Kegiatan Tanpa Essay
Barangkali kita memang sering terperangah di depan tumpukan kata-kata, seperti ketika H.B. Jassin menyerukan agar para penulis "terus bekerja" untuk menampik bayang-bayang krisis yang menghantui sastra di tahun 1954. Namun, S.M. Ardan melihat sebuah keganjilan: sebuah angkatan terbaharu yang seakan-akan cuma menafsirkan satu sisi dari titah sang "Paus Sastra" itu. Mereka menulis sajak dan cerita pendek dengan deras, seolah-olah hidup hanya butuh ritme dan imajinasi, namun melupakan satu kaki yang lain: kritik dan esai. Di sana, di antara timbunan "sastra majalah" yang membanjir, hadir sebuah kesunyian yang mencemaskan—suatu keriuhan tanpa refleksi yang membuat hasil cipta itu seakan dalu begitu saja tanpa arah yang bisa diraba. Sejarah sastra akhirnya tampak seperti seorang pelintas jalan yang bergegas namun pincang, sebab kreativitas tanpa percakapan intelektual hanyalah sebuah gerak yang mungkin tak kunjung sampai di sebuah alamat.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-26 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:0f843654-d364-460c-b8aa-98129f624de9 |