Kokki Bitja: Atau Kitab Masak-Masakan India, yang Baharu dan Samporna, yang Telah Tersebut di Dalamnya Bagimana Orang-Orang Sediakan Segala Rupa-Rupa Makanan, Manisan, Acaran, Sambalan dan Ijs
Dalam sebuah belanga tua di Batavia abad ke-19, seolah-olah "asam di gunung dan garam di laut" sedang merayakan pertemuan yang tak terduga: Kokki Bitja bukan sekadar catatan praktis tentang bagaimana sepotong babi diolah menjadi cico atau bagaimana marasquin dan anggur champagne bertemu dalam dinginnya es. Melalui baris-baris bahasa Melayu yang masih berbau "pasar"—dengan ejaan yang kini terasa ganjil namun jujur—Nonna Cornelia sebenarnya sedang menyusun sebuah monumen tentang rasa yang tak hendak berhenti pada satu identitas tunggal, sebuah "ikhtiar yang tak pernah selesai" dalam memadukan selera. Kitab ini adalah sebuah jejak tentang sebuah masyarakat yang sedang belajar mengeja diri mereka sendiri di antara meja makan pribumi dan tradisi kuliner "India" yang baru, sebuah ruang di mana sejarah tak ditulis dengan tinta yang angkuh, melainkan dengan aroma kunyit, sereh, dan cuka dingin yang tajam. Pada akhirnya, membaca resep-resep ini adalah seperti mendengarkan gema dari sebuah dapur masa silam yang riuh namun sekaligus sunyi, mengingatkan kita bahwa kebudayaan seringkali bermula dari hal-hal yang paling fana dan remeh: sepotong manisan atau acaran yang mencoba menahan waktu agar tidak lekas jadi lupa.
Description:
Dalam sebuah belanga tua di Batavia abad ke-19, seolah-olah "asam di gunung dan garam di laut" sedang merayakan pertemuan yang tak terduga: Kokki Bitja bukan sekadar catatan praktis tentang bagaimana sepotong babi diolah menjadi cico atau bagaimana marasquin dan anggur champagne bertemu dalam dinginnya es. Melalui baris-baris bahasa Melayu yang masih berbau "pasar"—dengan ejaan yang kini terasa ganjil namun jujur—Nonna Cornelia sebenarnya sedang menyusun sebuah monumen tentang rasa yang tak hendak berhenti pada satu identitas tunggal, sebuah "ikhtiar yang tak pernah selesai" dalam memadukan selera. Kitab ini adalah sebuah jejak tentang sebuah masyarakat yang sedang belajar mengeja diri mereka sendiri di antara meja makan pribumi dan tradisi kuliner "India" yang baru, sebuah ruang di mana sejarah tak ditulis dengan tinta yang angkuh, melainkan dengan aroma kunyit, sereh, dan cuka dingin yang tajam. Pada akhirnya, membaca resep-resep ini adalah seperti mendengarkan gema dari sebuah dapur masa silam yang riuh namun sekaligus sunyi, mengingatkan kita bahwa kebudayaan seringkali bermula dari hal-hal yang paling fana dan remeh: sepotong manisan atau acaran yang mencoba menahan waktu agar tidak lekas jadi lupa.