PKI dan KNI Pusat
Dalam lembar-lembar yang diterbitkan di Yogyakarta pada tahun 1947 itu, kita seakan mendengar gema suara dari sebuah masa yang genting, ketika "revolusi" bukan sekadar slogan di atas spanduk, melainkan detak jantung yang memburu bagi sebuah Republik yang baru seumur jagung. Di sana, tokoh-tokoh seperti Aidit, Maruto Darusman, dan Alimin mencoba merumuskan sebuah posisi yang rumit: bagaimana sebuah ideologi kasta dan perjuangan kaum proletar bisa berhimpun dalam satu rumah besar persatuan nasional bernama KNIP untuk membendung arus imperialisme. Teks ini bukan sekadar risalah politik kering, melainkan sebuah ikhtiar yang bersungguh-sungguh untuk menyusun organisasi dan disiplin melalui "Program Pembelaan dan Pembangunan Nasional", sebuah cetak biru yang berupaya menjembatani keringat kaum buruh dan tani dengan cita-cita kedaulatan. Membacanya hari ini adalah seperti menatap sebuah tilas—rekaman tentang niat, strategi, dan mungkin juga sejenis ilusi tentang masa depan yang dianggap bisa dirancang dengan pasti di atas kertas. Pada akhirnya, isi naskah ini menjadi saksi bagi sebuah percakapan yang pernah begitu yakin akan "jalan lurus" sejarah, sebelum akhirnya waktu membuktikan bahwa gerak kehidupan selalu lebih rumit dan penuh dengan tikungan yang tak terduga.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-07-13 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:ab48b4d9-a15e-42c6-a347-0cdb379f73e7 |