Watak Politik Gerakan Serikat Buruh Indonesia

Watak Politik Gerakan Serikat Buruh Indonesia

Penulis: Iskandar Tedjasukmana

Mungkin kita sering membayangkan buruh hanyalah sekrup yang berputar di mesin-mesin, atau angka-angka yang berbaris di dalam neraca laba-rugi perusahaan. Namun Iskandar Tedjasukmana, dalam studinya yang tajam ini, mengajak kita menengok ke belakang, ke sebuah masa ketika deru pabrik dan pekik kereta api di Semarang adalah bagian dari sebuah orkestra politik yang lebih besar dari sekadar urusan sup dan upah. Di sini, serikat-serikat buruh tidak lahir di ruang hampa; mereka adalah anak-anak revolusi yang menyusui pada berbagai puting ideologi—mulai dari dialektika Marxis yang dingin, napas nasionalisme yang bergelora, hingga gema Sabda dalam perjuangan sosial. Buku ini membedah bagaimana tangan-tangan yang memegang palu itu juga ikut memegang kemudi sejarah, di mana organisasi massa bukan sekadar perhimpunan, melainkan "sekolah" tempat jati diri sebuah bangsa diuji di tengah ketegangan antara kepentingan privat dan imajinasi kolektif. Pada akhirnya, kita pun bertanya-tanya: mampukah kerja dilepaskan dari "yang-politik" ketika setiap tetes keringat di bumi ini seakan-akan mengandung jejak perlawanan terhadap kolonialisme yang belum sepenuhnya usai?