Di sebuah masa ketika kata-kata ingin membedah nasib, buku ini hadir seakan sebuah peta yang yakin—sebuah risalah yang mencoba menangkap deru mesin sejarah yang tak kunjung berhenti. Barangkali, bagi mereka yang menyusunnya, masyarakat bukan sekadar tumpukan kebetulan yang sunyi, melainkan sebuah gerak yang patuh pada hukum-hukum materiil, di mana cara manusia menghasilkan sesuap nasi dan selembar pakaian menjadi fondasi bagi seluruh mimpi-mimpi rohani mereka. Sejarah pun dipaparkan sebagai rangkaian babak yang niscaya, sebuah perjalanan dari komune yang bersahaja hingga impian besar tentang tatanan yang tanpa pengisapan, di mana revolusi dipandang sebagai lokomotif yang menyeret gerbong kemanusiaan keluar dari kungkungan hubungan-hubungan produksi yang telah lapuk. Mungkin di sana tersimpan sebuah kepastian yang tegar tentang arah esok, namun di hadapan narasi besar tentang perkembangan dunia ini, kita pun diingatkan bahwa di tanah air yang tengah mencari bentuknya, setiap jalan menuju pembebasan adalah sebuah ikhtiar yang belum selesai—sebuah proses yang terus bertanya-tanya, di antara dialektika yang bergulir, kapankah martabat manusia benar-benar akan tegak seutuhnya.
Description:
Di sebuah masa ketika kata-kata ingin membedah nasib, buku ini hadir seakan sebuah peta yang yakin—sebuah risalah yang mencoba menangkap deru mesin sejarah yang tak kunjung berhenti. Barangkali, bagi mereka yang menyusunnya, masyarakat bukan sekadar tumpukan kebetulan yang sunyi, melainkan sebuah gerak yang patuh pada hukum-hukum materiil, di mana cara manusia menghasilkan sesuap nasi dan selembar pakaian menjadi fondasi bagi seluruh mimpi-mimpi rohani mereka. Sejarah pun dipaparkan sebagai rangkaian babak yang niscaya, sebuah perjalanan dari komune yang bersahaja hingga impian besar tentang tatanan yang tanpa pengisapan, di mana revolusi dipandang sebagai lokomotif yang menyeret gerbong kemanusiaan keluar dari kungkungan hubungan-hubungan produksi yang telah lapuk. Mungkin di sana tersimpan sebuah kepastian yang tegar tentang arah esok, namun di hadapan narasi besar tentang perkembangan dunia ini, kita pun diingatkan bahwa di tanah air yang tengah mencari bentuknya, setiap jalan menuju pembebasan adalah sebuah ikhtiar yang belum selesai—sebuah proses yang terus bertanya-tanya, di antara dialektika yang bergulir, kapankah martabat manusia benar-benar akan tegak seutuhnya.