Menuju Indonesia Baru

Menuju Indonesia Baru

Penulis: D. N. Aidit

Sejarah sering kali hadir sebagai sebuah upaya untuk merapikan puing, dan di sebuah malam di Gedung Kesenian Jakarta pada Mei 1953, D.N. Aidit mencoba menyusun sebuah arsitektur dari harapan dan kemarahan melalui pidatonya. Di dalam naskah Menuju Indonesia Baru, kita bersua dengan sebuah suara yang tak hendak ragu: ia memetakan tanah air sebagai sebuah rumah yang dianggapnya masih "setengah jajahan," di mana kedaulatan hanyalah selapis cat tipis yang menutupi karat kolonialisme dan jerat utang yang tetap mencengkeram. Di sana, revolusi bukan sebuah upacara yang telah selesai, melainkan sebuah "jalan baru" yang menuntut perhitungan keras terhadap apa yang ia sebut sebagai para pengkhianat nasional dan sisa-sisa feodalisme yang membiarkan petani tetap dalam kedudukan hamba. Ia menawarkan sebuah "Front Persatuan Nasional," sebuah desain besar di mana klas buruh menjadi pemandu bagi massa yang lelah, menjanjikan sebuah fajar "Demokrasi Rakyat" sebagai jawaban atas kemelaratan yang kronis. Namun, di balik barisan kalimat yang militan itu, kita tetap diingatkan bahwa setiap upaya untuk mengunci makna tentang masa depan selamanya akan bergelut dengan realitas yang sering kali lebih rumit daripada sekadar garis lurus teori.