Krisis Indonesia Dewasa Ini
Di tengah keriuhan pasca-revolusi, sebuah suara anonim muncul pada tahun 1954 untuk membedah anatomi penyakit bangsa yang ia sebut sebagai puncak dari sebuah ketidakwajaran. Esai ini mengajak kita menelusuri tujuh lapangan kehidupan—dari ekonomi yang tersendat hingga agama yang dianggap membeku—bukan sebagai gejala yang terpisah, melainkan sebagai satu tarikan napas dari krisis kebudayaan yang lebih mendalam dalam jiwa manusia Indonesia. Penulisnya melihat bayang-bayang sejarah yang traumatis, di mana infiltrasi nilai-nilai asing melalui celah penjajahan telah menciptakan keretakan dalam cara kita berpikir dan merasa terhadap dunia di luar pintu. Di sana, penderitaan masyarakat bukan hanya masalah angka atau kebijakan teknis, melainkan soal bagaimana kesadaran yang dulu meledak dalam optimisme proklamasi perlahan meredup menjadi letargi dan pergeseran psikis dari memberi menjadi meminta. Tanpa menawarkan resep ajaib yang instan, tulisan ini berdiri sebagai pengingat bahwa di ujung lorong yang gelap ini, hanya sebuah penemuan kembali atas tanggung jawab dan kesadaran diri yang sanggup merajut kembali serpihan identitas yang tercerai-berai demi sebuah masa depan yang jaya.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-26 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:3b648897-275f-4970-bb23-464d9115f2b6 |