Pengarang dan Intelektuil di Indonesia

Pengarang dan Intelektuil di Indonesia

Penulis: Sitor Situmorang

Agaknya, di sebuah pagi yang berkabut pada tahun 1953, Sitor Situmorang mengajak kita menelusuri lorong-lorong pemikiran yang ia sebut sebagai "amorf"—sebuah ruang di mana kebudayaan kita masih retak, guyah, dan terumbang-ambing di antara riuh rendahnya pengaruh global. Dalam esainya ini, ia tak sekadar meratapi absennya "roman besar" atau kegagalan revolusi, melainkan menyidik tajam potret manusia Indonesia yang terperangkap dalam "pembukuan moral ganda" dan intelektualisme yang sering kali baru sampai pada tahap pengumpulan kutipan tanpa keberanian menguji relativitas simbol. Ada semacam keresahan yang tenang di sini: sebuah peringatan bahwa ketika seorang "intelektuil" terjebak dalam kompromi politik demi nafkah, ia terancam kehilangan akurasi kebenaran yang paling dasar, seperti 2x2=4. Namun, Sitor tetap membiarkan sebuah pintu terbuka bagi kesenian dan kesusastraan sebagai jembatan yang mencegah nalar menjadi mandul, menjaga agar manusia tidak hanya menjadi sekadar butir angka dalam program yang beku, dan memelihara hubungan kita dengan kehidupan yang penuh nuansa.