Inilah Kesusasteraan Indonesia
Dalam esai "Inilah Kesusasteraan Indonesia" karya Zain Luwis, kita dipertemukan dengan sosok seorang tukang agenda—sebuah titik renik di tengah labirin birokrasi kementerian—yang mendadak berhadapan dengan sebuah impian dari Paris. Melalui selembar surat dari UNESCO, sebuah pertanyaan tentang apa yang "representatif" dan "universal" dari kesusastraan sebuah republik muda bernama Indonesia pun mendarat di atas meja kerjanya yang penuh bagan personalia. Ada ketegangan yang liris sekaligus satir ketika sang pencatat mulai membayangkan deretan nama sastrawan besar yang seharusnya layak naik ke panggung dunia, namun ia justru terhenyak mendapati bagaimana otoritas global dan birokrasi lokal memilih untuk meringkas wajah sebuah bangsa. Tulisan ini akhirnya menjadi sebuah potret tentang jarak antara harapan modernitas dan kenyataan arsip; sebuah pengingat bahwa dalam proses "menjadi Indonesia", sering kali terjadi salah baca yang ganjil, di mana keriuhan kata-kata para pendobrak zaman justru tenggelam oleh pilihan-pilihan yang lebih memilih untuk diam dalam tradisi yang telah dibekukan oleh pandangan luar.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-22 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:627c1cb1-6337-4beb-8e09-b29bd0a320cb |