Pertemuan di Garis Iseng
Dalam sebuah bilik di mana pilek dan demam mengepung, Sitor Situmorang menuliskan sebuah surat kepada Mokhtar Apin yang bukan sekadar kabar sakit, melainkan sebuah pengembaraan ke arah "keisengan" yang gawat. Ia menanggapi keriuhan kritik H.B. Jassin tentang nasib sastra tahun 1952 dengan sebuah kesadaran bahwa mencipta bukanlah sebuah peristiwa rutin seperti menanam kol yang bisa diatur oleh "kebijaksanaan" otoritatif sang kritikus. Baginya, ada "iseng" yang sepele sebagai pemuas status, namun ada pula "iseng" yang menjadi permainan hidup-mati dalam proses kelahiran karya—sebuah kondisi manusia yang barangkali mendekati absurditas, di mana batasan baik dan buruk tak lagi bisa dipilah secara kaku. Sitor menampik sikap sang kritikus yang seolah-olah bertindak sebagai guru yang hendak mengangkat penulis lain dari kubang, sebab baginya kebenaran kreatif justru seringkali bersembunyi dalam kebisuan dan pencarian naluri penyair yang tak pernah selesai diucapkan. Di akhir petualangan batinnya yang ringkas itu, ia seolah menggugat: jika Tuhan sendiri membiarkan semesta lahir dalam sebuah keisengan yang agung, bukankah kemerdekaan manusia justru terletak pada bagaimana ia mengolah sisa waktu dan kegelisahannya sebelum maut menjemput dalam sepi?
| Penerbit | MasasilaM |
|---|---|
| Tahun | 2026-06-22 |
| Bahasa | ind |
| Pengenal | BookId: urn:uuid:1c9ba244-039a-4d6a-909d-258278f9436a |