Kehidupan Kesusasteraan Perlu Dipelihara

Kehidupan Kesusasteraan Perlu Dipelihara

Penulis: Soebagio Sastrowardojo

Mungkin benar kata Sapir bahwa bahasa adalah udara yang kita isap setiap detik—begitu niscaya hingga kita sering alpa akan harganya. Soebagio Sastrowardojo, dalam esainya, mengajak kita berhenti sejenak untuk menatap sebuah kontradiksi: sebuah kemajuan sastra modern yang tampak gagah di buku pelajaran, namun seakan menjadi noktah yang asing dan sunyi di tengah lautan manusia yang acuh tak acuh. Ia membentangkan kegelisahan tentang jurang yang menganga antara para intelektual yang terlampau silau oleh bayang-bayang Barat dan rakyat yang mulai kehilangan pegangan batinnya karena bahasa daerah mereka dibiarkan meranggas tanpa pupuk rohani. Baginya, kesusasteraan adalah sebuah ikhtiar untuk mengangkat manusia ke arah kemanusiaan yang sejati, sebuah proses yang hanya mungkin terjadi jika kata-kata tak lagi terpenjara dalam eksklusivitas. Namun, seraya menutup catatannya, kita pun tertinggal dalam sebuah momen ragu yang khas: mungkinkah sebuah bangsa benar-benar bisa tumbuh tanpa amnesia sejarah, jika jembatan antara pujangga dan rakyatnya kian hari kian rapuh?