Dalam risalah pendek yang ditulis di Yogyakarta pada tahun 1950 ini, T. Sumarjo mengajak kita menatap kegelisahan yang membayang di balik kanvas S. Sudjojono, sang "Bapak Seni Lukis Indonesia Baru" yang tengah melancarkan kampanye "Realisme". Buku ini bukanlah sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah interogasi terhadap sebuah niat: apa yang terjadi ketika seorang seniman yang lahir dari kancah gerilya menuntut agar "sendok digambar persis seperti sendok" dan "lincak seperti lincak"? Sumarjo curiga bahwa dalam gairah revolusioner itu, Sudjojono telah tergelincir mencampuradukkan realisme dengan naturalisme—sebuah upaya yang mungkin hanya akan menjadikan pelukis sebagai budak realitas kasat mata dan menepikan kebenaran batin yang lebih dalam. Dengan nada yang sesekali tajam namun tetap menghormat, penulis mempertanyakan apakah sebuah "diploma" teknik boleh menggantikan potensi jiwa dan inteligensi, seraya memperingatkan kita bahwa keindahan tak pernah bisa diselesaikan hanya dengan ketertiban garis dan kepatuhan pada dogma, bahkan di tengah gemuruh pembangunan sebuah bangsa yang sedang mencari "corak definitif" jati dirinya.
Description:
Dalam risalah pendek yang ditulis di Yogyakarta pada tahun 1950 ini, T. Sumarjo mengajak kita menatap kegelisahan yang membayang di balik kanvas S. Sudjojono, sang "Bapak Seni Lukis Indonesia Baru" yang tengah melancarkan kampanye "Realisme". Buku ini bukanlah sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah interogasi terhadap sebuah niat: apa yang terjadi ketika seorang seniman yang lahir dari kancah gerilya menuntut agar "sendok digambar persis seperti sendok" dan "lincak seperti lincak"? Sumarjo curiga bahwa dalam gairah revolusioner itu, Sudjojono telah tergelincir mencampuradukkan realisme dengan naturalisme—sebuah upaya yang mungkin hanya akan menjadikan pelukis sebagai budak realitas kasat mata dan menepikan kebenaran batin yang lebih dalam. Dengan nada yang sesekali tajam namun tetap menghormat, penulis mempertanyakan apakah sebuah "diploma" teknik boleh menggantikan potensi jiwa dan inteligensi, seraya memperingatkan kita bahwa keindahan tak pernah bisa diselesaikan hanya dengan ketertiban garis dan kepatuhan pada dogma, bahkan di tengah gemuruh pembangunan sebuah bangsa yang sedang mencari "corak definitif" jati dirinya.