Mengapa "Konfrontasi"?
Mungkin sejarah adalah sebuah proses penemuan diri yang tak pernah tuntas, dan di tahun 1954, Soedjatmoko merumuskan "konfrontasi" bukan sebagai pekik peperangan, melainkan sebagai keberanian batin untuk menatap dunia yang sedang berubah dengan mata terbuka. Ia mencatat adanya sebuah krisis yang mengintai di balik kemeriahan kemerdekaan—sebuah kekosongan yang menanti untuk diisi oleh kesadaran kreatif atau justru akan membinasakan kita dalam ketidakpastian. Esai ini mengajak kita, terutama para pencipta dan pemikir, untuk memikul tanggung jawab individu di tengah kegalauan kolektif, menolak untuk sekadar menjadi penonton pasif di hadapan arus modernitas yang deras. Pada akhirnya, "Konfrontasi" adalah sebuah undangan untuk memasuki arena dialektika antara identitas nasional, pengaruh global, dan sisa-sisa masa lalu, di mana setiap huruf yang ditulis dan setiap garis yang digores menjadi sebuah pernyataan kedaulatan manusia Indonesia yang menolak untuk bungkam.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-26 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:6193e465-feb5-4f9e-8747-bcb2d35c8134 |