Angkatan Muda dan Kebudayaan

Angkatan Muda dan Kebudayaan

Penulis: G. Siagian

Dalam "Angkatan Muda dan Kebudayaan" yang dimuat di majalah Siasat pada tahun 1953, G. Siagian memotret sebersit kegelisahan di sebuah republik yang masih belia, di mana kata "kebudayaan" sering kali digantikan oleh keluh kesah tentang "kemunduran". Siagian menatap barisan kaum terpelajar yang tampak gagah mengutip sajak "Aku" karya Chairil Anwar, namun ternyata gagap mengenali goresan Sudjojono atau komposisi musik Simanjuntak, seolah-olah gempita revolusi 1945 telah merosot menjadi sekadar pemujaan permukaan dan pengejaran ijazah yang hampa. Di tengah riuhnya hobi bertukar foto dan antrean bioskop pagi hari, esai ini tidak sekadar menghardik kemalasan pemuda, melainkan menggugat kegagalan sistem pendidikan dan pudarnya elan revolusioner yang belum sempat menemukan bentuk nasionalnya yang utuh. Pada akhirnya, tulisan ini meninggalkan kita pada sebuah renungan tentang vitalitas bangsa muda: mampukah potensi kreatif itu bertahan melewati masa-masa transisi yang menjemukan, ataukah ia hanya akan berakhir sebagai ledakan petasan yang sunyi di tengah pencarian identitas yang tak kunjung selesai?