Cara Berpikir yang Statis Membawa Kita ke Jalan Buntu

Cara Berpikir yang Statis Membawa Kita ke Jalan Buntu

Penulis: Sutan Takdir Alisjahbana

Di sebuah persimpangan yang sunyi, barangkali kita adalah pejalan yang mendadak berhenti karena ngeri melihat bayangan sendiri. Sutan Takdir Alisjahbana, dalam risalah yang ditulisnya di awal tahun 1950-an, melihat kegentaran itu sebagai sebuah impasse: sebuah jalan buntu yang lahir dari cara berpikir yang statis. Di satu sisi, ada mereka yang memeluk masa lalu seakan-akan waktu bisa dibekukan dalam sebuah guci antik; di sisi lain, ada kaum muda yang memuja kemajuan Eropa dan Amerika sebagai berhala yang sudah jadi, lupa bahwa ide-ide besar—entah itu dari Marx atau Picasso—pun adalah anak-anak dari ruang dan waktu yang spesifik. Takdir tidak mengajak kita untuk membuang jangkar atau memutus tali layar; ia justru menuntut sebuah keberanian untuk berpikir dinamis, sebuah laku yang melihat hidup sebagai perubahan yang tiada berkesudahan. Sebab, bagi Takdir, sejarah bukanlah sebuah mumi yang diletakkan di dalam piramida, melainkan sebuah percakapan yang harus terus ditulis ulang agar kita tak hanya menjadi beo di tengah dunia yang terus bergerak.