Upah, Harga dan Laba

Upah, Harga dan Laba

Penulis: Karl Marx

Mungkin sejarah tak pernah berupa garis lurus yang necis, sebagaimana yang dibayangkan oleh mereka yang memuja angka dan neraca. Dalam Upah, Harga dan Laba, Karl Marx hadir bukan sekadar sebagai seorang pemikir yang garang, melainkan sebagai seorang pejalan yang ingin membedah apa yang tersirat di balik pekik para buruh di tengah wabah pemogokan. Ia mengajak kita menatap lebih dalam ke sela-sela mesin dan keringat, di mana sebuah rahasia disembunyikan: bahwa apa yang diperjualbelikan di pasar bukanlah "kerja" sebagai benda mati, melainkan sejenis daya yang hidup—sebuah "tenaga bekerja" yang nilainya tak lebih dari sekadar penyambung nyawa agar esok ia bisa kembali diperah. Di sana, laba seakan-akan muncul dari sulap harga atau kemauan semu para tauke, padahal ia lahir dari jam-jam yang membisu, saat tangan-tangan itu menghasilkan nilai-lebih yang tak pernah dibayar oleh sang majikan. Pada akhirnya, risalah ini adalah sebuah peringatan yang lirih namun gigih: bahwa perlawanan sehari-hari terhadap tekanan modal memang keniscayaan sejarah yang tak terelakkan agar manusia tak menjadi sekadar kuda beban, namun di ujung cakrawala yang jauh, yang dirindukan bukanlah sekadar upah yang adil, melainkan terhapusnya seluruh pagar sistem upah itu sendiri.