Lesu; Kelesuan; Krisis; Impasse

Lesu; Kelesuan; Krisis; Impasse

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Sejarah sering kali dimulai dengan sebuah kehilangan, dan bagi kesusastraan kita, kepergian Chairil Anwar pada April 1949 seakan memantulkan bayang-bayang panjang yang kemudian disebut sebagai sebuah "mitos kelesuan". Pramoedya Ananta Toer, dalam catatannya di majalah Siasat pada 1957, merekam kegelisahan sebuah zaman yang terjebak di antara sisa-sisa impian muluk revolusi dan kegagapan menghadapi realitas sosial yang baru. Di sana, kata "krisis" dan "impasse" bukan sekadar istilah teknis dalam simposium para cendekiawan, melainkan cermin dari ketakutan sebuah generasi—mungkin juga manifestasi dari orientasi yang terlalu berkiblat ke Barat—yang mendadak merasa seperti anak yatim piatu karena kehilangan pegangan nilai tradisional. Namun, benarkah kreativitas bisa membatu hanya karena satu tokoh utama absen, ataukah apa yang disebut "jalan buntu" itu sebenarnya hanyalah proses wajar sebuah masyarakat yang sedang sibuk merumuskan perimbangan nilai-nilai baru di tengah pergolakan yang belum usai? Barangkali, di balik keriuhan perdebatan tentang macetnya roman dan puisi, tersimpan pertanyaan yang lebih sunyi: apakah kita benar-benar sedang menghadapi kemunduran kualitatif, ataukah kita hanya sedang kesulitan mengakui bahwa sejarah tak pernah berhenti tumbuh, bahkan ketika ia tampak diam membisu dalam transisi yang melelahkan?