Baca PDF (OCR): Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Dalam Pemeliharaan Lingkungan Alam di Kab. Gunung Kidul Prov. DI Yogyakarta.tif

148 halaman · 129 halaman diproses dengan OCR· 160232 ms

Daftar isi
  1. DALAM PEMELIHARAAN
  2. LINGKUNGAN ALAM
  3. PROVINSI--~----~-!!!!!!!!:/DA~RA_----~--l§--=-i---iM~WA------YDGYAKARIA-~ ~---------
  4. .. '
  5. IG.N.W::1
  6. PENGANTAR
  7. dengan Iingkungan dan masyarakat Iainnya, untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan/atau kesulitan yang dihadapi.
  8. Ahimsa-Putra. H.S
  9. Halaman
  10. BAB II DESKRIPSI DAER AH PENELITIAN
  11. BAB Ill TATA RUANG DA N PANDANGAN HIDUP
  12. PENGETAHUAN MASYARAKAT
  13. DAFTAR TABEL
  14. Halaman
  15. FOTO
  16. PENDAHULtJAN
  17. B. Masalah
  18. C. Tujuan
  19. D. Kerangka Pikir
  20. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
  21. A. Lokasi dan Kondisi Alam Desa Beji
  22. B. Penduduk
  23. Tabell
  24. Tabel2
  25. Mata Pencaharian Penduduk Beji
  26. Somber : Potensi Desa Beji, 2004
  27. E. Latar Belakang Sosial-Budaya
  28. -~~9UDPAR
  29. Seorang Petani Sedang Memainkan Rinding
  30. Sawah
  31. Pcmanfaatan Lingkungan Alam Sckitar Desa
  32. Pola Rumah
  33. J. Hubungan Manusia Dengan Leluhur dan Dunia Gaib
  34. 2. Hubungan Manusia dengan Alam
  35. 3. Hubungan Manusia dengan Manusia
  36. MILIK KEPUSTAKAAN DIREKTORAT TRADISI
  37. DITJEN NBSF DEPBUDPAR
  38. PENGETAHUAN MASYARAKAT
  39. Pengetahuan Pemanfaatan Tanah
  40. Tabcl 4. Jcnis Tanah dan sifatnya
  41. Tabel 5. Klasifikasi Sumber-Sumber Air
  42. Klasifikasi hutan
  43. 4. Gunung
  44. l. Hewan (fauna)
  45. a. Jenis Hewan Ternak
  46. Penduduk
  47. Pemanfaatan Tanaman
  48. POLA PERTANIAN
  49. A. Cara Pemanfaatan Lingkungan
  50. Sawah
  51. 2. Tegalan
  52. PENUTUP
  53. B. Saran
  54. PUSTAKA
  55. Emiliana. S.
  56. Manan, A., dan Nur Arafah.
  57. E. Metode
  58. DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
  59. KABUPATEN GUNUNGKIDUL
  60. .. ......
  61. -...-,
  62. ......
  63. . .. -,..
  64. DAFTAR ISTILAH

Milik Depbudpar Tidak diperdagangkan

KEARIFANTRADISIONAL MASYARAKAT PEDESAAN

DALAM PEMELIHARAAN

LINGKUNGAN ALAM

KABUPATEN GUNUNG KIDUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

DEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DIREKTORAT JENDERAL NILAI BUDAYA, SENI DAN FILM

-.::.....=.-""""'--- __ !. ~ ~--=----~--=-""="-

-

PROVINSI--~----~-!!!!!!!!:/DA~RA_----~--l§--=-i---iM~WA------YDGYAKARIA-~ ~---------

.. '

DEPARTEMEN K EBUDAYAAN DAN PARIWISATA DIREKTORAT JENDERAL NILAI BU DAYA, SENI DAN FILM 20 07

: ·?s 7 '1 ~,.,;:r· ~·.,,,.,vLt.11-··ft,t,·•1:7 ;. TGL : ltl -11- '?_3 l:~NO! P[!(;TA,{t, ~ KEARIFAN TRADISIONAL:-:M~A~S~Y~-..J. T PEDESAAN DALAM PEMELIHARAAN LINGKUNGAN ALAM KABUPATEN GUNUNG KIDUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Penulis : -Ora. Sumintarsih, M. Hum -Christriyati Ariani Pengantar Editor : Dr. Heddy Ahimsa Putra Penerbit Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta 2007 Edisi I ISBN: 978-979-15679-8-5

Pengenalan dan penanaman nilai-nilai tersebut dari berbagai aspek kehidupan diharapkan dapat mengikis etnosentrisme yang sempit dalam masyarakat ki ta yang majemuk. Dengan dcmikian diharapkan dapat meningkatkan apresiasi dalam mempertebal jiwa kebangsaan dan kebanggaan sebagai orang Indonesia.

Kami bangga dapat menerbitkan buku-buku hasil penelitian, inventarisasi, transliterasi suatu tradisi suku-bangsa dalam hal turut serta mencerdaskan dan meni ngkatkan derajat bangsa. disamping hal-hal formal pencapaian target peketjaan.

Dalam kesempatan ini kami menerbitkan buku denganjudul .. Kear{jan T!-adisiona! Masyarakat Pedesaan da!am Pemeliharaan Lingkunt;an A /am Kabupaten Gunung Kidui Provinsi Daerah lstimewa Yogyakarta''. Terbitan ini diangkat dari naskah hasil penelitian yang sekaligus inventarisasi aspek-aspek tradisi budaya suku-suku bangsa tahun 2005. yang merupakan hasil kerja sama Direktorat dengan Unit Pelaksana Teknis di Yogyakarta. Selain itu kami juga bekerja sama dengan peneliti dari beberapa universitas

Dalam kesempatan ini pula sebagai penghargaan kami sampaikan ucapan terima kasih atas kerja samanya kepada peneliti sekaligus penulisnya Dra. Sumintarsih. M. Hum, Christriyati Ariani, dan editor Dr. Heddy Ahimsa Putra serta semua pihak yang ikut dalam kegiatan ini.

Oleh karena itu kami menerima kritik dan sum bang saran pembaca untuk perbaikan karya kita semua. Akhirnya kami berharap semoga penerbitan ini bermanfaat dan berdampak positifuntuk memajukan bangsa kita.

Jakarta, 2007 Direktur Tradisi

-

IG.N.W::1

NIP. 130606820

ii

PENGANTAR

Salah satu topik yang banyak mcnjadi bahan pembicaraan para pecinta clan peneliti masalah lingk ungan eli Indonesia dalam satu clasawarsa terakhi r adalah keariran tradisional. Sebagai sistcm pcngctahuan yang dimilik i olch suatu komunitas. kearifan tradisional bcri si antara lain nibi-nilai buda:a. pandangan hidup serta pengctahuan mengcnai lingkungan ) ang telah di\variskan secant turun-tcmurun oleh \arga komunitas tcr-scbut. dari masa lampau hingga masa ki ni. Sistem pcngetahuan ini dikatakan scbagai kcari fan kare n a ckngan1)Cngetahuan itulah \ arga kom un i las dapat rncn ye lcsaikan berbagai masalah kchidupan: ,tng mcrcka hadapi. dan pcnyclcsaian tcrscbut tidak hanya mcmungkinkan mercka bcrtahan hid up sesaat. leta pi dalam jangka waktu : ang la-ma. hahkan hingga bergcncrasi-gcnct asi (cf'. Ahimsa-Putr

Dalam buku ini Sumintarsih. ahl1 :.mtropologi lulusan pascasarjana lJ G l\ 1. memaparbn keari fan trad isional ) ang ada pad a sebuah ko mu nitas dcsa eli .l

Dc ngan mcnggunakan paradigma Etnosains. Sumintarsih mencoba mcngungkap kearil~tn lokal tradisional warga dcsa Bej i. dan clalam hal ini Sumintarsih tclah melakukannya dcngan baik. Berbagai isi kearifan tradisionalmasyarakat Beji yang bcrupa sistcm klasifikasi tentang lingkungan. disajikan oleh Sumintarsih dalam buku ini. Misalnya saja klasitikasi tentang tanah. Masyaral\at Beji

iii

mav.:ur, lembut dengan warna agak kehitaman, sedang tanah tegalan berciri agak keras, prongkal- prongkal (berbongkah-bongkah), lempung (tanah Iiat), dengan warna merah. Tanah pekarangan umumnya keras deng-an warna merah keputihan.

Berkenaan dengan ciri-ciri tersebut masyarakat Beji mengetahui dengan baik jenis-jenis tanaman yang cocok untuk ditanam pada tanah-tanah tersebut. Tanah sawah mi-salnya cocok untuk ditanami padi, sayuran dan palawija. Tanah tegalan cocok untuk ta-naman palawija, ketela, jagung dan ubi-ubian (pala kependem), sedang tanah peka-rangan lebih cocok untuk ditanami jagung, ketela dan tanaman keras, serta untuk tempat tinggal (mendirikan rumah). Pengetahuan mengenai tanah dan cara pemanfaatannya ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal tradisionaL karena pengetahuan ini diperoleh secara turun-temurun dari generasi-generasi yang telah lalu (karena itu disebut ·'tradisionar'), dan bersifat lokal (yaitu terbatas pada masyarakat desa Bej i). walau-pun bukan tidak mungkin juga memiliki kesamaan dengan pengetahuan ten tang tanah pada masyarakat desa lain di Gunung Kidul.

Selain itu, masyarakat Beji juga memiliki pengetahuan tentang berbagai tanaman dengan manfaatnya masing-masing. Berdasarkan atas kegunaannya ini masyarakat Beji membedakan berbagai tanaman menjadi tanaman pangan, tanaman untuk ternak, tanaman untuk pupuk. tanaman untuk menahan longsor. tanaman jamu, tanaman sayuran dan tanaman buah. Yang termasuk tanaman penahan longsor antara lain adalah genjah. /amtoro, kolonjono. Tanaman untuk pupuk hijau antara lain adalah johar, sengon, /amtoro. sedang tanaman untuk ternak adalah rumput gajah,

iv

k/eresede. Tanaman untukjamu (obat-obatan tradisional) antara lain adalahjahe, kunyit. !engkuos

Pengetahuan mengenai tanaman 1111 JUga menunjukkan adanya keari fan karena deng-an pengetahuan tc rsebut masyarakat Beji dapat menyelesaikan sejumlah pcrsoalan ya ng mereka hadapi sehari-hari. yang dapat membahayakan kebcrlangsun ga n hidup mereka.

Dengan pcngctahuan tentang ta naman jamu. masyarakat Lkj i dapat membuat obat-obatan untuk menyc mbuhkan sakit dan pcnyakit yang mereka dcrita. Dengan pcngctahuan mcngcnai tanaman unt uk pcnccgah tanah longsor masyarakat Bcj i dapat mcnggun akan tanaman tersebut untuk me lindungi kawasan mereka dari ta nah lo ngsor ataumencegah tc1jadi nya tanah longsor di dcsa mcrcka. yang dapat mengancam kchidupan mcrcka. Tanaman unt uk pupuk hijau dapat mercka gunakan unt uk mcningkatkan produkti\' itas pertanian mereka, yang pcnting bagi kebcrlangsungan hidup mercka. Ini la h kearifan trad isional lokal masyarakat Bcji. Masih hanya k lagi kcarifan tradision~1l lain yang ditampilkan olch Sumintarsih dalam buku ini dcngan cara yang scderhana na-mun tctap mudah dimengerti.

Sekclumi t contoh data ctn ografi mcngenai kcari fan tradisional tersebut sangat sesuai dcngan definisi kcarifan tradi sion al scbagai perangkat pengctahuan ~ · ang dimiliki oleh suatu komunitas yang diperoleh dari gencrasi-gcncrasi sebelumnya secara lisan atau mclalui contoh tindakan, untuk

mcnyclcsaikan secara baik dan bcnar bcr·bagai pcrsoalan dan/ atau kesulitan yang dihadapi (i\ hi msa -Putra. 2006) Lcb ih dari itu, kata ·kearifan· j uga dapat diart ikan cbagai ·kemampuan tmtu k mengambil ti ndakan yang bai k dan benar ·. Kcmampuan tcrscbut pada dasarnya adalah penge-tahuan untuk menentukan tindakan-tindakan yang dipandang tepat. gun a menyclesaikan masalah- masalah tertentu. v

Pada kearifan lokal penekanannya adalah tempat, lokalitas, dari kearifan tersebut, sehing-ga kearifan lokal tidak harus merupakan sebuah kearifan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kearifan lokal bisa merupakan kearifan yang belum lama muncul dalam suatu komunitas. Oleh karena itu kearifan lokal tidak selalu bersifat tradisional, dan karena itu pula lebih luas maknanya daripada kearifan tradisional. Untuk membedakan kearifan lokal yang baru saja muncul dalam suatu komunitas dengan kearifan lokal yang sudah lama dikenal komunitas tersebut, kita dapat menyebutnya "kearifan kini", "kearifan baru", "kearifan kontemporer", dan "kearifan tradisional" dapat pula kita sebut "kearifan dulu" atau "kearifan lama".

Kearifan lokal mencakup berbagai pengetahuan, pandangan, nilai serta praktek-praktek dari sebuah komunitas baik yang diperoleh dari generasi-generasi sebelumnya dari komunitas tersebut, maupun yang didapat oleh komunitas tersebut di masa kini, yang tidak berasal dari generasi sebelumnya, tetapi dari berbagai pengalaman di masa kini, termasuk juga dari kontaknya dengan masyarakat atau budaya lain. Oleh karena itu kearifan Iokal dapat didefinisikan sebagai perangkat pengetahuan yang dimiliki oleh suatu komunitas yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya maupun dari pengalamannya berhubungan

dengan Iingkungan dan masyarakat Iainnya, untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan/atau kesulitan yang dihadapi.

Mengingat bahwa konsep kearifan lokal merupakan konsep yang lebih luas, yang bisa mencakup kearifan tradisional maupun kearifan di masa kini, maka istilah kearifan lokal inilah yang sebaiknya digunakan dalam wacana ilmiah tentang kearifan masyarakat. Selain itu konsep kearifan lokal juga dapat

vi

··tradisionar· atau kuno. yang mudah menimbulkan kesan negatif. dan dapat membuat orang tidak begitu berminat untuk mengetahui pengetahuan-pengeta-huan lokal yang ada dalam masyarakat mereka. yang sebenarnya sangat banyak manfaatnya.

Dcskripsi kearifan trad isional ya ng disajikan Su mintarsih di sini patut kita sambut dengan gembira. karena informasi di dalamnya membuat kita lebih memahami betapa masyarakat desa yang dari luar tampak hid up dalam kesederhanaan. ternyata memiliki perangkat pengetahuan ya ng kompleks mengenai lingkungan alam di mana mereka hid up. Mereka memahami dengan baik berbagai keterkaitan antarunsur alam dengan pola kehidupan mereka sehari-hari, dan mereka mampu menj aga keselarasan hubungan mereka dengan lingkungan alam terse but karena mereka mampu membangun kesepakatan di antara mereka tentang bagaimana menjaga hubungan yang telah selaras ter-sebut dengan menetapkan sejumlah aturan-aturan yang dijaga dan ditaati bersama penerapannya.

Scbagai sebuah topik kajian kearifan tradisional sebenarnya bukan merupakan topik yang baru di kalangan ilmuwan sosial- budaya. terutama di kalangan para ahl i antropo-logi (lihat Ahimsa-Putra, 1995; 1997a: 1997b; 2002; 2003; 2004a · 2004b; 2005; Brush. 1980; Conklin. 195 4; Fabrega. 1971; 1972; Frake. 1964; Gladwin. 1980; Ingham, 1970; Johnson. 1974; Lucier. Van Stone. Keats. 1971; Perchonock and Werner. 1969; Skingle. 1970; Spradley. 1975: TenzeL 1970). Sudah sejak lama para ahli antropologi menaruh perhatian yang besar terhadap pengetahuan 1okal tradisional ini. Ketika kea-rifan tradi siona1 dan masa 1ah pelestarian lingkungan be1um menjadi isyu yang menjadi perhatian banyak pihak. para ah1i antropo1ogi telah mcl akukan penelitian mengenai kearifan tradisional ini dengan sangat intensif. Di si tu mereka

vii

"kearifan lokal", namun apa yang mereka ungkapkan dalam etnografi mereka sebenamya adalah apa yang sekarang kita sebut sebagai kearifan lokal. Tradisi yang panjang dalam penelitian ini telah membuat para ahli antropologi berhasil mengembangkan metode penelitian dan tehnik-tehnik penulisan etnografi yang canggih untuk menyajikan kearifan lokal tersebut dalam bentuk sebuah etnografi (lihat Johnson, 1974: Perchonock and Werner. 1969; Spradley, 1979: Werner and Fenton,

1970). Di kalangan ahli antropologi paradigma yang digunakan untuk mengungkap penge-tahuan masyarakat mengenai lingkungannya ini adalah paradigma Etnosains. Dengan paradigma ini para ahli antropologi telah berhasil mengungkap dan mendeskripsikan berbagai bentuk danjenis pengetahuan tradisional dan lokal dari ratusan suku-bangsa di dunia. Mereka telah mendeskripsikan pengetahuan suku-sukubangsa tersebut mengenai tanaman (Brush, 1980). mengenai tanah (Frake, 1954; Johnson. 1974 ). me-ngenai penyakit (Frake. 1964b; Hartog and Resner. 1972; TenzeL 1970; Obeyesekere, 1970). mengenai obat-obatan (Fabrega. 1971: Ingham. 1970; Skingle, 1970). menge-nai lingkungan fisik (Ahimsa-Putra, 1995; 1997b: Spradley. 1975) dan sebagainya. Le-bih dari itu, mereka juga telah dapat mengungkapkan pola-pola perilaku yang diwujud-kan atas dasar pengetahuan-pengetahuan terse but, sehingga orang lain dapat me- ngetti mengapa suatu sukubangsa tettentu menampilkan pola-pola perilaku tettentu berkenaan dengan unsur-unsur lingkungan tettentu di sekeliling mereka. Sayang sekali paradigma ini tidak begitu dikenal oleh ahli-ahli antropologi atau para peneliti sosial-budaya di Indonesia. sehingga mereka tidak dapat memanfaatkan berbagai metode pene-litian dan penulisan etnografi yang telah berkembang dalam paradigma ini untuk peneli-tian dan penulisan etnografi mereka.
viii

ya ng men genal paradigma Etnosains. Dcngan sangat sadar Sumintarsih memanfaatkan para-digma ini untuk mcnggal i dan mcngungkapkan keari fan trad isi onalmas: arakat de sa Bcji. Tidak mcnghcrankan jika Sumintarsih kemudian bcrhasil mcnampilkan sistcm klasifikasi masyarakat Beji tentang un sur- unsur lingkungan tcrtcntu: ang dipandang pcnting oleh masyarakat tcr chut. sepcrti misalnya klasi likasi tanah. klasi libsi tumhuh- tumhuhan. klasilikasi herbagai hcwan. klasilikasi musim. dan scbagain:a. Cara pcmaparan inilah yang bc lu m ban:ak digunakan olch para pcncliti Indonesia kctika mcrcka mcncliti kcar it~u1 tradisional swttu mas:arakat. lidak nh. .' llghcranbn .ii ka hasil pcnclitian mcrcka umumnya juga tidak scjclas dan scsistcmatis basil pcncliti~tn Sumintarsih di sini.

Salah satu ciri penting dari etnografi dengan pendckatan l·:tnosains aclalah adan:a bcrbagai istilah dalam bahasa lokal atau hahasa nJa S)arakat tincliti clal am ctnograli tersebut. Ciri in i tampak j L·Ias dalam buku in i. dan ini mcnccnninka n kcpckaan Surnintarsih schagai scorang pcncliti. Sebagai ahl i an tropologi Javva yang mcncliti scbuah komunitas J

ix

"holistik" (1922). Etnografi holistik adalah deskripsi kebudayaan dengan menggunakan suatu unsur kebudayaan sebagai fokus deskripsi, dan kemudian memaparkan hubungan-hubungan yang ada antara unsur budaya terse but dengan unsur-unsur budaya yang lain. Bilamana teknik etnografi semacam ini dilakukan dengan baik dalam etnografi etnosains maka kesan kaku dan teknis akan terhapus dan aspek perilaku masyarakatjuga akan dapat lebih tampil. Selain itu, pembaca juga akan memperoleh kesan bahwa kearifan tradisional yang ditampilkan merupakan bagian yang terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang diteliti.

Dalam buku ini, teknik penulisan etnografi holistik sebenarnya dapat dilakukan dengan agak mudah, karena ada satu unsur kebudayaan yang sangat jelas yang dapat menjadi fokus dari etnografi tersebut yakni pola pertanian masyarakat desa Beji dan hutan Wonosadi. Banyak sekali aktivitas dan unsur budaya masyarakat Beji yang terkait dengan pertanian dan hutan Wonosadi yang mereka keramatkan. Seandainya saja Sumintarsih dapat mengikuti strategi penulisan etnografi yang telah ditunjukkan oleh Malinowski, kesan teknis dan kaku yang terdapat dalam deskripsi mengenai kearifan tradisional di sini tidak akan muncul. Selain itu, pembaca juga akan memperoleh kesan bahwa kearifan tradisional yang dideskripsikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat yang diteliti, karena terwujud denganjelas dalam aktivitas sehari-hari mereka.

X

yang mas ih tcrus diperdebatkan oleh para ahli untropologi. Misalnya saja isyu ten-tang hubungan kearifan tradisional ters~:but dengan praktek-praktek ya ng betul-bctul dilakukan oleh masyarakat (Conklin. 1954: Gladwin. 1958: 1980: Johnson. 1974: Wer-ner and Fen ton. 19 70). isyu tentang dimcnsi kl asi fika si ,:ang dianggap pcnting oleh warga mas)arakat (Frakc. 1962: Perchonock and Werner. 1969): isyu tentang tema-tcma buclaya yang tcrdapat di balik sistem klasifikasi (Fabrcga. 1972 : Obeyesckcrc. 1970), dan sebagainya. Satu atau dua isyu teoritis yang bcrkembang clalam paradigma Etnosains ini sebenarnya clapat dibahas oleh Sumintarsih clcngan memanfaatkan data yang telah dipcrolchnya. Andaikan saja Sumintarsi h bersedia mengaitkan tcmuan-te-muannya dcngan isyu teoritis antropologi. terutama is) u teori tis ya ng bcrkem bang cia-lam k

Kita bcrharap eli masa-masa mendatang berbagai kajian tentang kcarif"an traclisional eli Indonesia akan clapat memberikan sumbangan bukan hanya substanti L tetapi juga sumbangan teori ti s yang kbih bcsar. Dcngan demikian kajian tentang kearifan tradisional tidak han) a akan memlxm a manfaat prakti s.: akni untuk pemberdayaan masyara-kat dan pclestarian lingkungan. tetapijugJ mcmbcrikan manfaat teoriti s. yang penting bagi perkembangan kajian tentang kcarifan tradisional itu sendiri.

Editor

Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra

xi

Ahimsa-Putra. H.S

1985 "Etnosains dan Etnometodologi: Sebuah Perbandingan", MaJyarakat Indonesia Th. XII (2): 103-133

1989 "Dasar-dasar Pendekatan Etnosains Dalam Antropologi". Buletin Antropologi 15. Th. V: 16-29.

1995 "Orang Bajo dan Kearifan Lingkungan Mereka". Tourisma 213: 23-32.

1997a Etnosains: Antropologi Fenomenologi Untuk Pembangunan Yang Lebih Manusiawi. Makalah dalam Widyakarya Nasional "Antropologi dan Pembangunan", 26- 28 Agustus 1997.

1997b "Air dan Sungai Ciliwung: Sebuah Kajian Etnoekologi". Prisma 1, Thn. XXVI: 51-72.

2002 Etnoekologi Kali Progo. Makalah diskusi "Kali Progo Masa Depan'·, Yogyakarta, 10 September 2002.

2003 Etnosains dan Etnoteknologi: Memberdayakan Pengetahuan dan Teknologi Lokal. Makalah Kongres Kebudayaan, Bukittinggi, 19-22 Oktober 2003.

2004a Kear(fan Tradisional dan Lingkungan Sosial. Makalah Seminar "Kearifan Lokal sebagai Salah Satu BentukAspek Tradisi"'. Jakarta, 16 Pebruari 2004.

2004b "Etnosains: Mengungkap Pengetahuan Masyarakat Pedesaan". Dinamika Pedesaan dan Kawasan 4 (4): 34-

45.
xii

Tradisional dan Lingkungan Fisik. Makalah Lokakarya "lnventarisasi Aspek-aspek Tradisi", Jakarta, 23 Juni 2005. Brush, S.B. 1980 ''Potato Taxonomies in Andean Agriculture" dalam Indig- enous Knowledge Sys !ems and Development, D. W. Brokensha et. AI (eds). Lanham : University Press of America. Conklin. H.C. 1954 "An Ethnoecological Approach to Shifting Agriculture''. Transaction ofthe New York Academy ofSciences. 2"d ser. Vol. 17 : 133-142. Durbin, M.A. 1966 ''The Goals ofEthnoscience''. Anthropological Linguistics 8 (8): 22-41. Fabrega. H. 1971 ''Some features on Zinacantecan medical knowledge". Eth- nology I 0: 183-203 Fowler, C.S. 1977 '·Ethnoecology., dalam Ecological Anthropology. D.L. Hardesty. New York : John Wiley and Sons. Frake, C.O. 1962 ·'The Ethnographic Study of Cognitive Systems" dalam Anthrvpvlvgy and Human Behm·ior. T. Gladwin dan W.C. Sturtevants (eds). Washington : Anthropological Society of Washington.

xiii

"The Diagnosis of Disease among the Subanun of Mindanao" dalam Language in Culture and Society, D. Hymes (ed). New York: Harper and Row. Gladwin, C. 1980 "Cognitive Strategies and Adoption Decisions: Study of Non-Adoption of an Agronomic Recommendation (Mexico)" dalam Indigenous Knowledge Systems and De- velopment, D.W. Brokensha et. al. (eds). Lanham: Univer- sity Press of America. Hartog, J. dan G. Resner 1972 "Malay folk treatment concepts and practices with special reference to mental disorders". Ethnomedizin I: 353-372. Ingham, J .M. 1970 "Mexican folk medicine". American Anthropologist 72: 76-

87.
Johnson, A. 1974 "Ethnoecology and Planting Practices in a Swidden Agri- cultural System". American Ethnologist I (I): 87-1 01. Lahajir, Y. dan H.S. Ahimsa-Putra 2000 "Etnoekologi Perladangan Berpindah Orang Daya Tonyooy-Rentenukng di Dataran Tinggi Tunjung, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur". Sosiohumanika I 3 (2): 245-261.

Lucier, C.V., J.W. Van Stone, D. Keats 1971 "Medical practices and human anatomical knowledge among the Noatak of Eskimo". Ethnology 10: 251-264.

xiv

B.
1922 Argonauts oj'the Westem Pacific. London : Routledge Obeyesekerc. G. 1970 ··Ayun·cda and mental illn L:ss". ( 'omparati1 ·e ,\'tudy o(So- ciety ond fli.\1 01:\· 12: 292-2 96. Perehonock. and 0. Werner 196l) "Nm·aho System:-, ui'Cb~-.,ilic a tiun: Some Implicatio ns l(> r Ethnosciente". fthnolog\ · 8 (3): 229-242. <) uinn. !. 1978 " Do Mi'antcse li-.,h seller-; cstinwte probabilities 111 their head?·· .. lmaimn Ulmologist 5 CJ: 206-226. Skingk. R.C. 1970 "Some medical herbs used by the nati\'CS oi"Nevv (iuinea·· .\/unkind-.. 223-225. Spradlc). J.P. 1975 "Adapti\ c Strategies among Urban Nomads: The Ltlmo- scicncc of'Tramp Cult ure .. da lam ( 'ity /l (tys. J. Friend ! and

N. J. Chrisman (cds.) Nc\ \'ork.
Thomas Y. Crtmcll 1979 / he !:'thnogmjJhic /ntenic\1'. Ne\ Yo rk : I Jol t. Rinehart and ~ ' in ston. St urtc< ml. W. C. I 96-J. " Studies in Lth nosc iencc .. dalam l/·anscult uru! Studi£' s in Cog nition. A. K. Romney dan R.G.A. D 'A ndradc (eds.) American Anthropologist Spec ial Publ ication 66 (3 ). Part. '

XV

1970 "Shamanism and concepts of disease in a Mayan commu- nity". Psychiatry 33: 372-380. Vide beck, R. and J .Pia 1966 "Plans for Coping: An Approach to Ethnoscience". Anthro- pological Linguistics 8 (8): 71-77. Werner, 0. 1969 "The Basic Assumptions ofEthnoscience". Semiotica 1 (3): 328-338. 1972 "Ethnoscience". Annual Review of Anthropology 1: Werner, 0. dan J. Fenton 1970 "Method and Theory in Ethnoscience or Ethnoepistemology" dalam Handbook of Method in Cul- tural Anthropology, R. Naroll dan R. Cohen ( eds. ). New York: Natural History Press.

xvi

lSI

Halaman

SAMB UTAN DlR EKT UR T RA DISI ............................
KAlA PENGANTAR ..................................................... Ill
DAFTAR lS I ................................................................ .X V II
DAFTAR TAl3EL .......................................................... .XI X
DAFTAR G AMB A R DA FOTO ................................ ..\ X I
BABI PENDAHULUA N

A. Latar l3clakang Masalah ..........................
'"\

B. Masalah .................................................. .. J
C. Tujuan ..................................................... .f
D. Keran gka Pikir ........................................ .f
E. Ruang U ngku p ........................................ 7
1·:. Metodc ...................................................

BAB II DESKRIPSI DAER AH PENELITIAN

A. Lokasi dan Kondi si Alam Desa Bcji ....... 13
B. Pcnduduk ..................................... ............ 16
C. Pendid ikan ............................................... 18
D. Mata Pcnca harian .................................... 19
E. Latar Bclakang Sosiai -Budaya ................ ' '

BAB Ill TATA RUANG DA N PANDANGAN HIDUP

A. Konscp Tata Rua ng ................................. 35
B. Pandangan Hid up .................................... .+ 9
xvii

PENGETAHUAN MASYARAKAT

A. Pengetahuan tentang Lingkungan Fisik .. 61
B. Pengetahuan tentang Flora dan Fauna.... 76
BAB V POLA PERTANIAN
A. Cara Pemanfaatan Lingkungan ...... ..... .... 93
B. Teknologi dalam Mata Pencaharian ........ 102
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan............ ............... .. .......... .. .. .. 115
B. Saran........................................................ 117

DAFTAR PUSTAKA DAFTARPETA DAFTAR INFORMAN DAFTAR ISTILAH

xviii

Peancaharian....

DAFTAR TABEL

Halaman

I Komposisi Pencluduk Dcsa Beji Berdasarkan Us ia

Tahun 2004 ............... ........................................ 17
Tabcl 2 Mata Pencaharian Pend uduk Beji ................ ..
Tabel 3 Pengctahuan Pemanl'aatan Tanah ................. .. 63
Tabel 4 .Ieni s Ta nah dan sifatnya ............................... .. 65
Tabcl 5 Klasifikasi Sumber-Sumber Air ................... ..
Tabcl 6 Klasifikasi hutan .......................................... .. 74
Tabcl 7 .Ieni s - .Ieni s Binatang Alam Menurut
Pcngetahuan Penduduk .................................. 81
Tabcl 8 Jenis-Jcnis Tanaman .......................................
Tabcl 9 Pemanfaatan Tanaman ........ ...... ......... ...... ... .... 87
Tabel I 0 .l enis-.Jeni s Tanaman clan Fungsinya ............... 88
Tabel II llama Tanaman dan Cara Membasminya ....... I 09

xix

1|Komposisi Desa Berdasarkan Usia|| Penduduk Beji|20| 3|Pengetahuan Tanah sifatny....|65| |Tabel ..|69| |Tabel Tabel Pengetahuan Penduduk|74 |Tabel 8|Jenis-Jenis Tanaman|84| |Tabel 9|Pemanfaatan |Tabel 10 Jenis-Jenis |Tabeal 11 Hama dan Membasminya....||109|

FOTO

I. Daftar Gambar
I. Tata Ruang Desa Beji .................................... 38
'"' Tata Ruang Dusun Duren.. ......... ... ..... ... ..... ... 40
3. Tata Ruang Rumah Tradisional Limasan ...... 4 7
II. Daftar Foto
2.1 Alam lingkungan Desa Beji ........................... 32
2.2 Batu-batuan besar berserakan di lahan penduduk 32
2.3 Bak penampung air dekan hutan Wonosadi ... 33 ,.,,.,
2.4 Seorang petani sedang memainkan rinding ...
3.1 Lahan sawah (lapis pertama) ......................... 59
3.2 Lahan di perengan (lapis kedua) .................... ,., ,., 59
Pencrimaan penghargaan penyelamat hutan .. 60
3.4 Tegal yang berubah fungsi menjadi hutan rakyat 60
4. 1 Sendang atau sum ber air yang dibuat permanen 89
4.2 Sendang atau sumber air yang dikel ilingi pohon besar 89
4.3 Gumuk. sumur gal ian yang ada di sawah ...... 90
4.4 Sumber air ditampung dengan bambu di tegal 90
4.5 Hutan Wonosadi ............................................ 91
4.6 Hutan rakyat dise lingi lahan pcrtanian .......... 91
4.7 Usaha-usaha pemeliharaan hu tan .................. 92
4.8 Usaha-usaha pemeliharaan hu tan ..................
5.1 La han sa wah tadah hujan ............................... 110
5.2 Seorang pctan i mcnyunggi bagor berisi pupuk
kandang .......................................................... 11 0
5.:1 Lahan yang baru saja digcmburkan ...............
5.4 Tegal bcrtcras .................................................
5.5 Pekarangan yang digemburkan dan dirabuk .. 112
5.6 Peralatan unt uk mengolah lahan : pacul. plancong.
gejig. gathul. dan ari t ..................................... 11 2
5.7 Luku untuk mcnggemburkan tanah ............... 11 3
5.8 Garu untuk meratakan tanah .......................... 11 3

-'-'

-'·-'

Ill Ill

xxi

I

PENDAHULtJAN

A. Lat~u· Bclakang Masalah Masalah-masalah :ang b~rkaitan J~ngan lingkungan hid up d~\asa ini scmakin mcndapatkan pcrh atlaJl besar dari pemcrintah. kmbaga-lcmbaga S\ ada) a mas) arakat ) (humon centris). tetapi alam lingkungan j uga harus dipelilwra dan ditata dcmi kelcstarian lingkungan itu sendiri (eco centri., ). Manusia mcmpunyai ikatan dengan alam. karena sccara langsung maupun tidak langsung alam mcmbcrikan kchidupa n dan pcnghidupan bagi manusia. Adan:a ikatan antara manusia dcngan lingkungann~ .1 mcmbcrikan pengalaman dan pengetahuan tcntang cara b~Jgaim~m;t mcmpcrlakukan alam lingkungan ) ang mcrcka m iIi k i. 0 lch karcn~1 i tu merck a mcnyadari betul adanya scgab pcruhahan : ang tcrjadi pada lingkungan sckitarnya dan mam pu pula mcngatasi dcmi kcpcnti ngann)a.

terns menerus itu, man usia mendapatkan pengalaman tentang lingkungan hidupnya. Gambaran tentang lingkungan hidupnya itu disebut citra lingkungan, yaitu bagaimana lingkungan itu berfungsi dan memberi petunjuk tentang apa yang dapat diharapkan manusia dari lingkungannya, baik secara alamiah maupun sebagai basil dari tindakannya, serta tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan (Triharso, 1983). Dengan kata lain, melalui citra lingkungan yang dimiliki itu manusia mempunyai seperangkat pengetahuan yang mempengaruhi tindakannya dalam memperlakukan lingkungannya. Citra lingkungan yang mereka kuasai bahkan melahirkan praktik pengelolaan sumber daya alam atau lingkungan yang baik yang disebut kearifan ekologi, yaitu adaptasi manusia secara kultural (Soemarwoto, 1978).

Dari semua makhluk hid up, manusialah yang paling mampu beradaptasi dengan lingkungannya, baik fisik maupun biotik. Dalam beradaptasi itu manusia selalu berupaya untuk memanfaatkan sumber-sumber alam yang ada untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Intervensi manusia terhadap lingkungannya maupun terhadap ekosisternnya terse but dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekologis (Supardi, 1984).

Sebagaimana dinyatakan oleh Sajogyo ( 1982), bahwa dalam tangan manusia wajah alam asli berubah menjadi alam budaya. Wajah alam asli meliputi keseluruhan unsur, antara lain bentuk permukaan tanah, mutu tanah dan pembuangan air, serta tumbuh- tumbuhan yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Wajah alam budaya mencerminkan untuk apa unsur wajah alam asli itu digunakan manusia. Pengaturan lingkungan tersebut landasannya adalah kebudayaan yang dimilikinya sebagai warisan leluhur mereka (Suparlan, 1984).

pengetahuan, manusia dapat menguasai alam dan memengaruhi lingkungan hidupnya. Namun. yang tetjadi kemudian manl"aat teknologi itu disangsikan dan dianggap merusak tata lingkungan dan membawa bencana. Dengan kata lain. teknologi selain dapat membawa kese_iahte raan dapat pu la mcmbawa bencana. R•.:::· kaitan dcngan hal ini. perlulah dircnut"!_gkan ;l-jM yang dikatakan olch Zimmermann bah'v\a k~~rttan dan aka I bucli man usia itulah ) ang pada akhirn) a mcnjacli sumbcr daya utnma mcmbuka rahasia clan hikmah alam se mcsta (dalam /en, M.T. 1979).

B. Masalah

Scsungguhnya kesadaran akan pentingnya memclihara kcscimbangan lingkungan hidup bukanlah suatu hal baru bagi masyarakat kita. khususnya eli pedesaan. Jauh sebelum dicanangkan konsep pembangunan bcrwawasan lingkungan, para leluhur kita tclah memiliki kcarifan dalam mcmclihara lingkungan hidup. Mcrcka melakukan dcngan caranya sendiri scsuai dengan pengetahuan dan tradisi yang bcrlaku pada zamannya. dan mcrcka tcrnyata tclah mampu menciptakan cara dan media untuk melcstarikan keseimbangan lingkungan.

Apabi Ia dikaj i aspek-aspck kehidupan budaya eli pe(ksaan ban):.tk eli antarunya :ang mcmpun)ai implikasi positif bagi pclcstarian lingkungan alam. Dcngan kata lain eksploitasi yang clilakukan olch pctani tcrhaelap lingkungan alamnya tidak sclalu bcruk i bat mcrugikan. /\cia aspek -aspek tertentu yang bersi fat positi r yang menampakkan kearifan traelisional petani elalam memanfaatkan lingkungannya.

Namun. tidak dapat dipungkiri bahwa. pengetahuan dan tcknologi modercn telah memberikan banyak manfaat clan

J

pad~ pengetahuan dan teknologi moderen menimbulkan kerusakan lingkungan alam dan hilangnya pengetahuan penting yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Untuk itu kearifan dan sistem pengetahuan serta teknologi tradisional itulah yang p ' · .-~ ... .., nP-nting untuk digali dan dikaji, karena banyak 1 di antaranya yang mempunyai 1m •: "~"i positif bagi program pembangunan berwawasan lingkungan.

Sehubungan dengan itu dalam penelitian ini perlu digali dan dikaji sistem pengetahuan dan teknologi tradisional yang bagaimanakah yang dimiliki masyarakat pedesaan tentang lingkungan alam, dan bagaimana masyarakat tersebut menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam memelihara lingkungan alam dan untuk memenuhi kebutuhan atau menyelesaikan masalah- masalah kehidupannya.

C. Tujuan

I) Menggali kearifan tradisional masyarakat pedesaan yang mempunyai implikasi positif terhadap pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam untuk pembangunan.
2) Memberikan informasi kepada pengambil kebijakan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan lingkungan alam.

D. Kerangka Pikir

Dalam konteks kebudayaan, masyarakat tradisional memilikijalan pikiran yang berbeda dengan masyarakat moderen. Alam pikiran masyarakat tradisional cenderung ke arah tercapainya harmoni dengan alam sekitarnya. Bagi mereka dalam hidup dan

seyogyan;a ada kcselarasan antara m an u~ia scbagai mikrokosmos dan alam scmesta sebagai makrokosmos. Dalam konsep keselarasan itu ketentraman dan kebahagiaan yang hakiki hanya bi sa diraih bila manusia hidup selaras dengan alam.

Nilai-nilai tradisional sejati nya sarat dengan kearifan, maka nilai-nilai tersebut sangatlah perlu untuk digali dan dikaji dan kemudian meletakkannya dalam kerangka demi terciptanya hid up dan kehidupan selanjutnya. K onsep kearifan lokal atau kearifan tradisional, atau disebut j uga sistem pengetahuan lokal (indigenous knowledge system) adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang sekian lama, sebagai hasil dari proses hubungan timbal balik antara masyarakat tersebut dengan lingkungannya (Marzali, A., 1998). Jadi, " knowledge" adalah inti dari budaya suatu masyarakat yang diperoleh melalui pengalaman hidup yang digunakan untuk menghadapi situasi tertentu dan menjawab persoalan yang muncul. Dengan demikian indigenous knowledge system tidak lain adalah budaya lokal atau kearifan tradisional.

Kearifan menurut Tim G. Babcock diartikan sebagai pengetahuan dan cara berpikir dalam kebudayaan suatu kelompok manusia. yang merupakan hasil pengamatan dalam kurun waktu yang lama. Kearifan berisikan gambaran atau anggapan masyarakat bersangkutan tentang hal-hal yang berkaitan dengan struktur lingkungan, bagaimana lingkungan berfungsi, bagaimana reaksi alam atas tindakan man usia, dan hubungan yang sebaiknya tercipta antara manusia dan lingkungan alamnya (dalam Manan. A.. dan ur Arafah. 200 0). Salah satu hasi I perkembangan kebudayaan tc rscbut adala h terciptanya suatu sistem pengelolaan sumber daya a lam. Bcrbagai tradi si. upacara adat. dan tindakan schari-hari mercka mcngandung makna yang dalam atas hubungan mercka dcngan lingkungannya (Nababan. /\ .. I 995)

(Ahimsa-Putra,

2005). Dalam hal ini pendekatan etnosains ( ethnoscience ), akan dicoba untuk mengungkapkan hal tersebut. Etnosains adalah sebuah pendekatan yang mencoba memandang gejala-gejala sosial dari sudut pandang orang-orang yang terlibat di dalamnya. Di dalam melukiskan kebudayaan masyarakat yang diteliti itu di samping mengacu pada kaidah-kaidah yang bersifat universal, juga atas dasar pandangan masyarakat yang diteliti yang disebut pelukisan secara emik dan etik (Ahimsa-Putra, 1985, Kapplan, D., 1999). Budaya atau kebudayaan di sini menunjuk pada elemen-elemen kebudayaan sebagai suatu perangkat pengetahuan, nilai, norma, dan aturan-aturan serta berbagai relasi antar elemen tersebut. Dengan demikian menggambarkan kebudayaan berarti memaparkan sistem pengetahuan yang ada pada suatu kelompok atau masyarakat. Perilaku masyarakat pada dasamya dibimbing oleh pengetahuan serta pemahaman terhadap situasi yang dihadapi. Jadi, lingkungan yang dihadapi oleh manusia pada dasarnya adalah lingkungan yang telah dipahami. Pemahaman ini berbeda satu sama lain. Hasil pemahaman inilah yang membimbing perilaku manusia dalam menghadapi lingkungan alam tersebut.

f[mlingkungan yang akan digali meliputi lingkungm1 fisik yang berupa air. tanah. tumbuh-tumbuhan, rumah. dan schagainya: sedangk an lingkungan tisik terdiri dari lingkungan alam dan lingkungan buatan. Lingkungan al am mencakup misaln)a hutan. tanah. sungai, mala air. tumbuh-tumbuhan. dan hewan. lkrbagai un sur lingkungan alam itu dapal mcmpengaruhi kchidupan suatu komunitas. Lingkungan buatan adalah hasil dari pcrilaku manusia. misalnya rumah, sa\ah. ladang. dan berbagai peralatan teknomogi yang digunakan oleh suatu komunitas (1\h imsa-Putra. 2005).

E. J~uang Lingkup Pcnclitian ini akan difokuskan pada penggalian dan pcngkajian sistem pcngctahuan atau kearifan tradisional yang dimiliki masya rakat peclesaan tentang lingkungan alam. Kearifan tracli sional eli sini diartikan sebagai pengetahuan yang climiliki sccara turu n- temurun oleh masyarakat pcdesaan yang hcrmatapencaharian sebaga i pet ani. Kearifan tradisional dalarn penelitian ini mencakup pandangan hidup dan konscp lata ruang. pengetahuan masyarakat mengcnai lingkungannya. tcknologi tradisional dalam mengolah la han. dan tradisi dalam pcmeliharaan lingkungan alam. Pengctahuan yang digunakan scbagai ac uan dalam mengclola lingk ungannya itu pada akhirnya mclahirkan pcrilaku scbagai basil dari aclaptasi mereka terhadap I ingkungan yang mempunya1 implikasi positifterhadap kelestarian alam. lJntuk itu desa yang ztkan dipi lih dalam penelitian ini pal- ing tidak mcmiliki kriteria:
I) Dcsa terscbut berada di kabupall:n dan sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai pet ani.

U ntuk keperluan wawancara ini (data kualitatit) digunakan alat perekam (tape-recorder). Apabila selama wawancara ditemui istilah-istilah lokal maka hal tersebut dicatat tersendiri dalam sebuah catatan kecil. Catatan kecil ini apabila dirasa ada kekurangannya a tau ketidakjelasannya dapat ditanyakan lagi kepada informan. Untuk menunjang kelengkapan data dilakukan studi pustaka, media massa, dan sumber-sumber lain yang menunjang masalah penelitian.

Wawancara dilakukan kepada informan yang terdiri dari para ketua kelompok tani, pengelola lingkungan hidup, tokoh

yang d i pan dang mem i l i ki pcngetahuan 1 uas ten tang masaluh pencliti:.:~n. dan bcberapa petani.

/\nal isis data d i lakukan dengan mem fok uskan pad a katcgorisasi ckmen-ckmcn budaya yang tcrkait dengan pertanian dan sistcm klasi likasi ~ ang digunakan scbagai dasar landasan dal am bcrpcrilaku. Selanjutn)a diusahakan un tuk menggambarkan bcntuk hubungan yang ada. strakgi. dan keari ran yang dimi lik i masyarakat bcrsangkutan. Laporan pcncliti an disajikan dalam bcntuk deskriptif- kualitatir.

II

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

Dcsa Beji mcrupakan salah satu desa dari tujuh desa di Kccamatan Ngawen, Kabupaten Gunung l(idul. Keenam desa lain ya ng tcrmasuk dalam wilayah admi ni strasi Kecamatan Ngavven adalah De sa Sidorejo, Desa Sambirejo, Oesa Ta ncep, Desa .Jurangjero, Ocsa Kampung, dan Desa Watusigar. Kecamatan Ngawen terl etak 30 kil ometer barat daya kota Wonosari, ibukota Kabupaten Gu nung Kidul. Sama halnya dengan kecamatan lain ya ng berada di bagian utara Kabupaten Gunung KiduL kondisi alam Kecamatan Ngawen terdiri atas pegunungan yang memanjang di sepanjang utara dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Klaten, .Jawa Tengah.

Jika ditinjau kondi si alamnya, Kecamatan Ngawen merupakan kecamatan yang se panj ang tahun tidak pernah mengalami kesulitan air, sebagaimana yang dialami oleh se bagian wilayah di Gunung Kid uL seperti Tepus, Panggang. Rongkop. Saptosari, Semin dan daerah-daerah pesisir selatan lainnya. Wilayah Kecamatan Ngawen dilalui sungai Oya dengan beberapa anak sungai yang mengalir melintasi Desa Watusigar, di bagian selatan. Sclain itu, kondisi alam Kecamatan Ngawen dikelilingi oleh perbukitan yang hijau. sehingga kesan "Jaerah kering ... yang seringkali menjadi predikat Kabupaten Gunung Kidul tidak tampak di sini. Kondi si a lan1 dengan hamparan pegunungan yang menghijau memberikan manfaat yang cukup berm1i bagi penduduk Ngawen. Curah huj an yang turun 1.432 mm. Dengan curah huj an scbanyak itumaka wilayah Nga,,en merupakan daerah resapan air ya ng baik bagi kelangsungan kehidupan ekosistem setempat.

II

w ilayah kekuasaan kerajaan (enclave) Mangkunegaran. Dengan demikian berbagai aturan yang berlaku di wilayah Kecamatan Ngawen dibuat oleh kerajaan Mangkunegaran. Namun, semenjak tahun 1958 daerah-daerah enclave yang terdapat di wilayah Gunung Kidul dan Kotagede masuk kedalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ketujuh desa di Kecamatan Ngawen dapat dikatakan sebagai desa terbuka. Artinya, semua desa terlewati jalan raya sehingga mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan, baik kendaraan roda uua maupun roda empat. Di samping itu, wilayah Kecamatan Ngawenjuga dilalui sarana transportasi umum (bus), yang menghubungkan kota Wonosari dengan Ngawen dan kota-kota lain di sebelah timur seperti Klaten, Wonogiri, dan Delanggu. yang melintas setiap satu jam sekali. Kondisi jalan sangat baik. hal us, Iebar, dan merupakanjalan kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Gunung Kidul dengan Provinsi Jawa Tengah (Klaten. Surakarta, Wonogiri). Namun, jalan-jalan dusun yang terdapat di

Penduduk Ngawen bet:jumlah 36.153 j iwa ya ng terdiri dari

7.296 keluarga. Mercka sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani sawah (tadah hujan) scrta mengusahakan berbagai jenis tanaman ladang (padi gaga. jagung, ketela pohon, kacang tanah, dan kedelai) dan tanaman pekarangan (melinjo. jambu monyet. cengkeh. durian. dan se bagainya). Secara ekonomi. petani Ngawen adalah petani subsisten. artinya basil pertanian mereka bant dapat untuk mencukupi keperluan mereka sendiri, belum sampai pada taraf menjual produk pertaniannya ke pasar. Guna mencukupi kcperluan hidup lainnya banyak ya ng berurbanisasi ke kota-kota besar (Jakarta. Surabaya. Bandung) khususnya dari kalangan pemudanya untuk mencari nafkah. Sebagian besar penduduk hanya berpendidikan SO hingga SMP. sehingga jenis pekerjaan yang dikerjakan di perantauan merupakan jenis-jenis peket:jaan jasa (tukang) yang sangat mengandalkan kekuatan fisik.

A. Lokasi dan Kondisi Alam Desa Beji

Secara geografis. kondisi alam Desa Beji berupa dataran dan serangkaian perbukitan di sisi utara desa. Desa Beji terletak pada ketinggian sekitar 550 meter di atas permukaan I aut. Kondisi alam Desa Beji mempunyai tingkat curah hujan sedang ( 1.432 mm). dan suhu rata-rata 22 - 34C. Di wilayah perbukitan tumbuh hutan rakyat yang dikenal dengan hutan Wanasadi. Hutan rakyat Wana~adi yang tcrletak eli sebelah utara Desa B~ji berfungsi menahan resapan air hujan. schingga hutan rakyat ini dapat dijadikan sebagai pcnyangga utama kebutuhan air bagi warga desa. Pada siang hari Desa Beji sa ngat sej uk karcna hembusan angin pegunungan.

30 kilometer. Desa Beji terletak di bagian selatan Kecamatan Ngawen. Sarana transportasi yang melintasi Desa Beji berupa mini bus (berkapasitas sekitar 30 penumpang) yang mempunyai rute Wonosari-Ngawen setiap satu jam sekali, dan sarana trasnsportasi ini akan berakhir pukul

17.00. Status Desa Beji bisa dikatakan sebagai desa yang terbuka. Artinya, untuk menuju Desa Beji sangat mudah, bisa ditempuh baik dengan menggunakan kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat. Jalan-jalan yang menghubungkan antardusun pun sebagian telah beraspal (sepanjang 2,50 kilometer) sehingga mudah dilalui kendaraan. Sebagian jalan itu telah diperkeras (sepanjang 4,50 kilometer) dan sebagian besar (sepanjang 8,50 kilometer) masih berupa tanah. Bila musim penghujan tiba,jalan tanah menjadi licin, karena tanah di Desa Beji mempunyai tekstur lemungan dengan sedikit berpasir dan tanah berwama merah, serta hitam ke abu- abuan (Foto 2.1). Luas wilayah Desa Beji sekitar 1.102,34 hektar. Sebagian besar wilayahnya berupa tanah sawah seluas 450,75 hektar, tegalan 277,18 hektar, permukiman 188,17 hektar, serta tanah lain-lain (hengkok, titisara) sekitar 187,24 hektar. Hamparan tanah sawah dan tanah ladang (tegalan) terletak agak jauh dari permukiman, bahkan ada pula yang berada di sekitar hutan atau alas. Sementara itu, permukiman penduduk bersifat mengelompok dan menghadap ke jalan dusun. Di antara persawahan penduduk banyak sekali dijumpai batu-batu sangat besar, yang konon masih berhubungan dengan cerita rakyat ataupun legenda daerah setempat (Foto 2.2). Bahkan, ada keyakinan tertentu bagi sebagian warga petani Desa Beji bahwa tanah sekitar batu tersebut subur serta dapat digunakan untuk mengusir hama pertanian yang seringkali menyerang tanaman pertanian penduduk. Misalnya, ada batu yang disebut 'watu

Oleh karena itu, sejak dahulu hingga kini, warga desa tidak berani memindahkannya ataupun menghancurkan batu-batu tersebut, walaupun keberadaannya sangat mengurangi luas areal sawah dan ladang penduduk.

Saat ini, kepala Desa Beji adalah seorang perempuan. Desa Beji terdiri atas 14 dusun, yaitu : Dusun Duren, Dusun Sidorejo, Dusun Daguran Kidul, Dusun Daguran Lor. Dusun Banaran, Dusun Tegalrejo, Dusun T hungkluk. Dusun Serut. Dusun Beji, Dusun Ngelo Lor. Dusun gelo kidul, Dusun Grojogan, Dusun Bendo, dan Dusun Sentt. Tiap-tiap dusun dipimpin seorang kepala dusun. Keempat belas kepala dusun mendapat tugas secara bergiliran piket/jaga eli kantor pemerintahan desa (balai desa) yang terletak eli Dusun Beji. Selain itu, kepala desa juga selalu mengadakan rapat koordinasi dengan semua kepala dusun yang diselenggarakan eli balai desa setiap sebulan sekali. Dengan demikian antarkepala dusun mengerti benar perkembangan kemajuan tiap-tiap dusun beserta program maupun kegiatan yang sedang dilaksanakan.

Dilihat dari kondisi alamnya, Desa Beji merupakan desa yang selalu ''menghijau'" eli setiap tahun. karena eli sebelah utara desa tcrdapat hutan Wanasadi yang selalu menghijau sepanjang tahun clan dapat memberikan air kcpada warganya. Selain itu, Desa 13eji juga dilalui oleh anak sungai O ya yang bisa climanfaatkan warga untuk keperluan MCK. N amun. sungai ini mengering bila musim kemarau. Memiliki kondisi alam sepet1i itu, sepanjang tahun warga Desa 8cj i tidak pernah kekurangan a ir. Mereka dengan muclah bisa membuat sumur gali eli sekitar tempat tinggalnya dengan keclalaman sekitar 5 - 6 meter saja. Warga desa yang tidak

Para tetua desa maupun tokoh masyarakat setempat menyebutkan, bahwa kemudahan air yang dirasakan warga Desa Beji tidak lain akibat dari berfungsinya hutan Wonosadi sebagai penyangga resapan air manakala hujan tiba.

Ditinjau dari segi topografi, Desa Beji berupa daerah dataran (jlat) dengan sedikit perbukitan di sebelah utara desa. Daerah dataran terdiri dari permukiman warga desa, sawah tadah hujan, sebagian ladang (tegalan) serta tanah kering lainnya yang digunakan untuk makam dan lainnya. Sementara, di daerah perbukitan berupa alas, hutan, serta grumbul (hutan kecil). Di daerah inilah biasanya warga desa mencari kayu bakar.

B. Penduduk

Penduduk Desa Beji berjumlah sekitar 5. 108 jiwa yang terdiri atas 2402 orang laki-laki (47,0 persen) dan 2706 orang

(0-15 tahun) serta kelompok penduduk lansia (55 tahun keatas). Mereka dapat dikategorikan sebagai penduduk non- produktif dan sangat menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penduduk produktif. Oleh kaqrena itu, tidak mengherankan apabila mereka termasuk golongan orang-orang yang bertugas " menjaga rumah'' (tunggu amah). Sementara itu, penduduk kelompok usia produktifsebagian besar pergi merantau ke kota-kota besar seper1i Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bandung. Komposisi penduduk Desa Beji berdasarkan usia dapat dilihat dalam Tabel 2.1 berikut 1111:

Tabell

Komposisi Penduduk Desa Beji Berdasarkan Usia Tahun 2004

Umur Jumlah Frekuensi
0-14 I .408 27,6
15 - 29 1.058 20,7
30 - 44 1.083 21,2
45 - 54 549 10,7
55 > 1.0 I 0 19.8
Jumlah Sumber: Potensi Desa Beji, 2004 adalah penyangga ekonomi keluarga. 5.108 Terlihat dalam Tabel 2.1 bahwa sebesar 52,6 persen penduduk De sa Bej i merupakan kelompok usia produktif (15 - 54 tahun). Secara umum. mereka (laki-laki maupun perempuan) 100.0
Umur Jumlah Frekuensi
15-29 1.058 20,7
30-44 1.083 21,2
45-54 549 10,7
55> 1.010 19.8
Jumlah 5.108 100.0

Oesa Beji dapat dikatakan masih rendah, sebagian besar mereka hanya berpendidikan setingkat sekolah dasar (SO), dan sedikit penduduk yang berpendidikan SLTA atau Perguruan Tinggi. Mengetahui data tingkat pendidikan suatu daerah sangat penting karena bisa diketahui bagaimana tingkat kemajuan yang telah dialami desa selama ini. Penduduk dengan tingkat pendidikan yang relatiftinggi diharapkan dapat menentukan dan ikut berperan serta demi kemajuan desanya. Ide, gagasan, serta pengetahuan yang dimiliki diharapkan dapat disumbangkan kepada desanya. Namun, tingkat pendidikan penduduk di suatu tempat tidak terlepas dari adanya peran ekonomi keluarga, keinginan dan semangat untuk maju, berpandangan bahwa pendidikan sangat penting, serta sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia.

Berdasarkan kriteria tersebut, tingkat pendidikan penduduk Desa Beji sampai saat ini belum bisa dikategorikan sebagai desa maju, karena sebagian besar penduduk (58, 1 %) hanya mengenyam pendidikan SO dan SLTP. Hanya sebagian kecil penduduk yang telah mengenyam pendidikan setingkat SLTA (19,9 persen) dan perguruan tinggi (1 ,4 persen). Bahkan, masih banyak penduduk Oesa Beji yang sama sekali belum/tidak pernah mengenyam dunia pendidikan, sehingga kelompok penduduk ini acap kali dikatakan sebagai penduduk yang tidak mengenal tulisan atau buta huruf. Sementara itu, 20,6 persen penduduk Beji adalah kelompok usia balita (pra sekolah) sehingga mereka memang belum bersekolah.

Sarana dan prasarana pendidikan yang ada di Oesa Beji sangat minim. Oi Desa Beji hanya terdapat 3 buah TK, 3 buah SO, dan sebuah SLTP. Dengan demikian, penduduk Oesa Beji yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang SLTA harus bersekolah di ibukota Kecamatan Ngawen yang berjarak sekitar 4 kilometer dari Desa Beji. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi lemah hal

D. Mata Pencaharian Mala pencaharian penduduk sebuah desa sangat penting untuk dikctahui karena bcrhubungan dengan tingkat kesejahteraan pcnduduk. Data yang ada menunjukkan mayoritas pcnduduk Desa Bc.ii mcmpunyai aktivitas ekonomi eli scktor pertanian (l ihat Tabel
2.2). Dalam Tabel 2.2 tcrsebut tcrlihat bahwa sebagian besar penduduk Desa Beji (55.8 persen) hcke1ja eli sektor pertanian. baik sebagai petani pemilik (36,7 persen) maupun sebagai petani penggarap a tau buruh tani ( 19.1 pcrsen ). Mereka mengolah tanah pertanian baik eli lahan sawah (lodah hujan). ladang (!ega/an). maupun pekarangan. Di Ia han sa wah merck a menan am jenis padi gogo ya ng hanya bisa clitanam sekali dalam setahun. yaitu kctika mu sim pcnghuj an tiba. Sementara itu eli ladang atau !ego/on. penduduk menanam palavvija scperti jagung. kacang tanah. keclclai. kctcla pohon. dan jenis tanaman sayuran lainnya. Kchidupan dunia pcrtanian eli dcsa. biasanya diikuti dengan kcgiatan eli scktor peternakan. Bagi warga desa. kedua sektor ini saling memhutuhkan. Kchidupan pertanian tidak bisa be~jalan scmpurna tanpa ada dukungan dari usaha petcrnakan yang dilakukan petani. Bcgitu scbaliknya basi l dari bidang pertanian biasanya diim estasikan petani dalam '' uj ud hewan tcrnak yang bisa dikatakan scbagai '·tabungan .. un tuk kcperluan eli masa datang hila tiba musim kemarau atau ;wceklik. Usaha pcternakan ya ng dilakukan petani Desa Beji berupa pemeliharaan hcwan ternak terutama sapi. ayam dan kambing. Sapi bisa digunakan untuk keperluan pckc1:jaan eli sa wah. dan kotorannya

Sapi digunakan penduduk untuk membajak di sawah, walaupun saat ini ada sebagian petani yang telah menggunakan traktor. Penduduk Desa Beji yang mengusahakan peternakan dalam kehidupan sehari-harinya sebanyak 845 orang atau 21,6 persen, dan mereka tersebar hampir di setiap dusun.

Tabel2

Mata Pencaharian Penduduk Beji

Mata Pencarian Nominal Frekuesi (%)
Petani Buruh tani Buruh PNS Perajin Pedagang Peternak Dokter 1.434 745 486 32 348 17 845 I 36,7 19,1 12,4 0,82 8,90 0,43 21,6 0,03

Somber : Potensi Desa Beji, 2004

Penduduk yang berstatus buruh tani ikut membantu mengolah lahan sebagai buruh upahan. Pekerjaan yang dilakukan meliputi sejak dari mengolah tanah hingga pekerjaan pascapanen. Tetapi ada juga yang hanya memburuh pada sebagian tahapan pekerjaan saja, missal hanya ikut mencangkul, tetapi tidak ikut memanen, dan lain sebagainya. Biasanya, pekerjaan ini dilakukan pada saat menjelang datangnya hujan, sehingga laban siap ditanami ketika musim hujan tiba. Lahan pertanian warga Desa Beji terletak

sekitar permukiman sehingga akan lebih mudah bagi para pemiliknya untuk mengawasinya. Upah mencangkul ·sekesuk · dari pk.07.00 -11.00 sekitar Rp 7.500.- -Rp I 0.000.- sedangkan untuk dongir (menyiangi rumput) yang biasa dilakukan oleh perempuan upahnya Rp. 5.000.00 sekesuk.

.Ienis peketjaan lain yang juga banyak dilakukan oll'h penduduk Desa Bej i adalah sektor jasa. yaitu 426 orang a tau 12.4 perscn. Mercka sebagian besar bcrprof'esi sebagai tukang (batu. kayu. buruh bangunan) yang ngemhoru ( pcrgi kc luar desa) hingga kc dcsa-desa lain atau bahkan kota lain. tergantung permintaan. Mcrcka biasanya bl'l"crja dcngan status scbagai buruh harian !cpa-..

. kni :-. pckcrjaan dcngan kctrampilan khususjuga dilakukan okh scbagian JX'nduduk Desa lkji. l lampir 2.6 pcrscn atau 845 pcnduduk Dcsa Bcii bdctja di scktor kcrajinan. .Ienis kcrajinan ~ang diusahal-.an mlabh kcrajinan bambu berupa rcralatan rumah tangga tradisional scrcrti \l'{tkul ( tcmpat nasi). lenggok (h:cranjang hcsar). hesek tudung .\uji. /(111/flllh (nampan). coping. topi. dan sc bagainya. l lsaha kcrajinan :-ang dilakukan pcnduduk Dcsa lkji bcrsbla h :cil. dengan modalusaha kcci l dan mcnggunakan tcnaga h:ct:ja kcl uarga. sehi ngga usaha kcn~j in an mereka lcbi h tcpat d iscbut sebagai i ndustri kcraj i nan rumah tangga a tau home indus/ ry. Dacrah tujuan pcma s~tran produk yang dihasilkan penduduk adalah dcsa-dcsa sckit:1r dan paling _jauh mcncapai Klatcn. l lsaha kcrajinan bambu ini tumbuh dan bcrkcmbang di Dcsa Beji dengan mcmanl~1atbn pohon bambu yang telah tcrscdia. sc hingga usaha kerajinan ini tidak pcrnah mengnlami kesulitan bahan baku. Dusun yang kaya pohon bambu ndnlah Bawuran clan Tcgalrejo. sedangkan pasar bambu dan pasar hasil kerajinan bambu (lopi. capil, b-..:sck. tcnggok) eli Pasar Bcndo.

Matapcncaharian sambilan lain yang juga dilakukan okh sebagian pcnduduk Desa Bcji yaitu mengusahakan inclustri

Usaha yang dilakukan oleh kaum ibu dan remaja putri ini ternyata dapat menambah penghasilan rumah tangga.

Penduduk yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) mempunyai status sosial tinggi di pedesaan. Kelompok ini biasanya menempati lapisan sosial tertinggi di desa selain pemuka agama, tokoh masyarakat, kaum kaya desa, dan pamong desa. Oleh karena itu, di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di desa, kelompok pegawai negeri ini menjadi panutan dan sering didengar masukan maupun saran-sarannya. Daliun setiap kegiatan yang dilakukan di desa, mereka acapkali dimintai pertimbangan. Penduduk Desa Beji yang bekerja sebagai PNS sebanyak 32 orang atau sekitar 0.8 persen dari total jumlah penduduk. Mereka adalah para pendidik (guru) dan pegawai pemerintahan, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Sedikitnya penduduk yang bekerja sebagai pegawai negeri memang sangat dimaklumi, karena menjadi pegawai negeri harus memenuhi persyaratan tertentu antara lain tingkat pendidikan (yang relatiftinggi), kemampuan, kedisplinan, dan dedikasi.

E. Latar Belakang Sosial-Budaya

Seluruh penduduk Desa Beji merupakan suku bangsa Jawa sehingga bahasa percakapan sehari-hari yang mereka gunakan adalah bahasa Jawa. Dalam kehidupan sehari-hari warga desa masih menganut dan ngugemi (menaati) adat tradisi Jawa yang diperloleh secara turun temurun. Mereka juga masih percaya kepada adanya hari baik dan buruk berdasarkan hari pasaran Jawa (pan, wage, kliwon, legi, pahing) baik dalam menentukan hajadan, upacara adat, maupun pertemuan-pertemuan sosial-kemasyarakatan lainya.

Desa Beji juga masi h mcyakini adanya \ '1! \t 'C//er atau pantangan-pantangan tcrtcntu ;ang tidak bolch dil anggar dan mereka sangat takut akan akibat yang ditimbulkannya. Namun demikian. bukan bera11i bahwa dalam kchidupan sehari-hari v\arga Desa Beji mcninggalkan keyakinannya terhadap agama tertentu. Penduduk Desa Beji scbagian besar (91 .9 persen) menganut agama Islam. llindu (6.1 perscn). serta Kristen dan Katolik ( 1.9 perscn). Mereka tetap melaksanakan ibadah di tempat-tempat ibadah yang berada di Desa Beji. eli masjid/ musholla. pura. atau eli gcrcja. Tingginya penducluk Desa Beji yang menganut agama Hindu (6.2 perscn) ternyata mempunyai scjarah tersendiri. Pada tahun 1965- an. Desa Bej i dikenal sebagai daerah ··basis P Kr. Setelah pemerintahan Orde Baru berkuasa dilakukan .. pembersihan·· terhadap penduduk desa yang ··dicurigai·· sebagai anggota PKI. Untuk menyclamatkan diri dari kejaran petugas. salah satu cara yang paling .. aman·· untuk mengelabui petugas, antara lain penduduk mcmilih salah satu agama resmi, dan kebetulan agama yang dianut olch kepala desa saat itu aclalah Hindu. Oleh karcna itu. tidak mcngherankan bi Ia ada sekitar 316 penclucluk atau 6.19 persen penclucluk Dcsa Beji yang beragama Hindu clan memiliki sebuah pura.

Kegiatan tradi si .Jawa ) ang hingga kini masih clilakukan penclucluk Dcsa 13eji adalah upacara saclranan Wonosacli. yang berhubungan dengan kcbcradaan hutan Wonosadi yang berada di Du sun Beji. Scbagian besar pencluduk Dusun Bej i masih percaya bahwa hutan tcrsebut mcrupakan tcmpat kcramat. sehingga sampai saat ini tetap clijaga kcbcradaan serta kclestariannya. Kegiatan lain yang dilakukan warga yaitu mcn yclenggarakan upacara Sadranan setiap bul an Dulkhaidah pada hari Scnin Legi atau Kamis Lcgi yang dilakukan sctiap setahun sckali secara massal eli lembah Ngenuman. yaitu eli bagian tcngah hutan Wonosacli.

Oleh karena itu, warga tidak diperkenankan mengambil kayu di hutan tersebut. Hingga saat ini kepercayaan seperti itu masih melekat di hati warga Desa Beji. Warga desa percaya bahwa hutan Wonosadi "dijaga" oleh seorang prajurit raja Brawijaya V yang moksa di hutan Wonosadi. Ia adalah Kyai Onggoloco beserta ibunya Rara Resmi. Berdasarkan mitos yang berkembang di Desa Beji, hutan Wonosadi seringkali dijadikan tempat spiritual bagi orang yang mempercayainya. Hutan ini juga dipercaya sebagai "petilasan" (situs) dari Pangeran Sambernyawa, salah seorang raja Mataram. Hingga saat ini warga Desa Beji masih tetap melestarikan keberadaan hutan Wonosadi dengan menjaga kelestarian lingkungannya.

Kehidupan sosial kemasyarakatan warga Desa Beji masih terjalin dengan baik. Mereka hidup rukun dengan mengutamakan keselarasan serta kerukunan dengan tidak meninggalkan adat dan budayanya. Di dalam kehidupan masyarakat petani misalnya, mereka tergabung dalam kegiatan Kelompok Tani "Sumber Rejeki" yang secara aktif menghimpun anggotanya dalam hal membahas semua permasalahan dan kesulitan di bidang pertanian. Selain itu, karena mereka merasa sangat peduli terhadap keberadaaan hutan Wonosadi, di Desa Beji juga terdapat Kelompok Penjaga Hutan Wonosadi yang disebut "Ngudi Lestari". Anggota penjaga hutan

I iran bcrtugas mcnjaga hutan. Mereka melakukan penjagaan hutan sccara ik hlas dan sukarcla. tanpa cliberi kompensasi apa pun. Tujuan utama dari pembcntukan kelompok ini adalah menjaga kclestarian hutan Wonosadi dari kerusakan lingkungan. sebingga kekayaan alam ya ng berada di butan tersebut tetap akan dapat dinikmati clan berguna bagi anak-cucu mereka eli masa yang akan datang.

Adat dan tradi si ya ng masih dil ak ukan oleh penduduk Desa l3eji yaitu tradisi yang berkaitan dengan dunia pertanian. Tradisi bergotong-royong untuk menggarap laban khususnya pada waktu membuat lah-lah-an a tau gadhangan (cal on laban sa wah untuk ditanami padi) dilakukan secara bergilir supaya lebih cepat dan ringan. Dalam kerja bersama tersebut. pemilik laban cukup menyediakan makanan secukupnya atau hanya minuman yang sifatnya bukan keharusan. Demikianjuga pada saat ada warga yang membutuhkan kayu untuk bangunan pun dicarikan secara bergotong- roy on g.

Masyarakat petani di Desa Beji masih melaksanakan upacara-upacara adat seperti lt 'ilrit yang dilakukan menjelang upacara landur (tanam pacli) eli sawah. serta upacara adat ketika panen datang (sadrunan).

Upacara Wiwit eli Desa Bcj i ada dua macam yai tu upacara ll'ilrit Panen dan upacara Will'il Tandur (tanam). Upacara Wiv,:it 1\men atau istilah setempat ngepuki adalah upacara ·mboyvng Dell'i .)'ri soko popan puduringan ·. Pclaksanaan upacara ini dilakukan oleh pcrcmpuan tua. Pcnyclcnggaraan upacara dilakukan dcngan sangat mcri ah. yaitu di sc rtai arak-arakan. Arak-arakan diikuti olch sebagian penduduk scll'mpat. khususnya para perempuan dan anak-anak. Dalam arak-arakan itu mcreka mcmbawa scsaji untuk De\ i Sri. Scsaji tcrsebut bcrupa : seku/ lilret (nasi liwet). gudlwngun (urap). swnhe/ gepeng (gcrch. dele. lom bok didhep/oklditumbuk)

"pala kependhem" yang ditujukan kepada Ibu Bumi Pertiwi. Pala Kependhem adalah hasil bumi yang berasal dalam tanah, seperti ketela pohon, ketela rambat, uwi, gembili, kimpul, dan sebagainya. Istilah 'umbul-umbul' itu sendiri artinya diumhulke (dilempar tinggi ke atas), yang mengandung maksud "menghasilkan panen padi yang tinggi atau banyak". Padi yang disertakan dalam upaeara terse but "dianting" yaitu diikat sebanyak sepikul (sepikul = tujuh anting). Satu anting padi setara dengan sepuluh kilogram beras. Dahulu diiringi rinding, yaitu alat musik yang dibuat dari sebilah bambo berukuran 5 em x 2 em. Cara memainkannya dengan jalan ditiup dengan mulut, dan keluarlah nada-nada yang diinginkan. Rinding dimainkan oleh sejumlah petani laki-laki. Musik rinding tersebut dimaksudkan untuk memanggil Dewi Sri sebagai penghormatan dan supaya Dewi Sri menjaga padi mereka.

Setelah arak-arakan sampai di tempat upaeara, kemudian "seorang perempuan yang sudah tua" memotong tangkai padi sesuai dengan neptu (jumlah nilai hari) upaeara. Kemudian tangkai padi dibalut dengan kain seperti pengantin disebut sebagai "pari manten" (padi pengantin). Pari manten kemudian diketakkan di empat sudut petak sawah yang akan dipanen. Setelah itu sesaji diperebutkan oleh yang hadir dalam upaeara tersebut. Padi pengantin kemudian dibawa pulang, kalau dulu diletakkan di lumbung, sekarang diletakkan di sebuah tenggok. Selesai sudah upaeara Wiwit Panen.

Upaeara Wiwit Tandur disertai sesaji oran yaitu nasi ketan, sega katul (nasi katul), gudhangan (urap), wit tebu (pohon tebu), pisang raja setangkep (pisang raja dua sisir), dan kemenyan. Kemudian setelah dijawab (pembaeaan doa) tandur dapat dimulai. Demikianjuga di tegalan sajennya pisang, ketan, tebu ireng (tebu

tam), abon-ahon yang tcreliri dari kinung (air kapur.) sumli (sirih). dan uang. Setclah itu mcrcka mcngucapbn ·~jcmah·· (permohonan). baru kcmuelian tanelur elimulai. Tetap i paela saat upacara Wiwit Panen eli lahan paeli gaga sesaji yang eliscdiakan hanyajenang katul. kemuelian setelah dijawabjenang katul dipendem eli galengan haru kemudian mulai tanam. Maksuelnya. katul aelalah sa rinya pacli. agar tanaman yang akan ditanam bisa mentes atau aos (bernas atau berisi). dan terbebas elari hama tanaman.

Upacara Sadranan. Upacara sadranan ya ng eli kenai adalah ··saelranan Wonosadi ''. Upacara ini dipusatkan eli hutan Wonosaeli. Upacara terscbut merupakan manifestasi dari rasa syukur kcpada ·ruhan Yang Maha Esa. alas rahmatNya se hingga tanah tetap subur dan menghasilkan panen yang berlimpah. Selain itu upacara tersebut untuk menghormati cikal-bakal atau pepunelen (nenek moyang). Upacara Saclranan clilaksanakan sehabis panen paeli. hari Senin Legi atau Kamis legi bulan Dulkhaielah. Ketetapan pelaksanaan upacara jatuh paela hari Kamis legi karena elianggap bertepatan dengan hari kelahiran Ki Onggoloco, atau hari Scnin legi yang eliyakini bertepatan elengan hari mukswa beliau.

Penyclenggaraan upacara eli atas bukit hutan Wonosaeli yang dikenal dengan Lembah Ngenuman. ya itu tempat sumber air. Arti elari sadranan itu scneliri aelalah ··kirimon"; jaeli "nywlmn" aclalah mcngirim sesuatu kcpaela scscoran g ya ng clihormati. Dengan mengirim .. scsuatu .. pdani bermaksucl mengcnang dan menghormati jasa-jasa sang lcluhurnya. Tujuan lainnya aelalah scbagai ungkapan sy ukur kcpacla Tuhan Yang Maha Kuasa mclalui leluhur penguasa hutan Wonosadi. Juga ungkapan rasa sy uku r atas kcbcrhasilan pctani dal am menggarap savvahnya sehingga panL'I111) a bcrhasil. Sebagai manilcstasinya mcreka mempersembahkan scsaji dan hcrharap tahun dcpan pancn bcrhasi l lebih baik lagi.

Sesaji dibawa ke mata air sendang, dan diserahkan kepada juru kunci untuk didoakan.

Sebelum upacara di lembah Ngenuman dilaksanakan, malam harinya dilakukan tirakatan. Pada upacara itu banyak peserta upacara yang memohon sesuatu lewat juru kunci sebagai mediator. Pada umumnya mereka membawa sesaji berupa nasi dan ayam panggang. Peserta berdoa selama prosesi upacara berlangsung. Berdoa dimaksudkan agar permohonannya terkabul.

Sebelum arakan sesaji dibawa ke Puncak, sesaji dikumpulkan di tempat yang diyakini sebagai bekas rumah Nyi Roro Resmi (ibu Ki Onggoloco ). Setelah semua dikumpulkan acara kirab atau arak-arakan sesaji dimulai. Arak-arakan mulai dari balai desa menuju ke tempat upacara di sen dang yang jaraknya kurang lebih dua kilometer, melalui jalan setapak dan menanjak. Berada paling depan adalah putri domas dan pamong desa, kemudian diiringi oleh reyog yang di dipercaya sebagai sarana penolak bala, dan diikuti oleh kelompok selawatan. Setelah itu diikuti oleh barisan pembawa jodhang berisi sesaji, paling belakang adalah para pendukung dan peserta upacara. Setelah sampai di lokasi upacara, sesaji dipasrahke (diserahkan) kepadajuru kunci untuk diikrarkan dan didoakan. Setelah sesaji selesai didoakan, kemudian diperebutkan oleh masyarakat yang hadir di situ. Menurut

makin banyak mcndapat baran g sesaji maka akan banyak pula rczeki /ke bc runtungan yang didapat.

Upacara Rasulan (Bersih Desa). Upacara bersih desa a tau rasulan dil aksa nakan satu tahun sekali. biasanya jatuh pada hari Senin Legi setelah panen. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan leluhur mercka yang tclah memberikan ke se lamatan dan kesejahteraan kepada petani setempat baik lahir maupun batin. Selain itu pctani telah diberi banyak rezeki berupa basil panen yang melimpah dengan tanpa halangan dan gangguan. Untuk itu para petani membuat sesaji sebagai persembahan dan ucapan syukur dan bcrharap di tahun-tahun mendatang panen lebih baik. sehingga petani dapat hidup lebih baik dan sejahtera.

Dua minggu sebelum upacara Rasulan dilaksanakan petani melakukan kegiatan-kcgiatan : bersih kali, dilanjutkan dengan membersihkan pekarangan termasuk memperbaiki pagar dan memperindah lingkungan mas ing-masing. Sebelum upacara dimulai. pada pagi hari masyarakat sudah berkumpul di balai desa ya ng dianggap sebagai pusat kcgiatan upacara Rasulan. Kesenian kerawitan juga sudah siap berada di balai desa. Selanjutnya pada siang hari sckitar pukul 12.00. penduduk membawa KUnungun yang beri si makanan dan hasi I panen Jesa terse but berdatangan dari bcrbagai clusun ya ng dibawa oleh laki maupun wan ita mcnuju lapangan diiringi kesenian reog.

Sekitar pukul 13.00 Gunungan diarak menuju balai desa diikuti olch rcog.jatilan. dan ara k-arakan peserta upacara. Kcscnian rcog.jatilan. kcmudian pcntas eli halaman Bal ai Desa. Jan pk. 14.00 upacara Bcrsih Dcsa sudah bcrakhir. Dalam upacara tcrscbut dibacakan ihar masyarakat. dan di tutup clengan cloa. dan malam harin ya dilanjutkan pcrtunjukan wayang kulit dcng:111 ccrita Sri Mulih atau Sri 13 oyong. Sa lah satu bentuk pcrscmbahan untuk De\ i

Upacara Sadranan yang dilaksanakan di Hutan Wonosadi, berorientasi kepada seorang tokoh yang dimitoskan sebagai cikal bakal desa dan pembuat hutan Wonosadi. Upacara tersebut telah memberikan implikasi positifbagi penduduk di desa terse but untuk menghormati sang tokoh lewat peninggalannya yaitu hutan dan sumber air yang terdapat di hutan tersebut. Masyarakat tidak ada yang be rani mengganggu hutan beserta isinya.. Secara tidak langsung di sini terbangun kearifan-kearifan lewat cerita kekeramatan hutan Wonosadi dan kesaktian Ki Onggoloco. Demikian juga dalam upacara Bersih Desa dan upacara Wiwit terkandungjuga nilai-nilai kearifan petani untuk mengerjakan dan memelihara laban pertanian mereka dengan sebaik-baiknya. Mitos Dewi Sri yang diyakini seba£ai dewi padi yang menjaga tanaman persawahan mereka, menjadi tuntunan bagi" petani untuk menghormati dewi padi terse but dengan cara memperlakukan tanah, sawah, beserta isinya sebagai kekayaan yang harus dipelihara melalui kearifan-kearifan dan ritual-ritual pertanian.

Pada masa lalu, setiap dilaksanakan upacara adat selalu diikuti dengan bunyi-bunyian yang berasal dari alat musik tradisional rinding gumbeng. Rinding merupakan alat musik tiup yang terbuat dari sebilah bambu panjang, dengan ketebalan sekitar 2 mm (lihat Foto 2.4). Di tengah belahan bambu dilubangi dan dibuat seperti jarum panjang 20 em. Pada bagian pangkal diberi tali kenur (tali terbuat dari rami) yang berfungsi sebagai alat untuk menarik, sementara ujungnya untuk pegangan. Apabila tali yang dibuat dari tali kenur tadi ditarik-tarik serta ditempelkan di bibir, maka terjadilah bunyi atau nada. Bunyi diatur dari rongga mulut, sehingga bisa mengatur irama. Gumbeng dibuat dari satu ruas bambu yalf& dite~~ disayat dan sebuah ujungnya diganjal bila
z"'L·· .. ....,..,..,..,.
IYil IK K~="P us~· ~ Cir:J._:.-:~.('TO-: AKAl\N ~ 1. *RAT rr* ·,. Drr, t~ "'AU ISI l

-~~9UDPAR

"tanggapan" baik untuk keperluan hiburan maupun hajadan tertentu, dan rinding gumbeng saat ini telah tampil dengan lagu- lagu campursari.

Selain kesenian tradisional rinding gumbeng, penduduk Desa Bejijuga memiliki kesenian tradisionallainnya, seperti reog, karawitan, kethoprak, pedalangan, dan :solawatan. Kesenian tradisional inl dipertoritorikan ketika upacara Sadranan dan upacara Bersih Desa berlangsung. Khusus kesenian reog pementasannya hanya pacta saat tertentu saja, yaitu saat ada upacara sadranan dan upacara bersih desa.

Foto 2.1. Alam Ligkungan Desa Beji

Foto. 2.2. Batu-Batuan Besar yang Berserak di Lahan-Lahan Penduduk

Seorang Petani Sedang Memainkan Rinding

Sawah

Bagi petani, sawab dan tegalan. merupakan ··cepengon unp (sumber hidup). Berkaitan dengan hal tersebut petani menggunakan strategi dan kemampuannya untuk mengolab laban sa wah maupun tegalannya agar cukup untuk memenubi kebutuhan hidupnya. Agar lahannya dapat memberikan has il terbaik maka petani menggunakan strategi tertentu. Strategi itu biasanya mencakup pertimbangan-pertimbangan dalam memilih jcnis tanaman, penggunaan alat untuk mengolah sawah/ tegalan. dan sebagainya.

Seperti telah disebutkan sebelumnya babwa dari segi pengairan terdapat laban sawah yang penggarapannya menggantungkan jatuhnya hujan atau disebut sawah tadah hujan. dan sawah yang pengairannya dari irigasi yang disebut sa wah irigasi atau oncoran. Sawah tadah hujan penggarapannya hanya setiap musim hujan tiba. dan lahan sawah di Desa Bej i termasuk tadah hujan (Foto 5. 1)

Di Desa Beji pada saat mangsa rendeng (musim hujan) akan tiba. atau disebut juga mangm /alwh, maka para petani mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk memulai mengolah lahannya. Kegiatanan yang tampak menonjol adalah mempersiapkan rabuk a tau pupuk kandang untuk dibawa ke sawah dan tegalan yang akan digarap. Rabuk-rabuk itu ada yang dibawa dengan keseran (gerobag tangan), digendong (o leh kaum perempuan), dipikul (o leh kaum laki-laki). dan ada yang dibawa dengan sepeda motor atau mobil pickup. Jadi pada saat menj elang musi m hujan datang petani lalu- lalang memba\ a rabuk ke sawah atau tegalannya (Foto 5.2).

Dalam mengolah sawah tadah hujan secara tidak langsung tampak adanya kearifan-kcarifan di dalam menata dan mengatur lahan. Tiap-tiap bagian laban tersebut berfungsi untuk kclangsungan

SOO meter di atas pemukaan air !aut. Oleh karena itu, tata ruang Desa Beji terbagi atas sebagian penduduk menempati wilayah dataran dan sebagian lagi berada di daerah perbukitan. Wilayah dataran merupakan wilayah yang struktur tanahnya relatif stabil dibandingkan dengan wilayah perbukitan. Biasanya wilayah dataran tempat konsentrasi permukiman penduduk.

Tata ruang Desa Beji dibedakan antara ruang untuk pemanfaatan secara ekonomi dan pemanfaatan ruang secara so sial. Pemanfaatan ruang secara ekonomi rnnyangkut letak sawah, ladang, hutan (aim) penduduk, sebagai sumber matapencaharian utama penduduk dalam pemenuhan kebutuhan ekonominya setiap hari. Pemanfaatan ruang secara sosial menyangkut letak permukiman penduduk beserta beberapa sarana pendukungnya (rumah ibadah) tempat warga melakukan interaksi dengan warga lain, melakukan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, dan sebagainya.

Sebagian besar lahan garapan penduduk Desa Beji terutama persawahan terletak di daerah dataran, karena sistem persawahan penduduk yang sangat mengandalkan air hujan. Lahan persawahan yang terletak di dataran bisa menampung air ketika hujan tiba. Sementara itu, tata ruang untuk perladangan dan alas (hutan) terletak di daerah perbukitan atau perengan, jauh dari pemukiman

lahan basah. Lapisan pertama ini posisinya menempati ruang pe11ama dekat permukiman penduduk. Penduduk Beji berpendapat bahwa '·kanggene tiyang dusun siti panggesangan menika jih ingkang kangge manggen, dadi siji, nyawiji ... Maksudnya lahan pe11anian terse but merupakan sumber hid up dan sekaligus tempat hi dup petani.jadi harus menyatu (Foto 3.1)

Kcmudian lapisan kedua. merupakan areal perladangan ( lahan kcring) a tau legal an. Lapisan kedua ini kondisi tanahnya bcrada eli elaerah perbukitan atau perengan. dan letaknya relatif agakjauh dari pcmukiman penel uduk. Menu rut mcreka.letak ladang yang agak jauh dari tempat petani be rm ukim itu tctap mcnjadi satu scbagai sumbcr hidup petani. "milu ajungipun 11 onten perengan. ningjih swni .. (memang te mpatn ya eli perengan. te tapi tetap sama pentingnya elcngan lahan sawah). Lihat Foto 3.2.

Lapisan kctiga ataulapisan paling luar mcrupakan hamparan tanah umum. biasanya mc rupakan tanah milik kas desa yang digunakan sebagai tcmpat pemakaman warga desa. Lokasi makam desa terletakjauh dari lingkungan permukiman penduduk. dan ar-

1111:

Gambar 1 Tata Ruang Desa Beji

Keterangan • 1. Permukiman 2 Sawah

  1. Ladang/hutan/alas
  2. Makam
    a. Pola Desa Desa Beji dapat dikatakan sebagai desayang terbuka, dalam arti bahwa desa ini sangat mudah dijangkau. Untuk menuju Desa Beji sangat mudah, artinya desa ini dapat dicapai dengan kendaraan roda dua dan roda em pat dengan kondisi jalan yang relatif bag us, walaupun belum seluruh jalan desa beraspal. Desa Beji kira-kira terletak sekitar 4 kilometer dari ibukota kecamatan N gawen ke arah

Oleh karena itu, penduduk Desa Beji tidak pernah mengalami kesulitan apabila ingin berpergian ke I uar desanya.

Jal an raya kabupaten yang melintasi Desa Beji. mengakibatkan tata ruang Desa Beji dibagi menjadi dua bagian. yakni wilayah utara jalan, serta wi I ayah selatan jalan. Dusun-dusun yang terletak di sebelah utara jalan raya adalah Dusun Duren. Thungkluk. Sidorejo. Beji, Serut. Ngelo Lor. serta Ngelo Kidul. Semen tara itu. dusun-dusun yang terletak di sebelah selatan jalan raya adalah Dusun Banaran, Grojogan, Daguran Lor. Daguran Kidul, Tegalrejo, Bendo, dan Bejono.

Di antara ke empat belas desa yang termasuk dalam Kccamatan Ngawen. Desa Bej i bisa disebut sebagai clesa ya ng subur. Hampir sepanjang tahun penduduk Desa Beji tidak pernah kekurangan air, karena kebutuhan air bisa dicukupi dengan adanya hutan Wonosacli seluas 25 Ha. yang tcrletak di utara desa.

Kebutuhan air untuk lahan pe rsawahan penduduk dicukupi dcngan ··.wmw··· yang terl etak di tengah areal persawahan. Dcmikian j uga penduduk )ang mempunyai tegalan. biasanya mcmbuat sumur un tuk mencukupi keperluan air bagi tanamannya. Pcnduduk sctempatjuga memiliki sumber air: ang disebut dengan .. sum ur umum yang digunakan untuk MCK (mandi. cuci. kakus). Sumur umum ini terletak jauh dari permukiman penduduk.

Mcgingat dacrah penclitian in i banyak dilakukan di Duren. maka tala rua ng dusun Duren penti ng untuk diungkapkan. Tata ruang Du sun Duren tidak jauh berbcda dengan tata ruang Desa Beji secara umum. Dusun Duren tcrletak sekitar 500 meter saja dari jalan raya kabupaten. dengan topografi wilayah yang terdiri

. v\1 !/• 2
f e1er~ng.,n I LadMg 6 Sunga1 ':: Persawahan 7 Permuk1men 3 Permu~ trnan 8 PerSet.\'Y~h~n 4 Fersawoh"n 9 Ledong S L~ d an9 1 0 Huton 'Nonosodt 11 Je. lan R aya

Wilayah dataran digunakan sebagai tempat permukiman penduduk dan persawahan. sedangkan wilayah perbukitan digunakan untuk tegalan. alas, serta sarana umum lainnya. seperti makam dusun. Tata ruang permukiman penduduk Dusun Duren bersifat mengelompok, yang sebagian besar rumah penduduk menghadap kejalan dusun. Wilayah antardusun telah dihubungkan dengan jalan dusun beraspal (kasar), sebagian berupa jalan dusun yang telah diperkeras, dan sebagian lagi masih berupa jalan tanah.

Salah satu perbedaan penting yang tidak dimiliki oleh dusun-dusun lain di Desa Beji adalah keberadaan hutan adat Wonosadi yang dike lola. dipelihara, dan dijaga kelestariannya oleh warga Dusun Duren. Hutan Wonosadi terletak di daerah perbukitan dengan ketinggian sekitar 200 -700 meter di atas permukaan air !aut. Oleh sebab itu. bagaimana tata ruang Dusun Duren dapat dilihat dalam gambar 2.

Pcmanfaatan Lingkungan Alam Sckitar Desa

Di depan telah disebutkan bahwa Desa Beji dapat dikatakan sebagai desa yang sangat memperhatikan kelestarian lingkungan alam. Di dalamlingkup Kabupaten Gunung Kidul maupun Provi nsi Daerah lstimewa Yogyakarta (DIY). Desa Beji telah beberapa kali mendapatkan gelar juara dalam Iomba bidang lingkungan hidup. Keberhasilan yang pernah diraih Desa Beji. antara lain Juara II Lomba Perkebunan Tahun 1982 Tingkat Provinsi DIY; Juara I Lomba Konservasi Alam Nasional Tahun 1989; serta Juara III Lomba Lingkungan Hid up Tahun 1991 Tingkat Propinsi DIY (Foto .) ". .) ").

Dengan melihat keberhasilan Desa Beji dalam meraih beberapa gelar dalam berbagai Iomba, kiranya dapat disimpulkan bahwa warga desa sangat memperhatikan kelestarian alam dengan jalan memanfaatkan. menjaga. dan melestarikan lingkungan alam desanya. Di Desa Daguran Lor misalnya. terdapat hutan rakyat yang dikelola secara swadaya oleh warga desa setempat. Pada awalnya. keberadaan hutan rakyat ini merupakan lahan tanaman pangan yang sangat kritis. Hasil yang diperoleb dari lahan ini dengan biaya pemelibaraan yang dikeluarkan penduduk ternyata tidak seimbang. Oleb karena itu pada tabun 1982. penduduk Dusun Daguran Kidul sepakat untuk menjadikan laban tersebut menjadi hutan rakyat (Foto

3.4). Caranya, setiap pemilik lahan kriti s diwajibkan menyerahkan sekitar 0.5 -I ba lahannya untuk ditanami jenis tanaman keras seperti jati, sengon. mahoni. dan akasia. Pengelolaan dan pemelibaraannya menjadi tanggung jawab pemilik laban. sedangkan semua pembiayaan seperti pengadaan bibit dan pupuk. serta proses penanaman dan pemeliharaan hutan rakyat mendapat insentif dari pemerintah Kabupaten Gunung Kidul melalui Dinas Kehutanan. Selama dalam masa pertumbuhan. pemerintah tetap melakukan pengawasan serta melakukan penyuluhan dan

"mengganti" dengan tanaman yang baru terlebih dahulu. Dengan demikian poses regenerasi pepohonan yang terjadi di hutan rakyat Daguran Kidul tetap terjaga. Inilah salah satu potret keberhasilan warga Dusun Daguran Kidul, Beji yang telah mengubah lahan kritis menjadi laban produktifyang bisa memberikan keuntungan secm·a ekonomi. bagi warga setempat.

Penduduk De sa Bej i pad a tahun 1976 mulai membudidayakan tanaman jambu mete dan cengkih. Budidaya tanaman jambu mete dan cengkih yang dicanangkan oleh pemerintah saat itu mcnjangkau setiap dusun yang ada di wilayah Desa Beji. Pada saat itu, setiap kepala keluarga mendapatkan bantuan tanamanjambu mete dan cengkih untuk kelestarian alam lingkungan di sekitamya. Tanamanjambumete ditanam penduduk di pekarangan sekitar tempat tinggal. sedangkan cengkih bisa ditanam di sekitar rumah dan di tegalan. Di samping berfungsi sebagai tanaman perlindung, kedua jenis tanaman ini merupakan tanaman andalan bagi warga Desa Beji. karena harganya yang relatif mahal. Rupanya program pertanian ini kurang berhasil, sebab banyak tanaman cengkih warga dusun yang mati karena ternyata lahannya yang kurang cocok.

Pola Rumah

Secara umum, tata ruang rumah yang berlaku di Desa Beji berpijak kepada tata ruang rumah menu rut budaya Jawa. Di sam ping kebutuhan sandang dan pangan, papan atau rumah merupakan bagian terpenting juga dalam kehidupan manusia. Sebab, selain rumah berfungsi sebagai tempat berteduh dikala hujan maupun panas, rumah juga merupakan tempat berlangsungnya proses reproduksi, tempat pembelajaran dan proses intemalisasi nilai-nilai keluarga. Juga di rumahlah seseorang akan mendapatkan '·bekal hidup .. yang masing-masing anggota rumah sangat berlainan.

Sebagian besar rumah tempat tinggal warga Desa Beji berbcntuk limasan. walaupun ada scbagian rum ah pend uduk yang berbentuk kampung ataujoglo. Bcntuk rumah itu tcrnyata dapat mengindikasikan tingkat sosial-ckonomi pemilikn: a. Sebagian bcsar rumah pcnduduk Desa Bej i berbentuk limawn tcrbuat dari kayu jati. tctapi ada pula yang terbuat dari kayu nangka dengan kondisi yang mem pri hatinkan.

Bentuk tem pat tinggal mercka masih menganut pola tradisional. de ngan posisi bagian depan agak rendah. ke mudian agak mcninggi di bagian ten gah dan mcrcndah di bagian bclakang. Pola pemukiman pcnduduk Desa Beji bersifat mengelompok dcngan dikcl ilingi laban pertanian pcrsawahan maupun /ega/an. scrta areal pcttanian (hutan. alas) yang tcrdapat eli lereng perbukitan.

Ru mah-rumah penduduk scbagian besar menghadap ke jalan dcsa atau jalan clusun. dan bet:jejer secara teratur. Walaupun mcnghaclap kc jalan (desa atau clusun). sebagian besar rumah pcnduduk ta npa pagar permanen. dan hanya sebagian kecil saja yang berpagar permanen atau berpagar hidup dari ta naman teh- tehan. Namun demikian. pola rumah sebagian besar penduduk Desa

Pembagian ruangan yang terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang tidur biasanya menyatu dengan rumah induk. Sementara itu, kamar mandi dan sumur (atau sumber air lai1mya) terletak di belakang atau di samping dan terpisah dengan rumah induk. Kamar mandi terletak di belakang/di sam ping dan menyatu dengan sumber air (sumur). Sebagian besar sumber air penduduk terletak di belakang rumah, se1ta berdekatan dengan kandang ternak (sapi, kambing, ayam). Di masa lalu, sebelum tahun 1983-an kandang ternak penduduk terletak di bagian depan rumah, dengan alasan faktor keamanan serta mudah mengawasinya dari gangguan pencurian. Namun, sejak tahun 1983 ada himbauan dari pihak pemerintah agar kandang ternak diletakkan di belakang rumah. Hal ini untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan keindahan lingkungan.

Dalam tata ruang rumah limasan, bagian depan merupakan ruang tamu atau disebut dengan ruang ngarep. Ruang ngarep digunakan sebagai ruangan yang paling terhormat untuk menerima tamu. Oleh karena itu, ruang ngarep sering pula disebut dengan ruangjagongan, karena tempat untuk duduk-duduk (jagong) ketika

Sen/hong digunakan untuk menyimpan benda-benda ya ng mempunyai nilai terten tu bagi keluarga (barang aji). Selain itu barang pecah belahjuga disimpan di ruangan ini. Di masa lalu. senthongan digunakan untuk menyimpan senjata (tombak, keris) yang dianggap mempunyai nilai sakraL karena diperoleh berdasarkan warisan secara turun temurun. Sen/hong ini biasanya terkesan wingit (angker), karena di kelilingi oleh kamar-kamar tidur atau singgetan di sebelah kanan dan kirinya sehingga tidak mendapatkan pancaran sinar matahari secm·a langsung.

Di sebelah kanan ataupun kiri sent hong terdapat kamar tidur atau singgetan. Dalam keluarga Jawa mengenal pembagian ruang tidur bagi anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan yang telah berusia dewasa akan menempati ruang tidur bersama ibunya. sedangkan anak-anak laki-laki yang telah dewasa tidur bersama ayahnya. atau tidur di amhen yang ada di ruang ngarep atau ruang tamu. Pembagian ruang tidur kerdasarkan jenis kelamin ini. bertujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan terjadi dalam keluarga.

Di belakang sent hong terdapat ruang makan ya ng terbuka dengan ukuran relatif agak luas. yang di tempat tersebut biasanya terdapat gledheg atau paga yang berfungsi untuk menyimpan bumbu. bcras, dan barang-barang dapur lainnya. Ada beberapa rumah limasan yang membangun ru ang ini terpi sah dengan dapur ataupawon karena !ahan yang tersedi a masih mencukupi. Namur..

pcnvon penduduk menyatu dengan ruang keluarga karena lahannya yang sangat terbatas. Bagi penduduk yangpawon menyatu dengan ruang keluarga, maka di dalam ruang tersebut terdapat meja makan, lemari mak.an, dan paga yang digunakan untuk mengasap hasil tanaman, terutama jagung. Akan tetapi pawon yang terletak terpisah dengan ruang belakang, ruangan ini hanya dimanfaatkan sebagai ruang makan keluarga.

Pawon atau dapur sering juga disebut ' amah buri atau wingking· pada umumnya terletak di sebelah kiri rumah bagian belakang. (Dari kata "wingking'' inilah muncul ungkapan "kanca wingking .. yang berarti teman yang tempatnya di belakang) bagi isteri. Pawon atau dapur ini juga bagian dari rumah yang penting. karena dapur menjadi pusat penyimpan dan pemroses kebutuhan sehari-hari penghuninya. Oleh karena dapur merupakan tempat ke1ja setiap hari. maka bagian dapur atau pawon ini menjadi bagian rumah yang paling kotor, oleh sebab itu letaknya di belakang.

Pada umumnya di bagian samping rumah-rumah penduduk (bagian kanan-kiri serta depan-belakang) terdapat emperan (semacam teras) atau penduduk setempat menyebut dengan istilah ayeng. Ayeng yang terletak di kanan dan kiri rumah digunakan untuk meletakkan tumpukan persediaan kayu bakar dalam jumlah yang relatif banyak. Ayeng yang terletak di bagian belakang rumah (berdekatan dengan pawon) juga digunakan untuk menyimpan kayu bakar yang siap digunakan setiap harinya. Kecuali itu. ada juga sebagian penduduk yang memanfaatkan ayeng bagian belakang sebagai tempat kandhang ayam. yang dibuat secara bertingkat. Ayeng yang terletak di kanan-kiri rumah sering pula dimanfaatkan penghuninya sebagai tempat menyimpan dan sekaligus menjemur basil pertanian seperti beras.jagung, dan ketela pohon

3 T6l6 ruflng rumflh lrfldision61 Limflsfln

6 -----, ,---- 5
5 61 - - - --.- I 2 3 3 ..L.. - -- 4 I 6 51
Keterangan. l. RTarnu 3. R tidur 4. R Belekeng 6. Pekerengen terletak di sekitar rumah atau pekarangan selalu terdapat _ _ __ 2. R. Tengah/R. Kel 5. Ay eng/Ernperen(D epen.semp1ng.belekeng) 7. Sumur.kandang Pemanfaatan Halaman Rumah Halaman rumah atau pekarangan adalah lahan kering yang amah kiri. depan atau belakang. Perbedaan pekarangan dengan walaupun sama-sama menempati lahan kering yaitu di dalam pamahan atau tidak. Menurut warga desa. halaman atau pekarangan merupakan lahan kering yang sangat cocok untuk mendirikan kandang ternak. tempat yang sangat sesuai untuk menjemur kayu serta hasil-hasil pertanian. serta tempat sumber air keluarga. Apabila ditinjau dari pengaturan tata ruang. (amah), _J amah kandang ternak. sumber air (sumur).

c.
baik yang terdapat di kanan. texalon

(rumah). sementara di tegalan

pekarangan terdiri dari bangunan rumah

Ougangan), serta terdapat beberapa jenis tanaman baik keras (kayujati, mlinjo, mangga, jeruk,jambu) maupun musiman (ketela pohon, ketela rambat, garut, tanaman obat, sayuran, dan lain sebagainya). Tanaman-tanaman tersebut memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Menurut Soemarwoto, seperti yang dikutip oleh Sumintarsih, dkk (199311994: 115) pekarangan atau halaman diartikan sebagai sebidang tanah dengan batas-batas tertentu, yang terdapat bangunan tempat tinggal di atasnya dan mempunyai hubungan fungsional baik secara ekonomis, biofisik, maupun sosial budaya dengan penghuninya. Dengan demikian, keberadaan pekarangan terdiri dari beberapa sarana yang integral guna mendukung kehidupan pemiliknya, baik secara fisik, ekonomi, sosial,maupun budaya.

Pekarangan rumah dimanfaatkan untuk menanam jenis pohon yang menghasilkan seperti pisang, buah-buahan,jugajenis tanaman yang dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari seperti ketela, sayuran, atau tanaman keras misalnya mlinjo, kelapa, sukun.

Sebagian besar penduduk Desa Beji memelihara sapi, serta ada sebagian penduduk yang memelihara kambing dan ayam. Di masa lalu, kandhang ternak warga desa sebagian besar terletak di bagian depan rumah, dengan alasan 1ebih mudah mengawasinya dari gangguan pencurian terutama di saat malam hari. Akan tetapi, sejak dikeluarkannya Peraturan Bupati Gunung Kidul pada tahun

  1. maka kandhang ternak dipindahkan ke belakang rumah, karena alasan keindahan serta kesehatan lingkungan perumahan. Secara sosial, halaman atau pekarangan rumah di desajuga berfungsi sebagai tempat atau lahan bermain bagi anak, tempat para tetangga melintas dan tempat berkumpulnya para tetangga untuk mengobrol, terutama di saat sore hari. Pekarangan juga seringkali digunakan sebagai tempat menjemur pelbagai hasil pertanian seperti jagung. padi, cengkih, dan ketela pohon. Di

itu pekarangan juga sering digun akan unt uk membuat jugangan atau tempat pembuangan sam pah rumah tangga.

B. Pandangan Hidup Pandanga n hid up suatu masya rakat merupakan suatu pedoman ya ng dij adikan tuntunan dan panu tan di dalammenj alani kehiclupannya. Pandangan hi d up suatumasyarakat diperoleh secara turun temurun cl ari generasi sebelumnya kc gcnerasi berik utnya mclalui proses be laj ar, sehingga pa ndangan hidup biasanya menganclung pesan-pesan. petuah. naschat atau sesuatu hal yang clianggap baik maupun tidak baik. Selain itu. panclangan hid up suatu masyarakat juga dapat dipero leh melalui ajaran -ajaran tertentu. melalui mitos yang berkembang, dan lewat pengalaman hid up yang dialami. Panclangan hid up suatu masyarakat mengandung pedoman ya ng mengatur baga imana hub un gan manusia dengan Tu hannya. mengatur hubungan sesama manusia. se rta mengatur hubungan manusia dcngan alam lingkungannya. Kesemuanya itu diperoleh anggota masyarakat melalui proses bclajar sesuai de ngan tahapan clalam kchidupannya. Mengenai bagaimana pandangan hi dup warga Desa Beji. Kec amatan Ngawcn. Kabupaten Gunung Kidul dapat diuraikan el i bawah ini.

J. Hubungan Manusia Dengan Leluhur dan Dunia Gaib

Warga Dcsa Bej i menganggap bahvva man usia adal ah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang paling sempurna. Oleh karenanya. manusia mcmpunya i keduduk an ya ng tertinggi dalam tatanan alam ini. sehingga manusia berkewajiban untuk menata. mengatur. memanfaatkan. serta menj aga kel angsungan hidupnya

selalt1 hadir dalam setiap upacara atau ritual tradisional apa pun. Di dalam setiap prosesi upacara tradisional yang dilakukan oleh warga Desa Beji, sosok leluhur selalumendapat tempat tersendiri sebagai tokoh yang tetap dihormati, selalu didoakan, serta selalu dijunjung keberadaannya agar senantiasa memberikan "berkah" terhadap kelangsungan kehidupan manusia "penerusnya".

Penghonnatan kepada leluhur juga ditunjukkan warga Desa Beji dengan menempatkan makam sebagai tempat yang "keramat" dan "suci''. Makam ditempatkan di dalam suatu tata ruang tersendiri di desa, dan biasanya jauh dari permukiman (di luar desa atau dusun). Di saat-saat tertentu atau saat dianggap bertepatan dengan '·hari baik" (malam Selasa Kliwon dan malam Jum'at Kliwon) makam selalu diziarahi, "dibersihkan", serta arwah leluhur didoakan. Demikian pula manakala desa akan menyelenggarakan upacara adat seperti rasulan. sadranan. upacara wiwit, upacara panen dan sebagainya, warga desa selaiLI berziarah ke makam para leluhur yang ada di desanya. Mereka membawa uba rampe (sesaji) keperluan ritual yang ditujukan kepada arwah leluhur.

Kepercayaan warga De sa Bej i terhadap para leluhur temyata tidak hanya sebatas kepada leluhur yang masih dalam satu garis keturunan. namunjuga para leluhur yang tidak memiliki alur garis keturunan dengan mereka pun ikut dianggap memiliki makna/ kekuatan dalam kehidupan mereka. A11inya, bahwa warga Desa

juga percaya bahwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. mereka selalu mendapat bimbingan oleh para leluhur. haik leluhur dalam arti genealogis maupun leluhur sccm·a sosiologis. Oleh sebab itu. dalam hal-hal tertentu warga dcsa tidak bcrani melanggar atau menyalahi keyakinan bersama (common beliet). Para leluhur ini dianggap berada di tempat-tempat yang dianggap keramat seperti di kuburan. hutan. pohon-pohon besar. mata air. sungai. dan lain sebagainya.

Salah satu kepercayaan warga Desa Bej i terhadap para leluhur yang hingga kini masi h di ya kini antara lain adalah tentang kcberadaan hutan adat Wonosadi. Warga Desa Beji percaya dan menganggap bahwa hutan Wonosadi merupakan hutan ··keramat"" peninggalan para le luhur mereka yang wajib '·dihormati .. dan dijaga kelestariannya. Warga Desa Beji juga percaya dan meyakini pula bahwa hutan Wonosadi merupakan tcmpat bcrsemayam arwah para leluhur. Warga pcrcaya bah\3 yang menunggu hutan Wonosadi adalah "'sescorang" bern:::~ma Ki Onggoloco. Tokoh ini dianggap sebagai tokoh yang sangat be~jasa terhadap keberadaan hutan Wonosadi.

Kepcrcayaan warga Desa Bcj i terhadap leluhur serta dunia gaib juga ditunjukkan dengan mengganggap adanya tempat-tempat tertentu di dalam hutan Wonosadi yang dianggap keramat. Tempat keramat tersebut tidak boleh diperlakukan sembarangan olch \Varga Dcsa Beji. Tcmpat-tcmpat itu antara lain lembah Ngenunwn ya itu sebuah pelataran yang terdapat ditcngah-tengah hutan Wonosadi seluas 400 m2. yang se lalu clijaclikan sebagai tempat penyc lenggaraan upacara aclat clan seri ngpula dijadikan sebagai tempat nenepi (bersemacli) bagi seseorang yang percaya clunia mistis. Di pelataran lembah Ngenuman ini terclapat sebuah pohon munggur dan kemuning yang sangat besar. besar pohon sekitar delapan rentang tangan manusia dewasa. Tempat lain eli hutan

Setiap kali diselenggarakan upacara sadranan maupun rasulan. di tempat ini selalu menjadi persinggahan sesaji upacara sebelum akhimya dibawa ke Lembah Ngenuman. Konon, menurut cerita set1a kepercayaan yang berkembang di Desa Beji, di tempat inilah pertama kalinya Pangeran Onggoloco bertapa sambil bercocok tanam (baik untukjenis tanaman pangan maupun tanaman keras). yang akhimya menjelma menjadi hutan Wonosadi (Profil Hutan Wonosadi. 2004).

Kepercayaan warga Desa Beji terhadap leluhur maupun dunia gaib juga diwujudkan dalam bentuk upacara \l'ill'it. upacara panen. maupun upacara dalam rangka kelahiran ternak. Bagi warga Desa Beji. di dalam penyelenggaraan upacaraadat tersebut terutama upacara \t'i\Fil. peran Dewi Sri sebagai leluhur sangat menonjol. Dewi Sri. selain didoakan namun juga mereka diminta pet1olongannya. Di masa lalu, warga Desa Beji menghormati peran Dewi Sri dengan cara memainkan alat musik tradisional yang bernama Rinding Gumbeng pada saat upacara wiwit maupun upacara panen berlangsung. Dengan menyanyikan lagu-lagu tradisional serta diiringi alunan musik Rinding Gumheng. diharapkan Dewi Sri berkenan hadir ser1a memberikan ·'berkah .. kepada warga Desa Beji. Upacara whvil ini tidak lain bertujuan untuk mboyong Dewi Sri atau Dewi Padi agar ikut serta menyaksikan serta memberikan '·berkah'' kepada petani.

Adanya beberapa contoh tentang bagaimana hubungan man usia (\'arga desa) dengan dunia gaib tersebut. mengindikasikan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari warga desa tidak boleh mengabaikan begitu saja atas peran tokoh-tokoh dalam dunia gaib. Tokoh-tokoh dunia gaib tersebut dipercaya senantiasa selalu membantu kehidupan warga desa. Walaupun tidak dapat dilihat secm·a kasat mata, namun mereka yakin bahwa tokoh-tokoh gaib

' ' berkah" maupun ··restu·· dari para leluhur yang diwujudkan melalui niat atau ujub yang disampaikan kepadanya.

Walaupun pemahaman kepercayaan mereka seperti itu. bukan berarti bahwa warga desa tidak meyakini adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagaimana pun Tuhan tetap ditempatkan kepada dzat yang paling tinggi. maha segalanya yang menciptakan bumi berserta isinya. Jadi. warga desa percaya bahwa di atas leluhur masih ada kekuatan lain yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Warga Beji menyebut Tuhan dengan gusti pangeran ingkang maha agung.

2. Hubungan Manusia dengan Alam

Bagi warga Desa Beji, lingkungan alam merupakan hal yang tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari. Arti lingkungan alam adalah mencakup lingkungan alam di sekitar tempat tinggalmaupun lingkungan alam yang memberikan kehidupan bagi mereka (air. tanah, udara). Mereka berpandangan bahwa selama manusia hid up di dunia ini lingkungan alam telah memberikan kehidupan baginya. sehingga sebagai timbal baliknya, manusia harus senantiasa pandai menjaga lingkungan alam agar tetap lestari sehingga alam akan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia sampai kapan pun.

Usaha warga Desa Beji, terutama bagi warga Dusun Duren. dalam menjaga kelestarian alam lingkungan tercermin di dalam berbagai kegiatan ritual. Kegiatan ritual ini telah berlangsung sejak dahulu, karena adanya kepercayaan para leluhur merekajuga selalu

Pangeran Onggoloco adalah sosok yang benar-benar memperhatikan lingkungan alam (wawancara dengan tokoh masyarakat, I 2 Oktober 2005). Menurut kepercayaan mereka, Pangeran Onggoloco bertapa sambil bercocok tanam, sehingga menghasilkan tanaman yang bermanfaat bagi pengikutnya, dan akhirnya dari pelbagaijenis tanaman yang ditanam tersebut berkembang menjadi hutan. Beberapa tahun kemudian, hutan terse but ternyata dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia di sekitarnya karena memberikan sumber air, sumber kehidupan (flora dan fauna), set1a udara yang segar. Hutan tersebut dikenal dengan nama hutan Wonosadi.

Kepatuhan warga Desa Bej i untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan alam, hingga kini tetap dilakukan. Hal itu dilakukan karena Pangeran Onggoloco yang diyakini sebagai pepundhen atau cikal baked mereka, telah memberikan contoh yang benar bagaimana menjaga lingkungan alam agar dapat memberikan manfaat bagi kehidupan anak cucu di kemudian hari. Hingga kini, kepatuhan warga desa diwujudkan dengan tetap menjaga kelestarian hutan dengan jalan tidak merusak kelestarian hutan yang antara lain warga desa tidak diperkenankan untuk mengambil kayu di hutan Wonosadi dengan sembarangan. Hal itu terungkap dari hasil wawancara dengan sesepuh masyarakat Dusun Duren yang
mengatakan sebagai berikut •· ...... sapa sing golek kayu nang alas
Wonosadi ora bakal nguripi. ora bakal nyugihi, pangane justru
bakct! sud a ..... " ( siapa yang mengambil kayu di hutan Wonosadi
tidak akan bisa menghidupi, tidak bisa menjadi kaya, sebaliknya kehidupannya justru akan berkurang). Dari ungkapan tersebut. sangatjelas bahwa bagi warga Desa Beji, hutan Wonosadi dianggap sebagai hutan keramat. Warga desa tidak boleh sembarangan mengambil kayu yang tumbuh di hutan tersebut. Warga desa

secm·a umum maupun warga Dusun Duren secara khusus mcnganggap bahwa Wonosadi dianggap sebagai hutan yang keramat, sehi ngga tidak seorang pun yang berani untuk mengambil kayunya apalagi merusaknya. Selama ini, hutan Wonosadi telah memberikan manfaat bagi warga sekitar. terutama dalam hal pemenuhan sumber air, sehingga kehidupan mereka terbebas dari kekeringan. Warga desa terus berupaya menjaga keselamatan hutan Wonosadi antara lain dengan membentuk kelompok penjaga atau pengamanan dan pelestari hutan Wonosadi yang bernama ·Ngudi Lestari'. Anggota kelompok Ngudi Lestari yang betjumlah 20 or- ang bekerja secara sukarela dan bersi fat pengabdian semata.

Adanya ke lo mpok pengamanan dan pclestari hutan tersebut menunjukkan bahwa bagi warga Desa Beji kelestarian alam lingkungan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. .lika alam mem be rikan manfaat bagi kehidupan man usia. sudah semcstinya bila manusia akan memperlakukan alam dengan sebai k- baiknya. Hubungan timbal bali k saling menguntungkan ini menunjukkan bah wa hubungan manusia dengan alam lingkungan te~jalin dengan ba ik.

Warga Desa Beji mcngangg~p bahwa lingkungan alam merupakan wari san leluhur untuk kcmuliaan bagi ··penerus .. anak- cucu. mak a sudah selayakn ya un tuk tetap dijaga ke lestariannya. Contoh lain ya ng menunjukkan betapa tingginya kepedul ian warga Desa Beji terhadap alam lingkungan nya yaitu tingginya antusias mereka terhadap keberadaan hutan rakyat_ khususnya yang

bu. kelapa). dan sayuran. Kecintaan warga setempat terhadap abm lingkungan yang lestari dan menghijau juga dapat diketahui dari adanya pengembangbiakan anggrek hutan (jenis anggrek hutan Wonosadi) yang dikelola oleh kelompok tani desa setempat. Pengembangbiakan anggrek hutan tersebut ternyata bisa menambah penghasilan warga setempat, dan bisa dikembangkan menjadi desa wisata dengan kekhasan anggrek hutan.

3. Hubungan Manusia dengan Manusia

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu ingin berhubungan dengan sesamanya. Di kala mendapatkan kesusahan atau musibah. manusia selalu ingin mendapatkan pertolongan atau bantuan dari sesamanya. Sebaliknya. ketika mendapatkan kesenangan atau kebahagiaan, manusia pun selalu lngin berbagi dengan sesamanya. Oleh karena itu, di saat kapan pun manusia akan selalu membutuhkan sesamanya.

dekat. rukun, akrab. saling tol ong menolong dan saling membantu. Di Desa Beji. hubungan antarmanusia terjal in dengan adanya tolong- menolong. saling membantu. yang tercermin dalam kehid upan sehari-hari dalam berbagai kelompok kemasyarakatan yang ada. Di dalam kehi dupan pertan ian misalnya. warga ta ni Desa Beji mempunyai wadah kel om pok petani ·Ngudi Lestari·. Selain berkecimpung serta membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan pertanian. kelompok tani ' Ngudi Lcstari' inijuga menyelenggarakan arisan bersama di antara anggotan ya. Mereka memecahk an persoalan dan kesulitan yang dihadapi secara bersama-sa ma. Kerukunan antarsesama anggota kclompok tani terccrmin misa lnya keti ka musim tanam tiba. Mereka sccm·a bcrgiliran mcmbantu pengolahan laban. baik dari awal pcngclolaan lahan (ngluku) hingga saat data ngnya panen. Anggota kcl ompok tani yang iku t scrta membantu biasan) a betjumlah lima orang. dan mercka akan beket:ja secara bcrgi liran.

Di sa m ping itu. keruk unan antarwarga tani tcrcermin juga dengan adanya arisan rumah. Hampir semua vvarga Desa Beji ikut kegi atan arisan rumah ini. Merek a mendirikan kc lompok ari s ~m dengan tujuan meringankan bcban warga uesa yang ingin mcndirikan rumah. /\risan ini meliputi jumlah biaya ya ng dibutuhkan dan bahan-bahan bangunan yang diperlukan. Pertemuan arisan di selenggarakan sebul an sekali atau selapon (35 hari) sekali. Melalui kel ompok arisan. setiap anggota memperoleh kcsempatan untuk memperbai ki dan membangun ru mahnya secara bergiliran. sehingga akan terasa lebih ringan. Tcnaga yang diberikan dilakukan dengan prinsip gotong royon g. dan tanpa dipungut biaya apapun.

Hubungan antarsesama manusia di Desa Beji juga tercermin dari berbagai kegiatan adat yang hingga kini masih mereka lakukan. Dalam penyelenggaraan upacara sadranan atau rasulan misalnya, warga Desa Beji menyiapkan segala sesuatu kelengkapan dan keperluan upacara secara bersama-sama, tanpa membedakan sta- tus sosial mereka. Mereka mempunyai kepentingan dan tujuan yang sama, sehingga prinsip kebersamaan lebih diutamakan. Sebelum pelaksanaan upacara berlangsung, mereka membentuk kepanitiaan yang bertugas dan bertanggungjawab terhadap jalannya upacara. Di saat upacara berlangsung mereka semua berkumpul menghadiri upacara adat yang selalu diselenggarakan di lembah Ngenuman, hutan Wonosadi. Adanya berbagai kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan warga desa tersebut, mencerminkan bahwa hubungan antarmanusia di Desa Beji masih terjalin dengan erat dan rukun, penuh dengan rasa tepa slira. Di dalam konsep sosiologi, kehidupan warga Desa Beji dapat dikategorikan sebagai bentuk masyarakat paguyuban. Artinya, bahwa kehidupan antarmanusia terjalin berdasarkan kepada prinsip kerukunan, saling tolong menolong dan menjunjung prinsip keharmonisan, tanpa pamrih dan tulus. Kebersamaan antarmanusia sangat nampak pada saat mengalami kesusahan, atau ketika mempunyai hajadan. Bagi warga desa, termasuk warga desa Beji kondisi seperti itu seringkali dijumpai ketika tetangga sedang mengalami kesripahan, atau ketika hajadan perkawinan, khitanan, dan sebagainya. Warga desa secara spontan datang berkunjung kepada keluarga yang sedang mempunyai hajad untuk membantu. Tata cara seperti itu disebut dengan sambatan, yakni bekerja membantu tetangga tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Foto 3.1. Lahan sawah (lapis pertama)

Foto. 3.2. Lahan di perengan (lapis kedua)

Foto 3.3. Penerima Penghargaan Penyelamat Hutan

Foto. 3.4. Tegalan Yang Berubah Fungsi Menjadi Hutan Rkyat

MILIK KEPUSTAKAAN DIREKTORAT TRADISI

DITJEN NBSF DEPBUDPAR

IV

PENGETAHUAN MASYARAKAT

Pcnduduk akan selalu berinteraksi dengan alam lingkungan sckclilingnya dimana pun mereka tinggal. Pcril aku atau cara bcrtindak yang dilakuk an adalah berclasarkan atas pengetahuan yang climiliki masyarakat tersebut. Pengetahuan yang dimilikin;a terse but mcrupakan hasi I adaptasi an tara penduduk terse but dengan lingkungannya. yang mcmberikan gambaran kcpada mereka akan isi dan kondisi a lam serta bagaimana memanfaatkan dan memeliharanya. Sehubungan dengan itu. yang akan diungkap eli sini antara lain tentang pengetahuan masyarakat Dcsa Beji tentang lingkungan fisik (tanah. air. hutan. gunung). dan pe ngetahuan tentang fl ora-fauna. baikjenis-jenisnya. pemanfaatannya. maupun pemcl i haraannya.

A. Pcngctahuan Tcntang Lingkungan Fisik Lingkungan ll si k yang dimaksud di sini ada lah udara. air. tanah. tumbu h-tumbuhan. dan sebagainya. Li ngkungan lisik ad a dua yaitu lingkungan alam dan lingkungan buatan. Lingk ungan alam mi salnya hutan. sungai. mala air,tumbuhan. tcrnak: scdangkan lingkungan buatan misalnya rumah. sav. ah. ladang. berbagai pcralatan dan tek no logi. Pe ngetahuan penduduk ten tang tan ah. hutan. dan gunung aclalah seperti di bavvah in i
I. Tanah Tanah merupakan salah satu faktor tcrpenting dalam kehidupan manusia. karena tanahlah tcmpat manusia berdiam dan

"sinaosa siti mriki menika kirang sae, ning saged nyambet kehetahan pangan sakeluarga ··, maksudnya walaupun tanah di desa terse but kurang baik, tetapi bisa untuk menambah kebutuhan makan sekeluarga. Bagi petani Beji "siti menika piyandel tumrapipun petani ", artinya sebagai sumber utama hidup.

Tanah sebagai sumber hidup keluarga, tidak hanya dari sawah tetapijuga dari tegalan, dan pekarangan. Tanah pekarangan. selain sebagai tempat tinggal pada musim penghujan juga dimanfaatkan untuk tanaman pangan, dan tanaman keras, "mriki sili semm1'is njih ditanduri" (di sini tanah pekarangan juga ditanami). Jelas bahwa faktor kepemilikan tanah (lahan garapan) menjadi syarat utama mereka untuk disebut sebagai petani. Petani yang tidak bertanah atau tidak memiliki lahan garapan menyebut dirinya sebagai "buruh tani", sebaliknya petani yang bertanah atau memiliki banyak tanah garapan disebut "sabuk galengan ". Berkecimpung di bidang pertanian telah memberikan kepada petani pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan tanah sebagai lahan garapan, dan juga bagaimana cara pemeliharaan yang baik supaya tanah tetap menghasilkan bagi petani.

Terkait dengan pemanfaatan tanah terse but petani membagi ke dalam tiga kategori yaitu tanah sawah, tanah tegalan, dan tanah pekarangan. Pembagian tersebut dilihat atas dasar dari sifat tanahnya. dan pemanfaatannya (lihat Tabel4. 1 ). Tidak semua petani bisa memanfaatkan ketiga lahan tersebut sebagai lahan produktif. Ada petani yang hanya mengandalkan lahan sa wah saja, a tau kedua-

Pengetahuan Pemanfaatan Tanah

Kategori Tanah Pemanfaatan Sifat tanah Sistem pengairan dan kemampuan tan am
Tanah sawah Unt uk tanaman padi. sayur. palawija basah. gembur. ma 11·ur. I em but. 11a rna agak kc hitaman Tauah hujan Satu kali dalam seta hun
Tanah tcga lan Un tuk tanaman pangan. pala11 ija. kctcla jagung. dan pala kependem lainnya Agak kcras. prongkal- prongkal. mcrah. lcmpung Tadah hujan
l'anah pckara ngan l lntuk tempat tinggal dan ditanami jagung. kctcla. tanaman keras ta nah kcras. mcrah kcputihan Tadah hujan
subur atau disebut dengan melibat kondisi tanab yang telah dikerjakan bet1ahun-tahun. Ada tanah yang subur dan ada tanah yang tidak subur. Tanah yang "'siti cemeng·· adalah tanah yang bagus untuk ditanami berbagai macam tanaman. Sedangkan tanah tidak subur atau disebut Pemanfaatan laban tersebut berdasarkan pengalaman petani ·'sili banta(·. (tanah hitam); menurut mercka atau tanah 63
dikuasai petani.
Kategori Tanah Pemanfaatan Sifat tanah Sistem pengairan dan kemampuan
tanam
Tanah sawah Untuk tanaman padi. sayur. palawija basah. gembur. mawur. lembut. warna agak kehitaman Tadah hujan Satu kali dalam setahun
Tanah tegalan Untuk tanaman pangan. palawija. ketela jagung . dan pala kependem lainnya Agak keras. prongkal- prongkal. merah. lempung Tadah hujan
Tanah pekarangan Untuk tempat tinggal dan ditanami jagung. ketela. tanaman tanah keras. merah keputihan Tadah hujan
keras

sela pethak (batu kapur), sedangkan siti grogos warnanya agak kemerahan dan liat dan siti lentheng berwarna merah.

Pengalaman petani selama berinteraksi dengan tanah garapannya itu, telah memberikan pengetahuan kepada petani akan tanda-tanda tanah yang subur dan tanda-tanda tanah yang tidak subur. Tanah yang subur terasa "empuk" atau mudah dicangkul, gembur. mawur. dan mempunyai ciri-ciri fisik warna merah kehitam-hitaman. Selain itu bila musim kemarau tanah subur tidak pecah-pecah. Sedangkan tanah tidak subur tanda-tandanya bila dicangkul agak keras, banyak batu kecil-kecil atau kerikil disebut siti grogos. dan bila musim kemarau tanah ··nela" atau pecah-pecah. Selain itu tanah tidak subur mempunyai ciri fisik warna tanah merah seperti lempung, dan bila hujan air branjang, artinya air bablas atau lari. artinya tanah tidak dapat menahan air (lihat Tabel 4.2). Tanah yang subur biasanya terdapat di tempat yang datar. sedangkan tanah tidak subur di pereng-pereng.

Berdasarkan perbedaan kondisi dan sifat-sifat tanah yang subur dan tidak subur itu. petani memiliki pengetahuan tentang cara-cara menyuburkan tanah dan cara-cara memelihara tanah agar tetap subur. Untuk memelihara kesuburan tanah petani setempat menggunakan pupuk kandang atau pupuk hijau. Pupuk kandang diperoleh dari kotoran hewan ternak seperti sapi, kambing, dan ayam yang diproses menjadi pupuk kandang, sedangkan pupuk hijau dari dedaunan yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Cara menyuburkan tanah tegalan dan pekarangan adalah dengan cara tanah yang akan ditanami dicangkuli dan diratakan kemudian diberi pupuk kandang. Pemberian pupuk kandang menurut

200 meter persegi dibutuhkan 13 karung pupuk kandang. Apabila masih kurang petani dapat membeli pupuk kandang dengan harga Rp 2000 -Rp 3000 per karung.

Tanah subur atau lahan sawah pemeliharaa nn ya dengan diberi pupuk hijau. Pupuk hij au berupa campuran dari daun sengon. ml anding (lamtoro). johar. dicacah kcmudian diberi air, cacahan daun akan membusuk. baru kemudian menj adi kompos yang siap digunakan sebagai pupuk. Di Desa Bcj i tidak begitu banya k tanah subur. Agar kualitas tanah meningkaL menj elang musim hujan tiba tegalan dan pekarangan diberi pupuk kandang di campur dengan .. rohuk neRoro .. (pupuk buatan) yait u pupuk TS dan urea.

Tabcl 4. Jcnis Tanah dan sifatnya

Jcnis Tanah Sifat C ir·i-Ciri J cnis tanaman
S ubur (ccrncng) ivlud all d icangku l. gcrnbur. 111[1\ \'Ur 1\ lc rah kchitam- hitaman. tidak ncla. bia~all)a di data ran l'adi. ~a) uran. snmtl111l (h.acang tanah)
., idak Subur: - grogos-blodh uk-k:nthc ng t\gak kcras. tanall campur batu kcc il-kecil-h. c ra~ campur baltl kcriki l - ;\ g;lk kcras campur batu put ih Knas. nda-nc la - (p ~.:ca h- pcca h) Mcrah h.chita m- hitaman. di p~.:r~.:ng-p~.:rcng. pckarangan 1\ lerah ~cp~.:rt i lcmpung. di pcrcng I anah \a rn a h.ch itam-h ita ma n. di pcrcng. 1\lcrah. di pcrcng. pckarangan Kctcla. jagung Kc tcla. jagung. gcmbili Kctcla ., ana man h.cras

Oleh sebab itu lahan pertanian di daerah tersebut dibuat berteras. Kondisi tanah berteras ini berbeda dengan tanah di dataran yang relatif lebih subur, sehingga ada perbedaan perlakuan terhadapnya. Tanah berteras atau tanah di perengan memerlukan pupuk kandang yang relatif lebih banyak daripada di tanah datar. Demikian juga penggarapan dalam penggemburan tanah juga memerlukan tenaga dan waktu lebih banyak.

Disebabkan kondisi tanah yang mayoritas kurang subur dan berdasarkan pengalaman dalam mengolah lahan, petani setempat lebih mengutamakan pemakaian pupuk kandang maupun pupuk hijau yang mereka buat sendiri daripada pupuk buatan. Pupuk hijau (kompos) dan pupuk kandang terbuat dari daun-daunan dan kotoran temak (ayam, kambing, dan sapi) yang mereka pelihara Menurut pengalaman petani, pemakaian pupuk kandang maupun pupuk hijau mempunyai pengaruh pada tanah atau lahan yang akan ditanami, yaitu tanah menjadi tidak bangkak atau bantat. Selain itu tanah yang dipupuk kompos dan pupuk kandang tersebut mempunyai kesuburan yang panjang, kurang lebih 2-3 kali musim tanam. Sebaliknya, bila hanya menggunakan rabuk negara (pupuk yang dijual oleh pemerintah = pupuk buatan), tanah akan menjadi bantat dan kesuburan tanah hanya pendek, yaitu hanya satu kali masa tanam saja. Namun demikian untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, selain diberi pupuk kandang petani mencampur sedikit dengan pupuk negara (TS, urea, dan sejenisnya).

Demikianlah pengetahuan masyarakat setempat mengenai tanah. Pengalaman yang mereka alami dalam mengolah tanah, menjadikan petani hafal betul terhadap sifat-sifat tanah, dan dari pengetahuannya itu kemudian menjadi referensi di dalam menjaga kesuburan tanah atau lahan garapannya. Mereka mempunyai

belikls~ndang. sumur. gumuk dan sungai.

Belik atau sendang menurut penduduk setempat adalah sumbcr air berbentuk kolam yang dikelilingi pohon-pohonan yang berfungsi sebagai penyimpan air. Pohon-pohon tersebut antara lain: pohon beringin. gayam. jambon. bulu. dan tanaman lainnya yang berupa perdu, maupun menjalar. Belik atau scndang yang cukup besar dan sepanjang tahun dapat menyediakan air bagi kebutuhan penduduk setempat adalah mata air yang berada di hutan Wonosadi. Sumber air dari hutan Wonosadi tersebut digunakan oleh penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan mandi. makan. dan minum. Supaya sendang tersebut airnya dapat dimanfaatkan oleh banyak pcnduduk secant merata. maka di buat tiga bak perm an en

"toya tetep resik boten diciduki, dados mhoten huthek ··. maksudnya kalau penduduk langsung mengambil di sumber air maka sumber air menjadi keruh, kotor, dan rusak. Dengan disalurkan di bak penampungan air kebersihan air tetap terjaga, sumber air tidak rusak, dan pendistribusiannya lebih merata dan lebih dekat ke penduduk.

Sebagian besar penduduk juga sudah memiliki sumur. Sumur ini airnya juga digunakan untuk mandi, memasak, dan mencuci. Tetapi karena debit airnya kecil sehingga banyak penduduk yang menggantungkan kebutuhan air dari sendang. Sedangkan gumuk adalah sumur di tengah sa wah, yang aimya untuk menyirami/mengaliri sawah yang ada di sekitarnya (Foto 4.3, dan

4.4). Pada musim kemarau, air dari sungai (Sunyai Beji) digunakan untuk mengairi laban pertanian dengan cara dipompa dengan menggunakan pompa disel. Penduduk biasanya membangun sebuah bangunan mirip rumah untuk melindungi keberadaan belik atau sendang. Bangunan mirip rumah tersebut terbuka, tanpa dinding di bagian kanan- kirinya. Bangunan terse but berfungsi menjaga agar supaya air tidak menjadi keruh saat hujan, atau kemasukan kotoran lainnya. Hal ini dilakukan mengingat di sekitar belik atau sendang tumbuh berbagai tanaman keras dan tanaman kecil lainnya sebagai penyimpan air, sehingga banyak daun dan ranting kering yangjatuh ke sendang atau belik dan mengotori sendang/belik.

setempat sangat mengetahui fungsi tanaman sebagai penyangga air. Misalnya ada sendang yang disebut .. Sambu Apu'·. Sendang tersebut disebut ·· sambu apu .. karena di situ tumbuh pohon Sambu Apu yang sudah berumur puluhan tahun. Pohon tersebut dulu ditanam penduduk dengan tujuan untuk melindungi kelestarian air sendang. Jelas di sini bahwa penduduk setempat sudah memiliki pengetahuan tentang pelestarian air. Sangat banyak pohon yang tcrdapat di sekitar sumbcr air. mi salnya : gayam, sengon. beringin. mahoni, di sam ping tanaman perdu sepert i pandan. paki s. dan oyot-oyotan (akar- akaran) lainnya.

Tabel 5. Klasifikasi Sumber-Sumber Air

Nama sumbcr air Jcnis Lokasi Fungsi
Bclik/ sen dang Sumur alami Di 1-. a\asan hutan. pcgu nunt:an 1\ lemasak. mand i
Sumur g Sunwr milik D i de bt rumah l'vlc masak. mand i. mencuc 1
G umuk. scnd Sumur y Di tcngah Sa\vah. di pinggir tcgalan Pengairan sa wah clan tega l
Sungai A ir yang mengal ir secara alam i D i tcnga h cl esa Penga ira n sa wah dan tega l
yang letaknya di hutan Wo nosad i. p ang uripon ing ko ng pent ing sumimpen~t · onten Pcn duduk Desa Bcj i mboten ;mntunmendeti tetaneman nginggil meniku pad<.~ bahv. a air ya ng sangat mereka hu tu hkan tersim pan di sendang/hcl ik ji /;J/cmosadi meniku. Mila sedherek-sedherek mriki umu mn ya sangat mc nyacl ari .. kunggene dlm.\111 7111 riki su111 her h 1ronteni;mn toya ingkong ". Maksuclnya. 69

Pendapat tersebut mempunyai akibat positifbagi pelestarian sumber air terse but, yaitu sumber air di hutan Wonosadi tidak pemah kering sepanjang tahun, sehingga mampu menunjang kebutuhan hidup penduduk setempat.

Tersedianya sumber air yang memberi kehidupan penduduk setempat itu kemudian memunculkan penghormatan dan rasa terimakasih dari penduduk kepada yang "mbaureksa" (penjaga) hutan Wonosadi yaitu Ki Onggoloco. Penghormatan dan rasa terimakasih itu diungkapkan lewat upacara besar sadranan setiap setahun sekali sesudah panen, hari Kamis legi atau Senen legi yang dipusatkan di dekat sendang di hutan Wonosadi. Pada upacara itu setiap kepala keluarga membawa "tenggokan " (baku! besar) berisi nasi beserta lauk-pauk berupa telur, gudeg, tempe, dan lain-lain. Makanan beserta !auk pauk tersebut kemudian dijadikan satu dengan nasi milik keluarga lainnya pada tambir/tampah. Setelah didoakan oleh kaum atau diujubi kemudian dimakan bersama. Bagi yang punya nadar (nazar) misalnya mempunyai anak yang sakit kemudian sembuh, atau sapi peliharaannya sakit kemudian, sembuh harus menyiapkan ayam panggang dan tumpeng(nasi dibentuk seperti gunung). Upacara sadranan ini memiliki implikasi terpeliharanya hutan dan pelestarian sumber-sumber air yang ada.

Sadranan (walaupun dalam bentuk lebih sederhana) juga dilakukan di sumur-sumur dan belik-belik yang ada di dusun-dusun, tetapi waktunya disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing dusun. Sadranan ini hanya berupa slametan, yaitu meletakkan sesaji di sekitar belik atau sumur. Maksud dari pemberian sesaji yaitu permohonan kepada Yang Maha Kuasa supaya air yang ada di sumur maupun belik tetap melimpah. Tindakan ini menunjukkan adanya

Penduduk mcmbedakan hutan menjadi dua, yaitu hutan negara dan hutan milik. Hutan negara adalah suatu kawasan hutan yang tumbuh di atas tanah yang menjadi kekuasaan negara, sedangkan hutan milik ialah hutan yang tumbuh di atas tanah rakyat yang dibebani hak milik (Profil Sumber Daya dan Lingkungan l-lutan Wonosadi, 2004). l-lutan memiliki beberapa fungsi antara lain : ( I) mengatur tata air. mencegah dan membatasi bahaya banjir dan erosi. scrta memelihara kesuburan tanah, (2) mclindungi suasana ikl im dan memberi daya pengaruh yang baik, (3) membcri kcindahan alam pada umumnya. dan khususnya dalam bentuk eagar alam. suaka margasatwa, taman wisata. dan dapat berfungsi untuk ilmu pengetahuan, pendidikan. kebudayaan, dan pariwisata. (4) sumber mata pencaharian yang bermacam ragam bagi penduduk yang ada di sekitar hutan (Profil Sumber Daya dan Lingkungan Hutan Wonosadi. 2004).

Menurut pengetahuan penduduk setcmpat hutan itu alas yang ditumbuhi berbagai macam aneka tanaman. Ada alas alit yang disebut gerumhul. dan alas ageng. A las alit a tau gerumbul menurut mereka ··ambahane cedak ·· artinya letaknya dekat dengan permukiman; sedangkan alas ageng ' ambahane adoh ·, atau tempatnya jauh dari perrnukiman. Hutan yang terdapat di Desa Beji menurut mereka adalah tennasuk alas alit atau gerumbul yaitu alas Wonosadi. Menurut mereka di desa tersebut tidak ada alas ageng, kata mereka 'menika tebih papanipun ' (tempatnya jauh).

Petani kemudian menanam tanaman keras seperti akasia, mahoni,jati sehingga menjadi hutan. Bibit dan pupuk untuk menghutankan ladang ini awalnya disubsidi oleh pemerintah. Hutan tersebut semula ditanami canthel, kesepe (ketela pohon). dan lain sebagainya namun hasilnya tidak menguntungkan. Luas kepemilikan lahan untuk hutan rakyat rata-rata adalah satu lot sampai tiga lot (satu lot sekitar 5000 meter persegi).

Supaya tetap ada kesinambungan hubungan antara pemilik dengan lahan pertaniannya, maka di dalam hutan rakyat tersebut tetap ada lahan untuk menanam berbagai tanaman pangan seperti ketela, jagung, uwi, gembili, dan lain sebagainya. Dengan adanya lahan untuk tanaman pangan ini menurut mereka ada yang dikerjakan dan diharapkan untuk kebutuhan sehari-harinya. Di samping itu petani menjadi raj in ke tegalannya sambil memelihara hutannya.

Para petani pemilik hutan rakyat memelihara hutan rakyat dengan jalan membersihkan dedaunan dan rumput. Mereka menggunakan tlabung/arit (sabit), dan gathul untuk menyiangi rumput-rumput liar seperti celepopok, alang-alang, legundi, cilangkung, genjahan, gondhangsewu, dan sebagainya. Rumput-rumput liar ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hutan

Pada awal penghutanan mereka mendapatkan pupuk atau lumbu negara dari pemerintah.

Hama atau binatang yang menyerang hutan rakyat adalah hajing (tupai), walang (belalang), dan utis (semacam wangwung). Bajing senang memakan klika (kulit kayu), sedangkan walang kayu dan utis memakan dedaunan. Cara mcmbasmi hama bajing dengan digepyoki dengan alat seperti sa pu ya ng berukuran panjang. sedangkan walang dan utis disemprot dengan insektisida. .Jarak rumah petani dengan hutan rakyat sckitar 1-3 kilometer. Petani cukup bct:jalan kaki apabila ingin mcnuju ke hutan terscbut.

Usaha hutan tcrsebut tclah mcmberikan harapan baru bagi pctani untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Rata-rata setiap kcluarga dapat memperoleh hasil hutan satu truk kayu bakar. Kayu lcrscbut di se torkan ke penampung yang kemudian dij ual kc Klaten. Tctapi merckajuga dapat menjualn ya sendiri ke Pasar gawen atau Pasar Bejono. Sekarang ini pctani merasa tidak khawatir lagi akan nasibnya. karena ada tanaman pangan dan tanaman jangka pendek lainnya yang bisa dimanfaatkan, serta tanaman jangka panjang yailu kayu hasil hutannya (Foto 4.5)

Hutan alam adalah hutan yang keberadaannya bersifat alami. sebagai contoh adalah hutan Wo nosadi. Hutan tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat secm·a turun-temurun karena ada Jatar belakang sejarahnya. Konon. hutan tersebut adalah buatan Kyai Onggoloco atau Onggojoyo. Pangeran ini lari dari Majapahit karena kerajaan Majapahit runtuh di serang oleh kerajaan Demak pada abad ke-15. Selanjutnya Kyai Onggoloco bertapa hingga meninggal dan moksa di hutan tersebut. Masyarakat setempat meyakini Kyai Onggoloco adalah leluhurnya yang telah

Onggoloco dianggap mempunyai kekuatan gaib, sehingga hutan tersebut dikeramatkan dan dijaga keberadaannya, bahkan untuk tempat semedi. Oleh karena itu untuk mengingat jasanya setiap setahun sekali diadakan upacara sadranan yang bertempat di hutan tersebut, tepatnya di dekat pohon munggur yang umumya diperkirakan sudah ratusan tahun.

Batas-batas hutan Wonosadi adalah Desa Duren di sebelah barat, bagian sebelah timur Sidorejo, dan bagian selatan Desa Beji. Salah satu keistimewaan dari Hutan Wonosadi adalah terdapatnya empat pohon munggur di puncak bukit dan diyakini telah berumur lebih dari 400 tahun. Pohon terse but ditumbuhi kerak jamur yang mengandung fosfor, sehingga bila malam hari mengeluarkan sinar. (Foto 4.6).

Tabel6

Klasifikasi hutan

Nama hutan Jenis hutan Lokasi Jenis tanaman
Alas alit G..:rumbul dekat permukiman Aneka tanaman kayu. perdu. dan rumput
Alas ageng Hutan Jauh permukiman An.:ka tanaman besar
Hutan a lam Alami Jauh permukiman An.:ka tanaman
llutan Rakyat Buatan Dekat permukiman Mahoni. jati. akasia

Adanya tokoh mitos dan cerita-cerita kekeramatan hutan Wonosadi merupakan kekuatan ampuh yang mampu memotivasi penduduk setempat untuk menjaga dan melestarikan hutan Wonosadi. Pengatahuan, sikap dan perilaku yang sifatnya percaya

alit|Gerumbul|dekat permukiman|Aneka alam|Alami|Jauh permukiman|Aneka |Hutan Adanya tokoh mitos dan cerita-cerita kekeramatan hutan|Buatan|Dekat

Selain itu hutan Wonosadi dengan tumbuhan langkanyajuga berfungsi sebagai mu- seum hidup. Hutan Wonosadi selanjutnya berfungsi sebagai penyangga kelangsungan keberadaan sumber-sumber air di sekitarnya.

4. Gunung

Gunung, menurut pengetahuan penduduk Beji adalah gundukan tanah yang tinggi. yang memiliki "pucukan"' atau puncak. Sebaliknya gundukan tanah yang agak tinggi. tetapi tidak memiliki puncak, memanjang disebut pegunungan atau perbukitan. Gunung dapat dibedakan menjadi gunung ageng (gunung besar) dan gunung alit (gunung kecil). Gunung ageng ambahane adoh (tempatnya jauh). sedangkan gunung al it maupun pegunungan ambahane cedhak (tempatnya dekat). Baik gunung maupun pcgunungan adalah suatu tempat yang berisi tanaman keras dan tanaman perdu.

Mcnurut penduduk Beji tempat gunung kecil dan pegunungan bolch " diamhah ·· (didatangi) manusia. Hutan Wonosadi menurut pengertian mereka termasuk gunung kecil. sehingga boleh didatangi. Gunung besar tidak bisa dan tidak boleh didatangi karena banyak bahayanya. Menurut mereka gunung ageng menyimpan banyak hal yang membahayakan manusia, misalnya

(1980) upaya pengembangan lingkungan yang perlu segera dilaksanakan di antaranya adalah pelestarian jenis-jenis flora dan fauna. Flora dan fauna tersebut penting untuk kelangsungan hidup alam itu sendiri. Berbagai macam binatang perlu dipelihara kelestariannya agar ekosistem lingkungan hidup tidak terputus. Sebagai contoh, kita tahu bahwa hama tikus muncul karena ular semakin berkurang. Demikianjuga ternak hewan yang menunjang kehidupan manusia perlu dipelihara dan dikembangkan.

l. Hewan (fauna)

Masyarakat Desa Beji membagi dunia hewan menjadi dua bagian, yaitu hewan ternak dan binatang yang ada di lingkungan alam. Hewan ternak, khususnya sapi, menurut mereka merupakan "rajakayane wong tani" (kekayaan petani). Karena sapi merupakan kekayaan, maka petani harus merawat dengan baik. Binatang yang ada di lingkungan alam yaitu 'menika rajakaya alam mriki' (kekayaan alam sini), sehingga perlu dijaga dan jangan diganggu. Binatang-binatang alam tersebut merupakan bagian dari kekayaan alam yang ada di hutan Wonosadi.

a. Jenis Hewan Ternak

Petani setempat pada umumnya memelihara hewan ternak sapi, kambing, ayam, itik, domba, dan anjing. Hewan ternak yang paling banyak dimiliki oleh penduduk setempat adalah sapi,

Petani yang memiliki sa pi lebih dari 2 ekor termasuk petani kaya. Jadi di samping kepemilikan tanah/ lahan. kepemilikan sejumlah sapi juga merupakan indikator sosial seseorang.

b. Pemcliharaan Ternak piaraan yang mendapat perhatian lebih ban yak oleh petani adalah sapi dan kambing. Sapi dan kambing memiliki banyak kegunaan bagi petani, maka tidak mengherankan bila dalam pemeliharaannya hewan ternak tersebut tidak hanya diberi makan rumput dan dedaunan, tetapijuga dijaga secara mistik, yaitu disajeni (diberi sesaji) atau dis/ameli (dibuatkan selamatan). Kadang-kadang dibersihkan dan dimandikan di sungai. Untuk mendapatkan pakan sapi dan kambingnya petani harus mencari dedaunan atau rumput sampai ke pinggiran hutan atau perbukitan. Selain pakan berupa rumput dan dedaunan, sapi juga diberi pakan berupa gaplek dan rencekan ketela (kulit basi l kupasan ketela) yang diedang (dikukus). Pemberian pakan tidak boleh terlambat. Menurut mereka sapi telah membantu petani mengolah sawah, jadi harus diperhatikan pakannya supaya kuat. Di samping itu apabila ada kebutuhan mendesak, sapi atau kambing cepat laku dijual.

memperlakukan hewan ternaknya, khususnya sapi, tidak hanya menjaga fisiknya agar sehat kuat dan segar, tetapi juga dengan tindakan-tindakan yang bersifat mistis. Misalnya, apabila sa pi sakit Iangsung dicarikan jamu tradisional dari dedaunan. dan petani biasanya berujar kalau nanti sapinya sembuh akan dibuatkan slametan pada saat sadranan. Hal seperti ini akan benar-benar dilaksanakan oleh petani pada waktu ada upacara sadranan.

Penduduk setempat menjaga agar binatang-binatang yang ada di alam lingkungan Wonosadi tidak diganggu (diburu dengan senapan atau ditangkap dengan alat lain). Walaupun berbagai upaya telah dilakukan tetapi pemburu ternyata lebih pinter. Buktinyajenis- jenis binatang tertentu semakin sedikit jumlahnya.

c. Pemanfaatan Ketiga hewan ternak, yaitu sapi. kambing. dan ayam sangat membantu kehidupan pertanian para petani. Di samping tenaga sapi dapat mereka gunakan. dan kotorannya pun mereka pakai sebagai pupuk. Selain itu, hewan ternak tersebut juga berfungsi sebagai tabungan. Ternak berupa itik, ayam, kambing, selain untuk tabungan juga dapat dikosumsi untuk peningkatan gizi keluarga. Jadi fungsi hewan ternak pada umumnya yang pertama-tama adalah untuk tabungan, kedua diambil kotorannya sebagai pupuk, dan ketiga tenaganya untuk membantu mengerjakan lahan pertanian. Namun. menurut pengetahuan petani tidak setiap sapi dapat berfungsi sebagai tenaga kerja pertanian. ··tvtenika hoten saged dadakan, kedah ll'iwit pedhet pun disapih wis diqjari, dilatih nyegur sawah nglakokke luku-garu". Maksudnya, sapi tidak dapat langsung dipekerjakan untuk membantu mengolah sawah. Sapi harus dilatih sejak masih pedhet (anak sapi). Kalau mempekerjakan sapi yang tidak dilatih maka akan terlambat "mbujung toya'' (kehabisan air).

"pet ani mriki menika kedah mhuru hanyu. menika masalah musim. Nek /e mhune males. utmm males nglakokke. dadi kurang cepe!. hisa rong dina lagi rampung, kehuru hanyune wis fungo ".

Maksuun;. a karen a Ia han garapan mcreka bcrupa tadah hujan. maka clal am mcnggarap sav,ah/ tegalannya mercka harus hc rpacu dcngan masalah air. )aitu jatuhnya hujan. Kalau menggunakan sapi )ang tiuak tcrl ntih. makn peke1:jaan di lahan akan hcJjalan lamhat. Bi la biasan)a satu hari sclcsai mungki n akan sclcsai dua hari. dan ini bcrakibat hujan sudah tidak turun lagi. pctani kchilangan air yangdibutuhkan. Oleh h:arenanya bcrdasarkan pcnga laman itu. sc karang in i pctani lcbi h mcmilih menggunakan mcsi n (traktor Ia ngan) dari pada sapi. Menurut pcrhitungan petani kalau mcnggunakan sapi untuh. mcngl1lah lah<.m bisa 2-J h.ali baru sclesai. dan masih harus mcmbcri makan ~ari. Scbaliknya kalau mcnggunakan mcsin lcbih ccpat. dan rcbti f lcbih murah. k

l lc\an temak lebih hanyak bcrl'u ngsi scbagai tahungan dan pen) cd ia hall an untuk pupuk kandang. PupuJ.. kandang dari he wan tcrnak sangal dibutuhh:an <'kh pctani. khusu'lnya eli dacrah tadah hujan yang rclati f tanahnya J.. urang -.;uhur. Pl:tani mcmbutuhkan pupuk kandang dalam .iumLth sangat hcsar. Puruk kandang tidak han:~~ hc1 asal dmi kntoran sa pi "aja. mcn .. ·k

Sapi. yang telah mcmhantu pctani dnlam pckerjaan pcrtanian. dipcrlakukan layaknya scorang anggota ke luarga. Pada

badol, alap-alap, gagak, prenjak, podang, pentet, sikatan, ayam alas, walang pelus, burung hantu. bajing. kera kecil, musang, rase, garangan, macan cecep, ular bandotan, we ling. dumung, dan macan putih. Di antara jenis binatang alam itu yangjumlahnya sudah semakin menyusut yaitu burung kacer, badol, podang, macan cecep, dan macan putih. Binatang-binatang alam ini keberadaannya sangat dihafal oleh penduduk yang berdiam dekat hutan, khususnya mereka yang sering pergi ke hutan.

Penduduk

.J r ni• Bin~tan J! '\am a ldcnlifik~ si
U1 hagian ata~ - IenlS llurung - .k:n 1s Walang -Lain-lain Ku trl ang_ cucakra\ a prcnjak d~rkuku. a lap- pcntct. sikatan. a la p. sikata n. gagak. d h~ruk. papas an. ~ ri guntin g kaccr_ hadol. podang Ga gak burung hantu \ala ng pclus \ala ng ka~u wa la ng usuk ta\ Oil. s...: mut. ~\a tH!.\Uil!! Jumlah m'"'h han~ak Jumlah scd1k1t P~ndatan g (scdikll) r·d~ru~a k tanaman Makan daun Makan daun
D1 h:-~ g 1an ba" ah etyam ala ~ baj111g mu .... ang. rasc.garan!.!an kera kccil ma <.:a n ccc...:p. nmcan putth ular bandotan. \cl1ng.. dumung J umlah ban) ak 1\kru,ak daun muda dan me makan "''"" (kul1t ka\u) f\1crnakan aya m M~ ru sa k tanaman Jarang tampak (dmnggap siluman) atau ga ih
tehanipzm nginggif " Penduduk yang bermukim di sekitar hu tan menpunyai pengetahuan tentangjenis-jenis binatang yang ada di hutan maupun lingkungan sekitarnya. Mereka mengetahui binatang asli hutan itu maupun binatang tidak asli atau pendatang di hutan tersebut. .Ieni s binatang pendatang mi salnya burung gagak. dan monyet kecil. Pcnduduk setempat membedakan jenis bi natang yang ada di sekitar hutan Wonosadi mcnjadi dua macam, yaitu (di atas) dan ·'ingkang "ngandhop " (bawah). Scbagai 81
burung hantu Musuh bajing
walang pelus walang kayu walang usuk Merusak tanaman Makan daun
- Lain-lain tawon, semut. kwangwung
Di bagian ayam alas kera kecil Jumlah banyak Merusak daun muda dan memakan k/ika (kulit kayu) Memakan ayam Merusak tanaman

.Ienis tanaman pangan seperti jenis padi lokal, kemudian tanaman tumpangsari di laban tegalan, dan tanaman keras di pekarangan rumah sudah melekat dalam hidup keseharian penduduk setempat. .Ienis tanaman di ladang berupa padi gaga (antara lain tangkilan, molog. serang, kempo, dan segreng). Kecuali padi gaga. tegalan atau ladang juga ditanami palawija, ketela. jagung. uwi, gembili, kedelai. kacang srentul, dan lain-lain. .Ienis tanaman keras misalnya: mahoni, jati, akasia, mlanding. .Ienis tanaman untuk menahan kelongsoran tanah di pereng-pereng yaitu kleresede, teh-tehan, dan lain sebagainya.

Jenis-jenis tanaman lainnya menurut petani dapat dibagi dalam empat kategori yaitu jenis kekayuan. perdu, rumput-

danjcnis tanamanjamu. Jenis-jenis tanaman ini terdapat di sekitar li ngkungan mereka, termasuk yang ada di hutan Wonosadi (lihat Table 4.6).

Jeni s tanaman di hutan Wanasa di sangat beranekaragam. Tanaman) ang ada mel i puti jenis kclompok tanaman pcndek sampai kelompok tanaman ti nggi. Kelompok tanaman pendck terdiri dari jenis perdu dan re rumputan. Dcmikian juga kelompok tanaman tinggi tcrdi ri da ri pcpohonan/ kcka) uan. Kclompok tanaman rcndah, jenisnya misalnya pring-pringan. patamana, solokopok. kalikadhcp. ri bethu. riso nggo. rijanjang. lcgundhi. pandan. rotan .. tun gk ul. lombokan ... oprusa. alang-alang. jalu mampang. lu ng- lungan. rcyong. scmbuk an. apa-apa. ami s-amisan. sambiwto. glagah. mcrakan, ara-ara. gajahan. dan scbagain: a. .lcn is-jeni s tan Jman tcrscbut bc rl'u ngsi untuk tanaman obat ataujamu. Biasanya yang digunakan sebagai bahan obnt ~jamu adalah daunnya. k/okopon koyu atau klikonyo (kulit kayu). gctahnya. akarnya. atau buahnya.

h:ategori lana man Jenis tanaman
I K~kayuan lrengan. ingas. kemujing. ketos. anggrung. wadang. klampeyan. ringin. asem munggur. benda. slmmh. kepuh. johar. jati. mahoni. sengon I aut. gondhang. kedoyo. rau. walikukun. dhondhongan. j~rukan. bendo, laban. wadhang. klumpit. tumbaran. renik. suren.. kemuning. wimi. kcmloko. sempu. ketepeng. ltl\l ingan. dhempo. walikangin. kepi!. wegil. sulur. trengguli. prih. birit.
2. Perdu c~ngkek lcgundhi. lombokan. birit. s~ngganen. kayu irt:ngan. kayu wigil. kayu pakais. ribethe. rikengkeng. rijanjang. risecang. bumbu-bumbuan. Larasati. kdipes. pandan. solokopok. gadhcl. kalikadhcp. serut. pokak. rotan. songgo. "o\O. oto. girang. jopruso. kajar. patamana. pring- risonggo. pringan.
3. Rerumputan Rumput-yang merugikan pet ani Pakis lumut. pakis orok-omk. pakis haji. orok-orok. alang-alang. grinting. kala menta. genjahan. jakrusa. tapak liman. tempuyung. jalumampang. ketcpeng. rondomropol. sembukan. sambilata. camcao. krepak. merakan. amisamisan. jalumampang. apa-apa. glagah. rcyong. puyangan. gajahan. lunglungan. lateng. marangan. bkmbem. Alang-alang. teki. lempu,ang. krcmah. krokot. udd-udelan. retete. putri malu. sdakopok!wedusan. gcwor. genjahan. oro-oro. godhang sewu. legindi. cilangkung. gacgcs.
4. Jamu dedaunan (didcplok) Jamu kulit kayu (k/ika). babakan 13cduyu. mojar. tikusan. riwana, klaranggarut. gagakan. sikatan. ketos. adem ati. dadap scrcp. !wah kemujcng. kalamcnta. tempuyung. jalumampang. ketcpcng 13abakan perahu. jakan.:sa. japuk. kalikadcp. rau. sambirata. lempuyang. akar-akaran. jamblang

menggunakan bambu untuk kebutuhan membuat pagar, memperbaiki rumah, atau membuat anjang-anjang (tonggak) tanaman menjalar. Tidak sembarang waktu petani menebang bambu, mereka mesti melihat mangsa (musim), yaitu tidak menebang pacta mangsa kapat (musim keempat) sampai kanem (musim keenam), karena menurut perhitungan mereka saat itu binatang yang ada eli bambu (nener atau thether) sedang berkembang biak, dan bambu akan cepat ··bubuken " (mudah lapuk). Mangsa yang baik untuk menebang bambu adalah mangsa kasa (musim kesepuluh). mang m siji (musim pertama). dan mangsa rolas (musim kedua belas).

b. Pcmeliharaan Pemeliharaan tanaman eli pckarangan. tegal. dan sawah dilakukan sejak saat mulai tahap mcnanam. yaitu menyiram/ mengairi. membersihkan rerumputan yang ada eli sekitar tanaman. daun yang kering " dirempe/i'' (dipotong), dan pemupukan. Masyarakat setempat percaya bahwa Ki Onggoloco sebagai pemilik hutan, telah nenitipkan warisan hutan itu kepada mereka untuk menjaga dan melestarikannya, maka masyarakat sctempat kemudian membentuk kelompok penjaga hutan Wonosadi '"Ngudi Lestari ... Penjagaan hutan pacta musi m kemarau clitingkatkan. karena pacta musim itu clikhawati rkan banyak penduduk yang memiliki ternak masuk ke hutan guna mencari dedaunan clan rumput untuk makanan ternaknya. Kegiatan kelompok penjaga hutan menjaga keamanan dan pelestarian hutan wonosadi, juga memotivasi masyarakat setempat untuk ikut melestarikan hutan yang berfungsi sebagai tempat menyimpan air yang dibutuhkan penclucluk setempat. Ajakan untuk melestarikan hutan terse but dilakukan oleh kelompok penjaga hutan

secm·a swadaya menanam tanaman baru. Tanaman baru yang ditanam yaitu gayam, beringin. bulu, mahoni, jati. sukun.jambu mete, sengon. Untuk kepentingan penjagaan dan pelestarian hutan. telah dipasang rambu-rambu peringatan untuk menjaga dan tidak mengganggu hutan Wonosadi. Misalnya, ada papan kecil bertuliskan "hutan lindung Wonosadi'', ·'dilarang mengambil flora-fauna di hutan Wonosadi". Kelompok juga membentuk penjaga hutan secara bergilir dari masyarakat setempat tanpa imbalan.

c. Pemanfaatan Hutan Wonosadi dengan aneka macam tanaman telah memberikan kemudahan bagi penduduk setempat dalam memenuhi kebutuhan air, kebutuhan mencari bahan untuk obat tradisional/ jamu, kebutuhan untuk pakan ternak. tanaman untuk kompos/ pupuk, dan kayu bakar. Sebagai contoh kekayaan tanaman yang dapat mereka manfaatkan adalah seperti berikut:

Pemanfaatan Tanaman

Nama tanaman Dimanfaatkan untuk :
Orok-orok Pakis haji A lang-alang Suket grinting Kalamenta Suket genjahan Jakrusa Tcmpuyung Jalumampang Ketepeng/ lamtara Rondomropol Kalas Beduyu, mojar, tikusan Daun pring, nangka Lempuyang Pakan ternak, bijinya untuk tempe Pupusnya disayur Pakan ternak, obat diabetes, akarnya untuk anggur, untuk atap kandang Pakan ternak habis melahirkan Ca mpuran jamu god hog Pakan ternak Jamu pegel-linu Jamu godhog Obat darah tinggi Tempe, obat tumor Pakan sapi Getahnya untuk obat perut Daunnya untuk jamu habis melahirkan Pakan kambing Obat cacing
menanam sayuran dan tanaman pangan lai1mya, yaitu ketela, jagung, ubi jalar. gembil i. uwi. tales, dan sebagainya. Tanaman sayuran. gembili, uwi adalah tana man jangka pendek yang dapat dimanfaatkan secepatnya. Tanaman untuk makanan temak diambil di tcgal dan pekarangan. seperti lamtoro, kleresede. dan suket gajah. Bambu selain bisa dimanfaatkan untuk membuat pagar dan membuat kandang, juga sebagai bahan kerajinan anyaman. Selain itu. hasil panen sayuran dan buah-buahan di samping dapat dikosumsi untuk kebutuhan sendiri, juga dijual ke pasar. Petani juga memanfaatkan tanaman yang ada di lingkungannya untuk Setelah panen padi gaga dan padi sawah, petani kemudian 87

TabellO

Jenis-Jenis Tanaman dan Fungsinya
Jenis Tanaman Macam-macam tanaman
Tanaman buah Tanaman pangan Tanaman untuk ternak Tanaman untuk pupuk hijau. Tanaman untuk penahan longsor Tanaman jamu Tanaman sayuran Mangga. rambutan. pepaya. belimbing. durian. sawo. ncnas. pisang Padi. ketcla pohon. ketela rambat. li\Vi. gembili. kimpul Rumput gajah. lamtoro. klerescde Johar. sengon. lamtoro. Genjah. lamtoro. kolojono .lahc. kunyit. lcngkuas Kacang panjang. sawi. kentang. kobis. mcntimun. tcrong. cabe

Jenis-jenis tanaman obat banyak terdapat di kawasan hutan Wonosadi. Penduduk dapat memanfaatkannya (setelah minta izin penjaga hutan atau penjaga hutan yang mengambilkannya) untuk membuat jamu/obat keluarganya. Namun bila mengambil untuk keperluan komersial maka hal tersebut dilarang.

Tanaman untuk ternak Rumput gajah. lamtoro. kleresede
Tanaman untuk pupuk hijau, Johar. sengon. lamtoro.
Tanaman untuk penahan longsor Genjah, lamtoro. kolojono

Foto 4.3. Gumuk, sumur galian yang ada di sawah

Foto. 4.4. Sumber air ditampung dengan bambu di tegalan MILIK KEPUSTAKAAN DIREKTORAT TRADISI DITJEN NBSF DEPBUDPAR

Foto 4.5. Hutan Wonosadi

Foto 4.6. Hutan rakyat dan lahan garapan pertanian

Foto. 4.7. Usaha-usaha pemeliharaan hutan

SELAMAT DATANG DI HUTAN ADAD WONOSADI BEJI

Foto 4.8. Usaha-usaha pemeliharaan hutan

POLA PERTANIAN

Penduduk yang berdiam di pedesaan pada umumnya mempunyai aktivitas ekonomi yang terkait dengan pengolahan lahan garapan. Mereka yang hidupnya diperoleh dari mengolah sawah, tegalan, maupun pekarangan disebut petani. Sebagai petani mereka mempunyai serangkaian cara dan teknologi dalam mengolah lahan garapannya. Untuk menjaga keharmonisan hubungan lingkungan alam dengan manusia, petanijuga melakukan serangkaian upacara yang terkait dengan mata pencahariannya.

A. Cara Pemanfaatan Lingkungan

Lahan garapan petani di Desa Beji pada umumnya terdiri dari tanah sawah. tanah tegalan. dan pekarangan. Ketigajenis lahan pertanian ini masing-masing mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Lahan sawah dikenal sebagai laban basah. sedangkan laban tegalan dan pekarangan termasuk lahan kering. Sawah berada di tempat- tempat yang agak datar. sedangkan tegalan pada umumnya di daerab-daerah agak tinggi, sehingga dibuat berteras. Disebabkan oleb kondisi lahan yang berbeda ini maka terdapat perbedaan pula dalam hal cara-cara mengola hnya. memeliharanya. maupun teknologi yang digunakan. Laban tegalan dan laban sawah di Desa Beji merupakan lahan tadab hujan. Hasil pertanian hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri atau subsisten. Hanya sebagian kecil yang diperdagangkan. Selain sebagai laban yang mengbasilkan hasil-hasil pertanian, maka sawab. dan ladang merupakan media untuk saling bergaul bagi para penduduk desa. Berikut kegia~an mereka di laban sawah, pekarangan, dan tegalan.

Sawah

Bagi petani, sawah dan tegalan, merupakan "cepengan urip ·· (sumber hid up). Berkaitan dengan hal tersebut, petani menggunakan strategi dan kemampuannya untuk mengolah lahan sa wah maupun tegalannya agar cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Agar lahannya dapat memberikan hasil terbaik maka petani menggunakan strategi tertentu. Strategi itu biasanya mencakup pertimbangan-pertimbangan dalam memilih jenis tanaman, penggunaan alat untuk mengolah sawah/tegalan, dan sebagainya.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa dari segi pengairan terdapat lahan sawah yang penggarapannya menggantungkan jatuhnya hujan atau disebut sawah tadah hujan, dan sawah yang pengairannya dari irigasi yang disebut sawah irigasi atau oncoran. Sawah tadah hujan penggarapannya hanya setiap musim hujan tiba, dan lahan sawah di Desa Beji termasuk tadah hujan (Foto 5.1)

Di Desa Beji pada saat mangsa rendeng (musim hujan) akan tiba, atau disebut juga mangsa labuh, maka para petani mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk memulai mengolah lahannya. Kegiatanan yang tampak menonjol adalah mempersiapkan rabuk atau pupuk kandang untuk dibawa ke sawah dan tegalan yang akan digarap. Rabuk-rabuk itu ada yang dibawa dengan keseran (gerobag tangan), digendong (oleh kaum perempuan), dipikul (oleh kaum laki-laki), dan ada yang dibawa dengan sepeda motor atau mobil pickup. Jadi pada saat menjelang musim hujan datang petani lalu- lalang membawa rabuk ke sawah atau tegalannya (Foto 5.2).

Dalam mengolah sawah tadah hujan secara tidak langsung tampak adanya kearifan-kearifan di dalam menata dan mengatur lahan. Tiap-tiap bagian lahan terse but berfungsi untuk kelangsungan

galengan (pematang). Galengan ini j uga berfungsi sebagai pembatas pemilikan antar laban. Galengan yang dibuat dari gundukan tanab yang ditinggi kan ada maksudnya. yaitu untuk menjaga agar tanab tidak mudab longsor dan menaban air agar tidak mudah pergi dari pctak yang bersangkutan. sehingga pupuk yang telah disebarkan di laban tersebut tidak larut terbawa air. .Jadi kesuburan tana h tetap tet:jaga. Galcngan j uga berfungsi untuk tempat bet:jalan bagi petani pada saat melibat atau mengontrol tanaman.

Tabap dalam proses pengo laban laban sawab pertama-tama adalab menggemburkan tanab dengan jalan diluku (dihajak). Mcmbajak ini dapat dengan mcnggunakan bajak tradisional (luku) yang ditarik oleb sapi. namun ada juga ya ng menggunakan bajak bermcsin (traktor). Apabila menggunakan luku paling tidak harus sampai 4 kali (selesai 3 bari). dengan ongkos Rp.25.000 setiap satu kali diluku, sebingga total memerlukan biaya Rp. l 00.000. Sedangkan apabila menggunakan traktor biayanya Rp.60.000. dapat se lesai dalam waktu satujam. Kemudian tabap berikutnya digoleng atau dipvpok (merapikan pematang). Tujuan dari digaleng atau dipopok ini untuk menaban air yang sudah masuk ke bidang sawab agar tidak lari kemana-mana. Setelab itu digaru menjadi ler-leran a/au lah-lah-an (lahan siap tanam). Libat Foto 5.3. Setelah itu tanah tersebut didiamkan tujuh sampai se pulub hari, supaya pupuk hijau membusuk. atau pupuk ka ndang menyatu dengan tanah. dan panas yang ditimbulkan oleb pupuk tersebut hi lang. Perlu dikctahui bahwa pupuk kandang atau kompos menimbulkan panas yang dapat mematikan tanaman. Setelah laban didiamkan selama tujuh sampai sepulub hari. kemudian baru di tanami beni h padi. Penanaman bcnih padi ini paling lam bat adalab musimlahuh. karena unt uk mengejar waktu supaya tepat. Setelab benib padi berumur 28 bari kemudian didaud yaitu mencabut dari perscmatannya. Tujuannya untuk

· nglendhut '. Selain itu mereka juga menanami pinggiran sawah dengan tanaman-tanaman lain seperti jagung dan ketela. Setelah tanaman padi berumur kurang lebih dua minggu, rumput-rumput yang tumbuh di sekitarnya dibersihkan atau di-watun. Tindakan ini bertujuan supaya pertumbuhan padi tidak terganggu. Tahap selanjutnya adalah pemberian pupuk kompos bergantian dengan pupuk negara (TS dan urea). Kemudian apabila tumbuh rumput maka di-watun lagi. Setelah itu tiba masa keluarnya padi, dan ditunggu sampai padi matang atau mrekatak, lalu dipanen. Panen pe11amakali adalah padi, kemudian barujagung, dan terakhir ketela. Setelah dipanen. laban bekas padi dan jagung dibabat kemudian ditanami palawija seperti kacang tanah, dan kedelai (musiman-marengan), sambil menunggu hasil singkong dipanen. Di galengan ditanami kacang panjang dan ketela pohon.

Jenis padi gaga yang ditanam penduduk setempat adalah tangkilan, molog, serang, kempo, dan segreng. Menurut petani setempat menanam padi lokal maupunjenis varietas baru masing- masing memiliki keuntungan dan kerugian. Kerugiannya, padi lokal mudah kena hama dan bulirnya sering tidak berisi penuh (gabug); keuntungannya berumur panjang dan biaya pengolahannya lebih kecil /murah. Sedangkan padijenis varietas baru produksinya tinggi. umur tanamnya pendek. tetapi biaya yang dikeluarkan relatifbesar. Petani pada umumnya memilihjenis padi disesuaikan dengan waktu garap denganjatuhnya musim rendengan atau turunnya hujan. Jadi di sini petani harus pandai memilih jenis padi yang umurnya pas dengan waktujatuhnya hujan. Pada umumnya galengan ditanami kacang panjang. jagung, dan ketela pohon. Jadi bagian tengah ditanami padi, pinggiran singkong dan jagung. Tanaman tersebut ditanam secm·a bersamaan, tetapi panenannya secm·a bergiliran.

mcngombinasikan pemakaian pupuk kandang de ngan pupuk ncgara. Cara ini ditcmpuh o!ch petani. karcna mcnu rut mcrcka kedua jenis pu puk ini saling melengkapi dalam mcmacu pcrtumbuhan tan aman padi. Menurut pcngalaman petani pemakaian pupuk kandang tidak boleh ditinggalkan. karcna pupuk kandang ya ng mcm buat tanah awet subur selama 2 - 3 musim. Pupuk kand ang dan kompos membuat tanah menjadi gem bur. tidak hungkok atau uros (kcras). Pupuk negara mcrangsang tanaman cepat tumbuh. banyak basil. tctapi kalau tidak hati-hati pemakaiannya. tanah bisa bantat atau keras. Namun daya menyuburkannya hanyalah pcndek. yaitu hanya satu musim tanam SaJa.

Untuk meningkatkan kcsuburan tanah pctan i memanfaatkan dedaunan yang terdapat di lingkungannya yaitu godhong apa-apa. walik angin. walikukun, pucuk blarak. dan rumput alang-alang. Daun-daun tersebut dicacah kcmudian dimasukkan ke dalam lahan yang sudah digemburkan. dedaunan itu akan membusuk dan akhirnya menjadi humus. Biasanya saat hujan pertama jatuh langsung mulai merabuk laban. supaya cepat pembuahannya.

Pada saat padi sudah tumbuh atau "n~lilir .. rumput-rumput yang sudah mulai tumbuh harus dibersihkan supaya tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Setelah dibcrsihkan atau diwatun. lahan harus kering dan kcmudian ditaburi pupuk negara. Jadi pemberian pupuk selama tahap mcnanam dil akukan dua ka li. yaitu kombinasi antara pupuk kandang dengan pupuk negara. Kombinasi pupuk ini mcnurut pengalaman petani hasilnya lcb ih baik. karcna masing-masing pupuk tcrsebut berpengaruh pada tanaman. Pemakaian pupuk kandang akan membcri warna hij au dan tanaman mendapat vitam in .. segar ... scdang pupuk ncgara akan merangsang pertumbuhan tanaman.

umumnya sistem tanam pada sawah tadah hujan adalah secara tumpangsari. Sistem tumpangsari berarti pada satu lahan ditanami lebih dari satujenis tanaman. Jenis tanaman tumpangsari antara lain bisajagung. kedelai. kacang panjang, kacang srenthul, dan ubi jalar. Pola tanam tumpangsari ini selain bertujuan untuk mendiversifikasi tanaman juga untuk menghindari hama. Dalam sistem tumpangsari ini padi ditanam di tengah, dan tanaman tumpangsarinya di pinggiran. Tanaman singkong ataujagungjuga berfungsi untuk mencegah te1jadinya erosi. Tindakan petani ini jelas mengandung nilai kearifan tradisional untuk memelihara tanaman supaya tidak terkena hama dan untuk mencegah te1jadinya kelongsoran.

Apabila sa wah terse but akan ditanami palawija maka setelah padi dan jagung dibabat, kemudian diluku kembali, digaru, dan dibuat bedhengan untuk ditanami kacang tanah. kedelai. Biasanya penanaman palawija dilakukan pada musim marengan yaitu pertengahan hujan. Benih-benih kacang atau kedelai yang sebelumnya telah direndam semalam dimasukkan ke kowakan atau lubang-lubang yang dibuat di bedhengan. Setelah kurang lebih seminggu biji tanaman tersebut akan tumbuh menjadi tanaman, dan rumput-rumput yang mulai tumbuh mulai disiangi. Setelah itu dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk kompos dan pupuk negara, dan didiamkan untuk beberapa waktu supaya pengaruh panas dari pupuk hilang, baru setelah itu laban siap ditanami.

Sawah tadah hujan dapat ditanami satu kali tanaman padi atau dua kali. Tanaman yang kedua kali disebut dengan gadhu. Bila hanya ditanami satu kali tanaman padi. maka setelah itu dilanjutkan dengan tanaman palawija. Setelah panen palawija lahan dibiarkan saja tidak ditanami atau diistirahatkan (bera, diberakke). menunggu musim hujan berikutnya. Tujuan mengistirahatkan laban

(kandang. kompos, dan negara). petani memiliki pengalaman empirik yang melekat dalam pola pikirnya. Mereka memiliki referensi atas apa yang selama ini mereka lakukan. Atas dasar pengetahuan yang diperoleh secara cmpiris itu, petani memilih bahwa pupuk kandang dan pupuk hijau adalah yang terbaik untuk menyuburkan tanah. Namun. petani juga merasakan bahwa untuk pertumbuhan tanaman dan melipatkan hasil perlu ada kombinasi antara pemakaian pupuk kandang dengan pupuk negara.

2. Tegalan

Tegalan termasuk lahan kering. jadi tidak me merlukan penggenangan air seperti sawah. Tegalan dimiliki oleh hampir sebagian besar petani Desa Beji. Tegalan dibuat berteras supaya tidak mudah longsor. Lokasi lahan pada umumnya berada di luar lingkungan permukiman penduduk. Pada saat pulang dari tegal petani kadang membawa rempelan (ranting kecil penuh daun) alau dedaunan untuk pakan ternaknya (Foto 5.4).

Tcgalan d ibuat berteras untuk mcnahan lcrjadinya kclongsoran. Tegalan mulai ditanami bi la musim hujan tiba. Tala ruang tegalan hampir sama dcngan sawah. Bagian-bagian lahan legal diatur sedemiki an rupa sehingga masi ng-masing berfungsi untuk menunjang pertumbuhan tanaman itu sendiri. Bagian-bagian dari tegalan tcrsebut hampir sama dengan sa wah yailu ada galcngan. bedhengan. tanggul. dan parit. Galengan berfungsi sepcrti halnya galengan sawah. yaitu penahan kelongsoran dan pengaturan air,

Untuk itu tanggul tersebut ditanami rumput kalajana, setaria, rumput gajah. dan sebagainya. Rumput-rumput tersebut berguna untuk mencegah kelongsoran laban. Sedangkan parit berguna untuk mengatur a! iran air yang dibutuhkan. Sedangkan pada tanggul diberi ruas-ruas bambu untuk jalan air.

Cara pengolahan tegalan hampir sama dengan cara pengolahan di lahan sawah, tetapi penggunaan tenaga kerjanya lebib banyak. Lamanya waktu dan banyaknya tenaga yang digunakan dalam penggarapan ladang disebabkan kondisi tanah yang keras dan mengandung batu. Tahap-tahap pengolahan lahan tegalan yaitu membuat galengan (pematang). menyemai benih, membuat bedhengan, menanam benih. memupuk, dan memetik hasil atau panen. Pada prinsipnya pengolaban tegalan hampir sama dengan sawah. yang sedikit membedakan adalah pada tahap menanam.

Ketika musim hujan tiba. petani mulai menyiapkan lah- lahcm (laban siap tanam), dengan cara mencangkul tanab, menggemburkan. dan meratakan dengan menggunakan cangkul. Selain itu merekajuga sambil membersihkan tanah dari tumbuhan rumput dengan menggunakan gathul (cangkul kecil). Sedangkan bila banyak bebatuan mereka menggunakan linggis. Cara menanamnya adalah dengan meletakkan benih ke dalam lubang. Lubang tersebut dibuat dengan cara ditugal atau dipanja dengan gejig (tugal = kayu berujung runcing). Setelah benih dimasukkan ke dalam lubang kemudian lubang ditutup lagi dengan tanah.

Untuk lahan tegalan yang sempit tanah tidak diluku-garu tetapi cukup dipacul saja. Pada saat hujan datang. petani harus segera menge1jakan pengolahan secara cepat dan tepat. tahap-tahap pengolahan dibuat lebih sederhana. Biasanya lahan tadah hujan yang sempit langsung dibersihkan dan dilanjutkan dengan ndhedhel atau mencangkuli laban. Biasanya laban bekas panenan padi

johar, dan lamtoro, dirajang. Pada saat tanah dilukuuntuk yang pertama kali. rajangan daun disebar eli lahan yang telah eli luku terse but. Kemudian dilakukan pembajakan kedua, pada saat ini mereka beranggapan bahwa tanah sudah ada vitaminnya dan kesuburannya bisa tahan lama. Kemudian pada saat tanaman berumur dua minggu dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang dicampur dengan pupuk negara (urea atau TS). Pemupukan kedua adalah untuk merangsang pertumbuhan tanaman, dan peningkatan basil. Pada saat itu juga rumput-rumput dibersihkan dengan gathul supaya tidak mengganggu tanaman yang sedang tumbuh.

  1. Pekarangan Pekarangan termasuk lahan kering jadi sama dengan tegalan. Bedanya adalah ba hwa eli tengah pekarangan berdiri bangunan rumah untuk tempat tinggal. Bangunan rumah inilah yang membedakan antara tegalan dan pekarangan (Stoler, I 978). Pekarangan yang terletak eli belakang rumah biasanya ditanami jagung dan ketela ram bat (ubi jalar). ketela pohon, kara. dan lain sebagainya. Sedangkan yang beraela eli bagian depan rumah ditanami pohon. katu. lombok. dan beluntas. Tanaman keras seperti melinjo. nangka. mlanding/ lamtoro, pepayalkates. pisang. mangga. dan rambutan biasanya ditanam di samping kanan dan kiri rumah. namun ada juga yang ditanam eli belakang rumah. (Foto 5.5). Rumah yang dibangun eli atas pekarangan selain berfungsi untuk tempat tinggal. juga digunakan untuk tempat usaha. Usaha tersebut misalnya menjual makanan matang seperti peyek, criping,

Oleh temak tersebut, rumput dan dedaunan yang dimakan dikeluarkan lagi dalam ujud kotoran temak. Oleh petani kotoran temak tersebut diproses dimanfaatkan petani untuk pupuk kandang. Pupuk kandang digunakan untuk menyuburkan tanah dan supaya tanaman tumbuh dengan baik, sebagian hasilnya ada yang dikonsumsi petani untuk kebutuhan makan sehari-hari keluarganya. Proses daur ulang itu berulang kembali secara berkelanjutan.

B. Teknologi Dalam Mata Pencaharian Petani Desa Beji di samping sudah menggunakan peralatan dan cara moderen temyata masihjuga menggunakan peralatan dan cara tradisional. Peralatan tradisional terse but antara lain plancong,

linggis, gathul, arit, dan luku garu (Foto 5.6). Peralatan moderen yaitu traktor untuk membajak/menggemburkan tanah. Dalam usahanya menyuburkan tanah untuk meningkatkan produksi pertanian mereka tidak hanya menggunakan pupuk kandang dan pupuk hijau, tetapi juga menggunakan pupuk negara yaitu urea dan TS. Di samping itu meskipun mereka sudah menggunakan prakiraan cuaca dari Kantor Meteorologi dan Geofisika tetapi mereka juga masih menggunakan perhitungan-perhitungan (pranata mangsa) secm·a tradisional.

Peralatan yang digunakan untuk mengolah sawah disesuaikan dengan kondisi lahannya. Oleh karena di daerah setempat kondisi lahannya banyak yang berbatu peralatan yang digunakan adalah pacul, plancong, dan linggis. Secara umum cangkul digunakan untuk menggemburkan tanah lunak. untuk nembok, dan meratakan tanah. Pfancong untuk menggemburkan tanah keras a tau digunakan di tegalan yang ban yak batunya. Linggis untuk mengangkat atau mendongkel tanah berbatu. Gathul untuk mendangir atau menyiangi rumput. Sabit untuk membabat jerami atau membersihkan rumput sebelum membuat fah-lahan (lahan siap tanam) dan untuk memanen padi. Garu dan luku (ditarik sapi) digunakan untuk mengolah sawah yang bidangnya luas. Garu digunakan untuk meratakan dan menggemburkan tanah. sedangkan luku berfungsi untuk membali kkan tanah. Luku terbuat dari kayu. dan pada bagian bawah yang disebut singkal dipasang besi pipih disebut kejen (berfungsi sebagai mata bajak. agar tajam). Garu ini di buat dari kayu a tau bam bu. sedangkan 1111111 (gigi) garu terbuat dari besi. Alat untuk menanam biji-bijian disebut fugal. yaitu kayu berujung runcing. Tugal tersebut untuk membuat lobang atau kmmkan pada hedhengan yang akan ditanami biji-biji-an seperti jagung, kedelaL kacang tanah. dan lain sebagainya.

pertamakali yang harus dikerjakan di tegalan maupun sawah tadah hujan adalah mengolah tanah untuk persiapan ditanami. Pertama-tama yang dikerjakan adalah membersihkan bekas-bekas tanaman dengan menggunakan sabit atau arit. Bekas-bekas tanaman tersebut kemudian dibakar atau dibiarkan saja di lahan sehingga mermbusuk menjadi pupuk. Apabila sawah tadah hujan atau tegalan (yang bidangnya luas) akan ditanami padi, maka setelah tanah tersebut ada airnya kemudian dibajak dengan Juku yang ditarik oleh dua ekor sapi. Luku tersebut jalannya maju, memutar mengelilingi bidang lahan, mulai dari pinggir, dan berakhir di tengah. Bqjak berguna untuk membalik tanah (Foto 5. 7). Namun tidak semua tanah bisa dijangkau oleh bajak, dan oleh petani tanah tersebut cukup dicangkul, sekalian nampingi (memperbaiki) galengan. Setelah selesai mencangkul dan nampingi, tanah diistirahatkan supaya sisa-sisa tanaman membusuk. Pada tahap ini harus dijaga tanah jangan sampai kering, kemudian digaru yang ditarik dua ekor sapi untuk meratakan tanah (Foto 5.8). Cara menjalankan garu, di atasnya dinaiki petani untuk mengendalikannya supaya tekanan terhadap tanah lahan lebih kuat, setelah garu berjalan ke depan sampai ke ujung, lalu berbalik lagi. Selanjutnya dilanjutkan membajak lagi, dan nembok di galengan. Proses ini diulangi sampai dua kali. Pada tahap ke dua ini tanah sudah lumat dan lembut dan siap ditanami. Namun ada petani yang memberikan pupuk pada lahan siap tanam ini sebelum ditanami. Kegiatan selanjutnya adalah mencabuti benih dari persemaian yang disebut daud. Daud dilakukan dengan menggunakan tangan. Kemudian disusul kegiatan tandur (menanam). Setelah menunggu padi menjadi tua, tibalah masa panen. Memanen padi pada umumnya menggunakan arit, bukan ani-ani, dan banyak dilakukan oleh laki-laki.

Pada bedhengan terlebih dulu dibuat lubang dengan alat yang disebut tugal atau gejig, lalu benih dimasukkan dalam lubang tersebuL dan ditutup kembali dengan tanah. Seminggu kemudian akan tumbuh tanaman. Pola tanam pada tanah tadah hujan pada umumnya padi satu kali, dilanjutkan dengan tanaman polowijo. setelah itu istirahat atau didiamkan (diherakke) menunggu musim berikutnya. Sistem tanamnya dengan tumpangsari, yaitu padi diikuti tanaman lainnya polowijo. kacang panjang, kacang srentul, jagung. atau ketela pohon. Sistem tumpangsari merupakan pengombinasian antarjenis tanaman, dan sistem ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman petani akan sifat-sifatjenis tanaman. Laban garapan dibuat berteras. ini menunjukkan bahwa petani sangat mcngetahui bahwa kondisi lahan eli lingkungannya yang kering dan tandus sangat rawan tc1jadi longsor atau erosi.

Lahan-lahan yang luas biasanya dikcrjakan dengan menggunabn traktor, hal ini menurut perhitungan petani dari segi biaya relat i r lebih murah. clan dari segi waktu lebih etisien. Di sam ping itu tanah yang ditraktor dapat digemburkan secara merata. Penggunaan traktor ini menurut pengalaman petani lebih cepat daripada luku-garu. karena untuk claerah tadah hujan "horus mlmjung toya" (harus beke1:ja ccpat agar ticlak kehabisan air).

Pmla umumnya hasil pacli hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan scndiri. sedangkan basil bumi berupa polowijo clijual ke pasar dcsa atau pasar Gudang amun. banyakjuga bakul-bakul besar dari Klaten, Sukoha1jo. dan Wonosari yang datang ke desa tersebut untuk mcmbeli hasi l bumi. Sistem alat penakaran masih sederhana. Untuk menakar beras dan kedelai petani menggunakan "bemk" (terbuat dari tempurung kelapa berisi sekitar I ,25 kg). sedangkan kacang tanah diukur dengan alat yang disebut 'jamhrangan" terbuat dari blek.

was, dan reja. Kalau akan labuh dipilih dengan angka ')'angkep ,. (genap) yang jumlahnya kecil, supaya benih padi yang semula ditanam denganjumlah kecil tetapi hasilnya akan banyak.

Perhitungan-perhitungan tradisional biasa digunakan petani, khususnya untuk menghitung hari mulai tanam. Misal dimulai hari Sabtu legi, dihitung hari Sabtu jumlah 9, dan legi 5. jadi jumlah 14. Maka pada waktu wi-1-Fil labuh sepisanan benih padi jumlahnya harus 14 pasang (28 batang padi) supaya hasilnya baik. Ada juga yang menggunakan blarak (daun kelapa) yang dihitungjumlah daunnya, selanjutnya benih padi yang akan ditanam sesuai dengan jumlah daun blarak yang dihitung tersebut.

Tanda-tanda Alam. Petani setempat di dalam menanam jenis-jenis tanaman menggunakan perhitungan berdasar pranata mangsa (sistem perhitungan musim). Pranata mangsa ini mendasarkan perhitungannya kepada tahun Surya yang dalam satu tahwmya terdiri dari 365 hari. Setiap tahun dibagi dua belas mangsa (musim). Pembagian mangsa ini didasarkan pada munculnya bintang-bintang tertentu di langit. Masing-masing mangsa mempunyai watak yang berbeda, dengan demikian petani harus pandai-pandai memilih mangsa yang cocok denganjenis tanaman yang akan ditanam.

Kedua belas mangsa tersebut adalah (Suroyo,2005: I). Mangsa Kasa atau Kartika, 41 hari, 22 Juni- 1 Agustus, cirinya daun-daun gugur; 2). Mangsa Karo atau Pusa, 23 hari, 2 Agustus -24 Agustus, cirinya tanah retak; 3). Mangsa Katelu atau Manggasri, 24 hari, 25 Agustus- 17 September, cirinya pepohonan yang menjalar mulai tumbuh; 4). Mangsa Kapat atau Silra, 25 hari, 18 September- 12 Oktober. cirinya sumber air menjadi kering; 5). Mangsa Kalima atau Manggakala, 27 hari. 13 Oktober -8 No-

Pada mangsa inilah petani mulai menanam tanamanjenis kering; 6). Mangsa Kanem atau Naya. 43 hari. 9 November -21 Desember, cirinya pohon mulai berbuah;

7). Jvlangsa Kapiru atau Palf{UIW. 43 hari. 22 Desember -2 Februari, cirinya musim penyakit; 8). Managsa Kawolu atau Wisaka. 26 atau 27 hari, 3 Februari - 28 /29 Februari, cirinya musim kt1cing kawin; 9). Mangsa Kasanga atau Jira, 25 hari. I Maret - 15 Maret. cirinya musim gangsir dan garengpung berbunyi; 1 0). Mangsa Kasapuluh atau Srmmna. 24 hari. 26 Maret -18 April. cirinya binatang peliharaan mulai bunting; II). Musim Desta atau Padrawana, 23 hari. 19 April -I I Mei. cirinya anak-anak burung mulai. dis~1api; dan 12). Mangsa Saddha atau Asuji. 41 hari. 12 Mei -21 Juni, cirinya musim dingin. Kedua belas mangsa tcrsebut dapat diringkas menjadi empat mangsa. yaitu: I). Mangm 1\utigu. 88 hari. meliputi mangsa Kasa. Karo, dan Katelu: 2). Mangsa Lalmh. 95 hari, meliputi mangsa Kapar. Kalima. dan Kanem : 3 ). !11/angsa Rendheng. 94 hari. mcliputi mangsa Kapiru. 1(flm/u. dan Kasanga : 4). Mangsa Mareng, 88 hari. meliputi mangsa Kusapuluh. Desra. dan Sadd/w. Pcmbagian menj adi empat mangsa ini didasarkan pada sedikit banyaknya hujan yang turun. Pada mangsa Katiga kondisinya kering. Lahuh hujan mulai turun. Rendheng hujan. dan Mw·eng hujan mul ai berkurang. Petani di Desa Beji paham bctLII pcrhitungan pranala nwngsa terscbut. sch ingga mereka menyesuaikan diri dalam hal bcrcocok tanam. Misalnya pada mangsa Kapar mercka mulai menanam palo kependhel/l. ma n gsa Kolima cocok untuk menanam padi dan kacang-kacangan. mangsa Kwu!m cocok untuk menanam padi. karena hujan mulai turun. Mangsa Kanem kurang cocok untuk menanam jagung dan lain-lai nnya karcna .. nwngsa adhem .. atau berhawa di ngin. Pada mangsa 1\a.w dan Karo cocok untuk

Pada mangsa Karo ini saatnya pohon kapuk randu berbunga. Pohon buah-buahan cocok ditanam pada mangsa Kapat dan Kalima.

Di samping itu sebagian petani Desa Beji masih berpedoman pada tanda-tanda alam untuk melakukan kegiatan pertanian. Kebiasaan tersebut dalam bahasa Jawa disebut '·nyetitekke ·· atau menggunakan ilmu "titen" (memperhatikan atau mengamati). Mereka berlandaskan pada gejala-gejala empirik yang muncul dalam alam semesta ini. Misalnya bila burungjathithet (srigunting) berbunyi cret-cret dua kali di pagi hari. berarti sudah mendekati musim labuh, tetapi kalau berbunyi cret-cret -cret tiga kali, berarti tanda musim terang atau kemarau sudah tiba. Selain itu datangnya musim kemarau atau terangjuga bisa ditandai dengan munculnya hujan diikuti angin kencang. Petani juga memperhatikan hila garengpung sudah bersuara maka itu pertanda bahwa musim hujan sudah akan berakhir, dan suara garengpun tersebut juga sebagai tanda bahwa mangsa kasanga (kesembilan) sudah datang. Petani juga percaya bahwa apabila ada burung pringbengkok berbunyi maka itu tanda akan datangnya wabah penyakit.

Dalam memelihara tanaman kadang-kadang ada hama yang menganggu tanaman petani. Hama yang sering mengganggu tersebut di antaranya adalah walangsangit, tikus, wereng coklat, wereng hijau, serangga, dan uret. Untuk membasmi hama tersebut petani menggunakan cara-cara tradisional. Misalnya untuk membasmi atau mengusir walangsangit memakai daun pace (mengkudu). Daun pace tersebut ditancapkan pada tanah di bawah pohon besar yang dianggap keramat. Kemudian tanah yang telah ditancapi daun pace tadi dibawa pulang petani, dan kemudian disebarkan di tempat hama tersebut menyerang. Pada saat menyebarkan tanah tadi disertai dengan sajen abon-abon serta

Uret Setiap dijumpai pada saal mengolah tanah langsung dibunuh

Seorang petani menyunggi bagor berisi pupuk kandang

Foto 5.3. Lahan yang baru saja digemburkan

Foto 5.4. Lahan tegalan berteras

ari t

Foto 5.7. Luku untuk menggemburkan tanah

Foto 5.8. Garu untuk membalik tanah dan meratakan

PENUTUP

Penelitian kcarifan tradisional masyarakat di Desa Beji. Kecamatan Ngawen. Kabupate n Gunung Kidul ) ang berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan alam ini dilakukan dengan mewawancarai sejumlah informan ya ng sebagian besar hid up dan kehidupannya bergantung pada basil pertanian. Laban garapan mereka berupa laban sawah dan tegalan. Dalam berinteraksi dengan alam lingkungan yang telah memberi nafkah kepada mereka. muncul kesadaran dari masyarakat setempat akan kekayaan alam lingkungan ya ng harus dilindungi. dipelihara. dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, agar dapat diwariskan kepada anak cucunya. Di lain pihak merekajuga berharap agar anak cucu bisa melanjutkan pelestarian lingkungan tersebut dengan berpedoman keari fan I i ngkungan.

Kondisi fis ik suatu tempat ikut berpengaruh terhadap pola pcrmukiman dan pemanfaatan lingkungan yang ada. Dcsa Bcji. khususnya Desa Duren karena sccara fisik tanahnya tcrmasuk dacrah perbukitan. m.Jka pula permukiman pcnduduk di dacrah tcrscbut mcnyebar. tctapi tctap terkonscntrasi di sckcliling lahan-lahan produktif. Dengan kata la in tiuak jauh dari lahan-lahan garapan mcrcka. Ini menunj ukkan ball\'.a alam lingkungan di sekitarnya telah dikuasai dan dikclola olch penghuninya. Penguasan alam lingk ungan olch manusia terscbut mcnunj ukkan adanya interaksi yang tcrus menerus antara manusia dengan alamnya. Selama berinteraksi dengan lingkungannya in i mereka mcmpcroleh pengetahuan dan pengalaman yang sclanjutnya menjadi acuan tindakan di dalam memanfaatkan lin gkungan alam sckitarnya.

secm·a langsung atau tidak langsung telah memberi hidup dan kehidupan bagi mereka. Pengalaman empirik ini telah menjadi referensi mereka dalam memperlakukan alam lingkungannya supaya hidup dan kehidupannya tetap lestari. Dari sini kemudian muncul perilaku masyarakat setempat untuk menjaga kekayaannya. yaitu alam lingkungan yang telah memberi hidup kepada mereka dan anak cucunya.

lnteraksi yang berlangsung antara alam lingkungan dengan penghuninya terlihat pula dalam pengaturan tata ruang desa, di mana makam atau kuburan beradajauh dari permukiman dan ruang produktif lainnya. Dalam konsep ekologi mereka, makam adalah lahan mati. yang tidak mempunyai kaitannya lagi dengan yang hidup sehingga harus berada di ruang yang jauh dari poros atau intinya yaitu permukiman manusia. Lapisan ruang yang dekat dengan poros (tempat manusia), adalah sawah dan ladang yang mendukung hidup manusia.

Menyatunya man usia dengan lingkungan alamnya tercermin dari klasifikasi yang mereka lakukan terhadap alam lingkungan yang telah mendukung hidupnya yaitu klasifikasi terhadap lahan sebagai sumber matapencaharian, yang bersumber pada laban sawahnya. tegalan dan pekarangan. Demikian juga klasifikasi tentang sumber-sumber air, hutan dan gunung. telah menumbuhkan pengetahuan mereka tentang pemeliharaan air. pemanfaatannya. pemeliharaan tanaman dan pemanfaatannya. Kearifan yang muncul dalam pemeliharaan tanaman dan lahan adalah adanya sistem terasering dan tumpangsari, dimana sistem itu mempunyai implikasi pada terpeliharanya kesuburan tanah serta mencegah erosi dan hama tanam[m.

Wonosadi, maka mitos tersebut merupakan modal kultural yang cukup ampuh untuk memotivasi penduduk dalam memelihara lingkungan hutan tersebut. Hal in i terbukti. meskipun telah terjadi adanya berbagai tekanan terhadap sumberdaya alam. eksistensi keanekaragaman sumberhayati masi h tetap tetjaga. Hal terscbut juga membuktikan bahwa kesadaran masyarakat cukup tinggi dalam hal pelestarian lingkungan.

B. Saran

Kekayaan lingkungan alam pcnduduk Desa Beji terpelihara clan tctjaga lewat mckanismc yang secara tidak langsung tcl ah mcrupakan ti ndakan konservasi sumbcr claya alam. Na mun tinclakan mcrcka ini kadang tidak cli sacl ari. scperti pcngeramatan hutan Wonosad i dan sendang yang ada di hu tan tcrscbut. Tindakan ini mcrupakan ti ndal-..an posi tiL lkngan acla nya tindakan yang bersilat mistik dal am mcmpcrlakukan hutan terscbut. mas) arakat setcmpat mcnjadi hcrhati -hati eli dalam nlcmanl~m tkan alamlingkungan. Alas clasar ha l terse but bcrik ut in i bebcrapa sum hang saran: ang pcrlu clisampaikan yai tu:

I. Kc ka: aan hayati yang tc r-;i mpan clalam hutan Wonosadi pcrlu diim cntarisasikan secara lengkap. karena mcnyimpan jcnis- jcni s tanaman langka da n aneka ragam tanaman obat/jamu.

  1. Hutan Wonosadi perlu segera mendapat penanganan khusus oleh instansi yang berwenang untuk dikelola dan dilindungi keberadaannya.
  2. Semangat pemeliharaan dan pelestarian yang tumbuh di kalangan masyarakat perlu dipelihara dan dipupuk agar tidak memudar. Hal ini kiranya dapat dilakukan dengan cara memberikan rangsangan/insentif yang sifatnya menumbuhkan kebanggaan kepada masyarakat di desa tersebut. Misalnya memberi seragam kepada penjaga hutan Wonosadi, memberi kursus singkat tentang pengetahuan lingkungan alam, atau mengarahkan agar banyak tamu luar daerah mengunjungi desa Beji, dan lain-lainnya.
  3. Hutan Wonosadi ditetapkan sebagai laboratorium hidup dan tempat rekreasi sambil memperkenalkan kekayaan lingkungan kepada siswa/generasi muda, sekaligus untuk menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan.
  4. Melakukan rekayasa sosial budaya agar penduduk termotivasi untuk memelihara dan melestarikan lingkungan. Rekayasa tersebut dapat lewat dongeng, mitos, dan upacara tradisional. Tindakan rekayasa ini dapat ditularkan ke daerah-daerah lain.
    6.Kesenian rindhing perlu dilestarikan dan dikembangkan karena kesenian tersebut sudah langka dan merupakan kekayaan masyarakat petani setempat.

PUSTAKA

Ahimsa-Putra, H. S.

1985 ·' Etnosains dan E tnometodologi: Sebuah Perbandingan". Ma.syarakatlndonesia, T h. XX, No.

1.
2005 ·· Kearifan Tradisional dan Lingkungan Fisik''. Makalah Workshop lnventarisasi Aspek-aspek Tradisi". Kementerian Budpar: Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan.

Emiliana. S.

200 1 · K onsep Tata R uang Rumah Tinggal pada Masyarakat Padat Penduduk". Pmra Widya. Vol. 2 No. 2, Yogyakarta: BKSN T.

.Joyosuharto, S.

1989 "Nilai-nilai Budaya .Jawa dalam Kaitannya dengan Lingkungan H idup''. Makalah Seminar. Yogyakarta: Balai Kajian Jarahnitra.

2004 • 'umberdayu dan Lingkungan Hutan Wo nosadi. 'ogyakarta: Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan.

Kaplan, D., dan Albert, AM.

1999 Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Manan, A., dan Nur Arafah.

2000 "Studi Pengelolaan S umber Daya Alam Berbasis Kearifan Tradisional di Pulau Kecil: Studi Kasus Pulau Wangi-Wangi Kabupaten Buton Propinsi

Tenggara". Man usia dan Lingkungan, Vol. VII, No.2. Agustus. Marzali. A. 1998 "Sistem Pengetahuan Lokal dan Pelembagaan Kebudayaan". Tinjauan buku The Cultural Dimen- sion of Development: Indigenous Knowledge Sys- tem, oleh D. Michael Warren, et.al. Masyarakat Indonesia, No.2. Nababan 1995 "Kearifan Tradisional dan Pelestarian Lingkungan Hidup di Indonesia". Ana/isis, CSJS, Th. VVIV, No. 6. Nov-Des. Sajogyo 1982 Ekologi Pedesaan: Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Rajawali. Salim, E. 1988 Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Jakarta: LP3ES. Soemarwata, 0. 1983 Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan. Supardi 1982 Lingkungan Hidup dan Kelangsungannya. Bandung: Alumni.

air. tanah. tum buh-tumbuhan. rumah. dan scbagainya; sedangkan lingkungan tisik terdiri dari lingkungan alam dan lingkungan buatan. Lingkunga n alam mencakup misaln;a hutan. tanah. sungai. mata air. tumbuh-t umbuhan. dan hewan. Bcrbagai unsur lingkungan alam it u dapat mempengaru hi kchidupan suatu komunitas. Lingkungan buatan adalah hasil dari pcrilaku manusia. misalnya rumah. sawa h. ladang. dan berbagai pcralatan teknomogi ya ng digunakan oleh suatu ko munitas (1\h im sa -Putra. 2005).

E. Ruang Lingkup Pc nc lit ia n ini akan dil"oku skan pada pcnggal ian dan pcngkajian sistem pengetahuan atau keari fa n trad isional yang dimiliki masyarakat pedesaan tcntang lingkungan I) Dcsa tcrsebut beracla eli kabupaten dan sebagian besar masyarakatnya bennatapencaharia n sebagai petani.

Pengelolaan Dampak Lingkungan Kabupaten Gunung Kidul maka dipilihlah Desa Beji, Kecamatan Ngawen sebagai desa penelitian. Desa tersebut masyarakatnya bermata-pencaharian sebagai petani yang masih menggunakan teknologi tradisional, dan masih memiliki tradisi yang kuat khususnya yang terkait dalam pemeliharaan lingkungan.

E. Metode

Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap beberapa informan terpilih yang menguasai masalah objek penelitian. Di samping itu dilakukan pengamatan (observation), yaitu teknik penelitian dengan cara mengamati situasi dan kondisi lingkungan fisik serta perilaku masyarakat yang berkaitan erat dengan masalah penelitian. Pelaksanaan wawancara dengan menggunakan pedoman pertanyaan yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Untuk keperluan wawancara ini (data kualitatif) digunakan alat perekam (tape-recorder). Apabila selama wawancara ditemui istilah-istilah lokal maka hal tersebut dicatat tersendiri dalam sebuah catatan kecil. Catatan kecil ini apabila dirasa ada kekurangannya atau ketidakjelasannya dapat ditanyakan lagi kepada informan. Untuk menunjang kelengkapan data dilakukan studi pustaka. media massa, dan sumber-sumber lain yang menunjang masalah penelitian.

Wawancara dilakukan kepada informan yang terdiri dari para ketua kelompok tani, pengelola lingkungan hidup, tokoh

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

-! P ULA U J AWA

PETA

KABUPATEN GUNUNGKIDUL

KAB. KLATEN

.. ......

1r-1"" ~~ ... ..-.-+~~·:..•~c., ... ~1 ....., ., ....
, · I ~ ''t-NGAWEN· ...... •'

... ,, NGLIP~R-\r~~~~ SEMON ~ '-< ,' ., I.

-...-,

-. --
i: KARANGMOJO tl I

KAB. WONOGIRI

. •. •

......

. .. -,..

12-t

KEC. GEDANGSARI KEC. NGLIPAR KEC. SEMIN KEC. KARANGREJO
125
NO NAM~ UMUR(th) PENDIDIKAN PEKERJAAN
1. Kasno 53 SMP Pamong desa, petani.
2. Sudiyo 58 SLTA Ketua Pokdarwis, pet ani.
3. Sularti 25 SLTA Kepala Desa
4. Muh. Kasim 48 SD Pet ani
5. Sujarwo 50 SLTA Petani
6. Sarijo 54 SD Petani, anggota pokdarwis
7. Manto 42 SMP Petani, kelompok tani
8. Darmi 40 SD Pet ani
9. Wariio 57 SD Petani, kelompok tani
1. SMP Pamong desa, petani.
Ketua Pokdarwis,
3. Sularti 25 SLTA
4. Muh. Kasim 48 50 SLTA Petani
7. Manto 42 Petani, kelompok tani
8. Darmi 40 Petani
9. Warijo

tegal

smrah ayeng

rinding gtmrheng

Sllllttll· galion diujubi sesaji tenggokan klika alas alit alas ageng rencekan ketcht

ngomhor lemah hera luku atau 1raluku gal"ll

gumuk

DAFTAR ISTILAH

tanah yang d i atasn ya terdapat rumah t ingga l tanah kering yang ditanami tanaman pangan. palawija. atau padi gaga lahan basah yang dit anam i pad i ernperan ru mah ber fungs i untuk rnen yimpan kayu atau kandang ayam ala! musik terbuat dari bambu berukuran panjang ± I 0 ern Iebar ± 5 ern. dimainkan dalam upaeara sadranan atau hiburan. sumur milik pribadi diikrarkan sesaji yang diletakkan dalam tenggok (baku I) kulit kayu grumbul atau semak yang lebat hutan kulit ketela )ang digunakan untuk mal-.anan hewan (sapi. kerbau, kambing) memberi maka nan kcpada ternak Ia han t idak d itanam i baj ak alat pertanian ditarik sapi/ kerbau berfungsi untuk meratakan tanah sumur yang digali di sawah