Baca PDF (OCR): KAJIAN NILAI BUDAYA NASKAH KUNA MEONGPALO KARELLAE

124 halaman · 123 halaman diproses dengan OCR· 198089 ms

Daftar isi
  1. JAKARTA
  2. KAJIAN NILAI BUDAYA NASKAH KUNA
  3. MEONGPAW KARELLAE
  4. JENDERAL KEBUDAYAAN
  5. Jakarta, Juli 1999
  6. Direktur Jenderal Kebudayaan
  7. Vihma.
  8. BAB I
  9. dan mentransliterasikan naskah dari aksara
  10. dibuatkan ringkasannya dengan mengkajinya
  11. Bab VI : Simpulan.
  12. Daftar Pustaka.
  13. Kularimuwa maecakkeng, rilebona palungengnge,
  14. Terimuwani makkeda datunna Sangiangseri, nannoko matu
  15. talao, maserroi tekkupoji, gaukna punna bola-e, makkunrai
  16. doraka-e, Matowa paddiuma-e, tettutungi-e Wettung,
  17. Nasessuk sompe makkeida, awiseng Pabbicara-e,
  18. ripangampe madecengnge, ajak siya mumariuk, tettei serok
  19. tunekna Sangiangseri, menrek rirakkeyangede. Uwassuro
  20. Sikuwaniro rampena, Meongpalo Karellae.
  21. MEONGPALO KARELLAE
  22. Supaya bulirku gerangan
  23. batik diantar halilintar.
  24. ISi NASKAH
  25. Pada pemyataan lain:
  26. Nilai Kerja keras.
  27. Pada pemyataan lain:
  28. Nilai Kebenaran
  29. Nilai Keimanan
  30. Firman tersebut ditujukan kepada orang-orang yang
  31. Nilai Kesabaran
  32. Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa
  33. Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwasanya ada
  34. beberapa kandungan nilai dalam naskah Meongpalo Karellae,

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI

JAKARTA

Depdikbud Tidak diperdagangkan

KAJIAN NILAI BUDAYA NASKAH KUNA

MEONGPAW KARELLAE

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI JAKARTA

NASKAH KUNA MEONGPALO KARELLAE

Tim Penulis Dra. Sri Saadah Soepono Dra. Margariche Panannangan Kartika Yulistyawati, SH Penyunting Wiwiek Pertiwi Yusuf Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Diterbitkan oleh : Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jakarta Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1999 Eidis 1999 Dicetak oleh CV. PUTRA SEJATI RAYA

JENDERAL KEBUDAYAAN

Pembinaan nilai-nilai budaya Indonesia ditekankan pada usaha menginventarisasi dan memasyarakatkan nilai-nilai budaya Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Sehubungan dengan itu, program pembinaan kebudayaan diarahkan pada pengembangan nilai-nilai budaya Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa sehingga dapat memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri, memunculkan kebanggaan nasional serta memperkuat jiwa kesatuan.

Penerbitan buku sebagai upaya untuk memperluas cakrawala budaya masyarakat patut dihargai. Pengenalan aspek-aspek kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia diharapkan dapat mengikis etnosentrisme yang sempit di dalam masyarakat kita yang majemuk. Oleh karena itu, kami dengan gembira menyambut terbitnya buku hasil kegiatan Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jakarta, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Penerbitan buku ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai aneka ragam kebudayaan di Indonesia. Upaya ini menimbulkan kesalingkenalan, dengan harapan akan tercapai tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

v

Buku ini belum merupakan hasil suatu penelitian yang mendalam sehingga masih terdapat kekurangan-kekurangan. Diharapkan hal tersebut dapat disempurnakan pada masa yang akan datang.

Sebagai penutup kami sampaikan terima kasih kepada pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaga bagi penerbitan buku ini.

Jakarta, Juli 1999

Direktur Jenderal Kebudayaan

Vihma.

I.G.N. Anom NIP. 130353848
vi

Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jakarta pada tahun anggaran 1999/2000 telah melakukan pengkajian naskah-naskah lama dalam upaya mengungkapkan nilai-nilai budaya yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Naskah tersebut diantaranya Kajian Nilai Budaya Na,skah Kuna Meongpalo Karellae.

Nilai-nilai yang ditelaah dalam naskah atau dokumen tertulis meliputi semua aspek kehidupan bangsa yang dapat dipakai sebagai acuan bagi kehidupan berbangsa dan bemegara di masa sekarang dan akan datang. Dengan pemahaman yang baik pada nilai-nilai luhur bangsa diharapkan akan terbentuk suatu sikap yang kondusif pembangunan nasional.

Kami menyadari bahwa kajian naskah ini belum mendalam sehingga hasilnya pun belum memadai. Diharapkan kekurangan-kekurangan itu dapat disempurnakan dimasa yang akan datang.

Semoga buku ini bermanfaat bagi para pembaca serta menjadi petunjuk bagi kajian selanjutnya.

vii

Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jakarta

Pemimpin,

Dra. Renggo Astuti NIP. 131792091

viii

DAFl'AR ISi Halaman
Sambutan Direktur Jenderal Kebudayaan............................. v

Kata Pengantar ........................................................ ...................... vii
Daftar Isi ......... .... ............................... .... .................................. ........ ix
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang .............................................................. 1
1.2 Masalah ..................................................... ...................... 4
1.3 Tujuan ............................................................................. 5
1.4 Ruang Lingkup Penelitian ......................................... 6
1.5 Metode Penelitian dan Pengkajian .......................... 6
1.6 Pertanggungjawaban Penulisan ............................... 6
Bab II Alih Aksara Naskah Meongpalo Karellae
2.1 Deskripsi Naskah ... .... .......... .. ... .. .. .. .... ....... .. ............. .. .. 9
2.2 Alih Aksara..................................................................... 10
Bab III Alih Bahasa Meongpalo Karellae ..... .. .. ...... .......... .... 33
Bab IV Kajian Isi Naskah ........... ....................... .. ...... ....... ... ..... 57
Bab V Analisis
5.1 Analisis Nilai ............... ............................. ...................... 83
Nilai Kerja Keras ............ ........... ... .. .. ... .. ... .... .. ...... ........ 84
Nilai Kegigihan .............................................................. 86
Nilai Kebenaran ............................... ..... ........................ 86
Nilai Keikhlasan ............ ................................................ 88

ix

Nilai Tatakrama 89 Nilai Keimanan 91 Nilai Kesabaran 93
Nilai Syukur...... 95
Nilai Kesetiaan. 97
Nilai Keadilan.... 99
Nilai Kejujuran ... 100

5.2Relevansi dan Peranan Naskah dalam Pembi- naan dan Pengembangan Kebudayaan Nasional. 102
Bab VI Simpulan 109 Daftar Pustaka 113

x

BAB I

PENDAHULUAN

Belakang

Dalam pasal 32, UUD 1945, menyebutkan bahwa pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Sedang dalam penjelasannya, menyebutkan bahwa kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budidaya rakyat Indonesia seluruhnya.

Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak- puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. Nilai budaya adalah konsep abstrak mengenai dasar yang amat penting dan dinilai tinggi dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena merupakan nilai yang sangat abstrak dari tanggapan aktif manusia terhadap lingkungan dalam arti luas, maka sudah barang tentu cocok pada zamannya untuk digunakan sebagai kerangka acuan dalam bertingkah laku. Pada daerah yang sudah mengenal tradisi tulis biasanya mengenal nilai yang dicita-citakan dan yang pemah dijadikan pedoman hidup, baik untuk masyarakat atau pedoman hidup lainnya.

50 tahun dikategorikan sebagai naskah kuno. Usaha-usaha pembinaan dan pengembangan Kebudayaan Nasional, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat, tidak dapat dilepaskan dari upaya penggalian sumber-sumber kebudayaan daerah berupa naskah kuno yang banyak tersebar di seluruh nusantara.

Kebudayaan daerah, merupakan sumber potensial bagi terwujudnya Kebudayaan Nasional, yang memberikan corak dan karakteristik kepribadian bangsa. Betapa pentingnya peranan kebudayaan dalam pembangunan bangsa, hal ini jelas tertuang di dalam penjelasan pasal 32 UUD 1945, bahwa "kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak- puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa".

Upaya menggali kebudayaan daerah, memerlukan data dan informasi selengkap dan sebaik mungkin, sehingga keanekaragaman kebudayaan daerah dapat dipadu untuk mewujudkan satu kesatuan budaya nasional. Unsur-unsur budaya daerah inilah yang memberikan corak "monopluralistik" Kebudayaan Nasional Indonesia yang beranekaragam, tetapi pada dasarnya adalah satu "Bhineka Tunggal Ika".

Dapat dikatakan, bahwa sumber informasi kebudayaan daerah yang terwujud dalam naskah kuno atau buku lama itu merupakan "arsip", kebudayaan yang merekam berbagai data dan informasi tentang kesejarahan dan kebudayaan daerah, naskah kuno atau buku lama memuat berbagai peristiwa bersejarah dan kronologi perkembangan masyarakat. Sehingga informasi yang terkandung di dalamnya dapat memberikan bahan rekonstruksi untuk memahami situasi dan kondisi yang ada pada masa kini, dengan meninjau akar peristiwa yang terjadi pada masa lampau.

Sebagai sumber informasi sosial budaya, maka naskah kuno adalah salah satu unsur budaya terutama sebagai sumber warisan rohani yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan

Sebagian dari naskah, baik yang terdapat di dalam negeri maupun di luar negeri tersebut telah ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing.

Langkah selanjutnya yang juga amat penting, adalah mengungkapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah-naskah tersebut melalui kegiatan pengkajian dan penganalisaan. Selanjutnya diinformasikan kepada masyarakat luas, guna menjalin saling pengertian di antara berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia. Dengan demikian dapat

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa naskah kuno selain menyediakan data dan informasi tentang sosial budaya masyarakat, juga memiliki kekayaan untuk pendewasaan mental yang dapat menjadi penangkal terhadap ekses-ekses yang ditimbulkan oleh pembangunan masyarakat atau yang sekarang disebut modernisasi.

Masalah yang timbul dewasa ini antara lain masih banyaknya naskah yang disimpan di rumah-rumah penduduk. Naskah tersebut bukanlah untuk dibaca melainkan disimpan sebagai benda pusaka leluhur yang harus dirawat secara turun- temurun.

Di samping itu orang yang mampu menulls dan membaca naskah secara tradisional kian berkurang, dan pada akhimya kemungkinan besar akan habis. Ini berarti kita akan kehilangan

Secara khusus, permasalahan yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam naskah Meongpalo Karellae ?
  2. Bagaimana relevansi dan peranannya dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional?
    1.3 Tujuan Yang menjadi tujuan umum dari penulisan ini adalah agar hasil analisis dan pengkajian naskah Meongpalo Karellae dapat memberi masukan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah, khususnya kebudayaan Bugis, yang pada akhimya dapat memberikan arah dan sasaran yang tepat dalam mencapai tujuan pembangunan nasional, yaitu membentuk manusia yang seimbang kehidupan jasmani dan rohani. Dengan kata lain mewujudkan keserasian hubungan antar manusia dengan Tuhan, manusia dengan lingkungan, dan antar sesama umat manusia. Adapun sebagai tujuan khususnya adalah untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam naskah Meongpalo Karellae. Dengan

Huang Ling/cup

Isi naskah kuno biasanya mengandung ide, nilai dan norma yang berlaku di masyarakat pada zamannya. Seperti nilai luhur yang berhubungan dengan agama, kepemimpinan, kepahlawanan, kesabaran, kegigihan, pantang menyerah, kesejahteraan rakyat, kerukunan, kekeluargaan, keadilan, menghormati leluhur dan tanggung jawab.

1.5 Metode Penelitian dan Pengkajian Pengkajian naskah Meongpalo Karellae ini menggunakan metode penelitian analisis isi (content analysis). Metode ini adalah satu di antara metode dalam ilmu sosial untuk mempelajari dan mengungkapkan arti yang lebih dalam serta proses-proses dinamis di belakang komponen isi suatu karya sastra atau naskah tertentu. Dengan menggunakan metode ini, peneliti menginterpretasikan dan berusaha memahami isi pesan maupun gagasan utama yang terkandung di dalam naskah yang dikaji.
1.G Pertanlfl{Ungjawaban Penulisan Penulisan dan pengkajian naskah Meongpalo Karellae dilakukan oleh suatu Tim yang terdiri dari tiga orang. Sebelum menentukanjudul, terlebih dahulu mempelajari beberapajudul yang kira-kira relevan dan dapat memenuhi ketentuan yang sudah disepakati dalam TOR, baik dari segi jumlah halaman maupun tahun pembuatannya.

Tim sepakat untuk menentukan salah satu judul naskah, yaitu Meongpalo Karellae, kemudian melaporkan kepada Pimpinan Proyek untuk mendapat persetujuannya. Karena kemungkinan naskah yang akan diteliti dan dikaji kali ini, sudah pula ditulis oleh peneliti terdahulu.

Alih aksara, dari aksara Lontara ke Latin dilakukan oleh Drs. H. Palippui selaku Ketua Yayasan Kebudayaan Mini Latenribali Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Pekerjaan tersebut sudah diselesaikan jauh sebelumnya, karena yayasan tersebut mengarsipkan naskah-naskah. Sehingga Tim tidak harus menunggu terlalu lama waktu mentransliterasikan naskah tersebut, hanya menunggu beberapa waktu pengirimannya.

Setelah selesai ditransliterasi ke dalam hurufLatin, barulah Tim melakukan pengkajian. Pekerjaan ini dilakukan tanpa mengalami kesulitan yang berarti, meskipun terpaksa harus membaca berulang-ulang, sebab gaya bahasa yang ditulis berupa gaya bahasa setempat. Makna dan isi naskah secara keseluruhan dapat dimengerti.

Untuk memudahkan penulisan, maka disusun sistematika penulisan sebagai berikut:

Bab I
metodologi dan pertanggungjawaban penelitian dan pengkajian.
Bab II Alih Aksara, mengemukakan deskripsi naskah Lontara ke dalam aksara Latin, namun masih dalam bahasa Bugis.
Bab III Alih Bahasa, menterjemahkan dari bahasa Bugis ke dalam bahasa Indonesia.
Bab IV Kajian Isi Naskah. Naskah Meongpalo Karellae

Pendahuluan, mengetengahkan tentang latar belakang, masalah, tujuan, ruang lingkup,

dan mentransliterasikan naskah dari aksara

dibuatkan ringkasannya dengan mengkajinya

dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan bila perlu menggunakan referensi yang relevan.

Bab V : Analisis, yang berisikan analisis nilai yang terkandung dalam naskah Meongpalo Karellae. Di samping itu dikemukakan pula relevansi dan peranan naskah data pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

Bab VI : Simpulan.

Daftar Pustaka.

AKSARA NASKAH MEONGPALO KARELLAE

2.1 Deskripsi Naskah Naskah "Meongpalo Karellae'', yang merupakan koleksi pribadi Drs. H. Suaib Azis Kasi Kebudayaan Depdikbud Kabupaten Wajo, sekarang sudah memperkaya perbendaharaan perpustakaan Yayasan Kebudayaan Mini Latenribali Kabupaten Wajo. Naskah tersebut telah disusun kembali oleh Drs. H. Palippui dan Muhammad Hatta pada tahun 1993, sehingga menjadi naskah yang dapat dibaca dengan baik oleh setiap pembacanya. Semula naskah tua yang berbentuk prosa tersebut sudah dalam keadaan lapuk, tulisannya sudah kabur, kurang jelas, bentuk aksara lama, sulit untuk dibaca, menunjukkan bahwa naskah tersebut telah lama tidak pernah dibuka dan dibaca. Penyusunan ulang naskah "Meongpalo Karellae". bertuliskan aksara lontarak di atas kertas buatan pabrik berukuran 14 x 21,5 cm, sebanyak 67 halaman. Pada masa lampau naskah Meongpalo Karellae sangat terkenal dan digemari oleh masyarakat dan kini naskah ini sudah jarang ditemukan. Padahal naskah tersebut oleh kaum

SWT dapat memberikan kesuburan tanah, sehingga benihpun dapat tumbuh subur bebas dari hama, sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Di samping itu terdapat pula nasehat-nasehat yang harus dilakukan para petani dalam menghargai setiap sumber kehidupan dan penghidupan.

2.2 Alih Aksara Passaleng pannessa-engngi, iyana-e galigona, meongpalo karellae, rampe-rampena cokie. Iyanaro napoada, meongpalo karellae iya monroku ri Tempe, mabbanuwaku ri Wage, Mau balana kuwanre, Mau bete kulariyang, tenginang kuripassiya. Sabbarai na Malabo, puwakku punnabola-e, natunai manak langi, nateyaiwa dewata, manaik riruwang lette, riawa riperetiwi. Kuripaenrek ri Soppeng, kutatteppana ri Bulu, kutappalik ri Lamuru. Pole pasa-e puwakku, napoleang ceppek- ceppek, kuwalluruna sittai, dappina battowaero, napeppekka tonrong bangkung, puwakku punnabolae. Salamareppak ulukku, sala tattere coccokku, sala tappessik matakku, mallala maja suloku. Kulari tapposo-poso, kulettuna ri Enrekkeng, takkadapi ri Maiwa, kotikna dekke nanre, kugareppuk buku bale, kurirempesi sakkaleng, kularimuwa macekkeng, ripapenna dapurengnge,napepipessika paberrung, puwakku tomanannasu-e.

Upabalobo manenni, jennek uwa-e matakku, ulari mengesu-essu, makkeppiyangi ulukku, kularina makkacuruk, riyawa dapurengede, narorosikaro aju, puwakku tomannasu-e. Kumabuwang ri tana-e, napatiti sika asu, engkatona mappasiya, marukka wampang tauwe, orowane makkurrai.

Kularimuwa maecakkeng, rilebona palungengnge,

napeppeksikaro alu, puwakku pannampu-ede. Engkatona renreng bessi, narauk tonara awo, kulari taposo-poso, kuwakuwana makkempek, rialiri lettu-ede, kuselluk riawa tennung, narorosika walida, puwakku patteinungede. Kulari mangessu-essu, menrek ri tala-tala-e, ala pajaga mappeppeng, puwakku punna-e ceppek. Kutiniterru kuenrek, riase rakkeyangede, naolaiyaro mai, puwakku punnabola-e, kulari muwana menrok, ricoppona lappo-ede, massurukengngi, ulukku, riolonaro I Tune, datunna Sangiangseri, tennapajaga matanro, puwakku punna bola-e. Nasitujuwang peggangngi, tak kamemmena tinrona, datunna Sangiangseri, pasedding maneng koritu sining ase maega-e, ajak taonro mapeddik, rilisek usorengngede. Talao palik aleta, tekkuleni monro-ede, napitokki-ede manuk, napessiri-e balawo. Apak meongngremi siya, kirennuwang mampiriki, maddojai essowenni, tikkengngi balawo-ede tenna marunuk ulekku, wessekati passeotta. idikmisiya mepperi, sininna tokawa-ede, naiyana riya gelli mabaccini lao-lalo, matowa paddiuma-e nasituruk bacci maneng, sining lisek langkana-e mabacci rimeongngede, orowane makkunrai. Telleppe lalo adanna, datunna Sangiangseri nasama tokkong manenna, mining gilingngi sitemmu, mangguliling rilappo-e, ase lalo ase pulu, sining ase maega-e, sining ase mancetti-e. ala maressak ota-e ala kedek pabboja-e,

Nabokorini Maiwa, naoloini ri Soppeng, macawenira Pattojo, mattujuni ri Mario. Namapappana baja-e namarete langiede, nagilingmuwa makkeda, kegana mennang taola, mattuju-e ri Tanete. Nasamaiyo, makkeda, anggikko kiraukkaju,

maIPceda, datunna Sangiangseri, madecengngi matti siya, taleppangsana cinampek, rilipu taoloiye, sappa pangampe madeceng. Barak engka talolongeng, makunraigi malepuk worowanegi mapato, misseng duppai wisesa, paenrek Sangiangseri, iya mennang taola, mattuju-e ri Langkemme. lappo-ede, massurukengngi, uluku, riolonaro I Tune, datunna Sangiangseri, tennapajaga matanro, puwakku punna bola-e. Nasitujuwang peggangngi, tak kamemmena tinrona, datunna Siangseri, pasedding maneng koritu sining ase maega-e, ajak taonro mapeddik, rilisek usorengngede. Talao palik aleta, tekkuleni monro-ede, napitokki-ede manuk, napessiri-e balawo. Apak meonggemi siya, kirennuwang mampiriki, maddojai essowenni, tikkengngi balawo-ede tenna marunuk ulekku, wessekati passeotta. Idikmisiya mepperi, sininna tokawa-ede, naiyana riya gelli mabaccini lao-lalo, matowa paddiuma-e nasituruk bacci maneng, sining lisek langkana-e mabacci rimengngede, orowane makunrai. Telleppe lalo adanna, datunna Sangiangseri nasama tokkong mannena, sining gilingngi sitemu, mangguliling rilappo-e, asa lalo ase pulu, sining ase maega-e sining ase macettie-e. Ala maressek ota-e ala kedek pabboja-e, nasiwewangeng tarakka sining ase maega-e, ruluk-ronang mattoddang, larung-larungi tarakka, datunna Sangiangseri. Nalettu pole makossong,ri bola Pabbicara-e, Sulewatanna Maiwa, menrek-ni -meongpaloe, pennoi bola sipolo, natessau tekkotopa, maccokkonna ri bola-e, datunna Sangiangseri.

Nasitujuwang peggangngi, manrena kawalaki-e, natimpuk tasiyak-siyak, nasaji tattere-terre, tenna cukunamittei, inanna ncajiyangengngi, nateya pesangkai, kuwarisilaowanna. Nagiling siya mattejo, naterri massolasola, maddaju-raju teppaja, nakkakangiwi ulunna, maccolo-colo.

Napoleiniromai datunna Tiusengngede, bata-ede barelle- ede,sining betteng maega-e, magelli maneng sammenna, monro siteriteriyyang, risaliwenna lipu-e, manguju pall alena, pusani nawa-nawanna, catunna Sangiangseri. Ramasuwanna nasedding. Nagilingmuwa makkeda, datunna Tiusengede, kuwa

Oje puwatta We Tune, datunna Sangiangseri, patabbulellang baunna patengek rasa malekna. Oje datus watena, riruluk riremmang-remmang. Talao mennang maccowe, ajak taonro makossong, riparelleseng lipu-e, narampi-rampu balawo, napittoki ede manuk, napuccaki-ede bawi.

Telleppek lalo adanna, datunna Tiuisengngede, natakkadapi makossong, wijanna Mappajungede, tunekna riboting langi, tunekna riperetiwi. Nagilingmuwa makkeda, datunna Sangiangseri, magao ritu muonro, mutudang tasengek- sengek, siteri-teriang maneng, riparellesseng lipu-e, wanuwa ri Langkemma. Sessuk sompani makkeda datunna Tiusengngede, mapeddik laddeka puwang, tannapalai bola, tauwede ri Langkemme, paccowek muwana puwang, naiyapa uwonroi, lipu tapotanra-ede.

Mabbal ada makkeda, datunna Sandiangseri, kuwa risliaowanna, tettudang tongemuwani, rilipu-e ri Langkemme, napumenasa wegangngi, gauk temmadecengede, natanro- tanroanakna, nareppung rangen-rangenna, nateya situju basa, tauwerilaleng mpolo, Nagilingmuwa makkeda, datunna Sangiangseri, naiyyapa taonroi, malempuk-e, namapato, takkuwa tudang maraddek. Nasiwewangen tarakka, sining ase Maega-e, larung-larungngi mattoddang. datunna Sangiangseri. Risoppo rijennekede, mattulekkeng ritana-e, malewa ri angingede, madammang-remmang laona, lao silao-laona, jokka si jokka-jokkana.

Malabuktona essoe-e, naoloini ri Soppeng, nagilingmuwa makkeda, datunna Sangiangseri, Taleppang sana cinampek, rilipu tokawa-ede, barak engka talonglongeng, situju nawa- nawatta, naiyana taonroi, makkulawu temmalala, kuaripangemmerenna. Nasamaiyo makkeda, sining ase Maega-e bata-ede Warellede sining betteng maega-e. Telleppek lalo adanna, datunna Sangiangseri, natakadapi ri Soppeng, napolemuwa makossong, ri wanuwa-e ri Kessi, natini terruk

Oje tomate watena natinromani natungka, tejennekna tengngapinna, mau silisek tolino, maccokkong moloi pelleng, Mai ri labu esso-e Natakadapi mattoddang, datunna Sangiangseri, risoppo rijenne-ede, mattulekkeng ritana-e, malewa riangede, namapappana baja-e, natengnga tikka nalettuk.

Naoloini Mangkoso,nagilingmuwa makkeda, datunna Sangiang seri, taleppang sana cinampek, ri lipuede ri Wettug, sappa pangampe madeceng. Naiyapa taonroi, timu tessisumpala-e, mapata kininnawa-e, situju nawa-nawa-e, makunraigi malabo, orowanegi malempuk, misseng duppai wisesa, paenrek Sangiangseri, nasessuk sompa makkeda, datunna Tiusengngede, bata-e barelle-ede, sining betteng maega-e. Nagilingmuwa makkeda, datunna Meongpaloe, napada makkeda maneng, kerrukwija sumangekmu, tuneknai Lapatato, wija datu Mangkaukmu. Angingko kiraukkaju, riwowoi riya miri, datuki kiriya teppa, kurulukki tasitiwi, tasitiwi tiwi lettuk, rilino lettuk rimajek, riwanuwa pammasareng.

Telleppek lalo adanna, napolemuwa makossong, datunna Sangiangseri, kuwa ripong saowe. Matteruk menrek mallekku, datunna Meongpaloe, pasipuppung madecengngi, rampenna ininnawana, temmettitopa pusekna, datunna Sangiangseri. Natengnga tikka naenrek, awiseng punne bola-e, tennabissai ajena, naenrek rirakkeyangnge, temmakutang temmabaju, nampa-ek ase siwesse, Nasitujuang peggangi, mallekkunna meongede, ricoppona lappok-ede, pasippung madecengngi, rampennaininnawanna, sininna takke-takkena, maddaremmeng maneng muwa. Sininna lappalappana, napakkuwaallalengeng, nawengo-wengoni lupuk, madekka maliwasenni, napakko punna bola-e, napasiyai nateya. Tennapudu-pudu lessok, datunna Meongpalae, naenrekna tudduiwi, naseringngi cappa aje, natalittana coki-e, pole teppa ri olona, datunna Sangiangseri, sining ase maega-e, datunna Tiusengngede, bata-ede barellewe, sining betteng mbega-e, datunna Meongpaloe, natijjang mangngaruk-aruk, awiseng punna bola-e. Nalengkanni asena, masero cai nanok, kuwa ripailungengede, tennapaleppang cinampek, kuwa riale bola-e, nanampuk macoi-cai, tassiam pok magguliling, natenna cukuk mittei, nalariyangi manuk-e.

Terimuwani makkeda datunna Sangiangseri, nannoko matu

talao, maserroi tekkupoji, gaukna punna bola-e, makkunrai

doraka-e, Matowa paddiuma-e, tettutungi-e Wettung,

Oje datu-e watena, wijanna riboting langi, tunekna riperetiwi, patabulella baunna, patengek rasa malekna. Nasessuk sompa makkeda, tudanno mai marupek, riwanuwammu ri Lisu. Naterrimuwa makkeda, datunna Sangiangseri, madeceng ritu adammu, Matowa paddiuma-e. Na-e madimeng muapa, sappa pangampe madeceng, makkunraigi malemppuk, orowanegi mapato, rampenna ininnawanna, kuwa ripadannatau, misseng duppai wisesa, paenrek Sangiangseri.

Namarete langiede, nateyatonaro tudang, datunna Sangiangseri, tennapojiro gaukna makkunrai riturukna, Matawaede ri Lisu. Tennaissengngi watena, wijannaro Lapatoto, I Tune riboting langi. Nassesuk sompa manganro, Matowa-ede ri Lisu, roto lengengngi jarinna, tennagiling massaile, datunna Sangiangseri. Risoppo rijenne-ede, mattulekkeng ritana-e, malewa riangingede, naleppasiro cinampe, mappesammeng madecengngi, ripasirinna bola-e, rilangkana tudangenna, Sulewatangeri Lisu. Nasitujuwang peggangi, massasa mallaibine, ribola ricokkangenna, mappesammeng riajange, natolingsi rilauk e masuwang tau natoling. Maddampe-rampero mai, arowane makkunrai, pabbanuwa-e ri Lisu, Nateya situju basa massikamppong massiperruk mabacci riperumana Nagilingmuwi makkeda, datunna Sangiangseri, turukko mennang talao, tutungi laleng malampe, tatunruiwi tototta, pura rijanciangekki, ri Toparampu-rampu-e.

namalabo, Sabbarak mappesona-e,namamase kuwaripadanna tau, lipu makkalitutu-e, ripadanna ripancaji, pakarajai tauwe, pakatunai alena, kuwa risilaowanna, nanaungi- e batara, nasanrangnge peretiwi Barak engka talolongeng, situju nawanawatta, naiya ritaddagai sumange banappatina. Samaiyoni makkeda, sining ase maega-e, ase pulu ase lalo. Nainappana marola, datunna Tiusengngede, sining betteng maega-e larung-larungi mattoddang, datunna Sangiangseri. Risopo ri rijennekede, mattulekkeng ritana-e, malewa riangingede mola parelleseng lipu, tuttungngi tanete lampe. Mappenedding manengmuwa, urek-urek marajaku, datunna Sangiangseri.

Nadapina pekkalaleng, mattuju lao ri Berru, nasessuk sompa makkeda, sining ase maega-e, pegana pouwang mattuju. lyaga puwang ri yola, mattuju-ede ri Berru. Mabbali ada makkeda, datunna Sangiangseri. la madeceng riola, mattuju-ede ri Berru, naiyana taleppang, bolana Pabbicara-e, jennangi- engi ri Beru. Barak iyapo maelo, pataddaga to tappalik, timang to mamase-mase, pasina-e to malilu, langina kalao-lao, anak

kalao-laosi, sappa pangampe madeceng. Barak iya kionroi namamase peretiwi, narinina talolongeng, situju nawa-nawa-e, sabbara mapesona-e, musut inappessunna, mangkai sai samona. Iya rilalengatikku, rilaleng paricittaku, kuwa manengi mattuju, ribola Pabbicara-e, marowak tuwo pellenna, marowa maneng rituling, sammennakawalaki-e. Namapato mappaguru, kuwa rianak eppona, napakkeruk sumangei, sininna rangen- rangenna. Iyanna kitaddagai, malempuk nawa-nawa-e, pakatutui alena, pakaraja manengengngi, si peruk, sempanuwanna, mapatak kininnawa-e.

Pabbicara malempuk-e. Nacukumuwa naterri datunna Sangiangseri, nawa-nawai gaukna, Matowa-e ri Maiwa. Mangessu bolok Makkeda, iko mennang to Berru-e, iya mennangkienreki, gangkanna porio-engngi. Iyana ritaddagai, ribokorinna ri Luwu, mattaliutta ri Ware, takkuwa teppa tappalik, riwanuwa-e ri Berru. Sangadi tettongeng muwa, talolongengede deceng, situju nawa-nawatta, sabbarak mapesona-e, pappetotokna wedatu, to Pabare-Bare-ede, misseng duppai wisesa, paenrek Sangiangseri.

Telleppek lalo adanna, datunna Sangiangseri, natakadapi makossong, riwanuwa-e ri Berru. Natijjanna mappesam meng ripasirinna bola-e, Pabbicara-e ri Berru. Nasitujuwang peggangi maddampe-rampe madeceng, awiseng Pabbicara-e. Nasitujuiwang peggangi, nasituju baca maneng, tauwe rilalengpola, mattowu-towu natudang. Mattowu-towuni menrek, datunna Sangiangseri, ribola natudangi-e, riwanuwa-e ri Berru. Tabullelanna baunna, patengek rasamalekna, kuwani riya takkapo, sammenna riengkalinga datunna Sangiangseri. Natijijang taddakka-rakka, awiseng Pabbicara-e, maranat mallaibine, timpa uwa-e ricare.

Napabbisai masiga, datunna Sangiangseri, terreang mpenno teppaja, napakkerruk sumangek-i. Siningase maega-e, datunna Meongpaloe, bata-ede barelle-ede, sining wetteng maega-e, datunna Tiusengede. Pura lebbaknijalikna, narilonjoki tappere, nataroini lawolong. Nasessuk sompa makkeda, awiseng Pabbicarae, karruk pole sumangakmu, wija

Otti barangeng massappe, kaluku lolo ritobo, tebbu malappa, sokko makkemmo ritappa, riwangung ritau-tau, inanre mallilik uleng. Alamede aladi-e, padduppa towanana, datunna Sangiangseri, siningase maega-e, datunna Meongpaloe, napura manre matteda, datunna Sangiangseri, naripaccella masiga, nariminynya- minynyakina, naraungiwi tangkiling, kuwani saliuk menrek, rumpunna kamenynyangede, pole sumangek We Tune. Timummung jiwa wedatu, cokkong nasipakario, sining silaongenna, timummung teppaja pole, pakkerruk mai sumangek, datunna Sangiangseri. Watannamuwa tarakka, Matowa padiuma-e, turu taddakka-rakkani, sining palilikna Beru. Ala maressak ota-e, ala kedek pabbojae, napada pole timummung, mattemmu pasang mallawa, takkappo temmu

Sessuk sompani makkeda, sining palilikna Berru kerrukjiwamu wedatu, wija datu torisompa, riokuna makkerio, rennukuna makkerennu. Idik arena lapuwang, usanresi tettalebak, makkulawu temmalala, kuwa ripangngemmerekku, meppe tiniyo tokawa.

Ajak siya tamalala, tasilattuwang rimaje, ripakkati memmerengede. Mabbali ada makkeda, datunna Sangiangseri, iyatu matu mutoling, awiseng Pabbicara-e, pabbanuwae ri Berru. Rekkuwa mulattuwangi, ininnawa madecengmu, timu tessisumpalamu, tudanna mai ri Berru, makkulawu temmalala, kuwa ripangemmeremmu, meppe tiniyo tokawa.

Nasessuk sompe makkeida, awiseng Pabbicara-e,

pabbanuwa-e ri Berru. Rekkuwa mulattuwangngi, i~nnawa madecengmu, timu tessisumpalamu, tudanni mai ri Berru, makkulawu temmalala, kuwa ripangemmeremmu, meppetinio tokawa. Nases suk sompa makkeda, awiseng Pabbicara-e, kerruk pola sumangekmu, wija opu Tomangkau, tomarennu tomisiya, cokkongro sipakario, riwanuwatta ri Berru. Idik muware lapuwang, mupopalilik baiccu, mupotakke mariawa, angikko kiraukkaju, riwawoi, miri-ede, datuki riya tateppa, kuwai ridik maccowe.

Ajak garek tamarunuk, tasitiwi-tiwi mate, tasilattuwang rimaje, ripakkati memmerengede. Mabbali ada makkeda, datunna Sangiangseri, madeceng ritu adammu. Iyana matu mutoling, awiseng Pabbicara-e, lappa ada pangajakku, sining tau maega-e, pabbanuwa-e ri Berru. Rekkuwa mulattuangngi, ininnawa mapatakmu, timu tessisumpalamu, massiperuk massikampong, kuwa rilalengpanuwa. Oje tudangnga ri Berru, makkulawu temmalala, kuwa ripangemmeremmu, iko ritu to Berru-e. Ajak mumasokka timu, kuwa ri denniari-e, riwajem- pajeng subu-e, apak takkinikini-i, tassenoi sumangekku, tassengek banappatikku. Rekkuwa ritu laowa, magguliling rilipu-e, sappa pangampe madeceng, mengkalinga sammenna, mapata ininnawa-e, sabbarak mapesona-e, maraja mapase-ede. ripadanna ripancaji. Iya teppaja kusappa, tau maraddek-e siya,

ripangampe madecengnge, ajak siya mumariuk, tettei serok

bempamu, rekkuwa timpao jenne, pedecengiwi riyolo, rampenna ininnawatta, naiya ritu kuporio. Ajak ritu wemarupek, mupalobbangi bempamu, kuwa-ettopa urimmu, kuwa riwenni juma-e, ajakto mupaluppungngi, sanrumu ritu sajimmu. Tassenoi sumangekku, tassengak paricittaku, rekkuwa temmutolingngi, salisapa wisesae, pangampe Sangiangsari, Usitujuang peggangngi mai tuppuku addeneng, maelo manguju menrek, manguju menrek ribola, rekkuwa siya laowa, magguliling rilipu-e, ucokkongio mariuk, muangkaga ribolamu, nonnokka mai parimeng. Tekku-elori gaukmu, tekkupoji pangampemu, muwangkaga rodomai, riolona dapurenge. Tennaissengi watena, wijannai Lapatoto, tunekna to Palanroe. addepparenna ri Luwu, anakna Batara Guru, Magguliling rilipu-e, patabulellang baunna, patengek rasamalekna, sappa panganpe madeceng, natiwi esse babuwa, nalao palik alena, sappa tomamase-mase.

Terrimuwani nakkeda, datunna Sangiangseri, apak maelo muwawa, matteruk menrek rilangi. Apak temmaka usedding, peddikna ininnawakku, tudang kuro ri Maiwa, riagellina coki-e, riawiseng palalona, Matowa paddiuma-e. Natonronginna posae, nabanutung esso wenni, datunna Meongpaloe, samanna nawerre bulo, pessena upeneddingi, rampenna ininnawakku. Nawa-nawai gauknya, makkunrai doraka-e. nasituruk basa maneng, tauwe rilalengpola, orowane makkunrai iyanaro kupopedi. Tarona menrek rilangi, teana tudang rilino, nasessuk sompa makkeda, awiseng Pabbicara-e, sining tau maega-e, pabbanuwa-e ri Beru.

Napada makkeda maneng, rekkuwa pale lapuwang, mangujuitu Matteruk, manai ribotting langi, tiwikka matu Matterruk, teawa tudeng rilino. Agana riala monro, namasuwang tona siya, meppeteniyo tokawa, naterrimuwa makkeda, datunna Sangiangseri. Kerruk mai sumangekmu, angkanna porioengnga, tudako simarupek, rilipu muwekkeri-e. lyakna siya matterruk, uwenrek riboting langi, reweppa mai parimeng. Barannamuwa mammase, naiya kutaddagai,

sumangak banappatikku, sessuk sompani makkeda awiseng Pabbicara-e. Neterrimuwa makkeda, rekuwa pale lapuwang, menrekki riboting langi, reweki pale lapuwang, riwanuwa-e ri Berru, makkulawu temmalala, meppe tiniyo tokawa, tomaega-e ri Berru. Nacukumuwa naterri, datunna Sangiangseri, kuwani bunne marunuk, jenne uwa-e matanna, nagilingmuwa makkeda, tudanno mai marupek, awiseng Pabbicara-e, sining tau maega-e rilipu akellaremmu, rilangkana cokkongemmu. Tarona menrek rilangi. ulettuk maddaju-raju, ribolo allingerekku.

Talleppek lalo adanna, datunna Sangiangseri, ala pajaga manganro, awiseng Pabbicara-e, sining tau maega-e, melorengngi maraddek, terreang mpija ri Berru, makkulawu temmalala, kuwa ripangemmerenna. Nagilingmuwa makkeda, datunna Sangiangseri, sangadi reweppa mai, tasipakario-rio, rijajareng wekkeremmu. Talleppek lalo adanna, datunna Sangiangseri, kuwani saliuk menrek, kuwani riya sammena. Angingnge salarengede, rimangujunna matteruk, datunna Sangiangseri, sianre-anre wero-e, siola pareppak-ede, rimalalenna wennie. Nappangujuna matterruk, wijanna Topalanroe, ase pulu ase lalo, napada masissing lao, datuna Tiusengngede, bata-ede barellewe, sining betteng maega-e, datunna Meongpaloe, larung-larungi matterruk, manai rebat- ing langi datuna Sangiangseri. Ala maressak ota-e, alakedek pabboja-e, natakkadapina menrek rilappina ellungngede. Namaredduk paccalana, tangena bitara-ede, natini terruk naenrek, riisaowero pareppak, datunna Sangiangseri.

Nasitujuwang peggangi, makkatawareng mallino, datunna Topalenro-e, ripalakka ulowenna, rikadera palailona, napolemuwa natudang. Nasessuk sompa makkeda, riolonaro puangna, sinappati Mangkauna, Batara cajiyangengngi. Patiri engngi rilangi, sinaungi-e Batara, panurungengngi rilino, mawaji Sangiangseri. Napada terri manenna, ase pulu ase lalo, sining- ase maega-e, datunna Meongpoloe. Gilingmuwani makkeda, Topabare-bare-ede, kerruk jiwamu We Tune.

Sininna tokawa-ede, riawa riperetiwi, teani nonno rilino maddaju-raju teppaja, peppeng manengngi tolino, madaju-raju teppaja, risao-wero pareppak. Apak kuwai macokkong, sumangek banappatina, allingereng Mangkauna, lipu-e ricoppo meru, mulettu maddaju-raju. Sisemmo ritu rilinge, musipupureng lipu-e, riawa riatawareng, sangadi puwangmu siya snak-e Sangiangsari, turui raju- rajummu, naparrisio parimeng muttana rilaleng kati. Nacukumuwa naterri, datunna Sangiangseri.

Sangiangseri. Nagilingmuwa mabboja, batara ncajianggengngi, Opu Batarana Luwu,maranak mallaibine, Kuwani toriselleyang, ininnawa gaggarenna, sinappati Mangkauna, tujumatai wijanna,datunna Sangiangseri. Sininna pole makossong, risaowero pareppak, sebbu kati Mangkauna. Maittamani natoling, nasitunrengeng makkeda, maranak mallaibine. Kerruk jiwamu WeTune, anak-e Sangiangseri, magao ritu muenrek, risao-wero pareppak, temmutudangna rilino, meppetinio tokawa. Irate lao mutudang, ripalakka tanratellu. Inappana lao tudang, datunna Sangiangseri, ripa takka tanratellu. Inappani lao tudang, datunna Sangiangseri, ripalakka tanratellu, sama raddekni masigga, rismmna tapalireng. Nacukumuwa naterri, allingereng Mangkauna, nacongamuwani makkeda. Marao ritu muengka, anak-e Sangiangseri,risao-wero pareppak, temmucokkonna riawa rilipuna tolino-e. Nasessuk sompa makkeda, datunna Sangiangseri, riolonaro puwangna, sinappati Mangkauna, panurungengngi rilangi, sinaengngi ribitara.

Layana Mai lapuwang, kuenrek riboting langi, ulettuk riruwang lette, kuteppa ricoppo Meru. Teana tudang rilino, rilipu tokawa-ede, tekkuwelori gaukna, tekkupoji pangampena. Monro bawangnga rilino, napeccakitona dongi, napessitona. balawo, naka-arinaro manuk. Apak meongngemi siya, kirennuwang mampiriki, maddojai esso wenni, naiyana riagelli, tolino tokawa-ede, tonrong temmalawangengngi, ribanutung esso wenni. Iyana mai lapuwang, uwenrek riboting langi, kuteppa ricoppo meru, maelokka muparisi, muttama rilalengkati.

Nacukumuwa naterri, allingereng Mangkauna, maranak mallaibine, Opu Batarana Luwu. Mainappana makkeda,

datunna Sangiangseri, riolonaro puwangna, sinappati Mangkauna, panurungngengngi rilangi, sinaengngi ribitara. lyana mai lapuwang, kenrek riboting langi, ulettu riruwang lette, kuteppa ricoppo meru. Teana tudang rilino, rilipu tokawa-ede, tekkuwelori gaukna, tekkupoji pangampena, monro bawangnga rilino. Napeccikitona dongi, napessitona balawo, nakaerinaro manuk. Apa meogngemi siya, kirenuwang mampiriki, maddojai essc wenni, naiyana riagelli, tolino tokawa-ede, tonrong temmallawangengngi ribanutung esso wenni.

Iyane mai lapuwang, uwenrek riboting langi, kuteppa ricoppo meru, maelokka muparisi, muttama rilaleng kati. Nacukumuwa naterri, alli-ngereng Mangkauina, maranak mallaibine, opu Batarana Luwu. Nainappana makkeda amaseangnga wewija, munonno ritu parimeng, rilipuna tolino- e, sikuwamemengi, pura ritotorengekko, ri Toparampu-rampu- e, muripanurung rilino, mancaji Sangiangseri. Meppetinyo tokawa, makkulau temmalala, rilaleng pengemmeremmu, tolino tokawa-ede, sining nasampo-e langi. Rekkuwa tudakko mai, rate ricoppo meru, talawe ritu jiwamu, tassengnga banappatimu, tassenoi gumawamu, rilipu ricoppo meru, wanua ri pammasareng, mai ripadang malilu, ripakkati merengede. Tammuissegga palae, anak-e Sangiangseri, mateni allingeremmu, suma-ngek banappaitinna, sinappati Mangkaumu, leppanni ripammasareng, Batara ncajiangekko. Amaseangnga We Tune, muwadditoddang masiga,rilipuna tolino-e,makkulawu temmalala, kuwaripagemmerena, tolino tokawa-ede. Nasessuk sompa naterri, tasengek-sengek makkeda, amaseangnga lapluwang, turui raju-rajukku. Ajak lalo tapekkai, elokku monro rilangi, taroni mate sibollo, malliweng ripammasareng, riasek ricoppo meru, apa barakupi nagiling, risao-wero pareppak.

Taroni mai lapuwang, utaliu ubokori, tolino tokawa-ede, monro bawangnga rilino. Maserroni tekkupoji, iya tepporiotona, iya uwaseng maceceng, narekkuwana lapuwang, mamasesai parimeng, muttama rilaleng kati. Peana rewek tempeddinna mattokawa, tekkuwelori gaukna, tekkupoji pangampena, taroni

pepe namate, tolino takawa-ede. Agapi uwala rewek, napeccikitona dongi, nakeccakecca balawo, namimmiria anango napitokki lanbennik. Napagauk maneng toni, salisapa wisesa- e, teani maddojaiwi, sumangek banappatikku, meongemi kirennuwang, mampiki maddojaiki. Naiyana tennapoji, rilangkana cokkongenna, Matowa paddiuma-e, mampi-engngi Maiwa, gauk tallalo-lallona, mangkunrai dorakana, Matowa-e ri Maiwa. Natonronginna posae, nabanutung esso wenni, datunna Meongpoloe. Aga ulao lapuwang, kulao pali aleku, kujoppa mattunru totok, sappa pangampe madeceng, tuttungi padang malowang, namasuwang kulolongeng, situju nawa-nawakku, Utakkadapi ri Berru, mallajang merrek rilangi, kuma-elona parimeng, muttama rilaleng kati mancaji cero natampuk, kuwa rilaleng babuwa Nacukumuwa naterri, Batara cajiangengngi, datunna Sangiangseri. Nainappana makkeda, kerruk jiwa sumangekmu, anak-e ritu We Tune, anak-e Bangiangseri.

Wekkaduwagao pale, mola laleng kacipireng, mumelok wekkaduwa, rewek parimeng ritampuk, muttama rilaleng kati. Apak temmapeajenno, cokkong manai rilangi riparanru ri Batara, kuwano ritu rilino, makkurek terreampija, meppetiniyo teppaaja, meppetiniyio tokawa apa sikuwa memengi, totok murampu-rampumu, ripanurung rilino-e. Nacukumuwa naterri, datunna Sangiangseri, maittamani nacongak, nasompa mae makkeda, matetogi pepetogi tolino-e majappu teana rewek, parimeng riraleng lino. Tarona siya kukuolao silao-laoku, apak teano lapuwang, parisia ribabunna, parimeng riralang kati. Nacukumuwa naterri, sinappati Mangkauna, narimiinynya-minyanyakina, naraun giwi tangkiling, kuwani saliwut menrek, rumpuna kamenna ngede. Naterimuwa makkeda, allingereng Mangkauna datunna Sangiangseri. Amaseangnga wewija, mutunruk muripanurung, rewek parimeng rilino, kuwao lempong We Tune, cokkong parimeng ri Luwu, rilipu akkelarenuwa sinappati Mangkaumu. Nasessuk sompa makkeda datunna Sangiangseri, mappau mappasisowa, jenne uwa-e matanna. Teyai rewek ri Luwu, parimereng Watampare, malebbipi tawaro-e, naiya siya watakku Tennaissengi watena. Luwu-e to Ware-ede wijannai lapatoto,

Ubokorini ri Luwu, mataliuku ri Ware, utateppa ri Maiwa, iyamusi riagelli, datunna Meongpaloe. Mabbali ada naterri, allingereng Mangkauna, datunna Meongpaloe, datunna Sangiangseri, kuwani ritu gaukna, tauwe to Ware-ede. Turukko ritu wewija, taddewek ri Watampare, nunennungiwi totokmu, pura rijanciyangekko. Matei anak tauwe, pabbanuwamu, rilino poah anuwamu, rilino sumpu lolomu, to Luwu to Ware-ede. wijannai Lapatoto, tunekna Topalanro-e. Apak majeppu We Tune, rekkuwa teao rewek, rilino ritu rikawa, meddemanengngni sininna, bulu-bulunna tana-e, buwa akaju-kajungede. Menrek manengngngi mallajang, manai riboting langi sining warowo linoe, napada lao sappako, mola bate salompemu. lyamuapa napaja, engkamano nalolongeng, iyanaro uwakkeda, amaseangnga wewija, anak-e Sangiangseri. Muturu lao mattodang, makatawareng rilino, meppe tiniyo tokawa, tarani matu We Tune, nalele ipuna siya, tau teppurennu-ekko, magelli- engngi posae, datunna Meongpaloe. Muturu kenneng matteru, parimeng ri Watampare, makkulawu temmalala, makkurek kerreangwija, meppetinio tokawa. Uwereyang menetokko, anak-e, Sangiangseri, pemmalina wisesa-e, pangampik Sangiangseri. Ajak mai namarunu., ulekmu takke-takkemu, wessekati passiomu sumangek banamppatimu makatawareng rilino, mupaccinaga manengngi, tomadecengnge gaukna. Tomapaccingnge atinna, sabbara mapesona-e, kuwa ripada tau, malempuk-e namapata, teppegauk ceko-ceko, mai rilaleng atinna. Cukumuwani nateri, datunna Sangiangseri, nasessuk sompa massimang makkeda ritu We Tune. Tudanno ritu lapuwang, maranak mallaibine, uperennai manekko, sining lisek langkana-e, ritotalliwe jiwa-e, tassenoi gumawakku, orowane makkunrai,mattekka ripammasareng, sumangak banappatinna. Rewek tuwoko pari meng, matoddang nonno rilino, rilino tokawa-ede, rilipu tokawa-ede. Naiyapa uwonroi, situru nawa- nawakku, sabbara mapesona-e, malempuk-e namalabo, topogauk-ede deceng, kuwa rilakngatinna, misseng duppai

Opu Batarana Luwu, kerruk jiwa sumangekmu, anak-e Sangiangseri. Siolani pareppak-e, sianre-anre wero-e, lette-ede pareppak-ede turukni sia nalao makkatenni rigattue siwawangenna tarakka, siningase maega-e, larung-larungi mattodang, datunna Sangiangseri. Sala maruttung langi-e, tatenreng peretiwi-e, sala mawoto tana- e, riawa rialelino.

Rimangujunna taddewek, datunna Sangiangseri, manguju lao ri Berru, nacukumuwa naterri, Opu Batarana Luwu, allingerangna We Tuna, tuju matai mattodang, sebbukati Mangkauna, Terri marunu-rununi, inanna ncajiyangengngi, tuju matai anakna, mattuju lao ri Berru. Rewek parimeng rilino, makkatenni riwero-e, nennung tarawu mattodang. Natangabenni nalettuk, napolemuwa makossong, riwanuwa-e ri Berru. Nasitujuwang pegangi, timummunna to Berru-e. Lekkani Sangiangseri, tijjanni tadakkarakka, awiseng Pabbicara-e, timpa uwa-e ricerek, tudang moloilamolong ota sakke nataroi, nataroiwi lamolong, terreang benno teppaja. Nainappana makkeda, kerruk mai sumangekmu, datunna Sangiangseri, sining aso maega-e, ase pulu ase lalo, datunna Tiusengede, warellede bata-ede, datunna Meongpaloe. Nasiwewangeng tarakka, naruluk naremmang-remmang, datunna Sangiangseri, allingereng Mangkauna. Manai riboting langi, tuju matai anakna, sabbukati Mangkauna, mattujui ribolana, Pabbicara-e ri Berru. Narigongenna lawolong, naiya naolo menrek, rilangkana tudangenna. Pabbicara-e ri Beru, ribissaiyyang ajena. Nasessuk sompa Makeda, awiseng Pabbicarae, kerruk pole sumangekmu, wija datu torisompa.

Tune toriabusungi, wija maddara takku-e. Irate lao mutudang, rijajareng tekkasimu, rilangkana tudangemmu, tampai lao tudang, datunna Sangiangseri, sining ase maega-e.

Sessuk sompani makkeda, awiseng Pabbicara-e, kerruk jiwamu marupek, rinimuwa-e ri Berru. Mabbali ada makkeda, datunna Sangiangseri, tennapodo mulattuwang. Ininnewa madecemmu, malempuk makkalitutu, musabbara mapesona, kuwa ripadammu tau. Agaro sining padanna,weddimuwano mamase, pataddaga totappalik rilolangeng pekkeremmu, enreng tongeng mumamase, tarona tudang ri Berru, engkalingai adakku, tolingngi papangajaku, atutuiwi gaukmu, atikeriwi kedomu, pangajarimaneng toi, sininna anak eppomu. Siningna rangeng-rangemmu, siperruk sumpulolomu, seajing sem- panuwammu, pabbanuwa-e ri Berru, orowane makkunrai. Pappasenna mai denre, puwang nenek Mangkaukku, Batara ncajiyangengnga, Opu Batarana Luwu, maddeppak rilappa tellang. Ajak mumasoka timu, ritinrellekna tikka-e. simaduppanna pettange siwajeng-mpajeng subu-e Ajak musaji inanre, rekkuwa temmadecengngi, rampenna ininnawammu, tabbure-burei matti. .Ajak musaji tengngai, nanremu riuringede, rekkuwa timpuko siya,atutui tabbessina, cukuko meitteriwi, ajak muwappau-pau, rekkuwa siya manreo, apak takkini-kinika, tassenni gumawakku, tessenga paricittaku.

Samanna nawerre bulo, passena upenedingi, rampenna ininnawakku. Oje tenrena watena, sumangek banappatikku, rekkuwa teawo ritu, saliangnga pemmalikku, salisapa wisesa-e, rekkuwa menrek parimeng, manai riboting langi, Nasessuk sompa makkeda, awiseng Pabbicara-e, ajak nakkuwa adatta, kerruk pole sumangekmu. Idik arena lapuwang, usanresi tettaleba, opubatu temmatekko, upocora-cora lolang, riwanuwa-e ri Berru. Mabbali ada makkeda, datunna Sangiangseri, enrengtongeng mumase. Marennuo riwatakku, awiseng Pabbicara-e, sining tau maega-e, rennukuna makkerennu, riokuna makkerio. Naerekkuwa marupek, temmuposimpai ritu, gauk-e tekkupoji-e. Ajak musitumpak- tumpak, mai rilalengpolamu, rimaduppana pettangnge. Ajak mumaraja sadda, mai riwenni Juma-e, rimatetteng mpeni-e,

Sining tau maega-e, worowane makkunrai, manganro-angro tappaiateppaja, pautana madecengngi, pemmalinna wisesa-e, pangampi Sangiangseri. Iko rituto Berru-e, sining tau maega-e. Engkalingai adakku, pangajana mai denre, puwang nenek Mangkaukku, pangampina wisesa-e, pangampi Sangiangseri. ikoritu to Berru-e, sining tau maega-e, engkalingai adakku, pengajana mai denre, puwang nenek Mangkaukku, pangampina wisesa-e. Ajakto mupasarangngi, oneawali lowakmu, marakko cappai ritu sia bene ritanengmu, tassinaui rilaleng, ininnawa mapataku, tassenga paricittaku. Napaseng-ngaro mai, puwang nenek Mangkaukku, iyatoparo rekkua, mupangujui binemu,. tudanno moloi pelleng, addojaiwi marupek, kedona nawa- nawammu, kuwa-e teppa timummu, mumusu-i napessummu.

Opu Batarana Luwu. Rekkuwa mupegauki, wekkatellu-ede moto, lao tenrewek binemu, ucabbengi tassenoi sumangekku, tassenga paricittaku, pasalanaro asemu. Majeppu iyarek gauk, pemmalinna wisesa- e, kuwa-a ritu marupek, awiseng Pabbicara-e, mengkalingao pangaja, muturu makkalitutu, muniniri pappesangka, pemmalinna wisesa-e. Barak maupekko ritu, naranru caddiyo riyo, mai bineritanemmu, nawekketessang kalangeng, naenrekkuwa labela. Narapikni maelokna, mupammulai asemu, mengngalai wisesamu, siokni tassiwarekkeng, muinappana paenrek-i. Manai rirakkeyangnge, mitaroi-toi majang, iya tettabbakka-ede, mupallisei asemu, ritengnganaro galungmu. lyatoparo marupek, tempeddippi ripabbesse, muinappana kettui. Pappasenna mai denre, puwatta riboting langi, salisapa wisesa-e. Temmadeceng ripogauk, anu riala wenni-e, tea ripasilise baku, waramparang rigengko-e temmappaenrek wisesa. Gilimuasi makkeda, datunna Sangiangseri, awiseng Pabbicara-e, ajak mumasekke ada, ritenrellena wenni-e. riwajeng-panjeng subu-e. Wekka tellu-a siwenni, magguliling rilipu-e, sappa pangampe madeceng, kuinappena taddewek, ribola ucokkongi-e. Usitujuwang peggangi, mai tuppuku addeneng, utoling mengkalingai, masekke ukkatimu-e, masaga-saga makkeda, nonnoko ritu parimeng, kulao palik aleku. Naiyapa uwonroi, sabbara mapesona-e, ripadanna ripancaji. Apak takkini kinikka, tassenga paricittaku, tassenoi sumangekku enrengtongeng mumamase, pasitujui basamu, kuwa rilaleng mpolamu, pangajari manengtoi, sining palilikna Berru. Nasessuk sompa makkeda, awiseng Pabbicara-e, kerruk pole sumangekimu, wija Opu Torisompa, datunna Sangiangseri datunna Tiusengede, bata-ede warellede.

watteng maega-e, datunna Meongpaloe,. mettemuwasi makkeda, awiseng Pabbicara-e. .Ajak nakkuwa adatta, Opu datu torisompa, upakkulle-ulleipi, saliangkekki sapatta, niniriwi pemmalitta. Enrengtongeng mumamase, maraddek tudang ri Berru, elokmu kuwa edatu, adammu kuwa eraja. Mabbali ada makkeda,datunna Sangiangseri, madeceng ritu adammu,langimanu riwawona, ada-ada madecengna. Mangujuna mai menrek, rirakkeangnge marupek. Tijjanni marakka-rakka, awiseng Pabbicara-e, naminynyakiwi masiga, siningase, Nariraung tangkiling, nasitoraiwang lawolong, siningase mancetti-e, datunna Meongpaloe, naruluk lette pareppa natassau tekkotopa, datunna Sangiangseri, Nagilingmuwa makkeda, kuwa risilaongenna, napitumpenni watenna rini tatudang ri Berru. Tenginang kuengkalinga, ukka timu sisumpala, oje tudangi maraddek, makkulawu temalala, makkurek terreang mpija, maraddek tudang ri Berru.

Rekkuwa nalattuwangngi, ininnawa madecenna, ukkatimu mapatakna, timu tessisumpalana awiseng Pabbicara-e. Malampekka sicokkongeng, tudang siparyo-riyo, kutudang siraga-raga, rekkuwa naelorengngi, sangiang riboting langi, dewata-ede riawa sangiang riperitiwi, Sangiangseri ri Luwu. Mamminasawa paenrek, wisesa mawekke welle, sininna porennu engnga pabbanuwa-e ri Berru, sama menrekni tarakka

awiseng-ede ri Berru. Nangamporeng cacubanna, tereang
mpeno makkeda, kerruk jiwamu marupek, wijannai Lapatoto,
mobbiripi, tauwe ri laleng Berru, maelo-e mappemmali,
salisapa wisesa-e. Atutuiwi kedomu, atikeriwi gaaukmu, iko
bawangngede. Pabbicara maceko-e.

tunekna Sangiangseri, menrek rirakkeyangede. Uwassuro

mennang to Berru-e, ajak mupapperumai, tomaggauk Apak teppaenrek ritu, wisesa Sangiangseri, temmadecenge gaukna.

Sikuwaniro rampena, Meongpalo Karellae.

MEONGPALO KARELLAE

inilah pasal yang menjelaskan tentang cerita Meongpalo Karellae. Beginilah tutur kata Meongpalo Karellae. Ketika aku tinggal di Tempe, bermukim di Wage. Walaupun belanak kumakan, namun bete kubawa lari, tidak pemah aku disiksa. Sebab penyabar lagi pemurah tuanku pemilik rumah. Tatkala aku terkutuk di langit, dibenci oleh Dewata dari angkasa langit, hingga di petala bumi. Aku dibawa ke Soppeng dan tiba di Bulu, serta terdampar di Lamuru. Tuanku dari pasar membawa ceppek-ceppek, aku datang menyergapnya seekor yang besar. Aku dipukul dengan parang oleh tuanku pemilik rumah. Terasa pecah kepalaku, sealah-olah tercecer benakku, mataku terasa melotot berkunang-kunang pandanganku. Aku lari terengah- engah sampai tiba di Enrekang dan tinggal di Maiwa. Aku makan kerak nasi bersama dengan tulang ikan. Aku dilempar lagi sakkaleng (sepotong papan), aku lari juga bertengger di papan dapur. Aku dipukul lagi Pabberung (sepuh buluh) tuanku yang sedang memasak. Kurasakan pedihnya, hingga urat sekecilkupun, malah sekujur tubuhku, maka bercucuranlah air mataku. Aku lari bersembunyi di bawahnya dapur, aku ditusuk lagi kayu oleh tuanku yang sedang memasak, sehingga aku terjatuh di tanah, anjing memburuku, ada pula orang mengejarku, hiruk pikuk semua orang, pria dan wanita. Aku lari juga bertengger di atas lesung. Aku dipukul lagi dengan antan oleh tuanku yang sedang menumbuk, ada pula yang

Sebab hanya kucinglah yang kuharapkan mengayomiku, dan menjagaku siang malam, memusnahkan tikus, agar tak berguguran bulirku, karena diikat dengan hati baik. Kamilah yang seyogianya mempersatukan semua orang miskin. Dan kamilah yang dibenci, sehingga dia marah lalu-lalang.

Matowa Pallaeruinae, bersama-sama marah dan seluruh keluarga istana marah terhadap kucing, pria dan wanita. Belum habis bicaranya Datunna Sangiangseri, mereka serentak bangun seraya berpandangan mata, mengelilingi lumbung, baik padi biasa maupun padi pulut, bahkan seluruh Jenis padi yang ada disitu, termasuk padi pulut manccetti.

Belum habis sirih terkunyah, belum berkedip matanya, bersama-samalah berangkat seluruh jenis padi, mengiringi gerangan turun, menemani berangkat Datunna Sangiangseri. Akhirnya sampai di rumah Pabbicara, Pemerintah di Maiwa. Naiklah Meongpaloe separuh rumah penuh. Belum pulih perasaannya berada di rumah Datunna Sangiangseri. Kebetulan sekali anak-anak sedang makan, menyuap terhambur-hambur, menyendok tekserak-serak, tidak tunduk memungutnya oleh · ibu yang melahirkannya dan tidak melarangnya kepada teman-temannya, bahkan berbalik membentak, mena:ngis tersedu-sedu, tak henti-hentinya

Alm tak mau sengsara di kampung Maiwa, tidak direstui oleh Dewata Tunggal di atas langit, tinggal di Maiwa, mempersatukan orang miskin. Aku tidak suka tingkah lakunya dan tidak disenangi perangainya orang-orang di Maiwa, tunduklah bersama perangkat, mencari perangai yang baik, semoga dapat dipertemukan wanita yang jujur, ataukah pria yang pemurah, berhati lemah lembut, tidak pernah berbuat curang, dan hatinya tidak kikir, tanggap meramu padi, memelihara Sangiangseri, dibawa oleh air merayap di atas tanah, tenang diantar oleh angin data perjalanan. Belum habis sirih terkunya, belum terkedip mata.

Sudah ditinggalkan Maiwa, menuju ke Soppeng dan sudah mendekati Pattojo, menuju ke Mario. Menjelang pagi, balik juga berkata Datunna Sangiangseri, yang mana dilalui, apakah yang menuju ke Tanete; serentak berkata, apa yang diperintahkan hamba kuturuti. Tuanku yang menentukan, hamba bersama Tuanku jawabnya Datunna Sangiangseri, baiklah tunggu sebentar, lebih baik singgah, sebentar di kampung yang direncanakan itu. Mencari perangai yang baik, semogalah dapat dipertemukan wanita yang jujur, pria yang pemurah, tanggap meramu jenis padi, memelihara Sangiangseri.

Inilah yang dilalui, yang menuju ke Langkemme, dan bertemulah Datunna Tiusenge (raja padi-padian), termasuk bata, jagung, jawawut (betteng), semuanya merasa marah, tinggal bertangisan di luar kampung, bersiap membuang diri. Hatinya sudah putus asa, Datunna Sangiangseri, menurut perasaannya kampung yang dituju masih merisaukan.

Berbalik seraya berkata Datunna Tiusenge, kepada teman- temannya. Bagilah dirimu, sebab saya lihat Puwatta yang dipersembah datang, keturunan Pajung, manusia dari langit, di

Pajung, bangsawan di langit bangsawan di petala bumi. Berbalik sambil berkata, Datunna Sangiangseri. Mengapa kau tinggal di sini, duduk tersedu-sedu, bertangisan semuanya di tapal batas kampung negeri Langkemme.

Sembah sujud, berkata Datunna Tiusenge. Alm sangat menderita Puwang, tidak disimpan di dalam rumah oleh orang-orang di Lengkemme, ikutkanlah Puwang, aku akan tinggal di kampung yang direncanakan.

Jawab Datunna Sangiangseri kepada teman-temannya. Aku tidak akan tinggal di kampung Lengkemme, sebab tidak kusenangi perbuatan yang buruk, dicaci-maki anaknya, dan dihimpunlah teman-temannya, karena tidak mau bersatu padu, orang di dalam rumah. Berbalik sambil berkata Datunna Sangiangseri, yang akan tinggal ialah yang jujur lagi patuh, aku tidak perlu tinggal lama, semuanya bergegas berangkat seluruh jenis padi, beriringan turun Datunna Sangiangseri dibawa oleh air, merayap di atas tanah dan tenang diiringi oleh angin menelusuri perjalanan, pergi tanpa arah, jalan tanpa batas.

Hari sudah petang, sudah berada di daeran Soppeng. Berbalik sambil berkata Datunna Sangiangseri, baiklah singgah sebentar. Dikampung orang miskin ini, agar dapat dipertemukan yang sejiwa denganku. Disitulah tinggal berlama-lama tidak pindah lagi, serentak berkata, baik padi, bata, jagung, dan jawawut. Belum habis bicaranya Batunna Sangiangseri sudah sampailah di Soppeng, dan berkumpul di kampung Kessi, terus naik di Istana kediamannya, Matowa Pallaorumae, yang mengayomi Kessi.

Pergi lagi melihat api di tungku dapur, tidak juga terdapat api. Menangis seraya berkata Datunna Sangiangseri. Turunlah semua kita pergi. Alm tidak senang tingkah lakunya, aku tidak suka budi pekertinya. Bagaikan orang mati layaknya, kerjanya hanya tidur, aimya tak ada, apinyapun tiada, walaupun seorang tak ada menyalakan pelita pada petang hari. Berangkatlah Datunna Sangiangseri, dibawa oleh air, merayap di atas tanah dan tenang diantar oleh angin, menjelang pagi hari dan tiba pada waktu tengah hari.

di Mangkoso, berbalik seraya berkata Datunna Sangiangseri, singgah sejenak saja di kampung Wettung, mencari budi pekerti yang baik, yang dapat ditempati, bertiltur kata yang lemah lembato pemurah bahasa yang halus, yang.sejiwa denganku, apakah wanita pemurah, pria yang jujur, tanggap meramu padi-padian, memelihara Sangiangseri.

i;>embah sujud sambil berkata Datunna Tiusenge, termasuk bata, jagung, semua jawawut. Berbalik sambil berkata Datunna Meongpaloe, semuanya berkata. Syukurlah atas datangnya keturunan Lapatoto. Putri Datu Mangkau, kuturuti perfutahmu, di atas kekuasaanmu, Datuki )ua dan aku pengiring setia, bersama-sama berada, di dunia sampai di alam baka.

Belum habis bicaranya, datanglah berkumpul Datunna Sangiangseri dan tinggal di dalam rumah, dan teruslah berbaring Datunna Meongpaloe, memulihkan tenaganya, menenangkan pikirannya, dan keringatnya belum kering Datunna Sangiangseri. Tuanku pemilik rumah naik di rumah tengah hari, kaki tidak dicuci, naik di rangkian (loteng), tanpa kutang, tanpa baju, mengambil seikat padi. Kebetulan sekali saat itu Meongpaloe Karellae sedang berbaring di puncaknya lumbung padi, memulihkan tenaganya, menenangkan pikirannya. Sebab seluruh tungkainya terasa ngilu akibat perjalanan, dimabuk kelaparan, dan haus dahaga karena ulah pemilik rumah bertingkah demikian. Tertambatlah turun Datunna Meongpaloe, lalu naik menendangnya, dan menyapunya dengan ujung kaki, maka kucing terpelanting dan jatuh di hadapannya Datunna Sangiangseri serta semua jenis padi. Datunna Tiusenge, batae, jagung dan jawawut, Datunna Meongpalae. Dan datanglah mengamuk-ngamuk, tuanku pemilik rumah mendengar jeritan padinya, dia sangat marah, lalu turun pergi ke lesung, tidak singgah sejenak di atas rumah, mereka menumbuk sambil marah-marah, terhambur ke sana ke mari dan tidak tunduk memungutnya, hingga dibawa lari oleh ayam. Menangislah sembari berkata Datunna Sangiangseri. Turunlah, kita pergi, sangat tidak kusenangi tingkah laku pemilik rumah ini, wanita yang durhaka, di daerah

Sudah menjelang pagi, belum juga datang Datunna Sangiangseri, sebab tidak

Sembah sujud memohon ampun Matowa di Lisu, membalik jari tangannya, tunduk tidak menggelengkan kepalanya. Datunna Sangiangseri dibawa oleh air, merayap di atas tanah dan tenang diantar oleh angin. Singgahlah sejenak istirahat, sembari mengintip dengan baik pada sebuah rumah milik kediaman Pemerintah di Lisu. Kebetulan sekali pada saat itu, suami isteri sedang bertengkar dalam rumahnya. Mengintip ke barat, mendengarkan di timur, tak ada orang terdengar berucap cakap, baik pria maumun wanita, karena orang di Lisu tidak mau bersatu dalam kampung secara kekeluargaan, mereka marah terhadap tetamunya. Berbalik sambil berkata Datunne Sangiangseri. Turutlah kita pergi, menelusuri perjalanan panjang, mengadu nasib menyambung nyawa yang sudah ditakdirkan oleh Dewata, sabar dan bijaksana, kasih sayang dan pemurahlah terhadap sesama, kampung yang penuh kedamaian ciptaan Dewata. Menghormati sesporang, merendahkan diri terhadap semua orang di bawah kolong langit, di atas benua langit, semoga dapat dipertemukan yang sejiwa dengan kita, disitulah kita tinggal, menenangkan isi hatiku. Serentak berkata semua padi-padian, padi pulut, padi biasa. Kemudian mengikutlah Datunna Tiusenge baik bettenge mengiringi turun Datunna Sangiangseri, dibawa oleh air, merayap di atas tanah dan tenang diantar oleh angin, melalui selah-selah kampung, telusuri perbukitan panjang, terasa semua urat-urat besarnya Datunna Sangiangseri.

Sampailah di persimpangan jalan yang menuju ke Barru. Sembah sujud seraya berkata seluruh jenis padi. Yang mana Puwang dituju. Inikah yang dilalui yang menuju Barru. Jawabnya Datunna Sangiangseri. Inilah yang baik dilalui, yang menuju ke Barru. Disitulah singgah di rumah Pabbicara, yang memerintah di Barru, semoga sudi menerima orang terlantar, yang menantikan uluran tangan, menyadarkan orang sesat, supaya tidak terlunta-lunta. Mencari perilaku yang baik, yang dapat ditempati, yang sama hatiku, penyabar lagi

Semua orang Barru yang aku tempati yang simpatik terhadapku itulah yang kutempati sejak aku tinggalkan tanah Luwu, berdiamku di Ware. Kini aku terdampar di kampung Barru, jika berdiri di atas kebenaran, niscaya mendapat kebahagiaan. Sebab hatiku sudah terpaut, penyabar lagi bijaksana, menantikan rahmat Dewata, tanggap meramu padi-padian memelihara Sangiangseri.

Belum habis bicaranya Datunna Sangiangseri, sudah datanglah berkumpul di kampung Barru, aku mengintip di dekat rumah Pabbicara di Barru. Kebetulan sekali saat itu, bertutur kata bersama isterinya Pabbicara, seluruhnya sesuai isi hatiku. Terns naik Datunna Sangiangseri di rumah yang akan ditempati di Barru, semerbak baunya, menggiurkan rasa aromanya, disitulah kedengaran akan tinggal Datunna Sangiangseri. Dan datang tergesa gesalah tuanku Pabbicara bersama isteri serta anak-anaknya, membawa air secerek, seraya mencucikan kaki Datunna Sangiangseri, menghamburkan benur selalu, mengucap syukur terhadap jenis padip-adian. Datunna Meongpaloe, bata, jagung, dan jawawut Datunna Tiusenge. Tikar rotan sudah terhampar dan dialasi dengan tikar, dilapisi dengan cinde/beludru.

Sembah sujud berkata tuanku Pabbicara. Syukurlah, turunan bangsawan yang disembah, Datunna Sangiangseri. Silahkan naik di mahligai, di istana kediamanmu, semua jenis padi-padian, kemudian Datunna Sangiangseri naik, dicucikan kakinya sembah sujud berkata tuanku Pabbicara. Duduklah di

Sembah sujud sambil berkata tuanku Pabbicara. Duduklah tuanku Raja di kampung Barru, tinggal menetap dan tak usah pindah lagi, menenangkan hatimu. Memelihara kami dengan baik seluruh daerah di Barru. Sebab sudah sangat lama, kau tinggalkan kampungmu, pergi takkan kembali, kami Iapar dahaga orang-orang di Barru, jangan pergi tanpa arah, jalan tanpa batas, menelusuri pembukitan panjang, melalui rerumputan luas, melalui celah-celah kampung. Tinggallah menetap agar tumbuh dan berkembang tanaman padi-padian, kembali seperti sediakala di Barru.

Tunduk sembari menangis Datunna Sangiangseri. Berdatanganlah semua orang-orang di Barru, tak henti- hentinya datang sesajen. Sembah sujud lalu berkata seluruh daerah Barru, syukurlah keturunan Dewata, bangsawan Datu yang disembah, aku bersuka ria tiada tara, kegembiraanku tak terkira. Puwangku gerangan yang kuharapkan dan tidak mengecewakan, tinggallah menetap di sini dan tidak pindah lagi melalui kerongkonganku, mempersatukan orang miskin, jangan pindah Iagi, agar bersama sampai di alam baka di tempat yang kekal abadi.

Jawabnya Datunna Sangiangseri. Dengarkan gerangan tuanku Pabbicara, seluruh orang di Barru. Manakala engkau bersifat jujur, berhati Iemah Iembut dan menjauhi pertengkaran. Aku rela tinggal di Barru menetap tidak akan pindah Iagi melalui tenggorokanmu, mempersatukan orang miskin.

Sembah sujud seraya berkata tuanku Pabbicara. Syukurlah keturunan Opu Mangkau kami gembira jua, datang bersuka ria di kampung Barru. Hanya Puwangku gerangan yang kuharapkan tegur sapanya, yang kujadikan pedoman hidup, apakah kehendakmu, hamba patuhi, tuanku Datu, kamilah

Supaya bulirku gerangan

tidak gugur, dan rela mati bersamamu, agar menuju alam baka, tempat peristirahatan yang kekal abadi. Jawab Datunna Sangiangseri, sungguh baik tutur katamu. Dengarkanlah gerangan tuanku Pabbicara. Tutur kata nasihatku, terhadap orang banyak di Barru. Manakala hatimu lemah lembut bagaikan angin, menjauhi pertengkaran, terhadap keluargamu di dalam kampung. Mungkin aku tinggal di Barru lama, tidak akan pindah lagi melalui tenggorokanmu. Kau orang Barru, jangan berkata kasar pada saat dini hari, pada saat menjelang subuh. Sebab aku kaget mendengarnya, terkesima semangatku, lemah jiwaku, jika aku memantau keliling kampung, mencari tingkah laku yang terpuji, mendengarkan suaranya yang lemah lembut, penyabar lagi bijaksana serta kasih sayang terhadap sesamanya. Inilah yang selalu kucari, orang yang tetap pendiriannya terhadap perbuatan terpuji, jangan ribut memukul tempayanmu, jika menimba air, hati- hatilah dan tenangkan perasaanmu. Sebab tingkah laku yang demikian itu aku senangi. Jangan sekali engkau mengosongkan tempayanmu, begitu pula periukmu pada malam Jum'at, kumpulkan sendokmu dan sajimu. Aku kaget, terkesima hatiku, bilamana tidak didengarkan, pantangannya padi-padian, penjaganya Sangiangseri. Kebetulan sekali saat aku menaiki tangga, akan naik ke rumah. Bilamana aku pergi berkeliling memantau kampung, aku datang melihatmu, apakah engkau berada di rumahmu, segera aku turun kembali, sebab aku tidak suka tingkahmu, tidak senang atas sifatmu, selalu bertengkar saja di depan dapur. Mereka tidak tahu layaknya, bahwa keturunan Lapatoto, bangsawan opalanroe, kelahirannya di Luwu, Putrinya Batara Guru yang mengelilingi kampung, tersembur wangi baunya, yang menggiurkan rasa aromanya, mencari perilaku yang baik, membawa rasa keharuan, pergi membuang diri, mencari orang yang penuh belas kasih.

Menangis sambil berkata Datunna Sangiangseri, sebab sudah mempersiapkan diri naik di langit. Karena sangat kurasakan pedihnya hatiku, sewaktu aku tinggal di Maiwa, saat itu kucing dibenci, oleh keluarga Matowa Pallaorumae,

Sembah sujud berkata tuanku Pabbicara bersama orang banyak penduduk di Barru.

Serentak berkata, kalau memang puwang bermaksud terus naik ke langit, bawa jua kami, saya tidak tahan tinggal di dunia ini. Apa gunanya tinggal, sudah tidak ada lagi yang dapat mempersatukan orang miskin. Menangis seraya berkata Datunna Sangiangseri. Syukurlah jiwa sukmamu, semua yang menyayangiku. Tinggalah gerangan di kampung kelahiranmu, biarkanlah aku sendiri yang terus ke benua langit, kelak aku akan kembali, siapa saja yang menyayangiku di situlah aku tinggal menyenangkan hatiku.

Sembah sujud berkata tuanku Pabbicara, menangis sambil berkata. Kalau betul demikian Lapuwang akan naik ke benua langit, kembalilah Lapuwang di kampung di Barru menetap dan tidak pindah lagi, mempersatukan orang miskin di Barru. Tunduk seraya menangis Datunna Sangiangseri laksana bunir berguguran air mata sedihnya. Berbalik-sambil berkata. Tinggallah gerangan jua tuanku Pabbicara bersama orang banyak di kampung kelahiranmu, di istana kediamanmu. Biarlah aku naik di langit dengan mengharap kasih sayang kepada kedua orang tuaku bersembah.

Belum habis bicaranya Datunna Sangiangseri. Tuanku Pabbicara tidak hentinya menyembah mengharap kasih bersama orang banyak, memohon kiranya tinggallah tetap berkembang biak di Barru dan tidak akan pindah lagi melalui tenggorokanku. Berbalik berkata Datunna Sangiangseri, bilamana aku kembali barulah kita berkasih sayang di istana kelahiranmu.

Sudah siap berangkat putra Topalanroe, baik padi pulut maupun padi biasa semuanya mengiringi Datunna Sangiangseri, termasuk bata, jagung, jawawut (betteng). Datunna Meongpaloepun turut serta mengantarkan naik ke benua langit Datunna Sangiangseri. Belum habis sirih terkunyah, belum terkedip matanya sudah sampailah di atas ruang angkasa langit, maka terbukalah pintu langit, dan terus naik di dalamnya Datunna Sangiangseri.

Kebetulan sekali saat itu Imakkatawareng berana, Datunna Topalanroe di singgasana keemasannya, di kursi kesayangannya. Datang bersembah sujud seraya berkata di hadapan Puwangna, Puang Mang Kau, Raja yang melahirkanku, yang menurunkan dari langit berpayungkan langit, menurunkan di dunia dan menjelma Sangiangseri (padi). Semuanya menangis, baik padi pulut, maupun padi biasa dan semua jeriis padi-padian, Datunna Meongpaloe. Berbalik sambil berkata Topabare-bare, syukur putri I.Tune. Mengapakah engkau naik di benua langit, Putrinya Batar Guru, hendaklah tinggal di dunia, mempersatukan orang miskin. Tunduk sembari menangis Datunna Sangiangseri, mengangkat kedua belah tangan berkata. Beginilah Lapuwang menyebabkan aku naik di benua langit, menyampaikan ke hadapan Puwang, dan tiba untuk mengharapkan belas kasih, aku ingin dikembalikan ke dalam kandungan bunda yang telah melahirkanku, keturunan Mangkau, menjadi janin dalam kandungan. Sebab aku sangat pedih menjadi padi di dunia, aku tidak senang perilakunya, tidak suka segala sifat perangainya orang-orang miskin. Alru hanya tinggal di dunia, dan tidak kusenangi tingkah lakunya, tidak kusenangi sifat perangainya orang-orang di dunia. Alru hanya tinggal saja di dunia ini, sungguh aku tidak senangi, kecuali yang menyayangiku. Alru dimakan burung pipit, dijilat walangsangit, dibinasakan tikus, dihabisi ulat, tidak ada menjagaku, dan tidak mempunyai pantangan, larangan

Opu Batara Luwu jawabnya, syukur jiwa sukmamu, I Tune sudah datang, puteri Sangiangseri, engkau terus kemari, naik di benua langit, di kampung kelahiranmu kediaman Mangkaumu, kau diperlakukan demikian. Jika engkau tidak kembali lagi di dalam dunia untuk mempersatukan semua orang, keturunanmu di dalam dunia termasuk orang miskin di bawah petala bumi. Apakah betul tidak mau turun di dunia, merajuk untuk mempersatukan orang di dunia penuh kedamaian. Sebab disitulah bersemayam semangat jiwa ragaku saudara Mangkauna di benua atas. Walaupun engkau menanti belas kasih, tetapi engkau hanya sekali dilahirkan, sampai akhir jaman (dunia kiamat). Kecuali Puwangmu yang melahirkan Sangiangseri yang merestui harapanmu untuk memasukkan kambali dalam kandungannya. Tunduk seraya menangis Datunna Sangiangseri.

Belum habis bicaranya Topabare-bare-e, lalu memandang ke jalan menuju ke atas di benua langit. Ditiup tiga kali, tidak terasakan olehnya Datunna Sangiangseri bersama semua padi bergerak naik menghilang, menuju ke angka langit, diantar oleh halilintar diiringi oleh teman-temannya. Kemudian berkumpul di tempat yang didiami Puwangna, saudara Mangkauna Datunna Sangiangseri. Berbalik memandang Batara Luwu bersama permaisuri serta putrinya. Terasa tersayat perasaan dalam hati Mangkauna melihat putri kesayangannya, Datunna Sangiangsari datang berkumpul diantar oleh halilintar. Putri

Sembah sujud berkata Datunna Sangiangseri di hadapan Puwang Mangkauna. yang menurunkan dari langit, menjelajahi angkasa. Inilah gerangan Lapuwang, aku naik ke benua langit, dan tiba di ruang angkasa, berada di langit atas. Aku tidak mau lagi tinggal di dunia, di kampung orang miskin. Aku tidak senang tingkah lakunya, aku tidak suka perangainya. Aku hanya tinggal saja di dunia, dimakan burung pipit, dirusak oleh tikus, dicakar-cakar oleh ayam. Sebab hanya kucing yang kuharapkan menjaga, menjaga siang malam. Dia pulalah yang dibenci oleh orang di dunia ini, memukulnya tiada hentinya, disiksa siang malam. Inilah gerangan Lapuwang, aku naik ke benua langit, aku tiba di angkasa langit. Aku ingin sekali dimasukkan kedalam kandungan. Tunduk sambil menangis saudara Mangkauna, suami isteri dan anaknya, Opu Batarana Luwu, kemudian berkata. Mohan maaf putriku, harap engkau turun kembali di kampung orang miskin di dunia. Sebab begitulah nasibmu dari Toparampurampue. Engkau diturunkan di dunia, menjadi Sangiangseri, mempersatukan orang miskin, menetap tidak pindah-pindah, melalui tenggorokan bagi orang miskin dan seluruh di bawah kolong langit ini. Jika engkau tinggal di atas di benua langit, terkesima jiwamu, terkejut hatimu, tergoyang perasaanmu di benua langit, benua akhirat, sampai di alam baka, di akhir kehidupan. Apakah engkau tidak tahu, putri Sangiangseri, sudah tiada andalanmu yang menjadikan besar hatimu, sukma Mangkaumu, sudah berada di alam Bakaq, Batara yang melahirkanmu.

batik diantar halilintar.

Biarlah gerangan Lapuwang, kudekati lalu kutinggalkan orang miskin. Aku hanya sebentar tinggal di dunia, sebab sangat aku tidak senangi, keculi yang menyayangiku, inilah yang kuanggap baik, bilamana apuwang bersedia mengembalikan kedalam kandungan. Aku tidak mau kembali ke dunia, tidak bisa lagi menjadi orang miskin/hina, aku tidak senangi tingkah lakunya, tidak kusukai perangainya. Biarlah pupus semua orang miskin, untuk apa lagi aku kembali, dimakan burung pipit, dibinasakan oleh tikus, dijilat oleh walangsangit, dicotot siang malam, diperbuat semua pantangan padi-padian, tidak ingin menjaganya, sukma dalam hatiku. Hanya kucing yang kuharapkan, untuk menjaga, dan dialah yang tidak disenangi di istana kediamannya, Matowa Pallaorumae, yang mengayomi di Maiwa. Tingkah laku yang tidak senonoh, perempuan yang durhaka, Matowa di Maiwa dipukulinya kucing, disiksa siang malam Datunna Meongpaloe. Maka aku pergi Lapuwang, untuk membuang diriku berjalan mengadu nasib, menyambung nyawa, mencari perilaku yang baik, menelusuri pembukitan nan luas, agar dapat aku dipertemukan, yang sejiwa denganku sehingga aku tiba di Berru, menghilang/gaib naik ke langit. Aku ingin masuk kembali kedalam kandungan ibunda bestari menjadi janin dalam kandungan.

Tunduk seraya menangis Batara yang melahirkannya Datunna Sangiangseri lalu berkata. Syukurlah jiwa sukmamu. Putriku gerangan I Tune, anakku Sangiangseri. Apakah engkau dua kali melalui jalan yang sempit (dilahirkan), engkau tega dilahirkan dua kali masuk di dalam kandungan, sebab engkau mempertimbangkan lagi, sehingga datang di langit untuk dipelihara oleh Batara. Tinggalah di duni~ menetap

Sembah sujud berkata Datuna Saniangseri, berucap kata bercampur dengan air mata sedihnya. Bergegas tidak akan kembali di Luwu di Watampare. Lebih berharga sagu daripada sekujur tubuhku. Sebab mereka tidak tahu layaknya orang Luwu di Waro, bahwa keturunan Lapatoto, asalnya Topalanroe dart ruas bambu, yang lahir di bambu netung, yang membawa kesulitan besar. Dia merasa sangat sedih karena dibencinya kucing sewaktu berjalan tanpa batas mengelilingi kampung.

Aku tinggalkan Luwu, menjauhi Waro, aku terdampar di Maiwa, dan tetap pula dibenci Datunna Meongpaloe. Jawabnva seraya menangis. Saudara Mangkauna Datunna Meongpaloe, Datunna Sangiangseri, begitulah ulahnya orang-orang di Waro. Bersedialah puteriku kembali di Waro (Wantanpare) menelusuri nasibmu yang sudah ditakdirkan. Manusia mati jua anakku, tetangga bersama rakyatrnu di dunia, termasuk keluargamu di Luwu, di Waro keturunan Lapatoto, asal Topalanroe. Sebab itu jelaslah bagi I Tune, bahwa manakala engkau tidak sudi kernbali ke dunia di kampung orang rniskin; rnenghilanglah (pergilah) seluruh akar-akar (padi-padian) tanah, buah-huahan, serentak naik ke benua langit (gaib), bahkan segala rerumputan/sampah dunia, mereka pergi rnencarimu, rnenelusuri jejak kediamanrnu dan baru berhenti rnencarirnu

Put~, anakku Sangiangseri, agar sudi kiranya turun menjelma di dunia, mempersatukan orang miskin biarlah orang kelak berpindah kampung yang tidak menyenangimu, yang membenci kucing Datunna Meongpaloe asalkan I Tune rela kembali lagi di Watanpare menetap tidak pindah lagi, berakar, berumpun berkembang biak, mempersatukan orang miskin disana. Aku memberitahukan semua puteriku Sangiangseri pantangannya Sangiangseri, sebagai pengawal Sangiangseri, supaya tidak berguguran bulir-bulirnya dan tidak rebah batangnya, sebab diikat dengan ketulusan hati dan semangat pantang mundur oleh penduduk di dunia, menyadarkan semua orang yang berbuat baik lagi berhati bersih penyabar disertai bijaksana, tidak berlaku curang dalam hatinya. Tunduk seraya menangis Datunna Sangiangseri. Sembah sujud memohon ijin, kata I Tune. Duduklah gerangan Lapuwang bersama permaisuri serta puteranya, bahkan seluruh keluarga istana yang terlalu tegas terhadap puterinya. Terkesima sukmaku, baik pria maupun wanita, bahwa sukmaku sudah menuju ke akhirat. Kembali bersemi menuju ke dunia tempatnya orang miskin. Yang akan kutempati yang sejiwa denganku, penyabar lagi bijaksana, yang jujur lagi lagi pemurah, yang beliau berbuat dengan kebaikan di dalam dunia, tangkap merapmu padi-padian, memelihara Sangiangseri. Sudah tertutup, terpaksa aku harus kembali ke dunia. Biarlah aku mati bersama ibunda bersari menuju ke akhirat di tempat peristirahatan yang kekal abadi.

Tunduk sembari menangis Sangiangseri, mengenangkan nasibnya keturunan Mangkauna di atas benua langit. Jawabnya Saudara, Mangkauna Opu Batara Na Luwu. Syukurlah putriku, anakku Sanggiang seri, guntur bertalu-talu kilat sambar- menyambar disusul dengan halilintar yang gemuruh mengantar dia pergi (I Tune), berpegang pada guntur, bergegas semua berangkat semua jenis padi, mengiringi turun Datunna Sanggiangseri. Seakan-akan langit akan runtuh, gemetar petala bumi, seolah-olah tanah akan runtuh di dunia bawah.

Opu Batara Na Luwu, melihat pergi/turun-temurun Mangkauna. Dia menangis tersedu-sedu ibunda yang melahirkannya, melihat putrinya pergi menuju ke Barru, kembali lagi ke dunia, memegang teguh pada halilintar, menelusuri pelangi turun dan tiba pada tengah malam buta. Segera datang berkumpul di kampung Barru. Kebetulan sekali saat orang Barru berdatangan. Sudah datang Sangiangseri, bergegaslah pergi pabbicara, menimba air di cerek, seraya duduk menghadapi dupa, kemenyan, dan sirih pinang yang lengkap disertai wangi-wangian, menghamburkan banur selalu, sembari berkata. Syukurlah sukmamu Datunna Sangiangseri bersama semua jenis padi, baik padi pulut maupun padi biasa. Datunna Tuisenge, baik jagung, bata, betteng, Datunna Meongpaloe. Berangkat bersama mengaringi Datunna Sanggiang Seri, saudara Mangkouna menuju ke benua langit, dan dilihat putrinya, kesayangan hati Mangkauna menuju ke rumahnya Pabbicara di Barru. Maka dihamparkan kain cinde untuk dilalui naik di rumah kediamannya Pabbicara. Syukurlah putri dattu yang disembah.

Bangsawan dihormati, keturunan berdarah putih duduklah di atas pelaminan kebesaranmu, diistana kediamanmu. Dipersilahkanlah duduk Datunna Sangiangseri bersama semua jenis padi, penuh rumah separuh, dan diminyaki serta dikumpulkan, lalu diasapi urasakke (didupai), kemudian disuguhkan sirih pinang Datunna Sangiangseri bersama semua padi, Datunna Meonggpaloe. Sembah sujud selalu berkata Pabbicara. Syukurlah jiwa sukmamu, engkau datang kembali menetap tidak akan pindah lagi di kampung Barru. Jawabnya Datunna Sangiangseri. Semogalah berkesinambungan hati budi baikmu, jujur dan penuh kewaspadaan, penyabar lagi bijaksana terhadap sesamamu, begitulah didengar oleh tetamunya. Sudah dapat mengasihani, menerima orang terdampar di dalam kampungmu, kalau memang engkau pengasih, biarlah aku tinggal di Barru. Dengarkanlah tutur kataku, perhatikan nasehatku. Perbaikilah perilakumu, jagalah gerak-gerikmu, nasehatilah semua anak-cucumu, bahkan

Opu Batara Na Luwu, yang lahir di ruas bambu. Jangan bermulut kasar pada saat mentari sore, saat mulai petang, saat remang-remang subuh, jangan menyendok nasi jika hatimu tidak senang akan terhambur kelak, jangan sendok nasi di tengah periukmu. Jika engkau menyuapi nasi anakmu awasijatuhnya, bilajatuh segera dipungut. Jika berbicara waktu sedang makan, sebab aku terkejut terkesima sukmaku, tersayat hatiku bagaikan diiris sembilu perasaan dalam hatiku layaknya. Hancur lebur perasaanku, jika engkau tidak mematuhinya pantanganku, larangannya bagi Sangiang seri. Alru terpaksa kembali lagi, naik ke benua langit. Sembah sujud seraya berkata Pabbicara, janganlah berkata demikian. Syukurlah jiwa sukmamu. Hanya engka Lapuwang, ku haruskan tidak tergoyahkan, ku harapkan tanpa ragu yang kujadikan permata dalam hidupku di kampung Barru. Jawabnya Datunna Sangiangseri. Betullah engkau menyayangi terhadap diriku, wahai Pabbicara bersama orang banyak gembiramu tiada tara, sukaku tiada batas. Akan tetapi jika engkau tidak menuruti perilaku yang ku senangi, jangan bertengkar di dalam rumahmu, di saat petang, jangan besar suaramu pada malam Jum'at tengah malam/larut malam, saat remang-remang subuh. Nyalakan api di dapurmu, jangan pula kosongkan periukmu, tempat berasmu dan tempayan air minummu. Demikian yang harus dituruti orang-orang miskin di dunia ini. Sebab amanahnyajua Puwang Nenek Mangkauku. Siapkan sirih pinang duduk menghadapi pelita pada saat petang hari, menenangkan hatimu pada senja hari. Sebab hilang jua isinya Sangiangseri (hampa) dan disuruh pula orang agar tidak tidur pulas pada tengah malam, jangan ditukar-tukar sendokmu dan sajimu yang digunakan mengaduk periukmu. Jika engkau tidak taati pantangannya padi-padian, dihabisi dijilat walang sangit, dinjak-injak babi, dan dimakan oleh tikus, karena itu adalah pantangan. Perhatikan dan dengarkanlah, tutur kata amanah ini dari Puwang Nenek Mangkauku. Jangan juga engkau berbuat curang, jangan pula berat sebelah hatimu, jangan mengambil yang bukan milikmu, memakan sesuatu yang

Sembah sujud seraya berkata Pabbicara bersama istrinya dan anak-anaknya.

Bersama orang banyak, pria dan wanita, memohon ampun selalu dengan ucapan yang baik untuk menuruti sesuai pantangan Sangiangseri pengawal Sangiangseri. Wahai orang Barru serta orang banyak dengarlah kataku, amanahnya jua uwang Nenek Mangkauku, penjaganya padi-padian, penjaganya Sangiangseri. Engkau orang Barru serta orang banyak. Dengarlah kataku, amanahnya jua Puwang Nenek Mangkauku, penjaganya Sangiangseri. Jangan pula pisahkan air dengan belangamu, akan kering ujungnya benih yang engkau tanam, terkesima di dalam perasaan hatiku, tersayat jiwaku. Sebab aku diamanahkan oleh Puwang Nenek Mangkauku, pada saat engkau persiapkan benihmu, duduklah menghadapi pelita, jagalah gerangan, geraknya hatimu. Begitu pula tutur katamu, dan kekanglah emosimu serta batasi keinginanmu, bendunglah niat hatimu, cegah semuanya keinginan hatimu, terhadap perbuatan yang tidak senonoh dan segala yang dilarang terhadapnya. Tenangkan pikiranmu, menghadap dengan baik seraya memohon restu Dewata, engkau harus sabar lagi bijaksana terhadap yang melahirkanmu.

Engkaulah orang Barru, jangan berkata kasar, itu juga termasuk amanahnya jua saudaranya, Opu Batarana Luwu. Kalau engkau lakukan tiga kali bangun, tidak akan kembali benihmu, yang datang dari timur, terkesima sukmaku, tersayat jiwaku ata hampanya padimu. Dari itu hal Pabbicara turutilah nasehat ini, dan tetap berhati-hati, hindarilah segala pantangan/larangannya Sangiangseri, supaya mujur dan bersuka ria, benih yang engkau tanam, tumbuh berkembang dengan baiknya. Akan tetapi bilamana sudah tiba waktunya

Sebab menjadi pantangan Sangiangseri untuk mengambil dan tidak baik barang curian, dan tidak dapat dijadikan isi peti barang yang dirampas, Sangiangseri tidak akan menjadi/berhasil. Berbalik sembari berkata Datunna Sangiangseri kepada Pabbicara. Jangan besar tutur katamu saat tengah malam, saat remang-remang subuh, tiga kali aku semalam mengelilingi kampung, mencari perilaku yang baik, barulah aku kembali di rumah kediamanku. Kebetulan sekali, sewaktu menaiki tangga, aku dengar orang berkata besar/ribut, berlagak sombong sambil berkata. Aku akan turun kembali, pergi membuang diriku. Yang dapat kutempati orang penyabar lagi bijaksana terhadap sesamanya, sebab aku terkejut, tersayat perasaanku dan terkesima sukmaku. Apakah engkau tidak bijaksana, bertutur kata yang lemah lembut di dalam rumahmu, menasehati seluruhnya daerah di Barru. Sembah sujud seraya berkata Pabbicara. Syukurlah sukmamu puteri Opu yang disembah Datunna Sangiangseri, Datunna Tiusenge, baik bata, jagung.

Seluruh betteng yang banyak Uenis wijeng), Datunna Meongpaloe. Berucap katanya Pabbicara. Janganlah berucap demikian Opu Datu disembah, saya akan berusaha sebatas kemampuan untuk mematuhi segala pantangan, menghindari larangan, asalkan engkau bersedia tinggal menetap di Barru. Apa keinginanmu itulah yang jadi dan apa katamu itulah kuturuti, jawabnya Datunna Sangiangseri, baiklah katamu. Hanya langit di atasnya ucap katamu yang baik. Aku telah siap untuk naik di atas rangkian/loteng, lalu pergi tergesa-gesa Pabbicara meminyaki, segera dicampur dengan tangkiling/dupa semua padi pulut. Datunna Meongpaloe diantar oleh halilintar diiringi guntur. Belum hilang rasa capenya Datunna Sangiangseri, berbalik seraya berkata kepada teman-temannya.

Sebab pasti padi-padian tidak akan berhasil bila ada orang yang tidak baik perbuatannya. Demikianlah ceritanya Meongpaloe Karellae.

ISi NASKAH

Naskah kuno yang berjudul Meongpalo Karellae merupakan salah satu karya sastra berbentuk prosa, menceritakan tentang perjalanan hidup seekor kucing (jantan) yang bernama Meongpalo Karellae, dia dijadikan sebagai sahabat sekaligus pendamping· Sangiangseri.

Ada dua periode yang dialami Meongpalo : yakni sebelum dikutuk dewata, ketika itu Meongpalo Karellae tinggal di Tempe, bermukim di Wage, dan setelah dia dikutuk dewata.

Sebelum dikutuk dewata, kehidupan Meongpalo Karellae serba damai apapun yang dilakukan tidak pernah menyakitkan hati, apalagi yang dipertuannya yakni pemilik rumah sangat penyabar dan murah hati lagi bijaksana.

Dalam kehidupan demikian biasanya seluruh masyarakatnya akan hidup tentram, hubungan kemasyarakatan dibina dengan penuh solidaritas dan toleransi yang kental. Persaingan apalagi sampai terjadinya konflik diupayakan tidak terjadi, karena masing-masing selalu menjaga kerukunan. Kebutuhan hidup terpenuhi berkat kerja sama yang baik diantara sesamanya.

Suasana demikian sejalan dengan yang diperintahkan agama, khususnya berlandaskan ajaran Islam bahwa setiap manusia harus selalu menjaga keserasian hubungan dengan Tuhan-Nya dan juga dengan sesama mahluk ciptaan-Nya.

SAW. Oleh karena itu sedapat mungkin janganlah sampai menyakiti apalagi menyiksa secara fisik hingga tak berdaya.

Setelah dikutuk dewata Meongpalo Karellae mengalami berbagai pengalaman pahit, dimana hidupnya selalu dihinakan orang, bahkan tidak sampai di situ, tidakjarang orang mencerca dan menyakiti tubuhnya.

Padahal kesalahan Meongpalo Karellae hanya sekedar mengambil sisa-sisa atau sebagian makanan orang untuk memenuhi keinginan laparnya. Namun rupanya penilaian orang terhadap perilaku seekor kucing sudah begitu buruknya.

Kucing adalah binatang yang suka mengambil makanan alias pencuri sehingga di mana-mana begitu orang melihat kucing langsung diusirnya, tanpa berpikir dan memahami bahwa karena kucinglah mereka bisa "makan", sebab selama ini yang setia menjaga padi hanyalah kucing. Berarti tanpa kehadiran kucing, niscaya hidup mereka terancam dengan menipisnya hasil panen para petani akibat hama dan gangguan binatang pemakan padi.

Sekalipun dia mendapat perlakuan tidak senonoh dari setiap orang yang dijumpainya di tiap tempat yang didatangi, namun Meongpalo Karellae belum putus asa. Dia masih terus menelusuri perjalanan di bumi dengan harapan akan menjumpai orang-orang berbudi luhur dan bijak. Sampailah di

Soppeng, di sana dia disiksa akhirnya lari ke Enrekang dan tinggal di Maiwa di sanapun diperlakukan demikian. Kehidupannya sangat menyedihkan, kemanapun dia berpijak selalu salah, yang dipertuannya yaitu pemilik rumah sangat jahat.

Dalam kehidupan seperti itu biasanya seluruh masyarakatnya akan hidup tidak aman, selalu terjadi persaingan yang tidak sehat, saling iri satu dengan yang lain, karena tidak adanya kerjasama yang baik, akibatnya terjadi pertengkaran dan permusuhan.

Hal-hal seperti ini sangat bertentangan dengan yang diajarkan agama bahwa sesama manusia harus selalu saling mengasihi, saling menghormati atau menghargai, begitupun terhadap mahluk ciptaan Tuhan.

Di sana apa yang dilakukan tuannya yang sangat tidak bijaksana terhadap Meongpalo Karellae sangat menyakitkan hati Meongpalo Karellae. Kelakuan seperti ini sangat terkutuk, karena kucing diciptakan Tuhan ke dunia bukan untuk disiksa melainkan untuk dikasihani. Ajaran-Nya menyatakan bahwa setiap umatNya harus mengasihi makhluknya termasuk kucing, sama seperti mengasihi diri sendiri.

Teman baik Meongpalo Karellae adalah Sangiangseri yang sama-sama menderita dan dialah yang selalu membelanya. Begitu pula sebaliknya, antara Sangiangseri dan Meongpalo Karellae seperti ada ikatan perasaan yang kuat, karena kedua ciptaan Tuhan itu mengalami nasib sama yakni mengalami perlakuan tidak senonoh dari manusia di tempat-tempat yang dijelajahi mereka.

Kesamaan nasib itulah yang menggerakkan hati di antara keduanya untuk saling melindungi. Barangkali kalau penderitaan dirasakan dalam kesendirian, maka bukan hal yang tidak mungkin keputusasaanlah yang dialami. Tingkah laku yang demikian sangat terpuji. Jika masyarakat selalu bersikap dan berperilaku saling melindungi, selalu membela hal-hal yang

dart Tuhan, merasa hidup berkecukupan. Perlu tolong menolong, karena bila seseorang berada d3.Iam kondisi yang lemah tentu membutuhkan pertolongan, bila kurang mampu tentu perlu dibantu baik dalam soal materi maupun non materi. Di dalam hidup ini seseorang ada kalanya jatuh dan ada pula kalanya bangun. Orang yang senang menolong atau mengasihi sesamanya atau mahkluk ciptaanNya, hidupnya pasti selalu aman dan tentram.

Di Maiwa Sangiangseri merasa kecewa dan marah melihat perbuatan masyarakatnya yang tidak menghargai nasi. Perbuatan yang demikian menurut ajaran agama tidak dibolehkan. Masyarakat perlu menyadari bahwa nasi adalah penyambung hidup. Oleh karena itu masyarskat harus bersikap dan berperilaku yang tahu dan mau berterima kasih kepada Tuhan atas nikmat dan karunia yang telah dilimpahkanNya.

Cara menikmati dan berterima kasih terhadap ciptaanNya adalah tugas orang tua terutama ibu yang dalam sehari-hartnya lebih dekat kepada anak, untuk tidak menyia-nyiakan pemberianNya. Oleh karena itu perlu mengutamakan pendidikan terhadap anak, sosialisasi seorang anak, sebelum dia memasuki lingkungan masyarakat. Oleh karena itu perlu mengutamakan pendidikan terhadap anak. Baik dalam beribadah kepada Tuhan maupun dalam bergaul dengan sesama umatNya. Dengan tidak lupa selalu meminta petunjuk dari Tuhan agar setiap melakukan sesuatu, bisa terlaksana sesuai dengan kehendakNya.

Di sana juga Sangiangseri merasa kecewa karena melihat ibu yang tidak mendidik anaknya. Padahal dalam hidup keluarga dibutuhkan suasana damai demi terciptanya kerukunan. Orang tua perlu membina kerukuran dengan anaknya, begitu juga anak terhadap orang tuanya, agar selanjutnya dapat membina kerukunan dalam lingkungan masyarakat. Tanpa didikan yang baik dart orang tua terhadap

Oleh karena itu dasar berperilaku baik dan buruk seorang anak pada mulanya harus diperolehnya dari keluarga, terutama orang tua. Ibu adalah orang yang secara langsung dan mempunyai peranan besar dalam mengasuh dan mendidik anak-anak. Seorang ibu harus mampu menciptakan suasana nyaman dan harmonis kehidupan keluarga. Sehingga setiap individu di dalamnya dapat melaksanakan berbagai kegiatan secara tenang dilandasi kasih sayang dan pengertian mendalam.

Keteladanan seorang ibu akan cepat dicema dan diimitasi anak jika ibu memberikan kesempatan yang cukup untuk melakukan interaksi yang seimbang dalam keluarga.

Memaksakan kehendak terhadap anak bukanlah cara terbaik untuk mendidik dan membesarkan anak. Sekalipun ibu boleh saja pembuat peraturan dalam keluarga, akan tetapi tidak berarti "harga mati" dalam arti bahwa aturan tersebut tidak punya pertimbangan-pertimbangan tertentu. Akibatnya bukan hal yang tidak mungkin anak akan tumbuh sebagai robot yang selalu dikendalikan orang tua, tidak punya kesempatan berpikir dewasa dan mandiri.

Sebaliknya orang tua yang memanjakan anak secara berlebihan sebagai perwujudan kasih sayang mereka, bukanlah cara yang tepat. Secara tidak langsung sebenarnya telah meracuni anak dengan segala kemudahan dan serba siap pakai.

Seorang ibu yang memanjakan anaknya perlu ada batas. Biasanya dalam keadaan sehari-harinya kadang-kadang seorang ibu tanpa sadar selalu menuruti apa yang dikehendaki anaknya dengan alasan karena sayang anak, padahal perbuatan demikian biasanya malah berakibat buruk. Nantinya bukan lagi anak yang menghormati orang tuanya melainkan sudah

Seorang anak harus menyadari bahwa tanpa anugerah Tuhan lewat orang tuanya tentu tidak akan hadir dalam dunia ini.

Keberadaan Sangiangseri di Maiwa membuat hatinya sangat pedih karena perangai orang-orang yang selalu menyia- nyiakan rezeki {padi) padahal padi adalah salah satu sumber kehidupan.

Keadaan demikian masyarakat biasanya selalu resah, merasa rezekinya semakin jauh akibat perbuatan/tindakannya.

Masyarakat yang bijaksana menyayangi dan merawat apa saja yang berasal dari padaNya, suatu-waktu apabila dalam kesusahan dan membutuhkan suatu pertolongan maka datangnya juga akan gampang dan lancar. Seseorang di dalam pergaulan sehari-harinya selalu baik terhadap sesamanya maka nantinya akan mendapat hal yang sama bahkan biasanya jauh lebih baik dari apa yang telah diberikan. Perbuatan demikian sangat diajurkan di dalam agama.

Sangiangseri berjalan menelusuri berbagai tempat hanya untuk mencari kedamaian dan perangai orang yang baik. Masyarakat yang hidupnya selalu damai tentu tetap merasa tenang karena merasakan Tuhan selalu berada bersamanya, dan yakin bahwa rezeki selalu ada tidak akan habis, asalkan setiap orang selalu bersyukur dan memamfaatkannya dengan benar.

Masyarakat yang mempunyai perangai yang baik kehidupannya juga akan selalu aman. Kemana dia pergi, akan diterima, disambut dengan baik diterima dengan senang hati oleh banyak orang.

Di Langkemme teman-teman Sangiangseri juga mengalami nasib yang sama. Karena tidak mendapatkan perangai yang baik, maka tetap berjalan mencari perangai orang yang baik. Kehidupan masyarakat yang tidak mempunyai perangai yang

Oleh karena itu sifat seperti ini sangat disenangi aleh Tuhan.

Tuhan tidak pernah tidur, oleh karena itu setiap perbuatan makhluk ciptaanNya tidak luput dari perhatianNya. Dengan akalnya, manusia dapat meramu dan mengolah segala yang disuarakan hatinya, kemudian diwujudkan dalam bentuk perilaku. Perilaku inilah yang seringkali bertentangan dengan suara hati. Tapi dengan segala kebesaran dan kelebihanNya, Tuhan tidak akan bisa dibohongi.

Perilaku yang dikehendaki Tuhan, itu pula yang selama perjalanan dicari oleh Sangiangseri, namun belum juga dijumpai, padahal sudah beberapa kota dilampaui.

Di Lengkemme teman Sangiangseri Datunna Tiusenge tidak tahan akan penderitaan, akhirnya menelusuri kembali perjalanannya. Kehidupan masyarakat yang selalu saling menyiksa tidak menghargai satu dengan yang lain, tentu Tuhan tidak senang dan hidupnya tentu tidak akan pernah tenang.

Kehidupan masyarakat Langkemme yang selalu aman akibat dari tingkahlaku mereka sendiri, makanan yang ada tidak disimpan dengan baik di tempat yang aman. Sifat yang derriikian tidak terpuji, karena tidak menghargai pemberian dari Tuhan, biasanya dengan tidak mensyukuri pemberianNya nantinya akan sulit untuk mendapatkannya lagi.

Sifat ini ada dalam diri seseorang, dan untuk melawannyapun harus dirinya sendiri.

Dalam setiap masyarakat memiliki masalah hakekat hidup yang berkaitan dengan orientasi nilai budayanya. Seperti hakekat hubungan manusia dengan karya yang menentukan tiga orientasi nilai budaya yaitu :

1) Karya manusia semata-mata untuk memungkinkan hid up
2) Karya manusia untuk kedudukan dan kehormatan
3) Karya manusia untuk meningkatkan atau menghasilkan lebih banyak karya lagi. Dengan demikian untuk hidup manusia harus bekerja menghasilkan sesuatu untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang tidak pemah puas dengan apa yang diraihnya. Dalam arti positif tentunya dia akan terus berupaya untuk memperoleh lebih dari apa yang sudah diperolehnya.

yang mempunyai sifat malas identik dengan orientasi nilai budaya yang pertama, dia kurang memperjuangkan hidup, kurang bersemangat, bahkan mungkin lebih suka menerima uluran tangan orang yang mengasihani daripada dia berusaha sendiri.

Kesetiaan Datunna Tiusenge dengan ternan-ternannya bersarna-sarna berada di dunia sarnpai di alarn baka. Masyarakat yang selalu setia pada perjanjian yang telah dibuat tentu antar sesamanya sudah saling percaya. Prilaku seseorang yang rnernpertahankan perjanjian yang telah dibuat dengan orang lain. Kehidupan dernikian akan selalu rnendapat anugerah dari Tuhan karena tindakan/sikap sesuai dengan kehendakNya.

Di kampung Wettung Datunna Sanghiangseri mendapatkan perangai orang "jorok" dan Meongpalolah yang dapat rnernbela dan rnelindunginya. Jorok dalam arti berpakaian tidak pantas dan lingkungannya tidak hygienis.

Seseorang yang suka menolong orang lain yang telah dicontohkan oleh Meongpalo terhadap Sanghiangseri akan selalu mendapat anugerah dari Tuhan. Menurut ajaran agama bahwa seseorang perlu melakukan suatu tindakan dengan iklas hati dengan kehendak sendiri, dimana kepentingan orang lain lebih didahulukan dari pada kepentingan diri sendiri.

Di kampung Wettung padi menangis rnenjerit karena dibiarkan berhamburan, tidak dirawat, tidak diperhatikan. Kehidupan rnasyarakat seperti ini tidak menghargai rezeki pemberian Tuhan. Tidak rnenghargai kepentingan orang lain, hanya rnemperhatikan diri sendiri, selalu merugikan orang lain, sernua ini sangat bertentangan dengan ajaran agarna. Dalam ajaranNya dikatakan bahwa seseorang perlu rnernpunyai prilaku yang berani rnenanggung segala akibat dari perbuatan atau tindakan yang telah dilakukannya, mernpunyai rasa belas kasihan akan orang perlu rnembantu makhluk yang tidak berdaya.

Padahal menurut ajaran agama, umatNya perlu saling menghormati, mengasihi, suami perlu mengasihi istrinya, begitupun istri harus menghormati suaminya. Bila hal ini terjadi maka perlu meminta ampun dosa pada Tuhan karena Tuhan mendengar umatNya yang selalu meminta ampun dosa.

Tidak semua orang bertabiat jahat. Di dunia ini ada dua kutub yang berlawanan arah, ada siang dan malam, atas dan bawah, baik-buruk dan sebagainya. Begitu pula perangai manusia, yang baik dan buruk/jahat. Memang manusia tidak mungkin memiliki keseluruhan sifat baik secara sempurna, namun paling tidak mereka lebih baik dibandingkan dengan orang-orang baik lainnya.

Dalam perjalanan menelusuri satu tempat ke tempat lain, Sanghyangseri sampai di Barru. Di Tempat itulah ditemukan peringai orang-orang yang selama ini didamba-dambakannya. Negeri tersebut diperintah oleh Pabbicara yang berhati mulia.

Suatu negeri yang diperintah oleh seorang bijak, niscaya akan makmur, rakyat hidup penuh tenteram dan damai.

Oleh karena itu kebenaranlah yang pada hakekatnya dapat menciptakan suasana aman, tenteram, sejahtera dan bahagia. Tidaklah mudah untuk menyatakan kebenaran, karena sifat manusia yang kadang tidak mau mengakui kebenaran, apalagi kebenaran orang lain. Di samping itu karena pengaruh pihak ketiga yang berupaya mengalihkan perhatian terhadap hal-hal yang dinilai sebagai "kebenaran semu", maka akhirnya kebenaran dapat dipandang dari berbagai kacamata, dan kadang tergantung kepentingannya.

Sama pula halnya dengan kejujuran sebagai salah satu sifat manusia yang tidak mudah mengaktualisasikannya. Jujur berarti segala tindakan dan u~apan sesuai dengan suara hatinya. Yang membuat orang menjadi tidak jujur karena suara hati yang sampai ke otak, diramu kembali, dan melahirkan ucapan atau tindakan yang bertolak belakang dengan suara hatinya.

Sifat jujur atau kejujuran akan membuahkan kehidupan bahagia di dunia dan akhirat. Walau kadang untuk menyampaikan kebenaran secara jujur harus dibayar dengan kepedihan hati. Tapi haruslah percaya bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakan setiap umatnya yang jujur dalam kebenaran.

Sifat terpuji yang dimiliki Pabbicara, termasuk kepemimpinannya yang bijak dan sabar, telah menggugah hati setiap orang untuk selalu mematuhi setiap perintahnya. Bahkan tidak hanya dipandang sebagai pemimpin, tetapi juga dianggap sebagai orang tua tempat mencurahkan isi hati dan meminta saran dan pendapat bagi orang-orang yang bennasalah.

Orang tersebut juga tidak akan melupakan orang-orang disekelilingnya baik disaat suka maupun duka. Dia akan pandai mengatur rezeki tersebut sesuai dengan kebutuhannya, tidak boros. Sebagai misal walaupun beras melimpah namun tidak akan membuang sebutirpun seperti jagung dan kacang-kacangan. Kesadaran ini juga akan menimbulkan sifat rendah diri (tidak congkak/sombong), menghargai orang lain yang lebih bodoh/miskin. Karena dia sadar orang hidup di dunia ini saling mengisi kekurangan, sehingga akan tercipta kehidupan yang harmonis, rukun dan damai. Jadi pada dasarnya jika seseorang hidup tetap senang harus ingat kepada yang memberikan kesenangan terse but dan jangan pula lupa kepada orang lain yang masih susah, kalau perlu sisihkan sebagian hartanya untuk disedekahkan kepada yang membutuhkan.

Sangiangseri sangat terharu melihat kehidupan orang di kampung Barru, dimana mereka dengan rasa syukur dan tak henti-hentinya memberikan sesaji yang merupakan ucapan

Sang Pencipta atas rezeki yang telah diberikan kepada masyarakat di kampung tersebut.

Pada dasarnya dalam kehidupan sehari-hari kita harus jujur, lemah lembut, tidak mudah emosi, niscaya semua orang akan senang bergaul dengan kita, oleh sebab itu sebaiknya kita dalam pergaulan bersikap dasar baik seperti itu. Hubungan yang baik antara keluarga, hubungan antar tetangga, maupun hubungan dagang serta hubungan-hubungan lain, jika kita dapat menerima dengan sabar dan tawakal serta mengikuti aturan- aturan serta kaidah-kaidah yang ada maka kita akan hidup dengan baik dan teratur juga tenteram dan damai.

Sifat tersebut juga dapat terjalin dan menjaga yang baik dengan lingkungan kita sehingga menjalin persatuan dan kesatuan serta orang skan merasa puas dengan apa yang dilakukannya. Orang akan hidup tenteram karena tidak saling curiga-mencurigai dan saling keterbukaan.

Selain itu sifat-sifat terse but juga dapat menimbulkan sifat kasih sayang sesemanya. Berbagai rasa dan berbagai rejeki merupakan salah satu cara membina hubungan yang serasi dengan sesamanya.

Jika mengerjakan suatu pekerjaan dengan hati yang bersih, ikhlas dan rela, serta dapat menerima hasilnya dengan hati yang tulus ikhlas pula merupakan suatu ucapan syukur kepada yang Maha Kuasa. Seharusnya selama niengerjakan pekerjaan baik di ladang, di rumah, dimanapun di tempat kerja apapun bentuknya yang bertujuan untuk menghidupi keluarga, kita tidak boleh berputus asa, mengeluh baik sebelum bekerja maupun sesudah bekerja, karena merasa lelah selama bekerja. Jadi pada dasarnya semua pekerjaan atau amalan yang baik harus dikerjakan dengan niat yang ikhlas dan sungguh-sungguh dan penuh kesabaran serta kesungguhan hati.

Kita harus tetap pada tujuan utama walaupun ditengah jalan kita mendapat godaan atau rintangan. Janganlah kita menyombongkan diri apa yang baru kita kerjakan jika belum

Yang Maha Kuasa, karena semua itu harus dihadapi bersama saling mengingatkan dari perbuatan yang carcela dan mendorong ke perbuatan yang baik. Sifat saling mengingatkan tersebut tidak saja dari para ketua desa,

Sembah sujud Pabbicara kepada Sanghiangseri ketika dia akan meningalkan bumi menuju benua langit karena sudah tidak tahan tinggal di bumi melihat ketidak adilan, kesewenang- wenangan orang kepada orang lain. Disamping itu dia djuga berharap akan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya di dunia langit. Kepergian Sangiangseri ditangisi oleh orang-orang di bumi, karena keakraban yang telah didapatkan di bumi, laksana seorang putri yang akan berpisah dengan orang tuanya, perpisahan dengan teman akrabnya yang seolah mereka sudah menyatu. Perpisahan ini terasa sangat menyakitkan dan membawa kesedihan.

Kepergian Datuna Sangiangseri benar-benar membawa kepedihan di hati orang-orang di sekitarnya, mereka sangat berharap kelak jika dia kembali ke bumi akan bisa tinggal menetap dan hidup bersama tidak lagi meninggalkan mereka, namun begitu mereka juga berpikir jika ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

Diiringi dengan kepedihan dan tangisan yang dayu mendayu. Sangiangseri tetap pergi menuju benua langit diiringi suara angin topan, serta halilintar yang sambar menyambar juga dibarengi dengan suara guntur yang bertalu-talu. Seluruh orang-orang di sekitarnya mengantarkan kepergiannya dengan segenap hatinya diantara mereka yang mengantar adalah bata, jagung, jewawut (betteng), dan tidak ketinggalan Pula Datunna Meongpaloepun ikut mengantarkan kepergian Sangiangseri. Belum habis sirih dikunyah bak mata sebelahpun belum berkedip sudah, tidak kelihat tubuh Sangiangseri. Seperti hal tersebut baru saja terjadi.

Kebetulan sekali ketika Sangiangseri tiba di benua langit kedua ayah bundanya sedang berada di singgasana, namun kedua orang tuanya terkejut dengan datangnya putrinya yang ketika diturunkan ke bumi menjelma menjadi Sangiangseri

(padi-padian) kembali ke dunia langit. Kedua orang tuanya bertanya kenapa ananda kembali ke benua langit, adakah yang tidak ananda sukai di sana? Sangiangseri dengan berterus terang berkata dia merasa sangat kecewa atas perbuatan- perbuatan di muka bumi, padahal Sangiangseri datang ke bumi dengan maksud baik untuk persaturan dan kesatuan umat manusia. Begitu juga kekecewaan Meongpaloe yang telah menyelamatkan manusia dari kelaparan dan kemiskinan. Begitulah Lapuwang (kedua orang tua Sangiangseri) ia menyampaikan kepedihan hatinya, saya sangat mengharapkan belas kasih, aku ingin dikembalika ke dalam kandungan bunda yang telah melahirkanku, sebab aku sangat pedih menjadi padi di dunia, aku tidak senang perilaku manusia terhadap sesamanya, tidak suka perangai mereka. Hal ini melambangkan bahwa manusia di dunia ini banyak yang bersifat jahat, tidak suka menolong orang lain, egois, saling menjatuhkan dll.

Di samping itu banyak manusia yang rakus, tidak mau membagi kebahagian dengan orang yang tidak punya/miskin. Seperti padi yang dimakan burung pipit, dijilat walangsangit, dibinasakan tikus, dihabisi ulat, tidak ada yang menjaga dan tidak mempunyai pantangan, larangan terhadap padi, tidak ingin bersatu.

Perlakuan terhadap padi tersebut diibaratkan seseorang yang setelah mendapatkan rejeki yang begitu banyak tetapi tidak; mensyukuri dan tidak mau bersedekah, dengan kata lain setelah mendapatkan padi yang hasilnya baik mereka hanya memakannya saja tanpa memikirkan ketika dia baru mulai menanam, sehingga setelah panen berhasil dengan bagus mereka pun lupa mengeluarkan sedikit saja sedekah atas rejeki yang baru diterimanya.

Di lain pihak ada juga segelintir orang yang merasa bersyukur atas rejeki yang telah diterimanya, para petani yang bersyukur tersebut selalu meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar setiap tahun setiap panen selalu berhasil pada tiap tahunnya.

Oleh karena itu ia kembali ke langit untuk tidak kembali lagi ke bumi. Datangnyapun diiringi dengan kekecewaan yang mendalam. Hal ini membuat Mangkauna (orang tuanya) heran dan bertanya-tanya, mengapa dia tidak kembali ke dunia untuk menghidupi orang-orang miskin yang merupakan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan kepadanya, apapun resikonya.

Pada kehidupan sehari-hari kejadian tersebut ditujukan kepada abdi negara, bahwa segala tugas dan tanggung jawab yang dibebankan ke pundaknya harus diselesaikan dengan baik, jangan mudah putus asa. Jangan mempunyai sifat untuk diladeni tetapi harus meladeni. Apapun tanggapan masyarakat terhadap hasil kerjanya harus diterima dengan lapang dada, karena jika segelintir golongan masyarakat tidak menghargai pekerjaannya, kemudian mengundurkan diri atau tidak mau melayani kelompok lainnya, hal ini tentu salah besar. Karena tugas utama abdi masyarakat adalah mengayomi, jika mereka salah harus diperbaiki, dituntun/dibimbing ke arah jalan yang benar atau diperingatkan kembali ke jalan yang seharusnya.

Kekecewaan Sangiangseri dengan perilaku orang-orang di muka bumi yang tidak pemah hidup rukun dengan sesamanya dan juga tidak pemah berterima kasih terhadap segala sesuatu yang telah memberi mereka kehidupan, membuat Sangiangseri seakan berputus asa. Dia merasa sia-sia pengorbanannya untuk mempersatukan orang kaya dan miskin, bahkan ada kecenderungan jurang pemisah antara keduanya makin melebar. Terkecuali orang-orang yang hidup di negeri Barru

"menghabisi" tanaman padi, merupakan musuh Sangiangseri, karna telah membuat setiap orang mengalami kegagalan panen.

Sangiangseri yang senasib dengan Meongpalo Karellae, menyebabkan kedua makhluk Tuhan tersebut seolah tidak ingin dipisahkan. Sebaliknya tanpa kehadiran meongpalo yang selalu melindunginya, terasa hidup Sangiangseri sangat merana. Kesetiaan meongpalo memang tiada bandingannya.

Sudah hukum alam bahwasanya diantara keduanya ada saling ketergantungan dan membutuhkan. Butir-butir padi memerlukan pemeliharaan dan perlindungan yang baik agar terhindar dari hama penyakit dan dimakan binatang pemakan padi. Sebaliknya bila padi tumbuh subur, kucingpun ikut kenyang.

Seperti juga kehidupan di dunia, dimana orang sudah semakin pintar, akan tetapi tidak diimbangi dengan perkembangan iman dan takwa. Ada kecenderungan nilai dan moral sudah menipis. Tidak lagi memindahkan kaidah-kaidah agama, yang mengharuskan dan mengharamkan atau melarang melakukan suatu perbuatan.

Pelanggaran terhadap berbagai norma sosial, norma agama, norma etika dan sebagainya dianggap sebagai suatu gejala kemajuan jaman yang tanpa disadari akibatnya akan menyengsarakan hidup di akhirat kelak.

hari tidak henti-hentinya Sangiangseri menangis, akibat perilaku orang-orang di dunia yang semakin tidak punya belas kasihan. Tidak hanya memperlakukan Sangiangseri yang kurang baik, akan tetapi kehidupan diantara mereka yang tidak pernah mau rukun, tidak memindahkan aturan pergaulan. Karena itulah Sangiangseri memohon ayahanda Dewata agar bersedia mengembalikan dirinya ke kandungan ibundanya dan kembali ke langit.

Kesabaran orang ada batasnya, terlalu dihina dan didera terus-menerus pasti suatu ketika akan terlontar umpatan dari mulutnya sebagai "menyumpahi". Namun di pihak lain Sangiangseri teringat akan tugas yang dibebankan kepadanya untuk mempersatukan orang-orang dunia. Oleh karena itu kedua orang tua Sangiangseri meminta agar Sangiangseri kembali ke bumi dengan segala bujuk rayu kedua orang tuanya tersebut. Karena sudah dasar hatinya bersih dan penuh tanggung, diapun dengan berat hati akhirnya kembali ke bumi.

Sangiangseri mencoba menyelusuri kembali beberapa negeri, kali ini dia sampai di Luwu, dan disanalah mulai ditebarkan benih-benih padi dengan harapan kelak dapat dipetik hasilnya oleh masyarakat. Pada waktu itu pula pada masyarakat Luwu mulai diperkanalkan padi sebagai tanaman pertanian yang berangsur-angsur dapat menggantikan sagu sebagai makanan pokok masyarakat disana.

Akan tetapi di daerah kelahirannya itu, Sangiangseri sangat menyayangkan perbuatan orang yang membenci kucing. Oleh karenanya Sangiangseri lantas pergi menjauhi orang Luwu di Waro dan terdampar di Maiwa. Di sanapun perangai orang-orang tidak jauh berbeda dengan ulahnya orang di Waro (Luwu). Namun tekad Sangiangseri sudah bulat untuk mengikuti nasihat dan petunjuk kedua orang tuanya, menyelamatkan orang di dunia dari kemiskinan, dan berusaha meningkatkan taraf hidup masyarakat yang dianggap masih belum mencukupi.

Setelah menyadari betapa berartinya kehadiran Sangiangseri, oleh karenanya sedetikpun mereka tidak ingin ditinggalkannya. Kemanapun Sangiangseri pergi selalu dicarinya. Tidak hanya dicari oleh manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya separti tanaman. Merekapun sadar jika ditinggalkan Sangiangseri, maka hidup mereka kembali miskin.

Sebagai suatu pelajaran bagi setiap manusia, bahwasanya jika ada orang yang tidak menyenangi kita, janganlah dibalas dengan ketidaksenangan lagi, tetaplah bersikap baik kepadanya, suatu ketika orang tersebut akan malu sendiri. Yang pen ting hati kita tetap bersih, tidak mempunyai niat jahat. -Hal itu sudah dicontohkan oleh Sangiangseri, yang sekalipun ditindas, disakiti dan sebagainya, tapi niat baiknya untuk mensejahterakan manusia · tidak pernah sirna. Sekalipun badannya sudah hampir rebah, tapi karena semangatnya yang tinggi dan hatinya yang tulus, menyebabkan dia tetap berumur panjang hingga bisa menyaksikan masyl;lrakat hidup sejahtera.

Sangiangseri berusaha menyadarkan manusia agar selalu berhati baik dan bersih, tidak -berbuat curang,. menyayangi sesamanya, termasuk makhluk lain yang sama-sama ciptaan Tuhan. Bila ada saling menyayangi, maka tidak akan ada iri dan dengki serta sombong (angkuh).

Khusus sifat sombong ini selayaknya meniru ilmu padi, yakni makin banyak isinya, maka akan semakin merunduk tangkainya. Pernyataan tersebut memperingatkan kepada orang-orang di muka bumi, agar dengan semakin pandai dan

Sebab segala sesuatu jika Tuhan tidak memperkenankan, maka tidak mungkin seseorang memperolehnya. Oleh karena itu yang lebih kuasa dari segala-galanya adalah Tuhan, jadi tidak ada yang perlu disombongkan oleh manusia.

Seperti contoh ilmu padi tersebut di atas, semakin banyak buahnya semakin banyak pula memberi kesejahteraan bagi masyarakat. tapi tetap dia tidak menunjukkan sikap angkuh. Oleh karenanya bagi orang yang tahu terimakasih, kehadiran Sangiangseri selalu disambut baik dengan berbagai suguhan, do'a dan upacara.

Tidak ringan tugas yang dibebankan kepada Sangiangseri, sebab banyak sekali negeri yang rakyatnya perlu diselamatkan dari kemiskinan maupun dari kemunkaran. Orang yang terlalu lama hidup dalam kemiskinan maka akibatnya ada dua kemungkinan. Orang tersebut bisa menjadi lebih khusyu, tawakal dan bersabar, menganggap bahwa segala yang dialaminya adalah cobaan Tuhan dan percaya bahwa Tuhan sangat menyayangi umatnya. Kemungkinan lain adalah dia jadi munkar, karena tidak tahan dengan penderitaan yang berkepanjangang menganggap bahwa yang dialami adalah suatu ketidakadilan. Yang terakhir ini mencerminkan orang yang tidak bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setelah puas dengan hasil yang diperoleh di suatu daerah (Maiwa), Sangiangseripun berpindah ke tempat lain yang membutuhkannya. Setiap kepergian Sangiangseri selalu dilepas dengan hati berat dan kesedihan yang mendalam. Begitulah, setiap kepergian orang yang berhati baik pasti akan dilepas dengan berat hati dan yang ditinggalkannyapun akan merasa kehilangan. Siapapun tidak. suka ditinggal, apalagi seorang ibu yang mempunyai perasaan halus, tentu sangat sedih berpisah dengan anak perempuannya, demi melaksanakan tugas mulia dari dewata.

Oleh karena itu diupayakan tidak mebuang-buang nasi, dan menyimpan padi pada tempatnya.

Berbagai upacara dilakukan sehubungan dengan penghonnatan kepada Sangiangseri, dengan tujuan meminta kepada Yang Kuasa agar memberikan kesuburan pada tanaman dan panenan berhasil dengan memuaskan. Di samping itu upacara sesudah panen dilakukan sebagai ungkapan terimakasih kepada Yang Maha Kuasa atas rejeki yang diberikan kepada masyarakat. Begitu pula memperlakukan padi haruslah dengan sebaik-baiknya. Di tempat dimana padi disimpan biasanya diletakkan berbagai suguhan atau sesaji yang ditujukan kepada dewi padi agar menjaganya dari segala sesuatu yang dapat menyengsarakan atau menterlantarkan manusia.

Meongpalo Karellae dengan setianya turut bertanggung jawab menjaga Sangiangseri, agar jangan sampai berserakan atau menjadi tidak berarti.

Sikap seperti itu seringkali dijumpai pada manusia yang hidup di dunia ini, dimana mereka ingin hidup selalu enak tanpa bersedia berkorban. Malahan dengan teganya orang lainlah yang dikorbankan demi pencapaian tujuannya.

Dengan perlakuan warga masyarakat Barru terhadap Datunna Sangiangseri yang begitu baik dan sangat menghargainya, maka ditetapkan hatinya untuk menetap di sana. Perlakuan baik itu tidak hanya terhadap Sangiangseri yang menjelma jadi padi, akan tetapi juga tanaman sejenisnya yang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok setiap orang.

Agar yang dihasilkan selalu mencukupi seluruh masyarakat di Barru, maka diharuskan mematuhi pantangan dan keharusan. Dengan mematuhi peraturan tersebut niscaya masyarakat akan hidup tentram dan sejahtera, apalagi yang memimpin negerinya seorang yang jujur dan bijaksana. Sangiangserilah yang menjadi mediator untuk menyampaikan amanah dari Puang Nenek Mangkaulina I Tune kepada masyarakat yang berisi nasehat yang narus dipatuhi.

Pada petang hari janganlah ribut-ribut, lebih-lebih bertengkar, demikian pula pada remang-remang subuh, tengah malam terutama malam Jum'at. Nyalakan pelita pada pertemuan petang hidupkan api di dapur pada waktu malam. Di waktu malam usahakan kita agar periuk tetap berisi, begitu pula tempayan atau tempat air jangan dibiarkan kosong. Tempat beras jangan sekali-kali sampai kosong. Jika menyendok nasi jangan sampai dihambur-hamburkan, jangan

Sebagai contoh larangan bicara selagi makan. Sebetulnya itu nasihat yang ditujukan semenjak anak usia dini, agar tidak "keselek" yang akhimya akan terbatuk-batuk, makan harus betul-betul dinikmati agar dapat menyadari siapa yang memberi rejeki.

Bila engkau akan menaburkan benih, duduklah tepekur menghadapi pelita, seraya menantikan petunjuk melalui gerak hatimu. Untuk itu batasilah pembicaraan, perbuatanmu, nafsumu, kehendakmu. Batasi pula matamu untuk melihat sesuatu yang sifatnya negatif.

Bila padimu sudah masak, tuailah seikat demi seikat kemudian satukan dalam ikatan besar. Bilamana akan disimpan usahakan supaya simpan dalam lumbung padi, di loteng atau di gedung. Usahakan jangan ditempatkan pada sebuah tempat bersama buah-buahan yang jika digoyang akan berjatuhan.

Jika sejumlah amanah tersebut ditaati, maka Sangiangseri akan mendatangkan hasil yang melimpah ruah. Sebaliknyajika amanah itu dilanggar yang merupakan pantangan bagi Sangiangseri, maka tidak akan mendatangkan hasil sesuai yang diharapkan oleh orang banyak.

Oleh karena itu para orang tua selalu menasehati anak cucunya sesuai dengan amanah yang telah disampaikan Sangiangseri. Dengan kata lain pantangan/larangan dan yang dianjurkan itu berlaku turun-temurun. Sebab perjalanan hidup

"jangan mengosongkan air di tempayan, jangan mengasongkan periuk dan jangan mengosongkan tempat beras". Pemyataan atau nasehat tersebut memberi arti bahwasanya jika kita memperoleh rejeki tidak akan habis seketika atau habis tak bersisa, paling tidak ada yang tertinggal. Orang yang tidak bisa menyisihkan sebagian rejeki, menunjukkan bahwa orang tersebut sangat boros, dan tidak memikirkan hari esok, jangankan untuk bersedekah kepada orang lain, untuk kebutuhan sendiripun sering kurang.

Arnanah tersebut rupanya sudah dilaksanakan oleh para orang tua terdahulu dan tampaknya sudah dibiasakan, selanjutnya diwartskan melalui generasi ke generasi.

Becara rasional, amanah tersebut bisa dimengerti, mengingat keperluan orang kadang-kadang ada yang mendadak, jika tidak ada persediaan maka akan kesulitan, juga akan dipermalukan.

Ketika tanaman padi mulai tumbuh hingga berbuah, usahakan untuk merawat dan memeliharanya jangan sampai diganggu hama. Oleh karena itu kegiatan penyiangan itu perlu dilakukan,disamping menghindari tumbuh dan berkembangnya tanaman pengganggu.

Di dalam merawat tanaman padi itu sebaiknya dilakukan secara gotong-royong dengan memanfaatkan tenaga yang ada. Pada masyarakat pedesaan biasanya ada kegiatan saling membantu secara timbal balik dalam mengerjakan lahan pertanian dimulai dart pengolahan hingga pasca panen.

Dengan kegiatan saling bantu terse but, pekerjaan otomatis akan lebih cepat selesai. Di samping itu yang paling penting adalah memupuk rasa kebersamaan diantara mereka, sehingga akan terhindar dart saling bertengkar apalagi bermusuhan.

Sang Pencipta, yang menyebabkan sesuatu dari tiada menjadi ada. Kita yang hidup di dunia diberi tugas dan kewajiban untuk memelihara dan merilanfaatkan titipannya. Apa yang kita peroleh, jangan dilupakan bahwa sebagian adalah milik si miskin. Berbagi rasa berbagi kasih sayang dan berbagi harta kepada sesama makhluk Tuhan, itulah perintahnya.

Tidaklah mudah mengemban tugas sehari-hari, sebab kita dihadapkan pada berbagai masalah hidup yang terus-menerus. Namun demikian segalanya tergantung pada diri sendiri, apakah sanggup melaksanakannya dengan bijak atau tidak. Prilaku bijak, selain berguna untuk diri sendiri, namun juga telah berusaha membahagiakan orang lain.

Meongpalo Karellae dan Datunna Sangiangseri meningggalkan Maiwa karena di sana dia menemukan anak- anak sedang makan menyuap terhambur-hambur, menyendok terserak serak tidak tunduk memungutnya oleh ibu yang melahirkannya dan tidak melarangnya kepada teman-temannya, bahkan berbalik membentak, menangis tersedu-sedu, tak henti-hentinya meminta sesuatu, menggaruk kepalanya, bercucuran keringatnya, meleleh ingusnya, sambil melemparkan piringnya, menumpahkan nasinya, terhamburlah gerangan di kiri kanan".

Pada pemyataan lain:

"Datunna Sangiangseri dan Batunna Meongpalo Karellae segera meninggalkan kampung Wettung, karena di sana dia mendengar tuan rumah menumbuk padi sambil marah- marah terhambur kesana kemari dan tidak tunduk memungutnya".

Kepedihan hati Sangiangseri sungguh sangat beralasan, orang-orang di negeri yang dijelajahinya seolah-olah tidak memberi arti kepada padi (nasi). Padahal barang itulah yang telah memberi kehidupan dan penghidupan kepada mereka, sehingga mereka bisa bertahan sampai akhir hayatnya.

Sangiangseri yang semula hampir putus asa dan ingin kembali ke langit, masuk ke kandungan ibundanya, tidak rela menyaksikan orang-orang di dunia dalam kemiskinan dan suasana yang tidak tentram, sebab tidak ada kesejahteraan yang diperoleh masyarakat di sana. Akhirnya Sangiangseri bertekad kembali menelusuri beberapa negeri, mencari kedamaian. Tekadnya adalah bila belum ditemukan orang yang berperangai baik, menghormati padi dan sejenisnya, maka dia akan berjalan terus mencari sampai dapat, agar tugas yang dibebankan kepadanya menjadi ringan.

Yang dilakukan Sangiangseri semata-mata karena kepeduliannya mengangkat harkat derajat si miskin agar dapat melaksanakan kewajibannya dengan khusyu. Sebab dengan perut lapar, bagaimanapun orang tidak akan bersemangat dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-harinya.

Kegigihan

Upaya Sangiangseri yang pantang menyerah menghadapi situasi sulit sekalipun, menunjukkan kegigihannya dalam meperjuangkan kebenaran di atas segala-galanya.

Bigih merupakan sikap dan perilaku yang tidak gampang menyerah pada keadaan, tidak mudah putus asa untuk terns menerus melawan kesulitan dalam mencapai cita-cita atau tujuan. Diwujudkan dalam perilaku yang konsekuen menjalankan tugas sampai tuntas, tidak mundur karena rintangan dan tidak menyimpang atau berpindah haluan.

Selama kegigihan itu untuk memperjuangkan kebenaran, pasti akan selalu mendapat ridho dari Tuhan yang satu ketika pasti akan diperoleh yang menjadi tujuannya.

Nilai Kebenaran

Kebenaran yang diperjuangkan Sangiangseri adalah betul- betul kebenaran yang hakiki, yakni kebenaran dari Allah Tuhan Sang Pencipta sekalian alam. Sebab kebenaran Allah tidak bisa ditawar-tawar lagi dan tidak bisa pula didiskusikan oleh setiap manusia. Berbeda dengan kebenaran sekuler, yakni menjadikan manusia sebagai sumber kebenaran dan ukuran kebenaran ini akan menjadi tidak wajar karena manusia baik melalui pendekatan filosofis, ilmiah, maupun mistik belum diketahui hakikat dirinya.

Sebagaimana dikemukakan P. Leenhouwers, bahwa "betapa besar usaha manusia untuk menyelami dirinya, selalu ia berhadapan dengan kegelapan hidupnya. Manusia tidak pemah berhasil menembus dirinya secara menyeluruh, ia menjadi orang asing bagi dirinya". (P. Leennouwers, 1988:68)

Oleh karena itu kebenaran manusia sering dipertentangkan antara satu dengan lainnya memiliki pendapat yang berbeda atau perbedaan persepsi. Manusia memang pencipta suatu gagasan, akan tetapi gagasan itu belum tentu benar dan bisa

BABV

AN ALI SIS

NUai

Naskah kuno yang berjudul Meongpalo Karellae rnerupakan satu di antara karya sastra yang terdapat di lingkungan rnasyarakat Bugis yang berlatarbelakang budaya Islam. Kandungan nilai-nilai yang terdapat pada karya sastra ini berbentuk nasehat, petuah yang rnendalarn yang ditujukan kepada seluruh lapisan dan kehidupan sehari-hari setiap rnanusia tertuang dalarn beberapa kalirnat yang rnengandung arti tertentu. Yang sernuanya berrnuara pada nilai religius.

Nilai religius adalah suatu nilai budaya yang didapatkan dalarn suatu sistern kepercayaan terutarna berkenaan dengan sikap dan hakekat hidup rnasyarakat.

Meongpalo Karellae adalah raja atau Datunna Meongpalo yang kehadirannya di dunia ini cukup penting yaitu bertugas sebagai rnengawal setia dan rnenjaga kearnanan Sangiangseri, sehingga dapat terhindar dari berbagai rnacarn gangguan baik dari binatang (tikus, bangsa burung rnaupun serangga, walangsangit).

Secara historis fungsi dan tugas Meongpalo Karellae ini sangat berat, penuh perjuangan dalarn rangka kehidupan rnanusia secara rnenyeluruh. Oleh sebab itu Meongpalo Karellae rnempunyai status dan kedudukan yang tinggi

diantara jenisnya dan dipandang sakral oleh masyarakat sehingga diharapkan agar setiap orang menyayangi dan menghargai kucing secara wajar.

Dalam perjalanan Sangiangseri yang selalu didampingi Meongpalo Karellae di muka bumi penuh dengan berbagai peristiwa yang dialami dan sarat perhatian pada perilaku manusia yang beraneka ragam, tersirat beberapa kandungan nilai yang perlu dipedomani oleh setiap manusia dalam menjalani kehidupannya.

Kandungan nilai yang dimaksud antara lain kerja keras, kegigihan, keikhlasan, tatakrama, keimanan, kesabaran, syukur, kesetiaan, keadilan dan kejujuran.

Nilai Kerja keras.

Kerja keras merupakan sikap dan perilaku yang suka berbuat sesuatu hal yang positif dan tidak suka duduk-duduk berpangku tangan dalam melakukan sesuatu kegiatan selalu dilakukan dengan gigih dan sungguh hati. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri, keluarga maupun masyarakat dan atau bangsa.

Nilai kerja keras ini tersurat dalam naskah, Sangiangseri yang diberi tugas ayahanda dewata untuk mempersatukan manusia di muka bumi yang memiliki aneka ragam perangai dan latarbelakang keluarga yang berbeda. Menghadapi manusia-manusia semacam itu tidaklah mudah jika tidak punya motivasi yang kuat untuk tugas mulia tersebut.

Perlakuan manusia di muka bumi yang seringkali menyia- nyiakan padi, memporak-porandakan nasi, sehingga terinjak- injak, sungguh sangat menyakitkan, dan itulah awal penderitaan Sangiangseri. Keadaan semacam itu tertuang dalam pernyataan di bawah ini.

Meongpalo Karellae dan Datunna Sangiangseri meningggalkan Maiwa karena di sana dia menemukan anak- anak sedang makan menyuap terhambur-hambur, menyendok terserak serak tidak tunduk memungutnya oleh ibu yang melahirkannya dan tidak melarangnya kepada teman-temannya, bahkan berbalik membentak, menangis tersedu-sedu, tak henti-hentinya meminta sesuatu, menggaruk kepalanya, bercucuran keringatnya, meleleh ingusnya, sambil melemparkan piringnya, menumpahkan nasinya, terhamburlah gerangan di kiri kanan".

Pada pemyataan lain:

"Datunna Sangiangseri dan Batunna Meongpalo Karellae segera meninggalkan kampung Wettung, karena di sana dia mendengar tuan rumah menumbuk padi sambil marah- marah terhambur kesana kemari dan tidak tunduk memungutnya".

Kepedihan hati Sangiangseri sungguh sangat beralasan, orang-orang di negeri yang dijelajahinya seolah-olah tidak memberi arti kepada padi (nasi). Padahal barang itulah yang telah memberi kehidupan dan penghidupan kepada mereka, sehingga mereka bisa bertahan sampai akhir hayatnya.

Sangiangseri yang semula hampir putus asa dan ingin kembali ke langit, masuk ke kandungan ibundanya, tidak rela menyaksikan orang-orang di dunia dalam kemiskinan dan suasana yang tidak tentram, sebab tidak ada kesejahteraan yang diperoleh masyarakat di sana. Akhimya Sangiangseri bertekad kembali menelusuri beberapa negeri, mencari kedamaian. Tekadnya adalah bila belum ditemukan orang yang berperangai baik, menghormati padi dan sejenisnya, maka dia akan berjalan terus mencari sampai dapat, agar tugas yang dibebankan kepadanya menjadi ringan.

Yang dilakukan Sangiangseri semata-mata karena kepeduliannya mengangkat harkat derajat si miskin agar dapat melaksanakan kewajibannya dengan khusyu. Sebab dengan perut lapar, bagaimanapun orang tidak akan bersemangat dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-harinya.

Selama kegigihan itu untuk memperjuangkan kebenaran, pasti akan selalu mendapat ridho dari Tuhan yang satu ketika pasti akan diperoleh yang menjadi tujuannya.

Nilai Kebenaran

Kebenaran yang diperjuangkan Sangiangseri adalah betul- betul kebenaran yang hakiki, yakni kebenaran dari Allah Tuhan Sang Pencipta sekalian alam. Sebab kebenaran Allah tidak bisa ditawar-tawar lagi dan tidak bisa pula didiskusikan oleh setiap manusia. Berbeda dengan kebenaran sekuler, yakni menjadikan manusia sebagai sumber kebenaran dan ukuran kebenaran ini akan menjadi tidak wajar karena manusia baik melalui pendekatan filosofis, ilmiah, maupun mistik belum diketahui hakikat dirinya.

Sebagaimana dikemukakan P. Leenhouwers, bahwa "betapa besar usaha manusia untuk menyelami dirinya, selalu ia berhadapan dengan kegelapan hidupnya. Manusia tidak pemah berhasil menembus dirinya secara menyeluruh, ia menjadi orang asing bagi dirinya". (P. Leennouwers, 1988:68)

Oleh karena itu kebenaran manusia sering dipertentangkan antara satu dengan lainnya memiliki pendapat yang berbeda atau perbedaan persepsi. Manusia memang pencipta suatu gagasan, akan tetapi gagasan itu belum tentu benar dan bisa

dart manusia.

"Aku dipukul parang oleh tuanku pemilik rumah, terasa pecah kepalaku, seolah-olah tercecer benaku, mataku terasa melotot berkunang-kunang pandanganku. Di Maiwa dilempar sepotong papan, dipukul sepuh buluh oleh tuanku yang sedang masak. Kurasakan pedihnya hingga urat sekecilpun, malah sekujur tubuhku. Lari ke dapur ditisik lagi oleh kayu, diburu anjing. Lari ke lesung dipukul antan, besi dan bambu".

Perlakuan orang-orang kepada Meongpalo Karellae menunjukkan sikap yang keji dan tidak berperasaan, menyiksa sesama mahluk Tuhan sampai rasa sakitnya tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Tentu bila ada yang bisa mendengar rintihan kesakitan Meongpalo, dapat dibayangkan bagaimana penderitaannya. Padahal kesalahan Meongpalo hanyalah mengambil sebagian kecil makanan yang dimiliki orang-orang tersebut otomatis membencinya. Jika perut kenyang pun tak akan mengambil hak orang lain.

Manusia di sana sudah merasa benar, dengan menyiksa kucing demi untuk menyelamatkan ikannya. Tidak ada toleransi sedikitpun. Perasaan subyektivitasnya sangat kental pada dirinya, sehingga tidak akan mungkin mendengarkan orang bicara yang mempersalahkannya. Mungkin saja bagi orang yang mempunyai rasa sosial dan toleransi tinggi, kehilangan sepotong ikan dianggap persoalan kecil dan tidak dipermasalahkan, bahkan kalau perlu kucing tersebut diberi agar tidak sampai mencuri.

Kebenaran seorang tentang memperlakukan kucing sudah berbeda dengan lain. Belum lagi dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Oleh karena itu kebenaran manusia masih bisa "ditawar" tidak seperti kebenaran dari Tuhan.

Sikap dan pertlaku yang tidak saling menyayangi di antara makhluk Tuhan, merupakan manifestasi dari watak tidak pernah serasi dengan lingkungannya, emosinya cepat lahir tatkala menghadapi suatu hal yang kurang disenangi. Sebagaimana dikemukakan dalam naskah, tatkala Datunna Sangiangsert dan Meongpalo Karellae tiba di Lisu didapati orang sedang melakukan upacara syukuran meminta benih padinya tumbuh subur.

"Tetapi nasinya tidak cukup, menyebabkan marah dalam hati Matowae di Lisu, tinggal menganga dan hatinya rtsau. Apakah benih padi itu berhasil atau tidak, hanya menghabiskan, biaya, akibat perbuatan yang tidak terolah baik oleh Matowae di Lisu. Barulah ia mengumpulkan orang di Lisu, nasinya tidak berkecukupan, sayalah yang dipermalukan, istertnya mengumpat dan mencerca".

Seharusnya orang yang tengah melaksanakan upacara di Lisu tidak perlu marah-marah, jika mereka melakukan dengan penuh keikhlasan. Menghadapi kekurangan nasi, seharusnya introspeksi dirt, dan bertanya pada dirtnya mengapa keadaan yang memalukan itu menimpa keluarganya. Dengan introspeksi dirt, berarti ada kecenderungan untuk merubah dirtnya menjadi lebih baik.

Ikhlas berarti suci atau murni untuk beramal di atas kertdhoan Allah. Beramal dengan hati yang ikhlas merupakan ibadah dan akan mendapat pahala dart Tuhan. Noda yang biasa mengotori keikhlasan adalah ingin agar amalnya dilihat orang, ingin disanjung, dipuji dan sebagainya, atau berharap mendapat harta-tahta, karter yang bersifat duniawi.

Pilihan maupun harapan dari orang-orang yang menginginkan adanya keikhlasan dalam beramal sejatinya dapat terwujud dengan baik bila ada dua unsur fundamental yang melandasinya. Pertama adanya niat yang sungguh-sunguh

dart aspek lainnya. Seandainya manusia menghentikan aktivitas makan, otomatis aktivitas lainnya akan terhenti, sebab energi manusia diperoleh dari makanan yang masuk kedalam tubuh. Orang yang hidup dengan kemewahan merasa bingung menentukan jenis dan macam makanan yang akan disantap hari ini. Sebaliknya orang miskin bingung apa yang harus dimakan esok hari, bila hari inipun "pas-pasan".

Kesenjangan sosial-ekonomi yang terjadi di antara dua kondisi yang berbeda, adalah tugas Sangiangseri untuk menserasikannya, agar keduanya bisa menikmati secara wajar.

Terlepas dari itu semua, di dalam makan ada aturan atau nilai yang diberlakukan, yakni nilai tatakrama makan. Sebagaimana amanah yang disampaikan Sangiangseri kepada orang-orang di Barru.

"Jangan menyendokkan nasi jika hatimu tidak senang akan berhambur kelak, jangan sendok nasi di tengah periukmu, jika engkau menyuapi nasi anakmu awasi jatuhnya, bila jatuh segera dipungut. Jangan berbicara selagi makan".

Sebab keteraturan dalam berperilaku akan mencerminkan sikap hidup seseorang. Kadang pula ada yang mengkaitkan perilaku makan dengan kegiatan sakral. Maksudnya aktivitas makan merupakan hal yang tidak bisa diselingi dengan kegiatan lain. Sebelum makan, orang memulainya dengan berdo'a, selagi makan harus duduk dan diam serta tenang menikmati pemberian-Nya. Sesudah selesai makan kembali berdo'a seraya memuji kebesaran-Nya yang telah memberikan nikmat rejeki kepada manusia. Di samping itu jenis makanan harus dipilih, jangan sampai makan-makanan yang diharamkan atau membuat orang menjadi sakit, sehingga tujuan dari aktivitas makan tidak tercapai.

Memungut nasi yang jatuh berarti bahwa sekalipun butiran nasi itu barang kecil, tapi harus dielukan, dan dihormati. Sebab nasi berhubungan dengan yang gaib yakni sebagai jelmaan dewi padi, dia akan menangis bila diinjak dan akan sangat berbahagia bila tidak disia-siakan.

Sikap menghormati terhadap segala sesuatu yang berada di muka bumi menunjukkan keserasian hubungan baik secara vertikal dengan Tuhannya, maupun horizontal, dengan sesamanya dan dengan lingkungannya. Sikap hormat itu seharusnya tanpa pamrih, karena itu sebenamya ada pada kebutuhan naluri setiap manusia untuk berbakti.

Nilai kesopanan itu menentukan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Sebab itu semua akan menjadi pedoman bagi setiap prilaku manusia. Bagaimana kita berperilaku kepada orang tua atau yang lebih tua, dengan orang sebaya, dan dengan yang lebih muda usianya. Kepada orang tua dan lebih tua akan berperilaku lebih hormat dibandingkan dengan yang sebaya atau lebih muda. Itu menunjukkan kerendahan hati generasi yang dilahirkan dan lahir kemudian.

Begitu pula dalam menghormati Sangiangseri yang terlahir jauh lebih dahulu dari kita, tentu sudah sepantasnya kita menaruh hormat sebagaimana kita menghormati orang tua.

Sebagai generasi penerus berkewajiban melanjutkan sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur.

Perilaku hormat yang sangat kental dari leluhur kita terhadap pemberi kehidupan bagi manusia sering dikaitkan dengan buah dari suatu perbuatan atau hukum karma. Bila tidak mematuhi aturan maka akan sampai pada suatu kehidupan yang menyengsarakannya. Sebab yang menciptakan hidup itu baik dan menderita adalah amal perbuatan sendiri.

Nilai Keimanan

Siapapun mendambakan hidup bahagia terbebas dari kesengsaraan dan penderitaan. Namun kebahagiaan itu tentu saja tidak bisa diraih begitu saja atau akan datang sendiri tanpa usaha ke arah itu. Ban setiap aktivitas berusaha terse but tidak selamanya berjalan lancar, ada kalanya mengalami kesulitan atau hambatan. Dagi orang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam menghadapi persoalan hidup ini tidak akan patah semangat atau malas karena ia yakin bahwa dibalik kesukarannya itu ada kelapangan yang tersembunyi.

Dengan segala kasih sayangnya, Tuhan selalu memberi jalan dan cobaan kepada umatnya, untuk mengetahui sejauh mana kesabaran dan keimanan kita, makin beriman kita makin bertambah ujiannya. Ibaratnya orang yang bersekolah, makin tinggi pendidikan seseorang, maka pelajaranpun makin meningkat dan sulit serta ujiannyapun tidak sesederhana ketika masih pendidikan menengah ke bawah.

Kesukaran atau problema itu tidaklah kekal. Sebaliknya kebahagiaanpun tidak kekal, yang kekal adalah kehidupan di alam baka. Seperti firman Allah SWT, dalam surat "Al-Insyiroh" ayat 5 yang artinya:

sesungguhnya di samping kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai ( dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanlah hendaknya kamu berharap".

Firman tersebut ditujukan kepada orang-orang yang

beriman sebab orang yang tidak beriman tidak pernah mau mendengar, apalagi melaksanakan perintahnya. Orang yang beriman selalu menghadapi kegagalan, kekecewaan dan kesulitan apapun dengan tenang, sehingga tidak membawa kepada gejala-gejala mental yang tidak sehat.

Nilai keimanan yang terkandung dalam naskah adalah rasa percayanya Sangiangseri bahwasanya pengorbanan yang dijalani terus menerus suatu ketika pasti membuahkan hasil. Bila Tuhan menghendaki, sejahat manusia bagaimanapun pasti akan dibukakan hatinya. Itu tandanya kemurahan hati Tuhan Yang Maha Pengampun. Terkecuali jika manusia itu sudah diberi kesempatan untuk bertobat lantas melaksanakan kejahatan lagi berulang-ulang, maka dengan kehendak Tuhan pula, hati orang tersebut akan terkunci.

Sebagaimana perilaku manusia di kota-kota yang disinggahi Sangiangseri yang tidak juga berperangai baik, sebetulnya karena kemiskinanlah yang membuat mereka lekas marah dan sepertinya tidak berperasaan, perilakunya dan tutur katanyapun kasar.

Sikap dan perilaku beriman ditunjukkan dengan keyakinan adanya kekuatan Maha Pencipta atau Tuhan. Keyakinan ini disertai kepatuhan dan ketaatan dalam mengikuti perintah dan menjauhi segala larangannya. Diwujudkan dengan taat beribadah dan berperilaku yang sesuai dengan apa yang diatur oleh agama dan tidak melakukan apa yang dilarang oleh agama.

Orang yang beriman, sangat yakin bahwa segala sesuatu kejadian di muka bumi ini karena ada yang menghendaki yaitu Tuhan. Manusia sekedar diwajibkan untuk berusaha, namun yang menentukan adalah Tuhan. Tuhan adalah Maha Kuasa,

Orang tersebut makin diberi kesempatan berkuasa, semakin tidak berimannya dia. Padahal secara logika, bahwa orang yang berkuasa mempunyai banyak kesempatan dan fasilitas untuk melaksanakan perintahNya.

Nilai Kesabaran

Sebelum sampai ke tujuan, perlu kesabaran. Sabar menunggu waktu dan sabar menghadapi berbagai cobaan.

Sabar merupakan sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan mengendalikan gejolak dalam diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula, dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah. Diwujudkan dalam perilaku yang tenang dan sikap dapat menerima apapun yang dihadapi.

Sikap menerima apapun yang dihadapi, tidak berarti pasrah begitu saja tanpa ada usaha sebelum dan sesudannya. Ada pepatah mengatakan: "Orang sabar kekasih Tuhan". Orang sabar tidak pernah mengeluh, dan menghakimi orang lain dan Tuhannya. Oleh karena itulah Tuhan sayang kepada mereka yang bersikap sabar.

Dikemukakan dalam Al-Our'an surat Al Baqarah ayat 155-157, yang artinya:

"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita kegembiraan bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan dan rahmat dari Tuhannya dan orang-orang itulah yang mendapat petunjuk".

"la par". Disinilah letak perbedaan kesabaran bagi orang yang beriman dan kurang atau tidak beriman.

Meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan mendirikan ibadah Shalat ditambah dengan tidak putus asa serta selalu berprasangka baik pasti akan dikabulkan. Mustahil rasanya didasari dengan prasangka baik bahwa Allah tidak mengabulkan permohonan hambanya yang taat, sesuai dengan firmannya: "Jangan berputus asa dari rakhmat Allah".

Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa

"Sabar dan lapang dada adalah iman yang paling utama atau Sabar adalah pemberian yang lebih baik dan luas. Dengan demikian betapa pentingnya sikap dan perilaku sabar bagi manusia, terutama dalam menghadapi cobaan.

Dalam naskah, kesabaran Sangiangseri dan Meongpalo Karellae menghadapi perlakuan dari orang-orang di muka bumi sudah melebihi kesabaran orang biasa. Segala keadaan yang dihadapi semata-mata demi persatuan dan kesatuan orang-orang di dunia, sehingga tidak ada lagi kesenjangan sosial si kaya dan si miskin.

Bersabar dalam penderitaan menunjukkan betapa besarnya iman seseorang, tidak lekas putus asa, bahkan tetap berserah diri kepada yang kuasa. Di dalam kitab suci orang Nasranipun diingatkan kepada seluruh umatnya bahwa:

"Janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mem- persalahkan, supaya kamu jangan dihukum". (Yacobus 5, ayat 9).

Peringatan tersebut mengandung pengertian bahwa dalam situasi sesulit apapun tidaklah pantas menggerutu atau

"menderita dengan sabar" dikemukakan:

"Lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah daripada menderita karena berbuat jahat" (Petrus 3, ayat 17).

Ada dua sisi yang termaktub dalam ayat tersebut, yakni nilai kebaikan dan keburukan. Namun kedua perbuatan tersebut tidak jarang akan berakibat penderitaan. Akan tetapi menderita dengan berbuat baik, niscaya akan mendapat kehidupan yang lebih berbahagia di akhir hayatnya kelak.

Sejalan dengan itu, kesabaran Datunne Sangiangseri dan Datunne Meongpalo Karellae dalam menghadapi penderitaan yang silih berganti, tidak membuat jera untuk terus menyebarkan benih-benih kebaikan hingga manusia betul-betul menyadari kekeliruannya.

Nilai Syukur

Orang yang beriman akan selalu mensyukuri atas segala yang diperolehnya, karena itu semua adalah pemberian dari Tuhannya. Menurut Ar Raghib Al-Ashfahani seorang Lexicog- rapher terkenal bahwa :

"syukur atau terima kasih adalah pelukisan dan penampilan nikmat, lawannya adalah kufur nikmat yaitu melupakan dan menutupi nikmat. Syukur terbagi tiga yaitu syukur hati yang merupakan pelukisan nikmat; syukur lidah yang merupakan sanjungan atas pemberi nikmat; dan syukur segenap batang tubuh berupa pemenuhan nikmat sesuai dengan kelayakannya".

"sujud syukur" secara khusus, atau tatkala sujud shalat mengucapkan nama Allah dan berterima kasih atas nikmatNYa.

Pada masyarakat petani di beberapa daerah mensyukuri atas hasil panen telah membiasakan mereka untuk melakukan kegiatan upacara yang ditujukan kepada Dewi Sri. Kebiasaan tersebut merupakan warisan leluhur yang sudah menjadi adat dari generasi ke generasi. Apabila tidak melaksanakannya seolah-olah merasa berdosa sebagai sanksi pada dirinya. Di setiap penjuru lahan sawah atau ladang ditaruh sesajen yang dipersembahkan kepada dewi padi agar menjaga tanaman padi, tidak diserang hama, dimakan tikus, burung pipit, walang sangit, dan sebagainya. Begitu Pula di ruangan tempat padi/ beras perlu disediakan sesajen dengan maksud agar yang diperolehnya itu bisa mencukupi kebutuhan keluarga hingga tiba musim panen berikutnya.

Di dalam naskah, selain perilaku upacara sebagai perwujudan rasa syukur, juga setiap orang sebaiknya menghindari pantangan/larangan Sangiangseri dan melak- sanakan perintahnya yang diungkapkan dalam bentuk nasehat, seperti:

"jangan pula pisahkan air dengan belangamu, akan kering ujungnya benih yang kau tanam".

"Pada saat engkau persiapkan benihmu, duduklah
menghadapi pelita ............................ "

"Bilamana sudah tiba waktunya untuk menuai padi, memotong padimu, ikatlah tiap onggok, kemudian dihimpun satu ikat. Setelah cukup tiga hari barulah dibawa ke rumah dan disimpan di rangkian/loteng, dan berilah majang yang belum mekar agar padimu berisi dengan baik di tengah sawahnya."

Setia merupakan sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian akan perjanjian yang telah dibuat. Diwujudkan dalam perilaku yang tetap memilih dan mempertahankan perjanjian yang telah dibuat daripada godaan-godaan hubungan lainnya yang lebih menguntungkan.

Dalam naskah diungkapkan begitu kentalnya kesetiaan Meongpalo Karellae terhadap Sangiangseri, sedetik pun mereka tidak terpisahkan. Kesetiaan Meongpalo tersebut selain dilatar belakangi pengalaman nasib yang sama juga sudah kewajiban Meongpalo untuk selalu melindungi yang lemah, yakni Sangiangseri dari perlakukan manusia yang tidak berperasaan. Kesetiaan yang mendalam, seringkali berani mengorbankan dirinya untuk kepentingan sahabatnya dan orang banyak.

Sejalan dengan yang diriwayatkan Al-Wahidi dari Muharib bin Ditsar dari lbnu Umar, bahwa seorang sahabat Rasulullah dari golongan Anshar diberi kepala kambing. Timbul pikirannya "mungkin orang lain lebih memerlukan dari aku". Seketika itu juga kepala kambing itu dikirimkan kepada kawannya yang lain, sehingga kepala kambing itu berpindah- pindah sampai tujuh rumah dan akhimya kembali ke rumah orang pertama. Begitu besar kesetiaan para sahabat Nabi kepada sesamanya yang benar-benar terjalin antara hati dengan hati. Hingga mereka mendahulukan kepentingan kawannya dibandingkan kepentingan diri sendiri sekali pun dirinya sangat membutuhkan, bahkan dalam keadaan sempit.

Betapa indahnya jalinan hubungan di atas, seperti juga hubungan antara Meongpalo dengan Sangiangseri. Kesetiaan Meongpalo telah dijadikan contoh nasehat Sangiangseri terhadap orang-orang yang bertabiat baik, yakni agar orang-

"Alm hanya tinggal saja di dunia, dimakan burung pipit, dirusak oleh tikus, dicakar-cakar oleh ayam. Sebab hanya kucing yang kuharapkan menjaga siang-malam. Dia pulalah yang dibenci oleh orang di dunia ini, memukulnya tiada hentinya, disiksa siang malam."

Ungkapan perasaan Sangiangseri akan kesetiaan Meongpalo telah pula didengarkan oleh Batara Guru, ayahanda Sangiangseri. Sehingga jadilah kucing sebagai binatang yang selalu dipercayaa oleh manusia akan membawa petaka bagi yang menyakitinya, dan akan membawa rezeki bagi yang memelihara atau menyayanginya.

Pada sebagian masyarakat yang percaya pada sesuatu yang gaib, akan melakukan kegiatan upacara sederhana jika menjumpai kucing yang mati. Sebagian masyarakat percaya bahwa jika menabrak atau melindas kucing hingga mati, akan mengakibatkan bencana atau sebagai pertanda akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, misalnya kecelakaan, kematian dan sebagainya. Oleh karena itu bila menabrak kucing hingga mati sebaiknya dirawat dan dikuburkan dengan baik. Hal tersebut sebagai upaya agar terhindar dari malapetaka. Begitu pula apabila melihat kucing mati yang bukan disebabkan karena perbuatan sendiri, segera pula diambil dan dikuburkan.

Sekalipun kadang manusia kesal dengan perilaku kucing yang suka mencuri ikan atau daging, tapi mereka tetap memperlakukan kucing mati dengan baik.

Pertengkaran sesama kucing hingga mengeluarkan suara keras, pertanda tidak baik bagi keluarga dimana keiadian kucing bertengkar tersebut. Biasanya yang empunya rumah segera melerainya.

"keadilan".

Namun apabila perilaku sudah mengarah kesana atau paling tidak sudah tidak dipengaruhi subyetivitas kepentingan, maka dapatlah keadilan itu diwujudkan.

Sebagaimana misinya Sangiangseri yang semata-mata untuk mempersatukan seluruh umat manusia dan memberikan sumber kehidupan dan penghidupan bagi seluruhnya tanpa pandang bulu asalkan tahu "berterima kasih" adalah cerminan nilai keadilan.

Jika seseorang dapat melaksanakan amanah yang dibawa oleh Sangiangseri, maka dia bisa memetik hasil yang memuaskan.

Orang yang beriman selalu hatinya merasa dekat dengan Tuhannya, merasa dilihat dan diawasinya. Oleh karena itu dia akan berperilaku jujur karena Tuhan akan tahu segala-galanya. Sedangkan orang yang lemah imannya sering merasa lepas dari pengawasan Tuhannya, sehingga dia mudah melakukan ketidakjujuran, terutama di saat merasa tidak ada orang lain yang melihatnya.

  1. Penakut atau pengecut. Orang penakut atau pengecut adalah orang yang tidak saja takut menghadapi ancaman, tetapi juga takut menghadapi resiko dan tanggung jawab. Untuk menyelamatkan diri, dia akan mengelak dengan cara yang tidak fair alias tidak jujur. Kebohongannya ditutupi dengan kebohongan. Berapa kali ia harus berbohong tidak menjadi masalah asalkan ia terlepas dari resiko dan tanggung. jawab.
  2. Rasa rendah diri. Orang yang mempunyai rasa rendah diri akan selalu berusaha mensejajarkan dirinya dengan orang lain. Sayangnya kekurangannya itu tidak ditutupi dengan prestasi, tetapi ditutupi dengan tindakan-tindakan yang tidak wajar bahkan terkesan berlebihan. Berarti sikap dan tindakannya akan penuh kebohongan dan kepalsuan.
  3. Terlalu berambisi untuk menang, namun keliru dalam memahami makna kemenangan. Terlalu berambisi untuk menang, seseorang cenderung melakukan hal-hal yang tidak jujur, misalnya melanggar peraturan yang ada mencari jalan pintas dan kalau perlu mengorbankan orang lain. Sehingga halal baginya dengan segala cara. Untuk menyatakan kebenaran secara jujur, kadang seseorang harus mengorbankan diri atau terpaksa harus

Oleh karena itu penderitaan di dunia tidak masalah, asalkan mendapat kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak.

Kejujuran hati Sangiangseri dan pengawal setianya Meongpalo Karellae telah menebarkan aroma wangi bagi masyarakat yang didatangi terutama orang-orang di Barru yang selalu menyambutnya dengan penuh penghormatan. Karena orang-orang di Barru itupun berhati baik dan tidak menghianatinya, seperti diungkapkan dalam naskah:

"Yang akan kutempati yang sejiwa denganku, penyabar lagi bijaksana, yang jujur lagi pemurah, yang selalu berbuat dengan kebaikan di dalam dunia, tanggap meramu padi- padian, memelihara Sangiangseri".

Di tempat itu Sangiangseri dan Meongpalo Karellae merasakan kebahagiaan yang tidak terhingga dan merasa dirinya betul-betul dibutuhkan, seperti dalam naskah.

"Pada saat Datunna Sangiangseri diturunkan ke bumi, ketika itu Pabbicara (penguasa negeri Barru) bersama rakyatnya tengah berkumpul. Segeralah Pabbicara mengambil air di ceret seraya duduk menghadapi dupa, kemenyan dan sirih pinang yang lengkap serta wangi- wangian, kemudian menaburkan benur, lalu berkata: syukkurlah sukmamu Datunna Sangiangseri bersama semua padi baik padi pulut maupun padi biasa yang diiringi oleh Datunna Meongpalo. Pabbicara aktif meramu wisesa menurut gaukenna Sangiangseri. Gembira rialah Datunna Sangiangseri, bersuka rialah Datunna Meongpalo dan gelak tertawalah Datunna Tiusenge menerima pelayanan yang sangat baik tiada tara. Pabbicara bersama orang Barru telah menerima dan memberi pelayanan sedemikian rupa disertai tutur kata yang lembut, hati yang tulus dalam meramu Sangiangseri".

Kejujuran Sangiangseri telah mendapat tempat di dalam hati yang tulus dart orang-orang yang jujur pula.

Peng-embangan Kebudayaan Nasional

Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwasanya ada

beberapa kandungan nilai dalam naskah Meongpalo Karellae,

yang jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dewasa ini masih dirasakan masih relevan. Sebab perjalanan hidup manusia pada generasi sekarang hingga mendatang merupakan kelanjutan dari generasi sebelumnya. Demikian pula nilai-nilai yang berlairu sekarang adalah pewarisan nilai terdahulu yang dirasakan masih efektif dipedomani oleh setiap orang untuk bertindak dan berucap.

Nilai kerja keras dalam naskah Meongpalo Karellae ini terlihat misalnya pada contoh dibawah ini :

Diwaktu orang berusaha menanam padi di sawah, mulai dari membersihkan rumput sebelum ditanani, menggaru sawah agar sawahnya dapat subur, dibersihkan dari rerumputan, diairi, yang selanjutnya dibajak. Setelah pekerjaan ini selesai, orang mulai menaburkan bibit untuk selanjutnya disemaikan dan ditanam. Setelah itu beberapa hari kemudian setelah padi mulai tumbuh kita harus membersihkan dari rerumputan yang tumbuh di sekitar padi-padian tersebut, sambil menaburkan pupuk agar padi tersebut dapat tumbuh dengan subur, Pekerjaan itu tidak akan berhenti sampai disitu, karena setelah itu kita masih harus menyemprotkan obat anti hama penyakit yang tujuannya agar padi tersebut tidak terkena penyakit dan dapat tumbuh hingga masa panen. Pekerjaan ini pun juga belum selesai, masih ada kelanjutan disamping kita harus merawat tumbuhnya padi tersebut, kita juga harus mengawasi dari incaran burung dan tikus, maka harus menunggu di sawah. Jika padi telah siap dipanen maka pekerjaan ini sudah hampir usai, namun demikian kita juga harus tetap menjaga, agar padi tersebut jangan sampai roboh, misalnya terkena hujan yang sangat lebat, banjir dan se bagainya.

Pekerjaan rutin para petani merupakan warisan budaya yang turun-temurun, dari waktu ke waktu tidak menunjukkan perubahan yang menyeluruh. Masuknya teknologi modern berupa intensifikasi pertanian, tidak mengurangi semangat para petani untuk mengkominasikannya dengan teknologi sederhana sebab tenaga atau sumber daya manusia untuk sektor pertanian masih memegang peranan penting.

Orang-orang yang tidak pernah mengalami hidup sebagai petani, seharusnya berterima kasih kepada para petani yang dengan gigih berupaya mennyelamatkan pertaniannya dari gangguan hama, binatang maupun cuaca hingga hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Para petani sendiri barangkali hanya menikmati sebagian hasilnya, selebihnya diperuntukkan bagi konsumsi masyarakat luas. Nilai kerja keras ini terlihat sekali, apakah benar-benar telah berhasil atau tidak, karena walaupun kita telah menuai padi, namun hasilnya sedikit karena berat padi yang tidak seimbang (padinya kopong) maka hasil kerja keras kita akan sia-sia.

Etos kerja para petani seharusnya dicontoh oleh orang-orang yang kerjanya hanya santai-santai, sebab secara tidak langsung para petani tersebut sudah lebih dulu mengenal disiplin kerja khususnya berkaitan dengan gangguan waktu dan pola berpikir praktis dan sederhana. Mereka tidak mengenal Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, yang mereka pikirkan adalah bila tidak kerja keras maka tidak akan memperoleh hasil maksimal.

Nilai kerja keras yang tersurat di dalam naskah Meongpala Karellae ini tercermin pada diri Sangiangseri, dia diberi tugas oleh ayahandanya untuk mempersatukan manusia di muka bumi yang memiliki aneka ragam perangai dan latar belakang keluarga yang berbeda. Menghadapi manusia-manusia semacam itu tidaklah mudah jika tidak punya motivasi yang kuat untuk tugas mulia tersebut.

Dengan memberinya kehidupan dan penghidupan kepada manusia, sekalipun kadarnya berbeda, namun diharapkan agar

"sesuap nasi". Permusuhan bahkan sampai perpecahan terjadi bila masing-masing tetap bertahan pada pendiriannya atau tidak ada yang mau mengalah.

Sesuai dengan perkembangan zaman dewasa ini sifat yang dimiliki oleh Sangiangseri sudah sangat sulit ditemui, karena pada dasarnya sifat egois dan mau menang sendiri dari setiap manusia terutama di daerah perkotaan sangat kelihatan. Kerja keras yang dilakukan mereka semata-mata untuk kepentingannya, jarang orang mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya, karena masing-masing ingin eksis dan status merupakan simbol utamanya.

Selain kerja keras kita memerlukan kegigihan. Nilai kegigihan dalam masyarakat dapat terlihat seperti pada contoh di bawah ini :

Seorang petani sedang menanam padi, dia telah menyelesaikan sampai tahap menanam. Ketika padi sudah mulai tumbuh dan berkembang, tiba-tiba padi tersebut terkena hama penyakit tanaman. Petani itupun segera memberikan obat anti hama, namun belum juga membaik dan dilanjutkan dengan obat anti hama berikutnya maka padi itu membaik dan kembali tumbuh subur.

Tetapi disaat lain, setelah padi tersebut bebas dari hama penyakit tiba-tiba terkena hujan yang sangat lebat dan banjir sehingga padi itu roboh, maka orang harus berusahabagaiman a caranya agar padi tersebut tetap dapat dituai/dipanen.

Kegiatan dalam mengolah padi inilah yang tercermin dalam naskah ini, jadi seseorang jika ingin maju dan berhasil maka dia harus bekerja keras dengan gigih dan kesungguhan hati. Janganlah gampang putus asa dalam menjalankan segala

Sebagai contoh pertama: orang-orang mencuri (dalam naskah Meongpalo Karellae mencari ikan untuk pengisi perut yang la par). Penduduk di sekitar langsung memukul tanpa tanya penyebabnya. Seharusnya dicari dulu penyebab dari mencuri ikan tersebut, mungkin karena untuk mempertahankan hidup, karena sudah berusaha dengan jalan baik/halal (mencari pekerjaan tidak berhasil, memancing tidak dapat ikan) dan se bagainya.

"mencuri" karena lapar, perut tidak dapat menunggu hasil panen berikutnya.

Perilaku "mencuri" merupakan perbuatan salah, siapa pun atau karena alasan apa pun tetap itu perbuatan salah. Namun karena dengan sangat terpaksa, usaha yang dilakukan pun memperoleh jalan buntu, maka ada suatu pertimbangan dalam peradilan di dunia, dan di akhirat hanya Tuhan yang tahu. Namun "keterpaksaan" ini pada zaman sekarang sudah dijadikan dalih untuk mencapai suatu tujuan, dan justru "terpaksa melakukan" tersebut berjalan berulang-ulang. Hal tersebut sebetulnya merupakan ciri manusia yang tidak gigih, selalu menempuh jalan pintas agar lebih cepat sampai ke tujuan.

Nilai-nilai kebenaran yang hakiki perlu kita tegakkan, karena jika kita ingin mengambil kesimpulan dan keputusan yang benar harus sesuai dengan nilai agama, jangan hanya berdasarkan rasio manusia saja.

Sifat ikhlas seperti ini pada saat sekarang sudah mulai pudar, karena banyak orang sudah mulai dengan egonya yang mementingkan dirinya diatas kepentingan orang lain. Seperti contoh : seseorang yang ingin beramal, tetapi amal tersebut dikarenakan atasannyajuga beramal dan dia hanya ikut-ikutan.

Di lain pihak seseorang berbuat baik atau membantu orang yang sedang dalam kesulitan (tertimpa bancana alam misalnya), tetapi dibalik semua itu ada maksud-maksud tertentu dari orang tersebut, dia ingin dihormati dan dipuji. Bila tangan kanan memberi, maka tangan kiri tidak boleh tahu, itu tanda ikhlas. Jangankan orang lain, anggota tubuh

"Jangan menyendokkan nasi jika hatimu tidak senang akan berhambur kelak, jangan sendok nasi di tengah periukmu, jika engkau menyuapi nasi anakmu awasi jatuhnya, bila jatuh segera dipungut. Jangan berbicara selagi makan".

Dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya nilai-nilai seperti itu sudah mulai bergeser dan kurang dijalankan baik oleh anak-anak maupun orang dewasa, semua ini akibat dari pengaruh dan perkembangan zaman serta kemajuan teknologi.

SIMPULAN

Meongpalo Karellae adalah raja atau Datunna Meonge yang kelak bertugas sebagai pengawal setia dan penjaga keamanan Sangiangseri sehingga dapat terhindar dari berbagai macam gangguan, baik dari binatang (tikus), bangsa burung (burung pipit) maupun serangga (walangsangit).

Batara Guru diturunkan ke dunia (di Ware Daerah Luwu) dan di sanalah dia menjadi raja atau datu (sebelum masa Lontarak). Sangiangseri adalah penjelmaan putera Batara memberikan pengertian bahwa disanalah munculnya Sangiangseri dan cepat berkembang ke negeri-negeri lainnya. Akan tetapi walaupun demikian, penduduk Luwu ketika itu masih mayoritas memilih sagu sebagai bahan makanan pokok mereka. Sementara itu kucing senang sekali berjalan mengelilingi kampung siang malam sehingga kurang diperhatikan oleh penduduk.

Dunia mengalami perkembangan sedemikian rupa, sejalan dengan pertambahan penduduk yang kian hari makin bertambah, menyebabkan timbulnya berbagai peristiwa atau kejadian. Satu diantara peristiwa yang menarik untuk diketahui adalah ceritera Meongpalo Karellae, tentang nasibnya yang malang dan sangat menyedihkan.

Sewaktu Meongpalo Karellae tinggal di Tempe dan bermukim di Wage, senantiasa hidup sejahtera dan tidak pernah

Padahal jika mereka sadar, tanpa kehadiran kucing di sekitar iingkungan hidup mereka, niscaya kehidupan merekapun akan terancam sengsara, karena padi tidak ada yang menjaganya.

Akhirnya Sangiangseri bersama Meongpalo serentak pergi meninggalkan tempat tersebut, menelusuri berbagai tempat, dengan tujuan mendapatkan orang yang berperarigai baik, menghargai padi, tidak menyakiti sesama termasuk menyakiti seekor kucing dan berupaya mempersatukan orang-orang yang miskin. Di perjalanan itu pula Sangiangseri bertemu dengan bahan makanan lain berupa bata, jagung dan jawawut yang juga