Impasse dalam Kesusasteraan Kita Cara Sekarang

Impasse dalam Kesusasteraan Kita Cara Sekarang

Penulis: Irwin Daulay

Mungkin kita perlu sesekali bertanya, kapankah sebuah kreativitas berhenti menjadi sebuah penjelajahan dan hanya menjadi sebuah impasse, sebuah jalan buntu di mana waktu seakan berhenti dan aksara hanya berupa gema dari gema yang lain. Di tahun 1953, Irwin Daulay mencatat kelesuan itu dalam rimba majalah sastra seperti Zenith dan Siasat yang pernah riuh, namun kini tampak dihinggapi penyakit epigonisme dan snobisme yang menyesakkan. Ada semacam kecemasan ketika para pujangga besar memilih diam atau menepi ke dalam dongeng kanak-kanak, sementara para penulis muda tampak kehilangan kemandirian batin di tengah serbuan pengaruh filsafat eksistensialisme yang datang dari seberang lautan. Kita menyaksikan bagaimana sosok asing seperti Camus dipeluk sedemikian erat hingga sang penulis kehilangan weerstand, seolah-olah mengabaikan akar dan alam pikiran moyangnya sendiri demi menjadi replika yang tak utuh. Pada akhirnya, tulisan ini menjadi sebuah cermin yang menunjukkan bahwa ketika ketegangan kreatif merosot dan jurnalisme sastra hanya menjadi pemamah-biak istilah, kesusastraan hanyalah sebuah pengulangan yang lelah yang tak lagi sanggup menggetarkan hati.