Kobarkan Semangat Banteng! Maju Terus, Pantang Mundur!

Kobarkan Semangat Banteng! Maju Terus, Pantang Mundur!

Penulis: D. N. Aidit

Desember 1963, dan Jakarta barangkali sedang gerah ketika D.N. Aidit berdiri membacakan sebuah dokumen yang mencoba merangkum amarah dan arah sebuah zaman. Dalam Kobarkan Semangat Banteng! Maju Terus, Pantang Mundur!, kita bersua dengan sebuah masa yang meyakini bahwa sejarah bisa dikemudikan oleh kehendak revolusioner yang tak kenal bimbang, di mana kenyataan pahit tentang “perut yang bergeser ke kanan” harus dipaksa mengikuti “politik yang bergeser ke kiri”. Laporan politik ini adalah sebuah peta tentang tekad: sebuah seruan untuk landreform yang tanpa ampun, sebuah gertak untuk mengganyang “Malaysia”, dan sebuah hasrat untuk membangun rumah besar Nasakom yang dianggap akan jadi pelindung dari badai imperialisme. Di sana, “Semangat Banteng” bukan sekadar metafora, melainkan sebuah jimat untuk percaya pada kekuatan sendiri, sebuah upaya untuk mengintegrasikan gerakan kaum buruh dengan keringat petani di pematang. Namun, membaca baris-baris yang penuh dengan “Tritugas” dan “Tiga Baik” ini sekarang, kita mungkin akan bertanya: adakah dalam derap yang begitu rampak tersisa sebuah ruang bagi kebimbangan, ataukah bahasa kekuasaan pada akhirnya hanyalah sebuah narasi yang tak membiarkan seorang pun berhenti sejenak untuk sekadar ragu?