yang diterima penemu fosil beragam tergantungjenis fosil dan kelangkaanya. Namun, von Koenigsvald juga memberikan upah harian bagi pencari fosil sebesar 2 ketip sehari. Apabila berhasil menemukan fosil, akan diberi imbalan jasa antara 5 sampai 10 ketip tergantung jenis dan kelangkaannya. Nilai mata uang tersebut pada masanya cukup besar, berdasarkan penuturan Toto Marsono dalam (Bambang Sulistyanto, 2008:218) dikatakan bahwa: "Nilai uang 2 ketip pada masa itu, jika dibelikan beras akan mendapat empat kilo- gram, sedangkan harga sebutir telur 2,5 sen. I ketip nilainya sama dengan I 0 sen, dan I rupiah sama dengan I 0 ketip. Jika penduduk dapat menemukan untuk bledek (kapak batu) tuan Koenigsvald berani mengganti uang sebesar 5 rupiah. Pada waktu itu uang sebesar 5 rupiah sudah dapat dibelikan seekor lembu (sapi) besar. Tuan Koenigsvald mengharapkan penduduk dapat menemukan fosil tengkorak manusia purba, tetapi temuan tersebut sangat jarang diperoleh. Pernah pada suatu hari tahun 1936 ketika tuan Koenigsvald sedang berjalan-jalan di Desa Bapang, seorang penduduk tiba-tiba menyerahkan fosil tcmuannya. Setelah diperiksa tuan Koenigsvald kaget bercampur gembira, sebab temuan itu adalah bentuk fosil yang dicarinya, yaitu tengkorak manusia purba. Karena gembiranya tuan Koenigsvald setiap hari menyebar uang diperebutkan oleh anak-anak. Kepada pcnduduk yang dewasa diba- gi-bagikan rokok, merk mari kangen. Temuan fosil tengkorak dari Desa Bapang itu, katanya tengkorak manusia purba yang pertama kali ditemukan di Sangiran."

Masa von Koenigsvald menjadi tonggak perubahan drastis sikap dan perilaku penduduk Sangiran terhadap fosil sebagai warisan budaya di sekitamya. Perubahan besar dari nilai magis menjadi nilai ekonomis. Anak-anak masa generasi tersebut mengalami sosialisasi bahwa fosil identik dengan uang.

130 -KAJIAN SOSIAL, 8UDI\YA, DAN EKONOMI MASYARI\KAT Dl KAWASA N SITUS SANG IRAN

pasu b n Jc pang ke Indones ia, tenaga ilm11wa n atau pun peneliti yang berkebangsaan Bclanda ditari k pu la ng kcmbali kc Negara asalnya. Kondisi tersebut ikut mcmpengaruh i tcrhc nt in ya pcnclitian fosil di Sangiran. Sepeninggal von Kocni gsvald dari bt\ asan Sangiran, aktifitas pencarian fosi l terhenti. Pada tah un 1950, ada usahu dari pcnduduk setempat yang dahulu menjadi orang kepcrcayaan \ Oil Kocnigsva ld untuk memulai usaha pengumpulan fo si l. Toto Marsono, Kcpala Dcsa Krikilan, mengerahkan penduduknya untu k melak ukan pcncanan fosil. Warga ya ng berhasil menemukan fosil kemudia n diju al kepada To to Marsono. Kolcksi fosil yang terkumpul di rumah Toto Marsono ban yak sckali .JU mlahnya. Pada tahun 1960-an, von Koenigsvald scrin g bcrkunju ng kc ru mah Toto Marsono untuk membeli fosil. Demikian j uga pcncliti as ing ban yak mclakukam transaksi jual beli fo sil dengan Toto Marsono (Su li styanto, Bambang, 2003:78). Penduduk dalam melakukan pencarian fo sil berbckal tas ran!>cl dan sebatang pipa besi yang diruncingi uju1 1gnya. Lereng-krcng bu kit, pcmatang sawah dan di sepanjang tepi sungai serta lokasi yang dipa ndang menga ndung fosil mercka tclusuri. Perburuan fos il dil ak ukan sctclah hujan turun karcna air hujan akan menyebabkan erosi buki r-bu ki t yan g akan mcmu nculkan fos il. Tanah yang diduga mengandung fosi l, di deteksi dcngan cara mcnusukan pipa besi yang runcing ujungnya. '" Keberadaan Museum Sangira n pada ta hu n 1988 mcmbawa da mpa k bagi kcmajuan masyarakat untuk dapa l berintcraksi dcngan pcn gunjung museum. Keberadaan Museum Sangiran memuncu lk an home industri berupa kcrajinan batuan yang dij ual kcpada wi satawan. Ada nya lapan ga n

20 Wawancara denga n Gunm;, an di Sangir,tnlanggal I ~ \pri l 2011

Rcla >J !VIasy

Penduduk ada yang menjadi pencari fosil sekaligus tengkulak. Mereka menawarkan souvenir hasil kerajinan sekaligus menjual fosil kepada wisatawan. Setiap hari, para pencari fosil sekaligus tengkulak mangkal di kios-kios souvenir yang terletak di depan Museum Sangiran. Dalam melakukan pendekatan dengan wisatawan, para tengkulak ikut membantu sau- daranya berjualan souvenir dengan menawarkan benda kerajinan. Wisatawan yang menjadi targetnya biasanya yang berasal dari luar negeri. Turis asing yang berkunjung diamati, kemudian ditawari souvenir sambil menawarkan jasa mengantar ke lokasi ditemukannya fosil. Apabila turis sudah tertarik, dilanjutkan dengan upaya penjualan koleksi fosil. Turis yang tertarik kemudian disodorkan foto koleksi fosil. Kesepakatan lebih lanjut mengenai harga dan barang tidak dilakukan di tempat tersebut. Tcngkulak dan turis membuat kesepakatan tempat yang aman untuk transaksi. Kadangkala transaksi dilakukan di hotel (tempat penginapan) ataupun tempat aman yang ditunjuk oleh turis tersebut. Tengkulak dengan membawa fosil yang dikehendaki turis mendatangi tempat yang disepakati untuk bertransaksi. Turis asing yang pernah melakukan transaksi dengan tengkulak, apabila mcnginginkan fosil lagi biasanya langsung mendatangi rumah tengkulak atau pencari fosil. Sebelumnya dalam memesan fosil terlebih dahulu melakukan kontak dan kesepakatan terlebih dahulu. Komunikasi hand phone memudahkan saling berhubungan dengan cepat. Kasus tertangkapnya dua turis asing adsal Thailand yang sedang melakukan transaksi dua fosil badak di rumah seorang penduduk Krikilan (Kompas, 23 Oktober 1993). Penduduk lebih banyak diam daripada memberikan informasi mengenai adanya transaksi perjualbelian fosil. Sifat apatis penduduk yang tidak mau

132 -KAJIA N SosJAL, BuDAY/\, DA N EKONOM J MASYARAKAT DJ K AWASAN SiTUS SANGJRA N

Penduduk penemu fosil lebih suka menjual kepada para tengkulak daripada menyerahkannya kepada pemerintah dalam hal ini pihak Museum Sangiran. Keengganan menyerahkan ke museum karena besar uang imbalan lebih kecil daripada kalau dijual kepada tengkulak. Di samping itu proses mendapatkan imbalan lama melalui penyelidikan atau tahapan. Penduduk kemudian menjual ke tengkulak yang harganya lebih tinggi dan Jangsung mendapatkan uang. Pengetahuan masyarakat Sangiran tentang arti penting Benda Cagar Budaya cukup positif. Masyarakat beranggapan bahwa Benda Cagar Budaya sangat berguna dan perlu dilindungi. Pengetahuan masyarakat mengenai peraturan atau Undang-Undang Benda Cagar Budaya cukup positif. Masyarakat menyatakan pernah mendengar peraturan mengenai Undang-Undang RI No.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, namun ada juga yang belum pernah mendengar. Mendengar undang-undang benda eagar budaya disamping karena pernah ada sosialisasi, di jalan sudah ada papan peringatan tentang adanya sanksi yang akan diterima jika menggelapkan fosil. Hal tersebut disampaikan informan berikut ini:

Relasi Masyarakat dan Sumber Daya Situs Sangiran -

tabu, karena di jalan itu sudah ada papan nama peringatan tentang benda eagar budaya beserta sanksinya. Disamping itu juga sudah pem ah dikumpulkan untuk diberi tahu tentang hal tersebut." 21

______, __, ·---- ---------- ---· -·-·-----

-----

---·--

·--F-

-----·--._ __ .-.--·-----

-·-- ---..--- ----

Foto 40. Papan Informasi tentang UU No. 1! Tahun 2010

Hal senada diutarakan aparat pemerintah desa setempat, bahwa pengetahuan masyarakat Sangiran tentang Cagar Budaya Sangiran sudah ada. Namun, sebatas fosil itu benda eagar budaya dan apabila diperjualbelikan dikenakan hukuman. Sepanjang pengetahuan masyarakat, yang diketahui hanya cakupan luasnya yang berkisar 56 hektar. Pemerintah dalam hal ini museum dan desa sering melakukan sosialisasi tentang Benda Cagar Budaya. Pemerintah desa menginstruksikan kepada seluruh warga yang menemukan fosil agar segera melaporkan. Masyarakat mulai sadar bahwa fosil me- rupakan benda yang dilindungi undang-undang, bagi yang menemukan segera melaporkan ke desa. Pihak desa setempat kemudian melapor ke pihak museum. Pengetahuan warga tentang eagar budaya seperti yang dituturkan informan berikut ini :

2 1 Wawancara dengan Widodo pada tanggal 19 Juni 20 II di Kalijambe.

134 -KAJI AN SOSIA L, B UDAYA, DAN EKONO MI M ASYARA ' AT Dl KAWASAN SITUS SANG IRAN

warga Desa Krikilan itu SDM-nya menengah kebawah mak a j ika dit- an ya mengenai batas- batas wi layah eagar budaya sedetil mu ngkin j uga belum ta u, tetapi yang jclas balm a v. ilayah eagar budaya itu cukup luas bcrkisar 56 ha lah an. Namun, dcngan adanya so~ i al i sa si baik dari pemerintah maupu n desa sudah scrin g dilakukan bahkan terus-me n eru~ di in struk sikan siapa saja wa rga ya ng menemukan fosil harus ~ egcra mclaporkan itu sudah dilakukan. Masyarakat mulai sadar bahwa l"osil enta il >e ngaja ataupun tida k scngaja harus segera dilaporkan ke desa yang kemudian dit indakl anju ti oleh dc'a un tuk la por ke museum. Dala m ha l ini clesa mem punyai kcwaji ba n ka lau ada warga ya ng mcnem uk an be ncla purbakala harus segera lapo1. l u1na y;mg disa yangkan ke rj asama warga dengan pihak mu seum tid ak imb;~n g.. .,.

Tokoh ma!-,yarakat mcnyayangkan pihak pemerintah ti dak menjelaskan secara dctai I kc pada penduduk daerah ma na yang terlarang (zona inti) dan dacrah mana yang bebas uari larangan (zo na pcnyangga dan zona pengembangan) Pcmerintah dalam hal pihak Balai Pclcstarian Situs Manusia Purba ';:mgiran me1T1buat zonasi kawasan Situs Sang iran yang terdiri dari ti ga zona yaitu Zona I ( inti) ya ng merupakan perlinclunga n mutlak; Zona II (pcn yangga) scbagai pcrlindunga n tc rbatas; Zona III (pc- ngcmbanga n) mcrupakan area yang clapat difungsik an untuk mendukung kcgiatan pelestarian dan pengembangan (kepariwisataan) ( Li hat Lampi ran

4). Pcmbagian uacrah (pemintakaton) tcrscbut tidak hanya mcmbingun gkan penduduk tetapi juga membuat resah. Hal tcrsebut dikemukakan oieh Kepal a Desa Krikilan sebaga i berikut: " Di ~ ini b;~nya k isu yang berk cmbang berkaitan clengan pelarangan peman faatan lahan lanah. Ke nyataan ini men imbulkan keresahan penduduk. ada kek hawa tiran. P e mba n gu n;~n mcnara pan clang dan mcnara te lk omscl yang menimbulk an kon Ai k. mcnjacl ik an penducl uk marah. takut. clan sckaligus bingung bagaima na m e manf<~ at kan lahan tanah mereka." 22 /hid
Rcl asi Masyarakal uan Sum her Day a Situ' Sa ng iran-13 5

ment'rima informasi tentang undang-undang benda eagar budaya dari berbagai maeam sumber. Sumber informasi mengenai pentingnya benda eagar budaya berasal dari media massa elektronik. Terlebih pada waktu adanya pC'mberitaan mengenai penjualan fosil yang mengkaitkan adanya orang asing sebagai pembelinya. Namun, media massa eetak meskipun sudah banyak mcngekspos permasalahan tersebut kurang memberi pemahaman bagi penduduk Sangiran. Penduduk Sangiran karena berkaitan dengan profesi, tingkat pendidikan, dan penghasilan kurang merespon media massa eetak. Dalam memahami isi media mas~a eetak diperlukan kemampuan imagenasi dan atensi yang eukup (focused rPader) dan hal ini tidak bisa dilakukan oleh masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah (Assegaff, 1982:27). Di~amping itu rendahnya taraf hidup masyarakat juga menjadi faktor utama untuk menjadi pelanggan media massa eetak. Manfaat surat kabar kurang begitu dirasakan sebagai media untuk mengetahui mengenai undang-undang benda eagar budaya ataupun benda warisan budaya. Penyuluh8n dan penerangan eukup memberikan informasi bagi masyarakat, meskipun seeara gamblang masyarakat belum paham mengenai peraturan benda eagar budaya. Pada dasarnya masyarakat Sangiran memang mcngctahui bahwa fosil yang berada di daerahnya merupakan benda yang penting dan dilindungi oleh pemerintah. Pemerintah melakukan sosialisasi dengan menghadirkan pakar dan elemen masyarakat. Sebagai eontoh pada Sosialisasi dan Penyebaran lnformasi Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran yang digelar di pcndopo penginapan Gardu Pandang Sangiran, pada Selasa 23 September 20 I 0. Menghadirkan dosen Fakultas llmu Budaya Universitas Gadjah Mada

136 -K A.II AN Sosli\ 1", B u LJ AYA, DA N EKONOMI M AS YA RAK AT 01 KAWASAN SITU S SANGIRAN

(LP2MD). Pemberitaan di media massa elektronik yang eukup genear ketika adanya permasalahan mengenai peneurian dan jual-beli fosil serta sosialisasi yang pernah di lakukan oleh pemerintah, eukup efektif menyampaikan pengetahuan ten tang benda eagar budaya kepada masyarakat Sangiran. Pengetahuan masyarakat tentang benda eagar budaya Situs Sangiran sudah eukup baik dalam arti terbatas pada makna penting dan sanksi hukum pelanggaran. Sikap menurut B erkowitz (1 972 :54) adalah suatu respon evaluatifyang memberikan kesi mpulan nilai terhadap stimulus dalam bentuk positif atau negatif, baik atau buruk, suka atau tidak suka yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap obyek. Dengan demikian, respon sikap yang dieerminkan dalam bentuk tindakan atau perilaku sebenarnya telah didasari oleh evaluasi dalam diri individu. Polak ( 1979:96) mengatakan bahwa suatu pendapat seseorang belum tentu sesuai benar dengan sikap dan perilaku yang sesungguhnya. Hal itu disebabkan antara opinion dan attitude adalah berbeda, tetapi dengan menanyakan pendapat, orang dapat meraba sikap. Sikap dan perilaku masyarakat Desa Krikilan masih rendah dalam memperlakukan benda eagar budaya Sangiran. Ketika ditanyakan pendapat merekajika menemukan fosil, kebanyakan informan menjawab diserahkan ke museum. Hanya sedikit yang memberi jawaban akan menjual, memberitahu teman, dan menyimpannya. Jawaban infonnan ketika mengetahui adanya pelanggaran eukup menarik karena sebagian menjawab diam saja. Apabila ada pelanggaran yang d.lakukan oleh tetangganya, penduduk yang lain memilih diam saja. Berdasarkan penuturan informan berikut ini:

Relasi Masyarakat dan Sumbcr Daya S itus Sangiran-13 7

tahu kalau fosil itu dilarang. Tetangga saya ada yang menemukan fosil dan rnenyimpannya. Saya tahu, tapi ya saya diam saja. Khan itu tetangga saya, tidak cnak. Disamping itu wong dia juga hanya nemu tidak meneari. Dia khan juga perlu hidur untuk makan. Kalau mcnyimpan kh<1n sudah tahu akibatnya."' 3

Sikap diam saJa merupakan cermman ketidakpedulian atau acuh tak acuh. Namun, ada juga yang peduli dengan menjawab akan melapor ke museum, seperti yang dituturkan oleh informan berikut ini: "Saya sudah mengetahui sanksinya. ltu pernah ada yang berurusan dengan polisi, pemilik souvenir yang menjual fosil. Kalau saya pribadi ya takut kalau diadili, mending kalau mencmukan saya laporkan dan serahkan saja. Aman bagi saya dan keluarga." 2"

Adanya dua sikap dan perilaku yang acuh tak acuh dan melaporkan ke museum ketika dikonflm1asikan ke pihak museum, menurut informan sebagai berikut: ''Masyarakat warga Krikilan memang sudah menyerahkan fosil temuannya ke museum, namun terkadang fosil yang diserahkan terscbut sebagian besar hanya berupa fragmcn sedangkan fo sil yang utuh cenderung untuk disimpan yang pada akhirnya akan dijual kepada mercka yang membutuhkan. Kepada wisatawan asing yang ber- minat. "

Kasus mengenai jual-beli fosil di Sangiran sudah senng terjadi dan pelakunya berhasil ditangkap. Tengkulak adalah otak dari keseluruhan sistem transaksi fosil di Sangiran. Dari beberapa kasus jual-beli fosil yang terjadi memperlihatkan tengkulak adalah pemilik toko souvenir. Menurut Bambang Sulistyanto (2008:223) berdasarkan wawancara dengan beberapa informan discbutkan:

23 W:nvancara dcngan Bibit pada tanggal 21 Juni 2011 eli Krikilan 24 \';nvnn cara dcngan Budi pacta lan ggal 2 1 .lun i 20 II di Krikilan.

138 -K A JI AN SostAL, 8tJDAY", DAN EKoNOMI M 1\ SYA RAKAT Dl KAWAS A N Strus SANGIRAN

semua pedagang fosil mcmpun yai jaringan khusus untuk memasarkannya. Antara satu tcngkulak dengan tengk ulak lain j uga tidak ada suatu ikatan yang tcrk-oordinas. Mcreka bctjalan sendiri -scndiri, ba ik dalam pcncarian fosil maupun pcncarian pembcli. Diakui masalah pcm inat fo si l tcrscbut, ada bcbcrapa tengkulak yang sudah menjalin hubungan dcngan bebcrapa oran g asing scpcrti misalnya Jcpang, Australia, Jerman, Amcrika. Akan mcngadakan kontak mclalui tclpon bcscrta foto- foto jika mcncmukan fosil yang dikehendaki. Di da lam ncgcri scndiri, biasanya mcrcka sudah memi li ki hubungan dcngan para kol cktor atau tok o-toko bcnda antik di Bali atau kota-kota bcsar lainnya scpcrt i Jakarta, Surabaya, Scmarang, dan Yogyakarta."

Jaringan sampai ke Yogyakarta diperlihatkan dalam kasus yang pernah dimuat dalam Suara Karya (2 Desember 1993,VI). Pada tanggal 3 Nopember 1993, dua petugas Kantor Ditjen Bea Cukai DIY bcrhasil menggagalkan penyelundupan 42 fo sil berasal dari Sangiran, ya ng akan dikirimkan kc Washington, Amerika Serikat olch Ryt, pemilik sa lah satu art shop di Yogyakarta. Tetjadinya jual-beli fosil ternyata j uga dil ak uk an oleh peneliti atau ilmuwan. Profesi peneliti dan ilmuwan memiliki pcluang untuk memperoleh fosil secara tidak resmi dengan melakukan pendekatan kcpada penduduk pcncari fosil. Peneliti sudah mengenal dcngan pcnduduk pencari fosil di Sangiran. Pada tahun 1993, seorang pencliti Dr.Donald E.Tyler melakukan pembelian fosil. Berdasarkan berita dalam Kompas (22 Oktober 1993) dikatakan : "Akhir bulan September 199 3, Sugimin, pcnduduk Dusun Grogolan kctika scdang mcngcpras bukit untuk pcndirian ru mah, tiba-tiba mcncmukan scbuah fosil tcngko- rak manusia purba. Fosil itu kcmudian diminta olch Sukiman untuk dijual kcpada Subur scorang tcngkulak di Dcsa Krikilan. Melihat tcmuan itu S ubur terkcjut dan langsung mcnawarnya Rp.425.000. Sclang bcbcrapa hari kcmudi an Subur mcnjual- nya kepada Dr.Donald E.Ty lcr, yang kcbctulan bcrsama asistcnn ya lr.Bambang Pri-

Rcl as i Masyarakat dan Sumbcr Da ya S itus Sa ngiran -

Rp.3.800.000. Bcberapa hari kemudian pada tanggal 9 Oktober 1993, ahli antropologi fisik dari Universitas Idaho Amerika itu mempresentasikan fosil tersebut di Hotel Ambnrukmo, Yogyakata. Sekaligus memproklamirkan fosil itu sebagai temuannya rlalam suatu penelitian di Sangiran."

Pada tahun 1998, ditemukan fosil rahang gajah oleh penduduk

Kertosobo. Penemu merasa itu haknya karena berada di laban miliknya.

Mereka beranggapan mencari fosil seperti mencari sumber daya alam lainnya

di Sangiran, apalagi ditemubn di lad<111gnya sendiri. Nilai ekonomis fosil

yang tinggi menjadi daya tarik penduduk untuk menjualnya. Kejadian tersebut

dipaparkan dalam Bambang Sulistyanto (2008:227) sebagai berikut:

"Slamet, penduduk Kertosobo sedang mengc1jakan ladangnya, tiba-tiba cangkulnya menyentuh scbuah bcnda kcras. Setclah bcnda itu dibongkar ternyata scbuah fosil. Tcmuan itu tidak segera diambil, melainkan justru dipendam lagi dengan maksud supaya tidak kclihatan orang. Pada malam harinya, Slamet bersama Amat Puri mem- bongkar temuan tadi dan membawanya pulang dengan cara memasukkannya ke dalam kcranjang yang ditutupi rumput. Bcrita pcncmuan itu sampai kepada petugas kcamanan Situs Sangiran. Sukamto, petugas keamanan Situs Sangiran segera melakukan pe lacakan dengan menyamar sebagai tengkulak yang akan membeli fosil tcrscbut. Mclihat kcseriusan Sukamto, Slamet tertarik dan menjelaskan yang sebe- narnya kalau fosil itu sekarang masih disimpan di tempat yang aman (ditanam di dapur). Sudah banyak tengkulak d<1ri Desa Krikilan yang menawar dengan harga yang lebih tinggi. Sukamto setclah mcndapat infonnsi tersebut, kemudian melapor kc Polsck setempat. Pada tanggal 16 Januari 1998, petugas kepolisian setempat mendatangi rumah Slamet dan Amat Puri tetapi keduanya tidak ada. Pada tanggal 18 Januari 1998 didatangi lagi tetapi tidak ketemu. lstri Slamet kemudian menyerahkan fosil sebesar topi yang kondisinya rusak, namun tidak diterima karena pihak Polsek tidak percaya. Tanggal 19 Januari 1998, keduanya bisa ditemui dan dipaksa menyerahkan fosil. Slamet ketakutan dan kemudian menyerahkan fosil temuan berupa rClhang gajah. Temuan sekarang mcnjndi kolcksi Museum Sangiran."

140 - -K tdi/\N S n SI/\ L. Bun,\Y,. DAN EKONOMI M AS YARAKAT Dl MWAS/\N SITU S SANC;IR/\N

tahun 2010, Polsek Kalijambe berhasil membongkar kasus jual beli fosil. Pemerintah berhasil menyita kurang lebih 3000 fosil dari Dennis Badrey Davis asal Amerika Serikat. Fosil tersebut terdiri dari 1.558 fosil berbagai jenis, tiga karung fragmen fosil, dan 1.406 kilogram fosil kayu. Fosil tersebut disita di sebuah rumah wilayah Bantul, Yogyakarta. Fosil tersebut dibeli dari Wasimin, tengkulak dari Desa Krikilan, sebesar 58 juta rupiah. Dennis Badrey Davis merupakan pebisnis, yang rencananya fosil tersebut akan dijual kembali di Amerika Serikat. Nilai ekonomis yang tinggi dari fosil. Di samping ada jual-beli fosil, sebagian penduduk Sangiran mempunyai keahlian menggabungkan serpihan fosil dengan bahan lain yang kesemuanya dikatakan sebagai fosil. Hal ini diperjualbelikan kepada wisatawan dengan mengatakan sebagai fosil.

Foto 41. Serpihan Fosil Yang Sudah Dimodifikasi

Relasi Masyarakat dan Sumber Daya Situs Sangiran -

Pennasalahan terkait dengan penduduk di dalamnya tidak bisa dihindari. Masyarakat Sangiran mengklaim keberadaannya lebih dulu dibandingkan berdirinya Museum Sangiran. Harapan masyarakat dengan adanya situs di wilayahnya dapat menambah kesejahteraan masyarakat. Masyarakat berharap dengan adanya museum warga dapat memetik basil dari pengelolaan museum untuk kepentingan desa. Restribusi meskipun hanya sedikit bisa menambah kas desa sehingga desa menjadi maju dan makmur. Keberimbangan antara infrastruktur jalan dengan pembangunan museum tidak imbang sama sekali padahal ketika akan dibangun museum, desa ikut membantu mencarikan laban. A parat desa menyayangkan bahwa sampai sekarang belum ada aturan- aturan retribusi museum yang masuk ke kas desa, tetapi justru masuk ke pemerintah daerah. Kekecewaan masyarakat Desa Krikilan terkait dengan kecemburuan retribusi museum berujung pada kon:flik yang berkepanjangan. Warga Desa Krikilan berencana untuk membuat pintu gerbang baru bagi para wisatawan sebelum menuju pintu gerbang Museum Sangiran yang dibuat oleh pemerintah daetah setempat. B asil penarikan tiket direncanakan dikelola untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Namun, kenekadan tersebut baru sekedar wacana yang berhasil diredakan oleh aparat desa setempat. Hal ini seperti dituturkan Kepala Desa Krikilan berikut ini: " Warga Krikilan menginginkan ada retribusi ke museum yang masuk ke kas desa. A da rencana yang cukup nekad dari penduduk yang merasa tidak mendapat ke- un tungan apa-apa dari keberadaan museum. Penduduk sebenarn ya hanya berharap sebagian retribusi bisa masuk ke kas dcsa sehingga bisa untuk memajukan desa dan

142 -KAJIAN S osJAL, B uDAYA, DAN EKONOM I M ASYARAKAT D I KAwASAN S ITUS S AN GIRA N

pusat."

Hal lain yang membuat warga setempat merasa dirugikan dengan keberadaan Museum adalah infrastruktur dan sarana yang ada kurang mendapat perhatian pemerintah. Warga beranggapan setelah menjadi tujuan wisata intemasional, banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri menyebabkan kondisi jalan-jalan menjadi rusak parah. Kondisi jalan yang rusak belum mendapat perhatian dari pemerintah. Perbaikan jalan yang rusak diperbaiki oleh warga yang ditanggung secara swadaya dari urunan warga. Hasil perbaikan jalan pun tidak maksimal, hanya sekedar menutup lubang jalan dan bisa dilalui kendaraan. Menurut warga Krikilan, jalan yang menuju ke museum dianggap merugikan karena banyak warga yang merasa lahannya sedikit diganggu. Pembuatan jalan dianggap warga, banyak yang nerak tanduran sehingga merugikan tanpa ada kompensasi ganti rugi. Adanya pembangunan Museum Sangiran, tidak dipungkiri, ada sebagin masyarakat yang ikut merasakan dampaknya. Menurut penjelasan Kepala Desa Krikilan, ada beberapa warga yang bisa berjualan makanan, minuman, dan souvenir di area parkir. Di sam ping itu ada juga yang bekerja sebagai buruh bangunan dan penjaga malam. Namun, jumlahnya hanya sedi kit dibandingkan keseluruhan penduduk Desa Krikilan. Manfaat yang dirasakan tidak sebanding kerugian yang dirasakan oleh penduduk. Warga yang bermukim di situs Sangiran merasa berhak atas tanahnya namun tidak

Relasi Masyarakat dan Sumber Daya Situs Sangiran -143

Pendirian museum menu rut semen tara penduduk hanya menguntungkan sebagian kecil warga terutama keturunan Toto Marsono. Ada beberapa orang yang dij adikan pegawai museum. Keuntungan kecil lainnya menurut beberapa penduduk adalah bisa menjadi buruh bangunan dalam rangka pengembangan museum. Hal ini memang menjadi kebij akan pengembang museum yang merekrut tenaga kerj a setempat. Ada keinginan dari penduduk untuk merasakan dampak dari pembangun an museum dengan meningkatnya perekonomian mereka. Bagi penduduk so sial isasi tidak berguna yang penting bagaimana bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Seperti yang dituturkan informan berikut ini : " Kami ingin seperti warga P ra mbanan yang bisa hidup dari membuat suvenir area. D i Sangiran, suvenir yang diminati tentu saja yang ada kaita nnya dengan fosil. So- sia lisasi seperti ini terus untuk apa, hanya buang uang." 25

Penuturan senada dikatakan oleh infonnan selaku seorang aparat pemerintah desa sebagai berikut: " P enduduk sini khan ya perlu untuk hidup. K alau memang tidak boleh mengambil apa yang dipunyain ya, bagaimana bi sa hidup. Harusnya ada pemecahannya. ltu Borobudur dan Prambanan bisa mengandalkan souvenirnya, pemerintah ya haru s peka, agar bisa seperti di sana. Saya kira penduduk setuju." 26

25 Wawancara dengan Abdul Kholif, pada tanggal 12 Agustus di Pablengan. 26 Wawancara dengan Widodo pada tanggal di Kalij ambe.

144 -KAJ IAN SOS IAL, 8 U D AYA, DAN EKONOMI M ASYARAKAT D l K AWASAN S ITUS SANG IRAN

BPSMP baru-baru ini masih terjadi. Penyuluhan dari BPSMP kepada masyarakat mengenai Benda Cagar Budaya memang sudah beberapa kali dilakukan. Penyuluhan tersebut menyangkut masalah prosedur dan proses penggantian ganti rugi. Pihak museum sudah berkomitmen untuk memberikan penggantian uang dan penghargaan bagi masyarakat yang menemukan fosil dan menyerahkannya kepada pemerintah. Dengan komitmen ini, diharapkan masyarakat sekitar mulai sadar dan bekerja sama dengan pemerintah untuk menyerahkan fosil-fosil temuannya. Pemberian kompensasi tidak selalu sama. Fosil yang dihargai paling tinggi adalah fosil tengkorak manusia purba. Namun fo sil-fosil lain juga bisa dihargai tinggi dengan catatan fosil tersebut sangat langka, misalnya geraham harimau purba. Kebijakan BPSMP untuk menekan pencurian fosil, pihaknya mem- percepat imbal jasa bagi warga yang menyerahkan temuan fosil kepada museum. Kebijakan ini cukup berdampak pada warga namun masih harus terns difonnulasikan model pengelolaan bersama yang ideal bagi kedua pihak agar kepentingan kedua pihak terakomodasi. Namun, ternyata masih terj adi riak- riak kecil terkait penghargaan terhadap penemuan fosil oleh penduduk. Kejadian pada tanggal 19 Agustus 2011 membuktikan masih adanya ketidakpuasan warga penemu fosil terhadap penghargaan yang diberikan pemerintah. Sejumlah warga Desa Cangkol, Plupuh yang pada akhir bulan Juni 2011 menemukan fosil gajah purba, kecewa atas minimnya imbalan jasa yang mereka dapat dari penemuan fo sil tersebut. Warga membakar sertifikat penghargaan yang diberikan BPSMP Sangiran sebagai

Relasi Masyarakat dan Sumber Daya Situs Sangiran -

Solo Pos (28 Agustus

2011 ). Oarwi, selaku pen emu dan pembakar serti:fikat, berpendapat sebagai

berikut:

"Bagi saya, sertifikat itu tidak ada a1tin ya. Sebagaimana mereka (BPSMP) menilai temuan kami. Kamis lalu, tanggal 18 Agustus 20 II, saya diundang BPSMP untuk mengikuti upacara pemberian imbalan jasa di Sangiran. Saya diberi se1tifikat penghargaan dan imbalan uang 250 ribu rupiah. Saya menolak, bukannya saya nj arak meminta lebih. Tapi saya menuntut keadilan dan kejelasan. Fosil kepala gajah yang ditemukan di Kalijambe baru saja, diberi I 0 juta. Kenapa kami yang menemukan fosil hampir serupa hanya dihargai 250 ribu. Kami merasa tidak di hargai. Sertifikat penghargaan hanya diberikan kepada saya saja, padahal ada dua orang lainnya. Pros- es evakuas i fosil tersebut tidak mudah, lantaran medan berada di bibir jurang. Selain itu evakuasi j uga melibatkan sejumlah warga. Sebelum digali, kami menunggu fosil itu semalam suntuk agar tidak dicuri."

Foto 4 2. Pengambilan Fosil Gajah

(R epro. Soloraya Online, 22 Juni 20 II)

14 6 -K AJ IAN S OS I AL, B uDAYA, DAN EKONO MI M ASYARAKAT 01 KAwASAN SiTUS S ANG IRAN

Pembakaran Piagam dan Sertifikat (Repro. Soloraya Online, 22 Juni 20 II)

Namun demikian sebenamya ada beberapa penyuluhan BPSMP yang sudah ditaati oleh warga, yaitu apabila menemukan fosil jangan dilakukan evakuasi sendiri. Hal ini untuk menjaga jangan sampai fosil mengalami kerusaka n. Penemu diminta melaporkan, kemudian akan dilakukan evakuasi oleh para ahli di bidangnya. Namun, kenyataan di lapangan, penemu fosi l mengevakuasi sendiri. Kerusakan fosil apabila evakuasi dilakukan oleh ahlinya akan diminimalisir. Hal itu sudah dilakukan oleh Darwi dan kawan- kawan (Soloraya Online, 22 Juni 2011) ketika menemukan fosi l sebagai:

"Tiga warga B li mbing, Cangkol, Plupuh yakni Darwi (37),Wamo (50), Sutoyo (37), yang bemiat menggali tanah untuk menanam pohon pisang di areal tanah Jurang De- keng Rabu (22/6) dikejutkan dengan bongkahan besar yang diduga salah satu Fosil bagian kepala Gajah. Ketiga warga tersebut langsung melaporkan ke beberapa petu- gas setta pegawai Museum manusia purba Sangiran untuk mengecek apakah itu be- nar fosi l atau hanya batu biasa. Darwi salah satu diantara ketiga orang saat di temui wattawan mengatakan,pihaknya sebelum menemukan fosil itu bemiat ingin meng-

Relasi Masyarakat dan Sumber Daya Situs Sangiran -14 7

b

Ada himbauan dari aparat desa hendaknya diketahui oleh masyarakat bahwa keberadaan orang yang tinggal di Sangiran lebih dulu dibanding dengan keberadaan museum. M ereka mengharapkan undang- undang yang dirasa sangat merugikan warga hendaknya ditinjau kembali. Polemik yang sampai sekarang dianggap merugikan warga adalah ketidaknyamanan dicap sebagai " pencari" atau "pencuri" fosil. Menurut penuturan aparat pemerintah desa hal itu tidaklah benar, warga tidak ada yang berprofesi sebagai pencari fosi l, seperti yang dituturkannya berikut ini : " Ya ng menjadi polemik sampai sekarang adanya cap warga sini sebagai pencari fosi l. Tidak ada yang mencari fosil. Warga merasa mencangkul di ladang sendi ri kemudian menemukan batu yang ternyata dilarang oleh pemerintah. Perlu diketahui bahwa bongkahan batu tersebut sebagai bahan pokok untuk membuat souvenir yang menj ad i m atapencaharian pokok mereka, tetapi sering dipersalahkan, bahkan dicap mencari atau mencuri fosil. Mereka dianggap memindahkan batu fosil dan merusak fos il sehingga diancam dengan sangsi hukum. Yang menj adi pertanyaan kalau sampai berbenturan dengan hukum masyarakat yang susah, padahal itu sangat di perlu-ka n un tuk mencari makan karena mereka juga mencangkul ladang sendiri. Hal ini sering terjadi sehingga merasa dirugikan." 27

Konflik yang terj adi terkait dengan pemanfaatan sumber daya arkeologi yang ada di situs tersebut. Dalam pandangan pemerintah, Situs Sangiran merupakan wil ayah eagar budaya penghasil fosil yang keberadaannya sangat langka di dunia sehingga perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya.

27 Wawancara dcngan Widodo pada tanggal 19 J uni 20 II d i Kalijambe.

14 8 -KAJIAN SOSIAL, B U IJAYA, DA N E KONOMI M ASYARAKAT D l K AWASA N SITUS S ANG IRA N

Penduduk setempat sebagai anak cucunya berhak mendayagunakan untuk berbagai kepentingan hidupnya. Bagi pemerintah, fosil dan lingkungannya merupakan benda yang memiliki ni lai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang sangat tinggi, tetapi bagi penduduk fosil tidak bedanya dengan sumber daya alam lain seperti batu, kayu atau pasir yang memiliki nilai ekonomis sehingga menjadi objek pendukung mata pencaharian sehari-hari. Perbedaan pemaknaan ini merupakan salah satu faktor penyebab munculnya konflik yang berkepanjangan dan belum ditemukan solusinya hingga sekarang. Fosil Situs Sangiran sampai sekarang masih diburu oleh penduduk untuk dipe1jualbelikan sebagai matapencaharian tambahan (Drajad dan Mau1ana Ibrahim, 19()5: I). Permasa1ahan konflik Situs Sangiran semakin lama tidak semakin surut tetapi justru semakin berkembang setelah diberlakukannya Undang-Undang No.22 tahun 1999 yang telah disempumakan menjadi Undang-Undang No.3 2 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. lmplementasi Undang-Undang Otonomi Daerah telah memberikan berbagai perubahan dan pengaturan terhadap berbagai aspek kepemerintahan, termasuk bidang arkeologi sebagai bagian dari kebudayaan. Sebagaimana termaktub dalam pasal 11 ayat 2, pengelolaan sektor kebudayaan tidak lagi sepenuhnya diurus oleh pemerintah pusat, namun merupakan tanggung jawab daerah untuk melaksanakannya. Pengalihan kewenangan terhadap sistem pengelolaan kebudayaan, tem1asuk di dalamnya kepurbakalaan, merupakan peluang besar bagi pemerintah daerah untuk memanfaatkan sumber daya budaya tersebut sesuai dengan kepentingannya. Keinginan pemerintah daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di sektor kepariwisataan melalui warisan

Relasi Masyarakat dan Sumber Daya Situs Sangiran -

(2009:83) sebagai

berikut:

"Suatu pengalaman nyata tentang konftik yang terjadi di Sangiran terj adi di hadapan peneliti. Saat itu kami sedang berkunjung ke rumah salah seorang pengrajin Fosil. Kami duduk di teras rumahnya. Kami mengenal informan tersebut dari informan yang sebelumnya kami temui, yaitu pak Sb. K am i bertanya kepada pak Sb, siapa yang bi sa kami temui dari kelompok pengrajin. Pak Sb kemudian menyebutkan dua nama, yaitu A dan B. Oleh karena tempat tinggal A lebih dekat maka kami memu-tu skan untuk menemuinya terlebih dahulu. Kami diantar oleh Pak Sb ke sana. Lalu ia pamit karena harus pergi untuk mengurus dagangan batiknya. Sekitar 15 menit kami berbincang-bincang dengan A seputar profesinya menjadi pengrajin, tiba-tiba pak Sb dating lagi dan di sampingnya ada seseorang laki-laki. Pak Sb datang kern-bali ke rumah A hanya memberitahu bahwa B sudah diberitahubahwa kami akan ke sana. Tiba-tiba laki-laki di samping pak Sb berbicara dengan nada ketus dengan

150 -K A JI AN S OS IAL, B UDAYA, DAN EKONOM I M ASYARAKAT D l KAWASAN S ITUS S ANG IRAN

ini, "Kowe nek pancen lanang ayo jaguran siji-siji, ora mung nang mburi." Kami yang berada di sana hanya terdiam dan bertanya-tanya dalam hati,"Ada apa ini ? Apakah dipicu oleh kedatangan kami ?" Pertanyaan ini muncul karena sebelumnya Pak SB berccrita bahwa setclah kedatangan kami beberapa hari yang lalu, seorang wartawan tiba-tiba datang dan menanyakan apakah ada tcmuan baru kepada Pak Sb. Mungkin saat itu kami dikira akan membeli fosil. Pak Sb menanggapi dengan tenang perkataan orang tadi dan mcngajak untuk berbicara di tempat lain. Sambi! mcnancapkan gas motor, mcreka berdua pergi meninggalkan rumah informan kami. Masih dalam kondisi bertanya-tanya, tak lama kemudian dat- ing Pak Sb sambil membawa teman Pak C yang ia perkenalkan sebagai bendahara koperasi. Agar tidak penasaran, kami bertanya pada Pak Sb apa yang terjadi. Pak Sb menjelaskan dengan tenang dan singkat bahwa tidak ada apa-apa, itu hanya masalah dagangan. Kemudian ia berpamitan. Setelah Pak Sb pergi, Pak C bercerita pada kami bahwa tadi hampir terjadi perkelahian di tepi jurang antara Pak Sb dan orang yang tadi menantangnya. Untung ia lewat dan melerai. Mcnurutnya, pertcngkaran tadi berawal dari penjualan fosil yang dilakukan Pak Sb dengan harga di luar standar sebagaimana yang dijual oleh pedagang fosil yang lain.

Kasus konflik pembangunan menara pandang merupakan konflik

antara Pcmerintah Daerah Sragen dengan pihak Balai Arkeologi. Konflik

terbuka yang terjadi pada tahun 2003 ramai diberitakan di media massa.

Akar permasalahan terjadi karena perbedaan dalam memaknai Situs Sangiran

antara Pemerintah Daerah Sragen dengan Balai Arkeologi. Berdasarkan

Undang-Undang No.22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, dalam rangka pembangunan Situs Sangiran, pemerintah daerah merasa berhak membangun

menara pandang untuk kepentingan pengembangan kepariwisataan. Upaya pembangunan menara pandang tersebut ditentang Balai Arkeologi karena

lokasinya berada di zona inti Situs Sangiran. Zona inti menurut aturan harus terbebas dari bangunan permanen. Konflik antara keduanya, tidak melemahkan keinginan pemerintah daerah setempat untuk membangun

Relasi Masyarakat dan Sumber Daya Situs Sangiran -

Pandang berupa bangunan berlantai dua dengan infrastruktumya sampai sekarang masih berdiri.

Foto 44. Menara Pandang

Pad akhir tahun 2003, muncul konflik antara pihak pemerintah daerah dengan IAAI dan Balai Arkeologi Yogyakarta. Perbedaan pemanfaatan lahan di sebabkan kepentingan yang berbeda menimbulkan konflik. Pemerintah Daerah Karanganyar dalam rangka menata wilayahnya membutuhkan lahan TPA sampah. Daerah yang dipilih salah satunya di Dayu. Padahal Dayu termasuk dalam zona inti Situs sangiran yang dilindungi undang-undang. Dayu diduga mengandung banyak temuan fosil hewan dan alat-alat batu paleolitik (serpih). Konflik menemui titik temu dengan dibatalkannya rencana pembuangan TPA sampah. Pembatalan ini menimbulkan kekecewaan dari masyarakat Dayu seperti dituturkan oleh infonnan berikut ini: " Sebenamya semua masyarakat sudah setuju. Seandainya TPA sampah dibangun, akan ada lapangan pekerj aan baru yang bi sa meningkatkan ekonomi warga. Sampah

!52 -KAHAN Sos i AL, B uoAYA, DAN EKON OMI M ASYARAKAT 01 KAwASAN S IT US S ANGI RAN

mcnjadi pupuk atau makanan tcrnak. Ataupun pcnduduk mencari plas- tik atau bahan lainnya yang laku dijual. Ndak tahu maunya pcmcrintah kok malah ndak jadi. Saya kcccwa sckali. Harusnya Dayu bisa rama i. Pcnduduk bisa mencari tambahan pcnghasilan. " 2'

Pada pertengahan tahun 2004 terjadi konftik terkait pembangunan mcnara Telkomscl. In vestor merencanakan membangun menara atau pemancar saluran frekuensi Telkomsel di Dcsa Krikilan. Dalam pertemuan dcngan pcrangkat Desa Krikilan dan seluruh wakil warga dcsa setempat, disctujui pembangunan pemancar menara tersebut akan menempati lahan milik penduduk yang tcrletak I 00 meter di sebelah utara Museum Sangiran. Lahan kosong milik Sadiman penduduk Dcsa Krikilan dipilih karena berada pada titik ketinggian scsuai syarat bagi pcndirian menara pemancar. Dalam pcrtemuan antara pihak Tclkomsel dan warga Desa Krikilan disepakati, setiap warga yang rumahnya berada di sekitar menara mendapatkan uang kompcnsasi. Ada kurang lcbih 35 kepala keluarga, masing masing memperoleh uang seratus ribu rupiah scbagai tanda setuju pembangunan menara tcrsebut. Sesuai kesepakatan lahan tanah yang digunakan seluas 300 meter yang disewa selama 20 tahun dcngan besaran uang sewa sebesar Rp.6 7 .500.000,-, dan menyumbang untuk kas desa. Kesepakatan an tara warga, pcmerintah desa, dan pihak Telkomsel telah dipenuhi oleh pihak Tclkomscl. Kctika tanah sudah dipatok untuk dimulainya pembangunan menara, pihak pcmerintah dalam hal ini Museum Sangiran tidak menyetujuinya. Bangunan menara telkomsel terl alu dekat dengan museum sehingga me- ngurangi kcindahan pemandangan Mu seum Sangiran. Pihak Museum

2X /hid.

Rclasi 'VIasyarakat dan Sumbcr Daya Situs Sangiran -

Pihak Telkomsel akhirnya membatalkan rencana pembangunan menara di lokasi semula dan menggesernya ke arah utara 500 meter dari Museum Sangiran. Di lokasi baru, pihak Telkomsel hanya membangun menara semi permanen. Bangunan menara telkomsel dibangun lebih kecil dari rencana semula dan lahan tanah hanya disewa selama satu tahun sebesar Rp.5.000.000,-yang bisa diperpanjang sesuai situasi dan kondisi di kemudian hari. Kebijakan pemerintah yang tidak menyetujui pembangunan menara di lokasi awal, menimbulkan kekecewaan masyarakat. Masyarakat Desa Krikilan merasa dirugikan terhadap kebijakan tersebut. Kekesesalan masyarakat seperti diutarakan oleh informan berikut ini: "Menara telkomsel itu khan untuk kemajuan rakyat Krikilan. Saya tidak mengerti kcmauan pemerintah. Lahan dan tanahnya khan milik penduduk. Tanah itu pun su- dah turun-temurun, mcrupakan warisan orang tua. Kenapa harus dilarang. Menara itu khan untuk kepentingan semua penduduk. Masyarakat kccewa sekali, bahkan mclakukan demo di depan museum, namun dapat diredakan oleh tokoh masyarakat di sini schingga tidak jadi demo. Tapi kemudian ada dua warga Krikilan yang me- wakili untuk menemui pihak museum. Mengapa kok dilarang dibangun." c~

lnforman lain, yang menjabat sebagai aparat desa, mempunyat pendapat yang hampir sama tentang keberadaan menara telkomsel yang dianggap menguntungkan. Pendapat tersebut demikian: "Tower itu sangat penting sekali dan menguntungkan. Terutama untuk sinyal hand-phone karcna hape juga merupakan kebutuhan untuk sarana komunikasi dan ber- hubungan dengan orang lain. Tanpa adanya mini tower yang berdiri di situ warga masyarakat kesulitan untuk berkomunikasi, karena di situ tidak ada sinyal sama sekali. Kalau ada yang mengatakan bahwa di bawahnya ada situs kok didirikan

29 !hid.

154 -KAJIAN SoSIAL, B uDAY A, DAN EKoNOMI M ASYARAKAT 01 K AWASAN Snus S ·~N<, IRAN

tcrscbut han ya menguntungkan sepihak, sementara warga tidak dibcri jalan tcngah. Kalau scmua dilarang warga akan kcmbali mcnjadi orang yang tcrbclakang (primitif) bahkan mundur dan itu tidak diinginkan o lch wa rga masyarakat Dcsa Krikilan." '"

Sebagai daerah tujuan wtsata, masyarakat mcngingi nkan adanya perubahan atau peningkatan ekonomi. Namun kcnyataanya, warga bclum bisa merasakan adanya perubahan bagi kehidupannya. Daya dukung pari- wisata belum mencukupi untuk menarik minat wisatawan untuk menginap sementara. Wi satawan yang datang hanya sekedar mengunjungi bclum berkeinginan tinggal meskipun sudah tcrscdia penginapan. Pcnginapan ada dua yang diselenggarakan oleh pemerintah dan oleh warga send iri. Penginapan milik pemerintah adalah wisma Sangiran. Scdangkan yang diusahakan penduduk hanya menumpang di rumah pcnduduk, bel um dikelola sccara penuh sehingga manfaatnya kurang dirasakan penduduk. Wisatawan yang menginap di rumah penduduk hanya lah mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, biasanya dari jurusan ilmu budaya. Sebagai tujuan wisata kemudahan transportasi sa ngatlah mcnentukan jumlah kunjungan wisatawan. Sarana transportast tcrbatas, wisatawan ya ng datang kc Sangiran biasanya mengguna kan alat transportasi sendiri Jasa transportasi hanya diusahakan untuk mcngangkut penumpang penduduk setempat yang melakukan mobi litas dari dan kcluar Sangiran. Hal ini menjadikan usaha tranportasi belum mcmberikan keuntungan yang mcng- gembirakan bagi penduduk

30 !hid.

PENUTUP

Kawasan S itus Sangiran mcrupakan daerah yang mcngandung situs yang dihuni oleh penduduk. Hal ini menimbulkan bcnturan berbagai kcpcntingan di kawasan Sangiran. Ada tiga pihak yang saling berkepentingan di kawasan ini yaitu masyarakat sctempat, pemerintah daerah Sragen, dan BPSM P Sangiran. BPS M P Sangiran berkompcten untuk melestarikan situs. Pcmerintah Daerah Sragcn menjadikan tujuan wisata. Sedangkan masyarakat sebagai pcnghuni dan pemilik lahan berhak mempergunakan sesuai kcinginannya. Adanya ketiga kepen ti ngan tcrsebut pcrlu disinergikan sehingga tidak menimbulkan kcrugian atau kerusakan bagi Situs Sangiran Mclihat kondisi sosial, budaya, dan ckonomi masya rak at di kawasan Sangiran ada dua hal yang bisa dijadikan pegangan. Kondi si tersebut bisa mcnjadi daya dukung atau malah scbalikn ya bagi pclcsta rian situs. Aktivitas masyarakat yang bisa menjadi kendala untuk te1jadinya kerusa kan situs yairu pertanian, perkembangan pcnduduk, dan pcmukiman penduduk. Pada saat ini kawasan Sangiran sebagian bcsar relah dimanfaatkan untuk mcnunjang penghidupan penduduk yang sebagian besar adalah

Pcnutup-15 7

A pnbila intensifikasi pertanian dilaksanakan dengan mengubah status sawah tadah hujan menjadi sawah irigasi, konsekuensinya pemakaian lahan akan semakin intensif dan lingkungan tentu semakin rusak. Pembuatan saluran air Bapang yang bersumber dari Bendungan Bapang, dalam pengerjaannya sui it dipantau apabila ada temuan, hal ini jelas merusak situs. Perkembangan penduduk tanpa disertai peningkatan pendidikan pen- duduknya mempengaruhi kerusakan situs. Tingkat pendidikan penduduk Sangiran yang rendah dan mengingat kondisi pasar kerja yang sempit untuk lulusan pendidikan rendah menjadikan mencari altematiflain. Altematifyang dipilih biasanya berupa peluang yang ada di daerah tersebut yaitu fosil. Fosil menjadi komoditi untuk menunjang kelangsungan hidup kesehariannya. Hal ini menjadikan terjadinya penemuan fosil yang diperjual belikan dengan terselubung sebagai pengrajin atau pedagang souvenir. Aspek pemukiman penduduk terutama dari bangunan tern pat tinggalnya saat ini belum begitu mengkhawatirkan karena kebanyakan masih terbuat dari bambu dan papan. Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya dikhawatirkan menjadi bangunan batu. Perubahan akan memperbesar kerusakan situs. Ada kebiasaan penduduk yang menggali tanah di sekitar rumahnya dengan tujuan meratakan dan melebarkan pekarangan. Potensi pariwisata perlu mendapat daya dukung untuk semakin menarik minat wisatawan. Aktivitas masyarakat yang bisa dikembangkan untuk mendukung sektor pariwisata adalah kesenian, kerajinan, dan adat istiadatnya. Wisatawan ketika berkunjung ke Sangiran disamping mendapat pengetahuan juga perlu membawa oleh-oleh sebagai kenang--kenangan selain kerajinan batu. Atraksi kesenian setempat bisa menjadi hiburan yang membawa kesan menyenangkan bagi wisatawan. Adat istiadat juga dapat

158 -K A.IIAN SOSI A L, BUDAYA, DA N EKONOMI M AS) A I{i\K AT Dl K AWA SA N SiTUS S AN( dR.'\ N

1111 akan meningkatkan ekonomi penduduk setempat. Sikap yang tercermin dalam perilaku masyarakat Sangiran sekarang ini, dipengaruhi oleh minimnya informasi, citra buruk pemerintah menurut pandangan masyarakat, serta merebaknya industri kerajinan batu. Minimnya informasi tentang manfaat benda eagar budaya, baik dalam bentuk penyuluhan maupun informasi media menyebabkan minimnya apresiaSI masyarakat terhadap benda eagar budaya Sangiran. Rendahnya apresiasi masyarakat berakibat munculnya persepsi sendiri sesuai dengan kecende- rungan orientasinya yang pada umumnya dikaitkan dengan tambahan matapencaharian hidup. Citra pemerintah di mata masyarakat yang buruk menjadikan warga Sangiran semakin menipis kepedulian mereka terhadap nilai penting benda eagar budaya Sangiran. Citra buruk pemerintah terkait dengan pemberian ganti rugi. Pemberian ganti rugi menurut masyarakat tidak sepadan atau relatif kecil nilai nominal uangnya. Citra buruk pemerintah berpengaruh besar pada perilaku warga Sangiran dalam memperlakukan benda eagar budaya di lingkungannya. Kondisi tersebut dipicu munculnya beberapa industri kerajinan batu. Keberadaan industri kerajinan batu mulai ada sejak tahun 1980 di bawah pengawasan Dinas Perindustrian Kabupaten Sragen. Sebenamya tujuan dinas mengupayakan kerajinan batu ini adalah untuk menciptakan lapangan kerja dan menambah pendapatan a tau mensejahterakan masyarakat. Namun, sentra industri kerajinan batu ini dalam prakteknya ada yang dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu sebagai tempat atau kedok untuk mengeksploatasi benda eagar budaya Sangiran. Akibatnya ke- munculan sentra industri kerajinan batu seolah membuka cakrawala baru bagi sekelompok masyarakat Sangiran untuk melegalkan benda eagar

Pcnutup -

Perilaku perdagangan fosil terpacu seiring dengan keamanan situs Sangiran yang kurang memadai dan rendahnya taraf hidup masyarakat.

B. Saran

I. Perlu adanya kerjasama antar instansi mengenai Situs Sangiran untuk pelestarian, pemanfaatan, dan penelitiannya. Usaha pelestarian Situs Sangiran harus segera dilaksanakan agar kerusakan yang mungkin timbul dapat dikurangi.
2. Penyuluhan UU Benda Cagar Budaya perlu digalakkan, terutama pada generasi penerus di Sangiran.
3. Perlu dipikirkan usaha pendekatan pada masyarakat yang efi- sien, agar tradisi jual-beli fosil di Sangiran dapat dihilangkan. Implementasi pembebasan PBB di Situs ~angiran perlu dipikirkan dan dimasyarakatkan untuk memberi motivasi uang dalam ikut serta melestarikan Situs Sangiran.
4. Komunikasi merupakan kunci dari perubahan sikap dan pen- laku masyarakat. Masyarakat Desa Krikilan dan Bukuran yang sebagian besar petani yang berpendidikan rendah, maka komunikasi sehadap (penyuluhan) yang persuasive menjadi faktor penting yang perlu diintensifkan. Keberhasilan suatu komunikasi yang bertujuam untuk mengadakan perubahan sikap, antara lain sangat tergantung pada kredibilitas komunikator, daya tarik, dan kekuatan komunikator itu sendiri. Komunikasi sehadap yang dilakukan berulang-ulang kepada masyarakat Sangiran yang sikap
160 -KA.IIAN SosJAL, BuDAYA, DAN E: KoNOMI MASYA RA K AT 111 K AWASA N S1rus S A NGIRA N

Proses pengubahan sikap masyarakat memerlukan saluran komunikasi yang sesuai dcngan kondisi setempat. Media massa cetak dan elektronik, kcsenian, sckolah, LKMD, dan sebagainya yang tersedia dalam masyarakat bisa didayagunakan. Pesan yang disampaikan seorang komunikator baik secara persuasive maupun indoktrinasi tidak cukup hanya menyampaikan fakta, harus ada perimbangan dan contoh yang nyata dari pihak pengubah sikap.

  1. Perlu dicoba usaha rchabilitasi dan konscrvasi lahan agar kc- sejahteraan masyarakat meningkat dan mungkin dapat mcng- hentikan kerusakan Situs Sangiran oleh pcnduduk setempat.
  2. Terasering lahan bisa diterapkan untuk menanggulangi crosi dan dalam pclaksanaannya pcrlu penclitian lebih dahulu. Aprc- siasi masyarakat akan arti pentingnya Situs Sangiran perlu ditingkatkan, agar kcrusakan lahan olch pcnduduk dapat ditanggulangi.
  3. Penegakan hukum, keccpatan penanganan temuan, proses ganti rugi, maupun bcsarnya ganti rugi perlu-diefektifkan.
  4. Disamping itu bisa juga discdiakan suatu sistem perangsang yang dapat menarik perhatian masyarakat. Sistem perangsang itu bisa berupa hak kemudahan kcringanan pajak, pcngurusan K TP, atau pembcrian bea siswa sekolah bagi warga masyarakat yang
    l'cnutup-

  5. Pembelian tanah penduduk di kawasan situs Sangiran oleh pemerintah.
    162 -K A.II AN SOSI AL. 8 U IJi\YA. 11AN EKONOMI M ASYARA Ki\T Dl KAWASAN SITUS SA NG IR AN

PUSTAKA

AssegatT, H. Djafar, 1982 "Hubungan Media Dalam Kcgiatan Humas", dalam kumpulan tuli san Hu hungan Mas\ 'arakat Dalam Praktek, Jakarta: G hali a Indonesia. Aziz,F.Baba dan Narasaki,S., 1994 " Preliminary Report on Recent Discoveries of Fossil Hominids from the Sangiran Area,Jawa". J umal Ceologi dan Sumherdava Mineral, V (29). Azwar, S., 1988 Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Yogyakarta: L iberty. Berkowitz,L., 1972 Sosial Psycologi, Glenview Il l, Foresmen and Company. Bintarto, 1985 "Lingkungan Budaya Dalam Ekosistcm Kchidupan'', makalah dalam Ceramah di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yof::,~ 'akarta pada tanggal 13 Desemher. Yogyakarta: Fakultas Geografi,UGM.

Dal'tar Pustaka -

I 987 Kebudavaan dan Pembangunnn Sebuah Pendekatan Terhadap An- lropolagi Terapan di lndm?Psin, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Djubiantono, T.,et.al., 1983 "Umur Mutlak Endapan Pengandung Fosil Manusia Plio-Ples- tosen di Sangiran dan Perning (Jawa)", Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi !, Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Na- sional 1983. Dradjat, Hari Untoro, dan Ibrahim, Maulana, 1994/ 1995 Rancangan Pemintakatan Situs Sangiran. Departemen Pen- didikan dan Kcbudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Konservasi Candi Borobudur. Elfrida Anjarwati, 2009 Early man Civilization in Sangiran Dome: Kehidupan Manusia Purba Di Kubalt Sangiran. Sragen: Pemda Sragen dan BPSMP Sangiran. Kocntjaraningrat, 1981 Beherapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT.Dian Rakyat. Kumoro, H.S, 2000 "Pengolaan Situs Sangiran", KOMPAS. Latifah,Siti, 1995 Studi Erosi Permukaan Pada La han Kring di Perbukitan Kubah Sangiran Dengan menggunakan Plot Erosi. Tesis Program Pas- ca Sarjana UGM. Mo~;;lyadi dan Widiasmoro, 1978 Laporan Penyelidikan Geologi Daerah Sangiran Jawa Tengah. Yogyakarta: Bagian Teknik Ge0logi, Fakultas Teknik, UGM.

164 -KAJI/\ N SoSJA L, BuuAYA. UAN E KO NUvll 1\·t' SYA HAKAT Dl K AWt\ S/\N Sn us S AN G IR A N

S.John,
1981 "Fungsi Warisan Sebagai Pcmbentuk Sikap Terhadap Pemban- gunan". Dalam Ana/isis Kebudayaan, .Jakarta: Departemt>n Pendidikan dan Kebudayaan. Polak, Mayor, 1979 Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas, Jakarta : lchtiar Baru. Salmah, N., 2002 ''Gangguan Kelompok Masyarakat Terhadap Situs dan Benda Cagar Budaya di Situs Sangiran, Jawa Tengah ", Skripsi Sf, Jakarta: Un iversitas Indonesia, Fakultas llmu Budaya, Jurusan Arkcologi. Samidi, dkk, 1994/ 1995 Gagasan Pelestarian Lahan Situs Cogar Budaya Sangiran. Departemcn Pendidikan dan Kcbudayaan, Dircktorat .lenderal Kebudayaan, Proyek Konservasi Candi Borobudur. Sektiadi,dkk. 2009 Sangiran dan Tana To raja Sehagai World Heritage: Studi Ten- tang Pengelolaan Wa risan Budaya Be1perspekti( Kesejah!eraan Masvarakat. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada, Fakultas llmu Budaya. Soelaiman,M.Moenandar, 1986 1/mu Sosial Dasar Teori Konsep 1/mu Sosial. Bandung: PT.Eresco. Simanjuntak, H.T., 2005 "Sangiran Dalam Perspektif Penelitian ", Jurnal Arkeologi Indonesia No. 4 Agustus, Jakarta: lkatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Daftar Pustaka -I 65

Perilaku Masyarakat Terhadap Benda Cagar Budaya Sangiran : Studi Kasus di Desa Krikilan.Surakarta: Evaluasi Hasil Studi Teknis Pengembangan Cagar Budaya Sangiran.

2003 Balung Buto: Warisan Budaya Dunia Dalam PerspektV Masyarakat Sangiran, Jogjakarta: Kunci Ilmu.

2008 Resolusi Konflik Dalam Manajemen Warisan Budaya Situs Sangiran. Disertasi. Depok: Universitas Indonesia, Fakultas llmu Pengetahuan Budaya, Program Pasca Sarjana. Suradji, 1999 Potensi lndustri Kerajinan Dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Di Situs Manusia Purba Sangiran. Dinas Perindus- trian Kabupaten Sragen, Solo: Sarasehan Peningkatan Kepedu- lian Masyarakat Terhadap Situs Sangiran Sebagai Warisan Budaya Dunia. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1988 Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Widianto, Hary, 1986 "Posisi Stratigrafi dan Teknologi Alat Serpih Sangiran", Berkala Arkeologi VII(/). Yogyakarta: Balai Arkeologi.

2008 Pengelolaan Situs Sangiran: Menuju Konsep Pengembangan Secara KomprehensV dan Terpadu. Solo: Kumpulan Makalah Pertemuan llmiah Arkeologi XI.

166 -KtdiAN SOSIAL, BUDAYA, DAN EKONOMI MASYARAKAT Dl KAWASAN SITUS SANGIRAN

INFORMAN

No Nama Umur (th) Pendidikan Pekerjaan
l. Budi Sancoyo Sarjana BPSMP
2. Gunawan SMA BPSMP
3. Sardjoko 59 SMA Sekcam
4. Widodo 32 Sa1jana Lurah Desa
5. Sukiyo 54 SMA Sekdes
6. Sartono 37 SMA Sekdes
7. Supardi 44 STM Lurah Desa
8. Sri Amini 51 SD Pcdagang Souvenir
9. Sridati 45 SMP Pedagang Souvenir
10. Sutanto 57 SMP Pemilik Toko Souvenir
II. Prapti 51 SMP Pedagang Souvenir
12. Suwarno 53 SMP TU SMP I Kalij ambe
13. Wanti y _) SMP Pembatik
14. Asih 38 SD Pembatik
15. Dani 16 SMP Pembatik
16. Ngatini 44 TTSD Pcmbatik

Ala mat

Sangiran, Krikilan Sangiran.Krikilan Plupuh,Kalijambe Krikilan, Kalijambe Krikilan. Kalijambe Bapang, Bukuran Jctiskarangpung, Kalijambc Ngampon, Krikilan Krikilan, Kalijambe Ngampon. Krikilan Krikilan. Kalijambe Jetiskarangpung, kalijambc Ke11osobo. Bukuran Kertosobo. Bukuran Kertosobo, Bukuran Kertosobo. Bukuran

17. Sukamto SD Pembuat Roti Tarcis Ndangrejo, Bukuran

|1. Sancoyo||Sarjana|BPSMP|Sangiran, Krikilan| Gunawan|||BPSMP|Sangiran,Krikilan| Widodo|32|Sarjana|Lurah Supardi|44|STM||Jetiskarangpung, Kalijambe| Sutanto||||Ngampon, Krikilan| |11.Prapti||||Krikilan, Kalijambe| Kalijambe|| Pembatik|Kertosobo, Bukuran| |16.Ngatini|44|TTSD|Pembatik|| |17. Sukamto|51|SD|||

18. Murtinah 40 TTSO Buruh Tani /Bangunan Ngampon, Krikilan
19. Kustinah 60 TS Buruh tani /Bangunan Ngampon, Krikilan
20. Bibit 30 SMP Buruh Bangunan Ngampon, Krikilan
21. Budi 35 SMP Buruh Bangunan Ngampon, Kriki1an
22. Sutinah 32 so Buruh tani /Bangunan Ngampon, Krikilan
23. Mustafa 30 so Buruh Bangunan Cengk1ik, Bukuran
24. Chusnu1 45 SMA PNS Gandok, Krikilan
25. Baijah 67 TS Petani Gandok, Krikilan
26. Anik 26 SMA Buruh Konveksi Kalongba1i, Krikilan
27. Sumiyati 47 TTSO Buruh Konveksi Kalongbali, Krikilan
28. Yani 23 SMP Buruh Konveksi I Taprukan, Bukuran
29. Juminah 46 so Pengusaha Konveksi Kalongbali, Krikilan
30. Tukiyo 50 so Pengrajin Batu Sangiran, Krikilan
31. Juminah 40 TTSO Pengrajin Tempe Sangiran, Krikilan
32. Sahra 80 TS Pembuat Legondho Pablengan Wetan, Kriki1an
33. Bam bang 35 so Pengrajin Bathok Sendang, Bukuran
34. Tunggul 76 SR Penjaga Pe11apaan Krendowahono, Kalijambe
35. Wakiman 49 SMP Pengusaha Batik Pungsari, Plupuh, Kalijambe
36. Mul Tukiman 50 so Pengrajin Bathok Sendang, Bukuran
37. Samidi 46 so Petani Cengklik, Bukuran
38. Suwarti 57 TS Petani Cengklik, Bukuran I

z (/J [/; 0 > f" O:l c 0 > :;; 0 z >

7' tTl 0 z 0 3:: $: > [/; ~ ;o 7' > ?i c

~ [/) ~ z > (/J ::j [/; c (/J > z Cl; z

Buruh tani/Bangunan Ngampon, Krikilan
Ngampon, Krikilan
Buruh Bangunan Ngampon, Krikilan
Buruh tani/Bangunan Ngampon, Krikilan
Buruh Bangunan Cengklik, Bukuran Gandok, Krikilan Gandok, Krikilan
Buruh Konveksi Kalongbali, Krikilan
Buruh Konveksi Kalongbali, Krikilan
Buruh Konveksi Taprukan, Bukuran
Pengusaha Konveksi Kalongbali, Krikilan
Pengrajin Batu Sangiran, Krikilan
Pengrajin Tempe Sangiran, Krikilan
Pembuat Legondho Pablengan Wetan, Krikilan Sendang, Bukuran
Penjaga Pertapaan Krendowahono, Kalijambe
Pengusaha Batik Pungsari, Plupuh, Kalijambe
Pengrajin Bathok Sendang, Bukuran

LAMPIRAN

170-K A JI AN S OS IAL, B UDAYA, DAN EKONOMI M ASYARAKAT Dl KAWASAN SITUS S ANGlRAN

LaJtlpiral'-

----- -

  • to HI II QCIII!lfd
    Peta Geologi Daerah Sangiran Repro dari Azizet al, 1994

Lampiran -171

KAJ IAN S OS IAL, B UDAYA, DAN EKONOMI M ASYARAKAT Dl KAWASAN S ITUS SANGIRAN

K

\

I ' • I I I I aw ar a

aw ar a
I day S ran
I

I I

I

I \ \ I I I I I J I \

Lampiran -173

Peta Wilayah Kecamatan Kalij ambe

174 -K A JI AN S osi A L, B u DAYA, DAN EKON OMI M ASYARAKAT 0 1 K.AwASAN S ITUS S ANG IRAN

BUDAYA, DAN EKONOMI MASYARAKAT Dl KAWASAN SITUS SANGIRAN

itus Sangiran merupakan salah satu kunci untuk pemahaman evolusi manusia, budaya, dan lingkungannya. Situs ini melukiskan evolusi Homo Sapiens sejak

S zaman Pleistosen bawah hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk

mengungkap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di kawasan Situs Sangiran. Penelitian mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat terse but sangat penting guna meminimalisir penyebab terjadinya pengrusakan fosil. Kawasan Situs Sangiran menjadi dilema karena menjadi kawasan yang dihuni penduduk. Masyarakat selaku pemilik lahan yang di dalamnya terkandung situs. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif. Data diperoleh dengan wawancara yang didukung dengan pengamatan dan dari sumber pustaka. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa masih banyak terjadi kegiatan yang mengancam kelestarian situs. Konflik yang terkait dengan keberadaan situs Sangiran perlu ada pemecahan. Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan dengan cara penegakan hukum, tetapi harus menjadikan situs sebagai bagian kepentingan masyarakat yang perlu dilestarikan. Tindakan yang mengancam kelestarian fosil ada hubungannya dengan aktivitas ekonomi yang dilakukan masyarakat. Hal ini kepentingan ekonomi masyarakat perlu diberdayakan tanpa mengancam kelestarian fosil. Program pemberdayaan masyarakat dengan menyesuaikan kemampuan dan potensinya. Potensi kelompok petani dan petemak cukup besar. Masyarakat di wilayah Sangiran memiliki potensi yang kuat di sektor kerajinan yaitu batok kelapa, kayu, batik, batuan, dan makanan. Potensi adat dan tiadisi serta kesenian juga tersedia. Namun, potensi yang dimiliki masyarakat belum diberdayakan sehingga perlu dikembangkan dengan campur tangan pemerintah. Potensi tersebut bisa dikembangkan untuk menunjang pariwisata terkait dengan keberadaan Museum Sangiran. Pemberdayaan potensi masyarakat Sangiran akan membawa kemajuan kehidupan ekonominya yang selanjutnya akan mengurangi ancaman terhadap kelestarian situs Sangiran.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan