Baca PDF (OCR): Ajaran ajaran dalam naskah singhalangghyala parwa

130 halaman · 130 halaman diproses dengan OCR· 215597 ms

Daftar isi
  1. AJARAN-AJARAN DALAM NASKAH SINGHALANGGHYALA PARWA
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI
  3. AJARAN-AJARAN DALAM NASKAH SINGHALANGGHYALA PARWA
  4. PENDAHULUAN
  5. Singhalangghyala (prosa dan kakawin_
  6. l:jnsode kelima. Bhaga\an Pascati bercerita kepada Maharaja
  7. /. 5 Teori dan Metodelogi
  8. "Sajna haji, tan sangsaya parameswara, pahawas de haji
  9. jh.5al ri sdhcngnya tan kinant\anakcn. 111\ang tan
  10. Bhaskarah cayah drestanti. laksmi kiranam candramah.
  11. tm\uh pranna nira. sadhananing mangraksa sila.
  12. BAHASA SINGHALANGGHYALA PARWA
  13. Selain itu, Maharaja Caya Purusa sangat paham tentang
  14. "Arti dan isinya:
  15. Mahararaja Caya Purusa selaku matahari. Maharaja Kama
  16. Raja wanita berkata. "Wah berbahagialah tuan raja yang
  17. Caya Puru sa mcmbunuhku '
  18. Sri Laksmi Ki rana segera menitahkan Prasikusa untuk
  19. Ja,,·ablah dcngan kata-katamu. sebab
  20. Sedangkan asal mula tubuh, adalah sari-sari makanan dan
  21. Terjemahannya :
  22. Terjemahannya :
  23. 4.2 Ajaran tentang Rwa Bhineda
  24. (a\ a Purusa _ ia adalah bcr:ji\ a lcmah lembut scbagaimana la\aknya
  25. 4.3 Ajaran tentang Kelepasan/ Kamoksan
  26. dcwata tclah dikpaskan olch Maharaja Caya Purusa. namun
  27. Hal serupa tertera dalam Jnanasiddhanta, disebutka bahwa
  28. 5 Aja ran tentang Pengendalian /Jiri
  29. Begitu luasnya arti dharma, dan untuk mencapai jagaddhita
  30. 4.6 Senjata dan Bentuk Alih Rupa
  31. TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL
  32. KESIMPULAN DAN SARAN
  33. DAFTAR PUSTAKA
  34. Leiden: KITLP Press.
  35. Dinas Pengajaran
  36. of Old Javanese Literature.
  37. DESKRIPSI NASKAH PERPUSTAKAAN NASIONAL RI

Milik Depdikbud Tidak Diperdagangkan

AJARAN-AJARAN DALAM NASKAH SINGHALANGGHYALA PARWA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI

JAKARTA 1996/1997

Depd ikbud fidak Diperdagangkan

AJARAN-AJARAN DALAM NASKAH SINGHALANGGHYALA PARWA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI JAKARTA

PENDAHULUAN

Sepantasnyalah kita bangsa Indonesia berbangga hati karena memiliki sejumlah besar naskah kuno yang menyimpan berbagai buah pikiran yang tinggi, luhur serta berharga dari nenek moyang. Semuanya itu merupakan cagar budaya bangsa, curahan atau rekaman pengalaman jiwa bangsa, hasil fantasi dan sebagainya yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah di segala bidang. Naskah kuno warisan budaya yang sangat berharga itu perlu dipelihara untuk kepentingan inventarisasi, sumber informasi,dan perkembangan khazanah ilmu pengetahuan.

Naskah-naskah kuno Indonesia menggambarkan hampir semua bidang kehidupan manusia, seperti: filsafat, renungan-renungan religius, ketatanegaraan, pengobatan, kosmos cerita-cerita kemanusiaan, kearsitekturan, dan sebagainya. Juga cermin kehidupan, suka duka dalam mencari kebahagiaan dan tujuan hidup manusia terdapat di dalamnya. Karenanya, nilai-nilai positif dari naskah-naskah Kuno tersebut harus diteruskan kepada generasi sekarang, karena semua itu merupakan harta karun bangsa Indonesia yang mesti kita bongkar (Agastia. 1982 :3).

Naskah kuno tersebar di berbagai tempat di Indonesia, antara lain : Jakarta (Perpustakaan Nasional RI dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia). Yogyakarta (Museum Sono Budoyo), Surakarta (Radya

l

Pustaka dan Pcrpustakaan Kraton Mangkuncgaraan). Bali (Museum Bali Gedong Kirtya. Pusat Dokumcntas1 Kebudayaan Bali. dan Fakultas Sastra Universitas Udayana). juga di berbagai tempat koleksi pribadi. Berbagai daerah di Indonesia mempunyai aksara, bahasa. kesusastraan, maupun cara penulisan tersendiri. Naskah kuno jenisnya beranekaragam dan memakai bahan pustaka yang berbeda-beda sebagai wahana penulisannya. Selain menggunakan kertas/deluang, naskah kuno juga ditulis pada bambu, kulit kayu, dan rotan (untuk naskah-naskah daerah Sumatra). Sedangkan naskah Bali, Lombok, Jawa, Madura, ditulis di atas rontal (daun Tai) Tak ketinggalan naskah daerah Sulawesi Selatan juga menggunakan bahan rontal, yang pada daerah asalnya Iazim disebut lontarak. Untuk naskah kuno Jawa Barat, sebagian menggunakan daun nipah (sejenis rontal, namun seratnya vertikal), selain ditulis di atas daun Tai.

Robson mengatakan, bahwa belum banyak orang di Indonesia yang menginsyafi betapa penting dan barharganya nilai yang terkandung dalam sastra klasik Indonesia yang merupakan pembendaharaan pikiran dan cita-cita para nenek moyang. Pikiran dan cita-cita yang sangat diutamakan itu, tentu penting juga bagi kita zaman sekarang untuk menghayatinya ( 1978 :5). Teeuw juga mengatakan dengan nada sindiran, bahwa bangsa yang melalaikan kekayaan kebudayaannya bukanlah bangsa yang berbahagia; bangsa. yang secara acuh tak acuh membiarkan warisan sastranya terbengkelai sehingga digali, direbut, digarap oleh orang asing; dan yang paling bersedia menikmati hasil keringat orang asing itu bukanlah bangsa yang sungguh-sungguh bebas merdeka (1978 :360).

Berpijak dari pemyataan-pemyataan di atas, yang tentunya harus direnungkan secara mendalam maka pengkajian terhadap naskah kuno seperti Singhalangghyala Parwa (selanjutnya disingkat dengan SLP) kiranya dapat memberikan setetes embun dalam perkembangan khazanah ilmu pengetahuan dan ajaran keagamaan khususnya. Dalam SLP secara ekslesit maupun implisit tersirat ajaran Siwa-Buddha yang menjadi dialog Sri Utsawati dengan Bhagawan Suta (keduanya murid Bhagawan Ramaloka). Perang adalah latar atau figuran semata, karena pada akhirnya tercapai kembali kemanunggalan.

dalam buku Siwa-Buddha karya

J. H. C Kern dan W. H. Rasscrs, bahwa J. Ens ink dalam tulisannya Siwa-Buddhism in Jawa and Bali (Ajaran Si,,·a-Buddha di Jawa dan Bali) 1978, mendukung pendirian Pigeaud bahwa konsep pembagian dua amat penting dalam kebudayaan Jawa dan Bali. Cerita Korawasrama dan Sutasoma dilihatnya sebagai penvujudan dari konsep pembagian dua ini, di mana pihak kiri dan kanan, yaitu Kaurawa/Purusada dan Pandawa/Sutasoma keduanya harus senantiasa ada dan meskipun terjadi pertikaian pada akhirnya harus tercapai kembali keseimbangan (Sedyawati, l 982 :xx). Naskah Singhalangghyala Parwa sebagai bahan kajian termuat pada Yaarboek, 1933 :356 dan dalam "Daftar Naskah sementara Perpustakaan Nasional RI" yang disusun oleh Dr. Behrend, 1992: 143. Sampai saat ini ditemukan em pat buah naskah Singhalangghyala (prosa, puisi) tersimpan di Perpustakaan Nasional RI, dengan rincian sebagai berikut :
(1) Singhalanggyala Parwa, Inv. No. 1 L 858; merupakan naskah lontar biasa (tanpa lidi), ditulis dalam aksara Bali, berbahasa Jawa Kuno, bentuk prosa, tanpa angka tahun. Naskah ini berukuran 50 x 3,4 cm, dengan ukuran blok teks 45,5 x 2,3 cm, teks terdiri dari 33 lempir (65 him. dengan him. la kosong), penomoran ganda, angka Bali (sisi b), l-33, dan masing-masing lempir terdiri dari 4 baris. Sebagian lempirnya nampak telah rusak terutama pada sekitar lubang tengah, namun huruf jelas terbaca, teks disimpan pada laci besi I (peti I) dalam sebuah kropak kayu ukuran 56,5 x 7,5 cm, dibungkus dengan kotak kertas bebas asam. Diikat dengan benang kapas lewat lubang tengah dengan sekeping uang kepeng pada bagian belakang naskah.
(2) Singhalangghyala Parwa. Inv. No KBG 573; merupakan naskah kertas dalam bentuk copyan atau salinan dari naskah I L 858, ditulis dalam huruf Latin, berbahasa Jawa Kuno. bentuk prosa. Naskah ini berukuran 34.5 x 22 cm, dengan ukuran blok teks 31 x 17,5 cm. teks terdiri dari 40 halaman.

40 baris. Kondisi tcks masih baik. tulisan jelas terbaca. dan j ilidan masih kuat. Tcrdapat semacam ringkasan cerita berbahasa Belanda (R. nomor 67) dan transliterasi dalam huruf Latin tiktikan menjelang teks berakhir. Pada bagian awal naskah tertera keterangan bahwa teks ini selesai diturun/ disalin pada tanggal 4 Agustus 19 l 0 oleh Poerwosoewignja.

(3) Kakawin Singhalangghyala, Inv. No. Br 582; merupakan naskah kertas, ditulis dalam aksara Jawa, berbahasa Jawa Kuno, bentuk puisi (kakawin), tanpa angka tahun. Naskah berukuran 33,8 x 21,3 cm, dengan ukuran blok teks 27 x 16,5 cm, terdiri dari 51 halaman, dan masing-masing halaman terdiri atas 1224 baris. Kondisi teks masih baik, tulisan jelas terbaca, jilidan masih kuat. Pada awal teks tidak menyebutkan "Japa Mula-Stawa: Om Awighnamastu" yang mengandung nilai sangat kramat dan harus diucapkan atau dibaca bagi seseorang yang akan memulai membaca sebuah karya sastra, khususnya naskah yang berbentuk kakawin. Hal ini bertujuan agar dengan "Japa MulaStawa" berarti kita telah memohon anugrah dalam mengheningkan cipta kepada Tuhan dan leluhur-leluhur yang suci sehingga kita terhindar dari marabahaya.
(4) Kakawin Singhalangghyala, Inv. No. Br 382; sebuah naskah kertas, ditulis dalam aksara Jawa, berbahasa Jawa Kuna, bentuk puisi (kakawin), tanpa angka tahun. Naskah berukuran 21 x 16,8 cm, dengan ukuran blok teks 17 x 12, l cm, terdiri dari 84 halaman, dan masing-masing halaman terdiri atas 14 baris. Kondisi teks tampak masih bagus, tulisan jelas terbaca, jilidan masih kuat. Pada awal teks berisi tulisan tangan huruf Latin bahasa Jawa Kuna dan Belanda, yang berbunyi Singhalangg(la) parwa. wekasing Sapta (Asta?) dasa Parwa Taflva. (naar een deer en woldedij .'s· en geschanden kropak der Leiden universiteifs bibliotheek, cod. or. no. 1913). Naskah ini sama bentuknya dengan Kakawin Singhalangghyala, Br 582, namun tidak mencantumkan ··Japa Mula-Stawa" sebagai mantra pendahuluan sebuah kakawin.

Singhalangghyala (prosa dan kakawin_

dcngan no. inv. 1 L 858. KBG 573_ Br 582 _ dan Br 382) ini, yang dijadikan bahan kajian adalah Singhalangghya/a Parwa. dengan no inv. I L 858. Hal ini dilakukan, karena selama ini belum ditemukan informasi tentang naskah yang berbentuk prosa (palawakya) seperti ini. Informasi yang terdapat pada awal Kakawin Singhalangghyala dengan no.inv. Br 382 (lihat deskripsi No.4 ), ki ranya Singhalangghyala (puisi, prosa) bersumber dari cerita Astadasa Parwa (wekasing Sapta(Asta?)dasa Parwa Tatwa).

Sementara menurut keterangan yang terdapat pada awal naskah KBG 573 (naskah kopyan 1 L 858), menyebutkan bahwa teks selesai diturun/disalin pada tanggal 4 Agustus 1910 oleh Poerwosoewignja. Dengan demikian, naskah l L 858 yang dipilih sebagai bahan kajian ditulis jauh sebelum muncul naskah KBG 573 sehingga untuk sementara naskah 1 L 858 dianggap paling tua dan lengkap di antara Singhalangghyala lainnya yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.

Pada kolofon akhir SLP (1 L 858) menyebutkan bahwa teks selesai ditulis pada hari Sabtu Wage, Pangelong ke-4, pada bulan Sada (urutan bulan ke-12 Bali) atau sekitar bulan Juni. Teks ini ditulis di Bajya Asrama (?), terletak di sebelah timur jalan, ke arah barat dari lautan, sayang tidak menyebut angka tahun. Berdasarkan keterangan ini, kiranya SLP (1 L 858) adalah salah satu buah karya Ida Pedanda Made Sidemen dari Geria Delod Pasar Intaran Sanur, Denpasar. Sejumlah karyanya dapat disebutkan antara lain : Tutur Upadesa (tentang ajaran dharma, konsepsi filsafat Hindu); Siwagama (tentang penyebaran agama Hindu pada zaman dahulu); Puja Ugra Tatwa (tentang pedoman kependetaan); kakawin Kalpha Sanghara (tentang pemerintahan Raja Parikesit di Astina); Kakawin Candra Bherawa (tentang ajaran untuk mencapai kesunyataan); Kakawin Panglepasan. Kakawin Manuk Dadali. Kakawin Purwanirig G unung Agung. Kakawin Gayadijaya. Kakav.:in Malawi. Kidu ng Pisacarana. Geguritan Parojana. Geguritan Se/ampah laku. dan lain-lainnya (Puma dkk, 1987I1988 :22)

SLP 1 L 858, secara ringkas berisikan dialog keagaaman antara Sri Utsawati dengan Mpu Tapa Suta. Mereka adalah murid Bhaga,,·an Ramaloka. Mulai episode awal sampai akhir berisi cerita Mpu Tapa Suta yang didengarkan oleh Sri Utsawati tentang Maharaja Caya Purusa dan Laksmi Kirana sebagai penganut Siwa, dan Karna Rupini (Prabhu Kanya) sebagai penganut Budha.

Episode pertama, uraian tentang Sri Otsawati di balairung dihadap oleh Patih Sudarma beserta rakyat dalam rangka membicarakan keamanan negara. Dalam pada itu datang Mpu Tapa Suta dari Sanghyang Girisa. Setelah terjadi tegur sapa, Sri Utsawati lalu mohon kepada Mpu Tapa Suta untuk menceritakan leluhurnya, yakni: Sri Caya Purusa.

Episode kedua. Bhagawan Tapa Suta mulai menceritakan tentang keutamaan dua orang raja bernarna Maharaja Caya Purusa dan Laksmi Kirana yang beristana di Sweta Nadhipura. Keduanya sama sakti, pandai, berani, tekun beryoga, dan paham terhadap delapan hat kepemimpinan (Asta Brata). Semua raja berada di bawah naungannya, karena keutamaan beliau yang sangat terkenal di seluruh dunia. Keadaan negara sangat arnan, tentrarn, dan makmur.

Episode ketiga. Maharaja Caya Purusa dan Laksmi Kirana mengadakan pertemuan di balairung dihadap oleh Patih Pradwangsa dan semua rakyat. Dalam episode ini terjadi dialog antara Patih Pradwangsa seorang patih kepercayaan dan bijaksana, dengan Maharaja Caya. Purusa. Dalam dialog ini, Patih Pradwangsa mengutarakan tentang kemuliaan kedua rajanya (Maharaja Caya Purusa dan Laksmi Kirana), perilaku seorang patih pendamping raja, dan uraian sejumlah ajaran kamoksan.

Episode keempat. di tengah-tengah perbincangan itu muncul Bhagawan Pascati dari alan1 gaib Kehadirannya disambut baik oleh Maharaja Caya Purusa. Dalam episode ini Sri Caya Purusa mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Bhagawan Pascati. Pertanyaan pertama berkisar pada keadaan kepemimpinan sang raja yang didampingi Patih

Prad\ angsa Mcnyusul bcrita tentang adanya raja lain yang sama saktinya. namun dalam \ujud scorang \Vanita (Kama Rupini).

l:jnsode kelima. Bhaga\an Pascati bercerita kepada Maharaja

C aya Purusa tentang adanya dua kerajaan bernama Lungidning Langghyala dan Singhalangghyala. Kerajaan Lungidning Langghyala tak ada pemimpin, juga beritanya. S edangkan ke rajaan Singhalangghyala tampil seorang raja wanita bernama Kama Rupini (Prabhu Kanya) didampingi dua orang patih andalan (wanita) bernama Patih Narayana dan Patih Rajapati. Penduduk di Singhalangghyala semuanya wanita, karena kena kutuk Sanghyang Pramesti Guru. Setelah Maharaja Caya Purusa mendengar berita tersebut, lalu bersikeras untuk menyerang Prabhu Kanya.

Episode keenam. Sri Caya Purusa mempersiapkan penyerangan, kemudian berangkat menuju Singhalangghyala. Dalam perjalanan sempat mampir di kerajaan Sunyalaya, yang rajanya bernama Maharaja Tisnawa. Sementara di pihak Kama Rupini, juga tengah bersiap-siap untuk menghadapi Sri Caya Purusa. Dalam episode ini, Patih Pradwangsa bercerita tentang kebenaran sejati kepada Sri Caya Purusa. Setelah terjadi dialog yang panjang lebar, akhimya Sri Caya Purusa mengirim sepucuk surat ke Singhalangghyala, yang menyatakan akan diserang jika tak mau menyerah. Tantangan dibalas tantangan, akhimya meletuslah perang dahsyat (perang kebatinan) antara kedua raja utama itu. Peperangan berlangsung sangat sengit tak ada yang kalah atau menang. Masing-masing sempat melepaskan senjata milik dewata, kemudian disusul ilmu kediatmikan (ilmu kebatinan tingkat tinggi) dengan segala bentuk alih rupa. Karena memang berasal dari unsur yang sama, maka peperangan hanya bisa dilerai oleh sang pencipta (Sanghyang Jagat Karana). Setelah dinasihati tentang kebenaran sejati maka kedua raja itu kembali ke istananya masing-masing.

J:,p isode ke rz~juh. kembali Maharaja Laksmi Kirana (adik Sri Caya Purusa) angkat senjata menyerang Prabu Kanya, karena tidak puas atas kekalahan kakaknya yang sangat sakti itu. Dengan segala senjata pemungkas serta ilmu yang dimilikinya. akhirnya

men~ crang kcra.1a..1n Singhalangghyala Kchadi ran Maharaj a Laks1111 Ki rana disambut dcngan s 1kap tcnang oleh Maharaja Kama Ru pini. Te~jadi lah pcrtcmpuran yang sangat scngit di antara kedua bclah pihak. Masing-masing mclepabkan senjata milik dewata. men~usul ilmu kebatinan. dan alih rupa. Atas berita mantri Prasikusa. datang lagi Sri Caya Purusa mengamuk sejadi-jadinya.

Episode kedelapan (terakhir), munculnya Bhatari Uma di tengah-tengah peperangan. Dalam episode ini, banyak ajaran atau wejangan dari Bhatari Uma kepada Sri Caya Purusa. Di antaranya : tentang hakikat hidup, ma bhineda, pengendalian diri, adanya dunia beserta isinya, dan sebagainya. Berakhir dengan uraian bahwa Maharaja Caya Purusa menjadi seorang pertapa di kerajaannya. Sedangkan kerajaannya diperintah oleh Patih Pradwangsa yang tak henti-hentinya meraih.kesempurnaan untuk ketentraman dunia.

1.3 Maso/ah Bertolak dari gambaran Jatar belakang di atas sebagai arah pembicaraan, maka dapatlah dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
I) Nilai-nilai apakah yang tercerrnin dalam naskah Singhalangghyala Parwa?
2) Sejauh manakah peran dan fungsi naskah Singhalangghyala Parwa kaitannya dengan konsep keagamaan?
3) Sejauh mana sumbangan dan relevansi nilai dan konsep tersebut terhadap pembinaan mental spritual dalam pembangunan nasional?
1.4 Tujuan Penelitian Secara umum kajian terhadap naskah SLP ini bertujuan untuk memperkenalkan aspek budaya yang terkandung dalam sastra klasik kepada masyarakat luas agar lebih mengenal khazanah budaya Indonesia dan budaya Bali pada khususnya. Bila dikaitkan dengan pembangunan manusia lndonesia seutuhnya kajian ini turut

kcbudayaan itu sendiri sebagai bagian dari kebudayaan nasional.

Untuk menanamkan rasa cinta terhadap karya sastra klasik (daerah)_ sebagai dasar kecintaan terhadap bangsa dan tanah air maka secara khusus kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta mengungkap nilai-nilai sosio-budaya Bali yang tertuang di dalamnya. seperti : nilai religius, konsep rwa bhineda, kelepasan (kesunyataan), kesejajaran konsep Siwa-Buddha, maupun ajaran tentang pengendalian diri. D iharapkan hasil kajian ini dapat melengkapi khazanah kepustakaan sastra klasik serta menggugah peneliti lain untuk mengungkap secara lebih teliti dan mendalam aspek budaya daerah yang tcrtuang dalam naskah SLP ini.

/. 5 Teori dan Metodelogi

Tercapainya tujuan sebuah penelitian senantiasa dilandasi dengan teori, karena teori itu dapat digunakan sebagai dasar dan arah penelitian. Dengan kata lain, teori berg una untuk menuntun, mengarahkan, memecahkan. dan mengkaji masalah yang diteliti. Dengan teori juga dapat memberikan arah perhatian, merangkum pengetahuan, dan meramalkan fakta. Sehubungan dengan itu, maka pengkajian terhadap SLP ini menggunakan teori sosiologi sastra, yakni pendekatan terhadap karya sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatannya (Sapardi Joko Damono, 1978 :2).

Sosiologi sebagai sebuah teori merupakan suatu pendekatan yang menghubungkan karya sastra dengan unsur-unsur integeral yang ada di luamya (Swastika, 1985 :55). TeeU\•> mengatakan bahwa memahami sebuah karya sastra kita harus memahami kode budaya suatu masyarakat di samping kode bahasa dan kode sastranya (198 3: l 5 ). karena pada prinsipnya hanya sastra atau karya seni adalah pencerminan, peniruan realitas, dan bahkan karya seni dapat dipandang sebagai dokumen sosial (1984 :224).

Dalam proses pemahaman sebuah karya sastra. akan sangat dibantu oleh pengetahuan tentang hidup pribadi pcnyaimya. karyanya

ang lain. tradisi sastra dalam masyarakatnya. d1 samping arti s~1aknya yang dapat dilacak brnt kata-katanya (Lcxcmburg dkk. 1984179) Dengan dcmikian. akan dapat memberi informasi mengenai aspek sosial budaya pada suatu masa dan dacrah tcrtentu. seperti yang diinterpretasikan oleh penulisnya. juga tentang realitas atau suatu sistem sosial (Umar Yunus, 1983 : 122)

Pengkajian terhadap karya sastra klasik (Bali) khususnya naskah SLP. tentu diperlukan penguasaan konsep agama yang berkaitan dengan permasalahannya, karena kenyataannya dalam masyarakat Bali tradisional antara sastra dan agama (Hindu) hubungannya sangat erat. Dalam sastralah (hampir keseluruhan naskah lontar) ajaran agama itu dituangkan atau difungsikan. Selain menggunakan teori sosiologi dalam artian pendekatan teks sastra sebagai bahan telaah, dicoba juga menggunakan teori, rasa, sebagai penunjangnya, karena dengan 'rasa · kita dapat menikmati hakikat kandungan isi sebuah karya sastra klasik.

Teknik/metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode analisa dengan tidak mengabaikan metode lain seperti metode komparatif dan deskriptif (Puma, 1987/1988:8), yang didahului dengan studi pustaka dalam artian pencatatan konsep-konsep teori yang relevan dengan bahan kajian. Juga dilakukan penelusuran dan pendeskripsian naskah SLP ( puisi/kakawin, prosa).

Mengingat SLP sebagai bahan kajian ditulis dalam huruf Bali berbahasa Jawa Kuna, serta diselingi dengan sloka Sanskerta sebagai salah satu ciri bentuk palawakya, maka langkah pertama dilakukan alih aksara (transliterasi) dari huruf Bali ke huruf Latin secermat mungkin. Langkah berikutnya dilakukan alih bahasa (terjemahan) ke dalam bahasa Indonesia sehingga semua gagasan., konsep, dan nilai yang ada di dalamnya dapat dipahami.

J. 6 Sistematika Penelitian Penyajian atau penjabaran secara linear atas teori dan metode yang digunakan dalam analisis merupakan sistematika suatu penelitian. Berpijak dari landasan teori dan metodelogi di atas. maka sistematika penelitian dapat dirinci sebaga1 berikut

I. Pendahuluan
1. 1 Latar Bclakang
1.2 lsi Ringkas
1.3 Masai ah
1.4 Tujuan Penelitian
1.5 Teori dan Metodelogi
1. 6 Sistematika Penelitian
Bab 11. Alih Aksara Singhalangghyala Parwa

Bab III. Alih Bahasa Singhalangghyala Parwa Bab IV. Ajaran-Ajaran Dalam Naskah Singhalangghyala Parwa

4. 1 Ajaran Religius
4.2 Ajaran tentang Rwa Bhineda
4.3 Ajaran tentang Kelepasan/Kamoksan
4.4 Ajaran Prinsip-Prinsip Tertinggi Siwa-Buddha
4.5 Ajaran tentang Pengendalian Diri
4.6 Senjata dan Bentuk Alih Rupa
Bab V. Relevansi Ajaran-ajaran Singhalangghyala Parwa

terhadap Pembangunan Nasional Bab VI. Kesimpulan dan Saran

6.1 Kesimpulan
6.2 Saran
Daftar Pustaka

PARWA

[h.lb] Ong Awighnamastu. Ri huwusning samadhi parwwa cinaritta de Bhagawan Ramaloka, karengo de Maharaja Utsawati kretta ikang bhuwana, aneka pwa warsa tiba, akingking ta Maharaja Utsawati, alawas ta sira tan ngrengo dharma parwwa caritta, mijil ta sira ring manguntur, tinangkil de Sang Apatih Sudharma, mwang balanira, lumocitta rikang jagat raksan.

katacit, hana sira pandhita sangkeng Sanghyang Girisa ahyun matangsya-tangsya, sisya Bhagawan Ramaloka, ta sira, sampun kretta samaya, ring kadibyan caksun Bhagawan Suta ngaran ira, sira ta dhatang masanti ri harep Sri Utsawati, ri sampun nira mangkana, kinon ta sira malungguh, malungguh ta sira, mojar Maharaja Utsawati. "Bhagya ta sang pandhita, ndi ta sangkan syapa ajria sang mapa prayojriana 0 "Sajna haji pataria parameswara ri sangkan paranira, sangkeng Sanghyang Girisa ra wiku haji, Mpu Tapa Suta nama bhujangga haji, yan hana san masalba sri haji, mahyun pwa karyya narima para bhujangga haji." "Sajria sang pandhita, tan sangsaya sang yati\'ara, irika, lawan ta muwah akingking ranak sang yatiwara, ndan ri bhawa sang bhiksuka, alawas mangke tan mangrengo dharmma carita. matani [h.2a) kacarirta, pita Sri Caya Purusa." "Sajria haj i Sri Maharaja Utsawati. hana kacaritta pita · haji kalilapan. dening rama haji. namastu sa [ ...] bapa Bhagawan Suta pacarittan nata pinangkanghulun. sangkayana lawas tan pangrengo mangke ring kojaran " "Sajria haji tan sangsaya parameswara. bhujangga haji

palu\akya_ sabda tan sloka _ tan sruti _ de \iku haJi cumarittakna pita haji _ paha" asen de ha_i i mangrengo."

"Ri sdhcng Maharaja Caya Purusa prabhu \iscsa _ kadhat\rnn nira ring S\ eta Nadhipura krctta ikang bhu\Yana de nira_ aditya ma kahidhepa nikang bhu\Yana, makanimitta sampun mangadeg prabhu _ Sang Arya Laksmi Kirana, bhiseka nira Maharaja Laksmi Kirana, ya ta matangyan naga ma salengka hidhepa nikang rajya, padha ta sira ring kaprajrian. pada ring kasaktian, padha ring kapurusan_ padha ring kayogiswaran_ ndan Maharaja Caya Purusa. cinarita kasteswaryya nira_ sampun tlas ikang sarwwa yajna de nira. mwang ikang sarwwa dharma, nguniweh ikang sarwwa samaya, samwa yajna, nga, luwimya bhojana yajna, patra yajna, kanaka ratna yajna, kanya yajna, lyan angke rika, brata yajna, gama yajna, yoga yajna, samadhi yajna, samyana yajna, hana tatiga dharma tapa, nga, lwih [h.2b] mewah, luwirya: dharmma sastra, dharmma teja, dharmma sunya, api tuwi, ika sampun kabeh kakawasa, de Maharaja Caya Purusa, akweh ulih nira magawe parw\lva caritta, mwang sloka tatwa, wruh ta sira kagawayaning dharma sadhana, pamya paranira ring bala, kunang dharmma sunya, bahu sisya ta sira, tan hana ikang para haji ·, tan panadha hana upadesa ring sira, gnep tan hana kurang nira, kaprabhun wisesa nira, luwirya : prajna, prawira, sakti, kawi, bhisa(ng) aji, mahapurusa yogiswara, anung hetu nira mangkana, tlas kabratan sang catur pandhita katama de nira, rantas ikang catur samaya, yata matangyan kretta ikang bhuwana, makanimita dening tahun sadarppa dadi, wredi kang sarwwa dadi, wredi kang sarwa phala, sanvwa tinumbas samurah, nguniweh ikang sarwwa hara, maranawyadhi maling aweh tan hana saluwiring patipati tan hana anghing mati gugah ikang wang ring samangkana, matangyan trepti pangastawanikang jagat kabeh ri sira ta prabhu nirmala, nga, an mangkana sang astutining jagat kabeh, ri Maharaja Caya Purusa.

Nda tucapa ta sira ring manguntur, mwang Maharaja Laksmi Kirana l ...] sangka kala, dumunung rikang maha ri kanaka sira kalih, anitihi ratna patarana, sumare ta sira ring suraga kanaka, tinangkil [h.3aj dening ksatria caya kula waryya. mwang patih ira makabehan. ikang wadwa padha umareking sira _ sakatwan marek sang apatih PradvYangsa. ujar Maharaj a. " [ m a kami ri kita. mapa denta

sarjjawakcn ri kami sambck nikang wa1m a grama para. yan paramartha_ yan ka\adi ...

"Sajfia haji, scmbahning Pradwangsa_ ri jong para meswara, tan sangsaya sri haji, tan hana kawadi parameswara dening loka, kang kawasa de patik haji amitkeki, bala parameswara ri tan pagawannya mapaleh ri samya bramapara, panutanya ring ulah yukti, lawan ta muwah. winch pilobha. ikang banwa de patik haji, ri denya tan blah wav .. 'aren, ikang caritta dhana rajyan, Lpihan de patik haji arnkas ring asuruhan, Liphan, nga. wong duman maring banwa, saduman katuri Dalem. kunang nimitta patik haji mangdani mangkana, patik haji nitya manganaken suta mareng banwa, makuren tang banwa mwang gangan, lawan ta parameswara nitya sama cangkrama ring dura desa, manghaturaken ta samya anadhi bhojana, ika ta sadhana patik haji maweh, pilobha ring banwa, atuduh mne blah wawa rikang carik, katadha harajyan, sangksepanya, tan hana kawadi parameswara ring jagat, de patik haji mangraksa bhumi sri haji.

"Ika mari-[h.3b) ka Kaki Patih-Pradwangsa, haywa tan prayatna kita, magawya kastutyan mami, apan mangkana rehnya, syapa iki prabhu wisesa, bheda sangke sang apatih, saprakara sang mapatih, kunang wiku nagara sang mapatih, mantri sang mapatih, tandha sang mapatih. gusti sang mapatih bhratya sang mapatih, sampun sang mapatih. grama sang mapatih, para sang mapatih, mapa yang mangkana, kalinganya, yan enak denta kumawruhaken, ring saguna- saguna. Kunang hana mami dinulang mangap, inujaraken prabhuwisesa ring bhuh loka, tan hana hetu mami mangkana, bheda saking upaya kawirajnanta." "Sajfia sri haji, tan sangsaya parameswara, sanggahen karika patik haji, apatih yan tandruh kalinganing apatih, matangyan patik haji, matiha ring jagat ring kasadhun. ring kaparamarttan, ring kaparajfian, patik haji pwa tan kataman saluwirning upasargga, upasarga, nga, hyun. sangksepanya Kaki Pradwangsa, apageh, nga. kramaning(ng) apatih, muwah de sang wiku negara, sira sang Sewa-Boddha. brahmana, mwang sang wiku putih. haywa tan makawen -kawen, den pada tan aw1unira, yan kidung. yan lambang. yan ( )way nira. maka prasaddha susuk sima apagch mamcngpeng prabhu \ isesa. haywa ta pinasa v ... ·alaken. niran

sanghyang hinisti_ maka kant~ a kamoksan_ ndan mapadudwan margga nira_ drcstanta.

Sanghyang Lingga Manik munggwing sandhi _ phas\adwara, sang siku putih yangken sakav ... etan_ wruh ring bilapning lingga. sang se\va sakakidul, wruh bilapning lingga kidul. sang brahmana sakakulwan, wruh bilapning lingga kulwan. sang Bhuddha saking for, wruh bilapning lingga lor, kunang kami Kaki Patih Pradwangsa. wruh sadresya sanghyang Lingga, makanimita kapat, pinaka guru mami sira, sangksepanya, kapat sira haywa cinodya, yan hana \Vtunira, sing sandhang-sandhangen gawaynira, kalinganing wuwus mamikon wtwaning dharmma sastra candhi pustaka, ri pangadeg mami prabhu, sakala mangke, sagpdap."

Katacit, dhatang Bhagawan Pascati sangkeng taya, tumuluy sinambhrama mata sira, de Maharaja Caya Purusa. Ling nira, "Ndah bagyan dateng sang pandhita, alawas tan anglawadya ri kami, akingking pinakanghulun". 11 Sajna haji, manglawad nghulun, kadirghayusan parameswara bhujangga haji. 11 11 Sajna sang pandhita, matafia minakanghulun, ri sang yatiwara, apa pangrengo sang pandhita, dening pinakenghulun, mangraksa jagat, codya karika, astawa kunang, ika ta sarjjawakna ri pinakanghulun." "Sajna haji, tan ha-[h.4b] na cala parameswara mangraksa jagat, parimpenikang jagat de haji, tan hana sabda kawadi dening manwa gramawara, apan parameswara wruh ngiringing gita paksa sang para, tunggal kahidhepanikang wwang ri bhumi parameswara, maka hetu mahatmani sang apatih Pradwangsa, tinut silanya, satyanya, sadhunya, mwang paramarthanya, matangyan satya kabeh ikang jagat tri haji, reh Sang Apatih Pradwangsa, pinaka pratisara, tana paraga ring wanwa. 11

"Sajna sang pandhita, patana ninghulun ri sang yatiwara, hana nguni-nguni, prabhu wisesa, dharmma parayana, tan hana kawadi ring sira, kadi nghulun, warahenta pinakanghulun sri haji, nghing tan-purusa. stri ika. 11 11 S~jna sang pandhita. hana karika bhumi lyana sake bhumi ni-nghulun, ingendi ta sanan~· a. syapa ngaranya sang prabhu ngkana_ warahen pinakenghulun ...

"Sajna haji, tan sangsaya parameswara, pahawas de haji

mangrengo. Inguni pareng hananya lawan bhumi Lungidning

jh.5al ri sdhcngnya tan kinant\anakcn. 111\ang tan

cinaritta. kunang aran ikang bhumi ring Singhalangghyala. kapamnah kidul sabhana sakeng bhumi parameswara. hlet sagara ma ika yan hana pahenya lawan bhumi Lungidning Langghyala, gongnya padha. gunungnya padha, kwehnya padha, saprakaranya padha, nadhinya, desanya. kadhatwanya, sama ring halepnya, kunang bheddanya, stri kabeh kang mwang ring ngkana, kunang nama bhiseka sang prabhu wisesa ring Singhalangghyala, Maharaja Kama Rupini, Raja Datu. Bhatari Uma sira, mamalih jnana, mandadi Prabhu Kanya, makadatwan ring Sunyalayapura, patih rwa kanya, nga, Sang Apatih Rajapati, palihpalihan Bhatari Saraswati, Sang Apatih Narayana, palihpalihan Bhatari Sri ta sira, Boddha paksa Maharaja Kama Rupini, ndan huwus siddha saguru, Sang Datu Sawitri ngaran ira."

"Sajna sang pandhita, patana nghulun, punapa nimittanya wreddhi, ikang wwang ring Singhalangghyala, apan tan hana jalunya ·w,vang ri ngkana." "Sajna haji, alaki angin mwang ri ngkana, marnbayuhara pitung wulan, manak stri, tan hana mtu lanang, apan parnastu Bhatara Parameswari, sawaneh tana harep maputra, tan malaki, yatika mabasehan macawet, hana maporong majjojompong, yata matangyan pisan pitung \Ulan, ikang wadwa walawadi, [h.5b) diniman bhusana pinggel karah kalung, mwang cawet, catur angga lantang-lantang, matangyan Maharaja Karna Rupini prabhu wisesa, patihnya sakti, balanya makweh, matangyan kabyapaka ika para haji kanya ika kabeh." Ling sang prabhu, "Sajila sang pandhita, apa iki de bhatara magawe bhuwana, rwa kahidhepaning aditya, lav>'an ta muwah Kaki Patih Pradwangsa, hana nguni inujaraken tang bumi Singhalangghyala, rikapan ta mujaraken, hana sojar ira Bhagawab Siwasbuddha, duk mangkat mami ring Tega! Sarnaya kaping rwa."

"Sajna haji, lupa iking Pradwangsa, hana nguni ling ira Bhagawan Siwabuddha." Ling ira, "Ri huwus Bhatara Parameswara. magawe bhumi Lu ngidning Singhalangghyala, magawe ta rakwa Bhatari Parameswari. bhumi Singhalangghyala. oh sangksepanya, Kaki Pradwangsa. hana sih aranya, ta walyani sabda nguni de sang pandhita. rwa kahidhepning aditya, hidhep inghulun Prabhu Caya Purusa juga. adityaning bhuwana." Ling sang pandhita. "Sajna haji. ta hay a. prasiddha kari kang bhm,ana sengguhen bhuwana. yan hana aditya tan

wulan. sangksepanya. aditya parames\ara. \Ulan Sang Prabhu Kanya. \Ulan parameswara. aditya Sang Prabhu Kanya."

"Sajna sang pandhita. tan hana ~uktinya mangkana. suker hati ninghulun, tan hana mangkana kramaning prabhu wisesa, (h.6al kadi kabwataning pangamban manik santiganing dara gongnya. pangidhep inghulun, anmangkana ta rakwa de sang prabhu wisesa. sumangga ikang pretiwi mandhala, hana musuh tapwan kaparajjaya, yatika aymosi nan1a hita, ri kailanganya. linocita ring angen-angen, ininget-ininget, ikang sadwi winanaya mwang sadguna, lawan nikang sapta upaya, huwus pwa kna ring upaya, yatika yinoga, lga hati sang prabhu wisesa yan mangkana." Ling sang pandhita, "Sajna haji, apa ta karepsri hajill. Sajna sang pandhita, pinakang hulun ndonanya Sang Prabhu Kanya, kawisesa ta bhumi Singhalangghyala de ninghulun."

" Sajna haji, haywa mangkana, tan sanggahen wikalpa ra wiku haji, tan alah ikang bhumi Singhalangghyala de haji, haywa ta sri haji parikdo, dyastun ikang nawa dewata tumka hana (ng) Singhalangghyala tan alah prabhunya, maka nimitta huwus kretta bhiseka, samapta samaya Sang Buddha paksa, asnengdya bedya Sang Prabhu Kanya, haywa tan prayatna parameswara yan dumon ring Sanghalangghyala." Rep muksa Bhagawan Pascati.

Ujar Maharaja Caya Purusa, ling nira, "E Kaki Patih Pradwangsa, ri de ya mami dumona ring Singhalangghyala. panghanaken duta ring banwa, sakarep ring sagara kidul, mwang ruhuna kna carik katadhana raj yan, mijila (h.6b) sayoga sanguha." "Sajna haji, ta akari kapara mpuha mwang amalaywa sakwehing palwa ... "Taha ta kaki hana kadanuwwedan mami, mne margganing bala, lah padhadan sahjata ta kita, dak kamuja kami." Les manjinging pura Maharaja Caya Purusa, mwang Maharaja Laksmi Kirana, amuja ta sira, kunang Sang Apatih Pradwangsa, masnaddha bala wahana, teher manganaken duta, Sangaryya Kostuba inutusnya, nitya paganti ring rahina wngi. kamna nira mangkana. mamwit ring Dyah Niscayapati, mwang ri Sang Arryya Laksmi Kirana, winkas-wkasira kari ring rajya, ri wkasan mijil ta sira, sinangkapanya ta sira. dening resi Siwa-Boddha. mwang sang brahrnana. purohitan nira. was mangkana madum dhana ta sira, lume ring Bali ta tri bala. Ujar ta sira, "Kaki patih huwus de niradan sanjata."

"S ~j na haJi. sampun danda huwus." Mangkat ta sira. sumengka ring ratha. maka sarathi Sang Sutapa, iniring dening kuda Jayasatru. sweta roma. inapiting sangka. mahya sakwehing bala, mukaya sang mapatih. mwang mantri nira \vidyadhara tigang siki, patih sapuluh kwehnya ngiring, ala mata sira ring margga, tka ri Tirah kadatwaning Sunyalaya. ngaran sang prabhu ngkana. Maharaja Tiksnawa. maparep pinggiring sagara, kadatwan nira, sinamkrama ta Sri Caya Purusa de sang prabhu. ri wkasan dinumaken (h. 7a) ikang wwas. anuli mangkat ta sira ri pinggiring sagara, saksana datang sira. mojar ta Sri Caya Purusa. ling nira, '·E Kaki Pradwangsa, hana sayaka mami, mahasakti Sanghyang Sadhana Trisara, ngaran, wnang umijilakna margga, \vv.at wsi mapageh. awananing bala ninghulun, dak hayatnya mangke."

Nyenghyat pat. cor. sataficebning sayaka ring samudra, tka tan pasangkan tikang wwat wsi, satus yojana panjangnya, tan ucapan loning ujarnya, dudug ring Singhalangghyala, lumaris lakuning balan Sri Caya Purusa, iniring sira dening bala mantri nira, saha tunggangan, mwang syandana kabeh, bhawisyati tka ring pinggiring samudra, ri wkasan padhadan sanjata ikang wadwa kanya, madum dana Maharaja Kama Rupini, dmak pupurnaman, dadar cawet pangafiar-afiar. mwang bhusana singhel karah kalung, sang wira walawadi. catur angga waju, ikang wasunggahan parinama, pamgetan lineraken, winahen suka tang bala, manginum masraman, masrep rang wadwa Bingkak. ther (h. 7b) makikat.

Bhawi syati mangkat Maharaja Kama Rupini, ingiring dening patih ira kalih, rumuhun dhwija nira, nilambdra natarnya, matngeran surat nila sara jatu muwah ring sila item, ika ta infringing dhwaja kabeh, tan adoh sang apatih kalih ri Sang Prabhu Kanya, anatyanta kweh ni kang wadwa stri, padha mabhumicara tan hana wahana, tan masuwaying (ng)awan. kahaliv.atan ika stala janggala nadhiranya nagara. nityasa paganti nikang dina ratri, ta danantara. dateng samipaning pinggiring sagara. apantaran laku sadina, saking stana Maharaja Caya Purusa. sangke stana sang prabhu Kanya. makuwu- kuwu ikang bala walawadi. Rep tucapa ta Maharaja Caya Purusa. mangalocittamaha ring Sang Apatih Pradwangsa. huwus manganaken duta. mangjejep. tandwa datang duta. matur Sang Apatih Pradwangsa.

haji. mapa dcya paramCS\ara mangkc. hm\US datcng ikang \ad\a Kanya. amagut paramcs\·ara. sampun patik haji manganakcn duta mangjejcp. makwch tikang musuh. lining duta. antyanta kwehnikang wad,,a lawadi. maka pratisara sang apatih kalih. mukya · Maharaja Kama Rupini. ri hidhep patik haji, haywa tan titi parameswara. antyanta sambawa nikang musuh, yawat stri kojaranya, prabhu wisesa ring jagat matangyan haywa tan titi parameswara lh.8a), hayo tan inamer ikang kasaktin, haneng sarira parames\'ara, elinga sri haji. drestanta patik haji nguni duk prang ri Tgal Samaya, ri kala parameswara hyun ma-[], satru karo payaka, patik haji tan pasung mangge gwani ri wdhihan parameswara, ling patik haji, mandega parameswara, haywa tan niti inamer ikang sarira, tan panglarani durgga mawistining musuh, apan drestnta, tatha kramaning sarira, nga, tan \nang tan ameren salakuning keweh, sarira yahgkenang rat ha.

Ratha luwimya, maka pasangan ikang suka duhka, angken kuda ikang kadharmman, maka sawet ikang buddhi, maka sambilan ikang raga dwesa, maka bubukung tryantah karana, maka batekan ikang hidhep, maka inden ikang tresna, maka apus-apus ikang bayu, maka wawakul ikang ambek dana, maka lingga tikang citta marddhawa, maka bubat ikang anumana gama, maka salu ikang silayukti, jinalin denikang hnang-hning, maka tilam ikang jt'iana nirmala, maka jejneng ikang kasatyan, maka ulap-ulap pratyaksan upama, syapa tika manunggangi ratha, ngkwan linga parameswara, Sanghyang Wisesa, maka jong ikang acintya padha, maka sarathi Sanghyang Atma, maka palupalu ikang sabda nirmala, maka pipinten ikang tutur, matangyan lumaku ikatang karmma dening manah (h.8b] tu mu lung tang indria silihiring.

Yangken cakraning natha mider, lumaku pwa ri keweh nikang ratha, kadyangganing jurang lwah watu paras linakwan, yan prajt'ian wira sura laghawa sang masarathi, abcik lakuning ratha, yan tan parjnan wira sura laghawa, sang masarathi. niyata syuh ilang kang ratha, tan papipilan, mangkana tang sarira, yan tan prajnan wira sura laghawa Sanghyang Atma. hana alaning sarira, sarwwa jriana. bhyuh dhoraka pwa Sanghyang Atma. abcik lakuning sarira, sangksepanya eling paramesv.;ara, nistanyan stri ikang musuh, ares patik haji, maka nimitta tan angenangen nikang sadguna. 111\vang saptapaya. kunang de

~a paramcs \ara. ikang kasaktin halapcn. dening ga\ ay apamitran. ikang Samahita halapen. ikang saptapaya nimitta pesaning musuh. linagan."

"E Kaki Patih Pradwangsa. tan pangenakna upaya mami, apaning upaya. nga, kaciryyaning loka. yan maka parihara matakuta ring prang \irodha. nga." "Sajna haji, haywa mangkana paduka raja. apa karira ri sang wira. nga, wyaktinya tan hana upaya. ther manapuha juga taha, nimittanya panempuh, hana surana, syapa niring lawan mwang rowang, sangksepanya hatur pun Patih Pradwangsa, mangke parameswara, manganakna duta ring Sang Prabhu Kanya, mangduakna sandhyasa [h.9a) tumbuk panangtang, ika tan umana, pratyaksa parameswara prabhu wisesa, wnanga parajaya ring santyasa, katona sangguping mus uh, yan akas yata parajayanen, yan mapes upasaman." "E Kaki Patih Pradwangsa, syapa tiki patih yogya maka duta?" "Sajna haji, tan lyan sun Patih Suryyanasa yogya maka duta, tulya patik bra ika." " Dhuh yogya ling ta, kami mangke anurot layang saliblab." "Sajna haji, tasrek, waca denta ki patih, sajna haji, patik haji amamaca Sanghyang Sandya saha jnana sri haji, linganya.

Bhaskarah cayah drestanti. laksmi kiranam candramah.

bhawanah saptam swarggascah. cayah laksmi pratyam wi bhuh. Arttanta. drestanya. aditya Maharaja Caya Purusa. wzdan Maharaja Laksmi Kirana. ika ta kalih eira maka slehing bhuwana mwang sapta awargga.- hana ta karengo adit.ya wulan waneh. ya ika kaprajaya dening hulun. iwruha Maharaja ring Singhalangghyala. anuwala surat. yan anungkula. yan man glagaha de namasti pisan. ithi ajila sand. yasa haji. Sri Caya Purusa.

"S aj na haji, ta akari turungakna ri langkah, ah taha kaki, ikang surat iku anglapasaken." Mangkanaling Sri Caya Purusa, bhinusanan Sanghyang Sandyasa. inulesan lungsir kunir, munggwing karas sinuhun dening akathik. kam- [h.9b I nanya mangkana, anembah Sang Apatih Sur-yanasa. ri sampunya winkas, ta danantara mangkat. pinayungan jong kuning, Sanghyang Sandyasa pinarapiting sangka kala, ingiringing wadwa satus. saha sanijata. tar masuway ing awan, dhatang ri kmrn Sang Prabhu Kanya. prayatna ikang wadwa Waladri. wruh sang apatih kalih. ' an duta sadhu. matangyan tka ring Maharaja Kama Rupini,

Suryyanasa_ ikang Sandyasa sumungakna ring Sang Prabhu Kanya_ ingalangan de Sang Apatih Rajapati_ Sanghyang Sandyasa_ \inaca de Sang Apatih Narayana_ yeki mangke bhawanya.

Bhaskarah caya dresanti. laksi kirana candramah. hhm·vanah sapta swarggascah. cayah laksmi pratyam wibhuh. Atlanta drestanta sdityam Maharaja Caya Purusa. Maharaja Laksmi Kirana. ya angken wu/an. sira sumuluhi sapta bhuwana. mwang swargga. hana karengwa aditya wzdan waneh. yatika pinarajayan. i • .. vruha Maharaja Kama Rupini. anuwale surat. Yan anungkula. yan anglawana. ithi sandyasa. a/ila Sri Maharaja Caya Purusa.

Mangkana de Sang Apatih Narayana maca Sanghyang Sandyasa, manambah Sang Apatih Suryyanasa, ring Sang Prabhu Kanya, umnera ri ujar Sang Apatih Rajapati, ling sang mapatih, "Syapa nama ta duta lwir putra, ke[h.lOa] sa dwaja bhusananing ksatria." "Sajfia rakyan Patih Rajapati, nghulun anaking Pradwangsa, Patih Suryyanasa nama ninghulun." "E rakyana Patih Suryyanasa, maluy rakyan matura ring Sri Raja Caya Purusa, yan tan anungkul ikang wadwa Kanya, pinihinur pjaha ikang wang ring Singhalangghyala. sapadya ilanga ikang kaksatrian, lawan i wruha rakyan, nghulun pinaka pratisara paduka sri maharaja ingke." An mangkana wuwusang Patih Rajapati, ther sumungaken Sanghyang Sandyasa, ri Sang Apatih Suryyanasa, katulak sanyasa, matangyan mundur Sang Apatih Sur-yyanasa, tan warneng awan, tka ring kuwu-kuwu Maharaja Caya Purusa, mawarah yan manglawan ikang wadwa Kanya, wus mawarah ling Sang Patih Pradwangsa, makanadana safijata, ikang bala deni sang apatih, wus madan safijata, pinarajaya tikang wadwa Kanya, ndan apagut tikang wadwa Purusa, lawan wadwa Bingkak, ri Tgal Samaya Wedya, nga, marangkit ikang prang silih surung, kakrepuk awor mawantun tuminghal ta Bhagawan Pascati ri ramyanikang prang, kunang Maharaja Caya Purusa, tuminghal wadwanira, Sang Apatih Suryyanasa_ apagut Ian Sang Mapatih Rajapati, Patih Cittaratna_ matampuh lawan Patih Narayana, [h. lOb) mangadu lagawani silih sambut warayang, mwang angadu siddhyastran_ tan hana kapariha nikang laga kalih, tan dwangsa Maharaja Caya Purusa, tanyasara, inampaking bala_ pinarapiting sangka kala _ lingira_ "Ah ah mandeg

\ad\a Purusa-" Mangkana lingira. sakcng prakasa S\aranira. karengo dcning bala. m\ah Maharaja Kama Rupini. mangso tanya sanjata. inampaking bala, inapiting paprangnya. tandwa sapih tikang prangning bala kabeh. ri \·kasan padha kaparek apagpag. padha mabhumicara, tan pawahana, apantara Iimang yusa, dohnya, kahanan sang prabhu kalih. marep parepan. ling Sang Prabhu Kanya.

"I h bhagya ta prabhwing Jawa, dhatang ring Singhalangghyala, apa ta prayojana haji, yan dumoneng hulun-" 11 E sang prabhu Kanya, nimittaning hulun dhatang ri haji, matanya nghulun ri rahadyan sanghulun, tunggal rika aditya, dina kala, hari-" "Sajna haji Sri Caya Purusa, kasinggihan haji, i wruha Sang Prabhu Kanya, drestanta ninghulun, adityaning bhuwanandha, karengo pwa rahadyan sanghulun, an kadi aditya ring bhumi Singhalangghyala, ika tan hana yuktinya, aditya rwa, nga. 11 11 E Maharaja Caya Purusa, ta ampih, aditya kalih, sang prabhu ring bhumi Lungidning Langghyala, nghulun pinaka aditya ring bhumi Singha-(h.lla) langghyala. 11 "ah taha, tatan hana yuktinya mangkana apan bhuwana tunggal, akasa pradesa, inunggwaning (ng)aditya tunggal, sangksepanya tan rwa ikang wisesa. nga. 11 "Apan duk mangeka desa. Sri Caya Purusa, wisesa ring bhumi ngkana, Kama Rupini wisesa ring bhumi ingke." 11 E Sang Prabhu Kanya, yadyastu satus, kwehing wisesa, mangeka desa, panghidhyakna karika, hana wisesa waneh, dening wisesa wyakti ri ngke." "Apa ta karep Sri Caya Purusa, amjahana nghulun, maka nimitta hyun haji byakta kabyapaka ikang bhumi Singhalangghyala de haj i, tatan sangsaya Sri Caya Purusa. atangkep m\vah tikang prang-" "E sang prabhu Kanya, taha, ndi ndonanya, tanpjaha kabeh bala ninghulun de haji, mangkana ikang wadwa Kanya, ndi ndonanya tan pjaha kabeh, yan Sang Prabhu Kanya kalaha de ninghulun, sangksepanya tkeng don, sang prabhu Ian inghulun, mangadu apara krama, ikang bala kabeh padha mnenga. mapaga. tumon tan paprang ninghulun lawan rahadyan." "E Sri Caya Purusa, ta angkat maprang mu\ ah. reh ninghulun Buddha paksa. tan pamati-mati sarwa prani, nguniweh ikang wwang." "E Sang Prabhu Kanya tan mangkana. reh sang prabhu wisesa. nga, tan parihneng sira yan hana musuh, tapwan paraja [h.llb) yanen. kunang ikang kapandhitan. haneng sang prabhu.

tm\uh pranna nira. sadhananing mangraksa sila.

lawan rantasaning rwa paksa. maka nimitana \ang kapratyakaning 11 pati. kalinganya la\ana pinaka ngulun prang.

Ujar Sang Prabhu Kanya. 11 E Sri Caya Purusa. manglawana nghulun. tan sangkeng mjahana ri haji. mwang tan sangkeng hulun awdhi ring pati, kunang ta nimittaning hulun. tan alaha de sri haji, jagat prajahitta nghulun, rat kasih ninghulun, niyata simna ikang \Wang ring Singhalangghyala, byakta tinawankarang dening wadv .. a Purusa, yan alah nghulun de haji, apa ta karep Sri Caya Purusa, padhana puka asaftjata kunang. 11 11 E sang prabhu Kanya masikepa gandhewa rahadyan sanghulun, i nghulun tan pasafijata, paribhawaning 11 sarwwa astra, mwang kasidyastran.

Mojar Sang Prabhu Kanya, lingira, "E Sri Caya Purusa, ta ampih, sungsang, nga, sri haji masikep alaras warayang, i nghulun ndatan pasanjata, paribhawa nghulun tan pamikara pwa rnne saktining haji ri nghulun, i nghulun tan pamasa ring sarwwa astra, cacangkriman rnnepamalesku, ring rahadyan sanghulun, yawat tan hana kacepetan, de rahadyan sanghulun alah aranya sri haji, kunang sri [h.12a) haji anglapasana sarwwa astra ri nghulun, niyata tan pangne ika apan sri haji mahatma, ndana de pwa apan rnne ya nin'Vikara minakanghulun, pinaribhawa de haji, sakti rahadyan sanghulun, nga, pinakanghulun mangkana paribhawanan, rnne ya tan kaparibhawanen, cacangkriman i nghulun, pjaha iki, Prabhu Caya Purusa, ndi kapana pjaha, apan kbwatan i nghulun tan pamati-mati, mwang dharana kasih urip i nghulun, matya tan pahawan Iara, yang hana mne cacang-kriman rahadyan sanghulun, tan kacepetan, oh haywa mang-kana, yangken pinakanghulun ika amjahi yan mangkana, simna brata ninghulun, sangksepanya, anungkula Sri Caya Purusa ri nghulun, kabyapaka ikang bhumi Lungidning Langghyala." 11 E Sang Prabhu Kanya, tan hana Caya Purusa sor wiryyanya dening musuh. nga, nguniweh pranatha ring satru. alah pwa pinaka nghulun yan pjah kasih nghulun." "Lewih rahadyan sanghulun. nga. Yan mangkana Sri Caya Purusa, apageh ngaraning kaksatriyan ane sri haji. lah twiyang alaraswayang, mangkana ling Sang Prabhu Kanya. Ya ta masikep gandhewa Maharaja Caya Purusa. ikang

\ara~ang tiksna lungid. kinikakcn ri tambangaing laras. hru sakti kisini di-(h. I 2b( karatma hana k\ch. ri kala Maharaja Caya Purusa. amcnthang gandhe\a. umneng Maharaja Rup1111. sumikep ri kab\rnt ta nira Buddha niskraya. masalin ta sira rupa. rep mari prabhu, lengisning sirah, andirgha kesa, ndan ingilangaken kasusastran, Boddha kabha\'at kabeh, matangyan tanpa muter tutur, tanpa yoga, tanpa samadhi. mari molah, mari umneng. tanpa ciwara. tanpa sariggasri. tanpa yogasta, tanpa paragi, tanpa kesari, tanpa katiwanclha, tan katrapan sarw\va p\akara, anghing lengisning sirah, j uga bhusananira, Buddha luput sangguhen bhatari, ta Kama Rupini, tan Uma Dewi, tan Parameswari, apan tan makutha, tan antri nayana, tan acatur bhuja, Sang dhatu Dasana Tri Buddha sajna nira, nila wamna. mangadeg matapakan sweta padrna, prabhu hyanggadha walamaya, ri kala nira mangkana, rep tka tan pasangkan Sanghyang Aditya Wulan sinangga ring bamakara kanan kari, linpasan ta warayang, de Maharaja Caya Purusa, nong atkeng. singiksar. bawa. kricik. 5. dosar. e maulakan, ikang warayang sangkeng bamakara Maharaja Caya Purusa. antyatikang sangke tan hana, makricikan tumiba ring sithi tala, luput Sang Dhatu dening warayang, nguniweh bala (h.13 a] nira. wruh pwa Maharaja Caya Purusa, tan sangne nifisara samparta. sinambut ikang sayaka, sangkeng tangkulaknya, Sanghyang Panca Gretta Koccarana, Ong swakaryya siddhi. Baywanta yetta swahinah. amarajaya isanavesca. gong car. pradhat, luput sang Buddha, dening Sanghyang Panca Gretta, sinambut Sanghyang Tri Widyastra, sahoncarana. Ong amas sarjnayat. umjah satrzt nitya mantakambml"at. kongsar. /aras. luput Sang Datu de Sanghyang Tri Widyastra, sinambut Sanghyang Cakra Ratna Kamala, de Sri Caya Purusa, Ong kamala awayam guwah. kengsar. luput Sang datu, de Sanghyang Ratna Kumala, sinambut Sanghyang Bajra Wirupa, Ong Bajra ;nana swayet. kengsar. luput Sang Datu dening Sanghyang Bajra Wirupa. sanyasa ta sira, manglepasakna Sanghyang Sphatika Sunyamaha, matmahan awarayang pun Pradwangsa Tri Swaha. tininghalan ikang tangkulak tatan hana ikang sayaka. apan i nguni duk-duk mangilangaken Maharaja Trayo Dasa Windu. mwang Maharaja Balinatha. kari pwekang sayaka

linpasaknira. lwimya ri tambayan. bhragu sayaka. guntur linet madulur \Yatu, mwang paras. kadi sininggaken piyak ri harep Sang Datu. ikang guntur, sinambut agni sayaka, (h.13bl tka muksa ing harep Sang Buddha Natha, aya parn'\vata linpasakna nira, ndan kaping tri ikang giri \'Si, tan kapurug Sang Buddha Natha, huta ala pracandha inarad de Maharaja Caya Purusa, ika mangadeg Sang Datu, pinrayoga ikang prethiwi, mumbul umindhuhur. sakalangan, mari mandhalanya, enak pwa de Sang Datu tan katama cancala sira, antyanta pangawasa Sang Datu Kanya, matangnyan kumdut kumesot, kumlab Bhatari Basundari, tan mumbul mindhuhur sira, wruh pwa Maharaja Caya Purusa, yan tan pangnen ikang kasidyastran, mangkin krodha sira, ikang twas muntab, abang tang wadhana mandhala, makrutan ikang bhrukuti, kumdut paduning ngosta, mangadeg tang kasingha purusan, mapan sira wnang sarwwa rupa pratyasa, pinilih tang hana dewata, ya ta tmahanira, mukyanira Hyang Tri Purusa, Bhatara Swara, api tuwi sira lswarangsa, rep Bhatara lswara tmahan Maharaja Caya Purusa, amakuta tri narayana catur bhujana sira mamandhem, ring bajra sayaka, tan gurnirisin Sang Buddha Natha, luput sira dening bajra sayaka, mangkin krodha Bhatara Swara, ri tan paleni ikang bajra, mayat sira marupa Parameswara, dewa wisesatmaka.

Wruh pwa Sang Datu usana tri Buddha, apan mangka (h.14a) bhipraya Bhatara Swara, mangiringi ta sira, kerangan Maharaja Caya Purusa, maka nimitta huwus jagat prasiddha, inastawa malaka ring loka, tan hana sumrakna sira, ya hetu Sang Datu Kama Rupini, yadyastun Bhatara Parameswara, yaya tan kaparajaya Sang Buddha Kanya Rajya, rep matmahan ta sira Prabhu Kama Rupini muwah, sakatwan mangkana de Bhatara Swara, mari marupa Parameswara, rep matmahan Prabhu Caya Purusa muwah. "Eh Maharaja Caya Purusa, nirwikara pinaka nghulun, pinaribhawa de sri haji, mangke apa karep sri haji."

"Ah taha, tan kna sri haji ring paribhawanan, wasdagna pinakanghulun, manglpasakna sarwv.;a astra, mwang kasidyastran ri haji, yadyastun sapa nibaning hulun, walik cacangkriman malesa(ng) hulun, niyata katpetan de sri haji, apan manarawang kawruh ninghulun kamahatmyan sri haji. yaya tan hana lu mc\i hari haji. dyastun

hanangganya mamadha ri sakti rahadyan sanghulun. mogha mangiring. maka nim itta rahadyan sanghulun hm,us jagat \astu. ndan tuhu ta. gnep prabhu \Yisesa. antyanta ring kaprawiran. \atek angaji. kawi maha purusa. yogis\Yara. bahu sisya ring kadham1masunyan. ya hetu haji (h.14b) mogha kadi maw·ere. mahyun mangruwata dharmma langgeng. bhrastaning bhumi Singhalangghyala. wruh yan tan hana madha s ri haji, ta ampih. ika kahengkaranta. kasih tan hana tumandinga."

"E Sang Prabhu Kanya, !ah paribhawan juga nghulun." "Eh tah sangsaya sri haji," Keknet rep taspyar, saksana matmahan wulakan nirmala Maharaja Kama Rupini, satal gongnya mijil sangkeng Bhatari Prethiwi, yatika mumbul sayusa panjenengnya. Mojar Maharaja Caya Purusa, "E Sang Prabhu Kanya, atyanta kasidyan sanghulun, nyang sastra." ganawat usanah yengesca, !ah ika panepanya. Tas ilang ikang toya ninnala, rep lingga manik sumendhi, mapranala ratna nila, ah sidhi dahat Sang Prabhu Kanya, kunang panepanya, nyang sastra. Wisanancatarawat. Lah ika pafiepanya, ilang Sanghyang Lingga Manik, rep mijil .tikang candhi sarwwa ratna, sumna maya tan sumendh i, pitung dhpa ruhumya, anampuh mangda apur. "Ah, sarwwa pratyaya Sang Prabhu Kanya, kunang panupanya, nyang sastra. wedya ayem twam sambaddhav. .. at. !ah ika panupanya. Tas ilang ikang candhi sarwwa ratna, tan hana ya sumendhi tka paswa pranayama, wruh Maharaja Caya Purusa, yan cacangkriman Sang Prabhu Kanya, tan hana, ya ta cinpanira, [h.l 5a) umneng ta sira, pinarimpen tang sarwwa ajnana ring tutur tan limpad, dinarana Sanghyang Urip, rinunting ikang raga, Sanghyang Pradahana pwa sira drestanta Dewa Guru, mahyun ta aparan-paran. rumuhun tan pariwara, yangken pariwara ikang panca bayu, mwang panca atma, keknet rep, pjah Maharaja Caya Purusa, sinambut de Sang Patih Pradwangsa, alara tikang bala ascaryyan ri kasaktyan Sang Prabhu Kanya, tka pwa tngah tabeh, jog tka sangkeng taya Maharaca Kama Rupini, ujar ta sira,

"oh pjah maharaja lalis de haji, cumpani cacangkriman i nghulun, pinakanghulun iki maga\l\'e pati sri haji. apan minaka pataka ninghulun, inakanya pjah nghulun. Ather dumurana Sanghyang Urip. keknet rep. pjah Maharaja Kama Rupini. sinambut de Sang Apatih-Rajapati. Atari pjah Maharaja Caya Purusa 111\ang Maharaja Kama Rupini. umneng

bhU\rnnandha kabch. lungha sasaran tang na\a dc,rnta sangkcng akasa. mangdadyakcn mideng umncng. ahning ikang nilambara. maddhyahnang Sanghyang Aditya. tan mingser manguhYan, Sanghyang Bayu tan umirir, maripyaknikang glap. genter mari kumter, tan hana Iara pingkilat, mwang ktugning andaru mwang mretya. muksahtang teja, v;angka pakuwung-kuwung, mari kdhaping namunamu, gandhari. mangkana Sanghyang Samudra, mari manga[h.15bJ Jun-alun, tan paryyak, tan patriganca, nguniweh tikang nadhi lwah. kali wulakan, sama umneng tan umuli vvwaynya. mangkana mina. tkaning mrega, paksi, cettan masabda ngarannya, mwang tikang sthawara, tresna, taru lata, krodha adiwreksa, tan hana(ng) swara kisiknya, mangkana tikang bhuwanandha kabeh, lawan sarwwa jagat, an kadi tumut ri kapati maharaja, akara satabeh suwenira, cacangkriman Sang Prabhu Kanya, keknet ingawesanira ta sanghyang Pramana, de Maharaja Caya Purusa, apan atma sitresna, nga, turung sah sangke raganira, mwang ikang bayu sesa apan kari ring sarira, matangyan kawasa de nira mangawasa, ri Sanghyang Pramana, tandwa dhatang Sanghyang Menget ri sthananira, tumut sarining bhuwanandha, manjing ring sarira, matuturing renanya, mwang nawa dewata, catur loka phala, panca resi, padha manjing ring sarira, Maharaja Caya Purusa, padha matuturi sthananira sowang-sowang, padha menget mangulahaken urip, wkasan dateng Sanghyang Kamajaya, munggwing rainira, pinaka pangadeg kalituhaywan, gnep ta sungkuning bhuwana lawan sarira, katkeng dewatanya, madum tang panca bayu, mwang dasa bayu, lawan dasa atma, mapageh di sthana, pinakwan de Bhatara Widhi, matangyan molah mambekan, manggeh makcap, mungkuh kumdhap, Mangli- [h.16aJ lir ta Maharaja Caya Purusa, mwang Maharaja Kama Rupini.

Athari panglilir ira kalih, molah tang bhuwanandha kabeh, lawan sarwwa jagat, padha menget ri kramanya nguni, ujar Maharaja Caya Purusa, "E Sang Prabhu Kanya, apa ta pafiepan i nghulun, cacangkriman rahadyan sanghulun, salah." "Sajna Maharaja Caya Purusa, par'iepa sri haji, heya dudu, dudu heya, nimitta "ninghulun mujara mangkana. hetuning kawi sri haji, mwang jmur jagat, tan hana guru lawan sisya, maka nimita tdhas de haji majupani, karenge ri ngabawera ikang pantek, sangksepanya tan alah de haji cumapani. tan

de haJi. mangke apa ta karcp sri haji ...

"E Sang Prabhu Kanya. ta pranga mwah. i nguni tan yukti prang i nghulun. masanjata lawan tan pasanjata. kunang mangke pada masikepa gandhc\a. saha san.1atanya kawruhana laga\va silih sambut warayang, la\vanikang bala atampuh prangnya. nghing tancebana penjor. i nguni sang sini. hana karasa pambalang dohnya sangke ru'' ining payudan, yawat kaliwatan ikang tajer dening palayunya. alah aranika." "Yan mangkana, Maharaja Caya Purusa, haywa sarag ikang prang, pinangkanghulun maha kasukan sakareng. maduma bhusana. singhel karah kalung, catur angga waju, (h.16b) mwang cawet." An mangkana ling Sang Prabhu Kanya, ather mundur Sri Caya Purusa saha bala, mwang Maharaja Kama Rupini saha balanira, padha madum bhusana ring balanira, sampun tinajer penjor, munggwing payudhan. majajar tan kinawruhan kwehnya, mapan lwanikang Tgal Samaya Wedya, nga, ika wkasan marangkit ikang prang, ramya mawattus- wantusan, tumandang Maharaja Kama Rupini, tinimbangan de Sang Apatih Rajapati, mwang Sang Apatih Narayana. tumandang Maharaja Caya Purusa, tinimbangan de Sang Apatih Suryyanasa, mwang Sang Apatih C ittaratna, tandwa mapagut Sri Caya Purusa, lawan Sang Prabhu Kanya. silih panah, silih sambut warayang, mangkana malih papranging bala, silih wangsul mawantuswantus. tigang tabeh sowening prang maruket tan hana kondura ngliwati tajer, mojar Sang Prabhu Kanya, lingira, "E Sang Sri Caya Purusa, tan alah tikang wadwa Kanya de haji. mangkana tikang wadwa Purusa, tan asor prangnya ...

Sumahur Sri Caya Purusa. "Ah ta ampih. tan katuduhan ikang Caya Purusa, matakuta ring wadwa stri, tan mundura nghulun, tan patinghala kang gandewa. yan tan hana hyang sumapi aprang ninghulun, kunang guru ninghulun sumapiha, mundura nghulun, !ah angadu asor wwastra muwah." "Mojar Sang Prabhu Kanya. "Tan sangsaya sri haji," kangsar larasnor.

[h.l 7a) Sdhengira silih panah sang prabhu kalih. Jog tka Bhatara Sv.ara. ri madyanikang palagan. sakatwan Bhatara Jagat Karana. sighra nambah sang prabhu kalih, ring Bhatara Karana, Sri Caya Purusa. sakeng tngen sanghyang. sinambut lunga ya nira. Sri Kama

Rupini. sangke ki,,a nira sanghyang sinambut lunga ya nira. mojar Sanghyang Si\a Paramcs\ara. lingira. "E Caya Purusa, patlasa11 aprang. tan hana kita \nang kaprajaya. maka nimitta padha katunggalan mami kita karna. mangke padha olih maring kadhatv.·anta." "Sajna bhatara, tan mangga pukulun pun Caya Purusa. yan mundura sangke palagan, yan tan ilanging satru, lebok Tinging loka, tan hana(ng) Caya Purusa, madhani kasaktinya, mareng ranak bhatara mundura, dening satru istri-" "Ah apa bhiprayanta Caya Purusa, ilanganing si Kama Rupini, anambah ranak hyang mami, ah prati paksa, dahat kita, lah tan sangsaya kita, kami sihilanga mne rumuhun, pjahakna dening warayang, tan hana pwa guru parameswara dewa wisesa mne, tan hana mne sapta bhuwana, tan hana sapta swargga, tan hana sapta patala, tan hana sapta parwwata, mwang sapta amawa, sapta gni, sapta mrettha, yawat tan hana kabeh, tan hana(ng) na\'a dewata, mwang catur loka pala, sapta resi, widhyadara, widhyadari, nguniweh detya raksasa, danawa, yaksa bhuta pisaca, (h.17) mwang manusa, triyak, tan hana ika kabeh, ilang si Kama Rupini denta, paran ta pangadeganta, apan tan hana(ng) prithiwi, mandhala, paran ta kamandha i ri kita, apan tan hana(ng) akasa pradesa, apan humadhangane kita, apan tan hana(ng) ditya wulan, mwang lintang, aparan tang awakanta, apan tan hana manusa, atisaya pwa kita ring kawisesa, ndi ta ita non mangrengo, wisesa ngawang-awang tan pasarira, haywa atiyeng kawisesanta, yadyastu kami, dewa wisesa lingning loka, dewata manusa, ta ampih, hana sira pinaka guru mami, hana gurunira, wruh ta kita i rika kalinganya, haywa patipaksa ring kawisesanta."

An mangkana ling Bhatara Jagat Karana. Nda Sang Apatih Pradwangsa, wruh ring naya sira, prayatna i rikang niti yogya, rika haywaning parabhunya, ujar ta ya, "Sajna haji, sungkemana padanira sanghyang, aminta karuna, manawa mijil upadrawa nira sanghyang, mangdhandha ri haji," an mangkana ling Sang Apatih Pradwangsa, tandwa sumungkeming padanira sanghyang, Maharaja Caya Purusa. umon ri deyanya mundura, ujar sanghyang," Aum bapa ulih kita Caya Purusa, mwang kita Kama Rupini. padha eling kita ri kadhatwanta, bhagawati kita."

11 Saj fia hy ang mami muliha p"a nghulun (h.I 8aJ pun Ca,·a Purusa. kunang ta crang ranak bhatara. niyata inuyag ginuyu-guyu dening jagat. makarnmitta kapadhan kasaktining ranak bhatara. de Sang Prabhu Kanya. enak kapjaha was pisan. tan serat laras bhor. kagyat Sang Apatih Pradwangsa. mangrebuti patrem maha prabha, sangkeng tangan Maharaja Caya Purusa, 11 ujar bhatara. Ah Caya Purusa, tangheh ri kasaktinta ring si Kama Rupini. 11 "Sajfia bhatara, tangheh ika, lah si pjahana den ta. dak tonton ri pamaribhawanta. 11 Les lungha Bhatara Swara, kunang ikang patrem mahaprabha, yawat sah sarunganya, tan wnang ta ya tan poliha, yeka sinendal ikang patrem de Maharaja Caya Purusa, sangkeng Sang Apatih Pradwangsa, dhap sap sorot. nga, pj ah Maharaja Kama Rupini yeka kinukang-pukang, de Sri Caya Purusa, binuncangaken aftatur desa, ikang sirah binuncang mindhuhur, tka pwa sapranayama suwenya, tka sakeng akasa, paripuma Sang Prabhu Kanya, i rika ta Maharaja Caya Purusa, pinajokan, ri Bhatari Prithiwi wijfiana nira, ri harep Sang Prabhu Kanya, teg ger. blah Bhatari Dharani, ing katri jfiananira Sang Prabhu Kanya, linabuhaken ri blahning bhutala, de Maharaja Caya Purusa, seg, sampun pwa tumdun, tinakepaken ring jrona nira, ikang blah-[h.18b] ni bhutala- tala, de Sri Caya Purusa, teg ghor. rapet bhawa ring prithiwi, tka pwa sapranayama kara sowenya. Dhatang sangke akarepa ri purnna Sang Prabhu Kanya.

Mangkin krodha Maharaja Caya Purusa, wij ilaken tang indrya, ri gnep tang prawesanya: liringning mata ring kiwa, pandeliking mata tngen, kaspyar bhor, gumsengana Sang Prabhu Kanya, saparwwata agengnya, ujwala bang tandwa gseng Maharaja Kama Rupini, tlas ri pamangan Sanghyang Agni, padhem ika amkasing awu sawa Prabhu Kanya, wijilaken tang uswasa bayu pracandha, de Maharaja Caya Purusa, manggah ta sira ping tiga, oh. ih. tka tang alisyu sendhung bayu prakasa, teg larap syat set tor. ilang tang awu muksa ring akasa, rem mneng tang samirana. maci-aciha Maharaja Caya Purusa. tka paripurn na Sang Prabhu Kanya. sangka ruhur akasa. sakatwan mangkana. mangkin murub krodha Maharaja Caya Purusa. rep tka Bhatara Paran1eswara, ri pantara sang prabhu kalih.

Mojar sira. "E Caya Purusa. tangeh pamaribhawanta. ring Ki Kama Rupini." "Sajfia bhatara. tangch ika, ah aja denta maribhawa.

langgyana p\a kita ri ujar mami. pyar pcrat. \dhat taktak lintah. iris poh sumabu ratri harep Maharaja Caya Purusa." ujar sanghyang, "Lah iku (h.19a) tmahanta yan langgyana tan muliha. "Sajiia bhatara muliha ranak bhatara, manapuka wirang, taha tan kerang kita, kunang linganing" oka i ri kita. tan alah rakwa Maharaja Kama Rupini, de nira paduka Sri Maharaja Caya Purusa, sumahur rowangnya, "Ah ta ya, meh rakwa !aha. Sang Prabhu Kanya, hana rakwa sira de wiswsa sumapiha ring prang ira. mangkana lingan i loka. sang-ksepanya, ulih kita kalih ri kadhatwanta," rep muksa Bhatara Parameswara, matangyan mulih Sang Prabhu Kanya, saha bala. mangkana Sri Caya Purusa, mulih sira saha bala, liwat sangkeng haya margga tka ri Swetta Nadhipura, pinahasuka ikang bala kabeh.

Alawas ta sira tkeng rajya, mijil ta sira ring manguntur, mwang Maharaja Laksmi Kirana, ujar sira, lingira, "Kaki haji, Sri Maharaja Caya Purusa, haywa sinangguh ranten haji ajuwet, apa nimitanya tan alah ikang sri haji, ikang bhumi Singhalangghyala," "Yayi Laksmi Kirana, mahasakti Sang Prabhu Kanya, pada kabwatang i nghulun, Boddha paksa Sang Prabhu Kanya, ya ta matangyan ri kalaning prang, umawak Bhatara Buddha, tan kna sira bhawa de ninghulun, Sanghyang-Parameswara sira manapih prang ninghulun." "Kaka haji kahyun patik haj i ngwaspadaha ring kasakten Sang Prabhu Kanya."

"Yayi Sri Laksmi Kirana [h.19b) tan acaryya ta karika ri nghulun, taha, kaka haji, haywa salah de parameswara, tan pangabhima ta sri haji, lewihaning patik haji, swapadi-padi parameswara, ri nguni mangke, kapana rika patik haji lewih, nguni ri ilang Sang Trayo Dasa Windu, sangksepanya, saksat parameswara awak mangilangaken, anghing pati haji amukuli tunggal, Sanghyang Ratna Bajra Wirupa, ri kala sri haji sinahaya de Sang Prabhu Nala, sri haji mangilangaken ikang Detya Kalmayoni, ri kala haji sinamaya dening dewata, sri haji mangalahaken nikang Detya Panca Wikalpa, tangeh yan ucapen ikang detya ilang denira. sangksepanya apa ta de patik haji, aparan ta mangke kaharep ira yayi. patik haji mahyun mangke dumona ring Singhalangghyala." "Aum yayi, Kaki Pradwangsa, dadi muwah tikang bala, kami mangdoni Singhalangghyala, tan sangsaya parameswara. atata mangke sira kaki haji. kaki patih. taha yayi juga.

S\akaryya denta ring b''aya, 111\ang bala saprakaraning upakara." Rep /es umanjinging pura sang prabhukalih. kunang Sang Apatih Prad\angsa. madansanjata.

Rep hnengakna ta Swetta Nadhipura. tucapa(h.20a] ring Singhalangghyala, mijil Maharaja Kama Rupini. ring manguntur, mangalocita ikang jagat raksan, lawan Sang Apatih Rajapati, mwang Sang Apatih Narayana, rep katasik dhatang bhagawan Prascati, ujar ri Sang Prabhu Kanya. "Oh bhagya ta sang pandhita," "Sajna haji, i wruha sri haji, mangke dinon mm>..'ah sang prabhu. dene sang natha ring fawa, ari de Maharaja Caya Purusa, Maharaja Laksmi Kirana, nga, ha yo tan prayatna sri haji, Wisnu kula ika." Rep muksa sang pandhita, magnu-gnu Sang Prabhu Kanya, lawan patih ira kalih, pohing alapkna, papagen ikang musuh, madansanjata sira, inatang sakwehnikang wadwa Lawadi, ri wkasan mangkat sira, sakareng angkat Sang Prabhu Kanya, lawan angkat Maharaja Laksmi Kirana, pada rereh tka ta sira ri pinggiring sagara.

Ujar Sri Laksmi Kirana, lingira, "E Kaki Patih Pradwangsa, dak panah tang sagara den asat awaning bala, hana warayang mami, Sanghyang Wigata Malasara, nga, wnang umasat tang sagara," an mangkata ling Maharaja Laksmi Kirana. Yekan winentang tang gandhewa, ingundhangundha tang sayaka, athar dura dasi, dura dharsana, Sanghyang Baruna, tka ta sira maring kahana Maharaja Laksmi Kirana haywa sinyat Sanghyang Amnawa, niyata durbhala ikang mina, yan hana dhanur weda haji, waneh [h.20b] awaning bala haji," ,Ah tan sangsaya hyang mami, hana sayaka kasakti, Sanghyang Dharaniwaha, nga, wnang tumambakang sagara, ndan suminggaha kang sarwwa mina,"

"Aum Sri Laksmi Kirana." Les lungha Bhatara Baru na, i rika ta Maharaja Laksmi Kirana, amanahaken Sanghyang Dharaniwaha. tandwa lumpas tka tan pasangkan tang prethiwi, tumambaking sagara. dudug tkeng bhumi Singhalangghyala. tigang atus yojana alangnya. tigang iwu nala. lawa kuta dohning ujurnya. saha trena taru lata. naga puspa. surabhi. asoka. grodha. wandhira, hodi. ambulus. matangyan .lumaris Jakuning Maharaja Laks111 1 Kirana, iniring dening

Prabhu Kanya. sama lumaris lampahira iniring bala. hum.is \TUh sira. yan kadhanurnedha Sri Laksmi Kirana. ikang prethiwi tala inambah nira padha sira ngineping margga.

Ri wkasan mapapag tikang prang marakit, ramya mawantus- wantusan, Sri Laksmi Kirana, maharep-harepan la\an Maharaja Kama Rupini, ujar sira, "Ah bhagya ta sira Sri Laksmi Kirana, apan don haji dumon ring nghulun." "E Maharaja Kama Rupini, nimitta ninghulun dhatang ri haji, ascaryyan rumengo pinakanghulun, pajar ira kaka haji Caya Purusa, pangtisayaken ri haji, ika ta don ni nghulun dhatang, yaya kasmaran ring apa nghulun, [h.21a) turnnghala rupa haji, kanya Sakti wnanga mapag prabhawanira kaka haji, wyaktinya Maharaja Trayo Dasa Windhu, Maharaja Balinatha, mwang Detya Panca Wikalpa, Detya Kalasandya, Detya Purwwakala, lyan sangke rika, akweh kasor denira, kaka haji, rahadyan sanghulun kanya, wnang amagut ri kaprabhawa nira kaka haji, matangyan i nghulun dhatang, pilih sanghulun, wnang mangalahakna ri rahadyan sangulun, nda sira kaka haji, mogha mangiring kadi inretan, makanimitta kaka haji, huwus jagat wastu, loka prasiddha, ri tan hana sumorakning sira, kunang dresta ni nghulun, aditya kaka haji, wulan sanghulun, aruhur sananing \·Ulan, swapadi aditya lewih kartta sanghyang Wulan, kunang kasor ira de sanghyang Aditya, tan prakasa tejanira 0

"E Maharaja Laksmi Kirana, kagamaka pratyaksa de rahadyan sanghulun, ikang inujaran mangkana, de sri haji 0 "Oh Sang Prabhu Kanya, salah de rahadyan sanghulun, pangawruhaning kadyatmikan, de sang pandhita, anumana ika, kadyangganing anon kukus ring pradesa, ika prasiddha hidhepning wnang ring hana Sanghyang Agni, kadyangganing hyang [h.21b] inucap nda tan katon sira, an tan pawak tan parupa, tan pawamna ta umpamaya, luput sangkeng golakendryajnana pratyaksa, katampi de sang huwus kretta samaya, hana panghidhepira, ri hana sanghyang, makanimita dening anumana nira Hyang Jagat sanvwa de manusa triyak, nda tan dadi ika wreddhi. yang mangkana, manemitta dening wahya pratyaksa kewala." "Apa ta Sang Prabhu Kanya, salah wuwus ni nghulun. " "E Sri Laksmi Kirana, tan salah wuwus haj i, wyakti yan hana Sangh yang Agni ring awak, rahadyan sanghulun. makanimita(ng) sabda adyantmika yangken kukusnya. lab aparan ta karep Sri Laksmi Kirana. angadwa lagawaning

ara~ ang karika. angadu kasidhyastra kunang. angad\ a kang saf\\a pratyaya ring rupa karika. asingkapa ri hanan kaparajaya. nga "

"E Sang Prabhu Kanya, silih !pas warayang rumuhun. Sri Laksmi Kirana. den kadi mani rwani rwakcn pinakanghulun. salinpasaken haji pamapag ni-nghulun, aum sang prabhu Kanya .., mangkana lingira. Padha ta sira manglpasaken sarottama, apapag tikang sayaka ri madhyanikang palagan, aneka sanjataning dewata cihna Jenpasaken nira, de Maharaja Laksmi Kirana, lwimya; bajra. dandha. krettala. naga. angku s. musala. trisula. cakra. padma anyat. lh. 22a) !yang sangke rika. mangkana muwah pamapag Sang Prabhu Kanya, matangyan matampuh ri madhyaning palagan, aneka safijataning dewata cihnan linpasaknira, de Sri Laksmi Kirana, mahasakti kang sayaka, wus mangkana, kasidhyastran, linpasaken lwimya; bayu pracandha. agni prabawa. ayagiri. nagarajastra. glap say uta, mangkana muwah pamagpag Sang Prabhu Kanya, matampuh ikang kasidyastran, tan hana jaya kaprajaya, tikang lawan, ri wkasan mangadu kang sarwwa pratyayaning rupanira, rep meru twahan \varnna Sri Laksmi Kirana, mangkana rupa Sang Prabhu Kanya, trasrep, singha rupa Sri Laksmi Kirana, mangkana muwah Sang Prabhu Kanya, trasxep, Detya Kala Rudra rupa Sri Laksmi Kiran, mangkana muwah rupa Sang Prabhu Kanya, trasrep, aditya rupa Sri Laksmi Kirana, mangkana muwah rupa Sang Prabhu Kanya, trasrep Wisnu dewata rupa Sri Laksmi Kirana, mangkana muwah rupa Sang Prabhu Kanya, sang makarupa Sri Laksmi Kirana, mangkana Sang Prabhu Kanya. trasrep, Bhatara Buddha rupa sang prabhu kalih, lengisning sirah. masampet mabahi risira kalih, trasrep, muksah Bhatara Buddha kalih, tanhana sumedhi, tka pwa sapranayama sowenya, jeg tkasangkeng tan hana. maharaja sira kalih, padha maluy ri sananira, mojar Maharaja Laksmi Kirana, lingira, lh.22b) "E Sang Prabhu Kanya. atyanta kasidhyan sanghulun. tumiiewa-tirwaken kasidhyan ninghulun. toh warahen pinakanghulun rama rena adyan sanghulun." "E Maharaja Laksmi Kirana, Sang Utara ngaran ibu ninghulun, tusning ksatriya kula ring Singhalangghyala. Sang Anita bapa ninghulun, hana ta sira dewi \.isesa malih jnana. sira mratista ri nghulun. Bhatari Uma. nga. kunang guru ni nghulun. Boddha paksa sira, namaste sira

Sa,Yitri. bhiscka nira. bhiksu rak\a sira. ih dumch sira rahadyan sanghulun. turung kapurug ring ragiwasa."

"E Sri Laksmi Kirana, sanggahen ta rikang hulun. Prabhu Kanya yan tuhu samangkana, apageh ikang sukla bodi ri nghulun, ah ika hetu rahadyan sanghulun tan alah de nira kaka haji, makanimita antyanta ring Boddha kabwatan, sinabad ndha tan kapurug ri naga, ya hetu suci nirmmala ngaranya, apan S\vabhawanikang wwang, nga, niyata kopasargghan dening raga, yan lanang, yan wad\an, raga, nga, iwisyaning jihwapasta, ika nimittani kang wang binuru dening purisyane, pingatan dene kamane, kapati putus kangelan anglih, naraka patana, dening wisayaning amangan lawana sanggama, matangyan sang pandhita wreddhati maha purusa, rinunting ikang raga, pinati wisayaning jihwapasta, makanimitta nira tan [h.23a) waluya niran cakra bhawan, sayaka ddawan iki wuwus ninghulun, rahadyan sanghulun uni-mujaraken nyan hana Sanghyang Agni ri nghulun, ikang sabda adyatmika yangken kukusnya, rahadyan sanghulun ta muwah anihna pangadesan ri nghulun."

"Ah tan sangsaya Sri Laksmi Kirana, tan manampakta wang sang prabhu Kanya." "E dudu iku karep ni nghulun, tan malui sira ring palwa." Kenet, katon pinakanghulun de Sri Laksmi Kirana, "Ah dudu iku kaharep i nghulun," tasrep malwi Sri Kama Rupini, ri sthana nira, ujar sira, "Paran nimitta haji tan harep kasiddhyaning hulun mangkana." "E Sang Prabhu Kanya, nimitta ninghulun tan harepa, yaya wruha pinakanghulun, hetunya wtu mangkana, lawan ika mangupa sargga, kadadin karika kasiddhyan manakana, yan tan hana swasisya karana, lawan ta muwah wruh pinakanghulun, yan upasargga ika, tiga ikang adyatmika hananing upasargga, lwimya; sakti, kawi, bhisa angaji, padha ika kinahanan ri g6ng ati, pamurug ning uttama paksa ika." "Oh tan hana karika sakti kawi bhisa angaji, moksakan padha yan mangkana, ya tuduhana sanggahen upasargga." "E Sang Parabhu Kanya, ta amangkana, moksa sang kawi bhisa angaji, yan tan maluyang cakra bhawa, nda nya maha mudha katmu rasaning mangati tahu wus wruh. [h.23b] ih mangkana, !ah moksa, nga, sang kawi bhisa angaji. syapa ta mamuktya phalaning dharma nira, sang kinahanan ring dharmma sunya. lawan dharmma sastra, apan ikang dharmma, nga, tan dadi tan kabhukti maphala. oh haywa mapingging Sang Prabhu Kanya.

nyan sastra. Wis\a pitnah sangaskara. ika "asana karmma sang moksa pad a. Ian hu\us ta >an mangkana, ikang kasiddya ninghulun anjalantara. akasa margga. tan kacarrya rahadyan hulun_ apa ta mapan ika inatisayaken denikang- \wang sajagat e Sang Prabhu Kanya. yeku marikang dadi wuta kdhepaning jagaat. mangatisayaken kadyatmika ikang uttama tan katwan denya. matangyan bhranta pa\aking jagat, makanimitta salah sangguh. maya pakattwana ning para, makanimitta amisesaken katwan. tresna pwawakning loka, makanimitta tan wruh ri kalinganing panepet, lab ikang anjalantara, akasa margga, inatisayaken ring loka ika, paran ika dharmmanya, paran warah-warahnya, ndi laksananya, dening \Wang ring bhuh loka, kawangunananing swargga lawan moksa, tan hana pwa sih, kunang de ninghulun, ri kawangunaning dharma kriya, ikang anarin ngelaksanakna, ri kadadining mokea mwang sargga, tata mangkana, tan kna dening tri pramana, luput sangkeng wyakti pra- lh.24aJ tyaksa numana, wyakti. nga, kagamela dening tangan, pratyaksa, nga, katwan dening mata, anumana, nga, hana panengernya, luputa sangke rika, karep ninghulun, Ian tan sangsaya Maharaja Laksmi Kirana, tas ilang ri pangadegan Sang Prabhu Kanya, irika ta Maharaja Laksmi Ki rana, cakswindriya jnana prameya, pamet nira ri Sang Prabhu Kanya, unggwa nira mapmet, prethiwi, apah, teja, bayu, akasa, tkeng akasa mradesa, mwang ri dhikwidhik, nawa desa, dudug wkasning ruhur makadi satya loka, wkasing sor mwang ijro rasa tala, tan hana katinghalan Sang Prabhu Kanya, wkasan dinarana ikang caksundriya jnana prameya de Sri Laksmi Kirana, jeg tka tan pasangkan Maharaja Kama Rupini, mojar sira, "E Maharaja Laksmi Kirana, apa ta mangke salah ninghulun." "E Sang Prabhu Kanya, wyakti yan hana Sanghyang Agni ujvvala murub tan pakukus, ring rahadyan sanghulun. makanimitta luput sangkeng wyakti pratyaksa numana, sangksepanya, muliha Sang Prabhu Kanya, padha kabwataning hulun"

"Oh Sri Laksmi Kirana, tan mundura nghulun, kaparihan sri haji. aparan pangmasa rahadyan sanghulun. Sang Prabhu Kanya. tan age- ageha pinakanghulun amulung. makanimitta sira kaka haji nguni tan alah de rahadyan sanghulun, apan pinaka-ICh.24bJ. nghulun padha la\ an sira kaka ha_1i ring kasaktyan. matangyan mangkana, ya caya. ~ ·a

ya purusa, ya kirana. saksat \Yiscsa maparwa gatining hulun. la wan sira-kaka haji." "Oh padha, linganta, apa P" a hctu rahadyan sanghulun duk prang ring Tgal Samaya kna dening candrahasa, sanjata Maharaj a Trayo Dasa Windu, Ju put ika ring sayaka, yan tuhu pad.ha." "'E Sang Prabhu Kanya, mina awak ninghulun kna ring sayaka. katona satya bhakti ninghulun asewaka ring kaka haji."

"Lah \Uv.·us ta yan mangkana, duk aprang ring swargga, alayu rahadyan sanghulun, dening detya Panca Wikala." "Ah taha, yan sangkeng awd.hi pinakanghulun mundura, ndi panwan pangrungu, ikang watek Wisnu atakut ring detya raksasa, nimitta nghulun dura, awdhi nghulun tan pantuka ri tandang ira kaka haji, reh nira pungawa ni sinamaya, lah tuhu asih, tirwa-tirwakna lkas ni nghulun huni, yan tuhu wira, tan sangsaya Sang Prabhu Kanya," tas, nampak ta wang Sri Kalsmi Kirana, rep katwan sira, tas ilang ri pangadegan, Sri Laksmi Kirana, tka pranayama, irika ta Sang Prabhu Kanya, amet ri caksawindriya jfiana prameya, kasungsung ikang bhuwana, tan kapanggih Sri Laksmi Kirana, wkasan dinarana ikang cakswindriya (h.25a] jfiana prameya, de Maharaja Kama Rupini, jeg tka sangkeng taya Sri Laksmi Kirana, ujar sira, "Apa ta mangke Sang Prabhu Kanya." "E Sri Laksmi Kirana, pad.ha nghulun lawan haji, muliha sri haji," "Ah tan muliha nghulun, ta pranga muwah, tan harep nghulun sanggahen pad.ha lawan rahadyan sanghulun, Ian tan sangsaya Sri Laksmi Kirana," keksar. sakatwan silih panah Sri Laksmi Kirana, lawan Sang Prabhu Kanya, macampuh pranging bala, kasreg prangning wadwa Walawadi, tuminghal ta sira Bhatari Uma, sangkeng alaya sura, yan kasreg prang ikang wadwa Kanya, kinwanira ta Bhatari Ratih, matulunga ingiring dening wid.hyadari saha safijata, tandwa mangkat Bhatari Ratih, mwang widhyadari, akasa margga, satkane ring paprangan, sopacara, sapocapaan lawan Sang Prabhu Kanya, tandwa tumandang Sang Kamaratih, salaras kapgang, ingiringing widhyadari, kasreg prangning wadwa Jawa, tka Bhagawan Pascati sangkeng taya, mawarahing Sri Laksmi Kirana, yan Bhatari Ratih tumandang saha widhyadari, patulung ira Bhatari Uma, ri sampun ira muwarah, muksah sang pandhita, irika Sri Laksmi Kirana, makon ri sang Mantri Prasikusa, mawarah ing Sri Caya Purusa, yan mawuwuh ikang satru, mukya Bbhatari Ratih, mwang ' 'vidhyadari, patu-lungira Bhatari Uma.

n sampun O\ a \ i nkaS-\ ck as. msat I h .25b) Sang Maha Mantri Prasikusa. ma\arahing Maharaja Caya Purusa. sapa \kas Sang Laksmi Kirana. sampun ta Kapracca~·a aturing Mantri Pasikusa. tandwa msat Maharaja Caya Punisa. 111\'ang Sang Mantri Prasikusa. satka ni ra ri samara madhya, tandwa(ng) seta(ng) bala Jawa. kasreg prang nikang wadwa Walawadi.

Rep dhatang Bhatari Uma, ri madhyaning palagan, anapih tandang Sri Caya Purusa, sakaton sira Bhatari Uma, masa lah gandhewa Sri Caya Punisa, mwang arin nira, matalangkup sira kalih, ling bhatari, "E Caya Purusa, paksa dahat kita hyun ilangane si Kama Rupini, tara hidhep kari kita patangguh paduka hyang mamai, huwus mulih kita nguni, taka Sri Laksmi Kirana, dumoni, kita tan udasing tumutur, katuhwan de rala jnana dahat." "Taha, tan sangkeng harep sirnnaning Singhalangghyala, pwa nghulun Laksmi Kirana, kewala harep wruha kasaktini Sang Prabhu Kanya, paduka bhatari pwa tan udasina, ri Sang Prabhu Kanya, mangkana tan punduta Prasikusa, ika ta don manusa bhatari palagan, mangke pwa katitihan prangning wadwa Kanya, paduka bhatari padha udasinakna, paprang ranak bhatari padha manusa." Ling bhatari, "E Caya Purusa, apa ta kami?" "Sajna bhatari, yawat manguttara bhatari, ri tandang Sanghyang [h.26a) Ratih tulya paduka bhatari ika tumandang, suker pwa tinghal bhatari ring manusa bhatari, matmahan krodha paduka bhatari. Kama Rupini, raksasi Durgga Tri Sirah, saha Tri Narayana. catur bhuja umujakna sayaka, ring prana manusa bhatari."

"E Caya Punisa, salah \VU\:vus ta mangkana, tan wnang kami, marupa raksasi Durgga Satri Sirah, taha, tan byakta kami mangkana, binyaktaken kami de Sang Citrangkara, mungguh ring reka, ascaryya kunang, ade ika cacangkriman, nga, istamurtti mami ika tan hana(ng) mala wighna papa, klesa ri mami, kunang cacangkriman kami, ika tepeten denta, yan kita tuhu wira jnana, apa ta yangken raksasi, aparan ta sinangguh Durgga, aparan ta yangkenang krodha, aparan ta yangken bhusana mami, ikang yangken katatakut, lah tpeti sabdanta. kita majara mangkana."

"Sajna bhatari. tan sanggahen langgana ranak bhatari, sumanggup angutara bhatari. · raksasi. nga, ikang tinenget pinari wretta si ikang

dewi. sira ta kinunci ri rahasya, nda tan winch simba. durgga, nga. keweh bhatari, tan kadudug de sira sa~g \ iku. ring loka pada bhatan. yangken krodha bhatari, nga, ikang suka mredhu swara asmita. nirajflana tan kawastwan ring naya, nirmala niratmaka, yangken Tri Sirah bhatari." "Ah wuwus Caya Purusa, wruh, nga, ring katatwan mami, (h.26b] apan kita Boddha paksa, akweh ta sang wiku ri madhyan paddha, mah:yun ri pada mami, tan hana tka ika, drestanta ngulahulah. laladankasen kunang ta katmu rasanya \Udu kinghiwak, ri denya kweh emba-embane, emba juga karasa denya, pira sikwehanya, ikang watek angaji kadi kita, anghing salah wuwus ta minta tinarjanan sayaka, yaya ita tan wruh witning bhuwana, mwang sarira, matangyan mujaraken kita tan paramartha." "Sajfla bhatari, wruh manusa bhatari witning bhuwana, mwang sarira, panca tan matra witning bhuwana, panca tan matra. nga, sabda tan matra. sparsa tan matra. rasa tan matra. gandha tan matra. rupa tan matra. ika ta panca tan matra, nga, matangyan ika akasa, mijil sangke sabda tan matra, ikang ba)'u, mijil sangke sparsa tan Matra ikang teja, mijil sangkeng rupa tan matra, ikang apah, mijil sangkeng rasa tan matra. ikang prethiwi, mijil sangkeng gandha tan matra. gnep lima ikang sinanguh bhuwana, lwirnya: pretiwi, apah. teja. bayu. akasa.

Kunang ikang sinangguh witning sarira, sarining kapangan kinum, matmahan sukla swanita, yatika mangdadi janma, inunggwan pwa dening pan ca tan matra, ikang sabda tan matra, munggwing srotendria, pinaka pangrengo sabda paknanya, ikang sparsa tan matra. munggwing kulit, pinaka pangidhep panas tis paknanya, ikang rupa (h.27aJ tan matra. munggwing mata, pinaka panon rupa warnna, ikang rasa tan matra, munggwing jihwa, pinaka pangrasaning sadrasa paknanya, ikang gandha tan matra, mungguwing ghrana, pinaka pangambung gandha paknanya, matangyan gawening mata, mutating paramartha, gawening talinga, mangrengo aparamartha, gawening cangkem, mucapknang paramartha, gawening ati, mangidhepa paramartha, gawening tangan, manggamela paramartha, gawening suku. manglaksaken paramartha, yawat Iumaku,, paramartha. mandadyaken midering jnana paramartha, ika talenan manusa bhatari, yana mabhyasa." "Ah paran polahinga minta tinorjanan sayaka, yan tuhu paramartha. tan paramartha. kedhapaning sabdanta. ri denya

kuma\rnning swakannma ri kami. ndi mapasih kami an~jahana _1anma. tan padha kami de\i \'l scsa. la\ an kita manusa. parapatipati, paran iku makawandhahan ta apa "

"Sajna bhatari. tan papo manusa bhatari, apan tan amjahi detya yan tan pangalah-alahan rat. lav.·an ta muwah ageng ikang dharmma, kagaway de manusa bhatari,.wyakti-nya nityasa manusa bhatari, mayajfia bhojana, pitrapuja. dewa puja." "oh tan ilang malanta den iku. dhart-tha manusa bhatari madharmma kanya, amet wakna anaking anak, sinubha subha lh.27bl dinuluran ratna kanaka." "Tan ilang malanta denekang iku." "Akweh yasa pun ya kirtti manusa bhatari, ambulu, boddhi wandira, tinanduri sami paningawan mwang patani gilang-gilang, sumur binarangbangan watu, sedhang pancuran, beji talaga." "Lah tan ilang malanta dene iku." "Wanten malih, dharmma manusa bhatari, prasadha watu putih, mesi pratima parmeswara wimba, purnnama tilem pinuja saha banten, hana mahari bwat arsa tan awdi, sabha-sahaning janma cangkra-ma." "Tan ilang malanta dene kang iku." "Manusa bha-tari, ngawayaning dharmma sadhana." "Tan ilang malanta."

"Wruh manusa bhatari, salwiring laksana, igel ksok, ptik tala bhedana, nustana, anakra ba;yu, amuter tutur, yoga samadhi-" "Tan ilang malanta." "Wruh manusa bhatari, kapudettaning tapa brata, satya paksa, lega ri pati, tan sangsaya ri tkanya." "Tan ilang malanta." "Akweh dharmma sastra manusa bhatari, yan kidung lambang, parwa carita, mwang tatwa sloka." "Tan ilang malanta." "Bayu sisya manusa bhatari, tan hana ikang para haji tan panadhaha upadesa." "Ah tan ilang malanta ene kang iku, mangkana ·wuwus daging kulit ita, hetu mami mujaraken inangkana, apan iku kabeh kawangunaning swargga phala, kalobhaning manusa, [h.28al nga, kunang ika rnangilangaken papa klesa, malapataka, anghing kretta samaya juga, inapi padha ring kamoksan. "

"Sajna bhatari. sampun rnanusa bhatari kretta sarnaya. matangyan kaputusan sang catur pandhita, wruh manusa bhatari." "Ndi ta sor lawan lewih?" "S~jna bhatari. adha sira kapat. kunang hutunira tan asor tana lewih, dening karana. kunang manusa bhatari, dresttanta arnangan. maka balanca buk lawanya wang bang, iwa rnangkana tan

kab,,attan Sang Boddha. la\rnn Sang Wiku Putih. akabelantcku. nga. kunang ring loka. prasiddha laladan kasen. cah\ ana adon-adon .. ika ta mukyaning rasa. taha tan ring kabelan. nga. amangana arasa salwan adon-adon. ikang cambuk lawan bmrnng bang. amangan ta manusa bhatari laladan kasen, awasana mutah duk tan kahareping sarira, lah Boddha resi, nga, tinenget ta kabwatan. apa ta paksanta, moksah pamanusa bhatari."

·'Oh ilang papa klesa santa, yan sampun kretta samaya. inapi wada ring kamoksan aparan ta polah talopa ring <ami. reh ta malaku tinarjjuna sayaka, tan wnang kita mujara mangkana, apan kita manusa, hana inganaken dening dewi, wyaktinya, syapa kari kamanaken sarwwa ja[h.28b] gat, yan lyana sangkeng dewi, nimittanta purusa angkara, bhagawati kumara ku mara kita, molah mambekan dening dewi, mapata de kami." "Sajfla bhatari, kasangguhan wu~us bhatari, tan sanggahen prasanga manusa bhatari, ri ajna bhatari mangatisayaken ring dewi bhatari, aprameyakning manusa, tahatah, prasiddha karika, bhatara sanggahen bhatari, yan tan manusa mangucapakna ring bhatara, dresttanta Bhatara Swara, tinatwa de sang pandhita, purwwa sthananira, putih warna nira, bajra sanjata nira, manis sanjawa nira, lembu putih wahanan nira, tinatwa pwa sira ring sarira, sira I swara ngara nira, sabda,nga, sangksepanya, tan hana wastu tan palalayan. wyaktinya, sira Sanghyang Parameswara, masisihan awak nira, wadwan ring kiwa, lanang ring tngen, mangkana malih, paduka bhatari, yan mahyun marupa Parameswara, paduka bhatari tinuting bhuwana, lawan ikang janma kabeh, wyaktinya akasa, prethiwi, tangkepnya, wetan kulon layanya, rahina wngi layanya, swargga, papa layanya mangkana sarwwa janma, ikang lanang, wadwan tangkepnya, suka, duhka tangkepnya, tangeh yan ucapen ikang tatwa mangkana, iwa mangkana tang manusa lawan dewi, hidhep manusa bhatari, tan (h.29a) wnang hana bhatara sanghyang tan katon, yan tan hana(ng) manusa, apang ikang sarwwabhawa, yaya tan dadya dening sunya, niskala kewala. matangyan tan hana ikang wwang, jeg saking akasa, mumbul sangke prethiwi, yar tan inarekabhawa."

"E Caya Purusa, apa ta sangkane wreddhi kang sarwwabhawa. dening wyakti pratyaksa kewala." "Sajna bhatari, tan dadi ikang mangkana. aparan tuhu sawanta. mangatisayaken, wyakti pratyaksa

taha." to Sajna bh atari _ onghing ton hana was tu tan polo/oyon. wyaktinya niskala a\ak bhatari_ sakala a\ak manusa. ika ta kalih _ padha kedhapanya." "E CayA Purusa_ salah WU\Htsta. tan hana simne sor lawan lewih_ yan mangkana. kadyangganing kasturi jbat. den padha keni kalawan tai. yan samya ktan hana(ng) uttama 11 la wan nista. Sajria bhatari, taha, manusa bhatari, mangkanaha, dresttanta, kandya, gandha-gandhaning kambang nagasari, campaka kuning, hana rumuhun kongas gandhaning skarnya, kari katon witnya, hana rumuhun katon witnya, kari kongas gandhani skamya, ndi ta sangguhan rumuhun lawan kari, ikang gandha rika, mwang witning skar kunang, tan hana ika atisayakna, tan hana samanyakna, ri denya 11 pamastu sang kawi. 11 E Caya Purusa, dudu sih upamanta, iku, ikang dresttanta mami, mami lawan manusa nyang, [h.29b) ghawapata, prasiddha karika sangguhen dharmma ikang ghata, yan tan mesi banu, sangksepanya, sangkeng dewa cayaning manulahaken misyanang banu kang ghata, !ah 11 11 ta rasa ri atinta. Sajria bhatara, taha tah, prasiddha karika sang milaha 11 11 yan tan asana. Uduh Caya Purusa, tuhu lingning loka, sumanguh ri kita mahasakti, kawi bhisa angaji, kunang tami tan tumut lingning manusa, matana ta kami ri kita, tkaning inggita paksa mami, yan kita tuhu wira, lah apa minaka saktinta, tan sakti ri kadhanurwedhan tinanaken mami, tan sakti ri kasta guna tman, tan saktinta matindrya, ah warahen kami n 11 Sajria [h. 30a) bhatari, rika mahasaktin manusa bhatari tan ikang saktining pangaturu, sakti, nga, tan ikang anjalantara, akasa margga, sakti, nga, tan ikang kadhanurweddhan, sakti, nga, apan ika kabeh magawe musuh, lawan kopasargganika, kunang mahasakti manusa bhatari. dresttanta, aditya madhya ahning kalaning lahru, tan hana(ng) jala-dhara, sanaka nila matra, nga, ri ngatawiyat, tan hana mirirning samirana, komala, umibeki bhuwanandha snanira, katami pinalipya kweh, tan karaktan snenira ring sarwabhawa, ika ta mahasakti manusa bhatari, huw·uws ta yan mangkana, apa pwa kalewihane kita." "Sajria [h.30a) bhatari. wruh ring naya, kawi manusa bhatari, dadi dura- dasi, duradharsana, yeka dadi magawaya sarwwa caritta, sloka tatwa." " Lah aparanta bhisa angajinta." "Sajria bhatari tan ika trus mawa juju cetta, ikang bhisa angaji nga, tan ikang wruh ring sastra gama wala widhya

pati." "E Caya Purusa. atyanta ri kamawidyanta. paran pang\ruhaning loka. yan kita sidhha mangkana." "Sajna bhatan. tan kna kinawruhaning waneh, yadyastun manusa bhatari. tan wruh ri wkas. nda nikang jnana paramartha pinaka loka manusa bhatari, aparan pwa hetunta hyun, bhumining abhumi, yan kita tuhu-tuhu paramarthai bwatning manusa ratu tinut manusa bhatari, oh tan padon teku mahasaktinta, kawinta, bhisa angajinta, dwe wibhawa manusa bhatari, kasikepaning uttama mala \vanwanya, kapan pwa kita sangguhen mangatita, apan mangatita huwus atisayaning loka, tan mangatita manusa bhatari, yan tan hana dharmma, katmu ta ri ka ring bhuwana, lawan swargga janma, tan mangkana ta wwang waneh, mangatita turu manungku bhuwana ulatnya, tan hana dhar-mma langgeng ta ri katmu, tiwas tika [h.30b) \'Wang mangkana, tan wruh kami yan alah si Kama Rupini, kapuhan kami, maprang muwah ita, ndin mapasih manusa bhatari, amnanga, duka dgan de bhatari, awdi si aranya, tan awdi manusa bhatari, Ian dhak lungha kami."

Les msat Bhatari Uma, mwang Bhatari Ratih, matur ring sanghyang, kari marangkit ikang prang, asowe silih wantus, tka Sanghyang Siwa Parameswara, ling nira, "E Caya Purusa, Kama Rupini, haywa denta maprang, ulih kita krettaken ikang jagat." "Sajna hyang mami." Mulih pwa Caya Purusa, "Aum lakill les muksah Bhatara Iswara, maluya ring Siwapada, karyya piyakti kang prang.wkasan, ulih Maharaja Kama Rupini, iniring de sang patih karo mwang balanira, mangkana Maharaja Caya Purusa, mulih same ring lawan arinira Sri Laksmi Kirana, mwang balanira, liwat sira sangkeng dharaniwaha, muksa wkasan dinarana, de Sri Laksmi Kirana maluy sagara ikang tambak, tan warnneng awan, dhatang sira ring kadhatwanira ring Sweta Nadhipura, winahan suka ikang bala, awinahan dana bhojana, enak pwa suka nira mawang sanak, sang prabhu kalih padha ta sukanira, sumulu durus wasta kretta ikang bhuwana de sang prabhu kalih. makanimitta trus ring laksana. (h.3la) Maharaja Caya Purusa, mwang Sri Laksmi Kirana kasikep rasaning prabhu ring Sunya. prabhu ring Manuh, a'pan ri kalaning purnnama tilem, sinanggupannya, ingasrayan sira kalih. tan sah Sang Apatih Pradwangsa, sampun ira sinanggapanya

sira. ring sang ,,·iku nagara. 111\ang ring \adwanira. De\ a Guru laksananira. maka hulu kembang Sang Apatih Prad\a ngsa. a muja ta sna ring \viryya prahyangan. tan sah Sang Apatih Prad\ angsa. maka hulu kembang ira.

Tiga )wiring puja nira, wahya, adhyatmika, utama, wahya puja. nga. puspa linga palawa kembang, dhupa dipa, mwang banten saha prakara, adhyatmika puja. nga, pranayama. kacakraning bayu mider, kaputeraning tutur, mwang yoga, samadhi, utama puja, nga. luput sangkcng wahya dhatmika, maka glaring jati sarira, maka palawa tang citta marddhawa, maka kambang tang budhi gambi, maka wija tang manah nirmala, maka dhupadi patang kasatyan [E.31bl maka kukus tang anumana yukti, maka lalamak Sanghyang Eka Twa Urip, maka Sanghyang Pradhana, maka siramta hning-hning, maka mantra Ong ong tan moni nikarakea, maka nustana tang tunggeng tan polah."

An mangkana puja Sri Caya Purusa, huwus ta sira muja, malingih ta sira ring ayatana, tinangkil ta sira dening hala tandha rakyan, tumibakna upadesa dhamuna ring bala yangken sisya, inucap nira ikang sitta-sitta, pinitketaknira, wngi tka sakamantyan, manjing ta sira ring pura. linsu nira tang kapandhitan, nitya maganti ikang rahina wngi, rahina sakamantyan, sumukep ta sira prabhu ring Manuh. manambut ta sira garu wuluku, sasapluke, pasarin ira gaga sawah, tumut ika bala kabeh, mangkana tkaning pamanca \Vara, Sri Caya Purusa, yangken buyut, binwataken ikang pinitnget, ri Sang Apatih Pradwangsa, yangken buyut ta ngalihi, ikang bala nyangken tana ksaranakan

An mangkana de Maharaja Caya Purusa, mangraksa jagat, apan tan mangidhep prabhu sira, wiku pangidhep nira nda Boddha Resi tinengetnira kabwattan, matangyan patta linganing tapa ri gnep nira, lwirnya : Suk/a Boddha Paksa. Suk/a Wana Prasta. Suk/a Tvaga. Suk/a Prabhajita. wyaktinya ikang [h.32a) kadhatwan, hidhep ira kutha paryyangan. sira yangken sukla saha guru. makanimitta wruh kalinganing suci. Sanghyang Raha Makutha Bhuwana hidhep niran maparas. ikang karnna muryya kirat bayu. hidhep niranciwara, ikang bebeddha tikana karatna. hidhep nira yoga patta, ikang sweta camara. hidhep nira bajra bandha. ri kala nira malinggih-ring mahari. tinangkil

rakyan. umncng ta sapranayama. ma\Y\akakcn ta ri kabwata nira Buddha paksa. tan polah sira tan kdhap. magarcana midheng ahning. wkasan lume ring liyating bala.

Mangkana de nira(n) makadi(ng) laksana, kunang wyakti nira(n) Sukla Wana Prasta, ikang raja nagara gunung pangidhep nira. sarira nira yangken wana. prastawanathasa, mababad matwar-t\;varan. mababad. nga, ingilangaken tang suketning hati, matwar-twaran, nga. rinbahaken ira tang paksa mahala, makanimitta tan angulahaken ikang lokika krama, maka dhukuh prahyangan, sariranira, bungken dina sira dadangir, dhukuting nat, sinapwan ta dhuk~tnya tan pantara. yangken tar ikang ambek nirmala, dinangiran tan winch tumuwuh.

Ikang raga dwasa, raga, nga, ikang hyun, lawan mel ik, yangken sapu ikang kanira srayan yangken suket ikang tiga saprakara, lwirnya: cara. kula. (h.32b] maryyadha kama. krodha. artha. raga. dwesa. moha. satwa. rajah. tamah. citta. budhi. manah. bayu. sabda, hidhep. maya. pradhana, tresna. ika ta kabeh sinapwan, rineken ri pakacahan, ikang kaniskriya, matangyan Iali-Ialinan, ikang indriya ri sawisayanya, sira ta jitendriya, nga, makanimitta kang kawasanira mati wisayanya, matangyan tan hana krodha, labha ri sira, ya tapa, nga, ikang kasatyan, ya brata, nga, tan pgat ikang yajna puja ri sira, yajna puja, nga, ikang katadhah sarwwa surasa nitya, yangken inarppannaken ri bhatara, maka pangraksa Sanghyang Atma, mangdadyaken tusta Boddha sita, tan pantara sira(n) pangarccana, arccana, nga, sadharppa(ng) angen-angen bhatara, maka karana samya jriana.

Mangkana de nira Sri Caya Purusa, sumikep kapandhitan, muwah tang tapa rinegep nira, sukla tapa pangidhep nira katyagan, sira yangken ugra panti, tan sah kinanti ikang kajang kandhi, yangken kajang ikang acintya paksa, makanimitta makasongsong nira, yangken kandhi, kang turyyan ta kambara, makanimitta(ng) karaket, yangken isining kandhi, ikang kanilepanan, makanimitta nirtresna, tetep ikang kodaksinan ri sirah, dadi ta sira wangwang (h.33al pratyaksa, kang kawasa ri pangilang niran mala. makanimitta niratkmaka, makahetu tan hana(ng) takut wang ri sira, ri kala niran panaddhah, mamentang muni tang kuku Ian gangsa.

Prad \angsa. gini nggung ring tanda ra k: an. yangkcn ra kaki guru hyang. mu\ ah adining tapa nncgcpnira. sukla prabhaJita pangidhcp nira. ikang dhal em puri 111gidhep111ra pkcn ageng. kasikep rasaning tan molah, tan panak. tan parabi. yangkcn bhregu makanten. suddhaning pati-pati. makanimitta ilangning. ar-ddhaning. ika tang awak. tan pinakawak nira. sakarjja byakpaka de \arcca. saunggwaning ran panaddhah. sahunggwanira paguling. hanan kaistrihajyan. hanan taman, hanan mahari. hanan patani. tan hana(ng) sandeya wikalpa ri sira, tan sinidi ba\ve sira, de nikang wwang ring puri, sahunggwaniran sinambah. sahunggwaniran mayap.

Mangkana Maharaja Caya Purusa, prabhu wisesa, matapa ring raj ya, kunang ikang jagat raksan de nira Sang Apatih Pradwangsa, tan pgat mijil ikang dmak pupumnaman, matangyam kretta ikang bhuwana de nira. "Sajna haji, Sri Utsawati."

Puput sinurat ring bajya asrama, purwwaning wrehatmara, kaparnnah kulwaning lawana sagara, ring dina, Sa, Wa, Kresna Paksa ring Caturtti. ring masa Saddha, paryya tusakna wirupaning aksara. denya bap ka\11ang. mwang kurang lewihnya, apan ulihing wiguna alpa sastra. Ong earaswatyeng namah. Ong sarwwa dewa bhye nama swaha. Ong dirgghyayu rastu tatastu subha mastu.

BAHASA SINGHALANGGHYALA PARWA

[h.lb) Oh Tuhan, semoga tidak ada halangan. Setelah Bhagawan Ramaloka bercerita tentang Semadi Parwa didengarkan oleh Maharaja Utsawati, tentramlah dunia ini. Maharaja Utsawati sangat sedih karena telah lama tidak mendengar cerita tentang Dharma (kebenaran tertinggi). Lalu menuju balairung, dihadap oleh Patih Sudarrna dan rakyatnya. Pada saat itu, baginda membicarakan tatacara menjaga keamanan negara.

Tiba-ti ba datanglah seorang pendeta, murid Bhagawan Ramaloka dari Sanghyang Girisa bernama Bhagawan Suta, yang telah mahir dalam segala keutamaan kerohanian. Datang lalu menyembah Sri Utsawati. Kemudian dipersilahkan duduk. Maharaja Utsawati berkata, "Berbahagialah sang pendeta, dari mana, siapa namanya, dan apa tuj uannya?" "Daulat tuanku, hamba berasal dari Sanghyang Girisa, Empu Tapa Su ta nama hamba." J ika tuan kasihan dan bersedia, maukah tuan menerima para pendeta?" Daulat sang pendeta, tentang itu janganlah diragukan. Ada lagi kesedihan hamba, semoga sang pendeta berkenan dan tidak mengutuknya. Telah lama dan baru kini hamba dapat bertanya dan mendengarkan cerita tentang Dharma. [h.2al Ceritakanlah kepada hamba. tentang leluhur Sri Caya Purusa') " "Daulat Sri Maharaja Utsawati. ini ada terbayang olehku tentang cerita leluhur paduka ... "Semoga l. ) Bhagawan Suta. Ceritakanlah kepadaku, karcna telah lama hingga kini tidak pemah mendengar cerita itul"

"Daulat tuanku_ janganlah ragu _ hamba akan bcrccrita dcngan bahasa polmn1k_m tctapi tidak berupa s/oko atau puisi dan juga bukan sru11 atau Wedo. Hamba akan mencoba menceritakan lcluhur paduka_ dengarkanlah dengan baikl"

Ketika Maharaja Caya Purusa seorang raja sakti beristana di Sweta Nadhipura. negaranya sangat tentram dan sejahtra. Bagaikan sang surya kembar nampaknya di dunia_ karena telah dinobatkannya Sang Arya Laksmi Kirana menjadi raja_ bergelar Maharaja Laksmi Kirana. Itu sebabnya seperti dua ekor naga di kota kerajaan yang dirasakan oleh seluruh rakyat. Keduanya sama pandai_ sakti _ pemberani, dan sama dalam keagungan yoga.

Selain itu, Maharaja Caya Purusa sangat paham tentang

8 (delapan) kemahakuasaan Tuhan (Ida Hyang Widhi), segala bentuk yajna telah dilaksanakannya. Juga tentang Dharma (kebenaran sejati), lebih-lebih tentang batas waktu beryadnya, yang disebut sarwa yajm. seperti : beryadnya dengan berbagai makanan (bhojana yajm). daun- daunan (patra yajm), mas permata (kanaka ratna yajna), dan yadnya yang diperuntukan kepada para gadis (kanya yajm). Juga beryadnya kepada yang melakukan brata (.vajm brata). yadnya yang berlandaskan agama (gama yajfla). semadi yajfla. dan yadnya-yadnya lainnya. Disebut ada tiga kebenaran yakni : Dharma Tapa. Sifatnya sangat utama dan luhur, (h.2b) yaitu : Dharma Sastra. Dharma Teja. dan Dharma Sunya. Semua itu telah dikuasai oleh Maharaja Caya Purusa, yang telah-banyak menggubah cerita parwa dan cerita sloka. Perilakunya senantiasa berdasar Dharma (kebenaran sejati). Rakyatnya diajarkan tentang Dharma Sunya. Muridnya sangat banyak. Semua raja selalu mohon undang-undang (aturan kerajaan) kepadanya. Ia sangat sempuma dan tidak kurang apa pun, sangat bijaksana dalam kepeminpinan karena memiliki kepandaian, keberanian, kesaktian, seorang pujangga, memahami agama. sangat perwira dan sastrawan sejati.

Semua itu membuat namanya demikian terpuji. Semua ajaran brata dari empat pendeta telah terserap dan dipahami olehnya. Catur Asrama Semaya telah dikuasai dengan sempumanya untuk ketentraman dunia. Ditunjang oleh hasil panen tiap tahun yang selalu bertambah dan

yang dibcli harganya mu rah, tcrlebih semua jcnis makanan. Scmua wabah penyakit pencuri yang mencemaskan. dan pembunuhan sama sekali tidak ada. Hanya mati sahidlah orang-orang pada saat itu. Karenanya, sangat sempurna persembahan semua rakyat kepada Maharaja Caya Purusa.

Diceritakan baginda di balairung, juga Maharaja Laksmi Kirana tengah menuju tempat utama yang terbuat dari mas. Keduanya duduk di kursi kebesaran dan bersandar di atas kasur mas. [h.3a) Dihadap oleh para prajurit Wangsa Caya, semua patih, dan rakyat. Setelah terlihat, Patih Pradwangsa menghadap, baginda lalu bersabda, "' Alm bertanya kepadamu, bagaimana caranya sekarang untuk memimpin rakyat? Jelaskan kepadaku bagaimana pendapat rakyat pedesaan, apakah memuji ataukah mencela?"

"Daulat tuanku, terimalah sembah sujud hamba Pradwangsa di kaki paduka! Paduka jangan merasa ragu, semua rakyat yang hamba perintah, tidak ada yang berani mencela. Hamba senantiasa mempersatukannya untuk tidak malas bekerja di pedesaan dan harus mengikuti perilaku yang benar. Hamba juga bersedekah kepada mereka, dan tidak henti-hentinya menceritakan tentang kemuliaan istana. Hamba menugaskan seseorang bernama Lepihan, untuk membagikannya ke kampung-kampung yang sebagian dihaturkan ke istana. Dilakukan demikian, karena hamba selalu memberikan bibit ke daerah pedesaan sehingga menyatulah isi kampung dengan sayur- sayuran. Bukankah paduka selalu bercengkrama ke daerah yangjauh'1 Mereka akan menghaturkan hasil tanaman untuk paduka nikmati. ltulah cara hamba bersedekah kepada orang pedesaan.

Disuruh menghaturkan sebagian hasil sawah untuk dinikmati di istana. Singkatnya, tidak ada yang berani mencela paduka di dunia ini. Begitulah cara hamba dalam memerintah negara paduka."

(h.3b) "Itulah kakek Patih Pradwangsa. jangan kurang hati-hati membinanya agar aku senantiasa dipuja. Begitulah seharusnya. Bukankah aku ini seorang raja utama·) _ beda dengan seorang patih. Segala upaya sang patih merupakan pendeta negara. sebagai rakyat. kan ·awan. dihonnati. mcmutuskan. dan yang menyenangkan tamu.

demikian·.> Jika mcnycnangkan okhmu dalam mcnga_iarkan berbagai ilmu. scpertinya aku tclah dijaga. iika ada menyebutkan sebagai raja utama di Buh Loka (dunia bmYah). itu adalah keliru. Beda halnya dengan keutamaanmu 0

"Daulat tuanku. jangan ragu menyebut hamba seorang patih panutan masyarakat seperti: kejujuran. kesucian hati, dan kepandaian hamba yang tentunya tidak pemah mencapai Upasarga (keinginan). Singkatnya bagi hamba (Pradwangsa) keteguhan itulah tingkah laku utama seorang patih. Sedangkan perilaku seorang pendeta negara (adalah) meniru Brahrnana Siwa, Budha. dan Pinandita Purus (pendeta yang telah mencapai kesempumaan lahir bathin). Ciptakanlah seni sastra, agar sama-sama mempunyai suatu ciptaan. Entah itu berupa kidung, kakawin [ ...] air suci beliau bagaikan Mem (bangunan suci agama Hindu) dalam menerapkan tata tertib demi kokohnya keutamaan sang raja. Janganlah dipertentangkan [h.4a] yang menjadi tujuan utama itu. sebab hanya satu Tuhan yang dituju sebagai pelindung dalam mencapai nirwana/kesunyataan.

Seperti halnya Sanghyang Lingga Manik yang ada di candi atau ubun-ubun. Pendeta Utama dari timurlah yang mengetahui tentang cahaya Lingga. Juga Brahrnana Siwa dari selatan mengetahui akan cahaya Lingga bagian selatan. Sang Brahrnana dari barat mengetahui tentang cahaya Lingga bagian barat, dan yang mengetahui cahaya Lingga bagian utara adalah Sang Budha. Tetapi hamba (Pradwangsa) tahu akan rahasia Sanghyang Lingga. Itu sebabnya keempat tadi menjadi guru hamba. Singkatnya, keempat itu janganlah dicela. Terlebih-lebih jika ada gubahan (terbitan) yang dikerjakan sesuai dengan kemampuannya. Hamba mengharapkan agar gubahan dari Sastra Dharma dijadikan Candi Pustaka (buku suci) selama pemerintahannya, sehingga segala pemikiran menjadi suatu kenyataan."

Tiba-tiba datanglah Bhagawan Pascati dari niskala (alam maya). Maharaja Caya Purusa segera menyambutnya, dan berkata. "Membahagiakan sekali kedatangan pendeta, karena sangat lama tidak mengunjungi hamba. Sungguh sedih hati hamba." "Wahai tuan. semoga kedatangan hamba ini tuan menjadi panjang umur ... "Daulat sang pendeta. ada yang akan hamba tanyakan kepada pendeta. apakah

yang pcmah pcndcta dcngar tentang kepcmimpinan hamba'' Apakah tcrcda ataukah tcrpuji' 1 Mohon berkenan menjelaskannya kepada hambal 11

(h.4b( "Wahai tuan, tidak ada celanya tuan nwmerintah negara. Tatanan negara sangat baik. Sungguh tidak ada kata-kata buruk yang muncul dari masyarakat desa, karena tuan sangat paham tentang keinginan rakyat. Betapa menunggalnya pikiran rakyat tuan. Juga tentang keutamaan Patih Pradwangsa. Perilaku, kesetiaan, kejujuran, serta kesuciannya selalu dituruti. Itu sebabnya masyarakat sangat setia kcpada tuan lewat kepercayaannya kepada Patih Pradwangsa yang tak pemah bersikap keras kepada orang pedesaan. 11

11 Daulat pendeta, apakah ada zaman duhulu seorang raja yang mengutamakan Dharma (kebenaran sejati) dan tidak tercela seperti diri hamba? Mohon ceritakan kepada hamba! 11 "Daulat tuan, hanya tidak perwira (karena) ia seorang wanita. 11 "Daulat pendeta, adakah daerah lain selain negara hamba? Dimanakah tempatnya dan siapa nama rajanya? Ceritakanlah kepada hamba!" 11 Wahai tuan, janganlah merasa 11 ragu, dengarkanlah dengan baik!

Pada zaman dahulu ada daerah bemama Lungidning Langghyala. (h.Sa) Di daerah itu tidak ada pemimpinnya, juga beritanya. Dan yang satu lagi bernama Singghalangghyala. Letaknya di sebelah selatan dari negara tuan, dibatasi oleh dua samudra. Di sana penuh dengan pasir sehingga sedikit berbeda dengan Lungidning Langghyala. Besarnya sama, bentuk dan jumlah gunungnya sama. serta keadaannya sama. Juga sungai, wilayah, dan istananya sama-sama indah. Namun bedanya, semua penduduk di sana adalah wanita. Istana raja utamanya bemama Singghalangghyala. Rajanya bemama Kama Rupini. Ia adalah penjelmaan Bhatari Uma dan menjadi raja wanita, beristana di Sunyalayapura. Mempunyai dua orang patih wanita yakni Patih Rajapati (adalah) penjelmaan dari Bhatari Saraswati dan Patih Narayana (adalah) penjelmaan Bhatari Sri. Maharaja Kama Rupini adalah penganut Budha. yang telah tamat berguru dari Sang Datu yang berasal dari hutan ...

"Wahai sang pcndcta. pcrtanyaan hamba lagi. mcngapa pcnduduk di Singhalangghyala tcrus bertambah padahal tidak ada orang laki-laki di sana'>" "Daulat tuan. wanita-\Yanita di sana bersuamikan angin Setelah angin itu menyusup selama tujuh bulan lahirlah scorang anak wanita dan tidak pemah lahir laki-laki. Sebab telah kena kutuk dari Bhatari Parameswari. Mereka tidak mau beranak tanpa suami. Semuanya memakai pakaian dalam. ada yang sengaja menghitan1kan \ajah dan bersanggul perucut. Oleh sebab itu setiap tujuh bulan. lh.5b] semua gadis diberi perhiasan gelang. kalung, pakaian dalam. serta empat buah pembalut badan berukuran panjang. ltu sebabnya Maha- raja Kama Rupini menjadi raja utama dan sakti. Patihnya sakti, rakyatnya banyak, sehingga bertambah megah dan tersohor raja wanita itu."

"Daulat pendeta, mengapa dewata menciptakan dunia seperti ini? Terasa dua adanya Sanghyang Surya. Lagi pula, dulu Patih Pradwangsa pemah bercerita tentang negara Singhalangghyala, mengapa tidak dijelaskan tentang Bhagawan Siwas-Bhuda, ketika aku pergi dari Tega! Pamaya yang kedua?" 11 Daulat tuan, sungguh lupa hamba (Pradwangsa). Memang dulu ada cerita Bhagawan Siwas-Bhuda. 11

(Dilanjutkan lagil, 11 Setelah Bhatari Parameswarl menciptakan daerah Lungidning Langghyala. lalu menciptakan daerah Singhalangghyala. 11

"Jadi singkatnya oh kakek (Pradwangsa), pada zaman dulu sang pendeta menganugrahi kembali tentang adanya dua surya? Menurut pendapatku, akulah (Prabhu Caya Purusa) sesungguhnya surya di bumi ini ...

Sang pendeta lalu berkata, ''Wahai tuanku, coba pikirkan tentang bumi ini. Dapatkah dikatakan bumi jika ada surya tanpa bulan? Singkatnya. surya adalah tuan sedangkan bulan adalah sang prabhu wanita. Jika tuan ibarat bulan maka sang prabhu wanita ibarat surya." "Wahai sang pendeta. tidak benar demikian. Itu sangat sulit menurutku. Sepatutnya tidak begitu perilaku seorang raja utama. [h.6a) Bagaikan membawa manik yang beratnya sebesar burung merpati. Jika begitu ia memegang tapuk pemerintahan. tentu ada musuh yang tak terkalahkan Begitulah seyogyanya bila mencari nama baik secara terus- menerus agar tidak hilang begitu saja Perlu juga dipikirkan secara matang. diingat-ingat. entahkah itu berupa sadrip11. sadg11na. dan juga

tuan ''" "Daulat pendeta, aku ingin menyerang sang prabhu wanita sehingga negara Singhalangghyala dapat dikuasai." "Wahai tua~. janganlah demikian. apakah tuan menganggap hamba seorang pendeta ini menentang tuanku ? Sungguh tak terkalahkan negara Singhalangghyala oleh tuan. Janganlah tuan sangat bernafsu. Walaupun kesembilan dewata menyerang Singhalangghyala. rajanya tidak akan kalah. Sebab sangat sempuma keagungannya serta kesetiaan janji Sang Budha (penganut Budha), yang tidak ubahnya dengan sang prabhu wanita itu. Janganlah tuan ku rang waspada, jika menyerang Singhalangghyala." Seketika itu menghilanglah Bhagawan Pascati. Maharaja Caya Purusa bersabda, "Wahai Kakek Patih Pradwangsa, kini rencanaku adalah menyerang Singhalangghyala. Suruhlah utusan untuk berkabar kepada para pemilik perahu yang ada di samudra selatan agar menyiapkan makanan [h.6b] serta menyuguhkan yang patut dimakan! 11 11 Wahai tuanku, tak ada yang tertinggal. Semua nahoda perahu telah hamba datangi agar memutar haluannya kembali. 11 "Pikirkan juga oh kakek, tentang ilmu panahku, agar dapat dipahami oleh semua rakyat. Juga senjatamu persiapkanlah segera! Aku akan melakukan pemujaan. 11

Maharaja Caya Purusa lalu masuk ke istana bersama Maharaja Laksmi Kirana dan melakukan pcmujaan. Patih Pradwangsa meyiapkan kendaraan untuk rakyat. Sang Arya Kostuba dipanggil kemudian dipakai utusan agar selalu menyiapkan pergantian setiap siang malam. Saat itu juga ia pamitan kepada Dyah Niscayapati dan Sang Arya Laksmi Kirana yang masih berada di dalam istana.

Raja keluar dari dalam istana, lalu disambut oleh Resi Siwa-Budha beserta Brahmana selaku purahita (pengantar upacara). Setelah demikian, lalu membagikan hadiah yang baik-baik dan rakyat bersorak gembira. Raja berkata, "Kakek patih. sudahkah selesai menyiapkan seniata''" " Daulat tuanku. persiapannya telah selesai." Akhirnya berangkat menaiki kereta, dikusiri oleh Sang Sutapa diiringi Kuda Jayasatru berbulu putih diapit s11ng 11. Rakyat bersorak-sorak di bawah

mahapatih bcscrta t1 ga orang apsara scla1'u para mantri. scrta scpuluh orang patih.

Setclah lama di pcr:jalanan. sampailah di pcrbatasan kerajaan Sunyalaya. Maharaja Tisnawa nama rajanya Di tcpi pantai istana. bcliau menyambut kedatangan Prabhu Caya Purusa. lh.7aJ Setelah rnembagikan minuman lalu menuju tepi pantai. Tak lama kemudian scgera tiba. Berkata Sri Caya Purusa. "Wahai Kakek Pradwangsa, adakah senjataku yang an1at sakti bemanrn Sadhana Trisara Senjata itu dapat menciptakan jalan dan jembatan besi yang sangat kokoh dan dapat dile\ati oleh seluruh rakyatku. Akan kulepas sekarang." Setelah senjata itu tertancap di perut samudra. lalu segera muncul jembatan besi yang panjangnya seratus yo;ana,

Tak terungkapkan ceritanya, kini yang berkumpul di Singhalangghyala adalah rakyat Sri Caya Purusa yang datang terus- menerus. Sang raja telah sampai di tepi samudra diiringi oleh para mantri berkendaraan kuda dan kereta. Sementara semua balatentara wanita menyiapkan senjata. Maharaja Kama Rupini membagi-bagikan hadiah. Yang berpangkat Puf)urnaman dihadiahkan dadar cawet penganyar-anyar dan kepada prajurit yang masih gadis diberi gelang. Yang berpangkat Catur Angga diberi baju. begitu juga yang berpangkat Parinama. Pamgetan. dan seterusnya. Semua rakyat diberi kesenangan, seperti: minum-minuman, berlatih serta menyelidiki rakyat yang menjadi Bingkak dan Thermakikat. (h.7bJ Maharaja Kama Rupini segera berangkat diiringi oleh kedua patihnya. Di barisan paling depan adalah pendeta dan mengenakan busana biru langit, berbendera biru tua dan hitam batu. Demikian bendera-bendera berbarisan. Kedua patihnya selalu dekat dari sang raja (Prabhu Kanya). Sangat banyak praJurit wanitanya dan semuanya berjalan kaki.

Tak lama dalam perjalanan. yang siang malam melewati ladang, sungai. hutan. dan ·wilayah lain. akhimya kedua pasukan tiba di tepi samudra. Masing-masing telah berjalan seharian baik dari istana Maharaja Caya Purusa maupun dari istana Prabhu Kanya. Rakyat yang rnas1h rnembujang semuanya membuat perkemahan

Ccritakan Maharaja Caya Purusa tcngah berdiskusi dengan Patih Prad\angsa tcntang tugas yang dijalani oleh utusan penyelidik. Tiba- tiba datanglah-utusan. Sang Patih Prad\rnngsa lalu bersembah sujud, "Daulat tuanku. bagaimana rencana kita sekarang') Kini telah datang prajurit wanita untuk melawan paduka. Hamba telah menyuruh utusan penyelidik, dan menurutnya bah\a musuh itu banyak sekali, dan banyak rakyatnya yang masih gadis. Ada dua orang patih yang diandalkan oleh Maharaja Kama Rupini. Menurut hamba, janganlah tuanku kurang hati-hati karena musuh itu sangat mengagumkan, \alaupun semuanya wanita seperti cerita prabhu utama di bumi. Janganlah tuanku kurang waspada, [h.8a] jagalah kesaktian tuanku dan ingatlah akan anjuran hamba terdahulu ketika perang di Tega! Samaya pada saat tuanku ingin mengalahkan musuh dengan keris. Bukankah hamba tidak mengizinkan untuk melanjutkannya? Menurut hamba, renungkanlah itu tuanku dan jagalah diri baik-baik supaya tidak menyakitkan tindakan musuh yang mengagurnkan itu.

Seperti halnya badan ini, yang tak ubahnya sebuah kereta yang harus dijaga dari segala kesulitan. Kereta adalah tempat suka dan duka. Sedangkan kuda adalah Dharma (kebenaran sejati). Kekangnya adalah budi, yuganya adalah semara d11d11, bebukungnya adalah Tryantah Karamah. batekannya adalah pikiran, indennya adalah kasih sayang, talinya adalah tenaga (kekuatan). wewakulnya adalah rasa suka bersedekah, tempat duduknya adalah pikiran yang suci, bubatnya adalah merasakan inti ajaran agama, balainya adalah perilaku yang benar, pengikatnya adalah ketenangan, kasurnya adalah pikiran yang suci dan bersih, jejenengnya adalah kesetiaan, dan ulap-ulapnya adalah kewaspadaan terhadap perumpamaan. Siapakah itu yang naik kereta? Hamba katakan bahwa tuanku ibarat Sanghyang Wisesa, yang menjadi payungnya adalah Sanghyang Acintya, kus1rnya adalah Sanghyang Atma, belnya adalah perkataan suci, pipintennya adalah ingatan. Itulah sebabnya semua pekei:jaan akan terlaksana oleh pikiran. (h.8b] dibantu oleh indra secara silih berganti. Yang menjadi rodanya adalah kereta yang tengah berputar dan berjalan di tempat yang sulit. seperti : di jurang. sungai, bebatuan. dan di atas padas. Jika kusirnya cerdik/bijaksana. kesatria. dan senang tentu jalan kereta itu akan enak.

Sedangkan jika kusirnya bodoh. tidak kcsatria. dan scdih tentu kercta itu akan rusak dan musnah tidak dapat diperbaiki.

Begitulah sesungguhnya badan ini. Jika kusirnya (sanghyang Atma) bersifat bodoh. pengecut dan bersedih jelaslah badan ini akan rusak. Singkatnya. ingatlah oh tuanku! Waiau musuh itu berwujud \anita sepertinya hati hamba terasa teriris. Sadguna dan Sapia Upaya hampir tak terpikirkan.Seyogyanya tuanku lebih meningkatkan kesaktian dan suka berteman. Tingkatkan ajaran Samhita dan Sapta Upaya agar musuh dapat ditaklukkanl" "Wahai Kakek Patih Pradwangsa, apakah aku tidak berupaya? Sebab upaya itu dapat diketahui dengan adanya tanda takut berperang atau mengadu marah."

"Oh tuanku, janganlah demikian. Apa jadinya seorang yang berani Jika benar-benar tanpa upaya dan berperang begitu saja. Pikirlah, bahwa peperangan disebabkan oleh adanya keberanian dalam menentukan siapa teman clan musuh." Patih Pradwangsa melanjutkan lagi, '· Sebaiknya sekarang tuanku mengirim utusan kepada ratu wanita itu [h.9a] untuk mema-dukan kesatuan pendapat sesuai dengan perjanjian perang. Janganlah ragu oh tuan, perintahkan sejelas- jelasnya! Tentu akan menang dalam perdamaian dan akan terlihat kemampuan musuh. iika kuat, kalahkanlah dan jika mau merendah ampunilahl"

"Wahai Kakek Patih Pradwangsa, siapakah patih yang patut dijadikan duta?" "Oh tuanku, tiada lain adalah Patih Suryanasa yang patut sebagai duta. Sungguh wibawa dan utama dia." "Wah benar katamu, aku sekarang menulis sepucuk surat." "Oh tuanku, segeralah!" Lalu diperhatikan kemudian dibaca oleh ki patih. "Oh tuanku kini hamba membaca Sanghyang Sandya (surat) seperti perintah tuan."

"Arti dan isinya:

Mahararaja Caya Purusa selaku matahari. Maharaja Kama

R11pini sebagai bulan. Keduanya sebagai penerang dunia dan keru;uh sorga. Jika ada terdengar marahari dan b11lan yang lain. itu akan kubunuh Perlu diketahui oleh ra/a di Singhalangghyala dalam membalas s11rar ini. apakah menyerah atau melawan? Surat ini adalah kehendak Sri Caya P11rusa."

"Oh tuanku_ kiran~ a masih pcrlu dipikirkan penginman surat in1" "Ah kakek_ menurutku surat itu kirimkan saja-" Demikian kata Sri Caya Purusa. Surat itu lalu dih1as. dibungkus dengan kain lungsir (endek, Bali) \ ama kuning dan diletakkan di atas karas lalu diusung. (h.9b) Patih Suryanasa segera menghaturkan sembah sujud. Seusai dinasihati lalu berangkat mengenakan payung kuning. Surat itu diapit dengan sangka dan gendrang. diiringi seratus prajurit bersenjata lengkap.

Tak lama dalam perjalanan sampailah di tempat raja wanita. Semua prajurit pengawal bersikap waspada. Kedua patih Prabhu Kanya mengetahuinya, bah\va itu (adalah) utusan uta-ma. Patih Suryanasa segera menghadap Raja Kama Rupini, seraya menghaturkan surat. Surat itu diterima oleh Patih Narapati yang selanjutnya dibaca oleh Patih Narayana sebagai berikut :

"Arti dan isinya: Maharaja Caya Purusa selaku matahari. Maharaja Kama Rupini sebagai bulan. Keduanya sebagai penerang dunia dan ketu;uh sorga. Jika ada terdengar matahari dan bulan yang lain. itu akan ku bunuh. Perlu diketahui oleh raja di Singhalangghyala dalam membalas surat ini. apakah menyerah atau melawan.? Surat ini adalah kehendak Sri Caya Pumsa. "

Seusai membaca Patih Narayana lalu bersembah sujud ke hadapan raja wanita, dan berkata, (h.lOa) "Siapakah namamu wahai duta?, sungguh seorang putra Kesa Dwaja layaknya, berbusana kesatria utama." "Oh Patih Rajapati, hamba (adalah) putra Pradwangsa bernama Patih Suryanasa-" "Wahai Patih Suryanasa, kembalilah dan katakan kepada Sri Caya Purusa bahwa prajurit raja wanita tidak akan menyerah. Lebih utama mati semua orang Singhalangghyala tinimbang kehilangan kesatriaannya. Ketahuilah wahai patih, akulah sebagai panglima tertinggi raj a di sini." Demikian kata Patih Rajapati seraya menyerahkan surat itu kepada Patih Suryanasa sebagai tanda penolakan atau melawan. Patih Suryanasa lalu kembali.

Tida k disebutkan dalam perjalanan. sampailah di tempat perkemahan Maharaja Caya Purusa. Kemudian mengatakan bahwa prajurit Prabhu Kanya akan melawan. Lalu Patih Pradwangsa segera mengumumkan agar seluruh prajurit bersiap-siap angkat senjata Setelah scmuanya bersenjata lengkap, penyerangan terhadap prajurit

dimulai. Mcletuslah pcrang sengit antara prajurit Pumsa dcngan praJunt Bingkak di Tega! Semaya Wedya. Perang sangat ramai saling bcradu kckuatan silih berganti. Bhagawan Pascati tumt menyaksikan d1 saat bcrkecamuknya perang itu. sementara Maharaja Caya Pumsa tcngah asyik menyaksikan prajuritnya berperang. Patih Suryanasa bcrhadapan dengan Patih Rajapati, Patih Cittaratna berhadapan dengan Patih N arayana. (h.1 Ob) Mereka berperang mengadu kelincahan. saling rebut senjata serta mengadu kehebatan senjatanya. Tidak ada yang kalah atau menang.

Maharaja Caya Purusa segera maju tanpa senjata, diiringi oleh prajurit penga\al diapit sangka dan gendrang seraya berkata, "Wahai prajurit Purusa. hentikan perang kalian!" Kata-katanya terdengar jelas oleh para prajurit dan Maharaja Kama Rupini. Kemudian maju tanpa senjata diapit oleh prajurit pengawal bersenjata lengkap. Semua prajurit bertempur secara terpisah Kemudian sama-sama mendekat, saling jemput, dan sama-sama tanpa tunggangan. Jarak peperangan mereka (adalah) lima kali tinggi badan dari kedua raja yang tengah berhadap- hadapan.

Raja wanita berkata. "Wah berbahagialah tuan raja yang

memerintah Jawa datang ke Singhalangghyala. Apakah tujuan tuan menyerang hamba?" "Wahai Prabhu Kanya, kedatanganku (adalah) ingin bertanya kepadamu ten tang adanya satu matahari setiap hari." "Wahai Sri Caya Purusa, itu benar tuanku." "Wahai Prabhu Kanya, kau telah memaklumi bahwa akulah matahari di dunia ini. Tetapi kudengar, bahwa kau (adalah) matahari di daerah Singhalangghyala. 11 ltu tidak benar dan mustahil ada dua matahari di dunia.

"Wahai Maharaja Caya Purusa, tentang adanya dua matahari tentu tidak apa-apa karena tuan di negara Lungidning Langghyala sedangkan hamba di Singhalangghyala." (11 a) "Ah tidak benar demikian, bukankah bumi ini tunggal ? Langit juga ditempati oleh satu matahari. Singkatnya. tidak ada dua yang utama. Sewaktu terciptanya dunia. Sri Caya Purusalah yang berkuasa di sana sedangkan Kama Rupini berkuasa di sini." "Wahai Prabhu Kanya, walaupun ada seratus keutamaan yang menciptakan bumi ini, mencemohkan keutamaan yang lain. namun itu sesungguhnya ada di sini. Apakah tujuan Sri

Caya Puru sa mcmbunuhku '

1 Apakah suatu upa~a agar tuan tak tcrhalang untuk mcnguasai Singhalangghyab'1Jangan ragu Sri Ca' a Purusa mcmulai bcrpcrangl"

"Wahai Prabhu Kanya, mengapa semua praj uritku tidak mati olchmu ? Dcmikian juga prajuritmu. Jika Prabhu Kanya dapat kukalahkan. tcntu tujuan kita dalam mengadu keberanian segera datang dan prajurit akan diam mcnyaksikan peperangan kita." "Wahai Sri Caya Purusa. ayolah berperang. aku adalah penganut Budha yang tak pernah membunuh segala yang berjiwa, lebih-lebih manusial" "Wahai Prabhu Kanya. bukan begitu. Yang namanya raja utama tcntu tak akan tidak tinggal diam jika ada musuh, tetapi tidak menyerang. lh.llb) Jika kini tuan berlaku seperti pendeta, tentu jiwa raga itu menjadi perlindungan kita. Hal ini merupakan sarana untuk mempertebal kebajikkan serta keputusan dari dua penganut yang mendasari seseorang pada akhir kematiannya. Singkatnya, seranglah akul"

Raja wanita berkata, "Wahai Sri Caya Purusa, seranglah terlebih dahulu, aku tak akan membunuhrnu, tetapi bukan berarti takut mati. Ketahuilah, aku ini tak akan terkalahkan olehmu. Aku senantiasa bcrtujuan baik untuk semua makhluk. Aku sangat menyayangi masyarakat, jika orang-orang di Singhalangghyala menjadi sima dan ditawan oleh prajurit-prajurit Purusa. Nah, jika aku kalah olehmu lalu apa yang kau kehendaki. apakah akan beradu senjata?" "Wahai Prabhu Kanya yang bersenjatakan gandhewa. kini aku tanpa senjata. Seranglah aku dengan segala senjata atau dengan senjata gaibmul" Prabhu Kanya lalu berkata, ''Wahai Sri Caya Purusa, itu keliru. Itu berbalik namanya. Engkau bersenjata panah sedangkan aku tidak. Seranglah aku I Tentu tak akan apa-apa kesaktiannrn pada diriku dan aku tak akan membalas dengan senj ata. Cecangkriman/ah yang kupakai membalasnya. Apa pun bentuk kesaktianmu tentu tak akan mengenai aku. Itu berarti cngkau telah kalah. lh.12a) Engkau melepaskan segala senjata ke arah diriku. dan aku tak pernah kena olehnya. Engkau terkenal sangat sakti. namun itu keliru karena aku tidak apa-apa oleh seranganmu. iika engkau benar-benar tangguh. la,,anlah aku sckarangl jika tidak berhasil mengalahkan cecangkrimank11. tcntu engkau Prabhu Caya Purusa akan mati. Tetapi aku berusaha tidak akan melakukan pcmbunuhan karena sa ~ang tcrhadap jiwa yang mati tanpa sakit Jika cecangkrimank11 mi

yang membunuhmu. Ii: •'·..:urlah. puasaku. Singkatnya. mcnycrahlah oh raja Caya Purusa kepadaku dan negeri Lungidning Langghyala mcnjadi kekuasaanku'" "Wahai Prabhu Kanya. belum pemah kcbcranian Caya Purusa tcrkalahkan oleh musuh. Terlcbih-lebih mcnycrah kepada musuh. Apakah tindakanku terlalu lancang jika kau sahabatku mati'1""Jika demikian Caya Purusa, sungguh tckun sifat kesatria pada dirimu. Ayolah angkat senjatamu!" Demikian jawaban raja \Yanita.

Maharaja Caya Purusa lalu mengambil senjata gandhewa yang ujungnya sangat runcing. Kemudian meletakkan pada tali busumya, dan diciptakan agar scnjata itu menjadi sakti serta tampak banyak. (h.12b) Ketika Maharaja Caya Purusa membidikkan gandhewanya, Maharaja Kama Rupini diam dengan tenang karena tengah- memusatkan kekuatan bathin Sang Budha tanpa disertai upacara. Wujudnya berubah dan bisa menghilang dalam sekejap. Di kepalanya tampak kilauan cahaya, rambutnya memanjang, dan membebaskan diri dari segala keduniawian seperti Sang Budha. Beliau tidak memakai genitri, tanpa upacara, tidak menghembuskan nafas, tanpa menyelarni tutur. tanpa yoga. tanpa semadi. tidak bergerak, diam dengan tenangnya, tidak berbentuk badan. tak perlu tempat beryoga, tak bernafsu, tak ada kekerasan, tak mengingat keluarga atau segala permasalahan, tidak mengenakan pakaian, tanpa tali · rambut, tanpa perhiasan tangan, tanpa paragi, tanpa bunga, tanpa ikat pinggang, tidak memakai berbagai upacara, tetapi hanya sinar di kepalanyalah pakaiannya. Bhatari Budha yang dipusatkannya, bukan Kama Rupini, bukan Dewi Uma, dan bukan juga Parameswara. Karena tanpa tutup kepala (gelung. Bali). tidak bermata tiga, dan tidak bertangan empat. Sang Datu Tri Budha namanya, berwama biru langit, serta berdiri di atas teratai putih mengeluarkan cahaya Hyang Gada Walamaya.

Pada saat demikian, muncullah Sanghyang Surya dan Sanghyang Ratih. Lalu dipegang dan diangkat tinggitinggi dengan tangan kanan dan kiri. Saat itu juga dipanah olch Maharaja Caya Purusa "Nyong atkeng. singikskar. kricik. dosar. e (demikian bunyi senjatanya) mengalir dari tangannya. ditambah yang datang dari alam gaib. Berdentingan jatuh di bumi, dan tidak mengenai Sang Datu juga prajuritnya. fh. I Ja) Maharaja Caya Purusa mengetahui bahwa senjata

Sampaffa {scnjata yang bisa muncul banyak) tidak mcngcnai sasaran. Segcra mcngambil senjata Sayaka dari tempatnya. scraya mengucapkan mantra Sanghyang Panca Gretta: "Ong swakaryya siddhi hay'.i'Onta yeffa swahinah. amarajaya isanayesca. gongcar pradhat ··. Tetapi Sang Budha tetap luput dari Sanghyang Panca Gretta.

Diganti lagi dengan Sanghyang Tri Widyastra dengan mantra: "Ong amas sarjfiayat. umjah saint nitya mantakaznbawet. kong sar faros· ·. Juga tidak mengenai Sang Datu. Lalu mengambil Sanghyang Cakra Ratna Kamala dengan mantra: ·· ong kama/a swayam guwah. keng sar ··. Luput juga Sang Datu dari Sanghyang Ratna Kamala. Kemudian mengambil Sanghyang Bajra Wirupa dengan mantra: "Ong bajra jnana swayet. keng sar ". Tetap juga Sang Datu luput. Lalu beliau ingin melepaskan Sanghyang Sphatika Sunya Maha, yang dapat berubah menjadi Pradwangsa Tri Swaha.

Setelah dilihat di tabung senjatanya, temyata senjata itu tidak ada. Sedangkan dulu ketika mengalahkan Maharaja Trayo Dasa Windu dan Maharaja Balinata senjata itu masih ada. Karena sangat marahnya, maka segera melepaskan kasidyastran (senjata gaib) yakni: bhragu sayaka. guntur gelap disertai batu dan padas. Namun semua itu tunduk di hadapan Sang Datu. [h.13b) Diambilnya senjata Yang mengeluarkan api, juga sima di hadapan Sang Budhanata. Selanjutnya, gunung dilepaskan juga tidak mengenai Sang Budhanata. Ketika Maharaja Caya Purusa menciptakan butakala Yang mengerikan, Sang Datu segera berdiri dan menunduk ke arah Sanghyang Pertiwi. Asap mengepul ke angkasa, bersinar dan luar biasa besamya. Tentramlah hati Sang Datu karena luput dari marabahaya. Luar biasa kesaktian Prabhu Kanya, seakan bergetar dan bergeser posisi Bhatari Basundari.

Maharaja Caya Purusa terkejut karena seluruh keampuhan mantranya tidak berhasil. Amarah Maharaja Caya Purusa semakin bertambah, hatinya seakan membara, mukanya merah padam, keningnya mengkerut, kedua tangannya berdenyut. lalu berdiri bagaikan singa galak Yang dapat berubah menjadi berbagai wujud. Dipilihlah wujud Dewata Nawa Sanga (sembilan dewata). Terutama berupa Hyang Tri Purusa, (Bhatara Iswara). Kini ·wujud Maharaja Caya Purusa adalah Bhatara lswara, memakai mahkota bermata tiga,

mcmaka1 hah1n _ bcrwarna putih_ scra' a menycrang bcr1atuhan. Kccmpat tangannya mcmukul dcngan ha/ro dan .rnyako. Bhatara lswara scmakin murka karcna bajranya tidak berhasiL lalu maju bcrupa Prames\ara (de\a mahasakti).

Dikctahuilah oleh Sang Datu akan Purana Tri Buddha lh.14al Yang mcnjadi tujuan Bhatara lswara. Beliau pun mengikutinya. Maharaja Caya Purusa sangat malu karena telah menjadi sebab berakhimya dunia dan diberkahi penghancuran dunia_ sehingga tak ada menghamba kepadanya. Walaupun berupa Bhatara Parames\·ara, Sang Datu Kama Rupini tetap tak terkalahkan karena merupakan Sang Buddha Kanya Rajya. Latu menghilang dan kembali menjadi Prabhu Kama Rupini. Terlihatlah oleh Bhatara lswara yang masih berwujud Parameswara. Kemudian menghilang dan kembali menjadi Prabhu Caya Purusa.

"Wahai Maharaja Caya Purusa, seranganmu tak membuat diriku apa-apa. Sekarang apa maksudmu?" Sri Caya Purusa lalu menjawab, "Ayo. seranglah aku dengan segala senjata sakti maupun gaibl" "Ah tidak. kau tidak akan pemah kena dari berbagai serangan. Aku akan ternoda jika melepaskan segala panah atau kekuatan gaib kepadamu_ ,,·alaupun kutukan menimpa diriku. Namun cecangkrimanlah kupakai membalasnya. Tentu kau akan kena olehnya. Aku sangat paham akan kesaktianmu yang tiada tanding. Walaupun kiranya ada yang menyamainya. semoga menjadi tunduk. Akibatnya, kau akan mengakhiri segala yang ada di dunia ini. Kau benar-benar raja yang sangat utama, keberanianmu luar biasa, berpengetahuan tinggi, ibarat seorang pujangga. dan sastrav.·an sejati. Berkat ajaran Dharma Sunya (kamoksan), muridmu menjadi banyak. ltu sebabnya engkau bagaikan orang,mabuk atau kanak-kanak lh.14b) bermaksud menghapuskan kebenaran sejati dengan menghancurkan negeri Singhalangghyala. Sungguh merasa tidak ada yang menyamai Itu merupakan sifat angkara murka dan kehilangan rasa kasih sayang."

"Wahai Prabhu Kanya. seranglah aku sekarang jugaill "Wahai tuan \aspadalahl" Akhirnya Maharaja Kania Rupini menghilang_ dan dalan sckcjap tclah mcnjadi sumber air yang amat jemih sebesar pohon cntal (lontar) dan tanah (Bhatari Perti\i) membubung ke atas sangat

Caya Purusa berkata. "Wahai Prabhu Kan~ a. luar biasa kesaktianmu. sangat tinggi ilmu tu an. Lalu dikutuk dengan mantra: ganawat-usanah yangsca/l Sumber air menjadi Icnya:p,._ dan muncul Lingga Manik penuh dengan permata bernama nila. "Wah sangat sakti raj a wanita ini." Kemudian disambut dengan wisanacatarawat, Sanghyang Lingga Manik segera lenyap. Namun muncullah berbagai bentuk candi dikelilingi berbagai pem1ata. Kilauan cahayanya berkedip-kedip terus-menerus. Tingginya tujuh depa (sekitar 14 meter) dan nampak bergerak-gerak. "Wah berbagai ilmu dikeluarkan Prabhu Kanya (begitu bisikan Maharaja Caya Purusa), seraya mengucapkan mantra : Wedya ayem twam sambaddhawat." Setelah mantra itu diucapkan, hilanglah candi yang penuh permata tadi dan ti dak ada yang menggantikannya lagi. Prabhu Kanya lalu mengatur nafas dan memusatkan pikiran. Maharaja Caya Purusa terpaku karena tahu bahwa cecangkriman Prabhu Kanya tidak ada penangkalnya. [h.15a] Semua pikiran dipusatkan dan tak ada yang terlewatkan. Ditahannya Sanghyang Urip (jiwa), dirobeknya tubuh Sanghyang Pradana, juga mantranya Dewa Guru. Panca Bayu dan Panca Atma bergerak terlebih dahulu dan segera menghilang. Maharaja Caya Purusa menemui ajalnya, na mun segera diselamatkan oleh Patih Pradwangsa. Semua prajurit menjadi bersedih, tercengang dengan kesaktian Prabu Kanya.

Berselang satu seperempat jam, datanglah Raja Kama Rupini dari angkasa dan berkata, " Wah tuan telah mati. Sungguh tega tuan membiarkan cecangkriman hamba. Hambalah yang menyebabkan kematian tuan, sehingga hamba seakan-akan temoda. Lebih baik hamba mati." Ditahanlah Sanghyang Urip, kemudian menghilang dan matilah Maharaja Kama Rupini. Lalu segera dipegang oleh Patih Rajapati. Setelah keduanya meninggal dunia terdiam bisu. Dewata Nawa Sanga berhamburan dari angkasa, segalanya menjadi diam, dan birunya langit tampak jemih. Di tengah-tengahnya tampak Sanghyang Surya dan tidak bergerak ke barat. Sanghyang Bayu (angin) tidak berhembus. gelap gulita, tiada guntur yang menggelegar, tidak ada cahaya putih. Betapa gemuruhnya firasat maut. Segala cahaya dan pelangi menjadi hi lang. Uap yang berkedip-kedip di saat panas terik semuanya hilang. lh.1 Sb). begitu juga air laut, ombaknya berhenti tiada berbusa dan tidak ada aliramwa. Sungai. pancuran. semuanva terdiam tidak

hc\Yan. burung. semua membisu tiada b1.:rsuara. Juga segala tumbuh-tumbuhan. rerumputan. pepohonan serta tumbuhan menjalar Pohon besar sepertinya marah dan gesekannya tidak bersuara. Demikian keadaan dunia dengan segala isinya. bagaikan turut berduka cita atas kematian kedua raja itu.

Selama dua setengah jam cecangkriman itu diwujudkan oleh Maharaja Caya Purusa di dalamji\anya. Jiwa (atma) dan nafsu belum menghilang dari tubuhnya, juga tenaga yang tersisa. Kini berhasil menciptakan Sanghyang Pramana (tenaga). Datanglah Sanghyang Menget ke tempatnya semula yang menjadi inti dari alam semesta Lalu memasuki tubuh untuk menyadarkannya. Juga Dewa Nawa Sanga dan Panca Rsi. Semuanya memasuki tubuh Maharaja Caya Purusa dan menempati tempatnya masing-masing. Semuanya menjadi sadar dan menyatu dalam jiwa. Kemudian datang Sanghyang Kamajaya ke wajahnya menciptakan ketampanan. Lengkaplah sudah isi dunia dengan tubuh dan dewanya. Terbagilah Panca Bayu, Dasa Bayu, Dasa Atma serta menetap di tempat semula, kemudian diciptakan oleh Hyang Widhi (Tuhan). Perlahan dapat bergerak, bemafas, menggerakkan mulut dan leher serta mengerdipkan mata. [h.16a] Akhimya Maharaja Caya Purusa dan Maharaja Kama Rupini sadar dan hidup kembali.

Setelah itu, seluruh dunia beserta isinya mulai bergerak. Keduanya ingat akan sikap semula. Maharaja Caya Purusa berkata, "Wahai Prabhu Kanya. apakah mantra pemungkasku keliru menghadapi cecangkrimanmur " Oh Maharaja Caya Purusa, mantra pemungkasmu salah. Aku katakan demikian, karena kebijakanmu selalu mengacaukan dunia, tiada guru atau murid, bagaikan disapu bersih sarana pemungkasmu hingga terdengar ke mana-mana. Singkatnya tak terkalahkan olehmu untuk menolaknya. tidak kalah engkau olehku, dan aku tidak kalah olehmu. Sekarang bagaimana maksudmu?'" "'Wahai Prabhu Kanya, mari kita berperang lagi, tadi perangku tidak sungguhsungguh, sebab antara bersenjata melawan tanpa senjata. Ayo sekarang sama-sama menggunakan gandhewa dan anak panah agar tahu kelincahan mengadu senjata Biarlah prajurit kita berperang. Tetapi tancapkan penjor di belakang masing-masing. sejauh lemparan ke belakang peperangan. iika melewati batas pen/or. itu kalah namam a "

"Wah. jika demikian kchcndak tuan. janganlah terlalu tcrgcsa-gcsa untuk bcrpcrang lagi. Sckarang aku akan mcmbcrikan kescnangan. membagi pakaian. gclang. cincin. kalung. baju (h. I 6bJ serta pakaian dalam." Setelah Prabhu Kanya berkata dem ikian. lalu Sri Caya Purusa mundur bersama prajuritnya. Demikian juga pasukan Maharaja Kama Rupini. Masing-masing membagikan pakaian kepada seluruh prajuritnya. Kini penjor telah ditancapkan di medan peperangan. Berjejer tak terhitung banyaknya. Tempat itu sangat luas sehingga bernama Tega! Samaya Wedya. Perang pun mulai berkecamuk sangat ramai. Maharaja Kama Rupini segera maju didampingi Patih Rajapati dan Patih Narayana. Maharaja Caya P urusa pun segera maju didampingi Patih Suryanasa dan Patih Cittaratna. Terjadilah perang dahsyat antara Sri Caya Purusa dengan Prabhu Kanya. Keduanya saling panah dan saling rebut senjata. Peperangan prajurit pun nampak seru, mereka saling lempar berulang-ulang.

Kira-kira tujuh setengah jam perang telah berkecamuk, namun tidak ada mundur keluar batas. Sang Prabhu Kanya berkata, "Wahai Sri Caya Purusa, prajurit Kanya tak terkalahkan oleh prajurit tuan, juga prajurit Purusa tampak masih tangguh. "Ah tidak benar, jangan menyangka Caya Purusa itu takut kepada prajurit wanita. Alm tidak akan mundur dan tidak akan kuletakkan gandhewa ini, j ika tidak ada dewa melerai perangku. Jika guruku yang memisahkan, aku baru akan mundur. Ayo kembali angkat senjatanya agar jelas siapa kalah atau menang' " Demikianjawaban Sri Caya Purusa. Prabhu Kanya berkata, "tuan jangan merasa ragu, ayo adu senjatanyal"

(h.l 7a] Ketika kedua raja itu sibuk sating panah di medan laga, ti ba-tiba muncullah Bhatara lswara menampakkan diri sebagai Sanghyang Jagat Karana. Kedua raja segera menghaturkan sembah sujud ke hadapan-Nya. Sri Caya Purusa dari sebelah kanan, sedangkan Sri Kama Rupini dari sebelah kiri. Dalam keadaan menyembah tangan kedua raja itu diambil oleh Sanghyang Siwa Parameswara, seraya memberi wej angan. "Wahai Caya Purusa. hentikan perangmu. Kalian tcntu tidak ada yang kalah atau menang. karena akulah sesungguhnya diri kalian bcrdua Nab. sekarang pulanglah kc istanamu masing- masingl"

Oh bhatara. Caya Purusa tidak sudi mundur dari medan laga scbelum sirna musuh hamba. Sungguh mcnjadi hinaan masyarakat. karena dikctahui bahwa kcsaktian Caya Purusa tidak ada yang menandingi Hamba sangat malu untuk mundur lantaran hanya musuh wanita." "Wah. maksud.mu ingin membinasakan Kama Rupini')" "Oh bhatara. terimalah sembah sujud hamba 0 "Wah. tutur katamu sangat sombong. Nah, janganlah ragu, bunuhlah aku lebih dulu. Tusuklah dengan panah agar tidak ada lagi Bhatara Guru Parameswara. juga tujuh dunia, tujuh sorga, tujuh lapisan tanah, tujuh gunung, tujuh samudra, tujuh api, dan tujuh mretta. Tidak ada Dewa Nawa Sanga, Catur Loka Pala, Sapta Rsi, Panca Rsi, widyadara, widyadari, lebihlebih detya, danawa, raksasa, yaksa, bhuta pisaca. (h.17b] juga manusia dan binatang. Semua itu tidak akan pemah ada jika tidak ada aku Begitulah akibatnya. Jika Kama Rupini sima olehmu, lantas dimana kau berdiri, karena tidak ada pertiwi/bumi atau tempat berpijak. Dimana kau akan menetap, karena tidak ada angkasa. Juga tidak dapat melihat, tidak ada matahari, bulan, dan bintang. Bagaimana akan wujudmu, karena tidak ada manusia. Walaupun kekuatanmu luar biasa, lalu siapa yang akan melihat dan mendengar? Kuat, namun kosong tak bernujud. Janganlah terlalu andal terhadap kekuatanmu. Walaupun aku Dewa Wisesa (penguasa) dunia, namun dewa dan manusia bukanlah guruku. Alm punya guru dan guruku itu ada lagi gurunya. Kau harus menyadari hal itu, janganlah merasa paling sakti, hingga kau menjadi salah langkah! '' Demikian sabda Bhatara Jagat Karana.

Patih Pradwangsa cepat paham akan wejangan itu, dan lebih waspada akan sikap yang berlandas kebenaran demi keselamatan rajanya. "Daulat bhatara, terimalah sembah sujud hamba di kaki bhatara. mohon belas kasih semoga tidak mengutuk serta menghukum raja hamba. 11 Demikian hatur Patih Pradwangsa seraya menghaturkan sembah. Sementara itu. Maharaja Caya Purusa memusatkan pikiran untuk berbuat sesuatu jika mengundurkan diri. Bhatara lalu bersabda, -- ouh. pulanglah kamu Caya Purusa dan Kama Rupini. Ingatlah 1stananrn masing-masing. Sungguh bhagawanti kalian (h.18a) "Ya Tuhanku. hamba (Caya Purusa) segera akan pulang. walaupun dengan rasa malu. Dunia akan menghina dan mentertawainya. karena kesaktian hamba disamakan oleh Prabhu Kanya. Lebih baik mati tinimbang

yang tiada t:ira" Pat1h Prad,,angsa scgcra 111acbut kc ri s ~ ang sangat ta_i am dari tangan Maha rap Ca' a Puru sa

Bhatara lalu bcrsabda. ··wah Caya Purusa. jauh landing kesakti anmu tinimbang Kama Rupini dan tidak akan kalah oleh mu Aku akan melihat pada saat kau menyerang." Dalam sekejap Bhatara lswara lalu mcnghilang. Adapun keri s yang menyala-nyala ketika di hunus dari sanmgnya dan tidak pernah gaga! dalam membunuh itu segera diambil oleh Maharaja Caya Pumsa dari Patih Prad\angsa. Dhap sap sorot nama kcris itu. Segera di ·tusukkan kc tubuh Kama Rupini sampai menemui ajalnya. Kemudian dipotongpotong oleh Sn Caya Pumsa, dilempar ke empat arah mata angin. dan kepalanya di lempar ke atas.

Kira-kira sepernafasan lamanya. Prabhu Kanya datang dari angkasa dalam wujud sempurna menuju Maharaja Caya Purusa. Namun. pikirannya terpusat pada Bhatari Pertiwi. Di depan teg ger (begitu bunyi belahan Bhatari Dharani/Pertiwi) yang sangat mudah bagi Prabhu Kanya. Belahan bumi itu lalu diterjuni oleh Maharaja Caya Purusa (seg, begitu bunyinya), (h.18bJ kemudian ditutupnya kembali. Teg ghor (begitu bunyinya) saat bumi merapat kembali.

Kira-kira dua kali pemafasan lamanya, Prabhu Kanya muncul dari rapatan bumi dalam keadaan sempurna Maharaja Caya Purusa semakin marah dan segera mengeluarkan upaya sakti. Mata kirinya mengerling dan mata kanannya mendelik. Kaspyar bhor (begitu bunyi) saat membakar Prabhu Kanya. Besarnya bagaikan gunung, merah berkobar-kobar. Maharaja Kama Rupini hangus terbakar api, hingga mati berupa abu. Maharaja Caya Pumsa segera mengeluarkan angin dahsyat dan menghembuskan nafas tiga kali dengan mantra: oh ih Seketika itu bertiup angin topan dengan kencangnya. Tag /arap syat nyet set tor (begitu bunyinya), abu beterbangan dan sima di angkasa. Kemudian angin terdiam. keadaan tenang.

Semcntara Maharaja Caya Purusa bcrlagak sombong. datanglah Prabhu Kanya tanpa cacat sedikit pun dari angkasa. Dilihat demi k1a n. semakin marahlah Maharaja Caya Purusa Namun. Bhatara fs,, ara pun scgcra muncul di antara kedua raja tcrsebut Bhatara Paramcs\rnra lalu bersabda. ·· wahai Caya Pumsa. banyakkah scranganmu terhadap

Kama Rupini'' .. "Banyak sekali oh bhatara." ""Hcntikan seranganmu dan pulanglah kaliant Jika kalian mclanggar nasihatku. lihatlah binatang pyar perat. wdhat. taktak lintah. iris poh bertaburan di depan kalian. Demikianlah jadinya jika menolak perintah atau tidak mau pulang." --va Tuhan, kini hamba akan pulang menghapus rasa malu." Apakah kau tidak malu dicemoh oleh masyarakat? lebih-lebih dikatakan bahwa Maharaja Kama Rupini tidak dapat dikalahkan oleh Maharaja Caya Purusa. Atau pengikutmu mengatakan bahwa Prabhu Kanya konon hampir kalah jika tidak ada dewa sakti yang memisahkan perangnya. Jadi, pulanglah kalian berdua ke istana masing-masing! " Bhatara Parameswara lalu menghilang. Akhirnya kedua raja itu lalu pulang bersama prajuritnya. Pasukan Maharaja Caya Purusa pulang mela.lui haya marga dan segera tiba di Sweta Nadhipura. Semua prajurit bergembira memasuki istana.

Setelah lama berada di dalam istana, beliau lalu keluar menuju balairung diikuti Maharaja Laksmi Kirana, seraya bertanya. " oh kanda Maharaj a Caya Purusa, janganlah mengira adikmu ini berani menghina dan lancang. Mengapa negeri Singhalangghyala tidak terkalahkan?" "oh adikku Laksmi Kirana, Prabhu Kanya itu kesaktiannya menyamai kanda. Ia adalah penganut Budha. ltu sebabnya, sewaktu berperang ia berwujud Dewa Budha, luput dari segala seranganku. dan Sanghyang Parameswara datang memisahkannya. " "oh kanda prabhu. hamba ingin sekali mengetahui kesaktian Prabhu Kanya."

''Oh adikku Laksmi Kirana, (h.19b) apakah dinda tidak percaya pada kanda?" '·Bukan begitu kanda prabhu, janganlah kanda salah paham,. bukannya dinda · tidak menghargai kanda. Akankah dinda · melebihi kanda dari dulu hingga sekarang? Kapan pula dinda dapat melebihinya? Terlebih ketika musnahnya Sang Tryo Dasa Windu tempo lalu. Singkatnya, seperti Parameswara kanda sewaktu membunuhnya. Dinda hanya memukul satu kali dengan Sanghyang Ratna Bajra Wirupa, ketika kanda diminta menemani Prabhu Nala. Kandalah yang membinasakan Detya Kalmayoni. Sewaktu kanda prabhu mengadakan perjanjian (persahabatan) dengan para dewata, kakak jugalah yang membinasakan Detya Panca Wikalpa. Banyak sekali detya yang kakak binasakan Singkatnya. adakah kekurangan pada diri tuanku') Sungguh bagaikan Sanghyang Paramcswara Scbenarnya hamba hanya mgm

Prabhu Kanya yang sakti itu. tuanku." ·· Lalu bagaimana maksud dinda sckarang·>·· ·· Hamba sckarang ingin datang kc Singhalangghyala." -· saiklah dinda. Kakck Prad,,angsa. siapkan kembali balatcntara_ aku akan menyerang Singhalangghyala 1 •• ··Janganlah ragu tuanku." "Kini Kanda dan kakek patih, juga dinda harus bersiap-siap. Berbuatlah semaksimal mungkin di dunia ini bersama balatentaramu berdasar tatacara agamal'' Kedua raja lalu memasuki istana. Sementara Patih Pradwangsa sibuk mempersiapkan senjata.

Hentikan perihal di Sweta Nadhipura, [h.20al kini ceritakan perihal di negeri Singhalangghyala. Maharaja Kama Rupini menuju balairung membicarakan akan keselamatan negerinya, didampingi Patih Rajapati dan Patih Narayana. Tiba-tiba muncul Bhagawan Pascati dan bersabda kepada Prabhu Kanya. ''Oh sang pendeta, hamba sangat berbahagia." '"Wahai Prabu Kanya, perlu diketahui bahwa tak lama lagi raja Jawa. adik Maharaja Caya Purusa akan menyerang kembali. Maharaja Laksrni Kirana namanya. Hati-hatilah, sebab beliau penjemaan Dewa Wisnu !" Sang pendeta lalu menghilang.

Prabhu Kanya segera mengadakan pertemuan dengan kedua patihnya, dan mufakat untuk siap menghadapi musuh. Semua senjata mulai disiapkan, semua prajurit Lawadi dipanggil untuk berangkat berperang. Kedua pasukan (Prabhu Kanya dan Laksmi Kirana) telah tiba di tepi samudra. Sri laksmi Kirana berkata, "Wahai Kakek Patih Pradwangsa, panahlah laut itu agar menjadi kering, sehingga balatentara kita bisa lewat dengan mudah. Ini sanjataku, Sanghyang Wigata Malasara namanya. Senjata ini dapat mengeringkan samudra! " Demikian kata Maharaja Laksmi Kirana. Gandhewa lalu ditarik, anak panah diputar-putar, dan segera tampak yang gaib-gaib. Sanghyang Baruna (dewa penguasa laut) segera muncul pada saat Maharaja Laksmi Kirana siap melepaskan senjatanya. Sanghyang Baruna bersabda_ " Wahai Sri Laksmi Kirana_ janganlah dikeringkan samudra (arnawa) ini, tentu berakibat patal bagi semua ikan. [h.20b) Bukankah ada senjata lai n agar rakyat tuan dapat me lewatinyar-·· saiklah Tuhanku. ini ada anak panahku yang sakti. Sanghyang Dharaniwaha namanva la dapat menciptakan tanggul la ut. Mohon semu a ikan

-· Baiklah Sri Laksmi Kirana." Bhatara Baruna lalu mcnghilang.

Dalam sekejap Maharaja Laksmi Kirana segera melepaskan Sanghyang Dharaniwaha. Tiba-tiba muncullah tanah penanggul taut membentang hingga ke negeri Singhalangghyala. Panjangnya sekitar tiga ratus yojana dengan ujung benteng serta pepohonannya berjarak tiga ribu nala. Juga terdapat rerumputan, tumbuh-tumbuhan merambat nagasari_ surabi (sulatri), asoka, grodha, beringin, hodi, dan ambulu. Dengan demikian, perjalanan Maharaja Laksmi Kirana beserta balatentaranya menjadi lancar. Prabhu Kanya pun melanjutkan perjalanan dengan seluruh balatentaranya. Diketahuinya akan keutamaan senjata Sri Laksmi Kirana. Mereka sama-sama melewati jalan darat dan menginap diperjalanan.

Tak lama kemudian, meletuslah perang dahsyat sating berbenturan. Sri Laksmi Kirana berhadapan dengan Maharaja Kama Rupini. "Wah berbahagialah kau Sri Laksmi Kirana. Apa tujuanmu menyerangku?" Demikian kata Kama Rupini. " Wahai Maharaja Kama Rupini, kedatanganku ke sini karena sangat kagum mendengar berita kanda Maharaja Caya Purusa atas kesaktianmu yang luar biasa. Tentu masih ingat siapa diri ku? (h.21a) Sepertinya rupamu hanyalah seorang wanita sakti dapat menghadapi kesaktian kanda prabhu. Sesungguhnya Maharaja Tryo Dasa Windu, Maharaja Balinatha, Detya Kalmayoni, Detya Panca Wikalpa, Detya Kalasandya, Detya Purwakala, dan banyak lagi yang lainnya dikalahkan oleh kanda prabhu. Tetapi kau hanya seorang \'Vanita dapat memerangi kesaktian kanda prabhu. Itu sebabnya aku datang. Semoga aku dapat mengalahkanmu, sementara kanda prabhu hanya menurut karena nasihat (Parameswara). Itu yang menyebabkan kanda prabhu semakin dipuji oleh dunia terutama kemasyurannya yang tak terkalahkan. Menurutku, kanda prabhu ibarat surya dan aku adalah bulan yang lebih di atas kedudukannya dengan surya, termasuk tentang kedamaian yang dimiliki Sanghyang Wulan Hanya cahaya yang tidak menyengatlah dikalahkan oleh Sanghyang SurYa."

-·wahai Maharaja Laksmi Kirana, keteranganmu bagaikan cerita seekor burung, demikian juga tutur katamu." '·Wahai Prabhu Kanya,

kdiru bagimu mcmahami pcngctahuan nyata _ yakni pcng~tahuan yang dapat dilihat oleh indria dan 1t:11mah discbut pratyaksa Scdangkan pengetahuan gaib atau kebathinan (kedyatmikan) adalah menjadi kewajiban bagi pendeta untuk mendalaminya, yang sering disebut anumana. Seperti halnya melihat asap di suatu tempat. Dalam pikiran tentu memastikan bahwa di sana ada api. Dalam menyebut Tuhan pun demikian juga, [h.21 b]. karena beliau tak berwujud, tak berwama, tak terpikirkan, dan tidak bebas dari pengaruh indria biasa. Namun, oleh orang bijaksana tentu telah ada dalam pikirannya. Disebutkan bah\Ya adanya Tuhan adalah berdasarkan anumana sebagai akibat adanya rasa kasih sayang terhadap seluruh isi dunia seperti halnya manusia dan binatang. Semua itu tak pernah tentram, jika hal itu hanya sebagai alasan suatu kenyataan. Jadi, -salahkah perkataanku menurutmu Prabhu Kanya ?"

·'Wahai Sri Laksmi Kirana, kata-katamu benar. Sungguh Sanghyang Agni di dalam dirimu. Tutur sucimu bagaikan kumpulan asap. Lalu bagaimana maksudmu Sri Laksmi Kirana? Apakah berperang saling rebut senjata? Bertanding ilmu gaib atau mengadu berbagai ilmu alih rupa? Ingat, semua itu hanya sebatas pertandingan semata." '-Wahai Prabhu Kanya, kita mulai dengan adu senjata -" ·'Sri Laksmi Kirana, kau hendaknya mengikuti aku dan saling melepaskan anak panah." "Ya Prabhu Kanya" Jawab Laksmi Kirana.

Kemudian keduanya saling melepaskan senjata utama. Senjata-senjata berdentingan di medan laga. Beraneka ragam senjata milik dewata dilepaskan Maharaja Laksmi Kirana, antara lain : bajra. dhanda. krettala. naga, angkus. musa/a, trisula, cakra. padma, dan lainlainnya. [h.22a] Demikian juga yang dilepaskan oleh Prabhu Kanya. Senjata-senjata sakti milik dewata yang dilepas oleh Sri Laksmi Kirana semuanya sangat tangguh. Menyusul ilmu gaib yang diciptakan, yakni : bay11 pracandha (angin topan), agni prabawanta aya giri (api sebesar gunung). nagarajastra (raja ular atau naga), dan sejuta petir

Dcmikian juga pemungkas yang dikeluarkan Prabhu Kanya. Senjata gaib beradu dengan senjata gaib, tetapi tak ada yang kalah atau menang. Kemudian menyusul dengan segala macam alih rupa. Semula Sri Laksmi Kirana berupa Meru (bangunan suci agama Hindu), begitu

Prabhu Kanya: berwujud singa Sri Laksmi Kirana. dcmikian juga wujud Prabhu Kanya: lalu Detya Kala Rudra wujud Sri Laksmi Kirana, demikian juga wujud Prabhu Kanya: Sanghyang Surya wujud Sri Laksmi Kirana. Sanghyang Surya pula wujud Prabhu Kanya; Dewa Wisnu wujud Sri Laksmi Kirana, demikian juga wujud Prabhu Kanya. Apapun wujud Laksmi Kirana demikian juga wujud Prabhu Kanya.

Tak lama kemudian. keduanya berwujud Bhatara Budha. Kilauan sinar nampak pada kepalanya, keduanya memakai selendang dan gelang. Keduanya yang masih berwujud Bhatara Budha menjadi lenyap (moksa) dan menghilang. Kira-kira sepernafasan lamanya, kedua maharaja itu muncul dari alam maya dan berada di tempatnya semula. [h.22b) Maharaja Laksmi Kirana berkata, "Wahai Prabhu Kanya, sungguh luar biasa kesempurnaan tuan, meniru kesempurnaanku. Beritahulah hamba, siapa orang tua tuan?" "Wahai Maharaja Laksmi Kirana, ibu hamba bernama Sang Utara keturunan kesatria Singhalangghyala, dan ayah hamba bernama Sang Anila. Yang menyucikan pikiran hamba adalah seorang dewi utarna yakni Bhatari Uma. Sedangkan guru hamba (adalah) seorang bhiksu penganut Budha bernama Datu Sawitri ...

"Jadi, yang menyebabkan tuan tak terpengaruh oleh nafsu ?" ·'Wahai Sri Laksmi Kirana, sebutlah aku Prabhu Kanya jika benar demikian! Karena pada diri hamba telah menunggal Bodhi yang suci (sukla bodi) ... "Wah itukah yang menyebabkan tuan tak terkalahkan oleh kanda prabhu? Karena berdasar pada Ketekunan menjalankan puasa Budha yang amat suci itu, sehingga tidak terpengaruh asmara laki atau wanita. Asmara adalah nafsu yang berdasar alat kelamin. Itu sebabnya manusia senantiasa diliputi oleh nafsu, entahkan itu laki-laki atau wanita. Nafsu adalah racun yang keluar dari lidah, karena alat kemaluanlah manusia dikejar oleh tahinya. Juga karena air mani (spenna), sungguh menyiksa. Dan nerakalah akibat dari nafsu makan dan bersenggama Karenanya. pendeta berpengetahuan suci dan teguh iman. tentu menghindari nafsu lidah dan kemaluan itu. [h.23a) ltulah yang tak terpikirkan sehingga tidak kembali kepada reinkarnasi. Kiranya agak kele\atan kata-kata hamba. Tuan tadi mengatakan ada

S~mghyang Agni pada diri hamba dan kata-kata suci pada bathin scbagai asapnya. Tuan juga mcn_1claskan kcadaan hambal ..

.. Ah jangan ragu Sri Laksmi Kirana ' .. Tiba-tiba terdengar tap (begitu bunyinya), nampak Prabhu Kanya berjalan di angkasa. ..Ah bukan itu maksudku, tidak akan kembali kc perahu." .. Ke/met (begitu bunyinya) apakah terlihat olelunu Sri Laksmi KiranaT .. Ah bukan itu yang kuinginkan." .. Tasrep (begitu bunyinya), Prabhu Kanya lalu kem bali ke tempatnya semula. seraya berkata. .. Mengapa · tuan tidak menghendaki ilmu kesempumaanku yang demikian·r ''Wahai Prabhu Kanya, aku tak menghendakinya karena kutahu bahwa itu membahayakan kesempumaan jika tidak berlandaskan ilmu. Aku juga paham adanya tiga jenis kesempumaan bathin, yakni : sakti, seorang kawi (pujangga), dan memahami mantra-mantra. Semua itu diikat oleh nafsu, sehingga dapat menbatalkan tujuan utama.

Jika tidak ada kesaktian, kawi (pujangga), dan memahami mantra-mantra maka sirnalah yang demikian itu. la adalah sumber dari malapetaka. Wahai Prabhu Kanya, tidak demikian caranya menafsirkan moksa. Seorang pujangga (kawi) dapat mencapai moksajika memahami mantra-mantra. Jika tidak kembali kepada reinkamasi, itu sangat bodoh karena a kan bertemu dengan intisari zaman silam yang pernah diketahui. (h.23b] Pujangga yang paham terhadap mantra-mantra itu, moksa namanya. Siapa yang akan menikmati hasil jasanya? Tentu orang yang memahami ajaran Dharma Sunya dan Dharma Sastra, karena kebenaran itu akan terbukti pahalanya atau pasti diterima oleh yang patut memetik hasilnya. Janganlah berlaku dungu Prabhu Kanya. Tuntunan suci inilah karma yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah mencapai moksa (nirwana). Berbagai ajaran sangaskara merupakan karmanya juga."

"Demikian terkenal dan terbukti ilmu kesempumaanku, berjalan di angkasa misalnya. Apakah tuan tidak heran, karena semua itu dianggap sangat luar biasa di seluruh dunia." "Wahai Prabhu Kanya. itulah membuat masyarakat seperti buta, mengagumkan kebathinan utama yang terlihat olehnya. Akibatnya, masyarakat menjadi bingung dan salah paham. Hanya bayanganlah terlihat oleh masyarakat sehingga dapat menguasai pandangan. Juga hanya nafsu yang tertanam di hati

yang pasti. Seperti halnya kemasyuran dan berjalan di angkasa. dikatakan terbentuk oleh sorga dan moksa. tiada kasih sayang. Menurut hamba, terbentuknya Dharma Kriya itu sulit untuk dilaksanakan. Terbentuknya moksa dan sorga bukan demikian. ia adalah luput dari Tri Pramana. [h.24a) luput oleh Pratyaksa dan Anumana yang sesungguhnya. Disebutkan bahwa kesejatian itu dapat diambil dengan tangan: Pratyaksa dapat dilihat dengan mata; sedangkan Anumana adalah berdasarkan tanda atau ciri- ciri. Semua itu luput dari kehendakk:u. 11

11 Baiklah, Janganlah ragu Maharaja Laksmi Kirana 0 Prabhu Kanya lalu menghilang. Maharaja Laksmi Kirana mulai memusatkan ilmu cakswwindriya jilana prameya untuk mencari Prabhu Kanya, yakni : di dalam tanah (pertiwi), air (apah), cahaya (teja), angin (bayu), dan di angkasa (akasa). Juga di angkasa luar dan kesembilan arah angkasa hingga ketempat teratas, yakni satya /oka. Tak ketinggalan sampai batas terbawah yakni di rasa tala. Tidak nampak juga Prabhu Kanya. Kemudian Maharaja Laksrni Kirana kembali memusatkan ilmu yang paling utama (cakswwindriyajilana prameya) untuk meneropong di sekelilingnya. Dalam sekejap muncullah Prabhu Kama Rupini, seraya berkata: "Wahai Maharaja Laksmi Kirana, apa kesalahanku sekarang?"

''Wahai Prabhu Kanya, memang benar Sanghyang Agni menyala tak berasap pada dirimu sehingga terhindar dari pratyaksa pramana. Singkatnya, pulanglah Prabhu Kanya karena kesaktian kita seimbang! " ''Oh Sri Laksmi Kirana, aku tak akan mundur dari kepedihanmu, terlebih dianggap kalah olehmu. 11 11 Bagaimana, agar kau sampai wafat? Kau tidak sungguh-sungguh memusatkan pikiran, karena kanda prabhu tak terkalahkan olehmu dulu. [h.24b) Kesaktianku dengan kanda prabhu sama. Dikatakan dernikian, karena beliau adalah cahaya, laksmi, purusa, dan kirana. Kekuatan seakan-akan terbagi dua aku dan kanda prabhun

'·Oh. sama katamu ? Lalu apa sebabnya kakakmu ketika perang di Tega) Samaya terkena candrahasa. senjata Maharaja Tryo Dasa Windu? Jika benar-benar sama, apakah itu luput namanya dari senjata'>" .. Wahai Prabhu Kanya, hanya karena berwujud ikanlah aku terkena

yang didasari rasa setia dan baktiku mcndampingi kanda prabhu." -·cukuplah _ jika demikian. Juga SC\·aktu perang di sorga mengapa kakakmu lari dari Detya Panca WikalpaT--Ah tidak _ itu bukan karena ketakutan. Pemahkah terdengar Wisnu takut dengan detya raksasa') Yang menyebabkan aku menjauh. karena khawatir tak tertandingi kesaktian kanda prabhu. Hal seperti itu merupakan janji kami berdasarkan rasa kasih sayang sejati dan saling tiru di medan lag a.

Nah_ jika benar-benar perwira, janganlah ragu Prabhu Kanya !" ' Tas (begitu bunyinya), Sri Laksmi Kirana telah nan1pak di angkasa. kemudian segera turun ke bumi. Akhirnya menghilang lagi hingga sepemafasan. Saat itu juga, Prabhu Kanya mencarinya dengan ilmu cakswwindriya jnana prameya. Bumi berhasil diangkatnya, namun Sri Laksmi Kirana belum ditemukan. [h.25a) Kemudian Maharaja Kama Rupini memusatkan ilmu kesempurnaan keliling. Tiba-tiba muncul Sri Laksmi Kirana dari angkasa, dan berkata : ·' Bagaimana sekarang Prabhu Kanya?" "Wahai Sri Laksmi Kirana, keadaan kita benar-benar seimbang. Pulanglah tuan! " "Ah aku tak akan pulang, marilah berperang lagi. Aku tak mau dikatakan sama denganmu." " Baiklah, jangan ragu Sri Laksmi Kiranal" Keksar (begitu bunyinya). Seketika terlihat Sri Laksmi Kirana saling panah dengan Prabhu Kanya, berbarengan dengan perang balatentaranya. di mana prajurit wanita mulai terdesak.

Keadaan seperti itu cepat dilihat oleh Bhatari Uma dari sorga. Lalu mengutus Bhatari Ratih untuk menolong diiringi para apsari bersenjata-lengkap. Bersama para apsari Bhatari Ratih segera berangkat melalui angkasa. Setiba di medan laga dan telah disambut dengan segala upacara, lalu berbicara dengan Prabhu Kanya. Sang Kamaratih ma ju dengan busurnya didampingi oleh para apsari. Prajurit Jayva menjadi terdesak. Dari angkasa Bhagawan Pascati memberitahu Sri Laksmi Kirana. bahwa Bhatari Ratih maju bersama para apsari atas perintah Bhatari Uma. Sang pendeta lal u menghilang.

Sri Laksmi Ki rana segera menitahkan Prasikusa untuk

memberitahu Sri Caya Purusa karena bcrtambahnya pihak musuh tcrutama Bhatari Ratih serta para apsari. atas perintah Bhatari Uma

lh.25bl Tak lama kc mudian. Prasikusa segera tiba di hadapan Maharaja Ca: a Purusa scrta m ~ n: · ampaikan perintah Sri Laksmi Kirana Sctelah berita itu di yakini. Prasikusa terbang mengirigi Maharaja Caya Purusa. Setibanya di medan laga prajurit Jawa scgera maju hingga prajurit wanita terdesak.

Bhatari Uma segera muncul di medan laga dan memisahkan amukan perang Sri Caya Purusa. Sri Caya Purusa dan Laksmi Kirana segera meletakkan senjata setelah melihat kehadiran Bhatari Uma. Keduanya menghaturkan sembah sujud. Bhatari Uma bersabda, "Wahai Caya Purusa, amat besar niatmu untuk mengalahkan Kama Rupini. Tak pedulikah kau dengan nasihat Hyang Parameswara? Setelah kau pulang, datang lagi Laksmi Kirana menyerang. Apakah kau tidak menasihati bahwa Kama Rupini telah mencapai kesempumaan yang luar biasa?" ''Maafkan hamba Laksmi Kirana. Hamba bukan ingin menghancurkan Singhalangghyala, melainkan hanya ingin tahu kesaktian Prabhu Kanya. Bukankah Bhatari telah membantu Prabhu Kanya, ketika hamba mengutus Prasikusa? Itu tujuan hamba ke medan laga. Pada saat prajurit Kanya terdesak, mengapa bhatari turut membantunya? Bukankah peperangan hamba hanya sesama manusia?"

Bhatari Uma bersabda, ··wahai Caya Purusa, bagaimanakah akuT '·Daulat bhatari, ketika bhatari mengarah utara sewaktu Sanghyang Ratih berperang [h.26a) seperti bhatarilah yang menyerang. Terasa sangat sulit bhatari memandang diri hamba. Apakah bhatari tengah murka, hingga Kam(). Rupini menjadi Raksasi Durga Tri Sirah dan Tri Narayana? Bertangan empat seraya melepaskan senjata ke arah hamba."

··wahai Caya Purusa. kata-katamu itu sangat keliru. Aku tidak boleh berupa Raksasi Durga berkepala tiga. Jika demikian, tentu aku tidak kelihatan. Aku hanya dapat dilihat oleh Citrangkara, seperti tercantum di dalam surat, memang menakjubkan. Mustahillah cecangkriman. sebab aku (adalah) sumber kebenaran yang tiada celanya. Cecangkriman itulah yang harus kau laksanakan secara sungguh-sungguh. iika kau benar-benar berpikiran suci, teguh iman, lalu apa yang d1maksud dengan raksasi, durga, krodha. dan busanaku')

Ja,,·ablah dcngan kata-katamu. sebab

kaulah yang mcngatakan demikianr·

'"Daulat bhatari. janganlah hamba dianggap durhaka atas lancang menguta rakan kepada bhatari tentang raksasi. la senantiasa dirahasiakan dalam \'-.'lljud wanita cantik dan selalu menurut. la terkunci secara rahasia dan tidak diberi wujud. Itulah yang disebut durga. yang menjadi kesulitan bhatari karena tidak dapat ditembus oleh sang pendeta di dunia. Sedangkan kemarahan (krodha) bhatari adalah kesenangan berbahasa yang manis, tak terpikirkan atau ditafsir, serta tidak dapat diketahui dengan aka!. Sangat suci (hening) tak dapat diumpamakan, sehingga bhatari disebut Tri Sirah 11

" Wah, rupanya Caya Purusa telah paham tentang hakikatku. (h.26b] Kau adalah penganut Budha. Banyak pendeta di dunia ingin di kakiku, tetapi tidak ada yahg menyamai atau mencontoh caramu berperilaku. Seperti sulitnya mencari bekas bedak (boreh, Bali) dan bertemu dengan isi perut ikan. Karena kebanyakan di antara mereka hanya membuang-buang waktu sehingga sulit dapat rnerasakan. Betapa pun banyaknya yang belajar seperti dirimu, narnun selalu salah bicara karena rninta dianugrahi senjata. Sepertinya kau tidak tahu asal mula dunia dan tubuhrnu, sehingga mengatakan yang tidak benar. 11

'·Daulat bhatari, hamba tahu tentang asal mula dunia dan tubuh. Dunia berasal dari panca tan matra. yang terdiri dari sabda tan matra. sparsa tan matra. rasa tan matra. ganda tan matra. dan rupa tan matra. Itu sebabnya angkasa muncul dari sabda tan matra: bayu dari sparsa tan matra: teja dari rupa tan matra: apah dari rasa tan matra; dan pretiwi dari ganda tan matra. Genaplah lima unsur pembentuk dunia, yakni : akasa. bayu. teja, apah. dan pretiwi.

Sedangkan asal mula tubuh, adalah sari-sari makanan dan

minurnan yang kemudian menjadi benih pria dan wanita. Itulah yang menjadi manusia yang diternpati oleh unsur panca tan matra. Unsur sabda tan matra menempati telinga (srotendria) yang berfungsi untuk mendengarkan suara: sparsa tan matra menempati kulit. yakni untuk merasakan panas atau dingin. (h.27a) Rupa tan matra menempati mata, yakni untuk melihat beraneka warna: unsur rasa tan matra menempati lidah berfungsi untuk merasakan sad rasa: unsur ganda tan matra

bc rtc mpat pada hidung. bcrfungsi untuk mcncium bau-bauan. Karcnanya. fungsi mata untuk melih at yang baik: tclinga untuk mendengar yang baik : mulut untuk berkata yang baik. fungsi pikiran untuk berpikir yang baik : dan kaki untuk berjalan dengan baik. Perilaku yang baik tentu lahir dari pikiran yang baik pula Itulah yang mengikat manusia dalam bertingkah laku. oh bhatari."

.. Lalu untuk apa minta dianugrahi senjata, jika benar-benar telah suci atau belum suci ? Dari makna perkataanmu, aku merasakan bahwa kau masih berani berperilaku untuk melawan aku Bagaimana aku menyayangimu, sementara kau ingin membunuh manusia? Alm sebagai dewi utama berbeda denganmu selaku manusia yang suka membunuh. Mana bisa aku bersahabat dengan seorang yang hina."

" Daulat bhatari, hamba tidak hina karena tidak membunuh detya jika mereka tak berbuat adharma (kejahatan) di dunia. Bukankah sangat besar dharma (kebajikkan) yang hamba perbuat. Hamba senantiasa beryadnya (berkorban) berupa suguhan makanan kepada pitra puja (leluhur) dan para dewa." "oh, itu tak akan menghilangkan dosamu. (h.27b] Walaupun kau berbuat bajik terhadap istri, bemiat punya anak yang sejati, berbuat bajik disertai mas permata, tak akan hilang dosamu olehnya.

"Hamba telah banyak berjasa, antara lain : ambulu. boddhi. dan beringin telah ditanam disepanjang jalan; balairung tempat musyawarah; juga sumur yang dihias bebatuan, pancuran, permandian, dan telaga." "Wah, takkan hilang dosamu olehnya." "Ada lagijasa baik hamba yang lain, yakni dalam membuat meru dari batu putih disertai area berbentuk Parameswara, yang setiap purnama atau ti/em selalu dipuja dengan sesajen (banten, Bali). Juga balai indah untuk tempat istirahat dan balairung untuk orang bercengkrama." "Ah, takkan hilang dosamu olehnya."

"Hamba senantiasa berbuat berdasarkan dharma (kebajikkan)." "Juga takkan hilang dosamu." "Hamba juga tahu akan segala pekerjaan seperti : menari, membuat alat seni yang dipukul atau dipetik (seni musik), segala kewajiban, mengolah nafas. memahami fatwa (ajaran). dan beryoga semadi." "Tidak akan hilang dosamu olehnya." "Hamba tckun melaksanakan tqpa hrata (puasa). agama. dan tak ragu akan

11 11 11. 11 datangnya kcmatian. Tidak hilangjuga dosamu. Hamba mcngetahui segala kegiatan dharmo sastra. scpcrti : kid11ng. pralambang. cerita parwa. dan tarwa sloka. " 11 Tidak juga hilang dosamu. 11

11 Hamba sangat banyak mempunyai murid dan semua raja minta pelajaran agama (upadesa) pada hamba. 11 11 Juga tidak hilang dosamu. 11

.. Semua itu hanyalah akan menambah daging kulitmu semata, karena sikap seperti itu sangat sulit untuk mencapai sorga. Itu bernama sifat loba manusia. (h.28a) Adapun untuk menghilangkan segala dosa dan malapetaka, hanyalah kerta semaya atau kesetiaan dan keteguhan iman yang menjurus ke jalan moksa. 11

11 Daulat bhatari, hamba telah kerta semaya. Ajaran keempat pendeta telah hamba pahami. 11 11 Lalu, yang mana lebih rendah atau 11 11 lebih tinggi? Daulat bhatari, keempatnya adalah sama. Penyebab tidak adanya lebih tinggi atau rendah adalah karma. Hamba paham akan segala hal aturan makan, yang bagi seorang pemuda kesatria hal itu kurang diresapi. Pengetahuan Sang Budha dan pendeta suci ditempatkan di dalam hati dan menjadi peganganku. Adapun di dunia, perihal laladan kasen dan calwana adon-adon adalah awal daripada rasa, tetapi tidak dapat disebut kabelan. Hamba telah menikmati rasa dari dedaunan yang berserat dengan bawang merah. Itu berarti hamba telah merasakan /aladan kasen. Sisa atau ampasnya dimuntahkan karena tidak cocok dengan badan, Boddha Rsi namanya yang demikian itu dan sangat dikeramatkan. Apakah dengan demikian hamba akan mencapai moksa ?"

'"Oh tentu hilang dosa-dosamu, jika telah menjalankan kreta semaya dan mengarah ke jalan moksa. Lalu mengapa perilakumu sangat loba dan selalu mohon anugrah senjata. Tidak pantas kau memohon demikian, karena kau seorang manusia yang selalu kurang daripada aku. Sesungguhnya siapa lagi yang dapat menciptakan dunia dengan segala isinya (h.28b) kecuali aku ? Karena keberanian dan angkaramulah aku menampakkan diri sebagai Bhagawati Kumara. Karena akulah kau dapat bergerak dan berpikir. Semua itu adalah ciptaanku.

.. Daulat bhatari, sabda bhatari sangatlah benar. Hamba tidak berani menolak segala titah bhatari sebagai seorang dewi utama yang

yang dapat mengatakannya tcntang tatacara Sanghyang lswara. yang difilsafatkan oleh pendeta bah\a di timur tempatnya, putih '"'amanya. ha/ra senjatanya, umanis pancawaranya. dan lembu putih wahananya. Difilsafatkannya di dalam diri. Hyang Iswara namanya dan berwujud sabda. Singkatnya, "tidak ada bend a yang tak ada lawannya". Sesungguhnya Sangh yang Paramesv,ara bersisian tubuh beliau. wanita di sebelah kiri pria di sebelah kanan Demikian juga bhatari, jika ingin berwujud Parameswara. Bhatarilah dicontoh dunia dan manusia semua.

Sesungguhnya, langit-bumi (akasa-pretiwi) lawannya. timur-barat lawannya, siang-malam lawannya, sorga-neraka lawannya. Demikian pula halnya pada manusia, pria-wanita pasangannya, suka-duka lawannya. Banyak jika diungkapkan ajaran yang demikian. Itulah perbedaan manusia dengan dewi (bhatari). Menurut hamba [h.29a] tak mungkin ada Tuhan yang tidak kelihatan, jika tidak ada manusia. Karena semua yang ada tidak langsung turun dari alam maya (niskala, Bali). Itu sebabnya tidak ada manusia yang seketika turun dari langit, seketika tumbuh dari tanah (pretiwi), jika tidak diciptakan atau dibentuk rupanya."

''Wahai Caya Purusa, apa yang menyebabkan tumbuhnya segala yang ada, apakah hanya berdasar pada suatu kenyataan?" ''Daulat bhatari, tidak boleh yang demikian itu." ''Kapan bisa mengutamakan kenyataan ?" 'Tidak bhatari, sebab ' tak ada benda yang tak ada lawannya '. Sesungguhnya, bhatari bersifat maya (niskala) dan tubuh manusia bersifat nyata (sekala). Kedua itu sama dalam perasaan-" "Wahai Caya Purusa, keliru kata-katamu, tidak ada bedanya antara tinggi dan rendah jika demikian. Seperti halnya bunga kasturi (bunga yang baunya harum) disamakan dengan tahi (bau busuk), jika semua tidak ada yang utama dan nista." "Dau lat bhatari, bukan demikian maksud analisa hamba itu. Seperti halnya bau bunga nagasari dengan cempaka Ada bau bunganya tercium lebih dulu daripada tangkainya, atau tangkainya lebih dulu kelihatan baru tercium bau bunganya." .. Jadi, mana lebih dulu bau atau tangkainya?" "'Tidak ada yang diutamakan itu. tidak bisa disamakan atau dibandingkan, karena semua itu adalah kehendak sang kavvi (pujangga) atau yang mengucapkan-"

Caya Purusa_ pcrumpamaanmu itu kcliru. Pernmpamaan aku dcngan manusia dalam bertingkah laku bolch discbut kcbenaran dalam sebuah tempayan lh.29b) yang tanpa air. Singkatnya, Tuhanlah yang menciptakan cahaya dan mengisi air di dalam tempayan. ltu yang harus dipertimbangkan di hatimu1·· -·oaulat bhatari, mungkinkah orang bisa bergerak tanpa ada tempatT '·Duh Caya Purusa, benar kata masyarakat menyebut kau sangat sakti, seorang kawi (pujangga), dan memahami agama. Tetapi aku tidak seperti kata manusia. Aku bertanya kepadamu sesuai dengan maksmtku ·sendiri dan bukan tentang kesaktian aji memanahmu, ketampananmu, dan bukan pula tentang kesaktianmu dalam melenyapkan nafsu. Katakanlah kepadaku 1 ··

'· Daulat bhatari, kesaktian hamba bukan tentang makan dan minum. Yang disebut sakti, bukan hanya bisa berjalan di angkasa. bukan hanya pandai dalam memanah, karena semua itu akan membuat banyak musuh dan malapetaka. Adapun kesaktian hamba, ibarat matahari bercahaya di musim kemarau yang tanpa mendung. Di angkasa tak ada hembusan angin, cahayanya lembut memenuhi dunia. Semuanya tidak dihiraukan, cahayanya tidak pemah melekat pada semua makhluk. Itulah kesaktian hamba." "Jika demikian katamu, apakah kelebihannya ?"

[h.30a) " Daulat bhatari, hamba tahu tentang tuntunan seorang kawi (pujangga). Mampu melihat yang jauh dan gaib sehingga bisa menggubah segala cerita dan sloka tatwa ... '· Lalu apa yang menyebabkan kau berilmu utama?" " Daulat bhat4ri, bukankah itu senantiasa tersembunyi? Kemampuan mengucapkan mantra bukanlah semata-mata tahu akan agama, karena dengan ilmu pengetahuan pun akan mampu mengucapkan mantra. Seseorang berpengetahuan tinggi adalah orang yang tak henti-hentinya mencari ilmu hingga akhir hayatnya."

·· wahai Caya Purusa, sungguh luar biasa ilmumu. Bagaimana ci rinya di masyarakat jika demikian?" ·· Daulat bhatari, itu tak bisa diketahui orang lain. sekalipun diriku tidak pernah tahu akan puncaknya Hanya pikiran yang sucilah harapanku." '·Kalau benar-benar suci, lalu apa scbabnya kau ingin menguasa1 dunia'>" " Hanya beban selaku rajalah yang aku ikuti."

""A h percuma kesaktianmu. juga syair dan mantramu. Dalam kekuasaanmu tersirat dua hal yang sangat utama. namun kapan itu diperhatikan. sementara masyarakat tel ah memahaminya." " Hamba kurang paham. jika kebenaran itu langgeng. Semua itu ditemui di bumi ini, juga di sorga maupun pada manusia. Hanya dalam keadaan masih tidurlah dapat menikmati dunia, tak ada kebenaran yang langgeng dijumpainya. jh.30bl Sengsaralah orang yang demikian itu "··Ak_u tidak tahu, jika Kama Rupini dikalahkan, aku hanya kagum. Berperanglah kalian lagi '" .. Lalu bagaimana caraku untuk menang?" '·Berarti kau masih takut'F " Harnba tidak takut." Bhatari Uma dan Bhatari Ratih menjadi murka dan menghilang untuk menghaturkan ha! itu kepada Tuhan (Hyang Widhi).

Sementara perang masih berkecarnuk dengan dahsyatnya, tiba-tiba muncullah Sanghyang Siwa Parameswara seraya bersabda, "Wahai Caya Purusa dan Kama,Rupini, hentikan perang kalianl Pulanglah kalian dan benahi negaral " '-Ya Tuhanku-" Perang segera berhenti dan Caya Purusa segera pulang. Bhatara lswara menghilang menuju Siwa Pada. Maharaja Kama Rupini pun segera pulang diiringi kedua patih dan seluruh prajuritnya. Maharaja Caya Purusa, Sri Laksmi Kirana, dan balatentaranya pulang melewati jalan yang pemah diciptakan. Kemudian menghilang, dan oleh Sri Laksmi Kirana tambak itu kembali menjadi samudra.

Tidak diceritakan dalam perjalanan, telah sampailah di istana Sweta Nadhipura.· Semua prajurit diberi kesenangan dan makanan. Mereka sangat senang, juga kedua rajanya karena telah berhasil menerangi dunia hingga tentram. jh.31a) Juga karena kesucian perilaku Maharaja Caya Purusa dan Sri Laksmi Kirana yang telah paham akan inti sari ajaran raja di Nirwana dan di Manuh. Sudah menjadi kesepakatan. bahwa setiap purnama dan ti/em Patih Pradwangsa diberi hadiah. Juga kepada para pendeta negara serta rakyatnya. Bagaikan Sanghyang Guru perilaku beliau, di mana Patih Pradwangsa sebagai inti bunga dan tidak pemah lupa memuja tentang kemakmuran di kahyangan.

Ada tiga macam pujaannya. yakni : wahya. adhyatmika, dan utama. Wahya P111a adalah memuja area dengan bunga. asep/api dan sesajen

J>uja adalah mcmusatkan pikiran, mengatur nafas. memusatkan ilmu. dan yoga semadi: dan lftama P11ja adalah bebas dari sekala don niskala (d11nia nyata don mayaata11 wahya adhyatmika), menjadikan jati diri berdasarkan pikiran yang tenang. Bunganya adalah budi pekerti: biji adalah pikiran yang suci; asep/apinya adalah kesetiaan atau kejujuran: (h.3lbJ asapnya adalah rasa betas kasihan; alasnya adalah Sanghyang Eka Tatwa Urip dan S anghyang Purusa: area adalah Sanghyang Pradana: pcnnandiannya adalah untuk menyucikan lahir bathin: mantranya: Ong Ong tan moni niraksara. Kewajiban adalah keteguhan yang tidak bergerak. Demikianlah pemujaan Sri Caya Purusa.

Seusai memuja, beliau dihadap oleh para bangsawan. Beliau memberikan ajaran agama, yakni ajaran keutamaan kepada semua muridnya hingga menjelang malam. Kemudian memasuki istana dan menanggalkan busana kependetaan. Keesokan harinya, menerapkan ajaran prabhu di Manuh, mengambil bajak dan sabit pergi ke sawah dan ladang, diiringi oleh seluruh rakyatnya. Dernikianlah Sri Caya Purusa hingga sepekan. Sikapnya bagaikan orang tua, sedangkan balatentaranya ibarat anak yang dilindungi. Demikian olehnya untuk menjaga ketentraman dunia, dan tak menganggap dirinya sebagai raja lagi. Pendetalah pikirannya, yakni ajaran pendeta Budha yang dipegang teguh. Ada empat jenis tapa dihajapnya, yaitu : kesucian penganut Budha (s ukla Bhoddha paksa): kesucian seorang pendeta (sukla tyaga) : dan kesucian keteguhan pikiran (sukla prabhanjita). Istana itu sesungguhnya benteng persembahyangan, ia bersifat suci dan berwatak seorang guru, dan paham akan dasar kesucian Raja Makutha Bhuwana tentang pemotongan rambut. Perhiasan telinga dan gelang tangan dianggapnya pakaian pengemis: ikat pinggang yang penuh permata dianggapnya meja tempat beryoga; kapas berwarna putih dianggap baj ra bandha. Ketika beliau duduk di tahta, dihadap oleh para bangsawan, terdiam mengatur nafas. berusaha agar seperti penganut Budha. Tidak bergerak. terpejam dan memuja dengan penuh kesucian. kemudian mengerling dan melihat rakyatnya. Demikian olehnya bertingkah laku.

Sesungguhnya yang disebut kesucian hidup di hutan bagi seorang raj a dari suatu negara pergi ke gunung. (adalah) menganggap badannya

belukar dan mulai bcrsiap-siap untuk mcrabasnya. Mcnghilangkan rcrumputan di dalam hati yang senantiasa mcnumbangkan kehendak nafsu buruk. sehingga tidak dapat berperilaku baik. la bagaikan rumput di kahyangan, ia bagaikan hari yang jelek (naas).

Rerumputan yang tak terbatas dibersihkan karena penghalang pikiran suci. Dicabuti dan tidak diberikan tumbuh nafsu duniawi itu. Nafsu berarti keinginan yang menarik bagaikan anak panah yang siap menghapus tanpa pertolongan: ia bagaikan rumput yang menimbulkan berbagai ha!, seperti : cara. kula. [h.32b) maryyadha, kama, krodha. artha. raga. dwesa. moha. satwa. rajah. tamah. citta. buddhi. manah. bayu. sabda. idbep. maya. pradhana. dan tresna.

Senma itu dibersihkan. Dikendalikan satu persatu agar tenang dan dilupakan segala macam indria itu. Lidah atau alat pengecap (jitendriya) dilupakan sampai mati sehingga tidak ada kemarahan. Hasilnya bernama tapa (pengendalian) yang berarti kesetiaan; brata berarti tak henti-hentinya beryadnya kepada Tuhan; yadnya puja berarti segala suguhan yang baik. Itu dipersembahan kepada Tuhan yang menjaga Sanghyang Atma (jiwa). Dengan melakukan pemujaan terus- menerus. Sanghyang Budha menjadi senang. Sedangkan arcana berarti segala kesenangan Tuhan yang menjadi sumber segala pengetahuan.

Demikian Sri Caya Purusa memahami ajaran kependetaan dan memahami ajaran tapa, dan berkehendak menyiapkan tapa yang suci. Hal ini merupakan puncak pertapaan, pasti dinanti ibarat sebuah tutup kantong dan akhir dari penganut ajaran kesunyataan, yang siap memayunginya. Bunyi yang terdengar di angkasa tampak menyatu, itulah isinya kantong. la tampak halus bagaikan tanpa cinta. Kekal sebagai hadiah kependetaan sehingga menjadi wawas [h.33a) melihatnya. Mampu menghilangkan kotoran untuk mencapai kebahagiaan di sorga. Tidak ada rasa takut kepadanya di saat memahami atau mengajarkan tentang kependetaan.

Sebagai pemimpinnya adalah Patih Pradwangsa, diikuti oleh para bangsawan sebagai guru pertapa kenirnanaan dan segala tapa utama dipahaminya. Kesucian atau keteguhan pikiran (prabhanfita) menjadi tujuannya. Sedangkari di dalam hati diibaratkan medan pertempuran

scbagai senjata yang tidak bergcrak _ bcranak _ dan bcristri. la bagaikan adiknya Bregu yang tcrkcnal suci dan mampu mcnghilangkan y onni. arddhayah. Badan itu tidak sebagai badannya Semua alat makan_ tempatnya tidur, permaisuri, taman. singasana_ petani _ tidak ada rasa bimbang dan sedih padanya, juga kesaktian atau kewibawaan bagi orang di istana. Segala tempat beliau. disembah dan dihajap.

·'Demikianlah Maharaja Caya Purusa sebagai raja utama bertapa di kerajaannya. Adapun negaranya diperintah oleh Patih Pradwangsa. Tidak henti-hentinya meraih kesempurnaan. sehingga tentramlah dunia ini olehnya. Daulat Sri Utsawati."

Selesai ditulis di Bajya Asrama, di sebelah timur jalan, ke arah barat dari lautan yang asin, pada hari Sabtu Wage, Panglong ke-4 (paro gelap yang ke-4), pada bulan Sada (sekitar bulan Juni). Kepada para pembaca mohon dimaafkan bentuk aksaranya, juga kurang lebihnya karena kurangnya pengetahuan tentang sastra.

NASKAH SINGHALANGGHYALA PARWA

4.1 Ajaran Religius Naskah SLP merupakan karya sastra berbentuk prosa yang bersifat religius, yaitu suatu sifat yang sering disebut '·The great model '. (sastra sebagai alat pemujaan kepada Zat Yang Tertinggi. Mangunwijaya mengatakan bahwa sebagai manusia religius, ada sesuatu yang di hatinya bersifat 'kramat, suci, kudus, adikodratil ( 1982: I 7) Sebagai karya yang religius SLP merupakan cerita kesusilaan yang mengandung ajaran keagamaan telah mengembang menjadi cerita panjang lebar dengan ajaran filsafat keagamaan, tetapi sekaligus dihiasi dengan kisah peperangan, perang tanding, dan lain- lain terutama dengan percakapan-percakapan filsafat keagamaan mengenai hakikat Siwa dan Buddha. Seperti halnya dengan penyair-penyair Jawa Kuno pada umumnya ra kawi SLP pun mengawali cipta sastranya dengan doa " Om Awighnamastull, yakni sepatah doa yang senantiasa mempertebal dharmanya sebagai seorang ra kawi. Dalam karyanya yang berbentuk kakawin (I. I a) disebutkan bahwa dharma yang ikhlas selalu menghendaki dunia sejahtera. damai. dan selamat sebagai buah bakti dan persujudan sang kawi yang tulus ikhlas kepada Bhatara Siwa-Buddha (panghyang ningwang i jong Bhatara S iwaBuddha}, yakni jiwanya alam semesta (~ira pinaka jiwaning praja} Pada awal teks

tclah disinggung balm-a sebclum SLP ini menjadi bahan perbincangan Sri Utsa\'ati dengan Bhagawan Suta. kiranya Bhagawan Ramaloka (gurunya) baru saja mengakhiri cerita tentang Semadi Parwa. Jika dikaitkan dengan salah satu lontar yang ditulis dalam huruf Merapi-Merbabu. kiranya yang dimaksudka.t1 dengan Semadi Pan\'a adalah Pramana Parwa (PNRl 31 L 95).

Selanjutnya percakapan antara Sri Utsawati dengan Bhagawan Suta, menunjukkan adanya suatu konsepsi dari salah satu bagian Panca Srada (lima kepercayaan agama Hindu) yakni kepercayaan kepada atma (roh para leluhur) yang menjadi dasar untuk mengenal lebih jauh tentang Dharma (kebenaran tertinggi). Hal ini terlihat dalam (h. la) : alawas mangke tan mangrengo dharmma carita. matani kacaritta. pita Sri Caya Pumsa. Kalirnat ini mencerrninkan bahwa Sri Utsawati sangat tekun mendengarkan dan rasa ingin tahunya secara mendalam tentang leluhumya (Sri Caya Purusa) sebagai penganut Siwa, yang diceritakan secara panjang lebar oleh Bhagawan Suta.

Di Bali, kegiatan olah sastra Bali (termasuk Jawa Kuno) tidak semata-mata bersifat susastra (belles letters), tetapi juga berkaitan erat dengan kepercayaan, adat-istiadat, upacara-upacara retual, hukum magis, maupun kehidupan sosial budaya masyarakat sebagai satu ciri yang mencerminkan kehidupan sosial masyarakat Bali yang begitu kompleks (Swastika dalam Puma, 1987/1988:69). Sejarah telah membuktikan bahwa berbagai nilai yang kini hidup di Bali, merupakan campuran dari agama Hindu dan berbagai aliran kepercayaan yang pemah hidup di Bali pada abad yang silam. Agama dan kepercayaan yang dimaksud antara lain Budha Mahayana pada abad ke-8; Siwaisme yang kuat pada abad ke-9: sampai pada praktek-praktek kekejaman sekta Tantri pada abad ke-11 : dan pengaruh yang paling besar datang dari agama Hindu Jawa, yakni setelah Bali ditaklukkan dan dikuasai oleh kerajaan MajapahiL pada abad ke-14.

Setiap zaman itu meninggalkan kesan dalam upacara-upacara di Bali pada cara-cara pemujaan para leluhur, pada kekuatan jahat, pengorbanan dengan darah. dan praktek-praktek ilmu hitam dan tantri Budha. Kemampuan menyerap dan menyatukan prinsip keagamaan merupakan karakter dan watak orang-orang Bali. Keseluruhan nilai-

nilai ini mcmpakan tulang punggung orang Bali yang mcnyatu kc dalam agama Hindu.

Prinsip-prinsip tentang ketuhanan dan yajna itu terlihat pada keutamaan Maharaja Caya Purusa serta Laksmi Kirana (leluhur Sri Utsawati) merupakan tokoh raja yang telah paham akan kemahakuasaan Tuhan (I da Hyang Widhi Wasa) dan sangat taat melakukan segala bentuk pengorbanan (sarwwa yajtb). seperti terse but dalam (h.2a) :

'"Ndan Maharaja Caya Purusa. cinarita kastes»'aryya nira. sampun tlas ikarig sarwwa yajtb de nira. mwang ikang sarwwa dharmma nguniweh ikang sarwwa samaya. sarwwa yajtb. nga. lwirnya bhojana yajtb .. patra yajtb. kanaka ratna yajna. kanya yajm. !_vein sanke rika. brata yajm. gama yajm. yoga yajm. samadhi yajm. samya yajm"

Terjemahannya :

'"Maharaja Caya Purusa sangat paham tentang delapan (8) kemahakuasaan Tuhan (Ida Hyang Widhi Wasa). segala bentuk Pengorbanan (.vajna) telah dilaksanakannya. juga tentang Dharma (kebenaran sejati), lebih-!ebih-tentang batas waktu beryadnya yang di sesebut dengan sarwwa yajm .. seperti bhojana yajm. patra yajm . kanaka yajm. ratna yajtb. kanya yajtb. Sela in itu juga tentang brata yajm. agama yajm. yoga yajm, samadhi yajm. dan yajtb lainnya"

Kutipan di atas mencerminkan tokoh raja sebagai pengayom masyarakat telah memahami agamanya lewat pengetahuan akan kemahakuasaan Tuhan (Ida Hyang Widhi wasa), yang dalam agama Hindu disebut dengan Astaiwarya (asta berarti delapan, sakti atau iswarya berarti maha kuasa). Kedelapan sifat kemahakuasaan itu terdiri dari: (I) anima (sifat Tuhan sangat halus, bagaikan kehalusan tenaga atom: (2) laghima (sifat-Nya sangat ringan, lebih ringan dari ether):

(3) mahima (Tuhan memenuhi semua .ruang angkasa): (4) prapti (segala tempat tercapai olehNya): (5) prakamya (segala kehendak-Nya se lalu tcrlaksana atau terjadi) : (6) isitwa (mcrajai segala-galanya. paling utama dalam scgala hal) : (7) wasitwa (paling berkuasa) : dan
(8) yatrakamawasayitwa (tidak ada yang dapat menentang kehendak atau kodrat-Nya). Kedelapan sifat kemahakuasaan Tuhan (Ida Hyang

(j)(fc/masana) berdaun
delapan (a stadala) sebagai lambang kcmahakuasaan-Nya dalam menguasai dan mengatur alam semesta serta semua makhluk.

Selain pemahaman atas delapan sifat kemahakuasaan Tuhan itu. ketaatan melakukan segala jenis pengorbanan (sarwwa yajfrt) sebagai perwujudan rasa baktinya kepada Sang Pencipta seperti yang digariskan oleh Dharma (agamanya) terlihat juga dalam kutipan di atas. Semua itu terlaksana dengan baik karena didasari atas tiga jenis kebenaran yang bersifat utama dan luhur, yang disebut Dharma Tapa terdiri dari Dharma Sastra. Dharma Teja. dan Dharma Sunya. Raja-raja lainnya senantiasa mohon undang-undang/ peraturan kerajaan kepadanya (Caya Purusa). Hal ini terlihat dalam (h.2b): tan hana ikang para haji, tan panadba hana upadesa ring sira. karena ia sangat pandai, pemberani, sakti, pujangga, memahami agama, perwira, dan sastrawan sejati.

Selanjutnya, tampak adanya keterkaitan yang sangat padu antara peranan raja, patih, dan pendeta kerajaan. Dinyatakan bahwa keteguhan adalah perilaku utama seorang patih pendamping raja, sedangkan perilaku seorang pendeta kerajaan adalah meniru brahmana SiwaBudha yang telah mencapai kesempurnaan lahir bathin, · seperti terlihat dalam (h.3b) : sangksepanya Kaid Prachw;mgsa. apageh. nga. kramaning (ng) apatih. muwah de sang wiku nagara. sira sang sewa-Bodd.Ha. brahmana mwang sang wiku putih.

Dengan memahami agama secara mendalam seseorang akan memperoleh dan merasakan sinar .suci Sanghyang Lingga Manik, seperti terlihat dalam kutipan berikut :

"Sanghyang Lingga Mantk Munggwing candhi .. phaswadwara. sang wiku putih yangken sakewetan. wruh ring bi lap ning lingga. sang sewa lddul. wruh bilap ning lingga lddul. sang brahmana saka kulwan. 'tt:ruh bilap ning lingga kulwan. sang Buddha saking for. wruh bilap ning lingga /or. /among mami Kaid Patih Pradwangsa. wruh sadresya Sanghyang Lingga".

Terjemahannya :

"Sanghyang Lingga Manik yang berada di candhi arau 11bun-11b11n. cahayanya dapat dikeiahw oleh pendeta utama dari tinnir. brahmana

.)'iwa dari selaton mengetoh11i caha.\'o lingga bagian .11!/atan. hrohmana don horat mengetahui cahaya ling..;a bagian harat. Sang B11dha mengetah111 cahaya lingga bagian lllara. sedangkan Patih Pradwangsa tahu akan rahasia Sang_vang Lingga".

Ku ti pan di atas mencerminkan betapa keagungan Sanghyang Siwa-Budha sebagai jiwa alam semesta yang tiada celanya. Sinar suci-N ya dapat dirasakan sesuai dengan tingkat kemampuan, pemahaman. dan keyakinan seseorang Yang tentunya dilandasai dengan sastra dharma sehingga dapat dijadikan candhi pustaka (buku suci) bagi manusia religius. Uraian berikutnya tampak konsep bakti marga yang tercermin dalam kalimat: "Les manjinging pura Maharaja Caya Puru sa. mwang Maharaja Laksmi Kirana. amuja ta siral" Dalam kalimat ini menggambarkan betapa taat dan ikhlasnya beliau melakukan pemujaan sebagai perwujudan rasa bakti dan keyakinanya terhadap Sang Pencipta. Hal serupa tampak pada (h.31a-31b), ketika Maharaja Caya Purusa menjalankan ajaran-ajaran kependetaan. Ada tigajenis puja yang dijalani itu wahya, adhyatmika dan Utama. Wahya adalah pemujaan terhadap area dengan bunga, dupa/api, sesajen dengan segala upakaranya; Adhyatmika adalah memuja dengan memusatkan pikiran, mengatur nafas, memusatkan ilmu dan yoga semadi; sedangkan Utama yaitu pemujaan yang bebas dari dunia nyata dan maya (sekala dan niskala), sebagai cermin jati dirinya (maka glaring jati sarira), budi pekerti sebagai bunganya (maka palawa tang citta marddhawa), bijanya adalah pikiran yang suci (maka wija tang manah nirmmala), dupa atau apinya adalah empat jenis kesetiian (maka dhupadi patang kasatyan), asapnya adalah rasa belas kasihan (maka kukus tang anumana yukti), alasnya adalah Sanghyang Eka Twa Urip (maka lalamak Sanghyang Eka Twa Urip), permandiannya sebagai tempat untuk menyucikan diri secara lahir bathin, disertai mantra Ong Ong tan mom niraksara. Demikian Maharaja Caya Purusa melakukan pemuj aan (nista, madya, utama) yang wajib dilakukannya dengan segala keteguhan. yang diungkapkan dengan "maka nustana tang tunggeng tan po/ah .. (kewa/iban adalah keteguhan yang tak bergerak). Hal ini menggambarkan adanya konsep bakti marga yang begitu dalam pada diri Maharaja Caya Purusa dalam menekuni ajaran kependetaanyang senantiasa mengarah kenirwanan atau kelepasan.

Pcngetahuan tentang kcpercayaan tcrhadap Ida Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) terlihat dalam percakapan Maharaja Laksmi Kirana dengan Maharaja Kama Rupini (Prabhu Kanya). Mereka berdialog tentang ajaran pratyaksa dan anumana. seperti tampak dalam kutipan berikut: "pangawruhan ring waya. ikan pratyaksa. nqa. kunang panWawruhaning kadyatmikan. de sang pandhiea anumana 1ka" (SLPI 2la) Terjemahannya: Pengetahuan yang dapat dilihat oleh idria secara langsung disebut pratyaksa. Adapun pengetahuan gaib atau kebathinan (kedyatmikan) menjadi kewajiban bagi seorang pendeta. yang lumrah disebut anumana".

Ajaran pratyakea yang dimaksudkan adalah cara untuk mengetahui serba ragam benda dan berbagai kejadian dengan pengamatan langsung, yakni dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, dan penikmatan secara langsung oleh panca indria. Sedangkan ajaran anumana adalah cara atau jalan untuk mendapat pengetahuan suatu benda atau kejadian dengan perhitungan yang Iogis, berdasarkan tanda- tanda atau gejala-gejala yang dapat diamati. Kemudian ditarik suatu kesimpulan untuk membuktikan adanya benda atau suatu kejadian Pengetahuan anumana ini dalam filsafat Hindu berbunyi : Yatra. yatra dhumah tatra. tatra wahnih (dimana pun ada asap di sana (pas ti) ada api). Demikian difilsafatkan untuk menyebut Tuhan dalam SLP, dengan sifat-sifatnya yang tak berwujud, tak berwama, tak terpikirkan, dan tidak bebas dari pengaruh indria biasa, namun bagi orang bijaksana (yang telah mencapai kebathinan tingkat tinggi) telah ada dalam pikirannya.

Uraian tentang makrokosmos (bhuwana agung) dan mikro- kosmos (bhuwana alit) sebagai pencerminan dari filsafat kesusilaan, terlihat dalam dialog Maharaja Caya, Purusa dengan Bhatari Uma (h.26b-27a). Dikatakan bahwa dunia ini berasal dari Panca Tan Matra. yakni : sabda tan matra. sparsa tan matra. rasa tan matra. ganda tan matra. dan rupa tan matra. Adanya lima unsur pembentuk dunia (akasa. bayu. teja. apah. dan pretiwi adalah muncul dari Panca Tan Marra. Sedangkan tubuh (bhmvana alit) dibentuk dari sari-

yang sclanJutnya mcnjadi benih pria dan \anita. Posisinya sebagai manusia inilah unsur Panca Tan Matra menempati selurnh tubuh dan berfungsi sebagaimana kodratnya. Unsur sabda tan matra menempati telinga, berfungsi untuk mendengarkan suara: unsur sparsa tan matra menempati kuliL berfungsi untuk merasakan panas dan dingin: unsur rupa tan matra menempati mata, berfungsi untuk melihat beraneka warna: unsur rasa tan matra menempati lidah, berfungsi untuk merasakan sad rasa (kotu/pedas, amla/asam, madura/manis, lawana/asin, tikta/pahit. kesaya/sepet) : dan unsur ganda tan matra menempati hidung, berfungsi untuk mencium segala bau-bauan. Demikian keterkaitan antara unsur makrokosmos (bhuwana agung) dengan mikrokosmos (bhuwana alit) yang diyakini oleh seorang raja seperti Maharaja Caya Purusa. Segala perilaku baik adalah lahir dari pikiran yang baik dan suci, sehingga dapat dijadikan panutan di masyarakat.

Tentang keagungan Tuhan sebagai Pencipta dunia juga istana beliau dalam arah penjuru mata angin (pengider-ider bhuwana) terlihat dalam (h.28a-29a), yakni "wyaktinya syapa kari kamanaken sarwwa jagat, yan lyana sangkeng dewi" (sesungguhnya siapa-lagi yang dapat menciptakan dunia dengan segala isinya, kecuali Aku). Keagungan-Nya dapat difilsafatkan oleh manusia dalam arah penjuru mata angin maupun di dalam dirinya. Seperti halnya Sanghyang lswara, beristana di timur, berwarna putih, bersenjatakan bajra, umanis pancawaranya, dan lembu putih sebagai wahananya. Beliau juga difilsafatkan di dalam diri yang berwujud sabda.

Kepercayaan terhadap punarbawa atau reinkarnasi dapat dilihat dalam beberapa nama tokoh SLP yang pada umurnnya merupakan penjelmaan dari dewa-dewa, antara lain : Maharaja Kama Rupini adalah penjelmaan Bhatari Uma: Patih Rajapati adalah penjelmaan Bhatari Saraswati; Patih Narayana adalah penjelmaan Bhatari Sri: sedangkan Maharaja Caya Purusa dan Laksmi Kirana masing-masing adalah penjelmaan Dewa Siwa dan Dewa Wisnu. Sementara Patih Pradwangsa dengan perilaku sangat bijaksana serta mengetahui akan rahasia Sanghyang Lingga Manik (wruh sadresnya Sanghyang Lingga), merupakan penjelmaan Dewa Brahma. Dengan demikian, genaplah konsep Tri Murti dengan saktinya masing-masing yang.pada

Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). sangatlah relevan jika ketiga sakti dari Tri Murti terlah1r di kerajaan Singhalangghyala yang memiliki sifat pradana (wanita) Sedangkan penjelmaan Tri Murti di kerajaan Sweta Nadl}ipura bersifat p11r11sa (pria). Juga kepercayaan terhadap hukum karma dapat dilihat dalam kalimat "a pan pamastu Bhatari Parameswari". Menyimak makna kalimat di atas dapat dikatakan bahwa negeri Singhalangghyala kiranya pernah berbuat susuatu yang dilarang Tuhan sehingga dikutuknya menjadi sebuah negeri yang berpenduduk wanita semua. Hal ini sesuai dengan makna yang tersirat dalam kata Singhalangghyala, yang berasal dari kata singha raja hutan. langghya ldurhakal dan ala "jelekn Tentang filsafat karma dan punarbawa seperti terurai di atas, merupakan suatu proses yang terjalin erat. Karma adalah perbuatan yang meliputi pikiran, perkataan, dan tingkah laku jasmani. Sedangkan punarbawa adalah perwujudan dari kesimpulan dari semua itu.

4.2 Ajaran tentang Rwa Bhineda

Rwa Bhineda merupakan suatu pokok yang dibahas dalam berbagai teks Bali (termasuk Jawa Kuno) yang secara tradisi dijadikan konsepsi kehidupan masyarakat Bali yang bersumber pada ajaran agama Hindu. Konsep ini selalu berhadapan dengan dua hal yang memiliki sifat saling kontras dalam bentuk oposisi berpasangan, seperti: kiri-kanan, baik-buruk, kaya-miskin, dan sebagainya. Levistrauss menyebut gejala seperti ini sebagai cara logika elementer dari akal manusia untuk memilahkan unsur-unsur alam semesta ke dalam dua golongan berdasarkan ciri-ciri yang saling kontras, bertentangan, atat.1 merupakan kebalikannya, yaitu cara yang disebut binary opposition atau oposisi pasangan (koentjaraningrat, 1982 :229) .Dalam ilmu bahasa (linguistik) istilah rwa bhineda identik dengan masalah keantoniman (antonim yang bersifat ajeg atau pun tidak ajeg).

Dalam SLP konsepsi di atas tercermin dalam (h. 28b-29b), yakni episode yang mcngisahkan ketika Bhatari Uma melerai perang dahsyat di medan laga (Tegal Semaya) seraya menasihati Maharaja Caya Purusa. Wejangan yang bernada dialog tersebut tersurat sebuah ungkapan yang mengarah kcpada prinsip rwa hhineda. berbunyi :

yang tak ada lawannya/ pasangannya). Dinyatakan juga bahwa Sanghyang Parames\ara pun bcrsisian adanya. wanita di sebelah kiri dan pria di sebelah kanan. Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut:

"Sangksepanya tan hana wastu tan.,palalayan, wyaktinya. sira Sanghyang Parameswara. masishan awak nira. wadwan ring kiwa. lanang ring tngen. mangkana malih. · Paduka bhatari · yan mahytin marupa Parameswara. paduka · bhatari tinuting bhuwaiia. lawaii ikangjanma kabeh. v.yaktinya akasa prethiwi. tangkepnva. wetan kulon layanya. rahiha wngi layanya. swargga. papa '/ayanya. Terlemahannva: "Singkatnya tak ada benda yan tak ada lawannya, sesunqguhnya Sanghyang Parameswara bersisian adanya. wanita di sebelah kiri-, pria di sebelah kanan. Demikianlah bhatari jika sedang 'berwujud Parameswara. dituruti serta dicontoh oleh semua manusia. Sesungguhnva langit-bumi lawannya, timur-barat lawannya. siang-malam /awannya. sorga-neraka lawannya".

Demikian rwa bhineda disebutkan dalam alam kedewaan dan makrokosmos (bhuwana agung), yang menandakan bahwa jiwa dari semesta alam pun (Sanghyang Parameswara) dikatakan bersisian yang selanjutnya dituruti atau dicontoh oleh semua makhluk hidup. Juga tentang pasangan makna kontras yang muncul dari alam makrokosmos (bhuwana agung), seperti langit, timur, siang, dan sorga senantiasa memiliki pasangan kontras dengan bumi, barat, malam, dan neraka. Demikian juga halnya yang terjadi dalam alam manusia (mangkana sarwwa janma) pria-wanita lawannya, suka-duka lawannya, dan sebagainya. Ditegaskan pula bahwa alam para dewa yang lumrah disebut alam maya (niskala) berbeda dengan alam manusia yang cendrung bersifat nyata atau sekala.

Konsepsi rwa bhineda (dua yang berbeda) juga tercermin dalam aksara modre (salah satu jenis aksara Bali), yang juga disebut aksara suci atau aksara sakti. Dengan versinya masing-masing, memiliki peran dan kedudukan tersendiri dan istimewa seperti yang digunakan dalam upacara, baik upacara keagamaan (Hindu) maupun dalam ilmu kebathinan. Di Bali (dalam dunia mistik) istilah ini disebut pangiwa-panengen (ilmu kiri. ilmu kanan) Variasi seperti ini dapat dijumpai pada lontar "A.Ji Griguh", yang memuat penuntun pelajaran

(yang dipcrtcntangkan dcngan i lmu hi tam) scbagai suatu ~jaran ajo wera_ pcnuh kcrahasiaan.

l'angivm adalah scbutan yang dibcrikan kepada ilmu hitam yang bersifat ncgatif dan bersumber pada kekuatan alam Rhuta Kala (Bhur Loka). Dalam ~jaran pangiwa (black magic) memutarbalikkan rumus Ang-Ah yang memberi hidup dilakukan dengan maksud jahat (guna- guna). Pengucapan Ang-Ah bermakna memberi hidup. sedangkan AhAng hendaklah dipakai bila menjelang ajal. Dengan demikian. pengucapan rumus yang kudus (kramat) dalam urutan berbalik mengakibatkan kematian. Karcnanya. sangat pcnting pengucapan hal ini dengan tepat dan secermat mutgkin. Panengen adalah istilah yang diberikan kepada ilmu putih (white magic) yang bersifat positip dan bersumber pada kekuatan alam Dewa (Swah Loka) yang dalam kehidupan masyarakat Bali sebagian besar digunakan untuk praktek pengobatan (usada).

Konsep kiri-kanan atau kiwa-tengen juga diberlakukan dalam etika sopan-santun pergaulan atau tatakrama masyarakat Bali. Konsep kiri identik dengan perilaku ketidaksopanan, sedangkan konsep kanan diartikan sebagai sikap kesopanan. Misalnya dalam memberi atau menerima sesuatu dari atau kepada orang lain akan dianggap lebih sopan, jika menggunakan tangan kanan. Dan sangat janggal atau tidak sopan jika menggunakan tangan kiri. Contoh yang sama tampak dalam tatakrama adat-istiadat Bali kaitannya dengan pelaksanaan .upacara keagamaan (Hindu), yang memperhatikan desa. kala. patra, terlebih adanya sistem stratifikasi masyarakat Bali.

Selain itu, dalam masyarakat Bali yang berlandaskan pada moral agama Hindu dikenal tradisi luan-teben (hulu-hilir). Tradisi ini merupakan disiplin hidup yang dijumpai dalam kegiatan sehari-hari. Istilah luan adalah sebutan yang mengarah kepada sesuatu yang suci atau disucikan, sedangkan teben adalah istilah untuk menyatakan sesuatu yang bersifat cuntaka (kotor. tidak suci). Di sini kita akan berhadapan dengan dua hal yang bertentangan (rwa bineda) yang sangat mendasar kaitannya dengan moral Hindu. Sebuah benda dalam kondisi bersih (tanpa kotoran) belum tentu dikatakan suci jika benda itu pernah berada atau dipakai pada tempat yang tidak \ajar. Scpcrti mcncuci

p1nng makan di kamar mandi/ WC. Dcmikian juga halnya yang bcrlaku dalam segala alat upacara keagamaan (Hindu) senantiasa memperhatikan faktor kesucian yang tidak dicampurbaurkan dengan sesuatu yang cuntaka.

Di Bali. dalam setiap pertunjukkan wayang kulit yang mengambit epos Ramayana dan Mahabharata, penonton senantiasa dihadapkan dengan dua pihak yang sating bertentangan. Pihak Ayodya yang dipimpim oteh Ramadan Pandawa yang dipimpin oteh Yudistira beserta saudara-saudara dan batatentaranya berada di pihak dharma (kebajikkan). Sedangkan di pihak Atengka dan Korawa yang masing- masing dipimpin oteh Rahwana dan Duryadana berada di pihak adharma (keburukan). Datam masyarakat Bali pembagian semacam ini disebut ruang tengawan (kanan) dan kebot/kiwa (kiri). Berpijak pada ci ri-ciri kontras tersebut maka tahirlah konsep rwa bhineda. Dengan demikian, pandangan masyarakat Bali tentang dua hat yang memitiki sifat kontras itu merupakan suatu pasangan yang tak terpisahkan. Hal yang satu adalah penyebab hat yang lain. Adanya kanan karena adanya kiri. adanya baik karena adanya buruk, adalah suatu pasangan dari hal- hal yang sating kontras yang harus diserasikan, diselaraskan, dan diseimbanqkan S. Dharmayudha dan Cantika. 1991 : 17). Dengan kata lain, ha! satu merupakan alat ukur yang lain.

Jika diperhatikan secara "keseluruhan episodecerita dalam naskah SLP, sesungguhnya ada dua pihak (kerajaan) antara Sweta Nadhipura dengan Singhalangghyala yang saling kontras atau berlawanan. Di kerajaan Sweta Nadhipura tampil seorang tokoh raja pria, sementara di Singhalangghyala tampil seorang tokoh raja wanita. Sifat-sifatnya juga ada yang kontras (bertawanan) di balik persamaannya. Maharaja Caya Purusa sebagai raja di Sweta Nadhipura, di samping memiliki si fat-sifat pemberani, sakti, paham terhadap agama, perwira, dan sebagainya, juga terlintas kesombongan atau kekerasan yang tidak boteh ditandingi oleh raja di Singhalangghyata Adanya berita yang mampu menyamainya, membuat Maharaja Caya Purusa kurang \'aspada dan menyerang Maharaja Kama Rupini.

Sedangkan Maharaja Kama Rupini yang juga disebut Prabhu Kanya, di samping memiliki kesaktian yang sama dengan Maharaja

(a\ a Purusa _ ia adalah bcr:ji\ a lcmah lembut scbagaimana la\aknya

sGorang ''anita sehingga sifat kcpern iraannya tidak bcgitu menon.101. Pcngetahuannya tclah tertuju kcpada perilaku seorang wiku atau pendeta utama. Dengan demikian_ dapat dikatakan bahwa sifat kedua maharaja tersebut memiliki suatu konsepsi yang disebut dengan nrn bhineda.

4.3 Ajaran tentang Kelepasan/ Kamoksan

Konsep pembcbasan berkaitan erat dengan pengetahuan yang benar atau pengctahuan tertinggi, karena pengetahuan itulah yang pertama-tama diperlukan untuk mencapai pembebasan. Yang dianggap pengetahuan bukan hanya renungan yang abstrak. melainkan mencakup juga pengetahuan konkrit tentang upacara. Tanpa pengetahuan tersebut meditasi bahkan tidak dianggap sah. Jika seseorang telah mencapai tingkat yang mengakhiri hasil karma semasa hidupnya, maka itu telah mencapai kebebasan sempurna. Pembebasan itu tercapai tingkat demi tingkat yang dipandang sebagai konsep yang abstrak sarna sekali atau senantiasa terkait dengan berbagai manisfestasi Mahadewa Siwa (Soebadio, 1985 :6).

Dalam SLP makna kelepasan kamoksan terlihat dalam (h.12b). ketika Maharaja Caya Purusa siap membidikkan gandhewanya ke arah Prabhu Kanya. Prabhu Kanya tidak gentar menghadapinya karena pengetahuan tentang kelepasan telah dipahami dengan sangat baiknya. Ia memusatkan bathinnya dengan penuh konsentrasi. Wujudnya bisa berubah dan menghilang seketika. Hanya kilauan sinar di kepalanyalah yang menjadi pakaiannya (anghing lengis ning sirah juga bhusana nira) dan mampu membebaskan diri dari segala keduniawian. Dengan tenangnya ia diam seraya memusatkan Sang Budha yang bergelar Sang Datu Tri Budha (Sang Dhatu dasana Tri Budha sajna nira)_ berwarna b~ru 3 langit_ berdiri di atas teratai putih dan mengeluarkan cahaya Hyang Gada Walamaya (nila warnna. mangadeg marapakan sweta padma. prabha hyaag Gadha Walamaya). Dengan demikian_ Prabhu Kanya luput dari senjata sakti gandhe\a itu.

Selanjutnya dalam (h.13b)_ tercennin makna sebuah kelepasan dengan ilmu alih rnpa tingkat tinggi. Beraneka rupa senjata sakti milik

dcwata tclah dikpaskan olch Maharaja Caya Purusa. namun

semuanya tunduk dan sirna di hadapan Maharaja Kama Rupini (lka muksa ing harep Sang Rudhonatha). Ketika diciptakannya butakala yang mengerikan Sang Datu segera berdiri dan menunduk ke arah Sanghyang Pertiwi (ika mangadeg Sang Datu. pinrayoga ikang prethiwi). Mengepullah asap tebal ke angkasa dengan kilauan sinamya yang menakjubkan. sehingga Maharaja Kama Rupini luput dari marabahaYa.

Cecangkriman. begitu tersurat dalam.naskah SLP untuk menyebut ilmu kelepasan kamoksan tingkat tinggi milik Prabhu Kanya yang sama sekali tidak ada penangkal atau pemungkasnya (lihat h. 15a). Maharaja Caya Purusa pun menemui ajalnya (walau untuk sementara) terkena cecangkriman itu (oh pjah Maharaja la/is de haji. cumpani cacangkriman i nghu/un). Sebagai seorang yang paham terhadap ilmu kelepasan yang sempurna, maka Prabhu Kanya pun memilih jalan mati tinimbang hidupnya seakan-akan temoda atas kematian Maharaja Caya Purusa (apan iki minaka pataka ni nghulun, inakanya pjaha nghulun). Akhimya kedua maharaja utama itu sama-sama menemui ajalnya.

Hal serupa tertera dalam Jnanasiddhanta, disebutka bahwa

seorang murid yang sejati dapat mencapai pembebasan (untuk sementara) atau manemu kamoksan dalam tidumya, karena tahu cara tidur yang tepat, yakni tidur tanpa gerak dan tanpa mimpi, sehingga terpadamlah seluruh jiwanya (/ina ikang sarwa atma). Ini berarti bahwa ia menemukan pembebasan (kamoksan). Sebaliknya, tidurnya seorang yang bodoh hanyalah dapat mengalami mimpi-mimpi dan kerisauan. Maka jelaslah bahwa tidurnya seorang yang sungguh bijaksana tidak perlu disusul oleh kematian. Seorang bijak yang sejati mencapai tingkat itu lewat pengetahuan prayogasandhi (Soebadio, 1971 :8).

Sebagai manifestasi atau penjelmaan Siwa dan Budha. yang merupakan jiwanya semesta alam (pinaka .Jiwa ning praja). yang dalam hal ini adalah Prabhu Caya Purusa dan Prabhu Kanya telah tiada. maka dunia.pun terdiam bisu (h11mn eng tang bhuwandha kabeh) Dewa Surya tidak bergerak ke barat. tidak ada hembusan angin.

scgalanya mcnjadi sirna. ombak laut bcrhcnti. tiada sungai dan pancuran yang mengalir. Demikian juga scgala jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan menjadi layu dan mati. Singkatnya. dunia beserta segala isinya terdiam bagaikan turut berduka cita atas kematian kedua maharaja itu (mangkana tikang bhuwandha kabeh. !awan sarwwa jagat. an kadi t11m11t ri kapati maharaja). Namun. sekitar dua setengah jam lamanya. kedua maharaja itu hidup kembali dan seluruh isi dunia pun mulai bergerak. Hal ini berarti bahwa kedua maharaja tadi telah mencapai ilmu kesempurnaan tingkat tinggi. karena mampu merasuk jiwa ke dalam tubuhnya masing-masing. Dengan demikian, jiwa itu erat kaitannya dengan bunyi kudus (kramat) OM misalnya. Pemberangkatan jiwa pun senantiasa dengan pengucapan bunyi OM yang kudus (kramat) itu. Karenanya, betapa pentingnya manusia untuk memusatkan bathinnya pada bunyi OM itu, karena merupakan lambang Ida Sanghyang Widhi Wasa (Dhat Tertinggi). Di sinilah jiwa dipersatukan setelah mencapai moksa (kebebasan sempurna).

Kesempurnaan tertinggi atau pengetahuan tentang kelepasan/ kamoksa, tampak dalam perang tanding antara Maharaja Laksmi Kirana dengan Maharaja Kama Rupini. Keduanya sama-sama memiliki ilmu kesempumaan tingkat tinggi lewat senjata-senjata saktinya yang demikian gaib dan ilmu alih rupanya yang sangat menakjubkan. Apa pun yang diciptakan oleh Maharaja Laksmi Kirana, seperti : bayu pracandha (angin topan), agni prabawanta aya giri (api sebesar gunung), nagarajastra (raja ular atau naga), sejuta petir, berbagai bentuk detya, sampai berwujud Dewa Wisnu, begitu juga wujud pemungkas Maharaja Kama Rupini (asing makarupa Sri Laksmi Kirana. mangkana juga rupa Sang Prabhu Kanya), karena ia adalah keturunan Sang Utara (ibunya) dan Sang Anila (ayahnya), keduanya keturunan kesatria Singhalangghyala. Pikirannya disucikan oleh Bhatari Uma, sementara gurunya adalah seorang biksu bemama Datu Sawitri. Ia tidak terpengaruh oleh nafsu karena ketekunannya menjalankan puasa Budha. yang seakan-akan telah menunggal dengan Bodbi yang suci (suk!a bodi).

Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pengetahuan murni (scmpurna) itu mampu melaksanakan kcsunyian (kesunyataan) tanpa

mcmikirkan sesuatu pun yang ditangkap oleh panca indria Dcngan demikian. seseorang tidak lagi tcrkena kesusahan kelahiran kembali. maupun oleh noda-noda, kejahatan dan kesalahan. lni berarti pembebasan akan sempurna jika seseorang ingat akan kekuatannya yang mahatinggi, dan telah mencapai pengetahuan tentang kebenaran. Jadi pengetahuan kebenaran mampu melenyapkan segala noda, kejahatan, dan kesalahan. Laksana air yang dimasak dalam sebuah periuk. air akan menguap dan tidak meninggalkan bekas apa pun. Yang diumpamakan dengan periuk adalah tubuh manusia: sebagai, air tadi adalah noda, kejahatan, dan kesalahan: sedangkan yang diumpamakan api adalah pengetahuan kebenaran. Hal ini diungkapkan dalam SLP (h.30a), yakni : "kunang sang wruh ring kamahawidyan. sira ta kang pgat, wkasing aji. waspada ri prat.yaka ning pati ... Kutipan ini menunjukkan bahwa makna pengetahuan tentang kebenaran itu tidak mengenal batas. Seseorang yang berpengetahuan tinggi adalah orang yang tak henti-hentinya mencari ilmu pengetahuan (kebenaran) hingga akhir hayatnya. Pembicaraan tentang ha! ini terdapat dalam sejumlah lontar Saraswati, terutama dalam lontar M erapi-Merbabu ( 11 L 254) beraksara Budha.

Dalam dialog selanjutnya (h.23a-23b) dinyatakan adanya tiga jenis kesempurnaan bathin, yakni : sakti, seorang kawi, dan memahami mantra-mantra (tiga ikang adyatmika. hana ning upasargga. lwirnya: sakti, kawi. bhisa ngaji). Kesempurnaan itu sangat berbahaya jika tidak berlandaskan ilmu, karena semua itu diikat oleh nafsu sehingga dapat membatalkan tujuan utama. Seorang kawi dapat mencapai moksa jika memahami mantra-mantra. Jasanya akan dapat ' dinikrnati oleh orang yang memahami ajaran Dharma Sunya dan Dharma Sastra (sang kawi bhisa angaji. syapa ta mamuktya phalaning dharmma nira. sang kinahanan ring dharmma sunya. Iowan dharmma sastra), karena kebenaran itu pasti diterima oleh orang yang patut memetik hasilnya. Tuntunan suci yang demikian itulah karma yang ditinggalkan seseorang yang telah menc apai kamoksan, berbagai ajaran sangaskara adalah karmanya juga.

Dalam Jnanasidhanta. disebutkan ada empat Tujuan Tertinggi yaitu adhisthana (kelepasan) : pratistha berarti penebusan (kamoksan) : santi berarti pembebasan (kamuktan); dan santyatita

bcrarti pclenyapan scmpurna (kcnirn anan) Kecmpat itulah ajaran Sanghyang Adipramana untuk kembali kc kodratnya yang scjati sepcrti scdia kala (Soebadio, 1971: 11 7) Kelepasan atau kamoksan itu adalah batin yang bersifat murni, halus. dan yang mempunyai pengetahuan yang murni, lebur sampai derajat tertinggi. Kemudian dalam dialog Maharaja Caya Purusa dengan Bhatari Uma, terdapat uraian tentang ajaran Kerta Semaya yakni ajaran yang mengarahkan keteguhan iman menujujalan kamoksan. Dengan menjalankan Kerta Semaya. seseorang akan terbebas dari segala dosa dan malapetaka. Seperti perilaku Maharaja Caya Purusa, walaupun telah menempuh segala cara untuk menghilangkan dosa-dosanya. tetap saja tidak hilang tanpa dilandasi dengan Ker ta Se maya.

Menjelang akhir teks SLP ini tampak sejumlah ajaran yang mengarah kelepasan kamoksan Dikatakan bahwa ia telah mampu menghilangkan kekotoran untuk mencapai kebahagiaan di sorga (kang kawasa ri pangilang niran ma/a. makanimitta niratmaka) Rasa takut untuk memahami atau pun mengajarkan tentang kependetaan sama sekali tidak ada. segala bentuk tapa utarna dipahaminya (adining tapa rinegep nira). Juga kesucian pikiran (prabhanjita) telah menjadi tujuannya. Ia bagaikan adiknya Bregu yang teramat suci (vangken bhregu makanten. suddha ning patipati). Bagi seorang ra kawi (penyair.) hal ini sangat diutamakan, terutama kemanunggalan dengan dewa keindahan merupakan jalan maupun tujuannya. Jalan menuju terciptanya sebuah karya yang indah (kakawinnya). Yoga yang diungkapkan dalam bait-bait pembukaan menjadikan ra kawi marnpu mengeluarkan tunas-tunas keindahan (alung lango), karena ia dipersatukan dengan de·wa yang merupakan keindahan itu sendiri. Di lain pihak, yoga juga merupakan tujuannya, karena asal senantiasa tekun melakukannya ia akan mencapai pembebasan terakhir (moksa) dalam persatuannya itu (Zoetrnulder. 1983:210)

Juga doa-doa para ra kawi dalam menghimbau istadewatanya, agaknya dengan penuh kesadaran untuk menyatakan betapa kekurangan yang dimiliki. betapa kerdil dirinya. betapa miskin dirinya di hadapan Sang Maha Pcncipta. betapa jauh ia dari Sanghyang Kawi. Lalu dipilihlah nama-nama samaran seperti: tan akung (tanpa cinta) untuk dapat mendekatkan dirinya dengan akung (cinta): dipilih nama

(miskin. tanpa harta) untuk dapat mcndekatkan diri dcngan Poromartha: kcmudian dalam sejumlah karya Ida Pcdanda Made Sidemen tem1asuk Singhalangghyala (puisi dan prosa). dipilih nama tan tusta. tan maha. tan arsa (bhs Bali : sing demen "tidak suka") untuk dapat mencapai tusta atau ananda (kebahagiaan yang tertinggi).

Ternyata makna yang tersirat di balik nama samaran tersebut merupakan pengejawantahan dari ajaran yoga. ajaran yang dianut oleh para ra kawi. Di situ juga tersirat cita-cita seorang rakawi (atau seorang yogi) yakm keinginan untuk mempersatukan diri dan menyelami Yang Mutlak dalam keadaan-Nya yang tersenden lalu menemukan identifikasi total dan kebenaran yang hakiki. melalui hilangnya seluruh kesadarannya. Dengan demikian jelaslah bahwa seorang Mahakawi adalah juga seorang siddha yogi, yang pada hakikatnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu .. kelepasan" (sadhana sang kawiswara asadhya kalepasan ia sandi ning mango). Dengan derriikian, seorang mahakawi adalah orang yang telah mencapai tingkat kesucian yang tinggi (siddha-suddha), yang telah menikmati rasa dan sarinya lango. Ia juga seorang adi-pandhita. seorang yang telah menguasai paramatattwa. Karenanya, ia adalah lingganya negeri atau dipanya negeri Dari tangan orang seperti itulah lahir karya-karya sastra di masa lampau.

.:/. .:/ Ajaran Prinsip-Prinsip Tertinggi Siwa-Buddha

Kern adalah sarjana pertama yang menunjukkan gejala percampuran antara yang disebutnya Mahayanisme dan Siwaisme. khususnya dalam hal pemberian arti kepada Siwa dan Buddha sebagai Pengertian Tertinggi yang tunggal, yang pada akhir tulisannya dikatakan bahwa kedua agama itu tetap dibedakan satu sama lain. Ke rn menyebutnya dengan istilah vermenging (percampuran), selanjutnya dipakai titik tolak oleh Krom. Rassers, dan Zoetmulder ( 1968 30 I) dengan istilah .1yncretiame atau blending (perpaduan, peleburan). Pigeaud ( 1960 l 963,IV:3) mengusulkan dengan istilah paralellisme. sedang Gonda ( 1970:28) memberikan istilah coalition (koalisi). Istilah koalisi disetujui oleh Haryati Soebadio (1971 55 -57) dengan menekankan bahwa identifikas i Hindu-Buddha yang dinyatakan oleh naskah-naskah Jawa Ku no seperti Arjunaw1jaya.

Nagarakrtagama. don K11i ljarakarna (berasal dari zaman Majapahit) prosa atau puisi (kaka\in). hanyalah mengcnai prins1p tertinggi bcserta scgala manifestasinya.

Selanjutnya, koalisi mempunyai denotasi yang mengarah tujuan terakhir lewat jalan yang berbeda-beda atau tumbuh secara bersama- sama. Hubungan kedua sistem ini diumpamakan dengan pendakian sebuah gunung, walaupun jalannya berbeda-bcda, namun akhirnya tcrcapai puncak yang sama. Dalam SLP (h.3b-4a) diungkapkan : "haywa la pinasa walaken. niran kahat. apan tzmggal Sanghyang hinisti. maka kantya kamoksan. ndan mapadudwan margga nira". Kutipan ini mencerminkan adanya kesejajaran antara prinsip- prinsip tertinggi Siwa dan Budha, karena hanya satu Tuhan yang dituju sebagai pelindung atau tongkat penunjuk jalan ke arah moksa. Hanya cara atau jalan menuju-Nyalah yang membedakannya. oleh karena itu, apa yang menjadi jalan utama itu semestinya tidak boleh dipertentangkan, sebagaimana halnya dalam mengetahui cahaya (sinar) suci Sanghyang Lingga yang ada diphaswadwara (ubun-ubun).

Dalam naskah Singhalangghyala (kakawin) juga ada tercermin sebentuk Zat Tertinggi yang disebut dengan Bhatara Siwa-Buddha yang ditempatkannya sebagai dewa. yang tertinggi. dipuja sebagai jiwanya alam semesta (sira pinaka jiwaning praja). Kemudian dinyatakan sebagai Beliau Yang Berbau Harum (Sang mawak sira gandha shesa). serta yang menjadi uriping bhuwana paniwi (l.2b). Motif yang serupa (khususnya dalam manggala) menyebut Siwa-Buddha secara sejajar. Hal serupa dapat dilihat dalam Kakawin Kunjarakarna yakni : kami Si \a kami Buddha: dalam Arjunawijaya (27 2c) dinyatakan bah·wa Siwa dan Buddha adalah dua yang sama itu (kalih sameka): Sedangkan dalam kakawin Sutasoma (l3.9.5d) ditegaskan bahwa Siwa dan Buddha adalah satu (tunggal), yang dinyatakan dengan: bhineka tungga! ika tan hana dharma mangrwa. dan pada manggala kakawin Negarakrtagama ( 1. I) tetap dipuja sebagai Siwa-Buddha (Suastika. 1985 :37). Jika disimak wejangan Bhagawan Pascati di tengah -tengah perbincangan Maharaja Caya Purusa dengan Patih Pradwangsa (akhir h.5b). disebutkan bah\'a Siwa (paham yang dianut Maharaja Caya Purusa) dengan Budha (paham yang dianut Maharaja Kama Rupini) ditcmpatkan pada posisi

yang scjajar pula. Yang satu diibaratkan scbagai Sanghyang Surya dan yang lain diibaratkan scbagai Sanghyang \ulan atau scbaliknya. sepcrt1 kutipan berikut ·· sanqkseponya. Aditya Paraineswara. Wu/an Sang Prahh11 Kanya. Wu/an Parames"·ara. Aditya Sang Parbhu Kanya" (" Singkatnya. San yang Surva (Aditya) adalah Parameswara (Prahhu Caya Purusa). Sanghyang-Wulan (Ratih) adalah Prabhu Kanya. (Sebaliknya)-Sanghyang W11/an '(Ratih) adalah Parames .. wara (P rabhu Caya P11rusa). Sanghyang Surya (A ditya) adalah Prabhu Kanya'')

Selain itu. tercermin juga dalam (h.16a). ketika kedua maharaja yang semula menemui. ajal hingga akhimya hidup kembali berkat kesempumaan ilmu yang dimilikinya menyebut dengan: '·Sangksepanya tan alah de haji cumapani, tan alah rahadyan sanghulun de ninghulun tan alah de haji ( "Singkatnya tak terkalahkan olehmu untuk menolaknya. tidak kalah engkau olehku (juga) aku tidak kalah olehmu "). Kutipan ini menunjukkan adanya suatu kesejajaran dari prinsip-prinsip tertinggi Siwa dan Budha, yang sesungguhnya berasal dari Zat Tertinggi Yang Tunggal sehingga tidak ada yang kalah atau menang antara tokoh Prabhu Caya Purusa dengan Prabhu Kanya. Dalam episode lain (h.17a) terlihat ketika munculnya Bhatara lswara yang menampakkan diri sebagai Sanghyang Jagat Karana (Tuhan penyebab adanya dunia) di tengah-tengah perang tanding Maharaja Caya Purusa dengan Maharaja Kama Rupini. Keduanya bersujud di kaki Sanghyang Jagat Karana, seraya mendengarkan sabda bahwa perang tanding itu tidak akan ada yang kalah atau menang, karena Sanghyang jagat Karanalah sesungguhnya bersemayan dalam diri kedua maharaja tersebut, yang dinyatakan : ''tan hana kita wnang kaprajaya. maka nimitta padha katunggalan mami kita makarwall (" kalian tentu tidak ada yang kalah atau menang. karena akulah sesungguhnya diri kalian '').

Juga tampak pada (h.30b) yakni akhir sebuah peperangan antara pihak Sweta Nadhipura dengan pihak Singhalangghyala. ketika munculnya Sanghyang Siwa Parameswara sebagai Zat Tertinggi Yang Tunggal dan kedua pihak pertikaian itu. Kedua pihak menjadi insyap ketik a mendengar wejangan Sanghyang Siwa Parameswara yang terakh1r. yang berbunyi

marangkit ikang perona. asowe .\i/ih wantus. tka Sanghyang Siwa I'arame.\·•.i:ara. ling nira F Caya J>umsa. Kama Rupini. h~1ywa denta maprang 11/ih kita krellaken ikang jagat". ("ketika perang sedang berkecamuk sangat lama. n111nc11//ah Sanghyang Siwa Parameswara dan berkata. Wahai Caya P11rusa (/11ga) Kama Rupini. janganlah kalian berperang. pulanglah kalian dan benahi negera'').

Setelah sabda dari Sanghyang Siwa Parameswara itu terlontar dan didengar oleh kedua maharaja yang tengah bertikai, akhirnya mereka pun menjadi sadar dan menuruti printah-Nya sehingga kembali ke negerinya masing-masing, membenahi tatacara kenegaraan yang selanjutnya menempuh jalan kependetaan atau wiku utama.

Di Bali, prinsip-prinsip tertinggi Siwa-Budha seperti yang diagungkan dalam SLP bukan hanya ungkapan sastra semata, melainkan ada suatu kepaduan atau kesejajaran. Hal ini dapat disaksikan dalam konteks kehidupan sosio-budaya masyarakat Bali, pada saat diadakannya upacara yajfia Tawur Agung (Tawur Kesanga), yakni upacara yajfia yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi (dalam rangka menyambut Tahun Baru Saka (swasti saka warsatitha). Dalam upacara ini dapat disaksikan bahwa baik pendeta Siwa maupun pendeta Buddha, sesuai dengan dharma kepanditaan yang digariskan dalam kitab suci, sec;ara berdampingan atau bersama- sama memimpin jalannya upacara tersebut.

Jika direnungkan bahv•a yang disujudi atau sebagai penentu oleh .ra kawi dalam karya sastra SLP ini adalah Bhatara Siwa-Budha, yang senantiasa disembah dalam bhuwana agung (makrokosmos), akhirnya merasuk ke dalam hati (bhuwana alit) ra kawi yang telah menyatu dalam bentuk yoga digelari dengan istilah Jina, seperti dinyatakan dalam Singhalangghyala (kakawin): i dha/em hredaya ginlara smertti (I.lb). Dalam ha! ini penyair menghendaki dirinya dijadikan candhi_ pustaka cinandhi pustaka kemuliaan sosok pendeta utama seperti Bhagawan Ramaloka. Pemujaan terhadap Bhatara Siwa-Buda adalah diyakini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Tunggal. Kepada-Nya sang penyair mohon perlindungan karena Beliaulah Sanghyang Wruhing Kav.·i (Agastia. 1987:46).

5 Aja ran tentang Pengendalian /Jiri

'l'apa adalah salah satu bentuk pengendalian diri. yang meliputi segala bentuk pengawasan, pengekangan. serta pengendalian indria dan pikiran yang dilaksanakan atas dasar pertimbangan yang mantap. Wiweka atau kemarnpuan seseorang untuk membeda-bedakan, menimbang-nimbang, dan akhirnya sarnpai pada pilihan yang terbaik atau paling benar, merupakan sikap pengendalian diri termasuk pengendalian pikiran. perkataan. dan perbuatan. Seorang yogi atau orang yang telah mampu melaksanakan ajaran yoga secara sungguh- sungguh dan desiplin, merupakan pengendalian diri yang mengarah kepada pikiran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan atau kebenaran tertinggi (Sura, 1985 :33).

Dalam naskah SLP ajaran mengenai pengendalian diri mulai terlihat pada (h.2b) yang berbunyi :

"tlas kabratan sang catur pandhita katama de nira. rantas ikang catur jemaya, ya ta matangyan kretta ikang bhuwana : (" semua ajaran Brata dari Semaya telah dikuasai dengan sempurnanya, sehingga dunia menjadi ten tram '')

Kutipan tersebut menggambarkan demikian terpujinya keutamaan Maharaja Caya Purusa, karena sangat paharn akan ajaran brata yang merupakan lambang dari pengendalian di ri. Demikian juga tentang catur semaya (empat kesetiaan) telah dikuasainya. Semua tanarnan tumbuh dengan subur dan berlimpah hasilnya. Segala yang dibeli harganya murah (asing tinandur sarwa nadi. asing tinuku sarwa murah) Perilaku Maharaja Caya Purusa yang bijaksana itu merupakan basil dari pengendalian diri, sehingga seluruh rakyat menjadi tentrarn lahir bathin.

Konsep tentang pengendalian diri hampir terdapat pada setiap kitab suci Hindu (termasuk sebagian besar lontar) Dalam Katha Upanisad bagian III (3-6), disebutkan bahwa : atma (jiwa) bagaikan pengendara kereta dan tubuh bagikan ke reta. budhi (kecerdasan) laksana kusir, dan pikiran sebagai kendalinya : indria dikatakan sebagai kuda. benda-benda pemuas nafsu adalah lapangan (tempat ku da berkeliaran) Atma (jiwa) bersekutu dengan indria dan pikiran menjadi penikmatnya: Orang yang tidak bijaksana yang senantiasa tidak

kcpunyaan seorang kusir: dan orang yang bijaksana yang selalu menggunakan pikirannya, indrianya terkendali, tak ubahnya dengan kuda kepunyaan seorang kusir.

Hal ser~pa terlihat dalam SLP (h.8ab), di mana badan ini diibaratkan sebagai sebuah kereta yang menjadi tempat suka dan duka. Kudanya adalah dharma (kebenaran sejati): kekangn_va adalah budi: yuganya adalah semara dudu: bebukungnya adalah tryantah karamah: batekannya adalah pikiran : indennya adalah rasa kasih sayang: talinya adalah tenaga: wewakulnya adalah rasa suka bersedekah: bubatnya adalah inti ajaran agama: balainya adalah perilaku yang benar: pengikatnya adalah ketenangan: kasur atau tempat duduknya adalah pikiran vang suci; jejenengnya adalah kesetiaan; dan ulap-ulapnya adalah kewaspadaan.

Demikian perumpamaan yang disampaikan oleh Patih Pradwangsa kepada junjungannya (Prabhu Caya Purusa), yang begitu dalam maknanya untuk mengendalikan badan ini agar tidak menuruti nafsu semata. Prabhu Caya Purusa juga diibaratkan sebagai Sanghyang Wisesa: yang dipayungi oleh Sanghyang Acintya; dikusiri oleh Sanghyang Atma: bunyi be! adalah perkataan suci: pepintennya adalah ingatan: dan pikiran sebagai alat kontrol keseluruhan indria. Sementara rodanya adalah kereta yang tengah berjalan di tempat-tempat sulit. iika kusimya berlaku bijaksana, jalan kereta pun akan lancar dan enak. Tetapi jika kusirnya berlaku kurang bijaksana (awidya), kereta pun akan rusak dan sirna. Demikian seyogyanya menjaga badan ini dengan berbagai cara pengendaliannya, termasuk untuk lebih meningkatkan ajaran saznhita dan sapta upaya sebagaimana yang ditekuni oleh Prabhu Caya Purusa atas anjuran Patih Pradwangsa.

.Dengan demikian, orang yang mempunyai kusir bijaksana, dapat mengendalikan lisnya (kendalinya) akan mencapai tempat yang terakhir dan tertinggi. yakni Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) Dalam agama Hindu latihan pikiran (manacika) mendapat tempat yang paling utama: lalu penguasaan akan kata (wacika): dan yang tcrakhir adalah melaksanakan perbuatan ~·ang baik dan suci (kayika) Pengendalian pikiran. perkataan, dan perbuatan menjadikan

(111e1u1; >ado) maupun di akhirat (sorga) Perbuatan Jhormalah (perbuatan yang benar) dapat mendorong pikiran sescorang untuk bcrbuat scsuatu yang seadil-adilnya di masyarakat. Dharma yang tertinggi adalah tidak menyakiti makhluk lain_ yang dalam epos Mahabharata disebut dengan ahimsa paramo dharmah. Juga disebutkan dalam kakmvin Ramayana (XXIV:8 I):

Prihen temen dharma dhumaranang sarat. saraga sang sadhu sireka tutana. tan artha tan kama pidonya tan yasa. ya sakti sang sa1Jana dharma raksaka. Utamakan benar-benar dharma pelindung dunia ini. turutilah kehendak orang budiman. yang tak suka akan harta. nafsu dan kemasyuran. Kesaktian (orang budiman) ialah 'sebagai pelindung dunia.

Begitu luasnya arti dharma, dan untuk mencapai jagaddhita

(kesejahteraan umat manusia, kedamaian, dan kelestarian dunia, hidup aman dan damai, dan sebagainya) harus dikendalikan dan diatur dengan ajaran-ajaran kerohanian/kesusilaan agama yang disebut dengan dharma. Tanpa dikendalikan oleh dharma (ajaran kerohanian/ kesusilaan). kama (naluri, nafsu), dan artha (sarana kehidupan duniawi dan harta benda) akan mendatangkan bencana dan malapetaka terhadap umat manusia atau makhluk lainnya. Hanya melalu1 ajaran rohani dan kesusilaan agama (dharma), seseorang akan dapat mencapai tujuan hidup yang tertinggi (summun bonum) yaitu kelepasan atau kebebasan roh dari penderitaan hidup duniawi, bebas dari segala dosa, kebahagiaan rohani, serta menunggalnya roh dengan Tuhan atau panunggalaning kawula Ian gusti.

Dalam Panca Yama Brata terdapat lima jenis pengendalian diri. yaitu : (I) ahimsa (tidak melakukan tindak kekerasan (non- violence) seperti membunuh atau menjadikan penderitaan makhluk lain) : (2) Brahmacari (pengendalian panca indria semasih menuntut ilmu/ belajar) _ (3) satya (berhati jujur) (4) asteya (tidak mencuri _ merampok_ krupsi, dll): dan (5) aparigraha (tidak suka menerima pemberian atau tidak rakus) Dalam Kakmrin Ramayana ura1an

~jaran tentang pengcndalian diri tcrtuang dalam sargah I bait 5 yang berbunYi :

"Rigadi musuh maparo. ri hati ya tonggwanya tan madoh ring awak. yeka tan hana ri sira. prawira wihikan sireng nifi". Terjemahannya : "Nafsu don sebagainya (rasa marah. irihati. dengki. angkuh. kegelapan pikiran). di hatilah tempatnya (dan) tidak jauh dari diri. yang demikian ifu tidak ada padanya (Raja Dasarata). bers~fat purusa dan bijaksana terhadap niti ilmu kepemimpinan'').

Kutipan di atas menunjukkan bahwa nafsu itu adalah musuh yang pal- ing buas yang dapat menggoncang ketentraman bathin. Nafsu dapat memperbudak manusia hingga terjerumus ke lembah dosa dan malapetaka. Munculnya nafsu akibat dari awidya (kurang bijaksana), sehingga muncullah rasa marah (kroda), iri hati (irsya), dengki (matsarya), mabuk (mada). kelobaan (loba), dan kebingungan (moha). Keenam musuh seperti itu sama sekali tidak ada di dalam seseorang yang bijaksana seperti Raja Dasaratha. Semua sifat sad ripu) itu hendaknya dibasmi atau dikendalikan agar jiwa menjadi suci murni sehingga pada akhirnya tercapailah apa yang disebut dharma (budi luhur, kebajikkan, pengabdian) demi kesejahteraan sesama makhluk dan kebahagiaan abadi.

Dalam SLP ha! di atas terlihat dalam (h.22b) ketika terjadi dialog antara Sri Laksmi Kirana dengan Maharaja Kama Rupini. yang berbunyi :

"Apan swabhawa ning wwang. nga niyata kopasargghan. dening raga. yang lanang. ya wadwan. raga. nga. iwiyaning jihwapasta. ika nimittani kang wang binuru dening purisyane. pingatan dene kamene. kapati putus kengelan anglin. neraka patana. dening wisaya ning amangan lawan asanggama. matangyan sang pandhita wreddhati maha purnsa. rinunting ikang raga. pinati wisaya ning jihwapasta. makanimitta nira tan waluya niran cakra bhawan" Ter1emahannya: "Karena menjadi manusia itu (adalah) selalu dilip11ti oleh nafsu. entah ir11 laki-laki atau wanita. naf~u adalah racun yang keluar dari lidah. it11 sebabnya manusia dike.Jar oleh tahinya. juga karena air maninya. nerakalah akibat dari na_f~·u makan dan hersenggama. itu sebabnya bagi pendeta bUaksana nan .rnc:i dibasmi semua nafsu lidah don kemaluan itu"

Kuti pan di atas 1111.:nccrminkan bctapa sulitm a hid up mcnjadi manus1a. ~ ang scnantiasa d1 lipu t1 olch nafsu. Karena nafsu lah mcnjadikan manusia terjerumus kc lcmbah neraka dan sclalu dike_iar oleh tahmya Juga karena faktor makan dan bersenggama. Nafsu itu adalah racun yang keluar dari lidah. Hal ini berarti bah\"a lidah sebagai salah satu alat artikulasi berperan amat penting. Sejumlah ungkapan mutiara menyebutkan. bahwa perkataan adalah obat bius yang dipergunakan oleh manusia Kaki keseleo masih mungkin disembuhkan. tapi _pka lidah keseleo akibatnya seumur hidup mungkin tak dapat diatasi. Sekali lepas, larilah perkataan sekencang kereta berkuda empat dan kembali hanya dengan susah payah. Perkataan adalah ibarat sebuah anak panah, sekali terlepas tak mampu dikuasai lagi. "fkang ujar aha/a. tan pahi lawan hru. songkabnya sakatempuha denya juga alara" ("Perkataan yang mengandung maksud jahat tidak beda dengan anak panah yang dilepas dan setiap yang ditempuhnya merasa sakit .. ). Dalam Kakawin Nitisastra juga disebutkan seperti berikut:

Wasita nimittanta manemu laksmi wasita nimittanta pati kapangguh, wasita nimittanta manemu uhkha, wasita nimittanta manemu mitra. Terjemahannya: Perkataan menyebab engkau menemui kebahagiaan, perkataan menyebabkan engkau menemui ajal, perkataan menyebabkan engkau menemui rasa duka, perkataan menyebabkan engkau mendapatkan sahabat.

Demikian mendalarnnya peran dan makna lidah dalam hidup ini. di mana perkataan adalah segalanya. Karenanya, pemeliharaan lidah setiap saat merupakan lambang pengendalian diri yang utama.

Selain itu, pelaksanaan upawasa (istilah untuk wawas diri atau puasa bagi umat Hindu) adalah lambang pengendalian diri tentang makan dan minum Upawasa bukan hanya dilakukan secara lahiriah. melainkan secara bathiniah juga amat penting. Hal ini berarti manusia yang insyaf akan dirmya sehingga dalam hidupnya 1a mencari makan dan minum dengan jalan yang benar, tidak melanggar dharma. termasuk yang baik untuk pertumbuhan kesehatan jasmani dan rohani Bagi umat Hindu pelaksanaan upmvasa bukan hanya pada hari raya Nyepi (sctahun sekali) melainkan pada hari-hari su ci lainnya juga \ajib

11pawasa. scpcrti Ga/ungan. Kuningan. Hudo Ka/iv.ion />agerwesi. Siwa Rolri. Purnama. Ti/em. dan sebagainya.

Seperti halnya syair (kakawin) Jawa Kuna Sutasoma. yang oleh penyair sebenarnya diberi judul Purusada Santa yang berarti Purusada ditenangkan, didamaikan atau diinsyafkan hingga menjadi seorang yang lemah lembut: juga dalam kisah Raja Eswaryadala di negeri Patali diinsyafkan perilakunya oleh Ni Dyah Tantri (putri Patih Bandeswarya: maka dalam SLP pun terlihat hal yang sama. Mulai lempir 3la-33a, yakni setelah peperangan usai tampak Maharaja Caya Purusa juga Laksmi Kirana mulai insyaf bahkan berperilaku seperti pendeta utama sebagai upaya untuk mengenal jati dirinya. Ini berarti bahwa beliati telah mampu mengendalikan nafsu itu. Karena kesuciannyalah beliau dapat memahami intisari ajaran kenirwanaan dan ajaran tentang manu atau Manawa Dharma Sastra (kasikep rasa ning prabhu ring sunya mwang ring manuh). Demikian olehnya menjaga ketentraman dunia, yang tidak menganggap dirinya sebagai raja lagi, bagaikan Sanghyang Guru perilakunya (Dewa Guru laksananira). Dan pendetalah pikirannya, yaitu ajaran pendeta Budha (wiku pangidhep nira nda Boddha Resi tinenget nira kabwatan). Ada empat ajaran tapa yang dipahaminya, yakni : ( l) Suk/a Boddha Paksa (kesucian Sang Budha) (2) Suk/a Wana Prasta (kesucian hidup di hutan) (3) Suk/a Tyaga (kesucian seorang pendeta); dan (4) Suk/a Prabhanjita (kesucian keteguhan pikiran).

Bagi seorang raja yang mendalami ajaran kawikon atau pendeta utama tentang kesucian hidup di .hutan, menganggap badannya sebagai hutan belukar yang siap untuk dirabas, menghilangkan rerumputan yang senantiasa menumbangkan nafsu buruk. Rerumputan yang tak terbatas dibersihkan karena penghalang pikiran suci. Dicabuti sehingga n.afsu duniawi itu tidak bisa tumbuh, karena ia bagaikan anak panah yang siap menghapus tanpa pertolongan. Ia juga bagaikan rumplit yang menimbulkan berbagai ha!. seperti tersebut dalam h.32b: "/kang raga dwasa. raga nga. ikang hyun. lawan melik. yangken sap11 ikang kanira srayan yangken suket ikang tiga sprakara. lwirn.ya: cara. kula. maryyadha. kama: krodha: artha raga. dwesa. mbha. satwa. ra/ah. tamah. citta. budhi. manah. bayu. sabda. hidhep. maya. pradhana. tresna"

Scmua it u dibcrsihkan atau dikcndalikan satu pcrsatu (ika ta kabch sinap\ an) dan bcrkchcndak n11..: nyiapkan tapa yang suci_ karcna mcrupakan puncak pcrtapaan yang pasti dinanti ibarat scbuah tutup kantong dan akhir dari penganut ajaran kesunyataan yang siap memayunginya Demikian perilaku Mahara_1 a Caya Purusa yang insyaf akan di ri nya sehingga dapat disebut sebaga1 salah seorang tokoh raja atau pemimpin yang mengarah kepada ajaran keninvanaan dan telah berhasil melakukan tapa sebagai

4.6 Senjata dan Bentuk Alih Rupa

P ell\·air Kakawin Bharata Yuddha menY ebut K11r11k se tra sebagai tempat meletusnya perang besar antara Pandawa dan Korawa. Tempat bergelimpangnya para kesatria yang terbunuh, berserakan senjata-senjata yang patah dan remuk, termasuk semua jenis tunggangannya. Tampak lautan darah di sepanjang Kuruksetra sebagai lambang keberanian sang kesatria. Di Kumksetralah tempat para kesatria yang bemasib buruk menemui ajalnya. Hal ini berarti, bahwa di tempat inilah semua nafsu adharma dibasmi sampai tuntas_ tak terkecuali bagi mereka yang memihak padanya. Di tempat ini juga para kesatria Pandawa dan kesatria Korawa memerangi nafsu awidya (kegelapan) terhadap dharma (kebenaran) Demi tegaknya suatu keadilan, kedamaian, kebenaran_ dan kesejahteraan, maka bagi sang kesatria perang telah menjadi dharmanya (kewajibannya). Dalam pcperanganlah pengorbanan (yajna) bagi sang kesatria dan negara musuh yang hangus merupakan api pujaannya. Sedangkan suda mani para raja yang gugur di medan perang adalah bijanya. Demikian para kcsatria perkasa dalam peperangan yang dilukiskan dalam bait pertama Kakawin Bharata Yuddha karya Mpu Sdah.

Kisah perang seperti di atas tercermin juga dalam naskah SLP Jika perang Bharata Yuddha terjadi di sebuah alun-alun yang disebut Kuruksetra. maka tempat perang yang terjadi dalarn SLP ( pe rang a ntara kerajaan Sweta Nadhip ura dengan kera1 aan Singhalangghyala) disebut oleh ra kawi dengan regal Semaya Wel~VO Jika di simak art1 katanya adalah Tega/ lalun-alun·. Semaya 'Jan1i " Wedya il mu kesempumaan Dengan demikian. berati tempat untuk mcngadu ilmu kesempumaan tingkat tinggi yang tclah dijanjikan atau

yang diserang tampak pada (h.loa). kctika duta dari pihak S\Cta Nadhipura (sebagai penycrang) mengantarkan surat pcrjanjian tentang tcrjadinya perang atau tidak kepada Singhalangghyala (sebagai pihak yang diserang). Terlontarlah kata-kata sang kesatria seperti:

"E rakryan Patih Suryanasa. maluy rakyan matura ring Sri Caya Purusa. yan tan anungkul ikang wadwa kanya. pinihinur p1aha ikang wang ring Singhalanggahyala. sapadya ilanga ikang kaksatrian" ("·wahai Patih Suryanasa. kembalilah dan katakan kepada Sri Caya Purusa bahwa balatentara Kanva tidak akan menverah Lebih utama mati semua orang di Singhalangghyala tinimbang kehilangan kesatriaannya '').

Demikian jawaban sang kesatria dari Singhalangghyala (Patih Rajapati), yang penuh patriotisme demi negeri tercintanya. Ia menolak surat yang dibawa oleh utusan Sweta Nadhipura (Patih Suryanasa). Dengan tegas mengatakan bahwa ia dan seluruh kekuatan balatentaranya akan melawan sampai titik darah penghabisan demi keadilan.

Adapun senjata-senjata milik Sri Caya Purusa antara lain : sadhana trisara (senjata yang dapat menciptakan jembatan besi sepan]ang seratus yojana): gandhewa (senjata milik dewata yang tak pernah habis): nifisara sampatta (senjata yang bisa muncul banyak): dan senjatanya yang lain berupa Sanghyang Panca Gretta. Sanghyang Tri Widyastra. Sanghyang Cakra Raina Kamala. Sanghyang Bajra wirupa. Sanghyang Sphatika Sunya Maha dan sebagainya. Kemudian menyusul senjata gaib (kasidyastran) antara lain : Bhragu .sayaka, guntur gelap, batu dan padas. Ia bisa berwujud Hyang Tri Purusa (lswara) sebagai bentuk alih rupanya.

Sementara senjata-senjata Laksmi Kirana antara lain: Sanghyang Wigata Malasara (senjata yang dapat mengeringkan lautan): Sanghyang Dharaniwaha (senjata yang dapat menciptakan tanggul taut): senjata milik dewata meliputi : bajra. dhanda. krettala. naga. angkus. musala. trisula. cakra. padma. dan lain-lainnya. Menyusul scnjata-senjata gaibnya. yakni : bayu pracandha. agni prabawanta. nagarajastra. sejuta petir. dan cakswwindriya jhana prameya (ilmu kesempurnaan tingkat tinggi).

Pra bhu Kanya scbaga1 pi hak ya ng discra ng di samping bcrscnj atakan scbagaimana yang dikcl uarkan oleh Laksn11 Kirana juga sangat mcnguasai ilmu kcscmpumaan tingkat tinggi ~ · ang dalam SL P di sebut dcngan Cecangknman dan segala bentuk alih rupanya_ antara lain dapat berubah menjadi Sang Datu Tri B11 dha yang dapat mengcluarkan cahaya Hyang Goda Walamaya : berupa sumber air sebesar pohon ental membubung ke atas sangat tingg1. berupa lingga manik. berbagai bentuk candi dikelilingi permata berkilauan_ dan sebagainya.

Pcrang tanding yang meletus di Tega/ Semaya Wedya_ disertai dengan penancapan sebuah penjor di batas belakang peperangan kedua belah pi hak. Bagi yang lewat dari batas penjor. berarti kalah Tertancapnya penjor seperti ini mengandung makna kemenangan _ serta kemerdekaan pikiran menuju kesejahteraan umat manusia. Hal serupa tertera dalam Upadesa. yang menyebut penjor sebagai suatu yang istimewa dalam hari raya Galungan sebagai hari kemenangan umat Hindu dari sifat adharma. Penjor dipancangkan di setiap rumah sebagai tanda terima kasih atas kemakmuran yang dilimpahkan Tuhan, menggambarkan sebuah gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci dengan segala hasil karunia Tuhan (l 968:48-49).

TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL

Sebagaimana diketahui bahwa karya-karya sastra klasik (daerah) hampir terdapat di berbagai daerah di seluruh lndonesia. Nilai-nilai yang terkandung dari sebagian besar sastra klasik itu sesungguhnya adalah puncak-puncak kebudayaan daerah yang merupakan satu, diantara aspek dari kebudayaan nasional Oleh karena itu, penggalian, pengkajian, serta mempublikasikan hasilhasi lnya kepada masyarakat luas seyogyanya lebih digalakkan lagi. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan nasional, yakni membentuk manusia Indonesia seutuhnya sehat jasmani rohani berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. Dalam hal ini diperlukan keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Relevansinya terhadap pembangunan manusia lndones ia seutuhnya, kajian terhadap-naskah SLP yang merupakan salah satu dari sekian banyak naskah warisan leluhur, turut memberikan masukan ke arah pembinaan mental sprituaL di samping sebagai rasa cinta terhadap karya-karya sastra klasik.

Le\ at karya-karya sastra klasik yang bermutu adi /11 h11 ng. senantiasa mengajak seseorang untuk bercermin atau melihat diri scndiri dan menyadari akan jati dirinya. Seperti halnya kisah Bima dalam naskah Dewe ~1 1ci dan kisah-kisah yang tercermin dalam epos

dan Mahahrota yang telah ditransformasikan dalam berbagai bcntuk kesusastraan di nusantara. Pada dasamya karyakarya sastra klasik Indonesia merupakan ungkapan potensi rohaniah. pemikiran. dan kebudayaan bangsa yang dapat memberikan ciri bagi kepribadian dan moral bangsa.

Dalam era globalisasi dan informasi yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesatnya. maka sikap mental bangsa perlu diperkuat dengan nilai-nilai mental spritual yang tangguh yang dapat berperan sebagai pengendali terhadap sikap berpikir, berkata, dan bertindak. Penguasaan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang tidak diimbangi dengan landasan moral yang kuat, akan membawa seseorang ke lembah penderitaan. Dengan dernikian, antara ilmu pengetahuan dan teknologi di satu pihak, dengan keimanan di pihak lain, harus saling mengisi serta diarahkan untuk dapat mengakomodasikan semua upaya dalam memajukan dan mensejahterakan manusia melalui perbuatan nyata.

Hal di atas menunjukkan bahwa tantangan umat manusia adalah untuk tetap memelihara sumber daya alam, lingkungan flora dan faunanya agar tetap lestari, berkualitas, berdaya guna dan berkelanjutan, di samping menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, menguasai ilmu dan teknologi, trampil dan memiliki ketahanan mental, moral, dan spritual yang tinggi. Keseimbangan antara kehidupan dunia dan spritual mutlak diperlukan. Dalam agama Hindu sebagaimana tercermin dalam naskah SLP, meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Esa-lah sumber pengetahuan sejati. Aspek kemahakuasaan (kastewarya nira) sebagai sumber ilrnu pengetahuan digambarkan sebagai Saraswati. seorang dewi yang cantik. dan menarik bagi setiap orang. Sang Dewi mengendarai atau duduk di atas seekor angsa sebagai simbul kebijaksanaan (vivekanjnana), sedang di bawahnya terdapat seekor burung merak yang melambangkan keangkuhan. Ini berarti bahwa seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi hendaknya mampu mencegah atau mengendalikan keangkuhan yang merupakan musuh yang paling hebat yang datang dari dalam diri. Hal ini terlihat dalam konsep Trihita Karana, yang bila dihayati atau diamalkan secara mendalam akan dapat menjamin kelestarian sumber daya alam. Ajaran ini memandang bumi dengan

l111gkungannya bagaikan scorang ibu atau .1uga scperti Komadhuk ya itu scckor sapi pcrahan yang mampu memcnuhi scgala kcinginan manus1a Bumi yang dipandang sebagai scorang ibu atau seekor sapi scyogyanya mcndapat perhatian dan pemeliharaan secara mutlak.

Dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, aspek jasmaniah dan rohaniah harus mendapat perhatian yang layak. Pembangunan aspek rohaniah amatlah penting untukmengimbangi lajunya ilmu pcngetahuan dan teknologi dalam era globalisai. Kondisi masyarakat global dewasa ini mengingatkan kita pada kondisi zaman Kali (saat penobatan Pariksit, cucu Arjuna dari dinasti Kuru/Pandawa). yakni zaman yang dibelengu oleh materialisme, kehidupan spritual tidak mendapat perhatian, pertentangan dan keributan muncul di mana-mana, keangkuhan dan kecurangan menguasai manusia. Di sinilah peran penting ajaran kerohanian (agan1a) sebagai pengendali atau penyelamat manusia dari Iembah penderitaan lahir bathin menuju kesejahteraan abadi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kualitas penghayatan dan pengamalan ajaran keagamaan dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa demi suksesnya Pembangunan Jangka Panjang Tahap kedua (PJPT II). maka posisi agama bukanlah bergumul dalam aktifitas spritual semata-mata, tetapi hendaknya dihubungkan dengan segala permasalahan yang dihadapi pemerintah, masyarakat, dan bangsa Indonesia. Dengan demikian, aj aran-ajaran keagamaan seperti tercermin dalam naskah SLP sebagai bahan kajian dapat memberikan dimensi religiusitas dalam pembangunan, yakni berkedudukan sebagai landasan moral, etik, dan spritual sebagaimana diamanatkan oleh Garis-Garis Besar Haluan Negara (1 993).

Telah menjadi tradisi atau kegemaran bahwa karyakarya sastra klasik Indoneia yang lahir dari tangantangan suci pujangga masa lampau melukiskan tentang peperangan untuk mencapai kebebasan pikiran seorang ra kawi. Seperti yang terlukis dalam naskah SLP, yakni cerita tentang filsafat kesusilaan atau keagamaan juga dilandasi oleh kisah peperangan antara pihak Sweta Nadhipura dengan Singhalanggyala Lukisan perang yang hanya merupakan latar atau fi guran semata adalah langkah-langkah untuk menuju Dharma (kebenaran sejati). Lewat ajaran pengendalian diri dan sejumlah ajaran

yang mengarah kepada kebahagiaan lahir bathin seorang ra kmvi secara tersirat mengajak masyarakat untuk membasmi atau memerangi segala jenis musuh yang datang dari dalam diri.

Hal ini tampak pada naskah SLP, yakni sejumlah ajaran budi pekerti sebagai langkah untuk pembentukan mental spritual. Di Bali, sebagaimana tersirat dalam SLP ajaran yang bersifat spritual menjadi kewajiban bagi seorang pendeta untuk mengajarkannya kepada masyarakat luas. Kepada beliaulah masyarakat menaruh kepercayaan tentang segala ha! yang berkaitan dengan keagamaan. Hal ini terbukti bahwa setiap pelaksanaan upacara keagamaan, yang dalam agama Hindu disebut Panca Yadnya peranan pendeta adalah sangat penting sebagai purohita atau pengantar yadnya.

Berbicara masalah kependetaan seperti disinggung dalam SLP (Kelepasan/Kamoksan sebagai tujuan akhir seorang pendeta sekaligus ra kawi), mengingatkan kita pada istilah Trisadhaka/ Trini, yakni sebutan untuk tiga jenis pendeta (Siwa, Sogata, Bujangga) sebagai purohita dalam segala upacara keagamaan dalam artian bertugas memuja dan mempersembahkan korban kepada dewa-dewa yang menguasai Triloka. Pendeta Siwa bertugas mempersembahkan korban kepada dewa penguasa dunia atas (Swah Loka); pendeta Buddha kepada dewa penguasa dunia tengah (Bwah Loka): dan Bhujangga (yang sering disebut Senggu) bertugas mempersembahkan korban kepada dewa penguasa dunia bawah (Bhur Loka). Dalam masyarakat Bali ciri-ciri ketiga pendeta ini tampak secara jelas, yakni dalam pemakaian bhusana serta makanan yang menjadi pantangan atau tidak. Di Jawa, hal ini mungkin ada kaitannya (terutama pendeta Siwa dan Buddha), sebagaimana terlihat dalam cerita Gagak Aking dan Bubuksah sebagai perwujudan dari pendeta Siwa dan Buddha.

Sejumlah karya sastra klasik dapat kita temukan konsep tentang rana yajna (korban perang), ailtara lain terdapat pada bait pertama Kakawin Bratayuddha karya Mpu Sdah. Diuraikan bahwa seorang pahlawan bermaksud melakukan pengorbana (yajfia): bermaksud menghilangkan seluruh musuh: dengan suka hati menaburkan bunga yang ada di rambut musuh yang gugur di medan perang; cuda mani para raja yang gugur sebagai bijanya: dan negara musuh yang terbakar hangus sebagai api pujaannya: senantiasa mempersembahkan

yang dipcnggal di atas kerctanya. ia yang perkasa da lam peperangan. Konsepsi i111 menunjukkan balma bctapa indalmya pcrang itu scbagai lambang dari pengendalian mental sprituaL karena men urut Kakawin Nitisaslra disebutkan : Tan hana mus uh mangliwahane geleng hana ri hali (lidak ada musuh yang melebihi kemarahan dalam hati). Sebutan kata SI Geleng yang identik dengan Sad Ripu. menunjukkan bahwa musuh yang paling hebat adalah datang dari dalam diri. dan dapat membawa seseorang kelembah kehancuran jika tidak diatasi dengan kewaspadaan dan pengendalian diri yang matang

Hal ini tercermin dalam naskah SLP. ketika terjadi dialog antara Maharaja Caya Purusa dengan Bhatari Uma. Dalam dialog tersebut di uraikan secara panjang lebar langkah-langkah untuk menghilangkan segala jenis dosa sebagai akibat dari keganasan musuh (Sad Ripu) yang telah merasuk dalam diri. Hanya dengan ajaran Kerta Semayalah semua dosa akan menjadi lebur sehingga akhimya dapat mencapai kebahagiaan abadi. Selain itu, juga adanya sejumlah ajaran yang mengarah kepada kesunyataan/kenirwanaan, yang diwuj udkan dalam ajaran kawikon yang harus dipahami oleh para wiku utama sebagai tongkat tercapainya suatu kebebasan dari segala jenis ikatan duniawi, yang sekaligus merupakan tujuan akhir hidupnya.

Jika kita bangsa Indonesia telah insyaf kemudian menghayati serta mengamalkan nilai-nilai positip yang diajarkan oleh para leluhur di masa silam lewat cipta sastranya dan mampu memerangi musuh hebat dalam diri kita masing-masing seperti tersirat dalam SLP. berarti pembangunan mental spritual bangsa Indonesia telah tercapai dengan baik Dengan tercapainya pembangunan di bidang mental spritual, berarti seseorang telah ikut andil dalam memperlancar jalannya pembangunan nasional. Dengan demikian, di saat pembangunan seperti sekarang ini. kita mempunyai suatu kewajiban untuk menggali mutiara- mutiara harta karun bangsa kita yang sering berupa sobekan-sobekan daun rontal yang hampir musnah dimakan usia. Dengan digalinya semua harta karun srituaL moral, etika. dan sebagainya yang terdapat dalam sebagian besar sastra klasik maka hasilnya akan dapat dij adikan pengendali atau tongkat kerohanian dalam berpikir. berkata. dan berperilaku positip dalam mengisi pembangunan nasional.

KESIMPULAN DAN SARAN

Naskah SLP merupakan karya sastra berbentuk prosa (palm·i:akya), ditulis dalam aksara Bali, berbahasa Jawa Kuno, dan bersifat religius. Sebagai karya sastra religius SLP merupakan cerita kesusilaan yang mengandung ajaran keagamaan, terutama dialog filsafat keagamaan mengenai hakikat Siwa dan Buddha oleh tokoh Sri Utsa\ati dengan Bhagawan Suta (keduanya murid Bhagawan Ramaloka). Dialog yang sarat dengan ajaran keagamaan ini meliputi ajaran tentang kemahakuasaan (kastewarya nira) Tuhan (Ida Hyang Widhi Wasa) : segala jenis pengorbanan (sarwwa yajna); ajaran budi pekerti (moral); konsep rwa bhineda; uraian tentang makrokosmos (bhuwana agung) dan mikrokosmos (bhuwana alit): pengendalian diri : ajaran kelepasan/kamoksan; dan sebagainya. Dialog yang dihiasi dengan peperangan sebagai wujud pertikaian antara kerajaan Sweta Nadhipura dengan Singhalangghyala yang pada akhirnya kembali pada suatu perdamaian adalah langkahlangkah untuk menuju prinsip-prinsip tertinggi yang tunggaL yakni Siwa-Buddha sebagai jiwa semesta alam (pinaka jiwa ning pra/a).

Perang tanding yang demikian dahsyat dengan menampilkan senjata-senjata kede\aan yang begitu gaib serta segala jems alih rupa yang sangat menakjubkan. merupakan lukisan ra kawi untuk kedamaian pikirannya dari scgala jems mus uh yang datang dari dalam diri. Musuh

yang dalam agama Hindu dikcnal dcngan scbutan sod np11. sod lotayi. dan supto timiro scmuan~ a dibinasak.:111 dengan segala Jen is pengendalian diri dan ajaran kdcpasan/kamoksan. Dengan demikian akan tcrcapai suatu kcsejahtcraan dan kedamaian abadi sccara lahir bathin (.rnka tan pawali d11hka) Dalam naskah SLP ajaran tentang ke/epasan kamoksan sebagai tujuan akhir dari seorang ra kawi tampak sangat menonjol. Sebagai seorang Brahmana yang telah bergelar pendeta sebagaimana digariskan dalam kitab suci. ajaran ke/epasan kamoksa11 merupakan tujuan utamanya.

Keterangan yang tertera pada kolofon akhir naskah SLP yang berbunyi : "Pupul sinurat ring bajya asrama. purwwa ning wrehatmara. kaparnnah ku/wa ning Lawana sagara. ring dina. Sa. Wa. kresna paksa ring caturfti. ring masa saddha" ("Sele.mi di tu/is di Ba{va Asrama. di sebelah timur ja/an. ke arah ha rat dari /autan yang asin. pada hari Sabtu Wage. panglong ke-./ (paro ge/ap yang ke-./. pada bu/an Sada atau sekitar bu/an Juni'').

mengingatkan kita pada Desa Sanur Bali sebagai tempat lah1mya teks SLP. pada Sabtu Wage bulan Sada (urutan bulan yang ke-12 Bali) namun tanpa angka tahun. Rupanya ra kawi melahirkan teks SLP di tengah-tengah masyarakat tidak mengabaikan sosio-budaya Desa Sanur yang mungkin pada zamannya merupakan pusat ilmu hitam (black magic) di scluruh Bali, sehingga tidak mengherankan bah\va keseluruhan dialog yang tertuang dalam SLP ini penuh dengan hiasan peperangan secara kebathinan yang di\ujudkan dalam segala Jenis alih rupa dan mantra-mantra gaib.

Naskah SLP sebagai buah karya seorang ra kawi Bali tcmama seperti Ida Pedanda Made Sidemen merupakan Dharma atau ke,vajibannya sebagai seorang Brahmana yang telah bergelar pinandita untuk senantiasa memfokuskan diri ke dalam segala ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kitab-kitab suci Weda, sastra. dan filsafat keagamaan yang sekaligus merupakan seperangkat kewajiban bagi golongan Brahmana yang secara fungsional adalah lebih tingg1 dari golongan yang lainnya (Kesatria. Wesya. dan Sudra) Dalam perkembangan agama Hindu di Bali ha! ini disebut dengan Catur Kasta (isti lah ~ ang berasal dari bahasa Portugis. yang berart1 "klas

sos1al". ~a n g sampa1 saat ini masih bakcmbang sccara garis kc tu ru nan (gcncalog1s) Dha rma scorang ru km1i scbagaimana tcrsirat dalam naskah SLP sesungguhnya adalah pcnghamba keindahan yang terbclengu olch s1kap rel1gius dan rasa baktinya (o reol cult of heo111y). yang dalam syair Ja\a Kuno (kakamn) sering disebut tango. /an1w lengeng lengengon. lengong kolengengon. ka/ongo.

Ditinjau dari fungsinya dalam masyarakat Bali bahwa tradisi kepengarangan atau olah sastra klasik Bali tennasuk di dalamnya Jawa Kuno. masih tetap hidup dan berkernbang di Bali hingga kinjl., lial ini tcrbukti dengan hadimya sejurnlah karya Ida Padanda Made Sidemen dan beberapa karya sastra penyair lainnya Dalam karya sastra yang be rbentu k par\'a (po!ml'okyo) seperti terlihat dalarn naskah SLP ini. bahwasannya ra kawi sangat rnengagungkan Bhatara Siwa-Buddha dan rnenernpatkan pada posisi yang sejajar sebagai ji\a dari sernesta alarn atau sebagai Zat Tertinggi Yang Tunggal.

Dalain SLP luk1san tokoh Prabhu Kanya (Maharaja Karna Rupini) yang rnenjadi raja di Singhalangghyala rnenggarnbarkan adanya sernacarn unsur ruwatan terhadap dosa yang pemah diperbuat pada kehidupan sebelurnnya. Hal ini tainpak pada akhir h.5a yang berbunyi: apan parnastu Bhatari Parameswari. Kalirnat ini menunjukkan bahwa kutukan Sanghyang Pararneswari itu terlontar adalah akibat dari kejanggalan perilaku terhadap-Nya. Karenanya. Maharaja Karna Rupini dalarn posisinya sebagai pernegang pernerintahan di Singhalangghyala sebagai tokoh yang pemah kena kutukan tersebut, senantiasa digarnbarkan sebagai seorang raja yang arib bijaksana, berpengetahuan murni, serta rnampu rn engikuti ajaran ke arah kesunyataan atau kamoksan berdasarkan ilrnu kesernpumaan tingkat tinggi sebagai usaha penebusan dosa-dosanya pada kehidupan sebelurnnYa.

Di pihak la in juga terlihat unsur ruwatan yang digambarkan oleh tokoh Maha raja Caya Purusa (raja di 5,,eta Nadhipura). yang \alaupun beliau senantiasa berbuat semaks1mal mungkin untuk dunia yang di buktikan lewat konseps1 hokti marganya seperti tampak pada

h.27a-2 8a (saat dialognya dengan Bhatari Uma). .ruga tidak bisa hilang dosanY a sebclum memahami ajaran tentang Kerta Semaya. Ajaran

yang mcnjadikan Maharaja Caya Purusa terbebas dari scgala dosa. yang dilukiskan dcngan alih status dari scorang r~ja menjadi scorang \Yiku utama. Hal ini mcncerminkan bahwa ruwatan itu bisa tercapai tingkat demi tingkat. Sebagai seorang yang ingin bebas dari segala ikatan kcduniawian, Maharaja Caya Purusa senantiasa mengikuti perilaku seperti digariskan dalan1 ajaran kmvikon sebagai langkah untuk mencapai jalan kelepasan kamoksan. Hal ini sejalan dengan tujuan hidup menurut agama Hindu, yang memandang bahwa kelahiran kita ke dunia hanyalah dituntut untuk selalu berbuat baik untuk dunia demi tercapainya tujuan hidup terakhir, yakni : Moksartham Jagadhitaya Ca !ti Dharma. yang jika dikaitkan dengan tujuan pembangunan nasional adalah identik dengan pembentukan manusia seutuhnya, sehat jasmani dan rohani.

6.2 S aran Mengingat penelitian terhadap naskah S LP ini masih dalam tahap pemula yang tentunya ti dak dapat memberi kepuasan secara maksimal kepada pembaca. maka dalam kesempatan ini penulis mengharapkan kepada peneliti lain agar lebih mendalami misteri kandungan isi yang tersirat dalam naskah SLP ini. Juga terhadap naskah kuno lainnya yang belum disentuh oleh tangan-tangan peneliti, perlu dilakukan penyelamatan dengan segera sebelum lapuk dimakan serangga maupun usia. Dengan tersingkapnya kandungan isi yang tersirat di dalamnya, akan dapat dij adikan cermin jati diri kita khususnya dalam pembentukan mental spritual dalam menunjang pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II)

DAFTAR PUSTAKA

Sastra Jawa Kuna dan Kita 1982 Denpasar: Wyasa Sanggraha.

"Kawi dan Kawi 0 Makalah Simposium Pertama 1994 Sastra Daerah se-lndonesia di UNS Surakarta.

Bagus, IGN Aksara dalam Kebudayaan Bali. Suatu Kajian 1980 Antropologi. Denpasar Universitas Udayana.

Behrend, TE. ·-oajtar Naskah Sementara Koleksi Perp11stakaan 1992 Nasional RI Jakarta.

Damono. Sapardi Joko. Sosiologi eastra Seb uah Pengantar Ringkas. 1978 Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kern. J .H.C. dan Rassers. WH. (via) Edi Sedyawati. Siwa dan 1982 Buddha. Jakarta: Djambatan

Mangunwijaya, YB. Sastra dan Relig111 sitas. 1982 Jakarta : Sinar Harapan

Mardiwarsito. L Kamus Jawa Kuna-Indonesia 19 78 Ende-Flores Nusa Indah.

Parisada Hindu Dharma. Upadesa. Tenrang Ajaran-A1oran Hindu I 9 78 Denpasar.

Oka PunyatmadJa. 18 l'anco Sradha. Dcnpasar Parisada Hindu Dhanna

Behrend, TE. "Daftar Naskah Sementara Koleksi Perpustakaan
1992 Damono, Sapardi Joko. Sosiologi eastra Sebuah Pengantar Ringkas. Nasional RI. Jakarta.
1978 Kern, J.H.C. dan Rassers. W.H. (via) Edi Sedyawati Siwa dan Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
1982 Mangunwijaya, Y.B. Sastra dan Religiusitas. Mardiwarsito. L. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Buddha. Jakarta: Djambatan Jakarta: Sinar Harapan.
1978 Ende-Flores: Nusa Indah..
1978 Oka Punyatmadja, IB. Panca Sradha. Denpasar: Parisada Denpasar.
1986 Hindu Dharma

Puma. I Made (editor) Ana/is is dan Kajian Geg11ritan Sa/ampah l,akll 1987/ I 988 Karya Ida Padanda Made Sidemen. Jakarta Proyek Pcnelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.

Purwadarminta. WJS. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1975 Jakarta: Balai Pustaka.

Robson, S.O. "Pengkajian Sastra-Sastra Tradisional Indonesia· · 1978 Dalam Bahasa dan Sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rai Sudharta, Tjokorda. Sarasamuschaya. Parisada Hindu Dharma 198711988 Proyek Penyuluhan Agama dan Penerbitan Buku Agarna.

Subadio, Haryati. Jnanasiddhanta. Jakarta: Djambatan. 1985

Swastika, Made. "Konsepoi Kelepasan Seorang Penyair (Studi 1985 Pendahuluan Karya-karya Ida Pedanda Made Sidemen) ", Makalah yang disajikan dalam seminar Baliliologi Denpasar.

Sura. I Gde. Pengendalian Diri dan Etika dalam Agama Hindu
1985 Jakarta: Hanuman Sakti.
Tceuw, A. 1982 Khazanah Sastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
------------------- "The Text ". Dalam Variation. Transformation and
1991 Wama, I Wayan. dkk Kamus Bali-lndoseia. Meaning.
1978 Zoetmulder. PJ. Kalangwan. a Survey Propinsi Daerah Tingkat I Bali.
1974 The Hague.

Leiden: KITLP Press.

Dinas Pengajaran

of Old Javanese Literature.

131

DESKRIPSI NASKAH PERPUSTAKAAN NASIONAL RI

L 858 SINGHALANGGHYALA PARWA 65 him Bhs Jawa J\1111<1 Aks Bali Pros a

Judul dala m teks Judul luar teks Singhalanggh\·ala Parn a ( kotak sampul)

KETERANGAN FISIK

Ukuran sampul Ukuran halaman 50,5 )( 3.4 U kuran blok teks 45.5 )( 2.3 Jum. baris¹hlm 4 Jilid I dari

Him. yg ditulis 65. Him. kosong la (I) Him. bergambar Penj. penomoran Penomoran naskah asli. angka Bali. qanda (s1s1 b 1-33.

Jenis bahan Ron ta I C ap K ertas Keadaan Fisik Naskah lontar bia s a ~ sebagian lempirn\'a telah rusak terutama pada sekitar lubang tengah. huruf jelas terbaca. disimpan pada sebuah kropak ukuran 56. 5 x 7. 5 Cm. dibungkus dengan kotak kertas bebas asam. Diikat dengan benang ka pas lewat lubang tengah. dengan sckeping uang ' kopeng pada bagian belakang naskah.

IS! SINGKAT Naskah L 858 ini berisikan dialog agama Siwa (Hindu) B udha antara B hagaw a n Suta dengan Sri U tsawati. Keduanva adalah murid B hagawan Ramaloka.Dalam dialog tersebut. tampil Prabhu Cava Purusa dan Sri Laksmi Kirana di pihak penganut Siwa (Hindu) sedangkan Kama Rupini (Prabhu Ka nva) sebagai pc nganut Budha. Perang ham·a lah la tar atau figuran da lam penceritaann\·a. 1-.arena di dalamm·a tersirat ajaran Yang sangat utama. Di antaranva ajaran budi pel-.erti. kcrohani an. Rwa Bhineda (dua yang berbeda). hakikat hidup. nasehat-nasehat konsep makrokosmos- mikrokosmos. dan kcmoksan AJaran vang bernilai luhur itu dapat dipakai pedoman bagi raJa Sri Utsa \'ali dal am mc.:megang tapuk pcmcrinta han demi kcha hagiaan dunia.

l'ada lrn laman pert ama dan lrnlaman terakhi r tcks masi ng-masing tcrdiri 2 lempir rontal dan dil-.a11c111g dengan ka \'at di seti ap lubanqn \"a ( kanan. kiri. dan tengah)

menurut kctcrangan h. 33b mcmcbutkan. bah\a tcks ini selcsa i ditulis pada han Sabtu \age ( hari Tilem atau bulan gelap). sasih Asada (bulan .luni). di lk1\a Srnma ('') sebelah timur Wrehatmara (''). tanpa angka tahun.

AWAL TEKS Ong A,,·ighnamastu Ri huwusning Samadhi Pam \a cinaritta de Bhagawan Ramaloka. karengo de maharaja Utsawati. kretta ikang bhuwana. aneka pwa warsa tiba. akingking ta maharaja Utsawati. alawas ta sira tan pangrengo caritta. mijil ta sira ring manguntur. tinangkil de sang apatih Sudharm a.

AKHIR TEKS Puput sin urat. ring Bejya Srama. purwwaning wrehatmara. kaparnnah kuhvaning lawana sagara. ring dina, Sa. Wa. kresna paksa ring caturtti. ring masa saddha. paryan tusakna wirupaning aksara. denya bab kawnang. mwang kurang lewihnya. apan ulihing wiguna alpa sastra. Ong Saraswatyeng namah. Ong sarwwa dewebhya nama swaha. Ong dirghgayu rastu tatastu subha mastu.

PENYUNTING A.A. Gde Alit Geria, Perpustakaan Nasional RI.

KET. TEKNIS Tanggal pemotretan

Perbandingan reduksi

Penempatan gambar

O perator

Pemakaian bahan mikrofilm ini terbatas pada tujuan penelitian ilmiah. Hak cipta ada pada Pcrpustakaan Nasional RI. Permintaan copy mikrofilm dapat ditujukan kepada: Koleksi Naskah Perpustakaan Nasional RI. JI. Salemba Raya 28A. Jakarta. Indonesia. 10430. Fax: (62-21) 310-3554.