Daya Khayal & Daya Cipta dalam Kesusasteraan
Barangkali kenyataan, sebagaimana yang kita raba setiap hari, sebenarnya hanyalah seonggok benda mati yang bisu dan terserak apabila ia tidak disentuh oleh sesuatu yang lebih mendalam. Pramoedya Ananta Toer, dalam sebuah risalah yang terbit di majalah Siasat pada awal 1950-an, mengajak kita merenungi bahwa kebijaksanaan dan kecerdasan saja tidaklah cukup bagi manusia; tanpa fantasi, hidup hanya akan menjadi dangkal dan kering. Melalui gaya penuturan yang serius namun menggugah, ia membedah rahasia di balik kekuatan kesusastraan yang mampu membuat pembacanya merasakan gairah yang "lebih benar" ketimbang realitas darah dan daging. Di sana, kita diperkenalkan pada dualitas antara daya khayal—sebuah proses pengosongan diri yang menyulap benda beku menjadi hidup—dan daya cipta yang membawa hasil imajinasi itu kepada masyarakat luas. Pramoedya seolah mengingatkan bahwa kemerdekaan sebuah bangsa pun tidak dimulai dari perhitungan statistik yang dingin, melainkan dari khayalannya. Namun, terselip pula sebuah melankoli: bahwa sementara imajinasi adalah kekuatan yang tak dapat diancam, daya cipta manusia selamanya rentan, sering kali terhimpit di antara gairah kreatif dan urusan perut yang lapar.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-20 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:12ece523-8d3c-4bd8-88ab-582973f0a90a |