Baca PDF (OCR): Naskah lama daerah jawa timur kunjara karnna 2.tif

182 halaman · 182 halaman diproses dengan OCR· 170408 ms

Daftar isi
  1. 08.598 24
  2. NASKAH LAMA
  3. DAERAH JAWA TIMUR
  4. KUNJARA KARNNA
  5. Daftar isi.
  6. B. Keterangan gambar relief Kunjarakarna pada candi
  7. IV. Pewayangan
  8. jelas merupakan salinan dari naskah asli yang pasti lebih kuno,
  9. Atas dasar materi tersebut, maka:
  10. 1. KUNJARAKARNNA yang merupakan cerita propaganda
  11. KUNJARAKARNNA, prosa dan poesi (kakawin). Tetapi yang
  12. Adapun langgam bahasa KUNJARAKARNNA kakawin,
  13. naskah NIRARTHAPRAKRĚTA satu berkas dengan NĀGA-
  14. NIRARTHAPRAKRETA: ". ...... cěkakipun saé sangět, cětha,
  15. pada kata dasar"pasah" yang berarti "pisah"untuk menyatakan
  16. yang disimpulkan oleh Prof. Slametmuljono dalam bukunya ME-
  17. KUNJARAKARNNA adalah hasil ciptaan seseorang penganut
  18. Hal ini antara lain terlihat jelas pada relief KUNJARA-
  19. naan dengan candi Jago ini antara lain sebagai berikut: "Panjeně-
  20. Satu di antara corak-corak tertentu yang dimilikinya ialah
  21. pun suasana kehidupan yang terjalin erat dengan lingkungan alam
  22. alunan cerita-cerita yang mengandung unsur "pelepasan".
  23. juru bahasa di Surakarta bernama R.Ng. Djojopuspito.15)
  24. Bahwa KUNJARAKARNA adalah hasil ciptaan seorang
  25. (Siwa).
  26. Karena adanya semangat toleransi yang hidup dalam masa-
  27. rakat Jawa, maka mungkin saja seorang pengarang lakon wayang
  28. kan KUNJARAKARNA yang budistik itu dengan MAHABA-
  29. Demikianlah misalnya secara fisik "Pandawa Lima" dianggap
  30. pada AKU (yang kelima )18) dan secara mistik menggambarkan
  31. kan azas dan tujuan hidup("sangkan paraning dumadi"—Jawa).19)
  32. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia lebih kurang:
  33. ingarsanpun Sang Batara",25)
  34. Cakra Sudarsana (senjata Wisnu).. .").26)
  35. NS VS
  36. Dalam ikhtisar tersebut di atas dapat kita baca, bahwa me-
  37. Keidentikan Wairocana dengan Kresna dalam VS agaknya
  38. tambahan tokoh-tokoh yang tidak terdapat pada naskah aslinya,
  39. sampai akhir, yang semakin meningkat hingga memuncak pada
  40. nya menempuh kehidupan baru yang lebih sempurna. Segala
  41. baru dapat berhasil mengubah kehidupannya ke arah yang sem-
  42. setya budya pangekese dur angkara.30)
  43. Relief 1
  44. Relief 2
  45. Relief 3
  46. Relief 4
  47. Relief 5
  48. Relief 6
  49. Relief 7
  50. Relief 8
  51. Relief 9
  52. Relief 10
  53. Relief 11
  54. Relief 12
  55. Relief 13
  56. Relief 14
  57. Relief 15
  58. Relief 16
  59. Relief 17
  60. Relief 18
  61. Relief 19
  62. Relief 20
  63. Relief 21
  64. Relief 22
  65. Relief 23
  66. Relief 24
  67. Relief 25
  68. Relief 26
  69. Relief 27
  70. Relief 28
  71. Relief 29
  72. Relief 30
  73. Relief 31
  74. Relief 32
  75. Relief 33
  76. Relief 34
  77. Relief 35
  78. Relief 36
  79. Relief 37
  80. Relief 38
  81. Relief 39
  82. Relief 40
  83. Relief 41
  84. Relief 42
  85. Relief 43
  86. Relief 44
  87. Relief 45
  88. Relief 46
  89. Relief 47
  90. Relief 48
  91. Relief 49
  92. Relief 50
  93. Relief 51
  94. Relief 52
  95. Relief 53
  96. Relief 54
  97. Relief 55
  98. Relief 56
  99. Relief 57
  100. Relief 58
  101. Relief 59
  102. Relief 60
  103. Relief 61
  104. Relief 62
  105. Relief 63
  106. Relief 64
  107. Relief 65
  108. Relief 66
  109. IV. PEWAYANGAN
  110. PRATAMA KANDHH
  111. "Dhuh Sinuhun! saking pamanggihipun pun bapa, kados boten wonten malih ingkang dados sarana kaluhuran lestantune
  112. Sang Prabu ngandika:
  113. Darma, panjenenganipun badhe boten kewran sayekti."
  114. DWITA KANDHH
  115. TRITA KANDHEH
  116. CATURTA KANDHEH
  117. Prapteng dlanggung prapatan, sangsaya kaemengan pangga-
  118. pukulan? mugi kapariksaa."
  119. cana, ingkang piwulangipun kawula regem."
  120. Tancep kayon
  121. TERJEMAHAN BEBAS
  122. BAGIAN PERTAMA
  123. ADEGAN di negara Astina. Prabu Duryudana duduk di atas
  124. Bisma dan Panglima Perang Adipati Awangga.
  125. "Duhai, Sinuhun! pada hemat hamba satu-satunya sarana
  126. Bagindapun bersabda:
  127. wahai bapa Begawan?"
  128. Jawab Sang Drona:
  129. BAGIAN KEDUA
  130. BAGIAN KETUJUH
  131. Maka bersabdalah Sang Wairocana: "Hai, kulup! tiada pernah
  132. kepadaku. Majulah, kau akan menerima ajaranku."
  133. pancaindera dan seketika lepaslah sang atma meninggalkan raga,
  134. Purnawijaya.
  135. BAGIAN KESEPULUH
  136. Tancap kayon
  137. Kunjarakarna anglajengaken lampah tumuju dhateng ardi
  138. Kocap dumugi prapatan Repatkepanasan lajeng bingung, boten sumerep pundi marginipun dhateng Yomani. Dumadakan
  139. yen gesangipun saged nengenaken dhateng kautamen, tumimbaling
  140. suci, temahan ginadhang nggayuh kanirwanan. Kosokwangsulipun yen gesangipun kalimput ing kanapson linepetan ing dosa, mang-
  141. tebusaning dosanipun. Bathara Purnawijaya inggih Prabu Kiritin,
  142. Pandhawa, ingkang sakawit sampun kasil numpes yaksaraja Manik-
  143. wau, lajeng aminta palilahipun sang Bathara badhe anuweni sarta
  144. Para tetindhihing bala Korawa ngawontenaken pirembagan
  145. Tancep kayon
  146. Raden Arjuna, kini bernama Batara Purnawijaya atau juga
  147. Setelah menerima sambutan selamat datang, Kunjarakarna
  148. Pathet Sanga
  149. Pathet Manyura
  150. Batara Wairocana mengabulkan permintaan Purnawijaya.
  151. Mereka pun berpisahan meninggalkan Budicipta.
  152. Tanpa pikir panjang, serta merta Prabu Suyudana mening-
  153. galkan pendapa, bergegas-gegas menuju ke taman. Yang lain-
  154. Tancap kayon
  155. SOENARTO TIMOER
  156. Gegebenganing lampahan:
  157. Nagari Mayangkarapura
  158. Adegan:
  159. Pratapan Budicipta
  160. Tepining samodra (perang gagal)
  161. Adegan:
  162. Ing Yamaloka
  163. Carita:
  164. Ing Kahyanganipun Purnawijaya
  165. Adegan:
  166. Pratapan Budicipta
  167. Ginem:
  168. Ing Yamaloka
  169. Ginem:
  170. Ing kahyanganipun Purnawijaya
  171. Ginem:
  172. Pratapan Budicipta
  173. Wairocana, sumanggem tansah badhe anuhoni dhawuhi-
  174. Perang brubuhan
  175. Pratapan Budicipta
  176. Tancep kayon
  177. Negara Mayangkarapura
  178. Adegan:
  179. Laku:
  180. Pertapaan Budicipta
  181. Di tepi samudera (perang gagal)
  182. Adegan:
  183. Laku:
  184. Laku:
  185. Kahyangan Purnawijaya
  186. Di tengah hutan belantara (perang sekar)
  187. Laku:
  188. Pertapaan Budicipta
  189. Adegan:
  190. Laku:
  191. Di Yamaloka
  192. Di kahyangan Purnawiajaya
  193. Negara Mayangkarapura
  194. Pertapaan Budicipta
  195. a. Kunjarakarna dinyatakan lulus dalam semua ilmu tentang
  196. Adegan:
  197. Laku: a. Kunjarakarna dikeroyok oleh Triwarna kewalahan. Lalu
  198. mengeluarkan Kunjarakresna yang selama ini menjadi satu dengan Kunjarakarna, dengan demikian telah me-
  199. ajaran yang diterima dari Wairocana dan Yamadipati. Kunjarakarna minta agar Kunjarakresna membujuk Tri-
  200. Pertapaan Budicipta
  201. Adegan:
  202. Batara Wairocana dihadap oleh Kunjarakarna, Purnawijaya,
  203. Laku:
  204. Tancap kayon
  205. Gegana = udara, angkasa.
  206. Sin.: ditya, yaksa, diyu, buta.
  207. Panca = lima.
  208. gangsal = lima Lokapala tanpa menyebut nama
  209. bumipatana : nama suatu tempat di Yamani, tempat siksaan bagi
  210. gangsal prátingkah : lima cara, lima sistem.
  211. angaras pada : bersujud dengan mencium kaki yang disujudi.
  212. VERSI SOENARTO TIMOER
  213. bawa-raos: (ngoko: bawa-rasa) sarasehan, tukar pikiran
  214. tinarbuka : terbuka hati, menjadi sadar.
  215. prang sekar : (ng.: prang kembang), pembagian babakan
  216. angkara dan darma, antara baik dan jahat,
  217. tancep(an) : lihat: bodholan, VStm. I.
  218. Kp. layu.
  219. DAFTAR NAMA TIM PENYUSUN DAN PENYUNTING

08.598 24

NASKAH LAMA

DAERAH JAWA TIMUR

KUNJARA KARNNA

2 DISUSUN OLEH : TIM PENULISAN NASKAH PENGEMBANGAN MEDIA KEBUDAYAAN JAWA TIMUR

Diterbitkan oleh: PROYEK PENGEMBANGAN MEDIA KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN JAKARTA

KATAPENGANTAR

Dalam rangka melaksanakan pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan bermaksud meningkatkan penghayatan nilai-nilai budaya bangsa dengan jalan menyajikan berbagai bacaan dari berbagai daerah di Indonesia yang mengandung nilai-nilai pendidikan watak serta moral Pancasila.

Atas terwujudnya karya ini Pimpinan Proyek Pengembangan Media Kebudayaan mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada semua fihak yang telah memberikan bantuan.

PROYEK PENGEMBANGAN MEDIA KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PIMPINAN

Daftar isi.

I. Kata Pengantar. II. Pendahuluan.9
III. A. Relief Kunjarakarna pada candi Jajaghu..43

B. Keterangan gambar relief Kunjarakarna pada candi

Jajaghu... 77

IV. Pewayangan

A. Naskah "Sadu — Budi"(NS)...... 83 Terjemahan bebas... 93
B.Versi "Soetrisno BA" (VS). ..104 Jejeran Nagari Ngastina.104 Adegan kerajaan Astina.120
C. Versi "Soenarto Timor"(VStm) .....135 Prabeyaning Budi Basuki..136 Petaruh Budi Selamat.151
D. Perbendaharaan Kata Pewayangan .... 166
Daftar nama Tim Penyusun dan Penyunting ........ 185

I. PENDAHULUAN
Teks Kunjara Karna ini telah diterbitkan dalam "Ver- handelingen der Koninklijke Academie van Wetenschappen Nieuwe Reeks, deel III no. 3, Amsterdam 1901", yang kemudian dimuat kembali dalam VERSPREIDE GESCHIFTEN jilid X.1) Prof.Dr.H. Kern telah melakukan transkripsi sebuah hasil karya sastra Buda yang berjudul KUNJARAKARA disertai dengan ter- jemahan dan pembahasannya sekali dalam bahasa Belanda. Dari beberapa naskah KUNJARAKARNNA berupa tulisan tangan yang kini tersimpan, dan mengingat gaya bahasanya, naskah Kern inilah yang paling kuno. Dinyatakan oleh Kern, bahwa keadaan lontar- nya masih utuh sama sekali dan kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden di Nederland.

Seperti telah dikatakan, gaya bahasanya kuno, tetapi di sana sini banyak terdapat kata-kata salah eja atau ketidakkonsekwenan dalam meletakkan tanda-tanda baca, di samping bentuk-bentuk tata bahasa yang menunjukkan dari masa jauh lebih muda. Dengan penelitiannya secara palaeografis, Kern menarik kesimpulan, bahwa lontar tersebut ditulis pada abad XIV bagian akhir, dan

1) Penyusunan kembali catatan-catatan tersebar tulisan H. Kern: VERSPREIDE GESCHRIFTEN jl. X, 1922.

jelas merupakan salinan dari naskah asli yang pasti lebih kuno,

diperkirakan dari abad XII. Dari mana asal lortar tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi menilik corak tulisannya, menurut Kern, berasal dari Pasundan atau suatu daerah yang berbatasan.2) Siapa pencipta KUNJARAKARNA ini tidak diketahui. Naskah tersebut tidak menyebutkan sesuatu nama.

Menarik sekali ialah pendapat Prof. Dr. Slametmuljono yang dimuat dalam bukunya MENUJU PUNCAK KEMEGAHAN (SEJARAH KERAJAAN MAJAPAHIT),³) bahwa KUNJARAKARNNA adalah hasil karya Mpu Prapanca, pencipta NAGARA-KRETAGAMA yang mashur itu. Pendapatnya itu didasarkan atas kalimat yang terbaca dalam kakawin KUNJARAKARNNA tinggalan Dr.J.L. Brandes no. 567, tersimpan di museum Jakarta, sebuah salinan dari naskah asli di Leiden, yang berbunyi: "iti kunjarakarnna dharma katha na samapta sidda mpudusun". (Ter- jemahan: 'ini Kunjarakarna cerita suci telah selesai, hasil karya Mpu Dusun",4) lalu terdapat sengkalan tahun 1283 Çaka atau 1361 Masehi. Selanjutnya: "tělas sinurat ing Kāncana těkap ni artha pamasah", (''selesai ditulis di Kancana oleh Artha Pamasah"); dan oleh Slametmuljono ditambahkan: "'terbaca pula tahun penyalinannya 1660".

Atas dasar materi tersebut, maka:

1. KUNJARAKARNNA yang merupakan cerita propaganda

Agama Buda ini dihubungkan dengan pemberitaan dalam

2) Kern, "De Legende van Kunjarakarnņa",VERSPREIDE GESCHRIFTEN X, 1922, halaman 3 - 8.
3) Slametmuljono, MENUJU PUNTJAK KEMEGAHAN, 1965, halaman 25 – 27.
4) Slametmuljono, ibidem, halaman 25.

NAGARAKRETAGAMA pupuh 94/3, bahwa Prapanca perrah juga mengarang kakawin "sugataparwwa warnana", yang berarti "uraian tentang lakon Buda".

2."Mpu dusun"dihubungkan dengan ketika Prapanca tinggal di dusun, terbaca dalam pupuh 95/1 NAGARAKRETAGAMA: "puribing awak lanelalěh ing adyah akikuk i usun". (Terjemahan: "nasib badan selalu dihina oleh para bangsa- wan, canggung tinggal di dusun."5)
3. "Kancana" dihubungkan dengan Sungai Mas (Brantas, Surabaya). Tidak mustahil bahwa dusun tempat tinggal Prapanca bernama Mas, atau paling tidak berada di lembah Sungai Mas. Dalam kakawin KUNJARAKARNNA tinggalan Brandes, tulis Prof. Slametmuljono selanjutnya, Kancana adalah "tempat penyalinan dan penyalinnya"yang bernama Artha Pamasahdan berangka tahun 1660. Dalam pada itu di Leiden naskah asli KUNJARAKARNNA
kedapatan seberkas dengan naskah NAGARAKRETAGAMA, dan Prof. Dr. Purbatjaraka mengenal kembali di dalamnya lang- gam bahasa NÃGARAKRĚTÃGAMA.

Dengan pendapat Prof. Slametmuljono di atas, dapatlah kita ketahui bahwa di Leiden tersimpan dua macam bentuk naskah

KUNJARAKARNNA, prosa dan poesi (kakawin). Tetapi yang

dimaksud dengan naskah asli (dari naskah salinan yang tersimpan di museum Jakarta sebagai peninggalan Brandes), tidaklah mung- kin naskah Kern, sebab yang akhir ini berbentuk prosa.

5) Slametmuljono, NAGARAKRETAGAMA, diperbaharui dalam bahasa Indonesia, 1953, halaman 81.

Prapanca, sepanjang penelitian sampai kini, tidak pernah dikenal sebagai pengarang prosa. Kern juga tidak menyebutkan bahwa naskahnya sebęrkas dengan naskah NAGARAKRETA-GAMA, dan corak tulisannya pun, menurut Kern, adalah corak yang berasal dari Pasundan atau daerah yang berbatasan, sedang Prapanca hidup di Jawa Timur. Ditilik dari gaya bahasanya, naskah Kern merupakan salinan dari naskah yang lebih kuno, perkiraan Kern dari abad XII, sedang Prapanca hidup dalam abad XIV.

Jadi, dari dua macam bentuk naskah yang tersimpan di Leiden itu, atau yang prosa atau yang poesi (kakawin), tidak satu- pun naskah asli. Keduanya adalah merupakan salinan (yang prosa) dan saduran (yang kakawin) dari naskah aslinya dari abad XII yang belum pernah ditemukan dan belum diketahui siapa pen- ciptanya.

Adapun langgam bahasa KUNJARAKARNNA kakawin,

oleh Prof. Purbatjaraka dalam NAGARAKRÉTAGAMA, dapat kita jadikan petunjuk, bahwa naskahnya yang asli adalah ber- bentuk prosa, dan Prapanca telah menggubahnya kembali dalam bentuk kakawin dengan langgam bahasa yang khas padanya. Dengan demikian Prapanca bukanlah pencipta KUNJARAKARNNA, melainkan pencipta kakawin KUNJARAKARNNA.

Sampai di mana kekuatan hipotesa bahwa Prapantja adalah pencipta kakawin KUNJARAKARNNA kiranya argumentasi Prof. Slametmuljono cukup meyakinkan. Namun demikian ingin kami ketengahkan satu hal lagi yang tidak kurang menarik per- hatian pula, yaitu mengenai kalimat dalam kolopon kakawin KUNJARAKARNNA yang telah dikutip di muka: "telas sinurat ing kancana těkap ni artha pamasah", khususnya kata-kata těkap, ni dan artha.

Těkap, (seperti halnya juga dengan dé), lajim dirangkai- kan dengan partikel genitif ni (atau ning). Rangkaian ini lebih jelas lagi dalam kata Jawa baru dening, yang sudah menjadi satu kata. (Sebenarnya berasal pula dari kata de + ni(ng)). Tetapi těkap tidak selamanya diikuti dengan ni, kadang-kadang hanya ni saja (tanpa těkap), namun keduanya sama artinya dalam bahasa Indonesia: "oleh".

Contoh:

a. atha ri pějabni sang prawara somadattatanaya tněkap çinisuta = hatta setelah matinya sang perwira Somadattatanaya oleh Çinişuta (BHARATA YUDDHA XVI-la).
b. singsal yuga kșaņa çinapa têkap bbatāra = segera setelah jaman yuga (maka) dikutuklah oleh Siwa (SMARADAHANA XXXVIII-14c).
c. ya ta pinanah ni Rağhawa ya nirga tanpaguna = dipanah- lah dia oleh Ragawa, (seorang) lalim tiada berguna (RĀMA-YANA V-31c).
d. tuwi pinanab ni Raghawa ta ko atikasța dabat = kau pun dihujani panah amat dahsyatnya oleh Ragawa (RÀMĀ-YANA V-32a). Dengan tiadanya kepastian bahwa tékap mesti diikuti oleh
partikel genitif ni, maka timbullah pertanyaan, tidak mungkinkah "těkap ni artha" ini salah tulis atau salah salin, yang sebenarnya dimaksudkan: "těkáp nir artha" atau tepatnya: "těkap nirartha"? jadi dengan demikian kalimat tersebut lengkapnya harus dibaca: 'tělas sinurat ing kancana tekap nir artha pamasah". Terjemahannya: "selesai ditulis di Kancana oleh Nirartha Pamasah".

Mengapa hal ini menarik perhatian, sebab 'nirartha" ini kami hubungkan dengan ''kancana". Sebagaimana kita ketahui, Kancana adalah sebuah dusun di lembah Sungai Mas. Di situ pun penah juga digubah sebuah kakawin yang berjudul NIRARTHAPRAKRETA. Dalam koloponnya termuat pemberitaan: 'iti ni- rarthaprakrěta samāpta, tělas rinacana dening puputut tan
wring deya ya ....... sampurna pwa yeng kancāna: durga dewi
tan len ika sthananya ring padmambara', artinya: "ini nirarthaprakreta sudah siap tergarap oleh putut (cantrik dusun ?) (yang)
tiada tahu apa yang diperbuatnya ...... sempurna di Kañncana",
sedang "durgā dewi tan len. .." dan seterusnya, menurut Slametmuljono adalah suryasengkala tahun caka 1288 atau Masehi 1366.

Tentang pencipta kakawin NIRARTHAPRAKRETA ini ter- dapat tiga pendapat dari tiga orang sarjana:

  1. Dr. H.H. Juynboll berpendapat bahwa kakawin NIRARTHAPRAKRETA adalah hasil karya Hanang Nirartha yang me- nyelesaikannya di Kancana.6)
    2.Prof. Purbatjaraka menyanggah pendapat Juynboll tersebut. Dalam pada itu menyatakan bahwa naskah NIRARTHAPRAKRETA merupakan satu berkas dengan naskah NA-GARAKRÉTAGAMA, ditulis pada tahun Çaka 1381 atau Masehi 1459 di Kancana. Penciptanya tidak dikenal.7)
  2. Prof. Slametmuljono, berdasarkan tarikh tahun Çaka 1288 atau Masehi 1366, (berupa suryasengkala yang ditemukan- nya dalam kalimat "durğa dewi tan len ika sthananya ring padmambara"), dan pernyataan Prof. Purbatjaraka bahwa Slametmuljono, MENUJU PUNTJAK KEMEGAHAN, 1965, halaman 22 – 23.
    6) Slametmuljono, ibidem, halaman 23 dan Purbatjaraka, KEPUSTAKAAN DJAWI,
    7) cetakan ke-3, 1957, halaman 51.

naskah NIRARTHAPRAKRĚTA satu berkas dengan NĀGA-

RAKRETAGAMA, membuat kesimpulan bahwa NIRAR-THAPRAKRETA adalah ciptaan Prapanca, diselesaikan di dusun Kancana.8)

Berdasarkan bahan-bahan sekitar kakawin NIRARTHAPRA-KRÉTA yang diberikan oleh ketiga sarjana tersebut, kiranya tidak mustahil bahwa kakawin KUNJARAKARNNA pun hasil karya seorang Nirartha Pamasah, karena ditulis di dusun Kacana pula dengan angka tahun yang tidak jauh berbeda: 1288 Çaka atau 1361 Masehi, jadi lima tahun lebih dulu.

Darf kalau langgam bahasa KUNJARAKARNNA sama dengan langgam bahasa NAGARAKRETAGAMA, dalam pada itu baik NIRARTHA PRAKRETA maupun kakawin KUNJARAKARNNA seberkas pula dengan NAGARAKRÉTAGAMA, kiranya tidak meleset kalau diambil kesimpulan, bahwa Nirartha (apakah ia Hânang Nirartha ataupun Nirartha Pamasah adalah juga Prapanca. Lebih-lebih lagi kalau diingat bahwa Prapanca cenderung memiliki sikap suka merendahkan diri secara berlebih-lebihan sebagaimana dilakukannya dengan nama samarannya yang terdiri dari "pra lima" itu (pupuh 96/1-2 NĀGARAKRÉTAGAMA), maka "Nirartha" pun agaknya nama samaran yang bernada sama. Bukankah "nirartha" berarti "sia-sia" atau "tak berguna", yang barangkali dengan itu ingin menyatakan diri sebagai "orang yang tak berguna'?

PenciptaNIRARTHAPRAKRETA menamakan dirinya "pupuțut tan wring de ya" (cantrik dusun yang tak tahu apa yang diperbuatnya), suatu ciri khas Prapanca dalam cara merendah-

8) Slametmuljono, ibidem, halaman 23 – 24.

kan dirinya. Kalau diingat bahwa "cantrik" adalah murid seorang pendeta gunung/dusun, padahal Prapanca adalah bekas seorang pembesar urusan agama kerajaan.

Judul NIRARTHAPRAKRETA inipun menimbulkan sesuatu yang unik kontradiktif, karena berarti "tidak berguna dan rendah (nilainya)", sedang isinya mengandung sesuatu yang berguna dan bermutu. Ciri khas kerendahan hati orang timur. Siapakah yang tidak mengakui 'kebesaran Prapanca sebagai seorang pujangga? Siapakah yang tidak mengagumi akan tingginya nilai mutu NÃ-GARAKRÉTAGAMA yang mashur itu? Perhatikan pula komentar Prof. Purbatjaraka, (seorang sarjana ahli sastra Jawa kuno yang terkenal berani dan terus-terang tanpa liku-liku), terhadap kakawin

NIRARTHAPRAKRETA: ". ...... cěkakipun saé sangět, cětha,

gampil dipun ngrětosi".9)Artinya:"....... pendek kata sangat
bagus, jelas, mudah dimengerti". Dan terhadap kakawin KUNJA-RAKARNNA: 'kula maos ngantos gadha raos kados tiyang ngingětakěn oncen-oncen sosotya; tur inggih namung těmbung limrah punika kemawon".10) Artinya: "saya membaca serasa seperti melihat untaian permata; padahal tidak lebih dari kata-kata sederhana saja".

Kata 'pamasah" adalah bentuk kata jadian yang berpokok

pada kata dasar"pasah" yang berarti "pisah"untuk menyatakan

hal laku "memisahkan (diri)". Jadi "nirartha pamasah"ialah nama samaran yang barangkali mengandung makna: "orang tak berguna yang memisahkan diri". Ini sesuai dengan nasib Prapanca seperti

yang disimpulkan oleh Prof. Slametmuljono dalam bukunya ME-

NUJU PUNCAK KEMEGAHAN, yang karena kecewa atas perlaku-

9) Purbatjaraka, KAPUSTAKAAN DJAWI, cetakan ke-3, 1957, halaman 51.
10) Purbatjaraka, ibidem, halaman 39.

an orang-orang istana terhadap dirinya, Prapanca lalu ''membuang diri ke dusun dan di sana merasa dirinya canggung dan tak ber- guna".

Yang mengacaukan ialah angka tahun 1660 seperti dikatakan Prof. Slametmuljono sebagai "tahun penyalinan" kakawin KUNJARAKARNNA. Tidak jelas siapa penyalinnnya itu. Artha Pamasah? Kalau dengan Artha Pamasah ini dimaksudkan Nirartha Pamasah sebagaimana perkiraan kami, maka ia, Artha Pamasah, bukanlah penyalinnya, tetapi adalah pencipta naskah aslinya. Kami kira tahun 1660 itu adalah tahun penyalinan kakawin KUNJARAKARNNA tinggalan Brandes yang tersimpan di museum Jakarta itu, tanpa menyebutkan nama penyalinnya.

KUNJARAKARNNA adalah hasil ciptaan seseorang penganut

agama Buda dari aliran Mahayana, kiranya sudah jelas dari seluruh isi ceritanya. Namun demikian di sana sini tampak pula ciri bangsa Indonesia, suku Jawa khususnya, yaitu adanya toleransi yang besar terhadap dua atau lebih aliran kepercayaan yang saling ber- beda, dalam hal ini dua agama: Buda dan Hindu (Siwa).

Hal ini antara lain terlihat jelas pada relief KUNJARA-

KARNNA yang terpahatkan pada candi Jago (Jajaghu). Candi Jago ini terletak di sebelah timur, agak menenggara dari kota Malang, pada sebuah Dukuh Jago di desa Tumpang.

Candi Jago ini sering pula disebut dengan nama Candi Tumpang, sedang penduduk sendiri adakalanya menamakan "Cung- kup".11)

11) Brandes, Dr.J.L.A., Tjandi Djago, Beschrijving van de ruine bij de desa Toempang, jilid I Batavia, Albrecht & Co, 1904, halaman 1.
1.7

Dalam teks Pararaton¹²) kita peroleh_suatu catatan berke-

naan dengan candi Jago ini antara lain sebagai berikut: "Panjeně-

ngira Çri Ranggawuni ratu tahun 14, moktanira 1194, dhinarma sira ring Jajaghu". Artinya: "yang mulia Çri Ranggawuni menjadi raja selama 14 tahun, kemudian beliau meninggal pada tahun 1194 Çaka dan dimakamkan di candi Jajaghu.

Dengan demikian dapatlah diperoleh suatu perkiraan bila Candi Jago ini dibangun sekitar abad XIII M., untuk makam raja Singasari yang dinobatkan dengan nama Wishnuwardhana. Memang tidak pula dapat dihindarkan, bila kemungkinan terjadi pemugaran dan perbaikan-perbaikan atas bangunan tersebut pada masa-masa kejayaan Majapahit.

Akibat berlangsungnya perjalanan waktu ini, dari reruntuhan candi Jago yang masih tersisa, kita dapat melihat suatu kenyataan akan adanya corak tertentu pada candi tersebut, yang menandai identitasnya sebagai hasil karya bangunan Jawa Timur.

Satu di antara corak-corak tertentu yang dimilikinya ialah

tentang cara penggambaran relief-relief yang terpahat rapi pada panel-panel, jelas sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup mau-

pun suasana kehidupan yang terjalin erat dengan lingkungan alam

Jawa Timur yang subur menggairahkan.

Tiada satu pun terdapat bidang yang kosong, semua terisi dengan kepadatan, dimeriahkan dengan aneka ragam hiasan dalam

alunan cerita-cerita yang mengandung unsur "pelepasan".

12)Padmapuspita, Ki J., Pararaton, Penerbit Taman Siswa, Jogyakarta, 1966, hala- man 26.

Cerita-cerita Angling Darma, Kunjarakarna, Parthayajna, Arjunawiwaha, Krěsnayana, semua terjalin dengan sangat harmonis dalam suatu kesatuan. Yang khusus mengenai relief Kunjarakarnna adalah suatu cerita yang diangkat dari ceritera yaksa yang berunsur Buda, namun dalam penggambarannya sama sekali tak terikat se- penuhnya oleh dogma-dogma ajaran Buda.

Çri Wirwacana diwujudkan bertangan empat dan dilengkapi dengan attribut Siwa, sedangkan tanda-tanda Ongkara bermuncul- an di sekitarnya.

Para pertapa ditandai dengan topi-topi berbentuk těkes yang lajim dikenakan untuk panji, dan sehubungan dengan itu para Yogiswara kita kenal pada sorban yang dikenakan.

Para pangeran diketengahkan dengan mengenakan 'supit urang"sedang tokoh rajanya terlihat mengenakan gelung keling dan para panakawan Punta Prasanta serta Juru Dyah selalu setia men- dapinginya.13)

Panakawan-panakawan ini diwujudkan dalam bentuknya yang gemuk pendek penuh kekocakan, lucu kurang ajar namun cerdik dan penuh kasih sayang Guna memeriahkan suasana serta menjiwai lingkungan, pe- ranan turut ditampilkan. "Hañja-hānja-jñana, ialah pengetahuan atau kepercayaan tentang hantu-hantu, melengkapi keseluruhan jiwa syncritisme Çiwa — Buda pada masa itu. Tunggal ika kabaih. Kami Siwah, kami Buddha. Yaha Yaku, aku ko. Namu Bhatara θ nama Çiwaya.14)

13)Bernet Kempers, A.J., Ancient Indonesia Art, Harvard Yuniversity Press, Cam- bridge Massachusetts, 1959 halaman 209.
14) Kern, op.cit. halaman 67 – 68.

Pada tanggal 27 Pebruari 1971, dalam rangka peringatan 1 Sura 1903 tahun Dal, di Istana Olah Raga Senayan Jakarta telah diselenggarakan pegelaran wayang kulit purwa dengan lakon KUNJARAKARNA. Pekelirannya dilakukan oleh Ki Soetrisno, yang selain seorang dalang pun menjadi dosen pada Akademi Seni Karawitan Indonesia di Surakarta.

Ki Soetrisno pernah juga mengelirkan lakon KUNJARA-KARA ini di Surabaya pada tahun 1969, tepatnya pada tanggal 4 Januari, di Balai Pemuda, yang disponsori oleh Yayasan Konser- vatori Surabaya. Pada tahun 1975 beliau mengelirkannya pula di University of California Berkeley Amerika Serikat.

Menurut catatan "Sadu Budi"Sala dalam penerbitannya PAKEM WAYANG PURWA LAKON KUNJARAKARNA, pegelaran wayang kulit purwa dengan lakon tersebut pernah juga diselenggarakan pada tanggal 30 Mei 1909 di Semarang dalam resepsi Kongres Teosofi, dengan pidato pengantar oleh seorang

juru bahasa di Surakarta bernama R.Ng. Djojopuspito.15)

Cerita KUNJARAKARNA mengandung tema ajaran ke- batinan dalam usaha manusia mencapai kesempurnaan hidup. Cerita semacam itu biasanya lebih menitik beratkan pada isinya yang berupa wejangan-wejangan yang bersipat mistik filosofik atau magik religius. Sebab itu ceritanya lalu menjadi datar me- nada tunggal. Untuk mendramatisasikan menjadi sebuah lakon yang ditonton, lebih dulu harus melalui penciptaan kembali yang tidak ringan dengan memberi plot pada cerita dan penonjolan warna perwatakan tokoh-tokoh pelakunya. 9

15) Sadu Budi halaman 18.

Dalam pegelaran wayang kulit, maka ki dalanglah yang harus benar-benar mampu menciptakan adegan-adegan laku dan antawa- cana yang tepat, kena dan mengikat, sehingga penonton tidak dibuat kehilnagan minatnya karena harus mendengarkan kotbah melulu.

KUNJARAKARNA memang lebih mudah dibaca daripada ditonton. Tetapi kenyataannya ialah bahwa bacaan KUNJARAKARNA sekarang tidak banyak beredar di kalangan luas, jauh lebih kurang lagi pembacanya, sehingga dengan demikian KUNJARAKARNA lebih dikenal masarakat melalui media pedalangan. Justru karena itulah, maka pegelarannya sebagai pertunjukan wayang kulit sangat menarik dan patut memperoleh perhatian dan tanggapan. Lebih-lebih dengan adanya ciri khas, bahwa seni lakon daerah di Indonesia tidak menggunakan repertoar yang mengikat seperti yang kita kenal di negara-negara Barat. Di Indonesia, khususnya dalam lakon pedalangan, orang menggunakan apa yang disebut "balungan", yaitu semacam rangka cerita, yang disusun dari adegan demi adegan secara garis besar, tertulis mau- pun tidak, dan selebihnya diserahkan kepada improvisasi ki dalang. Dengan demikian maka timbullah bermacam-macam versi yang berbeda satu dengan yang lain.

Tiap-tiap dalang mempunyai kepribadiannya sendiri, cita-citanya sendiri, tapsirannya sendiri dan akhirnya, tapi tak kurang pentingnya, mempunyai kebebasan menggunakan versi polanya sendiri sesuai dengan kepribadiannya, cita-citanya dan tapsirannya dalam melakonkan wayangnya, sekalipun sudah ada pakem. Tetapi justru karena kebebasannya itulah maka orang tidak bosan- bosan melihat pertunjukan wayang, sekalipun lakonnya hanya itu- itu saja. Kenyataan ini dapat diartikan, bahwa orang menonton

wayang bukan karena lakonnya terutama, melainkan lebih di- tekankan pada keinginannya melihat "betapa ki dalang melakonkan wayang itu", atau "memayangkan lakon itu". Demikian pula dengan menyaksikan pekeliran KUNJARAKARNA oleh seorang dalang, yang penting dan menarik terutama ialah "betapa ki dalang melakonkan KUNJARAKARNA itu". Tegasnya kita ingin melihat "KUNJARAKARNA menurut versi ki dalang tersebut".

Bahwa KUNJARAKARNA adalah hasil ciptaan seorang

penganut agama Buda dari aliran Mahayana, kiranya sudah jelas dari seluruh isi ceritanya. Namun demikian, di sana sini tampak pula ciri bangsa Indonesia, suku Jawa khususnya, yaitu adanya toleransi yang besar terhadap dua atau lebih aliran kepercayaan yang saling berbeda, dalam hal ini dua agama: Buda dan Hindu

(Siwa).

Kami kutipkan di sini salah satu adegan dalam KUNJARAKARNA dari naskah Kern, yang berisi wejangan Batara Wairocana kepada Kunjarakarna, demikian:

Budha kami ling sang çwagatapaksa, apan bhatara hyang Budha pinakadidewa mami; tan angga tunggal lawan sang çewapaksa, apan bhațara Giwah pinakadidewa nika, apan padudwan tika nikang paķsa. Ya ta dumeh sira sang wiku ri madyapaa tan hana mwakta, apan marwa tunggal, hang- rujit wlu, sang durung wruh ring kalinganika. Glang rira sang çwagata,' pancakusika, ling sang çewapaķsa. Ikā. kusika tunggālawan Swabhya; sang Garga tunggalawan Ratnasam- bhawa; sang Mestri tunggalawan sirumitabha; sang Kurusya tunggalawan Mwagasiddhi; sang Pratājala sira tunggālawan çri

Wirwaçaña. Ndah parantanaku! Tunggal ika kabaih. Kami Siwah, kami Buddha.16)

yang artinya dalam bahasa Indonesia lebih kurang:

Para Sogatapaksa menyebut dirinya orang Buda, sebab me- muja Sang Hyang Buda sebagai dewanya dan tidak merasa menjadi satu dengan para Siwapaksa yang mengagungkan Hyang Batara Siwa sebagai dewanya. Dengan demikian tim- bul perselisihan antara para paksa (golongan) itu, oleh sebab itu di madyapada tidak terdapat 'kamuksan" di kalangan para wiku (pendeta), karena sama-sama mempunyai anggap- an ada dua sesembahan, yang pada hakekatnya hanya satu. Para Siwapaksa menyatakan, bahwa pancakusika merupakan perwujudan bagi para Sogata, tetapi sebenarnya kusika itu sama dengan Alsobhya, sang Garga tidak lain dari Ratnasam- bhawa, sang Mestri adalah Amitabha, sang Kurusya satu dengan Amoghasiddhi, Pratanjala ialah Wairocana jua. Semua- nya itu, hai anakku, adanya hanya tunggal. Kami Siwa, kami Buda.

Kalau di negeri asalnya di tanah Hindu (India) agama Buda dimusuhi oleh orang-orang Hindu, maka di Jawa termungkinkan terjadinya sinkretisasi (luluh) antara kedua agama tersebut. Hal ini dibuktikan dalam sejarah dengan terciptanya perwujudan (baca: gelar) Sang Siwabuda dalam pribadi Prabu Kretanagara dari Singasari, seorang tokoh yang berhasil menyatululuhkan dua aliran kepercayaan itu secara cita dan perbuatan (in geest en in daden — Belanda).

16) Kern, 1922, halaman 68.

Karena adanya semangat toleransi yang hidup dalam masa-

rakat Jawa, maka mungkin saja seorang pengarang lakon wayang

ataupun seorang dalang merasa bebas untuk men-"sinkretisasi"-

kan KUNJARAKARNA yang budistik itu dengan MAHABA-

RATA yang siwaistik.

Kebetulan sekali kami menyimpan naskah balungan PAKEM WAYANG PURWA LAKON KUNJARAKARNA yang diterbitkan oleh toko buku "Sadu Budi" Sala (Surakarta). Sebagaimana kami sebutkan di muka, lakon ini pernah digelarkan pada Kongres Teosofi tanggal 30 Mei 1909 di Semarang.

Tetapi "sinkretisasi" yang terdapat pada lakon tersebut bukanlah dalam arti yang sebenarnya, melainkan hanyalah se- macam "perkawinan paksa" yang dilihat dari segi seni sastra/ lakon, merupakan perkosaan terhadap mutu karya seni. Hanyalah sekadar memenuhi sarat tehnik penyusunan lakon pedalangan, maka beberapa tokoh dari MAHABARATA dikaitkan begitu saja pada cerrita KUNJARAKARNA. Bahkan pengaitan ini pun tidak kepalang tanggung, artinya: Kunjarakarna yang mestinya menjadi tokoh pusat (peraga utama), sudah sedemikian terdesak dan ter- geser oleh tokoh-tokoh "pendatang dari MAHABARATA" ini, sehingga akhirnya kita memperoleh suatu komposisi yang ganjil: Peraga utama (protagonis) = Pandawa (Arjuna), peraga lawan (antagonis) = Korawa, sedang nama judulnya tetap KUNJARAKARNA dengan Kunjarakarna sendiri, (atau bersama Purnawijaya) hanya sebagai tokoh (menurut istilah pedalangannya): 'sempalaning kandha', (cerita sampingan).

Meskipun terdapat perbedaan, namun KUNJARAKARNA garapan Soetrisno pun menunjukkan pola yang sama; kombinasi

KUNJARAKARNA-MAHABARATA. Agaknya gejala ''sinkreti- sasi" semacam ini menjadi kelajiman dalam dunia karang-menga- rang lakon pewayangan purwa, yang akhirnya sudah cenderung kepada suatu kelatahan. Pinjam-meminjam beberapa tokoh dari dua sumber yang berlainan yang dijalinkan dalam satu lakon, ba- nyak kia dapati dalam sanggit wayang purwa yang lajim kita sebut '"lakon carangan". Beberapa contoh dapat dikemukakan di sini, misalnya:

  1. WAHYU MAKUTHARAMA, yang di dalamnya saling ber- temu beberapa tokoh dari RAMAYANA dan MAHABARATA, yaitu Gunawan Wibisana, Kumbakarna, Hanuman, Kresna, Pandawa, Korawa. Tema utama lakon tersebut ialah tentang ajaran Begawan Kesawasidi kepada Arjuna tentang delapan macam laku darma seorang raja atau sateria sebagaimana diwejangkan oleh Prabu Rama kepada adiknya Raden Barata, ajaran yang terkenal dengan nama "Hastha Brata".
  2. RAMA NITIS, kombinasi RAMAYANA-MAHABARATA pula, yang seakan-akan merupakan 'the missing link"(mata rantai yang putus) antara dua epos bęsar tersebut. Lakon itu menceritakan tentang penitisan (inkarnasi) Rama dan Laks- mana masing-masing kepada Kresna dan Arjuna.
  3. MAYANGKARA, paduan RAMAYANA dan BABAD MAMENANG (Kediri), yang mengisahkan matinya Begawan Mayangkara (Hanoman). Sebagaimana kita kenal, Hanuman adalah tokoh pahlawan dalam epos RAMAYANA, yang me- nurut pedalangan mencapai usia lanjut sekali, mengalami berbagai jaman sejak RAMAYANA melalui MAHABARATA sampai akhirnya pada jaman Mamenang.

  4. Masih banyak lagi jumlah lakon-lakon paduan RAMAYANA-MAHABARATA lainnya, yang mengandung tema pembalas- an atau penggangguan keamanan hidup Pandawa oleh roh- roh Dasamuka dan kawan-kawannya yang masih bergen- tayangan tidak beroleh tempat damai di sorga. Antara lain lakon WAHYU PURBA SEJATI, MANONBAWA dan sebagainya.

  5. Setelah kemerdekaan Indonesia banyak digubah lakon-lakon pedalangan yang bertemakan ideologi politik negara Republik Indonesia tentang kerakyatan, perang kemerdekaan, anti imperialisme, anti kolonialisme, tentang pancasila dan lain sebagainya, tetapi sebagian atau seluruhnya meng- gunakan tokoh-tokoh peraga MAHABARATA. Beberapa contoh: SRI BOYONG dan WAHYU PANCASILA oleh Kodirun, BA. (Fa. Trijasa Surakarta, 1964), ISMOJO TIWI-KROMO (sic) oleh A.W. Sardjono (Camera Press Djakarta,
    1965). Contoh terakhir (nomor 5) mungkin lebih tepat digolongkan
    pada cerita propaganda yang banyak sudah masuk ke dalam peke- liran wayang purwa, daripada disebut cerita paduan yang berasal dari dua sumber kesusasteraan yang berlainan. Namun satu hal yang menunjukkan ciri yang sama dan menarik, ialah selalu di- gunakannya tokoh-tokoh Pandawa sebagai peraga utamanya. Hal ini dapat kiranya dicari sebab-sebabnya pada kenyataan terdapat- nya suatu kepercayaan dalam masarakat Jawa, bahwa Pandawa, di samping menjadi pahlawan wayang pujaan, pun merupakan personifikasi angka LIMA yang mempunyai daya kekuatan mistik simbolik yang dianggapnya mempengaruhi kehidupan manusia.

Demikianlah misalnya secara fisik "Pandawa Lima" dianggap

sebagai lambang sistem pancaindera'7) secara psikis apa yang dalam "ngelmu kajawen" disebut "dulur papat, lima pancer"

untuk menggambarkan keempat napsu manusia yang berpusat

pada AKU (yang kelima )18) dan secara mistik menggambarkan

tahapan hidup manusia sejak sebelum lahir sampai menjelang ke- matiannya pada usia lanjut, yaitu suatu proses yang mengungkap-

kan azas dan tujuan hidup("sangkan paraning dumadi"—Jawa).19)

Puntadewa (Yudistira) melambangkan: karsa (kehendak): Wrekodara = hidung

17) (pernapasan); Arjuna = mata (penglihatan); Nakula = telinga (pendengaran); Sadewa = mulut (sabda, ucapan). (Mangoenwidjojo, 1934, halaman 13 – 15). Ternyata ada perbedaan pendapat mengenai pancaindera (Jw. pancadriya) ini. Orang Belanda mengartikan pancaindera ("de vijf zintuigen "), yaitu: penglihatan (gezicht), penciuman (reuk), pendengaran (gehoor), pengrasaan cicip (smaak) dan pengrasaan raba (gevoel).
18) Keempat napsu itu: a. lauwamah (napsu angkara murka); b. amarah (napsu bra- ngasan, lekas gusar); c. supiah (napsu berahi); d. mutmainah (kemurnian, kejujur- an); sedang genap kelimanya (e) ialah yang disebut: mulhimah, sebagai pusat yang memberikan arah (Seno Sastroamidjojo dalam Sarasehan Pedalangan Ring- git Purwa Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Jakarta, Januari 1968). Dinyatakan bahwa urut-urutan Pandawa dari yang paling muda ialah: Sadewa,
19) Nakula, Arjuna, Wrekodara dan Yudistira. Ini mengandung makna, bahwa sebelum manusia lahir, maka yang ada lebih dulu ialah DHAT HIDUP (DIWA, dilambangi SADEWA). Kemudian lahir mendapatka sarana yang kita sebut KULA (AKU, dilambangi NAKULA). Dalam masa akil-balig sang anak manusia mulai dengan sikap laku penuh keberanian dan kepahlawanan serta petualangan yang nyrempet-nyrempet bahaya (krisis psikis), sęsuai pula dengan gambaran ARJUNA yang selalu menantang bahaya petualangan. Sesudah melalui kemelut masa akil-balig, orang menjadi dewasa dan penuh kesadaran hidup, maka segala pikiran dan perbuatannya selalu disertai disiplin dan tanggungjawab. Ini dilambangi dengan pribadi WREKODARA yang terkenal disipliner, konsekwen dan bertanggung- jawab. Menginjak usia lanjut sampailah manusia pada tingkatan YUDISTIRA, yang tertua dari kelima saudara itu dan termashur karena kejujurannya, kesabar- annya, ketawakalannya, rela dan ikhlas tanpa pamrih, penuh kebajikan dan ke- bijaksanaan serta kearifan, sampai-sampai tidak mengindahkan kepentingan diri- nya sendiri, semua itu sebagai persiapan untuk kembalinya nanti kepada SUM-BERNYA, DHAT yang menciptakan HIDUP, dalam istilah Jawanya disebut "paraning dumadi"'. Jadi Yudistira = taraf kesucian, karenanya dalam dunia pedalangan dinvatakan 'berdarah putih".

Betapa tebalnya kepercayaan masarakat Jawa kepada nilai- nilai simbolik maupun mistik angka 5 itu, dapat pula kita temukan dalam penggunaan istilah "panca" atau 'lima" untuk menunjukkan kehebatan atau kelebihan sesuatu, sekalipun kadang-kadang tidak menunjukkan bilangan 5. Kita kenali misalnya pada falsafah hidup bangsa dan negara kita yang terumuskan dalam lima prinsip yang kita sebut "pancasila". Kita pun kenal pula istilah "panca- roba" dan "pancabaya" untuk menunjukkan kehebatan suasana yang diliputi oleh bermacam-macam bahaya. Demikian pula "pancamuka" dalam arti "banyak rupa", "'pancanaka" = kuku tagan Wrekodara (dari kelima jari menjadi satu?) yang teramat ampuh, "pancasona" = suatu hikmah atau mantra yang menda- tangkan kesaktian kebal akan maut, dan sebagainya dan sebagainya. Pun kita kenal pula istilah "ma lima"(main, madon, mangan, madat, maling, yang artinya: berjudi, melacur, tamak, mengisap candu dan mencuri), yang semua itu menunjukkan sipat-sipat kehebatan dalam arti pengaruh yang negatif.

Kalau kita tarik lagi ke atas, sampai-sampai kepada nama pujangga kita yang mashur di jaman Majapahit 'Prapanca", maka kita akan bertanya, mengapa empu kita ini justru memilih nama samaran "Prapanca?" Apakah secara kebetulan ataukah merupa- kan suatu pantulan aspirasi masarakat yang menganggap angka 5 mengandung hikmah hidup dan daya kekuatan mistik, sekalipun arti yang diberikan pada nama samarannya itu mengandung cela diri?2 0)

Untuk kembali kepada pokok persoalan karangan ini, peng- gubahan KUNJARAKARNA ·dalam bentuk lakon wayang pun agaknya tidak luput dari pengaruh kepercayaan orang akan arti

20) Slamet Muljono, 1965, halaman 7.

mistik maupun simbolik filosofiknya "pandawa lima" dengan menampilkannya sebagai peraga utama. Apakah penampilan itu di- lakukan secara sadar-tujuan (doelbewust) ataukah hanya terbawa oleh kelajiman belaka, jadi semacam kelatahan, dapat dibuktikan dari mutu gubahan lakon itu sendiri. Tetapi kalau kita teliti secara agak saksama, maka mutu lakon pedalangan KUNJARAKARNA, baik naskah Sadu Budi maupun pakeliran Soetrisno, sebenarnya tidak ditentukan oleh hadir atau tidaknya tokoh-tokoh Pandawa, melainkan oleh mutu cerita KUNJARAKARNA sebagai mana aslinya (naskah Kern). Dalam naskah Sadu Budi ataupun pakeliran Soetrisno, tokoh-tokoh Pandawa hanya sebagai "tokoh pinjaman" saja. Arti simbolik atau mistik filosofiknya "Pandawa Lima" di situ tidak berfungsi apa-apa, sehingga boleh diganti dengan peraga-peraga lain bukan Pandawa, atau lebih baik dihilangkan sama sekali.

Atau kalau penampilan tokoh-tokoh Pandawa dan tokoh-tokoh lain dari MAHABARATA bukan karena kelatahan, melainkan secara sadar dianggap "mutlak perlu", hal demikian didasar- kan pada anggapan konvensional, bahwa istilah "purwa" dalam "wayang purwa" berasal dari kata "parwa", yang berarti "bagian" atau "bab", yang hanya digunakan dalam MAHABARATA. Dengan kata lain, bahwa "wayang purwa" dan "mahabarata"adalah identik. Jadi dalam pegelaran wayang purwa, penampilan Pandawa dan lain-lain sudah dengan sendirinya.

Tetapi dengan dimasukkannya epos RAMAYANA dalam pedalangan wayang purwa, maka sebenarnya'kemutlakan keper- luan"demikian sudah tidak dapat dipertahankan.

Sebagaimana kita ketahui, epos RAMAYANA di Jawa tidak terbagi dalam "parwa-parwa" seperti dalam MAHABARATA,

melainkan dalam "kandha-kandha". Seluruhnya terdapat tujuh kandha atau lajimnya disebut "sapta kandha", yaitu: 1. Balakan- dha, 2. Ayodyakandha, 3. Aranyakakandha, 4. Kiskindhakandha,

  1. Sundarakandha, 6. Yudakandha dan 7 Uttarakandha. RAMAYANA KAKAWIN menggunakan istilah "'sarga"untuk pembagian bab-babnya. Dalam ceramahnya yang berjudul "over de wayang koelit (poerwa) in het algemeen en over de daarin voorkomende sym- bolische en mystieke elementen"('tentang wayang kulit purwa dan unsur-unsur simbolik dan mistik di dalamnya") di hadapan para warga "Cultuur-wijsgerigen Studiekring" pada tanggal 1 Desember 1932 di Prangwadanan Mangkunegaran Surakarta, KGPAA Mangkunagara VII menyatakan:
    . .... wil ik mij bij de behandeling van het wajangspel bepa-
    len tot het allereeste, n.l. het Poerwa-wayangspel ook be- hooren de verhalen van het Rama-wajangspel, die teruggrij- pen in een ouder tijdperk dan die van het Poerwa-wajangspel.

Noot M.N. VII: De afscheiding van de wajangfiguren van het Ramaspel uit de Poerwa-kotak (kist) dateert bij de vorstenhoven eerst van ongeveer 75 jaren terug, terwijl overal elders de beide soorten van wajangfiguren nog bij elkander liggen.21)

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia lebih kurang:

.... dalam membahas permainan wayang, saya ingin membatasi

21) Mangkoenagoro VII, 1933, halaman 83.

pada yang permulaan sekali, yaitu wayang purwa, termasuk di dalamnya lakon Rama yang usianya lebih tua daripada lakon-lakon wayang purwa.

Catatan M.N. VII: Pemisahan tokoh-tokoh wayang Rama dari kotak purwa di lingkungan keraton mulai terjadi kira-kira 75 tahun yang lalu, tetapi di tempat-tempat lain kedua jenis tokoh-tokoh wayang itu masih tercampur.

Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa pada hakekatnya orang memang membedakan antara"wayang Rama" dan "wayang Purwa", dan ini berarti bahwa tidak ada keharusan, apalagi kemutlakan keharusan menampilkan tokoh-tokoh Pandawa dalam lakon bukan MAHABARATA pada pekeliran wayang purwa. Dengan demikian berarti pula bahwa penampilan tokoh-tokoh Pandawa pada pekeliran wayang purwa KUNJARAKARNA pun tidak mutlak perlu.

Marilah sekarang kita perbandingkan KUNJARAKARNA menurut pakem pedalangan dengan KUNJARAKARNA dalam bentuknya yang asli, dalam hal ini naskah Jawa kuna prosa menurut transkripsi Kern, yang selanjutnya kami sebut NK (Naskah Kern) untuk mudah dan singkatnya. Adapun KUNJARAKARNA pakem pedalangan di sini kami tampilkan:

  1. PAKEM WAYANG PURWA LAKON KUNJARAKARNA yang diterbitkan oleh 'Sadu Budi" Sala, selanjutnya kami sebut NS (Naskah Sadu Budi).
  2. PAKEM KUNJARAKARNA versi Soetrisno, selanjutnya disebut VS (Versi Soetrisno). Dalam pada itu, di samping kedua pakem NS dan VS, kami

sajikan pula naskah yang ke:

  1. PAKEM KUNJARAKARNA versi Soenarto Timoer (VStm) yang belum pernah dikelirkan, tetapi dalam karangan ini di- sajikan sekadar sebagai satu contoh percobaan kemung- kinannya Kunjarakarna diwayangkan tanpa hadirnya Pan- dawa dan sejauh mungkin mengikuti jiwa dan tema naskah aslinya,22) Telah disebutkan di muka, bahwa NS dipandang dari segi seni sastra/lakon merupakan perkosaan mutu karya seni. Dalam hal ini yang dimaksud ialah mutu tehnik penggarapannya, tehnik penyajiannya sebagai karya seni lakon, bukan mutu isinya yang menjadi motif cerita KUNJARAKARNA. Tentang motif ini, baik
    NK maupun NS sama; yaitu motif "Darma Suci", suatu ajaran tentang tata susila hidup yang sempurna menurut paham Buda Mahayana yang berkembang di Jawa.

Dalam VS terdapat motif yang berlainan, atau lebih tepat: dua macam motif. Yang satu motif 'Darma Suci (yaitu ajaran yang dicari Kunjarakarna untuk meruwat diri, jadi sama dengan NK dan NS), dan di samping itu ada motif lainnya: motif 'senjata Cakra Baswara"atau "Cakra Sudarsana", (yang dianugerahkan kepada Arjuna oleh Wairocana, dan diperebutkan oleh Korawa). Tetapi karena komposisi VS sama dengan NS, yaitu peranan Kunjarakarna tersudutkan ke belakang, maka motif 'Darma Suci" itupun ikut terdesak ke belakang pula, sehingga motif kedualah yang tampak menonjol, yaitu motif ''senjata Cakra Basrawa atau Sudarsana" tadi. Itulah sebabnya kami katakan, bahwa VS me-

22) Yang dimuatkan dalam karangan ini berupa balungan (kerangka) belaka, kadar ancar-ancar urutan dan pembagian laku pakeliran. Kelengkapan isi, antawacana dan cerita termuat dalam "Pakem Padhalangan Jangkep KUNJARAKARNNA" yang sedang dalam penggarapan.

nunjukkan motif yang berlainan. Ini terbukti, bahwa sudah pada permulaan sekali (pathet enam adegan pertama kerajaan Astina) hal senjata Cakra ini menjadi inti masalah pembicaraan, bahwa Prabu Suyudana sangat menginginkan senjata itu untuk memper- teguh kewibawaannya atas singgasana kerajaan Astina. Jadi bukan Darma Suci.2³)

Pun dalam babakan akhir, pathet manura, pada klimaks pengunci, (istilah pedalangan: ''brubuhan'), Kunjarakarna sudah tidak berperan lagi. Seluruh adegan tersebut diisi dengan perebut- an senjata Cakra antara Arjuna di satu pihak dan Korawa di pihak lain. Kemunculan Kunjarakarna hanya sebagai "sempalaning kandha" seperti telah kami sebutkan di muka. Dengan demikian tidak mengherankan, bahwa wejangan-wejangan Wairocana dan Yamadipati tentang "Darma Suci"dan lain-lain yang bersangkutan dengan itu hanya merupakan'lintasan kotbah borongan"belaka tanpa kedalaman sama sekali. Kita sayangkan dengan demikian hilanglah butir-butir mutiara-kata tentang "pancagati samsara", inti pandangan hidup Buda.

Dalam sebuah cerita, motif merupakan unsur utama yang sangat prinsipiil, karena di atas motif itulah di bangun seluruh cerita nada dasarnya, laku dan watak peraganya, plot cerita me- nuju ke penyelesaiannya dan lain-lain. Untuk menghormati hak kebebasan ki Soetrisno dalam membangun versinya, kita mencoba mencari dan memahami dasar alasannya mengapa ia menampil- kan unsur senjata Cakra Baswara ataupun Cakra Sudarsana itu sebagai motif utama dalam pakelirannya, sedang dalam cerita aslinya motif satu-satunya ialah ajaran Buda tentang Darma Suci. melalui tokoh Wairocana.

23)Lihat daftar ikhtisar perbandingan versi lampiran karangan ini.

Dalam NK maupun NS, tentang senjata Cakra Sudarsana ini, (sinonim "Baswara" tidak terdapat pada kedua-duanya, jadi hanya pada VS), hanya sekali saja disebut dalam satu kalimat yang diucapkan oleh Purnawijaya ketika menghadap sang Wairocana. Kami kutipan di sini kata-kata Purnawijaya itu dari Jawa kuna menurut NK.

"Sajna Bhatara! Hwanya tikang cakra si Sudarsana. Sam- buten i ranak Bhațara, daglakna tkeng těgěk i ranak Bhațara pwangkulun! Tan paněngguh alara; suka pjaha de ning kadi sira. Erang-erang ahuripā ranāk Bhațara pwangkulun".24)

Dalam bahasa Indonesia lebih kurang: "Hyang Batara! Inilah senjata Cakra Sudarsana, sambutlah oleh Hyang Batara, lemparkan ke batang leher hamba. Tiada hamba merasa sakit, rela mati oleh tangan Batara. Malu rasa- nya hamba hidup terus".

Dan berikut ini apa yang tertulis dalam NS: "Anjuwun pengaksama, mugi Sang Batara karsaa paring panulak ing dosa. Manawi boten kepareng, dedamel kawula tjakra Sudarsana kasawatna ing djangga, suka lebur wonten

ingarsanpun Sang Batara",25)

Terjemahannya: "Ampunilah hamba, semoga Hyang Batara berkenan mele- paskan hamba dari dosa. Kalau tidak, inilah senjata hamba cakra Sudarsana, lemparkan ke batang leher hamba, suka rela hamba hancur lebur di hadapan paduka Hyang Batara".

24) Kern, op.cit. halaman 68. Sadu Budi, op.cit. halaman 15.
25)

Jelaslah bahwa Cakra Sudarsana adalah milik Purnawijaya sejak semula, jadi tidak ada soal penganugerahan oleh Wairocana ataupun memperebutkannya.

Tentang senjata Cakra ini memang menarik sekali. Kata 'Sudarsana" baiklah kita kesampingkan saja, sebab yakin itu hanya nama tambahan saja yang berarti "teladan", sama halnya dengan nama tambahan "Baswara"(bercahaya) atau nama lain sesuka siapa pun yang mau memberikan. Tetapi ''cakra" adalah senjata Wisnu atau Kresna. Kern dalam terjemahannya pun me- nambahkan keterangan ini: "Heer en gebieder! Hier is de discus Sudarcana ('t wapen van Visu).. ." (Ind. 'Hyang Batara, inilah

Cakra Sudarsana (senjata Wisnu).. .").26)

Bagaimanakah terjadinya sampai senjata Wisnu itu jatuh ke tangan Purnawijaya? Pertanyaan demikian mungkin timbul pada ki Soetrisno dan secara konsekwen ia pun mengejar terus mencari jawabnya. Bagaimana jawabnya, marilah kita ikuti VS itu lebih jauh.

Dalam pembagian peranan para pelakunya, ternyata VS menunjukkan perbedaan prinsipal dengan NS. Di bawah ini kami sajikan ikhtisar nama para tokoh peran NS dan VS untuk sekadar perbandingan.

NS VS

1.Kunjarakarna 1.Kunjarakarna/Arjunapati
2.Wairocana/Batara Guru 2. Wairocana/Kresna
3. Kresna
4.Purnawijaya 3.Purnawijaya/Arjuna/Kiritin
5. Arjuna
26)Kern, op.cit. halaman 37.

6.Gandawati 4.Supraba

7.Dwarakala 5.Wrahaspati
8. Yamadipati 6.Yamadipati
10.Panakawan Pandawa 7.Pandawa lainnya 10.Abimayu 11.Gatutkaca
11. Balayaksa Kunjarakarna 12.Balayaksa Kunjarakarna

9.Pandawa lainnya
8.Panakawan Pandawa
9.Abyasa
12.Korawa 13.Korawa dan lain-lainnya yang kurang perlu disebut di sini.

Dalam ikhtisar tersebut di atas dapat kita baca, bahwa me-

nurut VS: Wairocana = Kresna; Purnawijaya = Arjuna. Dalam NS: Wairocana, Kresna, Purnawijaya dan Arjuna merupakan empat tokoh yang mempunyai identitasnya masing-masing. Dalam pada itu pada VS ada tambahan tokoh-tokoh Abyasa, Abimanyu dan Gatutkaca, yang pada NS tidak terdapat. Kemudian Gandawati dalam NS berubah menjadi Supraba dalam VS. Selanjutnya terdapat perbedaan yang kurang prinsipal sebagai akibat komposisi yang berlainan, yaitu, bahwa kalau NS menampilkan adegan kerajaan Dwarawati (Kresna), maka hal demikian tidak mungkin dalam VS, karena Kresna berada di pertapaan dengan identitasnya sebagai Wairocana. Sebaliknya VS menampilkan adegan kerajaan Amarta yang dalam NS tidak diperlukan. Juga adegan Abyasa oleh NS ditiadakan, yang dalam VS justru tidak dapat di- tinggalkan, kalau tidak ingin merusak alur cerita.

Keidentikan Wairocana dengan Kresna dalam VS agaknya

disebabkan oleh keinginan ki Soetrisno untuk memperoleh jawab- an tentang hadirnya senjata Cakra Sudarsana yang menjadi motif- nya yang utama dalam pekelirannya. Cakra, seperti dikatakan di muka, adalah senjata Wisnu, atau Kresna sebagai titisan Wisnu.

Bagaimana kini tiba-tiba menjadi milik Purnawijaya? Jawabnya yang dekat dan logis kiranya ialah bahwa Purnawijaya telah me- nerimanya dari tangan Kresna. Bila dan dalam kesempatan apa? Peristiwa ini tidak pernah ada, tetapi harus diberi jawabnya. Maka diciptakanlah suatu adegan di mana Kresna memberikan senjata Cakranya kepada Purnawijaya. Dan Kresnapun menjelma (menyamar) sebagai Wairocana. Tema begini dalam pedalangan sudah merupakan klise. Bandingkan dengan lakon WAHYU MAKUTHARAMA, di situ Kresna menjelma menjadi Begawan Kesawasidi.

Tetapi apa hubungannya Kresna dengan Purnawijaya? Dalam KUNJARAKARNA disebutkan, bahwa Purnawijaya adalahanak Batara²7) Indra. Menurut MAHABARATA, Arjunapun anak Batara Indra²8) dan Kresna dekat sekali dengan Arjuna. Jadi logis- lah bahwa Purnawijaya = Arjuna, dan dengan demikian erat pula hubungannya dengan Kresna.

Tetapi Purnawijaya tinggal di kahyangan. Bilakah Arjuna pernah tinggal di kahyangan? Ki Soetrisno menghubungkannya Idem halaman 29.

27) Arjuna, anak Kunti bukan dengan Pandu sebagai bapa, melainkan dengan Batara Indra melalui 'aji pameling"yang didapat Kunti dari Begawan Druwasa sewaktu masih gadisnya. Demikian pula anak-anak Kunti yang lain, Basukarna (di luar ling- kungan Pandawa) dari bapa: Batara Surya, karena itu Basukarna juga disebut Suryaputra. Yudistira atau Darmaputra dari bapa: Batara Darma. Wrekodara (Bayuputra) dari Batara Bayu. Arjuna mempunyai alias Indratanaya (anak Indra). Demikian pula si kembar Nakula Sadewa, proses kelahirannya sama melalui 'aji pameling", hanya dari ibu Dewi Madrim (isteri Pandu kedua) dengan bapa: Batara Aswin.
28) C. Rajagopalachari dalam bukunya MAHABARATA menulis: "He (Pandu) urged Kunti and Madri to use the mantra (she had received from Durvasa) and thus it was that the five Pandavas were born of the gods to Kunti and Madri". (Pandu menyarankan Kunti dan Madrim menggunakan mantra yang diterimanya dari Druwasa, dan oleh sebab itulah kelima Pandawa dilahirkan oleh Kunti dan Madrim dari dewa-dewa).

dengan lakon ARJUNAWIWAHA atau MINTARAGA atau BE-GAWAN CIPTANING, yang mengisahkan tentang Arjuna, setelah mengalahkan yaksaraja Niwatakawaca, mendapat pahala untuk tinggal di kahyangan selama beberapa waktu. Hanya sayang dalam ARJUNAWIWAHA tidak disebutkan, bahwa selama tinggal di kahyangan Arjuna telah mengubah namanya menjadi atau menambahnya dengan Purnawijaya.29) Tinggal bagaimanakah dengan istri Purnawijaya sang Gandawati (dalam NK nama leng- kapnya Kusumagandawati)? Dalam dunia pedalangan sudah lajim seseorang mempunyai banyak nama alias yang disebut dengan istilah "dasanama" (sepuluh nama). Apa salahnya kalau Gandawati istilah "dasanama" (sepuluh nama). Apa salahnya kalau Gandawati pun mempunyai dasanama Supraba? Dan Supraba memang istri Arjuna selama di kahyangan. What is in a name?

Demikianlah dengan adanya senjata Cakra Baswara (atau Cakra Sudarsana) itu, lahirlah suatu kisah tersendiri yang menarik. Tetapi karena kisah yang menarik itu tidak diceritakan dalam NK, juga tidak dalam NS, maka oleh ki Soetrisno disalurkan me- lalui pekelirannya, di mana ia bebas menggunakan versi dan inter- pretasinya. Tetapi dengan demikian, sadar atau tidak, Soetrisno telah menyudutkan motif aslinya: Darma Suci, dan sekaligus pun peranan Kunjarakarna, walaupun namanya masih meng- hiasi judul pekelirannya.

NS lebih murni dan konsekwen mengikuti motif aslinya dengan menampilkan Wairocana sebagai 'juru selamat'', yang me- ngabarkan ajarannya tentang Darma Suci sebagai syarat umat manusia untuk mencapai keselamatan hidup yang sebenarnya di dunia dan akhirat.Siapa pun boleh menerima ajarannya. Maka

29) Purbatjaraka, 1926.

berdatanganlah Kunjarakarna, Purnawijaya, Kresna, Pandawa termasuk Arjuna dan Korawa, meskipun yang akhir ini tidak ber- hasil karena terlambat datangnya.

Dengan mengabaikan hal ikhwal senjata Cakra Sudarsana, maka NS tidak merasa perlu mengidentikkan Kresna dengan Wairocana, Arjuna dengan Purnawijaya, sehingga dengan demikian bebas menampilkan Arjuna pada adegan ''perang kembang" melawan Buta Cakil dan balayaksa yang menghadangnya dalam perjalanan ke Budicipta. Ternyata ini lebih logis dan lebih praktis daripada VS yang harus menampilkan tokoh sateria lain, Abimanyu, untuk dikonfrontasikan dengan Buta Cakil dan kawan- kawannya.

Peranan Abimanyu pada VS ini adalah klise. Terasa dicari- cari alasan kehadirannya, yaitu mencari orang tuanya, Arjuna, yang sekian lama telah menghilang tidak ada kabar beritanya. Biasanya dalam peristiwa demikian, maka dimintakanlah nasehat dan petunjuk kepada Begawan Abyasa, kakek Pandawa yang arif bijaksana. Sebab itu adegan Begawan Abyasa perlu ditampilkan, yang pada NS dapat ditanggalkan tanpa mengganggu jalan cerita.

Penampilan Buta Cakil dan balayaksa pada VS hanya se- pintas, yaitu pada adegan "perang kembang" sebagai prajurit kawula raja Kunjarakarna, tetapi jelas peranannya, untuk apa sebenarnya mereka mesti berkonfrontasi dengan Abimanyu. Di sini terasa sekali seperti barang tempelan yang kehilangan konteks- nya dengan keseluruhan cerita. Penonton tanpa dipersiapkan pengetahuannya tentang peranan dan tugas yang mereka emban, langsung dibawa ke pertapaan Budicipta, tempat Wairocana mem- beberkan ajaran Darma Suci kepada Kunjarakarna (adegan 'sab-

ragan"). Tetapi pada adęgan lain kemudian (adegan "perang kembang") balayaksa prajurit Kunjarakarna ini memerangi Abima- nyu. Ini berarti bahwa balayaksa ini masih membawa sipat-sipat angkaranya, yang oleh Kunjarakarna justru dibuang jauh-jauh. Karena tidak ada eksposisi peranan balayaksa ini sebelumnya, maka mudah sekali penonton beroleh kesan kontradiksi ini. Kesan, bahwa Kunjarakarna, dalam usahanya mencari pengetahuan Darma Suci, bermuka dua, tidak sepenuh hati, tidak jujur, tidak tulus.

Pada NS alasan kehadiran balayaksa dalam adegan 'perang kembang" adalah jelas, karena dalam adegan 'sabrangan"sebelumnya sudah ada eksposisi tentang peranan dan tugas mereka, yaitu mengejar jejak Kunjarakarna. Meskipun dalam naskah tidak di- sebutkan maksud-maksudnya, namun, mengingat bahwa kepergian Kunjarakarna tidak disepakati oleh para pembantu dan penasehatnya, dapat kita tarik kesimpulan, bahwa tugas yang diberikan kepada balayaks. itu paling tidak adalah untuk menjaga kese- lamatan rajanya, Kunjarakarna. Jadi bagaimana juga, peranannya jelas: membawa sesuatu "jejibahan"(mission). Adapun Kunjarakarna sendiri sudah bulat tekadnya, melepaskan segala ikatan keduniawian. Jadi apa yang diperbuat oleh para punggawa pembantu dan penasehatnya di istana bukanlah tanggungjawabnya. Juga segala perlakuan bala prajuritnya terhadap Arjuna. Dengan demikian penonton tidak mendapatkan gambaran dualistik tentang tokoh pribadi Kunjarakarna.

VStm mencobakan komposisi yang berlainan sekali. Dengan ditanggalkannya tokoh-tokoh Pandawa, maka diharapkan kita memperoleh, atau setidak-tidaknya mendekati, kemurnian isi jiwa KUNJARAKARNA sebagaimana aslinya. Sudah barang tentu, untuk memenuhi tuntutan tehnik lakon pedalangan, diperlukan

tambahan tokoh-tokoh yang tidak terdapat pada naskah aslinya,

namun demikian tetap dipertahankan keutamaan peranan Kunjarakarna sebagai tokoh pusat. Hanya perlu dicatat di sini lima tokoh tambahan yang amat penting karena peranannya yang me- nentukan tema dan plot cerita, tetapi kelima tokoh itu sebenarnya tidak lebih daripada personifikasi kompleks ego-nya Kunjarakarna sendiri.

Misalnya adegan "perang gagal"yang lajimnya digambar- kan secara konvensional dengan pertarungan antara dua kelom- pok yang berlawanan (NS: Korawa melawan balayaksa, VS: Korawa melawan Kunjarakarna), pada VStm adalah merupakan

konflik pribadi (Kunjarakarna melawan Kunjarakarna). Demikian pula dengan adegan terakhir ('brubuhan') pertarungan mati- matian antara Kunjarakarna dan Kunjarakala, sebenarnya adalah gambaran tahap ujian yang terakhir dan paling berat bagi Kunjarakarna dalam menyelesaikan tuntutan ilmunya, yaitu meniada- kan dirinya sendiri dalam wujudnya sebagai Kunjarakala, yang tidak lain adalah potret masa lampau dirinya sendiri yang masih dihinggapi napsu dan watak yaksa.

Demikianlah penggubah mencoba mendramatisasi secara kasat-mata (visual) gejolak perubahan jiwa manusia pada saat- saat yang kritik dalam masa transisi kehidupannya. Krisis demi krisis yang menantang Kunjarakarna sepanjang lakon dari awal

sampai akhir, yang semakin meningkat hingga memuncak pada

akhir lakon (adegan "brubuhan"), dimaksudkan sebagai lambang batu ujian setahap demi setahap bagi Kunjarakarna dalam tekad-

nya menempuh kehidupan baru yang lebih sempurna. Segala

ilmu yang diperolehnya dari Wairocana dan Yamadipati serta kesaksian-kesaksian selama ia mematuhi petunjuk gurunya, akan

baru dapat berhasil mengubah kehidupannya ke arah yang sem-

purna, apabila disertai dengan pengamalannya. Maka adalah sudah tepat sekali apa yang disampaikan oleh pujangga besar Mangkunagara IV dalam Wedhatama:

Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani,

setya budya pangekese dur angkara.30)

yang artinya: Ilmu barulah berhasil karena diamalkan dengan cara yang sungguh-sungguh. Artinya sungguh-sungguh: membuat teguh kesetiaan iman membasmi napsu jahat.

Semoga!

30) Mangkunagara IV, WEDHATAMA, syair 33 Pucung.

III. RELIEF KUNJARAKARNNA PADA CANDI JAJAGHU.

A. GAMBAR – GAMBAR RELIEF

Relief 1

Relief 2

Relief 3

Relief 4

Relief 5

Relief 6

Relief 7

Relief 8

Relief 9

Relief 10

Relief 11

Relief 12

Relief 13

Relief 14

Relief 15

Relief 16

Relief 17

Relief 18

Relief 19

Relief 20

Relief 21

Relief 22

Relief 23

Relief 24

Relief 25

Relief 26

Relief 27

Relief 28

Relief 29

Relief 30

Relief 31

Relief 32

Relief 33

Relief 34

Relief 35

Relief 36

Relief 37

Relief 38

Relief 39

Relief 40

Relief 41

Relief 42

Relief 43

Relief 44

Relief 45

Relief 46

Relief 47

Relief 48

Relief 49

Relief 50

Relief 51

Relief 52

Relief 53

Relief 54

Relief 55

Relief 56

Relief 57

Relief 58

Relief 59

Relief 60

Relief 61

Relief 62

Relief 63

Relief 64

Relief 65

Relief 66

B. KETERANGAN GAMBAR RELIEF KUNJARAKARNNA PADA CANDI JAJAGHU Sudut Timur Laut Candi Jajaghu tempat dimulainya relief Kunjarakarna dan dengan mengikuti kebalikan arah jarum jam (Prasavya), terus dilanjutkan pada bagian bawah antara Teras I dan Teras II dan berakhir pada sudut barat laut.
1. Yaksa Kunjarakarna, terlihat dengan pakaian kebesarannya berada di bawah naungan pohon, di depan dua buah balai- balai yang menggambarkan keadaan istananya. Tepat di depannya berada ikal hiasan yang menggambarkan renungan pemikirannya tentang nasib penjelmaannya yang terkatung- katung.
2. Yaksa Kunjarakarna sedang berjongkok menghaturkan sem- bah, memohon untuk memperoleh wejangan Sang Hyang Darma dari Batara Sri Wirwacana yang sedang dihadap oleh para dewata dan Lokapala.
3. Sebelum memperoleh wejangan, yaksa Kunjarakarna diharus- kan pergi ke Yamani terlebih dahulu. Kunjarakarna tampak sudah berada di Catuspata, suatu persimpangan jalan menuju ke Yamani, yang dijaga oleh seorang Dwarapala.
4. Kunjarakarna telah tiba di daerah Yamani. Ia tampak berdiri di tepi padang Agrikorawa, yang terletak di tengah-tengah Bumipatana, menyaksikan adegan-adegan pancagati sangsara. Kunjarakarna menyaksikan orang-orang yang berdosa ter- siksa. Ada yang digantung, diangkat untuk dilemparkan ke dalam kawah Tambragomuka. Terlihat pula orang-orang yang direbus dalam kawah Tambragomuka yang dinaungi pohon Kalpakadga, sedang lainnya berdiri menanti giliran.
5. Mereka yang berdosa tergiring menuju kawah, setelah melalui

jembatan yang di bawahnya berkobaran api neraka.

  1. Terlihat yaksa paksimuka beserta Yamabala lainnya sibuk melakukan penyiksaan. Berikutnya tersedia sebuah kawah Tambragomuka yang masih kosong dan akan diperuntuk- kan bagi Purnawijaya, disebabkan perilakunya yang jahat.
  2. Kunjarakarna berdiri di muka sebuah Paduraksa dan disam- but oleh Kusumagandawati. Selanjutnya ia memasuki istana Purnawijaya. Kedatangannya di waktu malam hari, maka terlihat Kunjarakarna duduk menceriterakan pengalaman- nya di Yamani kepada Purnawijaya yang sedang berbaring tidur dan ditunggui oleh istrinya, Kusumagandawati.
  3. Terlihat para bidadara dan bidadari beriringan membawa saji-sajian. Sementara itu terlihat Kunjarakarna duduk me- renungkan penjelmaannya. Kunjarakarna menyembah di ha- dapan Yamadipati sedang di belakangnya dilukiskan dua orang pertapa yang merupakan penjelmaan Kunjarakarna dan Prunawijaya di masa yang lalu.
  4. Purnawijaya dengan diantar oleh Kunjarakarna melakukan pemujaan kepada Sri Wirwacana untuk memohon pengampunan atas segala dosa-dosanya. Kusumagandawati beserta bidadara dan bidadari mengiringi mereka dengan memetik alat-alat bunyian.
  5. Terlihat alat-alat bunyian yang dipetik oleh bidadara dan bidadari serta prosesi meninggalkan tempat pemujaan.
  6. Atas pengampunan Sri Wirwacana, Purnawijaya hanya akan mengalami siksaan selama 10 hari. Terlihat Purnawijaya selagi berpesan pada Kusumagandawati untuk menunggui jasatnya pada saat atmanya meninggalkan tubuhnya selagi tidur.
  7. Terlihat Kusumagandawati dengan setia menunggui jasat suaminya, sementara yaksa Swanamuka terlihat mengintai 的

atma Purnawijaya yang telah meninggalkan tubuhnya me- nuju Paduraksa.

  1. Atma Purnawijaya telah meninggalkan istananya terlihat menoleh seakan-akan mengucapkan salam perpisahan. Untuk selanjutnya Yamabala mulai bergerak mengejar atma Purnawijaya dengan sebuah trisula yang siap untuk dilemparkan.
  2. Atma Purnawiajaya dikejar terus oleh Yamabala yang akan menyiksanya dengan trisula.
  3. Terlihat seekor singa penghuni Yamani yang sangat menye- ramkan, dengan mata melotot memperhatikan atma Purnawijaya.
  4. Atma Purnawijaya sedang dikejar singa penghuni Yamani.
  5. Dua ekor singa berhadapan, penghias dasar ambang pintu teras II.
  6. Pemandangan di daerah Yamani. Terlihat yaksa paksimuka sedang berada di atas pohon Kalpakadga yang dipenuhi dengan cakra dan senjata-senjata lainnya. Sementara itu para Yamabala sedang memburu atma Purnawijaya.
  7. Atma Purnawijaya berlarian dikejar-kejar Yamabala.
  8. Atma Purnawijaya berhasil ditangkap dan dimasukkan dalam kawah Tambragomuka.
  9. Dua ekor singa berhadapan, hiasan dasar ambang pintu pada teras II.
  10. Yamabala menyiksa atma Purnawijaya dalam kawan Tambragomuka.
  11. Yamabala bergerak dengan berbagai senjata untuk menyiksa atma Purnawijaya.
  12. Yamabala menghadap Yamadipati menceriterakan keadaan atma Purnawijaya.
  13. Suasana dalam istana. Relief mengalami kerusakan.
  14. Suasana dalam istana. Sementara atma Purnawijaya ter-

siksa dalam Yamani — tampak dalam istana, Kusumagandawati sedang berbincang-bincang menggambarkan kesedihan yang sedang dialaminya. 29-30. Suasana kesunyian dalam istana yang diliputi kesedihan yang sanga mendalam. 31-32. Kusumagandawati dengan disertai oleh bidadari, mengadakan prosesi untuk melakukan pemujaan. 33-37. Suasana pada tempat pemujaan. Para bidadari menghaturkan saji-sajian. seraya menyembah kepada Batara Sri Wirwacana. 38-39. Kembali terlihat Yamabala dalam daerah Yamani.

  1. Yamabala kembali melakukan siksaan-siksaan pancagati. 41-43. Atma Purnawijaya merintih-rintih meminta ampun seraya menyembah kepada Yamadipati.
  2. Genap pada hari yang kesebelas, setelah atma Purnawijaya mengalami siksaan, tiba-tiba kawah Tambragomuka berubah menjadi telaga jernih yang indah permai, sementara atma Purnawijaya sendiri terlihat duduk di atas sebuah perahu.
  3. Atma Purnawijaya terlihat duduk menghaturkan sembah untuk memohon diri pulang kembali ke istananya.
  4. Atma Purnawijaya dalam perjalanan pulang menuju istananya. 47-48. Dua orang panakawan menyambut kedatangan atma Purnawijaya, terlihat di depan Paduraksa. Selanjutnya Purnawijaya sudah terlihat berada di dalam istana, sementara Kusumagandawati telah menantinya pada sebuah balai-

balai, sedang dua orang panakawan terlihat duduk di bawah, berbisik-bisik.

  1. Sang Purnawijaya berada dalam hutan, menggambarkan perjalanannya menuju ke pertapaan di kaki gunung Maha- meru sebelah timur.
  2. Terlihat Sanggar beserta saji-sajian yang melukiskan suasana dalam pertapaan terlihat sebuah relung dengan tiga buah undak-undak.
  3. Keadaan di pertapaan (Bumimandala) yang menjelaskan kehidupan dan Kunjarakarna sebagai Kirnagata pada pen- jelmaannya di masa yang lampau. Keduanya dilukiskan sebagai pertapa dengan mengenakan sorban.
    52.Utsahadarma dan Sudarma terlihat duduk di depan balai-balai pada saat Purnawijaya marah-marah. Kemarahan ini dilukiskan di belakangnya dengan bentuk dua orang yang sedang berkelahi.
  4. Utsahadarma terlihat menyembah untuk meminta diri me- ninggalkan Bumimandala — untuk mencari pertapaan sendiri. 54-55. Utsahadarma pada suatu mandala yang bertelaga jernih di daerah Sarwapala.
  5. Utsahadarma bersama istrinya mendirikan balai-balai di Mandala Sarwapala dan dengan senang hati akan selalu menyambut para tamu yang lalu lang dalam perjalanan.
  6. Terlihat para tamu pergi datang mengunjungi Sarwapala.
  7. Sang Utsahadarma menyambut kedatangan para tamunya. 59-61. Gambaran tentang perbuatan-perbuatan jahat yang akan memperoleh ganjaran setimpal dengan perbuatannya. 62-64. 'Gambaran tentang perbuatan-perbuatan baik sesuai dengan ajaran Sang Hyang Darma.

  8. Ganjaran tentang perbuatan jahat, yang terkejar-kejar masuk ke neraka.

  9. Ganjaran tentang perbuatan baik, dengan penuh kesentausaan menuju ke sorga.

IV. PEWAYANGAN

A. NASKAH "SADU-BUDI" (NS)

PRATAMA KANDHH

JEJER ing nagari Hastina, ajejuluk Maha Prabu Duryudana, miyos tinangkil munggeng siti-luhur binatarata, kinebutan lar-badhak nganan negering, tinon saking mandrawa kadi ilang kama- nusane, lir Bathara Bayu tumurun angeja-wantah. Sinten ingkang sumiweng ngarsa? Rekyana Patih Sangkuni, tuwin Pandhita ing Sokalima, Brahmana Resiwara Bisma, Senpati Ing Alaga Adipati Ngawangga.

Wau ta Sri Bupati imbal wacana, anggusthi tata raharjaning praja, miwah amedharaken ingkang dados rudatosing karsa Nata, amrih widadaning jumenenge Nata binathara, ambawani ing ba- wana. Aturipun Sang Pandhita Durna:

"Dhuh Sinuhun! saking pamanggihipun pun bapa, kados boten wonten malih ingkang dados sarana kaluhuran lestantune

amengkoni binathara punika, kados anglampahi piwulang ang- gering Darma."

Sang Prabu ngandika:

"Bapa ing Sokalima! aturira emeng nggoningsun miyar- sakake, bab anggering Darma; sinten kang bisa medharaken, bapa?"Aturipun Sang Pandhita Durna:

"Sinuhun! wonten pandhita ingkang satuhu dibya putus saliring kawruh, kekasih bathara Sri Wairocana, pratapanipun ing Budicipta, prenah imbanging Mahameru wukir, kasebut Guru Ageng; bilih Padukendra karsa mundhut wedharing piwulang

Darma, panjenenganipun badhe boten kewran sayekti."

Ya ta wau Sri Bupati kapareng ing panggalih, mila lajeng andhawuhaken Sang Nindya Mantri kinen samapta wahana turang- ga, Sang Prabu karsa cangkrama nyarirani pribadi tedhak maring wukir Mahameru; Rekyana Patih matur sandika, lajeng luwaran dennya tinangkil, Sang Nata kondur ing kadhaton. Sigeg.

DWITA KANDHH

Madeg ing Prabasuyasa, Sri Nata Dewi Banuwati, lenggah ing jarambah den adhep para manggung cethi parekan badhaya srimpi munggeng ngayun, kasaru rawuhipun ingkang raka Nata, Sang Dewi methuk wonten ing wiwara, lajeng sami kekanthen asta lenggah sakalihan, Sang Prabu andhawuhaken pawartosing pasewakan tuwin karsa Nata, nggene badhe tedhak pepara. Sang Kusuma sampung tanggap ing Wardaya, enggal mirantos dhedha- haran, tuwin samapta busananing kaprabon, Sang Prabu karsa kembul dhahar lawan ingkang garwa. Sigeg.

Madeg ing pasewakan jawi, ari Nata Sang Arya Dursasana den ayap para Korawa ingkang sami sumewa magelaran, kasari andha- pipun Rekyana Patih andhawuhaken timbalan Nata, yen arsa tindak pepara maring wukir Mahameru. Para arya tuwin wadya sadaya sami kadhawuhan andherek, kajawi ingkang pinatah tengga praja. Enggaling carita, sasampuning mirantos wahana turangga lajeng tengara bidhaling para wadya bala. Sigeg.

TRITA KANDHEH

Medeg ing praja Simbarmanyura, Nata yaksa kang bebisik Sang Kunjara-Karna, nuju miyos tinangkil munggeng siti-bentar, ingkang sumiwi Emban raseksi wasta Nila Werdati, Senapati Sang Ditya Kalayaksa mangka tuwanggananing praja Simbarmanyura. Sang Nata dahat rudatosing driya dennya warni raseksa, mila rinten dalu tansah amemuja neges kersaning jawata. Duk ing madya ratri antuk cipta-sasmita kinen anggeguru dhateng Sang Budda Wairocana, inggih punika ingkang mangka jalaraning ruwat warnining yaksa, mila Sang Prabu karsa miyos ing pagelaran, dhawuh maring Emban Nila Werdati tuwin Kalayaksa pinasrahan pengrehing praja. Nyai Emban amambengi kathah-kathah, nanging bebasan Sang Prabu Boten kandheh ing beboleh, boten luntur ing pitutur, pinalangan malumpat, rinanteya medhot, saking srenging wardaya, Sang Prabu sigra mesat anggegana siluman. Nyai Emban lajeng andhawuhaken para wadya tigang paman- cat: 1. Sang Ditya Kalamintragna, 2. Kalapralebda, 3. Kaladu- meya, sawadya karerehanipun sadaya dhinawuhan umiring Sang Prabu, aturing para rota danawa sandika, lajeng bidhal, pindha sardula amemangsa.

Enggaling carita wonten ing margi, kapapag para wadya bala ing Hastina. Wantuning raksasa, kasaliring sabda, temah aban- dayuda, rame gentos kalindhih. Dangu-dangu karoban mengsah, para rota danawa sami sumimpang ing margi, angener ing wana. Wadya Hastina nglajengaken ing lampah. Sigeg.

CATURTA KANDHEH

Madeg ing praja Dwarawati inggih Jenggalamanik, ajejuluk Maha Prabu Kresna Wasudewaputra. Miyos tinangkil munggeng siti-bentar, den adhep putra Nata satriya ing kadipaten Raden Samba, tuwin Sang Arya Wresniwira, kasaru rawuhipun ingkang rayi Nata Pandhawa saha kadang sadaya. Sasampuning sinambrama ing pambagya, Nata Pandhawa amalehaken ingkang dados ruda- tosing panggalih, anggenipun mentas arerukunan kalih Korawa Hastina, murih wandene Bratayuda, teka tansah wonten pepala- nganipun kemawon. Prabu Kresna ngandika: 'Dhuh kadange pun kakang, yayi Prabu! Manawi boten saged kalampahan wande Bratayuda, awit sampun dados pepesthening jawata, ananging yayi Prabu kula aturi nyatakaken. Ing wukir Mahameru, wonten pandhita salingga bathara, kekasihipun Sri Budda Wairocana, sumerep lelampahan kahananing dumadi. Manawi yayi Prabu dhangan ing panggalih suwawi kula sowanaken". Aturipun Nata Pandhawa dalah para kadang sami jumurung badhe nyuwun puruhita ing Bathara Sri Wairocana. Enggaling carita, Prabu Kresna tuwin Nata Pandhawa dalah sakadangipun sadaya, sami bodhol tindak dhateng wukir Mahameru. Prabu Kresna mahawan ing gegana, Nata Pandhawa manjing ing kancing gelungipun Arya Sena, Nangkula Sadewa lumebet ing kepuh, Arya Sena lumampang ngener ing margi, dene Sang Arjuna dharat

kairing wulucumbu tetiga: Petruk, Nalagareng, Semar. Wonten ing margi lampahipun kapethuk wadya ing Simbarmanyura, wantuning diyu lajeng dak menang lan bandha kaduga, temahan perang. Para yaksa linepasan sanjata Sarotama, sirna tan mangga puliha. Sang Arjuna nglajengaken lampah. Sigeg.

C PANCAMA KANDHEH

Madeg ing prapatan Budicipta, Bathara Sri Buda Wairocana, lenggah munggeng padmasana manik, mentas amemulang para Lokapala gangsal. Sasampuning samya linilan mantuk ing kaswar- ganipun piyambak-piyambak, kasaru pisowanipun yaksa sang Kunjara-karna, umatur sedya puruhita, nyuwun kawulanga kamul- yaning dumadi, tuwin bab anggering Darma.

Pangandikanipun Sang Bathara: 'Dhuh, dhuh, Sang Kunjara-Karna! sira bakal ingsun wulang, ananging yen sira wus nyu- murupi kabeh kang papa ana sajroning yamani."Sang Kunjara-Karna mantep santosa ning panggalih, mila matur sandika, amit. Sigra umesat ing gegana.

Wau ta lampahing yaksa Kunjara-Karna, rangu-rangu kewran ing panggalih, sanalika muntu tyas legawa sedya anjegur samodra, tan ajrih antaka. Mila anekakaken kang gara-gara, temah anjebat gapura ning jalanidhi.

Prapteng dlanggung prapatan, sangsaya kaemengan pangga-

lih. Sakala jleg ana kang katingal. Sang Bathara Dwarakala, ing-kang jagi dlanggung prapatan, apan tanedahaken sakathaning margi. Sang Kunjara-Karna kinen lumampah ngidul leres, lajeng

dipun lampahi. Kocapa, Sang Kunjara-Karna sampun prapta, arane ing Bumi Patana, ing ngriku panggenanipun para dosa ingkang siniyasat gangsal pratingkah, saged andadosaken pe- munguning wardaya, sowan ing Bathara Yamadipati.

U SASTHI KANDHÉH

Madeg ing kahyangan Yamaloka, Bathara Yamadipati; Kunjara-Karna sasampuning pinaringan pambagya, umatur nyuwun piwulang karananipun tiyang sami anandhang dosa. Bathara Yamadipati amedharaken kawontenaning dosa, saking atma lelima, tuwin buta lelima, ingkang wonten badaning manusa, inggih punika watek haruhara dosa kreta sadasa, memala ingkang wonten salebeting badan, ngantos dumugi pejah lumbebet wonten ing atma. Utawi anyariyosaken badhe wonten ratuning Kaendran, nama Bathara Purnawijaya, kalebetaken ing kawah, saha kawahi- pun sampun kasadhiyakaken, boten antawis dangu badhe kaukum. Sang Kunjara-Karna sanget kagyat ing panggalih sarwi umatur: "Dhuh pukulun! Sang Purnawijaya kaliyan kula sadherek darma, boten nginten yen badhe dhumawah ing kawah." Mila lajeng nyuwun pamit, badhe mampir Kaendran. Sampun rinilan, sigra mesat.

C SAPTA KANDHEH

Madeg Kaendran, Bathara Purnawijaya, lenggah lawan ingkang garwa Dewi Gandawati, den ayap para widadara-widadari, kasaru praptanipun Sang Kunjara-Karna, dumarojog tanpa larapan. Sasampunipun kaaturan ing pambagya, Sang Purnawijaya miteges

ingkang dados wigatosipun praptaning Kaendran. Sang Kunjara-Karna amalehaken, yen mentas saking Yamaloka, kautus Bathara Sri Wairocana, aningali sakathahe para dosa. Dene praptanipun ing Kaendran badhe awewarti, manawi ing tembe Sang Purnawijaya kacadhang lumebet ing kawah, awit anyaur pandamelipun ing uni, dene ingkang sae dhateng ing swarga.

Ya ta wau Sang Purnawijaya, sareng mireng cariyosipun ingkang raka Sang Kunjara-Karna, sigra nyungkemi pada sarwi sesambat: "Dhuh dhuh, sadulurku Sang Kunjara-Karna! tulunga- na, entasna aku saka yamani, kakang!" Sanget ing panangisipun Bathara Purnawijaya wau. Yaksa Kunjara-Karna suka pitedah, kinen anglebur tapak tilas, puruhita dhateng Sang Bathara Sri Wairocana, angaturaken pejah gesang. Bok bilih Sang Bathara kagungan welas, saestu saged angudhari dosa. Sang Purnawijaya miturut, lajeng sami bidhal maring Budicipta.

C ASTHAMA KANDHEH

Madeg Sri Budda Wairocana, sajatosipun inggih Bathara Maha Sewaya Siddi, lenggah munggeng padmasana manikmaya, anam- peni pisowanipun yaksa Kunjara-Karna ingkang mentas saking yamani, sasampuning sinambrama ing pambage, Sang Kunjara-Karna umatur:'Dhuh pukulun pepundhen kawula! sareng sampun uninga sakathaning para dosa ingkang kalebet siyasat, pukulun! ical kajeng kawula gesang, sanadyan dados jawata boten melik, awit Purnawijaya sampun dados ratuning dewe, ewadene ing tembe dumugi ing watesipun, lumebet ing kawah. Mila kaparenga, pukulun, nyuwun pamudharan, kawulang Darma, tuwin kamulya- ning dumadi." Enggaling cariyos Sang Kunjara-Karna sampun

widagda. Lajeng dipun asta Sang Bathara, kaedus ing tirta Pandhi- tamala, katinggalan murub sariranipun, sireping ujwala sampurna waluya jati sirna warnaning yaksa, dados dewa kinen tapa aneng lambunging Mahameru wukir. Kunjara-Karna lajeng mangkat.

Wau ta ketungka dhatenge Bathara Purnawijaya sumungkem angraup pada: "Anyuwun pangaksama, mugi Sang Bathara karsaa paring panulaking dosa. Manawi boten kapareng, dedamel-kawula Cakra Sudarsana kasawatna ing jangga, suka lebur wonten ing ngarsanipun Sang Bathara." Pangandikanipun Sang Bathara: "Kulup! ingsun ora tau nyatru batin marang kang padha pasrah marang jeneng ingsun. Majuwa sira ingsun wulang."Mangkana Bathara Purnawijaya, sampun kawulang lampah Darma, miwah pamesating suksma, dhinawuhan ing Bathara kinen nyaur sam- butaning dosa, wonten kawah salebeting sadasa dalu, wineling patraping semedi. Sang Purnawijaya sampun widagda. Lajeng nyuwun pamit, sampun kalilan.

NAWANA KANDHEH

Madeg in Kaendran, Sang Dewi Gandawati, angrangu rawuhipun ingkang raka, dereng dangu kasaru rawuhipun ingkang raka Bathara Purnawijaya. Sang Dewi sigra nungkemi pada sarwi umatur: 'Dhuh pukulun! kados pundi karsanipun Sang Bathara?" Sang Purnawijaya dhawuh mring kang yayi, kinen anengga dennya nendra salebeting sadasa dinten sampun ngantos kawungu, awit daweg anglampahi dhawuhinh Sang Bathara, Sang Dewi umatur sandika.

Wau ta Bathara Purnawijaya, sigra mangsah aguling muntu

jatining pramana, sami sanalika Hyang Atma mesat saking sarira, pindha wewayangan, ngelayang prapten yamani, katingalan lawan wadya balanipun Bathara Yamadipati, enggal dipun cepeng sini- yasat gangsal pratingkah, anetepi karma piwulanging uni, sareng sampun jangkep sadasa dinten wonten ing kawah, sariranipun ingkang katingal rontang ranting, mulya jati tan pasah ing gega- man, padna sanalika bedhah ingkang kawah, sirep ponang dahana, katingal dadya talaga, toya wening, ingkang patra-kandhaga santun warni dadya kalpa-taru, agodhong mas woh sesotya, balanipun Sang Yamadipati samya ajrih, lajeng umatur:

'Pukulan Sang Bathara! janma Sang Purnawijaya langkung sakti, tuhu kekasihing Dewa Linuwih, saged angrisakaken kawah, kang patrakandhaga santun dados kalpataru, badanipun Purnawijaya katingal pulih, punapa malih punapa malih karananipun,

pukulan? mugi kapariksaa."

Sang Bathara Yamdipati lajeng prapta andangu Sang Purnawijaya, sabab punapa pepancening dosa salebeting satus warsa, teka sadasa dinten ingkang kawah sampun risak. Sang Purnawijaya umatur: "Dhuh pukulan! boten wonten malih ingkang kula- bekteni, amung Bathara Maha Siwaya, inggih Sang Budda Wairo-

cana, ingkang piwulangipun kawula regem."

Sang Bathara Yama dhawuh, Purnawijaya kinen mantuk mring kahyanganipun. Tan kawarna lámpahipun, Sang Purnawijaya dumugi ing Kaendran, wungu saking nendra, lajeng dhawuh ingkang rayi Kusuma Gandawati, kinen pradandosan, tuwin para apsara apsari sadaya, Sang Bathara Purnawijaya badhe sowan maring Budicipta, ngaturaken panuwun, lajeng sami bidhal.

C DASAMA KANDHEH

Madeg Bathara Sri Wairocana, anampeni pisowanipun Purnawijaya, tuwin para Lokapala gangsal, sarta Bathara Yamadipati, pitaken karananipun Sang Purnawijaya kawawa ngrisak kawah. Sampun jinatosan sadaya. Para jawata kalilah mantuk dhateng kaswarganipun sowang-sowang. Kasaru dhatengipun Bathara Kresna, tuwin Nata Pandhawa, sami nyuwun puruhita, negesaken karsanipun Nata Pandhawa, sasampunipun winulang Darma. Sang Bathara Buda Sri Wairocana sigra muksa saking Madyapada, kondur mring kahyangan Nitya- madya. Sajatosipun Sang Hyang Jagad Giri Nata, karsa medhara- ken piwulang Darma, dhumateng para siswanipun ingkang lampah utami.

Praptanipun Nata Hastina sampun pinanggih suwung, kantun para Pandhawa, lajeng seling panampi, temahan perang sampak.

Tancep kayon

TERJEMAHAN BEBAS

BAGIAN PERTAMA

ADEGAN di negara Astina. Prabu Duryudana duduk di atas

singgasana gading dalam balairung, dihadap oleh Rakyan Patih Sangkuni, pendeta Sokalima Begawan Drona, Brahmana Resiwira

Bisma dan Panglima Perang Adipati Awangga.

Rapat kerajaan tengah berlangsung, membicarakan keamanan dan kesejahteraan negara serta keinginan baginda untuk memper- kuat kedudukannya selaku raja diraja. Berkatalah Begawan Drona:

"Duhai, Sinuhun! pada hemat hamba satu-satunya sarana

untuk mempertahankan kelangsungan serta memperkokoh ke- wibawaan paduka dalam memimpin kerajaan Astina dan dunia, tiada lain hanyalah dengan menunaikan ajaran Darma."

Bagindapun bersabda:

"Ah, bingung rasanya hamba memikirkan perkataan tuan. Siapakah gerangan yang sanggup memberikan ajaran Darma itu,

wahai bapa Begawan?"

Jawab Sang Drona:

"Sinuhun! Di lereng gunung Mahameru, di sebuah pertapaan yang disebut Budicipta, ada tinggal seorang pendeta arif bijaksana yang menguasai segala ilmu, namanya Batara Sri Wairocana. Be- liaulah yang disebut Sang Guru Agung. Kalau sekiranya baginda berkenan, hendaknya berguru kepadanya. Niscaya tiada akan sulit bagi beliau untuk menguraikan ajaran Darma itu."

Saran Begawan Drona itupun diterima oleh baginda, dan kepada Rakyan Patih Sangkuni diperintahkan segera mengumum- kan keputusan baginda hendak berguru ke Mahameru dan mempersiapkan segala sesuatunya. Patih bersembah lalu minta diri untuk melaksanakan titah raja. Rapat kerajaanpun bubar, baginda masuk ke dalam puri.

BAGIAN KEDUA

Adegan di Purbasuyasa, istana para putri. Permaisuri baginda, Dewi Banuwati, sedang diapit oleh para abdi inang pengasuh menyaksikan tari bedaya serimpi. Tidak lama kemudian tibalah Sang Prabu, segera disambut dengan sembah oleh permaisuri di pintu gerbang. Setelah itu baginda dan permaisuripun bergan- dengan tangan menuju ke tempat duduk bersanding, diuraikan oleh baginda keputusan baginda dalam rapat kerajaan untuk berguru kepada Batara Sri Wairocana di gunung Mahameru. Permaisuri yang arif itu pun segera mempersiapkan santapan dan busana keprabuan. Sementara di balai penghadapan luar, adik baginda Arya Dursasana dan para Korawa lainnya serta segenap perwira dan

punggawa Astina mendengarkan pengumuman Patih Sangkuni akan keputusan raja dan perintah persiapan pasukan pengawal yang kuat yang akan mengiring perjalanan baginda. Perintah segera dilaksanakan, tidak lama kemudian segala sesuatunya siap sudah, tinggal menanti tengara pemberangkatannya setiap waktu.

BAGIAN KETIGA

Adegan kerajaan Simbarmanyura. Yaksaraja Prabu Kunjarakarna sedang dihadap oleh Patih Ditya Kalayaksa dan Nyai Emban rasaksi Nila Werdati. Baginda menyampaikan kemasgulan hatinya, karena berwujud raksasa, maka siang dan malam bersamadi untuk memperoleh anugraha dewata, agar teruwatlah baginda dari wujud- nya itu. Pada suatu waktu, tengah malam, datanglah Batara Sri Wairocana. Maka dipanggilnya menghadap Patih Kalayaksa dan Nyai Emban Werdati untuk menerima penyerahan pimpinan dan pengurusan kerajaan Simbarmanyura dari baginda. Nyai Emban tidak setuju dan sangat memohon agar niat baginda diurungkan. Tetapi Sang Kunjarakarna sudah tetap dalam hati tiada mau undur barang sedikitpun. Kemudian dengan kesaktiannya bagindapun menghilang dari pemandangan meninggalkan istana.

Dengan gupuh Patih Kalayksa bersama Emban Werdati segera mengambil langkah-langkah yang perlu untuk menjaga ke- selamatan baginda. Disiapkanlah pasukan balayaksa besar dan kuat yang dibaginya dalam tiga kelompok, masing-masing di- pimpin oleh Ditya Kalamintragna, Ditya Kalapralebda dan Ditya Kaladumeya. Kemudian diperintahkan kepada mereka segera berangkat mencari jejak Prabu Kunjarakarna yang sudah hilang tak tentu rimbanya itu, dengan menempuh jalan yang berlain- lainan.

Syahdan di tengah perjalanan, sekelompok balayaksa ini ber- papasan dengan pasukan dari Astina. Terjadilah selisih paham yang mengakibatkan perang. Kedua belah pihak serang-menyerang, silih berganti berebut menang, tetapi akhirnya balayaksa terdesak dan menyimpang jalan lari menyelamatkan diri ke hutan. Pasukan Astina meneruskan perjalanan.

BAGIAN KEEMPAT

Adegan di kerajaan Dwarawati, yang juga disebut Janggala- manik. Mahaprabu Kresna Wasudewaputra berada di balairung dihadap oleh putera baginda Raden Samba yang didampingi oleh Arya Wresniwira. Datanglah kemudian Prabu Yudistira, raja Pandawa bersama keempat saudaranya. Sesudah sejenak saling menga- barkan keselamatan masing-masing, Prabu Yudistira menyampai- kan kemasgulan hatinya, bahwa usahanya memelihara perdamaian dengan pihak Korawa selalu mengalami kegagalan. Maka bersabda- lah Prabu Kresna: "Yayi Prabu, Baratayuda sudah menjadi suratan takdir yang tidak mungkin dielakkan. Namun demikian, agar yayi Prabu tidak berwas hati, sebaiknya pergi ke gunung Mahameru. Di sana, di sebuah pertapaan Budicipta namanya, bermukim seorang pendeta maha arif, yang mengetahui segala kejadian di atas mayapada ini. Kalau sekiranya yayi Prabu berkenan berguru kepadanya, kakanda bersedia mengantarkan."

Para Pandawa tiada ayal lagi dan bersepakat pada hari itu juga berangkat ke Budicipta. Prabu Kresna menempuh jalan me- lalui udara, sedang Prabu Yudistira masuk dalam kancing gelung Arya Bima dan Nakula Sadewa dalam kampuhnya. Arjuna ber-

jalan kaki, diiring oleh ketiga panakawan: Petruk, Nalagareng dan Semar.

Di tengah hutan belantara, Arjuna dihadang oleh kawanan balayaksa dari Simbarmanyura, terjadilah perang. Arjuna mele- paskan senjata Sarotama, matilah segenap balayaksa. Arjuna se- kawan meneruskan perjalanan.

BAGIAN KELIMA

Di pertapaan Budicipta Sang Batara Sri Wairocana duduk di atas padmasana manikam. Baru saja beliau melepas kelima Loka- pala (dewa-dewa Indra, Yamadipati, Baruna, Kuwera dan Wisra- warna) setelah kepada mereka diberikan wejangan, datanglah Prabu Kunjarakarna. Setelah menyembah dan mencium kaki Sang Batara dengan takjimnya, Kunjarakarna pun menyampaikan mak- sud kedatangannya, yaitu ingin berguru dan diajarkan tentang kemulyaan hidup serta pengetahuan Darma, sehingga teruwatlah dari wujudnya sebagai raksasa.

Bersabdalah Sang Batara Wairocana: 'Kunjarakarna, aku bersedia mengajarmu, tetapi baru kulaksanakan setelah kausaksi- kan segala orang dosa di Yamani."Kunjarakarna sudah bulat tekadnya melakukan apapun titah Sang Batara, maka segeralah ia minta diri berangkat ke Yamani.

Tengah perjalanan hati Kunjarakarna menjadi bimbang karena tidak tahu jalan yang harus ditempuhnya. Tetapi akhirnya dibulatkanlah hatinya melalui dasar samudera. Dengan tiada rasa takut sedikitpun, maka menceburlah ia. ke dalam samudera, me-

nyelam sampai ke dasarnya. Perbuatannya itu menimbulkan gara- gara, dan jebollah pintu gerbang bumi di dasar laut.

Kunjarakarna berjalan terus, akhirnya sampai di sebuah perempatan jalan. Sementara ia berpikir-pikir jalan mana yang harus ditempuhnya, datanglah pertolongan. Batara Dwarakala, penjaga perempatan itu, tiba-tiba menghampiri Kunjarakarna dan me- nunjukkan jalan yang menuju ke arah selatan. Kunjarakarna meng- ikuti arah yang ditunjukkan, akhirnya sampailah ia di suatu tem- pat bernama Bumi Patana. Di situlah para dosa mendapatkan siksaan yang keji dan kejam sebagai tebusan ulah kejahatannya ketika hidupnya di dunia masa lalu. Kunjarakarna menyaksikan segala siksaan itu dengan perasaan ngeri. Kemudian pergilah ia menghadap Batara Yamadipati.

BAGIAN KEENAM

Di Yamaloka, atau yang juga disebut Yamani, Sang Kunjarakarna menghadap Batara Yamadipati, menyampaikan maksud kunjungannya, yaitu ingin memperoleh pengetahuan segala ikhwal dosa orang-orang papa yang disiksa di Yamani. Maka oleh Yamadipati diuraikan tentang kelima atma dan napsu manusia, tentang watak huru-hara serta sepuluh macam dosa, juga tentang noda- noda aib yang terdapat dalam badan yang sampai matipun ter- bawa dalam atma. Di samping itupun disampaikan pula berita tentang hukuman siksa dalam kawah yang tidak lama lagi akan dilaksanakan terhadap Batara Purnawijaya, seratus tahun lamanya, karena dosa-dosa yang telah diperbuatnya di masa lalu.

Kunjarakarna terkejut mendengar berita itu, katanya: 'Duhai pukulun, sungguh tidak hamba sangka-sangka bahwa Batara Purna-

wijaya akan mendapat hukuman siksa dalam kawah. Purnawijaya adalah saudara sedarma dengan hamba."Maka iapun segera minta diri agar masih sempat singgah di keinderaan, kahyangan Purnawijaya, yang juga diluluskan oleh Batara Yama.

BAGIAN KETUJUH

Di keinderaan Batara Purnawijaya duduk bersama permaisuri Dewi Gandawati, dihadap oleh segenap bidadara dan bidadari. Datanglah Kunjarakarna mengabarkan, bahwa ia baru sampai dari Yamani untuk menyaksikan para dosa yang mendapat hukuman. Kepergiannya ke Yamani adalah untuk mematuhi perintah Batara Sri Wairocana. Adapun kedatangannya di keinderaan ialah untuk menyampaikan berita tentang hukuman yang akan dilaksanakan terhadap Sang Purnawijaya sebagai tebusan akan dosa-dosanya di masa lalu, yaitu dengan diceburkan ke dalam kawah neraka se- lama seratus tahun.

Mendengar berita yang mengerikan itu menjadi takutlah Purnawijaya. Dengan memeluk kaki Kunjarakarna erat-erat, ia minta agar Kunjarakarna mau menolongnya. 'Wahai, saudaraku Kunjarakarna, kasihanilah hamba. Usahakanlah agar hamba tidak masuk kawah neraka itu!"

Maka Kunjarakarna menyarankan, agar Purnawijaya datang menghadap kepada Batara Sri Wairocana untuk memohon ampun dan agar teruwat dari segala dosanya. Barangkali Sang Batara tim- bul iba kasihnya dan berkenan menolong.

Sang Purnawijaya menurut, dan berangkatlah mereka bersama-sama menuju ke Budicipta.

BAGIAN KEDELAPAN

Sri Buda Wairocana, atau sebenarnya adalah Batara Maha Sewaya Siddi, duduk di atas padmasana manikam, menerima kedatangan Kunjarakarna, yang baru tiba dari Yamani. "Duhai, pukulun!" demikian sembah Kunjarakarna, "setelah hamba menyaksikan para dosa yang mendapatkan siksaan, rasanya hilang sudah hasrat hamba untuk hidup kembali, walau menjadi dewa sekalipun. Sebab Batara Purnawijaya yang sudah menjadi dewa, pun tidak luput dari dosa dan harus masuk kawah neraka bila sudah sampai waktunya. Duhai, pukulun, kenankanlah hamba mohon diajarkan pengetahuan tentang Darma dan kemuliaan hidup, agar hamba terluput dari segala nosa."

Lalu diajarkanlah Kunjarakarna oleh Batara Wairocana tentang Darma dan rahasia hidup. Dengan tekun dan sungguh-sungguh Kunjarakarna mengikuti sampai akhirnya terserap benar-benar olehnya segala yang diajarkan Sang Batara. Kemudian Kunjara- karnapun dimandikan dengan air Panditamala (NK: Panjitamala = air penyuci, pembuat suci). Maka api menyala dari tubuh Kunjarakarna. Setelah api padam, lenyap pula wujud raksasa Kunjarakarna, beralih rupa menjadi dewa rupawan tiada celanya. Oleh Wariocana Kunjarakarna disuruh bertapa di lereng gunung Maha- meru. Berangkatlah Sang Kunjarakarna.

Kemudian datang Sang Purnawijaya, dengan takjim ia me- nyembah dan mencium kaki Sang Batara: 'Duh, pukulun, ampuni- lah hamba. Berikanlah hamba penolak dosa, ya, pukulu! Atau kalau pukulun tiada berkenan, sambutlah senjata hamba Sang Cakra Sudarsana ini. Timpakanlah ke batang leher hamba, rela hamba hancur lebur di bawah kaki Hyang Batara."

Maka bersabdalah Sang Wairocana: "Hai, kulup! tiada pernah

aku bermusuhan batin dengan siapapun yang telah berpasrah diri

kepadaku. Majulah, kau akan menerima ajaranku."

Demikianlah Sang Purnawijaya telah diajarkan pula tentang laku Darma, pun tentang pelepasan sukma. Setelah itu maka di- suruhlah ia menebus dosanya dalam kawah naraka hanya sepuluh malam dengan diberikan petunjuk laku-caranya samadi.

BAGIAN KESEMBILAN

Purnawijaya segera minta diri untuk melaksanakan titah Sang Batara. Sampai di keinderaan kembali, kepada permaisurinya ia berpesan, agar ia tidak diganggu selama menjalankan samadi mati raga selama sepuluh hari. Maka Purnawijayapun menempat- kan diri di atas pembaringan, bersamadi melepaskan segala ikatan

pancaindera dan seketika lepaslah sang atma meninggalkan raga,

melayang bagaikan bayangan menuju ke Yamani.

Sesampainya di Yamani segera ditangkap oleh para algojo hamba Batara Yamadipati, terus diseret, disiksa dan akhirnya di- cemplungkan dalam kawah yang berisi air mendidih di atas nyala api besar. Hancur luluhlah badan Purnawijaya, tetapi setelah hari kesepuluh lewat, tiba-tiba kawahnya meledak dan pecah berke- ping-keping, padamlah apinya seketika dan dalam sekejap mata pusat neraka itupun berubah menjadi sebuah taman yang indah dengan sebuah telaga bening di tengahnya. Atas terlindung oleh sebuah kalpataru (pohon suci) yang berdaun emas dan berbuah ratna manikam, yang dulunya berdaun pisau-pisau tajam. Dan di bawah pohon suci itu duduk bersila Sang Purnawijaya yang telah pulih kembali, lebih berseri, suci dan bersih.

Para algojo amat terkejut dan takut, lalu segera melaporkan peristiwa itu kepada Batara Yamadipati. Batara Yamadipatipun segera datang dan menanyakan segala ikhwal kejadian tersebut kepada Purnawijaya.

'Duh pukulun, tidak ada lain yang hamba sembah kecuali Hyang Batara Maha Sewaya atau yang disebut juga Sang Buda Wairocana yang ajarannya kini hamba anut". Demikianlah jawab

Purnawijaya.

Setelah memahami duduk persoalannya, maka Batara Yamadipati pun mengijinkan Purnawijaya pulang ke kahyangannya kembali. Sang atma masuk kembali ke dalam raganya dan bangkitlah Sang Purnawijaya dari samadinya, disambut oleh Sang Gandawati dengan sukacita. Purnawijaya minta kepada permaisurinya segera berkemas-kemas untuk pergi bersama ke Budicipta dengan segenap apsara apsari untuk menyampaikan puji syukur dan terima kasih kepada Sang Batara.

BAGIAN KESEPULUH

Adegan di Budicipta, Batara Sri Wairocana menyambut ke- datangan Sang Purnawijaya dengan permaisurinya serta pula para apsara apsari pengiringnya. Kebetulan sekali para Lokapala pun datang pula untuk menyampaikan puja puji syukur kepada Sang Wairocana. Selesai upacara pemujaan, bertanya Batara Yamadipati tentang hukuman terhadap Purnawijaya, yang mestinya seratus tahun lamanya disiksa dalam kawah neraka, tetapi baru sepuluh hari bahkan Purnawijaya mampu merusak kawah.

Batara Wairocana menjelaskan segala duduk persoalannya. Sehabis itu, maka semua diijinkan kembali ke kahyangannya masing-masing.

Datanglah kemudian Batara Kresna dan para Pandawa, me- nyatakan keinginan mereka berguru kepada Sri Wairocana. Keinginan Pandawa terpenuhi, dan setelah selesai dengan ajaran Darmanya, muksalah Sang Batara Sri Wairocana dari madyapada, kembali ke kahyangan Nityamadya. Sebenarnya adalah Sang Hyang Jagad Giri Nata telah turun ke bumi menyebarkan ajaran- nya tentang Darma kepada para siswayanya yang melakukan amal baik.

Kedatangan raja Hastina Prabu Duryudana dengan segenap kerabat Korawa sudah terlambat, tempat sudah kosong, hanya tinggal Sri Kresna dan para Pandawa. Timbul prasangka dan salah paham yang berakhir dengan perang sampak.

Tancap kayon

B. VERSI "SOETRISNO BA"(VS)
Pathet Nem

  1. JEJERAN NAGARI NGASTINA Anuju ing dinten pasewakan agung nagari Ngastina, Prabu Suyudana lenggah dhampar kaprabaon ing sitinggil, kaadhep de- ning Rakyana Patih Sangkuni, Pandhita ing Sokalima Maharsi Drona, Adipati Ngawangga Prabu Basukarna, Raden Kartawarma tuwin para priyagung sanesipun. Wosing rembag magepokan lan Baratayuda, paparangan antawisipun krabat Korawa lan Pandhawa, sajak sampun boten saged cinandhet malih, danguning dangu tamtu badhe kalampahan. Awit saking kadereng ing panggalih murih ungguling jurit, Prabu Suyudana kapengin andarbeni sanjata winastan 'Cakra Baswara", ingkang miturut wangsit tinampi duk ing dalu, amuju- daken satunggaling sarana panggayuhing jaya-kawijayan sarta kawi- bawaning kaprabon. Ponang sanjata wau samangke sumimpen ing astanipun Bathara Buda Werocana ing pratapan Budicipta. Sang Prabu lajeng utusan Adipati Basukarna lumawat ing Budicipta, aminta ponang sanjata saking Bathara Buda Werocana.

Sang Basukarna agahan nyuwun pamit minangkani timbalaning Nata. Sang Prabu ugi lajeng anitahaken Patih Sangkuni umiring tindakipun Sang Basukarna sinartan sawatawis kadang Korawa sanesipun.

Bibaring pasewakan, Sang Nata jengkar saking sitinggil kon- dur angadhaton, ingayab para biyada cethi badhaya srimpi ingkang ngampil upacaraning kaprabon. Patih Sangkuni, Maharsi Drona, Kartawarma lan sanes-sanesipun ugi lajeng bibaran tumuju paseban jawi.

Ing paseban jawi andher para kadang Korawa sumawana para manggalaning prang nagari Ngastina anganti-anti karampu- nganing panangkilan. Patih Sangkuni enggal paring dhawuh dhateng Dursasana, Kartawarma, Citraksa, Citraksi, Jayadrata lan Aswatama, kinen samapta ndherek tindakipun Sang Basukarna dhateng Budicipta sarana. amepak wadyabala asikep busananing aprang.

Boten antawis dangu umung ungeling gong bendhe beri minangka tengara bidhalan.

  1. ADEGAN PRATAPAN BUDICIPTA Ing pacrabakan Budicipta Sang Bathara Buda Werocana manggihi tamunipun, Kunjarakarna, yaksaraja saking nagari Himawan. Kunjarakarna angaturaken pepesthening jasadipun, anggeni- pun arupi yaksa, satemah ing manah tansah kapandukan raos ajrih,

boten saged tentrem, awit gotheking para saged, yaksa punika dados cadhanganing naraka benjang yen sampun dumugi jangji. Mila sowanipun amung badhe puruhita, anyantrik sang Bathara murih angsala seserepan babagan kasampurnaning agesang, sinuce- kaken saking sakathaning memala lan dedosan, temahan rinuwat anggenipun tinitah dados yaksa. Kanthi makaten ing pangajap sageda kentas saking pasiksaning naraka anggayuh dhateng kanir- wanan.

Bathara Werocana kepareng minangkani pamintanipun Kunjarakarna, nanging Kunjarakarna kedah lumawata dhateng Yomani langkung rumiyin, supados saged nyipati sadaya lalam- pahan isen-isening naraka.

Kunjarakarna agahan pamit kanthi angaras padanipun sang Bathara, lajeng nggeblas bidhal dhateng Yomani.

  1. ADEGAN PERANG GAGAL Satengahing margi lampahipun Kunjarakarna kepapag lan barisaning Korawa ingkang tinindhihan dening Prabu Basukarna. Sasampunipun sapa-sinapan, bencenging rembag tuwuh udreg rame arehat margi, temahanipun dados prang. Cucuking lampah barisaning Korawa sang Kartawarma kaseser, makaten ugi sang Haswatama, Dursasana lan sanes-sanesipun tetela boten kuwawa angungguli amukipun Kunjarakarna.·Wusana sang Basukarna ngedali palagan, boten talompe angunus ponang warastra sanjata Kunta, sigra tinamakaken, parandene meksa cabar, awit Kunjarakarna sajakipun sampun menter saking sakathahing dedamel. Amukipun malah saya nggegirisi, temahan barisaning Korawa bubar salang tunjang atilar glanggang colong playu.

Kunjarakarna anglajengaken lampah tumuju dhateng ardi

Mahendra.

Kocap dumugi prapatan Repatkepanasan lajeng bingung, boten sumerep pundi marginipun dhateng Yomani. Dumadakan

kesaru praptanipun Bathara Wrahaspati, utusanipun Bathara Guru, amrepegi Kunjarakarna saperlu anedahaken margi ingkang kedah dipun-anut.

Sasampunipun suka panuwun, Kunjarakarna lajeng pamit anglajengaken lampah anut pitedahipun Wrahaspati.

  1. ADEGAN ING YOMANI Bathara Yamadipati, dewaning antaka ingkang angratoni kahyangan Yomani, manggihi sowanipun sang Kunjarakarna. Sang Bathara sampun boten kekilapan dhateng kajenging piwo- wanipun Kunjarakarna, mila lajeng anedahaken sakathahing isen- isen naraka papan pasiksanipun para sukma ingkang nandhang dosa duk gesangipun nguni ing arcapada. Baka satunggal kasulanga- ken sadaya ubarampening pasiksan: wujud, sesipatan sarta piguna- nipun, sumawana patrap tumindaking pasiksan ingkang tumanduk dhateng para dedosan. Ing antawisipun wonten papan pasiksaan ingkang dipun-wastani "api jahanam", minangka penyucening sukma ingkang kadosan. Sasampunipun dipun suceni ing "api jahanam" wau, ponang sukma lajeng kagiling ing ardi "gilingan waja". Remukanipun kasebar ing arcapada, sinung nyawa temahan gesang malih awujud kewan gegremetan jinising wrejit, uler lintah sapanunggilanipun. Tumimbal lair candhakipun dados sabang- saning iwen, marga sato, ewon taun laminipun, lajeng wangsul malih dados janma sarwa ina. Salaminipun dados janma malih,

yen gesangipun saged nengenaken dhateng kautamen, tumimbaling

lair candhakipun dados tiyang mulya, mukti wibawa utawi tiyang

suci, temahan ginadhang nggayuh kanirwanan. Kosokwangsulipun yen gesangipun kalimput ing kanapson linepetan ing dosa, mang-

suli duskartinipun ingkang sampun, inggih lajeng lumebet ing naraka malih anglampahi pasiksan sarta kasangsaran kados ingkang sampun-sampun.

Nanggapi pitakenipun Kunjarakarna dene wonten kawah ingkang saweg dipun-samektakaken, Bathara Yamadipati sajarwa, yen kawah wau dipun-wastani 'kawah Candradimuka", ugi sinebut"'tambra gomuka" utawi'kenceng naraka". Ing samangke kasamektakaken kangge ngukum Bathara Purnawijaya minangka

tebusaning dosanipun. Bathara Purnawijaya inggih Prabu Kiritin,

ingkang sapunika angratoni karang widadaren kahyangan Tinjomaya, yektinipun boten sanes kajawi Raden Arjuna, panengahing

Pandhawa, ingkang sakawit sampun kasil numpes yaksaraja Manik-

mantaka Prabu Niwatakawaca ingkang adamel risaking Suralaya duking nguni. Awit saking lelabuhanipun wau Arjuna winisudha sarta winiwaha angratoni kahyangan Tinjomaya anggarwa lan Dewi Supraba sarta widadari nenem sanesipun, nanging kawangen salebeting 7 dinten 7 dalu. Wusana ngantos 7 wulan Tinjomaya dereng kawangsulaken, kanthi makaten Arjuna lajeng nerak pepancening Dewa. Kangge nebus dosanipun wau, Arjuna badhe pinatrapan pidana siniksa ing kawah satus taun dangunipun.

Sakalangkung kaget sang Kunjarakarna mireng pawartos

wau, lajeng aminta palilahipun sang Bathara badhe anuweni sarta

angengetaken sang Purnawijaya dhateng dosanipun wau. Awit Kunjarakarna sampun tepang sanget kaliyan sang Purnawijaya inggih sang Arjuna, saking sasambetanipun kaliyan Nata Parang- gelung Prabu Palgunadi.

Yamadipati boten kawratan, Kunjarakarna sampun kalilan, agahan minta pamit lajeng bablas sumedya amanggihi sang Purnawijaya ing kahyangan Tinjomaya.

  1. ADEGAN KAHYANGAN TINJOMAYA Raden Arjuna, ingkang samangke ajejuluk Prabu Kritin inggih Bathara Purnawijaya, saweg asuka langen cangkrama lan ingkang garwa widadari kapitu, kesaru sowanipun Kunjarakarna. Sasampunipun bage-binage ing karaharjan, Kunjarakarna lajeng apratela mentas saking kahyanganipun Bathara Yamadipati ing Yomani. Ing ngriku mireng kabar saking Bathara Yamadipati piyambak, bilih sang Purnawijaya cinadhangaken lumebet ing naraka, nampi pidana kasiksa ing kawah Candradimuka. Ingkang makaten wau awit sang Purnawijaya sampun nerak wewalering Jawata, ingkang mesthinipun kawangen 7 dinten 7 dalu, temahan ngantos 7 wulan taksih cumondhok ing Tinjomaya. Bathara Purnawijaya sakalangkung kaget, boten andugi babar pisan yen badhe kapandukan pidana awrat salebeting naraka awit saking kalepyanipun, temah dangu anjenger boten saged angandika. Para garwa sami nangis angrubyung sang Purnawijaya, sai aparsetya boten badhe pisah lan kakung, nadyan lumbebet ing kawah Candradimuka pisan badhe ndherek sabaya pejah. Wusana Kunjarakarna lajeng anjurungaken, supados Purnawijaya puruhitaa dhateng Bathara Buda Werocana ing pratapan Budicipta, mbokmanawi wonten parimarmanipun sang Bathara paring pangampunan sarta rinuwat saking dosanipun.

Pikantuk wewenagn margining hayu, sang Purnawijaya cume- plong raosing galih, gita nayogyani panjurungipun Kunjarakarna, wusana gegancangan sami sareng bidhal sowan dhateng Bathara Buda Werocana ing pratapan Budicipta.

Pathet Sanga

  1. ADEGAN PRATAPAN WUKIRATAWU Ing pratapan Wukiratawu inggih ing Saptaarga, Begawan Abyasa Kresnadwipayana nampi sowanipun ingkang wayah buyut Raden Abimanyu, kadherekaken parepat panakawan Ki Lurah Semar, Nala Gareng, Petruk tuwin Bagong. Abimanyu ngaturaken bab murcanipun ingkang rama Raden Arjuna ingkang watawis sampun sawarsa tanpa pepoyan. Sowanipun ing pratapan awit kautus ingkang uwa Prabu Yudhistira kinen nyarawedekaken murcanipun ingkang rama wau, yen taksih sugeng wonten pundi papan dunungipun, dene yen sampun seda ing pundi candhinipun. Sang Abyasa sajarwa, yen sang Arjuna samangke saweg dados lampahan. Sang Begawan boten saged ambuka warananipun, jer ingkang punika nerak papacuhing Dewa Ingkang Linangkung. Mila Abimanyu kinen wangsul dhateng Ngamarta, matura ing ngarsanipun Prabu Yudhistira supados amasrahaken bab sirnani- pun sang Arjuna ing astanipun Bathara Buda Werocana ing pratapan Budicipta, jer namung Sang Bathara ingkang wenang amedha- raken. Abimanyu lajeng gita-gita nyuwun pamit wangsul dhateng Ngamarta, wulucumbu sekawan tut wuri.

  2. ADEGAN PERANG SEKAR Satengahing margi wangsul saking Wukiratawu anasak wana- wasa, lampahipun sang Abimanyu sapandherek kandheg dening barisaning yaksa saking nagari Himawah, kawulanipun Prabu Kunjarakarna. Sampun watak wantuning yaksa lumuh ngawon melik epeh, mancing dhadhakaning prakawis angawisi lajuning lampahipun sang Abimanyu. Sulayaning rembag dados perang, udreg rame rebat unggul, nanging wekasanipun balayaksa pejah tetumpesan. Abimanyu sapandherek anglajengaken lampah, rahayu wi- dada dumugi ing Ngamarta.
    Pathet Manyura

  3. ADEGAN NAGARI NGAMARTA Kajawi Raden Arjuna ingkang boten katingal, para kadang Pandhawa dalah para sentana pepak ngempal ing kadhaton, sami tetebengan manggalih ingkang taksih murca, ing batos tansah angantu-antu pawartos saking Wukiratawu. Kesaru sowanipun Abimanyu sapandherek, atur uninga dhawuh welinganipun ingkang eyang Begawan Abyasa. Prabu Yudhistira lajeng amedharaken karsanipun sumedya enggal-enggal tindak dhateng Budicipta sowan Bathara Buda Werocana. Wreko- dara, Gathutkaca lan Abimanyu andherek. Lajeng bidhalan.

  4. ADEGAN PRATAPAN BUDICIPTA Bathara Buda Werocana kaadhep dening Kunjarakarna lan Purnawijaya.

Sasampunipun sinambrama ing pambage karaharjan, sang Purnawijaya ngaturaken kajenging pisowanipun, angkaeni anggeni- pun nandhang dosa nerak wewalering Dewa, purwa madya wasana- nipun sampun katur sadaya, ing samangke sumedya puruhita sang Bathara nyuwun pitedahing wulang Darma amrih rinuwata saking papa nisthaning agesang.

Bathara Werocana kepareng minangkani penyuwunipun Purnawijaya. Kinen nyaket lenggahipun sang Purnawijaya suma- wana sang Kunjarakarna, kekalihipun sasarengan winulang angge- ring Darma sarta wewadosing agesang lan kadosan. Baka sapacak kasulangakenlampahing agesang, kawiwitan saking manunggaling kamanipun bapa lan sarining biyung, temah mahanani wujud bebakaling bayi ing guwa garbaning biyung. Bebakaling bayi wau kasinungan atma-atma ingkang anuwuhaken hawa napsu, akal lan budi, cawuh sajiwa ingkang binekta lair ing alam gesang. Lairing jabang bayi sinartan wutahing getih tuwin tohing jiwanipun pun biyung, inggih punika dosa kapisan tumrap janma gesang: dosa dhateng biyung.

Bayi tuwuh sinarengan daya prabawa lan panggulawenthah saking pasrawunganipun, saya dangu mindhak diwasa, akiripun dados janma sinung budi pakarti, awon sae sesa-sesa imbanganing hawa napsu, akal lan budi, ingkang tinuwuhaken dening atma-atma ingkang amrebawani sadanguning gesangipun.

Wondene ingkang dipun-wastani dosa punika pakarti ingkang kaprebawan dening atma ingkang nuwuhaken kaladuking hawa napsu, kosokwangsulipun kasukcen utawi gesang ingkang sampur- na, punika tansah katuntun dening atma ingkang mahanani kalu- huraning budi, boten kadayan dening hawa napsu.

Sasampunipun kasulangaken dhasar-dhasaring pangertosan bab agesang lan dosa kasebat, Bathara Werocana lajeng ngajak Purnawijaya lan Kunjarakarna amuja semedi. Kanthi sedhakep saluku tunggal, tetiganipun mindeng anyawijekaken daya pikiran lan batosipun tumuju dhateng Hyang Ingkang Karya Gesang anedhakna kanugrahan kasampurnaning gesang ingkang sinuk- cenan saking memalaning dosa. Awit saking karsaning Jawat Linangkung, dumadakan wonten sanjata arupi cakra cumlorot saking awiyat dhumawah ing pe- pangkonipun Purnawijaya. Dene Kunjarakarna sami sanalika ical sipating yaksa, santun rupi awujud satriya bagus. Semedi lajeng sami kawudharan.

Sang Werocana manabda, yen sanjata cakra ingkang tinampi dening Purnawijaya punika winastan Cakra Baswara utawi Cakra Sudarsana, punapa dene ruwatipun Kunjarakarna saking sipat yaksa dados satriya bagus, punika minangka pracihna bilih ke- kalihipun sampun sampurna anggenipun sami anyecep wiyatadi ingkang kaparingaken dening Sang Bathara.

Lampah candhakipun Kunjarakarna kinen santun nami Arjunapati, dhinawuhan nyuwita dhateng Prabu Buayanata ing Sriwedari. Dene Purnawijaya kedah nebus dosanipun ing Yomani, awit kukuming karma tan sinelakan, nanging kanthi wiyatadi ing bab Darma sarta traping ulah semedi ingkang sampun rinesep sarta ginebeng, Purnawijaya boten badhe rumaos siniksa.

Purnawijaya lan Kunjarakarna mangestu pada lajeng pamit angayahi lampah sowang-sowang.

Saunduripun Purnawijaya lan Kunjarakarna, kesaru rawuhi-

pun Prabu Yuhdistira sasarengan lan Wrekodara, Gatutkaca lan Abimanyu, sowan ngarsanipun Sang Bathara.

Sasampunipun sinambrama ing pambage saperlunipun, Prabu Yudhistira apratela kaperluwanipun anggenipun sami sowan, sumedya anyarawedekaken murcanipun kadang Pandhawa sang Arjuna ingkang sampun sawarsa tanpa peopyan.

Bathara Werocana sagah mingkani pemundhutipun Prabu Yudhistira, kalamun sang Nata saged ambatang cecangkrimanipun Sang Bathara. Prabu Yudhistira sagah, lan temahanipun ugi saged ambatang cangkrimanipun sang Bathara Werocana kanthi pratitis. Kaelokaning lalampahan, kebatanging cangkriman mahanani badharipun Sang Bathara Werocana, pulih dados Sri Bathara Kresna Nata Dwarawati. Sadaya sami oneng-onengan.

Nanggapi pitakenipun Arya Wrekodara, Sri Kresna apratela anggenipun angasrama ing Budicipta asarira Buda Werocana, awit saking kaderenging panggalih angupadi kesahipun Sang Arjuna.

Sadaya lajeng sami sarujuk, Prabu Yudhistira kondur dhateng praja kadherekaken Gathutkaca lan Abimanyu, dene Sri Kresna lan Wrekodara badhe nerusaken lampah anglacak kesahipun Sang Arjuna.

Wusana lajeng sami sesowangan anilaraken pratapan Budicipta.

  1. ADEGAN ING YOMANI Sadhatengipun ing Yomani, Sang Purnawijaya inggih Sang

Arjuna tinampi dening Bathara Yamadipati, dinangu menggah kaperluwanipun, apratela sumedya badhe anebus dosanipun, suka rila nampi pidana siniksa ing kawah Candradimuka.

Bathara Yamadipati sakalangkung eram dhateng lekasipun sang Arjuna, anggenipun sumadhiya dhateng piyambak anglampahi paukuman.Adating akathah sami pados rekadaya murih cabaring paukuman, nanging Arjuna malah ngosokwangsul tumindakipun. Temahan Arjuna lajeng sineret cinemplungaken ing kawah ingkang toyanipun umob mawalikan dening balanipun Bathara Yamadipati. Sakedhep netra sakujur sariranipun Arjuna sampun ledheh arontang-ranting.

Nanging betek saking kumandeling tekad ingkang linambaran patrap lampahing semedi sarta ngelmu ingkang sampun rinegem saking paringipun Sang Buda Werocana, Sang Arjuna babar pisan boten kraos siniksa. Malah boten antawis dangu ponang kawah dumadakan sirna santun rupi malih dados talaga asrep awening, dumunung satengahing taman kaswarga. Ing tengah katingal ngegla Sang Arjuna, pulih sariranipun, mancorong gilang-gilang agenmu prabawa.

Sigra rawuh Yamadipati, aminta den wangsulaken ponang kawah kados wujude nguni minangka papan pasiksaning para dus- karti. Nanging Arjuna boten kadugi minangkani, temah dados perang. Bathara Yamadipati kaseser, Arjuna lajeng kalilan wangsul ing arcapada. Risaking kawah Candradimuka badhe kalapuraken dhateng Bathara Guru.

  1. ADEGAN PAKUWON KORAWA SATENGAHING WANA

    Para tetindhihing bala Korawa ngawontenaken pirembagan

anggenipun taksih dereng angsal damel angupadi sanjata Cakra Baswara. Sang Basukarna aprasetya boten badhe wangsul ing na- gari yen dereng kalampahan amboyong ponang sanjata Cakra kasebat. Makaten ugi Patih Sangkuni, Dursasana lan sanes-sanesipun sami anelakaken badhe setya mituhu umiring sarta sabyantu dhateng Sang Basukarna ngantos pinanggih ingkang sanjata.

Dumadakan wonten palapuran, bilih ing katebihan katingal kumledhangipun Raden Arjuna ingkang sajak anyelaki pakuwon. Basukarna agahan tindak dhateng pabarisan ngajeng, tinut dening sanes-sanesipun. Boten kekilapan malih, bilih ingkang lumampah ngener pakuwon risang Arjuna, lajeng dipun anti. Sareng sampun celak, age pinarepekan, sinambrama ing raos kekapangan. Dina- ngu dening Basukarna, Arjuna waleh mentas puruhita dhateng Bathara Buda Werocana, sampun widagda, temah antuk kanugrah- an sanjata Cakra Baswara, ing samangke badhe wangsul ing Nga- marta.

Mireng pratelanipun sang Arjuna, para Korawa eram sale- beting manah, nanging ugi lajeng tuwuh candhalanin budi. Sang Basukarna angrimuk den tedahana kados pundi wujudipun sanjata Cakra Baswara, Sang Arjuna tanpa kasujanan angulungaken, nanging dumadakan kados sampun rinancang sakawit para Korawa sasarengan angroyok Arjuna ngantos kuwalahan, malah-malah Sang Basukarna ngunus sanjata Kunta tinamakaken ing jajanipun sang Arjuna, rebah kapisanan. Sari amboyong sanjata Cakra Baswara, para Korawa gegancangan wangsul dhateng praja.

Kocap lampahipun Sri Bathara Kresna lan ingkang ari Sang Wrekodara kandheg ing tilas papan pakuwonipun para Korawa, kaget angulati sariranipun sang Arjuna ingkang gumlethak prasa-

sat kunarpa. Agahan den parepeki. Sri Kresna sampun boten ke- kilapan, Arjuna lajeng kausadanan sarana sekar Wijayakusuma, sanalika pulih waluya jati. Dinangu larah-larahipun dene Arjuna kaniaya samadyaning wana, Sang Arjuna matur sadaya lelampa- hanipun ngantos anggenipun cinidra dening Korawa.

Gancanging cariyos, sang Arjuna kinen anungka plajengipun para Korawa, ingkang tertamtu wangsul dhateng Ngastina. Sri Kresna lan Wrekodara ingkang badhe anjampangi saking wingking.

  1. ADEGAN TAMAN KADILENGENG NGASTINA Prameswari Nata Ngastina, Dewi Banuwati, saweg eca angeng- gar-enggar panggalih ing Taman Kadilengeng, dumadakan kaget dening sang Arjuna, ingkang boten kanyana-nyana ujug-ujug jume- dhul tanpa sangkan marak ing sacelakipun. Sang Arjuna prasaja, bilih sowanipun ing Kadilengeng ingkang sajak nyalawadi amung saperlu nyuwun pambyantunipun sang Dewi angudi murih wangsulipun sanjata Cakra Baswara saking astanipun ingkang raka Nata Prabu Suyudana. Lajeng kaandhara- ken purwa-madyawasananing lelampahan. Sang Dewi sajak kirang migatosaken, nanging malah ang- godha sang Arjuna kanthi lelewa ingkang anggigah raos rarasing asmara. Sajatosipun antawisipun sang Arjuna lan Dewi Banuwati mila sampun dangu tuwuh raosing sih-sinihan, mila sang Arjuna inggih lajeng anglanggati karsaning sang Dewi. Malah dhapur kale- resan dados sarana mancing dhadhakan dukaning Nata Suyudana.

Lekasipun sang Arjuna lan Dewi Banuwati ingkang makaten wau kadenangan dening salah satunggaling emban, ingkang lajeng kesah mewadul dhateng sang Nata.

  1. ADEGAN PANDHAPI NGASTINA Prabu Suyudana miyos tinangkil den adhep dening Maharsi Drona, Adipati Basukarna, Patih Sangkuni sarta para kadang Korawa sanesipun ingkang nembe wangsul saking dinuta angupadi sanjata Cakra Baswara. Sang Nata sanget karenan ing panggalih nampi palapurani- pun Sang Basukarna ingkang sampun kaleksanan amboyong sanjata Cakra Baswara. Kanthi gumujeng latah sang Suyudana angam- pil ponang sanjata, tansah den ulati wungsal-wungsul, dumadakan kesaru sowanipun abdi emban saking kaputren, atur uninga yen taman Kadilengeng kalebetan duratmaka, ingkang boten sanes kajawi ingkang rayi piyambak Raden Arjuna, kumawani ngganggu damel garwa Nata Sang Prameswari. Tanpa manggalih panjang, sang Suyudana jumeneng saking palenggahan anggeblas dhateng taman, nilaraken ingkang sami sumewa. Sadaya sami gupuh, lajeng anututi jengkaring Nata. Ing taman Sang Suyudana mrangguli Arjuna saweg langen cangkrama lan Dewi Banuwati, sakala muntap dukaning Nata, boten taha-taha anyerang wani, nanging Arjuna sampun prayitna sumingkir angendhani, katotoran sang Prabu gentos rinuket dening Arjuna, kanthi trengginas sanjata Cakra Baswara kening karebat, risang Arjuna lajeng lumajar anilar taman. Prabu Suyudana sanget kebranang panggalihipun, sumedaya anututi, nanging

kepapag lan para kadang Korawa sanesipun sumawana Patih Sangkuni lan Basukarna. Sadaya sampun jinarwan icaling sanjata Cakra rinebat dening Arjuna, boten saranta lajeng sami medal saing taman ambujeng plajengipun sang Arjuna.

Nanging dereng sapintena jumangkah saking sajawining baluwarti sampun sami bibaran rinabasa dening pamukipun sang Wrekodara.

Arjuna pinapagaken dening Sri Kresna, gegancangan kondur dhateng nagari Ngamarta. Wrekodara sumsul.

Dumugi ing Ngamarta wangsulipun Arjuna tinampi dening para kadang sentana kanthi suka sukuring panggalih.

Tancep kayon

TERJEMAHAN BEBAS

Bagian Pathet Nem

  1. ADEGAN KERAJAAN ASTINA Pada suatu hari pasewakan agung, di balairung istana kerajaan Astina, Prabu Suyudana duduk di atas singgasana, dihadap oleh Patih Sangkuni, Pendeta Sokalima Maharesi Drona, Adipati Awangga Prabu Basukarna, Raden Kartawarma dan priagung lain- nya. Pembicaraan berkisar pada perang Barata antara kerabat Korawa dan Pandawa yang rupanya sudah tidak dapat dicegah lagi; cepat atau lambat pasti pecah. Karena ambisinya untuk memenangkan perang itu, maka Prabu Suyudana ingin memiliki sebuah senjata yang disebut '"Cakra Baswara", yang konon, menurut wangsit yang diterimanya pada malam sebelumnya, merupakan suatu sarana untuk memper- oleh kejayaan dan kewibawaan. Senjata tersebut kini berada di tangan Batara Buda Wairocana di pertapaan Budicipta. Maka baginda lalu mengutus Prabu Basukarna melawat ke Budicipta untuk minta senjata tersebut dari Batara Buda Wairo-

cana. Basukarna segera minta diri untuk melaksanakan titah raja. Baginda pun memerintahkan Patih Sangkuni mendampingi perjalanan Basukarna bersama dengan beberapa kerabat Korawa lainnya.

Selesai pasewakan baginda meninggalkan balairung menuju ke puri, diiring oleh para ceti bedaya srimpi yang membawa upa- cara kebesaran raja. Maharesi Drona bersama Sangkuni, Kartawarma dan lain-lainnya menuju ke paseban luar.

Di paseban luar para kerabat Korawa lainnya serta para wira prang kerajaan Astina sudah lama menanti hasil pembicaraan di pasewakan. Segera Patih Sangkuni memerintahkan Dursasana, Kartawarma, Citraksa, Citraksi, Jayadrata dan Haswatama ber- kemas-kemas mengikuti perjalanan Adipati Basukarna ke Budicipta dengan membawa pasukan bersenjata lengkap.

Tidak lama kemudian gong bende beri berkumandang ber- talu-talu sebagai tanda berangkat.

  1. ADEGAN PERTAPAAN BUDICIPTA Di pertapaan Budicipta Batara Buda Wairocana menerima tamunya, Kunjarakarna, seorang yaksa-raja dari Himawan. Kunjarakarna mengadukan nasibnya, bahwa ia berupa yaksa, oleh karena itu hatinya tidak pernah merasa tentram, senan- tiasa diliputi rasa ketakutan, sebab, menurut pendapat para cendekia, yaksa dicadangkan masuk ke neraka, bila ajalnya sampai. Maka kedatangannya di Budicipta ia maksudkan untuk berguru kepada sang Batara, agar memperoleh ilmu tentang kesempurnaan hidup, disucikan dari segala noda dan dosa, dengan demikian

teruwat dari wujudnya sebagai yaksa, dan akhirnya kelak akan terhindar dari siksaan neraka dan mencapai nirwana.

Batara Wairocana berjanji akan mengabulkan permintaan Kunjarakarna, tetapi hendaknya ia lebih dulu pergi ke Yomani untuk menyaksikan segala sesuatu isi neraka.

Kunjarakarna segera pamit. Setelah mencium kaki sang Batara, bergegaslah ia menuju ke Yomani.

  1. ADEGAN PERANG GAGAL Di tengah perjalanan, Kunjarakarna berpapasan dengan barisan Korawa yang dipimpin oleh Prabu Basukarna. Setelah saling tegur-menyapa, timbul pertengkaran mulut berebut jalan, yang berakhir dengan perang. Perintis barisan Korawa sang Kartawarma terdesak, demikian pula Haswatama, Dursasana dan lainnya ternyata tidak mampu melawan amuk Kunjarakarna. Akhirnya Basukarna maju melepas- kan senjata Kunta, tetapi rupanya Kunjarakarna kebal terhadap senjata apapun, dan amuknya semakin hebat, akhirnya barisan Korawa kocar-kacir dan lari tunggang-langgang meninggalkan medan. Kunjarakarna meneruskan perjalanannya menuju ke gunung Mahendra. Sampai di simpang empat Rapatkepanasan Kunjarakarna bingung, tidak tahu jalan mana yang menuju ke Yomani. Kemu- dian datanglah Batara Wrahaspati, utusan Batara Guru, untuk menunjukkan jalan yang harus diikuti oleh Kunjarakarna.

Setelah mengucapkan terima kasih, Kunjarakarna lalu pergi mengikuti arah yang ditunjukkan.

  1. ADEGAN YOMANI Batara Yamadipati, dewa maut, penguasa kahyangan Yomani, menerima kunjungan Kunjarakarna. Sang Yamadipati sudah tahu maksud kedatangan Kunjarakarna, maka diterangkannya segala maca peralatan isi neraka untuk menyiksa sukma orang-orang yang telah berdosa semasa hidupnya yang lalu di arcapada, satu demi satu tentang sipat, ujud dan kegunaannya, dan bagaimana sukma-sukma jahat itu disiksa. Di antaranya juga ditunjukkan sebuah tungku api besar yang dinamakan"api jahanam". Setelah sukma-sukma jahat itu di-"suci"-kan dalam tungku api jahanam tersebut, lalu digiling dalam gunung "Gilingan-baja". Serbuknya kemudian disebar di atas bumi, diberi nyawa, dan mereka hidup kembali sebagai cacing, ulat, lintah dan lain-lain sejenisnya. Masa hidup berikutnya dilalui dalam wujud binatang unggas dan satwa lain- nya, setahap demi setahap semakin sempurna, ribuan tahun lama- nya, untuk kemudian lahir kembali sebagai manusia cacat. Kalau selama menjadi manusia cacat itu mereka berkelakuan baik dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mereka akan dilahirkan kembali sebagai manusia yang mulia dan berwibawa atau orang suci untuk akhirnya mencapai nirwana. Sebaliknya kalau mereka masih mengulangi perbuatan-perbuatan dosanya, hukumannya akan terulang kembali, disiksa dalam neraka dengan segala keseng- saraannya seperti semula. Menanggapi pertanyaan Kunjarakarna tentang sebuah kawah yang kini sedang dipersiapkan, Yamadipati menerangkan, bahwa kawah itu dinamakan "Kawah Candradimuka", juga disebut

"tambra go-mukha" atau "kenceng neraka". Kini dipersiapkan untuk tempat menyiksa Batara Purnawijaya, yang tidak lain dari- pada Arjuna dari kerabat Pandawa. Ia kini menjadi raja di Karang-Widadaren kahyangan Tinjomaya, bernama Prabu Kiritin, ber- istrikan Dewi Supraba dan keenam bidadari lainnya atas karunia Batara Guru karena jasanya telah membinasakan yaksa-raja ang- kara Prabu Niwatakawaca dari Manikmantaka yang pernah meru- sak kahyangan. Tetapi Arjuna telah melanggar batas waktu yang diijinkan oleh Batara Guru, yaitu tujuh hari tujuh malam, namun kini sudah tujuh bulan lewat, Arjuna belum jua menyerahkan kembali Tinjomaya kepada Batara Guru. Dengan demikian Arjuna telah berdosa mengabaikan perintah Dewa, maka iapun akan men- jalani hukuman siksa di kawah Candradimuka 100 tahun lamanya.

Kunjarakarna terkejut mendengar berita itu dan minta ijin untuk pergi ke Tinjomaya dengan maksud hendak memperingat- kan Arjuna akan dosanya itu. Kunjarakarna kenal benar kepada Arjuna dalam hubungannya dengan raja Paranggelung Prabu Pal- gunadi.

Yamadipati mengijinkan, maka Kunjarakarna bergegas- gegas minta pamit untuk menemui sang Purnawijaya di kahyangan Tinjomaya.

  1. ADEGAN KAHYANGAN TINJOMAYA

    Raden Arjuna, kini bernama Batara Purnawijaya atau juga

disebut Prabu Kiritin, sedang bercengkerama dengan ketujuh bidadari permaisurinya, ketika Kunjarakarna datang.

Setelah menerima sambutan selamat datang, Kunjarakarna

menceritakan, bahwa ia baru saja datang dari Yomani dan dari Batara Yamadipati didengarnya kabar tentang dosa Purnawijaya yang telah mengabaikan batasan waktu tujuh hari tujuh malam yang diijinkan oleh Batara Guru kepadanya menduduki tahta kahyangan Tinjomaya. Oleh sebab itu hukuman siksa seratus tahun dalam kawah Candradimuka kini menantinya.

Alangkah terkejut Purnawijaya mendengar nasib yang bakal menimpanya. Ia tidak menduga sama sekali akan menerima hukuman berat karena kelalaiannya. Sejurus ia tertegun, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ketujuh permaisurinya tidak ingin di- tinggalkan. Dalam tangisnya mereka menyatakan bersedia ikut disiksa dalam kawah bersama Purnawijaya.

Kunjarakarna akhirnya menyarankan, agar Purnawijaya mau pergi ke pertapaan Budicipta bersamanya berguru kepada Sang Batara Buda Wairocana, barangkali sang Batara berkenan mem- beri pengampunan dan meruwat segala dosanya. Merasa lega karena memperoleh harapan, Purnawijaya segera menyetujui saran tersebut, kemudian berangkatlah mereka ke pertapaan Batara Wairocana di Budicipta.

Pathet Sanga

  1. ADEGAN PERTAPAAN WUKIRATAWU Di pertapaan Wukiratawu atau Saptaarga Begawan Abyasa Kresnadwipayana menerima kunjungan Raden Abimanyu dan keempat panakawan pengiringnya Kyai Lurah Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong.

Abimanyu menceritakan perihal menghilangnya Raden Arjuna, yang sudah satu tahun kurang lebih tidak ada kabar berita- nya. Kedatangannya di Wukiratawu karena diutus oleh Prabu Yudistira untuk mendapat petunjuk dan nasehat, kalau sang Arjuna masih hidup ke mana harus mencari tempatnya bermukim, tetapi kalau sudah tiada di mana gerangan candinya.

Dinyatakan oleh Begawan Abyasa, bahwa kini Arjuna sedang mengalami cobaan. Apa yang menjadi masalahnya, sang Bagawan tidak berwenang membeberkannya, karena akan melanggar larang- an Dewa. Maka disarankan hendaknya Prabu Yudistira pergi ke pertapaan Budicipta untuk mempercayakan perkara hilangnya Arjuna itu kepada Batara Buda Wairocana, sebab sang Bataralah yang berwenang untuk memecahkannya.

Setelah mendapatkan amanat sang Begawan, maka Abimanyu beserta keempat panakawan minta diri kembali ke Amarta.

  1. ADEGAN PERANG SEKAR Tengah perjalanan kembali dari Wukiratawu, dalam hutan belantara, Abimanyu dan keempat panakawan dihadang oleh barisan yaksa dari Himawan, kawula Prabu Kunjarakarna. Sudah menjadi sipat watak yaksa yang pantang mengalah ingin menang sendiri, maka balayaksa memancing suatu perseli- sihan dengan melarang Abimanyu meneruskan perjalanan. Perang tidak dapat dihindarkan. Setelah melalui pertarungan sengit, akhir- nya Abimanyu berhasil menumpas balayaksa. Abimanyu dengan pengiringnya melanjutkan perjalanan, selamat sampai tiba kembali di Amarta.

Pathet Manyura

  1. ADEGAN KERAJAAN AMARTA Hadir di istana segenap kerabat Pandawa, kecuali Arjuna. Mereka sangat bersedih hati memikirkan yang masih belum kem- bali. Dalam hati mereka tak sabar menanti berita dari Wukiratawu. Datanglah Abimanyu dan keempat panakawan langsung menghadap, menyampaikan amanat Begawan Abyasa. Prabu Yudistira kemudian menyatakan keinginannya untuk segera be- rangkat ke Budicipta menemui Batara Buda Wairocana. Wreko- dara, Gatutkaca dan Abimanyu ikut menyertainya. Mereka berangkatlah.
  2. ADEGAN PERTAPAAN BUDICIPTA Batara Buda Wairocana dihadap oleh Kunjarakarna dan Purnawijaya. Purnawijaya menyampaikan maksud kedatangannya. Ia mengakui telah berdosa melanggar ketentuan Dewa. Batasan waktu tujuh hari tujuh malam yang diperkenankan untuknya ting- gal dan merajai kahyangan Tinjomaya, ternyata kini telah mulur menjadi tujuh bulan, karena kelalaiannya semata. Karena dosanya itu ia dicadangkan untuk mendapatkan hukuman siksa di kawah Candradimuka di Yomani. Karena itu ia ingin berguru kepada sang Batara, mohon diajarkan segala ilmu untuk mencapai kesem- purnaan hidup untuk membersihkan dirinya dari segala dosa.

    Batara Wairocana mengabulkan permintaan Purnawijaya.

Bersama Kunjarakarna maka diajarkannya tentang arti hakikat hidup'dan dosa. Perkembangannya setahap demi setahap, mulai dari berpadunya air mani sang bapa dan telur sang ibu dalam rahimnya. Pertumbuhannya menjadi janin. Tentang atma-atma yang membentuk napsu, akal dan budi dalam jiwa janin itu yang akan dibawanya lahir kemudian di dunia. Janin tumbuh menjadi bayi yang dilahirkan oleh sang ibu dengan pertumpahan darah dan pertaruhan jiwa, dan inilah dosa pertama manusia, dosa ter- hadap ibu. Bayi tumbuh dan berkembang, dibentuk oleh ajaran dan pengaruh lingkungannya. Makin besar makin dewasa, akhir- nya menjadi manusia dengan segala perikelakuannya dan adat- pekertinya, baik ataupun buruk bergantung dari imbangan kekuatan napsu, akal dan budi yang dibentuk oleh atma-atma yang mempengaruhi sepanjang perkembangan hidupnya. Adapun yang dinamakan dosa, ialah laku-pekerti yang di- pegaruhi secara berkelebihan oleh atma yang membentuk napsu, sebaliknya kesucian atau kesempurnaan hidup selalu dibina oleh keluhuran budi yang tidak dipengaruhi oleh napsu.

Setelah memberikan wejangan tentang dasar-dasar penger- tian tentang hakekat hidup dan dosa tersebut, Wairocana meng- ajak Purnawijaya dan Kunjarakarna bersamadi. Dengan bersikap sedekap-saluku tunggal mereka memusatkan segala kekuatan pikiran dan batinnya tertuju kepada Yang Membuat Hidup agar diturunkan anugerah kehidupan yang sempurna, suci dari segala noda dan dosa. Atas kehendak Dewata Agung, tiba-tiba sebuah senjata be- rupa cakra jatuh di pangkuan Purnawijaya seperti,dari langit layak- nya. Sedang Kunjarakarna tiba-tiba hilang sipat yaksanya, ber- alih rupa menjadi seorang satria rupawan. Mereka lalu menyudahi samadinya.

Wairocana menyatakan, bahwa anugerah senjata untuk Purnawijaya yang berupa cakra, yaitu yang disebut Cakra Bas- wara ataupun Cakra Sudarsana, demikian pula perubahan rupa dan sipat Kunjarakarna dari yaksa menjadi satria rupawan, adalah suatu bukti bahwa mereka telah berhasil dan lulus dalam meresapi dan menghayati ilmu yang diajarkan oleh sang Wairocana dengan sempurna.

Laku berikutnya yang harus dipenuhi ialah agar Kunjarakarna mengubah namanya menjadi Arjunapati dan hendaknya meng- abdi kepada Prabu Buyanata di Sriwedari. Adapun Purnawijaya agar segera menebus dosanya, bersedia disiksa di kawah Candra- dimuka, sebab hukum karma tidak dapat dielakkan. Tetapi dengan ilmu tentang ulah Darma dan samadi yang telah dimilikinya se- karang, ia tidak akan menderita.

Purnawijaya dan Kunjarakarna menyembah, lalu meng- undurkan diri.

Seperti mereka, datanglah Prabu Judistira bersama dengan Wrekodara, Gatutkaca dan Abimanyu, menghadap Batara Wairocana.

Setelah disambut dengan segala keramahan dan kehormatan oleh sang Wairocana, Prabu Yudistira menjelaskan maksud ke- datangannya untuk mempercayakan masalah hilangnya Arjuna kepada kearifan dan kebijaksanaan Batara Wairocana.

Batara Wairocana sanggup mencari dan menemukan Arjuna, asal Prabu Yudistira sanggup pula menjawab teka-teki yang diaju- kan. Prabu Yudistira menyanggupi dan ternyata pula mampu men-

jawab teka-teki sang Wairocana dengan tepat sekali. Dan seketika itu pula sang Buda Wairocana pulih kembali pada wujud sebenarnya sebagai Prabu Sri Batara Kresna, raja Dwarawati. Semua men- jadi terharu dan gembira.

Menanggapi pertanyaan Wrekodara, Sri Kresna menyatakan, bahwa karena dorongan hasratnya mencari Arjuna yang telah lama menghilang, maka ia berada di pertapaan Budicipta sebagai Batara Buda Wairocana.

Kemudian disepakati semua, bahwa Prabu Yudistira segera kembali ke Amarta diantar oleh Gatutkaca dan Abimanyu. Sri Kresna dan Wrekodara meneruskan mencari Arjuna.

Mereka pun berpisahan meninggalkan Budicipta.

  1. ADEGAN YOMANI Sesampainya di Yomani, Sang Purnawijaya disambut oleh Batara Yamadipati. Ditanya maksud kedatangannya di Yomani, Purnawijaya, atau yang sebenarnya Arjuna, menyatakan akan menebus dosanya dan sudah siap sedia menjalani hukuman siksa dalam kawah Candradimuka. Batara Yamadipati takjub akan kelakuan Arjuna yang dengan suka rela datang sendiri hendak menebus dosanya dalam kawah neraka. Kebanyakan orang berusaha menghindar dari hukuman, tetapi Arjuna justru berbuat sebaliknya. Maka segeralah Arjuna diseret dan diceburkan dalam kawah yang airnya panas mendidih oleh para algojo bala Yamadipati. Sekejap mata hancur luluh badan sekujur sang Arjuna.

Tetapi berkat keteguhan hati yang dilakukan dengan samadi serta ilmu tentang Darma yang telah diperolehnya dari sang Batara, Arjuna tidak sedikitpun menderita. Bahkan tidak lama kemu- dian kawah yang airnya mendidih itu pun tiba-tiba menjadi telaga berair sejuk dan bening, berada di tengah-tengah taman sorga. Tampak sang Arjuna berdiri di tengah, pulih sehat kembali ber- cahaya penuh wibawa.

Datang segera sang Yamadipati menuntut kembalinya kawah Candradimuka seperti keadaannya semula sebagai tempat meng- hukum dan menyiksa para sukma yang jahat. Arjuna tidak sanggup memenuhi, maka terjadilah perang. Yamadipati kalah, melepaskan Arjuna kembali ke arcapada dan melaporkan peristiwa kawah itu kepada Batara Guru.

  1. ADEGAN PERKEMAHAN KORAWA DI TENGAH HUTAN Pimpinan bala Korawa mengadakan musawarah tentang usaha mereka mencari senjata Cakra Baswara yang masih belum berhasil. Prabu Basukarna menyatakan tekadnya tidak akan kembali ke Astina kalau tidak dengan membawa senjata tersebut. Demikian pula Sangkuni, Dursasana dan lainnya, mereka akan tetap patuh dan setia mendampingi usaha Basukarna dalam mencari senjata tersebut sampai berhasil. Tiba-tiba datang laporan, bahwa di kejauhan terlihat Arjuna sedang menuju ke arah perkemahan mereka. Basukarna bersama yang lain segera menuju ke barisan terdepan. Tak ayal mereka, bahwa yang datang itu sang Arjuna. Setelah dekat sang Arjuna- pun disambut dengan ramah. Menanggapi pertanyaan Basukarna, Arjuna menceritakan baru selesai berguru kepada Batara Wairo-

cana di Budicipta, sudah lulus, dan mendapat anugerah senjata berupa Cakra Baswara atau Cakra Sudarsana. Sekarang Arjuna ingin kembali ke Amarta.

Mendengar cerita Arjuna, para Korawa dalam hati kagum dan takjub, tetapi dalam pada itu pun tumbuh perasaan dengki- nya. Dengan bujukan halus Basukarna minta diperlihatkan rupa senjata cakra tersebut. Tanpa menaruh wasangka Arjuna memper- lihatkan senjata Cakra Baswara, tetapi tiba-tiba Basukarna mere- butnya. Dalam sekejap itupun Korawa serempak mengeroyok Arjuna, dan Basukarna menikamkan senjata Kunta ke dadanya. Arjuna rebah tanpa berkutik. Dengan membawa senjata rampasan- nya, Korawapun segera meninggalkan perkemahan kembali ke Astina.

Tersebutlah perjalanan Sri Kresna dan Wrekodara, sampai di tempat bekas perkemahan Korawa mereka dikejutkan oleh tubuh Arjuna yang terkapar di atas tanah tak sadarkan diri. Segera mereka mendekatinya. Sri Kresna tak ayal lagi bahwa Arjuna belum mati, dan dengan bunga Wijayakusuma di-'hidup"-kan kembali, pulih seperti semula. Setelah diusut dan dipaparkan segala ikhwal mulai dari awal sekali sampai teraniayanya Arjuna oleh Korawa, maka Sri Kresna segera memutuskan agar Arjuna mengejar Korawa, yang tentunya kembali ke Astina, Sri Kresna dan Wrekodara akan mengawasi di belakang.

  1. ADEGAN TAMAN KADILENGENG ASTINA Perhubungan raja Astina, Dewi Banuwati, tengah berhibur hati di taman Kadilengeng, tiba-tiba dikejutkan oleh sang Arjuna yang tak diduga-duga muncul di sampingnya.

Arjuna mengabarkan maksud kedatangannya di taman Kadilengeng secara rahasia itu adalah untuk minta bantuan sang permaisuri mengusahakan kembalinya senjata Cakra Baswara yang kini berada di tangan Prabu Suyudana. Maka diceritakan peris- tiwanya dari awal sampai akhir.

Rupanya sang Dewi tidak begitu mengacuhkan, melainkan malah menggoda sang Arjuna dengan ulah yang membangkitkan rasa asmara. Sebenarnya antara Arjuna dan Banuwati sudah sejak lama tumbuh rasa saling mencinta, maka sang Arjunapun tidak mengabaikan keinginan sang Dewi. Malah kebetulan sekali diman- faatkan untuk memancing amarah Suyudana. Tidak lama kemudi- an mereka berdua diasyiki oleh canda cumbu mesra. Ulah mereka itu diketahui oleh salah seorang abdi emban, yang segera melaporkan kejadian tersebut kepada Prabu Suyudana.

  1. ADEGAN PENDAPAT ASTINA Prabu Suyudana dihadap oleh Maharesi Drona, Adipati Basukarna dan Korawa lainnya, yang baru tiba kembali dari per- lawatannya mencari senjata Cakra Baswara. Menerima laporan Sang Basukarna yang telah berhasil mem- peroleh senjata Cakra Baswara, Suyudana merasa sangat senang dan dengan ketawa terbahak-bahak ditimang-timangnya senjata tersebut, berulang kali diamat-amati, sampai tiba-tiba terganggu oleh kedatangan abdi emban yang melaporkan terdapatnya seorang duratmaka dalam taman Kadilengeng yang mengganggu permaisuri baginda. Dan duratmaka itu sebenarnya tidak lain daripada Raden Arjuna.

Tanpa pikir panjang, serta merta Prabu Suyudana mening-

galkan pendapa, bergegas-gegas menuju ke taman. Yang lain-

lain pun dengan gopoh-gopoh menyusul.

Tiba di taman didapatinya Arjuna sedang bercanda dengan Banuwati. Baginda tidak mampu menahan marahnya, lalu langsung menyerang. Tetapi Arjuna sudah waspada dan dengan cekatan menghindar, sehingga Suyudana menangkap angin dan terhuyung- huyung hampir jatuh. Segera Arjuna meringkus Suyudana dari belakang. dan dengan cepat berhasil merebut kembali senjata Cakra Baswara yang terus dibawanya lari ke luar dari taman. Suyudana, yang semakin berkobar amarahnya, segera akan menge- jar Arjuna, tetapi terhalang oleh kedatangan Korawa lainnya ber- sama Sangkuni dan Basukarna. Baginda menceritakan direbutnya senjata Cakra oleh Arjuna, dan merekapun buru-buru ke luar taman mengejarnya.

Tetapi belum sampai seberapa jauh mereka dibubarkan oleh amuk Wrekodara.

Arjuna disambut oleh Sri Kresna, bergegasan mereka kembali ke Amarta. Wrekodara menyusul.

Sampai di Amarta kembalinya Arjuna disambut oleh kerabat Pandawa dan segenap isi istana dengan sukacita.

Tancap kayon

C. VERSI "SOENARTO TIMOER"(VStm)
KUNJARAKARANA (Balungan pakem wayang purwa) sanggitanipun

SOENARTO TIMOER

Gegebenganing lampahan:

  1. Prabeyaning budi basuki
  2. Ngupadi pengruwating diyu
  3. Pambenganing lampah dumunung ing sarira piyambak
  4. Garising kodrat pangundhuh wohing pakarti
  5. Setiyar marganing kasembadan
  6. Sabarang lampah tan sepi ing pangrancana
  7. Woh undhuhaning pakarti boten saged den emohi
  8. Ruwating dosa gumantung anteping pangastuti
  9. Purnaning pacoban dereng ateges purnaning pangastuti
  10. Saya mantheng pangesthining pangastuti, saya gora krodha- ning pambengar
  11. Putusing kawruh ngelmu saking linambaran laku
  12. Sura dira jayaning rat lebur dening pangastuti
  13. Tumfuruning kanugrahan

  14. PRABEYANING BUDI BASUKI

    Nagari Mayangkarapura

Adegan:

Adipati Kunjarakala kaadhep patih Ditya Kalayaksa lan Emban Kalawerdati.

Ginem: Bab lolosipun Prabu Kunjarakarna.

a. Sabab-sababipun, awit Prabu Kunjarakarna kelut dhateng wewarahipun para sogata ing babagan kadarman (Buda- darma).
b. Lekasipun sang prabu ingkang makaten wau den anggep sampun mingsed saking kodrat saha anggering bangsa asura. Mila sang prabu kedah kaudi murih wangsulipun angratoni golonganing bangsa asura ing nagari Mayangkarapura.
c. Yen wonten bangganipun sang prabu, badhe tinanduka- ken rodaparipeksa, manawi perlu sarana kekiyataning dedamel.
d. Para sogata den anggep mengsah lan kedah dipun-tum- pes.
Lampah: Sabibaring pasewakan, ing paseban jawi patih Kalayaksa ngundhangaken printah anumpes para sogata sarta matah bala yaksa mirunggan kinen ngupadi jengkaripun sang prabu, kinanthen wulucumbu nagari Mayangkarapura: Togog lan Sarawita. Bodholan.

  1. NGUPADI PANGRUWATING DIYU

    Pratapan Budicipta

Adegan: Bathara Sri Wairocana kaadhep dening Prabu Kunjarakarna ingkang sampun anglugas busananing ratu.

Ginem:

a.Kunjarakarna nyuwun ruwat saking sakathahing me- mala sarta saking kawujudan arupi yaksa.
b.Wairocana nyagahi, nanging Kunjarakarna kinen lumawat langkung rumiyin dhateng Yamaloka kahyanganipun Bathara Yamadipati, murih sageda anyipati piyambak tumanduking paukuman dhateng para dedosan ing naraka. Marginipun dhateng Yamaloka tinuding anglangkungi telenging samodra.
c. Yen sampun dumugi Yamaloka Kunjarakarna kinen miteranga pisan dhateng Bathara Yamadipati ing bab pidana tumrap para dedosan sarta wewarah bab panan- dhanging raga 5 pratingkah ingkang sibebut "pancagati sangsara".
d. Sasampunipun Kunjarakarna ngleksanani sadaya wau lajeng wangsula sowan sang Wairocana malih.
Lampah: Kunjarakarna pamit bidhal dhateng Yamaloka anglangkungi telenging samodra.

  1. PAMBENGANING LAMPAH DUMUNUNG ING SARIRA
    PIYAMBAK

Tepining samodra (perang gagal)

Lampah: Sang Kunjarakarna badhe anjegur ing samodra, nanging kapambengan dening swara ingkang boten kantenan asalipun. Dangu-dangu tetela bilih swara wau swaranipun sang Caturwarna inggih peranganing pribadinipun Kunjarakarna piyambak.

Adegan:

Caturwarna medal saking angganipun sang Kunjarakarna awujud kembaranipun piyambak, nanging kaot langkung alit tur awarni:

1) byur abrit awasta Kunjararekta
2) byur ijem awasta Kunjarawilis
3) byur jene awasta Kunjarajenar
4) byur cemeng awasta Kunjarakresna.
Ginem: Bab piandel sarta tekadipun piyambak-piyambak. Kunjarakarna dipun-pambengi sampun ngantos nerusaken lampahi- pun miturut pakenipun sang Wairocana, nanging Kunjarakarna tansah puguh boten maelu dhateng pambenganipun Caturwarna. Sulayaning rembang dados perang rebat leresi- pun piyambak-piyambak.

Lambah: Kinarubut dening Caturwarna Kunjarakarna rumaos kuwa- lahan. Ing batos ngungun dene samangke boten kadugi nan- dhingi kekiyataning lawan, mangka padatan kasektenipun anglangkungi. Temahan lajeng mangertos yen icaling daya kasektenipun wau awit sampun ngalih cumondhok wonten ing Kunjararekta. Mila saking manthenging pangesthi, Kunjarakarna lajeng mesu budi mapan samadi monekung sihing Bathara sageda pinaringan sanjata pitulungan anyingkiraken pambenganing lampahipun. Lekasipun Kunjarakarna wau dening Caturwarna kininten sampun teluk, mila panyepengi- pun dipun kendhoni, nanging dumadakan sareng sakala wonten alun ageng anempuh gisiking samodra. Kunjarakarna keblebeg ing alun sineret dhateng telenging samodra. Kunjarakresna taksih prayitna, tan talompe manjing malih ing angganipun Kunjarakarna. Nanging Kunjararekta, Kunjara- wilis lan Kunjarajenar (sang Triwarna) uwal kabuncang tebih ing gisik. Icaling alun, Kunjarakarna lan Kunjarakresna sampun boten katingal, kantun sang Triwarna tinilar kacu- wan ing gisik, tumunten lajeng wangsul dhateng Mayang- karapura.

  1. GARISING KODRAT PANGUNDHUH WOHING PAKARTI

    Ing Yamaloka

Carita:

Ing telenging samodra, Kunjarakarna anglajengaken lampahipun gantos dumugi ing kahyanganipun Bathara Yamdipati, anenggih ing Yamaloka. Ingriku Kunjarakarna nyipati patrap-

ing pidana ingkang tinadukaken dhateng para dedosan, warni-warni sarwa ngeres-eresi. Sasampunipun Kunjarakarna manoni sadaya wau, tumunten lajeng sowan ing ngarsanipun Bathara Yamadipati.

Adegan: Yamadipati den adhep Kunjarakarna.

Ginem:

a. Bawa raos bab lenggahing panguwaos lan kaadilan tumrap tumanduking pidana dhateng para dedosan.
b. Wewarahipun Yamadipati bab panandhanging raga 5 pratingkah ingkang dipun-wastani "pancagati sangsara".
c.Pawartos saking Bathara Yamadipati anggenipun Bathara Purnawijaya badhe siniksa ing kawah Candradimuka minangka tebusaning dosanipun.
d. Kunjarakarna kaget dene ngatasing Jawata meksa taksih saged kalepetan dosa, temah tinarbuka manahipun dhateng wewadosing kadosan, lajeng pamit.
Lampah: Wangsulipun Kunjarakarna kampir dhateng kahyanganipun Bathara Purnawijaya, sumitranipun tunggil darma.

  1. SETIYAR MARGANING KASEMBADAN

    Ing Kahyanganipun Purnawijaya

Adegan:

Sang Purnawijaya lan prameswari Dewi Kusumagandawati

nuju jagongan, ingadhep parekan kalih. (Satengahing ginem sumusul tancep Kunjarakarna).

Ginem:

a.Eca reraosan tata-tentrem sarta kamulyaning gesangipun ing kahyangan, dumadakan kesaru praptanipun Kunjarakarna.
b. Sasampuning bage-binage ing karaharjan, sang Kunjarakarna anyariyosaken anggenipun mentas saking Yamaloka, pinanggih lan Bathara Yamadipati sarta nampi pawartosipun anggenipun Sang Purnawijaya badhe pinatrapan pidana siniksa ing Yamaloka minangka tebusa- ning dosanipun.
c. Purnawijaya sakalangkung kaget sarta minta sih pitulu- nganipun Kunjarakarna, sagedipun oncat saking pasiksan.
d. Kunjarakarna boten saged suka pitulungan punapa- punapa kajawi namung amrayogekaken sang Purnawijaya sowan dhateng Budicipta, puruhita lan minta sih.parimar- manipun Bathara Wairocana, mbokmanawi saged pinare- ngaken.
Lampah: Purnawijaya samekta badhe bidhal dhateng Budicipta sareng lan Kunjarakarna, animbali abdi wulucumbu parepat panaka- wan kinen umiring lampah. Sasampunipun pamit lan garwa lajeng bodholan tumurun ing madyapada anglangkungi wana.

  1. SABARANG LAMPAH TAN SEPI ING PANGRANCANA Samadyaning wana (perang sekar)

Adegan: Lampahipun Purnawijaya, Kunjarakarna lan parepat pana- kawan kepapag lan barisaning yaksa saking Mayangkarapura. Tancep. Ginem:

a.Balayaksa boten kasamaran dhateng gusti ratunipun sanadyan sampun nglugas busananing narendra, apratela sumedya amboyong Kunjarakarna wangsul dhateng mayangkarapura.
b. Kunjarakarna puguh boten purun, sulayaning rembag dados perang.
Lampah: Kunjarakarna, ingkang sampun koncatan kasektenipun awit pisang lan Kunjararekta, kuwalahan, lajeng minta srayanipun Purnawijaya. Purnawijaya ngedali perang, wadyabala yaksa tetumpesan. Togog Sarawita keplajeng wangsul dhateng nagari, wadul dhateng gustinipun bab cabaring lampah.

  1. WOH UNDHUHANING PAKARTI BOTEN SAGED DEN
    EMOHI

Pratapan Budicipta

Adegan: Bathara Wairocana kaadhep dening Kunjarakarna lan Purnawijaya.

Ginem:

a.Kunjarakarna ngaturaken sadaya lelampahanipun wonten ing Yamaloka, pepunthoning manahipun sesampunipun

nyipati lelampahan wau, sarta anyowanaken Purnawijaya.

b. Purnawijaya nyuwun rinuwat saking akathaning dosanipun murih kalis saking pasiksaning naraka, mila sumedya badhe puruhita dhateng Bathara Wairocana murih saged anuhoni wewarahing Darma Suci.
c.Panyuwunipun Purnawijaya katarimah, nanging meksa kedah nebus dosanipun. Yen mila mantheng saestu pa- ngesthinipun pepancen 100 tahun dhumawah ing kawah Candradimuka sakawit, tertamtu badhe purna ing dalem 10 dinten.
d. Purnawijaya lan Kunjarakarna tumunten lajeng winulang- ing bab lenggahing gesang lan dosa, sampun widagda sang Purnawijaya agahan tinundhung maring Yamaloka kinen anebus dosanipun, wondene Kunjarakarna taksih cinandhet ing asrama perlu winirid ngelmu pangruwating diyu.
e.Purnawijaya pamit sinartan puja basukining lampah.
Lampah: Bodholan. Sajawining pratapan Budicipta, Purnawijaya ka- papagaken dening parepat panakawan. Lajeng tancep. Ginen:

a.Sampun kepleng tekadipun Purnawijaya ngemban dha- wuhing Bathara Wairocana anebus dosanipun ing Yamaloka.
b. Sang Purnawijaya badhe angraga-sukma, parepat panakawan kinen ngrukti layonipun binoyong dhateng kah- yanganipun sarta wineling supados ingkang garwa Sang Kusumagandawati angantia konduripun salebeting 10 dinten.

Lampah: Purnawijaya samadi angraga-sukma, pecating atma sareng lan nglumpruking layon, tinampen dening parepat pakawan, terus kaentas.

  1. RUWATING DOSA GUMANTUNG ANTEPING
    PANGASTUTI

Ing Yamaloka

Lampah: Atmanipun sang Purnawijaya, sadumugining Yamaloka, kina- royok dening wadyabalanipun Bathara Yamadipati, terus sineret dhateng tepiningkawah Candradimuka, siniksa pinu- lasara ngantos memelas kawontenanipun. Wusana lajeng kacemplungaken ing kawah ingkang toyanipun umobmawa- likan, ledheh mlonyoh badan sakujur. Nanging Purnawijaya sakecap boten sambat, ciptanipun sampun gilig gume- leng mituhu piwelingipun Bathara Wairocana. Eloking lelam- pahan, sasampunipun andungkap 10 dinten, dumadakan kawontenanipun ponang kawah santun rupi dados tlaga kinubengan taman-sari ingkang sakalangkung asri. Toyanipun asrep wening akinclong-kinclong. Sang Purnawijaya pulih sariranipun kadi wingi uni, malah sangsaya mancorong guwa- yanipun. Sapandurat balayaksaeram tumingal, nanging lajeng pating gedandap sami andhawahi sakathahing deda- mel, nanging boten pasah babarpisan. Para balayama lajeng sami lapur ingarsanipun Bathara Yamadipati. Sang Bathara nuli agahan marepeki sang Purnawijaya, binagekaken kanthi kurmat. Tancepan.

Ginem:

a.Yamadipati miterang mulabukanipun dene pepancen 100 tahun siniksa ing kawah Candradimuka, saweg andungkap 10 dinten teka sampun purna, malah ponang kawah santun rupi dados tlaga dalah patamanan ingkang sakalangkung asri.
b. Purnawijaya sajarwa amituhu dhawuhipun Bathara Wairocana ingkang sampun kepareng paring pangaksama.
c. Yamadipati mangayubagya kanthi suka bingahing manah. Purnawijaya kalilan wangsul sinartan puja puji sukur.
Lampah: Bodholan. Purnawijaya wangsul dhateng kahyanganipun.

  1. PURNANING PACOBAN DERENG ATEGES PURNANING PANGASTUTI

    Ing kahyanganipun Purnawijaya

Adegan: Dewi Kusumagandawati, parekan lan parepat panakawan sami tungkul nenggani kunarpanipun sang Purnawijaya. Atmanipun sang Purnawijaya dhateng, manjing ing kunarpanipun, wungu saking pasarean rinubyung sarta sinungke- man dening Dewi Kusumagandawati lan sanes-sanesipun.

Ginem:

Sasampunipun bage-binage, Purnawijaya ngojahaken purwa- madya-wusananing lelampahanipun ing Yamaloka. Rampung lajeng utusan samapta, sadaya kinen ndherek lumawat dha-

teng Budicipta, saperlu mangastuti dhateng sang Bathara Wairocana.

Lampah: Bodholan.

  1. SAYA MANTHENG PANGESTINING PANGASTUTI, SAYA GORA KRODANING PAMBENGAN
    Nagari Mayangkarapura

Adegan: Adipati Kunjarakala kaadhep patih Kalayaksa, emban Kala- werdati tuwin sang Triwarna (Kunjararekta, Kunjarawilis lan Kunjarajenar). Sumusul tengahing ginem panakawan Mayangkarapura: Togog lan Sarawita.

Ginem:

a. Sang Triwarna angandharaken lelampahanipun sang Kunjarakarna anggenipun sampun maguru dhateng Bathara Wairocana ing pratapan Budicipta, kelut pambuju- king sang Bathara, temah nyebur telenging samodra, andadosaken legegipun sadaya ingkang sami mireng.
b. Dumadakan kesaru sowanipun Togog lan Sarawita, atur uninga anggenipun sampun kalampahan pinang- gih lan Prabu Kunjarakarna, nanging sampun lukar busananing kaprabon, kantun cecawetan kadi salimrahing kawula alit, sarta ngaturaken cabaring lampah awit tum- pesing wadyabala yaksa dening satriya bagus nama Pur- nawijaya srayanipun Prabu Kunjarakarna.
c. Kunjarakala eram ing panggalih, nanging ugi sinawung

bendu makantar-kantar, temahan niyat anyarirani piyambak, mangsulaken ingkang raka dhateng kalenggahanipun sakawit, Triwarna minangka dados cucuking lampah, dene Kalayaksa lan Kalawerdati kinen kantun angreksa praja.

Lampah: Sami bodholan.

  1. PUTUSING KAWRUH NGELMU SAKING
    LINAMBARAN LAKU

Pratapan Budicipta

Adegan: Wairocana den adhep dening Kunjarakarna.

Ginem:

a.Kunjarakarna den anggep sampun widagda sakathahing kawruh Darma Suci minangka paugeran dhateng kasam- purnaning agesang.
b. Samangke kantun nampi pandadaran ingkang wekasan minangka kuncinipun, inggih punika angicalaken pe- palanging margi dhateng kasampurnan wau.
c. Pepalang .punika badhe andhatengi sumedya ambradhat Kunjarakarna wangsul dhateng alam gesangipun sakawit. Pepalang wau tundhonipun boten sanes kajawi kadang kembaranipun piyambak sang Kunjarakala.
d. Yen Kunjarakarna kadugi ngicali pepalang wau, temah katarimah nampi nugraha Darma Suci sarta ruwat saking sakathaning papanistha pakartining diyu.
e.Kunjarakarna sumungkem angaras padanipun Bathara

Wairocana, sumanggem tansah badhe anuhoni dhawuhi-

pun, lajeng nyuwun pamit.

Lampah: Bodholan. Kunjarakarna mapagaken pepalang.

  1. SURA DIRA JAYANING RAT LEBUR DENING PANGASTUTI

    Perang brubuhan

Adegan: Lampahipun Kunjarakala lan Triwarna kapapagaken dening Kunjarakarna, lajeng tancep.

Ginem: Sasampunipun bage-binage sarta warta-winartan, lajeng sami bebantahan bab jejering ratu (Kunjarakala) lan darmaning agesang (Kunjarakarna). Sami puguh ngugemi piandelipun piyambak-piyambak. Kunjarakala sumedya ngrodahpeksa, Kunjarakarna wangkot mopo nuruti, temah dados perang.

Lampah:

a. Kunjarakarna kinaroyok dening Triwarna kuwalahan, lajeng ngedalaken Kunjarakresna, ingkang sadangunipun punika sajiwa-raga lan Kunjarakarna sarta sampun pana dhateng tekadipun kawimbuhanwewarahipun sang Wairocana lan Yamadipati. Kunjarakresna sinaraya kinen angrimuk Triwarna puruna manunggal malih amujudna sang Pancawarna (Kunjarakarna, Kunjararekta, Kunjara- wilis, Kunjarajenar, Kunjarakresna), anjangkepi sampur-

naning pancaindriya dennya anggilut darma kasucianing agesang.

b. Triwarna aben ajeng lan Kunjarakresna, bebantahan, Triwarna kenging karimuk lajeng kelut, satemah lajeng sasarengan manjing manunggal malih lan Kunjarakarna.
c. Kunjarakarna aben ajeng lan Kunjarakala, perang. Awit saking manunggaling Pancawarna satemah pulih malih kasekten sarta kawibawanipun Kunjarakarna. Kunjarakala kaseser, pejah kapupuh.
d. Rampunging perang, kesaru praptanipun sang Purnawijaya lan dewi Kusumagandawati sapandherek. Gapyuk rerangkulan, bage-binage, lajeng sami sasarengan sowan ingarsanipun Bathara Wairocana.
13. TUMURUNING KANUGRAHAN

Pratapan Budicipta

Adegan: Wairocana den adhep dening Kunjarakarna, Purnawijaya, Kusumagandawati sapandherek.

Ginem: Paripurna gantining lampah, Kunjarakarna lan Purnawijaya sampun lulus rahayu dennya anggayuh kasampurnan darma- ning agesang, katarimah anampi nugrahaning Widdi sang Darma Suci.

Lampah: Kunjarakarna rinuwat, ical sipating diyu, santun rupi bagus. Sadaya asuka sukur nyungkemi padanipun sang Wairocana. Sinambut dening sang Bathara kalayan subagya pudyastuti rahayu nir ing sambekala. Hayu, hayu, hayu!

Tancep kayon

TERJEMAHAN BEBAS

  1. PETARUH BUDI SELAMAT

    Negara Mayangkarapura

Adegan:

Adipati Kunjarakala dihadap oleh patih Ditya Kalayaksa dan emban Kalawerdati.

Rembuk: Tentang menghilangnya Prabu Kunjarakarna.

a. Sebab-musababnya karena baginda terpikat oleh ajaran tentang Budadarma oleh para sogata.
b. Ulah baginda demikian dianggap sudah menyimpang dari kodrat dan hukum adat lembaga bangsa asura di Mayangkarapura.
c. Baginda harus dikembalikan kepada bangsa asura. Kalau menolak harus dipaksa, bila perlu dengan kekerasan senjata.
d. Para sogata dinyatakan sebagai musuh dan harus di- tumpas.

Laku:

Usai pasewakan, di paseban luar patih Kalayaksa mengun- dangkan perintah menumpas para sogata, dalam pada itupun mempersiapkan pasukan yaksa khusus untuk mencari jejak baginda. Ikut serta pasukan yaksa kedua panakawan Mayangkarapura Togog dan Sarawita.

  1. MENCARI PELEPAS ANGKARA

    Pertapaan Budicipta

Adegan: Batara Sri Wairocana dihadap oleh Prabu Kunjarakarna yang sudah menanggalkan busana kebesaran kerajaan.

Rembuk:

a.Kunjarakarna minta agar diruwat dari segala mala dan wujudnya sebagai yaksa.
b. Wairocana menyanggupi, tetapi hendaknya Kunjarakarna melawat dulu ke Yamaloka, khayangan Batara Yamadipati, agar dapat menyaksikan betapa dilaksanakan hukuman terhadap para dosa di neraka. Jalan ke Yamaloka melalui pusat samudera. Sesampainya di Yamaloka kelak, hendaknya Kunjara-
c. karna menanyakan sekali kepada Batara Yamadipati tentang hal hukuman terhadap para dosa dan ajaran tentang lima macam penderitaan badni yang disebut "pancagati sangsara".
d. Setelah semua itu dilaksanakan, Kunjarakarna boleh datang kembali menghadapi Batara Wairocana.
Laku: Kunjarakarna minta pamit dan berangkat ke Yamaloka melalui pusat samudera.

  1. RINTANGAN LELAKU TERDAPAT PADA
    DIRI SENDIRI

Di tepi samudera (perang gagal)

Laku: Kunjarakarna sudah siap menceburkan diri ke laut, tiba-tiba tertahan oleh suara menegur, tetapi tidak diketahui asalnya. Lambat laun disadarinya, bahwa suara tersebut ternyata suara sang Caturwarna, bagian kepribadian Kunjarakarna sendiri.

Adegan:

Caturwarna ke luar dari badan Kunjarakarna, berupa kem- barannya sendiri, tetapi lebih kecil dan berwarna:

1) merah polos bernama: Kunjararekta.
2) hijau polos bernama : Kunjarawilis.
3) kuning polos bernama : Kunjarajenar.
4) hitam polos bernama : Kunjarakresna.
Rembuk: Tentang kepercayaan dan pendirian masing-masing. Caturwarna minta ágar Kunjarakarna mengurungkan niatnya meng- ikuti perintah Batara Wairocana, tetapi Kunjarakarna tetap pada tekadnya dan tidak mengindahkan Caturwarna. Per- bantahan terjadi dan berakhir dengan berebut kebenaran.

Laku:

Dikeroyok oleh Caturwarna, Kunjarakarna kewalahan. Da- lam hati ia merasa heran, mengapa ia sekarang tidak mampu menandingi kekuatan lawan, padahal biasanya ia memiliki kesaktian. Akhirnya disadarinya bahwa kekuatannya kini sudah beralih menjadi Kunjararekta, yang kini menjadi la- wannya. Tetapi karena tekadnya yang membaja, ia tak mau menyerah, lalu bersamadi minta pertolongan dewa agar ia disingkirkan dari rintangan yang menghalangi lakunya. Dengan penghentian perlawanan Kunjarakarna secara tiba-tiba,

Caturwarna mengira bahwa Kunjarakarna sudah takluk dan menyerah. Maka dikendorkan cengkeraman mereka, tetapi tiba-tiba gelombag laut besar datang menggulung Kunjarakarna yang sedang bersarnadi dan menyeretnya ke tengah samudera. Kunjarakresna sempat bersatu kembali dengan Kunjarakarna, dengan demikian ikut lenyap ditelan gelom- bang. Tetapi Kunjararekta, Kunjarawilis dan Kunjarajenar (Triwarna) terbuncang jauh ke pantai. Sesaat kemudian laut menjadi tenang kembali, dan dengan perasaan kecewa Triwarna kembali ke Mayangkarapura.

  1. GARIS KODRAT ADALAH PENGUNDUH
    ULAH PERBUATAN

Di Yamaloka

Cerita: Di pusat samudera Kunjarakarna meneruskan perjalanannya hingga sampai di kahyangan Batara Yamadipati, yaitu Yamaloka. Di situ Kunjarakarna menyaksikan betapa hukuman siksa terhadap para dosa dilaksanakan secara kejam dan mengerikan. Setelah menyaksikan segala siksaan tersebut dengan hati seperti tersayat-sayat, iapun lalu menghadap Batara Yamadipati.

Adegan: Yamadipati dihadap Kunjarakarna.

Rembuk:

a.Masalah menyangkut kekuasaan dan keadilan dalam pe- laksanaan hukuman terhadap para dosa di neraka.

b. Penjelasan Yamadipati tentang lima macam penderitaan badani yang disebut "pancagati sangsara".
c. Berita yang disampaikan Yamadipati tentang hukuman yang akan menimpa Purnawijaya, yaitu disiksa dalam kawah Candradimuka, sebagai tebusan dosanya.
d. Kunjarakarna terkejut, karena tak diduganya Dewapun masih terkena dosa, akhirnya sadarlah ia, bahwa dosa tak pilih-pilih orangnya. Lalu berpamitan.

Laku:

Dalam perjalanannya kembali, Kunjarakarna singgah di kahyangan Purnawijaya, sahabat karibnya tunggal darma.

  1. IKHTIAR JALAN KEPADA KEBERHASILAN

    Kahyangan Purnawijaya

Adegan: Sang Purnawijaya dan permaisuri Dewi Kusumagandawati sedang duduk bersama, dihadap oleh dua orang inang. (Di tengah-tengah percakapan mereka, datang Kunjarakarna me- nyusul).

Rembuk:

a. Mempercakapkan ketata-tentraman dan kebahagiaan hidup mereka di kahyangan, tiba-tiba datang Kunjarakarna.
b. Setelah kabar-mengabarkan keselamatan masing-masing, Kunjarakarna menceritakan kunjungannya ke Yamaloka, bertemu dengan Batara Yamadipati dan memperoleh

kabar, bahwa Purnawijaya tidak lama lagi akan menerima hukuman disiksa dalam kawah Candradimuka sebagai penebus dosanya.

c. Purnawijaya amat terkejut mendengar berita demikian, karena tak disangkanya ia akan masuk neraka, lalu minta pertolongan Kunjarakarna, bagaimana ia dapat terhindar dari siksaan tersebut.
d. Kunjarakarna tidak dapat berbuat lain kecuali menyaran- kan kepada Purnawijaya, agar ia berguru kepada Batara Wairocana di pertapaan Budicipta, barangkali ia dapat beroleh pengampunan dan bebas dari hukuman neraka.
Laku: Purnawijaya berkemas-kemas akan berangkat ke Budicipta bersama-sama dengan Kunjarakarna, memanggil abdi wulu- cumbu perepat panakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) untuk ikut serta. Sesudah berpamitan dengan permaisurinya, Purnawijaya dan lainnya berangkat ke Budicipta.

  1. TIAP LAKU APAPUN TIADA SEPI DARI GODAAN

    Di tengah hutan belantara (perang sekar)

Adegan: Perjalanan Purnawijaya, Kunjarakarna dan panakawan pengi- ring berpapasan dengan barisan yaksa dari Mayangkarapura. Tancapan.

Rembuk:

a. Bala yaksa tidak ayal lagi akan raja junjungannya, walau-

pun sudah menanggalkan busana kebesaran raja. Mereka menyatakan akan memboyongkan Kunjarakarna kembali ke negara Mayangkarapura.

b. Kunjarakarna menolak, tetapi bala yaksa tidak mau undur dari perintah yang diterimanya, kalau perlu mem- boyong Kunjarakarna dengan paksa. Akibatnya perang.

Laku:

Karena terpisah dari Kunjara rekta, maka Kunjarakarna ke- hilangan kesaktiannya. Ia terus-menerus terdesak. Akhirnya minta bantuan Purnawijaya, yang segera tampil maju ke me- dan melawan wadyabala yaksa. Bala yaksa dapat ditumpas, Togog dan Sarawita berhasil melarikan diri kembali ke Mayangkarapura, mengadukan kegagalan tugasnya.

  1. BUAH HASIL PERBUATAN TIDAK DAPAT DITOLAK

    Pertapaan Budicipta

Adegan:

Batara Wairocana dihadap oleh Kunjarakarna dan Purnawijaya.

Rembuk:

a. Kunjarakarna menceritakan pengalamannya selama di Yamaloka, telah menyaksikan berbagai macam hukuman yang kejam dan mengerikan terhadap orang-orang yang berdosa, dan di samping itu menghadapkan Purnawijaya.

b. Purnawijaya ingin teruwat dari segala dosanya, agar terhindar dari siksaan neraka, sebab itu ia berhasrat berguru kepada Batara Wairocana, untuk diajarkan tentang Darma Suci.
c.Permintaan Purnawijaya diterima, namun demikian ia tetap harus menebus dosanya di neraka. Tetapi kalau ia memang benar-benar bertekad mengamalkan Darma Suci yang akan diajarkan nanti, maka jatah 100 tahun disiksa dalam kawah Candradimuka akan menjadi berkurang tinggal 10 hari saja.
d. Purnawijaya dan Kunjarakarna secara bersama-sama diajarkan tentang hakikat hidup dan dosa. Setelah selesai, Purnawijaya lalu segera pergi ke Yamaloka untuk men- jalani hukumannya. Kunjarakarna masih ditahan di pertapaan untuk meneruskan berguru.
e. Purnawijaya minta diri diiring dengan ucapan selamat jalan.

Laku:

Di luar pertapaan Budicipta, Purnawijaya bertemu dengan keempat panakawan.

Rembuk:

a. Purnawijaya menyampaikan tekadnya mematuhi petun- juk Batara Wairocana menebus dosanya di Yamaloka melalui jalan samadi meraga-sukma.
b. Panakawan diminta agar merawat mayatnya dan memboyong ke kahyangan dengan pesan agar permaisuri- nya sang Kusumagandawati menunggui sampai kembali- nya dalam 10 hari.

Laku: Purnawijaya melakukan samadi meraga-sukma. Lepasnya sang sukma, segera raganya disambut oleh panakawan, lalu diboyong.

  1. RUWATNYA DOSA BERGANTUNG KEPADA
    TEGUHNYA PANYEMBAH

Di Yamaloka

Laku: Sukma sang Purnawijaya dikerubut oleh bala prajurit Batara Yamadipati, terus diseret dan disiksa dengan kejam, akhir- nya diceburkan ke dalam kawah dengan airnya yang men- didih. Hancur luluh sekujur badan Purnawijaya, tetapi tidak sepatah katapun keluhan keluar dari mulutnya. Sudah bulat tekadnya untuk mematuhi petunjuk dan amanat sang Batara. Setelah 10 hari terjadilah mujijat. Kawah tiba-tiba berubah menjadi sebuah telaga dengan airnya yang sejuk dan bening, dikelilingi sebuah taman-sari yang teramat indahnya. Badan Purnawijaya pulih utuh kembali seperti semula, bahkan kini semakin tampak lebih berseri. Bala Yama tertegun keheranan, tetapi sekejap kemudian dengan sengitnya menghujani Purnawijaya dengan segala macam senjata, tetapi tak satupun yang mempan. Bala Yama melaporkan kejadian tersebut kepada Yamadipati, yang segera datang, disambut oleh Purnawijaya dengan hormat.

Rembuk:

a. Yamadipati menanyakan sebabnya, mengapa cadangan

siksaan dalam kawah yang mestinya 100 tahun lamanya, kini baru 10 hari sudah purna, bahkan kawah berubah menjadi telaga di tengah pertamanan yang indah.

b. Purnawijaya hanya karena mematuhi perintah dan ama- nat Sang Batara Wairocana yang sudah berkenan meng- ampuni dosanya.
c.Yamadipati ikut merasa bersyukur dan mengijinkan Purnawijaya kembali ke kahyangan dengan iringan doa selamat.
Laku: Purnawijaya kembali ke kahyangannya.

  1. LULUS DARI UJIAN TIDAK BERARTI TAMATNYA PANYEMBAH

    Di kahyangan Purnawiajaya

Adegan: Dewi Kusumagandawati, para inang pengasuh dan panaka- wan dengan tekun menunggui mayat Purnawijaya di tempat pembaringannya. Pada hari kesepuluh datang sukma Purnawijaya, segera masuk ke dalam raganya kembali, dan hidup- lah Purnawijaya, bangkit dari pembaringannya disambut dengan sukacita oleh Kusumagandawati dan lain-lainnya.

Rembuk: Sesudah mengabarkan keselamatan masing-masing, Purnawijaya lalu menceritakan pengalamannya di Yamani dari awal sampai akhir. Setelah itu ia memerintahkan agar semua

berkemas-kemas ikut sang Purnawijaya ke Budicipta, meng- hadap dan mengadakan persembahan kepada Batara Wairocana.

Laku: Merekapun berangkat.

  1. SEMAKIN TEBAL HASRAT PANYEMBAH, SEMAKIN BESAR PULA GODA YANG MERINTANGI

    Negara Mayangkarapura

Adegan: Adipati Kunjarakarna dihadap oleh patih Kalayaksa, emban Kalawerdati dan sang Triwarna (Kunjararekta, Kunjarawilis dan Kunjarajenar). Datang menyusul kemudian panakawan Mayangkarapura: Togog dan Sarawita.

Rembuk:

a.Sang Triwarna mengadukan ulah sang Kunjarakarna yang telah berguru kepada Batara Wairocana di Budicipta dan termakan oleh ajaran sang Batara sehingga akhirnya menceburkan diri ke dalam samudera. Semua yang men- dengar tertegun mendengarkan.
b. Tiba-tiba datang Togog dan Sarawita melaporkan telah bertemu dengan Prabu Kunjarakarna, tetapi yang sudah tidak mengenakan busana kerajaan lagi, melainkan hanya bercawat seperti rakyat biasa. Dalam pada itu dikabarkan pula gagalnya tugas yang diemban, karena para bala

yaksa semua telah tumpas oleh seorang satria bernama Purnawijaya yang membantu Prabu Kunjarakarna.

c.Kunjarakala heran dan takjub, tetapi pun berkobar pula amarahnya. Diputuskannya untuk pergi sendiri menemui Kunjarakarna dan memaksanya agar kembali kepada asal dan kedudukannya semula. Triwarna diminta untuk ikut sebagai perintis dan penunjuk jalan, sedang ka- layaksa dan Kalawerdati tinggal di Mayangkarapura menjaga keamanan negara.
Laku: Kunjarakarna dan Triwarna berangkat.

  1. BERHASILNYA ILMU PENGETAHUAN KARENA
    DIAMALKAN

Pertapaan Budicipta

Adegan: Wairocana dihadap oleh Kunjarakarna.

Rembuk:

a. Kunjarakarna dinyatakan lulus dalam semua ilmu tentang

Darma Suci sebagai pedoman kesempurnaan hidup.

b. Tinggal kini ujian pengamalannya yang terakhir sebagai kunci pembuka pintu kepada kesempurnaan tersebut: menghilangkan rintangan terakhir.
c.Rintangan itu akan datang untuk memaksa Kunjarakarna kembali kepada alam kehidupan semula. Rintangan itu tidak lain adalah adik kandung kembaran Kunjarakarna sendiri, sang Kunjarakala.

d. Kalau Kunjarakarna berhasil mematahkan rintangan itu, ia akan diterima untuk mendapatkan anugerah Darma Suci dan ruwat dari segala papanista sipat yaksa.
e.Kunjarakarna berjanji akan mematuhi dan melaksana- kan titah sang Batara, lalu minta pamit.
Laku: Kunjarakarna mencium kaki Wairocana lalu pergi.

  1. KEBERANIAN, KEJAYAAN DAN KEAGUNGAN
    DUNIAWI AKHIRNYA LEBUR JUA OLEH PANYEMBAH

Perang brubuhan

Adegan:

Perjalanan Kunjarakarna dan Triwarna berpapasan dengan Kunjarakarna. Tancapan.

Rembuk: Setelah kabar-mengabar keselamatan masing-masing, per- cakapan menjadi berbantahan tentang kedudukan dan kewajiban raja (oleh Kunjarakala) dan tentang laku darma sebagai kewajiban makhluk hidup (oleh Kunjarakarna). Perbantahan berlarut-larut, sama-sama teguh dalam pen- dirian masing-masing, Kunjarakala memaksakan kehendak- nya memboyong Kunjarakarna kembali ke Mayangkarapura, Kunjarakarna tetap menolak, akhirnya menjadi perang.

Laku: a. Kunjarakarna dikeroyok oleh Triwarna kewalahan. Lalu

mengeluarkan Kunjarakresna yang selama ini menjadi satu dengan Kunjarakarna, dengan demikian telah me-

mahami tekad Kunjarakarna, apalagi setelah ajaran-

ajaran yang diterima dari Wairocana dan Yamadipati. Kunjarakarna minta agar Kunjarakresna membujuk Tri-

warna untuk bersatu kembali merupakan sang Pancawarna (Kunjarakarna, Kunjararekta, Kunjarawilis, Kun- jarajenar dan Kunjarakresna), dengan demikian merupakan kelengkapan pancaindria yang sempurna dalam me- lakukan kesucian darma hidup.

b. Triwarna berhadapan muka dengan Kunjarakresna, saling berbantahan, Kunjarakresna berhasil menyadarkan Triwarna, akhirnya bersama-sama masuk sejiwa-raga dengan Kunjarakarna.
c.Kunjarakarna berhadapan dengan Kunjarakala. Perang. Karena telah bersatunya sang Pancawarna, pulih kembali kesaktian dan kewibawaan Kunjarakarna. Kunjarakala terdesak dan akhirnya dapat dimatikan.
d. Selesai perang, datang Purnawijaya, Kusumagandawati dan pengiring. Kunjarakarna dan Purnawijaya saling ber- pelukan, kemudian bersama-sama menuju pertapaan menghadap sang Wairocana.
13. TURUNNYA ANUGERAH

Pertapaan Budicipta

Adegan:

Batara Wairocana dihadap oleh Kunjarakarna, Purnawijaya,

Kusumagandawati dan lain-lain.

Rembuk: Segalanya sudah paripurna. Kunjarakarna dan Prunawijaya sudah lulus dalam menempuh ujian mencapai kesempurnaan darma hidupnya dan menerima anugerah dari Hyang Widdi Sang Darma Suci.

Laku:

Kunjarakarna teruwat, hilang sipat yaksanya dan beralih rupa menjadi seorang satria rupawan. Semua bersyukur dan dengan khidmat mencium kaki Batara Wairocana, yang di- sambut dengan puji santi: hayu! hayu! hayu!

Tancap kayon

D. PERBENDAHARAAN KATA PEWAYANGAN Naskah Sadu Budi 1 pratama : pertama. kandheh: bagian. Tepatnya: cerita. Sin. kandhah, kandha.
Arti lain: kandheh = kalah. jejer : adegan permulaan pada pekeliran wayang. Adegan-adegan lainnya disebut adegan. tinangkil: dihadap. Kata dasar (kd.) tangkil. Anangkil = menghadap, hanya raja-raja Jawa saja. Sin. sewa, seba, sewaka, siwi. sitiluhur : tempat tinggi orang menghadap raja, balai penghadapan, balairung, pendapa. Sin. sitinggil, siti-inggil, siti-hinggil, siti-bentar. binatarata : berjubin bata (batu merah). Asal: binatarata = di-"bata- rata"-kan, dialasi bata yang diratakan = jubin bata. Kadang-kadang disebut binaturata = jubin batu (batu kali). lar badhak : bulu merak, diatur berupa kipas angin berukuran besar untuk raja-raja, biasanya dipegang oleh seorang atau dua hamba sahaya. mandrawa: jauh, kejauhan. tinon : kelihatan, tampak. Kd. ton = lihat. Tontonan = sesuatu yang dilihat, pertunjukan. lir : seperti. Jawa kuna (Jk) = lwir. angejawantah : menampakkan diri, tampak berujud untuk dewa- dewa). sumiweng: (sumewa ing) = menghadap di. Lihat: tinangkil Rekyana Patih : gelar dan kedudukan pejabat tinggi kerajaan.

Rekyana mungkin berasal dari Jk. rakryan dan Patih = semacam perdana menteri. Senapati ingalaga : panglima perang. Ingalaga = ing alaga = dalam peperangan. Laga = perang. wau ta : Istilah pedalangan yang sering diucapkan oleh dalam semacam: maka, syahdan dalam bahasa Indonesia. Banyak ragamnya, antara lain ya ta wau, lah ing kana ta wau. anggusthi: merembug, membicarakan. Kd. gusthi = bicara. binathara : dianggap seperti bathara, gelar untuk dewa-dewa. sinuhun : dianggap sebagai suhu (guru yang dipatuhi), suatu gelar sebutan bagi raja-raja. Dalam percakapan sehari-hari ber- ubah menjadi sinuwun, yang kadang-kadang diartikan : yang dimintai, artinya dimintai berkah dan restunya. putus saliring kawruh : menguasai segala ilmu pengetahuan. putus = selesai, sempurna. salir, sakalir = semua, segala. kekasih : di sini berarti : bernama. Sin. sesilih, awasta, anama, jejuluk, asma. padukendra : paduka endra = paduka rja. nindya mantri : patih, perdana menteri. wahana : tunggangan. Arti lain: makna. luwaran : bubaran, usai.

2 Dwita : Kedua. Dwi = dua. Prabasuyasa : ruang tinggal besar di dalam keraton. manggung : (-ketanggung) pengiring raja dalam penangkilan. Biasanya dilengkapi dengan pengiring lainnya yang merupakan lambang kebesaran seorang raja: cethi,

parekan, biyada, badhaya, srimpi, masing-masing dengan tugas tertentu. cethi: pelayan perempuan dalam keraton. parekan : para nyai dalam keraton. biayada : pelayan perempuan dalam keraton. badhaya : penari perempuan dalam keraton. srimpi : penari perempuan dalam keraton. wiwara : gapura, pintu gerbang. pasewakan : panangkilan. Asal dari sewaka. tedhak : turun. pepara : berhenti. ayap : iring. Diayap = diiring. magelaran : berada di pagelaran secara bersama-sama oleh banyak orang. Lihat anangkil. timbalan: perintah, amanat raja. nata: raja. Sin.: narpati, narapati, bupati, adipati, prabu, ratu. wukir : gunung. Sin.: ardi, redi, arga, prabata.

3 Trita : ketiga. Tri = tiga. bebisik : bernama. sitibentar: lihat: sitiluhur. tuwanggana : (tuwa anggana) = orang tua yang bertindak sebagai penasehat (sesepuh). dahat : sangat, amat. rudatos : (rudatin); sedih, susah, prihatin. driya : perasaan hati. Sin. wardaya, ati, manah, panggalih, kalbu. neges : (maneges, aneges) : menuntut, meminta, memohon.

neges karsaning dewa = memohon perkenan dewa. madya : tengah. ratri : malam. ruwat : lepas, bebas, hilang. beboleh : nasehat, saran, peringatan untuk mengurungkan sesuatu niat, keinginan atau tindakan. wardaya : perasaan hati. Lihat: driya. anggegana : terbang.

Gegana = udara, angkasa.

siluman : mahluk halus. Anggegana siluman = terbang seperti layaknya mahluk halus. pamancat : kelompok (?) : galak, buas. Rota danawa = raksasa galak. rota danawa : raksasa.

Sin.: ditya, yaksa, diyu, buta.

sardula : harimau. Sin.: arimong, mong, macan. kasaliring sabda : kalah berdebat, kalah berembug. bandayuda : berperang, bertanding.

4 Caturta : keempat. Catur = empat. sinambrama : disambut dengan kehormatan. Asal: sembrama = sambutan kehormatan. pambage (rahayu) : sambutan selamat datang. pandhita salingga bathara : pendeta setaraf dewa. lingga = (sin. awak, sarira) = ujud, identik. bathara : sebutan untuk dewa-dewa. manahan : berjalan. Hawan = jalan.

wulucumbu : pelayan, hamba yang setia. Cumbu berarti juga lucu, kocak. Dalam pewayangan, wulucumbu selain setia pun bersifat lucu, kocak. : raksasa. diyu

5 pancama: kelima.

Panca = lima.

padmasana : tempat duduk, dampar. Biasanya dibentuk berupa padma = daun teratai, lambang kesucian, atau keluhuran. manik : batu-batuan mulia, manikam. Lokapala : Kamus Juynboll : wereldhoeder = penjaga dunia. Tanpa menyebut jumlahnya. NS. menyebut Lokapala

gangsal = lima Lokapala tanpa menyebut nama

masing-masing. Nk. .. "watek lokapala, lwirnya: Indra, Yama, Bharupa, Kowera, Beorawarnna. Tetapi dalam catatan Kern: Kowera = Waicrana (Becrawarn- na?), jadi sebenarnya hanya empat. NK. juga menyebut keempat dewa yang bermukim di empat penjuru angin: timur — Batara Iswara. Utara — Batara Wisnu. Barat — Batara Mahadewa dan selatan — Batara Yamadipati. Karena Yamadipati juga disebut sebagai salah satu dari keempat Lokapala, maka ketiga dewa penghuni tiga penjuru angin lainnya: Batara Iswara, Wisnu dan Mahadewa sendirinya pun merupakan warga Lokapala. Tetapi tidak jelas apakah Iswara, Wisnu dan Mahadewa identik pula dengan Indra, Bharuna dan Kowera (Bacrawarnna). puruhita: berguru. darma : I. kewajiban, kebaikan, pekerjaan mulia.

II. ajaran, hukum. papa : sengsara. yamani : (yomani, yamaloka), nama kahyangan Yamadipati, dewa maut. Yamani juga disebut neraka, tempat me- nyiksa para dosa. muntu : benar-benar berusaha, bersungguh-sungguh. muntu tyas legawa = bersungguh-sungguh dengan hati ikhlas. tyas: (perasaan) hati. legawa : ikhlas, tulus. antaka : maut. jalanidhi: samudera. dlanggung : (dalam agung) = jalan besar, jalan raya. dwarakala : (dwarapala?) dewa penjaga berupa raksasa.

bumipatana : nama suatu tempat di Yamani, tempat siksaan bagi

roh-roh jahat dan berdosa. sinisiyasat : disiksa. Kp. siasat = siksa.

6 Sasthi : keenam. Sad = enam. atma : sukma, roh. buta : nafsu, angkara. Sin. raksasa. watek haruhara : watak angkara, hawa nafsu. dosa kreta : 'perbuatan dosa. Sangat boleh jadi di sini kreta (Jw. K. Krta) (sempurna, sejahtera) dibaurkan dengan kretya (Jw.K. Krtya) = perbuatan. Jw.Baru = karti, pakarti. sadherek darma : saudara seperguruan, secita-cita.

7 saptama : ketujuh. Sapta = tujuh. dumarojog (tanpa larapan) : (datang dengan) sangat tiba-tiba, tidak diduga-duga. miteges : (maneges, aneges) = menuntut, memohon. prapta : datang, tiba. uni : dulu. ya ta wau : sahdan, maka. (Istilah ini terutama diucapkan dalam pedalangan). Istilah-istilah lain yang mempunyai arti sama = wau ta, lah ing kana ta wau.

8 asthama : kedelapan. astha = delapan. pamudharan : pembebasan, pelepasan. widagda : pandai, halus. tirta pandhitamala : semacam air suci. ujwala : sinar, sorot, cahaya. waluya jati : pulih, sempurna kembali. jangga : leher. nyatru batin : memusuhi dalam batin. Anyatru dari kp. satru = musuh. pamesating sukma: pelepasan roh, mematikan diri dengan samadi.

9 nawana : kesembilan. Nawa = sembilan. pada : kaki. nendra : tidur. Sin. guling.

daweg : sedang, lagi. Daweg nendra = sedang (atau lagi) tidur. Sin. saweg. Daweg, dalam percakapan sehari-hari, terutama di dusun, juga berarti suatu ajakan: ayo, mari. mangsah aguling : pergi tidur. muntu jatining pramana : bersamadi, memusatkan semangat pada hati nurani.

gangsal prátingkah : lima cara, lima sistem.

karma : perbuatan. mulya jati : kemulyaan yang sejati. ponang : (pun sang) = sebutan seperti sang (anu), si (itu). dahana : api. patra kandhaga : pohon neraka. kalpataru : pohon sorga. janma : manusia. Sin. jalma, jana, manungsa. pradandosan : (ngoko: Pradandan) = berkemas-kemas. apsara-apsari : bidadara-bidadari.

10 dasama : kesepuluh. Dasa = sepuluh. jinatosan : (ngoko:, jinaten) = diceritakan tentang hal sebenarnya. Kd = jati = benar. muksa : moksa, mati, lepas dari ikatan duniawi. madyapada : bumi. Sin. arcapada. nityamadya : tempat bersemayam Batara Guru. Sang Hyang Jagad Girinata : Salah satu dari sekian banyak nama atau gelar Batara Guru.

prang sampak : (atau) prang brubuh = peperangan yang menentu- kan, perang babak terakhir dalam pekeliran wayang.

VERSI SOETRISNO BA

1 pathet : (— nem, — sanga, — manyura) = dasar nada suara ga- melan. Dalam lakon pedalangan digunakan juga seba- gai pembagian babakan waktu: pathet nem : ± jam 21.00 - 24.00 : ± jam 24.00 - 03.00 pathet sanga pathet manyura : ± jam 03.00 — 06.00 dhampar keprabon: singgasana kerajaan. sumawana : terutama. amepak wadyabala : mempersiap-siagakan balatentara. sikep busananing prang : bersenjata lengkap. gong : gong. bendhe : gong berukuran kecil. beri: gong tanpa pencu di tengahnya.

2 dumugi jangji : mati.

angaras pada : bersujud dengan mencium kaki yang disujudi.

3结 tinindhihan : dipimpin. Kp. tindhih = pimpinan. Tetindhih = pemimpin, biasanya dalam suatu gerakan operasi, semacam komandan. cucuking lampah : perintis jalan. palagań : medan perang. menter : tahan, tidak mempan.

tilar glanggang colong playu : melarikan diri dari medan perang, di- sertasi.

4 arcapada : bumi. Sin. marcapada, madyapada. baka satunggal : satu demi satu. kasulangaken : diterangkan, diajarkan. duskarti : perbuatan jahat, orang jahat. karang widadaren : tempat bermukim para bidadari. winiwaha : dikawinkan. Wiwaha = kawin.

6 jawata : dewa, dewata. sabaya pejah : sehidup semati. parimarma : pengampunan.

7 wayah : cucu. buyut : cicit. Kadang-kadang untuk cicit disebut pula wayah buyut, untuk membedakan dengan mbah buyut atau eyang buyut yang berarti : nenek dari bapa atau ibu. parepat panakawan : hamba sahaya. nyarawedi: bertanya. Nyarawedekaken = menanyakan. murca. : pergi tak tentu rimbanya. pepoyan : berkabar. warana : tabir, tirai. pepacuh : larangan.

8 sentana : keluarga raja, — bangsawan. tetebengan : berbincang-bincang. ngantu-antu : menanti dengan tak sabar.

9 wanawasa : hutan belantara. lumuh ngawon, melik epeh : tak mau mengalah, ingin menang sendiri. lumuh : enggan, malas. ngawon : bentuk krama dari ngalah. Kp. kalah. melik : ingin, menginginkan. epeh : egoistik, mengutamakan kepentingan sendiri.

10 guwa garba : rahim. sedhakep saluku tunggal : sikap samadi dengan tangan ber- sidekap, kaki rapat membujur. awiyat : angkasa. Sin. gegana. manabda : bersabda. pracihna : pertanda, bukti. wiyatadi : (wiyata adi) ajaran luhur. mahanani : menyebabkan. Kp. wahana = sebab, makna. Arti lain wahana = tunggangan, kendaraan. badhar : pulih kepada aslinya. oneng-onengan : saling melepas rindu.

11 betek : karena, oleh sebab. ngupadi : mencari. Kp. upadi. Sin. upaya, golek. pakuwon : perkemahan. tinut: dianut. Kp. tut = anut. pinrepekan : didekati. Kp. prepek. kekapangan : (saling) melepas rindu. Kapang = rindu. cakra: sebuah senjata berbentuk cakram, senjata Wisnu. baswara : cahaya. sudarsana : teladan. kasujanan : kecurigaan. Kp. sujana = curiga. Arti lain sujana = manusia utama, dari su (utama, baik) dan jana = manusia. kunarpa : jisim, jenasah, mayat. Sin. layon, dari layu = mati. anjampangi : menjaga, melindungi dari kejauhan.

12 nyalawadi: 'berahasia, misterius. sih-sinihan : cinta-menyinta. anglangganti : menuruti keinginan orang lain. kadenangan : kedapatan, tertangkap basah. Sin. konangan.

13 angambil : membawa, memegang. Juga berarti meminjam. Ampilan = sesuatu yang dibawa, dipegang atau dipinjam. duratmaka : orang jahat, pencuri. Asal kata: dur (jahat) dan atmaka (atma, sukma, roh). Istilah dengan kata depan dur kebanyakan mengandung arti jahat: misal durangkara (nafsu jahat), durjana (manusia jahat), durmanggala (alamat tidak baik). taha-taha : bimbang, ragu-ragu. Biasanya taha-taha digunakan dalam bentuk negatif : tan (ora) taha-taha = tidak ragu-ragu, sedang bentuk positifnya selalu digunakan: wangwang, snggaraunggi, gojag-gajeg. baluwarti : pagar tembok tinggi yang mengeliling istana. rinabasa : diserbu. Kp. rabasa = serbu. Pangrabasa = serbuan.

VERSI SOENARTO TIMOER

1 prabea : biaya, pajak, taruhan, risiko. budi basuki : budi yang mementingkan keselamatan umum. sogata : (-paksa) = pendeta penganut Buda. angger : hukum. asura: bangsa raksasa. Lawannya: sura = bangsa dewa. bangga : melawan, tidak mau menurut. rodha paripeksa : paksaan dengan kekerasan, perkosaan. 0 dedamel : senjata. matah : menyuruh, memerintahkan. Patah = suruhan, orang yang disuruh. mirunggan : khusus, istimewa. bodholan : berangkat. Secara harfiah berarti dibedhol, dijebol (di- angkat, dilepas) dari gedebog (batang pohon pisang) tempat menancapkan boneka wayang, karena itu bodholan sering juga disebut jebolan. Lawan bodholan = tancepan (tancap). Karena bodholan maupun tancepan merupakan istilah pedalangan yang mempunyai arti khas, maka istilah-istilah tersebutpun digunakan pula pada pertunjukan wayang orang: bodholan = meninggalkan pentas, tancepan = berdiri di atas pentas, sendirinya dengan gaya sikap wayang.

2 ruwat : lepas, bebas. teleng : tengah, pusat.

3 pambengan : halangan, aral. prang gagal : pembagian babakan dalam lakon pedalangan (lihat daftar ikhtisar kerangka lakon). Dalam babakan ini belum (tidak boleh) ada yang mati dalam perang, hanya berakhir dengan "nyimpang dalan"(salah satu pihak yang ber- perang, karena terdesak, menyingkir mening- galkan medan.

angga : badan, tubuh.
Triwarna = tiga rupa.
rekta : merah. Kunjararekta = Kunjarakarna yang dilukiskan dengan warna merah polos.
wilis : hijau.

caturwarna : empat rupa.

jenar : kuning. kresna : hitam. piandel : kepercayaan, keyakinan. kadugi: mampu. cumondhok : bermukim, berada. mantheng : bersikeras, bersungguh-sungguh. pangesthi : usaha, ikhtiar, pencarian. manekung : samadi. sanjata pitulungan : pertolongan sebagai senjata (dalam arti harfiah maupun kiasan).

talompe : lengah. Tan talompe = tidak lengah, awas, waspada. kacuwan: kecewa.

pakarti : perbuatan.

bawa-raos: (ngoko: bawa-rasa) sarasehan, tukar pikiran

tentang hal ilmu kebatinan.

tinarbuka : terbuka hati, menjadi sadar.

pangrancana : godaan, gangguan.

prang sekar : (ng.: prang kembang), pembagian babakan

dalam lakon pedalangan. (Lihat daftar ikhtisar kerangka lakon). Waktunya tengah malam, dalam pathet sanga, perang antara satria dan raksasa. Adegan ini melambangkan mulai ber- kembangnya sifat kedewasaan manusia, diba- rengi dengan masa pancaroba (gara-gara) masa pertarungan antara sifat-sifat kepentingan pri- badi dan kepentingan umum, antara nafsu

angkara dan darma, antara baik dan jahat,

dengan dikalahkannya yang jahat. Satria lambang kebaikan, raksasa lambang kejahatan.

tancep(an) : lihat: bodholan, VStm. I.

minta sraya : minta bantuan.

pepunthoning manah : keputusan hati, kesimpulan hati.

kalis : luput, bebas, tidak terkena. pepancen : takaran, catu, target. purna : selesai. tinundhung : disuruh pergi. Kp. tundhung. ngraga sukma : melepas sukma dari raga melalui samadi. ngrukti : merawat. layon : mayat.

Kp. layu.

Sin. kunarpa.

8 balayama : prajurit Batara Yamadipati.

9 tungkul : asyik. mangastuti : menembah.

10 : besar. gora krodha : tindakan, ulah yang disertai dengan amarah atau kekerasan. bendu : marah, garang, gusar. makantar-kantar : berkobar-kobar.

11 pandadaran : ujian. ambradhat : mengambil atau membawa-dengan kekerasan, degan kekerasan, dengan paksa. papa nistha : hina dina.

sumanggem : menyanggupi. Kp. sanggem = sanggup. Sasanggeman = kesanggupan.

12 : di sini berarti sifat keberanian, berasal dari sura Jk. cura = pahlawan, berani. dira : sakti. : jaya, kemenangan, kemuliaan. jaya : dunia, duniawi. rat Sura dira jayaning rat lebur dening pangastuti = keberanian, kesaktian dan kejayaan duniawi pasti akan lebur karena panembah (kepada Tuhan). wangkot : membandel, teguh hati, teguh pendirian. mopo : menolak, tidak sudi. kapupuh : mati dalam perang, gugur.

13 paripurna: selesai dengan sempurna, dengan selamat. Widdhi : Illahi, Tuhan Yang Mahaesa. subagya : kebahagiaan. pudyastuti :(puja astuti): panembah. rahayu, hayu : selamat. nir ing sambekala : luput dari alangan, tiada aral.

DAFTAR NAMA TIM PENYUSUN DAN PENYUNTING

TIM PENYUSUN (DAERAH) Koordinator : Sun art o Sekertaris: 1.Sundoyo

  1. Sugimin Gitoasmoro
  2. Sumiyarno
    Penulis: : 1. Issatriadi

  3. Soenarto Timoer
    TIM PENYUNTING (PUSAT)

  4. Bobin Ab

  5. Atjep Djamaludin
  6. Soetrisno Koetojo

003418.2 A2.2