Adapun seorang pesimis misantropis, ia tidak mengeluh. Dia tidak menganggap kondisi manusia sebagai sesuatu yang tragis, ia tidak bangkit melawan takdir. Dia mengamati orang-orang sezamannya dengan rasa ingin tahu, tanpa belas kasihan menganalisis perasaan dan pikiran mereka dan terhibur oleh keangkuhan mereka, kesombongan mereka, kemunafikan mereka, atau kejahatan yang tak disadarinya, oleh kelemahan intelektual dan moral mereka. Ini bukan lagi rasa sakit manusia, bukan lagi penyakit hidup yang membentuk tema pesimisme ini, melainkan kejahatan dan kebodohan manusia. Salah satu motif utama pesimisme macam ini bisa jadi adalah ayat terkenal ini: “Binatang yang paling bodoh adalah manusia”.
Description:
Adapun seorang pesimis misantropis, ia tidak mengeluh. Dia tidak menganggap kondisi manusia sebagai sesuatu yang tragis, ia tidak bangkit melawan takdir. Dia mengamati orang-orang sezamannya dengan rasa ingin tahu, tanpa belas kasihan menganalisis perasaan dan pikiran mereka dan terhibur oleh keangkuhan mereka, kesombongan mereka, kemunafikan mereka, atau kejahatan yang tak disadarinya, oleh kelemahan intelektual dan moral mereka. Ini bukan lagi rasa sakit manusia, bukan lagi penyakit hidup yang membentuk tema pesimisme ini, melainkan kejahatan dan kebodohan manusia. Salah satu motif utama pesimisme macam ini bisa jadi adalah ayat terkenal ini: “Binatang yang paling bodoh adalah manusia”.