Karena terlalu sibuk terlibat dalam perjuangan untuk perubahan sosial yang radikal—dalam pengertian libertarian—, para anarkis terkadang hanya menyisihkan sedikit perhatian saja untuk mempreservasi memori mereka sendiri, khususnya yang terakumulasi dalam dokumen tertulis (walau ada pengecualian bagi beberapa, sebagai contoh, bibliografer dan bibliofil seperti Max Nettlau, lalu yang berasal dari Italia ada Pier Carlo Masini dan Ugo Fedeli). Di samping kurang diperhatikannya peran dari memori bersejarah dalam pembentukan identitas politik yang kuat, terdapat faktor-faktor lain yang berkontribusi pada menghilangnya sebagian besar warisan dokumen bersejarah ini. Tentu saja, sejarah para aktivis yang begitu kelam (menjadi target penggeledahan, berulangkali ditangkap, diasingkan, dll.), telah menjadi faktor penghambat bagi pertumbuhan arsip dan koleksi pribadi. Kehati-hatian yang bijaksana dan ketakutan akan jatuh ke dalam jaring represifitas bertanggung jawab pada munculnya kecenderungan untuk menghancurkan hal-hal yang dapat dijadikan barang bukti dan merepotkan individu yang melakukan aktivitas politik, aktivitas yang seringkali dicap sebagai pelanggaran hukum. Yang terakhir, dan tak kalah penting, secara umum terdapat ketidakpercayaan terhadap hal-hal yang berbau “museumifikasi”, seolah-olah dokumen-dokumen yang ada lebih cenderung membawa beban ketimbang keberkahan.
Perkakas yang digunakan untuk propaganda dan pendiseminasian gagasan (flayer, brosur, koran, buku-buku) memiliki posisi yang sejajar dengan saluran komunikasi yang dilakukan secara lisan, yang menjadi pembentuk keberlangsungan budaya politik para aktivis—dan secara umum ditujukan untuk pengunaan sesegara mungkin. Meski publikasi-publikasi yang ada sering dicetak dan didistribusikan, para anarkis kerap mengabaikan repositori publikasi tersebut di perpustakaan, sehingga tak lama setelah dicetak dan didistribusikan, publikasi tersebut menjadi sulit untuk ditemukan di rak-rak perpustakaan yang dikelola oleh kelompok dan klub anarkis atau libertarian, sementara di saat yang bersamaan, secara paradoks publikasi tersebut justru disimpan dengan penuh kehati-hatian dalam arsip kepolisian.
Description: