Mungkin sejarah memang bermula dari sebuah kekhilafan yang gemetar, atau setidaknya, sebuah pelarian dari bayang-bayang hukum yang membeku. Dalam Bahwa Ini Hikayat Jahidin, kita bersua dengan seorang anak dari dusun Pesauran yang terlempar dari keteduhan sawah dan ternak menuju riuhnya Betawi dan Singapura, lalu terhanyut oleh badai ke pantai-pantai asing Jepang hingga rimba tanah Pua-pua. Ia membawa beban rahasia sebuah "dosa" masa kecil yang disangkanya telah memutus tali hidup sesamanya, sebuah trauma yang menjelma menjadi kompas bagi pengembaraannya yang sunyi. Perjalanan ini bukan sekadar petualangan seorang pelaut yang mencari ganti rugi atas nasib, melainkan sebuah fragmen tentang bagaimana dunia yang luas—dengan mesin kapal api, tipu daya perniagaan, dan wajah-wajah "liyan" yang tak terduga—perlahan-lahan menyentuh dan merombak kesadaran seorang bocah gembala. Di antara debu jalan raya dan buih samudra, Jahidin adalah sosok yang belajar bahwa jati diri tak pernah selesai dipatok di satu tempat, melainkan sebuah proses "menjadi" yang tak kunjung usai, sebuah hikayat yang membisikkan bahwa setiap kejauhan pada akhirnya adalah jalan panjang untuk memahami kembali arti rumah dan kerendahan hati di hadapan misteri nasib.
Description:
Mungkin sejarah memang bermula dari sebuah kekhilafan yang gemetar, atau setidaknya, sebuah pelarian dari bayang-bayang hukum yang membeku. Dalam Bahwa Ini Hikayat Jahidin, kita bersua dengan seorang anak dari dusun Pesauran yang terlempar dari keteduhan sawah dan ternak menuju riuhnya Betawi dan Singapura, lalu terhanyut oleh badai ke pantai-pantai asing Jepang hingga rimba tanah Pua-pua. Ia membawa beban rahasia sebuah "dosa" masa kecil yang disangkanya telah memutus tali hidup sesamanya, sebuah trauma yang menjelma menjadi kompas bagi pengembaraannya yang sunyi. Perjalanan ini bukan sekadar petualangan seorang pelaut yang mencari ganti rugi atas nasib, melainkan sebuah fragmen tentang bagaimana dunia yang luas—dengan mesin kapal api, tipu daya perniagaan, dan wajah-wajah "liyan" yang tak terduga—perlahan-lahan menyentuh dan merombak kesadaran seorang bocah gembala. Di antara debu jalan raya dan buih samudra, Jahidin adalah sosok yang belajar bahwa jati diri tak pernah selesai dipatok di satu tempat, melainkan sebuah proses "menjadi" yang tak kunjung usai, sebuah hikayat yang membisikkan bahwa setiap kejauhan pada akhirnya adalah jalan panjang untuk memahami kembali arti rumah dan kerendahan hati di hadapan misteri nasib.