Penyiksaan di Papua: Kekerasan yang Terus Berlanjut
PENYIKSAAN DI PAPUA: KEKERASAN YANG TERUS BERLANJUTㅤ"Tangan dan kakiku sering terasa sakit. Hatiku juga belum sembuh dari luka penyiksaan yang pernah aku alami. Aku tidak tahu kapan semua ini akan membaik."– Seorang perempuan Papua (korban penyiksaan)ㅤDitulis berdasarkan 18 kasus penyiksaan (5 kasus terjadi sebelum reformasi tahun 1998 dan 13 kasus yang terjadi setelahnya). Laporan ini merupakan catatan tindakan penyiksaan dan pelanggaran HAM dalam skala besar yang belum mendapatkan perhatian pemerintah Indonesia. Kasus-kasus ini menunjukkan impunitas yang mendarah daging terkait pelaku kekerasan yang berasal dari pemerintah sejak konflik di tahun 1963.ㅤPelanggaran, penyanggahan, dan impunitas telah membuat banyak orang Papua merasa kecewa. Ekspresi damai selalu ditangani dengan kekerasan, penahanan massal, dan penyiksaan. Alhasil, orang Papua merasa adanya ketidakadilan yang menimbulkan perpecahan semakin dalam, kebencian, dan keterasingan dari tujuan-tujuan kesatuan nasional.ㅤKedelapan belas kasus dalam laporan ini menyuguhkan contoh kecil dari pola kekerasan yang telah terjadi dan terus berlanjut hingga masa kini.ㅤTindakan penyiksaan secara fisik yang dilaporkan sebagai bagian dari penelitian ini tidak terbatas pada luka akibat diborgol, tendangan sepatu boots, luka bayonet, penelanjangan, setruman listrik, pemukulan dengan moncong senjata dan ekor ikan pari, penyeretan sepanjang jalan, perendaman dengan air kotor yang terkontaminasi dengan ulat serta sisa makanan, pemaksaan untuk minum air kolam yang terinfeksi bakteri, pemaksaan untuk minum air seni, pemerkosaan, pembakaran alat kelamin dengan lilin dan korek api, pengirisan kulit di sekitar organ kelamin dan penyiksaan seksual lainnya.ㅤSelain penyiksaan fisik di atas, para tahanan juga mengalami penyiksaan emosional, mental, dan psikologis melalui ancaman dan intimidasi, pelecehan verbal, pemaksaan untuk makan semut, penahanan di sel sempit, lembab, dan gelap yang mana mereka tidak dapat bergerak atau bernafas dengan baik, pelecehan di depan tahanan lainnya dan provokasi dengan melecehkan agama.ㅤMereka yang bersedia bercerita pada peneliti dalam laporan ini kebanyakan adalah laki-laki. Meski demikian, para korban perempuan yang selamat juga berbagi pengalaman mereka tentang berbagai bentuk penyiksaan yang mereka alami.ㅤ_________
| Penerbit | Bebaskan Buku |
|---|