Situasi 1954: Mythe Kelesuan
Dalam lanskap tahun 1954 yang dibayangi keluhan tentang sepi, Nugroho Notosusanto mencoba menyibak tirai yang ia sebut sebagai "mitos kelesuan"—sebuah kegelisahan kolektif yang meratapi hilangnya api revolusi di atas lembaran kertas. Ia menatap sejarah bukan sebagai garis lurus kemerosotan, melainkan sebuah pergulatan yang berpindah medan: dari gema pekik merdeka yang agung ke sela-sela kolom majalah yang riuh, tempat di mana gairah baru sebenarnya tengah berdenyut di luar jangkauan mata yang hanya terpaku pada keemasan masa silam. Esai ini menjadi sejenis gugatan terhadap pesimisme yang dianggapnya sebagai "mode", sebuah pengingat bahwa di balik nostalgia yang menyucikan zaman revolusi sering kali tersimpan cacat yang terlupakan, sementara di hari-hari yang dianggap "lesu" itu, benih-benih pembaruan sedang bersiap untuk mekar tanpa harus menjadi sekadar replika dari kenangan para pendahulu.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-26 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:06d7b10a-1a59-4209-a93f-a29efee92bb9 |