Kesusasteraan Kurang Perhatian
Kadang-kadang, birokrasi kebudayaan adalah sebuah labirin tanpa pintu, di mana orang-orang lebih sering sibuk menghitung langkah ketimbang melihat arah. Dalam tulisan di majalah Siasat tahun 1953, Manthiqo seakan-akan sedang mengetuk sebuah meja yang teramat lelap di Jawatan Kebudayaan, seraya merenungkan "ketidakberesan" yang merundung kementerian pendidikan dan kebudayaan di masa itu. Di sana, ia menemukan sebuah ironi: begitu banyak badan yang dibentuk untuk mengurus kata-kata, namun kesusastraan justru menjadi yatim piatu yang "tidak diperhatikan sama sekali". Manthiqo bertanya-tanya, apakah para pejabat di sana hanya sedang menikmati "kursi-kursi enam langit" sembari membiarkan kepentingan daerah tercekik oleh pusat yang terlalu gemuk. Ini adalah sebuah deskripsi tentang kegelisahan akan perhatian yang macet, sebuah desakan agar organisasi kebudayaan bernapas kembali lewat reorganisasi, agar yang kreatif tak lagi sekadar menjadi surplus di bawah tumpukan kertas dinas yang dingin.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-23 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:f8d59916-b360-46e8-b1ed-b065c36341a2 |