Menyingkap Tabir “Dewan Banteng”

Menyingkap Tabir “Dewan Banteng”

Penulis: Nursuhud

Mungkin sejarah adalah sebuah panggung di mana topeng pembangunan dikenakan untuk menutupi wajah kekuasaan yang haus, dan di Sumatra Barat tahun 1950-an, tabir itu coba disingkap dengan kemarahan yang merah. Buku ini bukan sekadar risalah politik; ia adalah gumaman dari sebuah masa ketika "Dewan Banteng" dituduh sebagai fasisme yang bersalin rupa, sebuah warlordisme yang meminta otonomi ke atas namun menghujamkan birokrasi yang mencekik ke bawah. Di antara halaman-halamannya, kita seakan mencium aroma janji yang membusuk di halaman surat kabar—pembangunan satu juta rupiah yang hanya jadi hantu bagi negeri-negeri yang tetap miskin—sementara di sela-sela teror, terselip narasi tentang pahlawan yang menolak "menyerahisme" demi sebuah cita-cita yang dianggap lebih suci. Barangkali pada akhirnya, sebagaimana tiap polemik yang lahir dari rahim ideologi, ia adalah upaya untuk merebut ingatan: sebuah potret tentang bagaimana sebuah "komunitas yang dibayangkan" pecah berkeping di bawah laras bedil dan desakan kepentingan yang mengatasnamakan daerah namun, agaknya, tetap menyisakan tanya tentang siapa yang sebenarnya memiliki hak untuk bersuara.