Kewajiban yang Tak Boleh Ditunda
Esai ini bermula dari sebuah kegelisahan yang lazim di tahun 1954: sebuah tanya tentang "krisis" yang seakan menjadi hantu yang mengetuk setiap pintu diskusi para intelektual kita. Boejoeng Saleh, dalam menyahut pemikiran Sujatmoko, tidak melihat kemacetan itu pada barisan kata di atas kertas atau pada imajinasi yang sedang layu, sebab baginya kesusastraan hanyalah pejalan yang baru saja menaruh tapak kakinya di awal perjalanan panjang seratus ribu mil. Persoalannya bukanlah pada puisi yang kehilangan ruh, melainkan pada sebuah sistem sosial yang dipaksakan masuk ke tubuh Republik—sebuah bibit asing yang membuat masyarakat kita meriang dan revolusi nasional seakan kehilangan arah kompasnya. Maka "kewajiban" yang tak boleh ditunda itu bukanlah perkara memoles diksi, melainkan sebuah ikhtiar mendesak untuk meniadakan jarak antara kenyataan yang buruk dan kebutuhan obyektif rakyat, mengembalikan revolusi ke tujuannya yang semula: kemakmuran yang merata dan kemerdekaan yang paripurna. Karena mungkin, seperti sering diingatkan dalam catatan-catatan di pinggir sejarah, tanpa rumah yang adil dan berdaulat, kata-kata indah hanyalah gema yang tersesat di tengah kepicikan tatanan yang sedang retak.
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-26 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:f9dc5ec4-c1f6-4df6-8475-52cfeaf71d4e |