Baca PDF (OCR): Surek asellengeng kuwae menrekna nabitta ri langie

152 halaman · 152 halaman diproses dengan OCR· 203207 ms

Daftar isi
  1. SUREK ASELLENGENG KUWAE
  2. MENREKNA NABITTA RI LANGIE
  3. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  4. SUREK ASELLENGENG KUWAE MENREKNA NABITTA RI LANGIE
  5. PEN GANT AR
  6. Direktur Jenderal Kebudayaan
  7. ............................... · · · ·.
  8. PENDAHULUAN
  9. ... (Linton, 1984. 216 ), di samping jaringan nilai-nilai yang
  10. 1.5 Metode Pengkajian
  11. 1.6 Pertanggungjawaban Penulisan 1.6.1 Tatacara Penganalisaan
  12. Tugas
  13. Tugas
  14. BAB II ALIH AK.SARA
  15. 001. SALAMAK PENNESSAENG NGI KITI AK PO ADA
  16. ADAENG NGI MENREK NA NABITTA RI LANGI E/
  17. I Masero kussing nama-
  18. I Makkede i/ Subehanal
  19. I Mita si oroane maega ripakkasi yasi/
  20. Ummak mu/
  21. 001. SALAM
  22. I Bergandengan
  23. I Serta pula
  24. I Dilihatnya pulalah bintang-bintang/
  25. I Kenapa engkau tidak sudi meninggalkan surga/
  26. I Juru sisir
  27. I Siapa gerangan yang me-
  28. I Lalu masuklah
  29. I Bawakanlah kepada
  30. I Oleh Nabi kita I Berkata I Sekiranya tuak
  31. Nluhammad menemukan bukti kekafiran Firaun
  32. 4.1.l.5 Nabi Muhammad pergi ke Darussalam
  33. ajaib dari surga yang disebut Buraq, tetapi menggunakan produk
  34. ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang terwujud sebagai
  35. Mengenai suara-suara yang didengarkan oleh Nabi Muhammad sepanjang perjalanan dari Baitul Maqdis ke Darussalam
  36. Setelah Kembali Ke Bumi
  37. 4.2 Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Naskah Lontarak
  38. kutan" (1981. 14).
  39. ... "(1978. 93 -94).
  40. 4.2.1 Lempu e (kejujuran)
  41. Artinya :
  42. Menurut pandangan orang Bugis kepatuhan seorang wa-
  43. 4.2.10 Masero teppek (kekuatan iman)
  44. KESIMPULAN DAN SARAN
  45. -------, Latoa. Satu lUkisan analitis terhadap Antropologi

SUREK ASELLENGENG KUWAE

MENREKNA NABITTA RI LANGIE

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SUREK ASELLENGENG KUWAE MENREKNA NABITTA RI LANGIE

Pengkaji : Drs. H. A. Yunus Drs. Pananrangi Hamid Dra. Tatiek Kartikasari Dra. Fansiah

Penyempurna : Dra. Margariche Pananangan

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NUSANTARA

PEN GANT AR

Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah yang berasal dari Daerah Sulawesi Selatan yang berjudul Surek Asellengerig Kuwae Menrekna Nabitta Ri Langie isinya tentang Kisah Perjalanan Nabi Muhammad dari bumi ke langit dalam peristiwa Isra' Mi'raj.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai kejujuran, kerelaan menerima maksud baik orang lain, kebaikan hati, tahu mensyukuri nikmat Tuhan, ketaatan kepada orang tua, memelihara rahasia keluarga dan lain-lain yang dapat me- nunjang pembangunan, baik fisik maupun spirituil.

Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. O!eh karena itu semua saran untuk perbaikan yang disampaikan aka!1 kami te- rima dengan senang hati. Harapan kami, semoga buku ini dapat memberi sumbangan yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.

iii

c;4~.r/f

Sri Mintosih NIP. 130 358 048

iv

AN DIREKTUR JENDERAL KEBUDA Y AAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN

Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain ke budayaan daerahnya sendiri baik lewa t karya-karya sastra tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain merupakan sikap terpuji dalam rangka perwujudan integrasi nasional. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas cakrawala pandangan- nya. Untuk membantu mempermudah pembinaan saling penger- tian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, baik dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah nusantara, maupun dengan usaha-usaha lain yang bersifat memperkenalkan kebudayaan daerah pada umumnya. Salah satu usaha itu adalah Bagian Proyek Peneliti- an dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha terse but, saya dengan senang hati menyambut terbitnya btiku yang berjudul Surek Asellengngeng Kuwae Menrelma Nabitta Ri Langie. Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini. Maka peng- galian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat ditingkatkan

v

Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara ini baru merupakan langkah awal. Kiranya ke- lemahan dan kekurangannya yang masih terdapat dalam penerbitan ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang.

Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.

Direktur Jenderal Kebudayaan

~/)

Prof. Dr. Edi Sedyawati NIP. 130 202 902

vi

ISi Halaman

KATA PENGANTAR .............................. iii
..

SAMBUTAN DIREKTURJENDERALKEBUDAYAAN. v
DAFTAR ISi vii
Bab I Pendahuluan.............................. 1.1 Latar Belakang......................... 1.2 Masalah 1.3 Maksud dan Tujuan..................... 1.4 Ruang Lingkup......................... I. 5 Metode Pengkajian...................... 1.6 Pertanggungja waban Penulisan............. .............................. 1 1 7 8 1 O 1 O
Bab 2 Alih Aksara .............................. 15
Bab 3 Alih Bahasa .............................. 50
Bab 4 Pengungkapan Nilai Tradisional Dari Isi Naskah.. 4.1 Gambaran Umum Isi Naskah Lontarak....... 4.2 Nilai yang Terkandung Dalam Naskah 94 94 115

............................... · · · ·.

5

....... vii

Saran...................... 140

6.1 Kesimpulan ........................... 140
6.2 Saran ............. ........ ........... 141
Daftar Pustaka.................................. 142

viii

PENDAHULUAN

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk, terdiri a tas ber bagai suku bangsa yang terse bar di sel uruh gugus- an kepulauan nusantara. Tiap suku bangsa mempunyai latar belakang budaya yang unik dan spesifik. Keunikan dan spesifik. Keunikan dan spesifikasi kebudayaan yang didukung oleh masyarakat dalam suatu suku bangsa, pada dasarnya diwarnai oleh situasi dan kondisi lingkungan, baik lingkungan alam mau- pun lingkungan sosial di mana kebudayaan itu tumbuh dan mendapatkan dukungan. Tiap kebudayaan secara konsepsional, adalah " ... terdiri dari jumlah keseluruhan daripada ide-ide, tanggapan-tanggapan emosional yang berhasrat, dan pola-pola habitual behavior"

... (Linton, 1984. 216 ), di samping jaringan nilai-nilai yang

merupakan suatu sistem budaya. Nilai-nilai budaya itu sendiri merupakan konsep abstrak mengenai keseluruhan masalah dasar yang dipandang amat penting dan sangat bernilai dalam kehidupan masyarakat.

"behavior" yang ditimbulkannya. Dalam konteks penelitian ini istilah "behavior" digunakan dalam arti yang tidak hanya mencakup "gerak biasa, melainkan juga produk-produk yang dihasilkan dari serangkaian tindakan tertentu dan dari penge- jawantahan kebudayaan dengan melalui pengucapan kata (speech) ... " (Linton, 1984 : 217).

Sejak lama masyarakat Bugis di daerah Sulawesi Selatan ge- mar mencatat perangkat nilai-nilai budaya yang dicita-citakan dan pernah dijadikan pedoman hidup, baik dalam kegiatan ber- masyarakat maupun kegiatan ekonomi, politik, dan keagama- an. Catatan seperti itu adalah jenis naskah kuno yang disebut lontarak atau surek.

Naskah kuno lontarak atau surek secara fisik material adalah tulisan tangan yang tertera di atas lembaran daun-daun lon- tar atau kertas. Pada umumnya catatan lontarak tersebut adalah tertulis dalam bahasa daerah Bugis dengan menggunakan aksara Bugis. Setelah masuknya Islam di daerah Sulawesi Selatan sekitar tahun 1600-an, banyak naskah lontarak yang tertulis dengan menggunakan aksara Arab, namun tetap dalam bahasa daerah Bugis.

Berdasarkan kandungan isinya, maka naskah kuno lontarak merupakan salah satu jenis arsip kebudayaan yang merekam berbagai data, informasi berkenaan dengan aspek kesejarahan dan nilai tradisional daerah Sulawesi Selatan. Sejalan dengan itu, naskah lontarak adalah tennasuk sumber kesejarahan dan nilai tradisional yang sangat potensial bagi usaha penjaringan bahan rekonstruksi, untuk memahami situasi dan kondisi yang ada pada masa kini dengan meninjau akar peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Selain itu catatan lontarak juga ter- masuk sumber infonnasi sosial budaya.

Surek Poada-adaengngi Menrek na Nabitta ri Langi e (Naskah yang membi- carakan kenaikan Nabi Muhammad di langit).

Naskah lontarak tersebut memuat catatan tentang kisah perjalanan nabi Muhammad dari mesjid Aqsa, selanjutnya pe- ngembaraan beliau menuju ke petala langit untuk bertemu dengan Tuhannya, yaitu Allahu Taala. Kendatipun demikian naskah tersebut bukan hanya semata-mata diwamai oleh cerita keagamaan. melainkan di dalamnya terkandung pula penge- tahuan budaya dan nilai-nilai luhur menurut pandangan masya- rakat Bugis. Demikianlah maka usaha pembinaan dan pengem- bangan kebudayaan nasional tidak dapat dilepaskan dari upaya penggalian naskah lontarak, termasuk surek poada adaengngi menrek na Nabitta ri langi e, sebagai sumber informasi kebudayaan daerah.

Kebudayaan daerah termasuk kebudayaan Bugis itu sendiri merupakan sumber potensial bagi terwujudnya kebudayaan nasional yang memberikan corak dan karakteristik kepribadian bangsa. Pendekatan ini sesuai dengan ketentuan yang tertuang di dalam penjelasan pasal 32 UUD 1945, bahwa "Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncap-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa".

Upaya menggali kebudayaan daerah memerlukan data serta informasi selengkap dan sebaik mungkin, sehingga keaneka- ragaman kebudayaan masing-masing daerah dapat dipadu untuk mewujudkan satu kesatuan budaya nasional. Unsur-unsur budaya daerah itulah yang memberikan corak "monopluralistik" kebudayaan nasional Indonesia yang beranekaragam, namun hakekatnya tetap satu "Bhinneka Tunggal Ika".

ilmu· pengetahuan dan tekno- logi modern yang berasal dari produk ke budayaan asing terasa makin pesat dan intensif, sehingga cenderung mempercepat proses penyisihan naskah-naskah lontarak. Sementara itu makin lama makin banyak jumlah naskah yang mengalami kehancuran, baik karena lapuk oleh peredaran masa maupun karena di ma- kan rayap di samping adanya kerusakan yang timbul akibat gangguan berbagai jenis serangga pemakan kertas. Semua itu merupakan ancaman yang secara berangsur-angsur akan memus~

Umum

Lontarak adalah termasuk naskah kuno yang tidak ha- nya menyediakan data clan informasi tentang kehidupan sosial budaya masyarakat Bugis, tetapi juga memiliki potensialitas, un- tuk pendewasaan mental yang dapat menjadi penangkal ter- hadap ekses-ekses yang ditimbulkan oleh penerapan ilmu pe- ngetahuan dan teknologi modern yang terserap dari produk kebudayaan asing.

Potensialitas naskah kuno tersebut secara langsung menem- patkan lontarak pada posisi penting, baik sebagai sumber data dan informasi sosial budaya yang dapat dijadikan kerangka acu- an bagi proses pengambilan keputusan maupun sebagai obyek pembangunan, dalam arti sasaran yang harus dikaji dan diles- tarikan keberadaannya. Namun sampai sekarang Bagian Proyek Penelitian dan pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan menghadapi masalah umum, yaitu terbatasnya data dan informasi yang dimiliki terutama yang bertalian dengan naskah kuno, khususnya lontarak Menrek na Nabitta ri Langi e.

1.2 .2 Masalah Khusus yang akan dibahas antara lain :
a). Naskah lontarak, khusus menyangkut surek pannessa-
engngi menrek na Nabitta ri langi e, termasuk jenis naskah kuno

Sampai sekarang banyak warga masyarakat yang me- nyimpan naskah lontarak sebagai koleksi benda kuno, sekaligus menjadi suatu kebanggaan keluarga, tanpa berusaha memahami kandungan isi lontarak masing-masing. lni berarti bahwa sebagian dari anggota masyarakat turut mempercepat proses pengikisan sumber-sumber data dan informasi sosial budaya, baik secara sadar maupun tidak.

c). Tradisi tulis-menulis lontarak saat ini tidak dilanjutkan
lagi oleh masyarakat Bugis, sementara di lain pihak jumlah warga masyarakat setempat yang dapat mengungkapkan isi lontarak makin berkurang. Akibatnya kekayaan nilai-nilai budaya tradisional banyak yang tinggal terpendam dalam catatan-catatan lontarak.

d) Dalam era pembangunan di mana masyarakat makin
sibuk melakukan proses adaptasi maupun pengambil alihan un- sur ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang bersumber dari produk budaya asing, naskah-naskah lontarak cenderung makin tersisih. Sementara itu minat dan perhatian sebagian besar generasi muda lebih tertarik kepada keanekaragaman bahan bacaan, seperti novel, komik, majalah, cerita silat dan lain sebagainya. Akibatnya mereka merasa makin asing terhadap karya tradisional yang disebut lontarak. Masalah-masalah tersebut cenderung makin mempercepat proses pengikisan nilai-nilai luhur bangsa, sehingga perlu ditang- gulangi sedini mungkin, antara lain melalui penelitian, pengkaji- an dan penyebar luasan kandungan isi naskah kuno lontarak kepada masyarakat luas.

Umum

Secara umum maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk mengupayakan tersed!anya sebuah naskah laporan hasil penelitian dan pengkajian naskah kuno lontarak yang bermanfaat sebagai sumber informasi budaya kepada masyarakat luas. Selain itu hasil penelitian· dan pengkajian ini dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dalam rangka pengambilan keputusan, maupun penentuan kebijakan pembangunan bidang kebudayaan, khususnya di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

. 3 .2 Tujuan khusus dari penelitian ini yaitu :
a) Secara knusus penelitian dan pengkajian ini bertujuan
untuk melestarikan nilai-nilai budaya luhur orang Bugis khususnya yang tersimpan dalam arsip kebudayaan daerah berupa naskah kuno lontarak poadaadaengngi menrek na Nabitta ri langi e, sebelum punah sama sekali.

b) Mendorong timbulnya kesadaran anggota masyarakat,
terutama bagi mereka yang memiliki dan menyimpan naskah kuno lontaraK, untuk menggali kekayaan nilai-nilai budaya lo- kal yang terpendam dalam lontarak, warisan leluhur masing- masing.

c) Tersedianya naskah hasil alih aksara, alih bahasa, serta pengk;ajian perangkat nilai-nilai budaya yang tersimpan
sebagai warisan rohani dalam lontarak, diharapkan dapat lebih memudahkan bagi generasi muda untuk memahami kandungan isi lontarak dimaksud.

d) Akhirnya penelitian dan pengkajian ini dimaksudkan sebagai usaha untuk menimbulkan kembali minat dan
perhatian warga masyarakat maupun generasi muda terhadap naskah lontarak. Dalam hal ini diharapkan timbulnya minat anggota masyarakat untuk menghayati sekaligus menerapkan

Pada zaman pemerintahan tradisional, ketiga kabupaten tersebut merupakan tiga kerajaan yang tergabung dalam satu persekutuan antara kerajaan yang disebut tellum- pocco e, attinya tiga puncak.

Pemilihan dan penetapan ketiga kabupaten tersebut menjadi lokasi penelitian dilatarbelakangi oleh beberapa alasan, yaitu:

a) Ketiga wilayah tersebut merupakan bekas kerajaan lokal yang cukup berpengaruh di zaman lampau.
b) Masyarakat dalam ketiga kabupaten bersangkutan mayo- ritas beragama Islam. Mereka pun masih tetap melaku-
kan berbagai upacara tradisional, termasuk upacara Isra ' Mi 'raj.

c) Dalam ketiga kabupaten ters~but masih terdapat beberapa orang tua-tua yang menguasai bacaan aksara
Bugis dan Arab, demikian pula mereka memiliki pemahaman cukup luas, mengenai arti dan makna ungkapan yang tertuang_ dalam naskah lontarak.

Latar belakang pemikiran terse but menjadi dasar penetapan bekas wilayah Tellumpoccoe sebagai lokasi penyelenggaraan penelitian, dengan harapan penelitian bersangkutan akan ber- jalan lancar, tanpa adanya hambatan yang berarti.

Poada adaengngi Menrek na Nabitta Ri Langi e. Latar belakang pemilihan naskah tersebut sebagai obyek pem- bahasan didasarkan pada beberapa alasan sebagai berikut:

a) Naskah kuno Surek Pannessaengngi Menrekna Nabit- tari Langi e belum pemah digarap secara tuntas.
b) Tulisan dan aksara yang tercatat dalam naskah kuno tersebut masih lengkap dari awal sampai akhir. Selain itu,
tulisannya masihjelas sehingga dapat dibaca dan dialihaksarakan ke dalam aksara Latin.

c) Bahasa yang digunakannya termasuk bahasa yang seder- hana, sehingga memungkinkan dilakukannya alih bahasa
dari bahasa daerah Bugis ke dalam bahasa Indonesia.

d) Naskah lontarak tersebut memuat kisah pengembaraan nabi Muhammad, baik di atas bumi maupun di alam
gaib, dilengkapi dengan berbagai contoh-contoh kehidupan umat manusia di akhirat, baik dalam surga maupun neraka. Hal itu mengungkapkan nilai-nilai utama yang harus dijadikan pedoman hid up, di samping adanya nilai-nilai yang menyim- pang, sehingga perlu mendapat ganjaran dari Tuhan. Sesuai dengan kandungan isi lontarak tersebut maka jaring- an sistem nilai-nilai budaya orang Bugis dapat diungkap secara terinci, mana nilai yang dianggap baik dan mana-mana nilai yang dianggap tidak baik Semua itu sangat potensial, bahkan juga sangat efektif bagi usaha pembinaan dan pengembangan nilai-nilai luhur yang merupakan kerangka acuan masyarakat Bugis dalam pergaulan hidupnya. Lepas dari potensialitas serta efisiensi dan efektifitasnya dalam pembinaan kebudayaan daerah maka kandungan isi lontarak tersebut sangat relevan dengan metode pengkajian " content analysis".

1.5 Metode Pengkajian

Dalam penelitian dan pengkajian ini digunakan metode pendekatan analisis isi (content analysis). Melalui penetapan metode analisis tersebut, maka lontarak nippi yang menjadi sasaran pengkajian dianalisis secara tuntas, guna mengungkapkan se- luruh jaringan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. .Ualam upaya memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan lebih luas tentang lontarak nippi bersama nilai-nilai sosial budaya yang dikandungnya, maka hasil kajian atau analisis isi (content analysis) tersebut dibandingkan dengan hasil-hasil kajian penelitian lain menurut data dan informasi yang berhasil di- jaring melalui studi kepustakaan. Operasionalisasi met ode analisis isi bersama teknik-teknik pengkajian yang diterapkan dalam penelitian ini akan diuraikan secara lebih terinci pada sub bab lain dalam laporan ini.

1.6 Pertanggungjawaban Penulisan 1.6.1 Tatacara Penganalisaan

Sebagaimana telah disinggung di muka, bahwa penelitian dan pengkajian naskah kuno terhadap lontarak nippi ini dise- lenggarakan atas dasar pendekatan yang menggunakan metode analisis isi (content analysis). Dalam hubungan itu, lontarak bersangkutan diolah secara sistematis melalui beberapa tahap kegiatan sebagai berikut:

a) Inventarisasi Naskah Inventarisasi naskah merupakan kegiatan tahap awal,
di mana dilakukan pencatatan judul-judul naskah dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Kegiatan ini dilakukan melalui survei pendahuluan dengan sasaran difokuskan pada wilayah penyebaran permukiman suku bangsa Bugis yang meliputi daerah Bone, Wajo, dan Soppeng. Dari hasil survai pendahuluan tersebut telah diinventarisasir sebanyak 15 naskah lontarak, yang keseluruhannya tertulis dalam bahasa daerah Bugis, kendati beberapa di antaranya

Surek Menrek na Nabitta ri langi e sebagai sasaran pengkajian dalam penelitian ini. Proses penyeleksian naskah itu sendiri dilakukan dengan memperhatikan beberapa kriteria tertentu. Pertama naskah tersebut belum pernah diteliti secara tuntas. Kedua naskah itu mengandung nilai-nilai sosial budaya yang cukup potensial bagi pembinaan kebudayaan, di samping pen- ting disebarluaskan sebagai sumber informasi, terutama bagi masyarakat umum. Ketiga naskah tersebut berusia lebih dari 50 tahun. Kriteria keempat ialah lontarak Nippi itu masih leng- kap dan tulisannyapun masih jelas, kendati sudah diproses melalui foto kopi dan penyalinan.

c) Alih Ak sara Setelah menetapkan lontarak Nippi sebagai sasaran peneliti-
an dan pengkajian, maka naskah lontarak tersebut. kemudian diproses dalam tahap alih aksara. Dalam hal ini dilakukan cara-cara tertentu sebagai berikut : Cara pelaksanaan alih aksara, ialah beruntut mulai dari awal sampai selesai. Melalui cara tersebut maka kandungan isi lontarak Nippi ditransliterasi, mulai dari baris pertama sampai ke baris terakhir dan dilakukan secara runtut. Penomoran hasil alih aksara, adalah berupa nomor-nomor petunjuk yang dibubuhkan untuk menunjukkan dua hal. Pertama nomor urut yang menunjukkan halaman naskah asli yang dialihaksarakan mulai dari nomor (Arab) l sampai selesai. Kedua penomoran yang dibubuhkan secara berurut untuk menunjukkan kalimat-kalimat yang dialihaksarakan. Nomor-nomor petunjuk khusus untuk urutan kalimat tersebut dirnulai dari Nomor 00 I sampai selesai. Melalui cara terse but, maka pada

1.001. Passaleng pannessaengngi, berarti
bahwa kata atau alih aksara "passaleng pannessaengngi" adalah kalimat pertama yang tercantum pada halaman 1 dari lontarak yang dikaji.

Garis datar di atas huruf "e ", contohnya e. Tanda tersebut adalah simbol bunyi "e" seperti dalam kata: s(e)r(e)t l(e)d(e)k; b(e)b(e)k. Berdasarkan dengan tanda baca tersebut pula maka dapat dibedakan dari simbol bunyi "e" seperti tertera pada kata: s(e)mir; m(e)l(e)dak b(e)l(e)nggu. Tanda baca (e) sepadan dengan simbol bunyi ( ( ""="" ) dalam aksara Bu~is, sedangkan simbol bunyi (e) sepadan dengan simbol bunyi ( """=' ).

Garis datar di antara dua suku kata atau lebih adalah tanda baca yang berfungsi sebagai pemisah antara kata dasar dan imbuhan (awalan, sisipan dan akhiran), misalnya pada kata : ma-lebbi-reng-ngi. Kata tersebut terdiri atas kata dasar lebbi (baik bagus; mulia), sedangkan kata ma; reng, ngi adalah imbuhan berupa awalan dan akhiran.

Garis miring (!), adalah tanda baca pengganti titik bersusun tiga ( • ·, ) yang terdapat atau digunakan dalam lontarak-lontarak Bugis pada umumnya. Penggunaan garis miring tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk menjaga kekhasan alih aksara sebagaimana keadaan pada naskah aslinya.

d) Terjemahan Tahap kegiatan selanjutnya, setelah selesai tahap alih bahasa
ialah melakukan kegiatan penerjemahan, yaitu mengalihbasaha- kan isi lontarak dari bahasa daerah Bugis ke dalam bahasa Indo- nesia. Tata cara penerjemahan tersebut adalah sebagai berikut:

Proses penerjemahan, dilakukan secara runtut, berdasarkan urutan nomor sebagaimana tercantum dalam hasil trans- literasi atau alih aksara. Demikianlah, hasil penerjemahan di dalam laporan ini tetap dapat disesuaikan dengan bagian isi dari lontarak nippi yang menjadi sasaran bahasan.

Pertama, pe- nerjemahan dilakukan secara kata demi kata. Kedua, bagian isi lontarak yang tidak dapat diterjemahkan secara tepat, diterjemahkan secara bebas, baik secara kata demi kata maupun per kalimat. Istilah bahasa daerah Bugis, yang tidak ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia ditanggulangi dengan cara menuliskan istilah asli sesuai isi lontarak, kemudian diberi- kan penjelasan yang dituliskan di antara dua tanda kurung.

Istilah daerah, nama tempat, nama tokoh dan peristiwa, Dicantumkan sesuai isi lontarak, sedangkan penjelasannya dituliskan pada catatan kaki. Tiap istilah yang akan diberi- kan penjelasan diberi tanda berupa nomor secara berurutan.

1.6.2 Anggota Tim Penulis dan Tugas Masing-masing. Penanggungjawab Tu gas Ketua pelaksana/ : merangkap anggota Tugas
Ors. H. Ahmad Yunus Mempertanggungjawabkan secara umum seluruh proses penelitian dan pengkajian naskah lontarak. Pananrangi Hamid

Merencanakan, mempersiapkan, dan melakukan kegiatan penelitian dan pengkajian naskah dengan kegiatan terdiri atas: melakukan survai pendahulu- an dan pencatatan naskah lontarak di daerah Sulawesi Sela tan; memilih dan. menetapkan naskah lontarak yang akan dikaji dan diungkapkan; melakukan alih aksara me- ngenai isi lontarak nippi;

  • melakukan penerjemahan atas isi lontarak nippi; 一 mengkaji dan menganalisa segenap isi lontarak nippi; menyusun/menulis naskah laporan penelitian dan pengkajian lontarak tersebut.
    Sekretaris merang- : Dra. Tatiek Kartikasari kap anggota -Melakukan urusan adminis-

Tugas

trasi penelitian; Menyempurnakan isi laporan; Menggandakan laporan penelitian dan menyerahkannya kepihak pemimpin proyek Penelitian dan Pengkajian Ke- budayaan Nusantara. Anggota: Dra. Fausiah Melakukan alih aksara naskah

Tugas

dari aksara Bugis ke aksara Latin; Melakukan alih bahasa naskah lontarak dari bahasa dae- rah Bugis ke dalam bahasa Indonesia. 一Melakukan urusan pengetik- an, di samping penjilidan naskah konsep laporan.

BAB II ALIH AK.SARA

001. SALAMAK PENNESSAENG NGI KITI AK PO ADA

ADAENG NGI MENREK NA NABITTA RI LANGI E/

  1. Makkeda i Nabitta Sallallahu Alaihi Wasallang/ Matinro ak ri wenninna Juma e natanga benni/ Naiya ri pallawa- ngenna wak matinro e pesedding nge/ Dek na manuk moni / Dek tona asu mabbokka/ Natakkappo Je Ajiberaele tulekkeng ngi linro ku /
  2. Nakkeda na Ajiberaele / E Muhamma/ Kutakkini na/ Ku- onro na alingangang/ Kuinappa na pamellang ngi matakku/
  3. Kuita ni tajang nge mattappa suloi wi langi e/ Enreng nge tana e/ Kuwakkeda na/ Niga tu tau/ Makkedai Ajiberaele/ lyak/ Suro na Alla Taala/
  4. Kutakkini na kuwakkeda/ Magi naiyyak napakalebbi puak ku Alla Taala/ Natakkellek na ininnawak ku/
  5. Kutu dan na kuwakkeda/ E Ajiberaele/ Naiyya wenme we Majeppu mawenni wi tenna mapettang/ Matajappa siyak/ Na iyya esso e/ Anreng nge/ Uleng nge/

  6. Makkeda i Ajiberaele/ E to riamasen na Alla Taala/ Ala Massiya siya muwa nabi napancaji/ Alla Taala/ Iko na kamin:ang naelo ri/

  7. Iko tona tau ripile/ Iko tona nabi riamase i/ Ripassalamak ri sinin na asalamakeng nge/ lko tona nabi ri amase i/ Ri sinin na akkamase na/ Iko na paramata na lino/ Iko tona saiyya na uleng nge/ Enreng nge tanae/
  8. Makkeda i Nabitta Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallang/ Asyukuru l..ahuu/ Bettuwan na/ Mappujiyak ri Alla Taala Nenniya ukukkurukeng ngi/ Sabak pammase na puwak ku/
  9. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhammad/ lya ritu tajang mu ita e/ Masero tajang/ lyana riyaseng wenni merajek/
  10. Makkeda ni Nabitta Muhamma Sallallahu Alaihi Wasallang 0 Ajiberaele/ Aga bettuwan na riyaseng.snge wenni merajek/
  11. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ lya nariyasen ritu wenni massita na Puwam mu/ Napauwwakko/ Sinin na napancajiyang ngekko/ Apak masero uddani wi riko Muhamma/
  12. Makkeda i Nabitta Muhamma Sallallahu Alaihi Wasallang/ 0 Ajiberaele/ Pegi monro Alla Taala/ Ri langieg gi/ monro puwak ku/ Ri tanaeg gi/
  13. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ Ri wawona i langi pitussusung nge/ Monro wawo na Arasek nagauk alangnge sibawa lisek na/
  14. Natetton na surona Alla Taala/ Siyatik lima Ajiberaele/

  15. Nariwali wall Mikaele/ Enreng nge Iserapele/ Kuwaet- topa Iseraele /

  16. Nassu naro mai ri baban na bola na/ Naita i tajangnge masero matajang/ Naitato ni bulu Akkapek/ Naitatoni ettoeng nge /
  17. Nalao na toriyamesen na Alla Taala/ Ribatuwe riyaseng nge Kakkbatule lselang/ Namara riyakkaren na kadera/ Nasitudangen na Ajiberaele/
  18. Nari suro na Mikaele lao ri suruga/ Malangngi anyarang/ Nasikede mata muwa nalattuk ri suruga/
  19. Napole na timpak i tangek na suruga/ Nakkeda malaeka monrowangngeng ngi suruga/ Niga tu ri tangek e/
  20. Makkeda i Mikaele / lyyak risuro malang ngi annyarang/ Toriyamesen na Alla Taala/ Riyaseng nge Muhamma/ Ku maelok malang ngi annyarang toriyamasen na Alla Taala/
  21. Mettek ni malaekak e/ Monrowang ngeng ngi suruga/ Makkeda i malaekak e/ Masero rennuwak ri wettu ma elokmu maleng ngi annyarang toriyamasen na Alla Taala/
  22. Makkeda i Mikaele / Annyarang tonangen na Nabi riyoloe Maelok uwalang ngi Muhamma/ Toripassalamak e/ Nari- pakalebbi/
  23. Naengkalingani annyarang nge / Saddan na Mikaele nakkeda na/ Annyarang nge/ Teya wak 'mpelai suruga e/
  24. Nakkeda na malaekak e monroangngeng ngi suruga/ E Bora Magi muteya' mpelai wi suruga e/ Temmatauk go ri Alla Taala/

  25. Namatauk na Bora e/ Mengkalinga i adan na malaekak e/ Nassu na Bora e/

  26. Narilapiki suduseng/ Narilocoki/ Isettaberake/ Nari galang manika/ Narirecenreceng paramata mallaillai ngeng/ Nari renreng tulu ulaweng/ Nasi kede matasmua naluttu ri olo na suro na Alla Taala/
  27. Nakkeda na Ajibera ele / E Muhamma/ Tonan no ri Hora- mu / Talao ri MasejidilesHarami/ Natetton na suro na Alla Taala maelok tonang ri Bora na/
  28. Natakkini Bora e' luppek luppek/ Teya ri tonangi ri suro na Alla Taala/
  29. Nakkeda na Ajiberaele/ Magi muteya natona ngi suro na Alla Taala riyaseng nge Muhamma/
  30. Top punna i agama anak eppo na Muhamma Alaihissala- mu/ Aman na riyaseng Abedullahi/ Anak na Abedule Muttalibe/ Anak na Haseng/ Inan na riyaseng Amina/ Anak makkunrain na Wahabe/ Anak na Abedu Manape/ Anak na Suhera/ Anak na Kilabe/
  31. Natakkini na Bora e/ Mengkalinga i adan na Ajiberaele/ Napakatuna ni ale na Bora e ri yolo na suro na Alla Taala/
  32. Nakkeda na Bora e/ E Muhamma/ Addampengel lalo ak ri ri makkuwan na gauk ku/ Apak iyyaro mai massuku ri suruga e makkeda nawa nawakak/ Rewek arek gak tenrewe arek gak/ Apa iyyak na Bora tonangen nawak nabi ri yo lo e/ Lomaratu ni nabi' tonangi yak/ Kulimaratu tona taun na monro ri suruga e/
  33. lyana ro/ Kumaelo pura makjanci to ripile na Alla Taala nari pakalebbi/ Napaccing tubun na/ Ata melebbina Alla Taala/

  34. Makkeda i suro na Alla Taala/ E Bora/ Arnmekko no kutonangi yo/ Apak temmutamak no ri suruga narekko tani ko kutonangi/ Apa iya nabi riyolo pura tonangi ko/ Pura riyeloreng ngi kujenna ngi/

  35. Namarennu na bora e/ Mengkalinga i adan na Nabitta/ Nalluru na Bora e/ Bau wi aje na nabitta/ Muhamma/ Sallallahu Alaihi Wasallang/
  36. Mammekko ni Bora e' paka tuna i ale na/ Natetton na suro na Alla Taala/ Nari yatiri na ri Yajiberaele/ Si laong Kimaele/ Enreng nge Iserapele/ Nenniyato pa Iseraele/ Sikira kira duwassebbu malaekkak nasitinro seng/
  37. Nalao na Bora e ri pallawangen na bulu maraja e riyaseng nge Baetale Harami/ Naiya Bora e pura luttu pura joppa/
  38. Naita ni Nabitta caiyya malotong/ Nakkutana Nabitta/ Aga ro kuita malotong/
  39. Makkeda i Ajiberaile I E Muhamma/ lyana ro caiyya na/ Baetale Mukaddisek/
  40. Makkeda i nabitta Muhamma SallallahusAlaihi Wasallama/ Alehamdu Llllaahi Kasiiran/ Bettuwan na/ Mappuji yak ri Yalla Taala/ Karana kuita na Baetale Mukaddisek/
  41. Naluttu na Bora e/ Napole' teppa ri Jabbatul lslami/ Ri Wanuwa e riyaseng nge Massere/ Makkutana si Nabitta/ Aga ro Ajiberaele/ Masero mawangi/
  42. Makkeda i Ajiberaele/ layana ro kobburuk na/ Riyaseng nge/ I Masyitha/ Pajjakka na baine na datu e ri Massere/ Toriagellin na Alla Taala/

Najakka i baine na Piresona/ Nama buwang jakka e ri liman na/ Kakkeda na I Masyitha/ Laa Illaha 111ellah Muhammadarrasulullah/

  1. Namasolan na jakka na Wejariyya/ Wawine na Pireaona/ Tau tessompa e ri ya Alla Taala/
  2. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ Makkada i baine na Datu e Pireaona/ 0 Masyitha/ Aga mupowadang ngi Puwan mu/
  3. Makkeda i I Masyitha/ Tella i ri pura maengkalinga e/
  4. Makkeda ie E Jariyya/ E Masyitha/ Ajak lalo mupakkulik kuling ngi' powada i/
  5. Makkeda i I Masyitha/ 0 Jariyya/ Tekku kurangi/ Ada pura kupoada e/ Sangadin na kupakkulikkuling ngi/ Po ada i Puwakku/ Puwammu to/ Puwanna sininna mahelluke
  6. Mekkada i Ijariyya/ 0 Masyitha/. Tobak memek ko/ Sa- ngadi tekku poada na ri datu e Pireaona/ Magelliwi/ Mengkalinga i nanawok ko ri minynyak e/
  7. Eppakdatu patappulo pajjakka ku/ Iko na Kaminang ku- welori/ Apak uweloreng ngi mutobakeng ngale/ Ada pura mupowada e/
  8. Makkeda i I Masyitha/ 0 Jariyya/ Teya wak tobak/ Apak matauk ka ri puwak ku Alla Taala/ Puwammu to/ Puwanna to sinin na mahelluk e/ Pu wan nato Pireaona/
  9. Makkeda i We Jariyya/ 0 Masyitha/ Muwaseng ngi pale engka puwang ri lainna e Pireaona/
    055. Makkeda i I Masyitha/ 0 Jariyya/ Temmuissenggi Ale mu ripancaji ri Alla Taala/ Silaong Pireaona/

  10. Makkeda E Jariyya/ Lao tongeng ngak' pedang ngi Pireaona/

  11. Makkeda i I Masyitha/ Lao tongekko' pedang ngi gaukku datu e/
  12. Makkeda i I Masyitha/ Masolang ngi We Jariyya/ Mallai bine/ Sininna topa 'molaieng ngi ri gauk na/ Tossompa e barahala/
  13. Nalao na We Jariyya/ Maelok pauwang ngi/ Datu e ri Massere/
  14. Nakkeda na Datu ri Massere/ Magi namarusak jakka mu/
  15. Makkeda i We Jariyya/ Naseng ngi I Masyitha / Engka/ Puwang ri laimmu e risompa tongettongeng/ lyanaro na marusak jakka ku/
  16. Makkeda i Poreaona/ Tampaiyang ngak mai I Masyitha/ Nalao na ritampai I Masyitha/ Makkeda i torisuro e/ 0 Masyitha/ Natampai yo datu e ri Pereaona/ Mallaibine/ Masero gelli ni datu e/
  17. Makkeda i I Masyitha/ Taro i magelli tossompa e barahala/ Mate pi nauttama ri ranaka e/ Silaong molai yang ngi/ Gauk na/ Nalao na I Masyitha ri olo na/ Pireaona/
  18. Makkeda i datu e ri Massere/ 0 Masyitha/ Aga mupau- wang ngi puwammu/ Makkeda i I Masyitha/ Mukkuni tu Napo ada e/
  19. Makkeda i Pireaona/ Muwaseng ngi pale/ Engka Puwang ri laikku e/ Makkeda i I Masyitha/ Alla Taala Puwak ku/ Silaong suro na/ Puwammu to/ Puwanna to sininna mahelluke e/

  20. Namasero gelli na Pireaona/ Mengkalinga i adan na I Masyitha/ Makkeda i Pireaona/ 0 Masyitha teyao toba/ Makkeda i I Masyitha/ Teya wak tobak/ Sangadin na/ Upakkulik kuling ngi' nrampe i Puwakku Alla. Taala/ Puwanna to sinin na mahelluke e/

  21. Namasero gelli na Pireaona/ Massuro ni 'patoppolengngi kawangeng/ Nassuron nasu i ri minynyak I Masyitha Namasero rennu I Masyitha/
  22. Makkeda i I Masyitha/ Iko maneng patopok e kawangen Silaong manekko Pireaona/ Muttama ri ranaka e/
  23. Na wekkkapitun rede minynyak e/ Nari yobbi na I masyitha/ Naobbi toni anak na/ Makkeda i/ E Anakku/ Laono mai/ Talao ri pammase na Alla Taala/ Na iya pireaaona taronil lao ri pakkagellin na Alla Taala/
  24. Nakkeda na I Masyitha/ Luppek no riyolo ri minnyak- e/ Ajak musaile i tossompa e barahala/ Tennaissengngi Alla Taala/
  25. Luppek ni anak na I Masyitha/ Silaong lakkkain na/ Lup pek toni I Masyitha/ Namate na ri lalen na minynyak- e/ Napenedding ni nyamen na iyya massuna nyawa na/ Alla Taala muwa misseng ngi nyamen na/
  26. Naiya rupan na/ Kutoni siyak rita arattiga tomalolo- inappa e ll6ttimparu/
  27. Makkeda i Ajiberaele/ lyana ro Muhamma/ Masero ma- wangi kobbruk na/ Riyaseng nge I Masyitha/ Napatap pulo malaeka risuro ri Alla Taala/ Tungkang ngi bau bauwang malebbi/ Ela arawing/
  28. Makkeda i Nabitta Muhamma Sallallahu Alaihi Wasallam-

O Ajiberaele/ Magi namolotong wanuwa e ri Mas sere/

  1. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ Temmuisseggi Pireaona/ Tori tanto na Alla Taala/ Naseng ngi ale na/ Puwang mappancaji/
  2. Nakkeda na Nabi Musa/ 0 Pireanona/ Temmuisseggi/ Alla Taala' pancaji wi langi e/ Enreng nge tana e/ Namasero gelli na pireaona/
  3. Makkeda i Ajiberaele/ 0 Muhamma/ Nakkutanang ngi/ Onron na Alla Taala/ Nakkeda na Nabi Musa/ Ri Wawo- nai langi pitussusung nge/ Nagauk alang nge/ Sibawa lisek na/
  4. Nappangara nampinruk manara Pireaona/ Maelok menrek/ Ri langi e musu i Alla Taala/ Na pituppulo taung pin ruk manara/ Tennatawa tellupa langi e/ Napole na/ Anging ngentuttun ruttung ngi manara na/ Nawinruk e Pireaona/ Na tawa tellu na wanuwa e ri Massere/ Nateppa manara sibawa Pireaona Mallai bine/ Silaong ba rahala na/ Silaong pabbaranin na/ Enreng nge barahala nasompa e datu e ri massere/
  5. Makkeda i Nabitta ?vmhamma Sallallahu Alaihi Wasallang/ 0 Ajiberaele/ Talao ri Darussalam/ Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ Tonan no ri Bora mu/
  6. Natetton na suro na Alla Taala ribatu e riyaseng nge/ Ka'batule Arelu/ Tonan ni ri Bora na suro na Alla Taala/ Nabaca ni makkede e/ Bismillahi mujraha wamursalahaa Inna Rabbi Lagafuururrahim/
  7. Najoppa na Bora e/ Pura luttu pura joppa/ Nariyatina ri Yajiberaele/ Silaong Mikaele/ Enreng nge Iserapele/ Kuwa-

Silaong rnalaekak e/ lya rnaneng silaong- engngeng ngi nabitta/

  1. Naengkala na suro-Na Alla Taala/ Makkeda/ E Muharnrna/ Tajessawak sinarnpek/ Narekko teya ko' tajeng ngak/ Saile rnunak/ Ten natajettoi ten nasaile toi/
  2. Naluttu si Bora e ri pallawangen na batu rnareja e/ Men- kalinga si sadda Nabitta/ Masero cenno/ Makkeda E Muharnrna/ Ewa kak ada/ Naluttu si Bora e/ Mita si Nabitta/ Makkunrai/ Makessing rupanna/ Na rnarowa/ Pekyan na/
  3. Makkeda i rnakkunrai ye/ E !viuharnrna/ Paccowa rnunak/ Narekko Tern rnupaccowe kak/ Tajeng rnunak cinarnpek/ Ten Natajeeto i ten napaccoweto i/ Nalo na roti yamasen na Alla Taala/ Ri Masejidile Hararni/
  4. Engka si tau napole i/ Makkunrai orowane/ Mappake/ Mapute/ Nalao na Nabitta/ Bere sellengi wi/ Nateya rneetek/
  5. Makkeda i Ajiberaele/ Magi rnuteyarn rnettek/ Tern rnu- issenggi Toriyamasen na Alla Taala/ Natakkini/ Irnang Mahadi/ Mappari peri ni/ Lao bau wi Muhamrna/ Naban na Ajiberale/ Nalokka na rnaseernbajang duwanrakang/ Surona Alla Taala/ Silaong Irnang Muahadi/
  6. Napura rnassernbajang/ Nalao na ri bulu e riyasengnge Ja'ala Lahurn/ Natudan na Muharnrna/ Silaong Ajiberaele/ Makkutana si Nabitta/ Muhamma Sallallahu Alaihi Wasallang/
  7. Makkeda i surona Alla Taala/ Sadda aga ro kuwengka- linga e/ Makkeda i Ajiberaele/ E Muharnrna/ lyanatu pangobbi na Sarani e/ Tenna rnusaile i/ Mutajengnga rek gi/ Jaji Sarani rnaneng ni urnrnak mu/ Makkeda i

  8. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ luana ro pangobbi na lino e/ Tenna mupaccowe i/ Maraja maneng ngi/ Lino na ummak mu naiya aherak na / Makkeeda i Nabit ta Muhamma Sallallahu Alaihi Wasalang/ E Ajiberaele/ Naiya orowane kuita e ri Masejidile Harami/ Mappake- mapute/

  9. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ lya ritu riyaseng Imam Mahdi/ Toripaccingiye rahasia na Alla Taala/ - 091. Nalao si toriy amasen na Alla Taal a/ Ri Masejidile Harami/ Silaong AJiberaele/ Nangolli na ri langi e Ajiberaele/ Makkeda/ Timpakeng ngik tangek na langi e/
  10. Nalao na malaekak e ri suruga/ Malng ngi addeneng/ Naita ni Nabitta addeneng nge / IBeweng maneng/ Nari calak muttiara/ Nari rencenrenceng paramata mallail- laingeng/
  11. Nalao na suro na Alla Taala/ Silaong Ajiberaele/ Na enrek na ri bareingeng mariawa e/ Naita ni Nabitta/ Malaekak e/ Pitussebbu/ Mabbarisik/ Massaloko kati maneng/ Makkeda maneng malekak e/ Subehanallahi Wabihamedihi/
  12. Menrek si Nabitta ri baringeng maduwa e/ Mita si Nabitta malaeka/ Mabbarisik/ Massaloko kati maneng/ Riuki maneng ngalonro na/ Makkeda i uki na/ Subehanallahi Wabi- hemedihi/ Suhebahale malikule Qudddusu/
  13. Naenrek si Nabitta ri baringeng/ Matellu e/ Naitasi suro na Alla Taala/ Malaeka Telluk ketti/ Massaloko kati maneng/ Marowa pakean na/ Tattere tere tajangnge pole ri timun na/

096 Makeeda i Nabitta/ Muhamma Sallallahu Alaihi Wasalla Niga ro Ajberaele/ Marowa pakeyan na/ Natuatttere tere tajang nge pole ri timun na/

  1. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/Nigi nigi ummak mu baca i baca na malaikak e/ Makkeda e Asettagepirulla narekko mangangale i/ Makkutoni saro tajang nge pole ri timun na/
  2. Naenrek si Nabitta/ Ri baringeng/ Meppa e/ Mitasi Nabitta malaeka/ Alla Taala muwa misseng ngi billanna Tungke- tungkek mabbaca maneng/ Makkeda i baca na/ Laa Ilaaha Illaa huwale mubiinun/
  3. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ Nigi nigi ummak mu baca i baca na malaekak e siseng ngare ga nasiwenni/ Riyaddampengeng ngi dosa na ri Alla Taala/ l 00. Menrek si N abi tta ri baringeng malima e/ Mitasi malaeka pirunrupa/ Mabbarisi/ Naiya rupan na kuwamuto nisa/ Rita uleng seppulo e eppa na/ Tungkek-tungkek makkeda maneng/ Asehadu anlaa ilaaha illalla wa asehadu anna Muhammadan Rasulullahi/
  4. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ lyana ro malaeka/ Powadaeng ngi makkeda/ Alehamendu Wlahi/ Bettuwan na/ Mappuji yak ri Alla Taala/ Karana kuwita na/ Muhamma/ Tori pile na Alla Taala nari passalamak/
  5. Nacongak na surona Alla Taala/ Naita ni tajang nge/ Duwa madddinru/ Kumu toni sari ta aratitge reppedde/ Na iya tappa na Alla Taala muwa 'misseng ngi remmenrem- men na rita tajang nge tasseuwwa e tajang/
  6. Nakkeda na toriyamasen na Alla Taala/ E Ajiberaele/ Tajang ngaga ro kuwita e/ Duwa maddinru/ Makkeda i/ Ajiberaele/ E Muhamma/ lyana ro onron na nyawa e ri

  7. Naiya riyanynyawang nge/ Iyana riyaseng Jabatu Hana nung/ Onron na nyawa pura riyanynyawang nge ri lono/ Neonro taggattung ri wawi na Arese/

  8. N akkeda na Rasulullahi/ Tawa tellu nagi tau we mate/ Naiya dek eppa najaji/ Naenrek na suro na Alla Taala/ Ri baringeng maenneng nge/ Tungke tungkek tassikede- mata muwa/ Nalattuk si tassewali baringeng/
  9. Nalattuk na suro na Alla Taala ri baringeng mapitu e/ Silaong Ajiberaele/ Nabilan ni nabitta baringeng adeneng nge/ Limappulo lima lisaek/ na menneng ngen na/ Ripa- lennek i nariyallalengi/ Kira-kira limaratu taunna riyallale- ngi. tassilappa e addeneng/
  10. Makkeda i Ajiberaele/ E Malaeka/ Timpakeng ngi.k tangek na langi e/ Makkeda i malaeka monrowangngeng ngi. paccalak na langi e/ Nigatu tau tangek e/
  11. Makkeda i Ajibera ele/ Muahma usilaongeng/ Makkedai malaeka monroang ngengngi tangen na langi e/ Sallall3.hu alaihi wasallang/ Nalao na malaikak e timpak i tangek na langi e/
  12. Naenrek na suro na Alla Taala/ Silaong Ajiberaele/ Nal luru manen na malakekak e monro e ri langi e/ Nasujuki wi toriyamasen na Alla Taala/
  13. Nalao na lolallolang suro na Alla Taala/ Siloang Ajiberaele/ Naita ni sinin na wettoweng nge/ ri langi e Nangkkede na ri Ajiberaele/ Kuita maneen na wettowengri langi e/ lya pale kaminang baiccuk kira-kira tellung ngesso e riyallengi/

pa4atinna esso e/ Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ lyana ro naribalobo/ Apak ancuruk i langi e/ Narekko ripapesau wi/

  1. Nabanna Aiberaele/ Nalokka na massembajang duwanra- kang suro na Alla Taala/ Silaong malaekak e iyamaneng Napura massembajang Suro na Alla Taala/
  2. Naenrek na ri langi matellu e I Makkedai Ajiberaele/Tim- keng ngak tangek na langi e I Makkeda i malaeka mon- roang ngeng ngi tangek na langi e/ Nigi tu ri tangek e/ Makkeda i Ajiberaele I Muhamma kusilaongeng /
  3. Natakkini na malaekak e I Mapperi peri ni timpak i tangek

I Masero kussing nama-

sero raja / Tudang tajan I Alla Taala mua misseng -ngi raja na I

  1. Ala massiyya siyya mua malaeka I mabharisi I Massaloko- kati maneng I Rileo mengguliling I Nalao na Nahitta /Be- re sellengi wi I Nateyam mettek I
  2. Nakkeda nahi Yadang/ Niga ro here sellengi yak/ Makkeda i Ajihere ele/ Temmuisseggi Muhamma I Tori pile -na Alla Taala nari passalamak I
  3. Namasero rennu na/ Nahi Yadameng/ Nalao na hau wi Muhamma/ Napada makkeda meneng malaekak e Sallallahu Alaihi wa sallang/
  4. Makkeda i Rasulullahi/ Niga ro Ajiberaele/ Oroane tudang ri kadera I Nalewo malaeka mahharisik massaloko ka ti maneng I Kulao' here sellengi wi nateya' mettek/
  5. Nakkutanang ngi asekku/ Muakkeda iyana ro Muhamma toripile na Alla Taala/ Napperi peri na lao baukak/ Namasero rennun na/.
  6. Makkeda i Ajiheraele/ Iyana ro Nahi Yadameng/ Tudangri kadera tajan na/ Rekko giling ngi ri yabeyo teri wi/ Narekko giling ngi ri yatau mecawa i I Mekkeda i Nabitta / Muhamma Sallallahu Alaihi Wasallang I Magi na -teri narekko giling ngi ri yaheyo I Na ecewa narekko gilingngi riyatau I
  7. Makkeda i Ajiheraele / lyana ro nateri narekko gilingngi ri yaheyo I Naita i anak eppo na ri laleng ranaka I lyana ro naecawa narekko giling ngi riyatau I Naita i anak epna ri laleng suruga I Nahan na Ajiheraele/ Nalokka -na

massemba jang duanrakang suro na Alla Taala/ Silaong nabi Yadang enreng nge malaekak e iyamaneng/

  1. Napura massembajang suro na Alla Taala/ Naenrek si pai- meng ri langi maeppa e / Sikede mata mua nalattuk/ Mak- dai suro na Alla Taala/ Benneng nge nari palennek/ Rilino e nari yallalengi/ Sikira-kira limaratu taun na ri yallalengi/
  2. Makkeda i Ajiberaele/ Timpakengngak tangek na langi e / Makkeda i malaekak e I Monroangngeng ngi tangek na langi e I Nigatu ri langi e / Makkada i Ajiberale/ Muhamma kusilaongeng/
  3. Mapperri peri ni malaekak e timpak i tangek na langi e/ Naenrek na suro na suro na Alla Taala/ Napada makkeda maneng malaekak e I Nigp ro Ajiberaele/ Nakkeda na Ajiberaele/ lyana ro Muhamma tori yamasen na Alla Taala/ Nalluru manen na malaekak e pakalebbik i Muhamma/ Tungketungkek makkeda maneng/ Sallallahu Alaihi Wasallang/
  4. Nalao na suro na Alla Taala lolallolang/ Silaong Ajiberaele/ Naita si Nabitta manuk pute/ Maridi timun na/ Maridi aje na/ Maridi matan na/ Cimpolong woromporonglali na/ Naiya lila na engka maneng sinin na paramata e ri laleng ruruga I Naiya ma tan na intang mattappa I Naiya timun na ulawang tasak/
  5. Nakkeda na suro na Alla Taala I Manuk aga ro Ajiberaele/ Iyana ro manuk na Arasek I Narekko mani wi I Lesso tawa tellu ni wanni e I Maccoe manetto ni manuk e ri lino/Mak kada i unin na/Nabiyyullahi Dzikrullahi/ Bettuwan na/ E sinin na matinro e/ Tokkong manek ko siyak/ Muappuji ri Ya Alla Taala I Kuwammung ngi namesei yo Alla Taala ri yaherak/

I Makkede i/ Subehanal

lahi wabi hamendihi subehanal lahile 'Alim/ Bettuwan na E sellemporane enreng nge sellemmakkunrai ye/ Arengnge- rang manekko riyassewwan na Alla Taala/ Barak kuwam- meng ngi ten napittama o ri ranake e I

132. Nalao na lolalloleng suro na Alla Taala I Silaong Ajiberaele I Napolei si malaekak e/ Tudang ri kadera tajang ngapi/ Masero cai situnggu tungun na/ Makkatenni babbang ngapi ranaka e/ Naiya tasseuwwa e babbang/ Takka- rua pulo na pakkasiyasi/ Tenna ripalennek i ri lino e/ Sikede mata mua/ Nancuruk i lino e/
133. Nalao na Nabitta/ Beresellengi wi/ Natuyam mettek/ Makkeda i Alla Taala/ Ri wawo na langi pitus susung nge- 0 malaekak Pangoronroan na ranaka e/ Magi muteya' mette naberesellengi yo tori ymasekku/ Tekku pancaji ko silaong ranaka e/ Enreng nge suruga e/ Sibawa lisak na/ Benneng nge taniya Muhamma/ Apak iya na kuweloreng poarajang ngi/ Enreng nge napo alebbireng ngi/
134. Namatau na malaeka monroangngeng ngi ranaka e/ Karana naengkalinga na saddan na Alla Taala/ Ri langi pitussusung nge/ Makkeda i Ajiberaele/ 0 malaeka/ Temmuissenggi tori yamasen na Alla Taala/ Riwanuwa duwa e/
135. Mettek ni tattere tere tajang nge pole ri timun na/ Mak- kada i malaekak e/ 0 Muhamma I Addampengeng laloak/ Apak pura riyeloreng towak sa ri Alla Taala/ Macari situnggutunggu/ Naiya kutajeng ummak mu temmolai ye gauk mu/ Kuwala meneng ngi gauk maja na/ Pura napo gauk e ri lino e
136. Makkeda i Rasulullahi / 0 Malaekak/ Timpakeng ngik tangek na ranaka e I Kuita sai wanuwan na ummak ku/Sini na mara jae dosa na/

0 Muhamma I Tekku eloreng ngi ri timpak timpak tangek na ranake e/ Nasangadin na pura pikamek lino e/

  1. Naengkalinga na sudda malaekak e/ Makkeda i I Timpa- keng ngi tangek tori yamasekku I Apak takku pancaji wi lno e sibawa lisek na/ Benneng nge natniya Muhamma /
  2. Natakkini na malaekak e riyaseng nge Muhgkarek/ Nared- duk i panccalak na raneka e I Kuwa mutoni sa sebbok na- jarung nge loan na naola massu sumpun na api ranaka e/ Namapettan na langi e enreng nge tana e/
  3. Nauttama na suro na Alla Taala/ Silaong Ajiberaele/ Naita i tauwwe Muhamma/ Nalao na lolallolang nabitta Mh- hamma Sallallahi Alaihi Wassallang/ Silaong Ajiberaele/
  4. Napolei si seuwwa/ Oroene ripakkasiyasi/ Ripetudang ri dulang ngapi renaka e/ Nrisakka bessi / Tallolo e lilana lattuk ri tana e/ Makkeda i Nabitte I Niga ro ripakkuwa e/ Makkeda i Ajiberaele I lyana ro ummak mu/gauk bawang ngengngi padan na tau/ Tenna toba namate/
  5. Nalao na Nabitta/ Mita si bola ri lalen na ranaka e/ Tappi- tuppulo pakkasiasi monroang ngi/ Bola e ri lalenna ranaka e I Makkutana si nabitta ri Yajiberaele/ Makkada i Nabitta/ Niga ro bola maraja ri tengnga na rana ka e/
  6. Nalao si lolallolang Nabitta / Naita si oroane/ Rirante aje na/ Rante api ranaka/ Nari soppak bessi macellak ma tan na wali-wali/ Nari paorongi tembaga riyancu ru sum- pan na/ Nari pussu tunggu tunggu na api ranaka erumpun na/
  7. Makkutana si nabitta ri Yajiberaele/ Makkade i nabitta Nigi ro ripakkuwa e I Makkkade i Ajibereele I E Muham-

I Mita si oroane maega ripakkasi yasi/

Manro riyawa ulun na / Manro ri monri rupan na / Padato ni rupan na bawi ye / Nawi toto liman na iya wali/ Na riputtama ri teng nga api malluwak luwak e / Makkeda i Ajiberaele/ 0 Muhamma I Iya naro urnmak mu melorieng- ngi malai anun na padan na selleng / Namaja ati ri padan na ripancaji/

  1. Nalao si Nabitta/ Mita si Nabitta I Tau ripakkasi yasi Sellak silelak sellak na / Naengkalinga langi pitussusung nge sellak na/ Makkutana si Nabitta ri Ajiberaele/ Makkada i Nabitta / Niga ro Ajiberaele 'sellak e Naengkalinga langi pi tussusung nge sellak na / Makkedai Ajiberaele/ E Muhamma / lyana ro to malolo/ Dek eppa natobek namate/ 14 7. Nalao si Nabitta/ Napolei si tori pakkasi yasi e/ Nari sakka bessi timunna wali-wali/ Natallolo e lila na lattuk ri tana e/ Makkeda i Ajiberaele / E Muhamma/ lyana ro ummak mu bali baliyeng ngi to matoan na tenna tobakna mate/
  2. Laosi Nabitta/ Mita si makkunrai ri tengnga na api ranaka e/ Monro ri munri rupan na/ Nari tiri ki tembagari yan- curu.K / lila na/ Nari paoro ngi wara mattekke/ Makkutana si nabitta/ Ri Yajiberaele / Makkeda i nabitta ri Ajiberaele / Nigaro makkunrai ri tengnga na api ranaka e/ Monro ri- munri rupan na/ Nari tiri ki tembaga riyancuru lila na / Nari paorongi bessi macellak / Makkeda i Ajiberaele / E Muhamma/ lyana ro ummak mu makkunrai 'nok e massaro lellang tenna.t<: bowong/
  3. Laosi Nabitta/ Na po lei si seuwwa makkunrai/ Monro ri- waro aje na/ Nari soppak bessi bori na ripasiteru timun na/ Nari patete ngi api ranaka liman na iya wali/ Makkutana si Nabitta ri Jiberaele / Makkeda i Nabitta/ Niga ro

  4. Nassunaro mai Nabitta ri ranaka e/ Silaong Ajiberaele/ Mapperi peri ni malaekak e/ Sampo i tangek na ranaka e/ Naban na Ajiberaele/ Nalokka na massemba jang duwan- rakan suro na Alla Taala silaong malaekak e iya maneng/ 151. Napura massembajang/ Naenrek si nabitta Sallallahu Alaihi Wassallang ri langi malima e/ Sikede mata mua na- lattuk/ Makkeda i Ajiberaele/ Timpakeng ngak tangek na langi e/

  5. Makkeda i malaekak e monroangngeng ngi tangek na langi e Niga tu ri tangek e/ Makkeda i/ Ajibersele/ Muhamma k usilaongeng/
  6. Mapperi peri ni malaekak e/ Riyaseng nge Sabaniya/ Na- timpak i tangek na langi e/ Engka maneng sinin na malaekak e pakaraja i Nabitta/ Napada makkeda/ maneng/ Aresu Lahuu Bile Hudaa/
  7. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ Nigi nigi ummak mu/ Bacai baca na malaekak e/ Ripalowangi matti onron na ri laleng kobburuk/
  8. Naita si Nabitta Muhamma/ Seuwwa oroane makessing/ Riwinruseng urungempessi naoroang ngi/ Malaekak maggu- liling/ Massaloko kati maneng/
  9. Makkeda i Nabitta/ Niga ro Ajiberaele/ Makkeda i Ajiberaele/ lyana ro Nabi Isa Alaihis Salamu/ Nalao na na bitta/ Beresellengi wi/ Nateyam mettek/

Pada makkeda maneng/ Sallallahu Alaihi Wasallam /

  1. Makkeda ni Ajiberaele / E Muhamma/ Nigi nigi bacai baca na malaekaK e/ Majeppu leppek i dosa na/ Riyaddampe- ngeng toi ri Yalla Taala/ Nari pabelaiyatto pakkasiyasi matti ri aherak / Nari lamperiyatto umuruk na/ Narisem- poiyatto dallek na/
  2. Nalao si Nabitta/ Mita si Nabitta/ Seuwwa oroane / Tudang ri kadera tajang/ Nalewoang ngi malaeka mangguliling/ Mabbarisi/ Massaloko kati maneng/
  3. Makkeda i Nabitta Munamma Sallallahu Alaihi Wassallang/ Niga ro Ajiberaele / Tudang ri kadera tajang nallewo ngi

Salamu/

  1. Nalao na suro na Alla Taala beresellengi wi/ Nakkeda na Nabi Musa/ Niga ro Ajiberaele/ Beresellengiak/ Makkeda i Ajiberaele/ lyana ro tori yamasen na Alla Taala/ Maelok menre ri langi e sita Puwan na/ Mapperi peri ni Nabi Musa makkeda/ 0 Muhamma/ Narekko pole ko riyarase sita Puwam mu/ Leppak ko mai mupau pauwwang ngak/ Ang- kan na muita e enreng nge muengkalinga e/ Enrengngetto- pa nawerengngek ko Puwam mu Alla Taala/
  2. Naban na Ajiberaele/ Nalokka na massembajang duwanra- kang suro na Alla Taala silaong Nabi Musa/ Enrengnge malaekak e iya maneng/ Napura massembajang suro na Alla Taala/ Naenrek si ri langi mapitu e/
  3. Sikede ma ta muwa nalattuk/ Makkeda i Ajiberaele/ Tim pa keng ngak tangeK na langi e/ Makkeda i malaeka monro- wangngeng ngi tangek na langi e/ Niga tu ri tangek e/ Makkeda i Ajiberaele/ Muhamma kusilaongeng/ Mapperi-peri ni 'timpak i tangek na langi e/
  4. Naenrek na suro na Alla Taala/ Naita ni malaekak e/ Mab barisik massaloko kati maneng/ Naita ni Nabitta ajukajung maraja/ Alla Taala mua' misseng ngi rajan na ajukajung nge/ Na iya daun na tassilampa e malebbak pa naiya lino e/ Na iya buwa na Alla Taala mua' misseng ngi ega na/
  5. Makkeda i Nabitta Mui1amma Sallallahu Alaihi Wasallang/ 0 Ajiberaele/ Macinna wak ri buwa na ajukkajung katubie Makkeda i/ Malaekak e monroangngeng ngi ajukkajung katubi e/ Matauk ka ri Alla Taala/ Mabbereyang ngi buwa na/

0 Ajiberaele/ Niga ro makkunrai/ Makkeda i Ajiberaele/ lyana ro pammase na um- mak mu/ Molai yengngi gauk mu/

1 75. Makkeda i Nabitta/ 0 Makkunrai/ Uttamak no paimeng ri lalen na bua na ajukkajung katubi e/ Na uttamak na paimeng pada tenri yala na/ Napaddeppe ni ale na paimeng/ Ri takke na/ Pada tenri yala na/

  1. Nalao si lolallolang suro na Alla Taala/ Napolei (. .. )/ Engka to seuwwa kota/ Engka to weuwwa ajukkajung maraja ri laleng Kota e/ Ala massiya siya muwa malaeka monroang ngi/ Mabbarisi/ Massaloko kati maneng/
  2. Makkeda i Nabitta/ Ajukajung ngaga ro Ajiberaele/ Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ lyana ro riyaseng ajukajung Sideratule Muntaha/
  3. Nalao na Nabitta/ Mitasi ajukajung ri lalen na kota e/ Tungkek tungkek tasseuwwa malaeka masero raja monro- angngi/ Makera pakeyan na/ Naiya daun na ajukajung nge/ Kui monro ukik na umuruk na sinin na makkenyawa e/

  4. Makkeda i suro na Alla Taala/ 0 Malaeka/ Iko ga palek/ Monroang ngi Sideratule Muntaha/ Makkeda i malaekak e/ lyyak Malakalamauk/ Risuro 'mala i nyawa na sininna mak kenyawa e/

  5. Makkeda i Nabitta Muhamma Sallallahu Alaihi Wasallang/ 0 Malaeka/ Ala massiya siya mua tau mate sesso siwennie Iko manegga malai nyawa na/
  6. Makkeda i malaekak e/ 0 Muhamma/ Iya muwa natappi- tukketi/ Pangngulu jowa/ Natappitukketti jennangen na seuwwa pangulu/ Naiya mi kutungka mita i daun na ajuka- jung nge/ Narekko maddennek i uki na/ La nu ri wanuwae- ri yanu/ Kusuro ni malaikak e/ Lao mala i nyawa na Lanu ri wanuwa e ri yanu/
  7. Rekko maelok ka mita i lisek na lino e iya maneng/ Makku toni saro cangkirik rajan na kuita ri yolo ku/ Ala engkaga kusala mita lisek na lino e/
  8. Nalao si lolallolang Nabitta/ Mita si malaeka/ Alla Taala mua 'misseng ngi ega na/ Mabbarisik/ Massalokokati maneng/
  9. Nalao na Nabitta/ Beresellengi wi/ Nateya mettek/ Meng- kalinga ni sadda malaekak e/ Makkeda/ Magi muteya mettek naberesellengi yo Muhamma/ Benneng nge natania Muhamma/ Tekku pancaji yo/
  10. Natakkini na malaekak e/ Mettek makkeda/ E Muhamma Addampengellalo wak/ Apak pura rielorettowak sa/ Temmettek/ Sangadin na pura pi kamek lino/

0 Jiberaele/ Malaeka aga ro makkuwa e/

  1. Makkeda i Ajiberaele/ 0 Muhamma/ lyana ro malaeka lele yang ngi dallek na sinin na ripancaji e ri Alla Taala/ lya maddupa tedong nge/ lyana leleyang ngi dallek na si nin na binatang riyanre/ lya maddupa tau we/ iya na/ Leleyang ngi sinin na maddupa tau we/ Naiya maddupa manuk manuk e/ Iyana leleyang ngi dallek na binatang luttu luttu e/ lya maddupa macang nge/ lyana leleyang ngi dallek na sinin na binatang masekkang nge/
  2. Nalao si Nabitta/ Mita si malaeka/ Pitussebbu ulun na/ Naiya ulun na pitussebbu rupan na/ Naiya tasseuwwae rupanna pitussebbu timunna/ Naiya tasseuwa e timu/ Tappitussebbu lila na/ Naiya tasseuwwa e lila/ Tappitussebbu basa na/ Mappuji maneng ri Yalla Taala/ 191. Mellau dowangeng ngi tallao we massembajang/ Enreng nge mallalengi ye tareka/ Nenniya topa tomappuwasa e/ Ri uleng Ramalang/
  3. Makkeda i Nabitta Muhamma/ Niga ro Ajiberaele/ Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ lyana ro malaeka riyaseng nge Ruhule Aminuna/
  4. Nalao si Nabitta/ Mita si malaeka magguliling mabbarisi massaloko kati maneng/ Alla Taala muwa misseng ngi egana/ Marowa pakeyan na/
  5. Tungkektungkek mabbaca maneng/ Makkeda i baca na/ Allahu Nuurus salawaati wal Areli Masala Nuurihii/ Makke-

da i Ajiberaele/ E Muhamma/ Nigi nigi ummak mu baca i bacana malaekak e/ Majeppu rilomoiyang ngi matti alem- pureng na nyawa na/ Narekko mate i/ Ripatteru i muttama ri suruga/

  1. Na lao na Ajiberaele/ Malang ngi ulereng ri suruga/ Si kede mata muwa nalattuk/ Nangka riyaseng nge rappeng rappe/ Dek alirin na Dek to paggattun na/ Rirenring/ Suduseng/ Nariyappa ri Isettabarake/
  2. Natonan na suro na Alla Taala/ Naiya nyamen na napened- dingi/ Alla Taala mani misseng ngi nyamen na/
  3. Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ Enrek no ri Yarasek/ Sita puwam mu/ Naenrek na ulereng nge 'mpawa i ale na/ Nauttama na ri Yarasek/ Sisusung auruwa pulo na renring tajang naliweng/
  4. Nauttama na ulereng nge/ Ala massiya siya mua tajang na liweng/ Mallaillaingeng maneng rupan na/ Natakka- jennek na suro na Alla Taala/
  5. Tennaissen ni uraik alau e/ Maniyang nge manorang nge/ Napakatunani ale na/ Riyarajan na Puwan na/ Naengkali- nga na sadda Muhamma/
  6. Makkeda i Alla Taala/ 0 Muhamma/ Engkanak tu ri yolo- mu Dek pallawangeng ngik/ Pada toni sa abbirin na ase ri ponna/
  7. Na po lei ni tau rasulullahi/ Karana nais.sen na alena eng ka ri olo na Puwan na/ Nakkeda na Muhamma / lttahiyyatu le mubarakatus salawatu lillahi/
  8. Makkeda i Alla Taala/ Assalamu Alaeka Ayyuhan nabiyyu / Warahmatullahi Wa Babarakatuhu/

204 Makkeda i Muhamma/ Assalamu alaena Wa Ala lbadillahis- salihi/ Makkeda si Muhamma/ Asehadu An Laa llaaha Illa 'la/

  1. Makkeda i Alla Taala/ Waasyhadu anna Muhammadan Rasulu 'la/ Kuwerekko sembajang/ Aruwa pulo na sesso siwenni/ Silaong Qule Huwal Lahu/ Ahade/ Sibawa Qule A'udzu iya duwa/ Mupoleyangeng ngi ummak mu/
  2. Makkeda i Alla Taala/ Upancaji wi alang nge sibawa li sek na/ Nakarana iko Muhamma/ Ala massiya siya mua nabi kupancaji/ Iko na kaminang kuwelori/ Ikoto ne pas sulle ku/ Naiya Ajiberaele/ Kuwala mi suro/ Naiya iko Muhamma/ Mutalleyang ngi alebbirek hu/ Enrengnge ara jakhu/
  3. Nalesso na rasulullahi ri yakeran na Puwan na/ Naissenni ale na Muhamma massu ri yalebbiren na puwan na/Nalao na Muhamma ri yulereng nge/
  4. Nassu na Rappenrappeng nge/ Ala massiya siya mua ren ring naliweng/ Nassu na ri yarase/ Napole' teppa ulereng nge ri yolo na Ajiberaele/
  5. Napperi peri na Aiiberaele lao pakalebbik i Muhamma/ Nalao manetto na malaekak e 'sujuki wi Muhamma/ Nalao na Ajiberaele/ Parewek i ulereng nge/ Ri Suruga/ Nasilaong Nabitta
  6. Napoleisi Nabitta kota e/ Engka maneng lisek na/ Nalao na Nabitta/ Mita si bola maraja renring camming/ Ulaweng pakdenrin na/ Nari rencenreng paramata mallaiklaingeng/ Muttiara ewangan na/
  7. Naenrek na Nabitta ri bola e/ Naita na kaca/ Seuwwa/ Maraja/ Dek alirin na/Dek to paggattun na/ Engka tau lisek na kaca e/

Ummak mu/

.220. Seuwwa to sadda naengkalinga / Makkeda / E Muhamma / Tenna canik e riyolo muinung/ Maraja maneng ngi lino na/ Ummak mu / Naiya aherak na/ 221. Nalao na lolallolang Nabitta / Mitasi bola maega / Alla Taala muwa misseng ngi ega na / Rirenring camming maneng Ala massiya siya muwa bilanna bola e/
222. Naiya tasseuwwa e bola/ Tappatappulo patasak na/ Naiya tasseuwwa e patasak / Tappatappulo anak wijadari sere ri lalen na patasak e/
223. Makkeda i Nabitta/ Niga ro Ajiberaele/ Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ lyana ro bola na bola na ummak mu/ Maraja teppek e/ Napakalebbik i sinin na topanrita e/ Nama nyameh kininnawa ri padan na tau/ Enreng nge padan na/ Selleng /
224. Nalao na lolallolang Nabita/ Napolei si Nabitta malaekak / Ala massiya siya muwa ega na / Alla Taala muwa mis seng ngi ega na tanettanen na/
225. Naiya tasseuwwa e taneng taneng tappatappulo rupan na / Naiya tasseuwwa e rupa / Tappatappulo bua na/ Naiya tas seuwwa e bua/ Tappatappulo peneddingen na/
226. Makkeda i Nabitta / 0 Ajiberaele/ Wanuwa aga ro asen na maega tanettanen na/ Makkeda i Ajiberaele/ E Muhamma/ lyana ro matti pattoana na ummak mu/ Melori ye agama / Kuwaetto pa mappuasa ri uleng Ramalang/ Na malabo ri padan na ripancaji/
227. Makkeda i Ajiberaele/ 0 Muhamma / Pau pauwwang ngi ummak mu / 6angkan na muita e/
228. Makkeda i rasulullahi / Temmateppek are i/ Arak e/ Mekke-

0 Tori yamasen na Alla Taala/ Lao no mai/ Kupanok kopaimeng ri lino e/ nariyattennin na liman na ri Ajiberaele/

  1. Maelok ni nok suro na Alla Taala/ Napolei si Nabitta/ Nabi Musa / Tudang ri kadera tajang/ Taddakka rakka ni Nabi Musa/ Lao pakalebbik i suro na Alla Taala/ 231. Makkeda i Nabi Musa/ Aga na naerek ko puwam mu/ Makkedai Nabi Muhamma/ Sembajang/ Aruwapulo na sesso siwenni/ Silaong Korang telluppuloa gesok na/ En- reng nge/ Pateha/
  2. Makkeda i Nabi Musa/ E Muhamma / Tenna ulle mpawa i ummak mu sembajang/ Aruwa pulo na/ Sesso siwenni/ Makke dai Nabi Musa/ Ellau wi malomo e ri sembajang nge/
  3. Ripate si paimeng ri Ajiberaele/ Naoloini Arase Muhamma Naengkalinga na sadda/ Makke da/ E Muhamma/ Onro no ku tu/ Engkank tu ri yolo mu/Poada ni mai Muellau we/
  4. Natudan na Rasulullahi/ Pakatuna i ale na/ Nassompa pa katuna i ale na/ Nassompa na pakaraja i puwan na/ Makkeda i Muhamma/ 0 Puwak ku/ Tennaulle i atam mu 'mpawa i sembajang/ Aruwa pulo na sesso sewenni/ 235 Makkeda i Alla Taala/ 0 Muhamma/Ukurangiyak ko/ Li- mappulo na sesso siwenni/
  5. Nano na Muhamma silaong Ajiberaele/ Nasita na Nabi Musa Makkeda ni Nabi Musa/ 0 Muhamma/ Nakurangian no puwanunu/ Muhamma/

  6. Naengkalinga na sadda/ Makkeda/ 0 Muhamrna/ Aga mu- wellau/ Makkeda i rasulullahi/ 0 Puwakku/ Tennaulle 'mpa wai ummak ku/ Sembajang/ Llmappulo e nasesso si wenni/

  7. Makkeda i Alla Taala/ Ukurangiyak ko/ Kuraiyyat tokko/ lyana mupoleyangeng ngi ummak mu / Sembajang patappulo e lima/ Na sesso siwenni/ Muappuwasa to ri uleng Rama- lang / Telluppulo esso na / Muappuwasa to ri uleng Sauw- waleng enneng ngesso na / Muenrek to sapu i baetulla e/ Muenrek to hajji ri bulu Arafah / 242 Makkeda i Nabitta Muhamma / E Ajiberaele/ Taturun na pa imeng/ Naturun na Muhamma/ Silaong Ajiberaele/ Napo lei si / Nabi Musa / Tudang ri kadera na /
  8. Makkeda ni Nabi Musa / 0 Muhamma/ Nakurangiyan no puwammu Alla Taala/ Makkeda i Muhamma / Nakurangiyan nak / Na raiyattokkak/
  9. Makkeda i Nabi Musa / Siyaga nakurangiyak ko/ Kuwaet to naraiyyang ngekko/ Makkeda i Nabitta/ Nakurangiyan nak patappulo lima/ Nawereng ngak Korang telluppulo ajusuk /

0 Nabi Musa/ Masirik na makkulikku- ling ri puwak ku/

  1. Naengkalinga na sadda Muhamma/Makkeda/ E Atakku/ Sitinaja na/ Nawawa ummak mu/ Sembajang lima wettu e/ Nasesso siwenni/ Nappunna i muto appalan na sembajang lima wettu e/
  2. Na nok na SUTO na Alla Taala/ Silaong Ajiberaele/ Napolei si Nabitta/ Nabi Yadang/ Tudang ri kadera tajang Mapperi perini nabi Yadang/ l.ao Pakaraja i Muhamma/
  3. Nakkeda na Nabi Yadang/ E Muhamma/ Pau Pauwangngi ummak mu/ Sinin na muita e/ Enreng nge muengkalinga e/
  4. Na nok na suro na Alla Taala/ Silaong Ajiberaele/ Sikede mata muwa/ Naliweng ngi langi e tassilapi e/ Napolei si Nabi Isa tudang ri kadera tajang/ Taddakka rakka ni nabi Isa lao pakalebbik i Muhamma/
  5. Nakkeda na Nabi Isa/ 0 Muhamma/ Sinin na muita e/ Enreng nge muengkalinga e/ Appau pauwang maneng ngi sahabak mu/
  6. Nanok na suTO na Alla Taala/ Silaong Ajiberaele/ Sikede mata mua naliweng ngi iyamaneng/ Napolei mupi tet- tong anyaran na/ Ri batu e riyaseng nge Baetal Harami/

Sikede mata mua nalattuk ri bulu e/ Riyaseng nge Ka'batu Iselang/ Makkeda i Ajiberaele / E Muhamma/ Kuno monro kuala / Kua tono kutaro6 napada lao na malaekak e paka- lebbik i Muhamma/

  1. Napada menrek na ri langi e / Naparewek ni anyarang nge/ ri suruga / Naenrek na Ajiberaele / ri Langi e / Narewek tona Nabitta/ ri bolana /
  2. Nasijang mua tudang ri bola na/ Naompo na pajjareng nge Nalao na Nabitta ri Masejidile Harami/
  3. Naban na suro na Alla Taala / Natakkini sinin na tau e ri Mekka / Napada makkeda/ Maneng/ Sahabak na/ Tano ri masejidile Harami/ Natimummu manetto na Arak e/
  4. Nassembajan na suro na Alla Taala/ Ri subu e/ Silaong sahabak na / Kuwaetto pa Arak e / lya maneng/ Napura massembajang subu suro na Alla Taala/ Nappau pauwang- ngi e ri langi pitussusung nge/
  5. Sinin na naita e I Enreng nge naengkalinga e I Ri laleng ranaka e I Enreng nge ri suruga e I Enreng ngetto pa naita e ri langi pitussusung nge I
  6. Napauwatto i sahabak na pole ri Yarasek/ Sita puwan na/ Na mateppek manen na sahabak na/ Enreng ngetto pa Arak e/ 261. Nengka tau temmateppek/ Riyaseng Sainule Abiding/ Napabbelle ati wi Nabitta/ Napakkeda ri laleng ngatin na/ Riyaseng nge Sainule Abiding/

Pole ri langi e/ Sita puwan na/ Alla Taala Nasetto i naita ranaka e/ Nasetto i ale na pole ri suruga e/ Nasetto i ale na pole ri Yarasek/ Sita Puan na/

  1. Napitung ngesso Nabitta/ Tudang ri lalaeng masigik/ Mappau pauwwang ngi ummak na/ Sinin na naita e/
  2. Narewek na Sainule Abidina ri bola na/ Nakkeda na ri bainena/ Alai janga janga e/ Tagere i/ Nalao na anakna/ Riyaseng nge Un usu/ Malai janga janga e/ Nagere i Saenule A bi din/
  3. Nainappa nano cemme ri buwung nge/ Nasuro ni baine na Nasu i/ Nainappa no cemme/
  4. Nawekka pitu-ppullo nakka aje na Saenule Abidina/ Natakko pole na Jette / Patakkini i/ Nama buwang Saenule Abidina/ Nanrapa rapa/ Natakkalupa na/
  5. Naifa ni ale na/ Ale na mancaji makkunrai/ Nallakkaina Napitu anak najajiyang/ Napitut tautto ri laon na/ Nainappa na ri paenrek ri bola na/
  6. Na pole i mupi janga janga e nabebbu ri baine...na/ Makkedai Sainule Abdina/ 0 Hatipa/ Pitut tauk kak ri laokku Napitu to anak ujajiyang/ Naiya mupa mubebburi janga jangan e/
  7. Makkeda i I Hatipa/ Inapa i sitengnga jang pura na mugere janga janga e/ Natakkellek na inin nawan na Saenule Abidina/
  8. Mapperi peri ni pasang ngi wajun na/ Nalao na ri masingi el Napole i mupi Nabitta/ Muhamma Sallallahu Alaihi Wa Sallang/ Mappau pau sahabak na/ Silaong Arak e/
  9. Napole muwa Saenule Abidina/ Sujuki wi / Aje na nabitta Makkeda i Saenule Abidina/
  10. E Suro na Alla Taala/ Tobak na riko puwang/ Ngaddampe- nget toak/ Karana mappabelle na atik ku/ Mappau paum-

mateppek/

  1. Makkeda i atik ku/ Maelok na muaro riyarola i/ Gauk na Naseng ngi ale na poleJri Yarasek sita Puwan na/ Naecawa na sahabak na eppa e/
  2. Makkeda i suro na Alla Taala/ Kuwaddampengen notu/ Ri wettum mu pabbelle ka/ Kuwaddampengetto no karana temmateppek mu ri pauk ku/
  3. Makkeda i suro na Alla Taala/ E sinin na ummak ku/ lko maneng mateppek e/
  4. Majeppuni ritu/ Pada riukik ni ri baban na ruruga e/ Na iya iko temmateppek e/ Riyadak ku/ Ri laleng paccallan nao Alla Taala/
  5. Makkeda i Ali Toriyamasen na Alla Taala/ Pega pada ummak mu essoe we/ Naiya matti esso rimunri/ Makkeda i Nabitta/ Muhamma Sallallahu Alaihi Wasallang/ Na iya essoe we/ Karana mangaun na muwa ummak ku nama- teppek ri yadak ku/
  6. Na iya matti/ Majeppu dek mitawak/ Namasero mateppek ri pauk ku/ Enreng nge ri gauk ku/
  7. Salamak majeppu Temmek ni/ Surek Pau Paun na Nabitta/ Nauki Lasemmauna ri esso na Juma e/ Ri tettek pitun na jang nge/ Ri siwennin na ompo na Ramalang/ Rilalen na taung Jing/ lya na Hujera na Nabitta 1243/

001. SALAM

1 YANG MENERANGKAN KITAB YANG MEMBICARAKAN NAIK² NYA NABI KITA KE LANGIT

  1. Berkata
    3 Nabi kita Sallallahu Alaihi Wasallam/ Saya tidur pada malam Jum'at di larut malam/ Ketika saya (da- lam keadaan) antara tidur dan sadar/ Tiada lagi suara auam/ Sudah tiada pula anjing menggonggong/ Maka da- tanglah Jibri1 4 memegang dahiku/

  2. Berkatalah Jibril/ Hai Muhammad/ Maka aku jadi kaget/ Lalu saya tinggal kebingungan/ Barulah saya membuka ma- taku/ Salam sejahtera, merupakan ucapan atau pembuka kata yang lazim digunakan masyarakat Bugis da1arn menuliskan naskah maupun surat-surat keterangan, serta berbagai ca ta tan/tulisan.

  3. Peristiwa (lsra') Mi'raj, yaitu kenaikan nabi Muhammad (dari) Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha, menghadap Allah SWI'.
  4. Sabda nabi.
  5. Jibril, sa1ah satu malaikat }r.ing biasanya menyampaikan sesuatu perintah dari Allah Taala kepada nabi/Rasul-Nya.

  6. Kulihatlah cahaya yang menerangi petala langit/ Beserta (permukaan) tanah/ Berkatalah saya/ Siapa gerangan itu/ Berkata Jibril/ Saya/ Utusan Alla Taala/

  7. Saya pun terkejut lalu berkata/ Mengapa saya yang diberikan kemuliaan oleh Allah Taala/ Maka kecutlah perasaan hatiku/
  8. Sayapun duduk lalu berkata/ Wahai Jibril/ Adapun malam ini sesungguhnya (adalah waktu) malam hari namun tidak gelap/ Niscaya lebih terang adanya/ Dari siang hari/ Serta bulan pumama/
  9. Berkata Jibril/ Wahai toriyamasen
    5 na Allah Taala/ Tiada sedikit jumlah Nabi 6 yang telah diangkat/ (oleh) Allah Taala/ Engkaulah yang paling disukai-Nya/

  10. Engkau pulalah orang pilihan/ Engkau jugalah nabi yang dikasihi/ Beroleh keselamatan di atas seluruh selamat-Nya/ Engkau pulalah Nabi yang dikasihi/ Dengan seluruh kasih-Nya/ Engkau pulalah cahaya bulan/ Serta (cahaya) bumi/

  11. Berkata Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam/ Asyukurul-Laahu (Bahasa Arab)/ Artinya/ Kepersembah- kan seluruh puja-puji kepada Allah Taala/ Sayapun bersyu- kur/ Atas seluruh nikmat (yang diberikan oleh) Tuhan-Ku/
  12. Berkata Jibril/ Wahai " Muhammad"
    7 / Ada pun cahaya

5. Salah satu narna panggilan bagi nabi Muhammad SAW yang menunjukan betapa besar rahma t dan kecintaan Allah Taala kepadanya. ·
6. Nabi, adalah seseorang manusia yang mendapatkan wahyu maupun perintah dari Tuhan, untuk dirinya sendiri.
7. Muhammad, ialah nabi dan rasul Allah yang terakhir. Berilau diutus oleh Tuhan Allah SWT menyampaikan a~a Islam kepada seluruh umat manusia di setiap belahan bumi, tanpa memilik ra8a dan suka hmgsa.

malam"miraj" 8 /

  1. Berkatalah Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam Wahai Jibril/ Apa "arti"
    9 nya yang dinamanakan malam Mi'raj itu/

  2. Berkata Jibril/ Wahai Muhammad/ Itu" dinamakan"
    1 0

malam pertemuan (antara) engkau dengan Tuhanmu/ Diberitahukan kepadamu/ Segenap yang diciptakan-Nya untukmu/ Karena "Ia" 1 1 sangat rindu kepada engkau Muhammad/

  1. Berkata Nabi kita Muhammad Sallallhu Alaihi Wasallam/ Wahai Jibril/ Di mana bertempat tinggal Allah Taala/ Apa kah Tuhanku tinggal di langit/ Ataukah di bumi/
  2. Berkata Jibril/ Hai Muhammad/ la di atas langit yang bersusun tujuh/ Tinggal di atasnya "Arasy" menyelengga- rakan penciptaan (seluruh) alam bersama isinya/
  3. Maka bangkitlah Surona Allah Taala
    1 3

I Bergandengan

tangan dengan Jibril/

  1. Diapit oleh "Mikail" 14 I Serta "Israfil"
    1 5

I Serta pula

"Israil " 1 6 I

  1. Mi'raj (bhs. Arab) berarti naik, maksudnya peristiwa kenaikan Muhammad ke langit untuk bertemu dengan Allah Taala pada suatu malam yang dikenal oleh segenap kaum muslimin, sebagai malam mi'raj. Orang Bugis menyebutnya merajek.
  2. Arti = makna; maksud; tujuan dari malam mi'raj tersebut pada catatan kaki (Foot Note) No. 8. I 0. Iden tik dengan ka ta ''disebu t"
  3. Maksudnya Tuhan Allah SWT.
  4. Suro (Bhs. Bugis) artinya utusan. Surona Allah Taala, berarti utusan-Nya Allah Taala. Istilah tersebut termasuk pula salah sa tu gelar (sebutan dan panggilan) bagi nabi Muhammad.
  5. Mikail, salah satu malaikat dengan tu!J!S tertentu dari Tuhan YME.
  6. Israfil, salah satu malaikat yang mempunyai pula tugas-tugas khusus dari Allah Taala.
  7. Israil, malaikat yangmempunyai berbagai tugas khusus di samping Jibril, Mikail, dan Israfil.

  8. Lalu (mereka) keluar dari pintu rumahnya/ Maka dilihat- nyalah cahaya yang sangat terang/ Dilihatnya pula bukit wukuf
    1 7

I Dilihatnya pulalah bintang-bintang/

  1. Maka pergilah toriyamasenna Allah Taala/ Pada batu yang dinamakan Ka'batul Islam / Sesudah itu diangkatkan-lah baginya kursi / Lalu ia duduk berdampingan (dengan) Jibril /
  2. Mikail lalu disunih pergi ke surga/ (untuk) mengambilkan kuda/ Hanya sekejab mata saja ia sudah tiba di sruga/
  3. Ia pun membuka pintu surga/ Berkatalah malaekat yang (bertugas) menunggui surga/ Siapa gerangan di pintu itu/
  4. Berkata Mikail / Saya disuruh mengambil kuda/ (buat) toriyamasenna Allah Taala / Yang bernama Muhammad/ Maka saya hendak mengambilkan kuda bagi toriyamasenna Allah Taala/
  5. Menyahutlah malaekat/ Yang menunggui surga/ Sang malaikat itu berkata/ Saya sangat gembira karena engkau mau menjemput kuda untuk baginda toriyamsenna Allah Taala/
  6. Berkata Mikail/ Kuda tunggangannya para Nabi yang ter- dahulu
    1 8 (yang) akan kujemput buat Muhammad/ Orang yang dihormati dan dimuliakan /

  7. Bukit wukuf, ialah bukit tempat penyelenggaraan wukuf dalam rangka menu- naikan ibadah haji. Bukit tersebu t bernama bukit Arafah. Dalam kehidupan kaum muslimin sebagai kesatuan sosial religius, bukit Arafah merupakan tempat pertemuan segenap kaum muslimin yang sengaja datang me- nunaikan Ibadah haji dari seluruh belahan bumi. Pada saa t itu mereka tampil dengan busana serba pu tih, lam bang kesucian dan persa tuan Muslimin.

  8. Kuda dimaksud, ialah kuda yang memang selalu menjadi tunggangan yang per- nah diangl

  9. Didengamyalah (oleh) kuda itu/ Suara Mikael lalu berkata lah/ Kuda itu/ Saya tidak sudi meninggalkan surga ini/

  10. Maka berkatalah malaikat yang menunggui surga itu/ Hai Buraq
    1 9

I Kenapa engkau tidak sudi meninggalkan surga/

Tidakkah engkau takut kepada Allah Taala/

  1. Maka takutlah sang Buraq/ Mendengarkan ucapan si malaikat/ l..alu keluarlah Buraq itu/
  2. Ia dialasi
    2 0 dengan kain beludru/ Dipasangi dengan tali les terbuat dari ratna mutu manikam/ Dihiasi dengan permata beraneka macam/ Kemudian ditarik dengan tali kekang yang terbuat dari tali-emas/ Dan hanya dalam sekejap mata tibalah ia di hadapan Rasulullah/

  3. Berkatalah Jibril/ Hai Muhammad/ Naiklah di atas Buraq mu/ lalu kita berangkapt ke Masjidil Haram/ Maka bangkit- lah surona Allah Taalah ingin naik ke punggung Buraq/

  4. Sehingga kagetlah si Buraq itu sampau meloncat-loncat/ Tidak sudi tunggangi oleh surona Allah Taala/
  5. Berkatalah Jibril/ Kenapa engkau tidak sudi ditunggangi oleh Surona Allah Taala yang bemamas Muhammad/
  6. Orang yang memiliki agama smak cucunya Muhammad Alaihissalam/ Ayahnya bemama Abdullah/ Puteranya Abdul Mutthalib/ Puteranya Hasyim/ lbundanya bemama Aminah/ Binti Wahhabi Bin Abdul Manaf/ Binti Suherah/ Binti Kilab/
  7. Buraq, adalah kuda glib yang dikenal kaum muslim sebagai kuda tunggangan nabi Muhammad dalam peristiwa isra' mi'raj. 20 Dipasangi pelana.

  8. Maka kagetlah si Buraq itu / Mendengarkan penjelasan malaikat Jibril/ Buraq itu pun merendahkan dirinya di hadap- an surona Allah Taala /

  9. Berkatalah sang Buraq/ Hai Muhammad/ Mohan maafkan perlakuanku/ Sebab sejak saya keluar dari surga maka saya berkata dalam hati/ Apakah saya kembali ataukah takkan kembali lagi (kessurga) /Karena sayalah Buraq tunggangan para nabi terdahulu / Sudah lima ratus nabi yang menung- gangiku / Sayapun sudah lima ratus tahun lamanyasberdiam di surga /
  10. Demikianlah/ Saya ingin mendapatkan janji dari Nabi pi- lihan Allah Taala lagi dimuliakan/ Sehingga sucilah dirinya/ Hamba yang dimulikan Allah Taala/ 03 5. Maka tersenyumlah Na bi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam / Mendengarkan penuturan sang Buraq/
  11. Berkata Surona Allah Taala / Hai Buraq/ Diamlah (biar- kanlah) aku menunggangimu/ Sebab engkau tidak bakal masuk ke dalam surga jikalau bukan engkau kutunggangi / Sebab adapun nabi-nabi yang terdahulu itu yang pernah menunggangimu / Sudah diperintahkan bagiku untuk menyantuninya/ 03 7. Mak bersukacitalah si buraq/ Mendengarkan ucapan nabi kita / Maka majulah Buraq itu / Menciumi kaki Nabi kita/ Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam /
  12. Maka bersdiam dirilah Buraq itu sambil merendah/ l.alu bangunlah Surona Allah Taala / l..alu diiringkan oleh Jibril bersama Mikail / Serta Israfil / Dan juga israil/ Sekitar dua ribu malaikat menemaninya/

  13. Pergilah Buraq itu di antara pegunungan yang besar yang dinamakan Baetal Haram/ Adapun Buraq itu sewaktu-waktu terbang sewaktu-waktu berjalan
    2 1 /

  14. Nabi kita pun kemudian melihat cahaya hitam/ Lalu bertanyalah Nabi kita/ Apa yang tampak olehku kehitaman itu/

  15. Berkata Jibril/ Hai Muhammad/ Itulah cahaynya/ Baetal Makdis/
  16. Berkata Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam/ Al Hamdu Lillahi Katsiran/ Artinya/ Kupersembahkan puji syukur kepada Allah Taala/ Sebab aku sempat melihat Baital Makdis/
  17. Tibalah sang Buraq/ Lalu "nedarat"
    2 2 di jabatul Islami/ Di negeri yang disebut Mesir/ Bertanyalah Nabi kita/ Apa gerangan itu wahai Jibril/ Yang sangat harum/

  18. Berkata Jibril/ Itulah kuburannya/ Yang bemama/ I Masyitha
    2 3

I Juru sisir

2 4 nya permaisuri baginda raja Mesir "Toriyagellinna Allah Taala" 2 5 /

  1. Dalam cerita keagamaan yang bersifat legendaris dan mitologis, Buraq itu dike- nal sebagai kuda gaib yang ajaib sekaligus berkemarnpuan tinggi untuk menempuh perjalananjauh dengan kecepatan sangat tinggi,jauh lebih cepat dari cahaya maupun suara. Sebagai suatu jenis kuda yang dapat terbang di angkasa a tau pun berjalan di atas bumi, maka sebagian war ga masyaraka t Bugis menggambarkan Buraq i tu sebagai kuda yang bukan hanya dilengkapi dengn empa t kaki yang berladarn, tetapi dilengkapi pula dengan sayap yang kokoh dan kuat.
  2. Maksudnya Buraq itu menjejakkan kaki di atas bumi, setelah menempuh per- jalanan jauh dengan melayang di atas permukaan tanah. Sarnpai sekarang belum dapa t dipastikan bagaimana keadaan sesungguhnya pada saa t Buraq itu terbang di udara. 23 Masyitha adalah seorangwanita saleh yang hidup di zarnan kerajaan Mesir kuno.
  3. Harnba sahaya yang bertugas menyisir anak-anak rarnbut di kepala milik permai- surinya raja Firaun.
  4. Identik dengan ungkapan "Lakna tullah''; Orang terku tuk.

  5. Ia menyisiri rambut permaisurinya Firaun
    2 6 / Maka ter- jatuhlah sisir itu dari tangannya/ Lalu berkatalah I masyitha/ Laa llaaha Illal Laahu Muhammadan Rasulul Lahu/

  6. Sehingga rusaklah sisir miliknya We Jariyah/ Permaisurinya Firaun/ Orang yang tiada menyembah kepada Allah Taala/

  7. Berkata Jibril/ Wahai Muhammad/ Berkatalah isterinya raja Firaun/ Hai Masyitha/ Apa yang engkau ucapkan untuk Tuhannmu/
  8. Berkata I Masyitha/ Saya Semanamakan-Nya seperti yang engkau sudah dengar
    2 7 /

  9. Berkata E Jariyah/ Wahai Masyitha/ Sekali-kali janganlah engkau berulangkali menyebutnya/

  10. Berkata I Masyitha/ Hai Jariyah/ Takkan aku kurangi/ Kata yang sudah kuucapkan/ Melainkan akan kuulang ber- kali-kali/ Menyebut (nama) Tuhanku/ Tuhanmu juga/ Tuhan bagi seluruh makhluk/
  11. Berka ta I Jariyah/ Hai Masyitha/ Segeralah bertaubat/ Sebelum saya melaporkannya kepada baginda raja Firaun/ Kalau ia murka/ Mendengarkannya maka engkau akan di- masak di dalam minyak/
  12. Empat ratus empat puluh juru sisir rambutku/ Engkau-lah yang paling kusenangi/ Demikianlah maka saya kehendaki agar engkau mohon ampunan/ Atas perkataan yang telah dikau ucapkan/
  13. Firaun, adalah raja Mesir yang mendakwakan diri sebagai Tuhan.
  14. Pen~uan "La Ilaha Illallah Muhammad clan Rasulullah".

  15. Berkata I Masyitha/ Hai Jariyah/ Saya tidak akan bertobat/ Sebab aku bertaqwa kepada Tuhanku Allah Taala/ Tuhan- mu juga/ Tuhannya pula segenap makhluk/ Tuhannya juga Firaun/

  16. Berkata I We Jariyah/ Wahai Masyitha/ Engkau beranggap- an rupanya (bahwa) masih ada Tuhan, selain Firaun/
  17. Berkata I Masyitha/ Hai Jariyah/ Tidakkah engkau tahu/ Bahwa engkau telah diciptakan oleh Allah Taala/ Demikian juga Firaun/
  18. Berkatalah E Jariyah/ Saya sungguh-sungguh akan mela- porkannya kepada Firaun/
  19. Berka ta I Masyitha/ Sungguh ! pergilah engkau menyampaikan laku perbuatanku kepada baginda raja/
  20. Berkata I Masyitha/ Celakalah We Jariyah/ Suami -isteri/ Serta segenap orang yang mengikuti tindakannya/ Yaitu
    2 8 / orang-orang yang menyembah berhala

  21. Maka pergilah We Jariyah/ Untuk menyampaikan kepada/ Baginda Raja di negeri Mesir/

  22. Berkatalah Raja Mesir/ Kenapa sampai rusak sisirmu/
  23. Berkata I We Jariyah/ I Masyitha mengatakan/ Ada/ Tuhan selain dirimu yang disembah secara sungguh-sungguh. Itu-. lah sebabnya maka sisirku jadi rusak /
  24. Dalam sejarah nabi-nabi kawn penyembah berhala bukan hanya dikenal pada zaman Firaun. Sistem penyembahan seperti itu bahkan sudah dikenal sejak zaman nabi Ibrahim, bahkan nabi Ibrahim itu sendiri pernah dilemparkan ke dalam api unggun oleh kaum kafir, karena menghina berhala sembahan mereka. Malahan sistem penyembahan terhadap berhala-berhala diriwaya tlcan tetap ber- kelanjutan sampai masa pengangka tan Muhammad menjadi Rasul Allah di zaman Islam. Mereka pulalah penghambat utama bagi nabi Muhammad dalam menyiarkan ajaran Islam.

  25. Berkata Firaun/ Panggilkanlah ke mari I Masyitha/ I Masyi-
    2 9 tha pun dijemput/ Berka ta orang yang disuruh I Wahai Masyitha/ Engkau dipanggil baginda raja Firaun/ Suami isteri/ Baginda (raja) sudah sangat murka/

  26. Berkata I Masyitha/ Biarkanlah murka si penyembah ber- hala itu/ Nantilah kalau ia ma ti baru masuk ke dalam neraka 3 0 /
    Bersama dengan seluruh pengikutnya/ Lal u pergilah I Masyitha menghadap/ Kepada Firaun/

  27. Berkata Sang raja di negeri Mesir/ Hai Masyitha/ Apakah
    3 1 gerangan yang telah engkau sampaikan kepada tuanmu I Berkata I Masyitha/ Sama seperti apa yang dilaporkannya/

  28. Berkata Firaun/ Rupanya engkau menyangka/ Ada lagi Tuhan selain diriku ini/ Berkata I Masyitha/ Allah Taala Tuhanku/ Bersama utusannya
    3 2 I Tuhan kamu juga/ Tu- hannya juga seluruh makhluk ciptaan-Nya/

29 Maksudnya "suruhan"; utusan (raja Fir'aun) yang disuruh menyampaikan panggilan tuannya kepada I Masyitha.

  1. Neraka = Jahanam, api menyala-nyala, tempat penyiksaan yang disiapkan bagi setiap orang yang tirnbangan dosanya lebih berat dari tirnbangan amal salehnya selama hidup di alam fana. Orang muslim menyebut neraka itu sebagai tempat kembali yang paling buruk bagi sebagian uma t manusiia.
  2. Dalam konteks kalirna t tersebut istilah tuan ditujukan kepada permaisuri raja Firaun (Jariyah) yang sekaligus menjadi majikan dari I Masyitha.
  3. Utusan Allah = Rasul Allah. Dalam sejarah Islam dikenal adanya sebanyak empat puluh Rasul. Para rasul tersebut sekaligus pula sebagai nabi. Rasul adalah orang yang menerima wahyu dari Tuhan untuk diri sendiri dan umma tnya, se- dangkan para nabi hanya menerima wahyu dari Tuhan untuk diri sendiri. Dari seluruh rasul, ada tiga orang pembawa agama, yaitu Musa pembawa agama Yahudi; Isa pembawa agama Nasrani; serta Muyammad sebagai pembawa Islam.

murkalah Firaun/ Mendengarkan pengakuan I Masyitha/ Lalu berkatalah Firaun/ Hai Masyitha tidak maukah engkau bertobat ?/ Berkata I Masyita/ Saya tidak sudi bertobat/ Bahkan aku akan tetap mengulang-ulang menyeru nama Tuhanku Allah Taala/ Tuhannya pula se- kalian makhluk/

  1. Maka meluaplah kemarahan Firaun/ Dititahkannyalah agar dinaikkan
    3 3 kuali/ Dan diprintahkannya supaya di- jerangkan minyak untuk merebus (tubuh) I Masyitha/ Maka sangat bersukacitalah I Masyitha/

  2. Berkatalah I Masyitha/ Kalian semua yang menjerang kuali akan bersama Firaun/ Masuk ke dalam neraka/

  3. Sebanyak tujuh kali minyak itu mendidih/ Kemudian di- panggillah I Masyitha/ Maka diajaknyalah anaknya/ Berkatalah ia/ Wahai ananda/ Marilah/ Kita pergi ke rahmat Allah Taala/ Adapun bagi Firaun biarkanlah dia pergi ke laknatullah/
  4. Berkatalah I Masyitha/ Loncatlah engkau lebih
  5. Maka loncatlah anaknya I Masyitha/ Bersama suaminya/ Loncat pulalah I Masyitha/ Lalu merekapun mati dalam minyak (yang sedang mendidih) itu/ Ketika nyawanya keluar dari tubuhnya maka dirasakannyalah kenikmatan yang tiada taranya/ Allah Taala jugalah yang mengetahui batas kenikmatannya/
  6. Adapun wajahnya/ Seolah-olah nian adalah remaja pengan- tin baru/ 33 Menaikkan kuali ke atas tungku untuk tempat menjerang minyak yang akan di- gunakan merebut Masyitha sekeluarga.

  7. Berka ta Jibril/ ltulah Muhammad/ Yang demikian harum kuburannya/ Yang bernama I Masyitha/ Dan (ada) empat puluh malaekat diperintahkan oleh Allah Taala/ Untuk menyiraminya dengan harum-haruman/ Pagi-sore /

  8. Berkata Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam / Wahai Jibril / Mengapa negeri Mesir itu sampai hitam /
  9. Berkata Jibril/ Hai Muhammad/ Tidakkah engkau menge- tahuf Firaun/ Orang terkutuk yang dilaknat oleh Allah Taala/ Ia mendakwakan dirinya/ (sebagai) Tuhan Pencipta/
  10. Berkatalah Nabi Musa 34/ Wahai Firaun/ Tidakkah engkau tahu/ Allah Taala yang menciptakan Langit/ Serta tanah itu/ Maka sangat murkalah Firaun/
  11. Berka ta Jibril / Wahai Muhammad/ Ia menanyakan tempat bermukimnya Allah Taala/ Lalu berkatalah Nabi Musa/ Di atas langit ketujuh Ia mengendalikan alam bersama isi- nya/
  12. Maka Firaun pun memerintahkan untuk membuat menara/ Karena ia bermaksud naik ke langit untuk memerangi Allah Taala/ Maka selam tujuh puluh tahun ia membuat menara/ Belum juga mencapai sepertiga jarak dari langit/ Tiba-tiba datanglah angin kencang merobohkan menara- nya/ Bahkan sepertiga bagian dari wilayah negeri Mesir ter- timpa menara bersama Firaun suami-isteri/ Beserta berhala- nya/ Bersama lasykamya/ Serta berhala sembahan raja di negeri Mesir
    3 5 I

  13. Berka ta Na bi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam / Wahai Jibril / mari kita pergi ke Darussalam/ Berkata 34 Nabi Musa, adalah nabi clan rasul Allah Taala yang berjuang, menentang kei.a- liman di zaman pemerintahan raja Firaun. 35 Dalam cerita lain yang bersifat dakwah seringkali diungkapkan Firaun seba!Jli tokoh kafir yang karam di laut merah ketika memerangi Nabi Musa.

seba!Jii tunggangan.

  1. Berkata Jibril / Kenapa engkau tidak mau menyahut/ Ti-dakkah engkau kenal toriyamasenna Allah Taala/ Maka kagetlah Imam Mahdi/ Bergegaslah ia/ pergi menciumi Munammad/ Jibrilpun membacakan azan / Maka bersem- bahyanglah (sebanyak) dua rakaat/ Rasulullahi Taala/ Bersama Imam Mahdi/ 08 7. Seusai menunaikan salat/ la pun pergilah ke gunung yang bernama Ja 'ala Lahum / Duduklah Munammad/ Bersama Jibril / Maka bertanyalah Nabi kita/ Muhammad Sallallanu Alaihi Wasallam/
  2. Berka ta Rasulullahi Taala/ Suara apa tadi itu yang kude- ngar/ Berkata Jibril/ Wahai Muhammad/ ltulah Panggilan kaum Nasrani / Sekiranya engkau memandang kepadanya/ Ataukah engkau menantikannya/ Maka seluruh umatmu ai<:an menjadi Nasrani/ Berkata toriyamasenna Allah Taala/ Wahai Jibril / Ada pun itu/ Perempuan yang kulihat/ Can- tik wajahnya/ Lagi ramai pakaiannya/
  3. Berka ta Jibril / Wahai Munammad / Itulah seruan duniawi/ Sekiranya engkau membawanya ikut/ Maka seluruh umatmu akan lebih besar dunianya daripada akhiratnya/ Berkata Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam/ Hai Jibril / Bagaimana dengan laki-laki yang kulihat di dalam Masjidil Haram / Dalam pakaian putih itu/
  4. Berkata Jibril / Wahai Muhammad/ Dialah itu yang bernama Imam Mahdi/ Orang yang dibersihkan rahasianya oleh Allah Taala / 091. Maka pergilah pula Toriyamasenna Allah Taala / Di Masjidil Haram/ Bersama Jibril / Lalu Jibril memanggil ke langit/ Bahwa/ Bukakanlah bagi kami pintu langit/
  5. Maka pergilah malaikat ke surga/ Mengambilkannya tangga/ Maka nabi .kita pun melihat tangga itu/ Seluruhnya

Serta dihiasi de- ngan aneka ragam batu permata/

  1. Maka berangkatlah Rasulullahi Taala/ Bersama Jibril/ Dan dinai.kinya lapisan bagian paling bawah/ Nabi kitapun melihat/ Malaikat/ Tujuh ribu/ Berbaris/ Bermahkota emas seluruhnya/ Berkata segenap malaikat itu/ Subhanallahi Wabihamdihi/
  2. Nai.klah Nabi kita di lapisan yang kedua/ Nabi kita melihat pula malaikat/ Berbaris/ Semua mengenakan mahkota einas/ Dahi mereka semua bertuliskan/ Tulisannya ber- bunyi/ Subhanallahi Wabihamdihi/ Subhanal mali.kul Quddusi
    37 /

  3. Naik pulalah Nabi kita pada lapisan/ Yang ketiga/ Maka dilihatnya pula Rasulullahi Taala/ Malaikat sebanyak tiga kati/ Semuanya mengenakan mahkota emas/ Segenap pakaiannya ramai/ Terpencar-pencar cahaya. keluar dari mulutnya/

  4. Berkata Nabi kita/ Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam/ Siapa gerangan itu Wahai Jibril/ Ramai pakaiannya/ Dan bertebaran cahaya keluar dari mulutnya/
  5. Berka ta Jibril/ Wahai Munammad/ Siapa-siapa umatmu membaca seperti yang dibaca para malai.kat itu/ Yang ber- bunyi Astagfirullah apabila mereka menguap/ Maka demi- kian pulalah cahaya yang akan ke luar dari mulutnya/
    38

  6. Tulisan tersebut termasuk pula pernya 1aan pula dan puji, dibacakan oleh ka um muslim, baik dalam rangkaian doa-doa maupun sebagai puji syukur yang di- persembahkan kepada Allah Taala yang lazim dibaca seusai me1U1naikan ialat lima waktu.

  7. Bacaan istigfar tersebut., lazim diajarkan orang tua kepada anak selagi masih berusia kanak-kanak.

  8. Naiklah pula Nabi kita/ Pada lapisan/ Yang keempat/ Maka Nabi kitapun melihat pula malaikat/ Allah Taala jugalah Yang Maha Mengetahui jumlahnya/ Masing-masing sama mengucapkan / Demi.kian bunyi bacaannya/ La Ilaha Illa Huwal Mubin/

  9. Berka ta Jibril/ Wahai Muhammad/ Siapa-siapa (dari) um- matmu membaca baan para malaikat/ Kendati hanya se- kali dalam setiap malam / Maka akan diampunkan dosanya oleh Allah Taala /
  10. Naiklah lagi Nabi kita pada lapisan yang kelima/ Dilihat- nya pula malaikat tujuh macam/ Berbaris/ Adapun peras mukanya seolah-0lah/ Tampaknya bagaikan bulan puma- ma/ Masing-masing mengucapkan/ Asyhadu An Laa Ilaha
    39 Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah/

  11. Berkata Jibril/ Wahai Muhammad/ Itulah para malaikat/ Yang mengucapkan bahwa/ Alhamdu Lillah/ Artinya/ Saya menghaturkan puja dan puji kepada Allah Taala / Karena(sempat) memandang/ Muhammad/ Orang pilihan Allah Taala lagi dihormati/

l 02. Rasulullahi Taala lalu menengadah ke atas/ Maka dilihat- nyalah cahaya/ Dua berdampingan/ Tiada uoahnya dengan dian yang tak kunjung padam/ Adapun cahayanya Allah Taala jugalah Yang Maha Mengetahui gemerlapnya masing-masing cahaya tersebut/

40 /

  1. Berkatalah orang yang dirahmati Allah Taala Wahai Jibril / Cahaya apa gerangan yang kulihat itu/ Dua berdampingan/ Berkata Jibril/ Wahai Mui1ammad/ ltulah tem- patnya nyawa/ Yang bagian sebelah timur/ ltulah yang di- 39 Saat ini dikenal sebagai rukun Islam yang pertama.
  2. Salah gelar (panggilan maupun sebu tan) bagi nabi Muhammad.

nyawa-nyawa yang tidak digunakan di dunia/

  1. Adapun nyawa yang sudah digunakan/ Itulah yang dinama- .kan Jabatul Hannanu/ Tempat bersemayam nyawa-nyawa yang sudah digunakan di dunia/ Kemudian tinggal tergan- tung di atas Arasy
    41 /

  2. Berkatalah Rasulullahi/ Sudah sepertiga bagiankah orang yang meninggal/ Dibandingkan dengan (mereka) yang be- lum lahir/ Maka naiklah Utusan Allah Taala/ Pada lapisan yang keenam/ Masing-masing lapisan itu ditempuh hanya di dalam (waktu) sekejap mata/

  3. Maka tibalah Utusan Allah Taala pada lapisan yang ketu- juh/ Bersama Jibril/ Nabi kita pun menghitung lapisan anak tangga itu/ Ada sebanyak limapuluh lima batang/ Sekiranya (tangga) tersebut diletakkan (di atas tanah) kemudian dijalani/ Kira-kira akan ditempuh selama limaratus tahun untuk masing-masing ruas tangga/
  4. Berkatalah Jibril/ Wahai Malaikat/ Bukakanlah pintu langit/ Berkata malaikat yang menjaga palang pintu langit/ Siapakah gerangan (orang) di depan pintu/
  5. berkata Jibril/ Muhammad yang kutemani/ Berka ta malaikat si penjaga pintu langit/ Sallallahu Alaihi Wasallam Kemudian pergilah malaikat itu membukakan pintu langit/
  6. Naiklah Rasulullahi Taala/ Bersama Jibril/ Maka berda- tanganlah segenap malaikat yang tinggal di langit/ Meng- haturkan sembah sujud kepada orang yang diralunati Allah Taala/ 41 Sehubungan dengiin faham tentang nyawa yang keluar dari tubuh manusia ketika seseorang meninggal dunia, wargii masyarakat setempat menyebut orang ma ti sebagai Tomewek ri pammasena puwang Allah Taala (orang yang kembali ke Rahmat Allh).

  7. Maka pergilah Rasulullahi Taala berjalan-jalan/ Bersama Jibril/ Maka dilihatnyalah segenap bintang di langit/ Lalu beliau pun berkata kepada Jibril/ Saya sudah melihat segenap bin tang yang ada di langit/ Temyata bintang yang paling kecil ialah yang kira-kira dapat dijalani selama tiga hari/

  8. Maka Jibrilpun membacakan Adzan/ Maka didirikannya salat dua rakaat/ Oleh Rasullahi Taala/ Bersama malaikat seluruhnya/ Seusai sembahyang/ Iapun naik ke langit yang kedua/
  9. Hanya dalam sekejap mata saja iapun tiba/ Adapun antara setiap ruas tangga/ Sekitar limaratus tahun lamanya dijalani/
  10. Berkatalah Jibril / Bukakanlah pin tu langit/ Berka ta malaikat yang menjaga pintu langit/ Siapakah gerangan/ yang ada di depan pitu/ Berkata Jibril/ Muhammad yang ku- temani/ Berkatalah segenap malaikat/ Allahumma Salli Ala Muhammad
    42 / Kemudian dibukakanlah pintu langit/

  11. Maka naiklah Rasulullahi Taala/ Dilihatnyalah bulan/ Di- lihatnya pulalah matahari sedang ditarik/ Nabi kita pun menghitung perjalanan matahari/ Sebanyak tujun kali berputar untuk sebelah roda/ Ada sebanyak delapan malaikat yang menyiraminya dengan air sepanjang hari/ Dua belas jam lamanya perjalanan matahari sampai ke kaki langit/ Barat -timur/4
    3

  12. Bertanyalah Nabi kita/ Mengapa gerangan wahai Jibril/ Maka matahari itu disirami air rodanya/ Berkata Jibril/

  13. Semacam doa, kurang lebih berarti "Wahai Tuhan berilah keselamatan atas diri Muhammad. 43 Sesuai dengan anggapan masyarakat Bugis, seolah-olah mata hari itu menge- lilingi bola bumi dari arah timur ke barat.

Sangat tampan dan sangat besar/ Duduk di atas kursi cahaya/ Hanya Allah Taala jugalah Yang Maha Mengetahui besar- nya/

  1. Ada banyak malaikt berbaris/ Sama mengenakan mahkota emas/ Dikerumuni sekelilinya/ Maka pergilah Nabi kita memberinya ucapan selamat/ Manun ia tidak sudi menya- hut
  2. Lalu berkata nabi Yadam
    4 4

I Siapa gerangan yang me-

nyalamiku itu/ Berkatalah Jibril/ Tidakkah engkau mengetahui Muhammad/ Orang pilihan Allah Taala serta diberi- nya keselmatan/

  1. Maka nabi Adam pun sangat gembira/ Lalu ia pergi men- cium Muhammad/ Sementara .segenap malaikat sama berkata/ Sallallahu Alaihi Wasallam/
  2. Masyarakat Bugis umumnya mengenal Nbi Adam seba~ manusia pertama di bumi, sekaligus menjadi cikal bakal makhluk manusia seluruhnya,

Sebab ia memandang anak cucunya dalam neraka/ Makanya ia tertawa apabila menoleh ke kanan ka- rena ia memandang anak cucunya di dalam surga/ Lalu Adzanlah Jibril/ Rasulullahi Taala pun melakukan sembahyang dua rakaat/ Bersama nabi Adam serta segenap malaikat/

  1. Sesudah Rasulullahi Taala melakukan sembahyang/ Beliau- pun naik lagi ke langit yang keempat/ Dalam waktu se- kejap mata saja tibalah ia/ Berkata Rasulullahi Taala/ Sekiranya diletakkan / Di atas bumi kemudian dijalani/ Se- kitar lima ratus tahun lamanya dijalani/
  2. Berka ta Jibril/ Bukakanlah pin tu langit/ Berka ta malaikat penjaga pintu langit / Siapa gerangan di pintu Berkata Jibril/ Muhammad yang kutemani/
  3. Bergegaslah malaikat itu membukakan pintu langit/ Maka naiklah rasulullahi Taala/ Lalu semua malaikat

berkata/ Siapakah itu wahai Jibril/ l..alu berkatalah Jibril/ Itulah Muhammad orang dirahmati Allah Taala/ Maka segenap malaikat itupun datang memberi hormat kepada Muhammad/ Masing-masing mengucapkan/ Sallallahu Alai- hi Wasallam/

  1. Kemudian pergilah Rasulullahi Taala berjalan-jalan /Bersama Jibril/ Maka Nabi kita pun melihat seekor ayam ber- bulu putih/ Kuning mulutnya/ Kuning kakinya/ Kuning matanya/ Bersanggul mahkotanya/ Adapun lidahnya dihiasi dengan aneka wama permata (yang ada) di dalam surga Ada pun matanya intan berbinar/ Sedangkan cotok- nya adalah emas mumi/
  2. Berkatalah Rasulullahi Taala/ Ayam apa gerangan itu wahai Jibril/ Berkata Jibril/ Itulah ayamnya Arasy/ Jikalau ia berbunyi/ Di saat malam telah sepertiga perjalanan/ Ikut pulalah segenap ayam di atas bumi/ Suaranya melafadz- kan/ Nabiyyullahi Dzikrullahi/ Artinya/ Wahai segenap yang tidur/ Bangunlah kalian semua/ l..alu haturkan puji- pujian kepada Allah Taala/ Supaya kamu semua diberi Allah Taala Rahmat di akhirat/
  3. Adapun bunyinya di siang hari/ lalah/ Subhanallahi wabihamdihi Subhanallahil Azdirn/ Artinya/ wahai mu- slimin dan muslimat/ Sadarlah kalain semua atas keesaan Allah Taala/ Mudah-mudahan kamu semua tidak dimasuk- kan-Nya Ke dalam neraka/ 13 2. Maka pergilah Rasulullahi Taala berjalan-jalan/ Bersama Jibril/ Ditemukannya pula malaikat/ Duduk di atas kursi bercahaya api/ Dalam keadaan marah dengan sangat/ Memegang sabut (terbuat dari) api neraka/ Pada setiap sabuk. ada sebanyak delapan puluh orang hukuman/ sekiranya (sabuk itu) diletakkan di dunia/ Kendati hanya sekejap mata/ Akan hancurlah dunia tersebut/

mende- ngarkan teguran Allah Taala/ Di langit ketujuh/ Berkata Jibril/ Wahai Malaikat/ Tidakkah engkau mengenal orang dirahmati Allah Taala/ Di dua benua 4 6 I

13 5. Berkatalah ia dengan percikan-percikan cahaya yang keluar dari mulutnya/ Dmikian ucapan si malaikat/ Wahai Muhammad/ Mohon dengan sangat kiranya engkau me- maffkanku Sebab saya sidaj do) eromtajlam Allah Taala/ Bermuka pemarah/ Adapun yang kutunggu ialah umatmu yang tidak mengikuti kelakuanmu/ Akan kuambil seluruh perlakuan buruknya/ Yang sudah dilakukannya di dunia/

  1. Berkata Rasulullahi/ Wahai Malaikat/ Bukakanlah pintu neraka/ Supaya aku lihat negeri ummatku/ Yang memiliki dosa besar/
  2. Berkata si malaikat/ Wahai Muhammad/ Tidak akan ku- biarkan dibuka pintu neraka/ Sebelum dunia kiamat/
  3. Sang malaikatpun mendengar suara/ Yang berkata/ Bukakanlah pintu (neraka)/ Sebab Tidaklah kuciptakan dunia itu bersama isinya/ Kalau bukan karena Muhammad/
    seba~an masyarakat Bugis
45 Sesuai dengan penegasan Allah Taala tersebut maka
beran81'1pan bahwa namun semua dikuasai oleh Nabi Muhammad atas ridho Allah Taala.
46 Dua benua, yaitu dunia dan akhirat

dunia bersama segiiia isinya memang diciptakan Allah,

I.alu dica-
butnya palang pin tu neraka/ Hanya sebesar lubang jarum jualah lubang yang dilalui asap api neraka/ Namun sudah menjadi gelaplah langit dan bumi/

  1. Maka masuklah Rasulullahi Taala/ Bersama Jibril/ Maka Muhammad pun melihat orang (penghuni neraka)/ Lalu nabi kita Muhammad pergi berjalan-jalan/ Bersama dengan Jibril/
  2. Ditemuinyalah seseorang/ Laki-laki yang disiksa/ Diduduk- kan di dalam dulang api neraka/ Kemudian dikait dengan besi/ Lldahnya terjulur sampai ke tanah/ Berkata Nabi kita/ Siapa gerangan itu/ Berkata Jibril/ ltulah umatmu/ Yang menganiaya sesamanya manusia/ Dan ia tidak ber- tobat sebelum meninggal/
  3. Lalu Nabi kita meninggalkannya/ Dilihatnya pula sebuah rumah di dalam neraka/ Skitar tujuh puluh orang hukuman yang menunggui rumah tersebut di dalam neraka/ Bertanyalah Nabi kita kepada Jibril/ Nabi kita berkata/ Siapa punya rumah besar di tengah neraka itu/
  4. Maka pergilah Nabi kita berjalan-jalan/ Dilihatnya pula seorang laki-laki/ Dirantai kakinya/ Rantai yang terbuat dari api neraka/ Matanya sebelah menyebelah ditusuk dengan besi membara/ Kemudian mulutnya dituangi dengan timah panas yang mencair/ Tulang belulangnya terkelupas terbakar api dan terpanggang di atas asap neraka
  5. Bertanyalah Nabi kita kepada Jibril/ Berkata Nabi kita/ Siapa gerangan yang disiksa demikian itu/ Berkata Jibril/ Wahai Muhammad/ Itulah umatmu/ Yang suka berikai dan saling beselisih antara sesamanya/

Siapa gerangan wanita di tengah kobaran api neraka itu/ rupanya terputar ke belakang/ Kemudian lidahnya disirami dengan cairan timah yang sedang men- didih/ Dan mulutnya ditusuk dengan besi yang merah membara/ Berkata Jibril/ Wahai Muhammad/ Itulah

Perempuan yang di- jungkir balikkan/ Lalu kemaluannya ditusuk dengan besi dan tembus sampai ke mulutnya/ Serta di kedua telapak tangannya diletakkan bara api dari neraka/ Berkata Jibril/ Hai Muhammad/ Itulah umatmu/ Perempuan yang gemar pergi bertetangga/ Tanpa memberi tahukan kepada suaminya 4 8 /

  1. Nabi kata lalu keluar dari neraka/ Barsama Jibril/ Bergegaslah malaikat/ Menutup kembali pintu neraka/ Kemudian Jibril pun membacakan adzan/ Maka nabi- pun mandirikan salat dua rakaat bersama segenap malaikat/
  2. Seusai sembahyang/ Naiklah Na bi kita Sallallahu Alaihi Wassallam di langit yang kelima/ Sekejap mata jua iapun tiba/ Berkatalah Jibril/ Bukakanlah pintu langit/
  3. Berkata malaikat yang menjaga pintu langit/ Siapa gerang- an di pintu itu/ Berkata Jibril/ Muhammad yang kutemani/ 47 Ungkapan ini mengandung arti kiasan. Perempuan yang tidak mengenakan ku- dung diibaratkan bagi perempuan yang suka dan gemar membocorkan rahasia rumah tangga dan kehidupan keluarga sndiri terhadap orang lain di luar rumah tangganya.
  4. Ungkapan ini mempunyai arti simbolik. Prernpuan yang gemar bertetangga tanpa izin suami adalah identik dengan perempuan (isteri) yng suka melacurkan diri kepada lelaki lain.

anrnt elok rupanya/ Sibuatkan kurangan besi dan di- tunggui oleh malaikat di sekelilingnya/ Bermahkota emas seluruhnya/

  1. 3erkata Nabi kita / Siapakah itu wahai Jibril/ Berkata Jibril/ Itulah Nabi Isa Alaihissalam / Maka pergilah nabi kita / Menyalaminya/ Namun ia tidak sudi menyahut/
  2. Berkata Nabi Isa / Siapakah itu wahai Jibril/ Yang me- nyalamiku/ Berkata Jibril/ Itulah orang yang diralunati oleh Allah Taala / Sekalian diselamatkan atas dua negeri (dunia dan akhirat)/ 158 Maka bergegaslah Nabi Isa datang mencium Nabi Muham- mad / Sallallahu Alaihi Wassallam / Nabi Isa pun sangat gembira/ Karena sempat memandang wajahnya Nabi Muhan1mad /
  3. Jibril pun kemudian membacakan adzan/ Maka Rasullu- llahi Taala mendirikan sembahyang dua rakaat/ Bersama Jibril/ Serta Nabi Isa dan segenap malaikat secara kese- luruhan/ 49 Dalam kitab-kitab ajaran Islam Sabaniyah dikenal, sebagai malaikat penjaga neraka. Malaikat tersebut lazim digarnbarkan sebagai malaikat yang berwajah seram, senantiasa bermuram durja dan tidak pernah tersenyum. Sebaliknya Munkar (alih bahasa No. 139) sesungguhnya adalah malaikat yang dikenal sebagai penjaga kuburan. Dialah yang akan menghadapi setiap orang yang mening- gal, setelah dirnasukkan ke Jiang lahad.

  4. Seusai sembahyang/ (Nabi pun) naik lagi ke langit yang ke- enam/ la pun tiba dalam sekejap mata/ Berkata Jibril/ Bukakanlah pintu langit/

  5. Berkata malaikat si penjaga langit/ Siapakah gerangan itu di pintu/ Berkata Jibril/ Muhammad yang kutemani/
  6. Malaekat pun lalu bergegas/ Membuka pintu langit/ Maka naiklah Rasulullahi Taala/ Berdatanganlah segenap malaekat/ Sama mengucapkan/ Sallallahu Alaihi Wassallam /
  7. Berkatalah Jibril / Hai Muhammad/ Siapa-siapa melafaz- kan bacaan para malaikat itu/ Niscaya akan lepas dosanya/ Mereka· pun akan mendapatkan ampunan dari Tuhan Allahu Taala / Ia pun dijauhkan dari siksaan api neraka di akhirat/ Umurnya dipanjangkan/ Rezekinya pun di- murahkan (oleh Allah Taala)/
  8. Pergilah pula Nabi kita/ Dilihatnya lagi/ Seorang laki-laki/ Duduk di atas kursi cahaya/ Dikelilingi malaikat yang berbaris/ Semuanya mengenakan mahkota emas/
  9. Berka ta Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam/ Siapakah itu wahai Jibril/ Yang duduk di atas kursi cahaya sambil dikelilingi oleh para malaikat yang berbaris semuanya lengkap berpakaian mahkota dari emas/ Berkata Jibril/ Wahai Muhammad/ Itulah Nabi Musa Alaihissalam /
  10. Pergilah Rasulullahi Taala menghaturkan salam kepadanya / Berkatalah Nabi Musa
    5 0 / Sia pa gerangan wahai Jibril / Orang menyalamiku itu/ Berkata Jibril/ ltulah orang yang diberikan rahmat oleh Allah Taala/ Ia hendak naik ke langit bertemu dengan Tuhannya/ Maka bergegaslah Nabi Musa menyahut/ wahai Muhammad / Jikalau engkau

50. L'alaJn sejarah Nabi clan rasul, Nabi Musa dikenal ketangguhannya menghadapi ahli-ahli sihir dari raja Firaun.

  1. Berkata Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam / Wahai Jibril / Aku inginkan buah pohon kayu Tubi ter- sebut/ Berkatalah malaikat si penjaga pohon kayu Katubi/ Saya takut pada Allah Taala / Untuk memberimu buahnya/
  2. Berkata Jibril/ Wahai rnalaikat / Kenapa engkau enggan memberikan buah pohon kayu Katubi itu/ Tidakkah engkau mengenal orang Yang Dirahnrnti Allah Taala /
  3. Maka pergilah Jibril / Memetik satu buah pohon kayu katubi itu/ lalu diserahkannya kepada Muhammad /

Kemudian ke luarlah dari dalamnya anak bidadari / Seorang perempuan yang ramai pakaiannya/ Allah Taala jugalah Yang Maha Mengetahui kecantikannya/ Sehingga ter- menunglah Rasulullahi Taala / Menyaksikan perempuan terse but/

  1. Berkata Nabi kita Muhammad / Wahai Jibril / Siapa gerang- an wanita itu/ Berkata Jibril / Itulah rakhmat umatmu Yang mengikuti tingkah lakumu/ 17 5. Berkata Nabi kita/ Wahai perempuan / Masuklah kembali ke dalam buah kayu Katubi itu/ Maka masuklah pula (perempuan itu) sama halnya sebelum dipetik / Buah itu pun merapatkan kembali dirinya ke dahan / Sebagaimana keadaannya sebelum dipetik / 17 6. Rasulullah kemudian pergi pula berjalan-jalan/ Maka di- dapatinya (... )/ ada sebuah kota / Ada pula sebatang pohon kayu besar di dalam kota itu/ Banyaklah malaikat yang menjaganya/ Sama berbaris/ Seluruhnya memakai mahkota emas /
  2. Berkata Na bi kita/ Pepohonan apakah itu wahai Jibril/ Berkata Jibril/ Wahai Muhammad / Itulah yang dinamakan/ .kayu Sidratul Muntaha/
  3. Pergilah Nabi kita/ Silihatnya pula di dalam kota itu/ Pohon kayu yang dijaga masing-masing oleh seorang malaikat yang sangat besar/ Indah pakaiannya/ Adapun daun- daun kayu tersebut / memuat tulisan (tentang) umur bagi setiap yang bemyawa/
  4. Maka Nabi kita pun pergilah menyalaminya/ Namun ia tidak menjawab sepatah kata pun/ Berkatalah Jibril/ Kenapa engkau tidak mau menyahut/ Tidakkah engkau

  5. Berkata Rasulullahi Taala/ Wahai Malaikat / Apakah engkau yang menunggui Sidratul Muntaha/ Berkatalah si malaikat itu/ Sayalah malaikat El maut
    5 1 I Yang diperin- tahkan mengambil setiap makhluk yang bernyawa/

  6. Berkata Nabi kita Muhan1mad Sallallahu Alaihi Wassallam / Wahai malaikat/ Betapa banyak orang meninggal dunia dalam sehari semalam / Engkaukah yang mengambil nyawa mereka semua/

  7. Berkata sang malaikat/ Wahai Muhan1IDad/ ltulah sebabnya maka ada (sebanyak) tujuh keti
    5 2 / Pimpinan lasykar 5 3 I Sedangkan setiap pimpinan masing-masing mempunyai tujuh keti bawahan/ Saya hanya tinggal memperhatikan dedaunan itu/ Jikalau tulisannya tanggal / Kuperintahkan- lah malaikat/ Pergi menjemput nyawanya "Yanu " 5 4 I Di negeri : "anu " 5 5 /

183 Jikalau saya ingin meliliat isi dunia seluruhnya/ Hanya bagaikan sebuah cangkir yang kulihat di hadapanku/ Tidak satu pun isi dunia yang luput dari pengliliatanku/

  1. Nabi kita pun pergi berjalan-jalan/ Dilihatnya pula malaikat/ Allah Taala jugalah Yang Maha mengetahui banyak- nya/ Berbaris/ Dan mengenakan mahkota-emas/
  2. Maka Na bi kit a pun pergi/ Menyalaminya/ Namun ia tidak sudi menyahut/ Malaikat itu lalu mendengarkan suara/
  3. Malaika t pen ca but nyawa.
  4. Satu keti = 100.000,- 5 3 Maksudnya anggotl pasukan malaika t pencabut nyawa.
  5. Si "Yanu" = si Fulan
  6. Sesuatu tempat tertentu; negeri anu (negeri X);

Bahwa/ Kenapa engkau tidak mau menyahuti ucapan sa- lam yang diberikan Muhammad/ Sekiranya bukan karena Muhammad maka niscaya engkau tidak pernah kucipta- kan/

  1. Maka kagetlah malaikat itu/ Lalu menyahut sambil berkata/ Wahai Muhammad/ Mohon dengan sangat kiranya engkau sudi memaafkan diriku/ Sebab saya sudah ditakdir- kan untuk tidak berkata-kata/ Sebelum dunia kiamat/ 187 Maka pergilah pula Nabi kita/ Beliau pun melihat malaikat tujuh ribu/ Berbaris/ Dengan memakai mahkota emas/ Pa- kaiannya ramai/ Maka Nabi kita pun pergi memperhatikan- nya/ Empat wajahnya/ Salah satunya menyerupai kerbau/ Yang kedua menyerupai ayam/ Yang ketiga menyerupai manusia/ Yang keempat menyerupai macan/
  2. Berkata nabi kita Muhammad Sallallahi Alaihi Wasallam/ Wahai Jibril/ Malaikat apakah seperti. itu/
  3. Berka ta Jibril/ Wahai Muhammad/ ltulah malaika t yang (bertugas) menyebarkan rezeki bagi setiap makhluk cip- taan Allah Taala/ Yang menyerupai kerbau/ Dialah yang membagi-bagikan rezeki bagi setiap ternak yang dimakan dagingnya/ Yang merupai manusia/ Dialah yang membagi rezeki bagi semua jenis manusia/ Ada pun yang menyerupai ayam/ Dialah yang rnembagikan rezeki bagi semua jenis unggas (yang dapat terbang)/ Adapun yang menyerupai macan/ Dialah yang membagikan rezeki kepada se- luruh binatang buas/
  4. Pergilah pula Nabi kita/ Beliaupun melihat pula malaikat/ Tujuh ribu kepalanya/ Ada pun kepalanya ada rujuh ribu rupanya/ A

menu- naikan salat/ Serta mereka yang melakukan perantauan untuk menuntut ilmu pengetahuan/ Demikian pula bagi mereka yang melakukan ibadah puasa/ Dalam bulan Ra Ramadlan/

  1. Berkata Nabi Muhammad/ Siapaitu wahai JibriV Berkata Jibril/ Wahai Muhammad/ Itulah malaikat yang bernama Ruhul Amin/
  2. Maka pergilah pula Na bi ki ta/ Beliau pun meliha t pula/ Malaikat yangberkeliling berbaris sambil mengenakan (di atas kepila masing-masing) mahkota-emas/ Hanya Allah Taala jugalah Yang Maha Mengetahui banyaknya/ Pakaiannya pun ramai I
  3. Masing-masing mengucapkan bacaan-bacaan/ ~mikian la- faz bacaannya/ Allahu Nurussunawati wal Ardi Mats;ia Nurihi Berkata Jibril/ Wahai Muhammad/ Siapa-siapa umatmu membaca bacaan para malaikat/ Niscaya akan dimudahkan perjalanan nyawanya/ Kelak apabila ia me- ninggal dunia/ Ia akan diantarkan langsun masuk ke dalam surga/ 196 Maka pergilah Jibril/ Mengambilkan usungan di surga/ Hanya sekejapan mata tibalah ia (di surga)/ Ada yang dina- makan Rappenrappek/ Tidak ada tiangnya/ Tidak ada pula gantungannya/ Dipasangi dinding sutera/ Dan dialasi dengan ambal/ 197 Maka naiklah Rasulullahi Taala (di atas usungan) I Hanya Allah Taala jugalah Yang Maha Mengetahui beta pa nikmat- nya/
  4. Berkata Jibril/ Hai Muhammad/ Naiklah engkau ke Arasy/ Untuk bertemu dengan Tuhanmu/ Maka naiklah usungan

I Lalu masuklah

ke dalam Arasy / Seperangkat dinding yang terdiri atas delapan puluh lapis cahaya dilewatinya /

  1. Usungan itu pun lalu masuk (ke Arasy) I Tidak sedikitlah cahaya beraneka macam dilewatinya/ Sehingga terkesima- lah Rasulullahi Taala/
  2. Tiada diketahuinya lagi (arah) barat dan timur/ Selatan dan utara I Drendahkannya dirinya/ Di hadapan kebe- saran Tuhannya/ Lalu Muhammad mendengarkan sebuah suara /
  3. Berfirman Allah Taala/ Whai Muhammad/ Aku sudah berada di hadapanmu/ Tidak sesuatu yang mengantarai kita/ Sama halnya dekatnya padi pada batangnya /
  4. Rasa takutpun merasuki Rasulullalti/ Sebab ia tahu sedang berada di hadapan Tuhannya / Berkatalah Muhammad/ Attahiyyatul Mubarakatuh Assalawatu Lillah/
  5. Berkata Allah Taala / Assalamu Alaika Ayyuhan-naviyyu/ Warahmatullahi Wa Barakatuh/
  6. Berkata Muhammad/ Assalamu alaena Wa Ala Ibadillahis-Shalihina/Berkata pula Muhammad / Asyhadu An La Ila- ha Illallah/
  7. Berkata Allah Taala/ Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullahi / Kuberi.kan kepadamu ~mbahyang I Delapan puluh sehari semalam I Bersama Qul Huwalbhu Ahad I serta Qu1 a'udzu kedua-duanya
    5 7

I Bawakanlah kepada

wnatmu I

56 Atas kehendak dan kuasa Allah Taala maka usungan yang digunakan Nabi Muhammd masuk ke dalam Arasy dapa t bergerak sendiri tanpa diusung, tanpa tiang dan tanpa tali l?iintungan. 57 Surat Innas dan SuratAl-Falaq.

  1. Allah Taala rerkata I Kujadikan alam beserta isinya I Hanya karena engkau wahai Muhammad I Banyak nian nabi yang kuciptakan/ Engkaulah yang paling kukasihi/ Engkau pulalah pengganti-Ku I Adapun Jibril / Hanya kujadikan utusan Sedangkan engkau wahai Muhammad / Engkaulah yang mewujudkan kemuliaan-Ku/Serta !(ebesaran-Ku
    5 8]

207 Maka lepaslah Rasulullahi dari (pengaruh) keagungan Tuhannya/ Muhammad pun strlah mengetahui bahwa ia sudah keluar dari (pengaruh) kebesaran Tuhannya I Maka muhammadpun lalu pergi ke usungannya I

  1. Maka keluarlah usungan itu/ Banyak nian dinding cahaya dilewatinya/ Maka keluarlah ia dari Arasy I Kemudian ti- balah kembali usungan itu di hadapan Jibril/
  2. Maka segeralah Jibril datang memberikan selamat kepada Muhammad/ Pergilah Jibril/ Mengembalikan usungan tersebut/ Di surga/ Bersma Nabi kia I
  3. Nabi kitapun menemukan kota/ Yang serba lengkap isinya/ Nabi kitapun pergi (jalan-jalan) maka dilihatnya sebuah rum ah yang dindingnya terbuat dari cermin/ Dindingnya terbuat dari emas/ Dihiasi pula dengan permana ber- aneka ragam/ Sedangkan tiangnya terbuat dari mutiara/
  4. Maka naiklah Nabi kita di atas rumah itu/ Maka dilihat- nyalah sebuah gelas/ Tidak ada penyangganya/ Tidak ada pula penggantungnya
    5 9 / Ada CJ"ang di dalamnya/

  5. Maka keluarlah ( dari gel as itu) seorang perempuan/Cantik parasnya / Pipinya kemerahan I Badannya bercahaya/ Adapun cahayanya lebih terang lagi dari sinar matahari/ Serta bulan/ 58 Pertanda bahwa Allah Taala sudah gaib dari hadapan Muhammad.

  6. Gelas itu termasuk tanda kekuasaan Allah Taala, terbukti di mana gelas tersebut melayang di udara, tanpa rapat di lantai, dan juga tidak tergantung di sebuah tempatpun.

Siapa gerangan itu wahai Jibril/ Permpuan yang cantik wajahnya/ Lagi ramai pakai- annya // Menyahutlah perempuan itu sambil berkata/ Wahai Tuanku Muhammad I Saya ini budak dari Sahidal iahu Annahu La I la ha Ill all ah 6 9 )

  1. Nabi kita pun pergi (dari rumah itu) / Beliaupun melihat lagi rumah yang besar/ Alhh Taala jagalah Yang Maha Mngetahui banyaknya isi rumah tersebut/ Adapun dinding rumah tersebut terbuat dari cermin yang beralaskan batu permata merah/ Adapun imbungannya terbuat dari permata zamrud/
  2. Nabi kita lalu pergi pula berjalan-jalan / Diketemukannya pula aliransungai/ Empat buah/ Alangkah banyaknya permata bertebaran di pinggiran sungi itu / Maka pergilah malaikat/ Menimbah air sungi itu/ Masing-masing satu cangkir dari setia p sungai /
  3. Sesudah itu malaikat membawa setiap cangkir tersebut ke hadapan Rasulullah Taala / Ditunjukkannya kepada jun- junan kita I Secangkir nira / Secangkir susu I Secangkir madu / Secangkir air I Lalu Nabi diminta memilih salah satu (dari keempat cangkir tersebut) I
  4. Beliaupun pilih (untuk) meminum Sl5U itu / Nabi kita minum separuh dari isi cangkir tersebu/ Maka didengarnya sebuah suara / Berka ta / W ahai Muhammad / Seandainya engkau meminum susu itu sampai habis I Maka seluruh umatmu penghuni surga I
  5. Maka Nabi kita pun ingin meminumnya lagi (sampai habis) namun si malaikat itu berkata I Wahai Muhammaa / Sungguh sudah tidak diridhoi Allah Taala I terdengarlah
  6. Maksudnya bidadari tersebut dipersiapkan ba~ para syuhada, yaitu mereka yang telah ma ti syahid dalam membela ag;ima.

I Oleh Nabi kita I Berkata I Sekiranya tuak

itu yang engkau minum I Maka segenap umatmu berada dalam genggaman syaitan/

  1. Sebuah suara pula didengarnya I Berkata I Wahai Muham- mads I Sekiranya madu itu yang engkau minum lebh dulu/ Maka segenap umatmu akan lebih besar perhatiannya kepada dunia / Dari pada akhiratnya/
  2. Kemudian pergilah Na bi kita berjalan-jalan/ Beliau meliha t pula rumah yang banyak/ Allah Taala jugalah Yang Maha Mengetahui banyaknya / Seluruhnya berdinding cennin Tiada terhitung banyaknya jumlah rumah tersebut I
  3. Adapun setiap rumah I Masing-masing terdiri atas empat puluh kamar I Setiap kamar I Terdapat empatpuluh anak- bidadari yang menari di dalam kamar/
  4. Berkata Nabi kita I Siapa gerangan itu wahai Jibril I Berkata Jibril I Wahai Muhammad I ltulah rumahnya umatmu Yang tebal imannya I Dimuliakannya sauruh alim- ulama/ Lagi pula manis budi terhadap sesama manusia/ Serta kepada sesama muslim /
  5. Nabi kita lalu pergi berjalan-jalan / Nabi kitapun meliha t lagi malaikat/ Tidak terhitung banyaknya / Hanyalah Allah Taala YangMaha Mengetahui banyaknya tetum- buhannya I
  6. Adapun setiap tanaman ada sebanyak empatpuluh rupa / Adapun setiap rupa tanaman/ Mempunyai buah sebanyak empat puluh/ Adapun setiap buah mempat puluh cita rasanya/
  7. Berkata-Nabi kita I Wahai Jibril / Rumah apa namanya itu demikian banyak tanamannya I Berkata Jibril I Wahai Muhammad/ Itulah nanti yang bakal disajikan untuk men-

Serta rajin ber- puasa di bulan Ramadhan/ Serta murah hti terhadap se- sama makhluk ciptaan Tuhan/

  1. Be1kata Jibril/ Wahai Muhammad/ Riwayatkanlah kepada kaummu/ Sepanjang yang engkau lihat/
  2. Berkata Rasulullah/ Niscaya tidak akan percaya/ Orang-orang Arab itu/ Berkata Jibril / Walaupun orang-orang Arab tidak akan mempercayaimu/ Biarkanlah kaum Nasrani itu menjustakanmu/
  3. Berkata Jibril/ Wahai orang Yang Dirahmati Allah Taala/ Marilah/ Kubawa kembali engkau ke bumi/ l..alu tangannya pun dipegang oleh Jibril /
  4. Rasulullah pun sudah akan turun kembali (ke bumi)/ Na- mun didapatinya pula Nabi Musa duduk di atas kursi caha- yanya. Maka bergegaslah Nabi Musa datang memberikan penghormatan kepada Rasulullahi Taaala/ 231. Berkata Nabi Musa / Apa sejalah yang diberkan Tuhan ke- padamu/ Berkata Nabi Muhammad/ Smbahyang/ Delapan puluh sehari semalam / Bersama Qur'an sebanyak tigapuluh juz/ Dan al Fatihah/
  5. Berkata Nabi Musa/ Hai Muhammad/ Ummatmu tidak mampu menunaikan sembahyang/ Delapan puluh / Sehari semalam. Berkata Nabi Musa / Mintalah yang ringan dalam sembahyang/
  6. Diantarkanlah beliau kembali naik ( ke langit) oleh Jibril/ Muhammad sudah menghadapi Arasy I l..alu didengarnya sebuah suara/ Berkata/ Hai Muhammad/ Berhentilah di situ/ Aku sudah berada di hadapanmu/ Katakanlah per- mintaanmu/

Iapun menghaturkan sembah sujud untuk memuliakan Tuhannya/ Berkata Muhammad/ Wahai Tuhanku / Hambamu tidak akan mampu menunaikan sembahyang sebanyak delapn puluh/ sehari-semalam /

235. Berkata Allah Taala/ Hai Muhammad/ Aku kurangkan untuk kamu/ Biarlah hanya lima puluh sehari-semalam /
236. Maka turunlah Muhammad (dari Arasy) bersama Jibril / Maka iapun bertemulah dengan Nabi Musa / Berkatalah Nabi Musa Wahai Muhammad/ Apakah Tuhan telah me- ngurangkannya bagimu / Muhammad
6 1 /

  1. BerkatajRasulullahi Taala/ Tuhanku telah mengurangkan- nya/ Lima puluh
    62 dalam sehari semalam / Berkatalah Nabi Musa / Ummatmu takkan mampu menunaikannya/ Lima puluh sembahyang dalam sehari semalam /

238. Berkata Nabi Musa / Naiklah kembali ke Jangit/ Untuk me- mintakan keringan sembahyang bagi umatmu
6 3 .' Maka naiklah Rasulullahi Taala/ Bersama Jibril / Dalam sekejap mata saja/ Tibalah ia di Arasy/

  1. Maka berdiam dirilah Jibril (sambil) berdiri/ Lalu Rasulullahi Taala naik pula ke Arasy I Setelah dilihatnya tanda keagungan Tuhannya/ Maka direndahkannyalah dirinya/ 6 l. Setelah Nabi Muhammad kembali dari Arasy untuk memohon keringanan penunaikan sembahyang bagi umatnya, Nabi Musa menanyakan kepada Nabi Muhammad, apakah Tuhan berkenaan memberikan keringanan a tas pelaksanaan sembahyang dimaksud.
  2. Berarti Tuhan telah memberikan keringanan tentang sembahyang, yaitu dari delapan puluh menjadi lima puluh sembahyang yang harus ditunaikan nabi Muhammad bersama umamya dalam sehari semalam.
  3. Atas saran dari Nabi Musa, maka Nabi Muhammad sekali lagi kembali meng- hadap kepada Tuhan di Arasy, jntuk memohon kerin11irnan sembahyang bagi kepentingan umamya (Islam).

  4. Beliaupun mendengar seb.uah suara/ Berkata/ Hai Muhammad/ Apa yang engkau pinta/ Berkata Rasulullahi/ Hai Tuhanku/ Umatku tidak mampu menunaikan/ Sembahyang/ Sebanyak lima puluh dalam sehari semalam / 241. Berkata Allah Taala/ Aku kurangkan untukmu/ Kutambah- kan pula bagimu / Itulah yang engkau bawakan pulang bagi umatmu/ Sembahyang empat puluh lima/ Dalam sehari semalam / Kemudian engkaupun berpuasa pada bulan Ramadlan/ Selama tiga puluh hari/ Berpuasalah pula dalam bulan Syawal sebanyak enam hari/ Naiklah pula engkau menyapu Baitullah/ Serta tunaikanlah haji di !!Unung Arafah/

  5. Berkata Nabi kita Muhammad/ Wahai Jibril/ Marilah kita turun kembali/ Maka turunlah Muhammad/ Bersama Jibril/ Didapatinya lagi / Nabi Musa/ Duduk di atas kursi cahaya- nya/
  6. Berkata Nabi Musa/ Wahai Muhammad/ Apakah tuhanmu telah memberimu keringanan/ Berkata Muhammad/ Ia mengurangkannya/ Dan Ia pun menambahkannya/
  7. Berkata Nabi Musa/ Berapa kekurangan yang diberikan kepadamu / Serta yang ditambahkan-Nya/ Berkata nabi kita/ Telah dikuranginya (sembahyang) empat puluh lima/ Diberikan-Nya kepada ku Al-Qur 'an sebanyak 30 Juz/ Aku diberi Nya pula puasa dalam bulan Ramadlan selama tigapuluh hari/ Akupun menunaikan puasa di bulan Syawal selama enam hari/ Akupun hams naik menyapur Baitullah/ Akupun naik haji di Gunung Arafah/
  8. Berkata Nabi Musa / Hai Muhammad/ Naiklah kembali (ke Arasy) memintakan keringanan bagi umatmu/ Hanya sekali saja dalam sehari-semalam /

Segenap yang engkau lihat/ Serta yang engkau dengarkan / Kabarkanlah kepada seluruh sahabatmu/

  1. Maka turunlah Rasulullahi Taala/ Bersama Jibril/ Hanya dalam waktu sekejap mata jugalah ia telah lewati seluruh (lapisan langit)/ Masih didapatinya kudanya/ Di atas batu yang bemama Baetal Haram /
    .253. Maka turunlah Rasulullahi Taala di punggung buraqnya/ Lalu diiringkan oleh J ibril / Serta Mikail / bersama Israfil/ Dan Israfil / 64 Turun dari langit ketujuh menuju lapisan langit berikutnya.

  2. Hanya dalam waktu sekejap mata jugalah ia tiba di pegu- nungan yang bernama Ka'batul Islam / Berkata Jibril / Hai Muhammad/ Di sinilah engkau telah kujemput/ Di sinilah pula engkau kutinggalkan / Lalu pergilah para malaikat/ Menyalami Muhammad/

  3. Sama naiklah (malaikat itu) ke langit/ Dikembalikannyalah sang kuda
    6 5 / Ke surga/ / Jibril pun kembali ke langit/ Maka kembali pulalah Nabi kita/ ke rumahnya/

  4. Maka ia (Muhammad) hanya satu jam duduk di rumahnya/ Lalu terbitlah fajar/ Maka pergilah nabi kita ke Masjidil Haram /

  5. Rasulullahi Taala pun membacakan adzan / Sehingga kaget- lah segenap penduduk di Makkah/ Maka para sahabatnya pun sama berkata/ Mari kita turun ke masjidil Haram/ orang-orang Arab pun sudah pada berdatangan seluruhnya/
  6. Maka bersembahyanglah Rasulullahi Taala/ Di waktu subuh/ Bersama para sahabat/ Serta kaum Arab/ Se!uruhnya/ Sesuai Rasulullahi Taala melaksanakan sembahyang subuh/ Maka diceritakannyalah kepada para sahabat/ Serta orang orang Arab/
  7. (Perihal) Segala yang dilihatnya/ Serta yang didengamya/ Di dalam neraka/ Maupun di dalam suraga/ Serta apa-apa yang dilihatnya di langit tujuh susun itu/
  8. Disampaikannya pula kepada sahabat-sahabatnya perihal kedatangan beliau di Atasy I Untuk bertemu dengan Tuhan nya/ Maka para sahabat sama percaya/ Demikian pula segenap orang Arab/
  9. KUda gaib yang bernama Buraq kemudian dikembalikan ke sur!?il setelah mem- perlancar tU!?ilS kenabian pada peristiwa Mi'raj.

Zainul Abidin / Ia menjustakan nabi dalam hatinya/ lapun berkata dalam hatinya/ Orang yang bernama Zainul Abidin /

  1. Bahwa/ Hanya karena Ia (Muhammad) ingin diikuti seruannya; Maka dikatakan dirinya / Datang dari langit/ Bertemu dengan Tuhannya/ Allahu Taala/ Ia menyebut- kan pula perihal kedatangannya di neraka/ Kedatangannya di suraga/ Disebutkannya pula bahwa ia datang dari Arasy / Bersua dengan Tuhannya/
  2. Selama tujuh hari Na bi kita/ Duduk di dalam mesjid/ Me- ngisahkan kepada ummatnya/ (mengenai) seluruh penga- lamannya/
  3. Maka pulanglah Zainul Abidin ke rumahnya/ Lalu berkatalah ia kepada isterinya/ Ambilkan merpati itu/ Supaya kita menyembelihnya/ Maka pergilah puteranya/ Yang bernama Yunus/ Mengambil merpati / Lalu disembelih Zainul Abidin /
  4. Barulah kemudiania pergi man di di sumur/ Disuruhnyalah isterinya (untuk) memasak burung tersebut/ Sebelum ia pergi mandi/ 26 6. Maka sebanyak tujuh puluh kali ia melangkahkan kakinya/ Tita-tiba datang petir/ Mengagetkan Zainul Abidin/ Sehing- ga ia terjatuh/ Menggelepar/ Lalu tak sadarkan diri/
  5. Maka dilihatnyalah / Dirinya menjadi perempuan / Lalu ia menikah/ Maka iapun melahirkan anak sebanyak 7 orang/ selama tujuh tahun pula dalam perantauannya/ Barulah ia dinaikkan ke atas rumahnya/
  6. Didapatinya pula burung-merpati tadi sedang dicabut bulu- nya oleh isterinya/ Maka berkatalah Zainul Abidin / Hai

Selama tujuh tahun saya dalam perantauan serta tujuh anak kulahirkan/ Sedangkan engkau masih saja men- cabuti bulu-bulu merpati itu/

  1. Berkata I Hatifah/ Barusan setengah jam engkau menyem- belih merpati ini/ Maka terkejutlah perasaan hati Zainul Abidin/
  2. lapun tergesa-gesa mengenakan bajunya/ Lalu pergilah ia ke mesjid/ Ia masih menemukan Nabi kita/ Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam/ Berbincang-bincang dengan para sahabatnya/ Bersama orang-orang Arab/
  3. Langsung jugalah Zainul Abidin/ Bersujud/ Di kaki Nabi (Muhammad)/ Berkata Zainul Abidin/
  4. Wahai Rasulullahi Taala/ Saya sudah bertaubat kepadamu/ Wahai Junjunganku/ Maafkan jugalah diriku/ Sebab hatiku telah menjustakanmu/ Ketika engkau bercerita tentang pengalamanmu (bahwa) saya datang dari neraka/ Saya juga melihat surga/ Akupun naik ke Arasy bertemu Tuhanmu/ Aku tidak mempercayainya/
  5. Hatiku berkata/ Hanya karena ia itu ingin ditaati seruan- nya/ Sehingga ia mengatakan dirinya baru pulang dari Arasy bertemuan dengan Tuhannya/ Maka tertawalah/ Keempat sahabatnya/
  6. Berkata Rasulullahi Taala/ Engkau sudah kumaafkan karena engkau menjustakanku/ Engkaupun sudah kuam- punkan karena tidak mempercayai ucapanku/
  7. Berkata Rasulullahi Taala/ Wahai segenap umatku/ Khusus kalian yang percaya/
  8. Sesungguhnya/ Sudah dituliskan di pintu surga/ Adapun

Orang Yang Dirahmati Allah Taala/ Bagaimana perbedaan ummatmu saat ini/ Dengan kelak di kemudian hari/ Berkata Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam/ Adapun hari ini hanya karena pengakuan umat- kulah maka mereka percaya kepadaku/

  1. Adapun kelak/ Sesungguhnya mereka tidak melihatku/ Namun mereka sangat percaya akan sabdaku/ Serta tinda- kanku/
  2. Selamat/ Maka tamatlah/ Surek Pau Paunna Nabitta/ ditu- oleh Lasemmauna pada hari Jum 'at/ Pukul tujuh/ Sa tu malam terbitnya bulan Ramadlan / Tahun Jin/ Yaitu Hijrah Nabi -1243 /

KAJIAN/PENGUNGKAPAN NILAl·NILAI TRADISIONAL DARI ISi NASKAH

4.1 Gambaran Umum Isi Naskah Seperti telah disinggung pada sub bab lain di muka, surek poada adaengngi menrek na nabitta ri langi e yang menjadi sasaran penelitian dan pengkajian ini memuat kisah pengembaraan nabi Muhammad dalam peristiwa lsra 'dan Mi'raj. Dalam pengembaraan tersebut nabi muhammad memperoleh berbagai pengalaman dan pengetahuan tentang berbagai peristiwa, baik yang terjadi di zaman sebelumnya maupun hal-hal yang akan terjadi kelak sesudah dunia kiamat. Pengalaman dan pengetahuan tersebut sengaja diciptakan dan diberitahukan kepada nabi Muhammad, sebagai pedoman sekaligus pegangan bagi umat manusia dalam menata kehidupannya di dunia fana saat ini. Dari seluruh kisah pengembaraan nabi Muhammad yang termuat dalam naskah lontarak tersebut dapat dikemukakan berbagai kejadian yang disaksikan oleh nabi bersangkutan dalam tujuh tanap, masing-masing sebagai berikut:

Jari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Departemen Agama RI, 1978, S. 1 7, a (1 ).

Dari ayat-ayat suci al Qur an terse but tampak secara jelas, bahwa konsepsi Islam tentang peristiwa Isra 'adalah relevan dengan konsepsi pengetahuan budaya masyarakat Bugis seperti tercantum dalam naskah kuno lontarak Poada-adaengi Menrek na Nabitta Rf Langi e. Bahkan jika dilihat dari satu sisi maka catatan-catatan dalam lontarak tersebut merupakan penjelasan atas berita Firman Tunan yang tercantum secara singkat dalam al Qur'an. Semen tara di lain sisi kand ungan isi al Qur an tersebut memberikan penegasan, ten tang .beberapa hal pokok yang bertalian dengan kebenaran peristiwa Isra ,' yaitu meliputi :

Pertama Tuhan SWT menegaskan dalam al Qur'an, bahwa Allah itu Maha Suci. Ayat ini berarti bahwa Allah itu mustahil menyampaikan sesuatu yang mengandung arti dusta, kebohong- an dan hal-hal yang tercela. Demikianlah maka peristiwa lsra itu adalah benar adanya dan dijamin melalui kesucian Allah Taala.

  1. Al Qur'an adalah kitab Suci yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad melalui perantaraan Jibril, sebagpi pedoman hidup Islam. 67 Hamba, dalam ayat tersebutadalah nabi Muhammad SAW.

yiiitu nabi Muriammad SAW. Sedangkan perjalanan tersebut telah terjadi atas perintah dan keridhoan Illahi, bukan sekadar keinginan Munammad selaku hamba Allah.

Ketiga, perjalanan itu berlangsung di malam hari, antara dua tempat yang berjauhan yaitu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha·. Kedua tempat tersebut pada waktu itu mendapat berkah dari Allah SWT. Keempat, perjalanan Isra' tersebut mempunyai suatu tujuan khusus yang sangat penting artinya bagi nabi Muhammad sendiri maupun bagi seluruh orang mukmin, yaitu untuk menun- j ukkan se bagian ke be saran Allah SWT. Dalam hal ini ke besaran Allah tercermin pada segenap pengalaman yang diperoleh Nabi Muhammad sepanjang perjalanan Isra 'maupun mi'raj yang berlangsung mulai pada larut malam hingga dinihari. Pengalaman-pengalaman nabi Munammad itu sendiri dapat disajikan secara kronologis di bawah ini.

4.1.1.1 Nabi Muhammad dijemput malaikat Jibril. Pada suatu malam, bertepatan dengan malam Jum'at tanggal 27 bulan Rajab, ketika nabi Muhammad sudah berbaring di tempat tidur. Suasana alam sekitar pada waktu itu sepi, tiada lagi suara ayam berkokok, tiada pula lolongan anjing, waktu pun sudah menjelang tengah malam. Ketika nabi Muhammad sudah hampir terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba malaikat Jibril berada di samping beliau. Jibril meraba darti nabi, sehingga nabipun terbangun dan menyalangkan matanya, maka dilihat- nyalah ketika itu Jibril bersama tiga malaikat masing-masing malaikat Mikail, Israfil, dan Israil. Selain itu nabi melihat alam sekeliling berubah menjadi terang benderang, lebih terang dari cahaya bulan maupun sinar matahari. Cahaya terang itu meli- puti langit dan bumi seluruhnya. Dalam pertemuan tersebut Jibril mengutarakan kepada nabi Muhammad, bahwa :

Cahaya yang menerangi langit dan bumi pada malam hari itu adalah pertanda malam Mt raj;

Malam Mi r'aj itu berarti malam pertemuan antara Muhammad dan Tuhan-Nya yaitu Allahu Taala;

Tuhan itu bersemayam di petala langit yaitu di Arasy, suatu tempat di atas langit ketujuh di mana Tuhan menyelenggara- kan urusan penciptaan alam raya dan seluruh isinya;

Pada malam itu Tuhan ingin bertemu dengan Muhammad, sedangkan Jibril bersama ketiga malaikat lainnya sengaja di utus Tuhan untuk menjemput beliau, untuk diantar ke hadapan Tuhan-Nya.

4.1.1.2 Nabi Muhammad mengendarai Buraq Setelah Jibril menjelaskan segala sesuatunya kepada nabi Muhammad, malaikat Mikail segera diperintahkan menjemput kuda tunggangan di surga. Sesuai dengan perintah tersebut Mi- kailpun pergi ke surga dan dalam waktu sekejap mata, Mikail- pun sudah datang kembali ke hadapan Jibril dan nabi Muhammad sambil membawa seekor kuda tunggangan yang bemama buraq. Buraq tersebut sudah menjadi kuda tunggangan yang per- nan digunakan oleh lima ratus nabi sebelum Mul1ammad. Buraq itupun sudah tinggal di dalam surga selama limaratus tahun se- hingga ia merasa enggan pergi meninggalkan surga yang penuh dengan kenikmatan itu. Bahkan pada mulanya sang Buraq, enggan ditunggangi oleh nabi Muhammad, tetapi setelah nabi Muhammad menjelaskan kepadanya bahwa ia tidak akan kembali lagi ke surga kalau tidak sudi menjadi kuda tunggannya, maka akhirnya buraq itu menjadi patun dan bersedia menjalan- kan perintah Nabi dan Jibril. Setelah itu Nabi memulai perjalan- annya ke Masjidil Aqsha.
4.1.1.3 Nabi Muhammad menemukan kuburan Masyitha Setelah melakukan perjalanan malam dari Masjidil Ha- ram dengan mengendarai buraq sebagai kuda tunggangan, maka

Muiiammad menangkap suatu bau yang sangat harum. Beliaupun menanyakan perinal sumber bau yang amat 11arum itu, maka Jibril menjelaskan kepada beliau ba11wa •tulah kuburan Masyitha. Sedangkan Masyitha itu sendiri tidak lain adalah seorang hamba sahaya yang bertugas melayani se- gala keperluan tata rias permaisuri dari raja Firaun yang meme- gang tampuk pemerintahan di kerajaan Mesir, sekaligus juga mendakwakan dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah.

Masyitha sekali waktu mendapatkan hukuman mati bersama suami dan anaknya, secara kejam dan biadab yaitu mati karena dicempelungkan ke dalam minyak yang sedang mendidih. Hukuman tersebut ditimpakan kepadanya sekeluarga, karena Ma- syita enggan menyembah Firaun, sekaligus menyatakan di hadapan raja lalim di negeri Mesir itu, bahwa' 'Laa Ilaaha Il- lallah Muhammaddan Rasulullah• '(Tiada Tuhan melainkan Allah (dan) Muhammad itu adalah Rasul Allah).

Pemyataan Masyitha tersebut ditanggapi sebagai suatu pembangkangan dan kedurhakaan oleh raja Firaun, maka para algojopun diperintahkan untuk membasmi Masyitha serta suami dan anaknya di dalam kuali yang berisi minyak mendidih. Namun Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya dengan mengirim- kan sebanyak empat pulun malaikat, khusus untuK menjaga dan menyirami kuburan Masyitha dengan minyak wangi pagi dan sore.

Kisah tentang peristiwa tragis yang menimpa keluarga Masyitha tersebut secara langsung menamball perbendallaraan ilmu dan pengetahuan i-.Jabi Munammao tentang suatu peristiwa se-

Nluhammad menemukan bukti kekafiran Firaun

Setelah Nabi Muhammad mendengarkan ulasan Jibril ten tang kisah Masyitha, beliau bertanya pula kepada J ibril mengenai keadaan tanah Mesir yang berwarna hitam itu. Jibril kemudian menjelaskannya secara singkat, bahwa hal itu dise- babkan oleh sikap dan tindakan kedurhakaan yang pernah di- lak ukan oleh Firaun, si raja Mesir.

Ketika itu Firaun secara pongah mendakwakan diri sendiri sebagai Tuhan yang harus disembah oleh umat manusia, di sam- ping itu ia sendiri melakukan penyembahan terhadap berhala. Dalam usaha menegakkan keadilan dan kebenaran, maka Nabi Musa yang sezaman dengan Firaun ketika itu memberikan peringatan dan bantahan kepada Firaun. Nabi Musa berkata sesungguhnya Yang Menciptakan langit dan bumi beserta se- luruh isinya tidak lain adalah Allahu Taala.

Mendengar bantahan Nabi Musa, Firaun lalu bertanya kepada Musa perihal tempat tinggal Tuhan Sang Pencipta itu. Musa menegaskan bahwa Tuhan berada di petala langit di mana Ia menyelenggarakan proses penciptaan langit dan bumi ber- sama segenap isinya. Mendengar ucapan Musa, maka Firaun sangat murka dan segera menyusun rencana untuk memerangi Tuhan. Dalam usaha merealisasikan rencana tersebut maka raja Firaun memerintahkan umatnya membangun sebuah menara yang akan dijadikan tangga sampai ke petala langit. Laskar ne- geri Mesir berusaha menyelesaikan bangunan menara yang di- perintahkan oleh Firaun, namun setelah menara .itu dibangun selama tujuh puluh tahun, baru mencapai sepertiga dari jarak perjalanan ke langit. Tiba-tiba datang angin kencang melanda

negeri Mesir, sekalian merun tuhkan bangunan menara yang memang belum pernah selesai itu.

Reruntuhan menara tersebut menimpa seperti dari seluruh wilayah negeri Mesir, termasuk Firaun suami-isteri, para laskar/ pasukan perang, bahkan berhala-berhala sembahan raja Firaun- pun ikut punah tertimpa reruntuhan menara. Demikianlah, maka wilayah yang dilanda musibah itu tetap menjadi hitam tanahnya sampai sekarang.

4.1.l.5 Nabi Muhammad pergi ke Darussalam

Seusai mendengarkan penuturan Jibril, maka Nabi Mu- hammadpun mengajak Jibril untuk melanjutkan perjalanan ke Darussalam. Dalam perjalanan tersebut Nabi Muhammad tiba-tiba mendengar suatu suara yang mengatakan • hhl Muhammad tunggulah aku sebentar, kalau engkau tidak sudi menungguku harap engkau sudi memandangku sejenak. Namun Nabi Muhammad tidak menghiraukan panggilan tersebut, beliaupun tidak menunggu, tidak juga menoleh memandang sumber suara di- maksud.

Ketika rombongan Nabi Muhammad tiba di cela-cela batu- batu besar, sekali lagi Nabi Munammad mendengar suara yang berkata, wahai Muhammad sapalah aku, namun nabi Muham- madpun tidak menegurnya. Beberapa saat berselang, Nabi Muhammad melihat pula seorang wanita yang cantik parasnya, pakaiannya indah. Wanita berkata, wahai Muhammad sudilah engkau membawa saya serta, kalau tidak tunggulah saya sejenak. Nabi Muhammad tidak mengacuhkan ucapan perempuan itu. beliau tidak mengajaknya ikut dan tidak pula ditunggunya kendati hanya sekejap. Selanjutnya Nabi Muhammad menuju ke mesjid dan ditemukannya seseorang yang berpakaian serba putih.

Melihat keadaan dan penampilan orang berpakaian putih tersebut, Nabi Muhammad segera mendekati dan memberinya salam penghormatan, namun laki-laki itu tidak sudi menyahut. Barulah kemudian ia memberikan penghormatan kepada Nabi,

setelah Jibril memberitahu kepadanya bahwa orang yang telah menyalaminya adalah Muhammad, orang yang dikasihi Tuhan.

Setelah itu Jibril membacakan adzan dan Nabi pun men- dirikan shalat dua rakaat bersama Imam Mahdi. Selanjutnya Nabi bersama Jibril pergi ke sebuah bukit di mana Jibril men- jelaskan tiga hal kepada Nabi Muhammad. Pertama, suara yang didengarkan oleh Nabi Muhammad sepanjang perjalanan itu tidak lain adalah seruan Nasrani. Sekiranya Muhammad menuruti ajakan mereka, berarti seluruh umat Muhammad akan ikut menjadi Nasrani pula.

Kedua, perempuan cantik yang berpakaian indah itu adalah godaan duniawi. Sekiranya Muhammad menuruti panggilannya, maka itu pertanda bahwa kebanyakan umat Muhammad akan lebih condong pada kehidupan akhirat.

Ketiga, orang yang berbusana serba putih di dalam mesjid adalah Imam Mahdi. Beliau itu termasuk orang yang telah di- sucikan hatinya oleh Allahu Taala.

Berdasarkan berbagai peristiwa yang dialami Nabi Muhammad dalam perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha terkandung beberapa hikmah yang pada zaman hidupnya Rasulullah (Muhammad) mungkin memang sangat luar biasa, bahkan terasa ajaib dan tidak mustahil ada sebagian orang tidak mampu mempercayainya begitu saja. Salah satu kesan keluar- biasaan ialah diungkapkannya tentang Buraq yang menjadi kuda tunggangan Nabi. Konon dalam kisah lontarak dituturkan bahwa Buraq itu dapat berjalan maupun melayang di udara dengan kecepatan gerak bagaikan kilat. Tentu saja pada zaman Nabi Muhammad hal itu sangat luar biasa, karena umat manusia di jazirah Arab waktu itu kebanyakan hanya mengenal unta, kuda dan keledai sebagai tunggangan. Namun dewasa ini masya- rakat sudah mengenal, bahkan sudah menggunakan berbagai jenis pesawat angkasa raya secepat suara. Malahan beberapa tahun berselang makhluk manusia sudah mampu mendarat di bulan, untuk kemudian melakukan berbagai penelitian di planit-planit lainnya. Mereka semua tidak menggunakan kuda

ajaib dari surga yang disebut Buraq, tetapi menggunakan produk

ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang terwujud sebagai

pesawat ruang angkasa.

Mengenai suara-suara yang didengarkan oleh Nabi Muhammad sepanjang perjalanan dari Baitul Maqdis ke Darussalam

dapat saja berasal dari tempat yang jauh namun karena ridho Allah dapat tertangkap oleh indera pendengar bagi manusia. Hal seperti itu tidak terlalu aneh dalam zaman kemajuan ilmu elektronika saat ini, di mana manusia dapat menangkap suara secara jelas dari jarak yang sangat jauh dengan menggunakan jaringan telekomunikasi modern, baik berupa telks, pesawat radio dan lain sebagainya.

Bayangan-bayangan wanita cantik dengan pakaian indah yang disaksikan pula Nabi Muhammad ketika itu seolah-olah terwujud sekarang dalam bentuk gambar-gambar yang dapat ditangkap dari tempat jauh, bahkan antar kutub dengan menggunakan pesawat televisi yang disalurkan melalui satelit. Semua itu mengandung hikmah yang pada zaman Nabi belum dapat ditemukan, namun sebaliknya para ilmuwan zaman sekarang tidak perlu pula merasa serba mampu dan seolah-olah menjadi penemu dan penakluk urang angkasa, sebab dalam kisah perjalanan Isra'telah diungkapkan bahwa jauh sebelum adanya aneka ragam pesawat angkasa luar, maka Nabi Muhammad telah lebih dahulu menjelajahi angkasa, kendati hanya menggunakan seekor kuda ajaib dari surga yang sampai sekarang dikenal sebagai Buraq Apabila uraian tersebut menunjukkan bahwa pengalaman- pengalaman yang disaksikan Nabi Muhammad sepanjang perjalanan dengan mengendarai Buraq itu seolah-olah memberikan gambaran atau kemungkinan tentang kemajuan yang dapat di- jangkau oleh makhluk insani di masa yang akan datang, maka kisah tentang kuburan Masyitha merupakan bukti sejarah masa lampau. Hal itupun tidak terlalu aneh di zaman sekarang, karena masyarakat manusia di berbagai belahan bumi sudah me- nerapkan peralatan elektronika, antara lain berupa alat pe-

rekam suara (tape recorder) maupun alat perekam g:unbar (video cassette /camera video). Melalui penggunaan alat-alat tersebut, maka berbagai peristiwa dan fenomena kehidupan manusia dapat tersimpan sebagai arsip yang sewaktu-waktu dapat ditayangkan kembali, setelah melampaui batas waktu cukup lama. Jelaslah, bahwa peristiwa Isra ' yang dialami oleh Nabi Muhammad di zaman yang silam bukan hal yang mustahiL ken- datipun pada masa itu tidak kurang orang yang mendustakan- nya. Namun di lain sisi, manusia terutama yang beragama Islam dan terhitung orang mukmin senantiasa hams yakin bahwa temuan-temuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai manusia di mana saja dan kapan saja, hanya mungkin terwujud atas ridho Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mendengar.

4.1.2 Pengalaman Nahi Muhammad dalam perjalanan ke langit Tahap kedua dalam peristiwa Isra' Mi'raj ialah perjalanan Nabi Muhammad dari bumi ke petala langit. Dalam pada itu Nabi Muhammad menggunakan tangga emas dari surga. Tangga tersebut terdiri atas 5 5 ruas, mulai dari bumi sampai mencapai langit ketujuh. Menurut catatan dalam lontarak Poada adaeng- ngi menrek na Nabitta ri langi e, sekiranya tangga-tangga tersebut diletakkan di bumi, maka setiap ruas hams dijalani selama 500 tahun. Sedangkan perjalanan Nabi, dari bumi ke langit pertama memerlukan 6 ruas tangga. Pada mas tangga paling bawah Nabi Muhammad menemukan sebanyak 7 .000 malaikat. Semuanya mengenakan mahkota, terbuat dari emas sambil berbaris. Tiap malaikat terus-menerus membaca lafadz "Subhanallah Wa Bihamdihi". Pada mas tangga kedua, Nabi Muhammad menemukan malaikat yang sangat banyak jumlahnya. Mereka pun berbaris dengan pakaian gemerlapan dan di kepala masing-masing mengenakan mahkota dari emas. Para malaikat memiliki tulisan di

"Subhanallah Wa Bihamdihi. Subhanal Malikul Quddusi". Pada ruas tangga ketiga, Nabi Muhammad menemukan pula malaikat sebanyak tiga keti. Masing-masing malaikat mengena- kan pakaian yang indah-indah dan di kepalanya terdapat mah- kota dari emas, sedangkan dari mulut mereka terhamburlah cahaya gemerlapan. Bacaan-bacaan mereka adalah lafadz "Astagfirullah".

Pada ruas tangga keempat, Nabi Muhammad menemukan lagi malaikat dalam jumlah sangat banyak. Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui bilangannya. Masing-masing malaikat tersebut senantiasa membaca lafadz "La Ilaha Illa Huwal Mubinu".

Pada ruas tangga kelima, Nabi Muhammad menemukan para malaikat yang bercahaya mukanya, bagaikan cahaya bulan purnama. Masing-masing membaca lafadz "Asyhadu an La Ilaha lllallah Muhammadan Rasulullah". Ketika Nabi Muhammad mengarahkan pandangannya ke atas, beliau pun melihat dua gugusan cahaya terang benderang dalam posisi berdamping- an satu sama lain. Gugusan cahaya yang terletak di bagian sebelah timur, disebut Baetal Makmur. Itulah tempat bagi nyawa yang tidak digunakan di dunia. Sedangkan gugusan cahaya yang terletak di bagian sebelah barat disebut "Jabbatul Hannanu". Cahaya itulah tempat bagi nyawa yang sudah digunakan di dunia, kemudian tinggal tergantung di Arasy.

Pada ruas tangga keenam tidak dituturkan adanya sesuatu yang penting, kecuali lontarak hanya menyebutkan, bahwa setiap ruas tangga yang dilalui Nabi Muhammad mulai dari awal sampai ruas tangga keenam hanya diperlukan waktu se- kejap mata, kendati dalam kehidupan duniawi hal itu memerlu- kan tenggang waktu sekitar 500 tahun, untuk masing-masing ruas tangga. Setelah mencapai ruas tangga keenam, maka Nabi Muhammad bersama Jibril segera meminta kepada malaikat penjaga pintu langit. Kemudian masuklah Nabi Muhammad dan Jibril

ke dalam langit lapisan yang paling bawah. Ketika itu Nabi Muhammad sempat menyaksikan segenap gugusan bintang yang menghiasi lazuwardi. Menurut Nabi Muhammad, dari seluruh gugusan bintang di langit, maka bintang yang paling kecil ialah gugusan-gugusan yang harus dikelilingi selama tiga hari perjalanan kaki.

Pada langit kedua, Nabi Muhammad melihat bulan dan bola matahari. Ketika itu Nabi Muhammad menghitung frekuensi putaran bola matahari dan diketahuinya bahwa masing-masing pedati bumi berputar sebanyak tujuh keti selama kurun waktu dua belas jam, yaitu peredaran matahari dari Timur ke Barat.

Sementara itu Nabi Muhammad melihat bahwa ada sebanyak delapan malaikat yang bertugas khusus menyirami bola matahari dengan air. Menurut Jibril apabila bola matahari tersebut tidak disirami dengan air secara terus-menerus, maka niscaya langit akan hancur, karena panasnya terik matahari. Pada langit ketiga, Nabi Muhammad menemukan seorang laki-laki yang sangat gagah, lagi pula sangat besar badannya. Laki-laki tersebut duduk di atas sebuah "kursi-cahaya", namun ketika Nabi Muhammad mengucapkan salam sejahtera kepada- nya, ternyata ia tidak memberikan reaksi apapun. Barulah ke- mudian Nabi Muhammad mengetahui dari penuturan Jibril bahwa orang gagah tersebut tidak lain adalah Nabi Adam, cikal bakal makhluk manusia di atas bu'Tii. Konon ceritanya (menurut lontarak) Nabi Adam senantiasa menunjukkan sikap sedih dan riang secara bergantian. Pada saat ia menoleh ke arah sebelah kiri maka ia mengucurkan air mata, karena melihat anak cucunya sedang disiksa di neraka jahanan. Sebaliknya apabila ia menoleh ke arah bagian sebelah kanan, ia senantiasa terbata riang, karena menyaksikan anak cucunya sedang menikmati rakhmat Allah di Surga.

Pada lapisan langit keempat, Nabi Muhammad pertama- tama melihat seekor ayam dengan bulu berwama putih. Sedang- kan cotoknya berwarna kuning, kakinyapun kuning, demikian pula matanya berwama kuning. Mahkotanya berbentuk sanggul.

Lidah ayam tersebut terbuat dari aneka ragam permata, berasal dari surga. Matanya terbuat dari intan gemerlapan. Mulutnya terbuat dari emas murni. Menurut penuturan Jibril kepada Muhammad itulah ayam penghuni Arasy. Setiap tengah malam ayam itu berkokok, sehingga diikuti pula oleh segenap ayam Arasy menyerukan lafazd "Linabiyyullahi Dzikrullahi ". Sedangkan a pabila ia berkokok pada waktu siang hari, ia menyerukan lafadz lain, yaitu "Subhanallahi Wa Bihamdihi. Subhanallahi Aliy".

Setelah itu Nabi Muhammad pun melihat di langit keempat malaikat yang duduk di atas "kursi-cahaya" dengan muka garang dan begis. Ternyata itulah malaikat penjaga neraka. Ia duduk sambil berpegangan pada pin tu neraka.

4.1.3 Pengalaman Nabi Muhammad Dalam Neraka Mendengar penuturan malaikat penjaga neraka, maka Nabi Muhammad ditemani oleh Jibril masuk ke dalam neraka, untuk menyaksikan keadaan penyiksaan di dalamnya. Selama berada di dalam neraka, Nabi Muhammad melihat penyiksaan atas tujuh golongan manusia, masing-masing sebagai berikut : Laki-laki yang didudukkan dalam dulang api, mulutnya ter- kait dengan kaitan besi, sementara lidahnya terjulur sampai ke a tas tan ah. Golongan laki-laki yang kakinya diikat dengan rantai besi; matanya sebelah menyebelah ditusuk dengan besi membara; mulutnya disirami dengan tembaga yang sedang mendidih; sedangkan tulang belulangnya terkelupas oleh sengatan asap api neraka; Golongan laki-laki yang kepalanya tinggal di bawah, wajah- nya menghadap ke belakang, wajahnyapun sudah menyeru- pai muka babi; kedua lengannya dibuntung; kemudian dilemparkan ke dalam api neraka yang sedang meluap- luap;

Golongan orang-orang yang tidak hentinya melolong, sampai-sampai lolongannya kedengaran di langit ketujuh; Golongan orang-orang yang kedua belah mulutnya dikait dengan kaitan besi, sedangkan lidahnya terjulur sampai mencapai permukaan tanah; Golongan wanita yang sedangs terpanggang di dalam api neraka, wajahnya menghadap ke punggung, Jidahnya disiram dengan tembaga mendidih, sedangkan pada tenggorokannya dimasukkan besi yang sedang membara;

Golongan perempuan yangs kakinya diputar ke atas, lalu kemaluannya ditusuk dengan besi batangan tembus sampai ketenggorokannya, sedangkan pada kedua belah tangannya diletakkan bara api dari neraka;

Setelah Nabi Muhammad menyaksikan berbagai macam golongan manusia yang sedang didera di dalam neraka jahanan beliaupun lalu ke luar, kemudian naik ke,Jangit yang terletak pada lapisan kelimat. Pada langit kelima tersebut, Nabi Muhammad melihat malaikat-malaikat yang tidak berhenti-hentinya membaca lafadz "Arsuluhu Bil Huda". Selain itu Nabi Muhammad melihat pula seorang laki-laki gagah di dalam kurungan besi. dikelilingi oleh para malaikat. Menurut penuturan malaikat Jibril, maka ternya- ta orang tersebut tidak lain adalah Na bi Isa. Pada lapisan langit yang keenam, Nabi Muhammad menemukan seorang laki-laki yang sedang duduk di atas "kursi- cahaya ", sedangkan di sekelilingnya terdapat malaikat yang berpakaian serba indah dan mengenakan mahkota di kepala masing-masing. Laki-laki itu adalah Nabi Musa. Akhirnya pada lapisan langit yang ketujuh, Nabi Muhammad mengalami beberapa hal penting. Pertama-tama beliau menemukan banyak malaikat dengan pakaiannya masing-masing germerlapan dan mengenakan mahkota emas. Sesudah itu nabi melihat pohon kayu yang sangat besar. Demikian besarnya pohon tersebut, sehingga setiap lembar daunnya ada-

lah lebih lebar dari luas seluruh dunia. Pohon tersebut berbuah lebat. Itulah pokoh kayu tubi. Nabi kemudian meminta buah kayu tubi tersebut dan per- mintaan beliau dikabulkan oleh Jibril, kendati malaikat penung- gu pohon bersangkutan enggan memberikannya. Ketika buah tersebut sedang berada di tangan Nabi Muhammad, tiba-tiba buah itu menjadi retak, kemudian keluarlah dari dalamnya seorang bidadari yang sangat cantik. Jibril memberi tahukan kepada Nabi Muhammad, bahwa bidadari cantik itu adalah pelayan, disiapkan bagi umat Muhammad yang mengikuti jejak dan perilaku Nabi sendiri selama hidupnya di dunia. Setelah meninggalkan kayu tubi itu, Nabi Muhammad melihat pula banyak pepohonan yang ditunggui oleh para malai- ka t. Di antara malaikat-malaikat tersebut terdapat malaikat yang sangat besar badannya, menunggui sebuah pohon yang setiap lembar daunnya yang rimbun memuat tulisan, tentang batas usia setiap makhluk yang bemyawa. Malaikat itu tidak lain adalah malaikat elmaut, malaikat yang bertugas mencabut nyawa setiap orang yang sudah habis batas usianya.

Selain bertugas mencabut nyawa manusia menurut garisan usianya, Elmaut bertguas pula mengamati segala hal yang ada di dunia. Dalam menjalankan tugas tersebut, Elamaut tidak usah berjalan mengelilingi belahan dunia, tetapi cukup dengan memperhatikan sebuah benda bulan, sebesar cangkir yang tersimpan di langit. Dalam benda tersebut terlihatlah segala sesuatu yang ingin diketahui di dalam dunia. Tidak terdapat sesuatu pun yang tersembunyi dari pandangan Elmaut.

Selanjutnya, Nabi Muhammad melihat ada sebanyak 7.000 malaikat yang terbagi dalam empat kelompok menurut wujud- nya yaitu, kelompok malaikat yang menyerupai kerbau, ayam, manusia, dan malaikat-malaikat yang menyerupai macan. Kelompok malaikat yang menyerupai kerbau adalah malaikat bertugas membagikan rezeki bagi semua jenis hewan yang dimanfaatkan dagingnya sebagai bahan makanan oleh manusia. Malaikat, khususnya yang menyerupai ayam bertugas membagi-

kan rezeki, khusus kepada segala sesuatu yang hidup di angkasa. Malaikat yang menyerupai manusia, bertugas membagikan rezeki, khusus kepada segala sesuatu yang hidup di angkasa. Malaikat yang menyerupai manusia, bertugas membagikan rezeki bagi makhluk manusia, sedangkan malaikat-malaikat yang menyerupai macan, adalah golongan malaikat yang bertugas membagikan rezeki bagi semua jenis binatang buas.

Sesudah itu Nabi Muhammad melihat lagi malaikat dengan penampilan yang aneh. Malaikat tersebut mempunyai 7.000 kepala dengan 7.000 wajah pula. Setiap wajah dari sang malaikat memiliki 7.000 mulut. Setiap mulut merniliki 7.000 lidah dan setiap lidah tersebut menguasai 7.000 bahasa, seluruhnya memuji kepada Allahu Taala, serta memintakan doa, bagi orang yang menunaikan salat, berpuasa di bulan Ramadlan, pengembara yang menuntut ilmu tarekat. Malaikat itulah "Ruhul Amin". Pengalaman Na bi Muhammad selanjutnya adalah pertemuan beliau dengan Tuhannya di dalam Arasy. Pertemuan antara Muhammad dan Tuhan Allah Subhanahu Wataala merupakan pengalaman tersendiri bagi Muhammad, karena pada waktu itu beliau tidak di dampingi oleh Jibril.

4.1.4 Pengalaman Nabi Muhammad dalam Arasy Setelah Nabi Muhammad menyaksikan berbagai hal di langit yang ketujuh., maka malaikat Jibril segera berangkat ke surga untuk mengambilkan usungan bagi kendaraan Muhammad ke dalam Arasy. Perjalanan terse but dilakukan Jibril dalam sekejap mata. Nabipun melihat usungan ajaib yang bisa bergerak sendiri, tanpa ada yang menyanggahnya, bahkan juga tidak ada tempatnya bergantung. Usungan tersebut dikenal sebagai 'Rappenrappek⁰. Berdasarkan isyarat dari Jibril, maka Nabi Muhammad segera naik ke atas usungan, kemudian secara otomatis usungan tersebut bergerak sendiri membawa Nabi Muhammad masuk dalam Arasy, sedangkan Jibril tetap menunggu di langit ketujuii.

Dalam perjalanan tersebut Nabi Muhammad melewati la- pisan cahaya sebanyak delapan puluh dengan wujud yang ber- anekaragam. Sejenak Nabi Muhammad kebingungan, seolah- olall tidak mengetahui arah timur dan arah barat. Tiba-tiba beliau, mendengarkan suatu suara, berkata •Hai Muhammad! Saya sudah berada di hadapanmu. Tidak ada yang mengantar kita. Bagaikan butir padi dengan batangnya ':

Sesudah mendengar suara Tuhannya, berkatalah Muhammad: 'Attahiyyatul Mubarakatuh Asshalawatut Tayyibatu Lillahi*.'

Tuhan berkata: 'Assalamu Alaeka Ayyuhannabiyyu Warah- matullahi Wabarakatuh*.'

Berkata Muhammad: "Assalamu Alaena Wa 'Ala Ibadillalli Salihiina' 'Berkata pula Munammad: "Asyhadu An La Ilaha Illallah ".

Tulian berkata: "Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah. Kuberikan kepadamu salat delapan puluh sehari-semalam, serta Qulhuwallah, Qul 'audzu birabbinnas, Qul Audzu birabbil Falaq. Bawakanlah sebagai oleh-oleh bagi umatmu. Telah ku- ciptakan jagad raya beserta isinya, hanya untuk kamu Muhammad. Banyak jugalah Nabi yang kuangkaL engkaulah yang pa- ling Kusenangi. Engkau pulalah khalifah-Ku. Adapun Jibril hanyalah kuangkat menjadi utusan-Ku. Sedangkan engkau, Muhammad! Engkau wujudkan kemuliaan dan kebesaran-Ku'.' Dari dialog tersebut dapat diketahui bal1wa tujuan isra' dan Mi'raj Nabi, adalah untuk menerima perintall, tentang shalat, di samping penegasan Tuhan kepada Muhammad mengenai ikrar antara Tuhan dan Muhammad seperti yang tercermin dalam syahadataeni. Dalam lafadz syahadataeni tersebut, Nabi Muhammad naik saksi bahwa "Tidak ada Tuhan selain Allah Taala", sebaliknya Tuhanpun naik saksi 'bahwa Muhammad, adalah Rasul Allah'.'

Demikian pentingnya arti dan peranan syahadat di dalam konsepsi Tuhan, sehingga syahadataeni ditempatkan pada ru- kun Islam yang pertama, barulah kemudian pelaksanaan shalat

' 'Iman kepada Allah ' inenempati urutan pertama, disusul iman kepada malaikat, iman kepada kitab, iman kepada Nabi, iman kepada takdir.. serta iman kepada hari pembalasan.

Setelah Muhammad mendengarkan amanat dan wejangan Tuhan, maka beliaupun segera meninggalkan Arasy, turun kem- bali ke langit lapisan ketujuh di mana Jibril sedang menantinya. Selanjutnya, Jibril mengembalikan usungan Rappenrappek ke surga.

4.1.5 Pengalaman Nabi Muhammad di Surga Ketika Jibril mengembalikan usungan ke surga, maka Nabi Muhammad turut menyertainya ke dalam surga. Beberapa pengalaman Nabi Muhammad selama mengembara di dalam surga, dapat dikemukakan secara singkat di bawah ini:
4.1.5 .1 Nabi Muhammad melihat se buah rumah besar, berdin- ding kaca. Nabi Muhammad menyempatkan diri masuk ke da- larn rumah tersebut. maka ditemukannya sebuah gelas besar, tanpa ada penyanggahnya, juga tidak mempunyai tempat ber- gantung. Mungkin gelas tersebut seolah-olah dalam keadaan melayang. Ketika Nabi Muhammad memandang ke dalam gelas tersebut, maka keluarga seorang bidadari yang sangat cantik. Pada saat Nabi Muhammad bertanya kepada Jibril tentang bidadari tersebut, spontan bidadari itu sendiri yang memberi- kan penjelasan, bahwa dirinya adalah pelayan yang diperun- tukan bagi para syuhada. Setelah itu nabipun bersama malaikat Jibril meninggalkan rumah bersangkutan.
4.1.5 .2 Nabi Muhammad menemukan empat buah aliran sungai, masing-masing penuh dengan permata yang beranekaragam. Keempat aliran sungai tersebut mempunyai air yang beda-beda. Salah sebuah sungai berisi tuak. Sungai kedua berisi susu, sungai ketiga berisi air tawar, sedangkan sungai yang keempat berisi madu.

"sekiranya engkau meminum tuak itu, niscaya seluruh umatmu berada dalam genggaman syaitan. Sebaliknya suara lain berkata pula: "Sekiranya engkau meminum air madu itu, niscaya umatmu lebih menyintai dunia daripada akhirat ' .'

Apabila penuturan lontarak tersebut dikaji secara lebih cermat, niscaya akan terlihat bahwa air sungai di dalam surga yang ditunjukkan sebagai pilihan di hadan Rasulullah, tidak lain adalah isyarat yang mempunyai arti simbolik. Tuak menurut konsepsi Islam, adalah perlambang dosa yang senantiasa dige- mari oleh setan, sekaligus pula menggoda dan mempengaruhi manusia untuk turut serta melakukan dosa yang dilambangkan dengan tuak atau ara.k.

Susu, adalah perlambang kebaikan yang timbul dari amal saleh. Sedangkan madu melambangkan kesenangan duniawi, sehingga mereka yang gemar minum madu tidak musta11il akan lebih menyintai kehidupan duniawi yang bersifat fana daripada kehidupan akhirat yang penuh dengan rintangan dan tantangan.

4.1.5.3 Nabi Muhammad menemukan banyak rumah di dalam si.lrga. Setiap rumah tersebut terdiri atas empat puluh petak.

pulun bidadari yang senantiasa menari dalam rumah masing-masing.

Keadaan rumah beserta bidadari yang tidak jemujemunya menari itu ditanyakan oleh Nabi Muhammad kepada Jibril. Malaikat Jibril pun menjelaskan kepada Nabi Muhammad, bahwa para bidadari tersebut adalah pelayan yang dipersiapkan bagi sebagian umat Muhammad yang melakukan amalan saleh selama masa hidupnya di dunia.

Penuturan lontarak tersebut menunjukkan, bahwa kehidup- an akhirat yang sejahtera aman, damai, tenteram dan bahagia hanya mungkin diperoleh bagi mereka yang telah berjerih paya11 menanam kebaikan di dunia. Dalam konteks ini tepatlah per- nyataan Sidi Gazalba, bahwa " ... Kesejahteraan didunia hanya dapat diberikan oleh agama. Sasaran pokok kebudayaan ialah dunia. Tetapi nilai-nilai moral yang dikandungnya diperhitung- kan pula di akhirat "( 1978: 13 ). Oemikian maka konsep-konsep agama dan kebudayaan, termasuk nilai luhur yang dikandungnya turut menentukan kesejahteraan manusia di dunia maupw1 di akhirat.

4.1.5 .4 Nabi Muhammad melihat banyak tanam-tanaman. Setiap jenis tanaman mengandung empat puluh macam. Setiap macamnya mengandung empat puluh buah. Setiap buah itu mengandung empat puluh citarasa. Nabi Muhammad sangat gembira menyaksikan buah dari pe- pohonan tersebut, bukan karena keanekaragaman dan kelezat- annya saja, melainkan terutama karena Jibril menyatakan semua itu dipersiapkan sebagai jamuan bagi segenap pengikut beliau yang senan tiasa berbua t ke bajikan selama hidupnya di dunia.
4.1.6 Nabi Muhammad kembali menghadap kepada Tuhan Sesuai melakukan perjalanan keliling di dalam suraga, maka nabi Muhammad dan Jibril bennaksud kembali ke bumi. Namun ketika keduanya tiba di langit yang keenam, Nabi Musa

Setelah Kembali Ke Bumi

Setelah melakukan pengembaraan sampai ke langit bersama Jibril, Nabi pun kembali ke rumahnya sedangkan malaikat Jibril bersama malaikat lainnya kembali pula ke langit. Pada saat menjelang fajar, Rasulullah pergi ke mesjid, melakukan salat sudah bersama para sahabat dan sebagian orang Arab. Barulah kemudian Nabi Muhammad mengisahkan kepada jamaah, peri- hal perjalanannya ke Masjidil Aqsha dan ke langit. Secara detail

dalam perjalanan, termasuk perintah shalat yang harus dilaksanakan oleh segenap kaum muslimin.

Sebagian besar jamaah pada waktu itu menerima baik dan percaya atas seluruh kisah perjalanan nabi. kecuali terdapat seorang di antara mereka yang membantah, kendati hanya dalam hatinya. Orang tersebut ialah Zainul Abidin. Bantahan Zainul Abidin tidak sampai berlarut-larut, karena orang itu tiba-tiba mendapat petunjuk dari Tuhan melalui pengalaman batin dalam keadaan pingsan. Setelah itu iapun menemui Nabi Muhammad menyatakan maaL sekalian menyampaikan keper- cayaannya tentang kisah Nabi bersama seluruh pengalaman- nya.

Dari gambaran umum isi lontarak tersebut, dapat diketahui, bahwa kisah perjalanan Nabi berupa Isra dan Mi'raj, bukanlah sekadar menyangkut kehidupan rohaniah. akan tetapi juga pen- ting dalam rangka pembinaan nilai budaya utama.

4.2 Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Naskah Lontarak

Dalam konteks pengkajian dan penulisan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam isi lontarak, istilah nilai budaya dilan- daskan pada rumusan definitif yang dikembangkan oleh Direk- torat Sjarah dan Nilai Tradisional, yaitu : "Apa yang diharapkan atau dapat diharapkan. apa yang baik atau dianggap baik. Ni!ai budaya itu mencakup perhatian, minat. kesenangan, keinginan. kebutuhan, harapan, pengingkaran, dan rangsangan yang menja- di kerangka acuan dalam menentukan sikap dan tindakan.... " (t.t .. 35).

Kerangka konsep tersebut menunjukkan bahwa dalam usaha mengungkapkan jaringan sistem nilai-nilai dalam suatu masyara- kat manusia atau dalam suatu satuan sosial tertentu, maka ha! itu tidak dapat diabstraksikan dari satu sisi saja melainkan, seperti dinyatakan oleh Parsudi Suparlan. bahwa. " ... Sistem-sistem nilai itu terjalin dalam berbagai model-model pengeta- huan yang dipunyai oleh warganya maupun dalam berbagai

kutan" (1981. 14).

Melalui model-model ataupun konsep-konsep pengetahuan yang diterapkan dalam suatu masyarakat manusia, maka setiap anggota yang turut mengambil bagian dalam pergaulan hidup bersangkutan dapat memilih secara tepat mengenai sikap dan tindakan yang dianggap baik atau dapat dianggap baik. Dalam hal ini Sidi Gazalba menegaskan, antara lain bahwa"... soal nilai bukan soal benar atau salah, tapi soal disenangi atau tidak

... "(1978. 93 -94).

Bertolak dari kerangka konsep tersebut maka dalam pem- bahasan di bawah ini disajikan jaringan nilai-nilai utama, nilai-nilai luhur yang dianggap baik menurut konsepsi budaya orang Bugis yang termuat dalam naskah kuno lontarak.

4.2.1 Lempu e (kejujuran)

Lempu atau kejujuran merupakan salah satu nilai yang dipandang sangat utama dalam kehidupan masyarakat Bugis. lstilah kejujuran dalam naskah ini dapat dikaitkan dengan ber- bagai bidang kehidupan, misalnya jujur di bidang sosial, jujur di bidang ekonomi, jujur di bidang politik, jujur dalam bidang ilmu dan pengetahuan, jujur di bidang kehidupan beragama.

Dalam kehidupan orang Bugis kejujuran dijadikan sebagai penangkal terhadap hal-hal negatif yang mungkin menimpa atau mungkin terjadi atas diri manusia. Konsep tersebut dapat ditelusuri keberadaannya melalui ungkapan bahasa daerah Bugis yang berbunyi.

Dua mi kuwala sappo Unganna panasa e Nabelo kanuku e

Artinya :

Hanya dua (hal) kubuat pagar Bunganya nangka Serta hiasan kuku

Ungkapan tersebut mengandung arti kiasan, bahwa hanya ada dua hal yang dapat kujadikan pegangan, penangkal, ben- teng pertahanan mental, yaitu kejujuran dan kebersihan. Dalam hal ini kejujuran berasal dari ibarat Unganna Panasa e (bunganya nangka). Masyarakat Bugis mengenal bunga nangka, sebagai lempu, sedangkan istilah lempu i tu sendiri berarti pula lurus, jujur.

Apabila istilah dan konsep nilai kejujuran tersebut dikait- kan kembali dengan kisah Isra' Mi'raj yang menjadi sasaran pengkajian dalam penelitian ini, maka hal itu merupakan ke- balikan atau lawan dari istilah gauk bawang (khianat, aniaya, justa, culas, curang, dan sejenisnya). Dalam konteks pengetikan ini, orang yang tidak jujur lazim diungkapkan sebagai to mag- gauk bawang.

2.2.2. Pasituju Akkatta Madeceng (menerima maksud baik) Dalam pergaulan hidup masyarakat Bugis, setiap seseorang yang gemar menerima maksud baik orang lain adalah hal yang terpuji. Setiap tersebut antara lain tercermin pada keik.hlasan memenuhi undangan/hajatan, menerima baik saran, gemar memberikan pertolongan kepda mereka yang memerlukannya baik berupa nasihat dan saran maupun berupa materiel. Ciri-ciri orangyang gemar Pasituju akkatta madeceng, antara lain : tidak suka menolak sesuatu maksud baik, usul, sarana, permohonan, pengharapan orang lain yang diajukan kepada dirinya sendiri. Dalam istilah ini terkanciung penger- tian tenggang rasa, simpatik, prihatin terhadap kepentingan dan kebutuhan orang Iain terhadap dirinya, serta tidak suka mengecewakan orang lain. Sebaliknya sikap dan tindakan yang dipandang bernilai buruk dan menyirnpang dari konsep nilai baik ialah tumpak akkatta madeceng (menolak maksud oaik orang lain). Kepriba- dian seperti itu biasanya dimiliki oleh seseorang yang l)ersifut egois, angkuh dan sebagainya.

pem- bicaraan sehari-hari masyarakat _ Bugis lazim menggabung ke dua kata tersebut menjadi satu istilah dengan cara menghilang- kan akhiran (ng) pada kata _rertama, kemudian menggantinya dengan huruf kembar (kk) sebagai perrakat antara kata pertama dan kata yang kedua.

Nyamekkininnawa termasuk salah satu syarat minimal bagi seorang warga masyarakat yang ingin diterima secara baik oleh semua pihak dalam pergaulan hidup setempat. Ciri khas bagi orangyang termauk manyameng ininnawa (berhati baik) simpatik dalam pergaulan, wajahnya senantiasa berseri-seri, banyak tersenyum kepada siapa saja, gemar memanfaatkan ke- khilafan orang lain ats diirnya, senantiaa jauh dari prasangka buruk, jarang marah tau murka, senantiasa menghindarkan ketersinggungan orang lain baik terhadap tukar sapa maupun sikap dan tindakannya.

Ciri khas lainnya yang dimiliki to manyamekkininnawa, ialah gemar berdamai, setia dalam bekawan, sopan dan santun terhadap orang yang lebih tua, kasih dan sayang kepada mereka yang lebih muda. Kebalikan dari nyamekkininnawa ialah japperu dan passisalang. Japperu ialah watak dan kepribadian seseorang yang m- ring-muringan, suka marah tanpa sebab yang past, sulit diajak bicara, terlalu emosional, berpikiran pendek, biasanya terlalu apriori pada pendapat sendiri. Orang yang mempunyai watak majepperu (pemarah) bisana jua bersifat passisalang.

Passisalang ialah watak seseorang yang sulit berdamai, bahkan sebaliknya sanat gemar berselisih pendapat, bahkan tidak segan bertengkar dan berkelahi dengan alasan yang sepele. Orang seperti ini biasanya berpikiran pendek, bermasa bodoh, tidak memperdulikan kepentingan orang lain, sehingga sering- kali melakukan tindakan-tindakan tanpa mau tahu akibatnya.

langsill1g mempenga- ruhi sumber rezekinya. Bahkan seringkali ada sesuatu rezeki yang seharusnya diperoleh, tetapi karna satu dan lain sebab maka rezeki tersebut tidak sarnpai ke tangan. Masyarakat Bugis menyebut orang seperti itu cilakane cilakae (paling sial).

4.2.4. Mappasikua (mensyukuri apa yang ada) Mappasikua, termasuk salah satu pembawa dan watak yang dinilai sangat baik di lingkungan pergaulan masyarakat Bugis. Istilah mappasikua mengandung pengertian yang cukup luas, antara lain :mereka cukup dengan sesuatu yang diperoleh- nya, tahu mensyukuri nikmat Allah dalam keadaan bagaimana- pun. Watak dan pembawaan yang sudah larut dengan sifat sese- orang akan mendorong timbulnya sikap dan tindakan terpuji seperti : hidup sederhana, jauh dari ketamakan, bahkan seringkali masyarakat setempt mengaitkannya dengan usia pan- jang. Anga_pan tersebut mengandung kebenaran, sebab manusia yang tahu mensyukuri nikmat yang diteirmanya dari Allah biasanya berfikiran ten tang, tidak terlalu am bisius dan tidak mengharapkan sesuatu secara berlebihan. Akibatnya, apabila ia gagal meraih sesuatu yang diharapkan maka orang bersangkutan tidak akan mengalami stress dan frustasi. Semua itu mempe-

kekella

e. Istilall nsowa e berarti tamak, loba, sedangkan istilall kekella e berarti "keserakahan ". Refleksitas istilall ngowa e dalam ke- hidupan manusia tercermin pada sifat seseorang yang tidak pemah merasa cukup atas apa yang diperoleh dalam usahanya. Orang seperti ini seringkali menyesali diri, menyesali nasib peruntungannya bahkan tidak jarang menyalahkan keluarga ataupun pihak lain manakala mengalami kegagalan dalamper- juangan hidupnya. Kurang lebih sama dengan ngowa, kekella biasanya men- dorong seseorang untuk melakukan sikap dan tindakan tertentu untuk mengejar keuntungan pribadi, tanpa menghiraukan kepentingan orang lain. Bahkan seringkali orang seperti itu me- ngorbankan kepentingan orang, demi keberuntungan pribadi- nya. Dalamkonteks ini sifat kekella lebih buruk dari sifat ngowa, karena ngowa hanya membentuk pribadi seseorang menjadi sosok manusia yang tidak pernah merasa puas dalam hidup dan kehidupannya. Sebaliknya sifat kekella mengakibatkan seseorang tumbuh menjadi serakah, sehingga tidak segan-segan mengambil atau merampas sesuatu yang menjadi hak pihak lain. Jelasnya orang yang bersifat makekella menghalalkan semua cara unt~k mencapai tujuannya. Dalam pergaulan hidup, orang makekella dan orang yang mangowa diumpamakan sebagai : Elokmi mmeyong teya balawo Elokmi ande teya eco Maksudnya : Hanya mau menjadi kucing, tidak mau jadi tikus Hanya mau makan tidak mau berusaha. Ungkapan yang sangat singkat dan sederhana tersebut dalam sangat tepat menggambarkan keburukan orang loin serta serakah. Ini sesuai kenyataan, ballwa setiap kucing senantiasa

Ungkapan tersebut mengandung arti simbolik, bahwa setiap orang tamak itu hanya menginginkan keuntungan pribadi, tetapi sangat pelit dan kikir sehingga tidak rela apabila orang lain beroleh sedikitpun keberuntungan. Ungkapan kedua menggambarkan seseorang yang hany mau memperoleh keuntungan banyak, tanpa mau mengucur- kan keringat. Dalam usaha mencapai maksudnya, orang seperti ini biasanya memeras tenaga orang lain untuk memperoleh hasil sebanyak-banyaknya, apapun caranya. Namun dalam kegiatan hidup secara nyata seringkali orang mangowa dan makekella itu mengalami kegagalan total. Dalam hal ini masyarakat Bugis, terutama di wilayah pedesaan mengenal ungkapan teradisional, sebagai berikut : Ngowa kekella sapu ri palek accapurenna. Artinya "Ketamakan dan keserakahan kemiskinan akibatnya". Ungkapan tersebut mengandung makna, bahwa orang tamak dan orang-orang serakah pada akhirnya akan mengalami kegagalan untuk mencapai suatu keberuntungan. Dalam hal ini me- reka yang termasuk orang tamak ataupun orang serakah biasanya tidak mau menghabiskan waktu, pemikiran dan tenaga untuk mencari keuntungan seadanya, melainkan selalu mendam- bakan penghasilan yang melimpah, namun seringkali kenya- taannya menentukan lain, sehingga yang bersangkutan tidak beroleh apa-apa, kecuali penyesalan. Sebagai perbandingan, dapat dikemukakan pribahasa yang menatakan "Satu burung dalam tangan jauh lebih baik dari pada sepuluh burung yang terbang di angkasa". Setiap orang yang bersifat mappasikuwa akan tetap memelihara baik-baik burung seekor yang sudah berada dalam genggamannya, baru- lah kemudian berupaya menangkap burung yang masih terbang bebas di angkasa. Sebaliknya bagi orang mangowa dan makekella, melepaskan burung seekor yang di dalam tangannya, untuk mengejar burung yang lebih banyak di udara. Akibatnya, "yang dikandung berceceran, yang dikejar tidak dapat" (pri- bhasa).

Sejak zaman yang silam masyarakat Bugis menganggap kepatuhan seorang anak terhadap wejangan orang tua itu sebagai suatu nilai yang sangat luhur dan utama. Dalam kehidupan bermasyarakat, anak-anak yang patuh terhadap orang tua, biasanya dijadikan contoh, teladan bagi orang tua lain dalam mendidik anak-anak mereka.

Perhatian orang tua terhadap pembinaan tutur kata, sikap dan tindakan anak-anak menurut tatakrama dan sopan santun yang menjadi pola umum dalam masyarakatnya adalah sangat diutamakan. Hal itu disebabkan, antara lain karena.

4.2.5.1 Anak-anak yang patuh pada orang tua merupakan tum- pun harapan yang akan menopang kebutuhan hidup mereka pada masa tua kelak.
4.2.5.2 Anak-anak yang patuh kepada orang tua diharapkan tumbuh menjadi manusia berguna bagi agama dan masyarakatnya sehingga akan turut menjadi kebanggaan orang tua dan keluarga sebagai suatu unit sosial.
4.2.5.3 Anak-anak yang patuh pada orang tua diharapkan turut menjaga wibawa dan nama baik keluarga.
4.2.5.4 Anak-anak yang patuh kepada orang tua diharap pula menjadi anak saleh yang akan tetap mendoakan kesela- matanya kelak sesudah meninggal dunia.
4.2.5.5 Anak-anak yang tidak patuh kepada orang tua dianggap turut merusakkan nama baik dan kehormatan orang tua. Malahan perlakuan buruk seorang anak biasanya ditim- pakan pada kekeliruan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Refleksitas nilai utama mengkalinga ada to matowa tercer- min antara lain pada beberapa hal. Pertama, anak-anak tidak suka membantah wejangan orang tuanya. Kedua, anak-anak

tua. maka dalam lontarak anak-anak yang bersifat pembangkan ter- hadap orang tua diberikan sanksi. yaitu disiksa dalam neraka jahanam, mulutnya ditusuk dengan besi berkait. sehingga lidah- nya akan terjulur sampai ke tanah. Dalam ha! ini penuturan lontarak akan menimbulkan perasaan takut dalam sanubari anak-anak, sehingga mereka diharapkan tumbuh dan berkem- bang menjadi manusia sempuma. patuh dan taat kepada ibu dan bapaknya.

4.2.6 Makkunrai marek e bowon na (wanita yang erat kudung- nya) Konsepsi budaya orang Bugis seperti termuat dalam nas- kah lontarak ditujukan pula pada prilaku kaum wanita. Dalam ha! ini nilai baik diberikan kepada seorang wanita yang senantiasa mengencangkan kudung apabila pergi bertetangga. Ini se- benamya mengandung arti kisan. bahwa wanita yang senantiasa mengenakan kudung itu adalah wanita yang selalu menjaga ke- muliaan dan kehormatan dirinya sebagai seorang perempuan. Dalam konteks pengertian ini wanita yang tidak mengenakan kudung dimaksudkan sebagai wanita yang tidak mempunyai batas kesopanan dalam bergaul. Bahkan tidak jarang wanita seperti itu melakukan pergaulan yang menyimpang dari tata- krama adat ataupun aturan-aturan agama Islam, apalagi jikalau sampai terjerumus dalarn pergaulan bebas dengan lawan jenis- nya. Pengertian istilah mengencangkan kudung khusus bagi kaum wanita mencakup pula watak dan pembawaan mereka dalam menjaga rahasia rumah tangga dan keluarganya. Adalah termasuk buruk apabila ada wanita bugis yang tidak tahu me- nyimpan rahasia rumah tangga.

Menurut penuturan lontarak, wanita yang tidak mengen- cangkan kudung di saat bepergian ke luar rumah, maka kelak di akhirat akan diberikan ganjaran yang berat, yaitu. dilempar- kan ke dalam jahanam yang sedang meluap-luap, wajahnya terputar ke punggung, mulutnya akan disiram dengan lelehan tembaga panas, dan tenggorokannya dipasak dengan besi membara.

4.2.7Makkunrai turu e ri lakkainna (wanita yang patuh kepada suaminya)

Menurut pandangan orang Bugis kepatuhan seorang wa-

nita terhadap suaminya dinilai sangat baik, luhur dan utama. Dalam hal ini kepatuhan wanita tercermin pada kesetiaan, ke- prihatinan, kasih sayang, serta ketaatannya terhadap segenap permintaan dan larangan suami. Demikianlah maka seorang wanita yang suka bertetangga, tanpa sepengetahuan suami di- pandang sangat buruk. Bahkan dalam konteks kehidupan ber- agama, wanita-wanita yang suka bertetangga tanpa izin dari suami diancam dengan sanksi masuk neraka dan senantiasa di dera dengan cara. kakinya diputar ke atas dan kepalanya ke bawah. kemaluannya ditusuk batangan besi membara, tembus sam- pai ke tenggorokannya. dan pada kedua telapak tangannya diletakkan besi yang membara dari neraka.

Demikianlah, maka seringkali terjadi perceraian antara seorang suami dengan isterinya, apabila sang isteri mempunyai kesenangan untuk bepergian tanpa izin dari pihak suaminya. Dalam konteks yang sama, anak-anak gadis umumnya dilarang oleh orang tua berkeliaran, tanpa seizin ibu bapaknya. Kelak apabila anak-anak gadis itu bersuami, maka tugas ibu bapak dalam membina anak wanita kemudian beralih kepada suami masing-masing. Dalam hubungan itu, orang tua yang baik tidak akan memihak kepada anak perempuannya apabila anak itu bertengkar atau cekcok dengan suaminya.

Pada hakekatnya to ma/ebbi ialah orang-orang yang pada umumnya mempunyai sifat-sifat terpuji, baik tutur kata maupun dalam sikap dan tindakannya. Ciri khas bagi warga masyarakat yang termasuk kategori to ma-. lebbi, antara lain sebagai berikut :

4.2.8.1 Dalam bertutur kata to malebbi menggunakan ungkapan dan tutur sapa yang halus, baik dalam pengertian maupun penekannya. Orang seperti ini sangat jarang me- ngumpat dan mencaci maki. Merekapun tidak bisa berbicara secara sinis, bernada tajam dan sejenisnya. Bahkan golongan manusia tersebut tidak berbicara sembarangan, kecuali apabila disapa, atau sewaktu- waktu ada hal-hal penting yang perlu dibicarakannya.
4.2.8.2 To malebbi tidak tampil dengan sikap semberono dan kasut. Mereka biasanya sangat rapih dan sopan. Bahkan seringkali mereka tidak menampakkan diri di hadapan orang lain kecuali bila ada keperluan khusus. Dalam sikap mereka terlihat kesan keagungan, kehormatan dan berbagai sifat terpuji.
4.2.8.3 To malebbi dalam gerak dan tindakannya tidak menun- jukkan kesan kekasaran. Kepalanya lebih banyak di- tundukkan. ayunan tangannya maupun langkah kaki- nya tenang dan tidak tergopoh gopoh. Apabila konsep to malebbi itu dikenakan kepada seorang wanita. maka wanita tersebut adalah anggun. Sebaliknya bagi wanita yang tidak termasuk kategori to malebbi umumnya tidak terlalu menghiraukan sopan santun yang kaku. Dalam hal ini to malebbi merupakan dambaan bagi setiap orang, sehingga a/ebbireng (kemuliaan) merupakan nilai sosial budaya yang dipandang sangat ideal bagi masyarakat Bugis di daerah Sulawesi Se Iatan.

Unsur keberanian bagi masyarakat Bugis termasuk salah satu nilai utama yang dianggap sangat penting. Dalam konteks ini istilah keberanian bukan hanya berarti tidak pengecut atau tidak penakut, tetapi lebih dari itu ia dipandang sebagai suatu sikap yang mengandung pengertian bertanggungjawab atas se- luruh prilakunya.

Se!ain itu pem berani berarti pula, bah wa seseorang tidak takut melakukan sesuatu yang dianggapnya benar. Sebaliknya iapun berani untuk tidak melakukan sesuatu yang dianggapnya salah. Merekapun berani mengatakan sesuatu kebenaran dan membela kebenaran itu, apapun resikonya.

Menurut penuturan dalam lontarak ini. keberanian berati tidak turut mengorbankan nyawa dalam membela kepentingan agama Islam. Dalam hal ini orang pemberani berpegang pada prinsip dasar bahwa mati dalam membela agama Islam berarti mati sebagai syuhada, sedangkan syuhada itu termasuk orang mukmin yang bakal mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.

Dalam istilah mati syahid, masyarakat Bugis menggunakan beberapa pengertian, yaitu :

Mati dalam membela kepentingan agama (Islam). Mati dalam membela harta benda. Mati dalam membela kehorrnatan diri dan keluarga. Mati dalam membela kebenaran.

4.2.10 Masero teppek (kekuatan iman)

Masero teppek termasuk salah satu nilai agama yang dipandang sangat penting dalam pergaulan orang Bugis. Predikat sebagai orang beriman termasuk pula salah satu jaminan bagi seseorang untuk disebut orang baik. Tanda-tanda orang beriman dalam pergaulan orang Bugis, antara lain sebagai berikut :

Salah satu nilai tradisional yang dianggap utama dalam pergaulan hidup masyarakat Bugis ialah alobong (kemurahan hati). Kemurahan hati bagi seseorang ditandai dengan beberapa haL yaitu.

Gemar menolong sesama manusia. Gemar menyantuni orang-orang fakir miskin. anak yatim dan orang-orang tua yang lanjut usia. Gemar memberikan sedekah. Suka membantu sesama keluarga maupun tetangga dalam berbagai peristiwa baik dalam duka maupun dalam suka. Berlapang dada terhadap rnusibah yang menimpanya. Enggan mengecawakan seseorang yang memerlukan bantu- annya.

Dari se!uruh nilai-nilai isi lontarak tersebut jelaslah bahwa surek poada adaengngi menrekna nabitta ri langi e yang menjadi sasaran penkajian ini cukup potensial sebagai sumber informasi sosial budaya, termasuk arsip nilai-nilai utama yang penting bagi pernbinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Bahkan dalam konteks yang lebih luas, naskah kuno lontarak dapat memberikan berbagai surnbangan dalam kaitannya dengan pembangunan nasional.

V RELEVANSI DAN PERANAN NASKAH DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN NASIONAL

5 .1 Relevansi N askah Dengan Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Nasional

Adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah, bahwa masyarakat Indonesia di seluruh kepulauan nusantara, termasuk masyarakat Bugis di kawasan jazirah Sulawesi Selatan telah turut menyerap dan menikmati berbagai unsur ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang merupakan produk kebudayaan asing. Proses penyerapan dan pengambilalihan unsur ilmu pengetahuan dan teknologi modern tersebut secara jelas ber- lan~;ung makin cepat, makin efisien, bahkan juga semakin intensif terutama karena dukungan modemisasi dalam bidang telekomunikasi massa dan jaringan transportasi modem yang makin mantap pula. Penyerapan dan pengambilalihan produk kebudayaan yang berasal dari masyarakat modern bukan hanya mendorong timbulnya proses pembaharuan di bidang fisik material, tetapi dengan sendirinya akan turut mempengaruhi perubahan sikap,

"Kemajuan ilmu dan teknologi zaman kini, yang menyentuh peradaban masyarakat kita, tak tertahan-tahankan daya dorong- nya. Kita mau atau tidak ia datang bagaikan banjir yang me- landa suatu pennukaan ladang yang tidak lebih dahulu me- nyiapkan tanggul, untuk menyalurkan pemanfaatan air yang melimpah, berupa banjir yang dahsyat. .. " (1970 : 24 ).

Apabila pernyataan tersebut dijadikan pegangan dasar untuk menyoroti kehidupan masyarakat terutama di desa-desa dalam wilayah Sulawesi Selatan, tentunya akan dapat ditemukan kenyataan-kenyataan yang tidak jauh meleset. Penerapan sistem motorisasi perahu nelayan di kawasan pantai ternyata secara langsung meningkatkan frekuensi maupun intensitas produksi penangkapan ikan bagi nelayan. Namun di lain sisi, potensialitas perahu bermotor itu sendiri telah secara langsung pula mengakibatkan berubahnya struktur organisasi nelayan. Pada umumnya setiap unit penangkapan ikan laut menyeder- hanakan jumlah anggota, sehingga disengaja atau tidak, keadaan itu mengakibatkan efek sampingan, yaitu timbulnya peng- angguran semu di kalangan keluarga nelayan.

Dalam konteks yang lain dapat dikemukakan hasil pe- nyerapan teknologi modern yang diterapkan di bidang pertani- an. Sejak beberapa tahun berselang masyarakat petani di wilayah pedesaan mulai menerapkan traktor mini maupun traktor

tangan untuk menggarap areal persawahan. Akibatnya, produk- tifitas tanah persawahan memang meningkat secara drastis, akan tetapi dalam waktu bersamaan petani pemilik cenderung menggarap sendiri tanah miliknya, sehingga para penyakap mulai kehilangan lahan garapan. Keadaan inipun menimbulkan gejala pengangguran semu, karena keadaan tanah di kebanyakan desa mengalami perubahan, di mana tanah pekarangan semakin menjadi meluas sehingga tidak memungkinkan diadakannya ekstensifikasi lahan persawahan. Dalam menanggulangi kebutuhan hidup keluarga maka banyak warga desa yang menjadi buruh tani dengan upah ham- pir pas-pasan. Keadaan ini menyebabkan mereka hanya mampu memenuhi secara terbatas unsur-unsur kebutuhan pokok berupa bahan makanan. Sebagian warga desa lainnya terpaksa meng- upayakan kehidupan yang lebih baik dengan cara memboyong keluarga dan pindah ke daerah lain baik di kota-kota seperti Ujung Pandang dan Pare-pare maupun ke pulau lain antara lain seperti pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya, Ambon dan bahkan banyak suku bangsa Bugis yang merantau sampai ke wilayah Malaysia. Sebagian penduduk desa yang menyerbu wilayah perkotaan dengan sendirinya akan menimbulkan masalah pula, baik bagi urbanisan itu sendiri maupun bagi pemerintah dan masyarakat kota. Bagi para urbanisan, masalah utama yang dihadapi ialah bagaimana mencari sumber penghidupan di tempat tinggalnya yang baru. Sedangkan bagi pemerintah mengalami kesulitan dalam hal pelayan permukiman, ketertiban dan kebersihan lingkungan perkotaan. Akhirnyawarga masyarakat kota sendiri akan mendapatkan saingan dari pendatang baru, untuk me- ningkatkan usaha dan s1:1mber penghasilan mereka. Uraian tersebut menunjukkan, bahwa penyerapan dan usaha pengambil alihan unsur-unsur teknologi modem yang kemudian dimanfaatkan dalam bidang penghidupan, sedikitnya akan mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan yang tidak hanya menyangkut bidang fisik material, tetapi sekaligus membawa gejala perubahan di bidang nilai-nilai tradisional. Sehubungan

lain bahwa '' ... agat tercipta iklim sosial yang dapat mendukung nilai yang sedang bertumbuh/ berkembang, diperlukan nilai-nilai standard yang memberikan guidence, untuk menghindari timbulnya kericuan nilai-nilai yang dapat menjerumuskan peradaban kepada ketidak seimbangan antara mental-ability da perkembangan/ kemajuan kebudayaan fisik ... ( 19 70 : 24 ). Dalam rangka pengambil alihan unsur-unsur teknologi mo- dem produk budaya asing tersebut, presiden Republik Indonesia sejak tahun 1974 menegaksa antara lain sebagai berikut "Dan jika dikatakan bahwa pembangunan memerlukan pembaharuan, maka pembaharuan ini sama sekali bukan "pembearatan" (wes- ternisasi), yang akan berarti pengetrapan kebudayaan lain yang sing bagi kita. Pembaharuan tidak lain, adalah usaha dari bangsa sendiri untuk secara bagiamana mengembangkan kepribadiannya sendiri, dengan membuang yang buruk dan menguatkan yang baik, mengadakan penyesuaian dengan tuntutan dan kebutuhan pengembangan masyarakat modern. ( 1974 : 15).

Penegasan tersebut di satu sisi merupakan suatu konsep pembangunan yang berorientasi pada usaha penyesuaian nilai-nilai luhur dan kepribadian bangsa terhadap unsur-unsur kebudayaan asing yang terserap melalui proses pembangunan. Sementara di lain pihak gagasan tersebut merupakan penjabaran dari pro- gram pembangunan di bidang yang dicanangkan setiap Repelita. lni sesuai dengan konsensus yang termuat dalam GBHN bahwa " ... di lain pihak ditumbuhkan kemampuan masyarakat, untuk menyaring dan menyerap nailia-nilai dari luar yang positif dan yang memang diperlukan bagi pembaharuan... ".

Dalam kaitanya dengan usaha penerapan konsep tersebut maka dengan sendirinya masyaraka t Indonesia secara kesel u- ruhan memerlukan perangkat nilai-nilai utama yang dapat di- manfaatkan sebagai alat penyaring terhadap nilia-nilai dari produk budaya asing. Sehubungan dengan itu arah pembangunan jangka panjang sebagaimana tertera dalam GBHN, antara lain difokuskan pada dua hal pokok, yaitu: "Nilai budaya Indonesia yang mencenninkan nilai luhur bangsa, harus dibina dan dikem-

bangkan guna memperkuat ( ... ) kepribadian bang;a, mem- pertebal rasa harga diri dan kebangsaan nasional serta memper- kokoh jiwa kesatuan ... ". Selian itu "Tradisi dan peninggalan sejarah yang mempunyai nilai ( ... ) kebanggaan serta kemanfa- atan nasional tetap dipelihara, dan dibina untuk memupuk, memperkaya dan memberi corak khas kepada kebudayaan nasional".

Bertolak dari kenyataan tentang berbagai ekses-ekses yang timbul akibat penyerapan dan penerapan produk kebudayaan asing, terutama dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi modem, di samping gagasan pembinaan dan pengembangan kebudayaan basional yang dicanangkan dalam GBHN maka jelas bahwa aktifitas penelitian yang berorientasi pada usaha pengkaji- an naskah-naskah kuno, termasuk lontarok dan surek di daerah Sulawesi Selatan adalah sangat relevan. Relevabsi antara pengga- rappan lontrak dan usaha pembinaan maupun pengembangan kebudayaan nasional dapat diuraikan secara singkat di bawah ini :

5 .1.1 Surek Poada Adaengngi Menrek na Menrek Ri Langi e termasuk salah satu tradisi masyarakat Indonesia di Daerah Sulawesi Selatan. Secara fisik surek atau lontarak tersebut merupakan salah satu kebanggan bangsa bukan hanya karena dapat membuktikan kemajuan peradaban di zaman silam, tetapi juga lembaran-lembaran catatan lontarak itu sendiri adalah termasuk salah satu produk budaya bangsa di masa silam. Demi- kianlah, maka penggarapan naskah lontarak mempunyai relevansi dengan usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

5.1.2 Lontarak tersebut merupakan salah satu jenis arsip kesejahteraan dan kebudayaan, sehingga sangat relevan, untuk dimanfaatkan sebagai bahan merekonstruksi pertumbuhan serta arah perkembangan kebudayaan bangsa di masa lampau. Hal itu sangat penting dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah sebagai bagian integral dari kebudayaan nasional, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang.

Sebagai arsip kebudayaan, lontarak memuat anekara- gaman informasi dan data tentang kehidupan sosial, budaya, religi dan nilai-nilai utama lainnya. Sesuai dengan potensi data dan informasi yang dikandungnya, maka penggarapan lontarak tersebut bukan hanya relevan, tetapi malahan termasuk bagian integral dari usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

Berdasarkan analisis tersebut maka jelaslan bahwa usaha penggarapan naskah-naskah kuno termasuk surek dan lontarak di daerah Sulawesi Selatan adalah sangat relevan dengan usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Dalam hu- bungan itu lontarak mempunyai peranan penting bagi usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Potensiali- tas dan peranan lontarak tersebut dibahas tersendiri dalam la- poran ini.

5.2 Peranan Lontarak Poada Adaengngi Menrek na Nabitta Ri Langi e Dalam Usaha Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Nasional. Dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional, kebudayaan daerah yang tersebar di seluruh gugusan kepulauan nusantara dan didukung oleh berbagai suku bangsa mempunyai arti penting, baik sebagai sumber kekayaan budaya maupun sebagai sumber nilai-nilai luhur yang dapat dimanfaat- kan sebagai bahan pembentuken kesatuan budaya bangsa sebagai satu kesatuan sosial dan kultural. Sejalan dengan itu maka lontarak yang merupakan arsip kebudayaan yang juga memuat berbagai data da informasi tentang prangkat nilai-nilai budaya daerah, dengan sendirinya mempunyai peranan dalam rangka usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional, antara lain sebagai berikut; 5 .2.1 Lontarak sebagai potensi dan sumber kekayaan budaya Sebagaimana telah diungkapkan pada sub bab lain di mu- ka, arah pembangunan di bidang kebudayaan nasional antara lain difokuskan pada usaha pembinaan dan pengembangan unsur

darah-daerah, Pembinaan dan pengembangan kebudayaan yang ada di daerah-daerah bertujuan untuk memperkuat kepribadian, di samping mempertebal rasa harga diri dan kebanggan nasional

Dalam kaitannya dengan usaha membina dan mengembang- kan kebudayaan daerah tersebut, maka diperlukan data dan informasi semaksimal mungkin serta sebaik mungkin terutama yang bertalian dengan konsep nilai-nilai budaya yang pada hakekatnya menjadi pegangan atau kerangka acuan bagi warga masyarakat pendukung dari kebudayaan daerah itu sendiri. Dalam hal ini lontarak berpranan sebagai sumber data dan informasi, terutama menyangkut nilai-nilai kehidupan, nilai agama, serta nilai-nilai yang bertalian dengan tatakrama serta sopan san- tun yang terwujud dalam tutur kata, sikap dan tindakan. Selain peranannya sebagai sumber data dan informasi, naskah lontarak mempunyai peranan lain yang tidak kurang penting, yaitu sebaagai wadah pelestarian sekaligus juga meru- pakan media pewarisan nilai-nilai luhur dari satu ke lain gene- rasi setJar berkesinambungan. Keadaan ini berarti pula bahwa dengan adanya naskah kuno lontarak, maka berbagai unsur kekayaan budaya bangsa di daerah Sulawesi Selatan tetap ter- simpan secara baik dan aman, sehingga sewaktu-waktu dapat dikaji kembali dalam rangka usaha pemanfaatannya sebagai bahan rumusan bagi kelengkapan kebudayaan nasional. Makin jelaskan, bahwa sebagian dari nilai-nilia budayabangsa tidak akan ikut terkikis oleh pengaruh kebudayaan aisng, sepanjang lontarak tetap dibina dan dikembangkan secara baik.

5 .2.2. Lontarak sebagai sumber potensi bagi terwujudnya kebudayaan nasional. Sebagaimana terbuang dalam penjelasan pasal 32 UUD'45 yang menyatakan bahwa kebudayaan lama dan asli yang ter- dapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah ter- hitung sebagai kebudayaan bangsa Apabila tradisi tulis-baca dapat dikategorikan sebagai suatu puncak budaya, sekaligus

Poada adengngi menrek ne Nabitta ri langi e seba- salah satu jenis naskah kuno dapat berperanan sebagai sumber bahan baku bagi terwujudnya kebudayaan nasional. Dalam pada itu lontarak dapat menyiapKan data dan informasi secara lengkap dan terinci mengenai jaringan nilai-nilai budaya udara, untuk dijadikan bahwan ramuan sehingga turut melengkapi corak dan karakteristik kepribadian bangsa.

Nilai-nilai utama yang dapat disumbangkan lontarak bagi terwujudnya kebudayaan nasional, antara lain unsur-unsur nilai keagamaan yang didukung oleh sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan maupun masyarakat Indonesia secara lebih luas. Potensialitas lontarak yang menjadi sarana kajian dalam penelitian ini terutama didukung oleh sistem penyajian nilai-nilai baik dan buruk dilengkapi dengan sanksi sanksi agama yang akan dikenakan kepada umat manusia dalam kehidupan ukhwawi. Berbagai nilai dan sanksi-sansknya dapat dikemu- kakan di bawah ini :

5.2.2. l Nilai kepahlawanan, khususnya di bidang agama ter- cermin dalam keberanian seorang syuhada untuk berjuang dan mengorbankan nyawa baik tegaknya agama (Islam). Bagi syuhada tersebut akan mendapatkan imbalan kebahagiaan dan fasilitas perumahan berdinding kaca, lengiap dengan layanan bidadari di akhirat, kelak sesudah hari kebangkitan. 5 .2.2.2. Nilai iman, kebaikan hati, merupakan persyaratan, bagi makhluk insani yang mendambakan fasilitas rumah dengan deretan kamar yang banyak di dalam surga. 5 .2.2.3. Nilai kemurahan ha ti termasuk syarat mutlak yang perlu diupayakan bagi orang beriman, untuk mendapatkan jamuan berupa buah-buahan dengan anekaragam cita rasanya kelak di dalam kehidupan surga.

Sampai sekarang masyarakat Indonesia tetap merupakan masyarakat majemuk, terdiri atas berbagai macam suku bangsa dengan latar belakang budaya yang beranekaragam pula, Dalam hubungan itu lontarak dapat menyiapkan data dan informasi, tentang jaringan sistem nilai-nilai budaya daerah Sulawesi Sela tan.

Data dan informasi nilai-nilai budaya tradisional yang temmat dalam lontarak dapat dimanfaatkan sebagai bahan ra- muan, untuk mewujudkan satu kesatuan budaya nasional. Unsur-unsur kebudayaan daerah yang tersimpan dalam arsip kebudayaan berupa lontarak, akan turut memberikan corak "monopluralistik' ' bagi kebudayaan nasional yang bersifat 'Bhinneka Tunggal lka. '.

Jelaslah bahwa lontarak bersama seluruh nilai budaya daerah yang termuat di dalamnya mempunyai peranan penting, bagi usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasonal. Sejalan dengan itu pula maka lontarak yang menjadi sasaran bahasan dalam penelitian ini mempunyai sumbangan bagi pembangunan nasional.

5.3. Sumbangan Naskah Terhadap Pembangunan Nasional. Sejak awal, hakekat pembangunan nasional adalah Pembangunan Manusia Indonesia seutunnya. Berbicara tentang manusia seutuhnya, berarti membangun manusia secara fisik maupun mental spritual bersama seluruh status dan peranannya, baik sebagai individu maupun sebagai mai<:hluk sosial dan juga

Warouw secara tegas menyatakan, antara lain bahwa • sejarah peradaban untuk manusia telah membuktikan banwa pengetahuan dan pengalaman adalah dasar-dasar teguh dari kemajuan dan pembangun- an (...... ) Dan benar dengan susah payah, dengan segala penderitaan, manusia telah mendapatkan pengalaman hidup, pengalaman tentang penggunaan daya-daya pemikirannya, dan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah membawakan kita pada a bad atom energy, yang telah memungkinkan 'inans landing on the moon• (Majalah Universitas Hasanuddin, No. I, 1970 : 57 dan 60).

Kutipan tersebut menunjukkan betapa pesat kemajuan dan perkembangan yang dicapai umat manusia dalam sejarah pemba- ngunan. Bahkan sejak beberapa tahun berselang manusia sudah mampu mendarat di bulan, bahkan selanjutnya tetap melakukan berbagai penelitian untuk mempelajari kemungkinan dilakukan nya pula pendaratan di planit lainnya. Kalau peristiwa •mans landing on the moon 'itu merupakan suatu peristiwa penting yang sekaligus menjadi bukti autentik tentang pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di zaman atom energy saat ini, maka hal itu tidak akan terlalu mengejutkan bagi orang Muslim di mana dan kapan saja. Karena dari peristiwa Isra 'Mi raj, nabi Muhammad SAW telah lebin dahulu menjelajahi angkasa luar kendati hanya menggunakan kuda tunggangan dari surga, yaitu buraq.

Sampai skarang belum dapat dibuktikan secara kenyataan, bagaimana teknik penjelajahan angkasa luar yang dilakukan oleh Nabi Muhammad di zamannya, namun penuturan dalam lontarak dapat memberikan sumbangan terhadap usaha pemba- ngunan nasional, antara lain sebagai berikut.

Poada adaengngi menrek na nabitta ri langie ditulis oleh leluhur masyarakat Indonesia di tanah Bugis, sejak tahun 1243 H, ratusan tahun sebelum manusia zaman modem melakukan pendaratan di bulan dengan menggunakan pesawat angkasa luar • Xpollo' .' Itu berarti, bahwa lontarak tersebut dapat memberikan sumbangan berupa dasar-dasar pengetahuan dan teknologi bagi kegiatan pembangunan nasio- nal.

5 .3 .2. Dasar-dasar pengetahuan dan teknologi yang terkandung di dalam naskah lontarak, antara lain sebagai berikut:

5 .3.2.1. Meteorologi, terdiri atas infdormasi tentang langit dan bumi bersama lapisan-lapisan atmosfir yang ada di antara keduanya. Demikian pula informasi ilmu pengetahuan tentang matahari, bulan dan bintang yang semuanya termasuk perang- ka benda-benda langit atau planit.

5.3.2.2 .. Pengetahuan tentang teknologi, khususnya yang ber- talian dengan sistem transportasi darat dan udara. Lontarak menyebutkan bahwa Nabi Muhammad menggunakan kendaraan kuda yang disebut Buraq dalam · perjalanan antara Masjidil Haram-Masjidil Aqsha. Sedangkan dalam perjalanan dari bumi ke langit, nabi Munammad menggunakan tangga yang harus ditempuh selama ribuan tahun menurut ukuran waktu dunia ketiga itu, selanjutnya dalam perjalanan dari langit ke tujuh menuju ke Arasy, Nabi Muhammad menggunakan usung- an yang melayang tanpa dikendalikan oleh siapapun atau oleh apapun. Selain itu lontarak tersebut mengungkapkan sejarah per- adaban tentang sistem bangunan (menara) yang dibuat rakyat Mesir untuk digunakan sebagai tangga menuju ke langit. Demikian pula sistem teknologi yang digunakan malaikat elmaut untuk memantau keadaan dunia dan segala isinya, melalui benda sejenis radar sekarang. Semua kisah dan pengalaman Nabi Muhammad yang terca- tat di dalam lontarak tersebut jelas merupakan bahan-bahan dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

modern kendati di zaman Nabi sendiri belum mampu dicapai oleh pemikiran manusia biasa. Namun sekarang, kisah itu dapat berarti lain sehingga memberikan kemungkinan bagi para il- muwan Jan teknolog nasional, untuk meneliti dan mengem- bangkannya untuk kepentingan pembangunan nasional.

5.3.2.3. Sumbangan lain yang dapat diberikan oleh lontarak terhadap pembangunan nasional, ialah dasar-dasar pembentuk- an kepribadian dan mental spritual. Dalam hal ini masyarakat dan pemerintah Indonesia dapat belajar dari sejarah dan penga- laman raja serta negeri Mesir. Ketika itu, raja Mesir yaitu Firaun merasa diri sendiri sangat kuat, handal, berkemampuan di bidang teknologi bangunan. Demikianlah maka ia menyerukan dirinya sebagai Tuhan yang patut disembah oleh sesama manusia. Ketika Musa, sebagai utusan Allah menyampaikan kepada- nya bahwa sesunggunnya pencipta sekaligus penguasa langit di samping bumi beserta segenap isinya, adalah Allah Taala maka murkalah raja Firaun. Mengandalkan kekuatan dan ke- kuasaannya, Firaun memerintahkan agar dibangun menara untuk dijadikan tangga ke langit, dengan maksud memerangi Allah, namun ternyata raja lalim yang sombong itu terkubur di bawah puing-puing reruntuhan menara yang dibangunnya sendiri dengan susah payah. Kisah Firaun tersebut merupakan pelajaran yang amat bermanfaat, untuk dijadikan bahan renungan. Kisah itu mala- han secara langsung mengisyaratkan kepada umat manusia, bahwa membangun tanpa dilandasi oleh keteguhan iman, kepribadian yang mantap, dan keadaan mental spiritual yang tegur, maka tujuan pembangunan sulit dicapai. Berdasarkan uraian secara pokok-pokok yang diberi contoh contoh praktis tersebut, jelaslah bahwa lontarak ternyata bukan hanya relevan dan mempunyai peranan dalam pem- binaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Lebih dari itu lontarak dapat pula memberikan berbagai sumbangan terhadap pembangunan nasional Indonesia.

KESIMPULAN DAN SARAN

Sejak lama masyarakat Bugis di daerah Sulawesi Selatan memiliki tradisi dan ketrampilan mencatatkan sistem penge- tahuan budaya dan pengalaman hidupnya dalam naskah-naskah kuno yang disebut lontarak.

Lontarak yang menjadi sasaran bahasan dalam penelitian dan pengkajian ini memuat kisah perjalanan Nabi Muhammad dari bumi ke langit dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Dari kisah tersebut ditemukan anekaragam unsur nilai-niali sosial budaya yang dijadikan kerangka acuan bagi masyarakat setempat dalam pargaulan hidupnya. Nilai-nilai utama yang terdapat dalam catatan lontarak tersebut, terdiri atas kejujuran, kerelaan menerima maksud baik orang lain, kebaikan hati, tahu menysukuri nikmat Tuhan, ketaatan kepada orang tua, memelihara rahasia keluarga ketaatan isteri terhadap suaminya, mulia, berani dalam kebenaran, beriman, serta murah hati. Pengkajian lontarak adalah sangat relevan dengan usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional. Selain itu,

Pemerintah dan lembaga pendidikan Tinggi perlu mengada- kan seminar atau diskusi secara teratur, untuk menanggapi kandungan isi lontarak terutama yang bertalian dengan unsur ilmu pengetahuan dan teknologi modem, serta mengkaji nilai- nilai kemanusiaan yang sangat penting bagi pembinaan kepri- badian bangsa maupun dalam rangka pembinaan mental spiri- tual.

PUSTAKA

Alisjahbana, S. Takdir, Perkembangan Sejarah Kebudayaan In- l 977 donesia, Dilihat dari jurusan nilai-nilai, ldayu Press Jakarta. Bierdsfedt, Robert, The Social Order, Third Edition, McGraw- 1970 Hill Kogakusha, Ltd., Tokyo. Danandjaja. James, Folk/or Indonesia, Ilmu Gosip, dongeng, 1984 dan lain-lain, Grafiti Pers, Jakarta. Firth, R., B. Mochtan, S. Puspanegara, Tjiri-tjiri Dan Alam Hi- l 960 dup Manusia, Suatu Pengantar Antropologi BuJaya, Sumur Bandung, Bandung. Foster, Georg M, Applied Anthropology, Little Brown and 1969 Company, Boston. Gazalba. Sidi, Asas Kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta. 1978 Geertz, Clifford, The Interpretation of Culture, Basic Books, 1973 Inc. New York. Hamid, Pananrangi, Kawin Lari di Kecamatan Ulaweng (Ka- 1978 bupaten Bone), Tesis, (tt), Ujung Pandang.

Sejarah Teori Antropologi, Universitas Indonesia 1987 (VI-Press), Jakarta. Llnton, Ralpn, The Study of Man, Terjemahan Firmansyah, 1984 Jemmars, Bandung. Mattulada, Peranan Leadership Dalam Mengatasi Hambatan- 1970 hambatan Perkembangan Masyarakat oleh Pola- pola Pikir Tradisional, Artikel dalam Majalah Universitas tfasanuddin Ujung Pandang.

-------, Latoa. Satu lUkisan analitis terhadap Antropologi

1985 Politik Orang Bugis, Gajah Mada University Press Yogyakarta. Mukhlis, Kathryn Robinson, Panorama Kehidupan Sosial, Lem- 1985 baga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang. Shweder, Richard A and Robert A. Levine, Culture Theory, 1985 Essays on Mind, Self, and Emotion, Camridge University Press, Camridge. Splinder, Louise S., Culture Change and Modernization, Mini- 1984 Models and Case Studies, Waveland Press, Inc., Illinois. Subagio, Rachmat, Agama Asli Indonesia, Sinar Harapan dan 1981 Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.