Tentang Masalah Perdagangan Bebas

Tentang Masalah Perdagangan Bebas

Penulis: Karl Marx

Mungkin kebebasan adalah sebuah kata yang paling sering disalahpahami, atau barangkali sengaja disamarkan di balik retorika ekonomi yang necis. Dalam sebuah balairung di Brussel pada musim dingin 1848, Karl Marx berdiri dan menguliti apa yang ia sebut sebagai "kebebasan modal" yang menyamar di balik wajah manis perdagangan bebas. Baginya, janji tentang roti murah bagi si lapar bukanlah sebuah bentuk kedermawanan, melainkan sebuah kalkulasi dingin yang memastikan bahwa di bawah bayang-bayang jatuhnya harga gandum, upah buruh akan senantiasa terseret jatuh hingga batas minimum untuk sekadar bernapas. Sejarah, dalam kacamata sang pemikir ini, bukanlah sebuah harmoni yang dirancang oleh "tangan yang tak terlihat" menuju kemakmuran universal, melainkan sebuah proses yang menajamkan antagonisme kelas hingga titik yang paling ekstrem. Di sana, perdagangan bebas diterima bukan karena ia membawa kedamaian, melainkan karena perannya sebagai palu godam yang membongkar batas-batas nasionalitas lama dan memicu percepatan revolusi sosial—sebuah momentum yang ia sambut dengan persetujuan yang ganjil, seakan-akan kebebasan sejati hanya bisa ditemukan setelah segala topeng filantropi lama diruntuhkan oleh keganasan pasar itu sendiri.