CERITA
DARI
KELUARGA
TAHANAN POLITIK
Sidang pertama 60 kawan di Jakarta Utara
Kisah dari Utara Jakarta
Ibu Aminah tampak kebingungan. la duduk di samping tetangganya yang mengantarnya ke Tanjung Priok, yang jauhnya 114 kilometer dari rumahnya. Tujuannya satu: berjumpa dengan anaknya. Setelah terakhir berkabar pada tanggal 30 Agustus, ia baru mendapatkan kabar sekitar seminggu kemudian bahwa sang anak telah ditahan di Polres Tanjung Priok.
Ibu Aminah kebingungan. la bahkan tidak mengerti bagaimana caranya pergi ke Jakarta. Ibu Aminah hanya punya keberanian, dan tetangga yang mau menolongnya. Tujuannya cuma satu: melihat kembali wajah sang anak yang ia tahu tidak mungkin berbuat kriminal.
Anak Ibu Aminah hanya tukang parkir. Sebagai tulang punggung keluarga, jauh dari rumah adalah kesehariannya. Namun, dipenjara bukanlah tempat seharusnya ia berada. la tidak berbuat kriminal, apalagi seperti yang dituduhkan kepolisian bahwa ia menyerang polisi.
Kini, ibunya bahkan kesulitan hanya untuk
melihat wajahnya. Saat tulang punggung keluarga
dipenjara, bagaimana Ibu
Aminah bisa bertahan?
Begitu pula keluarga Ibu Azizah. la terduduk dan menceritakan nasib suaminya, sedangkan anaknya sedang bermain di dekatnya. Suaminya hanyalah sopir, yang seperti orang biasa mendekat dan menonton saat ada keramaian. Sang suami tidak menyangka, bahwa kemudian ia dituduh menyerang polisi.
Wajah Ibu Azizah saat itu masih tegar, tetapi saat menceritakan bagaimana kondisi anaknya, air matanya jatuh.
Anaknya yang masih kecil kadang
menanyakan, "di mana ayah?".
Ibu Azizah juga takut, bahwa anaknya nanti akan dicap "anak penjahat", meski kenyataannya ia adalah anak dari sopir yang hanya mencari nafkah.
Pada hari itu, keduanya tidak diizinkan bertemu orang yang mereka kasihi di penjara. Polisi tidak mengizinkan, entah apa alasannya. Saat itu, sudah sebulan lebih anak Ibu Aminah dan suami Ibu Azizah telah mendekam.
Tampaknya tubuh tahanan hanyalah mainan bagi kepolisian. Tubuh tahanan sudah bukan lagi milik tahanan itu, apalagi keluarganya.
Mungkin orang bisa menyanggah, "tidak mungkin penjahat mengakui kesalahannya", tetapi jika seorang dibelenggu tubuhnya dan dihadapkan dengan ketakutan, bisakah seseorang tetap berbicara kebenaran? Maka kebenaran hanya bisa diungkapkan setelahnya, itupun dengan orang terdekat.
Maka bukan suatu yang mengherankan, jika apa yang dikatakan di hadapan keluarga berbeda dengan apa yang ditulis di berkas para penyiksa yang disebut kepolisian itu. Apalagi keterangan yang diucapkan dalam kesepian, tanpa ada dampingan dari siapapun yang disebut “pendamping hukum"
Sama seperti banyak dari kita, Ibu Aminah dan Ibu
Azizah merasa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Tapi toh, pada akhirnya yang tersisa adalah keberanian. Ibu Aminah memberanikan diri menempuh ratusan kilometer, dan Ibu Azizah memberanikan diri mengungkapkan ketakutan yang menggetarkan jiwanya.
Yang tersisa kemudian adalah keberanian kita, untuk hadir dan mendukung mereka, dari penjara sampai pengadilan, sampai semua kasus tuntas, sampai kebenaran terungkap, dan sampai semuanya bebas.
*Semua nama disamarkan
W 5
Dipublish oleh: Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi, Kolektif Membaca Melawan, dan Logos ID